
Patung Dewi Kwan Im Jilid 08, karya Kho Ping Hoo - DENGAN BERSERU NYARING Hong Cu berhasil menempel tongkat lawannya dan sekali gentak, tongkat pengemis itu telah terbetot lepas dari tangan dan membubung ke atas! Hong Cu tertawa keras dan menangkap tongkat lawannya ketika benda itu melayang ke bawah, lalu mengajukan kepada pengemis buta. “Empek buta, ini tongkatmu, terimalah kembali.”
Pengemis buta itu menerima tongkatnya dan sekali tekuk maka tongkat itu patah tengahnya. “Aku tua bangka goblok telah terjatuh dalam tanganmu, tak pantas lagi aku memegang tongkat.”
Maka pergilah pengemis buta itu dengan maju perlahan dan menggunakan ujung ke dua kakinya meraba-raba jalan! Hong Cu mengawasi pengemis itu dengan menyesal dan kasihan.
Sementara itu, Hwat Kong Tosu telah menghampiri pengemis muda yang kena totok tadi lalu membebaskannya dari totokan. Begitu terbebas dari totokan, pengemis muda itu lalu menutup muka dengan kedua tangannya dan menangis sedih. Tentu saja Hwat Kong Tosu dan Hong Cu yang kini telah mendekat pula, merasa sangat heran.
“Eh, anak muda, kenapa tingkahmu begini aneh. Muridku telah menolong kau membuka belenggumu, tapi mengapa kau tidak berterima kasih bahkan menyerang mati-matian? Dan siapakah kawanmu yang buta tadi?” tanya Hwat Kong Tosu.
Karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang pandai, pengemis itu lalu menceritakan riwayatnya. Di daerah itu terdapat sebuah perserikatan pengemis yang disebut Sin-kai-pang atau Perkumpulan Pengemis Sakti. Organisasi ini mempunyai anggauta ribuan orang pengemis yang semuanya mengerti ilmu silat dan yang dipencar di seluruh propinsi sebelah timur.
Ketua atau pang-cu dari perkumpulan ini adalah seorang tokoh persilatan terkenal dan berkepandaian tinggi. Ia disebut Coa-kai-ong atau Raja Pengemis she Coa, karena tak seorangpun tahu siapa nama raja pengemis itu. Semenjak mendirikan perkumpulan pengemis ini, maka Coa-kai-ong mengadakan peraturan dan disiplin yang keras sekali.
Pengemis muda yang terbelenggu itu adalah seorang anggauta Sin-kai-pang dan telah tertangkap basah oleh pengawas perkumpulan ketika ia sedang mencopet. Perbuatan ini dilarang keras oleh perkumpulan itu, maka ia segera ditangkap dan diseret di depan Coa-kai-ong yang segera mengadilinya.
Hukumannya ialah kedua tangannya dibelenggu untuk selama dua tahun. Selama itu ia tidak boleh membuka belenggunya dan kalau hal ini terjadi, maka tanpa banyak tanya lagi, ia akan dibunuh! Setelah menuturkan keadaannya ini, pengemis muda itu menangis lagi dan wajahnya nampak sangat ketakutan.
“Mengapa kau begitu bodoh! Kalau dipersalahkan karena terbukanya belenggu bilang saja bahwa orang lain yang membukanya. Bukan salahmu!”
“Kau anggap mudah saja perkara ini, nona!” mencela pengemis itu. “Aku pernah melihat dengan mata sendiri ketika seorang anggauta perkumpulan kami dibunuh oleh ketua kami yang sangat bengis dan memegang teguh peraturannya!”
“Hm, pernah pinto mendengar nama raja pengemis itu, sekarang lewat di sini, bukankah ini kebetulan sekali? Hayo, berdirilah kau dan antarkan kami menemui ketuamu. Jangan kau takut, kami membelamu.”
Pengemis muda itu dengan wajah masih pucat lalu berdiri dan mengantar Hwat Kong Tosu dan Hong Cu menuju ke pusat perkumpulan pengemis yang berada di luar kota. Sebetulnya Sin-kai-pang tidak mempunyai tempat atau markas tertentu, di mana saja ketua mereka berada, maka di situlah pusat mereka dan mereka mengadakan pertemuan-pertemuan di mana saja.
Ada kalanya dalam sebuah hutan, dalam kelenteng-kelenteng tua atau di gua-gua. Kali ini Coa-kai-ong tinggal dalam sebuah kelenteng tua yang sudah tidak dipakai, dan para pengemis yang berada di dekat situ semua datang memberi laporan-laporan akan keadaan para pengemis disitu. Tiap hari puluhan pengemis masuk ke dalam kelenteng untuk mendengar perintah dan pelajaran ketua mereka.
Raja Pengemis she Coa ini selain menjadi ketua, juga menjadi guru silat yang menyebar ilmu silat ciptaannya kepada para pengemis. Ia terkenal sebagai seorang ahli main silat tongkat yang disebut Sin-kai-tung-hwat atau Ilmu Tongkat Pengemis Sakti.
Ketika sampai di depan kelenteng bobrok yang dijadikan markas sementara itu, pengemis muda yang mengantar Hwat Kong Tosu dan Hong Cu kelihatan takut sekali dan seluruh tubuhnya menggigil. Di luar kelenteng terdapat banyak sekali pengemis dari macam-macam usia yang berkumpul merupakan kelompok-kelompok dan sedang bercakap-cakap atau bermalas-malasan.Mata Hwat Kong Tosu yang sangat tajam itu dapat melihat beberapa orang pengemis tua yang memiliki ilmu silat tinggi berada pula di situ. Melihat betapa pengemis pengantarnya sangat ketakutan, Hwat Kong Tosu mendesaknya maju dan menghibur. “Jangan takut, hayo antar kami masuk!”
Semua pengemis yang berada di luar kelenteng memandang kepada Hwat Kong Tosu dengan mata lebar. Tiba-tiba seorang pengemis tua yang tadinya duduk melenggut di emper kelenteng, jalan terseok-seok menghadang mereka. Sambil tertawa ha, ha, hi, hi ia berkata kepada pengemis yang mengantar Hwat Kong Tosu.
“Eh, kau setan berani mati! Belenggumu kau buang ke mana?” Sambil berkata demikian ia menampar dengan telapak tangannya ke arah pengemis muda itu.
