Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 03

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 03
Sonny Ogawa
Cerita Silat Mandarin Serial Bu-kek Sian-su Karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 03 - SONG TEK mencoba untuk mencegah dan menahan mereka, akan tetapi dua orang gagah ini menghaturkan terima kasih lalu keluar dari gedung bekas tikoan she Song itu. Di warung arak A Sam kebetulan sedang sunyi tidak ada tamu.

Melihat datangnya dua orang itu, A Sam tersipu-sipu menyambut dan memberi hormat dengan membungkuk-bungkuk sehingga kepalanya lebih rendah daripada pantatnya. Dua orang itu memilih tempat yang enak di mana mereka bercakap-cakap sambil minum arak.

Sinchio Tan Hay lalu menceritakan semua persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Hok Ti Hwesio dalam usahanya mencari dan menangkap penjahat, di bawah pimpinan Lie-tikoan. Dan Thio Cin Gan mengangguk-angguk memuji cara Lie-tikoan mengatur penjagaan sehingga boleh dibilang seluruh kota Liu-leng telah dipasangi jerat untuk menjebak penjahat yang berani memasuki kota.

“Lie-tikoan berpendapat bahwa penjahat itu pasti tinggal di luar kota, maka dengan bantuan Hok Ti Hwesio, apabila penjahat itu berani memasuki kota, supaya didiamkan saja dan setelah berada di dalam kota baru dikeroyok dan dicegah agar jangan sampai dapat lari keluar kota lagi,” demikian Tan Hay memberi keterangan. ”Akan tetapi, bukankah Hok Ti Hwesio itu susiokmu, Thio-enghiong? Kiranya dari orangtua itu kau akan bisa mendapatkan penjelasan yang lebih baik, bukan?”

“Justru karena dia itu susiok-ku, maka kurang enaklah kalau aku terlalu mendesak dan minta keterangan kepadanya. Pula, dia hanya membantu dan yang mengatur semua ini tentu Lie-tikoan, bukan? Nah, Tan-loheng, untuk menyatakan terima kasihku, baik kuceritakan padamu tentang pengalamanku malam tadi. Kiranya ini penting bagimu yang bertugas menyelidiki dan menangkap penjahat.

"Ketahuilah, dan ini rahasia karena tidak kuceritakan kepada siapapun juga kecuali kepada Lu-ongya, bahwa malam tadi ketika aku secara iseng-iseng keluar malam, aku melihat sesuatu yang aneh. Ketika itu kurang lebih lewat tengah malam dan aku melihat bayangan hitam berkelebat di atas genteng rumah-rumah besar di sebelah utara kota.

"Aku cepat melompat ke atas genteng dan hendak menyapa akan tetapi tiba-tiba bayangan itu melesat cepat dan melarikan diri. Tentu saja aku mengejar, namun ternyata. Ilmu lari cepatnya hebat sekali dan sebentar saja ia lenyap. Kau tahu ke mana lenyapnya? Ke jurusan rumah gedung Lie-tikoan!”

“Apa....??” Mata Tan Hay melotot dan mulutnya celangap. “Tahu betulkah kau apa yang kau katakan ini? Ataukah kau sudah terlalu banyak minum arak?”

“Tidak, loheng, aku tidak mabok. Yang kuceritakan ini bukan isapan jempol belaka, akan tetapi kenyataan yang kulihat sendiri dengan sepasang mata. Bayangan itu menghilang dekat rumah gedung Lie-tikoan dan kau tentu tahu bahwa aku tidak mencurigai siapa-apa hanya kau sebagai kepala penjaga kota Liu-leng, waspadalah jangan sampai Lie-tikoan menjadi korban penjahat. Siapa tahu kalau-kalau penjahat itu bersembunyi di dekat atau bahkan di dalam rumah Lie-tikoan!”

Setelah pertemuannya dengan Hek-liong-pian Thio Cin Gan ini, kepala penjaga kota Liu-leng ini menjadi makin gelisah dan tidak enak hatinya. Sudah lama ia mendapat dugaan bahwa di dalam peristiwa kejahatan di kota Liu-leng ini terdapat rahasia yang sukar sekali dipecahkan. Apakah tikoan yang baru ini mempunyai hubungan dengan penjahat itu?

Apakah sengaja mengacau kota Liu-leng agar ia mendapat kesempatan merampas kedudukan tikoan dari tangan Song-tikoan? Ah, ini tak mungkin. Lie-tikoan sudah terkenal di kotaraja, pula, bukankah Lie-tikoan sudah bersungguh-sungguh mendatangkan Hok Ti Hwesio dalam usahanya menangkap penjahat?

Sinchio Tan Hay merasa bingung betul dan baru kali ini selama ia menjadi kepala penjaga keamanan Liu-leng, ia merasa tak berdaya menghadapi penjahat yang lihay itu. ”Kalau aku bertemu lagi dengan dia, aku akan mengadu nyawa!” gerutunya dan semenjak hari itu, tiap malam ia ikut keluar sambil mem-bawa-bawa tombaknya yang merupakan senjatanya yang paling ia andalkan.

