Sepasang Rajah Naga Jilid 03

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Sepasang Rajah Naga Jilid 03
Sonny Ogawa
Cerita silat karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Rajah Naga Jilid 03 - KARENA sikap Ouw Yang Lee dan kedua orang isterinya amat ramah dan baik kepadanya, Song Bu merasa senang tinggal di Pulau Naga. Dalam beberapa bulan pertama, dia memang seringkali menanyakan ayah dan ibunya kepada keluarga itu. Akan tetapi selalu dijawab bahwa ayah ibunya pergi jauh dan belum kembali.

Akhirnya, lambat laun Song Bu dapat melupakan ayah ibunya. Mula-mula pertanyaannya tentang ayah ibunya semakin jarang dia ajukan dan beberapa bulan kemudian, anak ini sudah lupa akan ayah bundanya dan dia merasa dirinya sudah tergabung menjadi anggaura keluarga Ouw Yang.

Song Bu berangkat besar di dalam keluarga ini dan karena tumbuh bersama dan diperlakukan dengan baik oleh semua keluarga itu, Song Bu juga merasa sayang kepada mereka. Terutama kepada Ouw Yang Lan dan Ouw Yang Hui, dia menganggap mereka seperti adik-adik sendiri dan dia suka mengajak mereka bermain-main.

Kasih sayang merupakan perasaan yang paling murni dan amat kuat dari manusia. Bahkan sering terjadi watak yang amat keras dan jahat sekalipun, akan mencair oleh kasih sayang. Kasih sayang mengandung getaran yang amat kuat.

Kasih sayang yang tulus menghilangkan pementingan diri sendiri dan tercermin dalam segala tindakan, suara, tatapan mata dan air muka orang yang menyayangnya sehingga orang yang disayangnya terdorong untuk bersikap baik dan membalas kasih sayang itu.

Kasih sayang murni tidak mengandung pamrih untuk kesenangan dan kepentingan diri pribadi. Kalau kasih sayang mengandung pamrih menyenangkan diri sendiri, maka itu adalah nafsu, karena sifat nafsu selalu berdalih mementingkan diri sendiri.

Karena mendapatkan kasih sayang seperti itu, terutama sekali dari kedua orang Nyonya Ouw Yang dan kedua orang putri mereka, Song Bu tumbuh besar dalam keluarga itu dengan perasaan sayang pula kepada keluarga Ouw Yang. Perasaan sayang yang menimbulkan kesetiaan dan kepatuhan.

Ouw Yang Lee, yang pada dasarnya berwatak aneh dan kasar, selalu menuruti nafsu-nafsunya, juga merasa sayang kepada Song Bu. Akan tetapi rasa sayang dari seorang datuk setengah sesat seperti Ouw Yang Lee ini tentu saja berpamrih. Pertama, karena Song Bu merupakan anak yang tampan dan penurut sehingga menyenangkan.

Dan ke dua, dia mempunyai harapan agar kelak Song Bu menjadi muridnya yang baik dan boleh diandalkan sehingga dapat mengangkat tinggi-tinggi nama gurunya! Ouw Yang Lee sengaja mendatangkan seorang guru sastra dari daratan dan dengan bayaran tinggi, guru sastra itu tinggal di Pulau Naga.

Sejak berusia lima tahun, Song Bu sudah mulai belajar membaca dan menulis. Beberapa tahun kemudian, setelah dia pandai membaca, dia bahkan mulai diajar membaca kitab-kitab suci Agama To, Agama Khong-hu-cu dan Agama Budha yang dianut oleh kebanyakan rakyat di waktu itu. Tidak hanya membaca kitab-kitab suci tiga agama itu, bahkan dia diharuskan menghafal ayat-ayat sucinya.

Tentu saja seorang anak berusia tujuh delapan tahun tidak mungkin dapat menghayati segala macam ujar-ujar kitab suci. Hafalan di luar kepala itu membuat semua ayat itu hanya menjadi semacam kalimat yang tidak berarti sama sekali. Sama saja seperti burung kakatua yang pandai menirukan bahasa manusia.

Kebiasaan seperti ini, yaitu menghafalkan semua pelajaran tentang kebajikan yang dijejalkan ke dalam hati akal pikiran manusia, masih dilakukan orang sampai hari ini. Setiap orang mermpelajari ayat-ayat dalam kitab suci berbagai agama, menghafalkan di luar kepala.

Akan tetapi sungguh sayang, menghafal semua pelajaran tentang kebaikan itu ternyata tidak dapat membuat manusia menjadi baik, atau kalaupun ada yang berhasil, sedikit sekali atau langka. Mengapa semua pelajaran tentang kebaikan itu tidak dapat melekat ke dalam jiwa dan tidak dihayati?

Kenyataan ini membuktikan bahwa sesungguhnya kebaikan itu tidak dapat dipelajari. Orang tidak mungkin dapat belar menjadi baik! Baik itu adalah suatu sifat yang keluar dari dalam diri, cahaya jiwa bersih yang memancar keluar melalui sikap dan perbuatan.

Kebaikan yang dipelajari dan dihafalkan hanya menimbulkan kemunafikan. Seperti wajah setan bertopeng wajah malaekat. Karena kebaikan yang disengaja itu bukan kebaikan lagi namanya, di situ sudah pasti tersembunyi pamrih sebagai dasarnya.

Dan semua pamrih itu timbul dari nafsu dan pasti tidak dapat disebut kebajikan. Seperti minyak wangi yang dituangkan kepada sesuatu yang busuk, hanya membungkus kebusukan dengan wewangian. Berbeda dengan keharuman bunga, karena keharuman ini adalah keharuman yang wajar, yang menjadi sifat dari bunga itu.

Kebajikan yang murni dilakukan orang tanpa si pelaku merasakan bahwa perbuatannya itu baik, melainkan dirasakan sebagai suatu kewajaran, atau bahkan suatu kewajiban. Mempelajari sesuatu, dalam hal ini mempelajari kebaikan, hanya akan menghasilkan pengetahuan belaka. Dan pengetahuan ini tidak akan mampu membendung terjangan nafsu yang selalu berusaha menguasai hati akal pikiran.

Padahal pengetahuan itu bersarang dalam hati akal pikiran. Pengetahuan tidak akan mampu membuat kita menjadi baik, atau menjadi penuntun sehingga kita menjadi manusia yang baik, bukan harmba nafsu. Hal ini terbukti dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Kalau kita bertanya kepada ribuan pencuri, apakah mereka itu tidak tahu bahwa perbuatan mencuri itu adalah jahat dan tidak baik? Semua pencuri, tidak terkecuali, tentu TAHU akan hal ini. Tahu benar.

Demikian pula kalau kita bertanya kepada seluruh koruptor di dunia ini, tentu mereka itu tahu benar, lebih tahu dari kita bahwa perbuatan korupsi itu jahat dan tidak baik. Akan tetapi mengapa mereka semua itu masih saja mencuri, masih saja berkorupsi? Semua penjahat tahu belaka bahwa kelakuan mereka itu jahat dan tidak baik, mengapa mereka masih saja melakukan perbuatan jahatnya? Mengapa?

Karena alat kita untuk mengetahui yaitu hati akal pikiran kita, sejak kita kecil sudah mulai disusupi nafsu-nafsu kita, daya-daya rendah nafsu yang berebutan untuk menguasai hati akal pikiran kita. Hati akal pikiran kita sudah dicengkeram oleh nafsu-nafsu kita sendiri sehingga tidak berdaya untuk melepaskan diri. Coba dengar bisikan hati akai pikiran seorang koruptor yang tahu benar bahwa perbuatannya korupsi itu jahat. Begini bisikan hati akal pikiran itu,

“Ah, korupsi yang kulakukan ini kan tidak seberapa? Semua orang melakukannya! Aku terpaksa melakukannya, karena gajiku tidak mencukupi kebutuhan hidup, karena aku harus membayar ini itu untuk anak isteriku, keluargaku”

Nah, dengan keadaan hati akal pikiran dalam kekuasaan nafsu seperti itu, bagaimana mungkin kita dapat belajar menjadi baik? Pelajaran semua ayat-ayat suci hanya menjadi hafalan belaka, mengambang tanpa isi, seperti api yang sudah padam hanya meninggalkan asap dan abunya saja. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi daya kekuasaan nafsu kita sendiri?

Apapun yang kita lakukan, kita masih berputar-putar dalam ruangan yang di bentuk nafsu Karena itu, jangan lakukan apa-apa! Karena apapun yang kita lakukan, masih berada dalam tuntunan nafsu! Makin kita berusaha untuk melemahkan nafsu, akan menjadi makin besarlah nafsu. Lalu bagaimana, apakah yang kita dapat lakukan untuk mengendalikan nafsu-nafsu kita sendiri?

