Sepasang Rajah Naga Jilid 06

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 06
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 06 - BANYAK sudah pejabat tinggi yang berwatak setia kepada Kaisar, mencoba untuk menentang kekuasaan para Thaikam ini dan berusaha untuk menyadarkan Kaisar. Namun akibatnya, merekalah yang menjadi korban. Banyak pejabat tinggi yang berani menentang tewas dalam keadaan rahasia, terbunuh oleh para pembunuh bayaran.

Banyak pula yang terpaksa melarikan diri, seperti halnya mendiang Panglima Tan Hok dan mendiang Jaksa Wong Cin, dan menjadi orang buruan pemerintah. Kemelut ini menghantui setiap orang yang tidak mempunyai kedudukan, tidak memiliki kekuasaan.

Korupsi merupakan penyakit umum, menjadi wabah yang menguasai hampir setiap orang. Kekuasaan terbesar berada di dalam harta kekayaan, didalam uang. Dengan pengaruh uang sogokan, maka setiap perkara pasti dimenangkan oleh si pemilik uang. Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan.

Diantara semua daya rendah yag menjadikan nafsu, daya rendah kebendaan adalah yang paling kuat. Daya rendah kebendaan itu berpusat pada uang, karena dengan uang orang dapat membeli kesenangan apa saja yang dikehendakinya. Iblis mempergunakan uang ini sebagai senjata utama untuk menyeret manusia ke dalam jurang yang paling dalam.

Manusia saling bermusuhan, golongan lawan golongan, kelompok lawan kelompok, bahkan bangsa melawan bangsa, semua saling bertentangan yang pada dasarnya memperebutan kedudukan karena kedudukan menghasilkan uang. Andaikata kedudukan itu tidak mendatangkan kemakmuran bagi dirinya, kemakmuran yang dapat diwakili dengan uang kiranya tidak akan ada orang yang mau memperebutkan kedudukan itu.

Hidup enak, tercukupi kebutuhannya, keinginan nafsunya, itulah yang diperebutkan manusia di permukaan bumi ini, dan untuk dapat hidup enak dan terpenuhi semua keinginan nafsu, berarti harus mempunyai banyak uang.


Kaisar Ceng Tek adalah seorang muda yang nyentrik. Dia seolah tidak peduli dengan kedudukannya sebagai kaisar dan dia suka berkeliaran seperti seorang pemuda hartawan biasa yang bebas lepas tanpa pengawal. Dia berkeliaran dengan para pemuda yang menjadi putra-putra bangsawan dan hartawan, mengunjungi tempat tempat pelesir dan bersenang-senang. Dia sudah percaya sepenuhnya kepada para Thaikam, menganggap mereka pejabat-pejabat yang setia kepadanya dan dapat dipercaya sepenuhnya.

Memang pandai sekali para Thaikam itu yang didukung oleh para pejabat tinggi yang sudah termasuk komplotan mereka. Segala laporan yang disampaikan kepada Kaisar hanya laporan yang bagus-bagus saja, yang ditujukan untuk menyenangkan hati Kaisar. Karena laporan-laporan ini, kaisar merasa senang dan menganggap bahwa semuanya berjalan dengan lancar dan baik.

Demikian besar keperayaan Kaisar Ceng Tek kepada para Thaikam terutama sekali Thaikam Liu Chin sehingga kalau ada pembesar berani mencela Thaikam itu dan melaporkan bahwa Thaikam itu jahat dan korup, Kaisar bahkan membela Liu Chin dan menghukum si pelapor!

Setelah Liu Chin mempunyai kekuasaan besar, para sanak keluarga dan para kenalannya di desanya, berbondong-bondong datang ke kotaraja untuk ikut menikmati kemuliaan Liu Chin atau setidaknya mendapat “Percikan” harta yang berlimpahan.

Diantara sanak keluarganya itu, terdapat dua orang keponakan dalam yang mendapatkan kedudukan tinggi. Yang seorang bernama Liu Kui, seorang yang pandai ilmu silat dan oleh Liu Chin diusulkan kepada kaisar, sehingga Li Kui ini diberi kedudukan sebagai panglima yang menguasai pasukan pengawal dan keamanan istana!

Kemudian yang seorang lagi bernama Liu wan yang pernah mempelajari sastera, dan orang ini diangkat oleh Kasar menjadi seorang jaksa agung di Kotaraja. Dengan adanya dua orang keponakan yang menduduki jabatan tinggi dan penting di kalangan tentara dan sipil ini, kekuasaan Liu Chin menjadi semakin besar karena ke dua keponakan ini tentu saja menjadi antek anteknya.

Sengsaralah rakyat yang pemerintahannya dipimpin oleh pembesar-pembesar korup dan yang berlomba-lomba mengeduk uang sebanyak-banyaknya. Kesejahteraan rakyat dilupakan, bahkan rakyat dibebani pajak besar dan peraturan-peraturan yang mencekik leher. Semua keperluan dan kebutuhan rakyat dapat tercapai melalui uang sogokan. Bahkan untuk mendapat ijin menikah saja harus mengeluarkan uang sekian, untuk mengurus kematian atau kelahiran harus membayar bahkan pindah rumahpun ada tarip gelapnya.

Korupsi semakin merajalela kalau dibiarkan. Dari pejabat tertinggi sampai pejabat rendahan, semua berlumba-lumba untuk memadati kantung sendiri sehingga mencari pejabat yang bersih pada waktu itu sama sukarnya dengan mencari sebatang jarum di dalam tumpukan jerami. Hebatnya, ada pejabat tinggi yang melakukan korupsi sedemikian besarnya sehingga yang dikorupsi itu kalau untuk menolong rakyat yang miskin, dapat mencukupi kebutuhan puluhan ribu rakyat!

Hal ini dapat terjadi karena orang yang paling tinggi kedudukannya, yang berada di tingkat paling atas, yaitu Kaisar Ceng Tek, adalah seorang yang lemah dan mudah dipermainkan para Thaikam, terutama Thaikam Liu Chin. Dia terbuai oleh kehidupan foya-foya, menghambur-hamburkan uang Negara seperti pasir.

Untuk memberantas wabah korupsi yang sudah menjalar sedemikian hebatnya, hanya dapat dilakukan dari atas ke bawah. Kalau bapaknya maling, bagaimana dapat mencegah anaknya untuk tidak menjadi maling pula? Siapa yang akan mengawasi, menegur dan menjewer anak itu kalau dia menjadi maling? Kalau ayahnya tidak pernah mencuri, tentu dia akan mampu menegur, memarahi dan menghajar anaknya yang mencuri.

Demikian pula, kalau seorang pejabat tinggi bertangan bersih, tentu dia akan berani menegur dan menghukum atau memecat bawahannya yang bertangan kotor, dan bawahannya itu bersikap yang sama terhadap bawahannya lagi. Demikian seterusnya, dari mereka yang duduk paling tinggi membersihkan diri lalu mengawsi bawahannya sehingga dari atas sampai yang paling bawah semuanya menjadi bersih!

Seperti juga sebatang pohon, kalau pangkalnya batang pohon itu sehat, maka seluruh bagian pohon itu, cabang, ranting dan daun-daunnya akan sehat pulas sehingga menghasilkan bunga dan buah yang sehat dan manis. Sebaliknya kalau pangkal batang pohonnya mengandung penyakit, seluruh bagian pohon itupun akan sakit dan menghasilkan buah yang buruk atau bahkan tidak dapat berbuah sama sekali.

Pemerintahan yang dikemudikan Kaisar Ceng Tek tidak demikian. Setiap orang pembesar berkorupsi, menerima uang sogokan, menggunakan uang Negara untuk kepentingan diri sendiri, menumpuk harta kekayaan, hidup bermewah-mewahan, menindas rakyat. Menjilat ke atas menginjak ke bawah terjadi di mana-mana.

Herankah kita kalau dalam keadaan pemerintahan seperti itu bermunculan banyak kejahatan? Para penjahat itu mengail di air keruh. Selagi keadaan kacau dan para pembesar tidak mengacuhkan segi keamanan bagi rakyatnya, para penjahat itu berpesta pora, mempergunakan kekuatan dan kekerasan untuk mendapatkan uang secara tidak halal. Merampok, mencuri, memeras dan tindak kejahatan lain lagi. Sarang perjudian dan sarang pelacuran bertumbuhan seperti jamur di musim hujan.

Tidak dapat disangkal bahwa dalam keadaan Negara seperti itu, bermunculan pula para pendekar, walaupun jumlah mereka tidak banyak..Akan tetapi, apa daya mereka menghadapi para pembesar yang dilindungi oleh pasukan? Mereka, para pendekar ini, hanya dapat menentang para penjahat yang merajalela. Ada pula pejabat-pejabat atau bangsawan yang berhati bersih, yang menentang kelaliman ini.

