Rajawali Lembah Huai Jilid 22

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 22
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 22, karya Kho Ping Hoo - PERAHU meluncur cepat dan menjelang senja, perahu mendarat di kaki sebuah bukit yang penuh hutan belukar. Daerah itu memang berbukit-bukit dan memang merupakan daerah yang baik sekali untuk menjadi markas laskar yang sedang dihimpun.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Kalau sewaktu-waktu datang serangan pasukan pemerintah, laskar rakyat itu akan dapat menyelamatkan diri di bukit-bukit berhutan dan daerah itu tentu saja amat berbahaya bagi pasukan yang belum mengenal medan.

Setelah mereka mendaki bukit dan tiba di tepi hutan ketiga, serombongan orang menghadang di depan. Cu Goan Ciang memimpin rombongan itu dan dengan langkah lebar dia menyambut kedatangan Shu Ta. Keduanya saling pandang, lalu dengan gembira saling berpelukan.

“Suheng... engkau... hebat, suheng!” kata Shu Ta gembira.

“Engkau lebih hebat lagi, sute. Tanpa bantuanmu, tentu akan gagal semua usahaku. Mari kuperkenalkan dengan kawan-kawan kita.” Cu Goan Ciang memperkenalkan belasan orang pembantu utamanya yang merupakan pendekar-pendekar dan ahli siasat yang namanya sudah terkenal di dunia kang-ouw.

Ketika diperkenalkan kepada seorang raksasa brewok, sebelum Cu Goan Ciang menyebut namanya, dengan hati berdebar Shu Ta mendahuluinya. “Bukankah saudara ini yang berjuluk Tay-lek Kwi-ong?”

Tay-lek Kwi-ong terbahak. “Ha-ha-ha, memang nama besar Panglima Shu bukan kosong belaka. Belum pernah kami saling bertemu, akan tetapi dia sudah dapat mengenalku!”

Shu Ta menahan kesabarannya, walaupun ingin dia mencekik orang yang telah menculik gadis yang membuatnya tergila-gila, yang diam-diam amat dicintanya itu. Dia memperkenalkan empat orang perwira pembantunya yang juga merupakan orang-orang sehaluan, yang membantu perjuangan dengan mempersiapkan diri sebagai perwira sehingga dapat membantu dari dalam.

“Sute, aku gembira sekali dapat bertemu denganmu. Banyak sekali yang perlu kita bicarakan. Akan tetapi, tentu engkau mempunyai kepentingan khusus maka engkau sampai mencari aku. Dan bagaimana engkau dapat pergi begitu saja berkunjung ke sini tanpa dicurigai?”

Kini Shu Ta tidak dapat menahan kemarahannya lagi terhadap Tay-lek Kwi-ong. Dia menudingkan telunjuknya kepada raksasa brewok itu dan berkata, “Suheng, semua ini gara-gara perbuatan Tay-lek Kwi-ong! Aku datang untuk mencari dia yang telah berani menculik Bouw Siocia, puteri Menteri Bayan. Kalau sampai terjadi hal yang tidak baik terhadap diri puteri itu, aku minta suheng menyerahkan dia padaku!” Wajahnya merah, matanya berkilat.

Melihat sikap sutenya ini, Cu Goan Ciang menjadi heran, akan tetapi dia memang cerdik dan sekilas pandang saja dia dapat menarik kesimpulan. Sutenya adalah seorang pejuang sejati yang membenci penjajah, bahkan rela memasuki bahaya dengan menjadi perwira untuk membantu perjuangan menjatuhkan pemerintah Mongol. Kini, melihat puteri seorang menteri Mongol tertawan, dia bukan merasa gembira, bahkan kelihatan marah sekali!

“Aihh, Shu-sute engkau kenapakah? Kenapa marah-marah mendengar puteri Menteri Bayan ditawan orang? Hemm, tentu ada apa-apanya ini...” Dia menggoda, akan tetapi yang digoda tetap marah.

“Suheng, sebelum kita bicara tentang hal-hal lain, katakan dulu, di mana Mimi dan apa yang telah diperbuat Tay-lek Kwi-ong kepadanya!”

Kini yakinlah hati Cu Goan Ciang. Perkiraannya tidak salah. Sutenya telah jatuh cinta kepada puteri Menteri Bayan itu. Dan ini tidak mengherankan. Setelah menjadi tawanan di situ dan diberi pakaian wanita yang baik, gadis itu baru kelihatan amat cantik jelita dan gagah!

Dan juga wataknya amat baik dan segera sudah menjadi akrab sekali dengan kekasihnya, yaitu Tang Hui Yen. Kedua orang gadis itu sudah seperti sahabat lama saja, berlatih silat bersama, bergurau bersama. Dari Yen Yen dia mengetahui bahwa Mimi sama sekali tidak menghiraukan tentang politik, dan berjiwa pendekar.

“Ha-ha-ha, tenangkan hatimu, sute. Nona Bouw Mimi memang berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami.”

Shu Ta membelalakan matanya, “Suheng! Jadi engkau yang menyuruh dia menculik Mimi?”

“Bukan begitu, akan tetapi kebetulan sekali Bouw Siocia dapat kami ambil alih dari tangan Tay-lek Kwi-ong yang hanya menawannya untuk disandera karena dia dikejar-kejar Bouw Kongcu dan para perwira. Tay-lek Kwi-ong juga merupakan seorang diantara kawan-kawan kita, pembantuku yang baik. Marilah, sute, mari kira bicara di tempat kami. Banyak yang dapat kita bicarakan dan tenangkan hatimu. Nona Mimi dalam keadaan sehat dan gembira, engkau dapat melihatnya sendiri nanti.”

