Pedang Sinar Emas Jilid 07

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Pedang Sinar Emas Jilid 07
Sonny Ogawa

Pedang Sinar Emas Jilid 07 Karya Kho Ping Hoo - LEBIH celaka lagi bagi Lan Giok karena jeritan Ngo jiauw-eng dan teriakan Bucuci tadi telah terdengar oleh para penjaga dan tak lama kemudian tempat itu telah dikurung oleh para penjaga, bahkan beberapa orang siwi (pengawal kaisar) yang dipimpin oleh Ang Seng Tong komandan Gi-lim-kun telah maju mengeroyok Lan Giok!

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Sekarang keadaan gadis kecil itu benar-benar terancam bahaya maut, karena tidak seperti Sian Hwa, yang lain-lain melakukan serangan tidak hanya dengan maksud menangkap hidup hidup, melainkan dengan maksud membunuh. Dan pada saat itulah tiga bayangan dari Yap Bouw, Bun Sam dan Thian Giok melayang melewati tembok yang mengelilingi taman itu.

“Lan Giok....!” seru Bun Sam dan Thian Giok hampir serempak.

Akan tetapi kedua orang pemuda ini sudah kalah cepat oleh Yap Bouw yang tanpa mengeluarkan suara apa apa segera menyerbu ke dalam pertempuran itu. Begitu tubuh Yap Bouw terjun, terdengar seruan seruan kesakitan dan teriakan teriakan kaget. Yang berseru kesakitan adalah dua orang siwi yang sekali gerak telah terpegang oleh Yap Bouw dan dilontarkan membentur tembok taman.

Adapun seruan seruan kaget itu adalah ketika mereka melihat wajah Yap Bouw yang mengerikan, keadaan menjadi kacau balau, teutama setelah Bun Sam dan Thian Giok ikut terjun ke dalam pertempuran. Tentu saja sekalian siwi itu biarpun di situ ada Bucuci dan Ang Seng Tong merupakan lawan lawan yang empuk bagi Yap Bouw dan dua orang pemuda gagah itu, maka sebentar saja kepungan Lan Giok menjadi longgar.

“Engko Giok.... dan kau.... kau.... Bun Sam….!” seru Lan Giok dengan girang sekali sambil memukul roboh seorang pengeroyok.

Adapun Bun Sam ketika melihat Sian Hwa ikut di antara para pengeroyok, hatinya terasa perih dan kembali ia merasakan kekecewaan yang amat besar. Sedangkan Sian Hwa sendiri ketika melihat Bun Sam, lalu maju menerjang dengan pedangnya.

“Hem, jadi kau adalah kawanan pemuda yang mengacau kota raja? Alangkah besar nyalimu.” Pedangnya bergerak cepat sekali dan sebentar saja Bun Sam sudah harus mengerahkan ginkangnya untuk mengelak dari sambaran sambaran pedang si nona baju merah.

“Bun Sam, jangan kau sakiti dia!” seru Lan Giok. “Dialah satu satunya orang baik diantara semua pengeroyok ini.

Mendengar seruan ini, makin sukalah Sian Hwa terhadap Lan Giok, akan tetapi iapun diam diam merasa khawatir kalau kalau ayah tirinya mengerti akan maksud ucapan Lan Giok. Memang tadi ia tidak mengerahkan tenaga dan kepandaiannya ketika mengeroyok Lan Giok dan sengaja ia memberi kelonggaran kepada gadis kecil itu. Akan tetapi tak seorangpun memperhatikan seruan Lan Giok tadi karena semua sedang sibuk dan bingung sekali menghadapi amukan Yap Bouw dan Thian Giok berdua adik kembarnya.

Keadaan berobah sama sekali karena kini fihak Bucuci dan kawan kawannya yang mengalami tekanan hebat. Banyak orang sudah terlempar dan terluka dirobohkan oleh para penyerbu dari luar ini. Pertempuran yang nampak seru dan seimbang ini hanyalah yang terjadi antara Sian Hwa dan Bun Sam, akan tetapi baik Sian Hwa maupun Bun Sam dapat melihat bahwa lawan masing masing tidak sesungguhnya ingin merobohkan lawan.

Memang hati Sian Hwa svdah menjadi tawar karena ia masih terpengaruh oleh pengakuan Ngo jiauw-eng yang katanya membunuh ayahnya dan juga terpengaruh oleh perbuatan ayah tirinya yang membunuh Ngo jiauw eng pada saat orang itu mengadakan pengakuannya. Apalagi sekarang ia menghadapi Bun Sam, pemuda yang sopan santun dan yang telah menimbulkan rasa kagum dalam hatinya.

Sebaliknya, Bun Sam tentu saja tidak sanggup untuk menghadapi gadis yang menarik hatinya itu dengan sungguh sungguh, ia hanya mengelak dan menangkis semua serangan ini. Sian Hwa dan diam diam ia merasa kagum karena ilmu pedang gadis itu benar benar tinggi.

Baik tenaga lweekang maupun ginkang ternyata bahwa gadis baju merah ini tidak kalah banyak olehnya sendiri. Ia melihat bahwa biarpun fihak lawan sudah banyak yang rubuh, namun kepungan makin lama makin rapat dan taman bunga itu telah terkurung oleh barisan siwi yang bersenjata lengkap.

“Suheng, Thian Giok dan Lan Giok, mari kita lari saja!” teriak Bun Sam yang merasa khawatir juga.

Yap Bouw agaknya menyetujui ajakan sutenya ini, karena tiba tiba ia menangkap tangan Lan Giok dan diajaknya gadis ini melompat ke arah tembok. Beberapa orang siwi menyerbu untuk mencegah mereka melompat ke atas tembok, akan tetapi dengan beberapa gerakan saja, Yap Bouw dan Lan Giok telah merobohkan empat orang, sehingga yang lain lain menjadi sangsi.

Akan tetapi, pada saat itu terdengar bentakan keras sekali dan tahu tahu Yap Bouw dan Lan Giok terbanting keras tanah oleh dorongan angin pukulan yang hebat luar biasa. Dari atas tembok turun tubuh seorang tinggi besar yang memiliki gerakan lambat, namun ketika ia menurunkan ke dua kakinya di atas tanah, Bun Sam sendiri merasa tanah yang diinjaknya tergetar.

Inilah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan atau Jenderal Liem yang datang diikuti puteranya, yakni Liem Swee. Otomatis orang yang mengeroyok, termasuk Sian Hwa, menghentikan gerakannya dan semua orang berdiri dengan hormat memandang kepada jenderal yang lihai itu.

Yap Bouw dan Lan Giok cepat bangun dan mereka ternyata tidak terluka, hanya roboh saja karena tidak dapat menahan dorongan angin pukulan yang luar biasa tadi. Sementara itu Pat-jiu Giam-ong memandang dengan tajam sekali. Ditatapnya Yap Bouw dengan sepasang matanya yang bundar, dari muka sampai ke kaki.

Tiba-tiba ia tertawa terkekeh kekeh, suara ketawanya nyaring dan besar sekali, membuat daun daun pohon kembang di taman itu tergetar. “Ah, sudah kuduga. Tentu kau yang berdiri di belakang semua ini. Yap goanswe (Jenderal Yap). Ketika aku mendengar betapa kau ditolong oleh suheng dan belum mati, aku merasa yakin bahwa tentu sewaktu waktu kau akan muncul dan menuntut balas. Benar saja, sekarang kau datang membawa anak anak kecil ini? He, jenderal yang sudah roboh, setelah kau gagal memimpin pasukan apakah sekarang kau hendak memimpin anak anak kecil ini? Ha, h, ha!”

Berkali-kali Yap Bouw menggoncangkan tangannya mencegah Pat-jiu Giom-ong bicara, akan tetapi terlambat semua ucapan itu telah terdengar jelas oleh Thian Giok dan Lan Giok. Kedua anak ini memandang ke arah Yap Bouw dengan mata terbelalak dan mulut celangap dan wajah pucat, kemudian hampir serempak mereka menubruk kedua kaki Yap bouw sambil menangis. “Ayah....!”

Yap Bouw terpaksa tak dapat menyimpan rahasianya lagi yang sudah dibuka oleh Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, maka iapun lalu berlutut dan memeluk kedua orang anaknya. Untuk beberapa lama tak terdengar suara sedikitpun juga diantara orang orang yang menyaksikan pertemuan mengharukan ini, akan tetapi Pat-jiu Giam-ong segera merasa hilang sabar. Ia berkata dengan suaranya yang menggelegar.

“Yap goanswe, sebagai orang yang pernah menduduki pucuk pimpinan balatentara, aku dapat memaafkan kau dan takkan mengganggumu. Akan tetapi, terpaksa aku harus menahan puterimu yang telah membunuh Ngo jiauw-eng dan juga menahan anak muda ini yang telah membunuh Toa-to Hek-mo!” ia menunjuk ke arah Bun Sam.

Mendengar tuduhan ini, Thian Giok melompat berdiri. “Bukan dia, melainkan akulah yang telah membunuh Toa-to Hek-mo!” katanya dengan berani sambil menentang pandangan mataPat-jiu Giam-ong.

Akan tetapi, tentu saja Yap Bouw tidak merelakan kedua anaknya hendak ditawan, maka dengan sepasang mata bersinar sinar ia menentang pandang mata Pat-jiu Giam-ong dan berdirilah ia perlahan perlahan bagaikan seekor naga bangkit hendak melawan musuh. Dengan gerak jari tangan yang hanya dimengerti oleh Bun Sam, ia berkata kepada Pat jiu Giam-ong bahwa untuk melindungi kedua anaknya ia rela mati di tangan Pat-jiu Giam-ong!

Melihat ini, Bun Sam lalu melangkah dan berkata. “Pat-jiu Giam-ong Liem locianpwe! Kami telah mendengar namamu yang besar sebagai seorang tokoh yang menduduki kedudukan cianpwe, maka patutkah kalau locianpwe hendak menangkap dua orang muda seperti putera puteri suhengku ini? Kalau benar benar locianpwe hendak menawan mereka terpaksa kami berempat akan mengadu nyawa, kalau sampai kami binasa di tanganmu, guruku Kim Kong Taisu dan guru kedua anak kembar ini, yaitu Mo bin Sin kun tentu akan mencarimu dan minta pertanggungan jawabmu!”

Mendengar disebutnya nama Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun, benar saja Pat-jiu Giam-ong agak tergerak hatinya. Akan tetapi sambil tersenyum ia berkata. “Bocah berlidah lemas, kau kira aku takut untuk membela keadilan? Siapa yang membunuh harus dihukum, siapa bilang aku akan berlaku sewenang wenang?” Sambil berkata demikian, ia mengulur kedua tangannya ke arah Thian Giok dan Lan Giok.

Yap Bouw melompat maju dan mengirim pukulan ke arah dada Pat-jiu Giam-ong akan tetapi entah bagaimana, tahu tahu Yap Bouw terlempar ke belakang bagaikan didorong dengan kuat sekali! Pat jiu Giam ong tertawa dan melanjutkan niatnya menangkap Thian Giok dan Lan Giok.

