Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 04

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 04
Sonny Ogawa
Cerita Silat Mandarin Serial Bu-kek Sian-su Karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 04 - DIAM-DIAM Hok Ti Hwesio terkejut dan heran sekali. Ia terkenal sebagai seorang tokoh Hoa-san-pay yang tidak saja memiliki ilmu tongkat lihay, bahkan terkenal sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam amat kuatnya.

Akan tetapi sekarang menghadapi penjahat ini, ia mendapat tandingan yang setimpal. Penjahat itu berani menahan tongkatnya dengan toya dan dalam hal tenaga, penjahat itu tidak kalah olehnya. Lebih hebat lagi, ilmu toya dari penjahat itu ternyata amat hebat dan aneh.

“Tahan dulu!” seru Hok Ti Hwesio setelah memperhatikan permainan toya lawannya. “Bukankah kau dari partai Thian-tung-kay-pang (Perkumpulan pengemis tongkat langit)?”

Hok Ti Hwesio telah mengenal perkumpulan ini yang memiliki ilmu tongkat yang luar biasa sekali, dan permainan tongkat penjahat ini mirip betul dengan ilmu tongkat Thian-tung-kay-pang, sungguhpun dalam gerakan-akannya terdapat beberapa jurus-jurus yang aneh dan sukar sekali diduga perubahannya.

Sebagai seorang kangouw yang sudah ulung dan berpengalaman, Hok Ti Hwesio dapat menduga bahwa penjahat ini tentulah seorang tokoh Thian-tung kay-pang yang menyeleweng dan memiliki ilmu kepandaian dari cabang lain yang dicampur-adukkan.

Akan tetapi penjahat itu tidak memperdulikan permintaan Hok Ti Hwesio, sebaliknya bahkan menyerang dengan hebatnya, melakukan hantaman dari atas dilanjutkan sodokan ke ulu hati sambil membentak: “Hwesio gundul, jangan banyak mulut! Mampuslah!”

Hok Ti Hwesio kaget setengah mati. Menurut peraturan di dunia kangouw, pertempuran dapat ditunda sebentar atas permintaan. Akan tetapi ternyata penjahat ini tidak mengindahkan sopan-santun dalam dunia persilatan, bahkan menyerang selagi ia tidak bersedia dengan serangan bertubi yang amat berbahaya!

Juga Tan Hay terkejut. Cepat Si tombak sakti ini menggerakkan tombak untuk menolong Hok Ti Hwesio, akan tetapi begitu ujung tombaknya beradu dengan toya penjahat itu, toya itu terpental kembali dan hampir terlepas dari pegangannya! Ternyata bahwa penjahat itu mengerahkan seluruh tenaganya dalam penyerangan ini.

Hok Ti Hwesio cepat memutar tongkat menangkis, akan tetapi karena tangkisannya ini terlambat, tetap saja toya telah menghantam pinggangnya dari sebelah kanan. Bukk...!! Toya terpental saking kerasnya menghantam tubuh yang sudah mengerahkan lweekang sepenuhnya. Si penjahat kaget dan melompat mundur, akan tetapi Hok Ti Hwesio mukanya menjadi pucat dan ia muntahkan darah segar!

“Ha-ha-ha, hwesio busuk, mampuslah!” teriak penjahat itu yang kini memutar toya hendak mengirim serangan terakhir.

Tiba-tiba dari atas genteng melayang bayangan hitam didahului oleh sinar pedang berkilauan menyambar leher penjahat itu. ”Bangsat terkutuk, kau sudah berada di sini?!” teriak bayangan itu yang bukan lain adalah pemuda bertopeng hitam. Dari atas genteng ia mengenal penjahat bertoya ini yang pernah dihadapinya di dalam rumah gedung pangeran Lu.

Si penjahat menangkis pedang yang mengancamnya. Bunga api berpijar dan penjahat itu mengeluh di dalam hatinya. Siapakah pemuda yang selalu menghalanginya ini? “Angin kencang!” teriaknya.

