Sin Kun Bu Tek Jilid 01

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding) jilid 01
Sonny Ogawa

Sin Kun Bu Tek (Kepalan Dewa Tanpa Tanding Jilid 01, karya Kho Ping Hoo - Pada suatu hari di musim dingin. Matahari sejak pagi tak tampak dan terhalang oleh mendung-mendung tebal hingga hawa sangat dingin karena angin meniup kencang. Sungguh hawa yang buruk dan semua orang tahu bahwa keadaan macam itu biasanya suka membawa datang berbagai penyakit. Oleh karena itu, mereka yang bertubuh lemah tak berani keluar, sembunyi dalam kamar dan membungkus diri dengan baju tebal.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Dan Lauw Cin serta isterinya sudah siap untuk sewaktu-waktu menolong mereka yang terkena penyakit, karena ia tahu bahwa banyak orang menderita sakit dalam musim seburuk itu. Lauw Cin suami-isteri maklum akan kelemahan tubuh anak mereka sendiri. Karena itu semenjak tadi mereka larang Heng San keluar dari rumah.

Ketika suami-isteri itu sedang duduk merajang akar obat menjadi potongan kecil-kecil, tiba-tiba mereka heran mendengar suara anaknya di luar rumah! Isteri Lauw Cin cepat bangkit dari tempat duduknya dan keluar. Di luar pintu ia melihat Heng San berlari ke pintu dengan wajah kebiru-biruan karena dingin.

“Heng San!” ia menegur marah. “Dari mana kau keluar? Bukankah ibu sudah melarangmu keluar dari rumah?”

Heng San masuk ke rumah melalui pintu yang dibuka ibunya. Ia berkata sambil menggigil, “Ibu, dari jendela kamar aku melihat seorang pengemis tua kedinginan di luar. Ia jalan terhuyung-huyung dan jatuh. Agaknya ia pingsan. Karena itu aku segera keluar melalui jendela agar lebih cepat menghampiri pengemis itu. Benar saja, ibu, dia pingsan. Mari kita beri tahu pada ayah supaya orang itu ditolongnya!”

Lenyaplah kemarahan ibunya mendengar penuturan Heng San ini. Memang ia adalah seorang nyonya muda yang berhati mulia dan penuh welas asih. Mendengar akan kesengsaraan pengemis itu, hatinya merasa sangat kasihan, dan dengan cepat ia ajak Heng San ke ruang di mana suaminya masih bekerja.

“Heng San, dari mana kau?” Lauw Cin menegur anaknya dengan suara keras.

“Ayah, ada pengemis tua jatuh pingsan di luar rumah kita.” Heng San menjawab.

Lauw Cin segera berdiri dan dengan diikuti oleh isteri dan anaknya ia lari keluar. Benar saja, di emper rumah tampak seorang pengemis tua rebah miring dengan mata terpejam dan muka pucat seperti mayat. Lauw Cin berjongkok dan raba nadinya.

“Masih hidup!” katanya penuh harap, lalu tanpa ragu-ragu lagi ia angkat tubuh kurus kering itu ke dalam rumah. Ia bawa masuk pengemis itu ke dalam kamarnya dan tidak sangsi-sangsi lagi letakkan tubuh yang terbungkus pakaian kotor penuh tambalan itu ke atas tempat tidurnya yang pakai tilam putih bersih!

“Lekas sediakan air panas!” perintahnya kepada isterinya yang lalu lari ke dapur dan masak air, dibantu oleh pelayannya. Lauw Cin sendiri lalu mengambila arak dan mencampurnya dengan obat gosok, lalu digosoknya seluruh tubuh yang kaku kedinginan itu.

Kemudian ia tuangkan obat ke dalam mulut pengemis itu dan dengan cekatan ia ganti pakaian pengemis itu dengan pakaian yang diambilnya dari lemari. Isterinya datang membawa air panas. Lauw Cin aduk sedikit tepung campur obat ke dalam air panas dan gunakan sendok untuk menyuapi mulut orang tua itu.

Tak lama kemudian sadarlah pengemis itu dari pingsannya. Di luar dugaan semua orang, begitu matanya terbuka, ia loncat bangun dan tahu-tahu sudah duduk di atas pembaringan sambil melihat sekeliling dengan matanya yang terputar-putar aneh. Kemudian pengemis itu memandang ke arah tubuh sendiri yang kini mengenakan pakaian bagus dan tebal. Setelah itu ia pandang wajah Lauw Cin dan isterinya. Mulutnya tersenyum getir.