Tamparan ini hebat sekali karena dilakukan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya. Kalau kepala pengemis muda sampai terpukul, pasti akan pecah! Untung Hwat Kong Tosu segera bertindak. Ia maju selangkah dan menggunakan ujung lengan bajunya menangkis tamparan itu sambil berkata, “Maaf, sahabat. Kami tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kau.”
Pengemis tua itu tak keburu tarik kembali tangannya dan telapak tangannya segera beradu dengan ujung lengan baju Hwat Kong Tosu. Alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa tenaganya sendiri membalik hingga ia merasa pundaknya seakan-akan hampir terlepas ketika terpental dengan keras! Buru-buru ia menjura dan mundur.
Biarpun keadaan di luar kelenteng itu serba butut, tapi di sebelah dalam telah dibersihkan hingga menyenangkan. Lantai telah disapu dan digosok bersih sampai mengkilap. Di atas meja sembahyang yang biasanya ditempati oleh patung yang dipuja, kini duduk bersila seorang pengemis tua.
Pengemis ini tinggi kurus dan pakaiannya telah penuh tambalan. Tapi anehnya, pakaian yang bertambal-tambal itu dihias sulam- sulaman indah, sulaman burung hong dan naga, sebagai tanda bahwa ia adalah seorang raja!
Ternyata bahwa Raja Pengemis itupun awas sekali. Melihat tindakan kaki Hwat Kong Tosu yang demikian ringan seakan-akan tidak menginjak lantai tahulah ia bahwa ia sedang berhadapan dengan orang macam apa.
Raja Pengemis itu sedang makan biji kacang. Melihat kedatangan tamunya, ia segera memasukkan segenggam biji kacang yang belum termakan ke dalam kantung jubahnya dan meloncat turun ia dari atas meja.
“Selamat datang, sahabat yang gagah!” katanya sambil menjura kepada Hwat Kong Tosu.
Hwat Kong Tosu membalas hormat itu dan untuk sejenak mereka saling pandang. Tiba-tiba Raja Pengemis itu melihat pengemis muda yang berdiri menggigil di pinggir. Matanya menyapu tubuh pengemis itu dan terlihatlah olehnya bahwa belenggu di tangan anggauta perkumpulannya itu telah lenyap. Ia marah sekali, tapi dapat di tahannya dan ia dapat menduga sedikit bahwa belenggu itu tentu dipatahkan oleh tamunya ini.
Maka dengan senyum dingin ia menjura lagi sambil bertanya. “Ada keperluan apakah maka tempatku menjadi kehormatan menerima kunjungan seorang gagah seperti tuan?”
“Kami datang hanya mengantar anak muda ini karena ia takut datang kesini. Hendaknya diketahui bahwa belenggu di pergelangan tangannya telah patah, dan yang mematahkan adalah muridku ini. Tak lain kami mengharap kebijaksanaanmu untuk mengampuni anak muda itu yang telah ketakutan karena ia akan dibunuh!”
Mata Raja Pengemis itu berpaling ke arah Hong Cu yang berdiri dengan tenang dan sedikitpun tidak merasa gentar. Tapi ketika pandang mata Raja Pengemis itu bertemu dengan pandang matanya, terpaksa ia melangkah mundur setindak. Sepasang mata pengemis aneh itu sangat tajam dan saat itu agaknya ia marah sekali.
“Sungguh tidak menghargai kedaulatan orang di daerah sendiri.” Raja Pengemis itu berkata perlahan. “Dia adalah anggauta perkumpulan kami, dia harus tunduk kepada peraturan-peraturan yang telah diadakan. Dia mau kami bunuh atau tidak, ada sangkut-paut apakah dengan kalian?”
Tak senang Hwat Kong Tosu mendengar kata-kata ini. Raja Pengemis itu terlalu memandang ringan padanya. Maka terdengarlah ketawa Hwat Kong Tosu yang nyaring. “Biarpun ia anggauta perkumpulanmu, tapi ia tetap seorang manusia seperti aku. Dan aku tidak membiarkan begitu saja seorang manusia dibunuh tanpa salah. Pula, yang mematahkan belenggu bukanlah dia!”
“Yang mematahkan belenggu berarti menghina perkumpulan kami, dan dia harus mati pula!”
Hong Cu mendengar kata-kata ini menjadi marah sekali. Ia bertindak maju sedikit lalu berkata kepada suhunya. “Suhu, orang ini sangat sombong. Siapakah orang ini sebenarnya?”
Gurunya tertawa keras. “Ah, anak kecil, mana kau tahu! Inilah yang disebut Raja Pengemis she Coa yang merajai segala macam pengemis.”
“Baru saja menjadi raja pengemis sudah sesombong ini, apa pula kalau menjadi raja tulen!” gadis itu menyindir, gurunya tertawa lagi.
“Orang-orang yang melanggar peraturan sendiri adalah segolongan pengkhianat, dan orang-orang yang tidak mengindahkan peraturan orang-orang lain dan sengaja melanggarnya, adalah orang-orang yang tidak tahu aturan dan harus dihajar!” Coa-kai-ong itu berkata keras.
Tiba-tiba Raja Pengemis itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebutir kacang. Tangannya diayun dan kacang kecil itu melayang cepat ke arah pengemis muda yang masih berdiri sambil menundukkan muka.
“Kau tidak lekas berlutut?” teriak Raja Pengemis itu dan pada saat itu juga biji kacang yang disambitkan mengenai urat lutut pengemis muda itu hingga tak dapat ditahan lagi ia jatuh berlutut. “Sekarang terima kematianmu!” Raja Pengemis itu ayun pula tangannya, kini ia mengarah kepala orang!
Tapi Hwat Kong Tosu tak membiarkan orang dibunuh begitu saja di depannya. Ia kebutkan ujung lengan bajunya dan angin yang keluar dari kebutan itu telah meniup pergi biji kacang yang disambitkan! Diam-diam Coa-kai-ong kaget sekali, tapi ia juga marah. Sambil membanting kaki ia berkata,
“Benar-benar kau tidak pandang mata padaku! Perbuatanmu itu berarti satu tantangan! Siapakah sebenarnya kau, pendeta tua?”
Hwat Kong Tosu tersenyum. “Kita sudah tua sama tua, jangan kau anggap dirimu masih muda! Namaku Hwat Kong, dan soal nama itu tidak ada artinya, yang penting adalah perbuatan dan watak seseorang.”