“Tunggu dulu, Liem locianpwe!” kembali Bun Sam berseru keras. “Kau bilang bahwa yang membunuh harus dihukum. Ngo jiauw-eng dan Toa-to Hek-mo adalah bekas bekas pemimpin Ang bi tin, entah berapa banyak nyawa yang tewas di dalam tangan mereka. Apakah mereka yang telah membunuh banyak orang itu tidak pantas sekarang menerima hukuman mati pula? Seorang kuncu (budiman) akan berpikir lebih dulu dengan masak sebelum bertindak dengan lancang!”

Kembali Pat-jiu Giam-ong tertegun mendengar ini, lalu memandang dengan tajam kepada Bun Sam, “Anak... kalau sekiranya kau bukan selancang itu, aku senang sekali kepadamu. Sekarang aku adalah seorang Jenderal dan dua orang anak ini adalah pembunuh pembunuh perwira. Aku hendak menangkapnya dan hendak kulihat siapa yang berani menghalangiku!”

“Maaf Liem locianpwe, akulah yang akan menghalangimu!” seru Bun Sam dengan amat berani dan ketika jenderal itu kembali mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap Thian Giok dan Lan Giok Bun Sam melompat ke depan dan menyerangnya dengan pukulan Thai-lek Kim kong-jiu yang bebat!

Pukulan ini ditujukan ke arah jalan darah di pangkal kedua lengan, yakni di dekat pundak. Biarpun yang menyerangnya hanya seorang pemuda tanggung, akan tetapi Pat-jiu Giam-ong maklum akan kelihaian pukulan ini yang dikenalnya sebagai pukulan dari Kim Kong Taisu. Maka ia tidak berani memandang ringan pukulan ini dan cepat menggerakkan tubuhnya yang menjadi miring dan cepat bagaikan kilat ia mengulurkan tangan kanannya yang panjang dan kuat untuk menangkap tangan kiri Bun Sam.

Gerakan tangkapan ini sama sekali tak terduga datangnya dan hampir saja pergelangan tangan Bun Sam tertangkap. Akan tetapi Bun Sam cepat menarik kembali tangannya dan sambil menggulingkan, tubuhnya, ia melepaskan diri dan tangkapan, bahkan langsung ia melompat mengirim tendangan dari bawah yang menjadi bagian dari ilmu Silat Liok-te ciang-hwat, (Ilmu Silat Bawah Tanah) yang mengutamakan tendangan beruntun yang disebut Siauw cu-wi.

Kembali Pat jiu Gjam ong tidak berani berlaku sembrono karena tendangan yang ditujukan ke arah tubuh bagian bawah ini tak kalah berbahayanya dengan pukulan pertama tadi. Diam diam kaget juga melihat lihainya pemuda yang masih baru dewasa ini dan tahulah dia bahwa kepandaian kedua muridnya, yakni Sian Hwa dan puteranya sendiri Liem Swee, masih kalah setingkat kalau dibandingkan deagan pemuda murid Kim Kong Taisu ini! Aku harus merobohkan dia dulu secepatnya baru menangkap yang dua itu, pikirnya.

Setelah berpikir demikian, ia lalu mengangkat tangannya dan menangkis tendangan itu dengan mengerahkan tenaganya, hendak menindih kaki Bun Sam di bawah telapak tangannya. Akan tetapi Bun Sam adalah seorang anak yang cerdik ia tahu bahwa tenaga lweekangnya masih kalah jauh oleh tokoh besar ini, maka tentu saja ia tidak sudi kakinya digempur dan cepat menariknya kembali.

Pada saat itu, Pat-jiu Giam-ong sudah menyerangnya dengan menggerakkan kedua tangannya sedemikian rupa, sehingga kedua tangan itu nampaknya berobah menjadi delapan! Inilah keistimewaannya, sehingga ia mendapat julukan Pat-jiu Giam-ong (Raja Maut Tangan Delapan)!

Bun Sam pernah mendengar dari suhunya bahwa Pat-jiu Giam-ong istimewa sekali dengan ilmu silatnya yang disebut Pat kwa-bi jiang-hwat yang mengutamakan kecepatan gerak tangan, sehingga lawan menjadi bingung dan kabur pandangan matanya. Maka ia lalu berseru keras,

“Lan Giok dan Thian Giok, lekas kalian lari!” Sambil berkata demikian ia lalu menghadapi Pat kwa-bi ciang-hwat yang lihai itu dengan pukulan pukulan Thai-lek Kim kong-jiu dan Soan hong-pek lek-jiu ganti berganti!

Akan tetapi, mana kedua saudara Yap itu sudi meninggalkan tempat itu hanya untuk menyelamatkan diri sendiri? Bahkan mereka seakan akan menerima komando dan serentak mereka maju menerjang Pat jiu Giam ong yang kini dikeroyok tiga oleh Bun Sam, Thian Giak dan Lan Giok! Akan tetapi, tiga orang muda ini tentu saja masih belum dapat melawan Patjiu Giam-ong yang menjadi seorang diantara tokoh besar dunia persilatan, seorang berilmu tinggi yang tingkat kepandaiannya sudah sejajar dengan guru guru anak anak ini!

Dengan Pat kwa bi ciang hwat yang di lakukan dengan pengerahan tenaga dan kepandaian sepenuhnya, akhirnya ia berhasil mendorong Bun Sam sampai roboh terguling guling beberapa tombak jauhnya dan sebelum mereka mengetahui bagaimana gerakan lawan tinggi besar ini, Thian Giok dan Lan Giok tahu tahu telah dapat dipegang pergelangan lengannya dan ketika keduanya berusaha memberontak, tekanan pada pergelangan tandan mereka mengeras dan mereka merasa lumpuh sama sekali!

Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan yang seperti petir menyambar cepatnya dan Pat-jiu Giam-oag merasa betapa tengkuknya diserang dengan hebat tekali dari atas! Ia terpaksa melepaskan pegangannya pada tangan kedua anak kembar itu dan cepat mengangkat tangan menangkis pukulan yang hebat dan yang belum diketahui betul dari siapa datangnya ini.

“Duk....!” Dua pasang tenaga yang saling beradu dan Pat-jiu Giam-ong terhuyung mundur sampai lima tindak! Ketika ia memandang, tetapi yang menyerangnya adalah seorang yang berwajah seperti setan dan yang sekali betot saja telah membawa Lan Giok dan Thian Giok melompat ke atas genteng.

“Mo-bin Sin-kun....!” bentak Pat-jiu Giam-ong marah. Tadi ia sampai terhuyung lima tindak bukan karena ia kalah kuat oleh Mo bin Sin kun, melainkan karena tadinya ia tidak tahu siapa yang menyerangnya, maka agak memandang rendah dan ketika menangkis tidak mempergunakan seluruh tenaganya, sehingga ia sampai terpental dan terhuyung mundur.

“Pat-jiu Giam-oag, kematian orang orangmu akulah yang menyuruh murid muridku. Kalau kau penasaran, kau boleh mencari aku ke puncak Sian hwa-san!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, Mo bin Sin kun lenyap dari pandangan mata.

“Mo bin Sin kun, orang sombong! Tunggu tiga tahun lagi pasti kita akan bertemu!” Pat-jiu Giam-ong mengerahkan tenaga khikang dan menyusul dengan suaranya yang keras dan tawar. Akan tetapi tidak ada jawaban.

Sementara itu, Bun Sam lalu memimpin tangan suhengnya dan sebelum ia menjura kepada Pat jiu Giam ong sambil berkata. “Aku yang muda sudah menerima pelajaran dari Liem locianpwe, banyak terima kasih!”

Pat-jiu Giam-ong memandang dangan geram. Pada saat itu, Bucuci melompat dan menyerang Bun Sam sambil berseru. “Anak setan, jangan mengharap akan dapat pergi dan sini!”

Bun Sam terkejut dan cepat mengelak, ia bersiap sedia untuk melawan jika dikeroyok dan juga Yap Bouw bersiap untuk bertempur mati matian. Akan tetapi terdengar bentakan dari Liem goanswe dan semua orang menahan serangannya.

“Melihat muka gurumu kau boleh pergi dari sini!” katanya kepada Bun Sam, kemudian kepada Yap Bouw ia berkata pula. ”Dan kau Jenderal Yap, biarlah kali ini kau pergi dari sini. Akan tetapi lain kali kalau kita bertemu, aku takkan dapat melepaskan engkau lagi, harus kutangkap untuk dihadapkan kepada hongsiang (kaisar).”

Bun Sam menjura lagi dan menarik tangan Yap Bouw yang mendelikkan matanya kepada Pat-jiu Giam-ong. Keduanya lalu pergi dari situ dan kembal ke dalam kuil. “Suheng, sekarang tak dapat tidak kau harus pergi ke Sian hwa-san menyusul isteri dan anak anakmu.”

Yap Bouw menggelenggelengkan kepalanya dengan tegas.

“Suheng, Lan Giok dan Thian Giok sudah mengetahui bahwa kau adalah ayah mereka dan apakah kau kira mereka tidak akan menceritakan hal ini kepada ibunya? Kalau mereka sudah tahu bahwa kau masih hidup, akan tetapi tidak mau menjumpai mereka, bukankah hal ini akan menghancurkan perasaan mereka?”

Yap Bouw mengerutkan kening dan ia berpikir pikir dengan keras. Akhirnya ia harus menyetujui pendapat sutenya ini, maka ia memberitahukan dengan gerak jari tangan bahwa ia akan mencoba, mendapatkan harta pusaka itu, baru kemudian ia akan menyusul anak isterinya di puncak Sian hwa san. Mereka lalu berunding dan menetapkan untuk memasuki taman gedung Panglima Bucuci dua hari lagi setelah keadaan menjadi aman. Karena mereka tidak dimusuhi oleh Pat jiu Giam ong, maka mereka boleh merasa aman tinggal di kota raja.

* * *

“Ibu, katakan saja terus terang, bagaimanakah ayahku meninggal dunia dan siapa pembunuhnya?” berulang ulang pertanyaan ini diajukan oleh Sian Hwa kepada Tan Kui Eng, isteri dari Panglima Bucuci.

“Sian Hwa, mengapa kau ingin membongkar dan menggali perkara yang sudah lalu? Apakah kau tak merasa puas hidup di dalam rumah ini? Kurang bagaimanakah ibu dan ayahmu mencintaimu? Kian Hwa, pertanyaanmu itu menghancurkan hatiku. Kalau kau memang berbakti kepada ibumu, jangan kau menanyakan hal itu, nak!”

“Ibu, mengapa kau berkata demikian? Aku tahu bahwa ayahku telah meninggal dunia, akan tetapi karena ibu pernah menyatakan bahwa nyata dahulu adalah seorang perwira, maka bukankah sudah menjadi hakku untuk mengetahui siapa dia dan di mana makamnya? Ibu, kalau ibu tidak memberitahukan hal ini, selamanya aku akan merasa sengsara dan berduka.”