Shu Ta merasa lega. Pandangan marah kepada Tay-lek Kwi-ong lenyap dan dia percaya sepenuhnya kepada suhengnya. Merekapun segera mendaki bukit itu dan ternyata di dekat puncak terdapat sebuah perkampungan. Dan Shu Ta diam-diam merasa kagum bukan main. Perkampungan itu seperti benteng saja!

Terjaga ketat, dan biarpun dengan pakaian sederhana, namun anak buah suhengnya merupakan pasukan yang berpakaian seragam hitam, dan bendera dengan huruf BENG berkibar-kibar. Merekapun berbaris rapi menyambut kedatangan Beng-cu, dan ketika mereka melalui sebuah tempat tinggi, Cu Goan Ciang mengajak sutenya untuk naik dan memandang ke sekeliling.

“Lihat baik-baik, sute. Kami sudah siap. Tidak kurang dari seratus ribu prajurit dalam pasukan kami!”

Shu Ta berseru kagum. “Bukan main! Engkau hebat, suheng!” Dia melihat betapa di perbukitan sekeliling bukit itu, terdapat tenda-tenda hitam yang teratur rapi dan nampak jalan-jalan darurat yang menghubungkan satu bukit dengan yang lain. Kedudukan pasukan suhengnya ternyata sudah amat kuat, hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya!

“Wah, pasukan ini sudah cukup kuat untuk merebut Nan-king, suheng!”

“Itulah yang perlu kita bicarakan. Mari kita ke tenda induk, akan tetapi sebaiknya engkau jangan bertemu dulu dengan nona Bouw. Setelah kita bicara nanti, baru engkau bertemu dan bicara dengannya. Agaknya ia... eh... kalian... saling mencinta, bukan?”

Wajah Shu Ta berubah merah sekali dan dia memegang tangan suhengnya. “Terus terang saja, suheng. Aku jatuh cinta padanya. Ia gadis yang baik sekali, dan aku cinta padanya, aku tidak ingin melihat ia terganggu atau celaka. Akan tetapi ia sendiri... ah, aku belum tahu apakah ia mencintaku walaupun pergaulan kami cukup akrab.”

“Kita bicarakan soal itu nanti, sekarang kita harus mengadakan perundingan penting dengan para pembantuku yang terpercaya.”

Mereka mengadakan rapat di dalam tenda besar yang di jaga ketat sehingga tidak ada orang lain yang dapat mengintai atau ikut mendengarkan apa yang sedang dibicarakan. Yang hadir dalam rapat itu adalah para pembantu Cu Goan Ciang sebanyak lima belas orang termasuk Tay-lek Kwi-ong, dan juga empat orang pembantu Shu Ta. Di kepala meja duduk Cu Goan Ciang, sedangkan Shu Ta duduk di sebelah kanannya, tempat yang paling terhormat di samping Beng-cu.

“Saudara sekalian harap dengarkan baik-baik apa yang akan dibicarakan antara aku dan sute Shu Ta karena ini merupakan rencana siasat kita selanjutnya. Nah, sute, kebetulan muncul peristiwa tertawannya Bouw Siocia, karena tadinya akupun sudah ingin mengadakan pertemuan denganmu untuk membicarakan rencana besar kita, yaitu menguasai kota Nanking. Bagaimana kalau menurut pandangan dan siasatmu, sute?”

“Suheng, kekuatan pasukan suheng yang sebesar seratus ribu orang itu memang cukup kuat, akan tetapi kalau suheng hanya mengerahkan pasukan menyerbu Nan-king begitu saja, aku meragukan hasilnya, dan andai kata berhasilpun, tentu akan mengorbankan banyak sekali anak buah laskar suheng. Akan lebih menguntungkan kalau kita menggunakan siasat 'Memancing Lembah Meninggalkan Sarang'.”

Cu Goan Ciang yang selalu kagum akan kecerdikan sutenya yang pandai mengatur siasat, apalagi setelah lama menjadi seorang panglima, segera minta penjelasan.

“Kita harus berusaha agar Yauw-Ciangkun membawa sebagian besar pasukannya keluar dari Nan-king, dan aku sendiri bersama pasukan yang sehaluan, yaitu pasukan bangsa Han yang setiap saat akan menanti perintahku sebanyak kurang lebih tiga ribu orang, akan tetap tingal di Nan-king. Harus diusahakan agar sisa prajurit yang pro pemerintah dan yang tinggal di benteng tidak begitu banyak jumlahnya.

"Setelah mereka keluar, pintu gerbang akan kami tutup dan kalau mereka kembali, kami akan melarangnya. Mereka tentu akan menyerbu dan kami melawan dari dalam. Saat itu, suheng bersama pasukannya datang menyerang sehingga kedudukan pasukan pemerintah terjepit.”

Cu Goan Ciang mengangguk-angguk dan para pembantunya merasa kagum dan menyetujui rencana itu yang sekali pukul akan dapat menghancurkan pasukan pemerintah.

“Hanya saja yang sulit, kita harus dapat mencari alasan yang tepat dan tidak mencurigakan untuk memancing Yauw-Ciangkun dan pasukannya keluar meninggalkan Nan-king,” kata pula Shu Ta.

“Aku sudah mempunyai akal itu, sute!” kata Cu Goan Ciang dengan gembira dan mata memandang kepada Shu Ta yang masih muda namun banyak akalnya itu! “Seolah Tuhan sudah membantu kita, maka kebetulan sekali Bouw Siocia menjadi tawanan kita. Kita harus dapat mempergunakan kesempatan ini, untuk melancarkan usaha kita.”

