Pusaka Gua Siluman Jilid 24

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Pusaka Gua Siluman Jilid 24
Sonny Ogawa

Pusaka Gua Siluman Jilid 24, karya Kho Ping Hoo - Lee Ing memutar tubuh, membetot lengan yang terpegang sambil mengirim pukulan langsung ke arah lambung. Inilah serangan yang luar biasa hebatnya dan kalau orang tidak memiliki kepandaian tinggi sekali pasti akan roboh oleh pukulan aneh dan dahsyat ini.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Akan tetapi pemuda gila itu benar-benar habat Dengan gerakan tubuh sama anehnya, seperti orang sakit ayan sedang kumat, tiba-tiba tubuhnya limbung dan kejang, kedua tangannya menegang ke depan melindungi lambungnya dan serangan Lee Ing dapat ditangkisnya dengan baik sekali!

Lee Ing terkejut, membelalakkan kedua matanya. la mengenal betul gerakan pemuda tadi. Itulah gerakan yang disebut "Si Gila Mengusir Iblis" semacam gerak tipu dari ilmu silat warisan Bu-Beng Sin-Kun yang terdapat di gua Siluman! Bagaimana pemuda ini dapat melakukan gerakan itu? Padahal gerakan ini termasuk gerakan yang paling sulit dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah belajar di dalam gua itu seperti dia sendiri.

Ayahnya saja kiranya belum dapat melakukan gerakan ini! la menjadi penasaran dan terus menyerang Sim Hong Lui dengan ilmu pukulan-ilmu pukulan terhebat dari dalam Gua Siluman, pukulan-pukulan yang belum pernah ia keluarkan.

Maka terlihatlah Lee Ing seperti seorang mabok menari-nari, atau seperti seorang gila mengamuk, tubuhnya berputaran, berjungkir-balik, jongkok berdiri melompat ke sana ke mari, akan tetapi semua gerakannya mengandung daya serangan yang hebat, menimbulkan angin pukulan yang membuat Yap Lee Nio cepat-cepat pergi menjauhkan diri karena tidak kuat berada dekat tempat pertempuran itu.

Lee Ing mengeluarkan seruan kaget sekali ketika ia melihat betapa pemuda itu benar-benar telah menghadapinya dengan ilmu silat yang sama. Malah pemuda itu menggunakan Ilmu Silat Gua Siluman dengan hawa pukulan yang aneh dan amat jahat untuk membalasnya.

Karena ketika mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-Kun itu Lee Ing berada dalam keadaan waras, maka yang memasuki tubuhnya adalah hawa murni yang bersih. Sebaliknya, hawa pukulan pemuda ini mengandung hawa yang kotor dan dahsyat, benar-benar merupakan pukulan-pukulan iblis yang mengandung bahaya maut. Lee Ing terdesak hebat! Hong Lui terkekeh-kekeh sambil mendesak terus.

Lee Ing penasaran sekali. Untuk mencabut Li-lian-kiam dan menggunakan pedang itu, ia merasa malu. Pemuda gila itu bertangan kosong, masa ia harus menggunakan pedang? Masa melawan pemuda gila ini saja ia akan kalah, biarpun andaikata pemuda itu pernah mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-Kun sekalipun?

Lee Ing mengertak gigi dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, menerjang pemuda itu. Baru kali ini selama keluar dari Gua Siluman ia mempergunakan semua ilmu silat yang dipelajarinya. la merasa girang ketika melihat pemuda itu berkurang daya serangannya. Bagaimanapun juga, kepandaiannya lebih matang, pikirnya.

Hanya yang ia herankan, ilmu silat warisan Bu-Beng Sin-Kun yang diukir di atas dinding batu. Ketika mendapat kesempatan baik, tiba-tiba Lee Ing menggunakan semacam pukulan dengan kedudukan kaki tangan yang amat aneh, tangan kiri menggaruk ke atas tangan kanan menepuk-nepuk lantai.

Inilah ilmu silat tangan kosong dengan gerakan Lo-thian-tong-te (mengacau Langit Menggetarkan Bumi) yang merupakan kunci terakhir dari Ilmu Silat Thian-te-kun peninggalan Bu-Beng Sin-Kun, gerakan paling hebat yang baru dapat ditemui atau dipecahkan rahasianya oleh Lee Ing setelah ia melihat kedudukan kaki tangan rangka guru besar itu (baca jilid sebelumnya).

Memang Lee Ing cerdik sekali. Ketika bertempur sampai puluhan jurus, otaknya bekerja dan ia menjadi yakin bahwa entah secara bagaimana, pemuda gila ini tentu telah berhasil memasuki Gua Siluman dan mempelajari ilmu silat aneh itu. Akan tetapi ia teringat bahwa ia telah mengubur rangka gurunya sehingga orang lain takkan mungkin dapat memecahkan rahasia gerakan Lo-thian-tong-te itu. Maka ia mempergunakan ilmu silat ini untuk menghantam Sim Hong Lui.

Ternyata akalnya berhasil baik. Menghadapi gerakan yang belum dipelajarinya ini, Hong Lui terkejut sekali, gerakan tangan kakinya kacau. Ia mengeluarkan pekik aneh, agaknya ia mengenal gerakan Lee Ing yang membingungkan akan tetapi tak dapat ia elakkan ini. Pundaknya terpukul dan pemuda gila itu terjungkal dan merintih-rintih.

Souw Lee Ing menjadi girang sekali. Selagi ia hendak mengirim pukulan terakhir untuk melenyapkan pemuda gila yang amat berbahaya ini, tiba-tiba ia mendengar seruan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

"Souw Lee Ing, kau lihat siapa ini? Kalau kau tidak melepaskan anakku, aku akan membunuh ayahmu!"

Lee Ing cepat menengok dan apa yang dilihatnya membuat kedua kakinya terasa lemas tak bertenaga lagi. Ayahnya rebah di dekat kaki Hui-ouwtiap Yap Lee Nio, rebah tidak berdaya seperti orang kehabisan tenaga, sedangkan Hui-ouw-tiap yang memegang pedang menodongkan ujung pedangnya di leher ayahnya.

Orang tuanya kelihatan amat sengsara, matanya yang sudah lenyap bijinya itu kelihatan cowong menghitam, mukanya kotor, rambutnya awut-awutan, tubuhnya kurus, akan tetapi anehnya, ayahnya masih mengeluarkan suara ketawa-tawa perlahan. Hancur hati Lee Ing menyaksikan keadaan ayahnya yang tercinta itu. Air mata bercucuran dari kedua matanya. "Ayah...."

Mendengar suara ini. Souw Teng Wi menggerakkan lehernya, matanya yang buta seakan-akan sedang mencari-cari. "Namilana...." bibirnya bergerak lemah.

"Ayah, aku Souw Lee Ing, anakmu....! Jangan khawatir, ayah. Aku datang untuk menolongmu." Sudah tegang seluruh urat dalam tubuh gadis ini untuk menerjang Hui-ouw-tiap dan puteranya. Kemarahannya memuncak.

"Souw Lee Ing, jangan bergerak. Sedikit saja kau bergerak, pedangku akan menembusi leher ayahmu!" bentak Hui-ouw-tiap, matanya tajam memandang gadis itu, ancamannya bukan main-main. Souw Lee Ing ragu-ragu.

Sementara itu, Souw Teng Wi yang mendengar suara anaknya ini, tiba-tiba awan gelap yang menyelubungi ingatannya buyar dan ia mulai teringat. "Lee Ing.... anakku.... ah, anakku sayang..." Kakek buta ini mencoba untuk berdiri, akan tetapi oleh karena jalan darah di punggungnya sudah ditotok, ia roboh lagi.

"Ayah...." Lee Ing melangkah maju.

"Berhenti kau! Kalau tidak dia kubunuh!" bentak Hui-ouw-tiap, tetap menodongkan pedang pada leher Souw Teng Wi.

