Sin Kun Bu Tek Jilid 09

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding) jilid 09
Sonny Ogawa

Sin Kun Bu Tek Jilid 09, karya Kho Ping Hoo - Heng San lalu duduk dengan mata masih mengalirkan air mata hingga tojin yang baik hati itu merasa terharu. Ang Jit Tojin lalu bercerita. Ma Giok yang sekarang tertawan oleh congtok itu sebenarnya adalah bekas panglima dari barisan Gouw Sam Kwie yang telah terpukul cerai-berai.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Biarpun mengalami kekalahan, namun dalam hati Ma Giok masih menyala api patriot yang tidak rela melihat bangsa Boan menguasai Tiongkok dan memeras rakyatnya. Diam-diam Ma Giok lari ke selatan dan di situ ia berhasil menggerakkan orang-orang gagah untuk bersekutu melawan pemerintah penjajah. Tapi ternyata usahanya itu gagal, karena di antara para orang gagah terdapat banyak penghianat-penghianat yang pro pemerintah.

Mereka ini sebetulnya juga orang-orang Han yang tadinya berjiwa patriot, tapi dasar pemerintah Boan mempunyai banyak penasihat-penasihat dan durna-durna cerdik pandai, maka banyak orang gagah sampai kena tipu dan terpengaruh oleh harta benda atau wanita cantik.

Dengan menggunakan sogokan harta benda dan kedudukan pangkat tinggi, atau wanita-wanita cantik yang sengaja digunakan untuk memikat hati para orang gagah hingga mereka ini tunduk dan dapat diajak kerja sama, maka usaha Ma Giok itu gagal.

Dengan hati perih Ma Giok lalu lari lagi bawa puteri tunggalnya, Ma Hong Lian, merantau sambil tiada hentinya melanjutkan usahanya, yakni mengumpulkan orang-orang gagah di semua tempat untuk memberantas pembesar-pembesar kaki tangan kaisar yang memeras rakyat.

Usahanya ini mendatangkan banyak hasil karena banyak orang gagah yang tadinya bersikap tidak acuh, kini timbul kembali semangatnya, di antaranya ialah Ang Jit Tojin dan kawan-kawannya. Juga Pat-chiu Sin-kay tergerak hatinya. Pengemis dewa ini lalu mencari suhengnya yang ternyata telah asingkan diri di atas gunung, hingga ia hanya bisa menarik murid keponakannya saja, yakni Ngo-jiauw-eng Tan Kok yang mati dalam tangan Heng San.

Jadi Tan Kok si pengemis aneh itu bukan lain ialah suheng sendiri karena Sin-kay adalah susiok dari Ngo-jiauw-eng! Tentu saja mendengar hal ini Heng San lalu tekap mukanya dan menangis dengan hati penuh penyesalan. Tapi ia akan mendengar hal-hal yang lebih hebat lagi!

Suhunya, yakni Pat-chiu Sin-kay, telah lama berusaha mendapatkan muridnya untuk dijadikan wakilnya dalam perjuangan suci ini karena pengemis dewa itu sering terserang sakit dan merasa diri telah terlalu tua dan tidak kuat lagi.

“Pinto sendiri adalah seorang sahabat lama dari Pat-chiu Sin-kay, maka ketika ia datang kepada pinto minta bantuan, segera pinto luluskan permintaannya dengan senang hati. Demikinlah pinto menyusul lebih dulu ke Keng-koan untuk menyampurkan diri dengan Ngo-jiauw-eng yang telah berangkat lebih dulu menyusul Ma enghiong dengan puterinya. Adapun Sin-kay sendiri hendak pergi ke Ciong-yang guna mengumpulkan beberapa orang kawan lain.”

Demikian Ang Jit Tojin lanjutkan ceritanya yang didengarkan oleh Heng San dengan air mata mengalir.