Kui Eng memeluk puterinya yang menangis sambil merebahkan kepala di pangkuan ibunya. “Sian Hwa, kau benar benar keras hati, seperti ayahmu dahulu. Ketahuilah bahwa ayahmu dahulu adalah seorang perwira, she Kui, seorang perwira gagah berani yang gugur dalam pertempuran ketika terjadi perang. Kemudian setelah pemerintah yang sekarang berdiri, ayah tirimu yang sekarang mengambil ibumu sebagai isteri. Nah, soal yang begitu saja mengapa harus dipikirkan?”

Akan tetapi diam diam Sian Hwa dapat menduga bahwa ibunya telah membobong. Ia tidak percaya kalau ayahnya gugur dalam pertempuran biasa. Bukankah Ngo jiau-eng sudah mengaku bahwa Ngo jiauw-eng Lui Hai Siong yang membunuh ayahnya? Dan mengapa pula ayah tirinya membunuh Ngo jiauw-eng ketika mendengar orang mengucapkan pengakuannya?

“Ibu, apakah sejak dahulu Ngo jiauw-eng Lui Hai Siong membantu ayah dalam barisan Ang bi tin?”

Mendengar disebutnya Ang bi tin, ibunya nampak terkejut, akan tetapi ia lalu mengangguk.

“Apakah semenjak dahulu Ngo jiauw-eng berkedudukan di Tong seng-kwan?” Kembali ibunya mengangguk. Sian Hwa tidak melanjutkan pembicaraan itu, di dalam hatinya mengambil keputusan yang kalau diutarakan kepada ibunya mungkin akan membuat nyonya itu menjadi terkejut sekali.

Ayah tirinya sedang menerima tamu yang aneh, yakni lima orang yang kelihatannya tidak menyenangkan. Kemudian Sian Hwa mendengar bahwa mereka itu adalah Sin-beng Ngo-hiap dan bahwa yang tertua diantara mereka, yakni Bouw Ek Tosu adalah guru dari Ngo jiauw-eng Lui Hai Siong. Maka tertariklah hati gadis ini dan diam diam ia mengintai dari balik pintu ketika ayah tirinya sedang barcakap caka p dengan lima orang itu. Ia melihat Bouw Ek Tosu dalam keadaan marah benar.

“Kurang ajar sekali Mo bin Sin kun! Dahulu dia telah menghina kami dan sekarang bahkan berani membunuh murid kami. Tentu saja kami takkan tinggal diam dan kami akan mengejarnya ke Sian hwa-san. Kematian muridku harus dibelas!” Ucapan ini terdengar gagah berani, akan tetapi tentu Sian Hwa dan juga Bucuci tidak tahu bahwa lima orang ini pernah dihajar jatuh bangun oleh Mo bin Sin kun di dalam sebuah restoran.

Bucuci lalu menceritakan tentang kedatangan kedua orang murid Mo bin Sin kun yang ketika hendak diungkap oleh Pat jiu Giam ong, ditolong pula oleh Mo bin Sin kun. Juga ia menceritakan betapa Mo bin Sin kun telah berjanji hendak mengadu kepandaian tiga tahun kemudian di puncak Gunung Kembang Dewa.

“Kalau begitu, kami takkan mendahului Liem goanwse,” kata Bouw Ek Tosu. “Dan sekarang kami hendak menyampaikan berita yang tentu akan membuat ciangkun merasa heran, tetapi juga girang.”

“Berita apakah itu, totiang?” tanya Bucuci.

“Akan tetapi sebelumnya harap ciangkun suka berjanji bahwa hasil daripada berita ini akan dibagi rata dan ciangkun berhak mengambil seperenam bagian bagaimana?” tanya Si Pacul Kilat Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng Ngo hiap yang terkenal cerdik.

“Berita apakah itu yang menghasilkan? Dan apa pula hasilnya?” Bucuci bertanya dengan tertarik sambil mengerutkan kening.

Bouw Ek Tosu tertawa. “Bucuci ciangkun, pendeknya pinto dapat memastikan bahwa hasil dari perkara ini, biarpun hanya seperenam bagianmu, cukup untuk membuat ciangkun mendapatkan harta benda yang amat besar harganya. Pendeknya kau tinggal berjanji saja, ciangkun dan kami akan memberitahukan kepadamu.”

Bucuci makin tertarik. Siapa orangnya yang tidak mau mendapat untung, apalagi kalau hanya dengan mendengar pemberitahuan orang lain belaka? Ia lalu berjanji bahwa dia akan suka menerima seperenam bagian dan akan membantu usaha lima orang tamunya itu.

“Rahasia ini adalah tentang adanya harta terpendam yang tak ternilai besarnya, ciangkun. Dan harta terpendam itu berada di tempat ini.”

“Di sini?”

“Ya, di rumah ini, karena harta itu dahulu adalah simpanan dari Jenderal Yap Bouw yang dahulu tinggal di sini. Tempatnya adalah di taman bunga di belakang gedungmu ini.”

Maka teringatlah Bucuci akan kunjungan pemuda yang ternyata adalah sute dari Yap Bouw itu. Kemudian beramai ramai, enam orang ini lalu membawa cangkul dan atas petunjuk Bouw Ek Tosu, mereka menggali tanah di bawah pohon yang liu dan mengeluarkan tiga peti yang penuh dengan harta benda berupa emas dan permata! Itulah harta pusaka yang dahulu disimpan oleh Yap Bouw.

Bagaimana Sin beng Ngo hiap dapat mengetahui akan hal ini? Memang Sin-beng Ngo-hiap dahulu mempunyai banyak sekali hubungan dengan orang orang dari golongan hek-to dan akhirnya dengan cara kebetulan ia dapat mendengar tentang rahasia ini dari seorang bekas pelayan Jenderal Yap Bouw yang mengetahui penyimpanan harta pusaka itu oleh Yap Bouw.

Sian Hwa yang melihat ini samua diam diam merasa kasihan kepada bekas jenderal yang bernama Yap Bauw itu. Ia tidak tahu mengapa bekas jenderal itu memiliki wajah yang demikian menyeramkan seperti setan. Akan tetapi wajah sutenya membuat hatinya selalu berdebar apabila ia teringat kepadanya. Bun Sam, sungguh pemuda yang tampan dan gagah, juga amat berani, ia merasa kagum sekali kalau mengingat betapa untuk membela kawan kawannya, Bun Sam bahkan berani menghadapi Pat-jiu Giam-ong gurunya!

Ketika ayahnya membagi bagi harta pusaka itu dengan Sin beng Ngo hiap, ia mendengar bahwa Sin beng Ngo hiap hendak menjual benda benda berhanga itu ke kota Kaifeng di mana terdapat banyak sekali pedagang bangsa asing dari dunia barat, yang berani membeli mahal beada benda berharga semacam itu.

Sejak peristiwa pembunuhan Ngo jiauw-eng, seringkali Sian Hwa nampak termenung dan berduka. Dua malam berikutnya ia duduk di dalam kamarnya, sama sekali tak dapat tidur biarpun waktu telah menjelang tengah malam. Ia merasa amat gelisah dan tak tentu pikiran. Di hadapan ibunya dua hari yang lalu ia telah mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan mendiang ayahnya di kota Tong seng-kwan.

Ia hendak menyelidiki keadaan Ngo jiauw eng ketika masih menjadi pemimpin Ang bi tin. Siapa tahu kalau kalau diantara keluarga atau kawan kawan Ngo jiauw eng ada yang mengetahui tentang rahasia pembunuhan ayahnya yang telah diakui oleh Ngo jiauw eng sendiri.

Malam itu hawa amat panas maka makin gelisahlah Sian Hwa. Ingin sekali ia pergi ke Tong seng kwan untuk melakukan penyelidikannya, akan tetapi ia takut kalau kalau ia akan menimbulkan kecurigaan di hati ayahnya. Besi kecil lonjoag dari bagian kerincingan ayahnya yang sesungguhnya merupakan perenggut nyawa Ngo jiauw-eng, masih disimpannya. Benda itulah yang menjadikan ia penasaran dan hendak membongkar semua rahasia ini.

Sudah terang bahwa Ngo jiauw eng membunuh ayahnya dan agaknya ayah tirinya tidak suka kalau hal ini diketahui olehnya. Mengapa Ngo jiauw eng membunuh ayahnya dan bagaimana? Dan mengapa Bucuci yang menjadi ayah tirinya itu agaknya mempunyai hubungan dengan peristiwa ini? Dan ibunya... mengapa pula ibunya sampai menjadi isteri Panglima Bucuci dan agaknya ibunya tidak suku pula bercerita tentang ayahnya?

Semua pertanyaan ini mengaduk pikiran Sian Hwa, membuatnya tergolak golek di atas pembaringannya di dalam kamarnya yang telah gelap itu. Akhirnya ia tidak dapat menahan kegerahannya dan sekali melompat ia telah berada di dekat jendela kamarnya dan tiba tiba dibukanya daun jendela kamarnya itu agar angin dapat masuk ke dalam kamar.

Kamar gadis ini berada di bagian paling belakang gedung, karena ini memang kehendak gadis itu sendiri, ia menghendaki kamar yang langsung berada di pinggir taman bunga agar ia mudah menikmati taman bunga itu, pula kalau ingin melatih silat, hanya tinggal keluar saja dari kamarnya. Ketika ia membuka daun jendela, cahaya bulan memasuki jendelanya, diikuti oleh silirnya angin malam yang nyaman.

Tiba tiba Sian Hwa menahan nafas dan urat urat tubuhnya menegang, ia melihat bayangan yang cepat sekali melompat ke dalam taman. Cepat gadis itu lalu menyambar pedangnya yang diletakkan di dekat pembaringan, lalu dengan amat hati hati ia melompat keluar dari jendela dan menuju ke bagian taman dimana ia lihat bayangan tadi berkelebat. Karena ia yang menjadi pemilik taman dan setiap hari bermain di tempat ini, maka ia sudah hafal sekali akan keadaan di situ dan dapat menghampiri tempat itu tanpa menerbitkan suara.

Setelah dekat, ia mengintai dari balik rumpun pohon bunga dan bukan main heran dan kagetnya ketika ia melihat bahwa yang berada di bawah pohon Yang-liu adalah dua orang dan bukan lain ialah Bun Sam dan Yap Bouw! Akan tetapi, ia segera ingat akan harta pusaka yang dibongkar oleh ayahnya dan Sin beng Ngo hiap, maka tahulah ia bahwa bekas jenderal ini datang tentu hendak mencari harta simpanannya!

“Ji-wi (tuan berdua) datang di taman orang mau apakah?” Ia menegur sambil melompat keluar dari tempat sembunyinya.

Bukan main kagetnya Yap Bauw dan Bun Sam. Yap Bouw yang tidak mau mencari perkara dan keributan, segera memberi tanda kepada sutenya untuk pergi dan ia sendiri setelah menjura ke arah Sian Hwa, lalu melompat ke atas tembok taman. Akan tetapi Bun Sam ketika melihat gadis yang tak pernah dilupakannya itu, menjadi berdebar hatinya dan berdiri menghadapinya bagaikan patung. Kalau suhengnya melompat ke atas tembok ia bahkan melangkah maju mendekati Sian Hwa, lalu menjura dengan hormat ambil tersenyum ramah.

