Pusaka Gua Siluman Jilid 27, karya Kho Ping Hoo - Memang, sikap Siok Ho sudah terang-terangan bahwa pemuda ini suka kepadanya, amat setia dan manis sikapnya kepadanya. Akan tetapi belum pernah pemuda ini menyatakan cintanya. Kalau pemuda ini menyatakan cinta kasihnya, kiranya ia takkan ragu-ragu lagi karena bisikan hatinya memilih Siok Ho.

Biarpun sering kali ia termenung kalau teringat akan kebaikan hati dan besarnya cinta kasih Han Sin. Karena berada dalam kebimbangan dan kebingungan, gadis ini lalu "memperpanjang" sakitnya, tidak lain dengan maksud menahan tiga orang pemuda itu sampai ia dapat mengambil keputusan, kepada pemuda mana ia akan menyerahkan hatinya.
Karena kepandaian Lee Ing memang tinggi sekali, tentu saja ia dapat melihat kedatangan Han Sin dan Siok Bun, biarpun keduanya bersembunyi dan biarpun ia tidak melihat ke arah mereka. Dua orang anak murid Hoa-lian pai yang bertugas melayani nona yang sedang "sakit" ini, tentu saja tidak tahu bahwa ada dua orang pemuda yang mengintai nona ilu dari jauh. Selagi Han Sin dan Siok Bun hendak menghampiri, tiba-tiba terdengar orang memanggil,
"Adik Lee Ing...!" Lee Ing menengok, wajahnya berseri ketika ia melihat Siok Ho mendatangi dengan lenggang bergaya.
Seperti biasa, pakaian pemuda ini baru diganti, bersih dan halus, topi yang menutupi rambutnya juga rapi. Rambutnya berkilat, agaknya baru diminyaki, dan sedikit rambut yang kelihatan di bawah topi atau kain kepalanya nampak hitam dan tebal. Wajahnya yang tampan berseri, bibirnya tersenyum-senyum ketika ia menghampiri Lee Ing dengan langkah tegap.
"Oei-twako, kau kelihatan gembira, sekali pagi ini!" tegur Lee Ing sambil membetulkan rambutnya yang agak kusut.
"Betaapa tidak? Pagi seindah ini, langit cerah udara sejuk hangat oleh sinar matahari, kembang-kembang pada mekar, burung berkicauan dan kupu-kupu beterbangan."
"Aduh, kau agaknya hendak mengeluarkan sajak-sajakmu, siucai (sasterawan) muda!" Lee Ing juga gembira kini, matanya memandang dengan sinar berseri. Siok Bun dan Han Sin dapat melihat pandang mata ini dan diam-diam mereka mengeluh. Kalau saja sinar mata itu ditujukan kepada mereka, alangkah bahagianya.
Sambil tersenyum senyum Siok Ho menghampiri dan pada saat Lee Ing menunduk, ia memberi isyarat cepat dengan tangannya, menyuruh dua orang anak murid Hoa-lian-pai itu pergi. Sambil tersenyum dua orang wanita itu mengangguk lalu pergi, seakan-akan mereka sudah biasa menerima isyarat seperti ini dari Siok Ho.
Dengan dalih hendak membersihkan ruangan, mereka berpamit dari Lee Ing yang tidak melarang. Lee Ing tidak melihat isyarat tadi, akan tetapi Han Sin dan Siok Bun melihat dengan jelas. Siok Ho lalu duduk di atas sebuah bangku dekat Lee Ing.
"Sudah baikkah kesehatanmu, adikku?" Lee Ing hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya berdebar-debar karena sekaranglah agaknya saat bagi pemuda ini untuk menyatakan perasaannya. Akan tetapi Siok Ho hanya mengoceh tentang keharuman kembang mawar, keindahan kembang seruni, kesegaran hawa di Ta-pie-san dan lain-lain lagi.
"Oei-twako, lihat alangkah indahnya kupu-kupu itu." Lee Ing menuding ke arah sepasang kupu-kupu yang beterbangan di atas serumpun bunga seruni. Memang indah kupu-kupu itu, yang seekor bersayap kuning polos, yang ke dua kuning berkembang. Mereka beterbangan di sekeliling bunga-bunga, kadang-kadang hinggap di atas bunga, kadang-kadang hanya berkeliling berkejaran, saling sentuh dan saling kejar. Nampaknya gembira sekali.
"Memang bagus sekali. Kau juga cantik seperti kupu-kupu itu, adikku." Berdetak jantung Lee Ing. Pemuda ini kadang-kadang mengejutkan. Memuji begitu tiba-tiba dan sejujurnya. Apa lagi yang sekarang hendak diucapkan oleh pemuda ini? Akan tetapi Siok Ho diam saja, memandangi kupu-kupu itu lalu menarik napas panjang seakan-akan terpesona sambil berkata lirih, "Pasangan yang cocok, bahagia sekali!"
Lee Ing memandang, lalu berkata, mukanya merah sekali, "Kalau bukan kau yang bicara, kalau aku belum mengenal baik padamu dan tahu bahwa kau seorang pemuda sopan, tentu aku akan marah dengan perbandinganmu tadi, twako. Mana aku dapat dibandingkan dengan kupu-kupu itu? Mereka berpasangan, aku hidup sebatangkara...."
"Ah, mana bisa? Seorang gadis seperti kau ini. cantik seperti bidadari, pandai seperti dewi, siapa bilang tidak akan mendapat pasangan?""Jangan mengejek. Orang macam aku ini, yatim piatu, miskin dan bodoh, siapa yang akan sudi mengaku....?"
"Ilihhh, bisa saja merendahkan diri. Kiranya ribuan orang pemuda yang akan bertekuk lutut di depanmu, adikku. Laksaan pria yang akan suka mengurangi umurnya asal bisa berada di sampingmu...."
"Aku tidak sudi! Aku tidak perdulikan perhatian laksaan pemuda goblok...."
"Eh, tidak semua pemuda goblok. Aku melihat seorang pemuda hebat, yang kiranya patut menjadi sisihanmu, pemuda yang tiada bandingannya di dunia ini, bukan pemuda sembarang pemuda....! Dia itu..." Siok Ho menahan kata-katanya.
"....ya? Kenapa kau diam.......?" Lee Ing mendesak, mukanya merah sekali karena ia sudah hampir dapat menerka lanjutan kala kala itu.
"Dia itu.... aahh... aku takut kau akan marah adik Lee Ing."
"Mengapa marah? Kalau orang bicara sejujurnya, tidak ada alasan bagiku untuk marah."
Sampai lama Siok Ho tidak berani melanjutkan kata-katanya, membuat Lee Ing menjadi tidak sabar sekali. Akan tetapi sebagai seorang gadis tentu saja tidak enak baginya kalau terlalu mendesak, maka ia menanti dengan sabar, dengan muka sebentar merah sebentar pucat, dengan dada berombak dan jantung berdenyut lebih kencang dari pada biasanya.
Tiba-tiba Lee Ing teringat akan hadirnya dua orang pemuda lain yang bersembunyi di balik rumpun kembang, la lalu bangkit berdiri dan berkala kepada Siok Ho, "Oei-twako, mari kita jalan-jalan sambil mengobrol. Aku sudah lelah duduk di sini terlalu lama."