“Sebagai tempat pertemuan telah ditetapkan di sini, dan ternyata hari ini Sin-kay telah dapat mengumpulkan beberapa tenaga yang sangat kuat. Lima orang ini barangkali kau belum mengenalnya,” Ang Jit Tojin menunjuk kelima orang gagah yang duduk di situ, “mereka ini bukan lain ialah Ciong-yang Ngo-taihiap atau Lima Pendekar Besar dari Ciong-yang, yang telah terkenal dengan ilmu silat Ngo-heng-kun dan Ngo-heng-kiam-hwat mereka!”

Heng San pernah mendengar nama ini dari gurunya yang sangat memuji-muji mereka sebagai pendekar-pendekar kelas satu di jaman ini! Kemudian ia bertanya dengan hati kecut kepada Ang Jit Tojin:

“Teecu memang sudah pantas terima binasa! Tapi sebelum cuwi turun tangan membebaskan teecu dari tubuh yang kotor berlumur darah kawan-kawan ini, teecu mohon sedikit keterangan tentang Thio congtok dan para anggota pahlawannya.”

Kini seorang daripada lima pendekar yang tertua berkata: “Tak heran bila Sin Kun Bu Tek belum mendengar atau mengetahui siapakah sebenarnya Thio congtok itu dan orang macam apakah adanya dia. Ketahuilah, kau anak muda sungguh terlalu bodoh hingga sampai dapat tertipu olehnya. Dia adalah serigala berwajah manusia yang terkenal karena kekejamannya dan kecerdikannya. Dia berkuasa besar sekali dan pengaruhnya di istana kaisar lebih besar dari durna yang manapun!

"Dialah tukang basmi para patriot yang gagah perwira. Dia pula yang membunuh banyak ahli-ahli sastera yang pandai karena mereka ini menggerakkan semangat rakyat dan membangun kiwa patriot para orang gagah. Entah sudah berapa banyak orang-orang gagah binasa secara penasaran dalam tangannya yang berlumuran darah.

"Thio congtok yang kau junjung tinggi itu bukan lain ialah tangan kanan kaisar Boan dan dia itulah yang sebenarnya menindas rakyat. Thio congtok itu bukan lain ialah seorang pangeran dari Boan-ciu yang menyamar menjadi bangsa Han dan dengan bersembunyi di belakang pangkat congtok ia dapat mengelabuhi mata banyak orang gagah."

Heng San mendengarkan dengan heran dan menyesali kebodohannya.

“Dan barangkali kau belum tahu juga siapakah pahlawan-pahlawan yang berada di bawah perintahnya,” berkata Ang Jit Tojin dengan suara tegas.

“Sepanjang penglihatan mataku yang hampir buta, para pahlawan itu adalah orang-orang gagah perkasa,” jawab Heng San, “kecuali seorang hwesio yang baru datang dari kotaraja mengiringkan beberapa belas pahlawan lain.”

“Jadi si iblis itu juga sudah datang?!” Ang Jit Tojin berseru.

“Jangan khawatir, toheng. Kalau baru Lui Im Hosiang saja, kami rasa kami masih sanggup melawannya.”

Heng San teringat akan hwesio yang baru datang, hwesio yang bertubuh tinggi besar dan yang berbulu tubuhnya itu.

“Sekarang bersedialah untuk dengarkan ceritaku yang terakhir!” kata Ang Jit Tojin kepada Heng San dengan wajah keren.

“Teecu sudah cukup mendengar, dan teecu sudah cukup tahu akan kebodohan sendiri. Sekarang teecu hanya menyerahkan jiwa raga dalam tangan cuwi. Terserahlah, teecu takkan melawan. Agaknya tidak ada hal lain yang lebih hebat daripada yang telah kulakukan. Membunuh suheng sendiri, membunuh orang-orang gagah pembela bangsa, membunuh.... nona Hong Lian yang berjiwa patriot, menawan ayahnya yang ternyata seorang budiman dan pendekar besar.

"Kemudian yang terakhir... membunuh suhu sendiri. Ya! Suhu telah terbunuh olehku, biarpun bukan tangan ini yang membunuh, tapi akulah pembunuhnya! Ada apa lagi yang lebih hebat dari ini? Aku sudah selayaknya terima binasa!” Dan sekali lagi air mata mengucur keluar dari kedua mata pemuda malang itu.

