|
| Karya Kho Ping Hoo |
Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 02 - Akhirnya ia ditemukan oleh seorang pelayan yang bantu mencari, yakni sedang meringkuk dengan tubuh menggigil di dalam dapur! Karena ia amat ketakutan dan gugup, ia bersembunyi di dapur, menyelinap di antara perabot-perabot dapur yang penuh hangus sehingga tangan, muka, dan pakaiannya penuh dengan hangus hitam!
Ketika ia muncul seperti itu, para pelayan menahan ketawa mereka. Bahkan Lie-tikoan dan isterinya yang merasa mendongkol, hampir tak dapat menahan ketawanya melihat Kian Liong muncul seperti badut. “Ayah, sudah... sudah tertangkapkah... dia?”
Saking mendongkolnya, Lie-tikoan hanya dapat membanting kaki, lalu mendamprat: "Bocah goblok dan penakut, lekas kau mencuci muka, berganti pakaian dan mari ikut aku pergi ke gedung Lu-ongya!”
Muka yang penuh hangus itu seketika menjadi berseri-seri mendengar ini dan sambil berloncat-loncatan ia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mencuci muka.
“Aduh, bagus benar gedung ong-ya, besar dan mewah sekali!” demikian teriakan kagum dari Kian Liong ketika ia dan ayahnya tiba di depan gedung pangeran Lu Siang Tek.
”Hush, jangan bersikap seperti orang dusun, Liong-ji. Apakah kau tak pernah melihat gedung bagus? Di kotaraja banyak!” ayahnya menegurnya.
Memang tadinya Lie-tikoan tidak mempunyai pikiran untuk mengajak puteranya, akan tetapi karena ia hendak mengajar kepada anak muda ini agar dapat bersopan-santun dan tidak canggung, maka ia pikir sudah tiba saatnya bagi Kian Liong untuk bertemu dengan orang-orang besar dan ikut memikirkan urusan penting.
Lie-tikoan dan Kian Liong disambut oleh seorang pelayan, kemudian diantar masuk ke dalam ruang tamu. Gedung Lu-ongya memang besar dan bagus. Ruangan tamu itu luas dan penuh dengan hiasan dinding berupa lukisan² dan tulisan² bersajak yang amat indah. Tak lama kemudian setelah pelayan itu meninggalkan mereka di ruang tamu, masuklah Lu-ongya yang gemuk tinggi sambil tersenyum ramah.
“Liong ji, sini!” bentak Lie-tikoan ketika melihat puteranya tengah melihat-lihat gambar dan membaca syair² yang tergantung di dinding ruangan itu. Kian Liong kaget dan cepat-cepat ia menghampiri ayahnya dan melihat Pangeran Lu, ia cepat menjura dan memberi hormat seperti yang dilakukan ayahnya.
“Lie-tikoan, bagus sekali kau datang. Memang aku bermaksud menyuruh orang mengundangmu. Siapa orang muda ini?”
”Dia adalah anak saya yang bodoh, harap Ong-ya maafkan apabila sikapnya kurang sopan.”
Pangeran itu tersenyum. “Ah, sungguh kau beruntung sekali mempunyai seorang putera yang begini tampan dan agaknya mengerti tentang seni dan sastera.”“Ongya terlalu memuji. Anak saya Kian Liong ini bodoh sekali dan tidak mengerti apa-apa biarpun pernah bersekolah sampai lama di kotaraja.”
“Ha-ha-ha, kau sungguh sungkan dan terlalu merendahkan diri. Siapa tidak tahu akan nama tikoan Lie Kim Hong yang bijaksana dan pandai? Silahkan duduk, silahkan duduk.”
Lie Kim Hong dan puteranya lalu berjalan menghampiri kursi yang sudah tersedia di tengah ruangan itu.
”Eh, Lie-tikoan, mengapa puteramu ini jalannya pincang? Sakitkah kakinya?” Sebagai seorang yang kedudukannya lebih tinggi Lu Siang Tek tidak sungkan-sungkan untuk menanyakan hal ini secara langsung.
“Ong-ya, dahulu ketika masih kecil, hamba pernah diserang dan digigit oleh seekor ular pada kaki hamba. Ular itu berbisa dan biarpun hamba dapat sembuh, kaki hamba tetap menjadi pincang.” jawab Kian Liong yang menyenangkan hati ayahnya karena kali ini puteranya bicara dan bersikap cukup memuaskan.
“Betul demikian, Ong-ya. Dahulu saya dan ibu anak ini sudah putus asa melihat dia menggeletak dengan seluruh tubuh menjadi hitam akibat gigitan ular berbisa itu. Semua tabib di kotaraja yang saya panggil tidak sanggup lagi mengobatinya. Baiknya Thian menolong kami. Entah dari mana datangnya, seorang kakek yang berpakaian seperti pengemis dan yang kebetulan minta sedekah di rumah kami, mendengar tentang keadan Liong-ji dan tanpa diminta pengemis tua itu masuk dan mengobati Liong ji. Anehnya, sekali saja merawat dan memberi obat, Liong-ji sembuh dan kakek itu terus saja pergi tanpa pamit lagi.”