Inilah bahasa rahasia yang menjadi aba-aba agar supaya kawan-kawannya melarikan diri karena keadaan lawan terlampau tangguh. Sambil berkata demikian ia melompat ke atas genteng dan melarikan diri sambil menyebar piauw ke belakang untuk mencegah para penjaga mengejar.

Para penjaga kewalahan dan gentar menghadapi penjahat-penjahat yang tangguh itu sehingga tidak ada yang berani mengejar. Akan tetapi si topeng hitam tetap mengejar dengan pedang di tangannya. Sebentar saja bayangan enam orang penjahat dan penolong aneh itu lenyap di dalam gelap dan keadaan di atas rumah Lie-tikoan menjadi sunyi kembali.

Akan tetapi, tak lama kemudian, selagi orang-orang menolong mereka yang terluka, terdengar suara keras dan sesosok tubuh dilemparkan dari atas genteng, jatuh berdebuk di atas tanah. Pelemparnya tentu seorang yang tinggi ilmunya sehingga tubuh yang dilemparkan ini tidak mengalami pecah kepala, melainkan luka-luka kecil pada tubuh yang tidak begitu berbahaya.

Ketika semua orang mengejar dan melihat, ternyata bahwa yang dilempar ke bawah itu adalah seorang laki-laki muda yang berpakaian penjahat dan masih memakai kedok di mukanya, akan tetapi kedua kaki-tangannya terikat dan pundaknya terluka oleh pedang! Segera penjahat ini digusur dan ditahan di dalam tempat tahanan, dijaga keras, untuk menanti pemeriksaan pada keesokan harinya.

”Mana Liong-ji...?” terdengar suara ribut di dalam rumah Lie-tikoan karena ketika nyonya Lie mencari anaknya, ternyata pemuda itu tidak kelihatan mata hidungnya.

Akhirnya, seorang pelayan mendapatkan pemuda itu yang ternyata bersembunyi di dalam kakus, mendekam dengan muka pucat dan tubuh bergemetar ketakutan! Semua orang menjadi geli dan ada pula yang diam-diam memandang rendah. Yang paling marah dan malu adalah Lie-tikoan, akan tetapi ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Penjahat yang tertangkap dan ditawan berada dalam kamar tahanan, dijaga keras sekali oleh para penjaga yang dikepalai oleh Hok Ti Hwesio sendiri. Hwesio ini yang tidak sabar-sabar lagi, menjelang pagi sudah memeriksa dan menanyai penjahat itu untuk mengetahui keadaan perkumpulan penjahat dan siapa kepalanya.

Namun usahanya sia-sia belaka karena penjahat itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Biarpun ia ditampar dan dipukul, tetap penjahat itu membungkam. Hok Ti Hwesio tidak berani menyiksa lebih banyak karena takut kalau penjahat itu akan mati sebelum diperiksa oleh Lie-tikoan sendiri.

Berita tentang ditangkapnya seorang anggauta penjahat menggemparkan kota Liu-leng, akan tetapi juga menggirangkan hati penduduk. Mereka berharap bahwa dengan ditangkapnya seorang penjahat maka kumpulan pengganggu keamanan itu akan dapat digulung. Berbondong orang datang untuk melihat macamnya penjahat yang tertangkap dan yang selama ini merupakan iblis yang membuat semua penduduk tak dapat tidur nyenyak.

Akan tetapi Hok Ti Hwesio melarang keras, dan tak seorangpun diperbolehkan masuk kecuali mereka yang ia percaya betul. Oleh karena itu, pagi-pagi sekali sebelum penjahat itu diperiksa, yang dapat memasuki kamar tahanan dan melihat penjahat yang sudah dibelenggu itu hanya mereka yang pernah membantu untuk menangkap para penjahat. berturut-turut datang guru silat Kwan Ciu Leng, Sinchio Tan Hay, dan beberapa orang pemimpin penjaga dan pengawal. Mereka yang bertugas menjaga di empat penjuru pintu gerbang kota, pada datang melihat.

