Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 01

Cerita silat karya Kho Ping Hoo. Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 01
Sonny Ogawa

Pisau Terbang Bunga Emas Jilid 01 - PADA siang hari itu A Sam sedang melayani para pembelinya.

"Sungguh mengherankan," kata seorang saudagar sambil menghirup araknya, "kota Liu-leng hari ini amat ramai, ada apakah gerangan?"

Cerita Silat Mandarin Serial Bu-kek Sian-su Karya Kho Ping Hoo
Karya Kho Ping Hoo

"Ya, tadi kulihat juga waktu lewat di depan kantor tikoan, seluruh tempat itu dihias amat bagus se-akan-akan hendak diadakan keramaian besar." kata pedagang kedua.

"Ada keramaian apakah?" tanyak pedagang ketiga.

“Rupa-rupanya saudara bertiga ini adalah tamu² dari luar kota," A Sam memberi keterangan, “Hari ini akan diadakan keramaian untuk meresmikan pengangkatan tikoan baru. Kabarnya tikoan baru ini she Lie, tadinya memegang jabatan di kotaraja dan sekarang dipindah ke sini.”

”Eh, mengapa tikoan yang lama diganti?" tanya saudagar pertama. “Bukankah Song-tikoan itu orangnya adil dan baik menurut berita yang kudengar?"

Sam mengangguk-angguk, kemudian berkata, ”Memang tak dapat disangkal bahwa Song-taijin sebenarnya adalah seorang tikoan yang bijak. Beliau banyak memberi hadiah kepada para pendeta di kelenteng, memberi sedekah kepada fakir-miskin. Akan tetapi akhir-akhir ini terjadi peristiwa² aneh yang mengerikan dan kiranya inilah yang menyebabkan Song-tikoan diganti oleh tikoan baru dari kotaraja,”

“Peristiwa-peristiwa mengerikan apakah?”

“Apa cuwi hiante belum mendengar?” tanya A Sam agak terheran mengapa ada orang yang belum mendengar tentang hal itu.

”Kami datang dari luar kota, dan sudah tiga bulan kami tak pernah lewat di sini. Harap kau ceritakan apakah adanya peristiwa-peristiwa itu.” kata saudagar ketiga dengan wajah tertarik sekali.

Sebelum menjawab, A Sam mengerling ke kanan-kiri seperti orang yang ketakutan dan agaknya ia ragu-ragu untuk menceritakan sungguhpun mulut dan matanya yang tua itu membayangkan hasrat besar untuk menyampaikan berita yang menggemparkan itu. Tidak ada kesenangan yang lebih besar baginya daripada menyampaikan berita yang hebat-hebat kepada orang lain, terutama kepada para langganannya.

“Peristiwa² aneh dan hebat tentang mengganasnya iblis di Liu-leng ini." akhirnya ia berkata, menahan napas, tegang penuh perhatian ingin menyaksikan betapa reaksi daripada para pendengarnya mendengar judul ceritanya yang cukup menarik ini.

“Apa...?”

”Iblis katamu...?”

A Sam girang melihat wajah orang-orang yang mendengarkannya itu berubah dan mereka kelihatan tertarik sekali sehingga ada yang menunda cawan araknya di depan bibir tanpa meminumnya. Kembali A Sam mengangguk-angguk dan memandang ke kanan-kiri serta memperlihatkan rupa seperti orang yang merasa serem dan ketakutan.

”Aaiih, bulu tengkukku meremang semua kalau aku memikirkan hal itu. Iblis itu telah merampok dan membunuh manusia tanpa ada yang dapat menghalanginya. Bahkan belum lama ini anak gadis tetanggaku juga terbunuh secara mengerikan sekali. Lehernya hampir putus... iiihhh... dan kepalanya... kepalanya bolong-bolong se-akan-akan semua isi kepalanya telah dihisap habis oleh iblis itu.... hiiii...!”

A Sam menutup kedua matanya dengan tangan sedangkan tiga orang saudagar itu saling pandang, kemudian otomatis juga mereka memandang ke kanan-kiri seakan-akan takut kalau-kalau iblis yang mengerikan itu tiba-tiba saja muncul di dekat mereka.

”Habis bagaimana selanjutnya...?” Seorang diantara mereka akhirnya berani membuka mulut bertanya dengan suara perlahan sekali.

“Song-taijin telah berusaha sekuat tenaga untuk menangkap iblis itu, bahkan sudah dikerahkan semua penjaga kota. Bukan itu saja, Song-taijin malahan menjanjikan hadiah seribu tail perak bagi siapa saja yang dapat menangkap iblis itu hidup-hidup atau mati. Akan tetapi, manusia manakah di muka bumi ini yang dapat menangkap… iblis?”

