Rajawali Lembah Huai Jilid 20

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 20
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 20, karya Kho Ping Hoo - “CU GOAN CIANG, bersiaplah untuk mampus di tanganku!” Thian Moko berseru dan kakek inipun menggerakkan tongkatnya menyerang.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Cu Goan Ciang menyambar tongkat yang dilontarkan Yen Yen untuk kedua kalinya kepadanya dan diapun menyambut serangan kakek itu dengan tongkatnya. Terjadilah pertandingan yang hebat di atas panggung antara dua pasangan. Mereka semua menggunakan tongkat, dan baik Goan Ciang maupun Pek Mau Lokai memainkan ilmu tongkat Hom-mo-tung menghadapi sepasang kakek dan nenek yang lihai itu.

Para penonton merasa tegang sekali melihat perkelahian yang benar-benar amat hebat itu. Biarpun sudah tua renta, namun kakek dan nenek itu ternyata masih memiliki tenaga yang kuat dan gerakan merekapun masih cepat. Bahkan Cu Goan Ciang yang memiliki dua ilmu yang ampuh, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat dan Hok-mo-pang, harus mengakui bahwa belum pernah dia berhadapan dengan seorang lawan yang begini ulet dan lihai.

Serangan-serangan tongkat kakek itu yang menotok ke arah seluruh jalan darah di tubuhnya, menunjukkan bahwa kakek itu seorang ahli totok yang lihai sekali. Satu kali saja tubuhnya terkena totokan itu, tentu akan berakibat celaka baginya. Diapun mengerahkan tenaganya dan berusaha membalas serangan lawan.

Namun semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh kakek tua renta yang kelihatan loyo namun ternyata lihai bukan main itu. Setiap kali tongkatnya beradu dengan tongkat Thian Moko, dia merasa betapa tangannya tergetar dan panas. Ternyata Thian Moko yang tua renta itu masih tangkas dan kuat sekali.

Pertandingan antara Pek Mau Lokai melawan Tee Moli juga terjadi dengan seru dan seimbang. Tee Moli yang sudah tua itupun ternyata amat tangguh seperti suaminya. Sungguh mengherankan sekali kakek dan nenek tua renta ini, walaupun kalau berjalan biasa saja harus dibantu tongkat, kini begitu bertanding, seolah mereka itu memperoleh tenaga baru dan mereka dapat bergerak dengan tangkas dan kuat seperti orang-orang muda saja.

Akan tetapi, berbeda dengan Cu Goan Ciang yang membalas serangan lawannya dengan dahsyat, Pek Mau Lokai yang menghadapi Tee Moli itu seperti orang bermain-main saja! Pada hal, tingkat kepandaian merekapun seimbang. Kakek pengemis itu lebih banyak mengelak, bahkan berlari-lari dan berputaran di atas panggung sambil mengejek lawan.

“Heiiit, luput lagi, Moli! Ha-ha, engkau kurang cepat, kurang kuat dan sudah loyo, heh-heh-heh!”

Dipermainkan dan diejek seperti itu, nenek itu menjadi semakin marah dan ia mengejar ke mana saja Pek Mau Lokai berlari, dan terus menyerang bertubi-tubi dengan tongkatnya. “Wuuttt!” Tongkatnya menyambar-nyambar, mendatangkan angin pukulan yang membuat rambut putih pengemis tua yang riap-riapan itu berkibar-kibar.

Dan terdengar suara berdesingan ketika tongkat menyambar. Agaknya, nenek yang sudah marah sekali itu telah mengerahkan seluruh tenaganya, namun gerakan si pengemis tua memang lincah dan ringan sehingga semua serangannya dapat dihindarkan dengan elakan dan kadang juga dengan tangkisan tongkatnya.

“Hayyaaaa, hampir kena, tapi luput! Moli, apakah hanya begini kepandaianmu? Hayo cepat keluarkan semua simpananmu, jangan membikin malu saja. Orang seloyo engkau ini hendak menjadi Beng-cu? Memalukan dan menyedihkan!” Kembali Pek Mau Lokai mengejak sambil tertawa-tawa.

Mula-mula Cu Goan Ciang khawatir sekali mendengar ucapan pengemis tua itu yang dianggapnya terlalu memandang rendah lawan. Padahal dia tahu bahwa kakek pengemis itu belum tentu menang. Akan tetapi, ketika dia mendengar pernapasan nenek itu mulai terengah, mengertilah dia akan maksud Pek Mau Lokai.

Sepasang Iblis Tua Sungai Kuning yang sudah tua renta itu memang lihai bukan main dan kalau hanya mengandalkan ilmu silat dan kekerasan, tentu akan sukar sekali mengalahkan mereka. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang dipergunakan Pek Mau Lokai adalah mengambil keuntungan dari ketuaan lawan, yaitu daya tahan dan pernapasannya.

Diapun segera mencontoh pengemis tua itu dan mulailah Cu Goan Ciang mengelak dan menghindar dengan berlari-lari menjauhkan diri dan membiarkan kakek itu terus menyerang dan mengejarnya. Dengan cara ini dia menyimpan tenaga dan menguras tenaga lawan.

Biarpun dia tidak sepandai Pek Mau Lokai dalam hal menggoda dan mengejek, namun Cu Goan Ciang berusaha memanaskan hati lawan dengan mentertawainya, setiap kali serangan kakek itu luput.

“Ha-ha, luput, kek. Masih ada lagi seranganmu yang lebih keras? Jangan segala macam serangan tahu kau keluarkan!” Dia mengejek.

Huang-ho Siang Lomo adalah dua orang datuk tua yang terlalu tinggi hati dan memandang rendah semua lawannya. Kinipun mereka berdua tidak tahu akan siasat yang dipergunakan Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang. Mereka mengira bahwa lawan mereka itu mulai gentar, maka hanya mengelak dan berputaran, bahkan berlarian.

Hal ini membuat mereka semakin besar hati dan penuh semangat untuk segera merobohkan lawan dan mereka makin mengerahkan tenaga dan terus mengejar dan menghujankan serangan maut. Justeru inilah yang dikehendaki Pek Mau Lokai dan yang dicontoh oleh Goan Ciang.

