Rajawali Lembah Huai Jilid 16, karya Kho Ping Hoo - MALAM itu hujan turun dengan derasnya. Shu Ta baru saja menghadap Yauw-Ciangkun, atasannya dan dia melaporkan bahwa dia sedang berusaha agar dua orang tawanan itu membuka rahasia dan mengakui tentang kawan-kawan mereka agar pasukan dapat melakukan pembersihan total.

“Mereka berdua adalah orang-orang penting dalam gerombolan pemberontak,” demikian antara lain dia melapor dan mengajukan usul. “Oleh karena itu, saya bersikap sabar dan memberi waktu kepada mereka semalam ini untuk berpikir dan memilih, yaitu pada besok hari, mereka menceritakan tentang tempat persembunyian kawan-kawan mereka, atau mereka akan disiksa perlahan-lahan sampai mereka tidak tahan dan terpaksa mengaku juga. Hal ini penting sekali, Ciangkun. Kalau membunuh mereka begitu saja, mereka mati tanpa ada manfaatnya bagi kita. Sebaliknya kalau mereka mau mengaku, kita untung besar dan dapat membasmi para pemberontak dengan cepat.”
Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk dan tersenyum. “Aku percaya padamu, Shu-Ciangkun. Terserah kepadamu untuk bertindak.”
Demikianlah, ketika malam itu turun hujan, Shu Ta merasa gembira di dalam hatinya. Agaknya alam juga membantu lancarnya siasat yang akan dilakukannya malam itu. Dia telah mempersiapkan segalanya. Dia lalu mengadakan perondaan, hal yang tidak luar biasa karena komandan muda ini memang seringkali turun ke lapangan dan di waktu malam suka melakukan perondaan untuk memeriksa sendiri para prajurit yang melakukan penjagaan.
Dalam hal ini, dia bersikap keras dan berdisiplin. Maka, ketika malam itu dia meronda, dari ujung benteng di pintu gerbang sampai ke tempat tawanan umum dan tawanan istimewa, para penjaga tidak merasa heran. Shu Ta sempat memberi teguran di sana-sini, dan memperingatkan bahwa malam itu terdapat dua orang tawanan penting, maka penjagaan harus diperketat. Bahkan dia memerintahkan agar malam itu diadakan perubahan pada cara perondaan.
“Malam ini, setiap satu jam sekali, dari menara harus dibunyikan lonceng lima kali dengan nyaring agar semua penjaga tidak sampai tertidur. Dan setelah lonceng berbunyi, seregu penjaga harus melakukan perondaan memutari tembok benteng dengan mengambil searah jarum jam, dari kanan terus memutar sampai kembali, ke pintu gerbang. Hujan lebatpun, perondaan harus dilakukan! Siapa melanggar, akan dihukum berat! Ingat, aku ikut mendengarkan lonceng itu, dan perondaan harus tepat pada waktunya.”
Setelah meninggalkan pesan ini kepada kepala penjaga, yaitu perwira yang bertugas malam itu, Shu-Ciangkun lalu meronda ke tempat tahanan istimewa, di mana malam itu hanya ada dua orang tahanan, yaitu Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen.
Dia memeriksa keadaan ruangan tahanan itu. Ada seorang penjaga di setiap pintu dan tempat itu mempunyai tujuh lapis pintu! Sungguh merupakan tempat yang amat kokoh kuat dan betapapun tinggi tingkat kepandaian seseorang, kalau dia disekap di dalam tempat itu, jangan harap akan mampu meloloskan diri. Di bagian dalam sendiri terdapat tujuh orang penjaga sehingga jumlah mereka dari depan sampai ke dalam ada empat belas orang penjaga.
Setiap tiga jam sekali, empat belas orang ini diganti dengan tenaga yang masih baru sehingga tidak mungkin ada yang mengantuk. Kalau ada tahanan hendak melarikan diri, lebih dahulu dia harus membunuh tujuh orang penjaga sebelah dalam itu, lalu dia harus mampu membuka setiap pintu baja sampai tujuh kali, pada hal semua pintu terkunci dari luar, dan harus membunuh setiap orang penjaga.
Sebelum dia dapat melakukan ini, si penjaga tentu saja dapat memukul kentungan tanda bahaya dan dalam waktu sebentar saja tempat itu akan dipenuhi pasukan. Tidak, tidak mungkin orang dapat melarikan diri dari situ, betapapun lihainya. Shu Ta memesan kepada semua penjaga agar malam itu hati-hati melakukan penjagaan dan siapapun juga orangnya, malam itu tidak diperkenankan masuk, kecuali kalau dia sendiri hendak memeriksa tahanan.
Tak lama setelah Shu Ta kembali kebangunan tempat tinggalnya sendiri dalam perbentengan itu, nampak bayangan hitam berkelebat dan menyelinap di antara kegelapan bayang-bayang bangunan di dalam benteng itu. Agaknya dia mengenal baik keadaan di situ. Dia menyusup-nyusup dan menghindarkan pertemuan dengan para petugas yang melakukan penjagaan malam itu.
Betapapun ketatnya penjagaan karena malam itu turun hujan, maka para petugas agak enggan untuk berhujan-hujan dan mereka hanya berjaga-jaga di pos penjagaan. Tak seorangpun dapat melihat berkelebatnya bayangan yang gerakannya amat cepat itu, apa lagi malam itu amat gelapnya, biarpun hujan turun sejak tadi, langit masih saja gelap.