“Eh, Sam-lopek, betul-betulkah ceritamu itu? Apakah kau sendiri sudah pernah melihat iblis itu?” tanya seorang saudagar muda dengan nada suara tidak percaya. Saudagar muda ini, seperti juga tamu-tamu lain yang berada di situ, tertarik oleh cerita A Sam sehingga sebentar saja A Sam sudah dikelilingi oleh belasan orang tamu yang kesemuanya ingin sekali mendengar cerita serem ini.

A Sam menyedot huncwenya yang ternyata telah mati apinya, mengetuk-ngetukkan huncwe untuk membuang abu tembakaunya, lalu menyulutnya lebih dahulu sebelum melanjutkau ceritanya. Belasan orang pendengarnya yang tidak sabar lagi menanti, melihat semua gerakan A Sam dengan penuh perhatian, seakan-akan setiap gerakan pemilik kedai arak ini ikut bercerita tentang iblis yang mengerikan. Kemudian A Sam mengepulkan asap huncwenya, lalu menjawab:

“Mana aku berani melihatnya? Aku hanya pernah melihat yang menjadi korbannya saja. Selain gadis tetanggaku, juga lima orang penjaga malam yang mati diterkam iblis dan mayat mereka menggeletak dalam keadaan amat mengerikan di pinggir tembok kota. Hiii... sungguh baru pertama kali itulah selama hidupku aku melihat orang-orang mati semacam mereka itu. Kepalanya berlubang-lubang dan mukanya... ayaaaa... sungguh menyeramkan sekali. Rupa-rupanya iblis itu suka makan orang, suka makan muka orang.”

Keadaan menjadi sunyi, semua orang tak berani mengeluarkan suara berisik, hati mereka diliputi rasa takut. Memang pada masa itu, tahyul merupakan penyakit umum yang percaya akan adanya iblis-iblis dan siluman jahat seperti mereka percaya akan adanya bayangan mereka sendiri.

“Apakah ada orang yang pernah melihat iblis itu, Sam-lopek?” tanya saudagar muda tadi.

A Sam makin bangga dan girang melihat semua orang begitu tertarik kepada ceritanya. Setelah betul² beberapa kali, ia menjawab: “Tentu saja, banyak yang pernah melihatnya sungguhpun aku sendiri tidak berani melihatnya. Menurut mereka yang pernah melihatnya, iblis itu rupanya hitam dan matanya sebesar kepalan tangan, merah menyala-nyala. Taringnya kelihatan, panjang dan putih. Iblis ini sedang menggerogoti tangan manusia yang masih berlumuran darah. Orang-orang yang melihatnya terus roboh pingsan karena ketakutan. Untung mereka tidak diterkamnya sekali.”

Sudah barang tentu cerita ini membuat para pendengarnya menjadi makin serem. Tak seorangpun meragukan cerita A Sam yang memang pandai bcrcerita itu sehinngga tidak nampak sedikitpun pada mukanya, bahwa ia telah membohong. Memang dasar daripada cerita itu tidak bohong karena memang ada orang-orang yang melihat ”iblis” itu, akan tetapi bukan seperti yang diceritakan olek A Sam.

Orang-orang yang melihat iblis itu hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam saja, sama sekali tidak melihat iblis bertaring dan bermata api yang makan tangan manusia. Hal ini tidak terlalu mengherankan karena sudah menjadi sifat manusia suka menambah-nambah berita dengan khayal mereka sendiri.

Sementara itu, di rumah gedung yang oleh pemerintah disediakan untuk pembesar yang berpangkat tikoan, terjadi pula hal yang penting. Dengan disaksikan oleh semua petugas di kota Liu-leng dan para hartawan serta orang-orang terkemuka, dilakukan upacara timbang-terima kedudukan tikoan lama Song Tek kepada tikoan baru Lie Kim Hong.

Di dalam ruangan tengah yang luas dari gedung itu, nampak duduk seorang pembesar bertubuh gemuk dan tinggi, pakaiannya indah, wajahnya yang selalu tersenyum nampak agung, sikapnya seperti seorang bangsawan tinggi. Memang, pembesar ini adalah Lu Siang Tek, seorang pangeran dari keluarga kaisar yang biarpun telah mengundurkan diri dari pemerintahan, tetap saja saja masih merupakan orang penting di kota Liu-leng karena kadang-kadang ia masih melakukan tugas dari kaisar. Kali ini Lu Siang Tek atau biasa disebut Lu-ongya menerima tugas kaisar untuk melakukan upacara timbang-terima pangkat tikoan.