Sinchio Tan Hay yang berjasa juga dalam menghadapi serbuan para penjahat, beberapa kali masuk ke dalam kamar dan di depan para pendatang, ia menceritakan tentang pertempuran semalam dengan lagak seakan-akan ialah yang paling berjasa mengembalikan serangan para penjahat. Tentu saja ia tidak dapat menyangkal bahwa yang menangkap penjahat itu adalah seorang aneh yang memakai topeng hitam. Semua orang menjadi kagum dan juga terheran-heran. Siapakah si topeng hitam itu?

Tak lama kemudian datanglah tamu yang mendapat penghormatan besar karena tamu ini bukan lain adalah Pangeran Lu Siang Tek. Pangeran ini datang bersama Hek-liong-pian Thio Cin Gan. Dengan terjadinya peristiwa penyerbuan penjahat di gedungnya, pangeran ini tak dapat tidur dan begitu mendengar bahwa rumah Lie-tikoan juga diserbu bahkan lebih hebat dan bahwa ada seorang anggauta penjahat tertawan, pangeran ini cepat-cepat mengajak Hek-liong-pian Thio Cin Gan untuk datang melihat.

Lu Siang Tek segera memasuki kamar tahanan untuk melihat sendiri macamnya penjahat itu. Ia melihat seorang laki-laki yang berusia tigapuluh lima tahun, bermuka kuning dan bermata liar, akan tetapi ia tidak mengenalnya. Setelah ia keluar, Thio Cin Gan juga menengok penjahat itu sebentar, kemudian mengikuti majikannya yang langsung menuju ke rumah Lie-tikoan untuk menghadiri pemeriksaan atas diri penjahat itu.

Dua orang pembesar ini lalu bercakap-cakap, saling menceritakan peristiwa yang mereka alami semalam. Ketika Cung Hok Bi mengantar pamannya, Song Tek atau tikoan lama, datang pula melihat, Hok Ti Hwesio memandang ke arah Cung Hok Bi dengan mata tajam menyelidik. Diam-diam Hok Ti Hwesio mempunyai sangkaan bahwa mungkin sekali pemuda bertopeng yang semalam membantunya adalah keponakan dari tikoan lama ini.

Bentuk tubuhnya serupa benar dan iapun sudah mendengar bahwa Cung Hok Bi adalah murid Bu-tong-pay yang amat pandai, seorang ahli pedang dan pandai pula melepas piauw. Akan tetapi tentu saja hwesio ini tidak dapat menyatakan sesuatu karena penolong aneh yang telah menangkap penjahat itu tidak mau memperkenalkan dirinya.

Dengan sikapnya yang ramah-tamah seperti biasa, datang-datang Song Tek memberi selamat kepada Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hay. “Kionghi.... kionghi....” katanya gembira. “Hok Ti Losuhu benar-benar lihay sekali. Akhirnya iblis pengganggu kota kita tertangkap juga.”

Mendengar kata-kata ini, Hok Ti Hwesio menjadi merah mukanya, merasa mendapat sindiran. “Ah, mana pinceng patut dipuji? Kalau tidak ada seorang penolong rahasia, kiranya pinceng sudah binasa dan pula tidak ada penjahat yang akan dapat ditangkap. Semua ini adalah jasa penolong budiman itu, juga karena bintang dari Lie-tikoan terang dan baik.”

Sementara itu, Cung Hok Bi memasuki kamar tahanan untuk melihat penjahat yang tertawan. Song Tek mendengarkan cerita Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hay tentang peristiwa semalam. Kemudian ia pun masuk ke dalam kamar tahanan diantar oleh Hok Ti Hesio dan Tan Hay. Betapapun juga, Song Tek adalah seorang bekas pembesar, maka perlu dijaga keselamatannya. Melihat dua orang itu sudah mengantar pamannya, Cung Hok Bi tidak ikut mengantar karena sekarang ia mendapat giliran mendengarkan cerita dari seorang pengawal yang menjaga di situ.