Setelah tiba di pintu pertama tempat tahanan istimewa, bayangan itu telah berubah menjadi Panglima Shu Ta, berpakaian lengkap. Tentu saja penjaga pintu pertama terkejut melihat munculnya komandan ini. Memang tidak aneh, kalau sang komandan melakukan perondaan, akan tetapi di malam hujan dan gelap dingin seperti itu!
“Buka pintu, aku akan memeriksa tawanan, lalu tutup lagi pintu, kunci dari dalam dan kau ikut mengawalku masuk,” kata sang komandan dengan singkat, namun suaranya mengandung perintah yang tidak boleh dibantah.Penjaga itu tentu saja melaksanakan perintah ini dengan girang bahwa dia disuruh mengawal masuk karena diapun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan panglima yang bertangan besi terhadap para penjahat itu terhadap dua orang pemberontak yang ditawan.
Shu Ta mengulangi perintahnya di pintu-pintu berikutnya, yaitu mengunci pintu kembali dari dalam dan memerintahkan penjaga ikut pula mengawalnya masuk. Sikap ini tentu saja tidak membuat para penjaga itu seujung rambutpun tidak mencurigai panglima ini.
Panglima itu menyuruh mereka mengunci pintu dan mengajak mereka ikut masuk. Jelas ini merupakan langkah keamanan dan mereka merasa terhormat dipercaya untuk ikut masuk ke dalam tempat yang sesungguhnya terlarang oleh siapapun kecuali sang komandan dan petugas yang melakukan tugas jaga di dalam.
Tujuh orang penjaga di dalampun merasa heran ketika melihat komandan mereka muncul dikawal tujuh orang penjaga pintu. Kini Shu Ta berada di depan ruang tahanan bersama empat belas orang prajurit penjaga.
“Kalian semua harus berjaga dengan ketat di luar ruangan tahanan. Aku akan memeriksa tahanan dan membujuk mereka agar mengaku. Awas, semua siap, akan tetapi sebelum ada perintah dariku, jangan bergerak. Mereka terbelenggu, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kepala jaga, serahkan kunci-kuncinya kepadaku!”
Seuntai kunci diserahkan kepala jaga kepada Shu Ta, terdiri dari dua kunci pintu baja dan dua buah kunci belenggu kaki tangan dua orang tawanan itu. Setelah sekali lagi memperingatkan mereka untuk berjaga-jaga di luar menanti perintahnya, Shu Ta sendiri membuka pintu ruangan itu. Ketika dia memasuki ruangan itu, Goan Ciang dan Hui Yen yang sejak tadi sudah mendengarkan suara Shu Ta dan mereka berdua sudah siap siaga.
“Panglima Mongol jahanam busuk, mau apa engkau masuk ke sini? Pergi, engkau memuakkan perutku saja!” terdengar Yen Yen berteriak memakimaki.
“Hemm, panglima Mongol, kami sudah tertawan dan kami siap menerima hukuman mati. Tidak ada gunanya bagi engkau membujuk kami, kami tetap tidak mau membantumu. Bunuhlah kalau kau mau membunuhku!” kata pula Goan Ciang dengan suara penuh geram.
Sementara itu, Shu Ta sudah mengeluarkan kunci dan membuka belenggu kaki tangan dua orang itu selagi mereka memaki-makinya, dan dia berbisik, “Di luar ada empat belas orang pengawal, kita harus membunuh mereka dengan serentak, suheng. Kalau ada seorang saja yang lolos, kita bertiga takkan dapat lolos, dari sini!”
Goan Ciang sudah dapat mengerti dan dia merangkul Shu Ta. “Baik, sute, mari kita bunuh mereka!”
“Kalian pura-pura masih terbelenggu dan rebah, akan kupanggil mereka semua ke sini,” bisik Shu Ta dan diapun menjenguk keluar dari pintu kamar tahanan dan berteriak,
“Kalian semua ke sini, aku membutuhkan bantuan kalian. Semua ke sini, jangan ada yang berada di luar!”
Mendengar perintah ini, empat belas orang penjaga itu seperti berlomba memasuki kamar tahanan. Hal ini tidak aneh karena seorang di antara dua tawanan itu adalah seorang gadis yang amat cantik manis dan mereka mengharapkan untuk dapat memperoleh tugas menggarap gadis itu agar mengaku.
Melihat empat belas orang itu sudah masuk semua, Shu Ta malah melangkah keluar dan menjaga di pintu, seolah menjaga agar dua orang tawanan itu tidak dapat lari keluar. Setelah empat belas orang itu memasuki kamar tahanan sehingga agak berhimpitan, mereka tidak tahu harus berbuat apa karena belum ada perintah. Mereka semua menghadap ke arah pintu sehingga membelakangi dua orang tawanan yang masih rebah miring. Mereka semua menanti perintah dari sang komandan.
Akan tetapi pada saat itu, dua orang tawanan yang tadinya nampak rebah miring dengan kaki tangan terbelenggu, tiba-tiba berloncatan bangun dan begitu kaki tangan mereka bergerak, empat orang penjaga roboh! Yen Yen merampas sebatang tombak, sedangkan Goan Ciang merampas sebatang pedang, lalu kedua orang ini mengamuk dari dalam.
Tentu saja para penjaga itu terkejut setengah mati menghadapi amukan dua orang itu. Mereka tadinya tertegun melihat empat orang rekan mereka roboh, tidak tahu apa yang terjadi. Ketika melihat empat orang itu roboh oleh serangan dua orang tawanan yang tadinya rebah di lantai, mereka tidak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi.