Kita tidak dapat melakukan sesuatu Yang dapat mengendalikan nafsu hanyalah Kekuasaan Tuhan! Tuhan yang menganugerahi kita dengan penyertaan nafsu dalan kehidupan ini, karena itu hanya Kekuasaa Tuhan yang akan dapat mengembalikan nafsu-nafsu kita kepada fungsinya semula yaitu menjadi peserta dan pembantu kita menjadi hamba kita.

Kita hanya dapat MENYERAH, menyerah kepada Tuhan dengan sepenuh dan sebulat lahir batin kità menyerah dengan penuh kepasrahan, keikhlasan, ketawakalan dan sepenuh iman. Dengan penyerahan, tanpa keinginan karena keinginan inipun ulah nafsu, maka Kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri kita dan barulah nafsu-nafsu itu dapat ditundukkan dan dikembalikan kedudukannya menjadi bamba kita, tidak lagi menjadi penguasa yang memperhamba kita.


Sang waktu meluncur dengan amat cepatnya bagaikan anak panah terlepas dari busurnya. Hal ini terjadi kalau kita tidak memperhatikannya. Bertahun-tahun lewat bagaikan berhari-hari saja rasanya. Akan tetapi kalau kita memperhatikan jalannya waktu, maka berhari-hari terasa bertahun-tahun.

Tanpa terasa tujuh tahun telah terlewat sejak Song Bu berada di Pulau Naga. Dia bukan saja menjadi murid Ouw Yang Lee, mempelajari ilmu silat dari Ouw Yang Lee dan ilmu sastra dari guru sastra, akan tetapi juga dia seolah menjadi anak pungut dari datuk itu. Dia dimanjakan seperti anak sendiri dan tidak pernah disuruh bekerja berat seperti para anggauta Pulau Naga dan keluarga mereka. Song Bu menjadi manja dan tumbuh sifat congkak dalam dirinya karena merasa dibela.

Pembelaan Ouw Yang Lee terhadap dirinya memang agak berkelebihan. Pernah terjadi seorang anggauta Pulau Naga yang merasa iri melihat anak pungut itu dimanjakan, bersikap kasar kepada Song Bu. Ketika Song Bu mengadu kepada gurunya, anggauta itu lalu dihajar oleh Ouw Yang Lee di depan para anggauta lain.

Hal ini selain membuat para anggauta Pulau Naga merasa segan dan tidak suka kepada Song Bu, juga membuat anak ini dihinggapi perasaan manja dan congkak. Pada suatu senja, Song Bu yang sudah berusia sepuluh tahun berada di taman bersama Ouw Yang Lan yang berusia delapan tahun dan Ouw Yang Hui yang berusia tujuh tahun.

Tan Song Bu kini telah-menjadi seorang anak laki-laki yang bertubuh besar dan sehat, biarpun baru berusia sepuluh tahun namun tubuhnya tampak kuat dan gesit berkat penggemblengan Ouw Yang Lee kepadanya sejak dia berusia enam tahun.

Dasar dasar ilmu silat yang baik telah dikuasainya sehingga kaki tangannya menjadi kokoh kuat. Wajahnya juga tampak tampan dan gagah. Kedua orang anak perempuan yang dianggap adik-adiknya sendiri akan tetapi yang disebut sumoi (adik perempuan seperuruan) olehnya, juga tampak mungil dan cantik, dengan gerakan tubuh yang gesit karena sejak berusia enam tahun merekapun sudah digembleng oleh ayah mereka.

Ouw Yang Lan tampak cerewet, manis dan genit, tawanya bebas dan wataknya lincah gembira. Sebaliknya Ouw Yang Hui tampak jelita namun pendiam dan gerak geriknya halus walaupun ia juga sudah mempelajari dasar langkah-langkah dalam gerakan silat seperti kakaknya.

Pada senja hari itu mereka bertiga bermain-main dalam taman bunga yang luas dan indah di pulau itu sambil berlatih mengatur langkah-langkah gerakan silat. Dua orang anak perempuan itu baru mempelajari pemasangan kuda-kuda yang benar dan kokoh, lalu menggerakkan kedua kaki membuat langkah-langkah menurut garis-garis pat-kwa (segi delapan) seperti yang diajarkan, ayah mereka.

Langkah-langkah Pat-kwa-kun (Silat Segi Delapan) ini tidaklah mudah. Walaupun hanya langkah-langkah saja tanpa gerakan kedua tagan, namun amat banyak perubahan dan perkembangannya sehingga terasa sukar bagi Ouw Yang Lan dan Ouw Yang Hui.

Akan tetapi dengan sabar dan tekun Song Bu memberi petunjuk kepada kedua orang sumoinya dan menyuruh mereka membuat langkah-langkah yang paling sederhana dulu. Karena kedua orang anak perempuan itu sering membuat kekeliruan, maka Song Bu minta kepada mereka untuk mengulang dan mengulang kembali.

“Bu-suheng (kakak seperguruan Bu), aku lelah, kedua kaki sudah terasa kaku dan ngilu.” Ouw Yang Hui mengeluh sambil membungkuk dan memijati kedua kakinya dengan tangan.

“Ah, kita berlatih sebentar lagi, Hui-moi (adik perempuan Hui)” kata Ouw Yang Lan. “Mari, Suheng, kita ulangi lagi langkah-langkah permulaan. Hayo, adik Hui, kalau kita tidak tekun berlatih, bagaimana bisa memperoleh kemajuan?”

Mendengar ucapan kakak perempuannya, Ouw Yang Hui memaksa diri untuk memasang kuda-kuda lagi dan mengikuti gerakan Song Bu dan Ouw Yang Lan membuat langkah-langkah Pat-kwa. Pada saat itu muncul seorang wanita setengah tua, pelayan keluarga itu.

“Nona Lan dan Nona Hui, nona berdua disuruh masuk oleh Nyonya. Hari telah mulai gelap dan nona berdua belum mandi,” kata pelayan itu.

“Nanti dulu, apakah engkau tidak melihat bahwa kami sedang sibuk? Pergi dan jangan ganggu kami lagi!” bentak Ouw Yang Lan galak sambil memandang kepada pelayan itu dengan mata melotot.

Wanita itu tidak berani membantah lalu pergi kembali ke rumah untuk melapor kepada nyonya majikannya. Sementara itu, senja telah larut dan cuaca mulai menjadi remang-remang. Setelah mendapat pelaporan dari pelayan bahwa anak-anak mereka tidak mau disuruh pulang padahal hari sudah mulai gelap, dua orang nyonya muda itu langsung pergi sendiri ke dalam taman untuk menyusul puteri mereka. Ketika kedua orang nyonya muda itu melihat betapa puteri-puteri mereka masih berlatih silat bersama Song Bu, mereka lalu menegur Song Bu.

“Song Bu, malam mulai tiba, cuaca sudah gelap, kenapa engkau masih mengajak adik-adikmu untuk bermain terus?” tegur isteri pertama Ouw Yang Lee.

Song Bu yang selalu pandai membawa diri dan bersikap hormat kepada kedua orang subo (ibu guru) itu, segera menjawab sopan. “Maaf, toa-subo (ibu guru pertama), kami sedang asyik berlatih sehingga tidak sadar bahwa hari telah malam.” Dia sama sekali tidak mau mengadu bahwa Ouw Yang Lan yang menghendaki berlatih terus.

Pada saat itu, tiba-tiba saja tampak belasan bayangan orang berkelebatan memasuki taman itu. Dua orang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan gerakan mereka gesit sekali, telah melompat dekat kedua orang nyonya Ouw Yang.

Seorang di antara mereka, pria berusia kurang lebih empat puluh tahun, bermuka gagah dan kemerahan, memegang sebatang pedang, melompat dekat Nyonya Ouw Yang Lee yang pertama dan sekali tangan kirinya bergerak, dia telah menotok nyonya itu sehingga tubuh wanita itu menjadi lemas dan segera disambar dan dipanggul di pundak kirinya.

Melihat ibunya dirobohkan dan dipanggul orang itu, Ouw Yang Lan melompat maju dan anak berusia delapan tahun imi dengan penuh keberanian menerjang dan memukul penawan ibunya. “Lepaskan ibuku, kau keparat!” bentaknya sambil memukul.

Akan tetapi, pria itu menggigit pedangnya dan menggunakan tangan kanannya untuk menotok. Ouw Yang Lan menjadi lemas tak berdaya. Laki-laki itu menyimpan pedang di sarung pedangnya dan memanggul tubuh Ouw Yang Lan di pundak kanannya. Pria ke dua juga menotok roboh Nyonya Ouw Yang ke dua.

Ketika Ouw Yang Hui lari mendekat sambil berteriak memanggii ibunya, anak inipun dirobohkan dengan totokan dan dipanggul pula seperti ibunya. Kedua ibu dan anaknya itu telah ditawan dua orang itu. Penawan Ouw Yang Hui dan ibunya itu seorang laki-laki yang usianya juga sekitar empat puluh tahun, mukanya penuh brewok dan matanya tinggal satu karena yang kiri terpejam dan agaknya buta karena tidak ada biji matanya lagi.

