Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 06

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 06
Sonny Ogawa
Cerita Silat Mandarin Serial Bu-kek Sian-su Karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 06 - SONG TEK tersenyum dan cepat memberi hormat. “Terima kasih banyak atas kepercayaan ongya yang besar itu. Sudah menjadi kewajiban keponakanku itu untuk menjaga ketenteraman kota, apalagi menjaga keselamatan ongya sekeluarga. Baiklah, ongya, hamba akan segera memberi perintah kepada Hok Bi agar sore hari ini juga pindah ke gedung ini melakukan penjagaan. Dengan adanya Hok Bi di sini, ongya sekeluarga boleh mengaso dengan aman dan tenteram. Mana ada penjahat berani mengganggu? Kepala penjahatnya saja sudah tewas di tangan Hok Bi!”

Pangeran Lu girang mendengar ini dan menyatakan tcrima kasihnya sambil memberi hadiah kepada Song Tek.

* * *

“Ibu, kalau aku tidak dilamarkan Lu-siocia, aku mau bunuh diri saja. Apa artinya hidup di dunia ini kalau keinginanku yang satu ini tidak dipenuhi?” kata-kata yang diucapkan dengan suara merengek-merengek ini adalah ucapan Lie Kian Liong putera tikoan Lie, pemuda yang tolol itu. berkali-kali ia minta dilamarkan Lu-siocia dan menyatakan bahwa ia tergila-gila. Sudah lama ia rewel dengan permintaannya ini, namun ayah-bundanya tidak mau menuruti permintaannya.

“Liong-ji, apakah otakmu sudah miring?” ayahnya membentak marah sekali sambil menggebrak meja. ”Orang macam kau, hanya anak seorang tikoan seperti aku, mau meminang puteri Pangeran Lu Siang Tek? Kau bilang kalau tidak dilamarkan akan membunuh diri? Habis kalau nanti dilamar lalu ditolak, kau mau apa?”

“Ditolak? Tidak mungkin ditolak. Lu-siocia seorang yang berbudi mulia, tidak nanti mau menyakiti hatiku.”

”Kau mau menang sendiri. Jawab, bagaimana kalau nanti pinanganku ditolak? Apakah kau juga mau membunuh diri?” tanya Lie Kim Hong marah.

“Mengapa? Kalau ditolak ya sudah! Bukan dia saja wanita di dunia ini.” jawab Lie Kian Liong.

Memang pemuda ini aneh sekali wataknya, keras hati dan tidak mau sudah sebelum kehendaknya dituruti, kadang-kadang tolol akan tetapi kadang-kadang jawabannya bersifat gagah seperti yang baru saja ia ucapkan. Ayah-bundanya telah mengenal sifatnya, dan tahu betul bahwa biarpun Kian Liong itu tolol, namun anak ini semenjak kecil memegang teguh kata-katanya. Sekali bilang hitam tentu hitam pula dilakukannya, sekali putih tetap putih.

Maka dapat dibayangkan betapa susah hati mereka ketika mendengar bahwa Kian Liong akan membunuh diri kalau tidak dilamarkan Lu-siocia. Akan tetapi, mendengar kata-kata terakhir dari anak tunggal itu bahwa dia tidak akan membunuh diri dan akan menerima kalau sampai pinangan ditolak, hati ayah dan ibu ini agak terhibur.

“Tidak ada jalan lain, biarlah kita tebalkan muka dan mencoba untuk meminang.” kata Lie-tikoan, dan Lie-hujin diam-diam merasa bersedih sekali mengapa mempunyai putera seorang saja demikian bodoh dan manja.

Dengan hati berdebar dan muka merah, Lie-tikoan dan isterinya dikawani oleh seorang perantara menghadap Pangeran Lu untuk mengajukan pinangan. Lie-tikoan tidak berani menyerahkan tugas ini kepada seorang perantara seperti biasanya, karena ia menjaga hubungan baik antara dia dan Pangeran Lu.

Biarlah dia menghadap sendiri dan biar dia dan isterinya yang menerima kemarahan maupun penghinaan asalkan ia jangan menyinggung hati pangeran itu dan menimbulkan permusuhan secara diam-diam seperti kalau ia menyerahkan hal ini kepada seorang perantara dan tidak secara terang-terangan menghadap sendiri. Dengan suara yang perlahan dan sukar sekali keluarnya, Lie-tikoan menyampaikan maksud kunjungannya, yaitu mengajukan pinangan atas diri Lu-siocia untuk puteranya.

