Rajawali Lembah Huai Jilid 15, karya Kho Ping Hoo - BOUW IN HWESIO terkejut, sejenak tak dapat bicara. Dia sendiri seorang hwesio, perantau pula, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, tidak mempunyai harta kekayaan. Bagaimana mungkin dia menerima seorang wanita, seorang janda, yang ingin mengikutinya?

Sebagai pembantu? Betapa janggal dan anehnya, seorang pendeta miskin perantau mempunyai pembantu! Menjadi murid? Kui Bi Lan tidak memiliki bakat menjadi seorang pesilat, apa lagi ia seorang wanita, seorang janda yang usianya sudah tiga puluh lima tahun. Akan tetapi kalau dia menolak? Dia hampir yakin bahwa tentu wanita yang putus asa ini akan membunuh diri!
Kalau dia yang hidup tidak mau diikutinya, tentu wanita itu memilih ikut suaminya yang sudah mati! Dan kalau terjadi wanita ini membunuh diri karena dia, berarti dia yang menyebabkan wanita itu mati, dan dia memikul karma yang buruk. Akan tetapi kalau dia menerimanya, lalu bagaimana?
Tiba-tiba timbul harapannya. Biarlah wanita ini mengikutinya, kalau nanti merasa tidak tahan dengan kehidupan perantauan yang miskin dan sukar, tentu wanita itu akan mundur sendiri. Dan kalau wanita itu yang meninggalkannya, bukan dia yang meninggalkan wanita itu, lalu terjadi apa-apa dengan wanita itu, dia tidak bertanggung jawab lagi, lahir maupun batin. Akan tetapi, bayangan inipun tidak mengenakkan hatinya. Dia sungguh merasa kasihan kepada wanita ini, wanita yang mengingatkan dia kepada isterinya!
“Omitohud, apa yang dapat pinceng lakukan? Baiklah, nyonya, kalau itu yang kau kehendaki. Engkau boleh ikut pinceng, hanya ketahuilah bahwa pinceng seorang pendeta perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal, yang miskin dan...”
Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena wanita itu sudah menubruk kakinya dan menangis sambil mengucapkan terima kasih. Air matanya bercucuran membasahi dan membasuh kedua kaki Bouw In Hwesio yang masih bertelanjang karena belum mengenakan sepatunya itu. “Terima kasih, suhu, terima kasih... suhu telah menyambung kehidupan saya...”
“Nyonya, jangan begitu. Bangkitlah...!” Bouw In Hwesio mengangkatnya bangun dan kini wanita itu memandang kepadanya dengan mata yang merah dan muka basah, akan tetapi mulutnya mengandung senyum kebahagiaan dan penuh harapan.
“Suhu, nama saya Kui Lan Bi, panggil saja Lan Bi, harap jangan menyebut nyonya lagi, suhu sudah siap? Biar saya ambilkan sepatu suhu...!”
Dengan cekatan seolah ada semangat dan hidup baru yang menggerakkan tubuhnya yang selama beberapa hari nampak layu dan lemah, Lan Bi setengah berlari ke bilik dan mengambilkan sepatu hwesio itu. Dengan cekatan pula ia membawa sepatu itu, berlutut di depan kaki Bouw In Hwesio dan hendak membantu hwesio itu mengenakan sepatunya, sikapnya seperti seorang hamba sahaya yang setia dan taat!
Bouw In Hwesio merasa terharu. “Mulai sekarang, engkau harus mentaati semua petunjukku, Lan Bi. Nah, perintahku yang pertama, jangan engkau membantuku memakai sepatuku, akan tetapi cepat kau selesaikan mempersiapkan sarapan pagi. Sebelum kita pergi, engkau harus makan dulu. Sudah tiga hari ini engkau tidak makan, engkau dapat jatuh sakit. Cepat laksanakan perintahku ini!”
Lan Bi bangkit berdiri, memandang kepada hwesio itu penuh rasa terima kasih, lalu menjawab penuh semangat, “Baik, suhu, akan saya laksanakan perintah suhu!” Dan iapun setengah berlari pergi ke dapur.
Bouw In Hwesio menjatuhkan dirinya di atas bangku, mengenakan sepatunya lalu termenung dan berulang kali menghela napas panjang, menggeleng kepala, tersenyum-senyum pahit, menggeleng kepala lagi, lalu mengangguk-angguk.
Pada keesokan harinya, mereka berdua pergi meninggalkan dusun, diiringi jebiran dan gunjingan orang sedusun. Akan tetapi Lan Bi tidak menghiraukan itu semua, bahkan setelah ia dan hwesio itu jauh meninggalkan dusun, semakin ringan rasa hatinya, seolah seekor burung yang baru saja terlepas dari sangkarnya.