“Maaf sebanyak banyaknya, nona. Aku dan suhengku kembali datang mengganggu di dalam tamanmu.”

“Kalian tentu datang umak mencari harta terpendam itu, bukan?” secara langsung Sian Hwa bertanya dengan suaranya yang halus, tetapi cukup mengejutkan Bun Sam.

Pemuda ini mengangkat muka memandang dengan pandang mata menyelidik. Karena pada saat itu Sian Hwa juga sedang menatapnya, maka dua pasang mata saling pandang dan sinar mata mereka beradu lama. Akan tetapi akhirnya Sian Hwa menundukkan mukanya dengan dada berdebar. Ada sesuatu dalam pandang mata pemuda itu yang membuatnya merasa malu dan tidak karuan rasanya. “Nona, bagaimana kau bisa tahu?”

“Sin beng Ngo hiap yang datang membicarakan harta pusaka itu dan kalau kau dan suhengmu datang untuk mencari harta itu, kalian telah terlambat dua hari.”

“Sin beng Ngo hiap? Mereka datang?”

Sian Hwa mengangguk. “Ya, dua hari yang lalu mereka datang dan telah membawa pergi harta terpendam itu. Kau lihat sendiri, bukankah tanah itu masih kelihatan bekas galian?” Nona itu menunjuk ke bawah pohon yang liu.

“Dan ayahmu membiarkannya?”

Wajah Sian Hwa memerah. Biarpun kini semenjak ayahnya membunuh Ngo jiauw eng, ada sesuatu ganjalan di dalam hatinya terhadap ayah tirinya, namun ia tidak suka membicarakan ayahnya dengan orang lain. “Ayah tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini,” katanya tegas sambil mencoba untuk melupakan bagian seperenam yang diterima oleh ayahnya dari Sin beng Ngo hiap.

Akan tetapi Bun Sam tidak merasa akan ketegasan ucapan ini karena ia telah berpaling dan memanggil ke arah tembok. “Suheng! Ke sinilah, ada berita penting!”

Maka berkelebatlah bayangan Yap Bouw dari atas tembok dan kini si muka tengkotak ini berdiri di belakang sutenya. Sian Hwa merasa ngeri melihat muka orang ini, akan tetapi ia juga merasa amat kasihan kalau mengingat betapa harta simpanan orang ini telah diambil oleh Sin beng Ngo hiap dan ayah tirinya.

Dengan gerak jari tangannya, Bun Sam memberitahukan kepada suhengnya tentang pengambilan harta terpendam itu. Wajah Yap Bouw menjadi semakin buruk dan ia melompat ke tempat di mana dahulu ia menanam hartanya. Benar saja, ketika ia membanting kakinya, tanah itu menjadi berlobang, tanda bahwa tanah di situ masih empuk bekas di gali orang, ia menggeleng gelengkan kepalanya dengan duka dan Bun Sam juga menarik napas panjang sambil memandang ke arah suhengnya dengan kasihan.

Sian Hwa yang melihat pandangan mata Bun Sam ke arah suhengnya ini, mejadi terharu. “Aku tahu ke mana Sin beng Ngo hiap membawa harta pusaka itu!” katanya tiba-tiba.

Bun Sam dan Yap Bouw cepat menengok dan memandang tajam, Yap Bouw menggerak gerakkan jari tangannya kepada Sian Hwa akan tetapi tentu saja gadis itu tidak mengerti sama sekali apa yang dikehendaki oleh orang itu. Bun Sam cepat menterjemahkan pertanyaan Yap Bouw. “Nona yang baik, tolonglah kau beri tahukan, kemana Sin beng Ngo hiap membawa harta itu?”

“Dua hari yang lalu mereka datang mengambil harta itu dan katanya mereka hendak menjual barang barang itu ke kota Kaifeng.”

Mendengar ucapan ini. Yap Bouw lalu menjura kepadanya dan segera mengajak sutenya pergi, lalu mendahului melompat keluar taman.

“Nona, kau sungguh berbudi halus dan berhati mulia. Banyak terima kasih atas petunjukmu, nona. Aku amat....” tiba tiba terdengar suara kerincingan dari dalam gedung itu.

Sian Hwa segera berbisik. “Pergilah cepat….!”

Bun Sam mengangguk. “Belum habis bicaraku besok malam aku akan datang lagj melanjutkannya!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat telah berada di luar taman menyusul suhengnya.

Sian Hwa berdiri termenung sampai lama, hatinya serasa terbawa pergi oleh pemuda yang halus dan amat menarik hatinya itu. Pemuda itu telah pergi, belum tentu selama hidupnya akan bertemu lagi. Akan tetapi, Bun Sam tadi berkata bahwa besok malam akan datang, betulkah? Dan apa kehendaknya?

Diam diam in merasa betapa mukanya menjadi hangat, tanda bahwa darahnya naik semua ke mukanya dan dadanya menjadi makin berdebar. Kemudian ia lalu berlari kembali ke kamarnya lalu tidur nyenyak dengan bibirnya tersenyum manis.

Adapun Yap Bouw yang berlari kembali ke kuilnya, lalu berunding dengan Bun Sam. Bekas jenderal ini mengambil keputusan untuk menuju langsung ke Kaifeng untuk mencoba menyusul Sin beng Ngo hiap, kemudian dari Kaifeng ia hendak terus menuju ke Sian hwa-san untuk menjumpai anak isterinya. Kepada Bun Sam ia berpesan agar sutenya ini memberitahukan segala hal ihwalnya kepada Kim Kong Taisu guru mereka.

Bun Sam menyatakan persetujuannya dan malam hari itu juga Yap Bouw berangkat menyusul ke Kaifeag. Adapun Bun Sam yang ditinggal pergi suhengnya, lalu membaringkan tubuhnya di dalam kamar kuil itu sambil membayangkan wajah Sian Hwa! “Aku harus menjumpai dia sekali lagi sebelum kembali ke Oei san!” Ia mengambil keputusan di dalam hatinya dan malam itu iapua tidur nyenyak dengan bibir tersenyum bahagia!

Pada keesokan harinya, baru saja matahari terbenam dan malam menjelang datang, Bun Sam sudah ada di belakang pagar tembok yang mengelilingi taman bunga di belakang rumah Panglima Bucuci. Hatinya sudah ingin sekali melompati pagar tembok dan mencari dara jelita yang telah membetot sukmanya itu. bertemu muka dan bercakap cakap.

Akan tetapi keadaannya mencegahnya karena ia maklum bahwa tempat ini tidak boleh dibuat main main. Para pelanyan masih terdengar sibuk di belakang dan kalau sampai hadirnya diketahui oleh Bucuci, tidak saja ia akan mengalami serangan serangan lagi, bahkan mungkin sekali ayah gadis itu akan timbul hati curiga dan akan mengira puterinya berlaku yang bukan bukan. Ah, Bun Sam tidak akan membikin gadis itu kena terfitnah.

“Sian Hwa....” bisiknya berkali kali. Ia telah mendengar nama gadis ini disebut oleh ayahnya. Sungguh nama yang indah, sesuai dengan orangnya. Tiba-tiba berkerut kening pemuda ini. Ia berdiri di luar pagar tembok dengan tubuh tak bergerak dan otaknya diperas mengingat ingat, serasa pernah didengarnya nama Sian Hwa ini, akan tetapi entah di mana.

Serasa tidak asing nama Sian Hwa di dalam pendengarannya, Sian Hwa. Di mana aku pernah mengenal orang barnama Sian Hwa? Selamanya aku belum pernah berkenalan dengan wanita, kecuali Lan Giok yaug belum lama ini dijumpainya. Tak mungkin pula aku pernah bertemu dengan dia....”

Demikianlah jalan pikiran Bun Sam sambil berdiri melamun di dekat pagar tembok. Karena tempat itu memang merupakan jalan kecil umum, maka ia tidak khawatir kalau kalau akan dicurigai orang. Kemudian ia menggerakkan kakinya lagi berjalan jalan ke sana ke mari di luar pagar sambil menanti sampai malam agak larut dan sampai suara suara pelayan di belakang pagar tembok itu menghilang.

Pada saat ia hendak melompati pagar tembok itu, tiba tiba ia melihat bayangan orang berkelebat dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, melompati pagar tembok taman itu di bagian lain. Bun Sam terkejut dan cepat barsembunyi sambil memandang ke arah bayangan orang itu. Ia mendapat kenyataan bahwa bayangan itu ternyata adalah Liem Swee pemuda tampan dan gagah yang kemarin datang bersama Pat jiu Giam ong Liem Po Cwan!

Biarpun Bun Sam belum tahu siapa adanya pemuda tampan itu, namun karena melihat kemarin datang bersama Pat jiu Giam ong, ia dapat menduga bahwa tentu pemuda itu mempunyai hubungan baik dengan keluanga Bucuci. Akan tetapi mengapa pemuda itu juga datang melalui pagar tembok seperti seorang asing? Diam diam dia menjadi tertarik, akan tetapi ia tidak berani segera menyusul karena maklum bahwa pemuda itu berkepandaian tinggi dan tentu akan dapat melihatnya.

Ia tidak ingin siapapun juga melihat dia memasuki taman itu, bukan karena takut, akan tetapi karena ia ingin dapat berjumpa dengan gadis pujaan kalbunya dan juga ia tidak ingin menyeret Sian Hwa dalam kecemaran nama sebagai seorang gadis puteri panglima yang gagah dan berwatak baik dan bersih.

Setelah menanti agak lama, barulah ia melompat dengan gerakan hati hati sekali ke atas terobok di sudut yang sunyi, kemudian melompat ke dalam. Diantara semak semak dan pohon pohon ia menyelinap dan menghampiri tengah taman di mana terdapat empang teratai dan pohon yang liu yang indah itu.

Dengan amat heran terhadap diri dan hati sendiri, Bun Sam merasa betapa panas dan tidak senangnya hatinya ketik ia melihat pemandangan yang nampak olehnya di bawah pohon yang liu itu. Seperti dulu ketika pertama kali ia melihat Sian Hwa di taman ini, kini gadis itupun duduk di dekat empang teratai di atas bangku batu terukir indah. Dan di depan gadis itu duduk seorang pemuda gagah dan tampan yakni pemuda yang tadi mendahuluinya melompat ke dalam taman.

Biarpun Bun Sam sudah merasa betapa ia amat suka dan tertarik kepada gadis cantik penghuni taman itu, namun ia menjadi terheran heran dan sungguh sungguh tidak mengerti mengapa pada saat ia melihat dua orang itu duduk berhadapan dan bercakap cakap, ia merasa hatinya berdetak detak aneh, dan amat tidak enak dan dadanya terasa panas yang naik cepat ke arah muka dan telinganya ia tidak tahu bahwa inilah perasaan cemburu yang merupakan sebuah cabang daripada pohon cinta yang telah tumbuh di dalam lubuk hatinya.