Mereka segera mencabut senjata dan melawan sedapat mungkin, akan tetapi karena tempat itu sempit dan mereka tidak melakukan persiapan, diserang secara mendadak sehingga panik, maka sebentar saja, empat orang roboh lagi oleh tombak Yen Yen yang dimainkan seperti tongkat, dan pedang di tangan Goan Ciang.
Enam orang prajurit, sisa dari empat belas orang itu menjadi semakin panik dan mereka berdesakan hendak keluar dari kamar tahanan. “Ciangkun..., bagaimana ini...?” teriak mereka dengan bingung.
Akan tetapi, sambutan yang mereka dapat dari Shu Ta menghilangkan kebingungan mereka, Shu Ta menggerakkan pedang dan membunuh dua orang yang berada paling depan. Tahulah mereka bahwa ini merupakan suatu pengkhianatan dari komandan mereka itu! Empat prajurit membalik dan melawan mati-matian, namun dengan mudah Goan Ciang dan Hui Yen merobohkan mereka.
Habislah empat belas orang itu, roboh semua oleh tiga orang itu. Shu Ta tidak mau mengambil resiko, dia mengajak Goan Ciang untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti dan menambah tusukan maut bagi mereka yang belum tewas sehingga mereka yakin bahwa empat belas orang itu sudah tewas semua.
“Sekarang, dengar baik-baik, suheng. Aku menjadi panglima agar kelak dapat membantumu dari dalam. Engkau dari luar dan aku dari dalam. Bagus, bukan?”
Goan Ciang tidak menjawab, hanya merangkul dan menepuk-nepuk pundak sutenya. “Sekarang, apa yang akan kita lakukan, sute?”
“Nah, perhatikan rencanaku ini. Siasat ini harus dilaksanakan sebaik mungkin karena kalau gagal, membahayakan keselamatan kita dan berarti menggagalkan pula perjuangan kita.” Dia lalu bicara berbisik-bisik namun singkat dan jelas. Setelah Goan Ciang dan Hui Yen mengangguk-angguk mengerti, barulah Shu Ta merasa puas.
“Nah, sekarang aku akan membuka satu demi satu tujuh pintu depan. Bantu aku mengambil kunci-kunci itu dari dalam saku baju para penjaga, suheng. Yang itu, dan itu, dan di sana itu...”
Bukan hanya Goan Ciang, juga Hui Yen tanpa diperintah sudah ikut membantu, mencari dan mengambil kunci dari saku baju para penjaga yang ditunjuk dan yang telah menjadi mayat. Tidak lama kemudian, tujuh lapis pintu itu terbuka semua dari dalam dan yang keluar dari pintu paling luar adalah dua orang prajurit dan seorang berpakaian dan berkedok hitam!
Tentu saja si kedok hitam adalah Shu Ta dan dua orang pelarian itu melucuti dan mengenakan pakaian dua orang di antara para prajurit yang tewas. Karena sudah hafal benar akan keadaan dalam perbentengan itu, tentu saja tidak sukar bagi Shu Ta untuk mencari jalan paling aman sehingga mereka dapat mendekati pagar tembok tanpa diketahui seorangpun penjaga.
Dari dalam segerombolan semak Shu Ta mengeluarkan segulung tali yang dipasangi kaitan di ujungnya. Semua terjadi sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkannya sore tadi. Dia mengajak dua orang pelarian itu bersembunyi di belakang semak yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari pagar tembok dan menanti. Hujan masih turun rintik-rintik dan malam gelap sekali. Tak lama kemudian, terdengar bunyi pukulan lonceng dan seperti yang sudah diperintahkan Shu-Ciangkun, beberapa orang peronda lewat.
Goan Ciang dan Hui Yen cepat keluar dari balik semak belukar, berlari mendekati pagar tembok dan Goan Ciang segera melemparkan ujung tali yang ada kaitannya ke atas. Sekali lempar, kaitan itu meluncur ke atas membawa tali dan berhasil menggait tepi pagar di atas. Setelah menarik-narik tali itu dan mendapat kenyataan bahwa kaitannya cukup kuat, dia memberi isarat kepada Hui Yen dan mereka lalu merayap naik melalui tali yang kuat itu.
Setibanya di atas pagar tembok, mereka mendekam dan Goan Ciang menarik tali itu ke atas tembok. Tali itu masih mereka butuhkan. Meloncat begitu saja ke bawah dari pagar tembok setinggi itu, mengandung bahaya besar karena di luar pagar tembok masih terdapat banyak penjaga yang selalu melakukan perondaan.
Sesuai dengan siasat yang sudah diatur Shu Ta, mereka kini menanti di atas pagar tembok dan memandang ke arah pos penjagaan di depan pintu gerbang benteng. Shu Ta sudah memilih tempat yang paling tepat. Benteng itu terkurung parit yang berisi air dan keadaannya amat berbahaya, sukar untuk dapat diseberangi. Bagian yang dipilih Shu Ta itu dekat dengan pintu gerbang yang merupakan bagian paling sulit dilalui karena banyaknya pasukan yang berjaga.
Ketika Goan Ciang dan Hui Yen memperhatikan ke bawah, ternyata di luar pagar tembok di bawah mereka terdapat bangunan kecil seperti pondok berjajar lima. Tempat ini adalah tempat peristirahatan bagi para prajurit yang tidak berjaga, juga menjadi tempat penyimpanan ransum, dapur dan penyimpanan senjata.