Mungkin karena merasa hutang budi, apa lagi karena di dunia ini tidak ada orang lain lagi yang bersikap baik terhadapnya, yang dapat digantungi harapan masa depannya, Lan Bi benar-benar amat taat dan berbakti terhadap Bouw In Hwesio. Di lain pihak mungkin karena iba hati dan karena persamaan janda itu dengan mendiang isterinya, Bouw In Hwesio juga merasa sayang.Suka duka mereka dalam perjalanan, dalam perantauan, dalam menghadapi bahaya, ketika mereka saling membela, saling menghibur, bukan hal yang aneh kalau akhirnya timbul perasaan lain dalam hati masing-masing. Cinta kasih dapat bersemi di tempat manapun juga, dan dapat melanda di hati siapapun, tua muda, kaya miskin.
Bouw In Hwesio yang semenjak ditinggal mati isterinya, dua puluh tahun yang lalu, hidup sebagai pendeta, mengekang nafsu duniawi dan menjauhi segala kesenangan, kini setelah bergaul dengan Lan Bi yang hidup disampingnya, tak kuasa menahan gairah cintanya.
Akhirnya, dengan sukarela, keduanya mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri! Bouw In Hwesio rela meninggalkan kependetaannya, menjadi orang biasa yang berkepala botak, namun bagi Lan Bi, dia merupakan pria terbaik di dunia ini, pengganti suaminya!
Cinta asmara memang sesuatu yang ajaib. Bukan monopoli pria ganteng dan wanita jelita saja. Juga cinta asmara bukan didatangkan karena ketampanan atau kecantikan belaka. Bukan pula karena harta kekayaan. Bahkan lebih sering dan lebih kuat cinta asmara yang dibangkitkan oleh persamaan watak dan kebaikan pribudi ini biasanya lebih kuat dan lebih awet, sebaliknya, yang dibangkitkan oleh keelokan wajah dan banyaknya harta benda, kadang kala malah rapuh.
Memang tidak mengherankan. Kecantikan dan ketampanan wajah hanyalah setipis kulit, tidak menembus batin. Maka, yang tadinya nampak cantik atau tampan, setelah timbul pertikaian karena keburukan watak, maka yang cantik atau tampan itu nampak buruk seperti setan!
Demikian pula harta kekayaan, hanya menempel di luar kulit belaka. Betapa banyaknya orang yang menikah dengan hartawan, akhirnya menderita batinnya dan harta kekayaan yang tadinya diidamkan, kehilangan daya tariknya, bahkan kehilangan daya hiburnya.
Sebaliknya, suami isteri miskin yang tidak cantik tidak tampan sekalipun, dapat hidup berbahagia dan saling mencinta karena mereka memang memiliki cinta yang murni, cinta yang mendatangkan perasaan belas kasihan, mendatangkan kemesraan, mendatangkan perasaan tenang dan aman tenteram, ada ikatan batin yang mendalam.
Setelah menjadi suami isteri, Lan Bi menceritakan kepada suaminya bahwa ia memiliki seorang kakak misan yang juga merupakan seorang ahli silat kenamaan akan tetapi sudah lama ia tidak pernah berhubungan dengan kakak misan itu.
Suaminya, Bouw In Hwesio yang sekarang kalau memperkenalkan diri bernama Bouw In saja, terkejut ketika mendengar bahwa kakak misan isterinya itu bukan lain adalah Twa-sin-to Coa Kun dan karena kebetulan perantauan mereka tiba tak jauh dari Nan-king, merekapun pada suatu hari mengunjungi Coa Kun atau Coa-pangcu (ketua Coa) di kota Nan-king.
Pertemuan antara saudara misan itu tentu tidak akan mengesankan atau pihak keluarga Coa tidak akan menyambut dengan gembira kalau saja Lan Bi datang seorang diri. Akan tetapi, adik misan ini datang sebagai isteri Bouw In Hwesio! Tentu saja demi bekas pendeta itu, Coa Kun menyambut dengan penuh kegembiraan dan kehormatan dan mereka diterima sebagai tamu kehormatan.
Akan tetapi, Bouw In Hwesio atau sebaiknya kalau kita sebut nama barunya, Bouw In tanpa embel-embel hwesio, tidak mau tinggal menumpang di rumah besar ketua Hek I Kaipang. Atas bantuan Coa Kun, dia memilih tinggal di sebuah dusun di luar kota Nanking, dibelikan sebuah rumah oleh Coa Kun. Untuk membalas budi Coa Kun, Bouw In tidak menolak ketika puteri Coa Kun, yaitu Coa Leng Si, mengangkatnya sebagai guru.
Bahkan setelah melihat bakat besar yang dimiliki Leng Si yang memang sudah mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya, Bouw In merasa suka sekali kepada murid ini dan dia bahkan mengajarkan ilmu simpanannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat! Tentu saja Leng Si maju pesat selama dua tahun digembleng Bouw In, dan tingkat kepandaiannya bahkan melebihi tingkat ayahnya!