Mendengar pinangan ini, muka pangeran Lu menjadi merah sekali. Tepat dugaan Lie-tikoan bahwa andaikata yang mengajukan pinangan itu seorang perantara, tentu pangeran Lu akan marah sekali dan memaki-maki. Akan tetapi karena yang menghadap adalah Lie-tikoan suami isteri, maka sebagai tuan rumah, pangeran Lu tidak mau bersikap kasar. Dengan senyum paksa ia menjawab setelah berpikir lama sekali sambil mengelus-elus jenggotnya.

“Lie-tikoan, sudah sewajarnya seorang pria meminang seorang wanita, dan karenanya pinanganmu ini kuanggap sewajarnya. Akan tetapi, mengingat bahwa kita ini berada di kota Liu-leng yang sedang menghadapi rongrongan penjahat, kiranya belum tepat kalau bicara tentang pcrjodohan. Apalagi mengingat bahwa kaulah yang menjadi tikoan di kota ini dan yang bertanggung jawab terhadap masalah gangguan gerombolan penjahat ini.”

“Mohon beribu ampun, ongya. Sesungguhnya biar sampai mati sekalipun siauwte mana berani mengganggu ongya dengan urusan perjodohan ini dalam waktu seperti sekarang. Siauwte pun mengetahui bahwa tidak selayaknya bicara tentang urusan ini dalam waktu kita menghadapi ancaman bahaya para penjahat. Akan tetapi apa hendak dikata, putera kami yang bodoh dan manja itu mendesak supaya siauwte berdua mengajukan pinangan dengan memberanikan hati menghadapi kegagalan. Kalau tidak siauwte turuti permintaannya, dia hendak membunuh diri. Demikian besar cintanya terhadap puteri ongya yang baru satu kali dilihatnya.”

Diam-diam pangeran Lu merasa geli dan juga bangga bahwa puterinya sampai dapat mendatangkan pikiran gila pada pemuda putera Lie-tikoan yang tampan itu. Akan tetapi ia agak kecewa kalau teringat betapa putera tikoan yang “terpelajar” dan tampan itu, mempunyai sifat-sifat yang agak aneh.

“Hmm, anak muda sekarang memang berdarah panas dan nekad,” katanya sebagai komentar, “sekarang begini saja, Lie-tikoan. Kau kerahkan seluruh kebisaanmu untuk membasmi para penjahat dan mengamankan kota Liu-leng. Kalau memang benar bahwa pembasmian penjahat nanti oleh karena jasa-jasamu, soal pinangan ini akan kami pertimbangkan masak-masak. Pendeknya, kami pada saat ini belum menolak, juga belum menerima, tergantung atas keadaan di kota ini kelak dan tergantung pula terutama sekali atas jasamu mengamankan kota Liu-leng.”

Dengan jawaban ini, Lie-tikoan dan isterinya pulang. Kian Liong sudah menunggu di depan pekarangan dan menyambut mereka dengan pertanyaan: “Bagaimana, ibu? Diterimakah? Apa kata nona Bwe Hwa yang cantik?”

“Hushh.... mari masuk dan bicara di dalam!” bentak ibunya marah. “Masa urusan itu dibicarakan di luar pekarangan, di tempat umum!”

Setelah mereka masuk, dengan sabar Lie-tikoan berkata: “Kami telah memenuhi permintaanmu dan meminang Lu-siocia, akan tetapi....”

”Ditolak, ayah?” tanya Kian Liong dengan suara lemas.

”Ditolak sih belum....”

“Kalau begitu diterima?” suara Kian Liong seperti bersorak.

”Diterima juga belum.”

“Habis, bagaimana?”

“Keputusannya menanti sampai para penjahat terbasmi habis dari kota Liu-leng, agaknya diterima atau tidaknya juga tergantung dari hasil atau tidaknya aku membasmi para gerombolan penjahat itu.”

Kian Liong bersorak girang. “Kalau begitu pasti di terima! Ha-ha, pasti diterima! Lu Bwe Hwa akan menjadi isteriku, Ayah. Mana ada penjahat yang bisa lolos dari kejaranmu?” Dengan girang sekali Kian Liong berjingkrak-jingkrak dan menyanyi-nyanyi.