Kedua orang pelarian itu ingat benar akan pesan Shu Ta tadi, pesan yang barus dilaksanakan dengan cermat. Sebentar lagi rombongan peronda di atas pagar tembok benteng yang tebal itu akan lewat dan di atas itu tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri. Mereka akan ketahuan, dan kalau ketahuan di atas tembok itu, tentu saja amat membahayakan mereka dan sukar untuk dapat meloloskan diri.
Tiba-tiba terdengar teriakan dan keributan di bawah, sebelah dalam. Tahulah Goan Ciang bahwa sutenya sudah bertindak, sesuai dengan siasat yang telah diaturnya. Shu Ta telah memancing perhatian di sebelah dalam pagar tembok.
“Mari kita turun cepat dan hati-hati,” bisiknya kepada Hui Yen dan diapun melepas gulungan tali yang ujungnya sudah dikaitkan di atas itu, ke bawah. Lalu keduanya merayap turun dengan cepat sehingga mereka dapat tiba di atas atap pondok-pondok itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Akan tetapi, tetap saja ada seorang penjaga yang melihat mereka. Penjaga itu berteriak dan sedikitnya tiga puluh orang prajurit mengepung pondok itu sambil berteriak-teriak. Di antara mereka bahkan ada yang sudah berloncatan ke atas genteng pondok. Dua orang pertama yang meloncat ke atas genteng, disambut oleh Goan Ciang dan Hui Yen. Mereka terjungkal ke bawah sambil mengaduh.
Para prajurit yang berada di bawah menjadi gempar. Kini banyak orang yang berloncatan ke atas, dan pada saat itu, Goan Ciang dan Hui Yen meloncat turun! Dua orang pelarian ini menyelinap di antara para prajurit yang berteriakteriak itu dan karena tempat itu gelap, hanya remang-remang saja diterangi lampu gantung dari pondok, maka tentu saja para prajurit menganggap mereka itu kawan sendiri.
“Ini penjahatnya!” Seorang prajurit yang berada dekat dengan Hui Yen berseru, akan tetapi teriakannya tadi menyadarkan para rekannya bahwa dua orang yang berpakaian seperti mereka itu adalah orang-orang yang tidak mereka kenal, maka mereka segera mengepung dan mengeroyoknya.
Goan Ciang dan Hui Yen mengamuk. Mereka dikepung oleh kurang lebih tiga puluh orang prajurit. Di antara mereka ada yang membawa obor sehingga tempat itu menjadi agak terang, Goan Ciang dan Hui Yen mengamuk, dapat merobohkan empat orang pengeroyok.
“Lari...!” teriaknya kepada Hui Yen. Seperti telah dipesankan oleh Shu Ta, mereka harus cepat-cepat melarikan diri karena kalau sampai bala bantuan tiba, mereka akan dikepung oleh ratusan, bahkan ribuan orang prajurit dan tidak mungkin lagi mereka akan dapat meloloskan diri. Jalan satu-satunya untuk dapat keluar dari daerah perbentengan itu hanya melalui jembatan di depan pintu gerbang.
Saat itu, yang bertugas jaga di depan pintu gerbang hanya sekitar empat puluh orang. Akan tetapi dalam waktu singkat, jumlah itu dapat bertambah menjadi puluhan kali lipat banyaknya! Shu Ta menjamin bahwa penambahan jumlah itu tidak akan dapat terjadi dengan cepat karena dia yang akan mengacau dan memancing perhatian di sebelah dalam sehingga tidak ada perhatian diluar tembok. Apa lagi, puluhan orang prajurit di luar tembok itu tentu merasa tidak perlu minta bantuan dari dalam kalau hanya menghadapi dua orang pelarian saja.
Terjadi pengejaran di sekitar pintu gerbang. Kembali Hui Yen dan Goan Ciang mendapatkan keuntungan karena penyamaran mereka. Mereka berdua berloncatan dan berlarian, menyelinap di antara pondok dan kadang kalau mendadak bertemu prajurit, si prajurit agak tertegun karena mengira rekan mereka sendiri. Keraguan yang hanya beberapa detik ini cukup bagi kedua orang pelarian itu untuk merobohkan lawan.
Akhirnya, Goan Ciang dan Hui Yen berhasil menyeberangi jembatan setelah merobohkan belasan orang prajurit. Para prajurit menjadi gempar, sebagian melakukan pengejaran dan ada pula yang memukul tanda bahaya memberi isyarat ke dalam!
Sementara itu, di dalam perbentengan terjadi kegemparan. Seorang yang berpakaian hitam dan berkedok hitam telah merobohkan empat orang berturut-turut. Yang diserang adalah para peronda, kemudian bayangan hitam itu nampak berkelebatan di dekat pintu gerbang, merobohkan lagi dua orang prajurit.
Tentu saja dia segera dikeroyok, akan tetapi dengan gesitnya dia berloncatan dan menyusup ke sana sini, dikejar oleh para prajurit. Tentu saja suasana menjadi geger dan kacau. Teriakan-teriakan para prajurit membuat suasana menjadi semakin kacau.
Ketika si kedok hitam lenyap ditelan kegelapan, ada prajurit yang memukul tanda bahaya dengan gencarnya. Tak lama kemudian, Panglima Shu Ta muncul dengan pedang di tangan. Dia nampak seperti baru bangun tidur dan pakaiannyapun tidak lengkap, seperti tergesa-gesa.
“Apa yang telah terjadi?” bentaknya. Para perwira juga bermunculan dan semua bertanya apa yang terjadi.