Demikianlah sedikit riwayat Bouw In mengapa dia kini dekat dengan pimpinan Hek I Kaipang. Biarpun dahulu dia tidak pernah menentang pemerintah secara berterang, namun diapun tidak suka membantu pemerintah Mongol. Dia tidak mau terlibat dalam urusan pemerintahan maupun pemberontakan. Beberapa kali dia dibujuk oleh Coa Kun untuk membantu pemerintah menumpas pemberontak, akan tetapi selalu ditolaknya dengan halus.
“Coa-pangcu, sejak semula aku sudah memberi tahu kepadamu bahwa aku tidak ingin terlibat dalam urusan pemerintah yang bermusuhan dengan para pemberontak. Aku tidak ingin membantu pemerintah, juga tidak mau membantu pemberontak. Aku ingin hidup tenteram di dusun bersama isteriku, menghabiskan masa tuaku,” demikian dia memberi alasan.
Akan tetapi, pada siang hari itu, muridnya, Coa Leng Si datang bersama seregu prajurit yang membawa surat undangan dari Panglima Yauw Tu Cin. Leng Si membujuk suhunya untuk datang menghadap, menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Yauw-Ciangkun di rumah ayahnya.
“Suhu, urusannya bukan sekedar penumpasan pemberontakan. Suhu tidak akan dilibatkan dengan urusan itu, akan tetapi ada hal lain yang amat penting, yang membutuhkan bantuan suhu. Bahkan ayah telah mengundang kakek dan nenek guru untuk datang membantu.”
Bouw In tentu saja merasa tertarik. “Apa sih urusannya?” akhirnya dia bertanya, karena biarpun dia dapat menolak undangan Coa Kun, ia merasa tidak enak kalau tidak menghiraukan undangan Yauw-Ciangkun, komandan pasukan keamanan di Nan-king. Menolak undangan itu berarti dia mengambil sikap menentang, dan dia bisa dianggap bersekutu dengan pemberontak!
“Teecu (murid) sendiri belum tahu, suhu. Agaknya urusan penting yang dirahasiakan.”
Demikianlah, Bouw In berangkat menunggang kuda bersama Leng Si dan belasan orang prajurit, dan dapat membantu Coa Kun yang bertanding melawan Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen sehingga kedua orang muda itu akhirnya tertawan.
Setelah dua orang tawanan itu dibawa pergi oleh pasukan untuk dihadapkan komandan mereka, Coa Kun lalu memperkenalkan Bouw In dengan sepasang kakek dan nenek itu. Akan tetapi sebelum dia memperkenalkan, baru berkata, “Ini adalah suhu dan suboku...”
Bouw In sudah memotongnya sambil tersenyum. “Aku sudah mengenal mereka. Siapa yang tidak akan mengenal Thian Moko (Iblis Langit) dan Tee Moli (Iblis Bumi)? Ha-ha, sudah bertahun-tahun tidak pernah bersua, apakah kalian baik-baik saja, Siang Lomo (Sepasang Iblis Tua)? Dan angin apa yang membuat kalian memasuki dunia ramai?”
Sepasang kakek nenek tua renta itu saling pandang, lalu mengamati pria tinggi besar yang kepalanya botak dan berjubah lebar itu. Kemudian, kakek tua renta yang berjuluk Thian Moko mengerutkan alisnya, memandang tajam dan berkata, suaranya tinggi kecil, cocok dengan tubuhnya yang tinggi kurus pula.
“Sungguh mata ini sudah terlalu tua, ingatan ini sudah terlalu pikun. Akan tetapi, kami rasanya tidak pernah jumpa dengan si-cu (orang gagah), walaupun gerakan sicu tadi jelas berdasarkan ilmu silat Siauw-lim-pai yang tangguh. Siapa gerangan sicu?”
“Ilmu silat tadi aneh, biarpun dasarnya Siauw-lim-pai, akan tetapi belum pernah aku menyaksikan orang Siauw-lim-pai bersilat seperti itu, seperti gerakan burung!” kata si nenek tua renta yang usianya sekitar hanya satu dua tahun lebih muda dari suaminya, yaitu sekitar delapan puluhan tahun. Kalau kakek itu suaranya meninggi kecil, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus, nenek yang berjual Tee Moli ini memiliki suara yang parau besar, sesuai pula dengan tubuhnya yang pendek dan gemuk sekali.
Bouw In tertawa. “Omitohud! Apakah Siang Lomo hanya mengenal orang karena pakaiannya belaka? Andai kata aku mengenakan jubah merah dan kepalaku gundul, lalu bersikap sebagai seorang hwesio, agaknya baru kalian akan mengenalku. Memang aku murid Siauw-lim-pai, akan tetapi sekarang tidak lagi menjadi seorang hwesio.”