Melihat ini, Song Bu terkejut bukan main. Kedua orang subo-nya dan kedua orang sumoi-nya telah ditangkap dua orang itu dan di situ masih ada belasan orang yang kesemuanya memegang pedang atau golok dengan sikap mengancam sekali. Dia segera menjerit sekuatnya.

“Suhuuuuu... Tolooooooongg...!!” Setelah mengeluarkan jeritan melengking itu, Song Bu lalu menerjang pria bermuka merah yang memondong tubuh Ouw Yang Lan dan ibunya. “Lepaskan mereka!” bentaknya dan diapun memukul ke arah perut pria itu.

Biarpun baru mempelajari silat selama empat tahun, namun Song Bu yang berusia sepuluh tahun itu telah memiliki kegesitan dan pukulannya itu berbeda dengan pukulan anak seusia dia pada umumnya. Pukulan itu mengadung tenaga bagaikan pukulan seorang dewasa.

Akan tetapi, orang tinggi besar yang menawan Ouw Yang Lan dan ibunya itu ternyata seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tentu saja serangan anak sekecil Song Bu tidak ada artinya bagi dia. Sekali kakinya bergerak menendang, tubuh Son Bu tertendang sampai terlempar beberapa meter jauhnya.

“Bunuh anak itu!” Si muka merah memerintah, lalu bersama si brewok yang menawan Ouw Yang Hui dan ibunya, diapun melompat dan menghilang ke dalam malam yang mulai gelap.

Beberapa orang cepat menghampiri Song Bu yang sudah merangkak hendak bangun itu. dengan golok dan pedang di tangan. Empat batang senjata tajam itu menyambar ke arah tubuh Song Bu!

“Trangg-trangg-tranggggg” Empat batang golok dan pedang itu patah-patah dan begitu sinar itu berkelebatan menyambar, empat orang yang tadinya hendak membunuh Song Bu telah berpelantingan dengan leher hampir putus! Kiranya Ouw Yang Lee telah berdiri di situ dan dialah yang tadi menangkis senjata empat orang itu kemudian membunuh mereka dengan sekali gerakan pedang.

“Song Bu, apa yang terjadi?” Akan tetapi sebelum Song Bu dapat menjawab pertanyaan suhunya itu, belasan orang yang melihat betapa empat orang rekan mereka terbunuh, sudah menerjang dan mengeroyok Ouw Yang Lee sambil membentak nyaring.

Akan tetapi, Ouw Yang Lee segera bergerak cepat. Pedangnya menyambar-nyambar dan setiap golok atau pedang pengeroyok yang bertemu dengan pedangnya, tentu patah-patah dan pemegang senjata itu sendiri roboh disambar sinar pedang di tangan datuk itu. Suara hiruk pikuk di taman ini menarik perhatian anak buak Pulau Naga dan mereka lari berdatangan.

Melihat ketua mereka dikeroyok banyak orang, para anak buah Pulau Naga lalu menyerbu dan sekarang para penyerang itulah yang berbalik dikeroyok banyak sekali orang. Selain pedang Ouw Yang Lee yang amat dahsyat merobohkan banyak di antara mereka, sisanya dibantai oleh anak buah Pulau Naga. Ouw Yang Lee sengaja merobohkan seorang penyerbu tanpa membunuhnya, melainkan merobohkannya dengan totokan tangan kirinya. Kemudian Ouw Yang Lee menengok ke arah Song Bu.

“Song Bu, apa yang terjadi? Mana kedua subo dan sumoi-mu?” tanya Ouw Yang Lee kepada muridnya.

“Celaka, suhu! Kedua subo dan kedua sumoi ditangkap dan dilarikan dua orang penjahat!” Song Bu menudingkan telunjuknya ke arah belakang taman ke dimana tadi dia melihat dua orang itu melarikan kedua subo dan kedua sumoinya.

“Celaka...” Ouw Yang Lee berseru dan dia lalu melompat ke arah itu dan berlari cepat melakukan pengejaran. Akan tetapi malam itu gelap dan dia tidak dapat melihat jejak kedua orang penculik itu. Ketika dia tiba di tepi pantai pulau, dia melihat empat orang anak buah Pulau Naga menggeletak dan tewas. Akan tetapi seorang di antara mereka masih bergerak. Dibawah penerangan bintang yang remang-remang dia mengguncang pundak anak buahnya itu dan bertanya.

“Apa yang terjadi? Apa engkau melihat kedua hu-jin (nyonya) dan Siocia (nona)?”

Anak buah yang terluka parah pada dadanya itu dengan susah payah mengeluarkan suara, “Mereka... mereka dilarikan... dengan perahu... oleh dua orang kakek... kami... tidak berhasil mencegahnya...”

Ouw Yang Lee tidak memperdulikan lagi orang itu. Dia melompat berdiri, melihat beberapa buah perahu anak buahnya. Ouw Yang Lee lalu mendorong sebuah perahu ke tengah, lalu menggunakan dayung untuk mendayung perahu meninggalkan pantai. Akan tetapi malam itu gelap, hanya diterangi laksaan atau jutaan bintang di langit. Cahayanya remang-remang dan dia tidak mungkin dapat melihat lebih jauh dari beberapa ratus meter saja.

Dia memandang ke sekeliling, namun tidak melihat ada perahu sehingga dia tidak tahu harus mengejar kearah mana. Akhirnya dia putus harapan dan teringat akan seorang pengeroyok yang tadi dirobohkan dengan totokan. Pengeroyok yang masih hidup tentu akan dapat memberi tahu siapa adanya orang-orang yang memimpin mereka, berani menyerang Pulau Naga dan berani menculik kedua isterinya dan kedua anaknya.

Teringat akan ini, dia cepat mendayung perahu ke tepi pulau lagi dan melompat ke darat, lalu lari ke perkampungannya di tengah pulau. Ketika tiba di taman, pertempuran telah berhenti. Semua penyerbu telah dapat dirobohkan dan dibunuh. Ouw Yang Lee mencari orang yang tadi dia robohkan dengan totokan. Setelah menemukan orang itu, memegang tangannya dan menyeretnya menuju ke dalam rumah.

“Kalian urus semua mayat ini, kuburkan dalam hutan agar jangan mengotori udara di sini. Song Bu, kau ikut aku masuk rumah!”

Dia memerintah kepada anak buahnya dan kepada Song Bu. Song Bu segera mengikuti gurunya yang menyeret tubuh orang yang belum tewas namun yang tidak mampu menggerakkan badannya karena jalan darahnya tertotok oleh Ouw Yang Lee. Setelah tiba di ruangan dalam di mana penerangan telah dinyalakan oleh para pelayan, Ouw Yang Lee melemparkan tubuh tawanannya itu ke tengah ruangan.

Song Bu mengikuti gurunya dan anak itu berdiri di sudut ruangan sambil melihat apa yang hendak dilakukan gurunya terhadap tawanan itu. Ouw Yang Lee membebaskan totokan orang itu dengan menepuk kedua pundaknya. Orang itu bangkit dan merangkak hendak bangun, akan tetapi dia mendekam kembali ketika ujung pedang di tangan Ouw Yang Lee menodong lehernya.

“Hayo katakan, siapa dua orang pemimpin kalian yang telah menculik kedua orang isteri dan anak kami! Cepat katakan!” Berkata demikian, pedangnya berkelebat.

“Cratt!” Ujung pedang itu menggores paha kiri orang itu sehingga celana dan kulit dagingnya robek. Orang itu mengeluh dan memegangi pahanya yang terluka dan terasa perih.

“Cepat jawab pertanyaanku tadi. Siapa kedua orang pemimpin itu!”

“Saya... saya... dan kawan-kawan hanya anak buah yang taat kepada perintah ketua kami yang berjuluk Tok-Gan-Houw (Harimau Mata Satu) bernama Lo Cit. Kami bersarang di Bukit Harimau di pantai laut. Kami hanya menaati perintah ketua kami yang membawa kami menyerbu ke Pulau Naga.” Orang itu mengaku dengan wajah pucat sekali, kemudian merintih karena pahanya terasa nyeri bukan main, pedih dan panas.

Sebagai seorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia kang-ouw (sungai telaga persilatan), dia dapat menduga bahwa luka di pahanya mengandung racun. Dugaannya itu memang benar. Ouw Yang Lee yang berjuluk Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur) adalah seorang yang ahli dalam penggunaan segala macam racun, oleh karena itu, tentu saja pedang yang dipergunakannya mengandung racun.

“Jadi yang menculik keluarga kami adalah Tok-Gan-Houw Lo Cit? Siapa yang seorang lagi?” bentak Ouw Yang Lee dan pedangnya sudah mengancam ke leher orang itu.