“Ada seorang berkedok hitam mengacau dan membunuh beberapa orang prajurit, Ciangkun!” seorang prajurit melapor.
“Ahhh! Kita cepat memeriksa tempat tahanan. Hayo ikut dengan aku!” kata Shu-Ciangkun.
Tujuh orang perwira dan belasan orang prajurit segera mengikutinya dan mereka berlari-lari menuju ke tempat tahanan. Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya semua orang ketika mendapat kenyataan bahwa tujuh lapis pintu itu telah terbuka semua. Mereka menyerbu masuk dan ketika mereka tiba di tempat tahanan, mereka terbelalak melihat betapa empat belas orang prajurit penjaga telah tewas semua dan mayat mereka bertumpuk dan berserakan di dalam kamar tahanan! Dua orang tahanan telah lenyap!
“Celaka!” Shu-Ciangkun berteriak. “Tentu si kedok hitam itu yang membebaskan mereka. Hayo kerahkan semua pasukan, cari dan kejar!”
Para perwira berlarian keluar untuk melaksanakan perintah itu, dan ketika Yauw-Ciangkun datang, diapun menjadi marah bukan main. “Bagaimana mungkin dua orang tawanan yang berada di dalam benteng dapat melarikan diri begitu saja? Ini tentu ada bantuan dari dalam!” katanya.
“Saya pun berpendapat begitu, Ciangkun!” kata Shu Ta. “Kita harus dapat menangkap si kedok hitam itu, dan menangkap kembali dua orang tahanan!”
Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya. “Shu-Ciangkun, sekali ini aku agak kecewa. Kenapa engkau tidak segera suruh bunuh saja dua orang pemberontak itu, dan menggantungkan kepala mereka di pintu gerbang? Kini mereka lolos dan ini merupakan pukulan hebat bagi kita.”
“Maaf, Yauw-Ciangkun. Tadinya saya berniat untuk membujuk mereka agar mengaku di mana adanya kawan-kawan mereka. Saya memberi waktu semalam ini, bahkan malam tadi saya masih sempat mengunjungi mereka dan membujuk serta menggertak mereka.”
“Hemm, dan apa hasil bujukan itu? Sia-sia saja.”
“Tidak sia-sia, Ciangkun,” bantah Shu Ta. “Dalam kunjungan itu saya memeriksa keadaan para penjaga dan memesan agar mereka waspada. Selain itu, juga ada hasil lain, yaitu pengakuan tawanan perempuan itu setelah dia saya ancam. Tapi ini, mereka yang terluka dibawa menghadap, kita dapat menanyai mereka, Ciangkun.”
Memang Shu Ta memerintahkan agar para prajurit yang terluka dibawa menghadap agar dapat ditanyai akan tetapi kini yang dibawa menghadap bukan hanya prajurit yang berada di dalam, juga prajurit yang dari luar benteng! Pintu gerbang benteng sudah dibuka dan bala bantuan dari dalam ikut pula melakukan pengejaran keluar namun sia-sia. Dua orang itu telah lenyap.
Panglima Yauw dan Panglima Shu menanyai para prajurit yang terluka. Mereka yang terluka oleh si kedok hitam, segera menceritakan pengalaman mereka. Akan tetapi mereka hanya melihat seorang yang berpakaian hitam dan berkedok, berkelebatan dan ketika hendak ditangkap, si kedok hitam itu merobohkannya dengan pedang.
“Si kedok hitam itu lihai sekali, Ciangkun. Kami tujuh orang sudah mengepungnya dan mengeroyoknya, akan tetapi dua orang di antara kami roboh dan dia sudah meloncat dan hilang.”
“Si kedok hitam mengamuk dekat pintu gerbang, merobohkan dua orang termasuk saya, dan ketika dia dikepung, diapun dapat meloloskan diri, meloncat dan menghilang, gerakannya cepat bukan main, Ciangkun,” kata prajurit ke dua yang terluka.
Kemudian, prajurit yang terluka di luar benteng, menceritakan pengalamannya. “Kami melihat dua orang turun dari pagar tembok dan berada di atap pondok penjagaan di luar, Ciangkun. Kami segera menyergap mereka, akan tetapi mereka itu lihai. Selain itu, ketika mereka berloncatan turun, kami sempat dibikin bingung karena mereka mengenakan pakaian prajurit seperti kami dan malam cukup gelap. Dalam keadaan ragu dan bingung, mereka dapat merobohkan beberapa orang di antara kami dan mereka melarikan diri melalui jembatan.”
“Kalian semua tolol! Goblok!” Shu-Ciangkun membentak-bentak marah. “Hanya menghadapi dua orang buronan di luar benteng, dan seorang berkedok hitam di dalam benteng saja kalian tidak mampu menangkap mereka? Kalian semua patut dihukum!”
Akan tetapi, Yauw-Ciangkun mengajak Shu-Ciangkun untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian. Mereka mendapatkan bahwa dua orang di antara empat belas prajurit yang tewas di kamar tahanan, hanya berpakaian dalam saja. Kemudian mereka juga menemukan tali berujung kaitan di atas pondok penjagaan di luar pintu gerbang.”
“Hemm, sekarang jelas sudah,” kata Yauw-Ciangkun. “Si kedok hitam itulah yang membantu dua orang tawanan. Akan tetapi sungguh luar biasa sekali bagaimana dia mampu melewati pintu yang tujuh lapis dan membunuh semua penjaga di sebelah dalam sehingga tidak ada yang mendengar atau yang mengetahui. Setelah membebaskan dua orang tawanan yang menyamar sebagai prajurit.