“Karena dosamu memang besar sekali, maka biarlah kuceritakan hal ini padamu agar tampak jelas olehmu betapa tolol dan tersesatnya tindakanmu semua itu! Tahukah kau bahwa selama ini kau telah membela dan membantu musuh-musuh orang tuamu sendiri yang seharusnya kau basmi untuk membalaskan sakit hati ayah-ibumu?!”

Heng San memandang kepada pendeta itu dengan pucat. “Apa maksudmu? Di mana ayah-ibuku? Bukankah mereka masih tinggal di Lin-han-kwan??”

Ang Jit Tojin geleng-geleng kepala dan tarikan air mukanya membuat Heng San berdiri dengan tubuh menggigil.

“Apa yang terjadi dengan mereka? Katakan... katakanlah!”

“Duduklah lagi, anak muda,” menegur seorang daripada lima pendekar dari Ciong-yang hingga Heng San sadar dan merasa malu akan sikapnya itu.

“Maaf, siauwtee lupa diri. Totiang, kasihanilah aku. Ceritakanlah sebenarnya tentang keadaan orang tuaku....” katanya dengan suara perlahan dan dengan muka tunduk.

“Orang tuamu... ayah-ibumu... telah mati terbunuh!”

Heng San merasa seakan-akan nyawanya melayang tiba-tiba dan tubuhnya menerima pukulan yang luar biasa kerasnya hingga dadanya yang luka di dalam terasa sakit sekali. Ia loncat berdiri dan gunakan kedua tangan untuk mencengkeram ujung baju pertapa itu. kedua matanya melotot besar dan wajahnya menjadi putih seperti mayat, sedangkan kedua lututnya menggigil.

Demikian hebat cengkeraman tangannya hingga ujung baju itu hancur lebur dalam tangannya bagaikan kertas tipis saja! “Totiang... katakan, siapa pembunuh mereka??”

Maka datanglah pukulan terakhir dari mulut Ang Jit Tojin. “Siapa lagi? Orang yang kau junjung tinggi, kau bela dan kau sembah itulah! Thio congtok dan kaki tangannya!”

Untuk sejenak Heng San bagaikan berubah menjadi patung batu. Tubuhnya kaku dan diam tak bergerak, hanya kedua matanya bergerak-gerak memandang kepada Ang Jit Tojin dan pindah kepada kelima pendekar dari Ciong-yang. Kemudian, tiba-tiba ia memekik keras dan dari mulutnya tersembur darah merah. Ia terhuyung-huyung lalu jatuh pingsan di samping mayat gurunya!

Ketika sadar kembali, Heng San dapatkan dirinya telah berada di atas pembaringan dalam sebuah kamar. Ia merasa dadanya hangat dan ketika ia raba, ternyata di situ telah ditempeli obat tempel yang hitam dan hangat. Ketika ia mengerling, ia melihat lain tubuh terbujur di atas sebuah pembaringan kayu dalam kamar itu. Ketika ia perhatikan, ternyata itu adalah mayat suhunya. Ia loncat bangun, tak perdulikan dadanya yang terasa sakit, lalu tubruk dan peluki suhunya sambil menangis keras.

Ang Jit Tojin lari masuk dan menegurnya: “Bagus, bagus! Kau benar seorang jantan! Tadinya tertipu dan menjadi alat penghianat, kini kerjanya hanya menangis saja. Ah, sungguh kecewa mempunyai murid sebagai engkau!” Sambil berkata demikian, Ang Jit Tojin menuding kepada mayat itu.

“Totiang, kenapa aku tidak dibunuh? Kenapa bahkan lukaku diobati? Siapa yang lakukan ini?”

Pertapa itu menghela napas. “Pinto memang berhati lemah. Tidak tega pinto membunuh orang yang sedang pingsan. Betapapun juga, kau berlaku sesat karena tertipu. Pula, kami butuhkan tenaga-tenaga kuat dan kau tentu suka bantu kami untuk membasmi penghianat-penghianat itu, untuk membalaskan sakit hati orang tuamu, untuk membalaskan sakit hati gurumu!”