“Ah, kiranya Bouw In Hwesio!” kini kakek itu berseru.
“Luar biasa!” kata isterinya. “Bagaimana mungkin ini? Kalau orang biasa mengubah dirinya menjadi pendeta untuk menebus dosa dan kembali ke jalan benar, itu baru wajar. Akan tetapi kalau hwesio mengubah diri menjadi orang biasa, menambah dosa memilih jalan sesat, barulah luar biasa!”
Bouw In tertawa. “Kembali kalian hanya menilai orang dari pakaian dan kedudukannya. Padahal, pakaian dan kedudukan itu hanya kulitnya belaka, dan yang terpenting adalah isinya, bukan? Bagi manusia, isi dirinya nampak pada sepak terjangnya dalam kehidupan, pada pikiran, kata-kata dan perbuatannya.”
Siang Lomo saling pandang dan tertawa. Thian Moko tertawa dengan suaranya yang kecil tinggi, lalu berkata, “Bukan main! Sejak dahulu menjadi seorang hwesio sampai sekarang, Bouw In Hwesio memang seorang yang aneh dan menyimpang dari orang lain, ingin sekali kami berdua melihat apakah ilmu kepandaianmu juga tetap aneh dan menyimpang dari orang lain! Dahulu ketika engkau menjadi hwesio, engkau tidak pernah tinggal di kuil mengajarkan agama, tidak pernah mengemis makanan, melainkan berkelana seperti seorang petualang sejati. Kini, setelah menjadi orang biasa, engkaupun aneh, bahkan bersembunyi di dusun dan tidak ikut dengan persaingan keramaian dunia. Heh-heh-heh!”
Melihat percakapan itu menjurus kepada kritikan yang mungkin akan menimbulkan bentrokan, atau setidaknya mengadu kepandaian, Hek I Kaipangcu Coa Kun cepat menengahi. “Suhu dan subo, dan juga Bouw In suhu, harap sam-wi (kalian bertiga) bersabar sampai kita tiba di rumah, barulah kita dapat melakukan percakapan panjang yang lebih dan penting. Apa lagi, sekarang tentu Yauw-Ciangkun telah menanti di rumah kami dan saya tidak ingin mengecewakan hati Yauw-Ciangkun dengan membiarkan dia menunggu terlalu lama.”
Mereka lalu menuju ke rumah Coa Kun dan benar saja, Yauw-Ciangkun telah menanti di rumah itu. Akan tetapi, komandan kota Nan-king ini tidak marah, bahkan dia merasa gembira sekali mendengar ditawannya pemberontak Cu Goan Ciang dan cucu dari Pek Mau Lokai yang menjadi pimpinan Hwa I Kaipang, perkumpulan pengemis yang dianggap menentang pemerintah. Mendengar bahwa pasukan telah membawa mereka ke benteng untuk menyerahkan mereka kepada Shu-Ciangkun, komandan ini tertawa gembira.
“Bagus, Shu-Ciangkun tentu akan dapat memaksa mereka mengakui di mana adanya pimpinan para pemberontak yang lain. Hanya Shu-Ciangkun yang akan mampu menindas pemberontakan dan memadamkan api pemberontakan sebelum menjalar luas,” kata Yauw-Ciangkun yang merasa bangga dengan pembantu barunya yang masih muda dan lihai itu.
Mereka semua lalu mengadakan pertemuan di ruangan yang luas dan memang disediakan untuk pertemuan yang penting. Ruangan itu tertutup dan di sekelilingnya dijaga ketat oleh anak buah Hek I Kaipang sehingga jangan harap ada orang luar akan mampu ikut mendengarkan apa yang dibicarakan di dalam ruangan itu. Panglima Yauw Tu Cin atau nama aslinya Yatucin, komandan kota Nan-king, duduk sebagai pimpinan di kepala meja.
Coa Kun dan puterinya, Coa Leng Si, duduk di sebelah kananya. Di sebelah kirinya duduk suami isteri Siang Lomo atau sepasang Iblis, kemudian baru duduk Bouw In yang bersikap sederhana, bahkan agak acuh.
“Pertama-tama, kami atas nama pemerintah mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada sam-wi lo-cianpwe (tiga orang tua gagah), yaitu Huang-ho Siang Lomo (Sepasang Iblis Tua Sungai Kuning) dan lo-cian-pwe Bouw In yang sudah banyak kami dengar kesaktiannya dari saudara Coa Kun.”
“Aihh, kami berdua adalah sepasang kakek dan nenek yang sudah tua dan loyo,” kata Thian Moko dengan suaranya yang tinggi.
“Akan tetapi, untuk murid kami Coa Kun, kami akan mempersiapkan tenaga kami kalau memang dapat membantunya,” sambung Tee Moli dengan suaranya yang parau dan besar.