Di sebelah kiri Lu-ongya ini duduk Song-tikoan, yakni tikoan lama yang bernama Song Tek, yang pada saat itu harus menyerahkan kedudukannya kepada tikoan yang baru. Song Tek ini orangnya sudah setengah tua, kurang lebih empatpuluh tahun namun nampak masih gagah dengan kumisnya yang tipis dan jenggotnya yang teratur rapi. Wajahnya kelihatan terang dan mulutnya tersenyum ramah selalu, pakaiannya rapi dan kuku² tangannya terpelihara baik-baik dan bersih, tanda bahwa ia seorang ahli menulis yang pandai.

Sudah bertahun-tahun ia memegang jabatan tikoan di kota Liu-leng dan sekarang terpaksa ia harus melepaskan kedudukannya itu karena ia dianggap kurang cakap dan tidak mampu membersihkan kota Liu-leng dari gangguan penjahat yang oleh penduduk dianggap iblis. Sebetulnya, bukan karena Song Tek tidak cakap, melainkan karena penjahat itu benar-benar lihay sekali.

Berkali-kali tikoan ini mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan, pengejaran dan pengepungan, namun sukar sekali orang dapat melihat penjahat itu. Beberapa kali para penjaga berhasil melihatnya, namun ini hanya mengakibatkan matinya para penjaga yang bertemu dengan penjahat itu. Oleh karena inilah maka sampai sekian lamanya tak seorangpun di kota Liu-leng dapat mengetahui siapa sebetulnya penjahat itu dan bagaimana macamnya.

Adapun orang yang duduk di sebelah kanan Lu-ongya adalah Lie tikoan, yakni tikoan baru untuk kota Liu-leng yang datang dari kotaraja. Ia sengaja diutus memegang kedudukan ini di Liu-leng karena para pembesar sudah percaya akan kepandaian dan kecerdasan Lie Kim Hong.

Tikoan baru ini usianya sudah limapuluh tahun, perawakannya jangkung kurus, mukanya agak muram karena bersungguh-sungguh, sepasang matanya tajam menembus pandang mata orang dan senyumnya jarang kelihatan. Mukanya seperti kedok saja dan sukarlah bagi orang lain untuk membaca isi hatinya. Sebetulnya nama Lie Kim Hong terkenal di kotaraja baru² ini setelah dua kali ia membongkar peristiwa kejahatan yang terjadi di kotaraja.

Selain pangeran Lu dan dua orang tikoan lama dan baru itu, di situ hadir pula para undangan dan orang-orang penting di kota Liu-leng dan sekitarnya. Yang terpenting di antaranya adalah Cung Hok Bi, seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun yang bertubuh tegap berwajah tampan dengan sepasang mata yang kocak.

Dia ini adalah keponakan dari Song Tek tikoan lama yang tinggalnya juga di rumah gedung Song-tikoan, akan tetapi di bangunan sebelah belakang. Cung Hok Bi ini bukan orang sembarangan, karena dia adalah murid dari partai persilatan Bu-tong-pai.

Semenjak kecil ia menjadi murid di puncak Butongsan dan terkenal sebagai seorang ahli bermain pedang dan ahli pula dalam penggunaan senjata-senjata rahasia seperti jarum, paku, dan piauw. Kalau dahulunya Song Tek amat membanggakan keponakannya ini, adalah akhir-akhir ini ia sering marah-marah dan memaki keponakannya itu tidak becus dan tiada guna, tidak mampu menangkap penjahat yang mengganggu Liu-leng sehingga ia kehilangan kedudukannya.

Orang kedua adalah Sinchio Tan Hay, kepala penjaga kota Liu-leng yang berusia tigapuluh tahun lebih dan bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah. Dari julukannya saja, yakni Sinchio yang berarti Tombak sakti, mudah diduga bahwa ia adalah seorang ahli silat yang pandai bermain tombak. Dialah yang paling diandalkan oleh para pembesar di kota Liu-leng untuk menjaga keamanan.

Akan tetapi setelah penjahat itu muncul, nampaklah bahwa Sinchio Tan Hay ternyata tidak begitu hebat kepandaiannya seperti namanya. Kalau dulu ketika mula² penjahat itu muncul, Sinchio Tan Hay menyombongkan kepandaiannya dan memastikan bahwa ia tentu akan dapat menangkap penjahat itu, sekarang ia mulai jadi pendiam dan tak berani banyak bicara apabila orang bercakap-cakap tentang penjahat itu di depannya.

Orang ketiga yang penting disebut adalah Kwan Ciu Leng. berusia tigapuluhan, pakaiannya sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang kauwsu atau guru silat yang terkenal di Lui-leng. Ia adalah anak murid Siauwlimpay dan banyak orang muda di kota itu berguru kepadanya, karena memang ilmu silatnya lihay. Pernah ia mendemonstrasikan tenaga lweekangnya.