Baru terbukalah mata Raja Pengemis itu setelah mendengar nama itu. “Ahh pantas saja setan pelanggar peraturan ini berani sekali menghadap di sini, tidak tahunya adalah kau, seorang pentolan dari pada Thang-la Sam-sian yang terkenal! Bagus, bagus! Hwat Kong Tosu, jangan kita bersikap seperti kanak-kanak. Katakan saja, apakah kau tidak puas dengan peraturan-peraturan dalam perkumpulanku sendiri?”
“Coa-kai-ong! Aku bukanlah orang yang terlalu gatal tangan dan suka mencampuri uruan rumah tangga orang lain, tapi kalau terjadi sesuatu perkara pembunuhan, tentu aku akan mencegahnya, apa pula pembunuhan terhadap seorang yang tidak berdosa. Kau adakan peraturan hukuman bagi anggauta-anggautamu yang menyeleweng, itu baik-baik saja. Tapi kekejamanmu untuk turunkan tangan jahat membunuh jiwa orang dengan alasan yang begitu kecil, ini membuat aku heran sekali, dan terpaksa aku harus menghalangi.”
Tiba-tiba Raja Pengemis itu tertawa. “Bagus! Sudah lama aku mendengar kelihaian ilmu tongkat darimu. Nah, sekarang cobalah kaulindungi setan ini dengan tongkatmu!”
Setelah berkata demikian, secepat kilat Coa-kai-ong cabut sebatang tongkat berkepala tengkorak dari bawah meja sembahyang dan langsung menghantamkan tongkat itu ke arah kepala pengemis muda yang hendak dibunuhnya itu.
Hwat Kong Tosu tidak tinggal diam, sekali berkelebat saja ia sudah berhasil menangkis dengan tongkat bambunya hingga tongkat kepala tengkorak itu terpental. “Akupun ingin sekali mencoba sampai di mana kehebatan Ilmu Tongkat Sin-kai-tung-hwat!”
Keduanya lalu bertempur ramai di ruang sembahyang itu. Tongkat di tangan Coa-kai-ong memang hebat dan gerakan-gerakannya mendatangkan hawa dingin dan tongkatnya berbunyi bersiutan. Tapi ilmu tongkat ciptaan Hwat Kong Tosu adalah rajanya sekalian ilmu tongkat.
Ketika mencipta ilmu ini, Hwat Kong Tosu telah mempelajari bermacam-macam ilmu tongkat hingga segala gerakan ilmu ini telah ditimbang dari segala sudut dan boleh dibilang tidak ada celanya sedikitpun. Biarpun ilmu tongkat Coa-kai-ong juga hebat, namun menghadapi Ouw-coa-tung-hwat dari Hwat Kong Tosu, ia seakan-akan seorang murid bertemu dengan gurunya!
Tadi ketika pengemis buta melawan Hong Cu, pengemis itu mudah saja dijatuhkan. Padahal pengemis buta itu adalah murid Coa-kai-ong yang telah mewarisi lebih dari setengahnya Ilmu Tongkat Sin-kai-tung-hwat, sedangkan Hong Cu baru saja paling banyak mewarisi sepersepuluh bagian dari Ilmu Tongkat Ouw-coa-tung-hwat! Melihat perbandingan itu saja, mudah diketahui betapa jauhnya perbedaan antara kedua ilmu tongkat itu.
Maka setelah bertempur beberapa puluh jurus saja, Coa-kai-ong terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu tongkat Hwat Kong Tosu. Beberapa kali ujung tongkat bambu yang bergerak-gerak seperti seekor ular itu telah mengancam jalan darahnya di seluruh tubuh, tapi tiap kali ujung tongkat tinggal menotok saja, tongkat segera ditarik kembali oleh Hwat Kong Tosu. Pertapa ini masih tidak tega untuk menjatuhkan dan membikin malu kepada Coa-kai-ong di depan murid-muridnya.
Coa-kai-ong adalah tergolong seorang yang memiliki kepandaian tinggi, maka tentu saja iapun tahu akan kemurahan hati Hwat Kong Tosu ini. Ia merasa bersyukur, karena pada waktu itu berpuluh pengemis yang menjadi murid-murid dan cucu muridnya telah berkumpul menyaksikan pertandingan tongkat ini.
Kalau sampai ia dijatuhkan oleh Hwat Kong Tosu, tentu kewibawaannya terhadap sekalian anggauta perkumpulannya itu akan merosot! Maka ia menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Hwat Kong Tosu yang sengaja membuka lowongan atau jalan keluar dan cepat meloncat berjumpalitan ke belakang sejauh tiga tombak lebih!
“Benar-benar hebat! Hwat Kong Tosu, benar-benar ilmu tongkatmu tidak ada bandingannya di seluruh dunia ini. Aku takluk betul!” Raja Pengemis itu susut keringatnya, melempar tongkatnya ke samping dan segera menghampiri Hwat Kong Tosu.
Murid-muridnya yang menyaksikan pertandingan itu merasa heran karena gerakan kedua orang tadi terlampau cepat bagi mata mereka hingga mereka tidak tahu tentang perbuatan Hwat Kong Tosu yang sudah mengalah itu.
“Biarlah kali ini menjadi pelajaran bagiku dan aku akan menghapuskan hukuman-hukuman mati!” kata si Raja Pengemis.
Hwat Kong Tosu tersenyum puas. “Kau adalah seorang laki-laki gagah, maka sedikitpun pinto tidak khawatir karena kau pasti akan memegang teguh janjimu. Memang, dalam perkumpulan yang mempunyai demikian banyak anggauta seperti perkumpulanmu ini, kau harus berlaku keras dan memegang teguh peraturan. Tanpa hukuman berat, mereka yang biasanya berwatak bandel tentu takkan tunduk dan takut. Akan tetapi, hukuman mati tak boleh diobral sembarangan saja.”
Coa-kai-ong menjura. “Terima kasih atas nasihat-nasihatmu.” Kemudian Raja Pengemis itu berpaling kepada muridnya yang berada di situ dan berkata dengan suara keras.
“Hai kalian semua! Lihatlah, ini adalah seorang locianpwe yang gagah perkasa dari Pegunungan Thang-la. Namanya sangat tersohor, dan beliau ini boleh disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar yang lain dari Thang-la, yaitu Huo Sianli si Dewi Api dan Beng Beng Hoatsu! Tamu agung telah datang dan kita mendapat kehormatan besar sekali, bahkan barusan aku sendiri telah mendapat pelajaran yang sangat berarti. Maka, hayolah kalian sediakan hidangan untuk menyambut beliau!”
