Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 05

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 05
Sonny Ogawa
Cerita Silat Mandarin Serial Bu-kek Sian-su Karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 05 - PERISTIWA ini kembali menimbulkan kegemparan dan nama Kim-hoa-piauw di-sebut² orang dengan heran dan kagum. Semua orang membicarakan serbuan yang berkali-kali di rumah pangeran Lu dan karena selalu para penjahat tidak mengganggu harta pangeran itu melainkan mencoba menculik Lu Bwe Hwa.

aka para penduduk mengabarkan bahwa kepala penjahat telah “jatuh hati” kepada Lu Bwe Hwa, bunga kota Liu-leng itu. Berita ini sampai di telinga Pangeran Lu Siang Tek dan membuat pangeran itu mengerutkan kening dengan hati mengkal.

Empat hari kemudian, di luar kota Liu-leng, di sebelah utara di mana terdapat pegunungan dan hutan pohon yangliu, pada siang hari terjadi pertempuran hebat. Menjelang tengah hari, serombongan orang berkuda terdiri dari lima orang datang dari utara dan menuju ke Liu-leng. Mereka ini bukan lain adalah rombongan yang dinanti-nanti di Liu-leng oleh Hok Ti Hwesio.

Orang pertama adalah seorang laki-laki tampan berusia tigapuluh lebih dan di punggungnya tergantung sebuah senjata pian yang bentuknya seperti ular dan warna kuning. Inilah Kim-coa-pian Bu Kiat Si ruyung ular emas.

Orang kedua adalah seorang laki² berusia empatpuluh tahun bermuka brewok dan bertubuh tinggi besar seperti pahlawan Thio Hwi di jaman dahulu, di pinggangnya tergantung sepasang golok besar. Dia inilah Sin-siang-to Kwee Sin Bun, dari julukannya, sepasang golok sakti, saja dapat diduga bahwa ia adalah seorang ahli ilmu silat golok.

Tiga orang yang lain adalah anak buah mereka atau anggauta² perusahaan piauwkiok. Seorang di antaranya memegang sebuah bendera yang tertancap di tempat duduknya. Bendera kuning yang bergambar Naga merah.

Inilah lambang dari Ang-liong-piauwkiok, perusahaan ekspedisi yang amat terkenal di daerah utara. Kim-coa-pian Bu Kiat dan Sin-siang-to Kwee Sin Bun menjalankan kuda mereka berdampingan dan mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan.

“Aku heran sekali mengapa suheng memanggil kita hanya untuk mengurus maling-maling kecil yang mengganggu Liu-leng. Sungguh mati, kalau bukan suheng yang memanggil, aku tidak sudi membuang waktu hanya untuk menghadapi segala macam penjahat tukang colong ayam.” kata Kim-coa-pian Bu Kiat.

”Jangan bilang begitu, sute. Belum tentu kita hanya akan dihadapkan dengan tukang colong biasa saja. Kiranya twa-suheng tidak akan minta bantuan kita kalau memang dia tidak menghadapi seorang penjahat yang lihay. Apalagi aku dengar bahwa kini twa suheng bekerja di bawah perintah Lie-taijin yang sudah terkenal kecerdikannya di kotaraja.” Kata Sin-siang-to Kwee Sin Bun mencela adik seperguruannya.

”Bagaimanapun juga, kalau twa suheng sudah minta bantuan kita, tentu penjahat-penjahat yang mengganggu kota Liu-leng itu bukan penjahat-penjahat biasa saja. Kalau benar kita akan berhadapan dengan mereka, mudah-mudahan saja mereka suka memandang Ang-liong-piauwkiok untuk mengakhiri gangguan mereka secara baik-baik. Aku takkan sayang menyumbang seratus tael kepada mereka.”

”Memang benar, suheng. Pekerjaan kita memaksa kita untuk berbaik dengan penjahat-penjahat besar. Akan tetapi kalau ternyata yang membikin pusing kepala twa suheng itu hanya maling-maling kecil belaka, ruyungku tentu takkan mau sudah begitu saja sebelum memecahkan kepala beberapa orang maling kecil.”

Percakapan mereka tertunda ketika dari depan terdengar derap kaki kuda dan tak lama kemudian seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya lewat di jalan itu meninggalkan debu mengepul. Orang itu masih muda, tidak akan lebih dari tiga puluh tahun, wajahnya tampan dan kulitnya putih. Ketika lewat, matanya memandang ke arah bendera kecil dari Ang-liong piauwkiok dan terdengar dia mengeluarkan suara ketawa mengejek.

”Hmm, sikapnya mencurigakan!” kata Bu Kiat dengan hati panas melihat benderanya tidak ditakuti orang.

“Turunkan bendera itu dan ganti dengan yang besar. Dia pasti kembali membawa kawan-kawannya.” kata Kwee Sin Bun yang sebagai seorang piauwsu kawakan tentu saja sudah banyak pengalaman dan tahu akan gerak-gerik golongan rimba hijau (perampok).