Sementara itu, Hok Ti Hwesio, Kim-coa-pian Bu Kiat, dan Sin-siang-to Kwee Sin Bun sudah bersiap-siap. Mereka bertiga ini kaget seperti disambar petir ketika mendengar dari Lie-tikoan bahwa mereka malam nanti harus menyelidiki dan mengikuti murid keponakan mereka sendiri, Hek-liang-pian Thio Cin Gan yang dituduh anak buah penjahat oleh Lie-tikoan. Tentu saja mereka tidak percaya dan menjadi penasaran.

”Kalau memang ternyata betul bahwa dia itu anggauta gerombolan penjahat, aku akan menghancurkan kepalanya!” kata Kim-coa-pian Bu Kiat.

“Aku akan membelah dadanya, dia membikin malu Hoasanpay!” kata Kwee Sin Bun.

Malam itu diam-diam mereka mengamat-amati Thio Cin Gan, akan tetapi agar jangan sampai kentara, Hok Ti Hwesio membagi-bagi tugas penjagaan seperti biasa.

“Kau harus menjaga di pintu gerbang sebelah selatan dan meronda sampai ke pintu barat.” kata Hok Ti Hwesio kepada Cin Gan.

“Susiok, maafkan teecu karena malam hari ini teecu tidak enak badan. Kalau teecu memaksa diri melakukan jaga malam dan terkena angin, tentu besok akan jatuh sakit.” jawab Thio Cin Gan.

Di dalam hatinya, Hok Ti Hwesio menaruh hati curiga, akan tetapi pada wajahnya tidak terbayang sesuatu, bahkan dgn sungguh-sungguh dan ramah ia berkata: “Memang berjaga setiap malam amat melelahkan dan orang dapat jatuh sakit terkena angin malam. Kau mengasolah, kurasa malam ini penjahat-penjahat takkan berani keluar karena penjagaan kita amat kuat.”

Menjelang tengah malam, bayangan hitam yang berkedok nampak berkelebat bagaikan iblis, berlompatan di atas genteng-genteng rumah orang di kota Liu-leng. Bayangan ini ternyata tahu di mana terdapat penjaga-penjaga yang menjaga kota dengan amat kuatnya, buktinya ia selalu memilih jalan yang justru tidak terjaga! Ia tidak tahu bahwa semenjak tadi, tiga bayangan orang mengikutinya dan tiga orang ini bukan lain adalah Hok Ti Hwesio, Kwee Sin Bun, dan Bu Kiat.

Tiga orang jago Hoa-san-pay ini marah bukan main karena mereka tadi melihat sendiri betapa Thio Cin Gan murid-keponakan mereka, telah keluar dari rumah dengan pakaian dan kedok penjahat! Kwee Sin Bun dan Bu Kiat sudah gatal-gatal tangan hendak memberi hajaran kepada anak murid yang murtad ini, akan tetapi Hok Ti Hwesio mencegah mereka dan mengajak mereka mengikuti ke mana perginya Hek-liong-pian Thio Cin Gan yang kini tidak memegang pian, melainkan membawa sebuah toya.

Ternyata kemudian bahwa Thio Cin Gan menuju ke rumah gedung Pangeran Lu, cocok seperti dikhawatirkan oleh bekas tikoan Song Tek! Akan tetapi, baru saja kaki Thio Cin Gan menginjak genteng, dari belakang terdengar suara bentakan:

”Bangsat rendah, murid murtad. Binatang macam engkau harus binasa!” Inilah suara Bu Kiat yang sudah tidak dapat menahan sabar lagi dan ia menyerang dgn ruyungnya yang menyambar kepala penjahat berkedok itu.

Penjahat berkedok itu yang bukan lain orang adalah benar Hek-liong-pian Thio Cin Gan kaget bukan main karena tidak menyangka bahwa ia selama itu diikuti orang. Apalagi ketika ia mengelak dan melompat ke samping, dilihatnya tiga orang susioknya yang mengejar dan mcnyerangnya, ia menjadi gentar.

Ilmu silat dari Cin Gan memang tidak kalah banyak kalau dibandingkan dengan para susioknya ini karena selain mendapat latihan dari Hoa-san-pay, diapun telah mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi. Akan tetapi menghadapi tiga orang tokoh Hoa-san-pay ini sekaligus, ia merasa tidak sanggup.