Kawanan pengemis itu bersorak gembira dan sebentar saja tempat itu dibersihkan oleh mereka. Sebuah meja besar dipasang di tengah ruangan dan tak lama kemudian, entah dari mana dapatnya, mereka datang membawa masakan-masakan yang lezat dan masih mengepul hingga menyiarkan bau sedap mendatangkan lapar!
“Marilah, Hwat Kong Tosu, kita makan sekedarnya. Nona, jangan sungkan-sungkan, marilah!”
Hwat Kong Tosu tanpa ragu-ragu lagi lalu melangkah maju dan duduk di atas sebuah bangku menghadapi semua hidangan itu dengan wajah berseri. Si Raja Pengemis dengan sekali tendang telah membebaskan totokan di tubuh pengemis muda tadi dan membentak.
“Nah, aku bebaskan hukumanmu tapi awas! Jangan kau melakukan pekerjaan mencopet lagi. Kau adalah anggauta pengemis dan pekerjaan pengemis hanya minta dengan rela belas kasihan orang, bukan mencuri atau mencopet!”
Kemudian si Raja Pengemis itu duduk di depan Hwat Kong Tosu dan Hong Cu yang sementara itu telah mengikuti gurunya dan duduk di samping pendeta itu. Hwat Kong Tosu yang memang penggemar makanan enak terus saja sikat habis hidangan yang dianggap paling enak.
Setelah makan kenyang, Hwat Kong Tosu berpamit dan mengajak muridnya melanjutkan perjalanan. Mereka diantar sampai di pinggir hutan oleh kawanan pengemis tua yang sangat mengagumi Hwat Kong Tosu.
Beberapa hari kemudian, Hwat Kong Tosu dan muridnya telah tiba di kaki Gunung Hek-coa-san sebelah barat. Pada waktu itu, waktu yang dijanjikan, yakni satu bulan, masih kurang lima hari. Hwat Kong Tosu mengajak muridnya bermalam dalam sebuah kelenteng kecil yang hanya dijaga oleh seorang hwesio tua yang baik hati dan ramah tamah.
Kelenteng itu berada dalam sebuah kampung yang melarat dan penduduknya semua kaum tani miskin. Karena Hwat Kong Tosu membawa banyak potongan perak, maka hwesio tua itu senang sekali menerima sumbangan dari Hwat Kong Tosu dan memberikan kamar terbesar dalam kelenteng itu kepada Hong Cu.
Sedangkan Hwat Kong Tosu cukup dengan sebuah bantal duduk saja, karena pertapa sakti ini jarang sekali tidur dengan membaringkan tubuh. Cukup baginya adalah mendapat tempat yang sunyi di mana ia dapat bersila dan duduk diam berjam-jam sebagai gantinya tidur.
Malam hari itu, bulan muda telah mulai menerangi angkasa dan cuaca suram-suram, terang tidak, gelap sekali juga tidak. Hwat Kong Tosu memanggil muridnya dan berkata. “Hong Cu, kita naik ke puncak gunung itu lima hari lagi. Si jahat dari timur itu banyak akalnya, maka keadaan di sana tentu berbahaya. Malam ini kau jangan pergi ke mana-mana, aku hendak naik menyelidik keadaan.”
“Baik, suhu,” jawab Hong Cu, tapi karena ia tidak puas dan ingin sekali ikut, disambungnya dengan, “Kenapa teecu tidak boleh ikut, suhu?”
“Sekarang tidak boleh, Hong Cu. Keadaan sangat berbahaya dan mungkin banyak perangkap dipasang oleh si jahat itu. Lima hari lagi kalau waktunya telah tiba, tentu kau akan kubawa. Berhati-hatilah seorang diri di sini.”
Hwat Kong Tosu lalu menghilang ke dalam bayangan pohon-pohon dan tinggalkan muridnya. Hong Cu merasa agak kecewa, karena selama ini jarang sekali suhunya meninggalkan dia dan selalu dibawanya. Kali inipun ia ingin sekali ikut, karena betapapun berbahayanya keadaan mengancam mereka, jika pergi dengan suhunya, hati Hong Cu yang memang tabah itu makin tetap dan berani.
Tengah malam telah lewat, tapi Hong Cu tak dapat pulas. Ia teringat kepada kedua orang tuanya dan tiba-tiba timbul rasa rindu. Hatinya yang keras mencair dan beberapa titik air mata membasahi pipinya. Ia pegang-pegang rambutnya yang kusut dan kacau balau. Ah, dulu rambutnya selalu halus, bersih dan licin karena diminyaki.
Ia lalu memandang pakaiannya yang penuh tambalan. Dulu ia selalu mengenakan pakaian indah-indah dan berkembang dengan tata warna yang bagus sekali. Dalam lamunannya itu terbayanglah di depan matanya pengalaman-pengalaman yang penuh kesenangan ketika ia masih bersama dengan orang tuanya.
Tapi Hong Cu adalah seorang gadis yang berhati jujur dan berkemauan keras. Ia telah memberi keputusan untuk menjadi murid Hwat Kong Tosu dan pertapa itu begitu baik kepadanya. Pula, ketika mengingat bahwa kini ia telah memiliki kepandaian yang lumayan juga, hatinya yang tadinya duka menjadi terhibur. Kerinduan pada orang tua agak berkurang ketika ia pikir bahwa setelah ia tamat belajar silat, tentu ia akan dapat bertemu kembali dengan mereka!
Tiba-tiba Hong Cu tersentak bangun dan sadar dari lamunannya. Ia mendengar sesuatu di atas kelenteng. Telinganya yang terlatih dapat menangkap suara tindakan kaki di atas genteng, dan gerakan kaki itu demikian ringan hingga ia menjadi ragu-ragu.
Ia tahu bahwa yang datang itu pasti bukan suhunya karena gin-kang suhunya sudah terlampau tinggi untuk dapat didengar dari bawah jika ia berjalan di atas genteng. Tapi orang yang datang ini memiliki gin-kang yang cukup tinggi hingga Hong Cu merasa heran.
Cepat ia gunakan tiupan keras dengan bibirnya hingga api lilin di atas meja yang terletak agak jauh dari tempat tidurnya menjadi padam. Kamarnya gelap gulita dan cahaya bulan tampak mengalir masuk ke dalam kamar melalui jendela.