Anak buahnya yang memegangi bendera lalu mengerjakan perintah ini. Berkibarlah bendera Ang-liong-piauwkiok yang besar dan megah. Karena bendera ini dipasang di atas kuda dan kudanya dilarikan, maka bendera itu berkibar-kibar dan lukisan naga merah itu seakan-akan terbang, amat indah dan gagahnya.

Dugaan dua orang piauwsu ini memang tepat. Hal ini dibuktikan dengan suara derap kuda yang terdengar tak lama kemudian, datang dari arah belakang dan tidak lama pula muncullah tiga orang penunggang kuda dari arah belakang. Hampir dalam saat yang bersamaan, tiga orang penunggang kuda lain datang pula dari arah depan!

Karena Kwee Sin Bun tidak menyuruh kawan-kawannya berhenti, maka tiga orang berkuda dari depan bertemu lebih dulu dengan mereka. Ternyata bahwa tiga orang ini semua memakai kedok hitam dan berpakaian hitam pula! Kwee Sin Bun segera menyuruh kawan-kawannya berhenti dan bersiap-siap. Dia sendiri lalu melompat turun dari kudanya, berdiri tegak di depan rombongannya menanti datangnya tiga orang berkuda yang memakai kedok itu.

Adapun Bu Kiat juga melompat turun dari kudanya, akan tetapi ia berdiri di belakang rombongannya menghadap ke belakang pula untuk menanti datangnya tiga orang penunggang kuda lain yang datang dari belakang dan masih agak jauh itu.

Tiga orang berkedok yang menunggang kuda, melihat Kwee Sin Bun berdiri tegak menghadang di tengah jalan, nampaknya kagum dan ragu-ragu. Memang Kwee Sin Bun nampak angker sekali ketika itu. Mukanya yang brewok dan gagah itu sedikitpun tidak kelihatan takut, bahkan piauwsu ini marah sekali.

Nama Ang-liong-piauwkiok sudah amat terkenal di kalangan kangouw dan lioklim, bagaimana penjahat-penjahat ini demikian kurang ajar? Tentu golongan hekto (jalan hitam, penjahat) baru yang belum mengenalnya, pikir Sin-siang-to Kwee Sin Bun sambil meraba-raba gagang dua batang goloknya yang tergantung di pinggang.

Dua orang bertopeng menahan kudanya yang berlari cepat sehingga kuda mereka meringkik dan berdiri di kedua kaki belakang dengan kaki depan terangkat tinggi-tinggi. Akan tetapi orang ketiga bahkan menggebrak kudanya menubruk Kwee Sin Bun. Dua kaki kuda yang berlapis besi dengan kekuatan yang dahsyat menyerang ke arah muka Sin-siang-to Kwee Sin Bun.

Namun Sin Bun adalah murid Hoa-san-pay yang berilmu tinggi, pula ia telah kenyang pengalaman pertempuran, maka serangan hebat dan keji ini ia hadapi dengan tenang, karena iapun sudah bersiap-siap untuk menghadapi serangan-serangan curang dari para penjahat itu. Ia cepat melangkahkan kaki kiri ke belakang, memasang kuda-kuda teguh dengan muka merendah sehingga tubrukan kaki kuda itu tidak mengenai mukanya, akan tetapi masih mengancam paha kakinya.

Ia miringkan tubuh dan kedua tangannya yang dimiringkan menyampok dengan putaran kuat ke kanan, menangkis dua kaki depan kuda itu, sebenarnya bukan menangkis, melainkan dari samping dua telapak tangannya ”menerima” pergelangan kaki kuda dan meminjam tenaga tubrukan itu ia mendorong ke kanan.

Gerakan Sin Bun kuat dan cepat. Kuda hanya seekor binatang bodoh, tentu saja sekali gebrak ia telah tertipu dan kedua kaki depan kuda itu tertolak ke samping sehingga tubuhnya menjadi terputar. Akan tetapi. penunggang kuda yang berkedok itu juga bukan orang sembarangan. Dengan menepuk tubuh belakang kuda, tiba-tiba kuda itu mengangkat dua kaki belakangnya, menyepak ke arah dada Sin Bun dengan kekuatan sedikitnya tigaratus kati!

“Ayaaa.…!” Sin Bun kaget dan cepat melompat kesamping menghindarkan diri dari sepakan kuda, kemudian saking marahnya ia menggerakkan kedua tangan, selagi dua kaki belakang kuda itu menyepak, sebelum dua kaki itu turun kembali, Sin Bun menyambarnya dan terus mendorong ke atas meminjam tenaga sepakan. Tiada ampun lagi tubuh kuda itu melayang ke atas berjungkir balik membawa serta penunggangnya!

Penunggang kuda berkedok itu berseru keras: “Sungguh lihay!” dan cepat menekankan kedua tangan pada punggung kuda, kemudian dengan cepat sekali ia berjumpalitan kebelakang dan turun ke atas tanah dengan amat ringannya, kemudian dengan kedua tangan ia mendorong perut kudanya sehingga binatang itu tidak terbanting terlalu hebat. Melihat ini, diam-diam Kwee Sin Bun terkejut dan maklum bahwa ia berhadapan dengan lawan yang tinggi kepandaiannya.