“Haya....! Kau telah memaksa menjadi aku punya in-kong (tuan penolong)! Kalau kalian biarkan tubuh tua bangka yang hampir rusak ini mati di jalan, sekarang aku sudah senang. Tapi kalian sekarang mengikat aku, memberi tugas hidup baru untuk melunasi hutangku padamu. Haya....!” Pengemis itu geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang pendek.

Lauw Cin saling pandang dengan isterinya. Betul-betul orang aneh! Ditolong tidak berterima kasih, bahkan mengeluh dan mengomel panjang pendek!

“Kong-kong! Kenapa kau ingin benar mati? Lihat, alangkah senangnya hidup! Kau bisa bermain-main, bisa makan enak!” tiba-tiba Heng San menyela pengemis itu dengan menyebutnya kakek.

Pengemis itu tujukan pandangan matanya yang aneh kepada Heng San. Sesaat lamanya ia pandang anak itu dengan penuh perhatian, dari atas sampai ke bawah, kemudian ia tersenyum dan mengangguk-angguk senang.

“Tidak percuma... tidak percuma.... In-kong, apakah anak ini puteramu?”

Lauw Cin mengangguk, “Putera kami satu-satunya.”

“Bagus, bagus! Kalau begitu tidak percuma kau tolong aku, in-kong! Aku tidak akan susah-susah mencari jalan membalas budi.”

“Apa maksudmu?”

Pengemis itu turun dari pembaringan dan berdiri tegak. “In-kong, ketahuilah. Yang kau tolong hari ini bukanlah sembarang pengemis, juga bukan sembarang orang!” Kedua matanya yang bulat besar itu berputaran. “Lohu adalah Pat-Chiu Sin-kay yang telah berpuluh tahun menjelajah dunia kang-ouw!”

Terkejutlah Lauw Cin mendengar julukan Pengemis Dewa Tangan Delapan ini! Ia sudah mendengar akan nama yang sangat terkenal ini, nama seorang pendekar aneh yang selalu membasmi kejahatan dan menolong yang lemah, tokoh kang-ouw yang ditakuti lawan disegani kawan! Cepat-cepat ia memberi hormat,

“Maaf, lo-enghiong, kami tidak tahu bahwa kami berhadapan dengan kau orang tua yang berbudi dan terkenal gagah!”

Pengemis Dewa itu memandang Heng San dan berkata dengan sungguh-sungguh kepada Lauw Cin. “In-kong, secara kebetulan sekali aku yang tak pernah dijatuhkan oleh orang gagah yang manapun, pada hari ini harus tunduk kepada kekuasaan alam dan jatuh sakit di depan rumahmu. Dan kebetulan sekali kau yang menolongku. Aku si tua bangka belum pernah hutang budi tanpa dibalas. Sekarang kulihat anakmu ini bertulang pendekar dan berwatak baik. Maka perkenankanlah aku mengangkatnya sebagai murid, dengan demikian aku dapat pula balas budimu.”

Sebelum Lauw Cin dapat menjawab, Heng San yang cerdik dan yang sudah mendengar akan nama pengemis perkasa itu, cepat jatuhkan dirinya berlutut di depan pengemis dewa itu sambil angguk-anggukkan kepala dan berkali-kali menyebut, “Suhu....”

Pat-chiu Sin-kay tertawa bergelak-gelak dan dari kedua matanya yang lebar menggelinding keluar air mata dua butir. “Muridku yang baik... muridku yang baik!!” Ia pegang pundak Heng San, mengangkatnya ke atas lalu lempar tubuh anak itu ke atas, tangkap lagi, lempar lagi hingga Heng San dipakai main seperti seorang anak kecil main-main dengan sebuah bal.

Lauw Cin dan isterinya melihat peristiwa ini dengan mata terbelalak dan hati khawatir, tapi setelah Heng San diturunkan, ternyata anak yang tadinya pucat kedinginan itu kini berubah segar, kedua pipinya merah dan matanya bersinar girang. Tentu saja kedua orang tuanya menjadi senang, namun diam-diam Lauw Cin suami-isteri tetap merasa tak enak hati melihat cara-cara guru yang aneh itu.