Lu-ongya mengangguk-angguk, tertarik sekali oleh cerita ini. “Hm, dia tentu seorang kangouw yang pandai. Mengapa tidak kau cari dia itu?” tanyanya.
“Sudah saya suruh banyak orang mencarinya, namun sia-sia. Dia telah pergi dari kotaraja. Liong-ji dapat sembuh, akan tetapi kakinya menjadi pincang.”
Kembali pangeran itu mengangguk-angguk dan memandang kepada Kian Liong dengan rasa iba. “Anak muda, kalau kau suka membaca sajak-sajak dan melihat lukisan-lukisan itu, kau pergi dan lihatlah sepuasmu. Di ruangan tengah dan belakang juga masih banyak lukisan yang baik-baik, kau boleh lihat-lihat. Ayahmu dan aku hendak merundingkan sesuatu yang penting.” kata pangeran Lu Siang Tek.
Girang sekali nampaknya pemuda ini. Ia cepat berdiri dan menjura kepada pangeran itu sambil mengucapkan terima kasihnya, kemudian ia meninggalkan dua orang tua itu, pergi melanjutkan pekerjaannya yang tadi, yakni meneliti, membaca dan menikmati lukisan² dan sajak² itu. Sebuah lukisan keindahan alam yang diwakili oleh burung, awan, pohon, daun dan bunga amat menarik perhatiannya. Apalagi bunyi sajak yang tertulis di atas lukisan itu. Saking tertariknya, tak terasa pula Kian Liong membacanya keras-keras:
Burung kuning terbang bebas di udara, Awan putih berarak riang di angkasa, Di bawah langit biru angin bersuka ria,
Bermain dengan daun hijau dan bunga merah. Sayang! Aku hanya dapat melukis mereka, Alangkah akan bahagianya Kalau dapat menjadi satu dengan mereka!
”Kian Liong! Jangan keras-keras kau baca sajak itu!” ayahnya menegurnya sambil memutar tubuh di atas kursinya.
Terdengar Lu-ongya tertawa kecil. Baru Kian Liong sadar bahwa tadi ia telah mcmbaca sajak itu terlalu keras. Dengan tersipu-sipu pemuda ini lalu berjalan menjauhi tempat itu untuk melihatlihat lukisan dan tulisan di ruangan dalam.
Sementara itu, Lie-tikoan lalu menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di rumahnya, yakni pengiriman surat ancaman dari penjahat dan memperlihatkan surat itu kepada Pangeran Lu Siang Tek. “Ong-ya, sudah jelas bahwa penjahat itu amat lihay ilmu silatnya sehingga ia berhasil menyerbu dan mengirim surat ini biarpun di rumah saya terdapat banyak penjaga. Oleh karena itu, saya harap pertolongan Ong-ya agar supaya diberi perkenan mendatangkan pembantu-pembantu yang berkepandaian tinggi dari kotaraja, hanya dengan pcmbantu-pembantu yang tinggi ilmunya saja kiranya kita akan dapat membekuk batang leher penjahat yang lihay itu.”
Lu Siang Tek mengangguk-angguk. “Memang dia lihay sekali. Entah dari mana munculnya penjahat itu, tahu-tahu ia menggemparkan kota ini dengan perbuatan-perbuatannya yang amat jahat. Semua penduduk merasa gelisah oleh gangguannya, dan menurut perkiraanku, penjahat itu tentu mempunyai banyak kaki tangan. Anehnya, penjahat itu selalu bekerja dengan cara bersembunyi sehingga jarang sekali orang dapat melihat mukanya. Dan pernah terjadi beberapa kali ia dikeroyok dan terlihat orang, ia selalu menyembunyikan mukanya di belakang kedok. Kota Liu-leng sudah digeledah sampai di pojok-pojok untuk mencari sarang penjahat itu, namun sia-sia. Setiap kali penjahat itu diintai dan dikeroyok, ia selalu dapat membebaskan diri, bahkan seringkali merobohkan dan menewaskan beberapa orang pengeroyoknya.”
“Apakah sampai sekarang belum ada yang dapat melihat wajahnya, atau setidaknya menaksir berapa usianya dan apakah dia mempunyai tanda-tanda atau cacad-cacat yang kiranya mudah diingat?” tanya Lie-tikoan.
Pangeran Lu Siang Tek menggeleng kepalanya. ”Sukar sekali. Menurut keterangan bekas tikoan Song Tek, penjahat itu sukar dikenal dengan kedoknya yang menyeramkan itu, sukar pula ditaksir usianya. Juga perawakannya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Pendeknya, untuk menangkapnya, harus dilakukan secara serentak pada waktu ia melakukan kejahatannya atau pendeknya harus dapat menangkap basah. Bekas Song-tikoan tidak punya guna, menangkap seorang penjahat saja tidak becus! Oleh karena itu, aku mengatur penggantian tikoan di kota ini dan aku percaya dengan penuh keyakinan bahwa Lie-tikoan tentu akan dapat membekuk batang leher penjahat itu!”