Sementara itu, tiga orang penunggang kuda yang datang dari belakang, juga sudah tiba. Seorang di antara mereka melihat perbuatan Sin Bun tadi, setelah tiba dekat mengeluarkan pekik nyaring dan tahu-tahu tubuhnya melesat dari atas kuda, melayang cepat sekali ke arah rombongan Sin Bun. Bu Kiat yang menjaga di sebelah belakang tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh penjahat itu, maka ia tidak berani berlaku sembrono, hanya mencabut ruyungnya untuk berjaga-jaga.

Ternyata penjahat itu melayang ke arah orang yang memegang bendera Ang liong-piawkiok dan di lain saat, bendera itu telah dirampasnya! Kejadian ini amat cepatnya sehingga Bu Kiat dan Kwee Sin Bun tidak sempat mencegahnya. Sambil tertawa-tawa penjahat itu menggerakkan kedua tangannya dan “brett... brettt...!” bendera Ang-liong-piauwkiok itu telah dirobek-robeknya!

“Bangsat hina dina, kau minta mampus!” Bu Kiat membentak marah dan menggerakkan ruyungnya. Akan tetapi Kwee Sin Bun yang mengerti bahwa enam orang penjahat itu bukan orang-orang sembarangan, mendahului sutenya, memegang lengan Bu Kiat minta sute ini bersabar, kemudian ia menghadapi enam orang yang semua telah turun dari kuda.

“Enam orang sahabat mengapa main-main dengan kami? Sudah bertahun-tahun bendera kami dari Ang-liong-piauwkiok itu menjadi tanda persahabatan dan dihormati oleh semua saudara di golongan liok-lim, mengapa hari ini liok-wi (saudara berenam) merobek-robeknya? Mungkinkah salah lihat? Kami berdua adalah pendiri dari Ang-liong-piauwkiok, siauwte adalah Sin-siang-to Kwee Sin Bun dan ini adalah adikku Kim-coa-pian Bu Kiat. Liok-wi kalau ada perkara boleh bicara, mengapa datang-datang merobek bendera kami?”

Seorang di antara para penjahat berkedok itu tertawa bergelak, suara ketawanya nyaring dan menyeramkan. “Ha-ha-ha, siapa mengenal segala Ang-liong-piauwkiok? Jangankan Piauwkiok Si Naga-merah, biarpun Cacing-merah atau Tikus-merah, kami takut apa sih?”

Merah muka Kwee Sin Bun. Ia maklum bahwa kata-kata ini sengaja dikeluarkan untuk menghina dan mencari perkara, maka diam-diam ia berpikir. Belum pernah ada penjahat-penjahat mengganggunya secara demikian berterang tanpa urusan, pula penjahat-penjahat ini berkedok. Apakah ini tidak ada hubungannya dengan para penjahat yang mengganggu Liu-leng?

Dia dan sutenya dipanggil oleh suheng mereka datang ke Liu-leng membantu menghadapi penjahat-penjahat yang mengganggu kota itu, sekarang di tengah jalan ia dihadang oleh penjahat-penjahat yang berkedok pula! Tak salah lagi, mereka ini tentulah konco-konco penjahat yang dilawan oleh Hok Ti Hwesio, suheng mereka. Dengan cepat Sin Bun mencabut goloknya dan berkata.

“Kalau kalian tidak mengenal Ang-liong-piauwkiok, ketahuilah bahwa kami adalah anak murid Hoa-san-pay dan orang-orang gagah dari Hoa-san-pay tidak akan mundur setapakpun menghadapi segala macam penjahat hina, biar penjahat-penjahat itu pengecut dan bersembunyi di balik kedok sekalipun!”

Melihat sikap Sin Bun ini, Bu Kiat sudah mempersiapkan ruyungnya dan tiga orang anak buah Ang-liong-piauwkiok sudah mencabut golok dan toya mereka, siap menghadapi pertempuran.

Para pcnjahat berkedok menjadi marah sekali. “Maju, bunuh dua tikus busuk yang hendak mengeruhkan suasana ini!” teriak penjahat yang tadi bicara.

Serentak mereka mengeluarkan senjata toya dan menyerbu dengan gerakan cepat dan kuat. Sin Bun dan kawan-kawannya menyambut. Pertempuran hebat terjadi di tempat sunyi itu. Suara senjata tajam beradu mengerikan dan membikin takut sebelas ekor kuda yang berada di situ. Binatang² itu lari cerai-berai menjauhkan diri.

Pertemuan lima lawan enam terjadi amat sengit dan hebatnya. Benar dugaan Cin Bun tadi, enam orang penjahat itu memiliki kepandaian tinggi dan rata-rata memiliki ilmu tongkat atau ilmu toya yang lihay. Sin Bun dengan sepasang goloknya yang lihay masih dapat menahan desakan dua orang pengeroyoknya.