Setumpuk bata terdiri dari limabelas buah ditumpuk di tanah dan dengan tangan miring guru silat Kwan ini dapat memukul remuk bata yang mana saja di antara yang limabelas itu. Umpamanya seorang menghendaki agar bata ke delapan dari atas yang remuk, ia lalu memukul tumpukan itu dari atas dan benar saja, bata ke delapan remuk oleh pukulannya sedangkan bata yang lainnya tinggal utuh.

Akan tetapi, seperti juga Sinchio Tan Hay, ia tidak berdaya menghadapi penjahat yang makin lama makin berani dan kurang ajar mengacau kota Liu-leng itu. Tentu saja iapun sudah berusaha untuk membersihkan kotanya dari penjahat ini dan sekalian mengangkat namanya, akan tetapi usahanya tak berhasil bahkan ia mendapat malu.

Setelah semua undangan berkumpul, Lu-ongya lalu berpidato, menyampaikan perintah kaisar yang memerintahkan agar supaya Lie Kim Hong memegang pangkat di kota Liu-leng itu, menggantikan kedudukan Song Tek yang dianggap kurang cakap dan tidak mampu membersihkan kota Liu-leng dari gangguan penjahat. Sebagai penutup pidatonya, pangeran yang juga mengenal baik tikoan lama itu, menambahkan dengan kata-katanya sendiri:

“Kami ikut menyesal karena kejadian ini dan sekali-kali kami tidak menyalahkan Song-tikoan yang kita sekalian cukup tahu akan kepandaiannya. Akan tetapi, tak dapat disangkal pula bahwa memang Song-tikoan dengan bantuan kita semua penduduk Liu-leng tidak berhasil membekuk batang leher penjahat itu, maka keputusan dan perintah Kaisar ini tentu saja kita terima dengan senang hati dan dengan pengharapan mudah²an saja Lie-tikoan yang baru akan dapat berhasil membekuk penjahat yang sudah lama mengganas di kota kita ini.”

Setelah berkata demikian, Lu-ongya mengangkat cawan arak memberi selamat kepada Lie Kim Hong. Semua tamu juga ikut² memberi selamat dengan mengangkat cawan arak.

Lie Kim Hong tersiap-siap menerima penghormatan dan ucapan selamat ini, lalu dengan hormat ia menerima cap kebesaran dan segala berhubungan dengan pekerjaan tikoan dari tikoan lama, yakni Song Tek. Timbang-terima ini disaksikan oleh Pangeran Lu Siang Tek dan oleh semua orang yang hadir di situ. Kemudian para tamu bubaran, juga Pangeran Lu Siang Tek pulang ke gedungnya.

Lie-tikoan sengaja menahan Song Tek dan minta kepada bekas tikoan lama ini supaya menahan pula orang-orang yang mengerti tentang sepak terjang penjahat itu, terutama sekali mereka yang memiliki kepandaian silat tinggi. Tak lama setelah bubaran, Lie Kim Hong berhadapan di depan meja perundingan dengan Song Tek, Cung Hok Bi, Sinchio Tan Hay, Kwan Ciu Leng, dan beberapa orang komandan jaga yang pernah mengejar-ngejar penjahat itu.

“Cuwi sekalian tentu sudah mendengar perintah Hongsiang yang disampaikan oleh Lu-ongya tadi bahwa tugasku yang terutama adalah menangkap penjahat yang merajalela di kota ini,” kata Lie tikoan, “aku sebagai orang baru, sama sekali tidak tahu bagaimana sifat penjahat itu dan sampai betapa jauhnya ia mengganggu kota Liu-leng. Oleh karena itu, aku amat mengharapkan bantuan cuwi sekalian untuk memberi keterangan tentang penjahat itu.”

Song Tek bekas tikoan Liu-leng menarik napas panjang dan berkata: “Sebetulnya dia itu tidak patut disebut penjahat, lebih tepat kalau dinamakan iblis. Sepak terjangnya tidak diketahui orang dan sukar sekali mengikuti jejaknya. Aku sendiri tidak malu mengaku bahwa aku sudah tidak sanggup menghadapinya, maka kedatangan Lie loheng di sini menggantikan kedudukanku, benar-benar merupakan hiburan yang melegakan hatiku.”

“Apakah di antara cuwi ada yang pernah melihatnya?” tanya Lie tikoan.