Hong Cu menggunakan ketajam matanya memperhatikan. Agaknya orang di atas genteng itu telah berhenti bergerak dan tidak terdengar sesuatu tapi perlahan-lahan Hong Cu melihat betapa genteng di atas digeser orang. Hong Cu adalah seorang gadis pemberani. Kenyataan bahwa beberapa kali ia berhasil menang dalam pertempuran, membuat hatinya makin tabah lagi dan percayaannya terhadap diri sendiri sangat besar.
Ia maklum bahwa pengintai di atas kamarnya bukanlah sembarang maling, tapi adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi, meskipun demikian, ia tidak merasa gentar. Ia tahu bahwa yang datang itu tentu tidak mempunyai maksud baik, dan lebih baik bertindak mendahului dari pada menanti datangnya bahaya sedangkan ia berada seorang diri di situ!
Dengan hati-hati Hong Cu mengambil tongkat bambunya yang disandarkan di pojok kamar. Semenjak mempelajari ilmu tongkat gurunya yang lihai, ia sengaja membuat sebatang tongkat bambu yang kecil dan cocok ia gunakan. Tongkatnya itu terbuat dari pada bambu keras berwarna kuning dengan guratan-guratan hijau dan ia telah menggosok-gosoknya setiap hari hingga bambu itu mengkilap bagaikan emas.
Kemudian, dengan tipu loncat Burung Garuda Terjang Awan, ia keluar dari jendela dan langsung enjot tubuhnya ke atas genteng. Gerakannya ini cepat sekali dan kedua kakinya ketika meloncat hampir tak mengeluarkan suara, tapi ketika tiba di atas genteng, ia menjadi heran sekali. Ternyata di atas genteng itu tidak kelihatan bayangan seorangpun.
Dengan adanya cahaya bulan yang suram-suram, Hong Cu dapat melihat di sekelilingnya. Tapi di sekelilingnya sunyi saja. Tengah ia berdiri bingung dan heran, tiba-tiba terdengar suara ketawa keras di belakangnya. Ia cepat memutar tubuhnya dan ternyata bahwa orang yang tertawa itu tadi bersembunyi di balik wuwungan rumah hingga tak tampak. Kini orang itu, seorang pemuda tanggung yang memegang sebatang pedang di tangan kanan, berdiri dan tertawa mengejeknya.
“Kukira siapa, tidak tahunya kau si manis!” dan anak muda itu tertawa lagi.
Hong Cu memandang orang itu lebih teliti. Pemuda itu berusia paling banyak limabelas tahun, wajahnya tampan pakaiannya mewah, tapi sikapnya kurang ajar sekali. Maka teringatlah Hong Cu bahwa pemuda itu bukan lain ialah Siauw Liong, murid dari Tok-kak-coa Si Ular Tanduk Berbisa! Seketika itu juga timbullah marahnya melihat musuh besar yang pernah mengganggunya itu.
“Bangsat kurang ajar, lihat tongkat!” Ia lalu menubruk maju sambil gerakkan tongkatnya.
Siauw Liong yang pernah mencoba kepandaian gadis ini dan tahu bahwa Hong Cu belum berapa tinggi kepandaiannya, tak melihat sebelah mata padanya, apa lagi ketika dilihat bahwa senjata di tangan gadis itu hanya sepotong bambu. Ia tertawa bergelak-gelak dan simpan kembali pedangnya lalu berkelit cepat dan ulur tangannya hendak menangkap pergelangan tangan Hong Cu.
Tapi alangkah terkejutnya ketika ujung tongkat Hong Cu bagaikan bermata dan dengan putaran yang aneh tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan menotok jalan darahnya di iga kanan! Baiknya ia berlaku cepat dan jatuhkan diri ke belakang lalu berjumpalitan, namun tak urung bajunya masih terkait ujung bambu dan terobek!
Hong Cu melihat hasil ini makin berbesar hati dan cepat maju menerjang lagi. Siauw Liong benar-benar heran melihat permainan tongkat gadis itu yang demikian lihai. Belum sebulan yang lalu gadis itu sangat rendah ilmu silatnya jika dibandingkan dengan ia sendiri tapi mengapa sekarang belum juga sebulan, ilmu silatnya sudah demikian maju? Gin-kangnya bertambah hebat! Maka dengan penasaran Siauw Liong lalu mencabut pedangnya karena ia tidak berani melayani dengan tangan kosong lagi.
Biarpun Hong Cu telah mempelajari ilmu tongkat yang luar biasa dari suhunya, tapi ia belajar baru saja beberapa puluh hari dan kepandaiannya belum masak betul, sedangkan Siauw Liong semenjak kecil telah digembleng dengan berbagai kepandaian silat yang tinggi dan ganas oleh suhunya, maka setelah bertanding beberapa puluh jurus, gadis ini mulai terdesak oleh sinar pedangnya yang mengurung.
Tapi Hong Cu berkelahi dengan penuh semangat dan ia keluarkan seluruh kepandaiannya. Ilmu Tongkat Ouw-coa-tung-hwat adalah raja ilmu tongkat yang mempunyai bagian-bagian tersembunyi dan tak terduga hingga biarpun kepandaian itu baru saja dikuasai oleh Hong Cu paling banyak sepersepuluh bagian, namun sudah cukup kuat untuk menjaga diri hingga pedang Siauw Liong tidak mudah memecahkan benteng penjagaan dari tongkat Hong Cu.
Pada saat itu terdengar bentakan keras dan nyaring. Sebatang pedang dengan gerakan kuat sekali diputar di tengah-tengah dan memisahkan kedua orang yang sedang bertanding sengit itu. “Tahan!” teriak pemisah itu sekali lagi.
Hong Cu loncat mundur dan melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda berusia kurang lebih tujuhbelas tahun. Tubuh pemuda itu tegap dan wajahnya gagah. Sinar matanya mengalahkan cahaya bulan dan dagunya yang berlekuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang tabah dan keras hati.
“Eh, eh! Dari mana datangnya orang hutan yang tak tahu aturan dan ikut campur urusan orang lain?” Siauw Liong menegur marah ketika meilhat bahwa yang datang itu adalah seorang pemuda berpakaian tani biasa saja. Ia maju dengan pedang mengancam.
Pemuda tegap itu memandang wajah Siauw Liong dengan tajam, kemudian ia tertawa, “Ha, ha, hatidak tahunya kau! Pantas saja, karena siapa lagi selain engkau yang sudi berbuat tidak sopan dan kurang ajar?”