Lie-tikoan menarik napas panjang dan ia tahu bahwa di balik kata-kata yang manis dan memujinya ini terdapat ancaman bahwa kalau ia tidak dapat menangkap penjahat itu, tentu iapun akan mengalami nasib seperti Song Tek, dipecat dan mendapat nama busuk.
“Saya akan berusaha sekuat tenaga, Ongya. Tentu saja dalam hal ini mengharapkan bantuan semua penduduk, dan terutama sekali mohon bantuan dari Ongya sendiri.”
“Tentu saja. Siapa orangnya yang tidak ingin melihat penjahat itu mampus? Kami sendiri pernah diganggu oleh penjahat kurang ajar itu. Benar-benar tak takut mampus! Rumahku terjaga kuat sekali, bahkan pengawal pribadiku Hek-liong-pian Thio Cin Gan tak pernah meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah samping. Namun penjahat itu berani menyerbu ke sini. Ia dikepung oleh Thio kauwsu dan tujuh orang penjaga yang pandai ilmu silat. Pertempuran hebat terjadi di atas genteng rumah ini pada tengah malam itu. Namun, ternyata Thio-kauwsu sendiripun tidak sanggup mengalahkan dan menangkapnya sehingga penjahat itu dapat kabur, meninggalkan dua orang penjaga yang ia robohkan dengan piauw.”
Pangeran itu menghela napas dan wajahnya muram, agaknya ia masih gelisah kalau mengingat akan serbuan itu. Lie-tikoan diam-diam maklum bahwa penjahat itu menyerbu tentu hendak mengganggu puteri pangeran ini, karena ia sudah mendengar bahwa penjahat itu mempunyai sifat² cabul dan bahwa puteri pangeran ini amat cantiknya.
Akan tetapi tentu saja Lie-tikoan tidak berani menyatakan soal ini. Juga Lie-tikoan maklum bahwa sekarang rumah pangeran ini tentu dijaga makin kuat karena tadi ketika masuk, iapun dapat menduga bahwa pelayan yang menyambutuya, dan pelayan² lain yang berada di depan rumah, nampak mempunyai tubuh yang kokoh kuat, tidak patut menjadi pelayan, patutnya menjadi penjaga-penjaga yang kuat.
Sementara itu, selagi dua orang itu sedang bercakap-cakap dengan serius tentang penjahat lihay yang mereka hadapi, Lie Kian Liong ternyata sudah ngeluyur pergi sejak tadi! Rupa-rupanya pemuda yang di depan Lu-ongya nampak tertarik akan seni dan sastera itu, kini telah bosan memandangi gambar dan membaca sajak-sajak yang sebagian besar tak dimengertinya.
Dan diam-diam ia ngeluyur ke belakang, berjalan-jalan di taman bunga Lu-ongya yang amat luas dan indah penuh dengan bunga-bunga beraneka macam dan warna. Kebetulan sekali dari ruangan tengah itu terdapat sebuah pintu kecil yang ternyata menuju ke taman bunga.
Taman bunga itu sungguh indah dan amat luasnya. Apalagi waktu itu musim bunga telah tiba sehingga hampir semua tanaman di taman itu berbunga. Di sana-sini bunga beraneka warna berseri merupakan pemandangan yang indah menawan hati, ditambah pula keharuman bunga semerbak menyedapkan.
Sambil tersenyum-senyum senang Kian Liong melanjutkan tindakan kakinya, berjalan-jalan di taman bunga, menengok ke kanan-kiri menikmati pemandangan indah itu, hidungnya kembang-kempis tiada bosannya menyedot bau-bauan yang amat harum dan sedap. Ia merasa begitu bebas dan gembira se-akan-akan ia sedang berjalan-jalan di taman bunganya sendiri!
Ketika pemuda ini terpincang-pincang menikmati taman bunga orang dengan hati gembira sekali, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Suara merdu yang diiringi ketawa lirih namun cukup mendebarkan hatinya karena hanya bangsa bidadari saja yang memiliki suara dan ketawa semerdu itu, demikian pikir Kian Liong yang cepat mengarahkan tindakan kakinya ke suara itu.
Ia tiba di tengah taman bunga di mana tumbuh bebeberapa batang pohon yang melindungi sebuah kolam ikan yang cukup besar. Di bawah batang-batang pohon itu tumbuh pula bunga-bunga yang daunnya lebar-lebar menghijau, menghalangi pemandangan mata orang di luar tempat itu. Setelah tiba dekat barulah Kian Liong dapat melihat dua orang wanita yang duduk dan mengobrol di dekat kolam sambil memandangi ikan-ikan yang sedang berenang ke sana-kemari dengan gerakan tubuh seperti penari² yang pandai.
”Aduh, nona. Syairmu bukan main bagusnya dan kau mengucapkannya seperti seorang bidadari bersajak, bukan main!” terdengar suara seorang wanita sambil bertepuk tangan.
