Rajawali Lembah Huai Jilid 21, karya Kho Ping Hoo - PENGANTIN pria berusaha mencegah, namun sebuah tendangan membuatnya terjengkang. Sementara itu, sebelas orang anak buah komandan itupun sudah memilih wanita masing-masing, menyeret wanita pilihan mereka dari ruangan bagian wanita sehingga terdengar jerit dan tangis mereka.

Melihat ini, Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi sudah marah bukan main. Tak pernah mereka sangka bahwa ada serombongan prajurit yang demikiian jahatnya. Mereka sudah hendak turun tangan menghajar para prajurit itu, akan tetapi mereka didahului oleh Tay-lek Kwi-ong. Kakak beradik yang berdiri di antara para penonton yang berada di luar pagar pekarangan itu menahan diri ketika melihat raksasa itu menggebrak meja dan berteriak dengan marah.
“Dari mana datangnya selosin monyet busuk yang berani mengacau di sini dan mengurangi selera makanku? Hayo kalian cepat menggelinding pergi dari sini kalau tidak ingin kupatahkan leher kalian satu demi satu!”
Tentu saja para prajurit itu marah sekali dan maklum bahwa merekalah yag dimaki sebagai monyet busuk. Komandan yang itu melotot dan melepaskan nona pengantin yang diseretnya tadi. Nona pengantin itu terisak lari kembali menghampiri suami dan ayahnya. Si komandan tidak memperdulikannya lagi dan dengan langkah lebar dia menghampiri meja di mana Tay-lek Kwi-ong duduk sambil minum araknya.
“Keparat busuk! Engkau pemberontak, ya?” bentak si komandan sambil menudingkan telunjuknya kepada kakek brewok itu.
“Phuuuhhh....!” Tiba-tiba Tay-lek Kwi-ong menyemburkan arak dari mulutnya. Biarpun hanya arak, akan tetapi karena disemburkan dengan kekuatan sin-kang, maka ketika mengenai muka si komandan, rasanya muka yang hitam itu seperti diserang ratusan batang jarum! Dia berteriak kesakitan dan menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya yang pedih.
Pada saat itu, Tay-lek Kwi-ong sudah menggerakkan kakinya dan komandan itu kena tendangan di perutnya sehingga tubuhnya terjengkang dan dia mengaduh-aduh, tangan kiri memegangi perut, tangan kanan menutupi muka. Entah mana yang lebih nyeri, mukanya yang pedih atau perutnya yang mulas.
Sebelas orang prajurit menjadi marah. Mereka melepaskan wanita-wanita yang tadinya mereka paksa untuk menemani mereka makan minum dan dengan golok di tangan, mereka sudah mengurung dan menyerang Tay-lek Kwi-ong! Tentu saja semua tamu menjadi ketakutan dan mereka lari berserabutan meninggalkan tempat pesta yang kini berubah menjadi tempat perkelahian itu.
Bahkan mereka yang menjadi penonton di luar pekarangan juga melarikan diri ketakutan. Hanya ada beberapa orang saja yang tinggal, yaitu mereka yang memiliki keberanian, termasuk tentu saja Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi. Bahkan kakak beradik itu kini memasuki pekarangan untuk menonton perkelahian dari jarak lebih dekat.
Dan mereka kagum melihat sepak terjang kakek brewok raksasa tadi. Kakek itu menghadapi pengeroyokan sebelas orang prajurit yang memegang golok itu dengan tangan kosong saja. Jelas bahwa dia memandang rendah karena dia sama sekali tidak menyentuh golok besar yang berada di punggungnya.
Akan tetapi, bacokan yang dilakukan bertubi-tubi itu tidak ada yang mengenai tubuhnya. Kaki tangannya bergerak, angin menyambar-nyambar dan sebelas orang itu bergelimpangan seperti daun-daun kering ditiup angin badai!
Melihat ini, komandan muka hitam tadi yang kini sudah tidak begitu menderita karena nyeri di muka dan perutnya merasa jerih dan cepat dia memberi aba-aba, mendahului anak buahnya melarikan diri dari tempat itu. Tay-lek Kwi-ong mengejar mereka dengan suara tawanya, dan dia duduk lagi makan minum.
Lurah So menghampiri dan bersama sepasang pengantin, mereka memberi hormat dan mengucapkan terima kasih. Akan tetapi, melihat pengantin wanita, timbul gairah di hati Tay-lek Kwi-ong. Lengannya yang panjang terjulur dan tahu-tahu tangannya sudah menangkap pinggang pengantin itu dan sekali tarik saja wanita yang menjadi ketakutan itu telah didudukkan di sampingnya! Semua orang terkejut dan Lurah So, juga mantunya, dengan sura ketakutan mohon agar pengantin wanita dibebaskan.
“Ha-ha-ha, baru saja aku menyelamatkan nyawa kalian sekeluarga dari tangan selosin monyet busuk tadi, apakah kalian begitu pelit untuk menyenangkan hatiku? Aku hanya ingin mengajak nona pengantin makan minum. Nah, kalian pergilah dan sediakan lagi arak untukku!” Dengan sumpitnya, Tay-lek Kwi-ong menjepit sepotong daging dan menyuguhkannya ke depan mulut kecil pengantin wanita itu. “Manis, makanlah ini.”