Setelah berkata demikian, Lee Ing berdiri dari tempat duduknya. Ia sengaja berlaku lambat dan kakinya gemetar. Dengan sikap menyayangi Siok Ho membantunya dan memegang lengannya. Kemudian mereka berjalan-jalan, melihat-lihat kembang dan Lee Ing sengaja membawa Siok Ho menjauhi tempat bersembunyi dua orang muda yang tadi mengintai!
Dapat dibayangkan betapa panas hati Han Sin melihat Lee Ing dituntun pergi oleh Siok Ho dan melihat dua orang itu berjalan-jalan sambil tersenyum-senyum dan nampaknya mesra sekali. Pemuda ini menggigil bibirnya dan matanya berkunang-kunang.
Berbeda dengan Han Sin, Siok Bun tersenyum. Biarlah, pikirnya, biarlah Siok Ho mendapatkan gadis itu. Memang sesuai dan cocok. Aku girang melihat dia bahagia, orang yang semulia-mulianya dalam hatiku. Demikianlah, kedua orang muda itu diam-diam lalu meninggalkan taman, kembali ke kamar masing-masing untuk melamun! Sementara itu, Lee Ing kembali memancing Siok Ho.
"Oei-twako, di antara kita orang sendiri tak perlu ada rahasia-rahasia yang hanya akan meninggalkan salah faham dan tidak enak hati. Kau tadi bicara belum kau lanjutkan. Kuharap saja kau tidak akan membikin hatiku penasaran dan katakanlah siapa gerangan orang yang kau maksudkan tadi?"
Siok Ho berhenti bertindak dan memandang kepada Lee Ing dengan sepasang matanya yang bening tajam. "Kau benar-benar takkan marah kalau aku menyebut namanya?"
Lee Ing menggeleng kepala dan mukanya menjadi merah sekali melihat mata pemuda itu menatapnya sedemikian rupa. "Mengapa marah? Aku malah mengharapkan kejujuran semua kawanku."
"Adik Lee Ing," Siok Ho berkata hati-hati sekali, "menurut pendapatku yang bodoh, di dunia ini hanya ada seorang saja pemuda yang pantas menjadi sisihanmu, karena pemuda itu jujur, berwatak mulia, dan mencintaimu dengan sepenuh jiwanya. Pemuda itu adalah.. Liem Han Sin!"
Baiknya muka Lee Ing memang sudah agak pucat maka sedikit perubahan pada kulit mukanya itu tidak sampai kentara. Juga gadis ini berilmu tinggi sekali, dengan mengerahkan lweekang ia dapat menahan guncangan dalam dadanya dan peredaran darahnya dapat ia atur sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi perasaan jantungnya.
Hanya sepasang matanya yang mengerling, bagaikan kilat menyambar wajah Siok Ho, penuh selidik seakan-akan hendak menembus jantung pemuda itu untuk menjenguk isi hatinya. Akan tetapi wajah Siok Ho yang tampan itu nampak serius, sungguh-sungguh dan sama sekali tidak membayangkan ketidakwajaran atau kepalsuan. Lee Ing menarik napas panjang dan diam saja, hanya menundukkan mukanya.
Siok Ho salah sangka. Ia merasa khawatir sekali kalau-kalau Lee Ing menjadi marah, maka cepat-cepat ia berkata, "Adik Lee Ing, tadi sudah kuharapkan agar kau tidak menjadi marah. Maka apa bila kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu, aku mohon maaf sebesarnya."
Lee Ing hanya menggeleng kepala dan berkata lirih, "Tidak apa-apa."
Karena merasa tidak enak, Siok Ho akhirnya minta diri dan sekali lagi minta maaf. Sikap pemucla ini sangat mengecewakan hati Lee Ing. Benar-benar sikap yang aneh sekali, pikirnya sambil memandang punggung Siok Ho yang pergi meninggalkannya di taman bunga. Kelihatannya begitu mencintaiku, akan tetapi mengapa ia malah mengajukan Han Sin? Lee Ing menjadi makin bingung setelah mendengar pengakuan Siok Ho yang sama sekali di luar dugaannya ini.
Belum lama ia termenung setelah ditinggalkan Siok Ho, tiba-tiba terdengar langkah kaki orang dan Han Sin muncul di depannya. Tiba-tiba muka Lee Ing menjadi merah sekali. Baru saja Siok Ho mengatakan bahwa pemuda yang paling cocok menjadi teman hidupnya adalah Han Sin, maka munculnya orang ini tidak saja membuat ia jengah, akan tetapi juga tak senang karena ucapan Siok Ho telah mengecewakan hatinya. Lebih tak senang lagi ketika ia teringat bagaimana tadi Han Sin bersembunyi di balik rumpun bunga dan mengintai percakapannya dengan Siok Ho.
"Sin-ko (kakak Sin), baru sekarang kau muncul! Tadi kau bersembunyi saja di belakang rumpun kembang!" kata-kata ini terdengar dingin, juga wajah gadis itu membayangkan ketidak senangan hatinya. Han Sin terkejut sebentar, akan tetapi ia lalu teringat bahwa gadis ini memang lihai bukan main, tentu saja dapat melihat kedatangannya tadi.
"Ing-moi, harap kau suka maafkan aku, atau kalau kau anggap perbuatanku itu terlalu kurang ajar, biarlah kau boleh maki aku. Sebetulnya bukan maksudku bersembunyi-sembunyi seperti itu. Tadinya aku hendak menengokmu seperti biasa, akan tetapi tiba-tiba aku melihat munculnya pemuda she Oei itu maka terpaksa aku bersembunyi dan mundur." Ketika mengatakan sebutan "pemuda she Oei" tadi, suaranya terdengar ketus dan tak senang.
Tentu saja tekanan suara ini terdengar oleh Lee Ing. "Sin-ko, kalau ada Oei-twako di sini, mengapa sih? Kau agaknya tidak suka kepadanya!"
"Memang aku tidak suka kepadanya!" Ucapan keras oleh Han Sin ini mengejutkan hati Lee Ing dan membuat gadis ini penasaran.
"Sin-ko, omongan apa yang kau keluarkan ini? Oei-twako orang baik sekali, terutama terhadap engkau, dan kau. sekarang terang-terangan bilang tidak suka kepadanya?" kata Lee Ing yang teringat betapa tadi Siok Ho malah sudah memilih Han Sin sebagai pemuda yang paling cocok untuk Lee Ing, sebuah sikap yang boleh dibilang amat menguntungkan Han Sin dan suatu tanda bahwa Siok Ho amat baik terhadap Han Sin. Akan tetapi sebaliknya pemuda ini malah bilang tidak suka kepada Siok Ho!
Han Sin menarik napas panjang. "Ing-moi, aku tidak suka berbohong, hal ini kau tentu maklum. Memang, pada hakekatnya Oei Siok Ho tidak pernah berbuat sesuatu terhadap aku yang membuat aku tidak suka kepadanya. Akan tetapi sikapnya terhadapmu. Dia begitu memikat-mikat hatimu.... dia... ah, laki-laki seperti itu sikapnya amat berbahaya bagi seorang gadis, Ing-moi. Terus terang saja, biar kau marah kepadaku karenanya, aku nyatakan di sini bahwa pemuda seperti dia itu sama sekali tidak patut menjadi... menjadi... sisihanmu...."
Sepasang mata Lee Ing mengeluarkan kilat. Hatinya kecewa dan marah. Dia amat suka kepada Han Sin, ada sesuatu yang mesra dalam lubuk hatinya terhadap pemuda itu. yang menjadi samar dan suram karena muncul pemuda seperti Siok Ho.