“Cukup!” Heng San membentak, tubuhnya menggigil. “Kau kira aku ini seorang manusia yang berhati binatang dan demikian rendahnya? Lihat, akan kuperlihatkan padamu kejantananku! Akan kuperlihatkan padamu bahwa suhu tak percuma jadikan aku sebagai muridnya. Akan kuperlihatkan kepada arwah ayah-ibuku bahwa mereka tidak percuma beranak aku! Lihat, sebelum jenazah suhu menjadi dingin, sebelum kedua mata suhu tertutup tanah, akan ada banjir darah di gedung congtok! Lihat dan dengarlah saja!”

Sebelum Ang Jit Tojin dapat menjawab, Heng San sudah melesat pergi keluar kelenteng! Ang Jit Tojin hanya geleng-geleng kepala dan berkata kepada diri sendiri: “Kasihan anak itu!”

Tapi belum juga ia berdiri dari tempat duduknya, tiba-tiba dari luar ada bayangan orang berkelebat masuk dan tahu-tahu pemuda itu sudah berdiri di depannya lagi! Wajah pemuda itu sudah berubah, tidak merupakan orang biasa lagi, lebih pantas disebut orang gila, atau setan, atau mayat hidup!

“Eh, eh, mengapa kau kembali lagi?” Ang Jit Tojin menegur dengan heran.

“Satu pertanyaan lagi, totiang. Mengapa mereka membunuh orang tuaku, pedagang-pedagang obat yang tak berdosa?”

“Pedagang obat tak berdosa? Ah, di mata serigala itu tidak ada pedagang ataupun berdosa atau tidak berdosa! Yang perlu baginya ialah orang yang dijadikan korban itu mencurigakan atau tidak. Mata serigala itu telah penuh dengan bayangan para patriot yang memberontak hingga baginya setiap orang dianggapnya pemberontak yang harus dibasmi. Suhumu telah masuk dafar hitam, dan ketika suhumu mengunjungi rumah ayah-ibumu, maka orang tuamu juga dimasukkan daftar hitam lalu dibasmi habis semua!”

“Cukup dan terima kasih, totiang!” Sekali lagi pemuda itu berkelebat dan menghilang keluar!

Ang Jit Tojin segera pergi ke belakang menemui Ciong-yang Ngo-taihiap. Setelah ceritakan hal Heng San yang lari dan mengancam hendak membuat banjir darah di gedung congtok, saudara tertua dari Ngo-taihiap itu berkata:

“Memang tiada jalan baginya untuk menebus dosa. Tapi kita harus dapat menggunakan ketika baik. Kesempatan ini tak boleh kita lewatkan. Sin Kun Bu Tek adalah seorang gagah yang kuat dan tinggi ilmu silatnya. Mari kita kejar dia dan bersama-sama gunakan kesempatan ini untuk menghancurkan pembesar anjing she Tio dan para kaki tangannya!”

Demikianlah, setelah mengadakan perundingan, mereka berenam lalu perintah beberapa orang anak murid yang ikut pula dengan rombongan mereka untuk menjaga dan merawat jenazah si pengemis dewa, lalu dengan cepat mereka menyusul Heng San.

Heng San lari secepatnya sambil di jalan tiada hentinya menyesali perbuatannya. Di dalam hatinya menyala api besar yang seakan-akan hendak membakar dirinya. Api kemarahan terhadap Thio congtok sekaki-tangannya. Ia tahu bahwa suhunya ketika mencari-carinya tentu datang ke rumah orang tuanya dan kebetulan sekali suhunya sedang dicari oleh kaki tangan serigala itu hingga orang tuanya juga menjadi korban!

Dan dia sudah membelanya mati-matian serta sudi menjadi kaki tangan pembesar keparat itu! Kegemasan hatinya membuat Heng San berlari lebih cepat lagi. Tiba-tiba ia teringat akan Liok tikwan, pembesar yang dulu ditolongnya dari tangan perampok dan yang memperkenalkannya kepada Thio congtok. Ah, tikwan itu juga seorang penjahat dan penghianat. Iapun harus dibasmi.