“Harap kau jelaskan, suheng,” kata Shu Ta dan diam-diam dia merasa khawatir sekali. Biarpun dia rela berkorban nyawa sendiri demi perjuangan membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mongol, akan tetapi agaknya dia akan merasa berat kalau harus mengorbankan diri Mimi yang dicintanya.

Melihat sinar mata sutenya, Cu Goan Ciang dapat menyelami kekhawatiran sutenya itu. “Sute, kita hanya mempergunakan nama Bouw Siocia saja tanpa mengganggunya. Kebetulan engkau mendapat tugas menyelidiki dan mencari Bouw Siocia, bukan?

"Nah, engkau pulang dan melapor kepada Yauw-Ciangkun bahwa Bouw Siocia berada di sini, di tangan kami dan kau ceritakan bahwa kami sudah bersiap-siap untuk melakukan pemberontakan dan sedang menghimpun kekuatan. katakan saja bahwa kekuatan kita hanya ada belasan ribu orang.

"Buatlah laporan agar mengejutkan dan juga memarahkan Yauw-Ciangkun sehingga dia akan mengerahkan pasukan seperti yang kau rencanakan tadi. Kita pancing agar dia membawa pasukannya menyerbu ke bukit ini.”

“Akan tetapi, hal itu akan mendatangkan pertempuran besar yang menjatuhkan banyak korban.”

“Sute, bagaimana mungkin dapat dicegah jatuhnya korban dalam pertempuran? Yang penting, korban di antara kita harus sesedikit mungkin dan di pihak musuh sebanyak mungkin. Kami akan mengatur jebakan untuk mereka. Sebagian dari pasukan kami akan diam-diam menuju ke Nan-king dan menjaga di luar pintu gerbang, dan sebagian lagi melakukan perang jebakan terhadap mereka.

"Daerah kami ini amat baik untuk menjebak musuh, banyak terdapat tebing dan jurang, juga lorong sempit. Pendeknya, kalau Yauw-Ciangkun berani membawa pasukannya ke sini, pasukan itu akan kami hancurkan. Kalau dia tidak terjebak, baru kita melaksanakan rencanamu tadi, yaitu menjepit mereka di luar kota Nan-king, engkau dan pasukanmu dari dalam, sedangkan pasukan kami dari luar.

"Akan tetapi, sebaiknya kalau mereka dapat terjebak dan dapat kami jepit di sini, sedangkan engkau dan pasukanmu melumpuhkan semua prajurit yang pro pemerintah dan masih berada di sana, juga menangkapi para pejabat yang pro pemerintah penjajah.”

Shu Ta kagum dan memberi hormat kepada suhengnya. “Suheng, pantas engkau terpilih menjadi Beng-cu. Memang engkau hebat. Aku setuju sekali!”

“Bagaimana dengan saudara-saudara yang lain? Setujukah dengan rencana siasat kami tadi?”

Semua orang menyatakan persetujuannya. “Bagus, kalau begitu kita semua sudah sependapat. Sebelum kita mengatur pembagian kerja dan mengatur persiapan untuk melaksanakan rencana itu, di sini akan kutekankan kepada semua pembantuku, termasuk juga engkau dan pasukanmu, sute. Harap dengarkan baik-baik dan perhatikan baik-baik.

"Agar kita selalu ingat bahwa perjuangan yang kita lakukan dengan mempertaruhkan segalanya ini adalah demi membebaskan tanah air dan rakyat dari pada cengkeraman penjajah. Kita ini berjuang untuk menolong rakyat, ingat ini baik-baik, dan yang saya maksudkan dengan rakyat adalah seluruh penduduk kota Nan-king, tua muda, pria wanita, kaya miskin, pendeknya seluruhnya!

"Oleh karena itu, setiap kali pasukan kita memasuki dan merebut suatu daerah, dusun atau kota, kita harus melarang keras pasukan kita untuk mengganggu rakyat. Yang melakukan perampokan harus dihukum berat, dan terutama yang membunuh rakyat dan memperkosa wanita harus dihukum mati! Kita sedang berjuang, dan perjuangan kita masih jauh dan panjang.

"Sebelum kita dapat mengusir penjajah Mongol dari seluruh daratan Cina, perjuangan kita belum selesai, dan untuk itu kita harus dapat menarik dukungan rakyat. Dukungan itu akan dapat kita peroleh kalau kita benar-benar membebaskan rakyat dari kesengsaraan, bukan dengan cara mengganggu mereka. Mengertikah kalian semua?”

Shu Ta memandang kepada suhengnya dengan kagum. Di situlah letaknya rahasia keberhasilan suhengnya. Berjuang sebagai pahlawan dengan sikap sebagai pendekar. Itulah yang dikehendaki rakyat jelata, baik yang miskin maupun yang kaya. Rakyat tentu akan mendukung sepenuh hati kalau melihat pasukan yang membebaskan mereka dari kesengsaraan, dari penindasan, dengan sikap yang gagah perkasa, sebagai pendekar pembela keadilan dan kebenaran.

Yang kaya akan rela menyumbangkan hartanya, yang miskin akan rela menyumbangkan tenaganya, yang pandai akan menyumbangkan akal dan kepintarannya. Hanya orang-orang jahat saja yang akan menjadi gentar berhadapan dengan pasukan seperti itu.