Akan tetapi Lee Ing maju terus, mengira bahwa itu hanya gertak belaka. Manusia mana tega membunuh seorang kakek yang sudah buta dan keadaannya demikian lemah seperti ayahnya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika Hui-ouw-tiap benar-benar menggerakkan pedang menusuk leher Souw Teng Wi.

Kakek buta ini tinggi sekali kepandaiannya akan tetapi totokan yang dilakukan oleh Sim Hong Lui hebat bukan main. Ia mencoba untuk mengelak, namun sia-sia. Terdengar suara "cesss..." dan darah muncrat keluar dari leher kakek tua itu yang roboh miring!

"Ayaaaahhhh....!" Souw Lee Ing menjerit nyaring sekali. Tubuhnya mencelat ke depan dan kedua tangannya digerakkan.

"Krakkk!" Pedang di tangan Hui-ouw-tiap patah-patah terkena benturan lengannya, kemudian kedua tangannya bergerak maju menghantam. "Krek! Krek!" Dua kali tangan Lee Ing menghantam kepala Yap Lee Nio dan nyonya itu terjungkal roboh, kepalanya pecah dan mati di saat itu juga. Gadis itu tidak memperdulikan korbannya lagi, terus saja berlutut di dekat ayahnya yang masih rebah miring dengan leher bercucuran darah. "Ayah..."

Souw Teng Wi membuka mulutnya, bibirnya bergerak-gerak. Dalam saat-saat terakhir dari hidupnya ia benar-benar waras, pikirannya jernih. Ia tersenyum. "Lee Ing anakku... aku hendak menyusul ibumu.... kau....kau...."

"Ayah, jangan tinggalkan aku.... aku belum sempat berbakti kepadamu!" Lee Ing menahan tangisnya.

Souw Teng Wi tersenyum. "Negara ayahmu, tanah air ibumu, berbaktilah kepada mereka.... bantu rakyat.... aahhhh....." Souw Teng Wi menghembuskan napas terakhir dalam pelukan puterinya.

"Ayaaaaah..." saking sedih dan marahnya, Lee Ing pingsan di samping jenazah ayahnya!

Ketika siuman kembali, Lee Ing sudah mendapatkan dirinya terikat pada sebuah tiang besar di belakang kelenteng. Kedua tangannya dibelenggu ke belakang, juga kedua kakinya dibelenggu, diikat ke tiang itu. Pada pinggangnya juga terdapat ikatan belenggu besi yang tebal dan kuat sekali. Gadis ini siuman dalam keadaan lemah dan tahulah ia bahwa jalan darah thian-hu-hiat di tubuhnya ditotok orang.

Akan tetapi hal ini bukan apa-apa baginya. Ia memejamkan mata, menahan napas dan menyalurkan sinkang di tubuhnya. Dalam sekejap mata saja ia berhasil mempergunakan hawa murni mendesak pengaruh totokan dan jalan darahnya pulih kembali seperti biasa. Inilah ilmu membuka jalan darah dari dalam yang ia pelajari di dalam Gua Siluman.

Akan tetapi, biarpun ia sudah bebas dari totokan dan tubuhnya tidak lemas lagi, tetap saja ia tidak mampu bergerak, tidak mungkin melepaskan diri dari belenggu besi sekuat itu. Kalau tidak terikat kedua tangannya ke belakang, kiranya ia masih sanggup mematahkan belenggu. Akan tetapi kedua tangannya diikat ke belakang, jari-jari tangannya tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika ia melirik ke bawah, di depannya dipasangi meja kecil dan di atas meja itu terdapat hio yang sudah dinyalakan. Tentu belum lama ini ada orang bersembahyang di situ. Ia teringat lagi. Siapa lagi kalau bukan Sim Hong Lui pemuda gila itu yang bersembahyang? Lee Ing diam-diam bergidik, la dapat menduga apa maksudnya.

Tentu ia dijadikan semacam hidangan, dijadikan semacam "samseng" untuk korban sembahyangan. Mudah diduga bahwa pemuda edan itu menyembahyangi arwah ayah bundanya dan ia sengaja diikat di dekat meja sembahyang agar ayah bunda pemuda edan itu dapat melihat dari alam baka dan dapat tertebus penasarannya.

Lee Ing lalu teringat kepada ayahnya dan air matanya mengucur deras, la tidak memperdulikan nasib sendiri, akan tetapi mengingat kematian ayahnya ia menjadi berduka bukan main. Dari duka yang menghebat timbul kemarahan dan sakit hatinya.

"Keparat Hong Lui! Awas kau kalau aku bisa terlepas!" gerutunya dan Lee Ing mengusir segala kedukaan yang melemahkan. Ia mengerahkan tenaganya, memeramkan mata mengumpulkan semangat. "Aku harus dapat mematahkan belenggu ini..." pikirnya. Ia hendak mempergunakan segenap tenaga sinkang yang berada di tubuhnya dan ia percaya akan dapat berhasil mematahkan belenggu.

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa semangatnya buyar, hidungnya mencium keharuman yang memuakkan berbareng memabokkan la membuka mata dan melihat asap hio di atas meja itu mengebul. Kening gadis ini berkerut. Tentu bukan sembarang hio. Asapnya bukan asap biasa, melainkan asap yang mengandung pengaruh memabokkan. Celaka, pikirnya gelisah.

Pemuda edan itu ternyata telah mempergunakan hio yang dicampuri obat berbisa sehingga asapnya mengandung racun, memabokkan dan tak mungkin ia mengerahkan segenap sinkang di tubuhnya. Asap itu menyiarkan bau yang mengacau semangatnya. Lee Ing menjadi bingung. Ia maklum bahwa kalau ia tidak dapat melepaskan diri, ia tentu akan menjadi korban pemuda gila itu.

Tiba-tiba terdengar orang tertawa terkekeh-kekeh. Sim Hong Lui muncul di depannya sambil tersenyum mengerikan, seperti senyum sebuah mayat hidup. Wajah pemuda itu pucat sekali. Matanya kemerahan dan liar berputar. Lee Ing memandang dengan tabah, sedikitpun tidak gentar. Akan tetapi ia merasa jijik melihat pemuda ini. Apa lagi pada saat itu kegilaan Sim Hong Lui memuncak. Mulutnya mengeluarkan sedikit busa dan senyumnya makin mengerikan.

Melihat munculnya pemuda ini, ia teringat akan kepandaian pemuda gila ini. Tak salah lagi, tentu pemuda ini telah berhasil memasuki Gua Siluman dan telah mempelajari ilmu peninggalan Bu-Beng Sin-kun, biarpun cara mempelajarinya hanya mengambil bagian yang penuh hawa jahat saja.

"Heh-heh-heh, Souw Lee Ing. Sekarang akulah orang paling pandai di dunia ini! Hah-hah-hah!"

Melihat pemuda itu tertawa-tawa sambil memandang ke atas, Lee Ing makin benci. Akan tetapi ia menahan kemarahannya karena timbul keinginan hatinya untuk mengetahui apakah dugaannya tadi betul. "Sim Hong Lui. kau memang memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, kepandaianmu itu hanya kepandaian yang kau curi di Gua Siluman. Betul tidak?"

Berubah wajah Hong Lui mendengar disebutnya Gua Siluman. "Mencuri? Kau gila! Akulah murid Gua Siluman, aku yang mewarisi kepandaian mujijat. Aku seorang, ha ha-ha, kalian ayah dan anak she Souw tidak akan menjadi saingan lagi! Kau tahu apa yang hendak kulakukan padamu? Lihat ini!"