Pengantin wanita itu adalah seorang gadis yang usianya baru enam belas tahun, ia sudah ketakutan, mukanya pucat dan tubuhnya gemetar bagaimana mungkin ia dapat menerima daging yang hendak disuapkan ke mulutnya itu. Ia menggeleng kepalanya dan menangis.
“Ha-ha-ha, jangan takut, manis!” kata Tay-lek Kwi-ong dan tangan kirinya memegang dagu gadis itu. Gadis itu tidak dapat menahan mulutnya yang terbuka dan daging itu dijejalkan ke mulutnya!“Ha-ha-ha, begitu baru manis!” kata Tay-lek Kwi-ong dan kini dia mendekatkan cawan penuh arak ke mulut yang mungil itu. “Sekarang minumlah, hayo kita minum bersama, kita bergembira hari ini!”
“Tay-lek Kwi-ong, engkau iblis jahat!” tiba-tiba Mimi yang tidak dapat menahan kemarahan hatinya, sudah berlari dan meloncat masuk ke dalam ruangan pesta yang kini telah ditinggal pergi sebagian besar dari para tamunya.
Melihat adiknya sudah berlari, Bouw Ku Cin tentu saja tidak mau tinggal diam mengkhawatirkan adiknya dan diapun lari mengejar. Kini, kakak beradik itu telah tiba di depan kakek yang didampingin pengantin wanita yang menggigil ketakutan dan kakek berewok itu memandang mereka dengan alis berkerut.
“Hemm, kalian ini dua orang muda mau apa?” bentaknya.
Mimi yang sudah marah sekali menudingkan telunjuknya ke arah muka brewok itu. “Tadinya engkau kukira seorang gagah yang menentang perbuatan gerombolan pasukan yang jahat tadi, tidak tahunya engkaupun sama saja dengan mereka, suka menghina orang mengandalkan kepandaianmu.”
“Tay-lek Kwi-ong, bebaskan nona pengantin itu, biarkan ia kembali kepada keluarganya!” Bouw Ku Cin juga membentak dan pemuda ini sudah mencabut pedangnya.
Melihat ini, Tay-lek Kwi-ong tertawa. “Ha-ha-ha, kalian ini dua bocah sombong, berani menentang Tay-lek Kwi-ong. Apakah kalian iri melihat aku makan minum bersama nona pengantin?”
“Jahanam busuk, kalau tidak cepat kau lepaskan gadis itu, terpaksa kami akan menghajarmu!” bentak pula Mimi. Ucapan ini membuat Tay-lek Kwi-ong menjadi marah. Dia menyambar sebuah mangkok kosong dan melemparkan mangkok itu ke arah Mimi.
“Singgg...!!” Mangkok menyambar dengan cepat ke arah kepala Mimi. Akan tetapi, dengan sigap Mimi miringkan kepalanya dan mangkok itu meluncur lewat, tidak mengenai mukanya. Melihat ini, Tay-lek Kwi-ong menjadi semakin penasaran dan marah.
“Ha-ha-ha, kiranya kalian mempunyai sedikit kepandaian. Bagus, mari kita main-main sebentar!” katanya dan sekali tangan kirinya bergerak, dia telah menotok pengantin wanita sehingga gadis ini terduduk lemas di kursinya, “Kau tunggu aku membereskan dua orang muda lancang ini sebentar, sayang!”
Tay-lek Kwi-ong masih memandang rendah dua orang calon lawan, yang sudah mencabut pedang. “Kalian berani mengganggu aku, berarti kalian telah bosan hidup!” bentaknya dan dia mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau, kemudian kedua lengannya yang panjang itu bergerak dari kanan-kiri, mencengkeram ke arah kakak beradik itu.
Namun, Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi bukanlah orang-orang muda yang lemah. Mereka mengelak sambil menggerakkan pedang. Dua batang pedang kini menyambar ke arah lengan raksasa itu, membacok dari samping. Tentu saja Tay-lek Kwi-ong terkejut dan cepat menarik kembali kedua lengannya, dan kini kedua kakinya secara beruntun mengirim tendangan.
Biasanya, seperti terbukti ketika dia menghajar para prajurit tadi, tendangannya tidak pernah gagal. Akan tetapi sekali ini, ketika kakak beradik itu mengelak, tendangannya hanya mengenai angin, bahkan sebaliknya kakak beradik itu sudah menyerangnya lagi dengan dahsyat. Tay-lek Kwi-ong terpaksa meloncat ke belakang dan kini dia tahu bahwa dua orang pemuda tani itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
“Singg...!!” Dia mencabut golok besarnya dan semua orang menjadi silau ketika memandang golok yang tajam berkilauan itu. Tay-lek Kwi-ong lalu mengamuk dan menyerang kakak beradik itu dengan golok besarnya.
Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi sudah siap dan merekapun melakukan perlawanan dengan gigih. Meja kursi beterbangan ketika diterjang oleh Tay-lek Kwi-ong dan segera terjadi perkelahian yang seru di dalam ruangan itu. Karena khawatir kalau-kalau pengantin wanita yang masih duduk tak dapat bergerak di situ terkena sambaran senjata.