"Lalu dua orang tawanan itu melarikan diri menggunakan tali ini. Dua orang tawanan itu berhasil meloloskan diri karena si kedok hitam di sebelah dalam benteng sengaja menimbulkan kekacauan sehingga para prajurit di sebelah dalam benteng tidak sempat membantu ke luar benteng untuk ikut mengepung dan menangkap dua orang buronan. Sungguh cerdik sekali si kedok hitam!”
“Akan tetapi bagaimana dia dapat memasuki benteng?” Shu-Ciangkun membantah.
“Kalau dia orang luar, tidak mungkin dapat masuk benteng tanpa diketahui! Saya hampir yakin bahwa dia tentulah mata-mata yang berhasil menyelundup ke dalam benteng, mungkin selama ini dia telah bersembunyi dan kita tidak tahu di mana. Dan lebih besar lagi kemungkinan dia masih berada di dalam benteng. Saya akan memerintahkan pasukan penyelidik melakukan penggeledahan dan pemeriksaan di dalam benteng, Yauw-Ciangkun.”
“Memang sebaiknya begitu. Kalau saja kau suruh bunuh dua orang tawanan itu, tentu tidak akan terjadi peristiwa malam ini. Akan tetapi tadi kau mengatakan bahwa penundaan hukuman mati sampai besok itu tidak sia-sia dan menghasilkan pengakuan tawanan perempuan itu. Pengakuan yang bagaimana?”
“Inilah yang saya katakan tidak sia-sia, Ciangkun. Kita dapat melakukan pembalasan atas kekalahan kita malam ini dengan lolosnya kedua orang tawanan itu! Perempuan muda itu telah memberitahukan di mana sarang kawan-kawannya, yaitu orang-orang Hwa I Kaipang yang kini tidak lagi memperlihatkan diri.”
“Bagus sekali kalau begitu! Memang akupun merasa heran mengapa setelah kita ketahui bahwa Hwa I Kaipang menentang pemerintah, dan bermusuhan dengan Hek I Kaipang, kini tak pernah nampak seorangpun pengemis berpakaian kembang. Tentu mereka telah bersembunyi. Dan engkau mengetahui tempat persembunyiannya? Di mana, Shu-Ciangkun?”
“Di lereng Bukit Bambu Kuning lembah sungai Yang-ce! Dan kita harus cepat bertindak sebelum mereka melarikan diri lagi. Siapa tahu, di sana kita dapat menemukan pula dua orang buronan itu!” Shu Ta lalu berbisik-bisik mengatur siasat dengan atasannya itu.
Mendengar keterangan pembantu utamanya ini, Yauw-Ciangkun menjadi gembira dan berkuranglah rasa tidak senangnya oleh peristiwa lolosnya dua orang buronan itu. Apa lagi melihat bawahannya memang tidak bersalah, bahkan kini bersungguh-sungguh untuk menumpas pemberontak.
Tak seorangpun dapat menduga bahwa lolosnya dua orang buronan itu karena siasat Shu-Ciangkun. Para prajurit melihat betapa malam itu panglima ini masih melakukan perondaan, bahkan memesan kepada para penjaga untuk melakukan penjagaan yang ketat. Bahkan dalam keadaan malam gelap, hujan dan dingin itu, dia masih memeriksa penjagaan, ke pintu gerbang, ke tempat tahanan umum, ke tempat tahanan istimewa.
Siapa yang akan menyangka bahwa orang berkedok hitam yang membebaskan dua orang pemberontak itu adalah sang panglima yang begitu getol memberantas pemberontak dan penjahat?
Pasukan yang kuat telah dikumpulkan dan tak lama kemudian, Panglima Shu sendiri yang memimpin pasukan itu, menjelang pagi bergerak menuju ke Bukit Bambu Kuning di lembah sungai Yang-ce.
Dengan tubuh lelah namun semangat tinggi dan hati penuh perasaan gembira, Goan Ciang dan Hui Yen akhirnya dapat lolos dari pengejaran para prajurit benteng. Mereka langsung saja keluar dari pintu gerbang kota Nan-king setelah menanggalkan pakaian prajurit yang mereka pakai di luar pakaian mereka sendiri.
Mereka berlari terus biarpun sudah keluar kota, dan baru berhenti mengaso setelah mereka bertemu dengan tempat persembunyian para anggota Hwa I Kaipang yang bermusuhan dengan Hek I Kaipang yang menjadi antek Mongol sehingga Hwa I Kaipang dicap sebagai pemberontak dan dikejar-kejar pasukan pemerintah, Hwa I Kaipang terpaksa meninggalkan markas besar mereka dan hanya mempunyai tempat-tempat pertemuan yang dirahasiakan.
Ketika para anggota Hwa I Kaipang menyambut wakil ketua mereka dan pembantunya, yaitu Tang Hui Yen dan Cu Goan Ciang, mereka gembira bukan main. Mereka telah mendengar berita ditawannya kedua orang pimpinan itu dan mereka sedang prihatin dan berbincang-bincang bagaimana mereka akan dapat menolong kedua orang pimpinan mereka yang kabarnya ditawan dalam benteng pasukan pemerintah di Nan-king.
Akan tetapi, kedua orang itu menghentikan kegembiraan mereka dengan memberi tugas kepada mereka. Semua anggota yang berada di situ dikumpulkan. Jumlah mereka hanya ada tiga puluh orang lebih.