Dengan tubuh menggigil menahan rasa nyeri dan takut, orang itu menjawab, “Saya... saya tidak tahu... siapa kawan dari Tok Gan Houw Lo Cit,”

Ouw Yang Lee sudah merasa cukup mendapat keterangan itu. Kalau dia dapat menangkap Tok-Gan-Houw Lo Cit, tentu dia akan tahu pula siapa orang ke dua itu. Kakinya bergerak menendang ke arah dada orang itu. Tubuh orang itu terlempar keluar dari ruangan dan tewas seketika karena tendangan yang disertai tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat itu telah mengguncang dan menghancurkan isi dadanya.

Song Bu menghampiri gurunya. “Suhu, kita harus cepat melakukan pengejaran dan menolong kedua subo dan kedua sumoi!”

“Song Bu, engkau tinggal saja di rumah. Pekerjaan ini berbahaya, hanya aku yang dapat melakukannya. Aku hendak melakukan pengejaran sekarang, engkau tinggal di rumah saja.”

“Baik, suhu,” kata Song Bu walaupun hatinya merasa kecewa karena sebetulnya dia ingin membantu gurunya untuk mencari para subo dan sumoinya.

Sambil membawa pedang dan dayungnya, Ouw Yang Lee lalu keluar dari rumah menuju ke pantai di mana terdapat sebuah perahu yang khusus miliknya. Dua orang anak buahnya membawa obor dan mengikuti ketua mereka untuk menerangi jalan. Akan tetapi ketika mereka tiba di pantai, mereka melihat bahwa air laut sedang pasang. Keadaan lautan di malam itu sungguh ganas dan sama sekali tidak mungkin untuk melakukan penyeberangan ke daratan Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya.

Dia tidak mampu melakukan pengejaran malam ini dan dia khawatir sekali akan keselamatan kedua isteri dan kedua orang anaknya. Kalau mereka itu dibawa lari penjahat dengan menggunakan perahu, mereka tentu terancam oleh keadaan laut yang sedang pasang itu. Karena tidak mungkin melakukan pengejaran di waktu malam gelap dan air laut sedang pasang itu, terpaksa Ouw Yang lee menunggu.

Dia tidak kembali ke rumah melainkan duduk di dalam sebuah perahu yang berada di tepi, bersila dan termenung, mencoba untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Dia mengingat-ingat dan rasanya belum pernah bermusuhan dengan orang bernama Lo Cit yang berjuluk Tok-Gan-Houw. Akan tetapi mengapa orang itu datang menculik kedua orang isterinya dan kedua orang anaknya?

Ouw Yang Lee marah sekali. Belum perah selama hidupnya dia marah seperti itu, belum pernah selama hidupnya dia terganggu seperti itu. Kedua orang isterinya dan kedua orang anaknya diculik orang! Sungguh hal ini merupakan penghinaan dan tantangan yang harus dihadapinya mati-matian. Dia harus membunuh penculik itu! Dia akan menunggu sampai malam lewat.

Biasanya, kalau air laut pasang di malam hari, pada pagi harinya akan surut dan tenang kembali. Dia menunggu di situ, dalam kegelapan karena dia menyuruh pergi dua orang anak buah yang tadi mengikutinya sambil membawa obor. Dia menanti dengan hati penuh kegeraman, penuh dendam.

Perahu besar yang dipergunakan oleh dua orang penjahat yang menculik kedua orang Nyonya Ouw Yang dan dua orang puteri mereka itu meluncur dengan cepat meninggalkan Pulau Naga. Perahu itu sempat mengembangkan layarnya karena pada saat mereka melarikan diri itu air laut belum pasang terlalu besar dan masih memungkinkan melakukan pelayaran.

Gelombang besar mulai timbul ketika perahu mereka telah jauh meninggalkan Pulau Naga dan enam orang anak buah mereka yang mengatur layar dan kemudi perahu adalah orang-orang yang cakap dan sudah berpengalaman sehingga walaupun perahu itu harus menerjang gelomang besar, perahu tetap meluncur dengan pesat menuju ke daratan besar.

Dua orang nyonya bersama anak mereka berada di dalam bilik perahu dan mereka menangis terisak-isak penuh rasa khawatir. Ouw Yang Lan dan Ouw Yang Hui merangkul ibu masing-masing dan kedua orang anak perempuan ini bersikap seperti hendak melindungi ibu mereka! Bahkan Ouw Yang Lan berulang kali menghibur ibunya dengan kata-kata bersemangat.

“Jangan menangis, ibu dan jangan takut. Aku akan melindungimu!” kata Ouw Yang Lan dengan sikap gagah sambil memandang kepada dua orang yang duduk tak jauh dari mereka di dalam bilik perahu itu.

Ibunya yang bernama Lai Kim atau Nyonya Ouw Yang Lee yang pertama hanya merangkul puterinya dengan gelisah. Sim Kui Hwa atau Nyonya Ouw Yang ke dua yang memeluk Ouw Yang Hui sudah tidak menangis lagi dan ia menoleh kepada dua orang penculik mereka, lalu berkata dengan suara lembut. Wanita ini memang berwatak lembut dan suaranyapun halus,

“Mengapa ji-wi (kalian berdua) menculik kami yang tidak berdosa? Kalau jiwi membutuhkan harta, katakan saja. Suami kami tentu akan suka menyerahkan kepada ji-wi asalkan ji-wi suka membebaskan kami.”

Seorang di antara dua pria yang duduk dalam bilik itu, yang sejak tadi hanya diam saja dan kadang-kadang melirik ke arah mereka, mengerutkan alisnya. Dia seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar, mukanya penuh brewok akan tetapi mata kirinya buta dan tidak berbiji. Mendengar ucapan Sim Kui Hwa itu, dia menghardik. “Diam kau! Atau aku akan melempar kalian ke dalam lautan!”

Dihardik seperti itu, dua orang wanita itu tidak berani mengeluarkan suara lagi. Mereka berdua, biarpun merupakan wanita wanita lemah, namun sebagai isteri-isteri seorang datuk besar, mereka tidak takut mati, akan tetapi mereka mengkhawatirkan keselamatan puteri mereka. Laki-laki tinggi besar brewok bermata satu inilah Tok-Gan-Houw (Harimau Mata Satu) Lo Cit.

Dia adalah kepala gerombolan yang bersarang di bukit Houw-san (Bukit Harimau) yang letaknya di pesisir Laut Timur. Gerombolannya terdiri dari kurang lebih tiga puluh orang dan mereka adalah gerombolan yang suka merampok dan membajak.

Berulang kali anak buah dari Houw-san ini melakukan pembajakan, bentrok dengan anak buah Pulau Naga dan seringkali mereka terpukul mundur, bahkan banyak di antara anak buah Houw-san yang tewas menjadi korban dalam bentrokan itu. Hal ini tentu saja amat menyakitkan hati Tok-Gan-Houw Lo Cit.

Akan tetapi kepala gerombo!an ini sudah mendengar akan kesaktian Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur) Ouw Yang Lee yang menjadi majikan Pulau Naga. Ouw Yang Lee terkenal sebagai datuk dari timur, maka tentu saja memiliki kesaktian yang hebat.

Tok-Gan-Houw Lo Cit merasa jerih walaupun dia sendiri sebenarnya adalah seorang tokoh kang-ouw (dunia persilatan) yang sudah memiliki tingkat ilmu silat yang cukup tinggi. Namun karena hatinya sudah kesal sekali melihat betapa anak buahnya sering kali ditentang dan dikalahkan oleh para anak buah Pulau Naga, dia menyimpan dendam.

Pada suatu hari, kebetulan sekali dia bertemu dengan seorang kenalannya, seorang tokoh kang-ouw lain yang dia tahu memiliki ilmu silat yang amat tangguh. Bahkan orang itu lebih lihai dari pada dirinya sendiri. Orang itu adalah pria tinggi besar bermuka merah dan gagah yang membantunya melakukan penyerbuan ke Pulau Naga.

Pria yang bermuka merah dan gagah ini di dunia kang-ouw juga amat terkenal dengan julukan Thai-Lek-Kui (Iblis Bertenaga Besar bernama Ciang Sek. Dia adalah seorang datuk yang menjadi pemilik atau majikan bukit Awan Putih. Sebetulnya Thai-Lek-Kui Ciang Sek tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Ouw Yang Lee, akan tetap ketika dimintai tolong oleh Lo Cit yang menjadi kenalan baiknya, dia merasa tidak enak untuk menolak.

Demikianlah, Ciang Sek bersama Lo Cit membawa belasan orang anak buahnya menyerbu Pulau Naga di malam hari itu. Melihat kelihaian Ouw Yang Lee yang merobohkan para anak buahnya, Lo Cit lalu menawan Sim Kui Hwa dan anaknya Ouw Yang Hui, sedangkan Ciang Sek tiba tiba merasa tertarik sekali kepada Lai Kim, ibu Ouw Yang lan yang cantik jelita.