Pemuda itu mengeluarkan sebilah pisau yang berkilauan saking tajamnya. "Sekarang masih terlalu pagi. Nanti menjelang tengah hari, di bawah sinar matahari yang menjadi saksi, aku akan belek dadamu, kukeluarkan jantungmu dan kumakan mentah-mentah. Ha-ha-ha, dengan demikian hatimu selamanya akan menjadi milikku, aku dapat membalaskan sakit hati ayahku, dan kau takkan lagi menjadi sainganku. He-he-he!"

"Sim Hong Lui, kau bukan murid Gua Siluman, kau hanya pencuri hina dina! Kau tidak berhak mengaku menjadi murid suhu Bu-Beng Sin-Kun, karena suhu Bu-Beng Sin-Kun adalah seorang pendekar besar, tidak patut mempunyai murid seperti engkau seorang pengecut besar!"

"Eh.... eh.... kau bilang apa? Aku pengecut?" Pemuda edan itu melangkah dekat sampai mukanya hampir menyentuh muka Lee Ing, membuat gadis itu meramkan mata saking jijiknya. Akan tetapi ia tidak hendak memperlihatkan takutnya, ia membuka kembali matanya dan meludahi muka di depannya itu. Hong Lui mengelak dan tertawa-tawa.

"Memang kau pengecut! Kalau kau memang jantan, mengapa kau menangkap aku selagi aku pingsan? Hayo kau coba buka belenggu ini dan kita bertempur untuk membuktikan siapa murid Bu-beng Sin-kun yang sejati!"

Sim Hong Lui menggerakkan tangannya yang memegang pisau ke arah ulu hati di dada Lee Ing. Gadis itu merasa betapa bajunya tertembus ujung pisau dan kulit dadanya tersentuh benda runcing itu, maka tahulah ia bahwa saat kematiannya sudah tiba. la tidak berdaya, maka ia meramkan mata sambil menanti maut. Akan tetapi pisau itu ditarik kembali dan terdengar suara Hong Lui mengejek,

"Kau sudah tertawan, berarti kau sudah kalah. He-he-he, mana bisa kau menangkan aku yang sudah menjadi murid Raja Siluman di Gua Siluman? Ha-ha-ha, sungguh lucu... sungguh mengerikan... hiiii... menakutkan sekali!" Sim Hong Lui tiba-tiba mundur-mundur dan menutupi mukanya dengan kedua tangan. "Takut, takut... iblis dan siluman mengamuk...."

Lee Ing membuka matanya dan memandang penuh perhatian kepada pemuda itu. Sim Hong Lui berubah seperti seorang bocah kecil yang takut di waktu malam gelap, mengoceh tentang setan dan iblis. Kemudian dengan suara pelahan sekali pemuda ini mengoceh terus, menceritakan pengalaman pengalaman hebat di dalam Gua Siluman. Dari ocehan yang tidak karuan ini akhirnya Lee Ing dapat mengetahui bahwa dugaannya memang tepat.

Sebelum ayahnya berhasil memasuki Gua Siluman dan membuka rahasia pusaka Gua Siluman itu kepadanya, ternyata ayah pemuda ini, Sim Kang, sudah mendengar tentang Gua Siluman yang aneh itu, malah sudah mencari-cari namun tidak berhasil. Kemudian melihat kepandaian hebat dari Souw Teng Wi, Sim Kang dan Sim Hong Lui menjadi makin tergerak hatinya ingin mencari Gua Siluman.

Setelah Sim Kang tewas oleh Souw Teng Wi dan Sim Hong Lui terpaksa melompat ke dalam laut (baca jilid sebelumnya), pemuda ini menjadi begitu prihatin dan sakit hati sehingga ia mati-matian mencari Gua Siluman. Atas petunjuk ibunya yang menyatakan bahwa Souw Lee Ing telah menjadi seorang sakti setelah lenyap di daerah pegunungan Gua Siluman.

Akhirnya setelah melakukan perantauan di daerah liar itu sampai lama, tidak perduli lagi akan lapar dan lelah, pemuda yang sudah nekat ini akhirnya dapat menemukan Gua Siluman! Ia memasuki gua itu dan alangkah girangnya ketika mendapatkan pelajaran-pelajaran aneh dan sakti di dalam gua.

Akan tetapi dasar wataknya sudah bejat dan pikirannya tidak bersih, ia tidak kuat menahan godaan di dalam gua. Ttidak kuat melawan hawa iblis yang memang terdapat di dalam gua itu sehingga biarpun ia berhasil mempelajari ilmu-ilmu vang aneh, ia telah menjadi gila.

Kegilaannya malah melebihi Souw Teng Wi dan pemuda ini seakan-akan telah berubah menjadi iblis sendiri! Setelah mengoceh dan tanpa disadari membuka rahasia, Sim Hong Lui lalu bangun berdiri, mengacung-acungkan pisaunya ke arah Lee Ing sambil berkata,

"Kau tunggu saja sampai tiga hari, sampai matahari muncul seterangnya dan tidak ada iblis menggangguku, aku akan makan jantungmu mentah-mentah." Pemuda itu lalu memandang ke angkasa dan mulutnya berkemak-kemik.

Lee Ing mendengar ia berkata perlahan, "Ayah, ibu, tunggulah sebentar lagi. Nanti anak akan membelek dada gadis ini, makan jantungnya, membelek perutnya, menarik semua isi perutnya supaya dimakan anjing. Baru ayah dan ibu puas!"

Setelah itu, pemuda gendeng itu lalu berlari-lari pergi memasuki kelenteng. Segera terdengar jerit dan kekacauan di dalam kelenteng karena anak-anak murid Hoa-lian-pai dikejar-kejar oleh pemuda gila ini!

Lee Ing bergidik. Biarpun ia mempunyai nyali baja dan tidak takut sama sekali menghadapi maut dan bahaya apapun, menghadapi kegilaan pemuda yang menjijikkan itu meremang bulu tengkuknya. Akan tetapi ia tidak putus asa. la masih mempunyai waktu sedikit lagi. Dicobanya lagi untuk mengerahkan tenaga dalamnya dan mematahkan belenggu kaki tangannya.

Akan tetapi asap celaka itu masih saja menguasainya, membuat semangatnya kacau dan lemah sehingga tidak mungkin ia dapat memusatkan panca inderanya untuk membangkitkan sinkang di tubuh.

Tiba-tiba ia melihat bayangan berkelebat dan seorang tosu yang memegang kipas mendatangi tempat itu. Berdebar hati Lee Ing, penuh harapan. Tosu itu bukan lain adalah Im-yang Thian-cu, guru Liem Han Sin! Ia tahu bahwa tosu ini adalah seorang simpatisan Tiong-gi-pai dan karenanya tentu akan suka menolongnya.

Im-yang Thian-cu cepat menghampirinya dan berkata lirih, "Sudah sejak tadi pinto mengintai. Nona yang begini gagah mengapa sampai bisa tertawan?"

"Aku tertawan oleh kecurangan Sim Hong Lui. Totiang harap sudi menolongku sedikit, buang dan padamkanlah hio menyala ini."

Im yang Thian-cu yang telah berpengalaman tahu bahwa hio itu mempunyai pengaruh buruk terhadap diri Lee Ing, maka dengan kipasnya ia mengebut sehingga tidak saja hio itu padam, malah meja-mejanya sekalian ikut terbang terpental jauh! Kemudian kakek ini inencoba untuk mematahkan belenggu, namun sia-sia. Belenggu itu terlampau kuat.

"Harap totiang mundur, biar kucoba mematahkan belenggu ini!" seru Lee Ing yang kini sudah dapat membebaskan diri dari pengaruh asap hio tadi. Gadis ini meramkan mata mengumpulkan napas memusatkan hawa murni di tubuhnya, lalu mengerahkan tenaga dalamnya ke arah kedua lengan yang diikat ke belakang. Terdengar suara "krek-krek-krek!" dan tak lama kemudian putuslah rantai besi tebal itu!