"Siauwte pernah mengejarnya malam gelap, namun ia terlampau gesit dan cepat. Ketika siauwte menggunakan piauw menyerangnya, iapun menangkis serangan siauwte itu dengan piauw pula. Ternyata ia seorang penjahat yang tinggi kepandaiannya.” kata Cung Hok Bi keponakan Song Tek.

Lie tikoan memandang wajah pemuda tampan ini dengan tajam. “Apakah kau tidak melihat muka penjahat itu?” tanyanya.

Cung Hok Bi menggelengkan kepala. ”Karena siauwte mcngejar di dalam malam gelap, maka sukar melihat muka penjahat itu, taijin.”

“Ketika kau mengejarnya, adakah orang lain ikut mengejar?“ tanya pula Lie Kim Hong penuh perhatian.

“Tidak ada orang lain, taijin. Ketika itu siauwte baru saja keluar dari rumah dengan jalan di atas genteng, karena memang siauwte pada malam hari itu ingin melakukan penyelidikan. Kiranya di atas genteng berkelebat bayangan hitam. Tentu penjahat itu bermaksud menyerbu atau mengganggu rumah pamanku. Siauwte terus mengejar dan menyerangnya, akan tetapi ia terlalu cepat dan siauwte tidak sempat melihat wajahnya.”

”Memang berbahaya sekali,” Song Tek menyambung cerita keponakannya. “Agaknya karena aku selalu berusaha mengerahkan tenaga menangkapnya, penjahat itu hendak membalas dendam dan hendak menyerang rumah kami. Benar-benar berbahaya sekali!” Kemudian sambil menarik napas panjang ia berkata: “Sudah banyak penjaga yang mati olehnya, ah, benar-benar ngeri aku memikirkan dan terima kasih kepada Hongsiang yang sudah membebaskan aku dari tugas berat ini.”

Lie-tikoan mengerutkan keningnya. Agaknya berat sekali tugas yang ia pikul. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan kegelisahannya. “Apakah para enghiong yang lain pernah bertemu dengan penjahat itu? Harap suka memberi keterangan kepadaku agar mudah aku mulai dengan penyelidikan.” katanya.

Sinchio Tan Hay berkata dengan muka merah. ”Hamba sebagai kepala jaga kota Liu-leng, terpaksa mengakui kebodohan hamba. Biasanya, kalau kota ini terganggu penjahat, hamba dan kawan-kawan hamba pasti akan dapat membasminya. Akan tetapi penjahat ini… aah, benar-benar dia orang luar biasa. Mungkin ia pandai menghilang karena siang-malam hamba dan kawan-kawan mcnyelidik, tak juga dapat menemukan tempat persembunyiannya.

“Pernah hamba menyergapnya ketika ia sedang melakukan perampokan di rumah Teng-wangwe, akan tetapi hasil sergapan itu hanya kerugian belaka bagi kami. Hamba terluka di pundak dan tiga orang anak buah hamba tewas. Penjahat itu bergerak dengan luar biasa cepatnya dan mukanya memakai kedok sehingga hamba sekalian tidak dapat mengenal mukanya.”

Lie Kim Hong mengelus-elus jenggomya dan mengangguk-angguk. ”Hmmm, jadi ia berkedok?” katanya perlahan mengulang cerita Sinchio Tan Hay.

”Benar, taijin. Penjahat itu memakai kedok yang sama sekali menyembunyikan mukanya, hanya sepasang mata yang tajam dan liar saja kelihatan dari lubang kedok itu. Tubuhnya sedang dan tegap, akan tetapi banyak sekali orang yang bertubuh seperti dia itu bentuknya.”

Kemudian Kwau-kauwsu juga bercerita betapa ia pernah bertemu dengan penjahat itu di malam hari. Penjahat itu sedang mengganggu gadis tetangganya yang menjerit minta tolong. Kwan Ciu Leng membawa pedangnya dan melompat ke atas genteng dan di atas rumah gadis itu ia bertemu dengan seorang laki-laki yang gesit gcrakannya sedang melarikan diri. Kwan Ciu Leng menyerang dengan pedangnya, akan tetapi hanya dengan ujung lengan baju, orang itu menangkis dan membikin pedang Kwan-kauwsu terpental, hampir terlepas dari pegangan.

Kemudian Kwan-kauwsu menyerang terus sampai beberapa jurus, namun penjahat itu lihay sekali sehingga guru silat ini yang akhirnya terkena tendangan pada lututnya sehingga hampir terguling dari atas genteng. Penjahat itu sambil tertawa mengejek lalu melarikan diri.

“Dia benar-benar lihay, taijin. Terus-terang saja hamba belum pernah bertemu dengan lawan sepandai dia itu.” Kwan Ciu Leng menutup kata-katannya.

“Apakah kau juga tidak mengenal mukanya?” tanya Lie-tikoan.