Maka diapun lalu menawan wanita itu bersama puterinya dan membawanya lari bersamA-Sama Lo Cit, melarikan diri dari pulau dengan perahu besar itu. Thai-lek-kui Ciang Sek yang berusia empat puluh tahun itu telah menjadi seorang duda. Beberapa bulan yang lalu dia kehilangan isterinya yang tercinta. Isterinya meninggal dunia karena suatu penyakit.

Setelah isterinya meninggal dunia, Ciang Sek begitu berduka. Dia memulangkan tiga orang isteri mudanya ke kampung tempat asal mereka masing-masing, kemudian dia meninggalkan Pek-In-San (Bukit Awan Putih) dalam rawatan belasan orang anak buahnya, kemudian dia merantau tanpa tujuan tertentu.

Dalam perantauannya inilah dia bertemu Tok gan-houw Lo Cit yang minta bantuannya untuk menyerbu Pulau Naga. Ketika melihat Lai Kim yang wajahnya mirip mendiang isterinya, bahkan Lai Kim lebih muda dan lebih jelita, seketika hatinya terpikat dan tanpa diminta dia menawan Lai Kim dan puterinya, Ouw Yang Lan.

Setelah perahu itu akhirnya tiba dengan selamat ke pantai daratan besar, malam telah larut, bahkan fajar hampir menyingsing. Pelayaran itu menjadi lambat karena laut yang pasang mengombang-ambingkan perahu itu sehingga pelayaran itu tidak lancar dan memakan waktu lama baru tiba di pantai daratan.

“Lo-twako (kakak Lo), setelah tiba di sini, aku harus melanjutkan perjalananku. Ibu dan anak yang kutawan ini akan kubawa!” kata Thai-Lek-Kui Ciang Sek kepada Lo Cit, dalam suaranya terkandung nada keras yang menyatakan bahwa kehendaknya itu tidak boleh dibantah lagi.

Lo Cit cepat mengangkat kedua tangan e depan dada memberi hormat. “Memang sebaiknya kalau kita berpencar di sini, dan wanita beserta puterinya itu adalah engkau yang menawannya, maka engkau pula yang berhak atas diri mereka. Terima kasih atas bantuanmu, saudara Ciang Sek.”

Pada saat itu, beberapa orang mendekati méreka sambil menuntun beberapa ekor kuda. Mereka itu ternyata adalah anak buah Lo Cit yang ditinggal di pantai itu untuk mempersiapkan segalanya kalau mereka pulang dari penyerbuan mereka ke Pulau Naga.

“Kebetulan sekali engkau mempunyai beberapa ekor kuda, Lo-toako. Aku membutuhkan dua ekor kuda yang kuat dan baik." kata pula Ciang Sek.

“Silakan memilih dua ekor, saudara Ciang Sek,” kata pula Lo Cit.

Thai-Lek-Kui Ciang Sek memilih dua ekor kuda, kemudian tanpa banyak cakap dia mengangkat tubuh Lai Kim dan Ouw Yang Lan ke atas seekor kuda. Ibu dan anak ini disuruh berboncengan dan dia sendiri melompat ke atas punggung kuda yang ke dua.

“Nah, kami berangkat, Lo-toako!” kata Ciang Sek sambil membedal kudanya dan menuntun kuda yang ditunggangi Lai Kim dan Ouw Yang Lan. Dia menjalankan kudanya menuju ke Barat.

“Engkau hendak membawa kami ke manakah?” tanya Lai Kim yang kini sudah tidak menangis lagi.

“Kenapa engkau membawa kami pergi? Lepaskanlah kami berdua yang tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah apapun kepadamu.”

“lbu, jangan takut! Aku akan melindungimu kata Ouw Yang Lan yang duduk di atas kuda, depan ibunya.

“Nyonya yang baik, tenang sajalah. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyengsarakanmu. Kalau engkau banyak membantah, terpaksa aku akan membunuh anak perempuanmu itu!”

Biarpun suaranya terdedengar lembut namun nadanya mengandung ancaman yang membuat Lai Kim tidak berani mengeluarkan suara lagi, melainkan mendekap tubuh puterinya yang berada di depannya.

Dua ekor kuda itu berjalan terus menuju ke barat, dalam keremangan cuaca fajar. Kabut tebal segera menyelimuti bayangan dua ekor kuda itu. Sementara itu, Lo Cit memberi isyarat kepada anak buahnya. Tak lama kemudian sebuah kereta datang. Kiranya anak buah Lo Cit sudah mempersiapkan kuda dan kereta untuk menyambut ketua mereka.

Yang ikut menyerbu ke Pulau Naga hanya belasan orang dan yang masih tinggal ada belasan orang lagi. Sisa anak buahnya itulah yang kini menyambut kedatangan Lo Cit dan mereka tentu saja merasa heran dan terkejut melihat bahwa yang kembali dengan selamat hanyalah Lo Cit dan Ciang Sek yang menawan dua orang wanita beserta puteri mereka.

“Teman-teman berada di mana, Pangcu (ketua)?” tanya seorang di antara para anak buah itu.

Lo Cit mengangkat tubuh Sim Kui Hwa dengan paksa naik ke kereta, demikian pula Ouw Yang Hui dipaksanya naik kereta. “Jangan banyak bertanya!” bentak Lo Cit marah karena dia merasa terpukul sekali dengan kenyataan bahwa belasan orang anak buahnya yang ikut menyerbu Pulau Naga telah tewas semua dan tidak ada seorangpun yang lolos.

“Jalankan kereta, cepat!" Dia khawatir kalau-kalau Ouw Yang Lee melakukan pengejaran. Kereta dilarikan dengan cepat dan belasaan orang sisa anak buahnya yang tidak ikut menyerbu ke Pulau Naga mengikuti dari belakang, dengan menunggang kuda.

Sim Kui Hwa mendekap puterinya dan memandang kepada Lo Cit yang duduk dalam kereta di depannya dengan mata mengandung ketakutan. “Tuan, kami hendak kau bawa ke manakah? Kenapa kami yang tidak bersalah apa-apa kau tawan? Harap kau suka membebaskan kami ibu dan anak.” Sim Kui Hwa memohon dengan suara lirih.

Mata yang tinggal sebelah kanan saja itu memandang dengan sinar mata mengancam. “Diam, jangan banyak bicara kalau kalian ingin hidup!” bentak Lo Cit yang masih marah mengingat akan kematian banyak anak buahnya.

Bentakan itu membuat Sim Kui Hwa tidak berani bicara lagi dan hanya menangis. Setelah matahari naik agak tinggi, tibalah kereta yang dikawal belasan orang anak buah itu tiba di sebuah persimpangan jalan. Lo Cit menghentikan keretanya dan memberi isyarat keluar kereta, memanggil seorang pembantunya yang dipercaya. Pembantunya ini seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya seperti tengkorak,tingal tulang terbungkus kulit.

“Ji-Tong, seperti sudah kuperintahkan dengan jelas kepadamu, bawalah anak itu sekarang juga. Engkau tahu sudah, apa yang harus kau lakukan dengan anak itu.”

“Baik, pang-cu,” kata laki-laki tinggi kurus yang bernama Ji-Tong itu. Dia lalu memasuki kereta dan meraih ke arah Ouw Yang Hui.

Anak berusia tujuh tahun itu ketakutan dan memeluk ibunya. Ibunya juga merangkulnya ketika melihat betapa orang kurus itu hendak menangkap Ouw Yang Hui. Akan tetapi sepasang lengan yang panjang kurus itu terus mengejar lalu menangkap pinggang Ouw Yang Hui dan menariknya. Sim Kui Hwa mempertahankannya dan menjerit-jerit. Ouw Yang Hui juga menjerit-jerit.

Akan tetapi sepasang tangan Ji-Tong merenggut dengan kuatnya sehingga ibu dan anak yang saling rangkul itu terlepas dan terpisah. Ji-Tong memondong Ouw Yang Hui keluar dari kereta. Sim Kui Hwa hendak mengejar keluar. Lo Cit merangkul pinggangnya dan menahannya di dalam kereta.

“Jałankan kereta! Cepat!” perintahnya kepada kusir yang segera mencambuk kudanya dan kereta itu bergerak melaju dengar cepat. Sim Kui Hwa meronta-ronta hendak melepaskan diri agar dapat menolong puterinya.

“Lepaskan aku…!! Kesinikan Anakku...!” Ouw Yang Hui la meronta dan menjerit. Akan tetapi pinggangnya dirangkul Lo Cit dengan kuatnya sehingga ia tidak mampu melepaskan diri dan kereta bergrak cepat sekali.

Sementara itu, Ji-Tong sudah membawa tubuh Ouw Yang Hui melompat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda itu mengambil jalan simpang yang menuju ke kota Nam-po yang letaknya kurang lebih puluhan lie dari situ.