Semalam itu Lauw Cin dan isterinya tak dapat tidur. Mereka memperbincangkan persoalan anak mereka. Tadinya isterinya berkukuh tidak menyetujui bahwa Heng San menjadi murid pengemis aneh itu, tapi setelah dibujuk-bujuk oleh Lauw Cin, akhirnya ia menurut juga. Lauw Cin kemukakan pendapatnya:

“Aku sendiripun tak berapa suka melihat watak yang aneh dan menakutkan dari losuhu itu, tapi bagaimana kita harus menolak permintaannya untuk mendidik Heng San? Ia seorang yang sangat terkenal dan sepanjang pendengaranku, ia adalah seorang hiapkek besar yang banyak curahkan tenaga menolong orang tertindas dan sengsara.

"Jadi, kalau dipikir-pikir, ia masih segolongan dengan kita. Bukankah kitapun bercita-cita hendak mendidik Heng San menjadi orang pandai dan budiman penolong orang yang menderita? Juga, di jaman sekarang banyak terjadi kekacauan, perampokan, dan bahaya bermacam-macam bentuk mengancam kehidupan dari mana-mana.

"Kukira tiada jeleknya kalau Heng San belajar sedikit ilmu silat agar tubuhnya kuat dan ia kelak dapat menghadapi segala bahaya dengan tabah dan lebih mudah menjaga diri terhadap serangan orang-orang jahat.”

Demikianlah, semenjak hari itu pengemis dewa itu tinggal di rumah Lauw Cin, mendapat sebuah kamar yang kecil dibagian belakang. Heng San suka sekali kepada suhunya, hampir setiap saat ia berada berdua dengan gurunya itu.

Pat-chiu Sin-kay tadinya adalah seorang guru silat yang ternama di daerah timur. Di masa mudanya ia telah banyak merantau dan memperdalam ilmu silatnya dari berbagai cabang persilatan hingga akhirnya ia menjadi seorang ahli silat yang jarang bertemu tandingan. Kemudian ia tinggal di timur dan berumah tangga. Dalam perkawinannya ia mendapat seorang anak laki-laki.

Ketika anak itu telah berusia belasan tahun, tiba-tiba terjangkit semacam penyakit yang hebat dan yang mengorbankan banyak jiwa orang. Di antara para korban terdapat isteri dan anaknya. Hancurlah hatinya, dan ia pergi mengembara seperti orang gila dan pekerjaannya hanya mengemis. Ia telah lupa akan nama sendiri, tapi ia tidak lupa sifat satrianya hingga di mana saja ia berada, ia tentu gunakan kepandaiannya untuk menolong orang dan membasmi yang jahat.

Selama ia merantau itu, entah sudah berapa banyak penjahat-penjahat kejam yang ia tewaskan dan entah berapa puluh jagoan-jagoan kelas tinggi roboh dalam tangannya, hingga ia mendapat julukan Pat-chiu Sin-kay si Penemis Dewa Tangan Delapan.

Tapi karena ia tak menjaga diri, tidak perdulikan kesehatannya dan makannya juga tiada menentu akhirnya ia sering terserang penyakit. Sering ia terserang penyakit jantung dan tiba-tiba menjadi pingsan. Ketika ia lewat di depan rumah Lauw Cin, penyakitnya kambuh dan ia pingsan. Untung baginya Heng San melihatnya, kalau tidak, ia tentu akan mati kaku kedinginan di luar rumah itu.

Sebagai seorang yang berwatak pendekar, ia tidak bisa terima budi orang tanpa terbalas. Terutama sekali setelah melihat Heng San, ia teringat akan anak sendiri, dan ia suka melihat bahwa Heng San berbakat. Maka ia putuskan untuk menunda perantauannya dan turunkan ilmu kepandaiannya kepada Heng San. Pengemis dewa itu tidak tanggung-tanggung mewariskan ilmunya kepada Heng San. Ia gembleng anak itu sedemikian rupa, hingga boleh dibilang tidak ada satu haripun terlewat tanpa latihan berat.