“Inilah, Song-loya, penjahat yang selama ini mengganggu kita,” kata Tan Hay kepada Song Tek setelah mereka berhadapan dengan penjahat yang duduk menyandar di sudut kamar itu, kepalanya tunduk, matanya meram, kaki-tangannya terbelenggu.

“Dia amat ganas dan lihay, akan tetapi sekarang tinggal menanti keputusan untuk dipenggal batang lehernya. Ha-ha-ha...!”

Song Tek menghampiri tawanan itu, berkata keras: “Hendak kulihat bagaimana macamnya iblis yang selama ini telah membikin pusing kepalaku!” Dengan gemas ia lalu menjambak rambut kepala penjahat itu dan mengangkat mukanya.

Penjahat itu membuka matanya, memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat seperti mayat. Song Tek melepaskan rambut yang dijambaknya dengan kasar sehingga muka itu tertunduk kembali.

“Jahanam busuk! Pengecut hina-dina! Kalau boleh, aku akan menyayat-nyayat tubuhnya, mencokel keluar matanya, membuntungi semua jari kaki-tangannya! Setidaknya aku akan membenturkan kepalanya pada dinding sampai hancur lebur! Baru puas hatiku!”

Hok Ti Hwesio dan Tan Hay dapat memaklumi kemarahan Song Tek kepada penjahat itu, karena sesungguhnya para penjahat yang mengganggu kota Liu-leng itulah yang membuat dia kehilangan jabatannya.

Mereka lalu keluar dari kamar tahanan setelah Song Tek memaki-maki dan menyumpah-nyumpah. Akan tetapi baru saja mereka melangkah keluar, terdengar suara keras di dalam kamar tahanan itu. Hok Ti Hwesio melompat masuk lagi dan apa yang dilihatnya?

Tubuh penjahat itu telah menggeletak dan kepalanya berlumur darah. Ternyata bahwa penjahat itu telah membenturkan kepalanya sendiri pada dinding di belakangnya! Agaknya penjahat itu gentar memikirkan hukuman yang akan ia hadapi maka ia menghabiskan nyawanya sebelum diperiksa oleh Lie-tikoan.

“Sayang sekali….” Lie-tikoan berkali-kali berkata sambil menarik napas. “Penjahat itu seharusnya dapat memberi keterangan siapa gerangan pemimpin penjahat. Sayang ia mendapat kesempatan membunuh diri.”

”Memang amat disayangkan hal ini terjadi,” kata Song Tek yang juga hadir di situ, “aku akan merasa gembira sekali kalau melihat dia terhukum seberat-beratnya.”

Orang yang paling marah karena kejadian itu adalah Pangeran Lu Siang Tek. Ia mcmandang kepada Hok Ti Hwesio dan menegur: ”Hok Ti Losuhu, bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa losuhu tidak melakukan penjagaan sekerasnya sehingga dapat mencegah ia melakukan pembunuhan diri?”

Merah muka dan kepala Hok Ti Hwesio. “Pinceng sama sekali tidak mengira bahwa jahanam itu akan demikian nekad. Tadinya ia tenang-tenang saja, bahkan tidak menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pinceng. Tidak tahunya ia begitu nekad untuk membunuh diri. Hmm, ini menandakan bahwa gerombolan penjahat itu berbahaya dan setia kepada pcmimpinnya, Ong-ya. Pinceng akan menghabiskan segala tenaga dan pikiran untuk menangkap kepalanya!”

“Sayang sekali, orang bertopeng hitam yang telah membubarkan penjahat dan menangkap seorang di antaranya, tidak mau memperkenalkan diri. Kalau dia dapat membatu kita secara terang-terangan, alangkah baiknya......” kata pula Lie-tikoan dan kata-kata ini langsung menikam hati Hok Ti Hwesio.

Akan tetapi, kata-kata ini memang ada benarnya, karena sudah jelas bahwa si topeng hitam itu lihay dan dapat mengatasi sepak terjang para penjahat, sebaliknya Hok Ti Hwesio dan kawan-kawannya tidak berdaya.