Pikiran ini membuat Heng San belokkan kakinya ke arah gedung tikwan. Sementara itu, matahari telah turun ke barat dan hari telah menjadi sore. Heng San loncat ke atas genteng gedung tikwan itu dan langsung turun ke ruang belakang. Ia melihat dua orang penjaga sedang bercakap-cakap.

Mereka kaget ketika melihat seorang pemuda tiba-tiba berdiri di situ. Tapi segera mereka kenal bahwa pemuda itu adalah pemimpin barisan garuda sakti yang telah terkenal, maka segera mereka menyongsongnya.

“Di mana Liok tikwan?” Heng San bertanya tanpa banyak cakap lagi.

“Di taman. Apakah congsu hendak bertemu dengan taijin?”

Tanpa menjawab, Heng San gerakkan kedua tangannya dan dua orang penjaga itu roboh pingsan, tak sempat keluarkan teriakan sama sekali! Heng San lalu lari ke belakang di mana ia dapatkan Liok tikwan sedang duduk dengan dua orang isterinya di dalam taman. Pembesar itu heran melihat Heng San memasuki taman tanpa memberitahu lebih dulu, tapi ia segera kenal kepada pemuda itu.

Tapi sebelum ia sempat menegur atau menyapa, Heng San telah loncat ke depannya dan sekali kakinya bergerak ke arah lambung, tikwan itu terlempar ke udara dan jatuh dengan tanpa nyawa pula! Kedua isterinya menjerit, tapi Heng San gunakan tangan kanan-kiri menangkap mereka dan lempar mereka ke dalam empang ikan yang berada di dekat situ hingga karena takut dan terkejut, kedua perempuan itu pingsan sebelum tenggelam ke dalam air!

Heng San melihat ke tubuh Liok tikwan dengan puas, lalu ia loncat keluar taman dan langsung lari ke gedung congtok! Ia masuk dari pintu depan dan yang menyambutnya pertama-tama ialah seorang anak buahnya sendiri.

“Eh, Lauw sicu, kau dari manakah? Thio ciangkun mencari-carimu sejak pagi tadi!”

“Antar aku padanya!” suara Heng San demikian aneh hingga kawannya itu memandangnya dengan heran, tapi ia segera bawa Heng San menghadap.

Thio congtok sedang duduk-duduk di dalam ruang tengah, dikawani Lui Tiong, Ban Hok, Auwyang Sin, dan Lui Im Hosiang yang sebenarnya adalah paman sendiri dari Lui Tiong. Heng San langsung menghampiri Thio congtok. Pembesar itu menerimanya dengan senyum ramah dan bertanya dengan manis: “Lauw sicu dari manakah kau? Kami mencari-carimu untuk diajak berunding.”

“Jawab dulu pertanyaanku. Benarkah kau suruh bunuh keluarga Lauw Cin di desa Lin-han-kwan?”

Thio congtok memandang heran, lalu menjawab dengan tenang karena belum timbul persangkaan jelek di hatinya: “Benar. Mereka adalah anggota pemberontak yang berbahaya.”

“Binatang keji! Serigala! Rasakan pembalasanku!” Dan tiba-tiba saja Heng San loncat menubruk dan gunakan pukulannya yang paling lihai!

Tapi sebelum kepalan tangannya tiba di dada congtok, dari samping Lui Im Hosiang loncat dan menangkis. Dua lengan tangan bertumbuk dan keduanya terpental mundur.

“Hm, aku harus bereskan dulu kepala gundul ini!” Heng San berkata perlahan lalu maju menyerang.

Lui Im Hosiang segera menyambutnya dan keduanya bertempur mati-matian. Ternyata Lui Im Hosiang berkepandaian sangat tinggi hingga ia dapat mengimbangi Heng San dengan baik. Lain-lain pahlawan tak tinggal diam, terutama Lui Tiong yang memang menaruh dendam kepada Heng San melihat pemuda itu menyerang congtok dan kini bertempur dengan pamannya, ia berseru:

“Bangsat rendah tak kenal budi! Sudah kusangka kau bukan manusia baik-baik! Hayo kawan-kawan, kurung dan tangkap padanya!”