Banyak memang kelompok pejuang pada waktu itu, orang-orang yang bergembar-gembor akan mengusir penjajah Mongol dari tanah air. Akan tetapi sepak terjang mereka sungguh tidak menyenangkan hati rakyat. Gerombolan ini lebih pantas disebut perampok dari pada pejuang.

Mereka kalau menyerbu sebuah dusun, bukan hanya membunuh dan menumpas pasukan pemerintah, akan tetapi setelah memperoleh kemenangan, mereka berpesta pora dengan merampoki harta benda rakyat, dan menculik atau memperkosa wanita-wanita. Tentu saja rakyat tidak akan mendukung gerombolan seperti itu.

Cu Goan Ciang dan Shu Ta lalu mengatur rencana siasat mereka untuk menyerbu kota Nanking! Hampir semalam suntuk mereka bicara dan mengatur siasat. Kemudian Shu Ta tidur di tenda suhengnya.

Pada keesokan harinya, barulah dia mendapat kesempatan untuk menemui Mimi seperti yang telah direncanakan bersama suhengnya semalam. Dia akan berterus terang kepada Mimi, tentang segalanya, tentang dirinya! Memang terdapat bahaya besar baginya, bahaya bahwa gadis itu akan marah dan membencinya, akan tetapi dia harus bersikap jujur dalam cintanya.

Hanya ada dua pilihan baginya. Mencinta dan dicinta dengan sejujurnya, atau kehilangan gadis yang dicintanya, yang akan berubah membencinya. Sebagai seorang jantan dia harus berani menghadapi segala akibatnya, baik maupun buruk, menyenangkan maupun menyusahkan.

Shu Ta keluar dari tenda setelah mandi dan dengan perasaan tegang namun tubuh terasa segar dia pergi ke lapangan rumput, karena Cu Goan Ciang mengatakan bahwa sepagi itu biasanya Bouw Siocia bersama Tang Hui Yen sedang berlatih silat di sana.

Ketika dia tiba di lapangan rumput itu, benar saja dia melihat dua orang gadis sedang berlatih silat tangan kosong. Yang seorang adalah Mimi yang nampak sehat, cantik jelita dan berseri wajahnya, sedangkan lawannya adalah seorang gadis yang satu dua tahun lebih tua dari Mimi, gadis yang tinggi ramping, manis sekali dengan sinar mata tajam dan mulut yang manis terhias senyum dia melihat bahwa gerakan gadis yang menjadi lawan Mimi itu amat tangkas sehingga ia mampu menandingi Mimi dan latihan itu berlangsung seru dan cepat.

Dan dia melihat pula seorang kakek yang bajunya berkembang penuh tambalan, rambutnya sudah putih semua dan dibiarkan riap-riapan. Dia pernah mendengar tokoh seperti itu dan dapat menduga bahwa tentu kakek ini yang berjuluk Pek Mau Lokai (Pengemis Tua Rambut Putih) yang menjadi guru kedua dari suhengnya. Dan kakek itu memang sedang memberi petunjuk kepada Mimi dengan seruan-seruannya.

Shu Ta melangkah maju sampai dekat dan kedua orang gadis itu melompat mundur, menghentikan latihan mereka dan memandang kepada Shu Ta. Begitu melihat siapa pemuda yang berdiri di situ, sepasang mata Mimi terbelalak dan ia kelihatan terkejut bukan main.

“Kau...? Kau... di sini...??” Akan tetapi cepat ia sudah melompat dan berdiri di depan Shu Ta seperti melindungi dan ia sudah mencabut pedangnya, memandang kepada Pek Mau Lokai dan Tang Hui Yen.

“Enci Yen, lo-cianpwe, kalau kalian mengganggunya, terpaksa aku melupakan persahabatan kita dan akan melawan mati-matian!”

Pek Mau Lokai dan Tang Hui Yen yang sudah mendengar akan kehadiran Panglima Shu Ta di situ, yang semalam melakukan perundingan rahasia dengan para pimpinan perkumpulan Beng-pai, tertawa, bahkan Pek Mau Lokai tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, sikapmu itu saja sudah membuka rahasia hatimu, Bouw Siocia. Ha-ha-ha!” Pek Mau Lokai lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

“Adik Mimi, jangan khawatir, kami tidak akan berani mengganggu Shu-Ciangkun. Aku pergi dulu agar kalian dapat bicara dengan leluasa.” Setelah berkata demikian, Yen Yen juga pergi meninggalkan mereka.

Kalau tadi Mimi terkejut melihat munculnya Shu Ta secara tiba-tiba, kini ia semakin terheran-heran melihat sikap Pek Mau Lokai dan Tang Hui Yen. Sementara itu Shu Ta merasa jantungnya berdebar ketika melihat sikap Mimi yang tadi melindunginya seperti seekor singa betina melindungi anaknya dari ancaman bahaya.

Kini mereka saling pandang. “Shu-Ciangkun, bagaimana engkau dapat berada di sini?” kata Mimi, suaranya berbisik karena ia tidak ingin pembicaraan mereka di dengar orang lain dan iapun memandang ke sekeliling dengan sikap khawatir sekali.

“Aku memang sengaja datang untuk mencarimu, nona.”

“Tapi... kita berada di tengah-tengah musuh! Tempat ini adalah pusat pasukan pemberontak yang dipimpin Beng-cu Cu Goan Ciang! Cepat engkau pergi dari sini sebelum terlambat...”

“Tenanglah, nona, dan mari kita bicara dengan sabar. Ada yang perlu kuberitahukan kepadamu dan kuharap engkau tidak akan terlalu terkejut mendengarnya. Mari kita duduk di sana.”