Siauw Liong marah sekali, dan ia pandang pemuda itu dengan penuh perhatian. Akhirnya dapat juga ia ingat dan kenal bahwa yang datang itu bukan lain adalah Siauw Ma yang dulu pernah datang mengunjungi ia dan gurunya, bahkan sudah bersama-sama makan ular dan kelabang!
Siauw Liong tersenyum sindir. “Ah, tidak tahunya yang datang adalah si tolol!! Kau berani sekali katakan aku tidak sopan dan kurang ajar. Apa maksudmu?”
“Kau seorang laki-laki pada tengahmalam buta menghina seorang perempuan yang lebih muda dan lebih rendah kepandaiannya dari padamu. Kau main-main dengan pedang menyerang dia yang hanya bersenjata tongkat bambu. Apakah ini pantas dan adil? Kalau aku tidak melihat keganjilan ini masih tidak mengapa tapi sekarang aku telah berada di sini, pasti aku takkan bisa membiarkan kau berlaku kurang ajar!”
Siauw Liong tertawa bergelak-gelak. “Nah, nona manis, dengarkah engkau? Kepandaianmu memang jauh lebih rendah dari kepandaianku. Bahkan orang tolol inipun dapat melihatnya. Apakah kau belum mau takluk padaku?”
Hong Cu hanya memandang marah dan mencibir.
“Kau jawab dulu pertanyaanku tadi, jangan bicara ngacau tidak karuan!” Siauw Ma membentak.
“Eh, kau mengandalkan apa sih, galak-galak amat! Gurumu pernah dilukai oleh guruku, itu tandanya guruku jauh lebih lihai. Tentang hal kepandaianmu, ah, belum tentu kau dapat melawan tangan kiriku! Kau mau tahu mengapa kami bermain-main di sini? Ia, gadis manis ini, adalah tunanganku!”
“Bangsat tak kenal malu!” Hong Cu memaki, tapi sambil tertawa Siauw Liong menyambung kata-katanya kepada Siauw Ma.
“Tunanganku ini tidak percaya bahwa kepandaianku lebih tinggi dari kepandaiannya maka kami saling mencoba kepandaian. Betapapun juga, kalau kelak ia sudah menjadi isteriku, ia harus mengalah juga! Ha-ha!”
“Bangsat rendah! Jangan kau berani main gila!” Hong Cu tak dapat menahan marahnya dan menggerakkan tongkatnya menyerang lagi.
Tapi dengan pedangnya, Siauw Ma dapat menahan serangan itu sambil berkata, “Sabarlah, nona!”
Kemudian ia berkata kepada Siauw Liong, “Kau berkata bahwa nona ini tunanganmu, tapi ia menyangkal. Benarkah bicaramu tadi?”
Siauw Liong tertawa lagi. “Nona manis, dengarlah. Ini adalah seorang sahabatku yang jujur. Namanya Siauw Ma dan kami pernah berjumpa dulu hingga boleh dikata kami adalah kenalan lama. Kau memang suka membohong, nona, tapi sahabatku ini selamanya tak pernah membohong. Guruku telah menemui Hwat Kong Tosu.”
“Hwat Kong Tosu?” Siauw Ma memotong.
“Ya, Hwat Kong Tosu. Pendeta itu adalah suhu nona ini. Kedua guru kami telah saling berjanji dan telah mengikat perjodohan kami, bukankah itu berarti bahwa kami telah bertunangan?”
Siauw Ma mengangguk-angguk, ia terlalu jujur hingga menganggap bahwa omongan orang lain semuanya benar belaka. “Kalau memang betul demikian, kalian telah bertunangan.”
“Bangsat rendah!” Hong Cu memaki sambil menuding muka Siauw Liong. Kemudian ia memandang kepada Siauw Ma dan memaki pula. “Dan kau, kau kuda tolol!”
Siauw Ma mundur dan kaget ketika ia dimaki kuda tolol, karena memang namanya memakai huruf Ma yang berarti kuda!
“Siapa sudi menjadi tunangan binatang ini? Guruku Hwat Kong Tosu adalah seorang tokoh Thang-la yang kenamaan dan mulia, mana dia mau mengadakan perundingan dengan Tok-kak-coa si jahat dari timur? Mereka bahkan bermusuhan. Anjing kecil ini memang tukang membohong dan penjual obrolan kecil!”
Sementara itu, Siauw Ma telah dapat mempertimbangkan. Memang, ia tahu bahwa Hwat Kong Tosu adalah seorang tokoh besar yang sejajar dengan suhunya sendiri, sedangkan Tok-kak-coa telah dikenalnya sebagai seorang kejam yang lihai dan jahat. “Aku percaya padamu, nona. Aku tahu akan kelihaian dan kemuliaan suhumu, dan aku tahu pula orang macam apakah suhu anak kurang ajar ini. Siauw Liong hayo kau pergi dari sini dan jangan ganggu nona ini, kalau tidak, kau akan berkenalan dengan pedangku!”
“Ha, ha, ha! Kau petani busuk berani buka mulut besar!” Sebagai penutup kata-katanya, Siauw Liong mengirim serangan hebat dengan pedangnya.
Siauw Ma menangkis dan sebentar saja kedua pemuda itu berkelahi dengan seru dan ramai. Kepandaian Siauw Liong penuh tipu daya dan gerakan-gerakannya curang, maka ia lihai sekali. Biarpun seorang lawannya mempunyai kepandalan tinggi, tapi kalau belum banyak pengalaman dalam perkelahian tentu akan tertipu olehnya.
Akan tetapi, Siauw Ma sekarang adalah Siauw Ma yang telah mendapat latihan-latihan keras dari Beng Beng Hoatsu, dan pemuda ini telah mempelajari Ilmu Pedang Sin-liong-kiam-sut, kepandaian tunggal dari Beng Beng Hoatsu, maka menghadapi Siauw Liong, tipu daya dan kecurangan dalam ilmu pedang Siauw Liong mati kutunya. Ketika Siauw Ma keluarkan gerakan-gerakan yang lihai dan cepat, Siauw Liong terkejut dan mundur terus, tak kuasa membalas menyerang.
Tiba-tiba Siauw Liong menggunakan tangan kiri merogoh saku bajunya dan mengeluarkan saputangan yang membungkus sesuatu. Siauw Ma tidak perdulikan gerakan ini, tapi Hong Cu melihat ini menjadi pucat. Ia teringat pengalamannya dulu ketika melihat betapa Siauw Liong dapat melukai Tiong Li, murid si Tabib Dewa. Maka segera ia berseru.