“Taijin, memang si kedok hitam itu telah membantu kita, akan tetapi karena dia tidak mau muncul secara terang-terangan, kitapun tidak bisa mendesaknya. Adapun kepala penjahat itu dan kawan-kawannya memang amat lihay, maka pinceng telah menyuruh seorang murid untuk mengundang dua orang sute dari kota Leng-ti-kwan. Dengan bantuan dua orang suteku itu, kiranya pinceng akan dapat menghadapi para penjahat itu.”

Lie-tikoan girang mendengar ini. ”Siapakah dua orang sutemu itu, losuhu?”

Dengan suara bangga Hok Ti Hwesio berkata: “Ji-sute adalah Kim-coa-pian Bu Kiat dan sam-sute adalah Sin-siang-to Kwee Sin Bun. Dua orang suteku ini adalah piauwsu-piauwsu (pengawal barang kiriman) yang mendirikan perusahaan ekspedisi Ang liong-piauwkiok (perusahaan ekspedisi Naga Merah) yang amat terkenal di kota Leng-ti-kwan. Nama mereka sebagai piauwsu sudah amat terkenal dan tidak ada penjahat yang tidak takut kepada mereka.”

Tentu saja semua orang menjadi girang mendengar ini. Apalagi ketika Cung Hok Bi, keponakan dari Song Tek, yang tampan dan gagah serta pendiam, tiba-tiba berkata: “Ang-liong-piauwkiok? Ah, akupun sudah mendengar nama besar dari jiwi piauwsu yang gagah perkasa itu!”

”Bagus!” kata Song Tek sambil bertepuk tangan. “Mampuslah sekarang penjahat-penjahat musuh kita! Hok Ti Losuhu, kapankah dua orang gagah itu akan tiba? Aku ingin sekali melihat penjahat-penjahat itu secepat mungkin tertangkap.”

“Menurut perhitungan pinceng, lima hari lagi mereka pasti datang.” jawab hwesio itu.

Lie-tikoan mengerutkan keningnya. “Losuhu, memang baik sekali dengan adanya bantuan yang akan datang itu. Akan tetapi, sebelum kedua orang sutemu itu tiba, harap jangan lengah, perkuat pcnjagaan, karena siapa tahu kalau-kalau para penjahat itu akan menyerbu sebelum bala bantuan datang.”

"Betul sekali kata-kata Lie tikoan ini!” kata Song Tek. “Memang Lie-taijin memiliki pemandangan yang luas. Dengan pimpinan Lie-taijin, dibantu pula oleh dua orang piauwsu itu, kali ini pasti para penjahat akan mati kutunya. Selamat, selamat!”

Muka Lie-tikoan menjadi merah dan Pangeran Lu yang merasai pula sindiran ini, berkata: “Untuk menghadapi para penjahat ini, tidak bisa ditimpakan ke atas pundak Lie-tikoan seorang saja. Sudah menjadi kewajiban kita bersama, ya..... kewajiban seluruh penduduk Liu-leng untuk ikut pula mengamat²i, ikut pula bergerak membantu agar penjahat-penjahat itu lekas tertangkap.”

Song Tek tentu saja dapat menangkap teguran yang terkandung dalam kata-kata ini, teguran yang ditujukan kepadanya untuk membalas sindirannya tadi. Akan tetapi dengan wajah tanpa berubah, dan senyum lebar dan ramah, ia berkata cepat:

”Tepat sekali! Memang kata-kata Lu-ongya ini cocok betul dengan isi hatiku. Kita sekalian harus ikut membantu menjaga kota kita sendiri. Biarpun siauwte bodoh dan lemah, baiknya siauwte mempunyai pembantu, yakni keponakanku sendiri. Hok Bi, kau dengar kata-kata Lu-ongya tadi? Sebagai anak murid Bu-tong-pay, kau jangan kalah dan jangan membikin malu nama partaimu. Hayo kau kerahkan tenaga supaya kita dapat menangkap penjahat-penjahat itu!”