Sedangkan Bu Kiat dengan ruyungnya juga mempertahankan nama besarnya Sebagai Kim-coa-pian yang sudah terkenal. Biarpun toya penjahat yang melawannya amat lihay dan tenaga penjahat itupun besar sekali, namun Bu Kiat dapat mengimbanginya dan belum sampai terdesak.

Yang payah adalah tiga orang anak buah Ang-liong-piauwkiok itu. Mereka ini sebetulnya adalah orang-orang pilihan dari Ang-liong-piauwkiok dan mereka sudah kerap kali diserahi tugas mengawal barang antaran kalau Bu Kiat atau Sin Bun tidak sempat mengawal sendiri.

Ilmu silat mereka sudah lumayan dan boleh dibilang paling lihay di antara kawan-kawannya di Ang-liong-piauwkiok, bahkan sudah mendapat banyak petunjuk dari Bu Kiat atau Sin Bun sendiri. Akan tetapi kali ini mereka menemui batunya. Tiga orang penjahat berkedok yang menghadapi mereka terlampau kuat sehingga tiga orang ini sebentar saja terdesak hebat dan hanya dapat main mundur dan tangkis saja.

Pada saat Sin Bun dan kawan-kawannya berada dalam keadaan amat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang penunggang kuda yang mukanya berkedok pula, akan tetapi kedoknya berbeda dengan yang dipakai oleh para penjahat itu. Kedok orang ini hanya menutupi kedua matanya saja.

“Penjahat-penjahat rendah yang pengecut!” Orang itu menegur setelah kudanya bagaikan terbang cepatnya tiba di tempat pertempuran. “Jangan menjual lagak di sini!”

Tubuh yang tegap itu dengan ringan bagaikan burung walet dan cepat bagaikan kilat menyambar, telah melayang dari atas kuda dengan pedang di tangan, kemudian begitu pedang digerakkan, terdengar suara nyaring dan sebatang golok di tangan seorang penjahat terlempar dan tangan yang memegang golok tadi terluka parah.

Kemudian orang yang bukan lain adalah Kim-hoa-piauw ini, mengamuk dan menerjang ke kanan-kiri untuk membubarkan penjahat-penjahat yang tadinya mengepung dan menindih Sin Bun dan kawan-kawannya. Sepak terjangnya bagaikan naga mengamuk, pedangnya lihay dan cepat sekali membuat para penjahat itu gentar menghadapinya.

Adapun Sin Bun dan Bu Kiat yang melihat datangnya bantuan lihay ini terbangun semangatnya, demikianpun tiga orang anak buahnya. Mereka bersilat lebih bersemangat dan mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga.

”Gelombang besar! Pasang layar!” demikian seru seorang di antara enam orang penjahat itu. Inilah isyarat bagi kawan-kawannya untuk melarikan diri. Bagaikan teratur, mereka memutar senjata mencari kesempatan, kemudian lari dan di tengah jalan melompat ke atas kuda masing-masing, lalu kabur bagaikan dikejar setan.

Kim-hoa-piauw juga melompat ke atas kudanya dan hendak pergi, akan tetapi Kwee Sin Bun melompat cepat di depan kuda orang berkedok ini.

”Nanti dulu, taihiap! Kau yang telah datang menolong kami, harap sudi memperkenalkan diri. Kami adalah orang-orang Ang-liong-piauwkiok yang hendak pergi ke Liu-leng. Namaku Kwee Sin Bun dan dia itu adalah suteku Bu Kiat. Kami hendak membantu suheng Hok Ti Hwesio yang sudah bertugas di Liu-leng.”

Si kedok hitam itu hanya tertawa lebar, kemudian berkata: ”Selamat bekerja di Liu-leng!” Setelah berkata demikian, ia menggebrak kudanya yang segera lari cepat meninggalkan Sin Bun dan kawan-kawannya yang memandang kagum.

“Siapakah dia yang gagah perkasa itu?” tanya Bu Kiat yang masih terheran-heran.

“Entahlah, dia memakai kedok dan tidak mau memperkenalkan namanya. Melihat orangnya, ia masih muda dan wajahnya tampan. Hanya amat sukar mengenal wajah itu karena tertutup kedok. Melihat gelagatnya, penjahat-penjahat itu tentulah mereka yang mengganggu Liu-leng, dan penolong kita tadi agaknya tahu akan keadaan di Liu-leng pula, maka benar-benar amat mengherankan mengapa dengan adanya seorang gagah seperti dia, penjahat-penjahat masih dapat berlagak di kota itu.”

“Belum juga masuk Liu-leng, kita sudah diserang dan hampir saja celaka di tangan penjahat, benar-benar hal ini amat tidak menyenangkan kalau diketahui orang lain.” kata Bu Kiat.

”Memang amat tidak baik dan memalukan. Oleh karena itu, peristiwa ini tidak perlu kita ceritakan di kota Liu-leng.” kata Sin Bun yang memesan kepada kawan-kawannya untuk menutup mulut dan jangan membocorkan peristiwa yang memalukan itu.