“Toloonggg.... tolooonggg....!”

Jeritan ini memecah kesunyian tengah malam, akan tetapi seperti juga timbulnya yang amat tiba-tiba, demikian pula jeritan itu lenyap dengan tiba-tiba, seakan-akan leher orang yang menjerit itu dicekik. Kemudian ternyata, bahwa gadis yang tadi menjerit itu bukan dicekik lehernya, melainkan dibacok dengan senjata tajam sehingga putus, terpisah dari tubuhnya!

Dan selain pembunuhan keji ini, sejumlah uang emas dan perak di dalam kamar Gan-wangwe telah lenyap dicuri penjahat. Jerit dan tangis memehuhi rumah Gan-wangwe yang sekaligus kehilangan puterinya dan hartanya itu.

Bukan ini saja, pada saat yang hampir bersamaan, lima orang penjaga pintu gerbang di sebelah selatan kota, diserbu oleh tiga orang berkedok dan dalam beberapa gebrakan saja tiga orang yang kepandaiannya tinggi itu berhasil menewaskan lima orang penjaga tadi!

Kota Liu-leng menjadi gempar. Peristiwa itu adalah kejahatan yang ketiga kalinya semenjak Lie-tikoan menduduki pangkatnya, dan tiga kali terjadi berturut², se-akan-akan para penjahat itu berpesta pora dan sama sekali tidak perdulikan atau tidak memandang mata kepada tikoan baru dengan sekalian penjaga dan pembantunya.

Hal ini sama sekali tak dapat dianggap sebagai akibat daripada kelalian penjagaan, karena setiap kali terjadi kejahatan itu, selalu Hok Ti Hwesio, dibantu oleh lain² penjaga, menghadapi serbuan seorang atau dua orang penjahat berkedok yang amat tinggi kepandaiannya.

Kemudian ternyata bahwa dua orang atau seorang penjahat ini hanya bertugas untuk mengikat perhatian Hok Ti Hwesio sehingga penjahat-penjahat yang lain mendapat waktu dan kesempatan banyak untuk melakukan pekerjaan mereka yang keji tanpa mendapat rintangan yang berarti karena orang-orang gagah seperti Hok Ti Hwesio dan yang 1ain² sudah sibuk mengurung penjahat yang sengaja menyerbu mereka ini.

Dan seperti yang sudah-sudah, setelah pekerjaan terkutuk itu selesai dilakukan, terdengar bunyi suitan seperti suara burung malam. Kiranya ini sebagai tanda karena dengan kecepatan luar biasa, para penjahat itu lalu menghilang di dalam gelap malam dan tidak kelihatan lagi bekas-bekasnya!

Dengan wajah lesu dan muram Lie-tikoan mengadakan perundingan dengan Hok Ti Hwesio pada keesokan harinya. Hadir pula karena memang diundang oleh Lie-tikoan, Sin-chio Tan Hay yang nampak marah-marah karena lima orang anak buahnya yang menjaga pintu gerbang selatan telah tewas oleh penjahat, Kwan Ciu Leng guru silat Siauwlimpay di Liu-leng yang diundang pula.

Guru silat ini tentu saja tidak terikat oleh kewajiban, akan tetapi sebagai seorang ahli silat iapun memperhatikan persoalan ini dan sejak munculnya penjahat itu, ia selalu dimintai bantuan oleh fihak yang berwajib. Juga Hek-liong-pian Thio Cin Gan hadir, bukan diundang melainkan kerena ia disuruh oleh Lu-ongya untuk menyelidiki sampai di mana kehebatan sepak terjang para penjahat itu.

“Tidak kusangka sama sekali bahwa penjahat itu demikian banyak kaki tangannya,” Lie-tikoan mulai bicara, “dan sekarang jelaslah bahwa penjahat-penjahat itu datang dari luar kota, karena buktinya mereka telah membunuh para penjaga. Kuharap saja Hok Ti Suhu dan semua orang gagah sudi mengerahkan tenaga dan melakukan penyelidikan. Pula, mulai hari ini, harus dilakukan penjagaan yang lebih kuat lagi.”

Tengah orang-orang ini berunding bagaimana caranya melakukan pengejaran terhadap para penjahat itu, datanglah Song Tek bekas tikoan di Liu-leng. Ia datang bersama Cung Hok Bi keponakannya. Wajah Song Tek pucat dan pandang matanya muram. Begitu datang ia lalu berkata dengan suara penuh teguran,

"Celaka sekali, penjahat-penjahat itu makin berani saja, se-akan-akan tidak ambil perduli dan tidak memandang mata kepada semua orang gagah yang berada di sini. Celakanya, mereka itu mengganggu aku yang tidak berdosa!”

Dengan tenang Lie-tikoan mempersilahkan bekas tikoan itu duduk, kemudian tanyanya: “Song-hiante, apakah yang terjadi maka kau datang-datang mengeluarkan pernyataan seperti itu?”