Mereka memberanikan diri memprotes keadaan pemerintah, bahkan ada pula yang mencoba untuk menasehati dan menyadarkan Kaisar. Akan tetapi apa akibatnya? Merekalah yang tersingkir, terhukum, terbunuh, atau setidaknya mereka terpaksa harus melarikan diri mengungsi jauh dari Kota Raja.

Diantara para bangsawan yang merasa penasaran menyaksikan keadaan ini adalah Pangeran Ceng Sin. Pangeran yang terlahir dari selir ini merupakan saudara tua Kaisar Ceng Tek. Usianya sudah 35 tahun dan dia adalah seorang pangeran yang setia terhadap kerajaan.

Melihat ulah adik tirinya yang tidak memperhatikan pemerintahan dan seolah buta matanya terhadap semua penyelewengan yang dilakukan para pembesar, terutama para Thaikam sehingga menyengsarakan rakyat, dia merasa perihatin sekali. Untuk terang-terangan menentang Thaikam Liu Chin, dia tidak memiliki kekuasaan dan tentu akan sia-sia belaka, bahkan keselamatannya terancam.

Karena itu, Pangeran Ceng Sin berusaha melakukan pendekatan kepada Kaisar Ceng Tek untuk menasehatinya. Akan tetapi Kaisar Ceng Tek yang sudah tenggelam ke dalam racun manis berupa kehidupan penuh foya-foya dan pelesiran itu memasang telinga tuli terhadap nasihat kakak tirinya.

Pada suatu senja, dua orang diantar oleh dua orang prajurit pengawal memasuki gedung tempat tinggal Liu Chin. Gedung itu besar dan megah, letaknya masih di dalam daerah istana dan siang malam gedung itu dijaga oleh pasukan pengawal yang kuat.

Seperti biasa, kalau ada tamu pribadi Thaikam Liu Chin, tamu itu akan diantar oleh prajurit pengawal, memasuki gedung lewat pintu tembusan di samping gedung. Dua orang yang datang itupun membawa surat pribadi Liu Chin sehingga setelah melihat surat itu, dua orang prajurit lalu mengawal dan mengantar mereka memasuki gedung lewat pintu kecil itu.

Dua orang tamu itu terdiri dari seorang laki-laki berusia lima puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar, berjenggot panjang dan wajahnya gagah seperti Pahlawan Kwan In Tiang di dalam Kisah Sam Kok. Dipunggungnya tergantung sebatang pedang dan pakaiannya mewah seperti pakaian seorang hartawan. Adapun orang ke dua adalah seorang pemuda berusia kurang lebih lima belas tahun. Seorang pemuda yang tampan dan bertubuh tinggi kokoh.

Mukanya bulat seperti bulan purnama, alisnya tebal hitam matanya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya selalu seperti tersenyum mengejek. Sepasang matanya yang lebar dan bersinar tajam itu kadang membayangkan kekarasan hati. Pakaiannya juga mewah seperti seorang pemuda hartawan, rambutnya hitam panjang di gelung ke atas dan diikat kain sutera, dihias tuduk sanggul berbentuk seekor burung merak.

Laki-laki setengah tua yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur) Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga. Semakin tua dia tampak semakin gagah saja. adapun pemuda remaja itu bukan lain adalah Tan Song Bu. Tan Song Bu kini telah menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun yang tampan dan gagah. Ketika kedua orang istri Ouw Yang Lee dilarikan penjahat, Song Bu berusia sepuluh tahun.

Selama lima tahun ini, setelah dia menjadi anak angkat gurunya, dia digembleng secara serius oleh Ouw Yang Lee sehingga dalam usia lima belas tahun Song Bu telah menjadi seorang pemuda remaja yang tangguh. Tubuhnya tinggi kokoh, dadanya bidang dan dia memiliki tenaga yang kuat sekali.

Bagaimana Ouw Yang Lee dapat muncul di gedung Thaikam Liu Chin? Hal ini ada hubungannya dengan sebuah peristiwa pada suatu malam yang gelap gulita, kurang lebih dua bulan yang lalu. Pada malam hari itu, gedung milik Liu Chin didatangi orang yang membikin kacau. Orang itu memiliki gerakan yang gesit sekali, melompati pagar tembok.

Akan tetapi setelah tiba di ruangan belakang gedung itu pada tengah malam, dia ketahuan prajurit pengawal dan dia dikeroyok. Orang yang mukanya memakai kedok hitam itu mengamuk dan dalam amukannya, dia berteriak-teriak hendak membunuh Liu Chin! Dia lihai sekali dan belasan orang perajurit pengawal telah roboh oleh pedangnya.

Akan tetapi, jumlah perajurit pengawal terlalu banyak dan diantaranya terdapat beberapa orang perwira yang lumayan tingkat ilmu silatnya. Karena dikeroyok dan terdesak, orang berkedok itu lalu melarikan diri dan luput dari pengejaran para perajurit pengawal.

Pengalaman di malam itulah yang membuat Liu Chin menyadari bahwa keselamatannya terancam. Dia mempunyai musuh terlalu banyak, dan tentu musuh-musuhnya yang telah mengirim seorang pembunuh bayaran untuk membunuhnya. Dia merasa perlu melakukan penjagaan yang lebih ketat dan timbullah dalam pemikirannya untuk mengundang datuk-datuk sesat dan menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk membujuk mereka agar suka menjadi jagoan menjaga keselamatannya.

Demikianlah, dia lalu mengirim undangan kepada beberapa orang dan diantara yang diundang itu, termasuk Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga yang namanya diketahui Liu Chin dari laporan para panglima sekutunya. Selain Ouw Yang Lee, Thaikam Liu Chin masih mengundang beberapa tokoh kangouw lainnya yang pada waktu itu belum datang.

Ouw Yang Lee merupakan orang undangan pertama yang datang dan dia mengajak putera angkatnya, Ouw Yang Song Bu yang sudah berusia lima belas tahun agar putera angkatnya ini memperoleh pengalaman di Kota Raja. Ketika menerima surat undangan dari Thaikam Liu Chin, Ouw Yang Lee merasa gembira sekali. Tentu saja dia sudah mendengar bahwa Thaikam Liu Chin merupakan orang ke dua sesudah Kaisar yang berkuasa di Kota Raja.

Diundang oleh pembesar itu hampir sama dengan undangan diterima dari Kaisar sendiri. Kalau saja dia dapat berjasa terhadap Tahikam Liu Chin, tentu dia akan dapat menduduki pangkat yang tinggi, menjadi orang terhormat yang hidup mulia dan berkuasa. Inilah yang membuat Owyang Lee tertarik. Bukan hanya Ouw Yang Lee yang tertarik untuk mendapatkan kedudukan karena kedudukan berarti kekuasaan.

Makin tinggi kedudukan sesorang semakin besarlah kekuasaannya. Oleh karena itu, hampir setiap orang saling berlumba mendapatkan kekuasaan ini, kekuasaan dalam keluarga, dalam kelompok, dalam golongan, masyarakat, Negara. Karena berkuasa berarti semua tindakannya harus dibenarkan dan dimenangkan, karena kekuasaan mendatangkan kemuliaan, mendatangkan harta benda, dan kesenangan.

Bahkan dunia penuh pertentangan, perang antara bangsa juga karena saling memperebutkan kekuasaan inilah. Yang menang pasti berkuasa dan yang berkuasa pasti benar! Karena itu siapa yang tidak menghendaki kekuasaan?

Tertarik oleh kemungkinan mendapatkan kedudukan ini membuat Ouw Yang Lee meninggalkan pulaunya. Dia mengajak muridnya yang kini menjadi putera angkatnya yang disayang, yaitu Tan Song Bu yang kini sudah memakai marganya, menjadi Ouw Yang Song Bu. Dia juga ingin memberi kesempatan kepada puteranya itu untuk membuat pahala dan menerima kedudukan, di samping mencari pengalaman di kota.

Senja telah tiba dan lampu-lampu gantung mulai dinyalakan dalam gedung tempat tinggal Thaikam Liu Chin. Pada saat itu, Liu Chin sedang berada di ruangan makan, siap untuk makan malam. Mendengar laporan bahwa Tung-Hai Tok Ouw Yang Lee bersama puteranya yang bernama Ouw Yang Song Bu datang hendak menghadap, hatinya menjadi girang dan dia memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk berjaga dengan ketat didalam ruangan makan yang luas itu, kemudian dia mempersilahkan dua orang tamunya langsung masuk ke ruangan makan.

Dengan langkah yang gagah, Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Song Bu mengikuti pengawal memasuki ruangan yang telah dipasangi lampu yang amat terang itu. Dia melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi kurus dan bermata tajam cerdik seperti mata elang, dengan pakaian mewah seorang pembesar istana yang tinggi kedudukannya, duduk diatas sebuah kursi menghadapi sebuah meja makan panjang. Empat orang pelayan wanita yang cantik-cantik hilir mudik kearah meja makan itu membawa masakan-masakan yang masih mengepulkan uap dan ruangan itu penuh dengan bau masakan yang sedap.