Mimi menggunakan kesempatan selagi kakaknya mendesak lawan, ia cepat membebaskan totokan pengantin wanita itu dan mendorongnya pergi. Pengantin wanita itu dengan terisak dan ketakutan, lari dan disambut suami dan ayahnya.
Tay-lek Kwi-ong marah bukan main. Dengan tenaganya yang amat kuat, goloknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan kakak beradik itu segera terdesak. Setiap kali senjata pedang mereka bertemu golok hampir saja pedang itu terlepas dari pegangan karena telapak tangan mereka tergetar dan terasa panas.
Biarpun Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi sudah mengerahkan seluruh tenagan dan mengerahkan jurus-jurus terampuh yang mereka kuasai, tetap saja mereka berdua bukan tandingan Tay-lek Kwi-ong dan makin lama mereka semakin terdesak oleh gulungan sinar itu.
Tay-lek Kwi-ong sudah tertawa bergelak karena dia merasa yakin bahwa dalam waktu tak lama lagi dia akan mampu merobohkan dua orang yang berani melawannya itu.
Akan tetapi pada saat itu, nampak berkelebat empat bayangan orang dan di situ muncul empat orang pria yang usianya sekitar empat puluh tahun. Tanpa banyak cakap lagi, mereka menggerakkan pedang dan mengeroyok Tay-lek Kwi-ong!
Melihat empat orang ini, kakak beradik Bouw menjadi girang bukan main karena mereka mengenal bahwa empat orang ini adalah jagoan-jagoan di Nan-king yang berkepandaian tinggi. Mereka adalah empat orang yang diam-diam mendapat tugas dari Yauw-Ciangkun untuk mengawasi dan melindungi kakak beradik bangsawan itu.
Ketika tadi terjadi keributan di tempat Lurah So mengadakan pesta pernikahan puterinya, empat orang itupun mengamati dari jauh karena mereka tahu bahwa dua orang muda bangsawan yang harus mereka lindungi berada di antara para penonton di luar pekarangan.
Mereka tidak mau mencampuri keributan itu. Akan tetapi ketika dua orang bangsawan itu berlari masuk, merekapun cepat mendekat dan melihat kakak beradik itu terdesak oleh Tay-lek Kwiong, tentu saja mereka tidak mungkin dapat tinggal diam lagi.
Andai kata kakak beradik itu berada di pihak yang unggul, tentu mereka akan diam saja dan tidak berani mencampuri, akan tetapi Bouw Kongcu dan Bouw Siocia terancam, mereka tidak boleh tinggal diam.
Melihat empat orang laki-laki yang melihat gerakannya amat tangguh itu ikut mengeroyok, Tay-lek Kwi-ong terkejut dan tokoh sesat yang cerdik ini segera menubruk ke arah Mimi. Sejak tadi dia tahu bahwa “pemuda” ini adalah seorang gadis yang menyamar pria.
Maka dengan cepat dia menubruk, memukul pedang Mimi dengan goloknya sambil mengerahkan tenaga sehingga gadis itu terhuyung dan pedangnya terlepas dan di lain saat, dia sudah menangkapnya dengan tangan kiri, menelikung kedua tangan gadis itu ke belakang dan menempelkan goloknya ke lehernya.
“Semua mundur atau kusembelih gadis ini!” bentaknya dengan nada suara mengancam.
Melihat in, Bouw Kongcu terkejut dan berteriak agar empat orang jagoan itu mundur. Tay-lek Kwi-ong lalu memanggul tubuh Mimi yang sudah ditotoknya, dan dengan langkah lebar dia pergi meninggalkan tempat itu.
“Lepaskan adikku!” Bouw Kongcu meloncat dan melakukan pengejaran, diikuti oleh empat orang perwira pengawal.
Tay-lek Kwi-ong yang sudah tiba di luar dusun, berhenti dan tetap menempelkan goloknya di leher gadis yang masih dipanggulnya, “Kalau kalian mengejar, terpaksa akan kubunuh dulu gadis ini!”
“Tay-lek Kwi-ong, sebaiknya kau lepaskan gadis itu. Ia adalah Bouw Siocia, puteri Perdana Menteri Bayan dari kota raja!”
Mendengar ini, Tay-lek Kwi-ong terbelalak. Sama sekali tidak disangkanya bahwa gadis yang menyamar pria, yang kini telah menjadi tawanannya, adalah puteri Menteri Bayan yang terkenal itu! Dia tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Tay-lek Kwi-ong, ingat. Kalau engkau tidak membebaskan Bouw Siocia, maka kerajaan tentu akan mengirim pasukan besar untuk mengejarmu dan engkau akan menderita hukuman yang paling berat. Lepaskan Bouw Siocia!” kata pengawal kedua.
Raksasa brewok itu tertawa. “Ha-ha-ha, kalau aku membebaskannya, tentu kalian akan menyerangku. Kalian kira aku bodoh?”
“Tidak!” kata Bouw Kongcu. “Kami berjanji tidak akan mengejarmu lagi kalau kau membebaskan adikku.”
“Hemm, siapa dapat mempercayai omongan penjajah? Dengan puteri ini di tanganku, aku akan aman, tak seorangpun berani mengganggu. Kalian pergilah, dan setelah aku yakin benar kalian tidak dapat mengejarku, baru aku akan membebaskan gadis ini.”