Dengan kata-kata ini, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyambut kata-katanya, bekas tikoan ini lalu berpamit dan mengajak keponakannya yang tampan dan gagah itu mengundurkan diri.

Memang tepat apa yang dikhawatirkan oleh Lie-tikoan. Pada malam hari berikutnya, para penjahat sudah mulai beraksi lagi. Tiga orang hartawan menjadi korban dan seperti biasa, para penjahat ini hanya mengutamakan emas dan permata, atau barang-barang ringkas yang berharga. Kali ini tidak jatuh korban, namun tetap saja memusingkan kepala Lie-tikoan karena semua perbuatan penjahat-penjahat itu sama sekali tidak ketahuan oleh para penjaga.

Penjagaan dikerahkan di rumah Lie-tikoan, sebagian pula di sekitar gedung Pangeran Lu Siang Tek dan banyak pula dipencar-pencar di sekitar kota, terutama di empat pintu gerbang kota. Siapa sangka bahwa tanpa melalui pintu-pintu gerbang, para penjahat tahu-tahu sudah berada di dalam kota dan dengan seenaknya bekerja!

Lie-tikoan makin bingung. Dengan tewasnya beberapa orang penjaga pintu gerbang pada hari kemarinnya, menandakan bahwa para penjahat itu bersarang di luar kota. Akan tetapi malam ini membuktikan bahwa para penjahat itu tahu-tahu sudah berada di dalam kota, seakan-akan para penjahat itu memang mempunyai sarang di dalam kota!

Malam kedua terjadi hal yang lebih hebat lagi. Sekarang rumah pangeran Lu yang diserbu! Malam itu bulan sudah mulai muncul, biarpun baru seperlima bagian, namun sudah mendatangkan cahaya remang-remang, Lie-tikoan sudah merobah siasat dan sekarang diadakan ronda secara bergiliran akan tetapi sambung-menyambung sehingga seluruh kota berada dalam pengawasan.

Tentu saja jalan raya di depan gedung Pangeran Lu tidak begitu diperhatikan oleh para peronda, oleh karena gedung itu sudah terjaga kuat oleh Hek-liong-pian Thio Cin Gan dan anak buahnya, bahkan dibantu oleh beberapa orang penjaga yang dikirim oleh Lie-tikoan.

Hek-liong pian Thio Cin Gan sore-sore telah melakukan penjagaan dan mengatur anak buahnya dengan tertib sekali. Ia membagi penjagaan menjadi tiga lapisan. Barisan pertama menjaga dan meronda di luar pagar tembok pekarangan. Barisan kedua di sebelah dalam tembok, yakni di pekarangan di luar rumah, sedangkan barisan ketiga di luar rumah dekat tembok bangunan gedung.

Jangankan manusia biasa, biarpun burung takkan dapat melalui atap rumah tanpa terlihat oleh tiga lapisan penjaga-penjaga ini. Adapun Cin Gan sendiri meronda di sebelah dalam dan kadang-kadang melompat ke atas genteng!

Akan tetapi, benar-benar luar biasa anehnya ketika menjelang tengah malam, di atas genteng berkelebat dua bayangan orang berkedok dan berpakaian hitam, bersembunyi di wuwungan rumah, agaknya mengatur siasat. Lebih aneh lagi, di sebelah dalam gedung, Pangeran Lu Siang Tek sedang duduk menghadapi seorang bertopeng hitam yang temyata bukan lain adalah si topeng hitam yang pernah mengusir penjahat, yakni penolong rahasia yang perkasa itu!

Tadinya pangeran Lu yang belum tidur dan masih membaca buku, kaget melihat berkelebatnya bayangan hitam dan tahu-tahu ia melihat si topeng hitam itu berdiri di tengah kamar! “Kim-hoa-piauw…!” kata Pangeran Lu perlahan. Ia menyebut ini karena teringat akan cerita puterinya bahwa si topeng hitam yang tidak mau menyebutkan namanya ini telah meninggalkan sebatang piauw dengan kepala bunga emas.