Bun Sam tahu bahwa mendengar pembicaraan orang dengan sembunyi sembunyi tanpa ada alasannya adalah perbuatan yang amat tidak patut dilakukan oleh seorang gagah. Akan tetapi, perasaan cemburu membuat pemuda itu lupa akan kepatutan lagi. Dengan hati hati sekali ia menghampiri tempat dua orang itu bercakap cakap dan bersembunyi di balik pohon lalu mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.

“Hwa moi, melihat engkau di dalam taman bunga ini, dikelilingi bunga bunga indah dan pemandangan yang menawan hati, sungguh membikin aku merasa seakan akan aku berada di surga bersama seorang bidadari. Alangkah cantik dan manisnya engkau, Hwa moi,” kata Liem Swee dengan suara merayu, suara yang mengandung bujuk dan cumbu, yang membuat hati Bun Sam menjudi makin panas.

“Suheng (kakak seperguraan), jangan kau berkata begitu, terdengar kurang sopan dan tidak pantas,” jawab Sian Hwa dengan suara kaku.

“Eh, Hwa moi, mengapa kau masih saja menyebut suheng kepadaku? Tidak sedap didengar dan....”

“Mengapa tidak? Bukankah aku murid ayahmu dan ayahmu menjadi gurumu pula?”

“Benar, akan tetapi selelah kita ditunangkan aku tidak menyebutmu sumoi (adik seperguruan) lagi. Aku lebih suka menyebut moi moi dan kau seharusnya menyebut koko kepadaku.”

“Ah, sudahlah, suheng. Jangan main main. Bertunangan belum berarti ikatan jodoh yang sudah sah dan pula...”

He.... ?!? Apa pula kau bilang Hwa moi? Bukankah kita sudah menjadi tunangan dan menjadi calon suami isteri?”

Mendengar disebutnya ucapan suami isteri ini merahlah seluruh muka Sian Hwa, semerah warna bajunya. Merah karena jengah, malu dan marah.

“Harus kau ingat bahwa pertunangan ini adalah kehendak kedua orang tua kita, bukan kehendak kau sendiri.”

“Salah...!” Liem Swee memotong cepat. “Akupun menghendaki hal ini diadakan, bahkan menghendaki dengan sangat. Akulah yang mendesak ayah untuk meminangmu. Aku cinta kepadamu, Hwa moi dan kau tahu benar akan hal ini.”

“Sudahlah, suheng, jangan bicara tentang hal ini. Betapapun juga aku masih bebas, aku tidak sudi diikat oleh pertalian apapun juga. Dan malam ini aku tak suka bercakap cakap, harap kau tinggalkan aku seorang diri. Aku hendak melatih siu-lian (samadhi) di taman ini, jangan kau menggangguku.”

Tiba tiba Liem Swee gelak tertawa. “Ha, ha, ha, aku tahu, adikku yang manis! Sudah selayaknya kalau kau mempunyai rasa malu malu ha, ha, ha, tidak apalah tunanganku yang tercinta. Kelak kalau kita sudah menjadi suami isteri, tentu....”

“Sudah, suheng! Aku tidak suka mendengarkan lagi. Pergilah, jangan sampai kau membikin aku marah! Tidak baik kalau terlihat oleh pelayan bahwa kau mengunjungi aku dengan cara sembunyi.”

Liem Swee tersenyum senyum lalu berdiri, ia membungkuk dan memegang tangan Sian Hwa. “Alangkah halus kulit tanganmu, Hwa moi....”

Akan tetapi dengan cepat Sian Hwa merenggutkan tangannya sehingga terlepas dari genggaman Liem Swee. “Suheng, jangan kau menggangu aku lebih lama lagi. Pergilah!” Kini gadis ini berdiri menghadapi Liem Swee dan sepasang matanya yang berkilat itu membuat Liem Swee mundur dua tindak dan maklum bahwa kali ini tunangannya yang galak ini benar benar marah sekali, ia dapat melihat gelagat lalu tersenyum dan menjura.

“Baiklah, tunanganku yang mulia dan terhormat, aku mentaati perintahmu. Biar aku akan segera tidur dan menjumpaimu di dalam mimpi, di sana aku dapat menyatakan isi hatiku lebih leluasa kepadamu, karena di dalam mimpi kau tidak segalak ini. Selamat malam!” Setelah berkata demikian, kembali pemuda yang tampan dan gagah akan tetapi yang mempunyai suara ketawa besar dan menyeramkan itu, menggerakkan tubuhnya dan sekali berkelebat ia telah menghilang di balik tembok taman.

Bun Sam memuji kehebatan ginkang pemuda itu yang agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri, ia memandang ke arah gadis yang kini berada seorang diri di dalam taman itu. Sian Hwa dudak termenung, tidak bergerak bagaikan sebuah patung batu yang indah. Gadis itu memandangi ikan ikan yang berenang riang gembira berkejar kejaran di dalam empang teratai. Kadang kadang nampak kulit perut ikan yang putih mengkilat timbul di permukaan air ketika seekor ikan melompat lincah.

Sian Hwa menggerakkan tubuhnya seakan akan semangatnya baru kembali ke dalam tubuh setelah mengarungi angkasa luas. Ia memandang ke sana ke mari dengan sepasang matanya yang amat tajam dan bening, kemudian seperti seorang yang mengharap harap ia melihat sambil memutar tubuhnya ke arah dinding tembok taman. Ketika dilihatnya keadaan di sekeliling tempat itu sunyi sepi belaka, ia la lu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang beberapa kali.

“Mana dia mau datang...??” bibirnya berbisik perlahan, kemudian ia menjatuhkan diri duduk kembali di atas batu di dekat empang teratai.

Kesedihan besar meliputi hati dan pikirannya, ia selalu menghadapi kekecewaan di dalam hidupnya yang baru terasa olehnya setelah ia meninggalkan kanak kanak, ia tidak tahu siapa ayahnya dan bagaimana ayahnya itu tewas serta di mana pula makamnya. Ibunya tak pernah mau berterus terang tentang ayahnya dan hal ini sudah menimbulkan kesedihan besar di dalam hatinya, ia amat cinta kepada ibunya dan ia tidak ingin timbul pikiran tidak baik atau kurang percaya kepada ibunya.

Akan tetapi, tak dapat disangkal pula, pada waktu ini ia tidak percaya lagi kepada ibunya! Bahkan timbul dugaan sesuatu yang ia tidak tahu apa sesungguhnya, akan tetapi yang sudah nyata mulai menduga bahwa setidaknya ibunya termasuk sebuah komplotan yakni komplotan yang memegang teguh semacam rahasia, dan yang hendak menjauhkan dia daripada keadaa sebenanarnya dari pada dirinya!

Kernudian tejadi peristiwa pembunuhan Ngo jiauw-eng dan hanya dia seorang yang tahu tentang terbunuhnya Ngo jiauw-eng oleh ayah tirinya. Panglima Bucuci. Apakah artinya ini semua? Sebelum mati, Ngo jiauw-eng hendak mengaku bahwa dialah pembunuh ayahnya, akan tetapi pengakuan ini dihalangi oleh Bucuci yang tidak segan segan menurunkan tangan maut membunuh Ngo jiauw-eng yang menjadi tangan kanannya sendiri!

Pasti ada apa apanya di dalam persoalan ini dan inilah yang merupakan gangguan hebat dalam hati dan pikiran Sian Hwa. Kemudian masih ada lagi, yaitu pertunangannya dengan Liem Swee, pertunangan yang tidak ia inginkan sama sekali. Pertunangan ini tahu tahu sudah jadi berita saja, dijadikan oleh orang tua mereka dan sebagaaimana dinyatakan oleh Liem Swee tadi, juga atas persetujuan pemuda itu!

Sian Hwa menghela napas panjang, ia tahu bahwa Liem Swee mencintainya hal ini sudah dapat diduga semenjak mereka berdua masih kecil. Ia tidak dapat mencintai Liem Swee sebagai seorang gadis mencintai seorang pemuda. Memang ia suka kepada suhengnya ini, akan tetapi rasa sukanya hanya seperti hubungan saudara saja.

Liem Swee amat baik terhadap dia, amat ramah dan halus budi. Akan tetapi, ia tidak cinta kepada pemuda itu dan menganggap Liem Swee mempunyai hati yang kejam. Pernah ia melihat pemuda memukul mati seekor anjing yang bagus, hanya karena anjing itu menggonggong kepadanya! Dan ia telah menjadi marah sekali kepada suhengnya itu.

Merenungkan pemuda itu, tiba-tiba timbul bayangan seorang pemuda lain, seorang pemuda asing sama sekali yang baru saja dijumpainya dua kali. Mengenangkan pemuda ini tiba tiba Sian Hwa merasa dadanya berdebar aneh dan mukanya menjadi merah. Entah mengapa, itu merasa tertarik sekali oleh pemuda itu. Alangkah gagah beraninya pemuda itu, juga amat halus budi pekertinya. Dan malam hari ini, ia sengaja menanti di dalam taman karena mendengar janji pemuda itu kemarin malam bahw malam ini pemuda itu hendak datang menjumpainya!

Sian Hwa merasa heran terhadap dirinya sendiri, ingin ia marah kepada dirinya sendiri yang amat lemah. Belum pernah selama hidupnya ia merasai perasaan seperti ini, perasaan yang membuatnya menjadi bingung. Akan tetapi diam diam ia mendapat harapan baru seakan akan kalau tadinya ia merasa berada di dalam sebuah ruangan yang gelap karena semua kekecewaan itu, dalam diri pemuda asing ini ia melihat perangan baru!

“Selamat malam, nona...” Suara ini demikian halus, suara yang sudah dikenalnya baik, bahkan yang kumandangnya tak pernah meninggalkan telingnya.

Cepat ia menengok dan memandang kepada Bun Sam yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum ramah. Untuk sesaat wajah gadis yang cantik itu menjadi pucat sekali. Memang semenjak tadi, sebelum Liem Swee datang mengganggunya, ia telah sengaja duduk di situ menanti kalau kalau pemuda ini memenuhi janjinya hendak datang malam ini.

Ia telah mengharap harapkan kedatangan pemuda ini dengan perasaan yang aneh sekali. Kemudian melihat kedatangan Liem Swee ia menjadi marah dan juga kecewa karena yang ditunggu tunggu dan diharap harapkan kedatangannya tidak muncul, sebaliknya yang muncul adalah orang lain yang tidak diharapkannya.

Akan tetapi ia tetap menanti dan biarpun sudah disangkanya Bun Sam akan datang, kini tiba tiba melihat pemuda ini, ia menjadi terkejut dan gugup. Warna pucat pada mukanya perlahan lahan berubah menjadi merah lagi, akan tetapi bukan merah biasa seperti tadi, melaiakan merah sampai ke telinganya dan ia tidak berani terlalu lama memandang muka pemuda yang tersenyum itu.