"Hebat..!" kata Im-yang Thian-cu memuji. "Nona, pinto benar-benar kagum melihat kepandaianmu. Akan tetapi lihat, di kelenteng ini tentu akan terjadi hal-hal hebat. Pinto terpaksa harus pergi dulu menolong ketua Hoa-lian-pai."

Sambil menunjuk ke arah belakang kelenteng, Im-yang Thian-cu lalu melompat pergi. Lee Ing menengok dan melihat api berkobar-kobar di sebelah belakang kelenteng, kemudian di sebelah kanan kiri kelenteng itu. Nampak anak murid Hoa-lian-pai berlari ke sana ke mari berusaha memadamkan api.

Di antara sinar api yang berkobar-kobar Lee Ing melihat beberapa orang laki-laki bertempur dengan anak murid Hoa-lian-pai dan kagetlah hati Lee Ing ketika mengenal orang-orang itu sebagai anggauta-anggauta pasukan kerajaan, yaitu para pasukan pengawal yang dulu pernah dipimpin oleh Tok-ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya. Akan tetapi Lee Ing tidak perdulikan itu semua.

Pada saat itu, keinginan hatinya hanya satu, ialah mencari Sim Hong Lui dan membalas penghinaan pemuda gila itu. la meraba pinggangnya. Untung baginya, pemuda gila itu tidak merampas pedang Li-lian-kiam yang dilibatkan di pinggang. Lee Ing mencabutnya, kini ia tidak akan ragu-ragu lagi untuk mempergunakan pedang pusaka itu guna menewaskan Sim Hong Lui, pemuda gila yang lihai itu.

Apakah sebetulnya yang terjadi dan mengapa terbit kebakaran di Kelenteng Hoa-lian-pai? Seperti diketahui, Auwyang Tek yang cepat menyuruh Ouw Bin Hosiang memberi tahu tentang terculiknya Souw Teng Wi kepada kaki tangannya di kota raja setelah ia sendiri membunuh Bu Lek Hwesio, tidak membuang waktu lagi, langsung ia menyusul pula ke Ta-pie-san.

Rombongan kaki tangannya terdiri dari Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, Toat-beng-pian Mo Hun dan jagoan-jagoan lain telah menunggu di sebelah barat kota raja, lalu mereka berangkat bersama merupakan rpmbongan terdiri dua puluh orang lebih.

Tok-ong Kai Song Cinjin tidak ikut, menjaga di kota raja karena dianggapnya tidak perlu menggunakan tenaga terlalu kuat untuk menyerbu tempat seperti itu saja. Ketua Hoa-lian-pai, Lui Siu Nio-nio, cukup dihadapi oleh Kui Ek atau Mo Hun. Kebetulan sekali di tengah jalan rombongan ini dilihat oleh Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu.

Dua orang tokoh kang-ouw ini tentu saja timbul curiganya melihat rombongan Auwyang Tek yang jahat ini menuju ke Ta-pie-san. Apa lagi karena Im-yang Thian-cu mengkhawatirkan keselamatan bekas kekasih dan sumoinya, Lui Siu Nio-nio yang menjadi ketua Hoa-lian pai di Ta-pie-san, melihat rombongan ini lalu cepat mengajak Pek Mao Lojin mengikuti rombongan ini dengan diam-diam.

Ketika dua orang kosen ini betul melihat rombongan itu mendatangi Hoa-lian-pai, Im-yang Thian-cu lalu mengambil jalan dari belakang untuk menemui Lui Siu Nio-nio sedangkan Pek Mao Lojin terus mengikuti rombongan itu dengan diam-diam.

Demikianlah, lm-yang Thian-cu yang mengambil jalan dari belakang itu kebetulan sekali dapat menolong Lee Ing. Ketika melihat pemuda gila itu di sana, Im-yang Thian-cu tidak berani secara lancang turun tangan. Sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman ia dapat menduga bahwa biarpun gila, pemuda itu tentu lihai sekali kalau ia sudah berhasil menawan Lee Ing.

Memang perhitungannya ini tepat. Kalau ia siang-siang muncul dan tidak dapat menahan kemarahannya lalu menyerang Sim Hong Lui, kiranya bukan saja Lee Ing takkan tertolong, malah dia sendiri tentu akan roboh oleh pemuda gila yang luar biasa itu.

Sementara itu, Pek Mao Lojin melihat bagaimana begitu datang di kelenteng, kaki tangan Auwyang Tek segera berteriak-teriak minta supaya Souw Teng Wi diserahkan. Beberapa orang anak murid Hoa-lian-pai keluar melakukan perlawanan dan segera terjadi pertempuran.

Auwyang Tek segera memerintahkan anak buahnya yang lain, dipimpin oleh dia sendiri dan Mo Hun serta Kui Ek, untuk menggeledah ke dalam kelenteng. Malah ia menyuruh bakat bagian-bagian kelenteng, untuk memancing keluar Souw Teng Wi.

Melihat perbuatan kaki tangan Auwyang Tek, kakek botak Pek Mao Lojin tak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerbu, membantu para anak murid Hoa-lian-pai menghantam pasukan pengawal kerajaan itu. Pertempuran menjadi makin hebat. Ketika Pek Mao Lojin melihat Auwyang Tek dan jago-jagonya masuk ke dalam, iapun mengejar.

Kakek botak ini betapapun juga tidak ingin melihat pahlawan rakyat Souw Teng Wi terjatuh ke dalam tangan Auwyang Tek Memang ia kurang perduli tentang perjuangan Tiong-gi-pai, akan tetapi ia masih tahu membedakan mana patriot mana pengkhianat, mana pahlawan mana anjing penjilat menteri-menteri durna yang tak segan-segan menjual negara dan bangsa demi kepentingan golongan sendiri.

"Pemberontak Souw Teng Wi berada di dalam kamar ini!" terdengar seruan Mo Hun, manusia iblis yang bersenjata pian kelabang itu. Akan tetapi maklum betapa lihainya Souw Teng Wi, manusia pengecut ini hanya berteriak-teriak dan tidak berani menyerbu masuk, la tadi menggunakan kekerasan, memaksa seorang anak murid Hoa-lian-pai mengaku.

Karena disiksa, anak murid ini berterus terang bahwa Souw Teng Wi berada di kamar itu. Memang ia tidak membohong dan tadi ia melihat bagaimana Sim Hong Lui memanggul tubuh kakek itu dan meninggalkannya di dalam kamar ini.

"Bakar ruangan ini, paksa dia keluar!"‟ Auwyang Tek berteriak-teriak pula memberi perintah.

Sebentar saja ruangan ini menjadi korban api. Pada saat itu, Pek Mao Lojin menyerobot memasuki pintu yang sudah dijilat api. Kakek ini nekat masuk untuk menolong Souw Teng Wt dari korban api. Sungguh perbuatan yang amat berani dan patut dipuji. Melihat hal yang tidak disangka-sangka ini, Auwyang Tek dan kaki tangannya untuk sejenak menjadi bengong.

"Bagus, biar kakek botak itu menjadi hangus. Kepung kamar ini, jangan perbolehkan dia keluar. Kalau Souw Teng Wi yang keluar, tangkap hidup-hidup!" Auwyang Tek memberi perinlah pula.

Akan tetapi, apa yang dilihat oleh Pek Mao Lo-jin di dalam ruangan yang ternyata amat luas itu, sama sekali bukan Souw Teng Wi, melainkan Im-yang Thian-cu yang berlutut df dekat tubuh Lui Siu Nio-nio yang duduk bersila dalam keadaan tak bernyawa pula!

Ternyata bahwa saking sedih dan malunya, maklum pula bahwa kali ini nama baik dan nama besar Hoa-lian-pai akan rusak oleh Hui-ouw-tiap dan puteranya, ketua Hoa-lian-pai ini mengambil keputusan pendek dan mengakhiri hidupnya dengan jalan menelan napasnya sendiri, la mati dalam keadaan duduk bersila.