Maka berangkatlah lima orang ini menuju ke kota Liu-leng yang tidak jauh lagi, dengan semangat menurun banyak dan sekarang bendera Ang-liong-piauwkiok tidak diperlihatkan lagi.

* * *

Bekas tikoan Song Tek nampak berlari-lari di pagi hari, diikuti oleh tiga orang pelayannya. Bekas pembesar ini nampak girang sekali dan setiap orang penduduk yang dijumpainya di tengah jalan mendapat keterangan singkat dari Song Tek:

“Lekas lihat, kepala penjahat telah binasa, mati di tangan keponakanku malam tadi! Ha-ha, lihatlah bahwa akhirnya aku yang berhasil menangkap penjahat!”

Mendengar berita ini, orang-orang menjadi gempar. Pangeran Lu sendiri setelah mendengar berita ini, cepat keluar dari istananya, diikuti oleh pengawalnya, Hek-liong-pian Thio Cin Gan. Cepat mereka ini menyusul Song Tek yang pergi ke gedung tikoan. Di sana mereka mendapatkan Song Tek tengah dikerumuni banyak orang, di mana bekas tikoan itu bercerita dengan lagak bangga.

”Malam tadi kepala penjahat itu berani mati mengganggu rumahku yang sudah kujaga kuat-kuat. Tidak saja keponakanku Cung Hok Bi, juga banyak penjaga sengaja kuatur untuk menjebak penjahat apabila berani datang. Akhirnya penjahat datang, kami mengepungnya sampai penjahat itu melarikan diri. Akan tetapi, sudah lama aku mempunyai dugaan siapa adanya kepala penjahat iblis itu dan malam tadi dugaanku itu terbukti tepat sekali! Aku mengajak keponakanku dan para penjaga menuju ke rumah penjahat besar itu, mengepung rumahnya dan akhirnya kami berhasil membunuh penjahat itu di rumahnya sendiri.”

Dengan wajah agak pucat Lie-tikoan bertanya: “Song-hiante, siapakah kepala penjahat itu dan sekarang di mana dia?”

Sebelum menjawab, Song Tek tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Lie-taijin. Sayang sekali para enghiong yang sudah kau datangkan tidak akan ada artinya lagi. Kepala penjahat itu memang sudah sejak dahulu kucurigai, hanya sayang karena belum ada bukti-buktinya maka aku belum berani mengeluarkan perintah untuk menangkapnya. Dia itu bukan lain adalah guru silat Kwan Ciu Leng dan sekarang telah menjadi mayat di rumahnya sendiri!”

Bukan main kaget dan herannya Lie-tikoan, juga Pangeran Lu terkejut sekali mendengar ini. “Apa buktinya bahwa dia yang menjadi kepala penjahat?” bentak Pangeran Lu sambil memandang tajam kepada Song Tek.

”Memang hal ini mengejutkan sekali, Lu-ongya. Akan tetapi kenyataannya memang begitu. Pantas saja penjahat-penjahat itu sukar diberantas, tidak tahunya yang menjadi kepala adalah orang yang selama ini kita percaya, bahkan membantu dalam penjagaan kota. Ong-ya dapat melihat buktinya kalau melihat dia sekarang. Marilah, di sana keponakanku masih menjaga.”

Ber-bondong-bondong mereka pergi ke rumah guru silat Kwan Ciu Leng yang tinggal seorang diri dalam sebuah rumah yang lebar pekarangannya, karena pekarangan ini dipergunakan untuk melatih orang-orang yang belajar silat. Ternyata di situ sudah berkumpul banyak orang, akan tetapi mereka ini tidak diperbolehkan masuk oleh Cung Hok Bi yang dengan pedang di tangan menjaga di depan pintu.

Pemuda ini nampak gagah sekali, dan semua orang setelah mendengar bahwa Cung Hok Bi berhasil menewaskan kepala penjahat, memandang kepadanya dengan perhatian baru dan kekaguman. Hanya banyak di antara mereka yang merasa penasaran, terutama sekali mereka yang belajar ilmu silat kepada Kwan Ciu Leng, atau yang menyuruh anak² mereka belajar di situ, karena apakah buktinya bahwa guru silat itu menjadi kepala penjahat?

“Betulkah kau berhasil menewaskan kepala penjahat?” tanya Pangeran Lu Siang Tek kepada Cung Hok Bi.

Pemuda ini menjura dgn hormat, lalu menjawab: ”Berkat kecerdikan paman Song, berkat nasib baik penduduk Liu-leng, akhirnya hamba dapat membunuhnya malam tadi, Ong-ya.”

Dengan tak sabar, Lie-tikoan dan Pangeran Lu diiringkan oleh semua orang yang ingin tahu memasuki rumah itu, didahului oleh Cung Hok Bi dan Song Tek yang wajahnya berseri gembira dan bangga. Benar saja, di ruang tengah, di mana meja kursi berantakan dan terdapat tanda-tanda bekas pertempuran hebat, menggeletak tubuh Kwan Ciu Leng yang berpakaian serba hitam dan di atas meja terdapat sehelai kedok hitam seperti yang biasa dipakai oleh para penjahat selama ini.