“ Tai-jin (sebutan pembesar), para tamu Ouw Yang Lee dan puteranya, Ouw Yang Song Bu datang menghadap!” kata pengawal pengantar.

Liu Chin Thaikam memutar tubuhnya menghadapi mereka yang datang, lalu memberi tanda dengan tangan kepada pengawal pengantar untuk mengundurkan diri.

Sementara itu Ouw Yang Lee melihat betapa disekeliling ruangan itu berdiri banyak sekali perajurit pengawal dan dia tahu betapa akan sukarnya meloloskan diri dari tempat yang terjaga ketat itu. Diruangan ini saja terdapat dua puluh orang lebih perajurit pengawal yang tampaknya tangguh. Di luar ruangan masih ada lagi pasukan pengawal, belum lagi yang berjaga di pekarangan depan. Mungkin jumlah mereka semua lebih dari seratus orang perajurit tangguh!

Thaikam Liu Chin ini sungguh telah melindungi keselamatan dirinya dengan pengawalan yang amat kuat, seperti seorang Kaisar saja. Dia melihat betapa pembesar tinggi kurus itu menatapnya dan mengamatinya dengan penuh selidik. Ouw Yang Lee cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk dengan sikap hormat.

“Liu Tai-jin (Pembesar Liu), saya Ouw Yang Lee dari Pulau Naga memenuhi undangan paduka dan datang menghadap bersama putera saya Ouw Yang Song Bu!”

Song Bu meniru perbuatan ayahnya, merangkapkan kedua tangan depan dada untuk memberi hormat kepada pembesar itu. Pemuda ini memang cerdik sekali, tanpa diberitahu diapun sudah pandai membawa diri di tempat yang amat mewah, gemerlapan dan penuh wibawa itu. Dia dapat merasakan bahwa laki-laki tinggi kurus itu adalah seorang yang memiliki kekuasaan besar sekali.

“Bagus sekali! Selamat datang, Ouw Yang Si-cu (orang gagah Ouw Yang) dan engkau juga, Ouw Yang Song Bu, pemuda yang gagah. Kebetulan sekali aku sedang hendak makan malam. Kalian berdua duduklah disini dan mari temani aku makan sebelum kami membicarakan urusan. Biarlah perjamuan makan ini sebagai ucapan selamat datang kepada kalian!” kata Thai-kam liu Chin dengan suara lantang dan wajah berseri gembira.

Tentu saja Ouw Yang Lee merasa gembira sekali. Perhitungannya tidak meleset, Thai-kam Liu Chin ini benar-benar membutuhkan tenaganya, maka sikapnya demikian ramah dan dia merasa amat terhormat. Begitu datang langsung diajak makan bersama.

“Terima kasih, Tai-jin,” katanya dan bersama Ouw Yang Song Bu, diapun lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan tuan rumah, terhalang meja makan yang kini sudah penuh hidangan.

Para pelayan wanita muda cantik dan cekatan itu, tanpa diperintah telah mengerti kewajiban masing-masing. Ada yang menyediakan mangkok, sumpit, dan cawan arak baru untuk kedua orang tamu yang dijamu oleh majikan mereka.

“Tuangkan arak, isi penuh cawan-cawan kami, lalu tinggalkan kami bertiga,” perintah Thai-kam Liu.

Empat orang pelayan; itu lalu menuangkan arak ke dalam cawan-cawan kosong di depan tuan rumah dan dua orang tamunya, kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan itu. Ketika melangkah, gerakan mereka demikian halus seperti penari-penari yang langkahnya lemah gemulai.

“Mari, Ouw Yang Si-cu dan Ouw Yang Song Bu, mari kita minum untuk merayakan pertemuan yang menggembirakan ini!” Thai-kam Liu mengangkat cawan araknya, diturut oleh Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Song Bu dan mereka bertiga minum sampai tiga cawan. Kemudian mulailah mereka makan minum. Thai-kam Liu tampak gembira bukan main. Dengan ramah dia mempersilakan dua orang tamunya untuk mencicipi semua masakan yang serba lezat itu.

“Ouw Yang Sicu, aku ingin memperkenalkan kalian berdua dengan komandan pasukan pengawal pribadiku.” Tanpa menanti jawaban, Thaikam itu bertepuk tangan satu kali dan muncullah seorang perajurit pengawal dari balik pintu dan berdiri di depan Thaikam dengan sikap hormat.

“Pergi cepat panggil Giam-Ciangkun (Panglima Giam) ke sini! Sekarang juga!” kata Thaikam itu dan suaranya mengandung wibawa seorang yang sudah terbiasa mengeluarkan perintah yang harus diturut.

Pengawal itu memberi hormat lalu keluar dari ruangan itu. Liu-Thaikam dan dua orang tamunya melanjutkan makan. Tak lama kemudian, orang yang dipanggil itu datang, mudah diduga bahwa panglima pasukan pengawal itu tentu tinggal di komplek gedung itu pula.

Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Song Bu memandang. Yang datang adalah orang laki-laki tinggi besar dan gagah berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pakaiannya indah gemerlapan, pakaian seorang panglima dan sebatang pedang panjang tergantung di pinggang kirinya. Mukanya persegi dan matanya lebar dan bersinar tajam.

“ Tai-jin memanggil saya?” tanya panglima yang bernama Giam Tit itu dengan suara lantang namun dengan sikap hormat sambil berdiri menghadap Liu-thai-kam.

“Giam-Ciangkun, aku hendak mengajak engkau makan minum pula untuk menyambut kedatangan Ouw Yang Sicu dan puteraya. Akan tetapi lebih dulu agar kalian berkenalan dengan mereka berdua yang lihai itu dan engkau harus memberi hormat dengan secawan arak kepada mereka masing-masing.”

Giarn-Ciangkun mengerti akan maksud ucapan majikannya. Dia mengangguk, tersenyum dan menghampiri ujung meja panjang itu. Dia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan kosong, kemudian dengan tangan kanan dia mengangkat cawan itu ke atas. Ketika dia mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), maka perlahan-lahan arak dalam cawan itu mengepulkan uap kemudian arak itu mendidih! Dia menyodorkan arak mendidih dalam cawan itu kepada Ouw Yang Lee sambil berkata. “Ouw Yang-sicu, terimalah penghormatanku dengan secawan arak ini!”

Melihat arak dalam cawan itu mendidih, tahulah Ouw Yang Lee bahwa panglima itu hendak mengujinya dengan kekuatan sinkang dan diapun tahu bahwa hal ini dilakukan panglima itu atas perintah Liu-thai-kam. Maka diapun tersenyum lebar dan diam-diam dia mengerahkan sin-kangnya. Hawa sakti yang kuat menjalar dari pusarnya menuju ke tangan kanannya yang menerima cawan itu.

Liu-Thaikam mengikuti semua gerak gerik kedua orang itu dengan penuh perhatian. Dia memang ingin menguji ketangguhan dua orang tamunya itu, terutama Ouw Yang Lee yang dia dengar merupakan seorang datuk yang sakti.

Ketika cawan itu berpindah ke tangan Ouw Yang Lee, mendadak arak yang tadinya mendidih itu berhenti bergerak, juga tidak mengeluarkan uap lagi. Ouw Yang Lee mengangkat cawan itu ke atas mulutnya dan membuat gerakan seperti hendak menuangkan arak itu ke dalam mulutnya. Akan tetapi terjadi keanehan. Arak itu tidak mau tumpah dari dalam cawan yang sudah dibalikkan, seolah-olah telah membeku dan melekat pada cawan!

Tentu saja Liu-Thaikam terbelalak keheranan melihat ini, dan Giam Ciangkun mengangguk-angguk, maklum bahwa datuk itu memperlihatkan sinkang yang amat kuat yang dapat mengubah hawa panas menjadi hawa yang amat dingin sehingga membuat arak itu membeku!

“Ah, arak ini membeku, perlu dicairkan dulu agar dapat diminum!” kata Ouw Yang Lee, lalu dia menurunkan cawan araknya dan meniup tiga kali ke dalam cawan dan arak itupun mencair, lalu diminumnya, habis sekali tenggak.

“Terima kasih, Giam-Ciangkun,” katanya sambil mengangguk kepada panglima itu. Giam-Ciangkun sudah duduk di sudut meja.

Diapun mengangguk hormat ke arah Ouw Yang Lee dan berkata, “Ouw Yang-sicu, ternyata kau benar-benar hebat, membuat saya kagum sekali.” Kemudian dia menuangkan kembali arak dari guci ke dalam sebuah cawan kosong. Dia mengangkat secawan arak itu dengan tangan kanannya, kemudian memandang kepada Ouw Yang Song Bu dan berkata.

