Rajawali Lembah Huai Jilid 13

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 13
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 13, karya Kho Ping Hoo - Bouw Kongcu dan Mimi tidak berkata-kata lagi, dan Bouw Kongcu lalu mengambil sebatang golok besar milik para perampok yang tercecer, kemudian mempergunakan golok besar itu untuk menggali tanah.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Shu Ta memandang dengan heran. Ketika melihat Bouw Siocia juga mengambil sebatang golok dan membantu kakaknya tanpa bicara, Shu Ta merasa semakin heran. “Eh, apa yang kalian lakukan?” tanyanya menghampiri.

Bouw Kongcu menghentikan pekerjaannya, mengangkat muka memandang kepada Shu Ta lalu berkata, “Menggali lubang untuk mengubur dua mayat itu, apa lagi kalau bukan untuk itu?”

“Tapi.... tapi.... mereka itu penjahat yang tadi hendak merampok dan membunuh kalian!” Shu Ta berseru heran dan kaget.

“Kalau begitu, mengapa?” kata Bouw Siocia. “Mereka memang jahat, selagi masih hidup tadi! Kini, mayat mereka tidak dapat kita anggap jahat, dan kalau dibiarkan membusuk tanpa dikubur, hanya akan mengotorkan tempat ini dan akan mengganggu orang-orang hidup yang kebetulan lewat di sini.” Kakak beradik itu sudah melanjutkan penggalian mereka.

Shu Ta merasa kagum bukan main. Dalam keadaan biasa saja, mana ada dua orang muda bangsawan, putera dan puteri Menteri Besar Bayan, mau menggali lubang kuburan mempergunakan golok saja? Apa lagi sekarang mereka menggali lubang untuk mengubur mayat dua orang perampok yang tadi menyerang mereka untuk merampok dan membunuh! Diapun merasa malu kepada diri sendiri, dan tanpa banyak cakap lagi diapun mengambil sebatang golok dan ikut menggali membantu mereka!

Setelah lubang cukup besar dan mereka mengubur dua sosok mayat itu, ketiganya duduk melepas lelah. Bouw Siocia atau Mimi menghapus keringat di lehernya dengan sehelai sapu tangan yang dibasahi ketika tadi ia dan kakaknya dan Shu Ta mencuci tangan di sumber air yang terdapat tak jauh dari situ.

Ketika tadi ikut menggali lubang, diam-diam Shu Ta berpikir bahwa apa yang diucapkan kakak beradik bangsawan Mongol tadi benar. Perjuangan mempunyai lapangan yang luas sekali. Bukan sekadar membenci orang Mongol, bukan sekadar memberontak dengan kasar, atau lebih-lebih lagi bukan dengan cara merampok seperti yang dilakukan para perampok itu.

Dia seorang diri saja, menggunakan tenaga dan kepandaiannya, bagaimana mungkin mampu berjuang, apa lagi kalau perjuangan itu bercita-cita mengusir penjajah dari tanah air? Menghimpun tenagapun tidak merupakan hal yang mudah.

Setelah bertemu kakak beradik Mongol ini, timbul suatu gagasan yang dianggapnya baik dan merupakan satu cara untuk berjuang yang lebih banyak harapannya untuk berhasil. Perjuangan yang dilakukan secara halus, yaitu menyusup ke dalam sarang musuh! Dia dapat mencari kedudukan di pemerintahan Mongol sehingga banyak hal yang menguntungkan para pejuang akan dapat dilakukan.

Kalau dia bisa mendapatkan kedudukan yang baik di pemerintahan Mongol, yang sudah jelas dia dapat mengatur agar rakyat tidak terlalu ditindas oleh peraturan-peraturan yang mencekik dan memeras rakyat. Selain itu, dia dapat mengetahui keadaan dan kekuatan pemerintah Mongol, dan kelak kalu terjadi penyerbuan para pejuang, dia dapat membantu dari dalam!

Tentu saja keadaan itu jauh lebih baik dari pada kalau dia berada di luar dan hanya mampu melakukan gangguan-gangguan kecil. Shu Ta memandang kepada mereka. Justeru pada saat itu, pemuda dan gadis bangsawan itu sedang memandang kepadanya, sehingga pandang mata mereka saling bertemu.

“Sungguh aku merasa kagum kepada kalian berdua, Bouw Kongcu dan Bouw Siocia. Apa yang kalian lakukan tadi, mengubur dua jenazah itu, membuat aku sadar bahwa kalian, biarpun bangsawan-bangsawan muda Mongol, adalah orang-orang yang berbudi baik!”

“Saudara Shu Ta, sesungguhnya tidak ada yang dinamakan manusia baik atau buruk itu, yang ada hanyalah manusia hamba nafsu dan manusia yang menjadi majikan diri dari nafsunya sendiri. Kami kakak beradik selalu akan berusaha agar tidak menjadi hamba nafsu, sehingga perasaan prikemanusiaan tidak akan luntur dari hati kami. Hanya nafsu yang membedabedakan antara agama, agama, bangsawan atau tidak, martabat tinggi atau rendah.”

“Ucapan-ucapan Bouw Kongcu seolah keluar dari mulut seorang pendeta saja, dan membuat aku merasa kagum. Sekarang agaknya sikap kalian mendatangkan perubahan dalam pandanganku. Aku tidak lagi berani memandang rendah manusia Mongol atau bangsawan apapun juga, karena pada hakekatnya manusianya sama. Maukan kalian membantuku mencarikan pekerjaan yang sesuai untukku di Nan-king? Tentu kalian mempunyai hubungan yang luas dan sekiranya dapat membantuku mencarikan pekerjaan, aku akan berterima kasih sekali.”

Kakak beradik itu saling pandang dan Mimi bertanya sambil mengerutkan alisnya. “Apa yang kudengar ini, saudara Shu Ta? Engkau yang tadinya membenci Mongol kini malah hendak mengabdikan diri kepada pemerintah Mongol, pemerintah penjajah yang tadinya kau kutuk?”