Empat orang itu saling pandang dengan Bouw Ku Cin. Pemuda itu tidak melihat jalan lain untuk menyelamatkan adiknya. Kalau mereka menggunakan kekerasan, iblis itu tentu akan membunuh Mimi dan mereka tidak akan mampu berbuat sesuatu untuk mencegahnya.
“Baik, Tay-lek Kwi-ong. Kami akan pergi. Akan tetapi, aku bersumpah. Kalau engkau tidak membebaskan adikku dan kalau engkau mengganggunya, aku akan mengerahkan pasukan untuk mencarimu sampai dapat!” Setelah mengeluarkan ancaman itu, Bouw Ku Cin mengajak empat orang pengawal meninggalkan kakek itu yang segera melanjutkan perjalanan sambil memondong tubuh Mimi.
Setelah melakukan perjalanan lebih dari dua jam, baru dia membebaskan totokan pada tubuh gadis itu dan menurunkannya. “Hayo jalan. Kau ikut aku dan kalau engkau tidak banyak membantah, aku tidak akan mengganggumu!”
“Tapi, bukankah engkau sudah berjanji kepada kakakku untuk membebaskan aku?” bantah Mimi.
“Ha-ha-ha, kalian yang untung dan aku yang rugi kalau kubebaskan engkau. Selama engkau bersamaku, siapa berani menggangguku? Ha-ha-ha, hayo jalan!”
“Tidak! Kau... kau mengingkari janji. Engkau pembohong, penipu!” Dengan berani Mimi lalu menerjang. Akan tetapi, tubuhnya masih terasa kaku karena selama dua jam lebih tidak mampu bergerak, maka dalam beberapa gebrakan saja ia sudah roboh terkena tamparan pada pundaknya.
“Hemm, lebih baik engkau tidak banyak membantah kalau tidak ingin tersiksa!” kata Tay-lek Kwi-ong.
“Aku hendak kau bawa ke mana?”
“Tidak perlu bertanya, ikut saja,” kata kakek itu sambil menyeringai. “Aku bukan orang tolol, tidak akan membahayakan diriku dengan mengganggumu. Akan tetapi, untuk menyelamatkan diriku, aku tidak segan untuk menyiksa atau membunuhmu. Kalau engkau mentaatiku, kita sama-sama aman dan selamat.”
Mimi bukan seorang gadis bodoh. Ia harus bersabar. Selama iblis tua ini tidak mengganggunya ia akan bersikap tunduk dan taat sambil mencari kesempatan untuk melarikan diri. Demikianlah, ia menurut ketika disuruh berjalan dan ia tidak pernah membantah.
Sore hari itu mereka memasuki sebuah rumah makan di dusun Ki-ciu, dusun yang besar dan ramai di Lembah Sungai Huai. Mereka mengambil tempat duduk di meja paling ujung. Tay-lek Kwi-ong duduk menghadap keluar agar selain dapat mengawasi gadis itu, diapun dapat mengawasi orang-orang yang datang dari luar karena dia masih curiga kalau-kalau para perwira dari Nan-king membayanginya.
Seorang pelayan yang memakai topi kain menghampiri mereka. Pelayan itu menundukkan mukannya, akan tetapi Mimi dapat menangkap sinar mata tajam penuh selidik ditujukan kepadanya. Sejak ia dipaksa mengikuti Tay-lek Kwi-ong, ia sengaja menggosok kedua pipinya sehingga warna kecoklatan buatan itu luntur dan nampak kedua pipinya putih kemerahan.
Juga ia tidak lagi menggunakan suara pria, melainkan menggunakan suaranya sendiri. Hal ini ia lakukan agar semua orang tahu bahwa ia seorang wanita dan karena ia menggunakan pakaian pria, maka keadaan dirinya tentu akan menimbulkan perhatian orang lain.
Ketika pelayan itu dengan sikap hormat bertanya masakan apa yang hendak dipesan, Tay-lek Kwi-ong menyebutkan nama beberapa masakan dan minta disediakan arak, kemudian sambil lalu dia bertanya kepada Mimi. “Engkau hendak makan apa?”
Dengan suaranya yang merdu tapi lantang, Mimi menjawab, “Aku tidak mau makan!”
Sepasang alis mata yang tebal itu berkerut dan pandang mata itu penuh kemarahan. “Sejak tadi engkau tidak makan tidak minum, engkau tidak lapar.”
“Biar aku mati kelaparan, lebih baik!” kata pula Mimi dengan ketus. Ia melirik dan hatinya senang melihat betapa sikap dan ucapannya ternyata membuat pelayan itu seperti orang tercengang keheranan.
Tay-lek Kwi-ong mendongkol bukan main. Sungguh akan merupakan perjalanan yang amat menjengkelkan sekali kalau tawanannya bersikap seperti ini. “Anak bandel, kau kira aku tidak mampu menjejalkan makanan ke dalam perutmu?” bentaknya dan kepada pelayan dia berkata, “Sudah, cukup itu saja pesananku dan cepat keluarkan!”
Karena ia sendiri memang merasa lapar dan tidak ingin mati kelaparan, dan sikap dan kata-katanya tadi hanya dimaksudkan untuk menarik perhatian orang, ketika hidangan dikeluarkan, Mimi mau juga makan sehingga hati Tay-lek Kwi-ong merasa lega. “Nah, begitulah. Jadi kita tidak saling menyusahkan,” katanya.