Tapi Heng San tidak pernah malas. Ia senang betul berlatih silat. Pelajaran tulis-baca yang dipelajarinya dari ayah-ibu mulai mudur. Lauw Cin dan isterinya tidak senang melihat ini, tapi mereka tak berdaya. Mereka terlalu sungkan kepada pengemis dewa itu dan mereka terlalu memanjakan putera tunggalnya.

Tubuh Heng San yang tadinya kurus lemah itu kini walaupun masih kurus tapi berisi dan kuat sekali. Terutama tangan kanan Heng San bertenaga besar sekali serta kuat karena gurunya memberi pelajaran bermacam ilmu yang lihai padanya, dari latihan memukul dan meremas pasir panas sampai meremas bubuk besi!

Tapi ketika pengemis dewa hendak memberi pelajaran silat pedang atau senjata tajam lainnya kepada Heng San, Lauw Cin dan isterinya melarang keras. Kedua orang tua itu ngeri dan takut melihat anaknya bermain senjata tajam. Karena itu, Pat-chiu Sin-kay menggembleng Heng San dalam ilmu silat tangan kosong yang lihai.

Bahkan ia mengajar muridnya semacam ilmu silat tangan kosong yang khusus untuk melawan dan menghadapi musuh-musuh bersenjata tajam. Untuk menjadi ahli silat tangan kosong yang betul-betul tangguh, Heng San harus memiliki kepandaian yang lengkap. Gin-kang harus tinggi hingga ia dapat bergerak gesit dan cepat.

Selain lweekang atau tenaga dalam harus terlatih baik, juga gwakang atau tenaga luar harus kuat. Juga ia dilatih mempelajari ilmu weduk Tiat-pou-san hingga tubuhnya menjadi kebal dan senjata baja biasa saja belum tentu dapat melukainya!

Setelah ia belajar selama lima tahun, Lauw Cin dan isterinya menganggap bahwa putera mereka telah cukup lama belajar silat. “Losuhu”, kata Lauw Cin mengemukakan pendapatnya, “Heng San kiranya sudah cukup lama mempelajari ilmu silat. Ia kini telah dewasa, sudah berusia tujuhbelas tahun. Kiranya sudah tiba waktunya untuk mempelajari ilmu obat-obatan agar kelak ia dapat menggantikan kedudukanku.”

Pengemis Dewa Tangan Delapan geleng-geleng kepala dan putar-putar matanya yang bundar. “Belum, in-kong, belum!” ia selalu masih menyebut in-kong kepada Lauw Cin. “Kepandaiannya belum cukup, ia harus belajar lima tahun lagi.”

“Lima tahun lagi?” isteri Liauw Cin berteriak. “Untuk apa? Apa gunanya ia mempelajari segala gerakan silat itu? Apa ia bisa kenyang karena main silat? Apa ia bisa menghasilkan sesuatu dengan silat? Pula, ia telah belajar lima tahun, apakah hasilnya?” Nyonya ini penasaran sekali.

“Hasilnya? Lihat saja sore nanti, pasti Heng San akan memperlihatkan kepandaiannya.” Setelah berkata demikian, pengemis dewa itu duduk bersila dan meramkan mata, tanda bahwa ia ingin bersamadi dan tak mau diganggu.

Suami-isteri itu pergi keluar dari kamar tamunya dengan hati penasaran dan tidak puas. Pada sore harinya, ketika Lauw Cin dan isterinya sedang duduk membungkus obat, tiba-tiba terdengar teriakan di luar toko. “Kerbau gila! Kerbau mengamuk! Lari... lari!!”

Lauw Cin dan isterinya melongok keluar. Alangkah kaget dan cemas hati mereka melihat seekor kerbau jantan yang besar dan kuat tampak lari mendatangi dengan kepala tunduk dan tanduknya yang tajam siap menyerang orang. Dan di depan toko, dengan sikap yang tenang sekali, tampak Heng San berdiri melihat kerbau itu dengan pandang mata tajam!

“Heng San, lari kau!” ayah-ibunya berteriak cemas, tapi Heng San hanya menengok kepada mereka dan tersenyum manis. “Tenanglah, ayah.” Anak itu bahkan menasihati ayahnya.

Kerbau gila itu datang makin cepat dan ketika tiba di depan Heng San ia tundukkan kepala dan tanpa banyak gerakan langsung lari menubruk dan menanduk! Ibu Heng San melihat hal itu segera lari maju, tapi ditahan oleh suaminya.