Akan tetapi sikap Han Sin kali ini benar-benar mengecewakan dan memarahkan hatinya. Coba saja bayangkan. Siok Ho memuji-muji Han Sin di depannya, bahkan menyatakan bahwa Han Sin patut menjadi sisihannya, sedangkan sekarang sebaliknya, Han Sin malah mencela Siok Ho habis-habisan!
"Hemmm, Sin-ko, kenapa tidak kau lanjutkan omonganmu bahwa yang paling patut menjadi sisihanku adalah... adalah....."
"Ya...?" Han Sin menanti. Lee Ing tadinya dalam kemarahannya hendak menyindir bahwa tentu kalau menurut anggapan pemuda ini, ia tidak patut menjadi sisihan Siok Ho atau pemuda lain kecuali Han Sin! Hampir ia membenci Han Sin untuk anggapan ini. Betulkah Han Sin akan demikian licik dan menjemukan?
"Coba, kalau menurut kau, setelah Oei-twako tidak patut menjadi sisihanku, siapa saja yang patut?" Ia memancing, dadanya panas karena amarah. Biarpun ia masih bertanya, namun ia sudah mengerti, sudah hampir yakin bahwa jawaban Han Sin tak bisa lain tentu mengajukan diri sendiri sebagai calon yang paling tepat!
Aneh! Han Sin menjadi pucat dan menundukkan mukanya yang gagah, lalu berkata perlahan dan serak, "Kau tidak patut mempunyai sisihan macam Siok Ho Aku.... aku akan ikut gembira kalau meliat kau bahagia di samping pemuda yang amat baik seperti.. seperti misalnya Siok Bun. Dia ini baru boleh dibilang pemuda yang patut menjadi sisihanmu..."
Lee Ing melongo dan untuk beberapa saat tak dapat bicara. Jangankan mengeluarkan kata-kata, bergerakpun ia tidak sanggup. Begitu heran dia! Salah sangka dia! Han Sin ternyata bukan pemuda licik yang mau menang sendiri. Seperti yang patut dilakukan pemuda perkasa ini, ia tidak menonjolkan diri sendiri.
Sebaliknya malah, mengajukan Siok Bun, saingannya, sebagai pilihan Lee Ing gadis yang dicintanya sepenuh nyawa. Memang bagi Han Sin, seribu kali ia lebih rela Lee Ing berjodoh dengan Siok Bun dari pada dengan Siok Ho. Bagaikan suara yang datangnya dari atas langit, jauh sekali, Lee Ing sayup-sayup mendengar suara Han Sin,
"Ing-moi, kau percayalah kepadaku. Aku seorang laki-laki maka dalam hal ini aku kiranya lebih tahu dari padamu. Seorang pria seperti Oei Siok Ho itu, yang begitu pesolek, begitu lemah lembut, begitu memikat..... biasanya tidak boleh dipercaya. Hanya manis mulut, tidak terus ke hati. Aku... aku curiga sekali kepadanya dan sekarang juga akan kukatakan terang-terangan kepadanya. Ing-moi, percayalah karena aku... aku akan sengsara sekali kalau melihat kau sampai salah pilih. Kepada Siok Bun aku percaya penuh...."
Seperti dalam mimpi, Lee Ing hanya mengangguk.
"Hati-hatilah, Ing-moi.... hati-hatilah."
"Akan kuperhatikan, Sin-ko.... terima kasih atas nasihatmu...." jawab Lee Ing seperti orang lupa ingatan.
Melihat gadis itu menjadi lesu dan pucat, Han Sin bersedih, la khawatir sekali bahwa gadis ini betul-betul jatuh hati kepada Siok Ho. Karena ia sendiri merasa amat terharu, tanpa berkata apa-apa lagi ia lalu pergi meninggalkan Lee Ing yang masih berdiri melamun.
Dengan langkah tegap dan hati panas Han Sin keluar dari taman, langsung pergi mencari Siok Ho! Dalam urusan mengenai diri Lee Ing, tidak ada sungkan-sungkanan lagi. Biarpun selama ini Siok Ho memperlihatkan diri sebagai sekutu yang baik, juga sebagai pembela Tiong-gi-pai, akan tetapi dalam urusan mengenai diri Lee Ing, dia tak boleh berlaku sungkan lagi. Dia harus menempatkan diri sebagai pelindung kebahagiaan gadis itu kalau ia gagal menempatkan diri sebagai calon jodohnya.
Tak seorang jugapun, baik Siok Ho atau siapa juga, boleh menghancurkan kebahagiaan hidup gadis itu. la tidak percaya kepada Siok Ho, tidak percaya dalam hal kasih sayangnya terhadap Lee Ing. la harus memperingatkan Siok Ho agar jangan main-main dengan Lee Ing, jangan menjadikan gadis itu korban ketampanannya! Akan tetapi ia tidak dapat menemukan Siok Ho. Sebaliknya ia malah bertemu dengan Siok Bun di halaman depan bangunan Hoa-lian-pai.
"Liem-suhehg. kau hendak ke mana?" tanya Siok Bun yang melihat wajah orang muram.
"Aku mencari saudara Oei Siok Ho, dimanakah dia?" jawab Han Sin secara singkat dan kaku.
"Dia tadi turun ke sana, mungkin dia hendak mandi di pancuran air," kata Siok Bun. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dengan langkah lebar Han Sin lalu menuju ke jurusan yang ditunjuk.
Tidak enak perasaan Siok Bun. Diam-diam pemuda ini lalu mengejar dan mengikuti Han Sin dari jauh. Semenjak terjadi persaingan dalam memperebutkan kasih Lee Ing, memang diam-diam Siok Bun selalu merasa khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa antara Siok Ho dan Han Sin.
Dia sendiri memang sudah mengalah terhadap Siok Ho dan sekarang ia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu, kalau-kalau Han Sin yang jujur dan keras hati akan menantang Siok Ho. Maka ia mengikuti dan bersiap-siap, kalau perlu melindungi Siok Ho, tuan penolongnya yang selamanya akan ia bela.
Betul saja, ketika tiba di dekat pancuran air gunung yang dari kejauhan sudah terdengar suaranya, Han Sin melihat Siok Ho sedang hendak membuka pembungkus rambut kepalanya. Siok Ho mendengar tindakan kaki orang dan cepat menengok, kelihatan pucat dan kaget sekali melihat Han Sin sudah berdiri di belakangnya.
"Kau.... kau mau apa mengikuti aku....?" tanyanya gagap karena ia tadi benar-benar kaget melihat Han Sin di situ.
Melihat kegugupan orang, Han Sin inakin merasa yakin bahwa tentu Siok Ho sudah merasa mempunyai kesalahan, sudah merasa bersikap palsu di depan Lee Ing. Dengan senyum sindir ia berkata, "Biarpun kau mencuci dirimu sampai air pancuran habis, kau takkan mampu membersihkan diri dari kepalsuan!"
Siok Ho makin terkejut. Cepat ia membenarkan letak kain pembungkus kepalanya, lalu menghampiri Han Sin, matanya yang tajam itu menatap penuh selidik. "Eh, saudara Liem, kau kenapakah? Kau kelihaian tidak sewajarnya, apakah kau sakit...? Ada perlu apa kau mencariku...?"