“Inilah kedoknya, hamba sendiri yang merenggut lepas dari mukanya setelah ia mati.” kata Song Tek membawa kedok itu dan memberikannya kepada Lie-tikoan.

“Betulkah dia kepala penjahatnya...?” terdengar Lie-tikoan bertanya ragu, “sayang sekali dia sudah tewas, kalau tidak tentu dia dapat bercerita banyak tentang peristiwa semalam...”

Kata-kata ini membuat Song Tek menjadi marah. “Lie-tikoan! Apa kau masih tidak percaya? Aku pastikan bahwa dia inilah penjahat yang selama ini mengganggu Liu-leng. Sebelum kau menjadi tikoan menggantikan aku, hal ini sudah kucurigakan, hanya baru sekarang terdapat buktinya, yakni selain pakaian dan kedok, juga di kamarnya kudapati peti terisi banyak barang-barang curian selama ini. Mari kau lihat sendiri buktinya!”

Song Tek mengantar mereka memasuki kamar tidur Kwan Ciu Leng dan memang di situ terdapat sebuah peti yang isinya penuh dengan barang² emas permata, barang² yang dikenal sebagai sebagian kecil dari barang² berharga yang selama ini dicuri oleh para penjahat.

“Memang semua ini membuktikan bahwa dia menjadi penjahat, namun belum meyakinkan bahwa dia kepalanya.” kata pula Lie-tikoan.

Tiba-tiba Song Tek tertawa bergelak dan berkata dgn suara keras sehingga suaranya sampai terdengar dari luar rumah: “Lie-tikoan, semenjak kau menjadi tikoan di sini, kapankah kau pernah menangkap penjahat? Satu-satunya penjahat yang tertawan pun dilakukan oleh seorang penjahat lain yang berkedok! Hmm, sekarang kau agaknya meremehkan jasa kami, yaitu keponakanku dan aku. Aku tidak mengharapkan terima kasih, akan tetapi sedikitnya kau harus tahu bahwa jasa ini lebih besar daripada jasamu sebagai tikoan!” Setelah berkata demikian, dengan sikap marah Song Tek meninggalkan tempat itu, mengajak keponakan dan pelayan-pelayannya, pulang ke rumahnya.

Lie-tikoan menjadi merah mukanya, apalagi ketika ia melihat Pangeran Lu memandangnya dengan kening dikerutkan, tanda tidak senang hatinya.

“Hok Ti Losuhu dan semua enghiong yang membantuku harap tidak kecil hati dan jangan mengurangi kewaspadaan. Baik guru silat Kwan ini ternyata kepala penjahat atau hanya anak buahnya, namun kurasa para penjahat tidak akan tinggal diam dan akan membuat pembalasan. Harap penjagaan diperkuat. Baik sekali jiwi-enghiong (dua saudara gagah) Kwee Sin Bun dan Bu Kiat sudah tiba pula sehingga dapat memperkuat penjagaan. Kurasa penjahat-penjahat itu akan melakukan serbuan besar-besaran untuk membalas dendam.”

Hok Ti Hwesio dan sute-sutenya menyatakan kesanggupan mereka. Pangeran Lu Siang Tek tidak berkata apa-apa, hanya segera meninggalkan tempat itu, diiringkan oleh pengawalnya yang setia, Hek-liong-pian Thio Cin Gan setelah pengawal ini memberi hormat kepada Lie-tikoan, juga kepada Hok Ti Hwesio, Kwee Sin Bun, dan Bu Kiat yang masih terhitung paman² gurunya sendiri dari Hoa-san-pay.

Malam hari itu tidak terjadi serbuan penjahat, akan tetapi di rumah gedung Pangeran Lu Siang Tek terjadi hal yang amat penting. Ketika pangeran itu sedang duduk seorang diri di dalam kamar buku, mengenangkan peristiwa penjahat di Liu-leng dengan kening dikerutkan karena timbul hal-hal yang tidak diduganya, tiba-tiba terdengar suara perlahan dan tahu-tahu seorang pemuda melayang turun dari atas dengan ringan Sekali. Pemuda itu hanya mengeluarkan suara. “sssttt....” menyuruh pangeran itu jangan berbisik.

Sedangkan Pangeran Lu sendiri setelah melihat bahwa pemuda itu adalah “Kim-Hoa-Piauw”, tentu saja tidak menjadi takut, hanya berdiri dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan. Ia memandang tajam seakan-akan hendak mengenali muka itu, hendak menembusi topeng hitam, dan ia rasa²nya kenal pemuda ini, hanya ia tidak yakin dan merasa bimbang.

“Kau... Kim-hoa-piauw yang penuh rahasia, apakah maksud kunjunganmu kali ini?” tanya Pangeran Lu dengan hati berdebar karena ia mengira bahwa kunjungan penolong aneh ini pasti ada hubungannya dengan serbuan penjahat-penjahat.