Nyonya yang sangat takut melihat anaknya celaka itu berteriak-teriak, “Heng San... Heng San...” dan ia jatuh pingsan dalam pelukan suaminya.

Tapi Heng San hanya bergerak sedikit ke samping dan gerakan itu cukup untuk mengelit serangan kerbau. Sebelum kerbau itu dapat membalik dan menyerang lagi, ia telah loncat dari samping, gunakan tangan kiri menangkap tanduk kerbau dan tangan kanannya diayun lalu dipukulkan ke arah kepala binatang itu sekuat tenaga!

Lauw Cin yang sambil peluk isterinya melihat ke arah anaknya denga mata terbelalak dan hati berdebar, hanya mendengar suara keras “krakk!” dan ia melihat betapa tubuh kerbau yang besar itu menjadi lemas dan akhirnya roboh mati dengan kepala pecah! Heng San dengan nyata sekali tampak heran sendiri akan kehebatan tangan kanannya, maka anak muda itu membungkuk dan memeriksa kepala kerbau itu dan ia bersihkan tangannya yang berdarah pada kulit kerbau.

Orang-orang datang berduyun untuk menyaksikan peristiwa hebat itu dan tiada habisnya mereka memuji ketangkasan dan kehebatan Heng San. Ramailah orang sekota tiada habis heran karena tadinya mereka tidak tahu sama sekali akan kepandaian Heng San. Lauw Cin setelah bawa isterinya ke pembaringan dan menyadarkannya, lalu panggil Heng San. Anak muda itu masuk dengan wajah berseri dan jelas bahwa ia merasa bangga sekali akan kepandaiannya.

Juga pengemis dewa masuk dengan mulut tersenyum. “Bagaimana pendapatmu tentang hasil pelajaran Heng San, in-kong?” pengemis dewa itu bertanya.

Lauw Cin tak dapat menjawab, hanya pandang wajah puteranya dengan kagum. Sementara itu, nyonya Lauw Cin yang telah siuman kembali bangun duduk dan matanya mencari-cari..“Heng San.... Heng San...”

Heng San segera melangkah maju dan berlutut di pinggir pembaringan. “Aku di sini, ibu. Jangan kau takut, aku tidak apa-apa.”

Ibunya memandangnya dengan penuh kasih sayang dan menghela napas lega melihat anaknya berada di situ dengan selamat. “Aahh.... Heng San, jangan kau bikin ibumu kaget setengah mati lagi...” katanya perlahan dan peluk puteranya.

“Nah, maka kalian harus ijinkan Heng San melanjutkan pelajarannya agar ia menjadi orang yang benar-benar kuat dan pandai, hingga kalian tak perlu khawatirkan keselamatannya lagi. Kalau ia sudah tamat belajar, jangankan baru seekor kerbau mengamuk, biarpun ada seratus kerbau gila, ia akan dapat menjaga diri dengan mudah!”

Heng San segera berlutut di hadapan gurunya, “Suhu, mohon pengajaranmu lebih jauh.” Pat-chiu Sin-kay tertawa girang dan angkat bangun muridnya.

“Heran sekali, dari manakah datangnya kerbau gila itu?” Lauw Cin bertanya kepada pengemis dewa yang perkeras suara ketawanya dan kedua biji matanya makin cepat berputaran!

“Bukankah tadi pagi kukatakan bahwa sore ini akan kuperlihatkan kepandaian Heng San? Maka relakanlah hatimu, in-kong, biar aku gembleng Heng San barang lima tahun lagi, agar ia cakap menjaga diri sendiri, menjaga keselamatan kalian, dan menjunjung tinggi namaku yang menjadi suhunya.”

Tak seorangpun tahu bahwa pengemis aneh itu telah berlaku nakal dan gunakan sebatang jarum ditusukkan ke belakang telinga kerbau itu hingga mengamuk!

Demikianlah, dengan tekun dan rajin Heng San yang melihat betapa hebat hasil yang didapat dari ilmu silat yang sedang dipelajarinya, perdalam ilmunya di bawah bimbingan Pat-chiu Sin-kay yang mengajarnya dengan bersungguh-sungguh...

Selanjutnya,