"Orang she Oei, ketahuilah. Aku datang mencarimu untuk menyatakan bahwa aku melarang kau menggoda nona Lee Ing! Aku yang akan menghajarmu kalau kau berani mempermainkannya dengan ketampananmu!"
Siok Ho menjadi merah mukanya, matanya berapi. Dengan jari telunjuknya menuding ke arah hidung Han Sin,dia berseru. "Saudara Liem Han Sin, kau ini siapakah berani bicara begitu kepadaku? Kau perduli apa dengan semua urusanku?"
Han Sin mencabut keluar sepasang senjatanya, kipas dan pitnya. lalu berkata, suaranya keras, "Urusanmu yang lain aku tidak perduli, akan tetapi kalau kau menggoda Lee Ing. Aku akan mengadu nyawa dengan kau tidak rela melihat Lee Ing menjadi korbanmu!"
Siok Ho tertawa mengejek. "Heh, laki-laki tak bermalu. Kalah bersaing menjadi gila karena cemburu dan iri hati! Kau sendiri kalau becus, kenapa tidak merampas kasih sayang Lee Ing? Mengapa kau tumpahkan kemarahan kepadaku?"
"Lee Ing seorang gadis suci, tidak patut bersisihan dengan kau yang bersikap palsu. Kau sudah mempergunakan pengaruhmu untuk menguasai orang-orang Hoa-lian-pai dan kau pergunakan kemanisan mulutmu untuk menjatuhkan hati Lee Ing. Apa kau kira aku tadi tidak melihat semua itu? Orang she Oei, pendeknya kalau kau tidak berjanji menjauhi Lee Ing, terpaksa aku menantangmu untuk bertempur."
"Eh, eh, orang she Liem! Kau kira aku takut kepadamu? Sungguh muka tebal, kalah bersaing marah-marah!"
"Aku tidak menghendaki Lee Ing dengan paksa. Aku lebih suka melihat gadis itu berjodoh dengan saudara Siok Bun atau tidak menikah sama sekali dari pada melihat dia kelak sengsara di dalam tanganmu yang palsu dan kotor."
"Keparat, kau menantang dan menghina." Siok Ho mencabut keluar pedangnya. Dua orang jago muda itu sudah siap-siap untuk bertanding mati-matian. Tiba-tiba melompat keluar Siok Bun. Pemuda inipun sudah memegang senjatanya, gaetan yang bersinar putih. Datang-datang ia mencela Han Sin.
"Saudara Liem, sepak-terjangmu kali ini benar benar amat mengecewakan hatiku, benar-benar tak dapat dipuji sebagai sikap seorang gagah. Kau menantang dan hendak menyerang adik Oei hanya karena kau cemburu dan iri hati. Kalau memang nona Lee Ing dan adik Oei sudah saling menyintai, mengapa kau tidak tahu diri dan mundur? Ah, saudara Liem Han Sin yang baik. Di dunia ini tidak hanya ada Lee Ing seorang, dan menjadi gelap mata karena cinta benar-benar memalukan dan tidak layak menjadi sikap orang gagah. Di mana kejantananmu?"
Merah muka Han Sin mendengar teguran ini. "Siok-twako, kata-katamu memang tepat. Akan tetapi kau salah duga. Aku bukan marah karena iri hati dan cemburu. Aku melakukan semua ini demi kebahagiaan nona Souw Lee Ing. Karena aku yakin bahwa saudara Oei ini takkan membahagiakan hidupnya kelak, maka aku bersikap seperti ini dan aku ulangi lagi, kalau saudara Oei tidak berjanji menjauhinya, aku menantangnya untuk bertempur!"
"Boleh... boleh..... akupun tidak gentar!" kata Oei Siok Ho sambil melangkah maju, pedang siap di tangan.
"Tahan...!" Siok Bun melompat ke depan dan menghadapi Han Sin, wajahnya agak pucat dan suaranya terdengar keren ketika ia berkata,
"Sungguh menyesal sekali bahwa aku harus menyatakan ketidaksenangan hatiku terhadap sikapmu itu, saudara Liem! Seperti juga kau atau aku, saudara Oei Siok Ho ini bebas memilih siapa saja menjadi kekasihnya, dan bukanlah salahnya kalau nona Souw memilih dia. Alasanmu itu kosong belaka dan biarpun selama ini aku selalu kagum kepadamu dan menganggap kau tidak saja sebagai kawan seperjuangan, akan tetapi juga sebagai saudara, sekarang terpaksa aku tak dapat tinggal diam dan akan menjadi lawan dan musuhmu kalau kaulanjutkan sikapmu yang tak baik terhadap saudara Oei Siok Ho. Aku mewakili ayah dan di sini aku mengharapkan ketenteraman. Kalau kau tidak suka tinggal di sini lagi, kau boleh tinggalkan kami!"
Wajah Han Sin sebentar pucat sebentar merah. Sama sekali tidak disangkanya Siok Bun akan semarah itu dan akan membela Siok Ho mati-matian. la tidak takut, biar andaikata harus bertempur melawan dua orang ini. Akan tetapi ia tidak ada urusan dengan Siok Bun, pula tadi ia hendak menantang Siok Ho juga bukan karena uruSan lain kecuali mengenai diri Lee Ing. Kalau Siok Bun sudah memihak Siok Ho, benar-benarkah dia yang keterlaluan dan bersalah? Han Sin orangnya jujur dan baik hati, sekarang ia mulai ragu-ragu akan kebenaran sikap sendiri.
"Aku perlu memikirkan hal ini seorang diri. Siok-twako, aku hendak pergi dulu, biar lain kali kita bicara lagi." Setelah berkata demikian, Han Sin lari cepat turun gunung sambil menyimpan kembali sepasang senjatanya.
Dua orang muda itu, Oei Siok Ho dan Siok Bun, berdiri seperti patung memandang ke arah perginya Han Sin. Sampai lama mereka tidak bergerak, juga tidak mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Siok Bun menarik napas panjang dan berkata, "Kasihan sekali saudara Han Sin....."
"Memang harus dikasihani dia..." jawab Siok Ho sambil menyimpan pedangnya.
"Akan tetapi salahnya sendiri, la tidak boleh begitu lemah karena pengaruh cinta kasih tak sampai. Sebagai seorang pendekar ia harus berhati teguh dan kuat." Siok Ho tak menjawab dan keduanya diam agak lama.
"Siok-twako, kenapa kau tadi membelaku? Bukankah kau juga tahu betapa saudara Liem itu mencintai nona Lee Ing? Kenapa kau seakan-akan berdiri di fihakku dan lebih suka melihat Lee Ing di sampingku?"
Siok Bun mengerutkan kening, agaknya sukar untuk menjawab. "Karena kaupun mencinta Souw-lihiap dan ia juga mencintamu, karena... karena aku lebih senang melihat kau menjadi jodohnya sehingga kau dan dia hidup bahagia..."
"Siok-twako, kenapa kau justeru memperhatikan kebahagiaanku? Kenapa kau tidak memperhatikan kebahagiaan saudara Liem? Tidak melihatkah kau tadi betapa hancur hatinya? Apa kau tidak dapat membayangkan betapa akan menderita batinnya kalau Lee Ing sampai menjadi kepunyaan orang lain? Siok-twako, kenapa justeru kau mengalah kepadaku?"