Setelah mereka keluar dari dusun Ki-ciu, Mimi berhenti melangkah dan bertanya, “Sebetulnya engkau hendak membawaku ke manakah?”
“Tidak perlu kau mengetahui.”
“Kalau tidak diberi tahu, aku tidak akan sudi berjalan!”
“Hemm, dan engkau lebih suka kuseret atau kutotok lalu kupanggul seperti tadi?”
Sebelum Mimi menjawab, terdengar suara gaduh dan dari pintu gerbang dusun itu keluar berlarian belasan orang. Pelayan muda yang agak jangkung tadi berlari di depan dan begitu mereka berhadapan dengan Tay-lek Kwi-ong dan Mimi, pelayan itu berseru, “Inilah orangnya yang menculik gadis itu!”
Tay-lek Kwi-ong memandang marah. “Mulut busuk! Siapa menculik gadis? Ini adalah anakku sendiri! Kalian mau apa?”
Semua orang tertegun, juga si pelayan yang tadi memberitahu bahwa ada orang menculik seorang gadis yang dipaksanya makan seperti yang didengarnya dari percakapan mereka tadi. Selagi semua orang kebingungan mendengar bahwa gadis berpakaian pria itu adalah anak kakek yang disangka penculik, Mimi sudah berteriak,
“Aku bukan anaknya dan dia memang menculik aku! Dia penjahat besar, tolonglah aku!” Setelah berkata demikian, Mimi sudah menerjang dan menyerang dengan pukulan ke arah dada Tay-lek Kwi-ong.
Kakek ini menjadi marah sekali dan dia menangkis sambil mengerahkan tenaga sehingga tubuh gadis itu terhuyung. Sebuah tendangan mengenai lambungnya dan Mimi terpelanting pingsan.
Tay-lek Kwi-ong sudah marah dan ingin membunuh Mimi yang tadinya akan dijadikan sandera agar dia tidak dikejar pasukan. Akan tetapi, ketika dia meloncat ke depan untuk mengirim pukulan terakhir, tiba-tiba sesosok bayangan menyambar dan ada angin yang kuat sekali meluncur ke arah dirinya. Tay-lek Kwi-ong terkejut dan cepat menangkis.
Dua buah lengan bertemu dan Tay-lek Kwi-ong terdorong ke belakang. Dia terkejut dan memandang. Ternyata yang menyerangnya adalah si pelayan jangkung tadi. Kini pelayan itu tidak mengenakan topinya dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong.
“Tay-lek Kwi-ong, sungguh tidak kusangka seorang tokoh seperti engkau melakukan perbuatan rendah, menculik seorang gadis!” kata pemuda itu.
“Kau... kau Cu Goan Ciang...!” Tay-lek Kwi-ong berseru.
Seorang di antara mereka yang kini mengepungnya berkata lantang, “Tay-lek Kwi-ong, dia adalah Beng-cu, engkau jangan bersikap kurang ajar!”
Tay-lek Kwi-ong tertawa bergelak. “Beng-cu? Ha-ha-ha, aku baru mau mengakuinya sebagai Beng-cu kalau dia mampu menandingi dan mengalahkan aku!”
Cu Goan Ciang yang sedang menghimpun kekuatan memang seringkali menyamar untuk menghubungi orang-orang gagah di dunia kang-ouw dan sekali ini dia menyamar sebagai seorang pelayan dari rumah makan yang memang khusus didirikan untuk menghubungi orang-orang kang-ouw yang kebetulan lewat di situ.
Ketika tadi Tay-lek Kwi-ong memasuki rumah makan bersama seorang gadis yang menyamar sebagai seorang pria, dia terkejut dan timbul kecurigaannya, apa lagi ketika melihat sikap dan mendengar ucapan gadis itu. Akan tetapi, Goan Ciang tidak melakukan sesuatu karena dia tidak ingin menimbulkan keributan di dalam dusun itu.
Setelah Tay-lek Kwi-ong dan gadis itu meninggalkan rumah makan, dia lalu mengajak beberapa orang anak buahnya dan melakukan pengejaran sampai ke luar dusun. Kini, mendengar ucapan Tay-lek Kwi-ong, Goan Ciang melangkah maju dan berkata dengan sikap tenang namun berwibawa.
“Tay-lek Kwi-ong, sikapmu ini bukan sikap seorang gagah. Engkau ikut dalam pemilihan Beng-cu dan engkau sudah kalah, sudah mengundurkan diri. Semua orang kang-ouw mengetahui bahwa akulah yang menang dan terpilih, kenapa engkau sekarang bersikap seperti ini? Dan engkau sudah menculik seorang gadis. Akuilah kekalahanmu dan bebaskan gadis itu dan kami akan menerimamu sebagai seorang kawan seperjuangan.”
“Cu Goan Ciang, aku mengaku bahwa aku gagal dalam pemilihan Beng-cu. Akan tetapi, dalam pemilihan itu aku dikalahkan oleh Thian Moko, bukan olehmu. Maka, kalau engkau ingin aku mengakui kau sebagai Beng-cu, kalahkan aku dulu! Kalau tidak, lebih baik engkau pergi dan jangan mencampuri urusanku dengan gadis itu.”