“Siauw Hong, bagaimana kau tahu kalau syairku bagus? Engkau kan tidak mengerti tentang syair?” terdengar jawaban suara wanita yang suara dan ketawanya seperti suara bidadari menurut pendengaran Kian Liong tadi.
“Memang siocia benar, orang macam saya ini mana mengerti tentang syair? Akan tetapi, saya yang bodoh ini hanya mengandalkan mata, telinga, hidung dan mulut untuk menyatakan apakah sesuatu itu baik ataukah jelek, siocia.”
“Bagaimana maksudmu?” terdengar pertanyaan mengandung kegelian hati.
”Kalau saya menghadapi sesuatu untuk menetapkan apakah sesuatu itu enak ataukah tidak enak, saya mengandalkan kepada mulut. Kalau mulut doyan, berarti enak, kalau tidak, ya tidak enak. Untuk menetapkan harum atau berbau busuk, saya mengandalkan hidung, dan untuk menetapkan mana yang bagus dan mana buruk, saya mengandalkan mata. Akan tetapi syair yang siocia baca tadi harus didengar, maka saya mengandalkan penilaiannya kepada telinga. Bunyinya begitu merdu, kata-katanya begitu indah, pengucapannya begitu merdu, didengarnya sedap pada telinga, tentu saja syair itu bagus!”
Terdengar suara ketawa dan kembali Kian Liong berbisik di dalam hatinya: “Hanya bidadari yang tertawa seperti itu merdunya!”
“Siauw Hong, kalau begitu kau menilai sesuatu dari kulitnya saja! Tahukah kau bahwa belum tentu sesuatu yang indah dilihat itu baik, sesuatu yang harum baunya itu baik, dan sesuatu yang sedap didengar itu baik pula. Ada yang kelihatan tidak baik akan tetapi sebetulnya isinya jauh lebih baik daripada yang kelihatan indah.”
“Ah, saya tidak mengerti, siocia. Tentu segala apa yang siocia katakan itu benar belaka, karena siocia adalah seorang terpelajar dan pintar. Akan tetapi, kalau hamba sudah memilih yang baik menurut pendengaran, penglihatan, penciuman dan perasaaan namun tetap saja salah pilih, ya sudahlah. Itu nasib sial namanya!”
Kembali dua orang gadis itu tertawa dan menurut pendengaran Kian Liong, suara ketawa gadis pelayan yang bernama Siauw Hong itu amat tidak enak didengar, seperti burung hantu menggoak! Tentu saja tidak demikian pendapatnya kalau saja Siauw Hong tidak tertawa pada saat yang sama dengan nonanya yang memiliki suara ketawa semerdu ketawa bidadari menurut telinga Kian Liong!
Halaman 32 hilang
Siauw Hong menjawab lincah dan cerdik. “Cuma sayangnya, saya mendengar dari Thio-kauwsu bahwa putera tikoan yang baru ini, biarpun tampan sekali namun bodoh seperti kerbau dan kakinya pincang!”
Setelah berkata demikian, Siauw Hong tertawa cekikikan, tidak tahu sama sekali bahwa kata-katanya ini membuat Kian Liong yang bersembunyi menjadi merah mukanya dan matanya melotot marah! Adapun Bwe Hoa yang berhati lembut segera menegur pelayannya.
“Siauw Hong, tak baik mentertawakan orang lain karena keburukannya. Setiap manusia tentu memiliki cacad masing-masing. Eh, kau agaknya mendengar tentang segala macam hal dari Thio-kauwsu!” Setelah berkata demikian, Bwe Hoa memandangtajam dan Siauw Hong menjadi merah mukanya.
“Ah, siocia menggoda. Siapa sih yang main-main dengan Thio-kauwsu?”
“Eh, eh, Siauw Hong, Siapa pernah bilang kau main-main dengan Thio-kauwsu? Tanpa dituduh kau menyangkal. Sangkalan macam itu berarti pengakuan!”
“Ah, siocia.....!”
Demikianlah, dua orang gadis itu bercakap-cakap sambil berkelakar. Kemudian mereka mengeluarkan makanan ikan dan Bwe Hoa melempar-lemparkan makanan itu ke dalam kolam. Puluhan ekor ikan yang indah-indah warnanya datang menyerbu makanan itu.
“Siauw Hong lihatlah, si merah itu gembul dan lahap benar, bukan main cepatnya ia makan!” teriak Bwe Hoa gembira sambil menudingkan telunjuknya yang runcing ke air.
“Tapi dia tidak jahat, siocia. Tidak seperti yang belang itu, lihat siocia, biarpun kecil dia galak dan gesit, berani menyerang dan merampas makanan dari depan mulut ikan besar!”
Memang amat menyenangkan memandang ikan-ikan yang berebut makanan itu. Ikan-ikan itu jinak dan kini setelah berkumpul nampaklah warna sisik mereka yang beraneka warna. Air berombak kecil dan kadang-kadang nampak sekilat warna merah atau biru atau kuning dari sisik ikan yang menerjang naik ke permukaan air.