Dia menunjuk ke arah sebuah bangku panjang tak jauh dari lapangan rumput itu. Biarpun tempat itu terkepung tenda-tenda yang amat banyak, namun tidak nampak ada orang memperhatikan mereka dan Shu Ta mengerti bahwa hal ini memang sudah diatur oleh suhengnya. Mereka lalu duduk berdampingan dan Mimi masih nampak gelisah dan bingung.

“Ciangkun, apa artinya semua ini? Tidak tahukah engkau bahwa aku menjadi seorang tawanan di sini? Bagaimana engkau dapat masuk ke sini tanpa terganggu? Kalau mereka tahu engkau seorang panglima di Nan-king, tentu...”

“Tenanglah, nona. Sebelum aku menjelaskan semuanya, lebih dulu aku ingin mengetahui keadaanmu. Bagaimana keadaanmu di sini? Apakah engkau diperlakukan buruk oleh mereka?”

Dua pasang mata bertemu dan melihat pandang mata penuh kesungguhan dan penuh selidik dari panglima itu, Mimi menggeleng kepala. “Tidak, Ciangkun. Mereka memperlakukan aku dengan baik sekali, aku dianggap sebagai seorang tamu agung, bahkan mereka bersikap manis dan bersahabat, terutama Pek Mau Lokai yang mengajarkan jurus-jurus silat yang ampuh dan juga enci Tang Hui Yen amat baik kepadaku. Akan tetapi kau...”

“Nanti dulu, nona. Aku girang mendengar engkau diperlakukan dengan baik, dan sekarang, katakanlah sejujurnya, bagaimana pendapatmu tentang Beng-cu dan para pemimpin pasukan pejuang yang bernama Beng-pai ini?”

Gadis itu termenung. Semenjak ia berada di tengah-tengah para pemberontak, ia memang merasa terheran-heran dan kagum. Para pimpinan pemberontak itu, terutama sekali Cu Goan Ciang, Pek Mau Lokai, Tang Hui Yen dan para pembantu mereka, adalah orang-orang gagah perkasa yang lebih pantas dinamakan pendekar dari pada pemberontak!

Yang amat mengesankan hatinya adalah ketika lima orang anggota melakukan pelanggaran, memperkosa dua orang gadis dusun di kaki bukit dan mereka ditangkap lalu dihukum mati oleh Beng-cu Cu Goan Ciang! Hal ini mengingatkan ia akan tingkah laku banyak prajurit kerajaan yang suka berbuat semena-mena, suka mengganggu rakyat, mengganggu wanita, dan mereka itu dibiarkan saja oleh komandan mereka. Ternyata mereka yang disebut pemberontak ini lebih berdisiplin, lebih tertib dan taat. Ia kagum sekali dan mulai merasa betah di situ, apa lagi setelah ia akrab dengan Hui Yen.

“Bagaimana, ya?” Ia termangu. “Para pimpinan pemberontak ini bersikap sebagai pendekar yang mengagumkan, Ciangkun, akan tetapi bagaimanapun juga mereka adalah pemberontak yang ingin memberontak terhadap pemerintah.”

“Memang begitulah, nona. Mereka adalah pendekar-pendekar, dan mungkin kita menyebut mereka pemberontak, pemerintah menganggap mereka pemberontak, akan tetapi rakyat jelata menganggap mereka itu pejuan-pejuang, pahlawan dan patriot yang hendak membebaskan tanah air dan rakyat dari penjajah Mongol.

“Ciangkun...!!” Mimi terbelalak dan memandang pemuda itu dengan wajah pucat.

“Aku tahu benar bahwa engkau seorang gadis yang berbudi dan gagah perkasa, nona. Karena itu, aku berani berterus terang kepadamu. Bagaimana kita dapat mengatakan para pimpinan pejuang ini sebagai orang-orang jahat? Mereka melihat kesengsaraan rakyat, melihat betapa bangsa mereka terjajah oleh bangsa Mongol, dan mereka kini bertekad untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Bukahkah hal itu sudah sewajarnya, sepantasnya dan mereka itu tidak dapat dibilang jahat, bahkan sebaliknya, mereka itu pendekar-pendekar sejati?”

“Tapi... tapi engkau sendiri... engkau menjadi seorang panglima muda, wakil Yauw-Ciangkun, panglima Nan-king! Bagaimana engkau dapat masuk ke sini dan... apa maksudmu dengan menemui aku dan menceritakan ini semua kepadaku?”

“Inilah saatnya aku membuat pengakuan, nona. Aku adalah seorang di antara mereka, bahkan Beng-cu Cu Goan Ciang adalah suhengku. Aku sengaja menyusup ke Nan-king menjadi panglima untuk mempelajari keadaan kekuatan pasukan di Nan-king...”

Kembali gadis itu terbelalak, bangkit berdiri dan telunjuknya menuding ke arah muka pemuda itu. “Jadi kau... kau... pemberontak?”

Shu Ta tersenyum. “Ingat, nona, bukan pemberontak, melainkan pejuang, seperti para pimpinan Beng-pai di sini.”

“Kalau begitu kau... kau telah menipu kami, menipu aku...”

“Tidak, nona. Memang tugasku menyelundup ke Nan-king untuk membantu suheng Cu Goan Ciang, akan tetapi ini merupakan urusan perjuangan, bukan urusan pribadi dan aku tidak pernah menipumu.”

“Tapi... engkau anggota pemberontak dan aku tawanan kalian. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan datang ke sini? Menghukum aku, gadis penjajah Mongol, penindas rakyat?” Mimi kelihatan marah sekali.