”Aku hanya hendak memberitahu kepadamu, Lu-ongya, akan sebuah rahasia yang akan mengejutkan hatimu. Ketahuilah bahwa Hek-liong-pian Thio Cin Gan, pengawalmu itu, sebetulnya adalah seorang anggauta gerombolan....”

“Tak mungkin!” seru pangeran itu dengan muka pucat.

“Masihkah ongya bersangsi kepadaku yang sudah mencoba untuk menghancurkan gerombolan penjahat ini? Percayalah, ongya, bahwa ongya sekeluarga berada dalam bahaya besar sekali dengan adanya Hek-liong-pian di sini sebagai pengawalmu.”

“Kalau begitu... apakah yang harus kulakukan? Besok akan kutangkap dan kupaksa dia mengaku!”

“Jangan, ongya. Akan lebih baik kalau kita pura-pura tidak tahu akan rahasianya. Akan tetapi untuk menjauhkan bahaya, lebih baik mulai besok, kau suruh Hek-liong-pian membantu penjagaan di rumah tikoan. Dengan alasan memperkuat barisan untuk melawan penjahat, dia tidak akan bercuriga.”

Tiba-tiba Kim-hoa-piauw menghentikan kata-katanya dan sekali melesat ia telah keluar dari kamar itu. Pangeran Lu mendengar suara tindakan kaki di luar pintu. Cepat ia membuka daun pintunya dan melihat Siauw Hong lewat di ruangan menuju ke kamar Bwe Hoa.

“Siauw Hong, apa yang kau lakukan malam-malam di sini?” tegurnya marah.

“Ohh……” gadis pelayan itu menengok kaget dan cepat-cepat memberi hormat, “mohon maaf, ongya. Hamba tidak menyangka bahwa ongya masih belum tidur dan karenanya mengganggu ongya. Hamba mencari tusuk konde hamba yang siang tadi jatuh.”

“Hmmm, dan kau sudah dapatkan atau belum?”

“Sudah, ongya, ini dia!” Gadis pelayan itu memperlihatkan sebuah tusuk konde yang dipegangnya.

“Pergilah, dan lain kali jangan berkeliaran di waktu malam, bikin kaget orang saja!”

Gadis itu lalu mengundurkan diri dan berjalan menuju ke belakang, ke kamarnya yang berada di dekat kamar nonanya. Baru saja Lu Siang Tek menutup jendela kamarnya, dari jendela Kim-hoa-piauw melompat masuk lagi. “Ongya, siapakah orang tadi?”

“Ah, dia hanya pelayan puteriku, Siauw Hong yang mencari tusuk kondenya.”

Terdengar si topeng hitam itu tertawa geli karena tadi ia benar-benar kaget sekali mengira bahwa ada orang yang mengintai. “Nah, harap ongya sudi memperhatikan nasihatku tadi. Hal ini bukan hanya untuk keselamatan ongya sekeluarga, juga untuk memudahkan kita melakukan penyelidikan. Terima kasih dan selamat malam, ongya.”

”Nanti dulu, Kim-hoa-piauw. Mcngapa kau yang menolong kami ini merahasiakan diri? Siapakah kau?”

Akan tetapi Kim-hoa-piauw hanya tersenyum dan sekali ia berkelebat, tubuhnya melayang melalui jendela dan sebuah benda meluncur daripadanya, tertancap di atas meja. Ketika Pangeran Lu memandang, benda itu bukan lain adalah sebuah piauw-bunga-emas (kim-hoa-piauw). Ia menjemputnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang. “Heran, siapakah dia?”

Pertanyaan ini masih saja membingungkan pikiran Pangeran Lu Siang Tek ketika pada keesokan harinya setelah ia menyerahkan Hek-liong-pian Thio Cin Gan untuk membantu dan memperkuat penjagaan di rumah tikoan membantu Hok Ti Hwesio dan sute-sutenya dan pangeran ini tengah duduk seorang diri, datang menghadap padanya bekas tikoan, Song Tek! Bekas tikoan ini membawa berita penting yang amat mengejutkan hati pangeran Lu.

“Lu-ongya, sungguh aneh sekali, mengapa ongya menyuruh Hek-liong-pian menjaga di rumah Lie-tikoan? Apakah maksud ongya dengan ini?” tanyanya.

”Saudara Song, ada hubungan apakah antara kau dengan urusanku ini?” Pangeran Lu balas bertanya dengan hati tak senang.

“Lu-ongya, harap jangan salah mengerti. Sudah sejak dulu sebelum siauwte dihentikan dari jabatan tikoan, siauwte selidiki keadaan Hek-liong-pian Thio Cin Gan dan siauwte mengetahui sebuah rahasia yang mengejutkan hati.”

Berubah wajah pangeran Lu mendengar ini. ”Rahasia apakah? Harap jangan bicara seperti orang berteka-teki!”