Lu-siocia dan Siauw Hong duduk di pinggir kolam itu. Karena mereka menjenguk ke dalam air maka rambut dari Lu-siocia terurai ke depan. Gadis ini lalu membetulkan letak rambutnya yang panjang dan hitam halus itu sambil bercermin ke dalam air. Tiba-tiba ia nampak terkejut sekali.
”Hai, Siauw Hong! Ikan apa itu yang besar dan bulat? Tuh, di situ. Ikan apa itu begitu aneh? Aku baru kali ini melihatnya!” Bwe Hoa menuding ke air diikuti oleh pandang mata Siauw Hong.
Pelayan ini memandang penuh perhatian dan iapun terkejut dan heran. Karena air bergerak oleh ikan-ikan yang berebut makanan, maka penglihatan menjadi kurang jelas. Bcnar-benar ikan aneh sekali yang ditunjuk oleh nonanya itu. Ikan yang bentuknya, bulat seperti seekor katak yang besar sekali.
“Ikan ajaib...! ikan.... si.... siluman...!” Siauw Hong berbisik dan tubuhnya mulai menggigil.
Dua orang gadis itu sama sekali tidak mengira bahwa yang mereka sangka ikan itu sebetulnya adalah bayang-bayang kepala Kian Liong yang kini sudah berlutut di belakang Bwe Hoa! Hampir meledak perut pemuda itu menahan tertawa karena bayang-bayang kepalanya disangka ikan ajaib atau ikan siluman. Dia sengaja lalu meleletkan lidahnya, pelotot-pelototkan matanya dan perat-perotkan mulutnya, lalu kepalanya itu di-geleng² ke kanan-kiri!.Dua orang gadis itu makin terkejut dan agak takut, cepat-cepat menjauhkan diri dari kolam.
”Panggil penjaga...!” kata Bwe Hoa.
Akan tetapi Siauw Hong yang memandang ke dalam air dengan mata dipelototkan untuk dapat melihat lebih jelas, mulai curiga dan cepat menengok ke belakang dan.... “Astaga naga....! A.... ada orang, siocia!” teriaknya kaget setengah mati sehingga ia perlu menekankan tangan kanannya pada dada kiri untuk menjaga jantungnya copot.
Bwe Hoa cepat berdiri dan memutar tubuh. Ternyata di depannya berdiri seorang pemuda tampan yang tersenyum-senyum, pemuda yang berpakaian seperti seorang sasterawan.
“Ah, tidak tahunya ikan darat berkaki dua. Hati², siocia, ikan macam ini jauh lebih berbahaya daripada ikan di air!” kata Siauw Hong yang timbul sifat genitnya melihat seorang pemuda tampan.
“Jangan percaya, siocia. Siauw Hong tukang bohong. Aku sama sekali tidak berbahaya.” kata Kian Liong sambil tersenyum dan menjura dengan hormatnya.
“.....siapakah kau ini yang begini kurang ajar? Bagaimana kau berani mati memasuki taman bungaku?!” akhirnya Bwe Hoa dapat juga menegur dengan sepasang alis bersambung.
”Harap siocia maafkan aku yang karena tertarik oleh segala keindahan di taman ini telah tersasar masuk ke dalam tempat tinggal bidadari.....”
“Ngaco! Kau menyebut nonaku siocia akan tetapi bilang di sini tempat tinggal bidadari. Omonganmu tak karuan. Nonaku adalah puteri Lu-ongya, bukan bidadari, dan kau jangan main-main kalau kau masih sayang nyawamu!” Siauw Hong membentak.
”Tentu, tentu... aku masih sayang nyawaku... Ah, kiranya Lu-siocia. Pantas... pantas, mana ada bidadari secantik ini?”
“Kurang ajar kau!” Bwe Hoa membentak, akan tetapi mukanya menjadi merah dan diam-diam hatinya girang, karena siapakah orangnya tidak senang mendengar bahwa dia lebih cantik daripada bidadari? “Siauw Hong, kau tanyai dia, kalau kurang ajar, usir dia pergi atau panggil penjaga supaya dia diseret pergi dan diberi hajaran!”
Siauw Hong melangkah maju, menatap wajah yang tampan itu, kepalanya agak dimiringkan ke kiri dengan lagak genit. ”Kau ini ikan kaki dua hayo mengaku siapa namamu dan apa maksudmu masuk ke taman bunga ini? Mengaku yang betul dan jangan kurang ajar terhadap siocia!”
Baru sekarang Kian Liong menatap wajah pelayan ini dan mendapat kenyataan bahwa Siauw Hong adalah seorang gadis yang cantik juga. "Aku Lie Kian Liong, masih perjaka, putera dari Lie-tikoan yang pada saat ini tengah bercakap-cakap dengan Lu-ongya. Karena tidak tahan dan bosan mendengarkan percakapan orang tua-tua itu, aku berjalan-jalan ke sini dan tak sengaja berjumpa dengan Lu-siocia.”
Mendengar nama ini, Bwe Hoa melirik dan Siauw Hong lalu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya. ”Ah, jadi kaukah putera tikoan yang baru?”
