Rajawali Lembah Huai Jilid 12

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 12
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 12, karya Kho Ping Hoo - YEN YEN menyambutnya dengan perintah. "Twako, duduklah di atas batu ini dan jangan bergerak-gerak.”

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Dengan heran Goan Ciang duduk dan melihat gadis itu menghampirinya dengan sebuah kotak kecil di tangan. Ketika gadis itu berjongkok di depannya dan mengamati wajahnya dari jarak dekat sehingga dia dapat merasakan hembusan napas gadis itu mengusap pipinya, dia semakin heran.

“Hemm, apa lagi ini, Yen-moi?” akhirnnya saking tak tahan untuk mengetahui, dia bertanya.

“Aku sedang mempelajari bentuk mukamu, apa kiranya yang paling menonjol dan mudah diingat orang,” jawab Yen Yen.

Goan Ciang tidak mengerti dan semakin heran, juga agak rikuh karena gadis itu mengamati wajahnya seperti orang mengamati dan menilai sebuah benda yang aneh! “Apa sih maksudmu?” tanyanya, alisnya berkerut.

“Alismu! Benar, alismu mempunyai bentuk istimewa, harus diubah!”

“Apa? Apa maksudmu?”

“Toako, semua orang akan mengenalmu. Bahkan gambarmu dipasang di mana-mana sebagai seorang buruan. Apakah engkau senang dengan keadaan ini? Kita tidak akan dapat bergerak dengan leluasa. Engkaupun seperti aku, harus menyamar.”

“Hemm, itukah maksudmu! Kenapa tidak bilang sejak tadi? Akan tetapi, aku tidak pernah menyamar dan....”

“Serahkan saja kepadaku. Bukankah engkau tadi tidak mengenalku? Aku ahli menyamar, dan kalau aku sudah selesai dengan wajahmu, bahkan orang yang paling dekat denganmu tidak akan mengenalmu lagi.”

“Kau hendak mencoreng moreng mukaku?”

“Tidak. Penyamaran dengan mencoreng moreng muka adalah penyamaran kasar dan bodoh, hanya dilakukan para pemain wayang di panggung, dengan bedak tebal, gincu dan sebagainya. Nah, duduklah diam. Aku akan mengubah sedikit bentuk alismu yang seperti bentuk golok itu.”

Goan Ciang maklum akan kebenaran pendapat Yen Yen. Memang dia akan dikenal orang di mana-mana karena pemerintah Mongol telah memasang gambarnya sebagai seorang buronan. Dan dia tentu tidak akan leluasa bergerak. Maka, diapun pasrah saja.

Akan tetapi, melihat wajah gadis itu demikian dekat dengan wajahnya, walaupun itu sudah seperti wajah seorang pemuda, membuat dia merasa canggung dan untuk mengatasi getaran jantungnya, diapun memejamkan matanya.

Dia tadi melihat gadis itu mengambil alis mata palsu, dengan bulu rambut alis yang aseli, menggunakan gunting dan merasa setelah dia memejamkan mata betapa gadis itu membongkar dan menambah rambut alisnya, menggunakan semacam getah sebagai alat penempel. Bentuk alisnya diubah, mungkin dipertebal dan diperpanjang.

“Alis tambahan ini akan melekat terus, biar kau gosok dan cuci dengan airpun tidak akan dapat lepas, kecuali kalau kaucabuti. Itupun mungkin akan membuat kulinya terluka dan berdarah. Satu-satunya cara untuk melepas alis palsu itu adalah menggunakan semacam minyak jarak yang ada padaku. Nah, sekarang giliran alismu sudah berubah. Matamu juga harus diubah bentuknya.”

Goan Ciang terkejut. “Ihh! Apakah mataku akan kau sayat-sayat pelupuknya?”