Setelah lewat tiga puluh jurus, mulailah kelihatan hasilnya. Sepasang kakek nenek itu mulai kehabisan napas. Tubuh mereka basah oleh peluh, dari ubun-ubun kepala mereka mengepul uap dan napas mereka terengah-engah, tenaga mereka mulai menurun cepat sehingga gerakan mereka tidak lagi sekuat dan secepat tadi.

Sungguhpun semangat mereka masih besar, namun menyedihkan dan menggelikan melihat mereka kini terpincang-pincang dan terengah-engah melanjutkan penyerangan mereka dengan napas yang empas-empis. Kalau Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang menghendaki, tidak akan sukar bagi mereka untuk merobohkan dua orang lawan yang sudah kehabisan tenaga dan napas itu.

Akan tetapi Pek Mau Lokai agaknya tidak mau melakukan hal ini dan Cu Goan Ciang juga mengikuti jejaknya, tidak mau merobohkan kedua orang itu. Akhirnya, karena kehabisan tenaga, Thian Moko dan Tee Moli tidak kuat berdiri lagi dan seperti kain basah, tubuh mereka terkulai roboh sendiri di atas panggung!

Sorak-sorai menyambut kemenangan Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang, dan Pek Mau Lokai yang berdiri di atas panggung berseru dengan suara yang lantang nyaring karena dia mengerahkan khi-kang, “Saudara sekalian! Jelas bahwa yang menjadi pemenang adalah Cu Goan Ciang dan dia yang berhak menjadi Beng-cu!”

Para tokoh yang berada di situ mengangguk-angguk dan terdengar sorak-sorai menyetujui pengangkatan Cu Goan Ciang sebagai Beng-cu. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara gegap gempita dan pasukan pemerintah yang secara diam-diam telah mengepung tempat itu, kini maju menyerbu!

Para pimpinan Hwa I Kaipang tidak terkejut melihat penyerbuan ini, Cu Goan Ciang memang sudah mendapat berita dari Shu Ta tentang siasat pemerintah yang hendak menggunakan dua cara, yaitu pertama, merebut kedudukan Beng-cu agar terjatuh ke tangan orang-orang yang pro pemerintah dan kalau hal ini gagal, pasukan akan menyergap dan menangkapi pihak pemenang kedudukan Beng-cu yang tidak mendukung pemerintah Mongol.

Kalau Pek Mau Lokai melanjutkan pemilihan Beng-cu, hal itu hanya untuk mencapai satu sasaran, yaitu agar dunia kang-ouw lebih dahulu mengakui Cu Goan Ciang sebagai pemimpin karena hal ini kelak akan memudahkan pemuda itu bergerak mengumpulkan dan menghimpun kekuatan untuk menentang penjajah.

Seperti yang telah mereka rencanakan, begitu pasukan menyerbu, Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang memimpin anak buah mereka untuk melarikan diri, melalui lereng bukit yang sudah mereka rencanakan. Mereka bertemu pasukan yang menghadang di tempat itu dan terjadi pertempuran mati-matian.

Para anggota Hwa I Kaipang yang dipimpin tiga orang ketua daerah, yaitu Lee Ti ketua daerah barat, Pouw Sen ketua daerah timur, dan Kauw Bok ketua daerah selatan, dengan anak buah sebanyak kurang lebih seratus orang, mengamuk.

Pek Mau Lokai, Tang Hui Yen dan Cu Goan Ciang sendiri dikeroyok belasan orang perwira Mongol yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh sehingga terjadi perkelahian yang seru.

“Goan Ciang, Yen Yen, cepat kalian pergi!” berulang-ulang kakek Pek Mau Lokai berteriak, menyuruh kedua orang muda itu pergi.

“Tidak, aku harus menemanimu melawan anjing-anjing busuk ini!” bantah Yen Yen penuh semangat dan tongkat merobohkan seorang pengeroyok.

“Kita harus lari bersama atau mati bersama!” kata pula Goan Ciang dengan gagah.

Pek Mau Lokai mengeluarkan teriakan melengking panjang dan dua orang perwira roboh. “Bodoh kalian!” bentaknya kepada cucunya dan Goan Ciang. “Goan Ciang, apakah cita-citamu harus berhenti sampai di sini saja? Yen Yen, engkau harus menemani Goan Ciang sampai dia berhasil dengan perjuangannya. Aku sudah tua, aku yang harus mencegah mereka mengejar kalian. Cepat pergi!” suaranya mengandung wibawa.

Dan Cu Goan Ciang mengerti. Dia tahu bahwa kalau pasukan bantuan tiba, mereka semua pasti akan mati konyol. Dia menyambar tangan Yen Yen dan menariknya lari dari situ. “Pangcu, selamat tinggal!” teriak Goan Ciang.

“Kong-kong, jaga dirimu baik-baik,” kata pula Yen Yen dengan suara sedih.

Akan tetapi Pek Mau Lokai tidak sempat menjawab karena dia sudah mengamuk untuk mencegah para perwira melakukan pengejaran terhadap Cu Goan Ciang dan Yen Yen. Gerakan kakek ini amat dahsyat dan siapa yang berani melewatinya untuk mengejar, tentu roboh. Akan tetapi, muncullah Coa Kun dan sepasang kakek nenek yang tadi kehabisan napas. Mereka telah agak pulih dan kini mereka ikut mengeroyok Pek Mau Lokai.

Betapapun lihainya Pek Mau Lokai, dikeroyok demikian banyaknya lawan tangguh, dia menderita luka-luka dan roboh, akan tetapi anak buah Hwa I Kaipang mencoba untuk menolong dan melindunginya. Kakek perkasa, tokoh utama Hwa I Kaipang itu seperti tenggelam dalam tumpukan mayat yang berserakan.

Anak buah Hwa I Kaipang kocar-kacir. Banyak yang tewas, sebagian melarikan diri. Cu Goan Ciang dan Yen Yen berhasil menyelamatkan diri dengan perahu yang sudah dipersiapkan sebelumnya sehingga para pengejar hanya dapat melihat dari tepi sungai dan mencoba untuk menyerang dengan anak panah. Namun perahu sudah terlalu jauh dan tidak terjangkau anak panah. Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen selamat.