Ouw Yang Hui yang dipisahkan dari ibunya, meronta dan menjerit-jerit, akan tetapi apakah artinya tenaga rontaan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun bagi seorang Ji-Tong, penjahat yang terbiasa mempergunakan kan kerasan dan kekuatan? Ji-Tong membalapkan kudanya dengan cepat, tidak perduli teriakan-teriakan Ouw Yang Hui.

“Diam, anak bandel!” akhirnya Ji-Tong merasa jengkel juga karena anak perempuan itu terus menangis. “Ku tampar kau kalau menangis dan berteriak-teriak terus.” Akan tetapi dia tidak menghentikan kudanya yang tetap berjalan cepat.

“Ibuuu... bawa aku kembali kepada ibuuuuuuu! Aku tidak mau ikut kamu...” Ouw Yang Hui tidak perduli akan ancaman orang itu dan menjerit-jerit terus.

Kuda yang ditunggangi Ji-Tong itu memasuki sebuah hutan kecil yang berada di luar kota Nam-po. Tiba-tiba tampak dua orang laki-laki muncul dan berlompatan keluar dari balik semak-semak dan dua orang itu menghadang di tengah jalan kecil yang dilalui Ji-Tong. Kuda yang ditunggangi menjadi terkejut. Ji-Tong menahan kendali kudanya yang berdiri dan meringkik.

“Mau apa kalian?” Minggir bentak Ji-Tong. Akan tetapi dua orang itu sama sekali tidak mau minggir, bahkan seorang di antara mereka segera memegang kendali dekat mulut kuda.

“Turun kau dan tinggalkan kuda untuk kami, kalau engkau ingin selamat!” bentak orang ke dua.

Ji-Tong marah sekali. Dia adalah seorang yang biasa merampok, dan kini agak nya hendak dirampok orang lain! Dia membawa Ouw Yang Hui melompat turun dari atas kuda, melepaskan tubuh anak itu di atas tanah, lalu tangannya mencabut sebatang golok yang berada di punggungnya.

“Kalian penjahat-penjahat kecil yang sudah bosan hidup!” bentaknya dan diapun sudah menerjang dengan goloknya.

Akan tetapi kedua orang itupun sudah mencabut golok mereka dan mengeroyok Ji-Tong. Terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian. Kuda itu dibiarkan terlepas, dan Ouw Yang Hui yang melihat perkelahian itu, memandang dengan mata terbelalak. la tidak tahu harus berbuat apa, hendak lari harus mengambil jalan mana? la berada di tengah hutan dan ia tidak tahu ibunya berada di mana. Karena kebingungan, anak itu tidak mampu beranjak dari tempat itu.

Perkelahian masih berlangsung dengan serunya. Tempat itu sunyi, tidak tampak ada orang lain menyaksikan perkelahian itu. Ternyata kedua orang yang melakukan penghadangan itu tangguh juga sehingga Ji-Tong mengalami kesulitan.

Biarpun sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, namun tetap saja dia terdesak hebat, kini hanya dapat menangkis saja sambil terus mundur. Sial baginya, ketika dia mundur-mundur itu, kakinya terjegal oleh akar pohon yang menonjol di atas tanah. Tak dapat dihindarkan lagi, diapun terjengkang dan selagi dia terhuyung mempertahankan keseimbangan tubuhnya, dua orang pengeroyoknya mengejar dan menghujamkan serangan golok mereka.

Ji-Tong tidak dapat menghindarkan diri lagi dan dia berteriak keras ketika tubuhnya menjadi sasaran dua batang golok itu. Dia terpelanting dan roboh mandi darah oleh dua orang pengeroyoknya. Dia roboh dengan luka parah di leher dan dadanya. Dua orang itu memandang kepada Ji-Tong yang sudah menggeletak berlumuran darah dan tidak bergerak lagi, lalu mereka menyarungkan golok mereka ke sarung di punggung.

“A-Liuk, bawa kuda itu dan mari kita cepat pergi dari sini,” kata seorang dari mereka yang kepalanya botak dan usianya sekitar tiga puluh lima tahun.

"Sam-ko, lihat anak itu. Manis dan cantik sekali!" kata orang yang disebut A-Liuk, orang yang bertubuh pendek kecil dan usianya sekitar tiga puluh tahun.

Orang kedua yang bernama A-Sam menoleh dan diapun tertegun melihat Ouw Yang Hui yang sudah tidak menangis lagi. Bukan main cantik manisnya anak itu!

“Sam-ko, ia bahkan jauh lebih berharga dari pada kuda ini!” kembali A-Liuk berkata.

Hati A-Sam menjadi tertarik dan dia lalu menghampiri Ouw Yang Hui. Anak itu memandang kepada laki-laki botak yang menghampirinya dengan senyum ramah di wajahnya. Karena melihat betapa dua orang itu telah membunuh Ji-Tong yang jahat, Ouw Yang Hui menganggap mereka berdua itu sebagai penolongnya dan iapun tidak merasa takut.

A-Sam lalu berjongkok di depan anak itu. “Anak yang baik, kenapa engkau tadi menangis dan siapakah orang itu?” Dia menuding ke arah tubuh Ji-Tong yang sudah tidak bergerak lagi.

“Dia orang jahat, memaksa aku berpisah dari ibuku,” kata Ouw Yang Hui.

“Hemm, jangan takut lagi, anak manis. Dia telah kami bunuh. Dan di mana ibumu sekarang?”

Ouw Yang Hui menggeleng kepala. “Ibu juga dibawa lari penjahat, entah ke mana.”

“Ah, kalau begitu, mari engkau ikut dengan kami. Kami berdua akan mencarikan ibumu sampai dapat,” kata A-Sam.

Mendengar ini, Ouw Yang Hui tampak gembira sekali. “Benarkah, paman? Ah, aku girang sekali. Tentu saja aku mau ikut dengan paman berdua untuk mencari ibuku!”

A-Sam saling pandang dengan A-Liuk dan mereka berdua merasa girang sekali. Ouw Yang Hui lalu diangkat oleh A-Sam, didudukkan di atas punggung kuda rampasan itu dan mereka berdua lalu menuntun kuda dan berjalan keluar dari hutan menuju ke kota Nam-po. Karena percaya sepenuhnya bahwą dua orang paman itu bersikap baik kepadanya dan akan mencarikan ibunya maka tentu saja Ouw Yang Hui menjadi girang dan mengikuti mereka dengan taat.

Hari telah menjelang sore ketıka akhirnya mereka memasuki kota Nam-po yang cukup ramai. Karena Ouw Yang Hui mengeluh perutnya lapar, maka kedua orang itu membawa Ouw Yang Hui ke sebuah rumah makan dan mereka bertiga makan minum sampai kenyang. Ouw Yang Hui sudah mulai dapat tersenyum karena hatinya girang bertemu dengan dua orang yang baik ini, yang menjanjikan untuk mencarikan ibunya.

Sehabis makan, A-Sam dan A-Liuk membawa Ouw Yang Hui berkunjung ke sebuah rumah mungil yang pintunya bercat merah dan di pekarangan depan rumah itu banyak tanaman bunga yang beraneka macam dan warna. Mereka menuntun kuda yang ditunggangi Ouw Yang Hui itu memasuki pekarangan, lalu berhenti di depan rumah dan mengikatkan kuda mereka pada sebatang pohon.

A-Sam menurunkan Ouw Yang Hui dan menggandeng tangan anak perempuan itu menghampiri pintu depan. Dia mengetuk pintu dan ketika daun pintu terbuka, seorang wanita berpakaian pelayan menyambut mereka. Melihat dua orang laki-laki yang sikap dan pakaiannya kasar, pelayan wanita itu mengerutkan alisnya dan bertanya dengan sikap memandang rendah. “Kalian berdua mau apa?”

A-Sam tersenyum, tidak marah melihat sikap pelayan itu. “Kami hendak bertemu dan bicara dengan Cia-Ma, ada urusan penting sekali!” Sambil berkata demikian, A-Sam mengijapkan sebelah matanya sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Ouw Yang Hui.

Anak perempuan itu tidak memperhatikan dan tidak melihat isyarat ini, bahkan andaikata ia melihat sekalipun ia tidak akan dapat menduga sesuatu. Pelayan itu, wanita berusia lima puluhan tahun memandang kepada Ouw Yang Hui dan tersenyum.

“Cantik dan manis sekali! Kau tunggulah sebentar, aku akan memberi tahu nyonya.” Setelah berkata demikian, pelayan itu lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian ia muncul kembali dan sikapnya sekarang tidak kaku seperti tadi. “Kalian dipersilakan masuk ke ruangan tamu,” katanya.

A-Sam dan A-Liuk memasuki ruangan tamu mengikuti pelayan itu. A-Sam menggandeng tangan Ouw Yang Hui yang merasa heran. “Paman, rumah siapakah ini…? Apakah ibu berada di sini?”