Guru silat itu menggeleng kepala. “Malam itu gelap sekali dan di atas genteng tidak ada penerangan, yang nampak hanya sosok bayangan saja. Kiranya ini pula yang menyebabkan hamba tidak mampu melawannya, karena penglihatan hamba kurang awas di dalam gelap. Agaknya penjahat itu awas sekali di dalam gelap.”

Setelah mengumpulkan keterangan-keterangan ini, Lie Kim Hong membubarkan pertemuan dan ia kembali ke dalam gedungnya yang baru dengan pikiran kusut dan pusing. Ia menghadapi penjahat yang lihay ilmu silatnya, dan agaknya para penjaga dan orang-orang ahli silat yang tinggal di kota Liu-leng sudah tidak sanggup lagi menghadapi penjahat itu. Bagaimana ia dapat menangkapnya? Dari para penjaga itu terang tak dapat ia mengharapkan banyak-banyak.

Isterinya dan puteranya menyambut kedatangan Lie tikoan. Mereka ini merasa heran sekali melihat wajah Lie Kim Hong yang muram. Tadinya mereka mengharapkan akan menyambut suami dan ayah yang gembira dan bangga karena kedudukan barunya ini, tidak tahunya yang disambut bermuram dan keningnya berkerut.

Apalagi ketika Lie Kim Hong melihat ke arah puteranya, kerut di keningnya makin mendalam. Puteranya itu tidak punya guna, pikirnya. Dan isterinya itu terlalu memanjakannya, membuat anak yang satu-satunya itu menjadi bodoh dan dungu. Dalam keadaan sedang kesal hati, munculnya anak itu menambah kemuraman wajahnya.

Makin terasa oleh pembesar she Lie ini betapa buruk nasibnya. Isterinya adalah puteri seorang bangsawan dan dahulu terkenal sebagai bunga kota Sui-cu. Ia hidup rukun penuh kasih sayang dengan isterinya itu, apalagi setelah dikaruniai seorang putera yang tampan wajahnya.

Akan tetapi, nasib sial menimpa dirinya, puteranya ternyata menjadi seorang dungu. Tidak saja bodoh, akan tetapi bahkan kakinya pincang sebelah! Kaki itu cacad karena ketika masih kecil dan bermain-main di taman bunga, kaki anaknya itu digigit ular berbisa dan biarpun nyawa anak itu tertolong, namun kakinya yang kiri menjadi pincang.

“Ayah, mengapa ayah cemberut saja seperti orang marah?” tanya Lie Kian Liong, putera itu sambil terpincang-pincang menghampiri ayahnya. Anak ini tubuhnya tegap, kulitnya putih dan wajahnya tampan. Sayang sekali pada wajah yang tampan itu terbayang kebodohan, dan lebih sayang lagi jalannya terpincang-pincang sehingga biarpun wajahnya tampan dan pakaiannya indah, tetap saja ia merupakan seorang pemuda yang kurang menarik.

Lie-hujin juga menyambut suaminya dan bertanya mengapa suaminya nampak kesal hati. Dengan suara membayangkan kemasygulan, Lie-tikoan menceritakan tentang keadaan kota Liu-leng yang sedang diganggu oleh penjahat dan betapa semua tokoh di kota itu agaknya sudah tidak berdaya menghadapi penjahat ini.

“Aku harus mendatangkan bantuan orang-orang pandai dari kotaraja, kalau tidak, bagaimana aku dapat menangkapnya?” akhirnya tikoan ini berkata.

“Ayah, mengapa ayah tidak mengajak aku mengunjungi istana Pangeran Lu? Mari kita melihat-lihat ke sana, ayah!” kata Kian Liong tiba-tiba, dengan suara manja.

Ayahnya yang sedang mencurahkan pikiran untuk urusan gangguan kota Liu-leng, mendengar ajakan puteranya ini, menoleh dan memandang heran. “Apa kau bilang? Mengunjungi Lu-ongya? Bagaimana kau tiba-tiba saja mendapat pikiran ini?” tanyanya penuh selidik.

Kian Liong menjadi merah mukanya. dan tak dapat menjawab. Ibunya yang mewakilinya mcnjawab: “Tadi Kian Liong keluar dan sekembalinya ia bercerita bahwa Lu-ongya mempunyai seorang puteri yang terkenal cantik jelita dan menjadi kembang kota. Liu-leng. Inilah agaknya yang mendorongnya untuk mengajak pergi ke rumah pangeran Lu.”

Lie-tikoan makin cemberut. ”Dasar bocah tidak punya otak! Orang lain sedang pusing memikirkan penjahat, dia memikirkan gadis cantik! Gadis puteri pangeran pula yang dipikirkan, benar menyebalkan.”