Di tempat persembunyian mereka, di sebuah bukit kecil di lembah Yang-ce, mereka mendengar berita tentang kematian Pek Mau Lokai dan para anggota Hwa I Kaipang, dari mereka yang berhasil lolos dari sergapan pasukan pemerintah. Mendengar akan tewasnya kakeknya, walaupun hal itu sudah dikhawatirkannya dan juga tidak ada yang menyaksikan sendiri tewasnya kakek yang gagah perkasa itu.

Yen Yen menangis sesenggukan dengan hati penuh duka. Kematian kakeknya itu membuat ia merasa kehilangan segalanya. Kehilangan kakek, guru, pengganti orang tuanya. Sejak kecil ia ditinggal mati ayah ibunya dan dirawat oleh kakeknya penuh kasih sayang. Kini kakeknya tewas tanpa ia ketahui, bahkan jenazah kakeknyapun tidak dapat ia urus.

Kenangan terakhir tentang kakeknya adalah ketika kakeknya dikeroyok banyak orang dan terpaksa ia meninggalkan kakeknya yang terancam bahaya. “Ahh, kenapa aku harus meninggalkannya? Aku seharusnya membantunya dan mati bersamanya...” ia meratap.

“Yen-moi, tenanglah,” Goan Ciang menghibur. “Engkau tahu benar bahwa kita meninggalkan kakek di sana bukan karena kita takut mati. Aku mengerti, kakekmu benar. Kalau kita berdua nekat dan mati bersama, lalu bagaimana dengan perjuangan? Kita disuruh tetap hidup agar kita dapat melanjutkan perjuangan ini, menghancurkan penjajah. Mengertikah engkau, Yen-moi?”

“Tapi... toako, kong-kong telah tewas... berarti aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, aku sekarang sebatang kara... aku tidak punya siapa-siapa lagi...”

“Hemm, lupakah engkau bahwa engkau masih mempunyai aku, Yen-moi?”

Ucapan Goan Ciang itu disertai pandang mata yang penuh kasih sayang, mendatangkan rasa haru dalam hati Hui Yen dan iapun menubruk pemuda itu sambil menangis. Cu Goan Ciang merangkulnya dan pemuda ini maklum bahwa dia telah menemukan pengganti mendiang Kim Lee Siang.

“Aku sudah berjanji kepada kong-kong,” bisiknya, “kita menikah setelah aku berhasil membunuh Khabuli, dan engkau malah yang membantuku sehingga dendam itu dapat terbalas.”

“Koko... ah, koko... terima kasih...” Yen Yen terisak.

Tiba-tiba keduanya tersentak kaget mendengar suara tawa yang amat mereka kenal. Yen Yen melepaskan diri dari rangkulan Goan Ciang dan keduanya meloncat berdiri, terbelalak memandang kepada kakek yang sudah berdiri di depan mereka, bersandar kepada tongkatnya. Pakaiannya robek-robek, masih ada bekas darah di bajunya.

“Kong-kong...!” Yen Yen menjerit dan menubruk kaki orang tua itu.

“Pangcu! Kabarnya kau... kau...” Goan Ciang juga berkata bingung.

Pek Mau Lokai tersenyum lemah. “Memang aku nyaris tewas. Musuh terlalu banyak. Aku sudah luka-luka, akan tetapi anak buah kita sungguh setia. Mereka melindungiku, dan aku dapat meloloskan diri di antara tumpukan mayat. Tak seorangpun melihatnya dan aku disangka mati... heh-heh, akan tetapi agaknya Thian belum menghendaki riwayatku tamat, heh-heh-heh!”

Tentu saja Goan Ciang dan Yen Yen merasa girang bukan main dan mereka cepat menolong kakek itu dan mengundang ahli pengobatan yang pandai sehingga dalam waktu sebulan saja kesehatan kakek itu telah pulih kembali.

Biarpun pemilihan Beng-cu berlangsung kacau, bahkan diakhiri dengan penyerbuan pasukan pemerintah terhadap orang-orang Hwa I Kaipang, namun dunia kang-ouw telah mengakui Cu Goan Ciang sebagai seorang Beng-cu atau pemimpin dunia kang-ouw yang disegani dan dihormati.

Mulailah Cu Goan Ciang menghimpun kekuatan dan mendatangkan para tokoh kangouw yang sehaluan, yaitu untuk menentang pemerintah penjajah Mongol. Dalam usaha ini, dia dibantu oleh Tang Hui Yen yang setia, kekasihnya yang telah diakuinya sebagai calon isterinya, dan juga Pek Mau Lokai membantunya sebagai penasihat.

Dia mulai menghimpun kekuatan itu di Lembah Sungai Huai, menjadi dusun kelahirannya, yaitu dusun Cang-cin, sebagai pusat. Kedua orang kakak beradik Koa, yaitu Koa Hok dan Koa Sek, dengan penuh semangat membantunya, juga Ji Kui Hwa yang kini telah menjadi isteri Koa Hok.

Banyak pula para tokoh kang-ouw yang masih belum mau menerima Cu Goan Ciang sebagai Beng-cu. Mereka menganggap tidak sepantasnya kalau dunia persilatan dipimpin seorang pemuda. Maka di sana sini bermunculan kelompok orang kang-ouw yang tidak mau mengakuinya sebagai Beng-cu.

Banyak pula kelompok yang menjadi kelompok tandingan, bergerak sendiri untuk menentang pemerintah penjajah. Dan mulailah Cu Goan Ciang memimpin anak buahnya untuk menaklukkan mereka satu demi satu.

Mula-mula, karena mengingat kekuatan sendiri yang kecil dan tidak mungkin mampu menandingi kekuatan pasukan pemerintah, gerakan perkumpulan kang-ouw yang dipimpin Cu Goan Ciang ini hanya membuat kekacauan dengan menghukum pejabat daerah yang sewenang-wenang, bahkan juga hartawan dan tuan tanah yang mencekik leher rakyat.

Di samping itu, juga dia menaklukkan kelompok yang bergerak sendiri dan menarik mereka sebagai kawan seperjuangan. Ketika melihat bahwa banyak tokoh-tokoh kang-ouw tidak setuju kalau mereka harus berada di bawah kekuasaan Hwa I Kaipang, perkumpulan pengemis.