“Omitohud..., saya telah lama mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan negara, Ciangkun,” kata pula Bouw In.
“Terima kasih kepada ji-wi Siang Lomo yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu saudara Coa Kun. Sebetulnya, urusan ini memang bukan hanya menyangkut diri saudara Coa Kun, akan tetapi terutama sekali menyangkut kehidupan rakyat. Bouw lo-cianpwe, biarpun lo-cianpwe tidak mau mencampuri urusan negara, akan tetapi kami percaya bahwa seorang gagah perkasa dan juga beribadat seperti lo-cianpwe, akan suka menyumbangkan tenaganya demi kesejahteraan dan ketenteraman rakyat, bukan?”
“Hemm, terus terang saja, Ciangkun. Saya menghormati Ciangkun sebagai komandan di Nanking yang bertanggung jawab akan keamanan dan ketertiban di sini, maka saya datang memenuhi undangan Ciangkun. Sebelum saya menyatakan pendapat dan keputusan saya menyambut tawaran Ciangkun, saya ingin mendengar dulu, apa yang dapat saya lakukan untuk membantu Ciangkun.
"Terus terang saja lebih dulu saya beritahukan bahwa kalau saya disuruh membantu Ciangkun untuk menumpas pemberontak, saya tidak akan dapat menerimanya. Bukan karena saya memihak pemberontak, melainkan karena di antara para pemberontak itu terdapat banyak sahabat-sahabat baik saya. Saya tidak ingin menjadi seorang pengkhianat terhadap para sahabat saya sendiri, Ciangkun.”
“Baiklah, lo-cianpwe. Kami tidak akan memaksa siapapun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan suara hati sendiri. Akan tetapi kamipun tidak mengajak sam-wi untuk membantu kami menumpas pemberontakan. Kami hanya mengajak sam-wi untuk membantu agar jangan sampai terjadi perang, jangan sampai terjadi bentrokan besar-besaran yang akan menghancurkan persatuan orang-orang kang-ouw.
"Kami dari pihak pemerintah merasa amat penting menjaga keutuhan para tokoh dunia persilatan karena kekuatan mereka yang akan mampu mempertahankan keamanan dalam kehidupan rakyat jelata. Para penjahat tidak berani merajalela hanya karena mereka takut kepada para pendekar, bukankah demikian? Nah, masalah yang akan kami bicarakan, yaitu tentang pemilihan Beng-cu di antara para tokoh persilatan.”
“Apa yang dapat saya lakukan dalam urusan pemilihan Beng-cu, Ciangkun? Saya tidak ingin menjadi Beng-cu, kalau itu yang Ciangkun maksudkan,” kata pula Bouw In Hwesio.
“Heh-heh, kamipun sudah terlalu tua untuk menjadi Beng-cu!” kata Thian Moko dan isterinya mengangguk membenarkan.
“Harap sam-wi tidak keliru dan salah sangka. Bukan maksud kami minta kepada sam-wi untuk menjadi Beng-cu. Akan tetapi, sam-wi tentu mengetahui apa akibatnya kalau sampai kedudukan Beng-cu dipegang seorang pemberontak. Sudah pasti dia akan mengerahkan semua tenaga orang-orang dunia persilatan untuk memberontak terhadap pemerintah. Nah, kalau begitu maka akan terjadi perang dan terjadi perpecahan di antara para tokoh kang-ouw.
"Tidakkah itu menyedihkan sekali? Sebaliknya, kalau yang menjadi Beng-cu seorang yang tidak suka adanya perang, yang menghendaki rakyat hidup tenteram dan sejahtera, tentu dia akan mencegah adanya perang. Di sinilah bantuan sam-wi kami butuhkan, yaitu untuk memberi suara kepada calon yang suka damai dan menentang dipilihnya calon yang akan menimbulkan perang.”
Setelah mendapatkan kesempatan, Coa Kun sendiri lalu bicara. “Suhu, subo dan Bouw-suhu, apa yang dikemukakan yauw-Ciangkun tadi adalah garis besarnya, dan pokok persoalan. Akan tetapi banyak sekali kaitannya. Pemilihan Beng-cu masih lama, akan tetapi yang sekarang perlu kita tanggulangi adalah bahaya yang mengancam kedamaian rakyat.
"Baru saja sam-wi melihat sendiri betapa kami diserang oleh dua orang pemberontak. Yang seorang sudah terkenal sebagai pemberontak berbahaya, yaitu Cu Goan Ciang yang telah membunuhi banyak orang, dan yang ke dua adalah cucu Pek Mau Lokai ketua Hwa I Kaipang. Nah, sudah jelas bahwa Hwa I Kaipang adalah perkumpulan yang memberontak.