"Saudaraku yang baik, mengapa kau masih mengajukan pertanyaan seperti itu? Han Sin boleh jadi sahabatku yang baik, kawan seperjuangan yang kuhormati, akan tetapi dibandingkan dengan kau.... tentu saja aku berfihak kepadamu. Kau adalah penolongku, kau orang yang kuanggap paling mulia dan karenanya aku ingin melihat kau bahagia..."
Siok Ho mengerutkan alisnya yang hitam. "Jadi kau mau bilang bahwa kau lebih sayang kepadaku dari pada Han Sin?"
"Tentu saja!"
"Dan kasih sayang serta pembelaanmu itu berdasarkan atas pertolonganku dahulu itu ketika kau terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang? Jadi artinya, kau hendak membalas budi?"
Siok Bun mengangguk akan tetapi cepat disusul dengan suaranya. "Tidak..! Tidak hanya untuk membalas budi.... entah, kau... kau kuanggap seperti saudaraku sendiri, malah lebih dari itu. Saudara Siok Ho, entah mengapa, di dalam hatiku, aku hanya ingin melihat kau bahagia!"
Siok Ho tertawa, suara ketawanya aneh sehingga Siok Bun menatapnya dengan heran. Siok Ho menahan ketawanya dan bertanya lagi, suaranya kini sungguh-sungguh dan sepasang matanya memandang wajah Siok Bun penuh selidik. "Siok-twako, katakanlah sejujurnya. Bukankah kau mencinta nona Lee Ing?"
"Dulu memang." jawab Siok Bun cepat tanpa ragu-ragu, "memang aku suka dan kagum kepadanya, sampai sekarangpun masih suka dan kagum. Akan tetapi mencinta? Tidak lagi, semenjak kuketahui bahwa kau mencintainya!"
"Eh, Siok-twako! Jadi kau beratkan aku dari pada nona Lee Ing?"
Siok Bun mengangguk. "Lebih berat dari pada siapapun juga."
Tiba-tiba muka Oei Siok Ho menjadi merah sekali dan pemuda ini tertawa sambil mendongakkan mukanya yang tampan. Suaranya tergetar aneh ketika ia berkata, "Kau manusia aneh.! Hampir kukatakan kau gila...!" Setelah berkata demikian ia lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan Siok Bun.
Pemuda ini berdiri bengong, lalu mengangkat pundak. "Apa hendak dikata? Memang hatiku berat sekali padanya... aah, aku cinta kepada saudara Oei Siok Ho. lebih besar dari pada cinta kepada Lee Ing. Memang aneh, pantas dia menganggap aku gila. Mungkin aku sudah gila......"
Dengan perlahan Siok Bun naik lagi ke puncak, pikirannya tidak karuan. Dapat dibayangkan betapa herannya ketika seorang anak murid Hoa-lian-pai memberi tahu kepadanya bahwa nona Souw minta bertemu dengan dia di ruangan dalam, di lian-bu-thia (tempat berlatih silat).
Bergegas Siok Bun pergi ke ruangan itu dan mendapatkan Lee Ing duduk di atas bangku seperti patung, mukanya agak pucat dan ada tanda-tanda basah di pipinya seperti orang baru menangis. Siok Bun merasa kasihan, mengira bahwa gadis ini tentu kembali teringat ayahnya dan menangisi nasibnya.
Akan tetapi sesungguhnya Lee Ing bukan hanya menyedihi ayahnya. Memang ia masih berduka dan berkabung karena kematian ayahnya, akan tetapi pada saat itu ia menghadapi persoalan lain yang membuat ia ingin sekali menangis menggerung-gerung saking bingung dan jengkelnya. Sikap Siok Ho tadi di taman bunga telah mendatangkan perasaan tidak karuan kepadanya, membuat ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa kecuali menangis.
Setelah ia puas memeras air mata di dalam kamar, ia mengambil keputusan untuk berterus terang minta pendapat Siok Bun. Ia dihadapkan kepada persoalan yang membingungkan hatinya. Han Sin menyatakan bahwa dia lebih baik menjauhkan diri dari Siok Ho dan lebih patut menerima cinta kasih Siok Bun.
Sebaliknya, Siok Ho menyatakan bahwa jodohnya yang paling baik adalah Han Sin. Bagaimana ini? Ia mengambil keputusan untuk bertanya kepada Siok Bun. Kalau sikap Han Sin dan Siok Ho boleh dibilang aneh sekali ia kira tidak demikian dengan Siok Bun. Ia sudah mengenal Siok Bun sebagai seorang pemuda gagah yang kiranya takkan mau membohong. Ketika melihat Siok Bun datang, Lee Ing memcoba tersenyum lalu mempersilahkan pemuda itu duduk.
"Kuharap kau sudah sehat, nona," kata Siok Bun halus.
"Terima kasih. Kau selalu baik sekali Siok-twako. Maaf kalau aku mengganggu. Aku sengaja memanggilmu untuk menanyakan sesuatu yang amat penting dan kuharap kau suka bersikap jujur dan suka membantuku."
Melihat kesungguhan sikap dan kata-kata nona itu, mau tidak mau Siok Bun berdebar hatinya dan merasa tidak enak hatinya. "Katakanlah, nona. Kiranya tak perlu lagi aku jelaskan karena kau tentu cukup tahu, bahwa aku selalu siap sedia membantumu." Lee Ing mengangguk.
"Aku hanya mengharapkan kejujuranmu, Siok-twako." Ia menarik napas panjang untuk melapangkan dadanya, kemudian sambil menekan perasaannya, gadis itu berkata lagi,
"Siok-twako setelah aku jatuh sakit dan berada di tempat ini beberapa lama aku melihat betapa kau dan saudara-saudara Liem dan Oei melepas banyak sekali budi kepadaku. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa kalian bertiga adalah orang-orang yang budiman dan setia kepada kawan yang sedang menderita, Akan tetapi, di samping semua ini... entah kau sudah tahu entah belum, aku melihat sesuatu yang tidak enak timbul antara saudara Liem Han Sin dan saudara Oei Siok Ho.
"Kau tentu mengerti betapa aku dihadapkan persoalan yang amat sulit, kalian bertiga begitu baik kepadaku dan. dan... ah, bagaimana aku harus bicara? Pokoknya kau tentu sudah maklum bahwa perasaan kalian bertiga adalah sama dan..... dan kau tentu tahu pula, Siok-twako, bahwa sebagai seorang gadis, sukar bagiku untuk menyatakan perasaan dan... dan tak mungkin aku membalas ketiganya."
Sampai di sini Lee Ing tak dapat melanjutkan kata-katanya dan tak dapat ditahan pula air matanya mengalir turun yang cepat diusapnya.
Sejak Lee Ing membuka mulut bicara, Siok Bun hanya duduk bengong dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Hebat gadis ini! Bicara begitu blak-blakan tentang perasaan tiga orang pemuda terhadap dirinya, begitu saja dengan jujur dan mengharukan. Sampai lama Siok Bun tak dapat menjawab, hanya memandang wajah yang patut dikasihani itu. Akhirnya, setelah berkali-kali menarik napas panjang untuk menenteramkan jantungnya yang terguncang, pemuda ini berkata,
"Nona Souw, benar-benar aku kagum sekali akan sikap dan kejujuranmu. Semua yang kau katakan itu benar belaka, seujung rambutpun tidak meleset. Akan tetapi, apa yang harus kukatakan? Segala keputusan tergantung kepadamu sendiri, nona. Bagi aku pribadi, aku mohon maaf sebanyaknya akan sikapku yang lancang dahulu terhadapmu. Sekarang terbuka mataku bahwa aku tidak berharga sedikitpun. Kalau menurut pendapatku, ini pendapatku dan harap nona maafkan kalau keliru, kiranya adik Oei Siok Ho yang akan dapat membahagiakan nona....."