Gadis itu tertawa dan Goan Ciang memejamkan mata lagi untuk melihat kilatan gigi putih seperti mutiara berderet, ujung lidah yang merah dan rongga mulut yang lebih merah lagi..“Tentu saja tidak! Matamu terlalu lebar, mudah diingat orang. Kalau ujungnya diberi sedikit goresan, akan nampak sipit seperti mata orang kebanyakan.”

Gadis itu kini menggunakan pena bulu dengan semacam tinta hitam yang tidak dapat luntur, membuat garis di kedua tepi mata Goan Ciang. Seperti seorang pelukis, ia membuat garis hitam, lalu mundur untuk melihat hasilnya, mencoret lagi sampai akhirnya ia menghela napas lega dan puas.

“Bagus, sekarang bentuk matamu sudah berubah. Garis hitam di tepi matamu inipun tidak akan hilang oleh air, akan tetapi jangan digosok terlalu kuat kalau engkau mandi atau mencuci muka, terutama jangan dengan air panas. Sekarang, coba kulihat apa lagi yang perlu diubah agar wajahmu benar-benar kehilangan jejak bentuk lamanya.”

Sekarang Goan Ciang sudah menyerah benar-benar. Jari-jari tangan yang terasa halus dan hangat itu meraba-raba mukanya, membuat dia memejamkan mata dan merasa nyaman sekali, membuatnya mengantuk lagi!

“Hemm, coba kulihat. Telingamu tidak menyolok, seperti telinga orang biasa, akan tetapi dahimu terlalu lebar dan bentuknya mengandung wibawa, sebaiknya ditambah rambut di depan sehingga akan nampak lebih kecil. Kemudian, kalau ada kumis dan jenggot, ditambah sedikit cambang, dan bentuk gelung rambutmu diubah, hemm, tak seorangpun akan mengenalmu lagi, toako!”

Gadis itu nampak gembira lalu mengerjakan semua rencananya itu. Menempel sana menempel sini dan dalam waktu kurang dari sejam, kini Goan Ciang telah berkumis, berjenggot dan cambangnya memanjang sampai ke pipi, dahinya tidak selebar tadi, matanya sipit dan alisnya tebal panjang!

“Nah, coba kau periksa wajahmu sendiri, masih kurang apa untuk mengubahnya menjadi lain sama sekali.” Gadis itu mengeluarkan sebuah cermin kecil bundar dan menyerahkannya kepada Goan Ciang.

Ketika Goan Ciang melihat wajahnya sendiri dalam cermin, dia tertegun. Mukanya berubah merah. Dia seperti melihat seorang laki-laki lain, wajah yang tidak disukanya, dalam cermin itu! Dengan cambang, kumis dan jenggot, matanya sipit dan alis tebal, apa lagi dahi sempit itu dia kelihatan kejam dan licik!

“Ihh! Tampangku seperti seorang bandit!” serunya.

Gadis itu tertawa senang. Makin kaget dan marah Goan Ciang, akan makin senanglah hatinya karena hal itu membuktikan bahwa pekerjaannya berhasil baik. “Bagus, penyamaranmu sempurna, Hung-toako!” katanya seperti bersorak. “Hung-toako? Apa lagi ini?”

“Toako, tentu saja namamu harus diganti. Mulai sekarang engkau bernama Hung Wu dan aku menyebutnya Hung-toako (kakak Hung), sedangkan engkau menyebut aku Yen-te (adik Yen). Nama Yen adalah nama umum, aku tidak perlu mengganti nama sama sekali, cukup dengan nama Siauw Yen (Yen kecil) saja. Lebih mudah bagimu, bukan?”

Diam-diam Goan Ciang kagum bukan main. Gadis ini memikirkan segala hal. Seorang gadis yang amat cerdik, dan sekarang dia tidak merasa heran mengapa seorang kakek bijaksana seperti Pek-mou Lo-kai menyerahkan kepemimpinan perkumpulan besar seperti Hwa I Kaipang kepada seorang gadis! Kiranya gadis ini memang cerdik sekali. “Baiklah, Yen-te. Sekarang, kita akan ke mana?”

“Memasuki kota Nan-king?”