“Ouw Yang Kongcu (Tuan muda Ouw yang), sayapun ingin menyuguhkan secawan arak ini kepadamu, harap suka menerimanya!” Dia lalu melontarkan secawan arak itu ke arah Ouw Yang Song Bu. Cawan itu melayang dan tidak ada setetespun araknya tumpah. Walaupun ujian ini tidak seberat yang dia lakukan terhadap Ouw Yang Lee tadi, namun lontaran itupun kuat sekali karena dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang.

Kembali Liu-Thaikam memandang dengan hati tertarik karena diapun ingin melihat apakah pemuda itupun memiliki ilmu kepandaian yang cukup hebat untuk dapat menjadi seorang pembantu yang boleh diandalkan.

Melihat secawan arak itu meluncur kearah dirinya dan kalau dibiarkan tentu akan mengenai mukanya, dengan sikap tenang namun gerakan tangannya cepat sekali Song Bu menyambar dan menangkap secawan arak itu dengan tangan kanannya dan tidak setetespun arak muncrat ke luar dari cawan itu. Diminumnya arak dari cawan itu lalu dia mengangguk kepada Giam-Ciangkun.

“Terima kasih, Giam-Ciangkun.” Liu-Thaikam.

Dan Giam-Ciangkun tertawa senang. ”Tai-jin, Ouw Yang-sicu dan puteranya ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi” kata panglima itu seperti melaporkan dan Liu-Thaikam mengangguk-angguk gembira.

Mereka berempat lalu makan minum sampai kenyang. Setelah selesai makan, Liu-Thaikam mengajak dua orang tamunya duduk bercakap-cakap di ruangan dalam dan Giam-Ciangkun diperkenankan mengundurkan diri. Mereka bertiga memasuki ruangan dalam itu dan Liu-thaikarn menutupkan semua daun jendela dan daun pintu. Akan tetapi ayah dan anak itu melihat bahwa biarpun di dalam ruangan itu tidak terdapat seorangpun pengawal, namun di luar ruangan itu telah berjaga banyak perajurit pengawal yang setiap saat dapat menyerbu ke dalam ruangan itu.

Liu-Thaikam mempersilakan mereka berdua duduk dan langsung saja pembesar itu bertanya kepada Ouw Yang Lee. “Ouw Yang-sicu, dapatkah engkau menduga apa maksudku mengundangmu ke sini?”

Ouw Yang Lee menjawab tanpa ragu. "Saya adalah seorang datuk dan kepandaian saya hanyalah bersilat, maka apa lagi yang Tai-jin kehendaki dari saya kecuali tenaga saya untuk membantu Tai-jin?”

“Ha-ha-ha, engkau cerdik, sicu. Memang benar, kami memerlukan tenaga bantuan orang-orang yang memiliki kesaktian untuk menghadapi orang-orang yang memusuhi kami dan diam-diam hendak membunuh kami.”

Ouw Yang Lee memandang heran. Dia mendengar bahwa pembesar ini adalah orang ke dua sesudah kaisar yang berkuasa di istana, siapa yang berani memusuhinya? “Akan tetapi, Tai-jin. Siapakah orangnya yang berani berbuat seperti itu?”

“Ah, agaknya engkau tidak tahu, sicu. Banyak orang yang merasa iri kepadaku dan mereka itu berusaha untuk membunuhku dan merebut kedudukanku. Beberapa hari yang lalu ada seorang pembunuh yang menyerbu kerumahku ini dan dia bermaksud membunuhku. Hanya karena ada penjagaan yang ketat dari pasukan perajurit pengawal dia dapat diusir dan usahanya yang keji dapat digagalkan. Karena itu, aku harus membuat operasi pembersihan besar-besaran. dan untuk melakukan itu, aku membutuhkan bantuan tenaga orang-orang seperti sicu.”

“Saya dan putera saya siap untuk membantu ta-jin!” kata Ouw Yang Lee singkat.

“Akan tetapi sebelum menentukan apakah kalian berdua patut untuk menjadi pembantu-pembantuku yang, dapat diandalkan dan dipercaya, aku harus menguji dulu kepandaian kalian.”

“Bukankah tadi Tai-jin sudah menguji kami berdua melalui Giam-Ciangkun?” tanya Ouw Yang Lee dengan alis berkerut.

“Itu bukan ujian terhadap kemampuan kalian dan untuk ujian itu kalian memang lulus. Akan tetapi yang kumaksudkan adalah ujian terhadap kesetiaan kalian.”

“Untuk itupun saya berdua siap untuk diuji!” kata Ouw Yang Lee. “Harap Tai-jin perintahkan saja dan kami akan melalaksanakan perintah itu!”

“Bagus! Memang sikap seperti itulah yang kami kehendaki. Tegas dan tidak banyak bertanya. Ketahuilah bahwa kami telah melakukan penyelidikan untuk mencari siapa saja yang memusuhi kami dan yang mungkin mengirim pembunuh malam itu. Diantara mereka yang kami curigai terdapat dua orang dan kami menghendaki agar kalian berdua masing-masing melaksanakan satu tugas, yaitu masing-masing membunuh seorang musuhku. Laksanakan perintah ini malam ini juga.”

“Membunuh seorang musuh? Hal itu mudah saja saya lakukan. Akan tetapi karena putera saya ini belum berpengalaman, maka harap Tai-jin tidak memberi tugas yang terlalu berat.”

“Hal itu sudah kami pikirkan. Di antara kedua orang yang malam ini kami rencanakan agar dibinasakan adalah Pangeran Ceng Sin. Pangeran yang satu ini selalu menentang kami, bahkan ingin menghasut Kaisar agar membenci kami. Kami sudah berhasil membuat keluarga Pangeran Ceng Sin disuruh keluar dari kompleks istana dan tinggal di luar istana. Akan tetapi dia masin selalu memperlihatkan sikap bermusuhan dengan kami. Bukan hal yang tidak mungkin bahwa dialah yang menyuruh pembunuh itu untuk menyerbu ke rumah kami dan berusaha membunuh kami. Karena itu, kami menghendaki agar Pangeran Ceng Sin itu dibunuh, malam ini juga. Dan untuk melaksanakan hal ini, kami menunjuk engkau, Ouw Yang Song Bu, untuk melakukannya.”

“Akan tetapi, putera saya baru berusia lima belas tahun dan belum berpengalaman Bagaimana dia akan mampu melakukannya?” bantah Ouw Yang Lee.

“Pangeran Ceng Sin tidak mempunyai pasukan pengawal yang kuat. Membunuhnya bukan merupakan pekerjaan berat dan kami melihat bahwa pemuda ini sudah memiliki ilmu kepandaian yang tangguh. Kalau dia tidak sanggup melakukan tugas sederhana ini, apa perlunya dia diajak ke sini? Lebih baik engkau seorang diri saja, Ouw Yang sicu, dan tidak mengajak anakmu kalau dia penakut.”

“Ayah, saya sanggup melakukan itu!” tiba-tiba Ouw Yang Song Bu berseru tegas kepada ayahnya. “Tai-jin, saya sanggup melakukan perintah itu!”

“Bagus, begitulah sepatutnya sikap seorang putera datuk besar seperti Tung-hai-tok Ouw yang Lee majikan Pulau Naga! Nah, bagaimana pendapatmu, sicu?”

Ouw Yang Lee menghela napas. “Saya tidak meragukan kemampuan putera saya, Tai-jin. Kalau tadi saya ragu-ragu adalah karena mengingat usianya yang masih muda dan belum berpengalaman. Akan tetapi kalau dia sudah menyatakan tekadnya untuk melaksanakan perintah itu, sayapun hanya menyetujuinya.”

“Bagus kalau begitu. Tidak percuma kami mengundang sicu ke sini. Nah, Ouw Yang Song Bu, bersiaplah engkau. Nanti kami akan menyuruh seorang pengawal untuk mengantarmu sampai di luar rumah Pangeran Ceng Sin. Setelah itu engkau harus bertindak sendiri, menyerbu masuk dan membunuh pangeran itu. Kalau engkau berhasil menyingkirkan Pangeran Ceng Sin, berarti engkau telah membuat jasa besar dan jasarnu akan kami catat.”

Ayah dan anak itu mendapatkan sebuah kamar di bagian belakang gedung itu, kamar yang luas dan lengkap dengan perabot kamar yang serba mewah. Setelah membuat persiapan, mengenakan pakaian serba hitam yang ringkas, dengan kain pengikat rambut berwarna hitam pula, membawa sebatang pedang yang digantung di punggung, sepatunya dari kain ringan dan hitam, Song Bu tampak tampan dan gagah.

“Berhati-hatilah, bawa dua buah alat peledak ini untuk kau pergunakan melarikan diri kalau terkepung. Cepat bunuh pangeran itu dan cepat pergi, hindarkan diri dari pengeroyokan yang membahayakan. Jangan ragu untuk menggunakan Ang Tok Ciang (Tangan Racun Merah) kalau sampai bertemu dengan lawan tangguh,” pesan Ouw Yang Lee kepada puteranya itu.