Maka tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, ia melompat ke atas genteng depan dan hendak melarikan diri. Celaka baginya, dari depannya berkelebat bayangan yang gesit dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda yang memakai topeng hitam.

“Kim-hoa-piauw....” keluh Cin Gan dengan hati seperti berhenti detaknya.

Pemuda bertopeng hitam itu tertawa dan pedangnya menyambar bagaikan kilat cepatnya. Cin Gan menangkis dengan toyanya dan sebentar saja mereka telah bertarung sengit. Namun hanya beberapa gebrakan saja karena keburu datang Hok Ti Hwesio, Kwee Sin Bun dan Bu Kiat.

“Taihiap, biarkan kami menghukum murid keparat ini!” seru Hok Ti Hwesio yang mengenal pemuda itu sebagai orang yang pernah berkali-kali membantunya melawan para penjahat. Juga Bu Kiat dan Kwee Sin Bun mengenal pemuda itu sebagai orang yang telah menolong mereka dari kepungan penjahat di luar kota Liu-leng.

Pemuda bertopeng atau Kim-hoa-piauw itu tersenyum lalu melompat ke pinggir. Adapun tiga orang jago Hoa-san-pay itu segera maju menerjang Cin Gan dengan sengit. Melihat ini, diam-diam Cin Gan terkejut dan maklum bahwa ia takkan mendapat ampun lagi. Maka ia menjadi nekad dan toyanya bergerak melindungi tubuhnya.

Biarpun ia juga anak murid Hoasanpay, namun ia telah banyak mempelajari ilmu silat lain dan begitu ia menahan tiga orang susioknya yang kini menjadi lawan, tiga orang jago Hoasanpay ini maklum bahwa bekas anak murid itu mainkan ilmu tongkat dari Thian-tung-kaypang yang lihay.

“Keparat, buka kedokmu!” bentak Hok Ti Hwesio.

Akan tetapi Cin Gan tidak mau memperdulikannya karena maklum bahwa andaikata ia berlutut minta ampun, tetap saja ia tidak akan bebas daripada hukuman mati, maka daripada mati mendapat malu lebih baik mati di balik kedok. Ia menyerang makin hebat. Bu Kiat dan Kwee Sin Bun marah bukan main.

Berbeda dengan Hok Ti Hwesio yang ingin menawan hidup-hidup penjahat itu, dua orang jago Hoa-san-pay ini bernafsu untuk membunuh bekas anak murid yang mencemarkan nama baik partai mereka. Menghadapi kurungan senjata tiga orang jago ini, Cin Gan tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Berturut-turut ruyung di tangan Bu Kiat dan golok di tangan Kwee Sin Bun menghantam tubuhnya dan di lain saat ia terjungkal mandi darah, berkelojotan dan terguling-guling dari atas genteng, jatuh ke bawah dan putus napasnya! Hok Ti Hwesio melompat turun dan membuka kedok penjahat itu. Tak salah lagi. Dia adalah Hek-liong-pian Thio Cin Gan yang kini telah tewas.

Sementara itu, ribut-ribut ini telah menarik perhatian para penjaga dan Pangeran Lu Siang Tek sendiri sampai keluar dan sempat melihat penjahat itu roboh. Girang hati pangeran ini melihat Kim-hoa-piauw berada di situ dan lebih girang lagi ketika mendapat kenyataan bahwa penjahat itu telah terbunuh. Akan tetapi, kembali ia tertegun dan terheran-heran ketika mendapat kenyataan bahwa benar-benar penjahat itu adalah Hek-liong-pian Thio Cin Gan!

Tepat sekali dugaan bekas tikoan Song Tek!” kata pangeran itu. Ia tiba-tiba teringat kepada Cung Hok Bi keponakan Song Tek itu yang telah tinggal di gedungnya untuk sementara menjadi pengawal atau penjaganya menggantikan kedudukan Thio Cin Gan. ”Eh, di mana Cung Hok Bi? Mengapa dia tidak keluar ada ribut-ribut ini?” tanyanya kepada para penjaga. Tak seorangpun penjaga melihat pengawal baru ini.

”Hamba sekalian tidak melihat dia, ongya” jawab seorang penjaga.