Demikianlah Im-yang Thian-cu mendapatkan bekas kekasihnya dan dapat dibayangkan betapa duka dan pedih hati kakek ini, penuh rasa kasihan kepada sumoinya.

"Im-yang Thian-cu, apa yang terjadi?" Pek Mao Lojin menegur dengan penuh keheranan. Im-yang Thian-cu seakan-akan baru sadar dari mimpi buruk, la bangkit dan cepat mengeluarkan kipas dan pilnya, sepasang senjatanya yang amat ampuh.

"Pek Mao, Lui Siu Nio-nio telah tewas. Hoa-lian-pai kedatangan iblis-iblis jahat...."

"Souw-taihiap di mana...?"

"Juga sudah tewas, kumelihat tadi mayatnya di kamar sebelah. Iblis dan setan merajalela, kewajiban kita untuk menentangnya!"

Setelah berkata demikian, Im Yang Thian-cu dengan kemarahan meluap-luap menerjang keluar pintu yang sudah ambruk daunnya karena dimakan api. Ia disambut oleh dua orang kaki tangan Auwyang Tek. Akan tetapi dua orang itu segera terjungkal terkena to-tokan pit di tangan kanan Im-yang Thian-cu yang sudah rusak hatinya dan marah sekali melihat bekas sumoinya mati.

"Tar-tar-tar! Im-yang Thian-cu, akulah musuhmu!"

"Toat-beng-pian Mo Hun manusia berhati iblis. Siapa takut padamu?" bentak Im-yang Thian-cu dan terjadilah pertempuran yang amat dahsyat di tempat yang sudah penuh oleh asap dan api itu.

Pek Mao Lojin maklum bahwa melawan musuh tangguh dari depan dan diancam api dari belakang, mereka berdua takkan dapat menang. Kebetulan sekali ia melihat gentong besar tempat air di ruangan itu, yaitu persediaan air untuk ketua Hoa-lian-pai. la segera menenggak habis kedua guci araknya yang merupakan senjatanya yang istimewa. Benar-benar hebat kakek ini.

Dua guci arak yang masih setengahnya berisi arak itu ditenggak habis dua kali saja, la sama sekali tidak menjadi mabok. Malah bertambah-tambah semangatnya. Cepat sekali ia mengisi guci-guci arak itu dengan air dan menyirami api yang mulai memakan segala apa yang terbuat dari pada kayu di ruangan itu. la mengerahkan tenaga Iweekangnya, air dari guci menyambar dengan kuat dan daya pemadamnya melebihi air berpuluh ember!

Sementara itu Im-yang Thian-cu juga masih melawan mati-matian terhadap serangan Toat-beng-pian Mo Hun dan di belakang Mo Hun ini sudah kelihatan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang hendak mengeroyok. Baiknya asap dan api menjadi penghalang, sehingga untuk sementara Im-yang Thian-cu hanya menghadapi seorang musuh saja.

Akan tetapi Im-yang Thian-cu maklum bahwa biarpun berkat ketangkasan Pek Mao Lojin mereka berdua selamat dari ancaman api, namun fihak lawan di depan terlampau banyak dan terlampau kuat. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa sampai begitu lama Lee Ing tidak muncul? Kalau gadis itu datang membantu, ia tidak usah khawatir lagi, tentu mereka bertiga akan sanggup mengusir musuh.

Ke mana perginya Lee Ing? Gadis ini setelah berhasil mematahkan rantai yang membelenggu tubuhnya, segera lari pula mencari Sim Hong Lui. Juga ia hendak mencari dan menegur Lui Siu Nio-nio yang agaknya membantu muridnya, Hui-ouw-tiap melakukan penculikan atas diri ayahnya.

Lee Ing juga melihat adanya kebakaran di kelenteng dan melihat pula betapa Auwyang Tek dan kaki tangannya menggempur anak buah Hoa-lian-pai. la tersenyum getir, hatinya sudah dilukai oleh Hoa-lian-pai dengan adanya Yap Lee Nio dan puteranya di situ, maka ia tidak sudi membantu, malah ia hendak mencari ketuanya. Ia heran mengapa dua orang itu, Lui Siu Nio-nio dan Sim Hong Lui tidak kelihatan di antara keributan itu.

Betapapun lihai, kaki tangan Auwyang Tek tanpa disertai Tok-ong Kai Song Cinjin, mana mampu melawan Sim Hong Lui? Kenapa pemuda gila itu tidak muncul? Karena ktiawatir kalau-kalau pemuda gila itu akan melarikan diri, Lee Ing cepat memeriksa semua bagian yang belum didatangi rombongan Auwyang Tek, yaitu di bagian ujung kiri, di belakang ruangan yang terbakar di mana Pek Mao Lojin dan lm-yang Thian-cu sedang mati-matian melawan musuh dan api.

Melihat Im-yang Thian-cu bertempur melawan Mo Hun, Lee Ing segera hendak membantu. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara ketawa bergelak dari belakang tempat itu. Ia kenal suara ketawa ini, suara ketawa iblis. Siapa lagi dapat tertawa seperti itu kalau bukan pemuda gila Sim Hong Lui?

Lee Ing melompat cepat naik ke atas genteng untuk menjaga kalau-kalau pemuda itu hendak melarikan diri dari atas. Api menjilatnya, akan tetapi Lee Ing tidak merasakannya lagi, malah ia tendang-tendangi usuk yang dimakan api sehingga api tidak menjalar lebih jauh.

Akan tetapi ia tidak melihat bayangan Sim Hong Lui. Lee lng penasaran sekali dan melompat-lompat dari sana ke mari melalui api dan asap di atas genteng. Kemudian dari atas ia melihat pemandangan yang membuat ia mengeluarkan seruan tertahan dan terpaksa ia melompat ke tempat itu. Ruangan tempat tinggal Lui Siu Nio-nio yang kini menjadi medan pertempuran, ternyata telah ambruk gentengnya.

Hal ini dilakukan oleh Pek Mao Lojin. Kakek ini dapat menyiram padam semua api di bawah, akan tetapi api yang sudah memakan atap rumah sukar disiram. Terpaksa ia mengerahkan Iweekangnya membobol dinding merobohkan tiang sehingga gentengnya ikut pula runtuh! Sekarang ruangan itu sebagian tak beratap lagi sehingga Lee Ing dapat memandang dari atas.

Gadis ini melihat Lui Siu Nio-nio duduk bersila, tak bergerak dan Im-yang Thian-cu sudah terdesak hebat. Baiknya Pek Mao Lojin sudah selesai dengan tugasnya memadamkan api, sekarang kakek botak inipun membantu kawannya mengamuk dengan sepasang guci araknya! Hebat sepak terjang kedua orang kakek itu. Im-yang Thian-cu dikeroyok dua oleh Mo Hun dan Kui Ek, tentu saja menjadi repot sekali dan baiknya kipas di tangannya merupakan perisai yang sukar ditembusi lawan.

Melihat banyaknya pengeroyok yang mulai mendesak dari dinding yang bobol, Pek Mao Lojin lalu membentak nyaring dan menyerang dua orang hwesio yang berada paling depan. Dua orang hwesio yang mukanya merah dan kuning. Dengan sepasang guci araknya Pek Mao Lojin menghantam kepala mereka yang gundul pelontos.

Akan tetapi dua orang, itu ternyata kosen juga. Tidak terlalu sukar mereka mengelak dan membalas serangan Pek Mao Lojin dengan senjata mereka, yaitu toya-toya pendek. Pek Mao Lojin tercengang melihat, kehebatan serangan mereka, akan tetapi ia tidak gentar, malah tertawa terbahak karena gembira mendapatkan lawan tangguh.

la tidak tahu bahwa kedua orang lawannya adalah Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang, dua orang dari tiga saudara Hu niu Sam-lojin. Tentu saja mereka itu merupakan lawan yang amat tangguh dan di lain saat terjadilah pertempuran yang tidak kalah serunya dari pertempuran antara Im-yang Thian-cu yang dikeroyok Mo Hun dan Kui Ek.