Goan Ciang membelalakkan matanya, tidak menyadari betapa lucunya ketika dia terbelalak sehingga gadis yang berubah menjadi pemuda remaja itu tertawa terpingkal-pingkal sehingga kotak alat penyamaran yang dipegangnya terlepas, kotaknya terjatuh, tutupnya terbuka dan isinya berantakan. Sambil mengambili isi kotak, Yen Yen masih tertawa terpingkal dan kadang memegangi perutnya.

“Siauw Yen! Apa sih yang kau tertawakan sampai setengah mati begitu?” tanya Goan Ciang.

“Toako, ingat, jangan sekali-kali engkau membelalakkan matamu seperti tadi. Aku pasti tidak dapat menahan untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal. Kalau matamu yang berubah sipit itu kau belalakkan, aduh, sungguh lucu sekali, mengingatkan aku akan seorang badut di panggung wayang yang pernah kutonton ketika aku berkunjung ke kota raja Peking.”

“Hemm, engkau hendak mempermainkan dan mentertawakan aku?” kata Goan Ciang cemberut, marah karena dia dikatakan seperti badut.

“Maaf, toako. Maafkan adikmmu, ya? Sungguh mati, aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Bahkan itu tandanya bahwa penyamaranmu amat baik. Nah, mari kita berangkat, toako, sekali lagi maafkan aku!” Yen Yen memegang tangan pemuda itu dan menggandengnya.

Lenyap seketika kemarahan dari hati Goan Ciang ketika mereka berjalan sambil bergandeng tangan. “Yen-te, katakan, mau apa kita ke Nan-king? Bukankah tempat itu berbahaya sekali, penuh dengan pasukan keamanan dan mempunyai banyak perwira yang tangguh?”

“Kita harus menyelidiki para pengkhianat itu! Hek I Kaipang harus kita hancurkan. Merekalah yang mengkhianati kita. Para pengkhianat itu lebih berbahaya dari pada orang Mongol sendiri. Kalau orang Mongol, sudah jelas musuh kita. Akan tetapi para pengkhianat itu, merupakan musuh dalam selimut yang amat berbahaya. Aku lebih membenci mereka dari pada para penjajah itu sendiri.”

“Hemm, itukah sebabnya engkau tadi membunuh anggota Hwa I Kaipang yang agaknya mengkhianati kita dan melaporkan tentang pertemuan di bukit batu?”

Yen Yen mengangguk, “Aku serang dia dengan pisau terbangku. Pengkhianat seperti dia tidak boleh diampuni. Kalau dia tidak terlambat, tentu malam tadi kita telah dikepung pasukan! Ini semua gara-gara Hek I Kaipang, dan para kaipang yang rela menjadi antek penjajah Mongol!”

“Akan tetapi, hanya kita berdua, apa yang dapat kita lakukan menghadapi mereka? Kakekmu sendiri sudah memperingatkan agar kita berhati-hati kalau berhadapan dengan para pemimpin Hek I Kaipang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Apa yang dapat kita lakukan? Menyerbu Hek I Kaipang dengan tenaga kita berdua saja?”

“Aih, toako, apakah engkau kira aku begitu bodoh? Tidak, aku belum ingin bunuh diri dan mati konyol. Kita menyelundup ke Nan-king dan kita mempelajari keadaan. Kita menyelidiki sampai di mana keakraban hubungan antara Hek I Kaipang dan para pembesar Mongol. Dengan penyamaran ini, kita dapat bergerak leluasa, menjadi dua orang pemuda yang datang dari dusun ke kota itu, untuk mencari pekerjaan, mencari pengalaman atau sekadar bertualang. Kita tidak akan dapat menyolok, tidak akan ada yang mencurigai kita.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan hati Goan Ciang merasa lega bahwa sejauh ini, Goan Ciang merasa lega bahwa sejauh ini, gadis yang luar biasa itu tidak pernah memperlihatkan dengan sikap, kata-kata maupun perbuatan tentang isi hatinya, yang oleh kakek Pek-mou Lokai dikatakan bahwa gadis itu telah memilih dia sebagai calon jodoh!