“Hmm, pengawal macam apa itu? Masa ada ribut-ribut dia masih tidur saja?” pangeran Lu mengomel.

Tiba-tiba Kim-hoa-piauw berkata kepada Hok Ti Hwesio: “Sam-wi enghiong, harap segera bawa pergi jenazah penjahat ini. Dia masih banyak kawannya dan siapa tahu kalau mereka itu menyerbu tempat kediaman Lie-tikoan.”

Kata-kata ini mengingatkan kepada Hok Ti Hwesio bahwa memang di tempat Lie tikoan hanya dijaga oleh anak buahnya saja dan apabila terjadi serbuan akan berbahaya sekali. Maka cepat-cepat ia berpamit kepada Pangeran Lu dan mengajak dua orang sutenya pergi membawa jenazah bekas murid keponakan itu untuk bukti.

Setelah mereka pergi, Kim-hoa-piauw berkata kepada Pangeran Lu: “Ongya, hamba ingin bicara penting dengan ongya.”

“Mari kita masuk ke dalam.” ajak pangeran itu yang segera menyuruh para penjaga untuk melakukan penjagaan lagi dengan tertib dan mencari Cung Hok Bi, minta kepada pemuda itu supaya berlaku waspada dan jangan tidur saja. Kemudian bersama Kim-hoa-pianw ia masuk ke ruangan dalam.

“Ongya, sesungguhnya Cung Hok Bi tidak malas atau lalai. Semenjak tadi ia menjaga, bahkan dia yang lebih dulu menghadapi penjahat.” kata pemuda bertopeng itu setelah mereka berada di ruang dalam.

“Apa maksudmu?” tanya Lu Siang Tek, tidak mengerti. Si topeng hitam itu lalu membuka topengnya sambil tersenyum.

“Kau....?” Pangeran itu berseru kaget. “Jadi kaukah Kim-hoa-piau...?”

Pemuda itu memasang lagi topengnya. “Harap ongya sudi merahasiakan hal ini sampai kumpulan penjahat ini terbongkar habis. Hanya kepada ongya hamba membuka rahasia ini. Sengaja hamba menyembunyikan diri di balik topeng ini agar lebih mudah bagi hamba melakukan penyelidikan.”

Pangeran Lu mengangguk-angguk, nampaknya girang dan kagum sekali. ”Bagus sekali, kau memang amat mengagumkan dan kami berterima kasih sekali atas segala pertolonganmu. Dan selanjutnya, selain membuka rahasiamu kepadaku, hal penting apalagi yang hendak kau rundingkan?”

“Begini, ongya. Hamba sudah tahu akan rencana dan maksud para penjahat yang hendak dilakukan terhadap keluarga ongya. Oleh karena itu, hamba harap ongya akan menuruti nasihat hamba demi keselamatan keluarga ongya sendiri.”

Pangeran itu menjadi pucat dan dadanya berdebar. “Rencana apakah yang mereka hendak lakukan? Harap lekas memberitahu. Tentu saja kami akan menurut nasihat-nasihatmu.”

“Pertama, seperti yang sudah mereka buktikan dengan percobaan-percobaan untuk menculik siocia, kepala penjahat itu agaknya tergila-gila kepada Lu-siocia dan hendak menculiknya. Kedua, mereka itu mencari sesuatu di dalam gedung ongya dan menurut pendengaran hamba ketika hamba selidiki, mereka itu ingin mencuri harta pusaka dari keluarga Lu yang terdiri dari mahkota dan perhiasan-perhiasan dari nenek moyang keluarga ongya.”

Pangeran Lu menjadi pucat. Soal pertama, tentang maksud menculik puterinya, ia tidak menjadi kaget mendengar ini karena memang sudah diduganya. Akan tetapi soal kedua ini, benar-benar membikin ia kaget dan heran. ”Bagaimana mereka bisa tahu tentang harta pusaka itu...?” tanyanya.

Cung Hok Bi tersenyum dan sepasang matanya berseri di balik topeng hitamnya. “Mereka itu terdiri dari orang-orang pandai, ongya.”

“Kalau begitu… bagaimana baiknya menurut nasihatmu?”