Cu Goan Ciang mengundang para pimpinan di dunia kang-ouw untuk berunding dan akhirnya diputuskan oleh Cu Goan Ciang dan disetujui semua orang bahwa mulai saat itu, semua nama perkumpulan atau kelompok yang bergabung dihapus dan dipilih sebuah nama saja untuk gerakan mereka, yaitu Beng-pai (Partai Terang).

Bendera-bendera yang mereka bawa hanya memuat huruf, yaitu huruf BENG (Terang) dan mulailah Cu Goan Ciang menguasai dusun-dusun dan merampas tanah-tanah para hartawan.

Berbeda dengan gerombolan biasa yang kalau menyerbu dusun lalu melakukan perampokan dan pembunuhan, penculikan terhadap wanita-wanita, Beng-pai merupakan perkumpulan pemberontak yang menduduki dusun itu, tidak mengganggu penduduknya kecuali mereka yang melawan, merampas tanah yang berlebihan, minta sumbangan yang pantas, bukan merampok seluruh milik orang dan menjadi dusun yang telah diduduki itu sebagai markasnya.

Melihat betapa banyaknya gangguan gerombolan perampok yang memakai kedok pejuang, dan melihat pula kekuatan Beng-pai yang semakin kuat, para pedagang dan tuan tanah lalu mendekati Cu Goan Ciang dan menyatakan ingin bekerja sama! Mereka menyediakan dana untuk biaya pasukan Beng-pai, dan persekutuan ini membuat Beng-pai menjadi semakin besar dan kuat.

Dan merekapun kini mengalihkan arah gerakan mereka. Setelah kelompok-kelompok kecil melihat kekuatan Beng-pai dan bergabung, maka Beng-pai menjadi kekuatan besar dan mulailah perkumpulan ini bergerak dan mencurahkan seluruh kekuatan untuk menentang pemerintah penjajah Mongol!

Dalam waktu setahun saja, Cu Goan Ciang telah berhasil menghimpun kekuatan yang ratusan ribu orang banyaknya dan telah berhasil menduduki dan menguasai seluruh daerah di lembah Huai. Mulailah pasukan itu bergerak menuju ke Nan-king!

* * *

Menteri Bayan atau dengan nama Cina Bouw Yan, meloncat turun dari keretanya di pekarangan rumah dan memasuki rumahnya dengan langkah lebar. Wajahnya muram dan dia mengepal tinju. Penghormatan prajurit pengawal yang melakukan penjagaan di pendopo rumahnya tidak dihiraukannya. Dia membuka pintu depan lalu masuk dan membanting pintu itu menutup kembali.

“Sialan!” gerutunya marah. “Tak tahu diuntung! Lemah dan picik, mabok kesenangan!” Menteri yang usianya sudah setengah abad ini nampak marah sekali. Wajahnya yang gagah kemerahan. Dia adalah pejabat tertinggi yang paling diandalkan dan dipercaya oleh kaisar Togan Timur, yaitu kaisar yang pada waktu itu memimpin kerajaan Goan (Mongol).

Seorang wanita yang usianya sudah empat puluh tahun lebih namun masih nampak cantik dan lembut, menyambutnya. Ia adalah isteri menteri itu, seorang wanita peranakan Han yang lembut. “Aih, kenapa engkau datang-datang kelihatan marah sekali, suamiku? Apakah yang terjadi di istana maka engkau begini marah-marah?” tanya sang isteri dengan ramah.

Menteri Bayan menjatuhkan diri di atas sebuah kursi besar di ruangan dalam itu. Isterinya memberi isyarat kepada dua orang pelayan wanita untuk meninggalkan ruangan itu dan ia sendiri menuangkan air teh hangat untuk suaminya. Ia tahu bahwa suaminya sedang risau dan tidak ada yang lebih menghibur dari pada sikap lunak dan ramah serta minuman air teh hangat.

“Aihhhhh...!!” berulang-ulang pejabat tinggi itu menghela napas tanpa menjawab pertanyaan isterinya, dan wanita yang penuh pengertian itupun tidak mendesak, menanti dengan tenang dan sabar sampai suaminya menceritakan apa yang sedang dirisaukannya.

Minuman segar hangat dan suasana hening dan tenteram di ruangan itu, ditunggui isterinya yang tenang dan sabar, akhirnya dapat meredakan kerisauan hati pria setengah tua itu. Dia menghela napas panjang.

“Betapa menjengkelkan melihat keadaan yang tidak baik akan tetapi diri ini tidak kuasa untuk memperbaikinya. Betapa menyedihkan melihat kerajaan yang tadinya jaya ini perlahan-lahan menghadapi keruntuhannya.”

Mendengar keluhan suaminya itu, sang isteri maklum bahwa kebekuan itu telah mencair dan sudah tiba saatnya baginya untuk bicara, siap membantu suaminya memikul beban tekanan batin yang menyusahkan hati suaminya itu,

“Suamiku, biasanya sehabis menghadap kaisar, engkau pulang dengan sikap gembira. Akan tetapi sekali ini sungguh amat berbeda, engkau pulang dan kelihatan murung. Kemudian ucapanmu tadi, sungguh aku tidak mengerti akan maksudnya. Kalau engkau tidak merasa keberatan, maukah engkau menceritakannya kepadaku?”

Menteri Bouw Yan mengepal tinju. “Sungguh membuat orang dapat mati penasaran. Aku, yang hanya seorang menteri, amat mengkhawatirkan keadaan kerajaan, amat prihatin. Akan tetapi dia, yang menjadi kaisar, bahkan acuh saja dan tenggelam ke dalam kesenangan. Setiap hari berpesta pora, sama sekali tidak mengacuhkan ketika ada laporan tentang pergolakan di selatan. Dan yang memuakkan, sebagian besar pejabat bahkan ikut-ikutan bersenang-senang. Mereka semua itu telah buta!”

“Harap tenang, suamiku. Apakah yang sebenarnya telah terjadi di selatan yang amat menggelisahkan hatimu?”