Baru sampai di sini, Siok Bun berhenti dan kaget karena tiba-tiba Lee Ing tertawa. Suara ketawanya aneh dan mukanya menjadi makin pucat, seperti mayat tertawa. "Souw-lihiap! Jangan tertawa seperti itu.!"
Siok Bun sampai membentak keras karena merasa ngeri. Kembali Lee Ing terkekeh dan sambil tertawa ia berkata, '‟Dunia sudah miring, apa kalian bertiga yang sudah gila atau aku yang miring otakku...?"
Sampai tiga kali ia berkata seperti ini dan ia tertawa-tawa akan tetapi kedua matanya bercucuran air mata. Celaka, tentu dia yang miring otaknya, pikir Siok Bun teringat akan keadaan ayah gadis ini yang juga berotak miring.
"Nona Souw...."
"Cukup! Pergi kau, kalian bertiga palsu semua... hi-hi-hi...!"
Siok Bun kaget dan cepat pergi dari situ, lalu berlari keluar untuk mencari Siok Ho dan Han Sin, untuk menyampaikan berita hebat ini, bahwa Lee Ing telah berubah ingatannya.
Betulkah gadis itu berubah ingatannya? Tidak demikian. Memang, harus diakui bahwa semenjak ia menjadi murid di Gua Siluman, kadang-kadang ia mendapat rangsangan aneh dan suka berlaku luar biasa tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya, harus diakui bahwa hawa mujijat di gua itu sedikit banyak mempengaruhi.
Akan tetapi pada saat itu ia tidak bingung karena miring otaknya, melainkan ia merasa bingung dan makin ruwet menghadapi persoalan asmara segi tiga itu. Siapa orangnya yang takkan merasa repot pikirannya, gadis mana takkan merasa linglung kalau menghadapi sikap tiga orang pemuda pilihan itu?
Siok Ho menyuruh ia memilih Han Sin, sebaliknya Han Sin memuji Siok Bun dan sekarang Siok Bun mengajukan Siok Ho! Benar-benar keadaan yang gila dan sukar diterima oleh seorang gadis seperti Lee Ing. la tertawa karena memang geli dan merasa lucu menghadapi persoalan itu, di samping perasaan kecewa, gemas, malu, dan marah campur aduk menjadi satu.
Dianggapnya mereka bertiga itu palsu belaka. Masing-masing dalam sikapnya, dalam gerak-gerik dan pandang matanya, tidak sukar diduga mencinta dirinya. Akan tetapi mengapa mulut mereka malah saling mengajukan saingan mereka?
Bagaimanakah sebetulnya perasaan mereka? Lee Ing menjadi bingung sekali. Secara terang-terangan Han Sin dan Siok Bun pernah menyatakan cinta kasih mereka kepadanya. Akan tetapi sekarang secara terang-terangan pula mereka seakan-akan mengundurkan diri dan mengajukan saingan mereka. Apa-apaan ¡m? Jangan-jangan mereka itu sudah tidak suka lagi kepadaku, pikir Lee Ing yang tiba-tiba menjadi sedih. Mendadak ia teringat akan sesuatu, wajahnya berseri dan ia berlari-lari memasuki kamarnya.
Sementara itu, dengan gelisah campur terharu, Siok Bun berlari-lari keluar. Dengan gagap ia bertanya kepada murid-murid Hoa-lian-pai di mana adanya Siok Ho yang dijawab oleh mereka bahwa pemuda itu berlari turun gunung. Siok Bun cepat menyuruh mereka mengawani Lee Ing yang ia katakan perlu dijaga karena sakitnya kambuh, kemudian cepat ia menyusul turun gunung mengejar Siok Ho.
Ketika melalui lereng, Siok Bun terkejut bukan main dan menghentikan larinya sambil melihat ke bawah. Apa yang dilihatnya? Mayat-mayat bergelimpangan tanpa kepala! Darah masih memancar keluar dari leher mayat-mayat itu, tanda bahwa pembunuhan keji ini belum lama terjadi.
Sebagian besar adalah tubuh dari para anggauta Hoa-lian-pai, ada pula orang laki-laki yang agaknya keluarga para anggauta itu yang naik ke gunung untuk menyambut keluarga mereka, yakni para anak murid Hoa-lian-pai yang kini hendak pulang ke kampung masing-masing. Berita tentang bubarnya Hoa-lian-pai sudah tersiar luas.
Melihat keadaan mayat-mayat itu, hati Siok Bun tergerak. Satu-satunya manusia yang sekejam ini memenggal kepala orang dan membawa kepala itu pergi, di dunia ini kiranya hanya Toat-beng-pian Mo Hun.
"Tar! Tar! Tar!" Lecut cambuk ini seakan-akan menjawab dugaan pikirannya dan ia tidak ragu-ragu lagi ketika mendengar suara menyeramkan, suara ketawa Mo Hun! Cepat ia melompat dan mencabut senjatanya, terus lari ke arah suara itu di balik puncak kecil. Segera ia mendengar suara nyaring senjata tajam, maka ia mempercepat larinya.
Setelah tiba di tempat itu, dengan kaget ia melihat Mo Hun dan Ku! Ek sedang mendesak hebat Han Sin dan Siok Ho. Bagaimana dua orang pemuda itu tahu-tahu sudah bertempur dengan dua orang kaki tangan Auwyang Tek itu?
Tadi setelah pertemuannya dengan Siok Bun, Oei Siok Ho lari kencang menuruni puncak. Kalau Siok Bun menyaksikan tingkahnya, tentu akan mengira Siok Ho juga sudah gila. Pemuda ini berlari-lari sambil tertawa-tawa, kadang-kadang meloncat-loncat, kadang-kadang berhenti menari-nari mengelilingi sebatang pohon, lalu lari lagi dan tertawanya nyaring bergema di hutan itu.
Tiba-tiba ia mendengar orang memekik mengerikan di sebelah bawah, disusul bunyi cambuk menggeletar. Siok Ho seketika lenyap sikapnya yang aneh itu, dan cepat mencabut pedang lalu lari menuju ke suara itu. Apa yang dilihatnya? Cukup mengerikan dan cukup memanaskan hatinya sehingga seketika itu juga wajah pemuda ini merah saking marahnya.
Tepat pada saat ia tiba di situ, pian kelabang di tangan Toat-beng-pian Mo Hun menyambar putus kepala seorang laki-laki, sedang di tangan kiri iblis itu sudah terjambak rambut dua buah kepala wanita yang berlumuran darah. Mengerikan sekali penglihatan ini sehingga untuk beberapa lama Siok Ho tak dapat bergerak dari tempatnya. Kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap ia meloncat dan memaki,
"Jahanam berhati iblis! Manusia macam kau harus dibasmi dari muka bumi!" Pedangnya berkelebat cepat. Pada saat itu juga terdengar bentakan lain dari lain jurusan.
"Mo Hun keparat! Mari kita adu jiwa!" Dan berbareng dengan bentakan ini, Han Sin melompat dan menyerang dengan pit dan kipasnya.