“Siauw Ma! Awas tangan kirinya, ia hendak menggunakan racun!” Tapi Siauw Ma yang belum kenal akan tipu daya keji ini tidak mengerti.
Untung baginya, Hong Cu dapat bertindak cepat. Ketika Siauw Liong melempar saputangannya yang terbuka dan menyebar bubuk yang merupakan debu hitam ke arah muka Siauw Ma, Hong Cu melempar selendang suteranya yang tepat sekali melibat pinggang Siauw Ma. Ia tarik dengan keras dan tiba-tiba, hingga tubuh Siauw Ma terjengkang dan pemuda itu berjumpalitan untuk menjaga diri jangan sampai jatuh. Tapi ia terbebas dari pada bahaya racun yang tadi mengancamnya!
Siauw Liong melihat bahwa usahanya tidak berhasil, menjadi marah sekali. Tapi ia tahu bahwa ia takkan dapat menangkan Siauw Ma yang lihai apa lagi di situ masih ada Hong Cu yang pasti akan mengeroyoknya, maka sambil memaki-maki ia loncat turun dan menghilang di balik pohon-pohon!
Siauw Ma tidak mengejar Siauw Liong karena bukan maksudnya hendak mencelakakan pemuda itu, apa lagi pada saat itu ia sedang marah kepada Hong Cu yang kini dipandangnya dengan mata mengandung teguran.
“Kau gadis tidak berbudi!” katanya dengan wajah merah. “Kenapa kau yang kubantu sebaliknya malahan membantu dia dan hampir mencelakakan aku?”
Hong Cu terheran-heran. “Benar-benar kau ini kuda bodoh! Ditolong orang tidak berterima kasih, bahkan marah-marah! Tahukah kau bahwa hampir saja jiwamu melayang, kalau aku tidak menggunakan selendangku pada saat yang tepat?”
Siauw Ma tercengang heran. “Penjahat curang itu adalah seorang ahli dalam hal penggunaan racun, dan tadi ia telah menyebar racun jahat,” kata Hong Cu lebih lanjut.
Siauw Ma mengangguk-angguk, dan kini ia perhatikan gadis yang berwajah jelita ini. Pakaiannya yang penuh tambalan menarik hatinya, karena di dalam perantauannya mengikuti Beng Beng Hoatsu, ia selalu bertemu dengan gadis-gadis yang berpakaian mewah. Tapi gadis ini demikian sederhana, bahkan rambutnya yang panjang hitam itupun tidak terpelihara dengan baik!
“Betulkah kau murid Hwat Kong Tosu?” tanyanya.
“Apa kau lihat aku seorang pembohong seperti bangsat tadi?” Hong Cu menjawab marah.
“Kalau betul, suhumu itu dengan guruku masih kawan lama.”
Hong Cu tertarik. “Siapakah nama suhumu?”
“Suhuku ialah Beng Beng Hoatsu.”
Kini Hong Cu yang terkejut. Pernah ia mendengar dari gurunya akan nama pendeta sakti itu. Pada saat itu telah hampir subuh dan hawa luar biasa dinginnya hingga ketika angin pagi meniup rambutnya, Hong Cu merasa dingin sekali. “Mari kita turun dan bicara di dalam,” ajaknya.
“Apakah suhumu berada di dalam kelenteng ini?”
“Tidak, suhu sedang pergi menyelidik ke atas puncak. Yang ada di kelenteng hanya hwesio penjaga yang hanya seorang.”
“Aneh,” kata Siauw Ma.
“Apa yang aneh?”
“Suhuku juga pergi ke atas puncak dan menyuruh aku menunggu di kampung ini.”
“Kalau begitu, mari turun. Kau boleh tunggu suhumu di kelenteng ini juga, bersama-sama aku.”
Siauw Ma menggeleng-geleng kepala. “Tidak baik.”
“Eh, kuda tolol, bicaramu tidak karuan. Apanya yang tidak baik?” Hong Cu menegur marah.
Kedua anak muda itu memang adatnya hampir sama. Sama-sama keras kepala, sama-sama jujur dan tidak sungkan-sungkan. “Kau seorang gadis, aku seorang pemuda. Hendak bersama-sama dalam sebuah kelenteng? Apakah itu kau anggap baik?”
Merahlah wajah Hong Cu, ia memandang wajah Siauw Ma dengan mata berapi. “Kau berpikiran sempit! Kita ini orang macam apakah maka banyak pakai peradatan yang bukan-bukan?”
“Aku percaya kepada kepribadian sendiri, tapi apa kata orang!”
“Cih! Orang lain boleh bilang sesukanya tentang kita, asal kita tidak melakukan kesalahan. Perduli apa sama omongan orang lain? Pendeknya, kau mau atau tidak menunggu suhumu di sini, kalau mau hayo kau turun. Kalau tidak mau, tinggallah saja di atas genteng sini. Aku merasa dingin sekali!”
Tanpa menoleh lagi Hong Cu loncat turun. Angin meniup dingin membuat Siauw Ma menggigil, maka iapun meloncat turun dan masuk ke dalam ruang tengah. Di situ Hong Cu telah siap memasak air panas untuk menghangatkan perut mereka. Kemudian gadis itu mengambil sebuah bangku dan duduk di depan Siauw Ma.
“Bagaimana kau bisa kenal murid Tok-kak-coa itu?” tanya Hong Cu sambil memandang muka Siauw Ma yang tampan dan gagah.
“Suhu pernah bentrok dengan Tok-kak-coa,” jawab Siauw Ma yang lalu menceritakan pengalamannya ketika Beng Beng Hoatsu bertempur melawan Kim Bok Sianjin karena disangka mencuri patung. Ketika mendengar bahwa Beng Beng Hoatsu terkena racun pukulan Tok-kak-coa dan diberi obat oleh Kiang Cu Liong si Tabib Dewa, Hong Cu segera bertanya.
“Kalau begitu, kau tentu kenal kepada Tiong Li?”
Mata Siauw Ma memancarkan sinar gembira ketika nona itu menyebut nama Tiong Li. “Ah, anak baik itu adalah sahabatku! Aku senang sekali padanya.”
Dan ia menceritakan betapa ia dan Tiong Li bermain-main dengan batu besar ketika mereka bertemu. Lalu ia bercerita terus. Setelah berpisah dengan Tiong Li dan si Tabib Dewa, Siauw Ma dibawa merantau oleh gurunya. Tiap hari tidak lupa Beng Beng Hoatsu melatih silat kepada muridnya itu dan menurunkan kepandaiannya Sin-liong-kiam-sut yang hebat.