“Beng-cu, kiranya tidak perlu melayani si sombong ini! Biar kami yang akan menghajarnya,” kata beberapa orang pembantu Goan Ciang yang mengepung tempat itu.
Akan tetapi sambil tersenyum Goan Ciang mengangkat tangan ke atas mencegah mereka. Dia melihat dalam diri Tay-lek Kwi-ong seorang pembantu yang dapat diandalkan. Memang orangnya kasar dan tinggi hati, akan tetapi kalau dapat ditundukkan, dengan ketinggian hatinya tentu akan dapat menjadi seorang pembantu yang tidak mau kalah dalam membuat jasa oleh para pembantu lainnya.
“Baiklah, Tay-lek Kwi-ong, aku akan melayanimu untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita.”
Tentu saja jawaban Cu Goan Ciang ini sudah dia perhitungkan baik-baik. Cu Goan Ciang seorang yang amat cerdik dan ahli siasat maka dia telah yakin bahwa dia pasti akan mampu menundukkan raksasa ini, yang pernah dilihat sepak terjangnya ketika bertanding melawan Thian Moko tempo hari. Kalau dia tidak yakin, tentu dia tidak akan mempertaruhkan kedudukannya sebagai Beng-cu.
“Bagus! Akan tetapi, pertandingan ini harus diimbali taruhan yang cukup berharga. Kalau engkau kalah olehku, maka kedudukan Beng-cu harus diserahkan kepadaku!”
Mendengar ini, para pembantu Cu Goan Ciang menjadi marah dan mereka sudah bersungut-sungut. Akan tetapi Cu Goan Ciang menyabarkan mereka dengan mengangkat tangan, lalu sambil tersenyum dia bertanya kepada raksasa itu.
“Tay-lek Kwi-ong, kalau aku mempertaruhkan kedudukanku, tentu engkau juga mau mempertaruhkan sesuatu, bukan?”
“Aku mempertaruhkan nyawaku! Kalau aku kalah, engkau boleh membunuhku!” kata raksasa yang berwatak keras itu.
“Tidak, Kwi-ong. Kalau aku kalah, engkau boleh menjadi Beng-cu, akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menjadi pembantuku, bersama kami ikut berjuang menentang penjajah! Selain itu, aku ingin agar engkau membebaskan wanita itu.”
“Cu Goan Ciang, kalau aku kalah, aku akan menjadi pembantumu terbaik, dan aku akan mempersembahkan gadis itu kepadamu sebagai tanda takluk.”
Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Aku tidak butuh wanita!” bentaknya. Dia sudah mempunyai Tang Hui Yen sebagai calon isteri, bagaimana dia mau menerima persembahan seorang gadis lain?
“Ha-ha-ha, engkau tidak tahu siapa gadis itu. Ia adalah puteri Menteri Bayan!”
“Ahhh...!!” Cu Goan Ciang dan para pembantunya berseru kaget dan Cu Goan Ciang lalu berkata kepada para pembantunya, “Jaga baik-baik gadis itu, jangan sampai ia melarikan diri dan perlakukan ia dengan hormat dan baik!”
“Nah, bersiaplah engkau untuk menandingiku!” bentak Tay-lek Kwi-ong dan dia sudah mencabut golok besarnya dan memasang kuda-kuda di depan Cu Goan Ciang.
Cu Goan Ciang menyilangkan sebatang ranting kayu sebesar lengan di depan dada dengan tangan kiri terbuka jari-jarinya membentuk cakar rajawali. Dia telah mengombinasikan ilmu silat Sin-tiauw ciang-hoat (Silat Rajawali Sakti) dan ilmu Hok-mo-tung (Tongkat Penakluk Iblis).
Melihat lawannya hanya mempergunakan sebatang ranting sebagai senjata, Tay-lek Kwi-ong menjadi marah karena merasa dipandang rendah. “Engkau mencari mampus!” bentaknya dan goloknya menyambar ganas, mendatangkan angin bersiutan dan nampak sinar terang menyambar-nyambar.
Namun, dengan lincahnya Goan Ciang menghindarkan diri dan langsung saja ujung tongkatnya membalas dengan totokan ke arah ketiak kanan, sedangkan tangan kiri yang membentuk cakar itu mencengkeram ke arah kepala sebagai serangan susulan.
Raksasa brewok itu meloncat ke belakang menghindarkan diri sambil memutar goloknya, kemudian menyerang lagi dengan dahsyat. Bagaimanapun juga, dia merasa penasaran kalau tidak mampu mengalahkan pemuda itu.
Dia memang pernah kalah oleh Thian Moko dan hal itu tidak membuat dia penasaran karena Thian Moko adalah seorang datuk yang memiliki nama besar di dunia persilatan. Akan tetapi Cu Goan Ciang? Hanya seorang pemuda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw walaupun namanya amat terkenal karena dia menjadi buruan pemerintah.
Pertandingan itu berlangsung dengan seru, membuat para anak buah Cu Goan Ciang merasa kagum sekali. Sementara itu, Mimi juga sudah siuman dari pingsannya dan melihat betapa penculiknya bertanding melawan seorang pemuda jangkung yang dikenalnya sebagai pelayan dalam rumah makan tadi, ia tertegun penuh keheranan.