Siauw Hong mengerutkan kening dan pandangannya melayang ke arah kaki pemuda itu, kemudian dengan pandangan cerdik ia berkata: “Lie-kongcu, tolong kau.... petikkan kembang putih itu, terlalu tinggi untuk aku atau untuk siocia….!”
Bwe Hoa mengerutkan alisnya tak senang, Kian Liong mengerutkan kening terheran. Akan tetapi pemuda ini lalu tersenyum dan lenyaplah kerut pada keningnya, lalu ia berjalan terpincang-pincang ke arah pohon kembang itu. Sebelum tangannya yang terulur memetik kembang yang diminta oleh Siauw Hong itu, tiba-tiba Siauw Hong berkata lagi:
”Sudahlah, Lie-kongcu, Tidak jadi saja!”
Mendengar betapa ucapan Siauw Hong ini disusul suara ketawa geli, Kian Liong cepat memutar tubuhnya. Ia melihat Siauw Hong tertawa menutupi mulut dengan ujung lengan baju, bahkan Bwe Hoa juga mencoba untuk menyembunyikan senyumnya.
"Siocia, tidak betulkah kata Thio-kauwsu?” kata Siauw Hong kepada Bwe Hoa.
Kian Liong terpincang-pincang menghampiri Siauw Hong. “Mengapa kau mempermainkan aku? Kau menyuruh ambil kembang lalu membatalkannya, apa sih maksudmu?”
Sambil menahan ketawa, Siauw Hong berkata: “Aku hanya ingin melihat bagaimana cara kau berjalan.”
Kian Liong menggigit bibir dengan gemas. ”Kau tidak patut bernama Siauw Hong, lebih baik diganti saja dengan Siauw Mo-li (Iblis wanita kecil)! Aku tidak mau bicara lagi dengan kau!” Lalu pemuda ini menghadapi Bwe Hoa dan berkata: “Lu-siocia, maafkan aku, Lie Kian Liong, kalau aku mengganggu siocia. Setelah aku masuk ke sini dan berjumpa dengan siocia, baik kita sekalian berkenalan. Aku berusia duapuluh tahun, belum menikah dan......”
“Cukup! Siapa perduli akan semua itu? Lekas kau pergi dari sini!” Bwe Hoa membentak dengan muka merah.
Akan tetapi dalam pandangan Kian Liong, gadis yang marah itu menjadi makin cantik menarik, maka ia memandang bengong. “Nona, karena kau puteri Lu-ongya, tentu saja aku tahu nama keturunanmu. Kau she Lu, bukan? Akan tetapi siapa namamu?”
“Eh, eh, kau benar-benar kurang ajar. Lie-kongcu, harap kau suka keluar dari sini. Kalau Lu-ongya tahu akan kekurang-ajaranmu, kau tentu akan dipukul!”
“Kau ikut-ikutan lagi! Aku dan nonamu sudah menjadi kenalan. Sudah selayaknya kenalan mengetahui nama masing-masing. Aku sudah memberitahu namaku, akan tetapi Lu-siocia belum memberitahukan namanya....”
Siauw Hong hendak marah, akan tetapi Bwe Hoa yang mengerti bahwa pemuda itu bodoh dan tolol, mencegah pelayannya dan berkata: “Namaku Bwe Hoa. Nah, kau pergilah.”
“Bwe Hoa...? Lu Bwe Hoa... alangkah sedap didengarnya! Nona, tadi sudah kuberitahu bahwa aku berusia duapuluh tahun dan belum menikah. Berapakah usiamu? Dan aku sudah tahu bahwa nona belum menikah, akan tetapi, tidak tahu apakah sudah ada tunangan?”
Ini sudah melampaui batas namanya! Wajah Bwe Hoa menjadi merah sekali dan Siauw Hong mencak² marah. ”Orang she Lie, kau benar-benar tidak tahu aturan dan kurang ajar sekali!” Siauw Hong menuding-nudingkan telunjuknya di depan hidung Kian Liong.
Tentu akan terjadi hal yang lebih hebat kalau saja Bwe Hoa tidak cepat-cepat memegang tangan Siauw Hong dan menyeret pelayan itu pergi meninggalkan taman bunga di mana Kian Liong masih berdiri sambil tersenyum² menyeringai. Kemudian, setelah Bwe Hoa dan pelayannya masuk ke dalam gedung, Kian Liong berjalan dengan wajah gembira, mulutnya kemak-kemik dan kadang-kadang tersenyum lebar.
Ketika ia tiba di ruangan tamu, ternyata ayahnya dan Lu-ongya telah selesai berunding dan atas persetujuan Lu-ongya, Lie-tikoan akan mendatangkan seorang hwesio pandai dari kotaraja untuk membantunya menangkap penjahat yang mengacau Liu-leng. Hwesio ini adalah Hok Ti Hwesio, pengurus kelenteng Thian-beng-tong di kotaraja. Hwesio ini adalah seorang ahli silat Hwasanpay yang berilmu tinggi dan dahulu ketika Lie-tikoan menjalankan tugasnya di kotaraja, Hok Ti Hwesio juga banyak membantunya.