“Sekarang juga, kita pergi ke Bukit Bambu Kunig dengan gerak cepat. Di lereng bukit itu terdapat sarang gerombolan perampok yang dipimpin oleh Yang-ce Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Yang-ce), dan kita bersembunyi tak jauh dari sarang mereka.
Kalau nanti sarang mereka itu telah diserbu pasukan pemerintah, baru kita keluar dan kita terjun ke dalam pertempuran. Untuk gerakan ini kita semua mengenakan pakaian lama Hwa I Kaipang, yaitu baju kembang,” kata Hui Yen, membuat semua anggota Hwa I Kaipang terheran-heran.
“Maaf, nona,” kata seorang di antara mereka, seorang anggota yang sudah setengah tua dan sudah lama menjadi anggota perkumpulan itu. “Setahu saya, kita adalah sekumpulan orang miskin yang tidak pernah mendekati penjahat, apa lagi bersekutu dengan mereka. Menentang pasukan pemerintah, memang tugas kita, akan tetapi membantu gerombolan perampok...??”
Cu Goan Ciang maklum akan keraguan mereka, maka cepat dia bicara. “Harap saudara sekalian ketahui bahwa gerakan kita sekarang ini sama sekali bukan untuk membantu para perampok. Biasanya kita bahkan menentang para perampok. Dalam gerakan kita ini, kitapun hanya berpura-pura saja membantu mereka, yaitu dengan jalan memperlihatkan diri sebagai anggota Hwa I Kaipang dengan pakaian kita, lalu kelihatan membantu.
"Hal ini merupakan siasat agar pasukan pemerintah benar-benar mengira bahwa tempat itu adalah sarang Hwa I Kaipang seperti yang mereka duga. Setelah kita memperlihatkan diri seperti membantu para perampok, kita harus cepat-cepat meninggalkan gelanggang pertempuran dan melarikan diri. Jangan sampai ada seorangpun di antara kita yang tewas. Mengerti?”
“Ada satu hal lagi. Di antara kalian yang merasa memiliki kepandaian dan kemampuan, sebelum melarikan diri harus sedapat mungkin menanggalkan baju kembang kalian dan mengenakan baju kembang itu pada mayat anggota gerombolan perampok agar nantinya pasukan itu mengira bahwa yang mereka tumpas benar-benar adalah anak buah Hwa I Kaipang. Nah, kiranya sudah jelas sekarang?”
Para anggota Hwa I Kaipang mengangguk-angguk dengan hati lega. Biarpun mereka tidak mengerti mengapa para pimpinan mereka mempergunakan siasat itu, namun mereka mentaati, apa lagi karena gerakan itu sama sekali bukan berarti mereka membantu para perampok, melainkan pelaksanaan dari suatu siasat para pimpinan mereka yang tidak mereka mengerti.
Tanpa beristirahat terlalu lama, Goan Ciang dan Hui Yen kembali melakukan perjalan, akan tetapi sekali ini, anak buah mereka menyediakan dua ekor kuda untuk mereka supaya tidak akan terlalu lelah menempuh perjalanan ke bukit itu.
Bukit Bambu Kunig merupakan sebuah di antara bukit-bukit yang terdapat di lembah sungai Yang-ce. Bukit ini rimbun dengan hutan bambu kuning, dan sejak lama bukit ini dianggap sebagai tempat berbahaya bagi para penduduk daerah itu.
Selain bukit yang penuh hutan bambu itu tidak memungkinkan tumbuhnya pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan lain yang menghasilkan, juga tempat itu sering dijadikan sarang gerombolan penjahat yang kejam. Oleh karena itu, para penghuni dusun di sekitar daerah itu merasa lebih aman untuk menjauhinya.
Pada waktu ini, di lereng bukit itu memang terdapat sarang gerombolan perampok yang ditakuti. Gerombolan yang anggotanya tidak kurang dari lima puluh orang ini dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang dijuluki Yang-ce Siang-houw (Sepasang Harimau Yang-ce), karena mereka berdua itu ganas seperti harimau. Anak buah mereka juga terkenal kejam dan jahat, juga rata-rata memiliki tubuh yang kekar dan watak yang buas di samping ilmu silat yang lumayan.
Pekerjaan mereka adalah merampok, atau membajak perahu para pedagang di sepanjang sungai, memaksakan kehendak mereka kepada para penduduk dusun. Pendeknya, mereka itu merampok, membunuh, memperkosa dan memaksakan segala kehendak mereka.
Agaknya tidak ada kejahatan yang mereka pantang melakukannya. Baru beberapa bulan gerombolan ini bersarang di lereng bukit itu, dipimpin oleh Yang-ce Siang-houw yang sebelumnya hanya melakukan kejahatan berdua saja tanpa anak buah.
Lewat tengah hari, pada hari itu, suasana di sarang gerombolan yang biasanya lengang itu, nampak meriah. Biarpun tidak terdapat pesta seperti yang biasa dilakukan rakyat, namun gerombolan itu sebetulnya sedang merayakan pesta pernikahan! Pernikahan dari dua orang pimpinan mereka. Kakak beradik Yang-ce Siang-houw itu, setelah kini menjadi pimpinan gerombolan, mengambil keputusan untuk membangun keluarga.
Mereka yang usianya hampir lima puluh tahun, menjatuhkan pilihan masing-masing kepada dua orang gadis dusun yang mereka culik dan mereka paksa menjadi isteri. Tentu saja tidak ada pesta perayaan yang dihadiri oleh keluarga dua orang gadis itu atau oleh penduduk dusun asal mereka. Pesta itu hanya merupakan pesta mabok-mabokan oleh para anggota gerombolan perampok.