“Apa yang terjadi di selatan? Semua orang mengetahui. Di selatan timbul perserikatan orang-orang yang menentang kerajaan Goan. Dahulu, mereka hanya merupakan gerombolan-gerombolan kecil yang tidak berarti. Akan tetapi sekarang, mereka telah bersatu, dipimpin oleh seorang pemuda yang bersemangat tinggi, yang baru saja memenangkan kedudukan Beng-cu di dunia kang-ouw. Sungguh aku merasa khawatir sekali dan kekhawatiran ini kukemukakan kepada Sribaginda. Akan tetapi aku malah dianggap mengganggu kesenangan beliau dan dianggap penakut.”

“Suamiku, kenapa merisaukan segala macam pemberontakan di selatan? Bukankah sejak dahulu selalu ada saja gerombolan pemberontak yang mengacau dan selalu pasukan pemerintah dapat membasminya? Kalau sekarang ada pemberontakan di selatan, kirim saja pasukan untuk membasmi dan engkau tidak akan merasa risau lagi.”

“Pemberontakan silih berganti, hal ini saja sudah menunjukkan betapa lemahnya pemerintahan. Akan tetapi sekali ini bukanlah pemberontakan biasa, bukan sekedar gerombolan pemberontak yang mudah ditumpas! Aku mendengar kabar bahwa pemuda yang bernama Cu Goan Ciang, yang terpilih sebagai Beng-cu dan dijuluki Rajawali Lembah Huai, telah berhasil menghimpun banyak sekali pemuda dari dusun-dusun.

"Dan banyak tokoh kangouw yang berkepandaian tinggi, membentuk sebuah pasukan yang kuat. Pasukan ini menamakan diri Beng-pai, dengan panji bertuliskan huruf Beng. Mereka bukan perampok-perampok, dan mereka sudah mulai menduduki daerah sekitar lembah Huai, dan menurut kabar, rakyat jelata mendukungnya, bahkan para hartawan dan tuan tanah menyumbangkan harta untuk membiayai pasukan mereka. Ini sungguh berbahaya sekali!!”

“Aih, kalau begitu, tidak semestinya pemerintah mendiamkannya saja. Sudah semestinya panglima membawa pasukan besar untuk menumpasnya,” kata sang isteri yang ikut merasa terkejut mendengar itu.

“Itulah yang membuat aku merasa jengkel. Sudah kulaporkan semua itu, akan tetapi kaisar yang haus kesenangan itu malah merasa terganggu kesenangannya dan menyuruh aku memadamkan api pemberontakan di selatan itu. Padahal, kota raja inipun tak pernah bebas dari ancaman pemberontakan yang terjadi di sekitarnya.

"Biarpun pemberontakan di sekitar kota raja hanya terdiri dari gerombolan kecil yang mengadakan kekacauan dan perampokan, namun cukup memusingkan. Yang menyebalkan, para menteri juga ikut mencelaku yang katanya merasa iri karena tidak suka ikut berfoya-foya seperti mereka. Menyebalkan sekali!”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya isterinya khawatir.

“Aku melihat awan gelap datang dari selatan dan kalau aku bersikap seperti para penjilat itu, terjun ke dalam kesenangan dan foya-foya bersama Sribaginda, sudah pasti kerajaan ini akan segera hancur. Aku yang sejak muda mengabdikan diriku kepada kerajaan, tidak mungkin tinggal diam saja. Aku sendiri akan pergi ke Nan-king dan memimpin penumpasan Beng-pai yang dipimpin oleh Cu Goan Ciang!”

“Ku Cin dan Mimi juga masih berada di sana!” kata isterinya. “Sebaiknya kalau mereka itu kau suruh kembali ke kota raja. Berbahaya sekali bagi mereka kalau sampai terjadi pergolakan dan perang di selatan.”

“Justeru tenaga mereka itu kubutuhkan. Mereka sudah beberapa lamanya tinggal di Nanking, tentu lebih banyak mengetahui keadaan di sana. Aku membutuhkan bantuan orang-orang yang dapat dipercaya.”

Pada hari itu juga, Menteri Bouw Yan atau Bayan, mengumpulkan dua ratus orang prajurit pilihan dan bersama beberapa orang panglima yang membantunya, diapun berangkat dengan kereta menuju ke selatan. Kaisar yang dipamiti hanya menyetujui saja, dan para menteri yang lain menertawakan Bayan yang mereka anggap seperti anak kecil yang takut bayangan sendiri. Bagaimana mungkin segerombolan rakyat petani dapat merupakan ancaman bagi kerajaan Goan yang besar dan jaya?

* * *

Dua orang pemuda itu berjalan menyusuri sungai Huai. Keduanya berwajah tampan walaupun pakaian mereka seperti orang-orang muda, petani dusun yang sederhana. Yang seorang bertubuh tampan dan tegap, berusia sekitar dua puluh tiga tahun, dan yang kedua tentu adiknya karena wajah mereka mirip, akan tetapi adik ini lebih tampan dan tidak setegap kakaknya, dan usianya sekitar sembilan belas tahun.

Mereka ini memang nampak sederhana, dengan caping petani, dengan kulit muka, leher dan tangan kecoklatan terbakar sinar matahari, dan pakaian mereka dari kain kasar. Namun, gerak-gerik mereka tidak seperi petani kasar, dan memang sesungguhnya mereka adalah dua orang muda bangsawan yang menyamar.

Mereka adalah Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi, dua orang putera dan puteri Menteri Bayan! Sudah lama mereka berada di Nan-king, selain membawa pesan ayah mereka kepada para pejabat di Nan-king, juga mereka melihat perkembangan keadaan di daerah selatan itu. Mereka berdua mendengar pula akan hasil pemilihan Beng-cu yang jatuh ke tangan Cu Goan Ciang, pemberontak yang terkenal sebagai buruan pemerintah itu.

Memang sejak pemilihan Beng-cu, Nan-king tidak pernah diganggu penjahat atau pemberontak dan hal ini berkat penjagaan ketat yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpin oleh panglima Shu Ta. Kakak beradik bangsawan ini telah menjadi sahabat baik Shu Ta dan pergaulan mereka akrab.