Pemuda pelayan itu ternyata mampu menandingi Tay-lek Kwi-ong! Ia tadinya ingin melarikan diri melihat penculiknya sedang sibuk bertanding, akan tetapi melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak terdesak, bahkan nampak Tay-lek Kwi-ong yang makin lama semakin repot dan hanya main mundur.
Ia menjadi ingin tahu dan ingin melihat penculiknya itu dikalahkan orang. Pula, para anak buah Cu Goan Ciang hanya mengawasinya, tidak mengepung secara menyolok sehingga Mimi sama sekali tidak mengira bahwa andai kata ia melarikan diri, ia tentu akan dihalangi oleh mereka.
Tay-lek Kwi-ong semakin penasaran, akan tetapi juga mulai timbul rasa kagum dalam hatinya. Pemuda ini ternyata memang lihai bukan main. Biarpun senjatanya hanya sebatang ranting, akan tetapi dia sama sekali tidak mampu mendesak pemuda itu, bahkan beberapa kali dia terkena totokan ujung tongkat.
Biarpun dia sudah melindungi tubuhnya yang kuat dengan kekebalan, tetap saja totokan itu membuat tubuhnya tergetar dan hampir saja dia roboh. Namun, dia masih merasa penasaran. Kalau pemuda itu belum dapat merobohkannya, dia tidak akan dapat merasa yakin bahwa dia membantu seorang yang benar-benar tangguh.
“Hyaaattt...! Sing-sing-singgg...!!” Goloknya kini menyerang bertubi-tubi dengan bacokan beruntun. Bacokan itu terus berkelanjutan dari kiri ke kanan lalu membalik ke kiri dan membalik lagi. Cepat bukan main dan mengandung kekuatan dahsyat sehingga kalau bacokan itu mengenai tubuh lawan, tentu tubuh itu akan terbabat putus menjadi dua potong!
Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main karena tubuh lawan tiba-tiba lenyap. Dia hanya melihat bayangan seperti seekor burung saja melayang terbang ke atas. Sebelum hilang kagetnya, Cu Goan Ciang yang mempergunakan jurus dari Sin-tiauw ciang-hoat itu telah berada di belakang tubuh lawan, meluncur dari atas, tongkatnya menotok siku kanan lawan dan tangan kirinya mencengkeram pundak kiri lawan.
Tay-lek Kwi-ong tidak sempat mengelak. Goloknya terlepas dari tangan kanan yang tiba-tiba menjadi lumpuh, dan pundak kirinya terkena cengkeraman yang membuat dia berteriak kesakitan. Ketika Goan Ciang menarik keras, tubuh kakek raksasa itu tidak mampu bertahan lagi dan diapun roboh terpelanting keras!
Terdengar tepuk tangan. “Bagus, bagus, hantam saja! Tay-lek Kwi-ong itu penjahat besar yang kejam. Bunuh dia!” Yang bersorak itu adalah Mimi.
Tay-lek Kwi-ong bangkit dan menyeringai karena pundaknya terasa nyeri. Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Cu Goan Ciang dan berkata dengan lantang, “Mulai saat ini, aku Tay-lek Kwi-ong menyatakan takluk dan siap membantu Beng-cu!”
Cu Goan Ciang tersenyum, merasa girang bahwa dia telah dapat menundukkan raksasa ini yang dapat diandalkan tenaganya dalam perjuangannya melawan penjajah. Akan tetapi Mimi terkejut dan heran mendengar ucapan raksasa itu. Pelayan rumah makan itu disebut Beng-cu! Padahal, ia pernah mendengar bahwa yang terpilih menjadi Beng-cu di dunia kang-ouw adalah Cu Goan Ciang, orang yang dikenal sebagai buruan pemerintah!
Saking heran dan ingin tahunya, Mimi melangkah maju dan memandang kepada pemuda pelayan rumah makan itu penuh perhatian, mengamati dari atas ke bawah dengan terheran-heran. Memang seorang pemuda yang gagah pikirnya, tinggi tegap dan tubuhnya tegak seperti seekor burung rajawali, matanya mencorong penuh wibawa. Akan tetapi pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pelayan!
“Apakah engkau ini... yang bernama Cu Goan Ciang??”
Cu Goan Ciang tersenyum dan mengangguk, “Benar, Bouw Siocia, dan kami harap engkau suka ikut dengan kami sebagai tamu kami.”
Mimi membelalakan matanya. Ia tadi belum siuman dari pingsannya ketika Tay-lek Kwi-ong menceritakan kepada Cu Goan Ciang bahwa ia adalah puteri Menteri Bayan. “Kau... bagaimana bisa tahu...”
“Nona, mulai saat ini aku telah menjadi pembantu Beng-cu dan engkau menjadi tawanan Beng-cu,” kata Tay-lek Kwi-ong.
“Tidak! Aku tidak sudi!” kata Mimi dengan marah. Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya menjadi tawanan pemimpin pemberontak yang menjadi orang buruan pemerintah?”
“Bouw Siocia, kami berjanji tidak akan bertindak kasar kalau engkau suka menyerah dengan baik-baik. Percayalah, kami tidak akan mengganggumu, hanya menawanmu sebagai tamu kami demi kepentingan perjuangan kami,” kata Cu Goan Ciang.