“Tenanglah, anak yang baik. Ini rumah Bibi Cia. Untuk sementara engkau akan tinggal di sini dan kami berdua akan mencarikan ibumu. Kalau sudah bertemu, kami akan membawa ibumu ke sini.”

Mendengar ucapan itu, Ouw Yang Hui tidak bertanya lagi. Pelayan meninggalkan mereka duduk di ruangan tamu dan tak lama kemudian, pintu tembusan terbuka dari daam dan munculiah seorang wanita berusia empat puluhan tahun berpakaian mewah dan tubuhnya penuh dengan perhiasan dari emas permata. Wajah wanita ini cerah penuh senyum dan begitu memasuki ruangan tamu itu, sepasang matanya yang sipit mengamati Ouw Yang Hui dengan penuh perhatian dan tampaknya ia tertarik sekali.

Kemudian wanita yang biasa di sebut Cia-Ma (Ibu Ma) atau Bibi Cia itu memandang kepada A-Sam dan A-Liuk. la segera mengenal dua orang ini. Dua orang yang terkenal sebagai orang-orang yang biasa melakukan segala macam kejahatan di kota Nam po dan sekitarnya, dua orang yang suka berjudi dan mau melakukan pekerjaan apa saja asalkan diberi upah.

Kemarin ia mendengar bahwa dua orang ini telah berjudi habis-habisan dan ludes. Agaknya sekarang telah rnendapatkan “rejeki” lagi sehingga datang membawa seekor kuda dan seorang anak yang manis. Tanpa bertanyapun tahulah Cia-Ma apa maksud mereka datang membawa seorang bocah perempuan kepadanya. Akan tetapi sekali ini gadis cilik yang dibawa mereka ini lain lagi. Bukan bocah sembarangan!

Baru pakaiannya saja sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak yang keluarganya berkecukupan. Tubuhnya terpelihara dengan baik dan dalam keadaan sehat sekali. Wajahnya demikian anggun dan cantik. Hati Cia-Ma tergerak dan tak dapat ia menahan diri untuk tidak mengusap pipi anak itu dengan usapan lembut dan menyayang.

“Anak yang baik, siapakah namamu nak?” tanyanya dengan manis budi. Karena sikap Cia-Ma yang lembut, Ouw Yang Hui juga tidak malu-malu dan menjawab dengan jelas.

“Namaku Ouw Yang Hui, bibi.”

“Aduh, nama yang indah sekali! Dan berapa usiamu, Ouw Yang Hui?”

“Usiaku tujuh tahun, bibi.” Dari cara bicara anak itu dalam memberikan jawaban saja sudah dapat diketahui oleh Cia-Ma bahwa anak ini memang bukan anak sembarangan. Anak yang tahu akan usianya sendiri tentulah anak yang mendapat pendidikan baik. Cia-Ma menoleh kepada A-Sam dan A-Liuk, lalu bertanya singkat, “Berapa hendak kalian jual?”

A-Sam mengacungkan tiga buah jarinya ke atas sebagai isyarat. Cia-Ma mengerutkan alisnya, akan tetapi wajahnya masih cerah penuh senyum. "Belum pernah aku membeli anak ayam yang harganya lebih tinggi dari pada seratus tahil."

“Akan tetapi anak ayam yang ini lain lagi, Cia-Ma. Lihat saja matanya! Hidungnya dan mulutnya! Pernahkah engkau melihat yang lebih hebat dari pada ini? Kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan sumber uang yang tidak ada habisnya untukmu, dapat membuat engkau menjadi kaya raya." kata A-Sam.

Percakapan antara dua orang ini sudah jelas artinya. Tentu saja mereka membicarakan Ouw Yang Hui yang hendak diperjual-belikan. Akan tetapi anak perempuan yang masih bersih daripada dosa itu, yang belum tahu seluk-beluknya dunia hitam, tentu saja tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Cia-Ma menimbang-nimbang dan mengamati anak yang ditawarkan kepadanya itu.

Memang anak luar biasa dan pandang matanya yang tajam dan banyak pengalaman itu dapat membayangkan bahwa kalau sudah dewasa anak ini akan menjadi seorang gadis yang sukar dicari bandingannya. Cantik jelita dan dapat menjadi kembang kota Nan-po.

Dan ia membayangkan betapa banyaknya para kong-cu (tuan muda) bangsawan dan hartawan akan berebutan untuk memetik dan memiliki kembang ini. Dan itu berarti hujan uang untuknya. Apa artinya uang tiga ratus tail. Kalau sudah begitu, lalu dapat mengumpulkan ribuan tail, bahkan laksaan tail dengan mudah!

"Biarlah kuberi kalian dua ratus tail. Ini sudah gila! Aku sudah gila, berani mengeluarkan uang sebanyak itu!” Dua pasang mata laki-laki itu berkilat. Dua ratus tail perak! Seratus tail untuk mereka masing-masing! Kuda itupun tidak akan mendatangkan uang lebih dari dua puluh tail!

“Begini saja, Cia-Ma. Dua ratus lima puluh tail perak! Kau boleh ambil atau engkau akan kehilangan sumber rejeki yang hebat!” kata A-Sam.

“Pemeras kau! Kau bikin aku bangkrut! Akan tetapi, ya sudahlah. Akan kubayar dua ratus lima puluh tail perak. Akan tetapi kalau yang punyak anak ayam datang ke sini, kalian harus bertanggung jawab. Kalian akan kulaporkan dan aku tanggung kalian akan mendapatkan hukuman berat. Ingat, jaksa di kota ini adalah langgananku dan sahabat baikku. Jangan kalian main-main!”

“Jangan khawatir, Cia-Ma. Kalau engkau simpan baik-baik anak ayam ini, kau kurung baik-baik dan jangan dibiarkan berkeliaran di luar, tentu tidak ada burung elang yang akan menyambarnya,” kata A-Sam. Kemudian si botak ini dengan wajah cerah penuh kegembiraan lalu bergerak mendekati Ouw Yang Hui yang duduk di kursi dan mengelus rambut kepala anak itu.

“Ouw Yang Hui, anak yang baik. Sekarang aku dan Paman A-Liuk hendak pergi mencari ibumu sampai dapat. Kalau kami sudah menemukan ibumu, tentu ibumu akan kami ajak ke sini untuk menjemputmu sayang. Sementara itu, engkau tinggai saja duiu di sini, di rumah Bibi Cia ini. Bibi Cia amat sayang kepadamu.”

“Aku ikut mencari ibu,” kata Ouw Yang Hui. Cia-Ma mendekati Ouw Yang Hui dan merangkulnya.

“Anak yang baik, kalau engkau ikut, engkau hanya akan mengganggu kedua paman yang sedang mencari iburnu. Mereka akan gagal mencari ibumu. Sebaiknya engkau tinggal dulu di sini bersama Cia-Ma. Sebut saja aku Cia-Ma, dan aku akan menjadi seperti ibumu sendiri. Engkau akan tidur di kamar yang indah, mendapat makanan yang lezat dan engkau akan kuberi pakaian yang indah-indah pula. Kalau ibumu sudah berhasil ditemukan, tentu ibumu akan datang ke sini, nak.”

“Benar sekali, anak yang baik. Kami berdua akan mencari sampai jauh, membalapkan kuda. Kalau engkau ikut, tentu kami tidak dapat melakukan perjalanan cepat dan engkau akan lelah sekali. Usaha kami mencari ibumu bisa gagal. Kau tunggulah saja di sini!” bujuk A-Sam.

Ouw Yang Hui akhirnya mengangguk. "Baiklah, paman. Aku akan menunggu di sini.”

“Bagus, anak baik, engkau memang anak yang manis sekali!” A-Sam berkata sambil memberi isyarat dengan kedipan mata kepada Cia-Ma.

“Kalian tunggu sebentar,” kata Cia-Ma kepada dua orang laki-laki itu. Kemudian dia menggandeng tangan Ouw Yang Hui. “Mari, A-Hui, hari telah sore. Pakaianmu telah kotor. Engkau perlu mandi dan bertukar pakaian bersih. Setelah itu engkau makan. Marilah, nak.”

A-Hui menurut saja dibimbing ke dalam, tidak menyadari bahwa ia seperti seekor anak ayam masuk ke peternakan ayam untuk dipelihara baik-baik sampai menjadi seekor ayam dewasa yang gemuk untuk dipotong! Di ruangan dalam Ouw Yang Hui yang mulai hari itu memiliki nama panggilan A-Hui melihat enam orang gadis yang rata-rata cantik dan berpakaian mewah duduk dalam ruangan itu. Mereka bercakap-cakap, bersenda-gurau dan terkekeh dengan bebas.