“Ayah siapa mau memikirkan penjahat? Aku tidak mau. Tentang memikirkan gadis cantik, apa salahnya? Bukankah ketika kita belum pindah ke sini ayah sudah pernah menyatakan bahwa aku sudah cukup dewasa dan ayah membolehkan aku melakukan pemilihan terhadap calon isteri? Ayah bilang kalau aku sudah mendapat pilihan, ayah akan melamarkan untukku. Sekarang, memikirkan gadis saja tidak boleh, bagaimana aku bisa melakukan pemilihan?”

“Tutup mulutmu! Siapa melarang kau memikirkan gadis maupun janda yang manapun juga? Aku hanya minta kau pergunakan otakmu! Ayahmu sedang sibuk menghadapi tugas berat, biarpun kau tidak becus membantu, sedikitnya kau ikut prihatin. Orang tua sedang bicara tentang cara menangkap penjahat, kau nimbrung-nimbrung dan bicara tentang gadis cantik. Ke mana otakmu?!”

Dimaki oleh ayahnya sudah menjadi hal lumrah bagi Kian Liong, maka iapun tidak menjadi gugup atau takut, bahkan tersenyum menyeringai, lalu menggaruk-garuk kepalanya. “Biasanya otak berada di kepala, ayah. Aku pernah makan kepala ayam, enak sekali otaknya. Sayang cuma sedikit di dalam ke....”

”Setan, kau makin lama makin gila!” Ayah yang mengkal hatinya itu mengangkat tangan hendak memukul puteranya.

”Sudahlah, Liong-ji sudah dewasa, tak patut dipukul.” Nyonya Lie mencegah suaminya.

”Kau inilah yang membikin dia besar kepala, manja dan goblok!” Kemarahan Lie-tikoan beralih kepada isterinya.

“Ayaa..., aku pula yang kau salahkan? Suamiku, tidak kasihankah kau kepada Liong-ji? Dia telah menjadi cacad kakinya dan kalau aku ingat dahulu sehabis ia digigit ular itu... ah, masih untung sekarang dia masih hidup. Tidak kasihankah kau kepadanya?”

Lie-tikoan menarik napas panjang dan menjatuhkan diri di atas kursi. Kalau isterinya mengingatkan ia akan keadaan puteranya itu, lemaslah ia. Memang Kian Liong patut dikasihani. Hampir saja tewas oleh bisa ular itu. Baiknya ada orang pandai menolong. Akan tetapi semenjak digigit ular, anak itu nampak bodoh dan tolol sekali. Sudah tak kurang-kurang ia mencari obat.

Bahkan sudah dipanggilnya semua guru-guru pandai di kotaraja untuk mendidik puteranya, namun sia-sia belaka, makin besar Kian Liong kelihatan makin goblok dan pincang di kakinya makin hebat. Anak itu sekarang sudah berusia duapuluh tahun, namun lagaknya seperti anak kecil saja. Ketika Lie-tikoan mengerling kearah Kian Liong, pemuda ini sedang memandang ibunya dan sepasang mata pemuda itu basah dengan airmata!

Terharu juga hati Lie-tikoan melihat keadaan puteranya itu, dan berkali-kali ia menarik napas panjang. Memang nasibnya yang buruk, mempunyai seorang putera seperti Kian Liong.

Tiba-tiba terdengar suara bersiut dari atas, sebuah sinar keemasan menyambar ke atas meja dan di lain saat di atas meja di dekat tempat duduk Lie-tikoan kelihatan Sebatang piauw (senjata rahasia semacam pisau disambitkan) menancap dan gagangnya yang berupa bunga emas bergoyang-goyang.

“Ayaaa.….! Celaka.....!" teriak Kian Liong yang menjadi pucat mukanya, tubuhnya menggigil dan pemuda penakut ini lalu terpincang-pincang melarikan diri ke sebelah dalam untuk bersembunyi.

Lie-tikoan adalah seorang pembesar yang sudah berpengalaman dan sudah seringkali ia menghadapi bahaya, maka biarpun ia merasa terkejut sekali, ia tetap bersikap tenang sekali. Ditariknya tangan isterinya dan ia cepat menghadang di depan isterinya itu untuk melindunginya dari bahaya yang mungkin datang, sambil tidak lupa ia berseru memanggil para penjaga didepan. Suaranya lantang dan sedikitpun tidak terdengar tikoan ini ketakutan atau gugup.

Akan tetapi untungnya penjahat yang melemparkan pisau itu agaknya tidak berniat melakukan penyerangan gelap, karena tidak muncul lagi. Sampai para penjaga datang menyerbu ke dalam dengan senjata di tangan, tidak terjadi sesuatu.