Tapi pada saat itu dari luar berkelebat bayangan enam orang dan terdengar teriakan nyaring: “Penghianat-penghianat kecil, marilah terima binasa!” Yang datang itu bukan lain ialah Ang Jit Tojin dan kelima Ngo-taihiap!

Keadaan menjadi kacau dan kelima pendekar dari Ciong-yang itu segera menyerbu dan mengurung Lui Im Hosiang dengan ngi-heng-tin atau barisan lima elemen mereka! Ang Jit Tojin sudah bergebrak dengan Auwyang Sin dan kini Heng San yang sudah terlepas lalu serang Ban Hok dengan hebat. Biarpun dibantu oleh lima orang pahlawan lain, Ban Hok keluarkan keringat dingin ketika dua tangan Sin Kun Bu Tek seakan-akan merupakan malaikat elmaut yang mengancam dan mengejar-ngejarnya.

Akhirnya berhasil juga Heng San dengan amukannya karena dengan teriakan keras Ban Hok terlempar karena terpukul dadanya hingga beberapa tulang iganya patah. Sedangkan pahlawan-pahlawan lain dengan segera dapat disapu bersih oleh Heng San yang sudah mata gelap.

Tapi pada saat itu, lain-lain pahlawan, anak buah Lui Im Hosiang yang baru datang dari kotaraja, menyerbu masuk dan kini Heng San menghadapi orang-orang yang benar-benar berilmu silat tinggi hingga tak boleh dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan pembantunya dulu. Semua pahlawan yang mengeroyoknya itu bersenjata tajam dan mengurungnya dari segenap penjuru.

Karena telah menderita luka di dalam dada, sedangkan tubuhnya sudah mulai lemas karena terlalu banyak alirkan darah dan terlalu banyak keluarkan tenaga bertempur sehari itu, ditambah pula sejak pagi ia belum makan apa-apa, maka perlahan-lahan Heng San menjadi terdesak dan lelah. Beberapa ujung senjata tajam telah mampir di tubuhnya hingga kalau ia tidak memiliki ilmu kebal tentu ia telah hancur!

Tapi Heng San kertakkan gigi dan dengan nekat ia menyerang lagi dengan sekuat tenaga dibarengi seruan keras, hingga para lawannya menjadi terkejut dan tiga orang kena terpukul roboh! Melihat hasil serangannya, Heng San makin bernapsu dan bergerak makin kuat dan cepat. Kembali ia robohkan dua orang pahlawan yang ia pukul pecah kepalanya!

Benar-benar Sin Kun Bu Tek pegang teguh nama julukannya: Kepalan Dewa Tanpa Tandingan! Memang ia membuat para pahlawan yang mengurungnya merasa seram dan ngeri melihat sepak terjang seorang pemuda yang dengan tangan kosong dapat melawan bahkan menjatuhka lima orang pahlawan dalam pengeroyokan yang dilakukan oleh belasan pahlawan pilihan itu!

Sementara itu, Ngo-taihiap yang mengurung Lui Im Hosiang telah berhasil menjepit pendeta sesat itu hingga pada kesempatan terakhir lima batang pedang dengan berbareng bersarang ke dalam tubuhnya yang berbulu seperti kera itu. Lui Im Hosiang memekik seram dan tewas di saat itu juga. Setelah berhasil robohkan hwesio kosen itu, Ngo-taihiap lalu serbu lain-lain pahlawan yang masih mengeroyok Heng San.

Mendapat bantuan ini, Heng San lalu tinggalkan pahlawan-pahlawan itu yang kini bertempur melawan kelima pendekar dari Ciong-yang. Melihat betapa Ang Jit Tojin masih belum berhasil mengalahkan Lui Tiong yang membela diri mati-matian, Heng San berteriak keras dan sebuah serangannya dilancarkan dengan hebat ke lambung si harimau muka kuning.