Wajah Shu Ta menjadi kemerahan tetapi dia mengangkat muka, menatap wajah kakak beradik itu dengan berani. “Harap kalian tidak salah paham dan mengira bahwa aku tiba-tiba saja menjadi pengkhianat bangsaku. Baru saja aku membunuh dua orang perampok itu karena mereka adalah pengkhianat yang tidak segan merusak dan mencemarkan nama baik para pejuang.

"Tidak, Siocia, aku sama sekali bukan bermaksud mengkhianati para pejuang demi mencari kedudukan dan harta. Justeru niat ini timbul setelah aku menyadari kebenaran ucapan kalian tadi bahwa perjuangan bukan sekedar membenci pemerintah Mongol. Dengan menduduki jabatan di pemerintah penjajah, sedikit banyak aku akan dapat membantu agar rakyat tidak terlalu ditindas.

"Kalau dapat, aku ingin memperoleh kedudukan sebagai seorang perwira sehingga aku dapat mengawasi para pasukan Mongol agar tidak sewenang-wenang kepada rakyat jelata, dan akan kupergunakan kekuasaanku untuk menjaga ketenteraman dan membasmi para pengacau yang mengganggu rakyat.”

Kakak beradik itu mengangguk-angguk. “Hemm, keputusanmu ini bijaksana sekali, Saudara Shu Ta. Memang dengan jalan demikian, engkau dapat berbuat lebih banyak untuk rakyat dari pada sekadar membenci penjajah tanpa berbuat sesuatu. Akan tetapi, memasukkan engkau sebagai seorang pejabat pemerintah sama saja dengan memasukkan harimau ke dalam rumah kerajaan Goan (Mongol). Kalau sampai harimau itu membahayakan seisi rumah, bukankah berarti kami berdua yang bertanggungjawab?”

“Terserah penilaian Bouw-kongcu. Aku hanya minta bantuan, tentu saja kalau engkau percaya kepadaku. Aku hanya ingin berbuat sesuatu untuk rakyat. Kalau hanya tenagaku seorang diri saja, aku dapat berbuat apa terhadap kerajaan Goan? Akan tetapi kalau kalian khawatir, akupun tidak akan memaksa.”

Kakak beradik itu saling pandang, kemudian Bouw Kongcu berkata, “Saudara Shu Ta, engkau sudah minta bantuan kepada kami, hal itu saja menunjukkan bahwa engkau percaya kepada kami dan engkau beritikad baik. Kalau sebaliknya kami tidak percaya kepadamu, hal itu sungguh akan membuat kami merasa tidak enak sekali. Baiklah, kami akan mencoba membantumu, mencarikan pekerjaan untukmu. Akan tetapi, karena engkau menghendaki kedudukan sebagai perwira tentu saja kami harus melihat dulu kemampuanmu dalam ilmu silat.”

“Maksudmu, Bouw Kongcu?”

“Tentu saja kami hendak mengujimu,” kata Bouw Kongcu tenang.

“Baiklah, mudah-mudahan aku tidak akan mengecewakan, karena aku melihat tadi bahwa kalian adalah murid-murid Bu-tong-pai yang amat lihai.”

“Bagus, nah, mari kita bertanding pedang sejenak agar aku dapat menilai apakah engkau cukup baik untuk menduduki jabatan perwira di Nan-king.” Berkata demikian, Bouw Kongcu sudah mencabut pedangnya.

Shu Ta juga mencabut pedangnya. Dia tadi melihat betapa lihainya bangsawan muda ini, maka dia tidak berani memandang rendah dan setelah mencabut pedangnya, diapun sudah memasang kuda-kuda dengan teguh.

Melihat gerakan Shu Ta membuka pasangan kuda-kuda, Bouw Kongcu berseru kagum. “Ah, kiranya engkau murid Siauw-lim-pai!”

Diam-diam Shu Ta semakin kagum. Begitu melihat pasangan kuda-kudanya, pemuda Mongol itu mengenal ilmu silatnya. Inipun membuktikan bahwa Bouw Kongcu telah memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang ilmu silat. “Aku sudah siap, mulailah, kongcu!” tantangnya.

Bouw Ku Cin mengeluarkan teriakan nyaring dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menusuk dada. Shu Ta mengelak ke samping sambil menangkis, lalu balas menyerang. Bouw Kongcu juga dapat menangkis dengan baik dan keduanya segera saling menyerang dengan cepat dan kuat. Ternyata setelah beberapa kali mengadu pedang, keduanya maklum bahwa dalam hal tenaga, mereka sama kuat.

Akan tetapi Shu Ta memiliki dasar yang lebih kuat dan matang. Hal ini tidaklah mengherankan. Shu Ta sejak kecil menjadi murid para pendeta Siauw-lim-pai dalam kuil, biasa hidup kekurangan dan diharuskan memiliki disiplin dan ketekunan yang luar biasa. Sejak kecil dia tidak pernah berani melalaikan latihan silatnya, maka gerakannya lebih matang.

Berbeda dengan Bouw Kongcu, putera seorang menteri besar, seorang bangsawan yang kaya raya dan sejak kecil biasa dimanja. Tentu saja seringkali dia malas berlatih dan guru-gurunya sendiri, para jagoan istana tidak ada yang berani bersikap keras kepadanya.

Maka tentu saja latihannya tidak setekun Shu Ta. Setelah lewat dua puluh lima jurus, mulai nampaklah bahwa Shu Ta lebih tangguh. Mulailah Bouw Kongcu terdesak oleh pedang Shu Ta yang makin lama makin kuat.

Melihat kakaknya terdesak, Mimi merasa kagum sekali dan timbul kegembiraannya. Jarang ada pemuda yang mampu menandingi kakaknya dan ia sendiri memiliki kepandaian yang setingkat kakaknya. Iapun mencabut pedangnya dan berseru gembira.