* * *

Kita tinggalkan dulu Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen yang menyamar sebagai kakak beradik dari desa yang pergi ke kota Nan-king, dan mari kita mengikuti perjalanan pemuda Shu Ta, sute dari Cu Goan Ciang. Pemuda murid Lauw In Hwesio ini melakukan perjalanan seorang diri.

Shu Ta juga seperti Cu Goan Ciang, yatim piatu dan hidup sebatang kara di dunia ini. Usianya sebaya dengan suhengnya, sekitar dua puluh tahun. Akan tetapi pemuda yang tampan ini memiliki kecenderungan untuk brewok. Kumis dan jenggot serta cambangnya tumbuh dengan subur memenuhi setengah wajahnya yang tampan.

Karena merasa belum pantas memelihara kumis jenggot, maka dia sering kali mencukurnya, akan tetapi baru dicukur beberapa hari saja sudah nampak rambut yang subur itu tumbuh lagi. Berbeda dengan Goan Ciang yang agak pendiam, Shu Ta ini orangnya cerdik dan lincah, banyak akalnya.

Ketika dia berpisah dari suhengnya, selama beberapa jam melakukan perjalanan seorang diri, perasaan hatinya tertekan, seolah dia merasa kehilangan. Sejak kecil, dia berada di kuil Siauw-lim-si, menjadi kacung kuil sampai dia bertemu dengan Goan Ciang, belajar silat bersama.

Kemudian mereka berdua meninggalkan kuil untuk mencari pengalaman, dan bersama-sama menundukkan keluar Ji dan keluarga Koa di dusun Cang-cin sehingga kedua keluarga yang tadinya menjadi penindas rakyat itu berbalik kini menjadi dermawan dan pelindung rakyat di dusun itu.

Kalau Cu Goan Ciang dari dusun itu pergi ke kota Wu-han, maka Shu Ta pergi menuju ke kota Nan-king. Dia tidak menolak ketika hendak meninggalkan dusun itu dia diberi bekal oleh dua orang kakak beradik Koa. Dia memang membutuhkan biaya dalam perjalanan, sebelum dia mendapatkan pekerjaan untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.

Dan bekal yang diterimanya itu cukup untuk membiayainya melakukan perjalanan ke kota Nan-king. Dahulu, ayah dan ibunya pernah tinggal di kota besar ini. Di waktu dia berusia lima enam tahun, dia pernah tinggal di kota itu dan masih ingat akan kebesaran dan keindahannya, dan oleh karena itulah maka kini dia menuju ke Nan-king.

Seperti juga Cu Goan Ciang, di sepanjang perjalanan Shu Ta melihat kesengsaraan rakyat, terutama yang hidup di pedusunan dan dia merasa prihatin sekali. Agaknya pemerintah penjajah sama sekali tidak mau memperdulikan nasib rakyat dari negara yang dijajahnya.

Para pejabat pemerintah penjajah hanya memikirkan kesenangan diri sendiri masing-masing, dari kaisarnya sampai pejabat paling kecil. Bukan saja mereka tidak memperdulikan nasib rakyatnya, tidak mengulurkan tangan untuk menolong, sebaliknya mereka bahkan melakukan pemerasan disana-sini, demi untuk memenuhi kantung mereka yang sudah penuh.

Pada suatu hari, tibalah dia di jalan yang melintasi sebuah bukit kecil, di sebelah utara kota Nan-king. Dari tempat itu, ke Nan-king masih sejauh tiga puluh li lagi. Tengah hari itu amatlah teriknya. Tubuh Shu Ta sudah basah oleh keringat, maka diapun berhenti di tepi jalan, duduk di bawah pohon besar yang rindang. Jalan itu sepi sekali. Dia menurunkan buntalan pakaiannya dan mengeluarkan sebuah guci yang terisi air jernih.

Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda. Dia memegang guci dan tidak jadi membuka tutupnya karena dua ekor kuda yang berlari congklang ke tempat itu menimbulkan debu. Tidak sehat kalau dia minum pada saat itu, tentu banyak debu ikut memasuki mulutnya.

Dia mengangkat muka memandang. Dua ekor kuda yang bagus, tinggi besar, jelas kuda-kuda pilihan yang mahal. Juga pakaian kudanya menunjukkan bahwa penunggangnya adalah orang-orang kaya. Dan memang benar. Pemuda dan gadis yang menunggang kuda itu jelas orang kaya, bahkan tentu bangsawan karena pakaian mereka yang indah.

Dari model topi mereka, Shu Ta dapat menduga bahwa mereka yang berkedudukan tinggi dan kaya raya. Yang mengherankan hatinya, kalau mereka itu putera dan puteri bangsawan tinggi Mongol, kenapa berkeliaran berdua saja tanpa pengawal?

Biasanya, para pembesar Mongol kalau keluar kota selalu dikawal ketat karena tentu saja ada kemungkinan mereka diserang oleh para pemberontak, yaitu patriot-patriot yang memusuhi penjajah Mongol. Kedua orang itu tiba-tiba menahan kuda mereka dan memandang kepada Shu Ta. Shu Ta yang tadi mengamati mereka, merasa canggung.

Pemuda Mongol itu tampan dan gagah, akan tetapi gadis itu lebih hebat lagi. Begitu cantik jelita dan memiliki sepasang mata yang demikian tajam seperti sepasang bintang! Dia menjadi gugup dan menuangkan air jernih dari guci mulutnya. Dia mendengar suara wanita bicara kepada pemuda itu dan si pemuda bangsawan berseru. “Heii, sobat, jangan dihabiskan air itu!”

Tentu saja dia terkejut dan heran, menunda minumnya dan menutupi lagi guci arinya dengan cepat agar tidak kemasukan debu yang masih mengepal. Kini dua orang muda bangsawan itu sudah turun dari kuda, membiarkan kuda mereka makan rumput dan mereka melangkah menghampirinya. Shu Ta tidak tahu harus berbuat apa, hanya memandang seperti orang kehilangan akal.

Dia merasa heran mengapa tidak timbul kebencian dalam hatinya terhadap mereka, seperti yang dibayangkannya dahulu ketika dia masih berada di kuil. Kalau dia membayangkan orang Mongol, selalu timbul kebencian di hatinya karena mereka telah menjajah tanah air dan bangsanya. Akan tetapi, kini berhadapan dengan seorang pemuda dan seorang gadis Mongol, entah mengapa, dia tidak merasakan kebenciannya itu!

Memang tidak mengherankan karena muda mudi itu sama sekali tidak mempunyai penampilan yang cukup untuk menimbulkan perasaan benci.. Mereka memiliki gerak-gerik yang lembut, sikap mereka halus dan pandang mata merekapun riang dan tidak mengandung kekerasan atau kesombongan seperti yang seringkali dia dengar.

“Maafkan kami, sobat. Tadi adikku melihat engkau minum dan kami memang sedang kehausan. Dalam keadaan hampir mati kehausan ini, tidak ada yang lebih nikmat dari pada air jernih. Kalau engkau tidak keberatan, sobat. Bolehkah kami minta sedikit air minum dari gucimu itu?”

Shu Ta memandang bengong. Dua orang muda bangsawan Mongol yang begitu kaya raya kini minta air minum darinya di tengah jalan yang sunyi? Dia sendiri tidak akan percaya kalau mendengar orang bercerita seperti itu. Biasanya, demikian yang sering didengarnya, orang-orang Mongol menganggap orang pribumi seperti binatang saja, memandang remeh dan rendah.

Akan tetapi, pemuda bangsawan ini bersikap demikian ramah, sopan dan bersahabat. Minta air minum dari gucinya! Seperti dalam mimpi saja, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, dia menyodorkan guci air minumnya yang masih tiga perempat penuh kepada pemuda bangsawan itu.