Mo Hun yang sekaligus diserang dari dua jurusan oleh dua orang pemuda yang gagah itu, masih terkekeh-kekeh akan tetapi terpaksa pula ia melompat mundur sambil menyambitkan dua buah kepala itu ke arah Siok Ho dan Han Sin. Dua orang pemuda ini merasa ngeri dan jijik sekali, cepat mereka mengelak dan kesempatan ini dipergunakan oleh Mo Hun untuk menyerang mereka dengan pian kelabang di tangannya yang masih berlumuran darah.
"Dua kepala yang bagus! Dua otak yang segar! Heh-heh-heh!" katanya sambil menyerang terus dengan senjatanya yang memang hebat itu. Akan tetapi kini ia dikeroyok oleh dua orang pemuda jagoan. Biarpun kalau melawan seorang dengan seorang tentu ia akan menang, akan tetapi sekarang dikeroyok oleh dua orang pemuda yang marah dan benci sekali itu Mo Hun kewalahan juga. Beberapa kali ia sengaja membunyikan cambuknya sehingga terdengar suara nyaring "tar! tar!"
Kiranya suara ini adalah semacam isyarat minta tolong, karena tak lama kemudian muncullah Ma-ihouw Koai-tung Kui Ek! Tongkat kepala burung di tangannya menyambar hebat dan terpaksa Siok Ho melayaninya dan meninggalkan Han Sin seorang diri menghadapi Mo Hun.
Baik Siok Ho maupun Han Sin adalah orang-orang muda gemblengan yang berkepandaian tinggi, bersemangat besar dan sedikitpun tak kenal takut. Akan tetapi menghadapi dua orang lawan yang memang tingkat kepandaiannya lebih tinggi, lambat-laun mereka terdesak hebat. Namun, berkat kegigihan mereka tidak akan mudah bagi Mo Hun dan Kui Ek untuk cepat-cepat menjatuhkan mereka.
Baiknya Auwyang Tek dan kaki tangannya yang lain sudah lebih dulu meninggalkan Ta-pie-san. Auwyang Tek sengaja pergi untuk cepat-cepat mengumpulkan bantuan, terutama sekali memanggil Tok-ong Kai Song Cinjin. Pemuda ini girang sekali mendapat kenyataan bahwa Souw Teng Wi berada di situ, malah bersama puterinya dan di situ berkumpul orang-orang pandai yang membela Tiong-gi-pai.
Kalau fihaknya mempunyai kekuatan besar, berarti sekaligus ia akan dapat menumpas semua musuh-musuh itu. Maka ia cepat pergi dan meninggalkan Mo Hun dan Kui Ek menjaga di situ untuk mengawasi gerak-gerik musuh. Dalam tempat persembunyiannya, Mo Hun dan Kui Ek yang tidak berani bergerak sembarangan ini, dapat melihat betapa tokoh-tokoh besar yang tadinya berada di gunung itu telah turun gunung.
Mereka juga telah menangkap seorang anggauta Hoa-lian-pai yang pulang ke kampung dan dari orang ini mereka mendengar keadaan di atas. Bahwa Souw Teng Wi telah tewas, bahwa nona Souw sedang menderita sakit hebat dan di atas puncak hanya dijaga oleh tiga orang pemuda, yaitu Liem Han Sin, Oei Siok Ho, dan Siok Bun.
Girang hati dua orang tokoh ini dan mereka mulai berani memperlihatkan diri. Tiga orang muda itu tidak mereka takuti, hanya mereka masih segan-segan untuk mengganggu Souw Lee Ing, biarpun gadis itu masih dalam keadaan sakit. Malah Mo Hun telah kumat pula gilanya dan ia mulai membunuhi anak buah Hoa-lian-pai dan keluarga mereka yang menjemput mereka yang hendak pulang ke kampung.
Siapa kira baru saja membunuh beberapa orang muncul Han Sin dan Siok Ho yang menyerangnya. Akan tetapi, dibantu oleh Kui Ek, si pemakan otak itu dapat mendesak lawan dan ia terkekeh-kekeh girang sambil sengaja membunyikan piannya menjeletar-Jeletar untuk menipiskan semangat lawan.
Suara pian ini yang terdengar oleh Siok Bun dan begitu pemuda gagah ini sampai di situ, tanpa membuang waktu lagi ia lalu memutar senjatanya dan menyerbu membantu Han Sin dan Siok Ho. Kedatangan pemuda gagah ini menambah api semangat Han Sin dan Siok Ho yang cepat mengerahkan seluruh kepandaian untuk mendesak lawan.
Di lain fihak, Mo Hun dan Kui Ek menjadi kecut hatinya. Menjatuhkan dua orang pemuda perkasa itu saja sudah sukar, sekarang ditambah lagi dengan seorang pemuda putera Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui yang sudah mereka ketahui kelihaiannya. Biarpun mereka belum tentu kalah oleh keroyokan tiga orang lawan muda itu, akan tetapi mereka takut kalau-kalau Lee Ing muncul pula.
Kui Ek mengeluarkan siulan rahasia dan di lain Saat dia dan Mo Hun sudah melancarkan serangan hebat sekali. Selagi tiga orang pemuda itu melompat mundur, dua orang kaki tangan Auwyang Tek itu cepat membalikkan tubuh dan melarikan diri.
"Kejar iblis-iblis itu!" Han Sin berseru keras dan marah.
"Jangan....!" kata Siok Bun. "Liem-heng, Oei-te... dengarlah baik-baik. Baru saja aku bercakap-cakap dengan nona Souw Lee Ing dan... dan..... dia...."
Han Sin memegang pundaknya dan mengguncang-guncangnya sambil berseru dengan wajah pucat, "Dia kenapa....? Hayo bilang dia kenapa?" Juga Siok Ho menjadi pucat akan tetapi ia masih lebih sabar dari pada Han Sin.
"Entahlah.... tadinya aku bercakap-cakap dengan dia... lalu, lalu dia aneh sekali seperti tak beres ingatannya..."
Han Sin tidak menanti sampai Siok Bun habis bercerita. Dengan keluhan "Ing-moi.....!" meloncatlah ia dan berlari secepatnya mendaki puncak. Siok Ho dan Siok Bun cepat mengikutinya.
"Aneh, apakah dia mendadak menjadi gila?" di tengah jalan Siok Ho bertanya kepada Siok Bun.
"Entahlah, akan tetapi kata-kata dan sikapnya seperti... mengingatkan aku akan ayahnya, Souw-taihiap...." jawab Siok Bun terharu.
"Kasihan...." komentar Siok Ho dan kalau saja Siok Bun tidak begitu bingung memikirkan Lee Ing, tentu ia akan merasa aneh sekali mengapa Siok Ho menghadapi malapetaka yang menimpa gadis itu demikian ringan saja.
Tiga orang muda yang berlari cepat itu telah tiba di bangunan Hoa-Iian-pai dan alangkah kaget hati mereka ketika anak-anak murid Hoa-Iian-pai semua menangis dan nampak bingung!
"Ada apa......? Mana nona Souw......?" tanya Han Sin seperti orang gila, mukanya pucat sekali dan suaranya menggigil ketika bertanya. Murid-murid Hoa-Iian-pai yang tinggal belasan Orang itu sambil menangis dan tak dapat menjawab menudingkan telunjuknya ke arah kamar Lee Ing, lalu menangis lagi makin keras.