”Maaf, Lie-taijin, sesungguhnya karena aku takut dan bingung maka aku bicara tidak karuan. Masih untung pagi hari ini aku dapat datang menghadap dan tidak hilang nyawaku. Malam tadi, selagi kota ribut-ribut karena serbuan penjahat-penjahat itu, rumahku tidak dilewati dan lihatlah apa yang menancap di atas meja dalam kamarku. Lie-taijin, harap suka menolong dan melindungi aku yang lemah ini!” Song Tek mengeluarkan sebatang piauw berikut sehelai kertas yang ada tulisannya.

Menerima dua macam benda ini, Lie Kim Hong tidak segera membaca suratnya melainkan memperhatikan dengan teliti. Ia mendapat kenyataan bahwa baik piauw (pisau) maupun surat itu serupa benar dengan yang dahulu disambitkan di atas mejanya, tanda bahwa pengirimnya dari orang yang sama. Baru ia membaca tulisan pada surat itu.

SONG-TIKOAN, KATAKAN KEPADA TIKOAN BARU. JANGAN DIA MENANTANG KAMI. KALAU DIA DAN JAGOAN-JAGOANNYA KEMBALI KE KOTARAJA, KAMI AKAN MENGHENTIKAN AKSI KAMI DI LIU-LENG. KALAU DIA MEMBANGKANG, KAMI AKAN MENYEBAR MAUT DI LIU-LENG!

Seperti juga dulu, surat ini tidak ditandatangani. Tanpa bicara apa-apa, Lie-tikoan menyerahkan surat itu kepada Hok Ti Hwesio untuk dibaca. Hwesio itu membacanya dan mengerutkan keningnya. ”Habis, bagaimana putusan taijin?” tanyanya.

Lie-tikoan mengertak gigi, mengepal tinju. ”Kita harus dapat menangkap keparat itu, biar untuk tugas ini aku berkorban nyawa! Belum pernah ada pejabat pemerintah bertekuk lutut terhadap seorang jahanam!”

“Keputusan Lie-taijin itu baik sekali,” Kata Song Tek akan tetapi mukanya nampak gelisah, “hanya kuminta dengan sangat agar supaya aku tidak terbawa-bawa dalam peperangan ini. Kuharap saja Lie-taijin akan berhasil dalam usahanya, aku.... aku sudah terlalu banyak mendapat kaget, aku khawatir jantungku yang lemah takkan kuat menghadapi ketegangan-ketegangan ini....” Setelah berkata demikian, dengan muka pucat dan tubuh lemas Song Tek bermohon diri, keluar dari situ diiringkan oleh keponakannya yang berjalan dengan langkah gagah.

“Pengecut itu mencurigakan juga….” kata Hok Ti Hwesio sambil memandang ke arah bayangan Song Tek yang sudah pergi jauh.

“Losuhu tak perlu bercuriga terhadap dia,” kata Hek-liong-pian Thio Cin Gan, “kami semua mengenal betul bekas tikoan itu. Dia seorang yang lemah, mana bisa ada hubungannya dengan penjahat? Untuk aku, keponakannya itulah yang patut diperhatikan, karena pemuda itu adalah anak murid Butongpay yang amat lihay bermain pedang dan juga ahli dalam penggunaan amgi (senjata rahasia).”

Kata-kata pengawal pribadi Pangeran Lu Siang Tek ini dibetulkan oleh orang yang berada di situ, karena selama Song Tek menjadi tikoan memang semua mengenalnya sebagai orang yang lemah. Karena kelemahannya itulah agaknya maka kota Liu-leng sampai didatangi dan diganggu penjahat.

“Pendapat Thio sicu beralasan juga,” kata Kwan Ciu Leng sambil mcng-angguk-angguk. “Siauwte sendiri sudah mencoba kepandaian Cung Hok Bi itu dan ternyata pemuda itu cukup lihay. Hanya amat disangsikan, masa pemuda itu menjadi anggauta penjahat dan mengganggu kota di mana pamannya dahulu menjadi tikoan? Rasanya tak masuk di akal.” Kembali kata-kata guru silat ini mendapat perhatian dan semua orang menganggapnya tepat juga.

“Memang, dalam keadaan seperti ini, timbul kecurigaan di dalam hati dan timbul sangkaan yang bukan². Akan tetapi sebaliknya, kita pun tidak boleh percaya kepada setiap orang. Paling perlu, kita bersiaga dan marilah kita berusaha untuk melenyapkan gangguan kota kita ini.” kata Lie-tikoan.

Perundingan itu dilanjutkan sampai jauh siang, baru semua orang bubaran dengan hati tegang. Lie-tikoan sudah menyambut tantangan penjahat, perang sudah diumumkan dan semua orang menanti datangnya malam dengan hati berdebar-debar.

Malam gelap. Hitam pekat. Ditambah kesunyian mencekik karena para penghuni kota Liu-leng sore² sudah menutup jendela dan pintu dan tidak mau keluar lagi, membuat suasana malam itu di kota Liu-leng menjadi serem menakutkan.