Song Bu mengangguk. Biarpun selama ini dia belum pernah membunuh orang, bahkan belum pernah terlibat dalam perkelahian, namun dia sama sekali tidak merasa gentar dan merasa yakin bahwa dia akan mampu melaksanakan tugasnya. Setelah dia siap, seorang perajurit pengawal lalu mengantarnya keluar dari kompleks atau daerah istana.

Dengan adanya perajurit pengawal ini, Ouw Yang Song Bu dapat melalui para penjaga di pintu gerbang kompleks istana itu dengan mudah. Mereka berdua lalu ke luar dan menuju ke sebuah jalan besar di Kota Raja, kemudian perajurit itu berhenti di depan sebuah gedung yang tidak berapa besar dan dari luar tampak sederhana saja. Di pintu pekarangan itu terdapat dua orang laki-laki yang agaknya merupakan penjaga gedung itu.

"Inilah rumah Pangeran Ceng Sin, Ouw Yang Kongcu,” kata perajurit itu. “Tugas saya hanya mengantar kongcu sampai di sini kemudian menunggu kongcu di sini setelah kongcu selesai melaksanakan tugas itu. Saya akan bersembunyi di balik pohon ini, kongcu.” Perajurit pengawal itu lalu menyelinap di balik batang pohon.

Song Bu berdiri di bawah bayangan pohon yang gelap. Matanya memandang ke arah rumah itu dengan tajam menyelidik. Malam telah agak larut dan tentu para penghuni rumah itu sudah tidur, pikirnya. Di luar hanya ada dua orang penjaga dan tidak tampak ada penjaga lain di sekitar pekarangan itu. Dia menyapu sekitar pekarangan dengan pandang matanya dan melihat betapa pagar yang mengelilingi rumah itu tidaklah begitu tinggi dan di sebelah kanan rumah itu terdapat sebuah taman bunga kecil.

Semua ini dapat dilihat dari bawah pohon karena adanya beberapa lampu gantung di bagian depan dan sebelah kanan rumah itu. Setelah memperhitungkan dengan pandang matanya, Song Bu lalu bergerak cepat menyelinap di antara kegelapan bayang pohon menuju ke bagian kanan rumah itu, Ia telah yakin bahwa di situ tidak terdapat penjaga, dia lalu melompati pagar dan turun di dalam taman bunga. Dia mendekam sebentar untuk memperhatian keadaan.

Setelah menanti beberapa saat dan tidak melihat berkelebatnya orang atau mendengar suara yang mencurigakan, Song Bu lalu berloncatan dan menyelinap di antara tanaman bunga, menghampiri rumah gedung itu. Tak lama kemudian dia sudah melompat ke atas wuwungan rumah itu dam mengintai dari atas. Di sebelah dalam rumah itu sudah sepi. Dia lalu melayang turun ke dalam.

Akan tetapi baru saja kakinya hinggap di atas tanah, terdengar bentakan nyaring dan lima orang sudah mengepungnya. Mereka memegang golok dan ternyata mereka ini adalah lima orang yang bertugas mengawal keluarga pangeran itu, di samping dua orang lagi yang sedang berjaga di pintu pekarangan.

Melihat ada seorang pemuda berpakaian hitam-hitam memasuki rumah itu, lima orang yang sedang melakukan perondaan itu merasa terkejut dan segera tahu bahwa pendatang ini tentu bermaksud buruk. Maka tanpa banyak kata lagi mereka sudah menyerang dengan golok mereka.

Song Bu melihat serangan mereka dan tahu bahwa biarpun tampaknya tangkas, lima orang ini hanya menguasai ilmu silat yang biasa saja. Maka, diapun bergerak lincah menghindarkan diri dari serangan lima batang golok itu dan di lain saat dia telah mencabut pedangnya. Pertempuran terjadi, namun tidak lama.

Dengan gerakannya yang lincah dan permainan pedangnya yang amat cepat dan kuat, Song Bu membuat lima orang itu roboh satu demi satu dan tidak mampu bergerak lagi, mendengar suara ribut-ribut itu telah membangunkan para penghuni rumah itu. Pangeran Ceng Sin, isterinya dan seorang anaknya terbangun demikian juga dua orang pelayan wanita setengah tua. Mereka berlari ke luar dan terkejut melihat pertempuran itu. Mereka semua berlari menuju ke ruangan belakang dan berkumpul disitu dengan ketakutan.

Setelah merobohkan lima orang pengeroyoknya, Song Bu lalu melakukan pengejaran. Dia tadi melihat betapa orang-orang itu melarikan diri melalui lorong ke bagian belakang, maka diapun berkelebat cepat masuki lorong itu. Setelah tiba di ruang belakang, dua orang pelayan wanita menghadahg di depan pintu.

“Minggir kalian!” bentak Song Bu dan begitu kakinya bergerak menendang dua kali, dua orang wanita pelayan itu terlempar ke kanan kiri.

Song Bu melompat masuk kedalam ruangan itu yang cukup terang karena ada dua lampu gantung menerangi ruangan itu. Dia melihat seorang laki laki berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, berwajah tampan bertubuh sedang dan biarpun pakaiannya tidak mewah namun dapat diketahui bahwa dia seorang bangsawan.

Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun berdiri di sampingnya, dengan mata terbelalak dan wajah pucat memandang kepada Song Bu, dan di samping wanita itu terdapat seorang gadis muda berusia belas tahun, cantik jelita, alisnya berkerut, matanya memandang berani dan nampaknya ia marah sekali.

Song Bu tidak memperdulikan dua orang wanita yang memandangnya dengan mata terbelalak itu. Dia menujukan pandang matanya kepada laki-laki itu dan suaranya tegas ketika dia bertanya, “Engkaukah yang bernama Pangeran Ceng Sin?”

Pangeran itu menjawab, wajahnya pucat namun suaranya tetap tenang, “Benar, aku pangeran Ceng Sin. Siapakah engkau, orang muda dan mau apa datang ke tempat kami membuat kekacauan?”

“Tidak penting siapa aku. Aku datang untuk membunuhmu. Bersiaplah untuk mati!” Dia mengangkat pedangnya, siap untuk menyerang.

“Tidak...! Engkau tidak boleh membunuh suamiku...” teriak wanita cantik berusia tiga puluh tiga tahun itu dan ia sudah berdiri di depan suaminya seolah hendak melindunginya.

Song Bu tertegun melihat ini. Sama sekali dia tidak menduga akan ditentang oleh seorang wanita. Kalau ada jagoan atau pengawal yang maju menghalanginya, tentu akan diserang jagoan itu. Akan tetapi kini yang menentang adalah seorang wanita cantik. Dia tertegun dan tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.

Tiba-tiba gadis remaja berusia tiga belas tahun itu melompat ke depan ibunya dan merentangkan kedua lengan kekanan kiri seperti hendak menghalangi Song Bu. “Pemuda kejam! Tak berprikemanusiaan! Rendah seperti binatang! Engkau tidak boleh membunuh ayah ibuku. Bunuhlah aku lebih dulu sebelum engkau membunuh ayah dan ibuku! Hayo bunuh, engkau pemuda pengecut yang beraninya hanya terhadap orang-orang yang lemah tak berdosa!” Suara gadis remaja itu lantang dan sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, bahkan marah sekali.

Sekali ini Song Bu bukan hanya tertegun, melainkan terpesona! Sama sekali tidak pernah dia dapat membayangkan akan berhadapan dengan seorang gadis remaja seperti ini, yang menantangnya seperti seekor singa betina yang liar dan buas! Timbul kekaguman dalam hatinya. Hatinya tergetar oleh suatu perasaan aneh yang mengalahkan sikap tak acuhnya, mencairkan kekerasan hatinya dan dia menarik napas panjang untuk menenteramkan hatinya.

“Aku... aku hanya melaksanakan perintah...” Akhirnya dia dapat membuka mulut dan bicara seperti seorang kanak-kanak mendapat teguran karena kenakalannya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pikiran yang dianggapnya baik, maka dia segera berkata kepada laki-laki itu.

“Pangeran Ceng Sin, aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi cepat-cepatlah bawa keluargamu melarikan diri keluar dari Kota Raja. Sekarang juga! Cepat sebelum terlambat karena kalau orang lain yang datang, sudah pasti engkau akan dibunuhnya. Cepat!”

Tanpa banyak cakap Pangeran Ceng Sin sudah dapat menduga siapa yang menyuruh pemuda ini menyerbu rumahnya dan hendak membunuhnya. Dia tahu akan bahaya yang mengancam diri dan keluarganya, maka diapun menarik tangan isteri dan anaknya. “Hayo kita pergi!”

Mereka keluar dari ruangan itu dan menuju ke bangunan di bagian belakang. Song Bu mengikutinya. Ternyata Pangeran Ceng Sin membawa anak dan isterinya itu menuju ke istal kuda di mana terdapat sebuah kereta dan beberapa ekor kuda. Pangeran itu lalu mengeluarkan dua ekor kuda dan memasang sendiri dua ekor kuda itu di depan kereta.