Sitopeng-hitam itu tersenyum ketika mendengar sebutan ini. “Ong-ya jangan kaget,” katanya berbisik perlahan sehingga nyonya Lu yang sudah pulas di sebelah suaminya tidak terganggu, “aku datang hendak menolongmu. Di atas genteng ada dua orang penjahat, Suruh Lu-siocia ke sini dan berkumpul di kamar ini agar tidak payah aku melakukan penjagaan dan perlindungan.”

Bukan main kaget dan herannya hati Pangeran Lu mendengar ini. “Akan tetapi bukankah Thio Cin Gan dan anak buahnya sudah menjaga kuat² rumah ini?”

Si topcng hitam tersenyum. ”Masih kurang kuat, ongya. Buktinya aku dapat masuk tanpa mereka lihat. Pula, penjahat-penjahat itu lihay sekali. Lekaslah, jangan terlambat. Panggil Lu-siocia ke sini....” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat si topeng hitam itu melayang keluar dari jendela kamar dan lenyap.

Lu Siang Tek segera berlari memasuki kamar puterinya. Lu Bwe Hwa terkejut sekali ketika dibangunkan oleh pelayannya dan lebih kaget melihat ayahnya sudah berada di dalam kamarnya. ”Ada apakah, ayah…?” tanyanya sambil menggosok-gosok matanya.

”Sstt, jangan berisik. Ikut saja ke kamarku....” kata Pangeran Lu sambil menarik tangan anaknya. Pelayan Bwe Hwa, yaitu Siauw Hong, ikut pula dengan muka pucat ketakutan.

Setelah berada dalam pelukan ibunya, Bwe Hwa mendengar tentang kedatangan dan peringatan si topeng hitam. Ibunya juga baru bangun dan tahu akan hal itu setelah si topeng hitam pergi dan dibangunkan oleh suaminya. Mereka berempat, Lu Siang Tek, isterinya, Bwe Hwa, dan Siauw Hong, berkumpul di kamar itu, mendengarkan dengan menahan napas.

Tak lama kemudian mereka kaget setengah mati melihat berkelebatnya bayangan hitam yang melompat masuk melalui jendela. Akan tetapi mereka menjadi lega hati lagi ketika melihat bahwa bayangan ini adalah si topeng hitam yang cepat menghampiri meja dan meniup padam lampu lilin.

”Jangan bergerak, berkumpul di sudut kamar. Mereka sedang menuju ke sini..…” bisiknya. Kemudian sambil mendekati pangeran Lu yang hanya kelihatan bayangannya saja dalam kamar yang telah menjadi gelap itu, si topeng hitam berkata:

“Lu-ongya, aku hendak mencoba menangkap kepalanya!” Pangeran Lu membuat gerakan hendak bertanya dan mengenal siapa adanya orang aneh ini, akan tetapi orang itu berbisik: “Stt, mereka datang.....”

Benar saja, di luar jendela terdengar suara perlahan disusul bisikan: “Agaknya dia berada di kamar orang tuanya. Bereskan saja semua!”

Berbareng dengan itu, daun jendela kamar terbuka dan dua sosok bayangan hitam melompat dengan gerakan lincah laksana kucing. Si topeng hitam atau kita sebut saja Kim-hoa-piauw seperti sebutan yang dikeluarkan oleh Pangeran Lu tadi, cepat menggerakkan tangan dan dua sinar hitam menyambar ke arah bayangan itu.

“Celaka, kita tcrjebak!” seru bayangan pertama yang memegang toya sambil menyampok piauw itu dengan tangan kirinya. Cara ia menyampok piauw ini saja sudah cukup membuktikan kelihayannya. Bayangan kedua kurang lihay, karena ia cepat-cepat mengelak dari sambaran piauw kemudian melompat keluar dari kamar. Penjahat bertoya juga melompat keluar, akan tetapi sambil melompat ia mengayun tangannya ke belakang dan tiga batang piauw menyambar ke dalam kamar secara membabi-buta.