Bahkan para penjaga kota yang meronda, tidak berani berpencar dan tidak berani menyendiri, selalu bergerombol sedikitnya sepuluh orang, melakukan ronda malam dengan dua macam rasa takut. Takut kepada penjahat yang lihay seperti iblis itu dan takut kalau-kalau mereka akan mendapat teguran dari atasan apabila tidak melakukan ronda sebaiknya.

Udara hitam tertutup mendung, tidak kelihatan bintang, apalagi bulan. Awan menyelimuti langit membuat keadaan yang gelap sekali. Para penjaga tentu takkan dapat melihat tangan sendiri kalau saja tidak ada sinar lampu yang menyorot keluar dari rumah-rumah penduduk.

Tiba-tiba, di antara sinar lampu yang suram, muncul bayangan-bayangan hitam dari tempat gelap. Jumlah mereka ada enam orang dan kesemuanya memiliki gerakan yang amat gesit dan ringan. Akan tetapi, di antara mereka adalah orang yang pada punggungnya terselip pedang dan tangannya memegang toya yang paling gesit. Mereka ini kesemuanya memakai kedok yang hitam menutupi seluruh muka, hanya mata mereka saja yang nampak dari balik kedok.

Orang yang bertoya itu agaknya menjadi pemimpin karena ia menggerak²kan tangan, kemudian mereka berpencar. Lima orang itu melompat-melompat di atas genteng menuju ke rumah Lie-tikoan sedangkan yang memegang toya tadi membalikkan tubuh dan lari dengan cepatnya menuju ke rumah Pangeran Lu!

Para penjahat itu sama sekali tak pernah menduga bahwa gerak-gerik mereka semenjak tadi di intai oleh sepasang mata yang tajam dari seorang yang bersembunyi di tempat gelap. Orang ini juga memakai kedok, akan tetapi kedoknya hanya menutupi kedua matanya. Sungguhpun demikian, sukarlah mengenal orang ini siapa sebenarnya.

Ketika orang berkedok ini yang sejak tadi sudah meraba pedang di punggungnya, melihat betapa enam orang itu terpencar, ia nampak bingung. Akan tetapi ia segera mengambil keputusan dan lincah seperti seekor burung walet, tubuhnya melayang dan mengejar penjahat yang memegang toya tadi yang menuju ke rumah gedung Pangeran Lu.

Setiap malam gedung Pangeran Lu terjaga kuat, dan boleh dibilang rumah gedung itu dikurung rapat oleh para penjaga yang merupakan barisan pengawal penjaga keselamatan pangeran itu sekeluarga. Akan tetapi, menghadapi penjahat berkedok yang memegang toya itu, para penjaga ini tidak ada artinya.

Dengan gerakannya yang amat ringan dan gesit sekali penjahat itu dapat melompat ke atas genteng melalui pohon besar di sebelah kiri rumah tanpa diketahui oleh seorangpun penjaga. Hal ini bukan se-kali² karena para penjaga kurang teliti atau lalai, melainkan karena orang itu memang tinggi sekali kepandaiannya sehingga ketika ia melompat ke atas cabang pohon kemudian melanjutkan lompatannya itu ke atas genteng, tidak sehelai daun pun bergoyang!

Juga para penjaga tidak melihat betapa bayangan kedua melayang dan hinggap di cabang pohon yang sama setelah penjahat itu berada di atas genteng. Bayangan kedua ini adalah orang berkedok yang membawa pedang di punggungnya dan agaknya orang ini sengaja mengintai, hendak melihat apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh penjahat bertoya itu.

Dengan lincah dan cekatan, bayangan pertama itu berloncatan di atas genteng, mencari-cari. Akhirnya ia melompat turun dan di lain saat ia telah mengintai ke dalam sebuah kamar dari jendela kamar yang berada di sebelah kanan ruangan belakang. Di bawah sinar lampu, sepasang mata yang bersembunyi di balik kedok itu berseri.

Dapat dibayangkan bahwa mulutnya tentu tersenyum iblis. Dikeluarkannya dua batang hio (dupa) dan dibakarnya, lalu dengan sekali tusuk menggunakan dua jari tangan, jendela itu menjadi bolong²! Dari lubang inilah ia masukkan hio yang sudah terbakar sehingga asap dupa itu memasuki kamar.

Inilah dupa yang amat berbahaya dan yang biasa dipergunakan oleh sebangsa jay-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) atau para maling yang sudah kawakan. Asap hio ini khasiatnya hebat. Orang yang sudah tidur kalau mencium asap ini akan menjadi pulas tidurnya seperti sudah mati! Sebaliknya orang yang masih belum tidur, mencium bau hio yang harum melemahkan semangat ini tentu akan mengantuk seketika dan takkan dapat tahan membuka mata lagi.

Tiba-tiba penjahat itu mengeluarkan suara makian dan menarik kembali tangannya sehingga dua batang hio itu terjatuh ke dalam kamar itu. Ia telah melihat berkelebatnya bayangan di atas genteng dan sekali ia membalikkan tubuh, tangan kirinya telah mengayun tiga batang piauw (senjata rahasia) yang menyambar ke arah tiga bagian tubuh yang berbahaya dari seorang yang sedang mengintainya dengan tubuh menggantung di tihang genteng.