"Mereka mendatangkan kekacauan, pembunuhan, dan segala macam kejahatan yang meresahkan rakyat. Akan tetapi harus diakui bahwa Pek Mau Lokai amatlah lihainya. Untuk menghadapi dia dan para pembantunyalah kami mohon bantuan sam-wi. Selama para pimpinan Hwa I Kaipang tidak ditangkap atau dibunuh, selalu akan timbul kekacauan dan ketidak amanan di Nan-king.”
Huang-ho Siang Lomo tentu saja siap untuk membantu murid mereka menghadapi Hwa I Kaipang. Bouw In tadinya merasa enggan untuk mencampuri, akan tetapi mengingat bahwa isterinya masih adik misan Coa Kun, dan ketua Hek I Kaipang ini sudah banyak membantu dia dan isterinya, menerimanya dengan ramah dan baik, lebih-lebih kini puteri ketua itu, Coa Leng Si, telah menjadi muridnya yang dia sayang, maka diapun tidak dapat menolak lagi.
Demikianlah, sejak hari itu, Hek I Kaipang diperkuat oleh tiga orang tokoh besar ini sehingga selain Coa Kun merasa gembira, juga Yauw-Ciangkun senang karena di pihak yang pro pemerintah bertambah tenaga yang dapat diandalkan.
Dalam keadaan kaki tangan terbelenggu, Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen didorong jatuh menjerembab di atas lantai, di depan seorang panglima muda yang duduk di kursinya dengan sikap angkuh. Cu Goan Ciang mengangkat mukanya memandang dan dia terbelalak. Panglima muda itu! Dia berani bersumpah bahwa panglima ini adalah sutenya, Shu Ta!
Akan tetapi, dia membantah keyakinannya sendiri. Tidak mungkin sutenya kini menjadi panglima yang menghambakan diri kepada pemerintah penjajah Mongol! Mustahil! Dia mengenal benar siapa dan bagaimana watak sutenya. Shu Ta adalah seorang yang berjiwa patriot, yang seperti juga dia, bertekad untuk berjuang mengusir penjajah Mongol. Bagaimana mungkin kini menjadi panglima Mongol? Tentu dia salah lihat, atau memang wajah panglima ini mirip Shu Ta.
Panglima itu memandang kepada dua orang tawanannya, lalu memberi perintah kepada para pengawalnya. “Kosongkan ruangan ini! Aku sendiri yang akan memeriksa mereka!”
Mendengar suara panglima ini, hampir saja Cu Goan Ciang berteriak. Suara itu! Tak salah lagi, orang ini pasti Shu Ta. Mana ada dua orang yang serupa segala-galanya, termasuk suaranya?
Para pengawal dan prajurit yang membawa dua orang tawanan itupun tidak berani membantah perintah sang panglima. Hanya kepala regu penawan itu yang berkata, “Tai-Ciangkun, dua orang tawanan ini lihai sekali, mereka berbahaya!”
Panglima itu melotot. “Biar mereka tidak terbelenggu sekalipun, aku dapat mengatasi mereka. Apa lagi mereka terbelenggu. Kau kira aku takut! Hayo cepat keluar, aku akan memeriksa dan memaksa mereka mengaku!”
Dibentak demikian, semua prajurit segera meninggalkan ruangan itu. Setelah mereka pergi, Cu Goan Ciang yang tidak dapat menahan lagi penasaran di hatinya, berseru, “Kau...?”
“Sssttt...!” Panglima itu yang bukan lain adalah Shu Ta, cepat menaruh telunjuknya di atas bibir, memberi isyarat kepada Cu Goan Ciang untuk diam. Panglima itu lalu menulis di atas sehelai kertas dengan cepat, dan menyerahkan “surat” itu kepada Cu Goan Ciang yang cepat membacanya. Singkat saja, akan tetapi cukup meyakinkan.
“Bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal. Jangan khawatir, aku akan membebaskanmu.” Hanya demikian isi surat. Cu Goan Ciang mengangguk dan surat itupun diambil kembali oleh Shu Ta.
“Nah, sekarang kalian ceritakan, siapa saja dan di mana adanya kawan-kawan kalian, para pimpinan pemberontak itu!” tiba-tiba Shu-Ciangkun membentak dengan suara nyaring.
Tang Hui Yen tadi juga membaca tulisan panglima itu. Dara ini amat cerdik sehingga melihat sedikit tulisan itu, ia telah tanggap, apa lagi ketika Cu Goan Ciang memperkenalkan dengan bisikan. “Dia suteku.” Tahulah gadis ini bahwa sute dari Cu Goan Ciang ini merupakan satu-satunya harapan mereka untuk dapat lolos, maka iapun membantu permainan sandiwara panglima itu.