Lee Ing mengerutkan keningnya, alisnya yang bagus itu bergerak naik turun. Ia memang ingin sekali segera mendapatkan Hong Lui, akan tetapi melihat Im-yang Thian-cu dan Pek Mao Lojin terkurung dan terdesak hebat, ia tidak tega. Apa lagi Lui Siu Nio-nio kelihatannya diam saja dan agaknya nenek ini tidak ikut apa-apa dalam semua keributan, hal yang amat mengherankan dan mencengangkan hatinya. Mengapa nenek itu tidak membantu bekas kekasihnya atau suhengnya, Im-yang Thian-cu?

Tiba-tiba ia mengetahui sebabnya ketika Ma-thouw Koai tung Kui Ek menyerang Im-yang Thian-cu dengan ayunan tongkatnya dan dielak oleh Im-yang Thian-cu. Tongkat itu menyambar sebuah bangku yang melayang ke arah tubuh Lui Siu Nio-nio yang duduk bersila. Tubuh itu terguling roboh dalam keadaan masih bersila juga! Baru Lee Ing tahu bahwa ternyata ketua Hoa-lian-pai itu telah tak bernyawa sejak tadi! Hal ini mengusir semua keraguan dan kelambatannya.

Ia memekik keras dan tubuhnya melayang turun bagaikan seekor burung elang menyambar korban. Tangan kirinya bergerak mendorong sebelum tubuhnya sampai dan dorongan dari jauh ini demikian hebatnya sehingga orang-orang lihai seperti Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang sampai terhuyung mundur dan kehilangan keseimbangan tubuhnya! Memang Lee Ing sengaja menyerang mereka karena melihat Pek Mao Lojin terdesak hebat dan terancam keselamatannya.

Kini melihat dua orang pengeroyoknya terhuyung mundur, Pek Mao Lo-jin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dua buah guci araknya terayun cepat sekali ke depan dan terdengar suara "prak! prak!" ketika guci-guci itu bertemu dengan kepala dua orang hwesio itu. Pek Mao Lojin tersentak ke belakang dan napasnya agak memburu, akan tetapi dua orang hwesio dari Hu-niu-san itu roboh dengan kepala pecah dan tewas di saat itu juga.

"Ha-ha-ha, dengan kau di sini, musuh terlampau empuk!" kata Pek Mao Lojin sambil menengok ke arah Lee Ing yang sementara itu sudah melayang turun.

Di lain fihak, ketika Mo Hun, Kui Ek. Auwyang Tek dan yang lain-lain melihat turunnya Lee Ing, mereka menjadi pucat dan cepat-cepat Mo Hun dan Kui Ek yang berada paling depan melompat ke belakang sambil memutar senjata menjaga diri dan di sepanjang jalan Auwyang Tek menyumpah-nyampah mengapa Tok-ong Kai Song Cinjin tidak ikut serta.

Kalau ada hwesio Tibet itu, kiranya dia dan kawan-kawannya tidak harus berlari-lari seperti itu menjauhkan diri dari Souw Lee Ing. Adanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu, dibantu oleh anak murid Hoa-lian-pai yang berani-berani itu sudah merupakan lawan yang tidak mudah dikalahkan, lalu muncul Souw Lee Ing, gadis yang lihai itu. Betul-betul merupakan lawan berat, apa lagi setelah Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang tewas di tangan Pek Mao Lojin. Melarikan diri adalah jalan paling aman.

"Kejar mereka! Pemuda jahat Auwyang Tek itu kalau tidak dibasmi, lain kali hanya akan mendatangkan keributan saja!" kata Pek Mao Lojin.

Akan tetapi Lee Ing tidak mau mengejar, menggeleng kepala karena gadis ini lebih mengutamakan mencari Sim Hong Lui. melihat gadis Ini tidak mengejar, Pek Mao Lojin maupun Im-yang Thian-cu tidak berani mengejar sendiri. Apa lagi karena Im-yang Thian-cu segera mengangkat jenazah Lui Siu Nio-nio, dibawa keluar dari tumpukan puing itu.

Murid-murid Hoa-lian-pai menangis sedih melihat ketua mereka sudah tewas. Im-yang Thian-cu tidak mau bersikap lemah. Setelah menyerahkan jenazah itu kepada para anak murid Hoa-lian-pai, ia lalu mengikuti Lee Ing dan Pek Mao Lojin yang sementara itu sudah mencari-cari ke belakang kelenteng.

Secara singkat Lee Ing memberitahukan bahwa yang menculik ayahnya adalah Sim Hong Lui dan bahwa ayahnya telah tewas di tangan Yap Lee Nio. Kini ia mencari pemuda gila itu, sambil mencari jenazah ayahnya yang lenyap tak berbekas.

Dua orang kakek itu makin kagum melihat Lee Ing. Baru saja kematian ayahnya, namun gadis itu tetap gagah sikapnya, sungguhpun agak pucat mukanya dan agak merah matanya.

"Dia takkan pergi jauh-jauh." kata Im-yang Thian-cu. "Sebelum pertempuran, pinto juga melihat jenazah Souw-taihiap. Sekarang lenyap, tentu dia bawa."

Tiga orang ini setelah memeriksa semua tempat di sekitar kelenteng dengan sia-sia, mulai mencari di lereng-lereng. Tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh dari jauh. Mendengar suara ini, Lee Ing berkelebat cepat dan lenyap dari samping dua orang kakek itu. Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu cepat mengejar ke arah berkelebatnya Lee Ing, yaitu ke arah datangnya suara ketawa tadi.

Memang tidak salah dugaan Lee Ing. Yang ketawa tadi adalah Sim Hong Lui. Ketika gadis ini mengejar ke tempat itu, ia melihat Sim Hong Lui berdiri sambil tertawa bergelak, berhadapan dengan dua orang kakek tua sekali.

“Heh-heh-heh, dua ekor kambing tua tak usah banyak omong lagi. Minggat dari sini!" bentak pemuda itu dan tangan kanannya bergerak menghantam ke depan.

Lee Ing yang melihat gerakan ini tahu bahwa pemuda itu menggunakan gerakan pukulan jarak jauh Twi-hong-hok san (Dorong Angin Balikkan Gunung), ilmu pukulan dahsyat dari Gua Siluman! Akan tetapi dua orang kakek itu cepat mengelak dan keduanya saling pandang. Kakek yang seorang, yang buntung tangan kirinya, menggunakan tangan kanan menggaruk-garuk kepalanya yang botak.

"Aneh! Hek-mo (Setan Hitam), bukankah itu tadi pukulan Bu beng Sin-kun pula."

"Tak salah lagi, Sin-kai (Pengemis Sakti)! Selain Souw Teng Wi, agaknya bocah inipun telah menuruni ilmunya!" kata kakek ke dua, kakek hitam mukanya buruk, sambil menggerak-gerakkan tongkat ularnya.

Dua orang kakek ini bukan lain adalah Tok-pi Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Satu) dan Im-kan Hek-mo (Iblis Hitam dari Akhirat). Seperti telah di tuturkan di bagian depan, dua orang kakek ini bersama Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki. dahulu pernah dikalahkan oleh Bu-beng Sin-kun. Mereka belajar lagi dengan giat, namun tidak mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Bu-beng Sin-kun.

Akhirnya mendengar bahwa Souw Teng Wi mempunyai ilmu pukulan yang menjadi warisan Bu-beng Sin-kun, dua orang kakek tua ini menyuruh murid masing-masing, yaitu Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, untuk membujuk Siok Beng Hui memberi tahu di mana tempat sembunyi Souw Teng Wi. Hal ini sudah diceritakan di bagian depan. Juga Souw Lee Ing pernah melihat dua orang kakek ini menuju ke kota raja.