Di lain fihak, Lie-tikoan merupakan penyumbang utama untuk kelenteng Thian-beng-tong itu. Lu-ongya menyetujuinya karena pangeran inipun kenal siapa adanya Hok Ti Hwesio yang sebenarnya masih susiok (paman guru) dari Hek-liong-pian Thio Cin Gan, pengawal pribadi pangeran Lu.
Melihat munculnya Kian Liong, Lie-tikoan lalu bermohon diri sambil mengucapkan terima kasih. Kian Liong juga ikut²an ayahnya, berpamit sambil menghaturkan terima kasih. Pangeran Lu mengantar mereka sampai di pintu depan dengan sikap yang ramah-tamah. Oleh karena kebetulan sekali Kian Liong dapat membawa diri di depan pangeran ini, maka ia mendatangkan kesan baik dalam hati pangeran Lu.
Dengan gembira Lie-tikoan lalu bercerita kepada puteranya dalam perjalanan pulang tentang hasil perundingan tadi. Ceritanya dilanjutkan setelah mereka tiba di rumah dan Lie-hujin ikut mendengarkan. Sebagai penutup, Lie-tikoan berkata:
“Lu-ongya agaknya suka kepada kita. Biar kita tunggu saat baik untuk mempererat tali persahabatan menjadi tali kekeluargaan.”
Di rumah gedung cat hijau yang berada di sebelah barat dari kota Lio-leng, Song Tek bekas tikoan yang dipecat, duduk di dalam ruang dalam dengan wajah muram. Ia duduk menghadapi meja di mana terdapat cawan araknya dan seguci besar arak wangi. Ternyata bekas pembesar yang sedang berduka ini menghibur diri dengan minum arak, dan dia kuat sekali minum.
Buktinya, seguci arak penuh tinggal setengahnya, namun ia tidak mabok. berkali² ia menarik napas panjang. Song Tek adalah seorang duda. Semenjak isterinya meninggal dunia limabelas tahun yang lalu, ia tak pernah mau menikah lagi dan tinggal membujang, kemudian melanjutkan pelajarannya dalam ilmu surat sampai ia lulus dalam ujian kotaraja dan menerima pangkat sebagai tikoan di Liu-leng itu. Dapat dibayangkan betapa kecewa, malu, dan dukanya karena baru saja setahun lebih menjadi pembesar sekarang sudah dihentikan.
Orang kedua yang duduk di sudut meja itu adalah seorang pemuda tampan yang wajahnya bersungguh-sungguh dan muram. Pemuda ini benar-benar tampan dengan kulit mukanya yang putih, sepasang matanya yang bersinar-sinar, alis mata yang hitam tebal berbentuk golok, hidung mancung dan mulut yang membayangkan kekerasan hati. Inilah Cung Hok Bi, pendekar muda anak murid Butongpay.
Dia adalah keponakan dari Song Tek, yakni putera tunggal dari adik perempuan bekas tikoan itu. Nasib pemuda ini gelap maka semenjak masih kecil telah ditinggal mati ayah-bundanya sehingga menjadi yatim piatu. Sampai dewasa ia berada di puncak Bu-tong-san mempelajari ilmu silat, kemudian setelah turun gunung, ia menumpang pada pamannya yang menjadi tikoan di Liu-leng. Akan tetapi kembali nasibnya buruk karena pamannya ternyata tidak lama menjadi tikoan dan telah dipecat.
“Kau tidak punya guna, Hok Bi. Percuma saja kau belajar silat sampai belasan tahun di Bu-tong-san kalau kau tidak mampu menangkap penjahat itu sehingga aku dipecat.”
Sudah berkali-kali paman yang berduka ini mengeluarkan ucapan penyesalan seperti ini dan akhirnya Hok Bi menjawab, suaranya bersungguh-sungguh. “Siok-hu (paman), aku hanya baru satu kali saja berkesempatan bertanding dengan penjahat itu dan setiap kali aku ikut menggerebek, ia selalu dapat melarikan diri. Sungguhpun harus aku akui bahwa penjahat itu ilmu silatnya tinggi sekali dan dalam kesempatan pertama itu aku tak dapat mengalahkannya, akan tetapi penyayalah, apabila aku mendapat kesempatan kedua, pasti akan kukerahkan seluruh kepandaian dan kalau perlu aku akan mengadu nyawa dengan dia!”
Song Tek menarik napas panjang, lalu menenggak cawan araknya dengan suara menggelogok. Ia menarik napas lagi sambil mengeluarkan suara: “Hehhh...!” Dipandangnya wajah keponakannya yang tampan.