“Hemm, apa perlunya membujuk atau menakut-nakuti kami? Kami sudah tertawan, mau hukum, hukumlah, mau bunuh, bunuhlah, kami tidak takut mati dan tidak perlu lagi engkau banyak bicara!” Bentakan gadis itu nyaring sekali.
Shu Ta tersenyum, matanya bersinar gembira dan kagum. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Tadi ketika para prajurit menyerahkan tawanan, Shu Ta mendengar laporan mereka bahwa gadis itu adalah cucu Pek Mau Lokai, pimpinan Hwa I Kaipang, maka tahulah dia bahwa gadis ini seorang pejuang yang gagah. Diapun tertawa bergelak, suara tawa yang seperti mengejek.
“Ha-ha-ha-ha, engkau ini yang menjadi pimpinan perkumpulan jembel Hwa I Kaipang yang membuat kerusuhan dan kekacauan di Nan-king, ya? Seorang wanita muda! Aku mempunyai cara yang membuat seorang wanita akan menyesal menjadi manusia kalau engkau tidak cepat membuat pengakuan!”
Cu Goan Ciang tadinya terkejut bukan main ketika mengenal komandan Mongol itu ternyata sutenya sendiri, akan tetapi sekarang diapun sudah dapat menenangkan diri. Entah apa alasan Shu Ta menjadi seorang panglima Mongol! Apapun alasannya, dapat dibicarakan kelak. Kini yang terpenting, sutenya itu berjanji akan membebaskan dia dan Yen Yen! Maka, melihat sikap Yen Yen, diapun segera menanggapi.
“Perwira Mongol keparat! Kami memang pemberontak, kami berjuang untuk membebaskan rakyat dari pada cengkeraman penjajah. Sekarang kami telah tertawan, tidak perlu banyak cakap lagi. Kami siap menerima hukuman mati sekalipun!”
“Jadi kalian tidak mau mengaku siapa kawan-kawan kalian dan di mana mereka?”
“Tidak sudi!” Goan Ciang dan Hui Yen menjawab serentak.
Shu-Ciangkun tertawa lagi. “Hemm, aku memberi waktu kepada kalian sampai besok pagi. Malam ini pikirkan baik-baik karena kalau besok kalian tetap berkeras kepala tidak mau menunjukkan tempat sembunyi kawan-kawan kalian, maka kalian akan mati sekerat demi sekerat!”
Shu-Ciangkun bertepuk tangan memberi isarat kepada para pengawal. Biarpun para pengawal tadi tidak ada yang berani mengintai ke dalam, akan tetapi telinga mereka dapat menangkap percakapan yang nyaring itu.
Setelah empat orang pengawal masuk, Shu-Ciangkun memberikan perintahnya. “Masukkan mereka ini ke dalam sel. Satukan dalam sel agar mereka dapat berunding. Biarkan belenggu kaki tangan mereka dan baru boleh dilepaskan kalau mereka akan makan dan ada keperluan ke belakang. Jaga ketat, dan di luar kamar tahanan mereka harus selalu dijaga oleh dua belas orang pengawal. Malam ini, semua penjaga di luar pintu sel jangan ada yang tertidur atau aku akan memberi hukuman berat!”
“Baik, panglima!” kata kepala pengawal dan empat orang itu lalu menarik Goan Ciang dan Hui Yen keluar dari ruangan itu, memasukkan mereka di dalam sel yang istimewa, yaitu sel yang terpisah dan dijaga ketat.
Setelah mereka berdua didorong masuk dalam keadaan kaki tangan terbelenggu sehingga mereka terpelanting roboh dan rebah miring, pintu sel ditutup dan dipasangi gembok baja yang besar dari luat. Sel itu hanya tiga kali tiga meter luasnya, tanpa ada perabot apapun sehingga mereka berdua terpaksa harus rebah di atas lantai yang dingin. Temboknya amat tebal dan di depan terdapat pintu baja dan juga lubang angin yang dipasangi terali baja yang kokoh kuat.
Goan Ciang bergulingan mendekati Hui Yen dan mereka rebah miring saling berhadapan. “Kenapa sutemu menjadi panglima Mongol?” Hui Yen bertanya dalam bisikan.
“Entahlah, akan tetapi dia pejuang sejati.”
“Hemm, bagaimana kita dapat percaya padanya? Jangan-jangan sikapnya tadi hanya pancingan agar kita tunduk dan taat, suka bekerja sama dengan dia.”
“Tidak mungkin! Aku mengenal dia sejak kecil. Dia cerdik sekali dan aku bahkan yakin bahwa masuknya menjadi panglima Mongol merupakan siasatnya.”
“Jadi engkau percaya bahwa dia pasti akan membebaskan kita?”
“Aku percaya. Kita tunggu saja dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan.”
Hening sejenak, kemudian terdengar bisikan halus Hui Yen, “Cu-twako...”