“Mengapa.... mengapa kau datang.... ?” suara ini keluar perlahan dan halus dan bibirnya, sedangkan mukanya menunduk memandang tanah.

“Mengapa?” Bun Sam mengulang. “Tak lain hendak menyampaikan hormat dan terima kasihku atas segala kebaikan hatimu terhadap aku dan suheng, nona. Tak kusangka sama sekali bahwa di kota ini, justeru di dalam taman bunga dari Panglima Bucuci aku akan menjumpai seorang gadis berhati mulia dan berkepandaian tinggi seperti kau.”

Sian Hwa mengangkat kepalanya memandang. Untuk sejenak dua pasang mata bertemu dan kedua nya merasakan sesuatu yang aneh sekali menggelora di dalam dada masing masing sesuatu yang membuat darah mereka berdenyut cepat, yang membuat tubuh terasa hangat dan hati ingin bernyanyi gembira. Mata menjadi terang dan segala yang nampak kelihatan lebih indah daripada biasanya. Telinga mendengar suara nyanyi merdu yang ditimbulkan oleh daun tertiup angin malam!

Akan tetapi Sian Hwa tidak daput menahan rasa jengah dan malunya, maka ia menundukkan mukanya lagi. Timbul rasa sedih di dalam hatinya ketika Bun Sam mengucapkan kata kata itu. Pemuda ini menganggapnya sebagai puteri Bucuci, padahal sesungguhnya bukan demikian. Ingin ia menyatakan kepada Bun Sam bahwa dia bukan puteri panglima Kin ini, akan tatapi apa gunanya? Dan pula ia merasa malu.

“Tidak ada sesuatu yang harus dinyatakan terima kasih,” katanya perlahan. “Dan pula,” disambungnya cepat cepat karena ia teringat bahwa sesungguhnya tidak pantas bagi seorang gadis sopan untuk bicara dengan seorang pemuda asing di dalam taman bunga. “Mengapa kau datang di sini? Kalau ada orang melihatmu.... kalau.... ayah mengetahui, bukankah kau akan celaka?”

Bun Sam tersenyum. “Terima kasih, nona Sian Hwa...” ia menjura memberi hormat. "Terima kasih bahwa kau telah menaruh perhatian dan kekhawatiran atas diriku yang hina dan bodoh ini. Biarlah, kalau sampai ayahmu melihatku dan memberi hukuman, aku tidak merasa menyesal setelah dapat bertemu dan berbicara dengan seorang seperti engkau.”

Mendengar ucapan pemuda ini, makin tidak karuan rasa hati Sian Hwa. Ia merasa girang, bangga, malu dan juga berduka. “Pergilah kau dari sini, jangan ganggu aku.... kau seorang murid dari Kim Kong Taisu, mengapa berani memasuki taman dan bertemu dengan seorang gadis sopan? Apakah ini tidak melanggar kesopanan dan kesusilaan?”

“Maaf nona, memang aku terlalu kurang ajar berani sekali mengganggumu. Akan tetapi, kenekatanku ini terdorong oleh rasa hatiku yang ingin bersahabat denganmu. Tidak maukah kau menjadi sahabatku, sahabat yang akan kukenang selama hidupku?”

“Jangan kau bilang begitu,” gadis itu menjawab lemah. “Kita terpisah terlalu jauh untuk menjadi sahabat. Kau harus ingat, aku puteri Panglima Bucuci dau kau... kau bahkan pernah bentrok dan bertempur melawan ayahku. Bahkan melawan guruku. Kita telah ditakdirkan lahir di tempat yang jauh berbeda, sudahlah, harap kau pergi dan mari kita melupakan pertemuan kita. Kalau sampai ayah mengetahui kedatanganmu malam ini....”

Bun Sam menarik napas panjang. “Untuk menjadi sahabatnya saja aku masih kurang cukup berharga….” katanya seperti kepada dirinya sendiri. “Dia terlalu agung, terlalu cantik, terlalu pandai dan puteri seorang panglima pula. Dan aku.... ?? Bun Sam, kau harus tahu diri, kau seorang kelana yang miskin, lebih daripada pengemis jembel, seorang yatim piatu. Sungguh harus malu!” Sambil berkata demikian, Bun Sam benar benar merasa amat berduka dan wajahnya yang tampan menjadi pucat.

Sian Hwa mengangkat mukanya. “Mengapa kau mengeluarkan kata kata seperti itu? Aku selamanya tidak pernah berwatak sombong dan tinggi. Aku hanya mengemukakan kenyataan tentang perbedaan keadaan dan kehidupan kita. Aku sendiri.... aku....” Sian Hwa memaksa diri menelan kembali kata katanya ini karena hampir saja ia membuka rahasianya sendiri bahwa dia pun seorang yang tak berayah pula.

Bun Sm tersenyum pahit. “Nona, memang aku yang bodoh. Bagaikan seekor anjing merindukan bulan menggonggong dengan sia sia. Bagaimana pemuda seperti aku dapat menjadi sahabatmu? Ah, sudahlah ku tarik kembali omonganku tadi nona. Aku hanya mengganggumu, kau seorang yang mulia, yang berbahagia, bagaimana aku berani mengganggu mu? Aku menghaturkan selamat atas pertunanganmu dengan pemuda gagah she Liem itu putera dari Pat jiu Giam ong. Selamat berbahagia dan selamat tinggal, nona!”

Setelah berkata demikian, Bun Sam memutar tubuhnya dan hendak melompat keluar dari tempat itu. Akan tetapi, tiba tiba ia menahan kedua kakinya. Salahkah pendengarannya? Tidak! Benar benar ia mendengar isak tangis di belakangnya. Bun Sam cepat memutar kembali tabuhnya dan memandang ke arah Sian Hwa.

Gadis itu telah menangis. Menangis sedih dengan terisak isak dan menutup mukanya dengan ujung ikat pinggang sutera barwarna kuning keemasan. Basah oleh air mata ujung ikat pinggang itu dan kedua pundaknya bergoyang goyang dalam sedu sedannya. Bun Sam berdiri terpaku, kedua matanya terbuka lebar.

“Nona... Sian Hwa.... kenapa kau?” Ia melangkah maju mendekati nona itu. Akan tetapi Sian Hwa makin tersedu sedu tangisnya. Luluh hati Bun Sam yang tadi sudah mengeras. Tadinya ia hendak mengeraskan hati dan hendak melupakan gadis yang telah merampas kalbunya ini dengan anggapan bahwa ia adalah seorang gadis bangsawan yang sombong, yang mempunyai ayah hebat. Akan tetapi melihat gidis ini menangis tersedu sedu, hancur luluh semua kekerasan yang dibangun di dalam hatinya. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan Sian Hwa.

“Nona, jangan rarnangis. Ah, aku telah menyakiti hatimu. Nona, cabutlah pedangmu dan penggal saja leherku. Aku Song Bun Sam takkan melawan, takkan mengelak. Aku telah menyinggung perasaanmu yang halus, telah membuat kau berduka.”

Sian Hwa mengangkat mukanya dan dengan air mata mengalir turun dari kedua matanya. Ia memandang kepada pemuda itu. Ia merasa terharu sekali dan tak terasa pula ia menyentuh pundak Bun Sam. “Berdirilah, taihiap. Tak pantas bagi seorang gagah seperti engkau berlutut di depanku. Bangunlah, sikapmu ini membuat aku merasa tak enak sekali.”

Bun Sam bangkit dan berkata dengan perlahan. “Nona Sian Hwa, aku benar benar tadi tak sengaja berkata keras kepadamu. Maafkanlah aku. Aku telah mendengar percakapanmu dengan Liem Swee dan tahu pula bahwa pertunangan itu tidak kau setujui dan dipaksakan kepadamu. Namun aku masih menyakiti hatimu dengan kata kata tadi. Ah, mengapakah aku menjadi seorang begini gila? Aku sendiri tak dapat menguasai hati, pikiran mulutku. Apakah yang terjadi dengan aku!”

Sian Hwa juga berdiri dan mereka berpandangan. Wajah gadis itu masih basah oleh air matanya sendiri. “Jadi kau sudah tahu? Kalau begitu tak perlu dibicarakan lagi. Kau tahu, hidupku juga banyak menderita. Kau masih belum mengetahui semuanya. Kalau kau tahu keadaanku, kau akan tahu bahwa bukan hanya kau yang hidup menderita. Mungkin aku lebih menderita daripadamu.”

“Nona, siapa yang berani mengganggumu? Apakah pertunangan itu yang membuat kau merasa berduka? Kalau perlu, aku akan pergi mencari dan menghajar pemuda she Liem itu, agar dia membatalkan pertunangan paksaan ini!” seru Bun Sam dengan suara sungguh sungguh, sehingga di dalam hatinya.

Pemuda ini benar benar merasa heran mengapa ia bisa berhal demikian ia merasa seakan akan semua bicara dan sikapnya tadi tidak seperti dia sejati, seakan akan ia melihat orang lain yang berperasaan lemah. Ke mana perginya kekuatan batinnya? Mengapa ia menjadi demikian lemah?

Ia tidak tahu bahwa hati dan pikirannya sedang berada di dalam genggaman dewa asmara yang luar biasa hebat kekuasaannya. Betapapun gagah seorang manusia, kalau sudah termasuk dalam cengkeraman asmara, ia akan menjadi lemah tak berdaya!

“Song taihiap, dia adalah suhengku!”

“Lebih lebih seorang suheng sama dengan seorang kakak, tidak boleh memaksa sumoinya untuk menjadi calon isteri kalau sumoinya itu tidak suka!” Suara Bun Sam makin mengeras tanda bahwa ia marah kepada Liem Swee.

“Hush, dia adalah putera tunggal dari Pat jiu Giam ong!” kata Sian Hwa pula dan aneh sekali melihat sikap dan pembelaan pemuda ini wajahnya yang tadi muram kini menjadi berseri gembira, kedua matanya yang bening seperti mata burung hong itu bersinar sinar ketika ia memandang kepada Bun Sam.

“Aku tidak takut! Biar dia putera Pat jiu Giam ong, kalau tidak benar sepak terjangnya, akan kulawan juga. Biar aku mengadu nywa dangan Pat jiu Giam ong untuk membelamu, nona!”

“Hus.... jangan keras keras bicaramu!” Sian Hwa berisik dan kini senyum manis sekali mulai membayang pada bibirnya. “Kau baik hati dan gagah sekali, taihiap. Benar benar aku kagum padamu.”

Mereka kembali saling memandang sampai lama tanpa mengeluarkan kata kata, kemudian Sian Hwa menundukkan mukanya dan berkata perlahan. “Katakanlah, mengapa kau demikian mati matian hendak membelaku?”

Ditanya demikian Bun Sam rnelengak dan menjadi bingung bagaimana harus menjawabnya. Apalagi ketika Sian Hwa yang tidak mendapat jawaban lalu mengangkat muka memandangnya dengan mata penuh selidik.

“Karena... karena... barangkali karena kau telah bersikap baik kepadaku dan kepada suheng, karena kau... kau berbeda jauh dengan semua orang yang pernah kujumpai.”