“Nona, harap jangan salah sangka. Kami mempunyai pandangan lain terhadap dirimu. Kalau kami menganggap nona seorang yang jahat, tentu nona tidak akan diperlakukan dengan baik seperti yang kau akui sendiri tadi. Dan aku datang untuk menyaksikan sendiri bahwa nona diperlakukan dengan baik."

“Akan tetapi kenapa? Bukankah engkau pemberontak dan aku puteri Menteri Bayan, bukankah aku ini musuhmu yang pantas kau bunuh?”

“Tidak, nona. Aku mau mengorbankan apa saja, bahkan nyawaku, demi perjuangan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, akan tetapi aku tidak mau mengorbankan engkau, aku tidak rela melihat engkau diganggu siapapun. Bahkan suhengku sendiri, mungkin akan kujadikan musuh kalau dia mengganggumu!”

Pandang mata gadis itu menjadi bingung, ada marah, ada terkejut, heran dan bimbang. “Tapi... tapi kenapa? Engkau sungguh aneh... sungguh aku tidak mengerti. Engkau pemberontak, memusuhi pemerintah, memusuhi bangsa Mongol, akan tetapi engkau membelaku, kenapa?”

“Nona, ketahuilah bahwa yang kami musuhi adalah penjajah, bangsa apapun adanya penjajah itu pasti akan dimusuhi rakyat yang dijajah. Bukan bangsa Mongol, bukan bangsanya yang kami tentang, melainkan penjajahannya. Dan kalau aku membelamu lebih dari segalanya adalah karena aku... aku cinta padamu, nona Mimi.”

“Ahhh...!” Mimi menjatuhkan diri di atas bangku, bingung dan kedua pipinya berubah merah. Diam-diam ia memang amat mengagumi Shu Ta, dan akan mudahlah baginya untuk jatuh cinta kepada panglima muda itu. Akan tetapi sekarang, ternyata panglima muda itu adalah seorang pemimpin pemberontak!

“Maafkan aku, nona. Bukan sepantasnya dan tidak pada saatnya yang tepat aku mengaku cinta padamu, akan tetapi aku ingin engkau mengetahui isi hatiku padamu, dalam kesempatan ini. Siapa tahu, kesempatan ini yang terakhir kalinya kita saling jumpa...”

“Ciangkun... ah, engkau bukan panglima lagi, tidak semestinya aku menyebutmu Ciangkun. Shu Ta, setelah ternyata kita berhadapan sebagai musuh, lalu apa yang kau hendak lakukan terhadap diriku?”

Bukan main pedihnya hati Shu Ta mendengar pertanyaan itu, akan tetapi dia menguatkan hatinya. “Nona Mimi, untuk sementara ini engkau tetap menjadi tamu agung di sini. Pasukan kami akan menyerbu Nan-king dan kalau kami sudah berhasil menduduki Nan-king, barulah nona kami beri kebebasan. Nona boleh pergi ke manapun nona kehendaki.” Ucapannya terdengar penuh kesedihan.

“Dan engkau akan membunuhi kakakku, keluargaku, dan semua pejabat di Nan-king?”

“Nona, aku pribadi tidak akan membunuh siapapun, tidak akan membenci siapapun. Yang kami musuhi adalah penjajah, bukan perorangan dan kalau aku tewas, atau siapapun, yang membela penjajah tewas, hal itu adalah sebagai korban perang belaka, bukan permusuhan pribadi. Nah, selamat tinggal, nona, aku harus melaksanakan tugasku, mudah-mudahan kita dapat saling bertemu lagi dalam keadaan selamat dan dalam suasana yang lebih menyenangkan.” Shu Ta memberi hormat dan membalikkan tubuh hendak pergi.

“Shu Ta...!”

Shu Ta berhenti dan membalikkan tubuh mendengar panggilan gadis itu. Mimi telah berdiri di depannya, wajahnya pucat akan tetapi gadis itu tidak menangis, bahkan berdiri dengan sikap tegak dan gagah. “Sebelum engkau pergi, kau jawablah pertanyaanku dulu.”

“Tanyalah, nona.”

“Coba kau jawab, apa hubungan diriku dengan penjajahan? Salahkah kalau aku terlahir di dunia sebagai puteri ayahku? Sebelum aku lahir, ayah telah menjadi menteri kerajaan Mongol! Salahkah kalau aku dilahirkan sebagai gadis Mongol? Aku tidak minta dilahirkan sebagai sekarang ini! Nah, jawablah!”

Tentu saja Shu Ta tertegun, sukar untuk menjawab, lalu dia menguatkan hatinya untuk menjawab, “Tidak ada yang menyalahkanmu, nona. Aku dijadikan seperti aku dan engkau dijadikan seperti engkau, kita tidak bersalah karena ini merupakan takdir, kehendak Tuhan. Salah tidaknya kita ini ditentukan oleh tindakan kita, bukan oleh kelahiran kita.”

“Hemm, kalau begitu, apakah engkau akan membenarkan tindakanku kalau aku mengkhianati bangsaku, mengkhianati ayahku sendiri dengan menentang kerajaan Mongol di mana ayahku menjadi menteri? Hayo jawab, apakah engkau menganggap benar kalau aku menjadi pengkhianat bangsaku?”

“Nanti dulu, nona. Andai kata, engkau menjadi aku, lalu membantu penjajah untuk ikut menindas bangsa pribumi, itu baru pengkhianatan namanya. Akan tetapi, engkau tahu bahwa bangsa Mongol melakukan penjajahan, tindakan yang amat tidak baik. Kalau engkau tidak membantu penjajahan, bukan berarti engkau mengkhianati bangsamu.