Lui Tiong berkelit, tapi pada saat itu kebutan lengan baju Ang Jit Tojin telah mengenai mukanya hingga ia terhuyung-huyung ke belakang. Saat itu digunakan oleh Heng San untuk ayun kepalannya dan dengan keluarkan suara keras, pecahlah kepala Lui Tiong tertumbuk kepalan maut Heng San!

Terdengar suara ketawa yang seram bagaikan suara ketawa setan, dan Ang Jit Tojin sendiri merasa bulu tengkuknya berdiri melihat betapa Heng San dengan tubuh penuh darah, juga kedua kepalannya menjadi merah karena darah lawan-lawannya yang telah dibunuhnya, berjalan perlahan sambil menyeringai menghampiri Thio congtok.

Sebagai seorang komandan atau panglima perang, Thio congtok juga berhati jantan dan ia berdiri di situ dengan golok di tangan menyaksikan bagaimana para pahlawannya tewas seorang demi seorang! Congtok itu menghela napas melihat kegagahan-kegagahan luar biasa itu dan ia merasa bahwa saat matinya telah tiba. Tapi ia hendak mati sebagai seorang panglima, yakni dengan golok di tangan.

Maka ketika Heng San menghampirinya dengan sikap yang menyeramkan, ia menanti dengan tenang, goloknya siap di tangannya. Tiba-tiba Heng San menjerit keras dan maju menyerang. Ternyata Thio congtok bukannya seorang lemah. Ilmu silatnya juga cukup tinggi hingga ia dapat berkelit dan balas menyerang hebat! Pada saat itu tenaga Heng San sudah hampir habis. Yang menggerakkan tubuhnya hanya kenekatan dan hawa marah yang besar didorong oleh sakit hati yang hebat.

Sementara itu, ketika Heng San tengah bergulat mati-matian melawan Thio congtok, kelima pendekar dari Ciong-yang telah berhasil membasmi habis semua pahlawan dan kini mereka berlima, bersama-sama Ang Jit Tojin, berdiri menonton pertempuran hebat antara Thio congtok melawan Heng San. Ngo-taihiap hendak turun tangan, tapi dicegah oleh Ang Jit Tojin.

“Biarkan dia sendiri membalas dendam!” kata pertapa itu.

Karena sudah letih sekali, dan merasa bahwa dengan cara biasa ia sukar dapat merobohkan Thio congtok yang ternyata kosen juga, Heng San lalu gunakan gerakan nekat. Gerakan ini ialah pukulan Kong-ciak-kay-peng atau Burung Merak Buka Sayap. Ia menubruk dengan kedua tangan terpentang dan menyerang dari kanan-kiri hingga tak memungkinkan lawannya berkelit.

Thio congtok melihat kesempatan ini segera tusukkan goloknya yang menancap ke dada Heng San, tapi kedua tangan Heng San juga berhasil mencengkeram lehernya! Kedua tubuh mereka roboh dengan Heng San berada di atas! Begitu roboh, keduanya diam tak bergerak lagi.

Ang Jit Tojin dan kawan-kawannya menghampiri dan ternyata kedua orang itu telah tewas. Golok Thio congtok masih tertancap di dada Heng San, sedangkan kedua tangan Heng San mencengkeram leher lawannya sampai tulang-tulang lehernya patah dan biarpun sudah mati, tetap saja tangan Heng San tidak dapat dilepaskan dari leher itu!

Ang Jit Tojin dan kelima pendekar dari Ciong-yang tundukkan kepala dan tindas rasa haru yang menindih hati mereka. Kemudian mereka mencari Ma Giok yang mereka ketemukan terbelenggu di sebuah kamar tahanan. Mereka lalu bebaskan kawan ini dan nyalakan api bakar gedung yang penuh mayat itu!

Setelah lakukan ini dan menengok ke arah mayat Heng San yang masih mencengkeram Thio congtok dalam keadaan yang menyeramkan, para patriot ini tinggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjuangan mereka di tempat lain.

Nama Sin Kun Bu Tek sampai lama masih saja menjadi kembang bibir banyak orang, baik di pihak pembesar-pembesar dan kaki tangannya, ataupun di pihak para pahlawan bangsa!

TAMAT

Pilih jilid,