“Ada apakah, taijin?” tanya kepala penjaga, seorang she Tan yang sudah setengah tua sambil menggerak-gerakkan goloknya.

Lie-tikoan menarik napas sambil menuding ke arah meja di mana pisau tadi menancap dan gagangnya masih bergoyang-goyang. “Ada orang melemparkan pisau itu! Datangnya dari atas!”

Mendengar ini, wajah Tan-kauwsu berubah. Ia dapat menduga bahwa tentu “iblis” itu telah datang mengganggu, akan tetapi karena mengingat akan tugasnya, biarpun dengan takut² ia lalu berlari keluar dan melompat ke atas genteng untuk mengejar. Tak lama kemudian ia kembali ke tempat itu dan melaporkan bahwa ia tidak melihat bayangan manusia di atas genteng.

Sementara itu, Lie-tikoan sudah tenang kembali dan sudah mencabut pisau tadi. Ternyata di bawah pisau itu terdapat sehelai kertas putih yang ditulisi dengan huruf-huruf besar:

LIE-TIKOAN, LEBIH BAIK KAU SEANAK-ISTERIMU PULANG KE KOTARAJA DARIPADA KEHILANGAN NYAWA DI LIU-LENG.

Surat itu tidak ditanda-tangani. Membaca tulisan ini, Lie-hujin makin ketakutan, mukanya pucat, tubuhnya gemetaran.

“Jaga gedung ini baik-baik, jaga siang-malam dengan kuat secara bergantian. Juga lakukan penjagaan di atas genteng. Kalau dia berani datang lagi, serang dengan anak panah. Kita tak usah takut menghadapi ancaman dan gertakan penjahat itu!” kata Lie-tikoan kepada para penjaga.

Membaca surat ancaman itu Lie-tikoan bukannya menjadi takut, bahkan menjadi marah sekali. Keberanian dan ketabahan hatinya ini mengagumkan hati para penjaga. Dengan suara lantang dan bersemangat mereka menyanggupi dan mengundurkan diri.

“Tak usah takut². Anjing yang menggonggong jarang menggigit. Surat itu hanya membuktikan bahwa penjahat tadi ternyata merasa takut kepadaku dan ia merasa gentar kalau aku terus menjabat pangkat tikoan di kota ini.”

“Dia takut padamu? Bagaimana sih maksudmu? Dia datang mengancam, kau malah bilang dia takut. Kalau dia tadi menurunkan tangan jahat, bukankah berbahaya sekali?” kata Lie-hujin penasaran. ”Lebih baik kau mengajukan surat permohonan untuk meletakkan jabatan dan pulang ke kampung. Puluhan tahun mengabdi negara dan sekarang tua disuruh menghadapi ancaman maut!”

“Stt, jangan kau bilang begitu, isteriku. Setiap tugas yang diserahkan kepadaku berarti sebuah penghargaan dan kemuliaan, karena makin berbahaya tugas itu, makin membuktikan bahwa negara menaruh kepercayaan kepadaku. Oleh karena itu harus kulaksanakan baik-baik. Memang penjahat itu takut kepadaku, kalau tidak demikian mengapa ia harus menggunakan surat ancaman segala? Ia agaknya merasa jerih dan mendesak supaya aku pergi saja agar ia lebih leluasa dan enak melakukan kejahatannya. Tidak! Bagaimanapun juga, aku harus melawannya dan membersihkan kota ini dari gangguannya!”

“Tapi kau harus mendatangkan bala bantuan dari kotaraja, suamiku. Aku takut sekali... aku... aku mendapat perasaan tidak enak....”

“Tentu, dan cukup dengan semua obrolan tentang takut itu. Kau sama saja dengan Kian Liong. Eh, mana dia anak tiada gua itu?”

Biarpun kata-katanya merupakan celaan dan tidak puas terhadap puteranya, namun rasa sayang membuat tikoan ini berjalan masuk untuk mencari puteranya, diikuti oleh isterinya. Semua pelayan yang tadinya ikut bersembunyi mendengar adanya penjahat, sudah muncul dengan muka pucat, akan tetapi di antara mereka tidak kelihatan Kian Liong.

Juga tidak seorangpun di antara mereka melihat pemuda itu. Lie-tikoan dan isterinya menjadi gelisah dan mencari pemuda itu sambil memanggil-manggil namanya. Gedung itu amat besar dan mempunyai banyak kamar, akan tetapi pemuda itu tidak ada di dalam kamar-kamar ini...

Selanjutnya,
PISAU TERBANG BUNGA EMAS JILID 02