Para pembantunya lalu menodongkan senjata dan Mimi tidak dapat berbuat apapun, kecuali menurut, dengan muka cemberut ia mengikuti rombongan itu pergi memasuki hutan.
Para pejabat di Nan-king menjadi gempar dan panik ketika Bouw Ku Cin pulang ke kota Nanking dan melapor kepada Yauw-Ciangkun dan Shu-Ciangkun tentang ditawannya Mimi oleh Tay-lek Kwi-ong! Panglima Yatucin mencak-mencak saking marahnya karena dia takut kalau sampai mendapat teguran dari Menteri Bayan tentang diculiknya puteri menteri itu dan dia berkata,
“Keparat jahanam penjahat itu. Akan kuperintahkan seluruh pasukan untuk mengadakan pembersihan di mana-mana, mencari sampai dapat ditemukan Bouw Siocia dan penculiknya. Kalau sampai tertangkap, jangan bunuh jahanam itu akan tetapi serahkan kepadaku hidup-hidup, akan kukuliti dia hidup-hidup!”
“Harap Ciangkun tenangkan hati. Kalau kita menggerakkan pasukan, tentu lebih mudah bagi Tay-lek Kwi-ong untuk melarikan diri jauh-jauh sehingga sukar dicari jejaknya. Sebaiknya kalau Ciangkun menyerahkan kepada saya. Saya sendiri yang akan mencarinya, dibantu oleh beberapa orang yang saya percaya. Kalau dalam waktu seminggu saya belum berhasil, terserah kepada Ciangkun, kalau hendak mengerahkan seluruh pasukan.”
“Aku menyetujui usul Shu-Ciangkun,” kata Bouw Ku Cin. “Agaknya kakek raksasa itu menawan adikku hanya untuk dijadikan sandera agar dia tidak dapat diganggu oleh pasukan. Kalau dikerahkan pasukan besar-besaran, amat berbahaya bagi keselamatan adikku. Biarlah Shu-Ciangkun yang mencari secara diam-diam lebih dulu, dan aku akan ikut mencari.”
Yauw-Ciangkun terpaksa menyetujui usul Shu Ta itu. Akan tetapi Shu Ta menolak keinginan Bouw Ku Cin untuk ikut mencari. “Sebaiknya kalau Bouw Kongcu tidak ikut. Kongcu telah dikenal olehnya, maka begitu bertemu kongcu, tentu dia akan menjadi curiga dan melarikan diri bersama Bouw Siocia. Biarlah saya dan beberapa orang pembantu saya yang akan mencari, dan kami akan menyamar. Saya kira tidak akan terlalu sukar mencari seorang yang bentuknya seperti raksasa itu.”
Akhirnya, pada hari itu juga, berangkatlah Shu Ta bersama empat orang perwira yang dipercayanya. Empat orang perwira ini adalah orang-orang sehaluan dengan dia, yaitu mereka yang berjiwa pahlawan dan bermaksud untuk membantu perjuangan menggulingkan pemerintah penjajah Mongol. Mereka berlima menyamar sebagai penduduk biasa, lalu keluar dari kota Nan-king, menuju ke Lembah Sungai Huai di utara.
Shu Ta maklum bahwa kalau dia ingin berhasil menemukan Tay-lek Kwi-ong dalam waktu seminggu, dia harus mendapat bantuan dari Cu Goan Ciang! Itulah satu-satunya jalan karena daerah itu berada di dalam kekuasaan Cu Goan Ciang. Bahkan siapa tahu kalau-kalau Tay-lek Kwi-ong malah sudah menjadi sekutu Cu Goan Ciang!
Sebelum meninggalkan Nan-king, dia lebih dahulu mengirim seorang penghubung agar memberitahu kepada Cu Goan Ciang akan niatnya berkunjung ke markas laskar yang sedang dihimpun suhengnya itu. Dalam keadaan biasa, tentu saja tindakan ini amat berbahaya bagi kedudukannya, karena tentu akan menimbulkan kecurigaan Yauw-Ciangkun.
Akan tetapi, dengan jalan mencari jejak orang yang menculik Bouw Mimi, tentu saja dia dapat pergi ke manapun tanpa dicurigai. Biarpun demikian, Shu Ta dan empat orang kawannya amat berhati-hati melakukan perjalanan menyusuri sungai Huai. Ketika mereka bertemu dengan orang yang dijadikan penghubung, dan orang itu sedang kelihatan duduk di atas sebuah perahu dan memancing ikan.
Shu Ta menyuruh empat orang kawannya untuk berpencar ke empat penjuru, memanjat pohon besar dan memeriksa keadaan sekeliling kalau-kalau ada orang lain yang mengawasi mereka. Setelah yakin bahwa tidak ada yang mengamati atau membayangi mereka, barulah lima orang itu naik ke perahu dan perahu diluncurkan perlahan ke tengah sungai.
“Beng-cu telah siap menyambut Ciangkun dengan gembira sekali,” kata penghubung itu. “Ketika Beng-cu bertanya kepentingan apa yang membuat Ciangkun hendak menemuinya, saya tidak dapat menjawab karena saya tidak mengetahui kepentingan Ciangkun.”
Shu Ta mengangguk senang, “Aku hanya rindu kepadanya dan ingin bercakap-cakap, cepat bawa kami ke sana...”