Dia itu bukan lain adalah orang kedua yang tadi mengikuti bayangan pertama dan dengan kedua kaki dikaitkan pada tihang genteng, ia tengah mengintai dan tak terduga sama sekali penjahat itu telah melihatnya dan menyerangnya dengan tiga batang piauw!

Bukan main kagetnya orang yang diserang ini. Ia dalam keadaan menggantung, kepala di bawah kaki di atas dan serangan piauw itu menyambar cepat sekali ke arah tenggorokan, ulu hati, dan pusar! Untuk mengelak tak sempat lagi. Akan tetapi ternyata bahwa orang ini pun bukan orang sembarangan. Dengan gerakan cepat sekali, kedua tangannya bergerak-gerak menyampok tiga batang piauw itu, dibarengi dengan enjotan tubuhnya yang melepaskannya dari tihang genteng.

“Plak-plak-plak!” tiga batang piauw itu kena ia sampok sehingga menyeleweng ke kanan-kiri dan mengenai tihang terus amblas ke dalam tihang kayu itu, tidak kelihatan lagi. Dengan cekatan orang itu melompat ke atas genteng dan keringat dingin membasahi jidatnya kalau ia teringat betapa hebatnya serangan tadi dan betapa nyawanya berada dalam bahaya.

Ia merasa kedua tangannya sakit-sakit ketika menyampok piauw, bahkan telapak tangan kirinya sampai lecet. tanda bahwa tenaga sambitan dari penjahat cabul itu benar-benar mengandung tenaga lweekang yang tinggi.

Adapun penjahat yang memegang toya menjadi penasaran sekali melihat betapa serangan tiga batang piauwnya tidak berhasil. Ia sekali lagi mengayun tangan kirinya dan kembali tiga batang piauw menyambar ke arah tubuh orang yang kini melompat ke atas genteng itu.

“Penjahat keji, jangan menjual lagak!” Orang yang diserang itu berkata mengejek dan tangannya terayun ke depan. Dari kedua tangannya itu menyambar tiga batang piauw yang serupa, maka bertemulah enam batang piauw itu, mengeluarkan suara nyaring dan bunga api berpijar sebelum keenam batang piauw itu runtuh ke atas genteng.

Penjahat itu terkejut sekali dan cepat ia mengayun tubuhnya melompat naik ke atas genteng pula. Kini mereka berhadapan. Penjahat itu sukar dikenal mukanya karena muka itu sama sekali tertutup oleh kedok hitam. Akan tetapi ia dapat melihat bahwa orang yang mengganggu ,,pekerjaannya” itu adalah seorang pemuda berperawakan tegap dan mukanya tampan, sungguhpun tak mungkin mengenal muka itu karena mata dan sebagian hidung tertutup oleh kedok hitam. Hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh dan tajam sekali.

“Penjahat keji, sekarang kau hendak lari ke mana? Terbukalah kedokmu!” Sambil berkata demikian, pemuda bertopeng itu cepat mengeluarkan pedangnya, menanti sebentar untuk mendengar jawaban penjahat itu.

Akan tetapi penjahat berkedok hitam itu sama sekali tidak mengeluarkan suara, sebaliknya menggerakkan toyanya melakukan serangan hebat. Pemuda itu menangkis dengan pedangnya dan kembali ia terkejut karena telapak tangannya sakit sekali, tanda bahwa pemegang toya itu benar-benar memiliki tenaga yang lebih besar daripadanya.

Namun ia tidak menjadi gentar dan cepat mainkan ilmu pedangnya yang menyambar² bagaikan angin menderu. Sebuah pertandingan seru segera terjadi dan keduanya ternyata adalah ahli silat-ahli silat yang pandai. Hal ini agaknya membuat keduanya terkejut dan berhati-hati. Dengan penuh perhatian mereka bertempur dan yang terdengar hiruk-pikuk hanya suara senjata mereka yang sering bertemu.

Akan tetapi suara ribut-ribut ini menarik perhatian para penjaga istana pangeran Lu dan sebentar saja di bawah terdengar suara orang-orang dan kelihatan obor menyala. “Ada penjahat di atas genteng....!!” terdengar suara keras.

“Ada pertempuran di atas!”

Kemudian berisik suara kaki menginjak genteng ketika para penjaga yang memiliki kepandaian melompat ke atas.

“Dua orang memakai kedok bertempur!”

“Yang mana penjahatnya?”

Ramai suara mereka itu, akan tetapi melihat hebatnya pertempuran dan betapa cepatnya gerakan pedang dan toya, tak seorangpun di antara para penjaga berani turun-tangan, apalagi mereka bingung dan tidak tahu harus menyerang yang mana dan membantu siapa.