Kesempatan ini dipergunakan oleh gadis remaja itu untuk mendekati Song Bu yang masih berdiri mengamati semua itu. “Siapakah namamu?” tanya gadis itu. “Engkau telah berbaik hati tidak membunuh kami, maka aku perlu tahu namamu.”

Seperti dengan sendirinya dan wajar pengakuan itu meluncur dari mulut Song Bu. “Namaku Song Bu.” Dia menahan diri untuk tidak memperkenalkan nama marganya.

“Aku bernama Ceng Loan Cin,” kata gadis itu seperti menjawab pertanyaan. Lalu ia berlari membantu ibunya yang mengumpulkan barang-barang penting yang hendak mereka bawa melarikan diri.

Aneh sekali Song Bu merasa betapa nama itu terngiang-ngiang dalam telinganya seperti diulang ulang. Setelah berkemas secara tergesa-gesa, hanya membawa barang yang berharga dan diperlukan benar, keluarga Pangeran itu lalu berangkat. Kereta dikusiri sendiri oleh Pangeran Ceng Sin karena malam itu kusirnya pulang ke rumahnya sendiri. Kereta berjalan melalui pintu depan di mana terdapat terdapat dua orang perajurit yang menjaga.

Dua orang perajurit ini tidak tahu apa yang telah terjadi di dalam dan mereka hanya dapat memberi hormat dan memandang heran melihat Pangeran Ceng Sin dan anak isterinya naik kereta yang dikusiri sendiri oleh bangsawan itu. Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani bertanya. Song Bu sengaja membiarkan kereta itu pergi sampai agak lama. Barulah dia berlari keluar. Tentu saja dua orang penjaga itu segera menegur dan menghadangnya.

“Berhenti! Siapa kau!” mereka membentak. Akan tetapi sebagai jawaban Song Bu menyerang mereka dengan pukulan tangan. Dia sengaja bergerak lambat sehingga dapat dielakkan oleh dua orang itu yang kemudian menggunakan golok mengeroyoknya. Song Bu melayani mereka sampai belasan jurus, barulah dia menggunakan Ang Tok Ciang memukul mereka. Dua kali dia memukul dengan ilmu pukulan beracun merah itu dan dua orang itupun terpelanting roboh dan tidak mampu bangun kembali.

Song Bu lari ke arah pohon di mana perajurit pengawal yang mengantarnya tadi menunggu. Dia tadi sengaja bertindak lambat agar perajurit ini menyaksikan dari bawah pohon sehingga tidak timbul kesan bahwa dia sengaja membiarkan keluarga itu lolos dan melarikan diri.

“Ouw Yang Kongcu, engkau telah merobohkan dua orang penjaga itu. Akan tetapi saya tadi melihat Pangeran Ceng Sin melrikan diri dengan kereta!”

“Ah, di dalam tadi aku dikeroyok banyak pengawal yang lihai sehingga agak lama aku baru dapat merobohkan mereka. Jadi pangeran itu telah lari dengan kereta? Kemana? Biar aku mengejar dan membunuhnya!”

“Jangan, Kongcu. Kalau sudah keluar dari rumah, akan berbahaya sekali. Keributan tentu akan menarik datangnya pasukan dan sebelum Kongcu berhasil membunuh pangeran itu, orang-orang akan melihat kongcu. Padahal, Kongcu harus bekerja dengan rahasia, tidak boleh terlihat orang lain agar tidak membawa-bawa nama Liu Tai-jin. Mari kita pulang saja membuat laporan.”

Diam-diam Song Bu merasa girang mendengar ucapan perajurit pengawal yang menemaninya itu. Memang itulah yang dia harapkan, yaitu agar dia tidak usah melakukan pengejaran, tidak usah membunuh Pangeran Ceng Sin, demi isterinya, derni anak gadisnya. Rasanya tidak mungkin dan tidak sampai hati kalau dia harus membunuh ketiganya.

Ternyata setelah tiba di gedung tempat tinggal Liu Thai-kam, pembesar ini belum tidur. Dia sengaja menanti kembalinya, bersama ayahnya duduk di ruangan dalam. Song Bu bersama perajurit pengawal itu masuk ke ruangan itu dan menghadap. Belum juga Song Bu duduk, Liu Thaikam telah menyambutnya dengan pertanyaan penuh gairah.

“Bagimana, Ouw Yang Song Bu? Berhasil baikkah engkau membunuh Pangeran Ceng Sin?”

Song Bu duduk di atas sebuah kursi dan perajurit pengawal itu tetap berdiri den sikap hormat. “Maafkan saya, Tai-jin. Ketika saya berhasil memasuki gedung tempat tinggal pangeran itu, lima orang jagoan mengepung dan mengeroyok saya. Kepandaian lima orang itu cukup tangguh sehingga setelah lama bertanding dan bersusah payah akhirnya saya dapat merobohkan mereka berlima. Akan tetapi ketika saya cari-cari kedalam rumah itu, saya hanya menemukan seorang wanita pelayan yang saya robohkan sedangkan, Pangeran itu dan keluarganya tidak di dalam rumah. Agaknya ketika saya bertanding melawan lima orang jagoan itu, dia telah melarikan diri dengan kereta seperti terlihat oleh perajurit pengawal ini. Ketika saya keluar, kembali saya dihadang oleh dua orang pengawal yang menjaga pintu pekarangan. Kami bertanding dan saya dapat merobohkan dua orang itu. Akan tetapi kereta itu telah lama pergi, menurut keterangan perajurit pengawal ini. Maafkan saya, Tai-jin. Tadinya saya hendak melakukan pengejaran terhadap pangeran yang lari dengan keretą, akan tetapi perajurit pengawal itu mencegah karena khawatir keributan itu memancing datangnya pasukan dan saya akan dilihat orang.”

“Herm, benarkah itu?” tanya Liu-Thaikam kepada perajurit pengawal itu.

Pengawal itu mengangguk membenarkan dan Liu-thaikam mengangguk-angguk. “Sudahlah, Song Bu. Biarpun engkau gagal membunuhnya, setidaknya engkau telah membunuh para jagoannya dan hal ini tentu membuat dia ketakutan. Kalau dia melarian diri dan tidak berani kembali lagi ke Kota Raja, hal itu sudah baik sekali. Jasamu cukup besar dan engkau boleh beristirahat. Ayahmu sedang hendak melaksanakan tugasnya.”

Song Bu memandang kepada ayahnya dan Ouw Yang Lee memberi isyarat dengan gerakan kepalanya agar pemuda itu pergi dan tidur di kamar mereka. Song Bu lalu mengundurkan diri. Perajurit pengawal itupun disuruh pergi oleh Liu-thaikam.

“Nah, sekarang tiba saatnya bagimu untuk memperlihatkan kesungguhan hatimu dan kesetiaanmu, Ouw Yang-sicu. Puteramu sudah bekerja dengan baik dan aku menghargainya sekali. Sekarang tengah malam lewat dan kiranya saat seperti ini yang paling baik bagimu untuk bergerak. Sudah kukatakan bahwa rumah Panglima Koan tentu terjaga ketat, jauh lebih kuat dibandingkan dengan penjagaan di rumah Pangeran Ceng Sin. Engkau sudah tahu benar tentang letak gedung tempat tinggal Panglima Koan Tek bukan?”

“Sudah, Tai-jin. Keterangan dan gambaran tadi sudah jelas dan saya kira saya akan dapat menemukan rumah itu dengan mudah. Dan harap paduka jangan khawatir. Saya sudah berpengalaman, tidak seperti anak saya yang masih hijau. Paduka dengar saja, sebelum matahari terbit, tentu Panglima Koan Tek telah kehilangan nyawanya.”

“Bagus, mudah-mudahan berhasil, Ouw yang-sicu. Panglima Koan Tek itu merupakan seorang yang amat berbahaya bagi kami dan bukan tidak mungkin pembunuh yang pernah menyerbu ke sini itu adalah dia orangnya. Hati-hati, dia mempunyai banyak kaki tangan yang lihai. Kami akan menanti kembalimu, Ouw Yang-sicu dan tidak akan dapat tidur sebelum engkau kembali membawa berita yang menyenangkan.”

Ouw Yang Lee lalu bersiap-siap. Seperti juga Song Bu tadi, diapun mengenakan pakaian serba hitam yang sudah dipersiapkan oleh Liu-thaikam. Bahkan dia mengenakan topeng dari kain hitam untuk menutupi mukanya. Tidak seperti Song Bu yang sama sekali belum terkenal, Ouw Yang Lee adalah seorang yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Kalau dia bertindak tentu dia akan dikenal orang dan hal ini sama sekali tidak dikehendaki oleh Liu Thai-kam.

Karena itulah Ouw Yang Lee menggunakan kedok kain hitam. Kemudian, bagaikan sesosok bayangan iblis dia berkelebat lenyap di antara kegelapan malam. Ouw Yang Lee tidak perlu diantar perajurit pengawal karena untuk dapat keluar dari kormpleks istana tanpa diketahui penjaga merupakan hal yang mudah baginya.