Biarpun di lubuk hatinya, Shu Ta adalah seorang yang berjiwa patriot dan membenci penjajah Mongol. Akan tetapi dia harus mengakui bahwa kakak beradik itu adalah orang-orang yang berwatak baik dan gagah. Terutama sekali Mimi. Baginya, tidak ada gadis lain sehebat Bouw Mimi dan sejak pertemuan pertama kali, hatinya sudah tertarik sekali.

Setelah mereka bergaul dan dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu berwatak baik dan gagah, bahkan dalam percakapan seringkali mencela politik bangsa Mongol yang melakukan penekanan terhadap rakyat, maka Shu Ta diam-diam sudah jatuh cinta kepada Mimi.

Ketika kakak beradik itu menyatakan hendak melakukan penyelidikan sendiri di daerah selatan Nan-king, di sepanjang sungai Huai yang kabarnya dijadikan pusat gerakan pemberontak, tentu saja Shu Ta merasa khawatir sekali.

“Kenapa engkau merasa khawatir, Shu-Ciangkun?” bantah Bouw Ku Cin ketika panglima itu membujuk agar mereka tidak pergi. “Bukankah berkat pembersihan yang kau lakukan dengan pasukanmu, selama ini Nan-king dalam keadaan aman dan tenteram, tidak ada penjahat atau pemberontak yang berani membikin kacau?”

“Dan lagi siapa yang akan mengetahui bahwa kami berdua adalah putera dan puteri menteri? Kami akan menyamar sebagai dua orang dusun, dan aku akan menyamar sebagai seorang pemuda. Aku ahli dalam penyamaran, Ciangkun. Kami berdua mampu berjaga diri,” kata pula Mimi sambil tersenyum.

“Akan tetapi, kongcu dan siocia, sungguh perjalanan itu amat berbahaya. Biarpun di kota kelihatan tenang, akan tetapi siapa tahu keadaan di luar sana? Menurut kabar, terjadi pergolakan di sepanjang lembah Huai. Kalau ji-wi (anda berdua) ingin melakukan penyelidikan, sebaiknya disertai serombongan pengawal yang berkepandaian tinggi untuk menjamin keamanan ji-wi.”

“Ah, kami tidak suka!” kata Bouw Ku Cin. “Kami akan merasa canggung dan tidak bebas. Pula, kalau kami menyamar sebagai dua orang pemuda dusun, bagaimana mungkin mempunyai pasukan pengawal? Sudahlah, Ciangkun, jangan terlalu mengkhawatirkan diri kami.”

“Akan tetapi bagaimana mungkin aku dapat membiarkan ji-wi pergi? Kalau sampai terjadi sesuatu dengan ji-wi, tentu aku akan ditegur dan bahkan mendapat kesalahan besar dari atasanku.”

“Kalau begitu, biar kami melapor dulu kepada paman Yatucin!” kata kakak beradik itu dan mereka segera menemui Yauw-Ciangkun.

Panglima komandan pasukan di Nanking inipun mencoba untuk membujuk kakak beradik itu agar mengurungkan niat mereka, akan tetapi, mereka nekat dan akhirnya panglima itupun tidak dapat mencegah. Hanya setelah mereka berdua pergi, Yauw-Ciangkun cepat memanggil panglima Shu Ta dan memerintahkan agar Shu-Ciangkun diam-diam menyuruh orang membayangi dan melindungi kakak beradik bangsawan yang nekat itu.

Demikianlah, pada pagi hari itu, Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi menyamar sebagai dua orang pemuda dusun yang berjalan santai menyusuri sungai Huai. Untuk melengkapi penyamaran mereka, Bouw Ku Cin membawa segulung jala sedangkan Mimi membawa tangkai pancing.

Mereka sama sekali tidak mencurigakan karena hampir semua orang muda yang tinggal di lembah sungai Huai hanya mempunyai pekerjaan bersawah ladang dan mencari ikan sebagai nelayan. Mereka itu petani dan juga nelayan.

Sudah sepekan lamanya mereka berkeliaran melakukan penyelidikan di sepanjang lembah Huai. Beberapa kali mereka dicurigai dan ditahan kelompok prajurit yang meronda atau melakukan penjagaan, namun Bouw Ku Cin dan adiknya segera dibebaskan kembali ketika mereka memperlihatkan sebuah surat kuasa yang dibuat dan ditanda tangani sendiri oleh Yauw-Ciangkun. Dan mereka tidak pernah bertemu dengan para pemberontak, apa lagi mendapat gangguan mereka.

Suasana di dusun sekitar lembah itu nampak tenteram dan tenang, para petani dan nelayan bekerja dengan santai. Dari keterangan para penduduk dusun, kakak beradik ini mendapatkan berita yang membuat mereka merasa penasaran dan juga marah.

Ternyata bahwa yang suka mengacau dan mengganggu penduduk sama sekali bukan para pemberontak yang dipimpin oleh Cu Goan Ciang, bahkan sebaliknya, yang suka mengganggu adalah anak buah pasukan pemerintah! Setiap kali ada rombongan prajurit pemerintah melakukan perondaan di sebuah dusun, tentu terjadi hal-hal yang memuakkan.

Pasukan itu tidak segan-segan, dengan dalih melakukan pembersihan dan mencari pemberontak, untuk menggeledah setiap rumah rakyat dusun dan dalam pelaksanaan penggeledahan inilah terjadi hal-hal yang amat memalukan kakak beradik ini.

Seringkali para prajurit pasukan Mongol itu merampas barang-barang berharga, juga memperkosa wanita-wanita, dan mereka meninggalkan sebuah dusun sambil menuntun kerbau atau sapi untuk mereka santap dalam berpesta malam nanti!

“Bedebah mereka itu!” kata Bouw Ku Cin marah. “Kalau macam itu kelakuan pasukan kita, tentu saja rakyat berpihak kepada pemberontak! Aihhh, kelakuan para prajurit itulah yang akan menghancurkan kerajaan, dan pemberontakan yang terjadi dimana-mana adalah akibat dari pada kejahatan pasukan kita sendiri!”

“Tapi, kukira tidak semua prajurit kita seperti itu, koko,” bantah Mimi yang juga marah melihat ulah prajurit kerajaan. “Yang bertanggung jawab tentu saja komandan mereka, dan kurasa masih banyak komandan yang baik, misalnya paman Yatucin sendiri, atau Shu-Ciangkun...”