“Saudara Shu Ta, akupun ingin menguji kepandaianmu, menemani kakakku. Apakah engkau tidak keberatan?”

Mendengar ucapan dengan suara ramah itu, bukan suara orang marah, Shu Ta menjawab, “Silahkan, nona!”

Mimi menerjang maju dan kini kakak beradik itu mengeroyok Shu Ta. Setelah dikeroyok dua, terpaksa Shu Ta mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena dia mulai merasa betapa beratnya menandingi kakak beradik itu jika mereka maju berdua.

Sekarang, barulah pertandingan berjalan seimbang, namun kalau itu merupakan perkelahian sungguh-sungguh, agaknya Shu Ta tidak akan mampu menang menghadapi pengeroyokan kedua orang bangsawan itu.

Setelah lima puluh jurus lebih, Bouw Kongcu berseru, “Sudah cukup!” dan diapun melompat ke belakang, diikuti adiknya. Kini kakak beradik itu dengan pedang di tangan, tersenyum memandang kepada Shu Ta penuh kagum, sebaliknya Shu Ta juga merasa kagum kepada mereka dan cepat dia memberi hormat.

“Aku merasa kagum sekali dan mengaku kalah terhadap kalian!”

“Aihh, saudara Shu Ta sungguh merendahkan diri. Kami berdua maju mengeroyok pun tidak mampu mendesakmu!” kata Bouw Kongcu. “Dengan kepandaian seperti yang kaumiliki itu, kami akan berani mintakan pekerjaan untukmu kepada komandan pasukan yang berada di Nan-king.”

Mereka lalu berangkat memasuki kota Nan-king yang tidak jauh lagi, dan karena kakak beradik itu hanya memiliki dua ekor kida, maka Shu Ta mempersilahkan mereka untuk pergi lebih dahulu memasuki kota Nan-king. “Harap kongcu suka lebih dahulu memintakan pekerjaan itu kepada komandan pasukan keamanan di Nan-king, aku akan menyusul belakangan dan kita bertemu nanti di sana.”

Kakak beradik itu mengangguk, kemudian mereka menunggang kuda mereka mendahului berangkat ke kota itu. Shu Ta juga segera menuju ke Nan-king, hatinya penuh kegembiraan dan harapan. Dia harus dapat melakukan sesuatu untuk perjuangan mengusir penjajah Mongol dari tanah air, pikirnya. Dan dia akan dapat melakukan hal yang lebih berarti kalau dia menyusup ke dalam, apa lagi kalau dia dapat memperoleh kedudukan dan kekuasaan.

Setelah Shu Ta memasuki kota Nan-king, seregu pasukan yang agaknya sudah menunggu di pintu gerbang, menghadangnya dan pemimpin regu itu bertanya dengan hormat apakah dia yang bernama Shu Ta. Tadinya, Shu Ta terkejut san meragu, takut kalau-kalau pasukan Mongol itu hendak menangkapnya. Akan tetapi melihat sikap mereka yang hormat dan lembut, diapun bertanya kembali.

“Apakah maksud kalian menanyakan namaku?”

Komandan regu itu tersenyum. “Kami diperintah oleh Bouw Kongcu untuk menjemput si-cu (orang gagah) di sini dan mengantar si-cu ke benteng di mana Bouw Kongcu dan Bouw Siocia telah menanti bersama komandan kami.”

Shu Ta merasa girang dan diapun segera mengikuti regu itu menuju ke markas besar atau perbentengan pasukan keamanan yang bertugas di Nan-king. Dan di kantor tempat markas itu, Bouw Kongcu dan Bouw Siocia telah menantinya, dan di situ terdapat pula dua orang panglima. Yang menjadi panglima di benteng itu bernama Yatucin, akan tetapi dia mempergunakan nama pribumi menjadi Yauw Tu Cin atau lebih terkenal disebut Yauw-Ciangkun (Panglima Yauw).

Dia seorang Mongol asli, mukanya persegi penuh kejantanan, dengan brewok tebal dan matanya bersinar-sinar, hidungnyaa dan mulutnya besar dan bibirnya tebal. Tubuhnya tinggi agak kurus, namun penuh dengan otot melingkar-lingkar, nampak kokoh kuat.

“Inilah saudara Shu Ta yang kami ceritakan tadi, Ciangkun,” kata Bouw Kongcu, lalu dia memperkenalkan dua orang panglima itu kepada Shu Ta. “Saudara Shu Ta, Yauw-Ciangkun ini adalah panglima yang menjadi komandan benteng di Nan-king ini, dan yang ini adalah saudara misan kami, juga seorang panglima yang menjadi komandan di kota Wu-han dan sekarang sedang datang berkunjung ke sini, dia adalah Panglima Khabuli.”

Shu Ta memberi hormat kepada dua orang panglima itu. Orang yang diperkenalkan sebagai Yauw-Ciangkun yang menjadi komandan pasukan di Nan-king itu memang pantas menjadi seorang panglima, berwibawa dan pembawaannya memang sebagai seorang militer yang kokoh dan gagah perkasa, berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Diam-diam Shu Ta kagum kepada panglima ini. Seorang seperti ini, berbangsa apapun juga, tentu memiliki watak yang keras, kasar dan jujur, tegas dan pemberani. Ketika dia memberi hormat dan memandang kepada panglima kedua yang diperkenalkan sebagai saudara misan dari kakak beradik itu, Shu Ta segera merasa kurang suka kepada panglima ini.

Panglima Khabuli berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa dengan kulit hitam tebal. Dia memang nampak gagah dan menyeramkan, akan tetapi pembawaannya menunjukkan bahwa dia seorang tinggi hati, angkuh dan membanggakan kedudukan dan kekuasaannya.

Juga matanya yang sipit itu ketika memandang kepada Bouw Siocia, bersinar dan mulutnya tersenyum menyeringai ceriwis, membayangkan bahwa dia seorang laki-laki yang mata keranjang, juga sambaran kerling matanya membayangkan kelicikan.