Memang, kakek sakti itu keduanya mencari ke kota raja dan mendengar bahwa Souw Teng Wi telah lenyap diculik orang. Mereka cepat menyusul ke selatan lagi dan di tengah jalan melihat rombongan Auwyang Tek. Diam-diam inereka mengikuti rombongan ini setelah mendengar bahwa rombongan ini juga hendak mengejar penculik Souw Teng Wi ke Ta-pie-san. Karena dua orang ini memang memiliki kesaktian tinggi, maka Auwyang Tek dan kawan-kawannya tidak melihat mereka.

Ketika mereka melihat keadaan, kelenteng yang kacau balau karena perbuatan anak buah Auwyang Tek. dua orang kakek ini diam-diam memasang mata. Akhirnya mereka melihat seorang pemuda yang cepat sekali gerakan-gerakannya, lari dari kelenteng memanggul tubuh seorang laki-laki.

Mereka lalu menghadangnya dan berhadapan dengan pemuda itu yang bukan lain adalah Sim Hong Lui yang hendak melarikan diri membawa jenazah Souw Teng Wi setelah ia melihat bahwa Souw Lee Ing telah terlepas dari belenggu.

Biarpun telah gila dan memiliki kepandaian tinggi, tetap saja pemuda ini masih mempunyai watak pengecut. Ia tahu bahwa dalam hal kepandaian. ia masih kalah ssetingkat oleh Lee Ing, maka ia tidak berani melawan, apa lagi karena tempat itu kedatangan demikian banyak musuh.

Dua orang kakek itu menahannya dan bertanya tentang Souw Teng Wi. Hong Lui boleh jadi jerih terhadap Lee Ing, akan tetapi orang lain ia memandang ringan. Ditanya tentang Souw Teng Wi. ia bilang bahwa Souw Teng Wi sudah mati dan mayatnya ia bawa, kalau dua orang kakek itu hendak mengantar nyawa Souw Teng Wi boleh mampus sekarang juga!

Tentu saja Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek- mo menjadi marah-marah dan mendesaknya untuk mengaku jelas yang dijawab oleh serangan Sim Hong Lui seperti telah diceritakan di atas pada saat Lee Ing tiba di situ. Sebelum melakukan serangannya tadi, Hong Lui lebih dulu melemparkan mayat Souw Teng Wi ke atas tanah.

Sementara itu, Lee Ing yang juga telah melihat mayat ayahnya, tidak memperdulikan lagi kepada mereka, melainkan cepat-cepat melangkah maju menghampiri jenazah ayahnya dan dipondongnya ke pinggir, menjauhi mereka yang sedang bertempur. Memang Hong Lui sudah menyerang kalang-kabut kepada dua orang kakek itu karena penasaran melihat pukulannya tadi tidak mendatangkan hasil.

"Hebat, ini dia Bu-beng Sin-kun mudai" kata Tok-pi Sin-kai sambil menggerakkan tubuh mengelak dan balas menyerang dengan tangan tunggalnya.

"Malah lebih berbahaya....!" kata Im-kan Hek-mo pula sambil mencoba untuk mematahkan lengan tangan pemuda itu dengan tangkisan tongkat ulamya. Akan tetapi, hanya terdengar bunyi "takkk!" dan tongkatnya terpental, sedangkan lengan pemuda itu tidak apa-apa!

"Kita harus kalahkan dia dan desak di mana adanya Bu-beng Sin-kun!‟ teriak Tok-pi Sin-kai sambil menyerang maju.

Lee Ing yang duduk di dekat mayat ayahnya, ketika menengok ke depan, melihat bahwa kakek tangan satu itu betul-betul lihai sekali ilmu silatnya. Biarpun lengan tangannya tinggal sebelah, namun tangan itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata sehingga seakan-akan berubah menjadi enam buah, sedangkan setiap pukulannya mendatangkan sambaran angin yang dingin. Di sampingnya, Im-kan Hek-mo ternyata juga lihai sekali.

Tongkat ular di tangannya seperti hidup bergerak-gerak turun naik sukar sekali diduga ke mana arahnya dan mana yang hendak dijadikan sasaran. Tongkat ini dapat dipergunakan untuk memukul maupun menotok, keduanya dapat merenggut nyawa.

Dua orang kakek ini, menghadapi seorang di antaranya saja sudah berat, apa lagi sekarang mereka maju bersama. Benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh. Kalau dua orang kakek ini ditambah lagi dengan Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki, masih tidak mampu mengalahkan Bu-beng Sin-kuo, dapat dibayangkan betapa tingginya kesaktian Bu-beng Sin-kun!

Seperti telah diketahui, di dalam Gua Siluman keadaannya amat menyeramkan, dan di situ mengandung hawa ajaib yang mungkin sekali tercipta karena keadaan yang amat mengerikan ketika Bu-beng Sin-kun berada di dalam gua, menjaga kekasihnya sampai gadis itu mati dan membusuk di dalam gua! Penuh dengan hawa nafsu, penuh dengan kerinduan, sehingga bagi siapa yang memasukinya, kalau kurang kuat batinnya akan menjadi gila seperti halnya Souw Teng Wi dan Sim Hong Lui.

Souw Teng Wi lemah batinnya karena ia sedang merana dan rindu dendam kepada isterinya yang ia tinggal pergi bertahun-tahun lamanya. Maka hawa busuk di dalam gua itu mempengaruhi otaknya dan membuatnya gila, lebih-lebih pengaruh hawa jahat dalam gua itu terhadap Sim Hong Lui, lebih hebat lagi. Pemuda ini memang sudah mempunyai kebiasaan jahat, hati dan pikirannya tidak bersih lagi.

Setelah berhasil menemukan Gua Siluman dan mempelajari ilmu di situ, ia telah berubah seperti iblis sendiri. Akan tetapi harus diakui bahwa semua ilmu silat yang tinggi dan aneh dari Bu-beng Sin-kun telah dipelajarinya dengan baik dan kalau Lee Ing dapat mewarisi hawa murninya, adalah pemuda ini sebaliknya. Mewarisi hawa jahat di dalam gua itu.

Sim Hong Lui telah menjadi demikian lihai, baik ilmu silat maupun tenaganya sehingga menghadapi keroyokan dua orang kakek itu, ia masih dapat mempertahankan diri biarpun ia hanya bertangan kosong! Gerakan-gerakannya sudah tidak karuan lagi, kadang-kadang limbung terhuyung-huyung, kadang-kadang jongkok berdiri Seperti orang liar menari-nari.

Akan tetapi makin aneh gerakannya, makin lihailah dia. Sambaran tongkat ular di tangan Im-kan Hek-mo dap pukulan-pukulan tangan kanan yang ampuh dari kakek buntung Tok-pi Sin-kai, selalu hanya mengenai angin belaka atau tertumbuk dengan kerasnya pada lengan tangan pemuda itu. Sebaliknya, desakan-desakan liar dari Sim Hong Lui kadang-kadang membuat dua orang kakek itu melompat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget.

"Lihai sekali," seru pengemis buntung itu, "Gerakan-gerakannya mirip Bu-beng Sin-kun, akan tetapi mengandung hawa iblis..."

"Agaknya Bu-beng Sin-kun sudah menyerahkan diri kepada iblis, ilmu silatnya berubah ilmu hitam...!" kata Im-kan Hek-mo sambil mendesak terus dengan hati penuh penasaran.

Kedua orang ini, Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, keduanya adalah tokoh-tokoh kang-ouw, pendekar-pendekar besar yang puluhan tahun yang lalu amat terkenal. Mereka tergolong tokoh-tokoh kang-ouw yang namanya bersih, biarpun berwatak aneh namun bukan tergolong orang-orang jahat. Permusuhan mereka dengan Bu-beng Sin-kun hanya karena adu kepandaian saja.