"Andai kata ayah kita melakukan perbuatan jahat, mencuri misalnya, apakah kita juga harus ikut mencuri dan akan dianggap pengkhianat kalau tidak ikut mencuri? Kuharap keterangan ini jelas bagimu. Terserah kepadamu, nona. Kalau kami sudah menduduki Nan-king, kami pasti akan membebaskanmu, dan terserah apakah nona akan membantu pemerintah untuk menentang kami.”

“Hemm, aku memang sudah tidak senang melihat penjajahan dilakukan bangsaku, akan tetapi apakah aku harus membantu kalian menentang bangsa dan ayahku sendiri?”

“Memang engkau berada dalam kedudukan yang serba salah, nona. Engkau berada di pihak yang salah akan tetapi engkau menyadari kesalahan itu. Kalau ayah kita menjadi pencuri dan kita menyadari perbuatan itu tidak benar, kita tidak perlu ikut-ikutan mencuri. Akan tetapi juga amat berlawanan dengan nurani kalau kita ikut menangkap ayah kita sendiri. Yang paling tepat adalah menasihati ayah kita agar jangan lagi mencuri atau kalau hal itu tidak mungkih, yah... kalau... aku, aku akan tinggal diam saja.”

Mimi menundukkan mukanya. “Aku akan merenungkan jawaban-jawabanmu tadi, Shu Ta. Selamat berpisah.”

Shu Ta merasa lega sekali. Bagaimanapun juga, dia telah menyatakan cintanya, dan dia telah memberi pengarahan kepada gadis itu. Dia tidak akan menyalahkan Mimi andai kata kelak Mimi membantu pemerintah dan memusuhi para pejuang. Itu adalah haknya. Tentu saja dia mengharapkan tidak akan terjadi hal itu.

* * *

Jantung Shu Ta berdebar keras penuh ketegangan ketika dia kembali ke Nan-king bersama empat orang pembantunya menghadap Yauw-Ciangkun dan di situ hadir pula Menteri Bayan! Ternyata baru kemarin Menteri Bayan dan dua ratus orang prajuritnya tiba di Nan-king dan di marah bukan main mendengar dari puteranya, Bouw Ku Cin bahwa puterinya, Mimi diculik oleh seorang tokoh sesat bernama Tay-lek Kwi-ong!

Dia memerintahkan untuk segera menyebar penyelidik mencari puterinya yang terculik, akan tetapi Yauw-Ciangkun segera memberitahukan bahwa pembantunya yang paling dapat diandalkan, yaitu Panglima Muda Shu Ta, sedang melakukan penyelidikan sendiri. Terpaksa Menteri Bayan menahan hatinya yang gelisah dan menanti kembalinya panglima itu.

Begitu Panglima Shu Ta menghadap, Menteri Bayan segera membentaknya dengan marah. “Di mana puteriku? Bagaimana sih kerjanya pasukan keamanan di Nan-king sehingga puteriku sampai diculik orang? Akan kuhukum semua perwira keamanan kalau sampai puteriku tidak dapat ditemukan!”

Shu Ta lalu berkata, “Harap paduka menenangkan hati, Taijin. Kami berlima sudah melakukan penyelidikan dan ternyata Bouw Siocia menjadi tawanan dari pasukan Beng-pai yang dipimpin oleh Cu Goan Ciang.”

“Brakkk!!” Menteri Bayan menggebrak meja di depannya, matanya mendelik marah-marah. “Si jahanam Cu Goan Ciang, pemberontak keparat itu! Yauw-Ciangkun, kerahkan seluruh pasukan. Kita serbu sekarang juga sarang gerombolan pemberontak itu! Kerahkan saja sepasukan pilihan. Tidak akan sukar menghancurkan gerombolan liar itu.”

“Maaf, Taijin,” kata Shu Ta. “Saya kira paduka terlalu meremehkan keadaan gerombolan pemberontak itu. Kami berlima sudah melakukan penyelidikan dengan seksama. Sarang mereka teramat kuat sehingga tidak mungkin bagi kami untuk dapat menyusup masuk dan menyelamatkan Bouw Siocia. Hanya kami berhasil membekuk seorang anggota gerombolan dan mendengar darinya bahwa Bouw Siocia dalam keadaan selamat dan sehat, dan dijadikan sandera penting maka diperlakukan sebagai tamu. Dan hendaknya paduka ketahui bahwa kekuatan gerombolan itu sekarang teramat besar. Tidak kurang dari empat puluh ribu orang jumlah anggota mereka, semua terlatih sebagai prajurit.”

“Ahhh...!!” Yauw-Ciangkun dan Menteri Bayan berseru kaget. Sama sekali tidak pernah mereka mengira bahwa kekuatan para pemberontak sedemikian besarnya. “Begitu banyakkah mereka?” tanya Yauw-Ciangkun.

“Akan tetapi hal itu saya kira tidak perlu dikhawatirkan. Kalau Yauw-Ciangkun mengerahkan semua pasukan untuk menumpas mereka, saya yakin hal itu tidaklah begitu sukar. Selain jumlah pasukan kita berimbang, bahkan bisa lebih banyak, jutaan laskar rakyat itu tentu tidak terlatih dan begitu diserbu mereka tentu akan lari cerai-berai. Saya akan memimpin pasukan khusus saya untuk menjaga kota selama Ciangkun melaksanakan pembasmian itu.”

“Aku setuju akan usul Shu-Ciangkun itu. Aku sendiri akan ikut memimpin pasukan karena ini menyangkut pula keselamatan puteriku!”

Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya. “Ada satu hal yang membuat saya ragu dan risau, Yang Mulia.”

“Apa lagi yang harus diragukan? Kita harus membasmi habis gerombolan pemberontak itu, kalau dibiarkan mereka menghimpun pasukan sampai berjumlah besar sekali, akan membahayakan negara.”

“Yang saya risaukan adalah puteri Yang Mulia masih berada di tangan mereka. Bagaimana kalau mereka mempergunakan Bouw Siocia sebagai sandera dan mengancam akan membunuhnya kalau kita melakukan penyerbuan?”

“Ahhh...” Mendengar ini, wajah Menteri Bayan berubah dan diapun termenung. Dia amat menyayangi puterinya itu dan membayangkan puterinya akan disiksa dan dibunuh sebagai sandera kalau pasukan pemerintah menyerbu, dia menjadi ngeri dan gelisah. “Lalu, bagaimana baiknya...?”

Yauw-Ciangkun juga merasa bingung. “Agaknya mereka itu sengaja menculik Bouw Siocia dengan maksud menawannya sebagai sandera untuk menjamin agar pasukan kita tidak menyerang mereka,” katanya.

“Apa yang dikatakan Yauw-Ciangkun memang benar. Saya kira, satu-satunya jalan adalah membebaskan Bouw Siocia dari sana!” kata Shu Ta.

“Akan tetapi, bukankah engkau mengatakan sendiri bahwa kekuatan mereka amat besar dan kedudukan mereka seperti benteng. Bagaimana mungkin membebaskan Bouw Siocia begitu saja!” Yauw-Ciangkun mencela.

“Saya sendiri yang akan membebaskannya!” kata Shu Ta dengan sikap gagah.

“Akan tetapi, pekerjaan itu berbahaya sekali!” kata Yauw-Ciangkun yang mengkhawatirkan keselamatan pembantunya.

“Demi keselamatan Bouw Siocia, saya bersedia mempertaruhkan nyawa!” kata pula Shu Ta dengan sikap gagah dan memang ketika mengucapkan kata-kata ini, dia bersungguh-sungguh.

“Terima kasih, Shu-Ciangkun!” kata Menteri Bayan dengan girang. “Akan tetapi bagaimana mungkin engkau dapat membebaskan Mimi? Kalau sampai engkau gagal dan tertawan pula, keadaan kita menjadi semakin rugi.”

“Harap, paduka tenang, Yang Mulia. Sesungguhnya, diam-diam saya sudah menyelundupkan beberapa orang pembantu saya untuk menyusup sebagai laskar rakyat sukarela. Dengan bantuan mereka, saya kira akan dapat membebaskan Bouw Siocia.”

“Bagus! Kalau begitu, laksanakan, akan tetapi jaga jangan sampai engkau sendiri tertawan, Shu-Ciangkun,” kata Yauw-Ciangkun.

“Sebaiknya, Yauw-Ciangkun tetap memimpin pasukan besar untuk mengepung perbukitan itu sementara saya berusaha membebaskan Bouw Siocia. Jangan menyerang dulu sebelum ada tanda dari saya. Kalau saya sudah berhasil membebaskannya, saya akan memberi tanda dengan anak panah api sebanyak tiga kali.”

Yauw-Ciangkun dan Menteri Bayan setuju. Mereka menyusun rencana siasat dan pada hari itu juga, Yauw-Ciangkun mengumpulkan semua perwira dan memerintahkan agar seluruh pasukan dipersiapkan untuk menyerbu perbukitan di Lembah Sungai Huai yang menjadi sarang gerombolan perampokan ini.

Shu Ta sendiri secara rahasia telah mengumpulkan para pembantunya dan mengatur siasat sesuai dengan rencana yang telah diaturnya bersama Cu Goan Ciang. Pasukan di bawah pimpinannya yang berjumlah seribu lima ratus orang, terdiri dari orang-orang Han bercampur suku lain, akan tetapi tidak ada seorangpun prajurit bangsa Mongol, dipersiapkan untuk menjaga benteng kota Nan-king selama pasukan besar dipimpin Yauw-Ciangkun mengadakan pembersihan terhadap gerombolan pemberontak di lembah Huai.

Shu Ta sendiri mendahului pergi dengan pakaian samaran untuk melaksanakan tugas yang dianggap amat penting dan berat oleh semua orang, yaitu mencoba untuk membebaskan Bouw Siocia sebelum pasukan pemerintah menyerbu sarang pemberontak. Tentu saja bagi Shu Ta sendiri, tugas itu sama sekali tidak berbahaya.

Seperti biasa, dia mengirim penghubung terlebih dahulu sehingga ketika dia tiba di tepi sungai Huai, dia telah dijemput oleh seorang pendayung perahu dan segera perahu didayung ke tengah sungai sehingga Shu Ta yakin bahwa tidak ada yang membayanginya. Tentu saja Cu Goan Ciang terkejut melihat sutenya datang berkunjung, karena hal ini tidak ada dalam rencana mereka.

Akan tetapi ketika dia mendengar penjelasan Shu Ta tentang niatnya untuk lebih dulu membawa Bouw Siocia ke Nan-king agar menambah kepercayaan Menteri Bayan, diapun mengerti.

“Baiklah kalau begitu, bawa ia pergi dan besok pagi-pagi kau beri tanda anak panah api itu agar mereka menyerang. Kami sudah siap menjebak mereka dan memancing mereka melakukan pengejaran melalui lorong tebing bukit itu,” katanya...

Jilid selanjutnya,
RAJAWALI LEMBAH HUAI JILID 23