Kalau Yauw-Ciangkun mengamati Shu Ta dengan penuh selidik, diam-diam merasa heran bahwa orang yang dipuji setinggi langit oleh kakak beradik itu, ternyata hanya seorang pemuda sederhana saja, dengan pakaian sederhana mendekati kasar, tubuhnya juga sedang saja, wajahnya tampan dan mulai tumbuh brewok di dagu dan pipinya, sebaliknya, Panglima Khabuli tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, adik-adikku yang baik, bagaimana seorang pemuda dusun macam ini kalian usulkan agar menjadi seorang perwira? Ha-ha, jangan-jangan kalau dia melihat pertempuran, mukanya berubah pucat dan dia akan lari tunggang-langgang!”

Khabuli tertawa-tawa dan pandang matanya mengejek dan merendahkan sekali. Dia bersikap berani karena Bouw Kongcu dan Bouw Siocia adalah adik-adik misannya. Dia sendiri adalah keponakan Menteri Bayan, maka hubungan keluarga ini membuat dia berani bersikap kasar terhadap kakak beradik itu, berbeda dengan Yauw-Ciangkun yang bersikap hormat.

Bukan saja mengingat bahwa mereka ini putera puteri menteri yang paling berkuasa sesudah kaisar, juga karena dia tahu bahwa kakak beradik ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri.

“Panglima Khabuli, harap jangan menertawakan!” tegur Yauw-Ciangkun. “Bukankah Bouw Kongcu dan Bouw Siocia sendiri yang telah menguji kepandaian saudara Shu Ta ini?”

“Ha-ha-ha-ha!” kembali Khabuli tertawa bergelak. Sebetulnya, dalam hal kedudukan atau pangkat, dia masih kalah tinggi dibandingkan Yauw-Ciangkun.

Akan tetapi karena mengandalkan pengaruh pamannya, yaitu Menteri Bayan, sudah terbiasa baginya untuk mengangkat diri sendiri dan bersikap angkuh. Dan para panglima yang biarpun memiliki kedudukan lebih tinggi darinya seperti Yauw-Ciangkun, terpaksa mengalah, mengingat akan Menteri Bayan.

“Yauw-Ciangkun, apakah engkau mempercayai ujian yang diberikan kedua orang adikku itu? Ha ha, mereka masih amat muda, bagaimana mungkin akan mampu menilai tingkat kepandaian seseorang?”

Melihat sikap kakak misan itu, apa lagi sejak tadi pandang mata Khabuli seperti menggerayangi seluruh tubuhnya, Bouw Siocia sudah menjadi marah sekali.

“Kakak Khabuli, engkau terlalu memandang rendah orang!” bentaknya. “Sekarang begini saja, Yauw-Ciangkun. Biar kakak Khabuli yang sombong itu menguji sendiri kepandaian Shu Ta! Kalau dia kalah, dia harus minta maaf kepada saudara Shu Ta! Tentu saja kalau dia berani, atau mungkin dia hanya pandai menghamburkan suara yang tidak ada gunanya saja!”

Wajah yang kulitnya hitam dari muka Khabuli, menjadi semakin hitam, dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat. “Bagus! Dan bagaimana kalau pemuda dusun ini kalah olehku, Mimi yang manis? Mau engkau berjanji bahwa kalau dia kalah olehku, engkau harus menjamu makan minum padaku sampai mabok?”

Ucapan ini mengandung kekurang ajaran, karena menjamu makan minum sampai mabok merupakan hal yang sama sekali tidak mungkin, mengingat bahwa Mimi adalah seorang gadis. Walaupun masih adik misannya sendiri. Akan tetapi ia sudah tahu akan tingkat kepandaian Khabuli yang tidak berselisih banyak dengan tingkatnya sendiri, maka tentu saja ia merasa yakin bahwa Shu Ta pasti akan mampu mengalahkannya.

“Baik! Kita bertaruh. Kalau kau menang, akan kujamu makan minum, sebaliknya kalau kau kalah, jangan melanggar janji, engkau harus minta maaf kepada saudara Shu Ta karena kau telah memandang rendah kepadanya!” kata Mimi.

Bouw Kongcu sebaliknya merasa tidak enak. Diapun tahu bahwa kakak misannya yang sombong itu pasti tidak akan menang melawan Shu Ta, maka diapun mendekat dan berkata, “Kakak Khabuli, harap jangan lanjutkan adu kepandaian ini, karena aku yakin bahwa engkau tidak akan menang. Sudahlah, kita serahkan saja kebijaksanaan untuk menerima dan memberi pekerjaan kepada saudara Shu Ta ini kepada Yauw-Ciangkun saja.”

Akan tetapi, ucapan Bouw Kongcu yang sebetulnya menyayangkan kalau sampai kakak misannya itu nanti kalah dan mendapat malu, bahkan membuat Khabuli semakin penasaran dan marah, menganggap bahwa adik misannya itu terlalu memandang rendah kepadanya.

“Adik Bouw Ku Cin, tanpa diuji, bagaimana kita dapat membuktikan kemampuan orang ini? Aku juga seorang panglima, sudah menjadi kewajibanku untuk ikut menguji agar pasukan kita tidak kemasukan orang yang tidak becus, agar Yauw-Ciangkun tidak menerima seseorang hanya karena orang itu kauusulkan untuk diterima. Nah, Shu Ta, majulah dan ingin kulihat kemampuanmu!”