Sian Hwa tidak puas. “Hanya karena itu saja dan kau lalu berani hendak mengorbaakan nyawa untukku?”

Bun Sam merasa mukanya menjadi panas. Memang tadi ia tidak mengaku terus terang. Kini didesak oleh Sian Hwa dan melihat betapa pandangan mata nona itu seperti menggodanya, tahulah ia bahwa Sian Hwa sudah mengerti baik apa yang terkandung di dalam hatinya. Hal ini mendatangkan keberaniannya.

“Terus terang saja, karena aku cinta kepada mu, Sian Hwa!” Ucapan ini dikeluarkan dengan dada diangkat dan kepala ditegakkan.

Kini Sian Hwa yang tersipu sipu mendengar pengakuan sejujurnya ini. Mukanya menjadi merah lagi sampai ke leher dan telinganya.

“Kau.... kau.... apa...?” hanya kata kata ini yang dapat keluar dari mulutnya, seakan akan ia masih belum percaya akan pengakuan pemuda itu.

“Aku cinta kepadamu!”

“Cinta....??” Kata kata ini sudah sering kali didengung dengungkan oleh Liem Swee kepadanya, akan tetapi sekarang mendengar kata kata ini diucapkan oleh Bun Sam, terdengar bagaikan kata kata yang baru pertama kali didengarnya selama hidupnya. Terdengar demikian halus, suci dan merdu. Tanpa disadarinya Sian Hwa tertunduk lagi di atas batu dan ia meramkan matanya!

Ketika ia merasa betapa kedua tangannya dipegang orang, ia menjadi kaget dan membuka matanya. Ternyata Bun Sam telah berlutut dan memegang kedua tangannya itu. Hati Sian Hwa memberontak terhadap perbuatan Bun Sam yang merangsang seluruh dirinya ini, terdorong oleh kesadarannya yang tidak membenarkan seorang pemuda memegang tangannya.

Akan tetapi perasaannya yang sudah penuh dengan simpati dan kasih sayang terhadap Bun Sam, membuat ia merasa lumpuh dan lemah. Betapapun juga, dengan keseluruh tenaga batinnya, ia mengambil keputusan bahwa kalau pemuda itu berlaku kurang sopan, ia akan menghantam dan menyerangnya dengan pukulan maut!

Akan tetapi Bun San bukanlah pemuda macam itu. Ia berlutut dan memegang kedua tangan gadis itu sekali kali bukan terdorong oleh nafsu kurang ajar, melainkan karena ia merasa khawatir kalau kalau gadis ini menderita pukulan batin.

Melihat wajah Sian Hwa yang tiba tiba pucat dan gadis itu memeramkan matanya, ia buru buru memegang kedua tangan gadis itu dan mengerahkan tenaga lweekangnya untuk disalurkan melalui telapak tangan Sian Hwa, maksudnya hanya untuk membantu gadis itu memulihkan peredaran jalan darahnya belaka.

Sian Hwa tentu saja merasa betapa dari telapak tangan pemuda ini mengalir hawa hangat yang kuat sekali, membuat debaran jantungnya menjadi makin berdebar. Karena ia tidak membutuhkan bantuan ini, maka kalau dilanjutkan bahkan akan membahayakannya, maka ia lalu membuka matanya dan tersenyum kepada Bun Sam.

Melihat hal ini, pemuda itu menjadi jengah sendiri dan cepat menyimpan kembali tenaga yang disalurkannya, akan tetapi dua pasang tangan saling belai penuh kasih sayang yang tidak dinyatakan berterang. “Sian Hwa...” bisik Bun Sam dan bukan main bahagia rasa hatinya karena in mendapat kenyataan bahwa ia tidak bertepuk sebelah tangan dan bahwa cintanya dibalas oleh nona ini.

“Kau baik sekali, saudara Bun Sam....” kata gadis itu dengan suara lembut dan pandangan mata mesra.

“Aku cinta kepadamu, Sian Hwa....” jawab Bun Sam sebagai penolakan pujian itu atau dengan kata kata lain hendak menyatakan bahwa kebaikannya itu hanya karena ia mencintai Sian Hwa.

Dengan perlahan Sian Hwa menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Bun Sam. Lalu ia menrik napas panjang dan berkata. “Bagaimana mungkin? Aku sudah menjadi tunangan orang lain....” Kembali gadis ini menjadi berduka dan menundukkan mukanya.

Mendengar ucapan yang mengingatkannya kembali tentang keadaan gadis pujaannya, perih rasa hati Bun Sam. Sebagai seorang pemuda yang menjunjung tinggi kesopanan, tentu saja ia maklum bahwa tidak mungkin ia berjodoh dengan seorang gadis yang sudah menjadi calon isteri orang lain. Ia pun lalu menundukkan mukanya dan mengingat betapa ia tak mungkin berkumpul dengan orang yang dicintainya ini, dua titik air mata melompat keluar dari kedua matanya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan kesedihan hatinya ini, agar jangan sampai ia menjadi lemah.

Ketika Sian Hwa menengadah dan meihat betapa pemuda itu menjadi basah matanya, ia menjadi terharu sekali. Terdorong oleh rasa haru dan cinta, ia lalu bangkit berdiri dan memagang kedua tangan Bun Sam. “Bun Sam.... memang tidak mungkin bagi kita untuk... untuk menjadi jodoh di dunia ini.... akan tetapi pecayalah selama hidup aku takkan sudi menjadi isteri orang lain? Biar mereka memaksaku sampai mati, aku takkan suka menjadi isteri suheng! Di dalam hatiku, hanya kaulah... jodohku, Bun Sam dan kalau di dunia kita tidak berjodoh, biarlah kita bertemu di alam baka... atau di la in penjelmaan!” Naiklah sedu sedan dari leher Bun Sam ketika ia mendengar ucapan yang baginya amat suci, mulia dan mengharukan ini. Ia merangkul Sian Hwa dan untuk srsaat keduanya tenggelam dalam keharuan. Tiba tiba keduanya saling melepaskan pelukan ketika mendengar suara ribut ribut di luar taman. Terdengar seruan Bucuci.

“Sian Hwa, di mana kau?? Lekas keluar dan bantu menangkap maling besar yang mencuri pedang pusaka dari istana!” Nampak berkelebat banyak bayangan orang di luar tembok taman dan terdengar bunyi kerincingan pakaian perang Panglima Bucuci.

“Bun Sam, selamat berpisah. Inilah pertemuan terakhir kita,” kata Sian Hwa sambil bersiap siap untuk melompat keluar.

Ban Sam maklum akan maksud kata kata kekasihnya ini. Sekali lagi ia menggenggam tangan kanan gadis itu, lalu berkata dengan suara tenang karena ia telah berhasil memhan perasaan hatinya. “Kau benar Sian Hwa. Kita tak berdaya dan juga tidak boleh kita melanggar peraturan adat. Selamat berpisah, ingatlah selalu bahwa Bun Sam hanya dapat mercinta satu kali saja kepada seorang wanita, yakni kepadamu!”

“Aku takkan dapat lupa kepadamu selama hidupku!” jawab gadis itu.

Bun Sam lalu melompat dan menghilang di dalam gelap. Sian Hwa melompat ke atas pagar tembok, akan tetapi tiba tiba muncul ayahnya yang datang-datang terus menuding serta membentaknya. “Siapa yang baru saja pergi tadi? Ayoh bilang, siapa dia??”

“Aku tidak tahu, ayah!” jawab Sian Hwa dengan tenang, karena betapapun juga, ia tak akan mengaku siapa adanya pemuda tadi yang bayangannya mungkin terlihat oleh Bucuci.

“Sian Hwa, bukankah kau anakku? Mengapa tidak mengaku? Jangan jangan dialah malingnya yang mencuri pedang Pek lek-kiam dari istana kaisar!”

“Ayah....!” Tiba-tiba hati Sian Hwa menjadi panas dan marah sekali mendengar kekasihnya dituduh mencuri pedang pusaka.

“Hem, siapa tahu pencuri itu tadi berhasil memasuki taman dan bersembunyi di sini. Dan kau... kau anakku bahkan membantunya bersembunyi dan sekarang membelanya!”

“Ayah jangan menuduh sembarangan saja!” gadis itu berkata dan mendengar suara Sian Hwa mengandung kemarahan besar serta mata anak ita bersinar sinar, Bucuci menahan mulutnya. Akhir akhir ini ia melihat Sian Hwa sering kali memandang kepadanya dengan mata menakutkan.

“Sudahlah, kalau kau betul betul tidak tahu, mari lekas membantuku mencari maling itu. Kau tahu pedang Pek lek-Kiam yang disimpan di dalam gedung pusaka istana kaisar, telah diambil orang dan para penjaga tidak berdaya sama sekali menghadapinya. Malingnya seorang kakek yang menyeramkan dan seperti berotak miring, akan tetapi kepandaiannya tinggi sekali.”

Diam diam Sian Hwa menjadi geli juga mendengar penuturan ayahnya ini. Bagaimana ayah tirinya berani menyangka Bun Sam yang menjadi malingnya? Bun Sam bukan seorang kakek tua berwajah menyeramkan, sama sekali bukan!

“Mari kita mencoba mengejar maling itu, ayah,” kata Sian Hwa ketika melihat betapa kota raja menjadi gempar dan setiap orang yang memiliki kepandaian tinggi telah berada di atas genteng genteng rumah dan bayangan bayangan gesit bersimpang siur.

Sian Hwa mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk melompat ke atas genteng dan berlari memeriksa dan melihat lihat kalau kalau ia akan berhadapan dengan maling sakti itu. Ketika ia bertemu dengan para panglima kerajaan yang melakukan pengejaran, ia mendengar bahwa maling ini telah lenyap seakan akan memiliki kepandaian menghilangkan diri dari pandang mata manusia!.

“Semua pintu gerbang telah di jaga rapat dan jalan keluar tidak ada. Hampir semua rumah telah diperiksa teliti, namun maling itu tidak nampak bayangannya. Ia menghilang bersama pedang pusaka Pek lek-kiam!” berkata seorang panglima tua yang bertemu dengan Sian Hwa di atas genteng.

Gadis ini menjadi heran mendengar akan kelihaian maling itu dan diam diam iapun merasa khawatir akan keselamatan Bun Sam kekasihnya. Pemuda itupun telah terlihat oleh para panglima dan dianggap sebagai seorang yang harus diawasi, karena pernah bertempur melawan Pat jiu Giam ong. Kalau semua jalan keluar tertutup, bagaimana Bun Sam akan dapat keluar dari kota raja tanpa diganggu oleh para penjaga?

Tiba tiba ia melihat Liem Swee yang juga ikut mencari dengan pedang di tangan. Biarpun ia pada saat seperti itu tidak suka bicara dengan Liem Swee, suheng dan tunangannya ini, akan tetapi karena ia ingin tahu lebih banyak tentang maling itu ia lalu bertanya Kepada Liem Swee apakah maling itu telah tertangkap.