“Melakukan penjagaan di kota ini menghadapi kawanan penjahat itu bukanlah hal yang mudah, ongya, oleh karena sasaran para penjahat itu bukan terhadap keluarga ongya sendiri. Maka menurut pendapat hamba yang bodoh, adalah lebih baik apabila ongya sekeluarga membawa harta pusaka itu mengungsi untuk sementara waktu ke kotaraja. Setelah di sini aman, barulah ongya kembali. Biar hamba yang akan mengawal, dan kebetulan sekali paman hamba juga hendak pindah ke kotaraja.”

Pangeran Lu Siang Tek mengangguk-angguk. Memang nasihat ini baik sekali dan kiranya yang paling selamat pada waktu itu hanya mengungsi ke kotaraja.

”Biarlah tikoan bodoh itu melanjutkan usahanya menghadapi para penjahat. Hamba akan mengantar ongya sampai ke kotaraja, setelah selamat tiba di sana, baru hamba akan kembali ke sini dan hamba akan membersihkan para penjahat. Sementara hamba pergi, biarlah Lie-tikoan mencoba kebodohannya bersama orang-orangnya yang tolol semua.”

“Apakah tidak perlu minta bantuan Hok Ti Hwesio untuk mengawal?” tanya pangeran itu.

Cung Hok Bi tersenyum menyindir. “Hwesio itu? Ah, ongya. Mana ada yang boleh dipercaya segala orang pengawal itu? Buktinya, Hek-liong-pian Thio Cin Gan yang tadinya menjadi pengawal pribadi ongya, bagaimana kesudahannya? Ongya, hamba yang akan mengantar dan hamba yang menanggung bahwa segala anjing busuk tidak akan ada yang berani mengganggu ongya. Kalau selembar rambut ongya saja terganggu, hamba mengganti dengan nyawa hamba. Kalau ongya membawa pengawal lain, hamba takkan ikut mengantar, karena pertanggungan jawab hamba lebih berat lagi. Apapula sekarang ini kita melakukan perjalanan bersama dengan rombongan paman Song Tek yang sudah membawa beberapa orang pengawal yang tinggi kepandaiannya. Harap ongya tidak khawatirkan apa-apa.”

“Baiklah. Bila kita berangkat?”

“Selekasnya lebih baik.”

“Kurasa tiga hari lagi baru kami dapat bersiap-siap.”

“Baik, ongya. Sementara itu, dalam tiga hari ini akan hamba coba membubarkan semua penjahat.” Setelah herkata demikian, pemuda ini memberi hormat dan sekali berkelebat bayangannya lenyap ditelan malam gelap.

* * *

Dua hari kemudian keluarga Lu sudah bersiap-siap. Sudah ditetapkan bahwa besok pagi-pagi keluarga pangeran ini akan berangkat ke kotaraja. Pagi hari kedua itu selagi pangeran Lu memberi perintah kepada para pelayannya untuk membereskan barang-barang dan memeriksa kendaraan serta kuda yang hendak dipergunakan esok hari, muncul Lie Kian Liong.

Pemuda tolol putera Lie-tikoan. Biarpun di rumah ia terkenal tolol, namun bagi pangeran Lu dia tidak tolol karena pangeran ini belum pernah melihat sikapnya yang tolol itu, sebaliknya di depan pangeran ini, Kian Liong selalu bisa bersikap hormat dan berlagak seakan-akan seorang terpelajar tulen!

”Selamat pagi, Lu-ongya....” salamnya.sambil memberi hormat.

“Eh, kau Kian Liong? Ada keperluan apakah kau pagi² datang ke sini? Apakah disuruh oleh ayahmu?”

”Tidak disuruh apa-apa oleh ayah, ongya. Hanya sudah lama aku tidak bertemu dengan ongya dan dengan... siocia. Aku ingin bertemu dengan ongya sekeluarga dan melihat keluarga ongya selamat dan sehat saja.”

“Hmmm....” Pangeran Lu tidak bisa berkata apa-apa karena biarpun kata-kata yang diucapkan oleh orang muda itu luar biasa, namun sifatnya ramah dan baik. ”Kau pulanglah, kami sedang sibuk bersiap-siap untuk keberangkatan kami.”

“Saya mendengar ongya sekeluarga hendak pesiar ke kotaraja, betulkah?” tanya pula Kian Liong, seakan-akan tidak mendengar pangeran itu mengusirnya secara halus.