Tentu saja Shu Ta merasa tidak enak sekali. Orang ini masih kakak misan dari kakak beradik Bouw, dan seorang panglima. Karena dia akan bekerja di bawah perintah Yauw-Ciangkun, maka tidak akan baik kalau dia melayani Khabuli ini tanpa persetujuan dari Yauw-Ciangkun, calon atasannya. Maka, diapun menghadapi Yauw-Ciangkun dan berkata dengan sikap tenang. “Saya mohon petunjuk Ciangkun, apa yang harus saya lakukan.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk. Dia sendiripun kurang senang kepada Khabuli yang biasa mempunyai watak angkuh itu. Sekarang, kakak beradik Bouw sendiri yang mengusulkan agar Khabuli menguji kepandaian Shu Ta ini. Dia percaya bahwa kakak beradik itu tidak akan sembarangan menyuruh orang yang mereka calonkan itu menandingi Khabuli kalau mereka tidak yakin akan kemampuan Shu Ta. Maka, diapun mengangguk.

“Sebagai seorang calon perwira, engkau harus dapat membuktikan bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang cukup tangguh, oleh karena itu, setelah kini Khabuli-Ciangkun hendak mengujimu, tandingilah dia, saudara Shu Ta.”

Ruangan itu memang cukup luas dan dengan sikap tenang, setelah mendapatkan persetujuan Yauw-Ciangkun, Shu Ta lalu melangkah maju menghampiri Khabuli yang sudah berdiri di tengah ruangan dengan sikap bengis. Pria itu memang menyeramkan, tinggi besar hitam dan nampak kokoh kuat seperti sebongkah batu karang.

Namun, Shu Ta melihat titik kelemahan, yaitu pada pandang matanya. Pandang mata Khabuli jelas memperlihatkan ketinggian hati. Orang seperti ini akan memandang rendah lawan dan itulah kelemahannya, karena sikap memandang rendah lawan menimbulkan kelengahan.

Kakak beradik Bouw tentu saja sudah yakin akan kemampuan Shu Ta, akan tetapi Yauw-Ciangkun memandang dengan khawatir. Ketika dua orang yang akan bertanding itu berdiri saling berhadapan, memang nampak jelas sekali perbedaannya, yaitu dalam penampilannya, Shu Ta kalah segala-galanya. Kalah tinggi besar, kalah kokoh dan agaknya sekali gebrakan saja pemuda sederhana itu akan roboh!

“Ciangkun, aku sudah siap,” kata Shu Ta.

Sebelum kalimat ini habis diucapkan, Khabuli sudah mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya yang tinggi besar itu sudah menerjang ke depan. Karena diapun dapat menduga bahwa orang sederhana ini tentu memiliki sedikit kepandaian maka diusulkan menjadi perwira oleh kakak beradik Bouw, biarpun dia memandang rendah, namun begitu menyerang dia sudah mengerahkan tenaganya sehingga terjangannya itu cepat dan kuat bukan main.

Khabuli adalah seorang jagoan yang selain mempelajari ilmu silat, juga dia ahli ilmu gulat yang menjadi kebanggaan bangsa Mongol. Karena itu, terjangannya itu selain mengandung pukulan kedua tangan yang dahsyat, juga jari-jari tangannya siap untuk menangkap anggota tubuh lawan. Sekali bagian tubuh lawan dapat dicengkeram jari-jari tangan yang hitam panjang itu, akan celakalah lawan!

Namun, Shu Ta yang sudah waspada dan tidak pernah memandang rendah lawan, menghadapi terjangan itu dengan gerakan lincah mengelak ke kanan sehingga tubuh tinggi besar itu bagaikan seekor gajah menyuruk ke depan. Shu Ta menggerakkan kakinya menendang ke arah tepi lutut kiri lawan, namun dalam keadaan tersaruk ke depan itu, Khabuli masih dapat mengangkat kaki mengelak dari tendangan. Dia membalik dan menyerang lagi dengan lebih ganas dari pada tadi.

Serangannya bertubi-tubi, dan dia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Shu Ta untuk membalas. Dia menampar dari samping, menonjok dari depan, mencengkeram dari atas, dan kedua kakinya yang panjang dan besar itupun tidak tinggal diam, melengkapi hujan serangannya dengan tendangan-tendangan!

Agaknya, Khabuli bernapsu besar untuk merobohkan lawan, maka dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghujankan serangan. Kakak beradik Bouw yang melihat kegarangan Khabuli ini, mau tidak mau merasa khawatir pula, apa lagi Yauw-Ciangkun yang maklum betapa besar bahayanya melawan seorang yang kokoh kuat seperti Khabuli.

Namun, Shu Ta masih bersikap tenang saja walaupun dia dihujani serangan. Dengan elakan-elakan cepat, mempergunakan keringanan tubuhnya, juga kadang dia menangkis dari samping, dia dapat menghalau semua terjangan yang ganas itum dan sengaja dia mengeluarkan suara seperti orang menertawakan lawan. Hal ini membuat Khabuli menjadi semakin marah dan penasaran.

Dia menyerang terus, terpancing kemarahannya dan tanpa memperhitungkan apa-apa lagi, diapun mengerahkan seluruh tenaga dan menyerang bertubi-tubi. Pengerahan tenaga yang terus menerus ini, membuat dia sebentar saja, setelah lewat dua puluh lima jurus, menjadi terengah-engah dan tubuhnya sudah mandi keringat.

Namun, panglima raksasa ini memang seorang yang terlalu tinggi hati. Dia tidak dapat melihat betapa lawannya amat lincah dan memiliki gerakan yang amat cepat, melainkan dia menganggap bahwa lawan yang sama sekali belum membalasnya itu terdesak dan gentar terhadap serangan-serangannya yang bertubi-tubi.

Setelah melihat lawan terengah-engah dan sambaran pukulan dan cengkeraman tangannya tidaklah seganas tadi, tanda bahwa tenaga lawan mulai berkurang, barulah Shu Ta mengirim serangan balasan. Ketika melihat lengan kanan lawan yang besar panjang itu menyambar lewat, secepat kilat dia menggunakan jari-jari tangan terbuka menghantam dari samping ke arah belakang siku lawan.