Maka sekarang menyaksikan sepak terjang Sim Hong Lui mereka kaget dan juga heran. Sepanjang pengetahuan mereka Bu-beng Sin-kun adalah seorang tokoh besar yang bersih pula ilmunya, mengapa sekarang menurunkannya kepada seorang pemuda yang demikian gila seperti iblis?

Adapun Lee Ing yang melihat pertempuran itu, diam-diam memuji Sim Hong Lui yang benar tangguh sekali, juga ia merasa penasaran ilmu di Gua Siluman dimainkan seperti iblis jahatnya, setiap serangan mengarah nyawa dan penuh sifat-sifat curang. Apa lagi mendengar ucapan dua orang kakek itu, ia menjadi penasaran sekali.

Nama baik gurunya, Bu-beng Sin-kun, tidak boleh ternoda oleh sepak-terjang seorang berotak miring Sim Hong Lui. Gadis ini setelah menutupi jenazah ayanya dengan baju luarnya, lalu melompat maju ke dalam kalangan pertempuran dan sama sekali tidak perdulikan Pek Mao Lo'jin dan Im-yang Thian-cu yang juga sudah sampai di situ dan menonton pertempuran dengan pandang mata kagum.

Dua orang kakek ini maklum bahwa orang-orang yang bertempur mempunyai tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka, sukar diukur sampai di mana tingginya. Tentu saja mereka tahu siapa dua orang yang mengeroyok pemuda gila itu. Semua orang kang-ouw mengenal Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, biarpun dua orang ini sudah belasan tahun lenyap dari dunia persilatan.

"Minggirlah kalian dua orang kakek tua. Orang gila ini musuhku!" teriak Lee Ing yang melompat ke tengah medan pertempuran sehingga pada saat itu, pukulan tangan kanan Tok-pi Sin-kai dan ayunan tongkat ular lm-kan Hek-mo yang tadinya ditujukan kepada Sim Hong Lui, kini menyambar kearahnya tanpa dapat ditarik kembali oleh para penyerangnya karena gerakan Lee Ing memasuki medan pertempuran itu terlalu cepat.

Sedangkan Sim Hong Lui yang melihat siapa yang masuk sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu menyerang pula dengan kedua tangan dibentangkan lalu ia menubruk dan memeluk ke arah pinggang Lee Ing! Dengan demikian, begitu memasuki medan pertempuran, sekaligus Lee Ing menghadapi tiga serangan dari tiga orang yang pandai.

Akan tetapi gadis lihai ini tidak menjadi gugup. la menggerakkan kedua tangan ke belakang, bagaikan dua ekor ular sakti dua tangannya menangkap pergelangan kedua tangan Sim Hong Lui lalu dengan seruan keras ia melompat sambil berpoksai sehingga tahu-tahu ia "bertukar tempat" dengan pemuda itu dan kini Sim Hong Lui yang menghadapi serangan dua orang kakek itu yang baru datang!

Pemuda ini mengeluarkan seruan aneh, ke dua kakinya bergerak dan tongkat ular serta pukulan kakek buntung keduanya dapat ia tangkis dengan tendangan-tendangannya.

Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo melompat mundur dengan wajah berubah. Tidak saja mereka terheran-heran menyaksikan kehebatan gerakan Lee Ing, akan tetapi kaget sekali menyaksikan betapa dalam keadaan kedua tangan tak berdaya, pemuda itu masih dapat menangkis serangan hanya dengan tendangan-tendangan kaki! Benar-benar dua orang muda ini memiliki ilmu yang amat luar biasa.

Sementara itu, Lee Ing sudah melepaskan cekalannya sambil mendorong maju pemuda itu. Hong Lui juga cepat-cepat membalikkan tubuh menghadapi Lee Ing lalu cengar-cengir menjemukan.

"Ahahhah! Kiranya kau nona manis. Kita memang cocok sekali satu kepada yang lain, kedua-duanya murid Gua Siluman, Ha-ha-hah, kakek-kakek hampir mampus ini menyebalkan saja. Baik kita tinggalkan mereka dan mari ke Gua Siluman, selanjutnya kita berdua hidup bahagia!"

Baru kali ini ia mendengar ocehan Sim Hong Lui yang agak panjang dan mukanya menjadi merah sekali. Celaka, pikirnya. Banyak pemuda mencintainya, pemuda-pemuda ganteng dan baik baik seperti Han Sin dan Siok Bun. Apa lagi Oei Siok Ho. Hemm... pemuda-pemuda seperti itu sih pantas saja kalau mencintanya. Akan tetapi pemuda seperti si otak miring ini? Menyebalkan sekali!

"Sim HongLui, jangan kau mengoceh tidak karuan. Kau ini manusia gila berani mengaku murid Bu-beng Sin-kun. Ketahuilah, hanya aku seorang murid suhu Bu-beng Sin-kun, bukan macam mukamu, manusia gila!" Sambil berkata demikian, Lee Ing sengaja melirik kepada dua orang kakek yang tadi mencela Bu-beng Sin-kun, karena memang kepada merekalah dia menujukan perkataannya itu. Sim Hong Lui ketakutan. Ia sudah merasakan kelihaian nona ini dan ia sudah kalah.

"Nona manis, ayahmu dan ayahku sudah setuju kalau kita berjodoh...."

"Tutup mulut!" Lee Ing menyerbu dan menerjang dengan pukulan dahsyat!

Hong Lui mengelak dan balas menyerang, mulutnya tiada hentinya bersambatan dan mengeluh. Akan tetapi tangannya tidak tinggal diam, melainkan balas menyerang dengan kedahsyatan yang sama. Memang, di balik kegilaannya, Sim Hong Lui tetap merupakan seorang yang licik dan banyak akalnya, la pura-pura saja mengeluh dan minta dikasihani, akan tetapi diam-diam ia mencari akal untuk merobohkan gadis itu.

Malang baginya, Lee Ing tidak memperdulikan segala ocehannya dan tetap menyerang dahsyat. Gadis ini telah menyimpan pedangnya karena ia malu kalau tak dapat mengalahkan pemuda gila ini bertangan kosong, la sekarang tahu di mana letak kelihaian pemuda ini, yaitu di dalam pukulan-pukulan yang mengandung hawa dingin.

Pemuda ini lebih memperkuat lm-kang ketika mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bu-beng Sin-kun. Ia tidak mau kalah, sambil mengeluarkan seruan-seruan dan suara ketawa yang mengandung tenaga Im-kang dahsyat untuk melawan suara Hong Lui yang merengek-rengek.

Gadis ini terus melancarkan serangan bertubi-tubi dan menghantam mendesak lawannya dengan bagian-bagian Lo-thian-tong-te, yaitu bagian Ilmu Silat Thian-te-kun terdahsyat yang belum dipelajari oleh orang lain kecuali Lee Ing sendiri.

Benar saja. Pemuda itu sekarang main mundur dan terdesak hebat. Ia mulai celingukan mencari jalan keluar, namun Lee Ing tidak memberi kesempatan kepadanya. Jalan lari depan kanan kiri sudah tertutup oleh hawa pukulan Lee Ing yang baru sekali ini menemui lawan paling tangguh selama ia keluar dari Gua Siluman.

Jalan satu-satunya bagi Hong Lui hanya main mundur, berputaran dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menyelamatkan diri. Memang hebat sekali warisan ilmu menjaga diri dari Bu-beng Sin-kun. Pemuda itu dapat melompat ke sana ke mari dan semua pukulan Lee Ing menyambar angin. Kalau toh ada yang sudah mendekati sasaran, selalu menyeleweng ke samping...

Jilid selanjutnya,
PUSAKA GUA SILUMAN JILID 25