Beng Beng Hoatsu merasa marah dan penasaran sekali kepada Tok-kak-coa hingga ia selalu menyelidiki dan mencari si jahat dari timur. Tapi di mana-mana ia tak mendengar nama Tok-kak-coa muncul di dunia kang-ouw, ia menduga bahwa si ular berbisa itu pasti kembali ke guanya dan bersembunyi di sana. Ia pernah mendengar bahwa si jahat itu tinggal di puncak Bukit Hek-coa-san. Maka diambil keputusan untuk mencoba mencari Tok-kak-coa di situ.
“Demikianlah, maka sore tadi suhu dan aku tiba di kampung ini. Suhu terus naik ke bukit dan aku diperintah untuk menunggu di kampung ini.” Demikian Siauw Ma menutup ceritanya. Kemudian ia bertanya mengapa gadis itu berada di situ dan mengapa Hwat Kong Tosu juga naik ke puncak.
“Suhu hendak merampas kembali patung Kwan-im Pouwsat dari tangan Tok-kak-coa,” kata Hong Cu.
“Kalau begitu, malam ini di puncak sana tentu ramai sekali! Si jahat itu kali ini tentu takkan dapat meloloskan diri!”
“Bukan mereka saja,” kata Hong Cu. “Bahkan si Tabib Dewa juga barangkali malam ini sudah berada di puncak pula!”
“Ha? Kau maksudkan guru Tiong Li?”
“Benar, orang tua aneh itu telah berjanji dengan suhu untuk menaiki gunung Hek-coa-san masing-masing dari utara dan selatan. Kami dari utara dan Tabib Dewa itu dari selatan. Siapa tahu, diapun mungkin sudah berada di sana pula!”
Wajah Siauw Ma nampak gembira. “Ah, sayang kita tinggal di sini. Kalau kita ikut, tentu akan melihat pergulatan hebat dan ramai.”
Tiba-tiba Hong Cu bangkit berdiri. “Mengapa kita tidak ke sana sekarang? Hayo, kita naik bersama.”
“Aah, kata guruku sangat berbahaya, mungkin kita akan terkena celaka,” kata Siauw Ma.
“Suhu juga bilang demikian. Tapi sekarang matahari telah tiba dan dalam keadaan terang-benderang tidaklah begitu berbahaya seperti kalau mendekati di waktu malam gelap. Hayolah kita pergi, siapa tahu kalau-kalau kita masih sempat menonton si jahat itu dihajar!”
Tapi Siauw Ma yang taat kepada perintah suhunya hanya geleng kepala.
“Hm, kau takut barangkali!” Hong Cu cemberut dan mencela.
Ketika dianggap penakut, Siauw Ma penasaran. Iapun berdiri dan membusungkan dada sambil berkata.
“Bagus! Kalau begitu hayo temani aku mendekati ke puncak!” kata Hong Cu dengan cerdik.
“Bagaimana kalau suhu marah?”
“Kita pergi berdua dan atas kehendak berdua, dengan membagi kemarahan tentu agak lebih ringan menerimanya, bukan?”
Ketika Siauw Ma masih ragu-ragu, Hong Cu melanjutkan. “Dan kalau ada kesempatan, mungkin kita ada waktu untuk menghajar Siauw Liong bangsat kecil itu! Mungkin pula kita bertemu dengan Tiong Li.”
Mendengar kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan hatinya ini, Siauw Ma tertarik juga. Ia gigit bibirnya untuk menetapkan hati, lalu berkata keras, “Hayolah! Hayo kita naik juga menyusul suhu.”
Hong Cu girang sekali sampai melupakan air panas yang dimasaknya tadi. Ia pegang tangan Siauw Ma yang merasa likat dan malu-malu juga ketika merasa betapa halus telapak tangan Hong Cu memegang tangannya, tapi karena wajah gadis itu nampak gembira sekali, iapun lari pula.
“Hayo kita berlumba naik!” ajak Hong Cu yang membungkuk dan kencangkan tali sepatunya.
“Boleh!” Siauw Ma menerima tantangan ini karena iapun ingin tahu sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Hong Cu. Kedua tubuh anak muda itu melesat cepat ketika mereka kerahkan ilmu berlari cepat. Ternyata kepandaian mereka berimbang, hanya Hong Cu yang bertubuh lebih ringan dan karena makan obat mujijat gin-kangnya cepat sekali majunya, maka dalam hal kepandaian meringankan tubuh, gadis itumenang setingkat.
Diam-diam Siauw Ma kagum dan heran melihat kelincahan gadis itu yang bagaikan seekor burung, meloncat dari batu ke batu dengan ringan dan gesit sekali! Siauw Ma tidak mau kalah dan iapun keluarkan kepandaiannya hingga kembali mereka dapat berjalan berdampingan dengan cepat.
Tiba-tiba dari atas gunung kelihatan seorang gadis turun berloncatan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya. Gadis itu membawa sebuah bungkusan besar yang nampak berat. Hong Cu yang melihat bayangan orang itu lebih dulu, segera menghadang di tengah jalan. Gadis yang cerdik ini menduga sesuatu.
Siauw Ma juga melihat gadis yang turun itu dan ikut memapaki. Setelah gadis itu turun dekat, maka jelaslah kelihatan bahwa itu adalah sebuah patung karena pembungkusnya yang tipis terbuat dari sutera itu mencetak jelas potongan patung yang dibawanya.
Hong Cu mengerti bahwa patung yang diperebutkan itu telah terjatuh ke dalam tangan gadis yang turun dari gunung itu. Gadis itu cantik sekali, wajahnya nampak angker dan angkuh, sedangkan gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia seorang yang memiliki ilmu silat tinggi. Tapi Hong Cu teringat akan suhunya yang sedang bersusah payah hendak merebut patung itu, maka ia sengaja menghadang dan membentak. “Hei! Kau tinggalkan patung itu di sini!”
Sementara itu Siauw Ma setelah datang dekat dan memandang segera berseru dengan suara gembira. “Lian Eng…!” Pemuda ini merasa gembira sekali melihat gadis itu, dan entah mengapa hatinya berdebar-debar girang melihat Lian Eng bertambah cantik dan jelita. Tapi ia merasa heran mengapa gadis itu berada seorang diri di situ....