“Dukk...!!” Tangannya tepat sekali mengenai otot yang berada di dekat siku dan seketika lengan kanan Khabuli tergetar hebat dan seperti lumpuh. Pada saat itu, kaki Shu Ta juga menyambar dan mengenai belakang lutut kiri lawan.

“Dukkk...!!” Kembali Khabuli merasa betapa kakinya tergetar dan lumpuh, dan tak dapat pula dia menahan dirinya untuk jatuh berlutut dengan sebelah kakinya! Kalau Shu Ta menghendaki, tentu dia dapat mengirim serangan susulan pada saat lawan berlutut itu. Akan tetapi dia tidak melakukan hal itu, hanya menanti dengan berdiri tegak.

Terdengar tepuk tangan. Yang bertepuk tangan adalah Mimi karena gadis ini merasa girang sekali melihat jagoannya menang. “Kakak Khabuli, engkau sudah kalah!” teriaknya.

Akan tetapi Khabuli yang merasa penasaran dan marah, tidak percaya bahwa dia dapat dibuat jatuh berlutut oleh lawan, menggunakan kesempatan itu untuk melompat dan sekali terkam, kedua lengannya yang panjang itu telah berhasil menerkam tubuh Shu Ta.

Mimi mengeluarkan seruan kaget, juga Bouw Kongcu terbelalak, maklum betapa bahayanya kalau orang sudah dapat diterkam oleh Khabuli seperti itu. Jari-jari tangan yang terlatih dengan ilmu gulat itu tentu akan dapat mematahkan tulang, mencekik dan mengunci, membuat lawan tidak mampu melepaskan diri lagi. Khabuli mengeluarkan gerengan seperti seekor beruang yang berhasil menangkap mangsanya.

Agaknya, rasa malu karena tadi dijatuhkan, membuat panglima raksasa ini lupa bahwa dia sedang menguji kepandaian seorang calon, bukan sedang berkelahi melawan musuh! Dia sudah mengerahkan tenaga dan siap mematahkan lengan atau tulang punggung lawan.

Akan tetapi, sesungguhnya, Shu Ta bukan dapat diterkam karena lengah. Dia memang sengaja membiarkan dirinya diterkam untuk cepat menyudahi pertandingan itu. Maka, begitu kedua pundaknya dapat diterkamm sebelum lawan mampu mengerahkan tenaganya, secepat kilat kedua tangannya sudah melakukan totokan-totokan.

“Tuk! Tuk!” Dua kali jari tangannya menotok dan seketika tubuh Khabuli menjadi lemas. Walaupun kedua lengan Khabuli masih merangkul dan menerkamnya, namun sesungguhnya, raksasa itu sudah kehilangan tenaga karena berada dalam keadaan tertotok!

Shu Ta tidak ingin membikin malu lawan, maka diapun mengerahkan tenaga dan memanggul tubuh yang masih menerkamnya itu, membawanya ke meja dan mendudukkan tubuh Khabuli ke atas kursinya, kemudian, secepat kilat dia menggerakkan tangan memulihkan totokan lalu mundur, mendekati kursinya sendiri!

Bouw Kongcu dan Bouw Siocia bertepuk tangan dengan gembira. “Kakak Khabuli, engkau sudah kalah, hayo cepat minta maaf kepada saudara Shu Ta!” kata Bouw Kongcu.

Sekali ini, Khabuli tidak dapat lagi menyangkal kekalahannya. Dia maklum bahwa pemuda sederhana itu benar-benar amat lihai. Juga dia tahu bahwa Shu Ta sengaja tidak ingin merobohkannya dan membikin malu, maka diapun tidak dapat berkata apa-apa lagi. Wajahnya yang hitam menjadi semakin hitam.

“Kakak Khabuli, hayo kau mengaku kalah!” kata pula Mimi dengan gembira.

“Bouw Kongcu dan Bouw Siocia, sudahlah, sesungguhnya, Khabuli-Ciangkun telah bersikap mengalah. Dia memang hebat, memiliki tenaga yang kuat dan ilmu silat serta ilmu gulatnya lihai sekali,” kata Shu Ta yang tidak ingin menanam permusuhan dalam penyusupannya di pasukan Mongol.

“Saudara Shu Ta, melihat ilmu kepandaianmu, kami merasa gembira menerimamu sebagai seorang perwira dalam pasukan kami. Engkau kami beri tugas untuk mengajarkan ilmu silat kepada para perwira rendahan agar tingkat mereka bertambah.”

Khabuli yang merasa malu dan juga tidak enak untuk terus berada di siu, bangkit berdiri. “Ilmu totok dari saudara Shu Ta memang sungguh lihai sekali sehingga aku dapat dibuat tidak berdaya. Yauw-Ciangkun, aku masih mempunyai kepentingan lain di kota. Aku pergi dulu!" Tanpa menanti jawaban, Khabuli sudah melangkah keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.

Demikianlah, mulai hari itu, Shu Ta diterima sebagai seorang perwira baru, dan dia mendapat tugas untuk melatih ilmu silat kepada para perwira lain. Dia bekerja dengan baik, dan atas desakan kedua putera puteri Menteri Bayan itu, sebentar saja dia sudah mendapatkan kepercayaan dan kenaikan pangkat sehingga dia dipercaya untuk memimpin seregu pasukan.

Shu Ta memang cerdik sekali. Setiap kali menerima tugas, selalu dia laksanakan dengan baik. Kalau pasukannya menerima tugas untuk menjaga keamanan, dia bersungguh-sungguh menumpas gerombolan penjahat sehingga setelah dia menjadi perwira keamanan, daerah Nanking menjadi aman.

Dan kalau dia menerima tugas untuk membasmi kelompok pemberontak, dia selalu berhasil memberi kabar kepada kelompok itu, sehingga pada saat dia dan pasukannya tiba, maka para pemberontak itu sudah kabur sehingga tidak terjadi pembasmian atau penangkapan.