Dengan suara perlahan Song Tek berkata: “Ongya, ketahuilah bahwa menurut sangkaan siauwte, Hek-liong-pian itu adalah kaki tangan penjahat! Dengan menyuruh dia menjaga di rumah Lie-tikoan, bukankah itu berarti memasukan mata-mata penjahat ke dalam barisan penjagaan? Pula, tindakan ongya ini dapat menimbulkan kecurigaannya dan siapa tahu malam nanti ia dan kawan-kawannya akan turun tangan. Oleh karena itu, menurut pendapat hamba yang bodoh, hendaknya ongya diam-diam menyuruh orang-orang gagah secara sembunyi melihat gerak-geriknya malam nanti untuk menjaga segala kemungkinan.”

Kata-kata ini benar-benar amat mengejutkan hati Lu Siang Tek. Malam tadi Kim-hoa-piauw si topeng hitam juga menyatakan bahwa Thio Cin Gan adalah seorang anak buah gerombolan penjahat. Sekarang Song Tek berkata demikian pula. Ia mulai sangsi dan menyesal. Kalau benar bekas tikoan ini demikian pandai dan betul-betul memperhatikan peristiwa gangguan di kota, ia menyesal mengapa mengganti tikoan dengan Lie-tikoan yang ternyata tidak berjasa apa-apa.

Akan tetapi bagaimana pendapat Kim-hoa-piauw dan Song Tek ini demikian sama? Apakah ada hubungan antara Song Tek dan si topeng hitam? Tiba-tiba Pangeran Lu teringat akan Cung Hok Bi, pemuda keponakan Song Tek yang telah berhasil membunuh Kwan-kauwsu yang dituduh sebagai kepala penjahat. Mungkin sekali!

Mungkin sekali Cung Hok Bi itulah yang menjadi Kim-hoa-piauw, karena perawakannya pun sama, juga pemuda itu tampan dan gagah. Pantas saja aku merasa kenal kepada Kim-hoa-piauw, pikir pangeran Lu.

“Keteranganmu ini penting sekali, harap kau lekas panggil Lie-tikoan ke sini.” kata Pangeran Lu kepada Song Tek yang menjadi girang sekali karena omongannya dipercaya.

Setelah Lie-tikoan datang, maka mereka bertiga lalu membicarakan urusan itu. Lie-tikoan mengerutkan keningnya. “Benar-benar urusan ini berbelit-belit dan aneh sekali,” katanya. “Siapa sangka bahwa pengawal pribadi ongya sendiri menjadi penjahat. Menurut keterangan Hok Ti Hwesio dan dua orang sutenya, para penjahat adalah bekas orang-orang Thian-tung-kaypang (perkumpulan pengemis tongkat langit) di kotaraja.

"Perkumpulan ini dahulunya dipimpin oleh seorang kakek aneh yang sakti dan bernama Bu Beng Sin-kay (pengemis sakti tanpa nama). Akan tetapi semenjak kakek ini meninggal dunia, perkumpulan ini bubar. Menurut Hok Ti Hwesio dan sute²nya, ilmu silat dari para penjahat itu sebagian besar mirip dengan ilmu silat dari bekas perkumpulan pengemis itu. Adapun Hek-liong-pian Thio Cin Gan menurut keterangan Hok Ti Hwesio adalah anak murid Hoasanpay, bahkan murid keponakan dari Hok Ti Hwesio sendiri. Bagaimana ia bisa menjadi penjahat?”

“Siauwte harap dalam hal ini kau tak usah terlalu bingung dan pusing, Lie-tikoan.” kata Song Tek. “Bukankah tugas kita membasmi penjahat-penjahat itu? Lebih baik kau memberi pcrintah kepada Hok Ti Hwesio untuk mengikuti sepak terjang Hck-liong-pian malam ini, siapa tahu kalau akan terbuka rahasianya.”

”Kata-kata saudara Song Tek ini tepat sekali, harap kau suka lakukan usul ini sebaiknya. Lebih cepat gerombolan penjahat ini tertangkap, lebih baik lagi.”

Lie-tikoan tak berani membantah lalu pulang untuk berunding dengan Hok Ti Hwesio. Setelah tikoan itu pergi, Pangeran Lu berkata kepada Song Tek:.”Keponakanmu yang gagah itu, dia itu murid partai manakah?”

“Lu ongya maksudkan Cung Hok Bi? Ah, dia hanya anak murid Bu-tong-pay, memiliki sedikit kepandaian bermain pedang dan piauw.”

“Hmm....” Pengeran Lu mengangguk-angguk. “Saudara Song, karena sekarang pengawalku tidak ada, kuharap kau suka tolong padaku, mengijinkan keponakanmu itu untuk sementara ini menjadi pengganti Hek-liong-pian Thio Cin Gan. Biar dia mengawaniku di sini dan menjadi pengawalku. Kelak kalau gerombolan penjahat sudah lenyap, dia boleh pulang dan akan menerima banyak hadiah untuk perlindungannya terhadap keluarga kami...”

Selanjutnya,
PISAU TERBANG BUNGA EMAS JILID 06