“Akan tetapi mereka tidak mungkin mengawasi seluruh pasukan! Dan biasanya, kesalahan yang dilakukan oleh seorang anggota saja dari sebuah pasukan, akan menodai nama baik seluruh pasukan itu. Tidak mengherankan kalau rakyat mulai bangkit memberontak karena mereka tentu saja menganggap bahwa kebusukan belasan orang prajurit itu merupakan cermin dari kebusukan pemerintah. Sungguh celaka!”

“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya adiknya.

“Mari kita kembali ke Nan-king. Kita harus melaporkan ini kepada paman Yatucin dan Shu-Ciangkun. Mereka harus mengadakan pengamatan dan pembersihan di kalangan pasukan sendiri. Kalau keadaan seperti ini berkelanjutan, dan rakyat membenci pasukan pemerintah sebaliknya mendukung pemberontak, keadaan kita akan menjadi lemah sebaliknya pihak pemberontak semakin kuat.”

“Akan tetapi, koko. Kita hanya mendengar saja keterangan itu dari penduduk dusun. Bagaimana kita dapat melapor kalau kita tidak membuktikannya sendiri? Laporan kita harus berdasarkan kenyataan yang meyakinkan. Bagaimana kalau semua keterangan itu hanya fitnah belaka?”

“Aih, engkau benar juga, adikku! Kita harus mencari bukti walaupun aku tidak percaya kalau para penghuni dusun itu berbohong. Ketika mereka bercerita, mereka menganggap kita adalah pemuda-pemuda dari dusun lain. Perlu apa mereka berbohong kepada sesama rakyat dusun? Bagaimanapun juga, memang kita harus membuktikan kebenaran laporan kita. Kabarnya, para prajurit penjaga itu suka membuat kekacauan di dusun sebelah barat sana yang tidak jauh dari pos penjagaan. Mari kita ke sana.”

Setelah melakukan pengintaian tak jauh dari pos penjagaan pasukan penjaga keamanan, akhirnya pada suatu siang kakak beradik itu membayangi selosin prajurit yang melakukan perondaan. Dua belas orang itu agaknya sudah setengah mabok dan percakapan yang mereka lakukan ketika mereka meninggalkan pos penjagaan dalam barisan yang tidak rapi itu yang menarik perhatian Bouw Ku Cin dan Mimi untuk membayangi mereka.

Dua belas orang prajurit itu terdiri dari orang-orang berusia antara dua puluh lima sampai empat puluh tahun. Mereka berpakaian seragam dan di pinggang mereka tergantung golok. Pemimpin regu kecil ini seorang prajurit yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Dari obrolan mereka yang diselingi tawa, mudah diketahui bahwa selosin orang prajurit ini dalam keadaan setengah mabok.

“Ha-ha, pesta pernikahan puteri lurah So itu tentu meriah sekali!”

“Arak dan daging berlimpahan!”

“Gadis-gadis cantik dari semua dusun tentu berkumpul di sana.”

“Lurah jahanam, kita tidak diundang!”

“Ha-ha, biar tidak diundang, kitalah yang akan berpesta pora nanti. Makan daging sekenyangnya, minum arak sepuasnya, dan memilih gadis tercantik.”

“Aku ingin membawa dua orang gadis!”

Mendengar obrolan mereka yang dilakukan sambil tertawa-tawa itu, Mimi merasa muak dan marah sekali. Tidak disangkanya sama sekali bahwa di antara para prajurit kerajaan terdapat orang-orang semacam itu, yang tiada ubahnya gerombolan perampok saja. Kalau menuruti panasnya hati, ingin ia menyusul mereka dan menghajar mereka sepuas hatinya. Akan tetapi, Bouw Ku Cin melarangnya.

“Bukankah kau menghendaki bukti? Kalau hanya obrolan mereka itu, bukan bukti namanya. Apa lagi mereka dalam keadaan setengah mabok, mana omongan mereka dapat dipercaya? Kita lihat saja perkembangannya. Kalau mereka benar melaksanakan apa yang mereka ucapkan tadi, baru kita turun tangan.”

Mimi mengangguk karena ia dapat melihat kebenaran ucapan kakanya. Mereka membayangi terus dan tak lama kemudian rombongan itu telah tiba di luar sebuah dusun yang berada di Lembah Sungai Huai. Dari luar dusun saja sudah dapat terdengar suara musik yang menandakan bahwa di dalam dusun itu memang benar sedang diadakan sebuah pesta.

Rombongan prajurit itu semakin gembira dan mereka memasuki dusun dengan barisan yang tidak teratur lagi. Ku Cin dan Mimi juga memasuki dusun, berbaur dengan penduduk yang agaknya datang dari dusun lain dan ingin menonton keramaian.

Yang mempunyai kerja memang Lurah So, kepala dusun Lam-kiang yang cukup ramai karena daerah itu memang makmur, tanahnya subur dan perairannya mengandung banyak ikan. Sejak pagi tadi, rumah kepala dusun itu telah dihias dan sepasang mempelai telah duduk bersanding. Biarpun yang menikah adalah puterinya, namun karena dia kepala dusun, maka pengantin puteri belum dibawa pergi karena kepala dusun mengadakan penyambutan pengantin pria dengan pesta yang meriah.

Ruangan tamu di depan rumah, sebuah panggung bangunan darurat, telah penuh dengan tamu, bahkan di luar pekarangan juga terdapat banyak penduduk dusun yang menonton keramaian itu, mendengarkan musik dan nyanyian, dan menonton tarian. Bahkan mereka ini kebagian kue yang dibagikan oleh pelayan sehingga suasana menjadi gembira bukan main.

Akan tetapi selagi orang berpesta, muncul seorang laki-laki tinggi besar yang melangkah memasuki tempat pesta. Laki-laki ini usianya empat puluh tahun lebih, mukanya penuh brewok dan tubuhnya sungguh menakutkan, tinggi besar dan nampak kokoh kuat. Sebatang golok besar tergantung di punggungnya. Melihat orang ini, pihak tuan rumah mengira bahwa ada tamu yang datang terlambat, maka wakil tuan rumah cepat maju menyambut.