Dan untuk mencari rumah gedung tempat tinggal Koan-Ciangkun juga bukan merupakan pekerjaan sukar karena dia sudah hafal akan keadaan Kota Raja yang dulu sering dikunjunginya. Apa lagi dia sudah mendapat petunjuk dan gambaran dari Liu thaikam bahwa rumah tempat tinggal panglima itu berada di sebelah selatan Jembatan Bulan Merah.

Suasana sudah amat sepi karena malam telah larut, tengah malam telah lewat. Jalan-jalan sudah ditinggalkan orang dan Kota Raja tampaknya sudah tidur. Bayangan hitam itu berkelebat cepat sekali dan andaikata ada orang melihatnya, tentu tidak akan mengira bahwa yang berkelebat itu adalah bayangan orang. Ouw Yang Lee mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan seperti terbang cepatnya. Sebentar saja sudah tiba di tempat yang dituju, yaitu di depan sebuah gedung besar, gedung yang terletak di sebelah selatan Jembatan Bulan merah.

Jalan di depan gedung itupun sunyi sekali, tidak tampak seorangpun lewat. Akan tapi pandang mata yang tajam dari Ouw Yang Lee dapat melihat belasan orang perjurit melakukan penjagaan di dalam dan gardu penjagaan yang berada di pinggir halaman gedung yang luas. Dia mendekam di balik semak yang tumbuh di bawah pohon, mengamati dan memperhitungkan keadaan.

Besar sekali bahayanya dia akan gagal kalau dia menyerbu lewat pintu halaman itu. Biarpun dia akan manampu merobohkan belasan orang penjaga itu, namun keributan itu pasti akan memancing keluarnya lebih banyak lagi perajurit pengawal dan juga jagoan-jagoan yang menjaga keselamatan panglima itu. Tidak, dia harus dapat masuk tanpa diketahui oleh penjaga. Akan tetapi dia harus dapat menguasai seorang karyawan dalam gedung itu. Akan sukarlah baginya untuk dapat menemukan kamar sang panglima tanpa ada orang yang memberi petunjuk.

Setelah mempertimbangkan baik-baik, dia lalu bergerak cepat menyelinap di dalam bayangan-bayangan yang gelap mengitari pagar tembok yang cukup tinggi menuju ke belakang gedung. Dia menunggu sebentar dan benar saja, lima orang perajurit pengawal lewat di luar pagar tembok itu, agaknya mengadakan perondaan di sekeliling pagar tembok. Setelah lima orang peronda itu lewat, barulah Ouw Yang Lee menggunakan kepandaiannya.

Dia mengeluarkan segulung tali hitam yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Di ujung tali itu terikat sebuah kaitan tiga cabng dari besi. Dia tidak berani menggunakan gin-kang untuk melompat ke atas pagar tembok yang tinggi itu. Selain pagar itu amat tinggi, juga andaikata dia dapat melompat ke atasnya, dia khawatir di atas pagar tembok itu dipasangi alat rahasia yang akan memberi tanda akan kedatangannya, atau dipasangi jebakan.

Menggunakan tali lebih aman. Sekali lontaran saja, kaitan besi itu telah mengait puncak pagar tembok dan dia pun mulai memanjat tembok itu menggunakan tali. Cepat seperti seekor kera tubuhnya sudah tiba di atas. Dengan hati-hati dia mengintai ke sebelah dalam. Sunyi saja. Aman keadaannya, apa lagi diapun dilindungi kegelapan malam. Dia naik ke atas pagar tembok, menarik tali yang menggantung di luar tembok, kemudian dengan hati-hati dia turun ke sebelah dalam, juga melalui tali itu.

Melompat begitu saja kebawah juga berbahaya karena keadaan gelap dan siapa tahu di bawah terdapat jebakan. Setelah tiba di bawab, dia menarik tali itu sehingga kaitannya di atas terlepas. Dia menggulung tali dan mengikatkan di pinggangnya, kemudian dia mulai mengamati keadaan sekelilingnya. Dari lampu yang dipasang di tempat itu dia melihat bahwa dia berada di sebuah taman yang cukup luas. Taman ini penuh tanaman bunga sehingga memudahkan dia untuk menyusup diantara tanaman bunga menghampiri gedung.

Dengan mudah Ouw Yang Lee membuka daun pintu sebuah kamar yang kecil tanpa menimbulkan suara sehingga laki-laki setengah tua yang tidur di atas dipan dalam kasar itu tidak terbangun. Dari pakaiannya, ketika dia mengintai dari jendela tadi, dia tahu bahwa orang itu tentu seorang pelayan, maka dia mengambil keputusan untuk memilih orang itu sebagai penunjuk jalan agar dia dapat menemukan kamar sang panglima.

Bagaikan seekor kucing saja, dia melompat memasuki kamar melalui jendela yang sudah terbuka dan dengan hati-hati dia cepat menutupkan lagi daun jendela dari dalam agar jangan sampai menarik perhatian orang. Sekali meloncat, dia sudah berdiri di depan pembaringan. Untung baginya bahwa pelayan itu memiliki kebiasaan tidur tanpa memadamkan lampunya, walaupun lampu itu bernyala kecil saja sehingga dia dapat melihat dengan jelas keadaan laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun itu.

Ouw Yang Lee menggerakkan tangan kanannya dengan cepat dan dia sudah menotok kearah pundak dan tenggorokan orang itu. Orang itu tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya. Akan tetapi dia hanya mampu membelalakkan kedua matanya, sama sekali tidak dapat dapat bergerak lagi dan tidak dapat mengeluarkan suara.

Ouw Yang Lee mencabut pedangnya yang berkilauan terkena sinar lampu yang redup dalam kamar, lalu menempelkan pedang itu di leher pelayan yang sudah tidak mampu bergerak dan bersuara itu. Dia hanya menjadi pucat dan seluruh tubuhnya gemetar, tanda bahwa dia berada dalam keadaan ngeri dan takut sekali.

“Kalau engkau masih ingin hidup, engkau harus menunjukkan kepadaku di mana Panglima Koan Tek berada. Kalau dia sudah tidur, dia tidur di kamar yang mana? Awas, kalau engkau menipu dan membohongiku, kepalamu akan kupisahkan dari badanmu!” Dia menekan pedangnya sehingga orang itu menjadi semakin ketakutan dan tanpa dapat ditahan lagi, basahlah celananya!

Ouw Yang Lee menepuk pundaknya sehingga dia dapat bergerak kembali akan tetapi tetapi masih tidak dapat mengeluarkan suara. Dia tidak mampu berteriak dan untuk melawan, tentu saja dia tidak berani. Dia hanyalah seorang pelayan biasa yang lemah. Maka dia hanya dapat mengangguk-angguk tanda bahwa ia akan mematuhi perintah orang bertopeng hitam yang menempelkan pedang di lehernya itu.

“Hayo kita ke luar dan tunjukkan kamarnya!” bisik Ouw Yang Lee dengan suara mengancam.

Orang itu bangkit dan berjalan ke pintu, diikuti Ouw Yang Lee yang masih menodongkan ujung pedangnya di punggung orang itu. Pelayan itu membuka daun pintu dan melangkah menuju ke ruangan tengah melalui pintu tembusan yang menghubungkan rumah induk dengan rumah para pelayan di bagian belakang itu. Kini mereka tiba di bundaran terbuka yang luas dan di sekeliling bundaran itu terdapat kamar-kamar yang pintu dan jendelanya tertutup.

Tanpa petunjuk, alangkah sukarnya mencari tempat di mana Panglima Koan Tek berada. Tidak mungkin harus memasuki semua kamar itu satu demi satu. Pasti akan menimbulkan keributan sebelum dia berhasil menemukan orang yang dicari, besar kemungkinannya dia sudah dikepung dan dikeroyok. Perhitungannya memang tepat. Pelayan itu ketakutan setengah mati dan tentu tidak akan berani menipunya.

Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki di sebelah kiri dan secepat kilat dia menyambar pundak pelayan itu dan di tariknya bersembunyi di belakang sebuah pilar yang besar. Dia mengintai dari pilar dan melihat dua orang melangkah perlahan-lahan sambil bercakap-cakap. Yang seorang bertubuh tinggi besar, berumur kurang lebih tiga puluh lima tahun dan dan dari pakaiannya Ouw Yang Lee tahu bahwa orang itu tentu seorang perwira.

Orang ke dua bertubuh kurus tinggi dan rambutnya digelung ke atas, pakaiannya seperti yang biasa dipakai para Tosu (Pendeta To), punggungnya terdapat sebatang pedang dan usianya sekitar lima puluh tahun. Ouw Yang Lee mencatat dalam hatinya. Dua orang itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, hal ini dapat dilihat dari langkah dan sikap tubuh mereka. Terutama sekali Tosu itu. Matanya mencorong dan dia pasti seorang ahli tenaga dalam yang tangguh dan kuat.