Para wanita yang menemani mereka makan minum adalah para wanita yang tiada beda nasibnya dengan dua orang gadis yang dipaksa menjadi pengantin di hari itu, ialah wanita-wanita yang diculik dan dilarikan dari suami mereka atau dari orang tua mereka.
Karena lima puluh lebih anak buah gerombolan yang selalu yakin bahwa tidak ada seorangpun dari luar yang berani naik ke lereng itu, apa lagi memasuki daerah sarang mereka, maka mereka menjadi lengah. Mereka tidak tahu bahwa ada tiga puluh orang lebih bersembunyi di balik semak-semak, di belakang rumpun bambu. Bahkan mereka tidak tahu bahwa dua jam kemudian, pasukan pemerintah yang jumlahnya tiga ratus orang juga mendaki bukit itu dan mengepung sarang mereka.
Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Shu Ta sendiri, bahkan ditemani oleh Yauw-Ciangkun karena komandan atau panglima tertinggi di Nan-king ini merasa penasran dengan lolosnya dua orang tawanan, selain itu juga dengan cerdik sekali Shu Ta berhasil membujuknya untuk ikut dalam gerakan penumpasan terhadap sarang pemberontak itu!
Shu Ta memang seorang yang amat cerdik dan setelah menjadi panglima dan mempelajari ilmu-ilmu perang dari kitab-kitab yang tersedia, dia menjadi semakin cerdik, seperti yang telah diduga oleh Goan Ciang dan semua siasatnya dilaksanakan dengan patuh oleh Goan Ciang, semua siasatnya telah diatur dengan cermat pada saat dia kebingungan melihat suhengnya tertawan.
Kebetulan sekali pada waktu itu, baru saja dia mendengar laporan para penyelidiknya tentang gerombolan perampok yang bersarang di Bukit Bambu Kuning. Keterangan tentang sarang gerombolan itulah yang menimbulkan gagasan untuk mempergunakannya sebagai suatu cara untuk menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya setelah Goan Ciang dan Hui Yen dapat dibebaskan olehnya.
Tanpa adanya gerakan penumpasan tehadap Hwa I Kaipang, tentu atasannya, Yauw-Ciangkun, akan merasa kecewa dan marah sekali, dan mungkin akan mencurigainya. Maka, dia mengatur siasat dan telah mempersiapkannya sebelum dia membebaskan dua orang tawanan itu secara cerdik sekali, dengan menyamar sebagai seorang berkedok hitam.
Kini siasatnya itu dilaksanakan dalam kerja sama antara dia dan suhengnya dan dia merasa yakin bahwa saat dia memimpin pasukannya naik ke lereng Bukit Bambu Kuning, suhengnya dan kawan-kawan suhengnya tentu sudah siap siaga pula.
Dapat dibayangkan betapa kacau dan paniknya para anggota gerombolan perampok itu ketika tiba-tiba saja sarang mereka telah dikepung ratusan orang prajurit dan serbuan datang dari segenap penjuru! Mereka adalah orang-orang yang biasa dengan kekerasan, maka setelah panik sejenak, mereka segera menyambar senjata dan melawan mati-matian. Juga dua orang kakak beradik yang sedang menjadi pengantin itu mengamuk dengan golok besar mereka.
Ketika terjadi perempurarn itulah, orang-orang yang berpakaian baju kembang bermunculan di mana-mana dan mereka membantu para perampok, menyambut serangan para prajurit pasukan pemerintah. Tentu saja pertempuran menjadi semakin seru.
Panglima Shu Ta yang berdiri di tempat yang agak tinggi bersama Panglima Yauw, gembira sekali melihat munculnya banyak orang berbaju kembang, dan diapun segera berkata kepada atasannya. “Nah, itulah mereka, para anggota Hwa I Kaipang! Tawanan perempuan itu tidak berbohong dalam pengakuannya semalam dan kita tidak terlambat. Para pemberontak itu belum sempat pergi dari sini.”
Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk dengan hati puas. Sementara itu, Goan Ciang dan Hui Yen ikut mengamuk, merobohkan banyak prajurit. Akan tetapi diam-diam mereka memberi isyarat kepada anak buah mereka untuk mulai menyelinap dan melarikan diri, dan merekapun menggunakan kesempatan untuk meninggalkan baju kembang mereka pada tubuh mayat-mayat anak buah gerombolan.
Ada di antara para anggota Hwa I Kaipang yang terluka, dan mereka ini diseret dan diangkut oleh kawan-kawan mereka untuk melarikan diri. Bahkan ada tiga orang yang tewas ditinggalkan begitu saja, berikut baju kembang mereka! Kematian mereka itu tidak sia-sia, selain mereka sudah berhasil membunuh banyak prajurit, juga mereka dapat menolong Shu Ta, menjadi bukti bahwa tempat itu benar-benar menjadi sarang pemberontak baju kembang!
Serbuan pasukan itu berhasil baik. Tidak kurang dari tiga puluh orang gerombolan “pemberontak” dibasmi, terluka parah atau tewas. Di antara yang tewas itu, lebih dari setengahnya mengenakan jubah kembang dan di antara mereka yang tewas terdapat pula kakak beradik Yang-ce Siang-houw.
Kedua orang panglima Shu dan Yauw pulang dengan pasukan mereka, membawa kemenangan dan kembali Shu-Ciangkun dipuji-puji oleh pemerintah Mongol sebagai seorang panglima muda yang baru akan tetapi telah membuat jasa besar....