Goan Ciang memandang heran karena dalam suara gadis itu kini terkandung getaran aneh dan ketika dia melihat mukanya, jelas nampak betapa rasa takut terbayang di sana. “Ada apakah, Yen-moi?” Lalu melihat wajah gadis itu, dia menyambung, “Engkau takut...?”
Dalam keadaan biasa, kalau ada yang menyangka ia takut, gadis yang lincah periang dan galak ini tentu akan marah-marah. Akan tetapi saat itu, ia sama sekali tidak marah, bahkan mengangguk! “Twako, bagaimana andai kata... seandainya saja sutemu itu hanya berbohong dan menjebak kita? Bagaimana andai kata ancamannya tadi bukan hanya kosong belaka? Kita akan disiksa...”
“Yen-moi, dalam keadaan seperti ini, jangan membiarkan pikiran membayangkan hal yang belum terjadi, karena rasa takut timbul oleh ulah pikiran yang membayangkan hal-hal yang tidak enak. Kita melihat kenyataan saja, siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam keadaan waspada dan siap siaga, tanpa membayangkan sesuatu, tidak akan ada rasa takut.
"Yang akan terjadi, terjadilah, namun kita selalu siap menanggulanginya, selalu wajib berikhtiar sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri. Kita adalah orang-orang yang berjuang demi membela rakyat dan tanah air, dan jelas bahwa taruhannya adalah kalau atau terbunuh. Dan kita akan melawan sampai titik darah yang penghabisan, bukan?”
Perlahan-lahan, bayangan rasa takut meninggalkan wajah yang cantik manis itu dan kini kembali sepasang mata itu bersinar dan wajah itu berseri. “Terima kasih, koko. Engkau telah menenteramkan hatiku. Maaf... rasa takut tadi menguasaiku..., sungguh memalukan sekali...”
“Ah, Yen-moi, kenapa memalukan? Takut itu wajar saja. Kau kira akupun tidak mengenal takut? Semua manusia mempunyai rasa takut ini, akan tetapi kalau kita tidak membiarkan pikiran kita melayang dan membayangkan hal-hal yang belum terjadi, maka rasa takut akan menghilang.”
“Terima kasih, dan kini hatiku mantap dan tenang. Andai kata sudah takdirnya aku akan matipun, aku tidak gentar! Bukankah ada engkau di sampingku? Kalau ada engkau mendampingiku, biar matipun aku tidak takut. Kita akan mati bersama, toako!”
Goan Ciang merasa terharu. Dia mengerti apa yang terjadi dalam hati gadis ini. Ia jatuh cinta kepadanya! Dan dia sendiri? Ah, belum sempat dia berpikir tentang cinta, belum hilang luka di hatinya oleh kematian Kim Lee Siang, wanita yang pertama kali menjatuhkan hatinya, yang dicintanya dan mencintanya. Akan tetapi, dia yakin pula bahwa tidak akan sukar bagi hatinya untuk jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Hui Yen ini.
Akan tetapi, belum waktunya untuk membiarkan diri hanyut dalam kemesraan cinta lagi. Perjuangan masih belum selesai, bahkan kini mereka berdua menjadi tawanan dan mereka hanya dapat mengandalkan sutenya untuk dapat meloloskan diri. Tanpa bantuan sutenya, bagaimana mungkin membebaskan diri dalam kamar tahanan sebuah benteng?
“Yen-moi, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Semua ancaman bahaya kita hadapi bersama, dan kalau perlu, kita mati bersama demi perjuangan!”
“Demi perjuangan!” kata pula Yen Yen dengan penuh semangat.
“Sekarang, kita harus sedapat mungkin tidur dan menghimpun tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan,” bisik Goan Ciang.
Sementara itu, tertawannya Cu Goan Ciang membuat Shu Ta menjadi risau. Bagaikan seekor harimau yang tertangkap dan dikurung dalam kerangkeng, pemuda yang berhasil menjadi panglima Mongol ini berjalan hilir mudik di dalam kamarnya. Dia memang merasa seperti seekor harimau dalam kerangkeng.
Sambil berjalan hilir mudik berjam-jam lamanya, dia mencari jalan keluar dari dalam kerangkeng itu. Mencari akal yang baik untuk dapat keluar dari keadaan yang mencemaskan keadaan hatinya itu. Dia harus membebaskan suhengnya dan gadis pemberani itu, apapun resikonya! Dan dia harus mencari cara yang tepat, karena ada dua hal yang harus dapat dia kerjakan dengan baik.
Pertama tentu saja mengusahakan agar suhengnya dan gadis itu dapat lolos dengan berhasil, dan ke dua agar usaha meloloskan dua orang itu tidak sampai melibatkan dirinya! Padahal, dia tidak mempunyai seorangpun yang dapat dipercaya dalam benteng itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya. Dia tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, dan harus dia lakukan seorang diri...!