Seperti yang telah dia perhitungkan dan harapkan ketika timbul pikirannya untuk menyusup menjadi seorang perwira kerajaan Mongol, Shu Ta dapat mulai mengumpulkan keterangan tentang keadaan kerajaan Mongol, tentang kekuatannya, dan tentang kemunduran-kemunduran yang sedang terjadi karena kaisarnya, yaitu Kaisar Togan Timur (1333-1368), bukan merupakan seorang kaisar yang bijaksana dan pandai seperti nenek moyangnya.

Seluruh kekuasaan dikendalikan oleh para menteri, terutama Menteri Bayan, dan para thaikam (orang kebiri), yaitu mereka yang mempengaruhi kaisar dari sebelah dalam istana. Korupsi merajalela, pemerintahan lemah sekali dan pengendalian atau pengontrolan terhadap para pejabat di daerah hampir tidak ada lagi.

Para pejabat di daerah dapat bertindak sesuka hati sendiri, dan kalaupun ada pemeriksa datang dari kota raja, pemeriksa itu tentu melaporkan yang baik-baik saja ke pusat karena dia sudah menerima suapan dari para pejabat daerah. Dalam keadaan pemerintah lemah seperti itu, di daerah selalu timbul pergolakan, gerombolan-gerombolan pemberontak bermunculan, gerombolan-gerombolan penjahat juga saling memperebutkan kekuasaan.

Makin nampaklah oleh Shu Ta bahwa saatnya hampir masak untuk mengadakan pemberontakan besar-besaran yang pasti akan mampu menggulingkan pemerintah yang sedang dalam keadaan lemah itu. Apa lagi pemerintahan penjajah yang memiliki pamong praja yang korup itu amat dibenci rakyat, karena para pejabat itu melakukan penekanan, penindasan dan penghisapan.

Pemerintah yang para pejabatnya korup, mementingkan kesenangan sendiri, di mana terjadi perebutan kekuasaan, pemerintah yang tidak disuka oleh rakyat jelata, condong untuk mudah berantakan dan roboh. Hanya pemerintah yang dipimpin oleh mereka yang benar-benar mencinta negara dan bangsa, mereka yang adil dan jujur, tidak korup, yang memiliki pasukan yang kokoh kuat dan taat serta setia, yang didukung oleh rakyat jelata, pemerintah seperti itu yang akan berhasil memajukan kehidupan rakyat dan memperkuat negara ddan pemerintahannya.

Hubungan Shu Ta yang kini disebut Shu-Ciangkun (Panglima Shu) dan kakak beradik Bouw semakin baik dan biarpun mereka tinggal saling berpisah jauh, karena kakak beradik itu tinggal di Peking, namun mereka sering saling memberi kabar dan setiap kali ada kesempatan, mereka saling bertemu, terutama kalau kakak beradik itu pergi ke Nanking.

* * *

Kita tinggalkan dulu Shu Ta yang kini telah menjadi seorang panglima muda yang dipercaya di Nan-king, yang mendiami sebuah gedung dan memiliki belasan orang pengawal dan pelayan walaupun dia masih hidup membujang.

Shu Ta sama sekali tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian setelah dia menjadi panglima di Nan-king, terjadi kegemparan dengan adanya berita tentang seorang pemberontak yang telah melakukan pembunuhan terhadap seorang perwira yang bertugas di Wu-han, bahkan gambarnya dipasang di mana-mana agar orang-orang mengetahui dan membantu pemerintah menangkap pembunuh itu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal gambar itu sebagai suhengnya, Cu Goan Ciang! Akan tetapi tentu saja dia pura-pura tidak tahu, hanya memesan kepada semua anak buahnya bahwa kalau mereka sampai dapat bertemu dengan “pembunuh” itu, agar jangan dibunuh akan tetapi ditangkap dan dibawa menghadap kepadanya.

Orang itu amat penting, harus ditangkap dan dibawa membuka rahasia para pemberontak, demikian katanya, maka tidak boleh dibunuh dan dihadapkan kepadanya hidup-hidup. Tentu saja perintah ini dikeluarkan untuk melindungi Goan Ciang agar jangan sampai terbunuh.

Pada suatu pagi, seorang pemuda dusun yang nampak bodoh dan lugu, memasuki pintu gerbang kota Nan-king bersama seorang pemuda lain yang agak jangkung, juga seorang dusun yang kelihatan bodoh dan bermata sipit, jenggot dan kumisnya kacau tak terpelihara. Tidak ada seorangpun yang akan mengenal mereka, karena wajah dan keadaan mereka sudah berubah sama sekali dari keadaan asli mereka.

Mereka adalah Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen yang melakukan penyamaran sebagai dua orang dusun yang bodoh dan sederhana seklai. Siapa akan mengira bahwa pemuda jangkung yang mukanya buruk dan licik, juga nampak amat bodoh itu, adalah Cu Goan Ciang yang baru saja menggegerkan Wu-han karena dia telah membunuh seorang perwira tinggi dan beberapa orang prajurit?

Wajah aslinya tampan dan gagah, akan tetapi sekarang dia kelihatan seperti seorang pemuda dusun yang bodoh. Adapun pemuda ke dua yang nampak muda dan juga bodoh itu, lebih mengagumkan lagi kalau orang melihat wajah aslinya. Ia adalah seorang gadis yang cantik jelita, lincah jenakan, bahkan ia adalah wakil ketua umum dari Hwa I Kaipang yang terkenal! Adapun Cu Goan Ciang diangkat menjadi pembantunya.

Dua orang pimpinan Hwa I Kaipang ini sengaja menyamar dan memasuki Nan-king untuk menyelidiki tentang Hek I Kaipang yang kini agaknya diperalat oleh pemerintah Mongol, menjadi antek Mongol. Mereka ingin menyelidiki sampai berapa jauh hubungan atau persekongkolan antara Hek I Kaipang dengan para pembesar Mongol sehingga perkumpulan pengemis itu tega untuk mengkhiananti golongan sendiri, membantu para prajurit untuk menyerang Hwa I Kaipang.