Sementara itu, ketika penjahat itu melihat datangnya para penjaga, ia cepat memutar toyanya menyerang lawannya. Pemutaran toya ini hebat dan berbahaya sekali, membuat pemuda bertopeng itu terpaksa melompat mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh si penjahat untuk melarikan diri dengan lompatan-lompatan jauh!

“Kau hendak lari ke mana?” Pemuda itu membentak sambil mengejar. Akan tetapi pada saat itu terdengar pekik wanita dari bawah. Pemuda itu nampak terkejut, seperti juga para penjaga dan terdengar seruan dari bawah, yaitu para penjaga yang tidak ikut naik karena kepandaiannya kurang tinggi.

“Tangkap penjahat!”

Bagaikan seekor burung walet, pemuda bertopeng itu mendahului para penjaga yang masih tercengang di atas genteng, tubuhnya melayang turun ke bawah. Di lain saat ia telah berada di dalam taman bunga dan melihat seorang gadis jelita tengah di-seret-seret oleh seorang penjahat yang berkedok pula. Bukan main kagetnya ketika ia melihat bahwa penjahat ini serupa benar bentuk tubuhnya dengan penjahat yang bertempur dengan dia di atas genteng tadi.

Karena penjahat inipun memakai kedok hitam yang menutupi seluruh mukanya dan kedok itu bahkan memakai sutera hitam yang menutupi leher sampai ke dada, maka sukarlah untuk menentukan apakah penjahat ini yang tadi ataukah bukan. Akan tetapi tidak mungkin kalau yang tadi, pikir pemuda itu sambil menubruk maju.

“Jahanam busuk, lepaskan nona itu!” bentaknya dan pedangnya meluncur bagaikan kilat membabat tangan penjahat yang mem-betot² tangan gadis itu. Gadis itu kelihatannya lemah, akan tetapi ia tidak mau diculik begitu saja dan meronta-ronta sambil menjerit-jerit.

Menghadapi serangan pedang ini, penjahat itu kaget sekali dan terpaksa ia melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan nona tadi. Dengan gemas penjahat itu lalu menggerakkan toyanya dan menyerang hebat sekali pada pemuda bertopeng yang menghalangi usahanya menculik gadis itu. Serangan ini hebat dan si penjahat sudah memperhitungkan bahwa serangannya ini pasti akan merobohkan pemuda itu. Namun alangkah kagetnya ketika ternyata betapa dengan lincahnya pemuda ini mengelak dari serangannya. Hal ini membuatnya penasaran dan marah dan di lain saat, toya itu sudah bekerja bagaikan angin taufan mengamuk!

“Hebat...!” Pemuda bertopeng itu berseru dan cepat ia menggerakkan pedang melindungi tubuhnya. Memang ilmu toya yang dimainkan oleh penjahat berkedok ini hebat sekali, malahan jauh lebih hebat daripada permainan toya penjahat yang ditempurnya di atas genteng tadi! Gerakan toyanya lebih cepat, lebih mantep dan tenaganya lebih besar.

Kalau pertempuran dilanjutkan, kiranya akan memakan waktu lama sebelum dapat ditentukan siapa yang lebih unggul, karena diam-diam penjahat itupun mengaku bahwa lawannya pun memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi melihat betapa keadaan sudah ramai dan agaknya usahanya menemui kegagalan, penjahat itu lalu berseru keras dan tubuhnya melayang naik ke atas genteng, lalu melarikan diri, lenyap ditelan gelap malam.

Pemuda itu hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba tangan yang halus memegang lengannya dan di lain saat kepala yang berambut harum disandarkan ke bahunya, diiringi suara isak tangis. Kiranya gadis cantik tadi saking bersyukur dan berterima kasih atas pertolongannya, juga saking tegangnya menghadapi pengalaman yang hebat dan berbahaya tadi, tanpa terasa telah memegang lengannya dan menangis untuk melepaskan ketegangan hatinya.

Sepasang mata yang tajam sinarnya di balik topeng itu tiba-tiba melembut, bibir itu tersenyum dan tangan kirinya mengelus-elus kepala dengan rambut halus dan harum itu. ”Nona, bahaya sudah lewat, kau aman sudah....” terdengar pemuda bertopeng itu berkata lirih, akan tetapi lengan kanannya yang dilingkarkan pada pundak gadis itu makin mendekap agaknya sayang untuk melepaskannya.

“In-kong (tuan penolong), terima kasih atas pertolonganmu... tidak tahu aku bagaimana harus membalas budimu yang besar....” gadis itu berkata.

“Tak usah dibalas kalau begitu,” jawab pemuda bertopeng itu tersenyum, “cukup kalau nona memberitahukan siapa nama nona......”

“Aku Lu Bwe Hwa….”

“Puteri pangeran Lu?” Pemuda bertopeng itu lalu melepaskan lingkaran lengan kanannya yang memegang pedang, melangkah mundur lalu berkata: “Aku girang sekali telah dapat menolong seorang gadis jelita seperti kau, nona. Nah, selamat tinggal....!”

“In-kong, beritahukan dulu namamu, kau siapakah...?”