Dan ternyata rumah itu cukup besar dan di bagian belakangnya terdapat sebuah loteng dengan belasan buah kamar. Cia-Ma membawa Ouw Yang Hui ke dalam kamarnya sendiri di bawah, sebuah kamar yang besar dan ia menyuruh seorang pelayan pria yang berjaga di luar untuk cepat membelikan beberapa stel pakaian untuk Ouw Yang Hui. Kemudian ia menyerahkan anak itu kepada seorang pelayan wanita.

“Rawat dan layani ia baik-baik. la adalah anak angkatku dan kalian harus menyebut Hui-Siocia kepadanya. Mandikan ia dengan air hangat bercampur air mawar, kemudian taburi tubuhnya dengan bedak halus dan gantikan pakaiannya dengan pakaian baru yang sedang kusuruh beli. Nanti tambah masakan, Hui-Siocia akan makan bersamaku di dalam kamar ini.”

“Baik, nyonya,” kata pelayan itu.

“A-Hui, engkau ikut dengan pelayan itu, pergi mandi dan bertukar pakaian. Aku akan menemui kedua orang itu untuk memesan agar mereka cepat dapat menemukan ibumu.”

Ouw Yang Hui adalah anak yang terdidik baik sehingga sekecil itu ia sudah tahu diri dan pandai bersikap baik. Karena tahu bahwa wanita itu telah menolongnya dan bersikap baik kepadanya, ia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada dan berkata, “Cia-Ma, aku mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Cia-Ma.”

Melihat sikap dan mendengar ucapan ini tentu saja Cia-Ma girang bukan main. Ia membungkuk dan mencium pipi Ouw Yang Hui. “Engkau akan senang tinggal di sini, A-Hui,” katanya.

Kemudian ia mengambil sebuah karung yang cukup berat sehingga ia minta bantuan seorang pelayan pria lain untuk mengangkatkan karung itu, membawanya karung itu ke kamar tamu. Karung itu berisi uang dua ratus lima puluh tail perak dan diserahkannya uang itu kepada A-Sam dan A-Liuk. Setelah karung itu ditaruh di atas meja dan pelayan pria itu meninggalkan ruangan tamu, Cia-Ma mengeluarkan sehelai kertas dan alat tulis.

“Nah, buatlah pernyataan jual-beli dan tanda tangan kalian berdua!” katanya.

Muka mereka berubah merah. A-Sam dan A-Liuk saling pandang. “Akan tetapi Cia-Ma… kami… kami tidak dapat menulis!”

Cia-Ma mengerutkan alisnya yang di gambari garis kecil melengkung hitam. “Kalian buta huruf? Sungguh memalukan, laki-laki buta huruf. Mari kubuatkan, kalian nanti tinggal cap jari tangan saja.” Cia-Ma lalu menuliskan surat pernyataan menjual anak itu. Tulisannya rapi dan indah, dilakukan dengan cepat, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang terpelajar.

Setelah surat itu selesai ditulisnya, kedua orang itu bergantian mengecapkan ujung jari-jari tangan mereka ke atas surat itu setelah dibasahi tinta hitam. Cia-Ma memandang puas. Dengan surat pernyataan itu di tangannya, kedudukannya dalam memiliki Ouw Yang Hui menjadi kuat.

Kalaupun terjadi ada orang yang rnengaku A-Hui sebagai anaknya dan menuntutnya, ia dapat membebaskan diri dengan adanya surat itu yang menyatakan bahwa ia membeli anak itu dari kedua orang yang menanda tangani surat itu. Mereka berdualah yang bertanggung jawab. Pengadilan tidak akan menyalahkannya. Apa lagi Jaksa Lui berada di belakangnya dan pasti jaksa yang menjadi langganannya itu akan membelanya.

A-Sam dan A-Liuk juga merasa puas. Mereka pergi membawa uang dua ratus lima puluh tail itu dan merasa kaya raya. Sekarang mereka memiliki modal besar untuk bermain, judi lagi, dan sekali ini mereka hampir merasa yakin akan menang dan menyedot kembali uang kekalahan mereka pada hari-hari yang lalu.

Demikianlah permainan pikiran para penjudi, bermain-main dengan harapan sendiri. Yang hari kemarin menang, hari ini mengharapkan untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar lagi, dan yang hari kemarin kalah, hari ini mengarapkan untuk dapat menarik kembali kekalahan mereka. Karena harapan-harapan inilah,mereka itu, baik yang pernah menang maupun yang pernah kalah, tidak dapat melepaskan kebiasaan berjudi.

Mulai hari itu, Ouw Yang Hui atau A-Hui tinggal bersama Cia-Ma. Anak ini memang memiliki watak yang menyenangkan.Halus budi, lemah lembut, pandai membawa diri. Cia-Ma merasa suka sekali kepada a-nak itu, bahkan segera jatuh cinta! Cia-Ma sendiri, biarpun kini menjadi seorang mucikari, dahulu adalah seorang wanita cantik yang terpelajar. Selain pandai membaca tulis, pandai pula meniup suling dan memainkan yang-kim (siter), juga pandai melukis dan menulis sajak, pernah membaca kitab-kitab kuno penuh filsafat.

Akan tetapi kehidupannya yang tidak bahagia menjerumuskannya sehingga akhirnya, dalam usia tiga puluh tahun lebih, dia sudah menjadi seorang mucikari yang memiliki rumah pelesit paling besar dan terkenal di kota Nam,po, la menikah dalam usia yang muda sekali. Dalam usia enambelas tahun ia telah menikah, atas kehendak orang tuanya dan menikah dengan seorang duda berusia lima puluh tahun.

Akan tetapi, duda itu hanya menganggapnya sebagai alat hiburan belaka dan sebentar saja sudah bosan karena duda yang menjadi suaminya itu memang mata keranjang dan selalu mencari yang baru. Setelah disia-siakan, Cia-Ma bertemu dengan seorang laki-laki muda dan iapun tersesat, menjlin hubungan gelap dengan laki-laki itu.

Perbuatannya ini akhirnya ketahuan oleh suaminya. Dia lalu dijual oleh suaminya ke rumah pelacuran dan terpaksa menjadi pelacur. Karena ia memang cantik dan pandai, ia menjadi kembang rumah pelesir. Setelah usianya tiga puluh tahun lebih, Cia-Ma sudah berhasil mengumpulkan uang yang cukup banyak karena memang sejak menjadi penghuni rumah pelacuran ia telah memiliki cita-cita dan menabung.

Setelah berusia tiga puluh tahun lebih, mulailah ia tidak laku dan lalu membuka sendiri sebuah rumah pelesir. Pada mulanya memang hanya kecil-kecilan. Akan tetapi karena pandainya ia mengatur dan mencari gadis-gadis ayu, menyenangkan hati para pemuda hartawan dan bangsawan yang datang berkunjung, maka sebentar saja rumah pelesir asuhannya menjadi sangat terkenal. Banyak hartawan dan para pembesar menjadi langganannya.

Cia-Ma mendapatkan penghasilan besar sehingga beberapa tahun kemudian ia sudah dapat membangun sebuah rumah pelesir berdaun pintu merah yang besar yang memiliki belasan buah kamar di loteng rumahnya. Mula-mula A-Hui masih suka menanyakan ibunya. Akan tetapi dengan lembut Cia-Ma dapat menghiburnya dan menyenangkan hati anak itu.

Dengan penuh kasih sayang ia memelihara anak itu, mendidiknya dengan pelajaran membaca dan menulis, bahkan mendatangkan seorang sastrawan untuk mengajar anak itu. Juga ia mendatangkan seorang ahli tari dan nyanyi untuk melatih A-Hui. Diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti itu, A-Hui lambat-laun melupakan ibunya dan menganggap Cia-Ma sebagai pengganti ibunya.

Cia-Ma juga benar-benar mencinta anak itu yang setiap malam tidur sekamar dengannya. la menganggap A-Hui sebagai anak sendiri dan hatinya merasa berbahagia. la belum pernah mempunyai anak, maka cintanya terhadap A-Hui benar-benar membahagiakannya. Kalau tadinya ia bercita cita membuat A-Hui menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan terpelajar dan pandai agar kelak anak itu dapat menjadi sumber uang dalam rumah pelesirnya.

Keinginan itu dalam waktu setahun saja sama sekali tidak ada bekasnya. Tidak, ia tidak rela melihat “Anaknya” menjadi seorang pelacur! la ingin melihat anaknya menjadi seorang wanita terhormat dan mulia. la harus mengawinkan anaknya itu dengan seorang pemuda bangsawan!

Dengan demikian anaknya itu akan menjadi seorang nyonya besar yang dihormati semua orang dan ia sebagai ibunya tentu saja juga akan terangkat derajatnya. Kalau sudah begitu, ia akan meninggalkan rumah pelesir jauh-jauh. la akan menjadi ibu mertua seorang pejabat tinggi yang dihormati orang. Ah, betapa bahagianya...

Selanjutnya,
SEPASANG RAJAH NAGA JILID 04