Tidak sukar bagi kedua orang itu untuk membaur dengan banyak orang yang keadaannya mirip mereka. Di kota Nan-king memang setiap hari berdatangan penduduk dusun untuk menjual hasil sawah ladang mereka. Ratusan orang banyaknya, datang dari berbagai dusun di sekitar Nan-king.

Para penghuni dusun ini seperti keadaan mereka berabad-abad yang lalu, masih sama saja. Rajin bekerja, sederhana, kurang akal sehingga hasil merekapun amat sederhana, namun agaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sederhana pula.

Setiap hari atau beberapa hari sekali, setelah memetik hasil ladang mereka, para petani ini berangkat dari dusun pada pagi hari sekali, bahkan yang jaraknya agak jauh berangkat malam-malam, membawa obor di tangan, memikul barang dagangan berupa sayur mayur, buahbuahan dan sebagainya, untuk dibawa ke kota Nan-king dan tidak kesiangan tiba di pasar, di mana banyak orang berbelanja.

Setelah dagangan mereka habis, biasanya mendapatkan uang tidak berapa banyak untuk ukuran orang kota, mereka menghabiskan pula uang itu untuk berbelanja bermacam keperluan, baju baru, sepatu atau makanan yang tidak terdapat di dusun untuk anak mereka.

Mereka tidak tahu betapa hasil ladang mereka yang didapat dengan cucuran keringat ketika menanam, merawat, kemudian memtik dan memikulnya ke pasar, dihargai semurah-murahnya oleh orang kota, tidak tahu pula bahwa barang-barang yang mereka beli dari orang kota, dihargai amat mahal.

Orang bodoh selalu menjadi makanan orang pintar, padahal, sepantasnya orang pintar menjadi guru orang bodoh, orang kaya menjadi penderma orang miskin, orang kuat menjadi pelindung orang lemah dan selanjutnya. Sayang keadaan di dunia tidaklah demikian adanya. Yang kuat menindas yang lemah, yang pintar menipu yang bodoh, yang kaya merendahkan yang miskin.

Cu Goan Ciang yang menggunakan nama baru Hung Wu bersama Tang Hui Yen yang memakai nama Siauw Yen, memasuki pasar di mana terdapat banyak orang dusun. Mereka tadi telah membeli lima buah kue bakpouw untuk sarapan pagi. Mereka, seperti orang-orang dusun itu, tidak malu untuk makan bakpouw di tepi jalan, mendorong makanan itu ke dalam perut dengan air teh yang mereka bawa sebagai bekal, seperti kebiasaan orang-orang dusun pula.

Hung Wu menghabiskan tiga buah bakpouw, masih menerima sepotong pula dari Siauw Yen karena gadis yang kini menjadi pemuda remaja itu hanya mampu menghabiskan satu setengah saja. Mereka kini sengaja menghampiri sekelompok pengemis yang berkeliaran di dalam pasar, minta sedekah.

Mereka melihat bermacam pengemis, dari yang tua sampai yang muda dan kanak-kanak, akan tetapi mereka itu adalah pengemis biasa, yaitu mereka yang hidupnya terlantar dan tidak termasuk pengemis yang berorganisasi. Tidak nampak seorangpun pengemis yang berpakaian hitam-hitam, yaitu anggota Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam).

Diam-diam mereka berdua merasa heran. Mereka tahu bahwa Hek I Kaipang berpusat di Nan-king, dan merupakan perkumpulan pengemis yang berkuasa di Nan-king. Akan tetapi kenapa di kota Nan-king sendiri tidak nampak seorangpun pengemis anggota Hek I Kaipang?

Tiba-tiba Siauw Yen menyentuh tangan Hung Wu dan berbisik, “Hung-twako, kita ikuti dua orang anak itu.”

Hung Wu memandang dan melihat dua orang anak jembel yang tadinya dia lihat menghitung-hitung uang receh berkeping-keping kini berjalan keluar melalui pintu belakang pasar. Dia tidak tahu mengapa Siauw Yen mengajak dia mengikuti dua orang anak itu, akan tetapi dia tidak membantah dan dengan langkah santai agar tidak kentara mereka mengikuti dua orang anak-anak yang keluar dari dalam pasar melalui pintu belakang.

Dua orang anak laki-laki berusia antara dua belas sampai lima belas tahun itu keluar dari pintu menuju ke sebuah jembatan. Di tebing dekat jembatan, bagian bawahnya, nampak seorang laki-laki setengah tua sedang duduk dan kini Hung Wu dan Siauw Yen memandang penuh perhatian karena laki-laki itu adalah seorang anggota Hek I Kaipang!

Dua orang anak laki-laki itu menghampiri pengemis baju hitam yang menyambut mereka dengan mata melotot dan sikap bengis. “Paman, kalau boleh, hari ini setoranku kukurangi tiga keping, besok akan kutambahkan tiga keping. Adikku sakit dan aku ingin membelikan buah yang segar untuknya,” kata anak yang lebih kecil dengan suara memohon. Sedangkan anak yang lain sudah menyerahkan uang yang dihitung oleh pengemis itu, jumlahnya sepuluh keping.

“Apa?” Si pengemis melotot dan membentak. “Kalau ingin mendapatkan penghasilan lebih, bekerjalah lebih giat! Tidak boleh potong, kalau setoranmu kurang, jari tanganmu yang akan kupotong!”

Anak itu menjadi ketakutan dan biarpun dia cemberut, dia menyerahkan semua uangnya yang jumlahnya juga hanya sepuluh keping. Setelah pengemis itu menerima uang mereka, kedua orang anak jembel itu pergi. Kemudian berdatangan para pengemis yang tadi dilihat oleh Hung Wu dan Siauw Yen di pasar, dan mereka semua menyetorkan uang kepada anggota Hek I Kaipang itu...

Jilid selanjutnya,