Si topeng hitam memutar pedangnya. Traang! Senjata-senjata rahasia itu sekaligus kena ditangkis dan terpental ke lantai. Kemudian si topeng hitam berseru keras: “Jahanam keji jangan lari!”

Tubuhnya menyambar keluar, namun gerakan dua orang penjahat itu cepat bukan main dan ternyata mereka telah melompat ke atas genteng. Bagaikan burung walet, Kim-hoa-piauw terus mengejar dan begitu ia melesat ke atas, ia berseru kaget dan terpaksa ia berjungkir balik dalam lompatannya untuk menghindarkan diri dari serangan toya yang luar biasa hebatnya, yang menyambut kedatangannya di atas genteng itu. Inilah serangan dari penjahat bertoya.

“Setan, kau lagi-lagi menghadapi kami!” penjahat bertoya itu memaki gemas melihat seranganuya tidak berhasil. Berkali-kali tangannya diayun dan berhamburanlah senjata piauw hitam menyambar lawannya. Karena baru saja terlepas dari bahaya maut, si topeng hitam atau Kim-hoa-piauw sibuk juga menghadapi serangan yang bertubi-tubi datangnya ini. Terpaksa ia memutar pedang melindungi tubuhnya. Kesempatan ini dipergunakan oleh penjahat bertoya untuk melarikan diri menyusul kawannya yang sudah lari terlebih dulu.

Sementara itu, Pangeran Lu dari bawah berteriak-teriak: ”Tangkap penjahat..! Thio Cin Gan, kau di mana?!”

Seruan ini keras dan menarik perhatian para penjaga yang segera memburu ke pintu depan gedung itu. Karena pintu itu masih ditutup dari dalam, mereka lalu mendobrak pintu dan menyerbu masuk. Namun para penjaga ini tidak mendapatkan sesuatu. Bahkan Hek-Iiong-pian sendiri yang tiba-tiba melayang turun dari genteng sebelah belakang, tidak mendapatkan sesuatu kecuali keluarga Pangeran Lu yang masih menggigil ketakutan.

“Kau dari mana saja?” bentak pangeran Lu marah setelah pengawal ini menyalakan lampu.

”Hamba sedang meronda di sebelah belakang gedung. Tadi hamba melihat berkelebatnya bayangan orang-orang di atas genteng, maka hamba lalu mengejar dan bayangan-bayangan itu menghilang di dalam gelap. Sama sekali hamba tidak mengira bahwa mereka telah dapat masuk ke dalam. Benar-benar aneh sekali, penjagaan sudah hamba adakan dengan amat keras. Bagaimana mereka dapat masuk?² jawab pengawal itu dengan muka merah karena ia benar-benar merasa terkejut sekali. Baiknya tidak terjadi sesuatu dengan majikannya, kalau terjadi malapetaka, tidak urung dia yang celaka, karena dialah yang bertanggung jawab.

Di luar terdengar ribut-ribut dan tak lama kemudian muncul guru silat Kwan Ciu Leng yang berpakaian ringkas dan sepasang senjatanya yang lihay, yakni poan-hoan pit atau scmacam alat tulis yang dapat dipakai sebagai senjata penotok, berada di kedua tangannya. Wajah guru silat ini nampak tegang sekali.

“Selamat semuakah, Lu-ongya?” tanyanya dengan nada suara gelisah.

“Hampir saja kami celaka,” jawab pangeran itu, kemudian dengan cepat dan penuh curiga ia bertanya: “Kwan-kauwsu tengah malam buta dari manakah?”

”Hamba ikut meronda dan kebetulan lewat di tempat ini mendengar suara ribut-ribut, maka hamba lalu mengajak kawan-kawan peronda yang lain untuk menyelidiki. Sukurlah kalau ong-ya dan keluarga selamat semua.”

Selanjutnya,
PISAU TERBANG BUNGA EMAS JILID 05