Pemuda itu tersenyum, tanpa menjawab lalu melemparkan sesuatu ke arah kaki Bwe Hwa. Gadis itu melihat sebatang piauw bunga emas di dekat kakinya dan segera memungutnya.

“Tangkap penjahat!” terdengar seruan keras dan muncullah Hek-liong-pian Thio Cin Gan, pengawal pribadi Lu-ongya yang segera menyerbu dengan ruyung hitam di tangannya. Di belakangnya ikut pula menyerbu lima orang penjaga istana itu.

Pemuda bertopeng itu mengeluarkan suara ketawa aneh lalu melompat pergi, keluar dari taman itu dan melompat ke atas genteng dengan gerakan cepat sekali.

“Bangsat rendah jangan lari!” Hek-liong-pian Thio Cin Gan membentak sambil mengejar dengan kecepatan yang sama sehingga di atas genteng terpaksa pemuda bertopeng itu membalikkan tubuh dan menghadapi serangan Thio Cin Gan yang telah memutar ruyung hitamnya. Pedang bertemu dengan ruyung hitam dan bunga api berpijar menyilaukan mata.

”Kau keliru, sahabat. Aku bukan penjahat. Penjahatnya sudah lari!” kata pemuda itu sambil menahan serangan Thio Cin Gan dengan pedangnya.

“Kalau kau bukan penjahat, siapakah? Buka topengmu dan buktikan bahwa kau orang baik-baik!” bentak Hek-liong-pian Thio Cin Gan.

“Aku siapa bukan urusanmu dan kau tak perlu tahu!”

Jawaban ini membikin marah pengawal pangeran Lu yang segera menubruk maju sambil menghantamkan ruyungnya ke arah kepala lawan sedangkan tangan kirinya dengan gerakan kuku harimau, menyambar ke arah muka untuk merenggut topeng.

Akan tetapi yang diserangnya tidak melawan, hanya mengelak cepat dan di lain saat, setelah mengenjotkan kedua kakinya, orang aneh itu telah melesat pergi dari situ. Hek-liong-pian Thio Cin Gan marah sekali. Cepat ia mengejar sambil berseru: “Penjahat palsu, jangan lari!”

Akan tetapi, ternyata gerakan orang bertopeng itu cepat bukan main sehingga Cin Gan tertinggal. Pengawal pangeran ini mengeluarkan sesuatu dan menyambit. Dua sinar hitam meluncur ke arah punggung orang bertopeng itu yang menengok sebentar dan mengelak sambil mengejek:

“Ha-ha-ha, ternyata banyak orang pandai mempergunakan piauw di kota ini!” Di lain saat si kedok hitam itu lenyap ditelan malam gelap.

Sementara itu, di lain bagian dari kota Liu-leng juga terjadi hal yang amat rame, yaitu di rumah tikoan yang baru. Seperti telah dituturkan di bagian depan, lima orang penjahat berkedok hitam berlompatan di atas genteng menuju ke rumah Lie-tikoan. Mereka inilah pengganggu-pengganggu kota Liu-leng yang agaknya malam hari itu hendak turun tangan jahat kepada tikoan baru yang tidak memperdulikan ancaman-ancaman mereka.

Dari gerakan-akan mereka yang amat gesit itu dapat diketahui bahwa mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Karena pakaian mereka hitam dan kedok mereka menyembunyikan seluruh muka, sukar sekali untuk mengenal siapa mereka ini dan mereka hanya dapat dibedakan satu dengan yang lain karena senjata mereka yang berbeda-beda.

Akan tetapi kedatangan mereka ini mendapat sambutan hangat. Rumah Lie-tikoan memang terjaga siang-malam dan selain para pengawal yang memiliki kepandaian tinggi, di situ juga kalau malam Sin-chio Tan Hay dan Hok Ti Hwesio melakukan penjagaan, bahkan bermalam di situ.

Betapapun lihay lima orang penjahat itu, karena rumah gedung Lie-tikoan terjaga rapat, kedatangan mereka dapat diketahui dan sebentar saja lima orang penjahat itu disambut oleh senjata para penjaga.

Hok Ti Hwesio memutar tongkatnya dan memaki: “Penjahat-penjahat nekad, kalian datang menyerahkan nyawa! Bagus, kepung jangan sampai mereka lolos!”

Sin-chio Tan Hay menggerakkan tombaknya dan menyambut dengan serangan hebat pula, dan selain dua orang gagah ini, masih ada belasan orang kawan Tan Hay yang bantu mengeroyok. Sebentar saja ramailah di atas genteng rumah Lie-tikoan. Pertempuran sengit terjadi di mana lima orang penjahat itu dikepung dan setiap orang penjahat menghadapi dua atau tiga orang lawan.

Namun harus diakui bahwa kepandaian mereka tinggi dan lihay. Yang seimbang dalam pertempuran itu hanya Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hay dibantu oleh dua orang penjaga. Tiga rombongan yang lain merupakan pertempuran berat sebelah di mana para penjahat itu biarpun dikeroyok, dapat mendesak para pcngeroyoknya.