Setelah dua orang itu lewat dan menghilang ke dalam sebuah pintu tembusan, Ouw Yang Lee berbisik kepada tawanannya. “Hayo cepat tunjukkan, di mana kamar panglima Koan Tek!”

Pelayan itu menunjuk dengan telunjuk kanannya ke arah sebuah kamar yang berada di tengah-tengah deretan banyak kamar itu. Ouw Yang Lee memandang. “Yang di atas pintunya terdapat kertas (jimat) berwarna kuning dengan huruf merah itu?”

Orang itu mengangguk mernbenarkan. Setelah mendapat keterangan ini, Ouw Yang Lee hendak membunuhnya, akan tetapi dia segera teringat. Dia masih membutuhkan orang ini. Andaikata ternyata orang ini menipunya dan kamar itu bukan kamar panglima, dia dapat mengancamnya lagi. Kalau sudah dibunuh tidak akan ada gunanya lagi. ia lalu menotoknya lagi dan orang itu roboh terkulai, tidak mampu bergerak.

Ouw Yang Lee mencengkeram baju di punggung pelayan itu dan mengangkatnya, menyembunyikan tubuh pelayan itu di balik sebuah pot besar sehingga tidak akan mudah terlihat kalau ada orang lewat di bundaran itu. Kemudian dia berkelebat cepat ke arah kamar yang ditunjuk. Setelah memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa keadaan di tempat itu sunyi, tak tampak atau terdengar ada orang lain, dia mengetuk daun pintu dengan kuat beberapa kali.

“Koan-Ciangkun... Koan-Ciangkun...!” serunya dan dengan pengerahan tenaga dari pusar dia dapat membuat suaranya seperti menembus daun pintu itu sehingga terdengar lantang di sebelah dalam kamar.

“Siapa di luar?” terdengar pertanyaan suara yang berat dari dalam kamar.

"Saya, Ciangkun, seorang perajurit pengawal. Saya ingin menyampaikan laporan yang penting sekali. Keadaan berbahaya dan gawat, Ciangkun!” kata Ouw Yang Lee.

“Tunggu dulu...!” Suara dari dalam menjawab dan tak lama kemudian daun pintu terbuka dan tampak seorang laki-laki tinggi besar, usianya kurang lebih empat puluh tahun, berdiri di ambang pintu dengan sebatang pedang di tangannya. Pakaiannya masih kusut karena dipakai tidur. Di belakangnya tampak seorang wanita muda yang cantik, juga pakaian dan rambutnya kusut seperti baru bangun tidur.

"Tai-Ciangkun (panglima besar) Koan.?"

“Ya, ada apa? Siapa engkau?” balas tanya panglima bertubuh tinggi besar itu. Dia memandang dengan alis berkerut melihat seorang berpakaian hitam-hitam dan mukanya ditutup topeng kain hitam pula.

“Mampuslah!” bentak Ouw Yang Lee sambil menyerang dengan pedangnya. Serangan kilat ini selain cepat juga kuat sekali, meluncur dan mengarah dada panglima itu.

Akan tetapi Panglima Koan Tek bukan seorang lemah dan diapun sudah siap membela diri dengan pedang di tangan. Dia menggerakkan pedangnya menangkis dengan pengerahan tenaga. “Tranggg…” Bunga api berpijar dan panglima itu terhuyung ke dalam kamar. Ternyata dia tidak mampu menandingi tenaga Ouw Yang Lee yang amat kuat itu.

Ouw Yang Lee menerjang masuk ke kamar dan wanita muda itu menghalanginya seperti hendak melindungi panglima yang terhuyung kebelakang, Ouw Yang Lee menendang. “Desss...!!,” tubuhnya mencelat jauh membentur dinding dan iapun roboh terkulai dalam keadaan pingsan. Ouw Yang Lee menyerang lagi pada panglima yang sudah dapat mengendalikankan keseimbangan tubuhnya.

Melihat serangan yang hebat ini, Panglima Koan melompat ke samping untuk mengelak sambil berteriak memanggil para pengawalnya. Suaranya lantang ketika dia berteriak dan hal membuat Ouw Yang Lee marah dan khawatir. Maka dia lalu menyerang lagi dengan pedangnya. Ketika Panglima Koan tek menangkis dan sekali lagi terhuyung, Ouw Yang Lee mengejar dan tangan kirinya yang telah berubah kemerahan karena sejak tadi dia sudah mengerahkan ilmu Ang Tok Ciang (Tangan Beracun Merah) mendorong dengan kuat dan cepatnya ke arah dada kiri panglima.

Panglima Koan Tek tidak dapat menghindarkan dirinya dari pukulan itu karena tubuhnya sedang terhuyung. Biarpun dia menggerakkan lengan kiri ke depan untuk menangkis dan melindungi tubuhnya, tetap saja tangan kiri Ouw Yang Lee mengenai dadanya.

“Plakk...!” Tubuh panglima itu tersentak dan terjengkang roboh, tidak mampu bergerak lagi karena dadanya telah terkena pukulan Ang Tok Ciang yang amat ampuh dan beracun. Merasa yakin bahwa pukulan Ang Tok Ciang tadi pasti membunuh korbannya, Ouw Yang Lee lalu melompat keluar dari kamar itu karena khawatir bahwa teriakan panglima tadi akan mendatangkan para perajurit. Dugaannya benar, karena begitu tiba diluar kamar, dia disambut serangan pedang yang cepat dan kuat sekali datangnya. Dia menggerakkan pedangnya menangkis.

“Trangg...!” Bunga api berpijar dan dia melihat bahwa penyerangnya adalah perwira muda yang tadi dilihatnya berjalan bersama seorang Tosu. Tenaga perwira ini kuat sekali, biarpun pedangnya terpental namun perwira itu tidak goyah.

“Penjahat busuk! Menyerahlah kau!” bentak perwira itu dan diapun menyerang diturut oleh belasaภ orang yang sudah di tempat itu.

Hujan senjata tertuju kepada tubuh Ouw Yang Lee. Datuk ini mengerahkan tenaganya, memutar pedang dengan gerakan panjang dan lebar sehingga terdengar suara senjata berkerontangan dan banyak golok dan pedang terpental dan terlepas dari pegangan pemiliknya yang mengeroyok, semua orang terkejut.

Ouw Yang Lee mempergunakan kesempatan ini untuk melompat jauh ke depan, lalu dengan beberapa lompatan saja tubuhnya sudah melayang keatas wuwungan bangunan yang mengelilingi bundaran terbuka itu. Perwira itu mengejarnya dan juga melompat ke atas genteng.

“Jahanam, hendak ke mana kau?” serunya dan ketika tangan kirinya bergerak, tiga batang piauw (senjata rahasia yang dilontarkan) meluncur ke arah tubuhnya.

Mendengar berkesiurnya angin yang dibawa tiga batang senjata rahasia itu, Ouw Yang Lee terpaksa menahan langkahnya, membalik dan dengan miringkan tubuh menarik tubuh atas ke samping, dia telah dapat menghindarkan diri dari sambaran tiga batang senjata piuw itu. Akan tetapi perwira itu sudah tiba di situ dan sudah menerjangnya dengan serangan pedangnya secara bertubi-tubi.

“Trang-trang-trang...!” Bunga api berpijar di kegelapan malam yang telah larut sekali itu dan terjadilah perkelahian adu pedang yang amat seru di atas genteng. Semntara itu di bawah terdengar teriakan teriakan para pengawal dan banyak di antara mereka yang membawa obor sehingga keadaan menjadi terang.

Ouw Yang Lee maklum bahwa kalau sampai banyak jagoan naik dan mengepungnya, akan sukar baginya untuk dapat meloloskan diri dari tempat itu. Maka diapun mempercepat gerakan pedangnya, diselingi dengan pukulan Ang Tok Ciang yang dilontarkan tangan kirinya.

Biarpun perwira itu dapat bermain pedang secara bagus dan kuat, namun menghadapi pukulan-pukulan Ang Tok Ciang, dia menjadi terkejut dan segera terdesak. Dia mengenal pukulan berbahaya, maka dia selalu mengelak. Ketika dia mendapat kesempatan, pedangnya membacok ke arah leher Ouw Yang Lee dengan amat cepatnya.

Tidak ada waktu bagi datuk itu untuk mengelak. Dia mempergunakan kesempatan itu untuk keuntungannya. Dia menangkis dan mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) untuk menyedot dan menempel pedang itu. Ketika dua pedang bertemu, kedua senjata itu saling melekat.

Perwira itu berusaha untuk melepaskan pedangnya yang ditempel, akan tetapi pada saat itu, tangan kiri Ouw Yang Lee melancarkan pukulan Ang Tok Ciang dari jarak dekat selagi pedang mereka saling melekat....

Selanjutnya,
SEPASANG RAJAH NAGA JILID 07