“Hok Bi, kau tahu bahwa aku percaya kepadamu. Aku justru menyesalkan kesempatan yang satu kali itu. Kalau saja dahulu ketika kau bertanding dengan dia, kau dapat merobohkan dia, bukankah tidak akan muncul peristiwa yang menjengkelkan ini? Hok Bi, soal kehilangan kedudukan bukan yang paling penting, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah soal nama. Kau harus bantu membersihkan namaku atau mengembalikan mukaku. Kita tidak boleh tinggal diam dan kita harus berusaha mendahului Lie-tikoan untuk menangkap penjahat itu! Kalau sampai Lie-tikoan berhasil menangkap penjahatnya mendahului kita, bukankah aku akan mendapat malu besar dan dianggap tidak becus? Lie-tikoan telah mendatangkan Hok Ti Hwesio yang kudengar amat lihay ilmu silatnya.”
“Aku juga mendengar tentang itu, siokhu. Memang betul, Hok Ti Hwesio adalah seorang tokoh Hoasanpay yang tinggi ilmu silatnya. Kalau tidak salah, ia seorang ahli lweekeh dan senjata tongkatnya amat kuat. Akan tetapi, tetap saja aku sangsi apakah dia akan sanggup menangkap penjahat itu.”
“Mudah-mudahan saja jangan sampai ia menangkapnya dan mendahului kita. Hok Bi, aku sedang berusaha dan hendak menyuruh Sinchio Tan Hay menghubungi Kwan Ciu Leng Kauwsu dan mencari orang-orang gagah lain untuk menangkap penjahat itu, mendahului usaha Lie-tikoan. Kalau usahaku ini berhasil, selain mukaku akan menjadi terang kembali, juga merupakan tamparan bagi Lie-tikoan yang menggantikan kedudukanku. Oleh karena itu, harap kau membantuku. Tak usah kau membantuku menangkap penjahat, cukup kalau kau berusaha menggagalkan atau menghambat usaha Lie-tikoan untuk mendahului kita. Awasi gerak-gerik Hok Ti Hwesio itu dan kalau perlu selewengkan perhatiannya agar ia tidak mudah menangkap penjahat.”
Mula-mula Hok Bi terkejut mendengar ini, akan tetapi akhirnya ia dapat menangkap maksud pamannya. Memang, ia dapat mengerti betapa malu hati pamannya dan betapa besar hasrat hati pamannya untuk menerangi kembali mukanya dan mendahului Lie-tikoan dalam perlumbaan menangkap penjahat itu. Maka ia lalu menyanggupi.
Pada saat itu, pelayan mengantar masuk seorang laki² yang bertubuh tegap dan bersikap gagah, berpakaian seperti seorang jago silat. Dia ini bukan lain adalah Sinchio Tan Hay, kepala penjaga kota Liu-leng yang dahulunya membantu Song Tek dan sekarang masih dihubungi oleh bekas tikoan itu. Biarpun Tan Hay masih menjadi kepala penjaga.
Namun karena Song Tek royal dalam memberi hadiah, kepala penjaga ini masih setia kepadanya dan ia menyanggupi permintaan Song Tek untuk memberitahukan segala gerak-gerik Lie-tikoan dalam usahanya menangkap pejahat agar Song Tek dapat mendahului menangkap penjahat yang dikejar-kejar itu.
Melihat kedatangan Tan Hay, Song Tek lalu memberi isyarat kepada keponakannya untuk meninggalkan ruangan itu. Cung Hok Bi memberi hormat kepada Sinchio Tan Hay, lalu pergi ke belakang dan bekas tikoan she Song itu segera mengadakan perundingan berdua dengan Tan Hay. Agaknya amat penting yang mereka rundingkan itu, karena mereka bicara perlahan dan dengan sungguh-sungguh.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terketuk dan seorang pelayan masuk, memberitahukan bahwa Hek-liong-pian Thio Cin Gan datang berkunjung. Baru saja pelayan itu memberi laporan, orangnya sudah muncul di ambang pintu. Song Tek memandang dengan muka terheran dan mata mengandung pertanyaan.
“Thio-ciangkun, ada keperluan apakah?” tanyanya dengan suara hormat.
Melihat Sinchio Tan Hay di situ, Hek-Iiong-pian Thio Cin Gan tersenyum, lalu menjura kepada dua orang itu. ”Siauwte diutus oleh Lu-ongya untuk mcncari keterangan tentang usaha Lie-tikoan. Untuk itu, siauwte hendak bertanya kepada Tan-loheng. Akan tetapi, di sana siauwte mendengar bahwa Tan-loheng berada di sini maka sengaja siauwte menyusul untuk bertemu dengan Tan-loheng. Kalau kedatangan siauwte ini mengganggu Song-taijin, harap banyak maaf.”
"Ah, tidak apa, Thio-ciangkun. Silahkan duduk,” jawab Song Tek dengan ramah-tamah.
Sementara itu, Tan Hay sudah menyambut kedatangan pengawal pribadi Pangeran Lu Siang Tek itu dengan tertawa. “Thio-enghiong, apakah aku harus menghadap Ong-ya sendiri, ataukah cukup bicara denganmu saja?”
“Cukup dengan aku saja, Tan-loheng. Akan tetapi agar jangan mengganggu tuan rumah, marilah kita keluar dan kita pergi ke kedai arak A Sam....”