"Celaka.....!" Han Sin berseru sambil melompat, terus dibayangi oleh Siok Bun dan Oei Siok Ho.
Karena menyangka ada kejadian hebat, tiga orang muda ini masing-masing mencabut senjatanya, Siap menghadapi segala kemungkinan. Setelah tiba di depan kamar Lee Ing, mereka mendapatkan di dalam kamar itupun anak-anak murid Hoa-Iian-pai menangis dan menyebut-nyebut nama Lee Ing!
Seketika lemas tubuh Han Sin, sepasang senjatanya segera ia simpan dan dengan kedua kaki gemetar ia memasuki kamar. Ia berdiri tegak mematung di ambang pintu, membuat Siok Ho dan Siok Bun cepat-cepat melongok dari sampingnya. Pada saat dua oranag muda ini melihat pemandangan di dalam kamar, Han Sin melompat maju, meraba tangan Lee Ing yang terlentang kaku di atas petrbaringan, mengguncang-guncang tangan itu samb i memanggil-manggil seperti gila,
"Ing-moi....! lng-moi....! lng-moi.....!" Kemudian pemuda ini roboh tertentang, pingsan!
Siok Bun dan Siok Ho melompat ke depan menolong Han Sin, kemudian mereka mendekati tubuh Lee Ing. Tanpa ragu-ragu lagi Siok Ho memeriksa dada dan nadi Lee Ing. Kemudian dengan muka pucat ia menoleh kepada Siok Bun dan berkata lirih, "Dia sudah tidak ada lagi...!"
Naik sedu-sedan di tenggorokan Siok Bun dan Siok Ho malah sudah tak dapat menahan lagi air matanya yang sudah bercucuran turun membasahi pipinya, malah dia terisak-isak menangis memeluki tubuh Lee Ing! Pemandangan yang amat mengharukan di dalam kamar itu. Empat orang anak murid Hoa lian-pai menangis. Siok Ho terisak-isak, Siok Bun berdiri seperti patung, dan Han Sin masih pingsan.
Memang peristiwa ini amat mengejutkan, dan amat tidak disangka-sangka. Dapat dibayangkan betapa hebat guncangan batin yang diderita tiga orang muda itu, melihat Lee Ing secara. tiba-tiba saja sudah terlentang di atas pembaringannya dalam keadaan tak bernyawa lagi! Lee Ing sudah mati tanpa sebab-sebab yang mereka ketahui.
"Bagaimana terjadinya hal ini? Siapa yang melihat lebih dulu?" Siok Ho yang dapat menguasai ketenangan lebih dulu dari pada kawan-kawannya, bertanya kepada murid-murid Hoa-lian-pai yang tadi menangisi Lee Ing. Sedangkan Siok Bun sibuk merawat dan mencoba membikin Han Sin yang masih pingsan itu siuman kembali.
Seorang anak murid Hoa-lian-pai yang setengah tua lalu bercerita. Tadinya ia mendengar nona Souw menangis di kamarnya. Ia tidak berani mengganggu dan masuk sendiri, maka dipanggilnya tiga orang kawannya, diajak menghibur hati nona yang mereka sangka menangis karena teringat akan ayahnya. Akan tetapi ketika mereka berempat memasuki kamar itu, mereka mendapatkan Lee Ing sudah terlentang tak bergerak di atas tempat tidur.
"Kami dapati dia sudah.... meninggal dunia dan hanya meninggalkan tulisan aneh di dinding itu..." katanya sebagai penutup penuturannya dan menuding ke dinding.
Siok Ho menoleh ke arah yang ditunjuk. Baru terlihat olehnya huruf-huruf kecil yang digurat di tembok dengan jari. Hanya Lee Ing yang dapat menulis macam ini, menggunakan Iweekang menggurat tembok dengan jari telunjuknya yang mungil. Huruf-huruf itu singkat saja bunyinya, begini:
BIARKAN PETI MATIKU TERBUKA SAMPAI TIGA HARI TIGA MALAM.
Siok Ho terheran, akan tetapi terharu sekali. Kata-kata dalam tulisan itu makin meyakinkan, seolah-olah hendak mengingatkan mereka semua bahwa gadis itu telah mati. Disentuhnya pundak Siok Bun dan pemuda inipun membaca tulisan itu.
"Nona Souw yang malang...." bisiknya terharu, "kasihan sekali.... masih begitu muda."
Setelah nona yang diperebutkan itu meninggal dunia, ternyata bahwa di antara ketiga orang muda itu, Siok Ho yang paling tabah menghadapi malapetaka ini. Han Sin seperti orang linglung, hanya termenung dan air matanya bercucuran turun, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata, hanya kadang-kadang menatap wajah gadis pujaannya itu yang seperti sedang tidur pulas saja nampaknya.
Atas pimpinan Siok Ho, para anak murid Hoa-lian-pai merawai jenazah itu, kemudian jenazah Lee Ing dimasukkan ke dalam sebuah peti. Tentu saja tiga orang muda itu mentaati pesan terakhir Hari Lee Ing, setelah jenazah dimasukkan peti, peti itu dibiarkan terbuka saja tidak ditutup. Meja sembahyang dipasang di depan peti dan sekali lagi Hoa lian-pai di puncak Bukit Ta-pie-san itu berkabung.
Han Sin seperti gila Tak pernah sedetikpun ia meninggalkan peti mati itu. Air matanya tentu menitik turun lagi tiap kali, ia memandang wajah Lee Ing di dalam peti mati.
"Ing-moi.... kalau aku tidak takut disebut pengecut yang takut menderita, tentu aku akan mengikutimu.... mulai sekarang aku bersumpah takkan membela diri dengan senjata-senjataku, biar aku cepat tewas dan berkumpul denganmu... Ing-moi... kasihan sekali kau pergi seorang diri, bawalah kipas dan pitku ini, untuk bekal. untuk penambah senjatamu....." Ucapan yang dikeluarkan terputus-putus ini mengharukan hati Siok Bun dan Siok Ho.
Terdengar Siok Ho terisak-isak menangis sedangkan Siok Bun meramkan mata, tidak tahan menyaksikan Iceadaan Han Sin yang membelai-belai rambut jenazah Lee Ing sambil menangis.
"Tepat dugaanku...." terdengar Siok Ho berkata, "di depan Lee Ing sudah kunyatakan bahwa hanya saudara Han Sin yang patut menjadi sisihannya...."
Mendengar ini, Siok Bun mengangguk-angguk. "Kalau kau berkata demikian, maka tentu saja hal itu betul." Kemudian Siok Bun menaruh tangannya di atas Han Sin sambit berkata,
"Liem-heng, harap kau tenangkan dan kuatkan hatimu. Mati hidup berada di tangan Thian, bagaimana kita manusia bisa menentangnya? Biarpun kematian nona Souw amat aneh, akan tetapi kurasa ia terlalu menyedihkan kematian ayahnya. Dia sudah bebas dari pada penderitaan, sudah jangan kau terlampau bersedih..."
"Tidak...!" Han Sin membantah, suaranya gemetar dan serak, "tak mungkin orang dengan hati seperti Ing-moi akan mati karena sedih. Aku tahu benar.... aku dapat merasainya, dia mati bukan karena sedih, mungkin karena kecewa! Mungkin seorang di antara kita yang menimbulkannya....!" Setelah berkata demikian, ia memandang kepada Siok Ho, sinar matanya penuh kebencian!