“Siapa yang bisa menangkapnya!” kata Liem Swee dengan wajah memperlihatkan kekecewaan. ”Malingnya adalah seorang siluman!”

Sian Hwa menjadi terkejut dan memandang heran. Tadinya disangkanya bahwa Liem Swee bergurau, karena pemuda ini memang suka bergurau. Akan tetapi, pemuda itu nampak bersungguh sungguh dan pula setelah tadi dikecewakan hatinya oleh Sian Hwa, agaknya tidak muduh bagi Liem Swee untuk bergurau pada malam itu.

“Suheng, apakah artinya ucapanmu tadi? Seorang siluman?” tanyanya tidak percaya.

Liem Swee mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, seorang siluman. Kalau orang biasa saja, tak mungkin ia terlepas dari ringkusan ayah.”

“Apa? Suhu telah turun tangan sendiri dan tidak berhasil menangkapnya?” tanya Sian Hwa dengan hati amat tertarik.

”Ya, ayah sudah bertemu dengan maling itu di atas genteng istana. Aku yang menyertai ayah melihat betapa maling itu berwajah menyeramkan dan pakaiannya compang camping. Pedang Pek lek-kiam dikempitnya dan ia berlari cepat sekali. Ketika ayah menghadang, ia lalu melawan. Akan tetapi mana ia bisa menang menghadapi ayahku? Setelah bertempur lebih tiga puluh jurus ia tidak kuat bertahan lagi lalu hendak melarikan diri.

"Aku hendak maju, akan tetapi tidak boleh oleh ayah karena memang penjahat itu lihai sekali. Dengan terjangan Siu eng-na jiu-hwat, ayah berhasil meringkusnya, akan tetapi sungguh hebat. Maling itu dapat melepaskan diri, entah dengan ilmu apa, sehingga ayah sendiri berseru keras terheran heran. Tahu tahu maling itu telah lari lagi dan biarpun dalam hal ilmu silat ia kalah oleh ayah, namun larinya cepat sekali dan sebentar saja menghilang di dalam gelap!"

Sian Hwa mendengar dengan terheran heran. Ia telah mempelajari Sin eng na jiu hwat dan mengetahui akan kehebatan ilmu lilai ini. Apalag i dimaiakan oleh gurunya, siapakah orangnya yang dapat melepaskan dirinya dari ringkusan gurunya ini? Benar benar maling yang hebat luar biasa.

Pada saat itu, datang panglima Ang Seng Tong, kepala Gi lim-kun yang juga ikut meronda. Ketika melihat Liem Swee dan Sian Hwa, ia lalu memberitahukan bahwa kedua orang muda itu dicari oleh Pat jiu Giam ong dan diminta datang pada malam hari itu juga.

Setelah Liem Swee dan Sian Hwa menghadap, Pat jiu Giam ong yang kelihatan bersungguh sungguh itu lalu berkata. “Mulai sekarang, kalian berdua harus belajar lebih rajin lagi. Menurut dugaanku maling itu tentu ada hubungannya dengan Bu Tek Kiam-ong. Aku melihat beberapa jurus ilmu silat Bu Tek Kiam-ong ketika orang itu bertempur dengan aku. Munculnya seorang kawan Bu Tek Kiam-ong menandakan bahwa, Bu Tek Kiam-ong masih hidup dan dia merupakan lawan yang paling kuat di antara tokoh tokoh lain. Maka, berhati hatilah dan pergiatlah latihan ilmu silat kalian. Jangan mencari permusuhan, karena kalian sudah tahu bahwa banyak sekali orang pandai berkeliaran di daerah ini pada waktu sekarang.”

Demikianlah, seluruh kota raja geger karena pedang pusaka milik kaisar telah dicuri orang dan tak seorangpun berhasil menangkap pencurinya. Bahkan Tat jiu Giam ong sendiri tidak berhasil membekuknya. Siapakah sebenarnya pencuri yang sakti itu? Benarkah dugaan Pat jio Giam ong bahwa orang itu mempunyai hubungan dengan Bu Tek Kiam ong. Raja Pedang yang telah lama tidak muncul di dunia ramai dan yang dianggap telah tewas tanpa ada orang lain yang mengetahui itu?

Untuk mengetahui dan menjawab hal ini, marilah kita mengikut perjalanan Bun Sam, karena secara kebetulatn sekali pemuda ini bertemu dengan maling sakti yang oleh Liem Swee disebut siluman itu. Dengan hati amat berat, Bun Sam meninggalkan taman bunga di mana kekasihnya berada. Ia tahu bahwa inilah pertemuan dan juga sekaligus perpisahan yang terakhir ia berjumpa dengan Sian Hwa, jatuh cinta, lantas dua hati bertemu.

Akan tetapi bertemu hanya sekali saja untuk selanjutnya berpisah. Harus berpisah, sungguhpun di dalam batin mereka telah terjalin ikatan yang erat dan yang takkan dapat dipisahkan oleh maut sekalipun. Pahit dan perih rasa hati Bun Sam, pemuda remaja yang menjadi korban asmara ini. Ia hendak pergi secepat mungkin, malam ini juga.

Tak tahan ia harus berada di kota raja, di mana kekasihnya tinggal. Tak kuat hatinya memikirkan hatinya dekat dengan Sian Hwa namun tidak mungkin menemuinya tak dapat melihat wajah yang telah terukir di dalam hatinya itu, tak dapat mendengarkan suara yang telah bergema selalu di dalam anak telinganya.

Ia ingin pergi keluar dari kota raja malam itu juga dan hendak melanjutkan perjalanan, pulang ke Oei san, tempat tinggal suhunya, ia takkan turun gunung lagi, akan tinggal saja bersama dengan suhunya di Oei san, menjadi pertapa untuk mencari obat bagi batinnya yang terluka.

Ketika ia sedang berlari cepat sekali melalui wuwungan rumah orang orang kota raja, ia melihat pula para panglima berlari lari mengejar maling yang mencuri barang pusaka. Bun Sam yang sedang merana dan melanjutkan perjalanannya, memilih tempat sepi agar jangan bertemu dengan para pengejar maling itu.

Tiba-tiba ia melihat bayangan hitam berkelebat di depannya, mendatangi dari jurusan lain dan ketika ia memandang, ternyata bahwa orang itu adalah seorang kakek yang berwajah liar. Rambutnya awut awutan, sebagian banyak menutup mukanya yang bewajah liar. Cambang dan jenggotnya panjang tidak terpelihara, tumbuh liar di seluruh mukanya.

Pakaiannya serba hitam dan compang camping, sama tidak terpelihara dengan rambut dan cambang bauknya. Sepasang kakinya telanjang dan jari jari kakinya besar besar. Yang amat menarik perhatian Bun Sam adalah pedang bersarung emas yang dikempit di bawah lengan kirinya. Tahulah ia bahwa orang inilah yang mencuri pedang pusaka dari istana kaisar.

“Maling pedang, serahkan pedang itu kepadaku!” seru Bun Sam sambil menghadang di depan orang itu. Biarpun tidak memperdulikan urusan pencurian itu, namun darah mudanya tidak mengizinkan ia berpeluk tangan saja setelah secara kebetulan bertemu muka dengan maling yang aneh ini!

Kakek ini memandangnya dengan mata berputar putar, kemudian mengeluarkan suara ha ha. Bun Sam tercengang melihat ini karena tahu bahwa kakek ini adalah orang gagu seperti suhengnya. Iapun lalu menggerak gerakkan jari tangannya membalas isyarat pada kakek itu. Ia menyatakan bahwa kakek itu telah melakukan pelanggaran besar terhadap kaisar dan mengapa kakek itn mencuri sebuah pedang.

Kakek itu kembali mengeluarkan suara ha ha hu hu dan dengan isyarat jari tangan ia menyuruh Bun Sam pergi dan jangan mencampuri urusannya. Akan tetapi, nyata bahwa ia gembira melihat pemuda tampan di depannya ini pandai “bicara” dalam bahasa gerak jari seperti seorang gagu.

Melihat Bun Sam bersitegang tidak mau melepaskannya, kakek itu menjadi marah dan tiba tiba ia mendorong pemuda itu supaya minggir. Mana Bun Sam mau diperlakukan begitu saja? Ia cepat mengelak dan ketika kakek itu hendak melompat pergi, ia lalu mengulur tangan kanannya, menotok ke arah pundak kakek itu dengan maksud merampas pedang.

Akan tetapi ia menjadi terkejut sekali. Dengan jelas ia melihat betapa totokannya sudah berhasil tepat, akan tetapi kakek itu tidak menjadi lumpuh, sebaliknya ia bahkan merasa jari tangannya merasa sakit! Bukan main! Kalaupun kakek ini mengerti ilmu menutup jalan darah, tidak nanti jari tangannya sampai merasa sakit. Hal ini hanya menandakan bahwa lweekang dari kakek ini benar benar tinggi sekali.

Sebaliknya, ketika kakek itu melihat pemuda ini menyerangnya, lalu mengeluarkan suara marah dan secepat kilat ia membalikkan tubuhnya, tidak jadi berlari dan berbalik menyerang Bun Sam dengan ilmu pukulan yang aneh dan dahsyat! Bun Sam terkejut sekali dan cepat ia lalu mengelak dan melihat kakek itu terus mendesaknya dengan pukulan bertubi tubi dan hebat sekali, ia segera mainkan Ilmu Silat Thai lek-Kim kong-jiu, warisan dari suhunya, yakni Kim Kong Taisu.

Si gagu ini menjadi terketjut sekali dan nampaknya tercengang menyaksikan ilmu silat ini. Beberapa kali ia mengeluarkan suara yang menyatakan keheranan dan kekagetannya, kemudian dengan gembira ia menghadapi Bun Sam dengan ilmu silatnya yang aneh. Ketika lengan Bun Sam beradu dengan lengan kakek itu, pemuda ini menjadi makin terkejut karena ia merasa tangannya seakan akan bertemu dengan besi panas!

Ia pernah mendengar dari suhunya bahwa ada ilmu pukulan yang disebut Ang thiat ciang (Tangan Besi Merah), akan tetapi karena ilmu pukulan ini hanya dimiliki oleh seorang tokoh besar yang sudah tidak ada lagi di dunia, maka mustahil kalau kini kakek ini dapat memilikinya. Apakah ini tokoh yang sudah lenyap dari dunia kangouw itu?

Tak mungkin, pikir Bun Sam, karena tokoh itu yang disebut oleh suhunya sebagai Raja Pedang, digambarkan oleh suhunya sebagai seorang yang biarpun sederhana namun selalu berpakaian bersih dan menjaga dirinya dengan baik.

Karena terdesak terus oleh ilmu pukulan lawannya yang aneh dan sakti ini biarpun lawannya hanya mempergunakan tangan kanan saja karena tangan kirinya untuk memegang pedang curiannya, Bun Sam lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu yang dipelajarinya dari Mo-bin Sin-kun...!

Selanjutnya,
PEDANG SINAR EMAS JILID 08