Tamu itu seperti tidak memperdulikan dua orang wakil tuan rumah yang menyambut. Dia celingukan memandang ke sana sini lalu berkata dengan senyum menyeringai, “Bagus! Perutku sudah lapar, mulutku sedang haus, dan di sini terdapat arak dan makanan berlimpahan. Aku harus mendapatkan sebuah meja di tepi sana, di tengah terlalu banyak orang!”

Tentu saja dua orang yang menyambut itu menjadi tertegun. Seorang di antara mereka berkata, “Harap saudara memperkenalkan nama dan lebih dahulu memberi selamat kepada Lurah So.”

Akan tetapi orang tinggi besar itu hanya berkata, “Aku mau makan minum, bukan menemui Lurah So!” dan dengan langkah lebar dia menuju ke tepi ruangan itu dan menghampiri sebuah meja di mana duduk enam orang tamu.

“Heii, kalian semua pindah ke lain tempat. Meja ini untukku seorang!” katanya.

Tentu saja enam orang tamu itu menjadi marah. “Engkau ini manusia kurang ajar dari mana berani datang mengusir kami. Tuan rumah So telah menerima kami sebagai tamu, dan kau...”

Raksasa itu melotot. “Cerewet! Pergilah dan jangan banyak cakap atau kalian sudah bosan hidup?” Berkata demikian, orang itu menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan besar, dan enam orang tamu itupun terpelanting ke kanan kiri! Raksasa itu terkekeh, lalu duduk menghadapi meja yang masih penuh hidangan, kemudian berseru sambil menoleh ke arah pihak tuan rumah.

“Heii, makanannya cukup, akan tetapi araknya kurang. Tambahkan arak!” Dan diapun mulai menggunakan sepasang sumpit, melahap makanan yang berada di atas meja, mulutnya mengeluarkan suara seperti seekor babi sedang makan.

Enam orang tamu itu tentu saja terkejut dan marah, akan tetapi pada saat itu, Lurah So sendiri sudah maju dan dengan sikap ramah minta kepada enam orang itu untuk berpindah ke meja lain yang sengaja dipersiapkan untuk mereka. Dia sendiri lalau menghampiri raksasa yang duduk makan minum, memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.

“Harap lo-cianpwe sudi memaafkan kami yang tidak tahu akan kunjungan lo-cianpwe maka terlambat menyambut. Bolehkan kami mengetahui siapa nama lo-cianpwe?”

Kakek raksasa itu menunda sumpitnya, menoleh dan memandang kepada Lurah So, “Siapakah engkau?”

“Saya adalah Lurah So yang merayakan pernikahan puteri kami...”

“Hemm, tuan rumah ya? Aku datang tidak diundang olehmu, melainkan diundang oleh bau arak dan masakan. Perutku sedang lapar maka aku ikut makan. Dan karena engkau sedang mempunyai kerja, kusumbangkan ini untuk pengantinnya!” Raksasa itu mengeluarkan sebongkah emas dari sakunya dan menyerahkannya kepada Lurah So.

Lurah itu menerimanya dengan terbelalak. Sumbangan itu sungguh royal bukan main. Tidak ada di antara semua tamu yang memberi sumbangan yang lebih berharga dari pada sebongkah emas itu.

“Terima kasih, akan kami catat sumbangan berharga dari lo-cianpwe, akan tetapi atas nama siapakah?”

“Tulis saja dari Tay-lek Kwi-ong,” kata si raksasa dan diapun melanjutkan makan minum.

Lurah So terkejut, bahkan para tamu yang mendengar disebutnya Tay-lek Kwiong (Raja Iblis Tenaga Besar) itu menjadi terbelalak dan jerih. Itu adalah nama julukan seorang tokoh sesat yang diketahui semua orang. Lurah So cepat menghaturkan terima kasih dan mengundurkan diri. Pesta dilanjutkan dan berguci-guci arak disuguhkan ke meja Tay-lek Kwi-ong yang minum arak seperti orang minum air putih saja.

Karena raksasa itu makan minum sendiri dan tidak membuat ulah, maka pesta berjalan terus dengan lancar dan para tamu tidak lagi memperhatikannya. Juga pihak tuan rumah sudah merasa tenang kembali karena orang yang ditakuti itu ternyata tidak mengganggu, hanya ingin ikut makan minum dan memberi sumbangan yang puluhan kali lebih berharga dari pada hidangan yang disuguhkan kepadanya.

Akan tetapi, tiba-tiba para tamu yang duduk di bagian luar ruangan itu menjadi panik, bahkan para penonton yang berada di luar pagar pekarangan juga banyak yang berlarian menjauhkan diri. Ketika Lurah So dan keluarganya bangkit dan melihat, ternyata yang muncul adalah dua belas orang berpakaian prajurit!

Tentu saja mereka semua menjadi pucat karena mereka sudah tahu bahwa setiap kali pasukan keamanan pemerintah memasuki sebuah dusun, tentu mereka akan bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi, karena dia seorang lurah yang merupakan ponggawa terendah dari kerajaan, diapun tergopoh menyambut, rombongan prajurit itu.

“Silahkan duduk, cu-wi (anda sekalian) yang mulia. Kebetulan kami sedang mengadakan pesta, mari silahkan cu-wi ikut menikmati hidangan,” kata Lurah So tergopoh-gopoh dan para pembantunya cepat menyiapkan sebuah meja besar untuk dua belas orang prajurit itu.

Para prajurit itu tersenyum mengangguk-angguk, memandang ke sekeliling. Para tamu wanita sudah ketakutan dan berusaha menyembunyikan diri. Kepala regu yang tinggi besar bermuka hitam segera memandang ke arah pengantin wanita dan dia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, kiranya Lurah So sedang merayakan pernikahan anak perempuannya yang cantik. Mari, nona pengantin, sebelum engkau ikut dengan suamimu, mari menerima kehormatan dariku dan makan bersamaku!”

Dia lalu melangkah lebar ke arah sepasang mempelai yang duduk bersanding dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah memegang lengan pengantin wanita lalu menariknya...

Jilid selanjutnya,
RAJAWALI LEMBAH HUAI JILID 21