Agaknya para penjahat itu sudah mengatur siasat sebelumnya. Dua orang penjahat yang menghadapi Hok Ti Hwesio dan Tan Hay, terutama yang menghadapi hwesio itu, adalah penjahat-penjahat yang kepandaiannya paling tinggi di antara lima orang itu. Namun menghadapi Hok Ti Hwesio, penjahat itu masih kurang lihay dan makin lama tongkat hwesio itu makin mendesaknya.

“Menyerah atau terima binasa!” berkali-kali Hok Ti Hwesio membentak dan dijawab dcngan makian dan ketawa ejekan oleh lawannya yang membela diri mati-matian dengan sepasang pedang.

Adapun penjahat yang melawan Tan Hay mainkan ruyung dengan cara yang amat ganas dan kuat sehingga dia ini merupakan tandingan setimpal dari Tan Hay Si tombak sakti. berkali-kali ruyung dan tombak bertemu mengeluarkan suara nyaring dan menerbitkan bunga api berpijar dan keduanya merasa telapak tangan mereka panas.

Baik pembantu Hok Ti Hwesio maupun pembantu Tan Hay, tidak berdaya banyak hanya membantu dengan ancaman senjata atau kadang-kadang serangan tak berarti saja. Tempo pertempuran amat cepatnya, bagaimana penjaga-penjaga itu dapat mengikuti dan menyesuaikan diri?

Yang celaka adalah para penjaga yang mengeroyok di tiga rombongan yang lain. Mereka ini terdesak hebat dan sudah ada lima orang penjaga roboh terluka oleh senjata para penjahat itu. Biarpun yang roboh segera diganti oleh penjaga lain, namun tetap saja keadaan para penjaga terdesak dan terancam.

Di dalam gedung juga menjadi ribut. Lie-tikoan telah diberitahu dan pembesar ini segera memerintahkan semua penjaga untuk mengeroyok.

“Lawan terus, jangan sampai mereka melarikan diri!” bentak pembesar ini. “Sayang sekali aku sendiri tidak bisa ilmu silat,” katanya gemas. “Penjaga, lekas kau panggil Kwan-kauwsu supaya ia membantu kita!”

Adapun nyonya Lie yang juga terbangun dan menjadi ketakutan, mengejar suaminya di luar kamar, dengan tubuh menggigil memegangi lengan suaminya dan berkata: “Mana Liong-ji....? Ah... suruh dia ke sini... berkumpul di sini....” Memang dalam setiap bahaya, seorang ibu pertama-tamateringat kepada anaknya.

Sikap panik dari isterinya menambah kejengkelan Lie-tikoan. ”Kau ini ribut-ribut saja! Kian Liong sudah besar, bukan bayi!”

Isterinya lalu pergi berkumpul dengan para pelayan wanita yang berkelompok dan menggigil ketakutan, mendengarkan suara pertempuran yang hiruk-pikuk di atas genteng.

Pertempuran di atas genteng makin ramai dan kini terjadi perubahan hebat sekali. Dua orang penjahat yang menghadapi Hok Ti Hwesio dan Sin-chio Tan Hay telah terluka, biarpun hanya luka ringan namun cukup membuat mereka tidak berbahaya lagi. Keadaan yang amat buruk bagi para penjahat ini menambah semangat para penjaga dan mereka mendesak makin hebat.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat bukan main dan begitu tangan dari bayangan ini bergerak, beberapa batang piauw menyambar dan robohlah empat orang penjaga! Kemudian bayangan yang baru datang ini, yang ternyata adalah seorang penjahat berkedok pula, menerjang dengan toyanya, mengamuk bagaikan seekor naga siluman. Beberapa orang penjaga roboh pula karena kemplangan toyanya yang benar-benar luar biasa lihaynya.

Melihat ini, Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hay terkejut sekali. Bukan main lihaynya penjahat yang baru tiba ini. Serentak Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hay menerjang maju menghadang penjahat lihay ini. Pertempuran hebat terjadi. Biarpun dikeroyok dua, tetap saja penjahat ini masih dapat melayani dengan baik serta kadang-kadang tangannya meluncurkan piauw² yang selalu merobohkan seorang dua orang korban.

Keadaan berubah. Para penjahat timbul kembali semangatnya melihat datangnya pemimpin mereka yang lihay itu dan mereka mengamuk lagi. “Terobos kepungan, cari dan bunuh tikoan keparat!” bentak pemimpin penjahat yang baru tiba itu sambil memutar toyanya sedemikian cepatnya sehingga Hok Ti Hwesio dan Tan Hay terpaksa melompat mundur.

Namun ketika penjahat ini melompat turun untuk mencari dan menyerang Lie-tikoan, Hok Ti Hwesio dan Tan Hay juga lompat mengejar dan menyerangnya sehingga kembali terjadi pertempuran hebat sekali. Setelah berada di atas tanah, barulah tiga orang ini dapat mengeluarkan kepandaian sepenuhnya dan pertempuran terjadi amat sengitnya.

Selanjutnya,
PISAU TERBANG BUNGA EMAS JILID 04