“Betul, kami semua hendak pergi ke kotaraja. Sekarang kami sedang sibuk, kau pulanglah, aku tidak dapat melayanimu lebih lama lagi, perlu memeriksa sendiri kendaraan yang hendak dipakai besok.” Setelah berkata demikian, pangeran itu meninggalkan Kian Liong bengong di situ.

Setelah pangeran itu pergi, Kian Liong celingukan dan kembali seperti dulu ia melihat-melihat gambar di ruangan depan. Para pelayan yang mengenal pemuda ini sebagai putera tikoan, tidak ada yang berani menegur, hanya diam-diam merasa geli menyaksikan tingkah laku yang aneh dan lucu itu.

Seperti dulu pula, Kian Liong tahu-tahu telah “nyelonong” masuk ke dalam taman. Memang ia bernasib baik dalam asmara, karena kebetulan sekali Lu Bwe Hwa berada di taman pula seorang diri, menghadapi meja taman dan duduk melamun.

“Lu-siocia, sedang melamun memikirkan siapakah gerangan?”

Tentu saja Bwe Hwa kaget setengah mati dan melompat dari tempat duduknya. Otomatis tangannya menyambar benda yang berada di atas meja dan mendekap benda itu pada dadanya. “Kau... mengapa kau datang kesini?! Pergi kau orang kurang ajar. Ayah akan marah kalau melihat kau disini!”

“Aku sudah berjumpa dengan ayahmu, nona. Dia sedang sibuk sekali menguruskan persiapan untuk pergi besok. Nona, kau hendak pergi ke kotaraja, untuk berapa lamakah? Jangan terlalu lama, nona, aku tidak kuat menahan rindu.....”

“Mulut jahat! Kau jangan bicara sembarangan!”

“Eh-eh, adikku yang baik, mengapa marah²? Bukankah ayahku sudah meminangmu kepada ayahmu?”

“Akupun tahu, dan ayahku tidak menerima pinanganmu!”

“He-he, bukan tidak menerima, melainkan belum menerima. Belum bukan berarti tidak, dan belum bukan berarti menolak. Karena belum diterima, berarti kita baru setengah bertunangan, bukan?”

“Cukup! Aku... aku benci padamu!” teriak Bwe Hwa sambil menaruh benda yang dipegangnya tadi keras-keras di atas meja. Saking marahnya ia sampai lupa akan benda yang dipegangnya itu. Sikap pemuda tolol ini benar-benar memuakkan hatinya.

Melihat benda itu, Kian Liong melangkah maju dan mengambil benda itu yang ternyata adalah sebuah piauw-kembang-emas. “Eh, apa ini? Seperti pisau...” katanya perlahan.

Serentak Bwe Hwa memutar tubuhnya dan mukanya menjadi merah melihat piauw itu telah dipegang oleh Kian Liong. “Berikan padaku piauw itu!” bentaknya.

Akan tetapi Kian Liong tidak mau memberikannya..”Apakah ini punyamu, nona? Kau main-main dengan pisau?”

“Tentu saja itu punyaku, pemberian seorang yang gagah, tidak seperti engkau. Mana kau becus mempergunakan benda itu!” kata gadis ini menghina.

“Eh-eh, kau memandang rendah? Apa sih sukarnya mempergunakan pisau ini? Asal saja kau beritahu bagaimana cara mempergunakannya, tentu akupun bisa!”

Pernyataan ini sungguh tolol dan menggemaskan hati, Bwe Hwa terpaksa tersenyum, senyum mengejek dan geli. ”Tahu cara memakainya saja tidak, masih hendak menyombong! Dasar manusia tolol. Tak salah kata orang bahwa kau memang seorang pemuda tolol dan setengah gila. Tentu saja penggunaan piauw itu disambitkan seperti pemiliknya yang pandai sekali mempergunakan benda ini untuk mengusir penjahat!”

“Disambitkan? Pisau disambitkan? Ah...... tapi akupun bisa! Lihat, batang pohon itu kuanggap penjahat dan kusambit dgn pisau ini!” Ia mengayun tangannya. Piauw itu meluncur, bergetaran dan menumbuk batang pohon, terpental kembali dan jatuh di dekat kaki Bwe Ha....

Selanjutnya,
PISAU TERBANG BUNGA EMAS JILID 07