Pemuda Mongol yang usianya sekitar dua puluh dua tahun itu menerima guci air dan menyerahkannya kepada gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu tanpa bicara pula. Gadis itu menerima guci, menoleh dan memandang kepada Shu Ta dengan mata bintangnya, kemudian membuka tutup guci dan menengadahkan mukanya, lalu menuangkan air jernih dari guci itu ke dalam mulutnya yang dibuka sedikit.

Gerakannya luwes dan tidak tergesa-gesa, air yang dituangkannya pun mengalir kecil memasuki rongga mulutnya dan nampak lehernya bergerak-gerak lembut ketika ia minum dan menelan air itu. Agaknya ia memang haus sekali, ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi dan memberikan guci kepada kakaknya.

Terdengar suaranya yang merdu dan sama sekali tidak terdengar asing, seolah ia seorang gadis Han aseli. “Bukan main nikmat dan lezatnya air ini!”

Pemuda bangsawan itu tersenyum, lalu diapun minum beberapa teguk, kemudian menutup kembali guci itu dan menyerahkannya kepada Shu Ta yang masih tertegun. “Enak sekali! Engkau tahu, adikku, apa yang membuat air jernih ini demikian enaknya?”

“Tentu saja aku tahu. Kehausan kita itulah yang menjadikan air apapun terasa enak, bukankah begitu?”

“Ha-ha, engkau pintar. Memang, tidak ada minuman yang enak melebihi enaknya air biasa bagi seorang yang kehausan, dan tidak ada makanan seenak makanan bagi seorang yang kelaparan!”

Shu Ta kagum. Dua orang kakak beradik bangsawan Mongol ini jelas bukan orang-orang sombong yang bodoh, mereka terpelajar.

“Banyak terima kasih atas kebaikanmu memberi minuman kepada kami, sobat. Kami juga ingin beristirahat di sini. Sekalian membiarkan kedua ekor kuda kami beristirahat. Hari amat panasnya. Kami tidak mengganggumu, bukan?” kata pemuda bangsawan itu.

Shu Ta tidak menjawab, seperti tadi, dia tidak mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala tanda bahwa dia tidak berkeberatan. Pemuda dan gadis itupun duduk di atas batu. Pemuda itu langsung duduk, akan tetapi gadis itu meniup untuk membersihkan debu dari batu sebelum ia mendudukinya.

Sejak tadi, Shu Ta memandang penuh perhatian karena dia benar-benar merasa heran bukan main. Mereka itu jelas anak-anak bangsawan Mongol, kaya-raya, pakaian mereka indah. Kuda mereka saja demikian hebat dan mahal harganya. Orang biasa bekerja beberapa tahun lamanya belum tentu dapat membeli seekor kuda seperti itu!

Dan anehnya, mereka itu mau duduk-duduk di atas batu dengan dia, bahkan telah minum air jernih biasa dari guci airnya, minum tanpa cawan, dituang begitu saja ke mulut! Orang-orang apakah mereka ini? Dia memandang penuh perhatian.

Pemuda Mongol itu berusiah dua puluh dua tahun, tampan dan gagah sekali, juga wajahnya cerah dan mulutnya selalu dihiasi senyum. Gerak-gerinya halus dan ketika bicara tadipun lembut dan kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

Adapun gadis Mongol yang menjadi adiknya itu berusia delapan belas tahun, juga cantik jelita, terutama sekali matanya yang lebar dan tajam sinarnya itu dan mulutnya yang menggairahkan. Pendeknya, banyak pemuda dan gadis tentu akan terpesona dan tergila-gila melihat mereka berdua!

Agaknya sikap mereka yang lembut dan sama sekali tidak membayangkan kecongkakan sikap para bangsawan pada umumnyalah yang membuat Shu Ta sama sekali tidak merasa marah atau benci kepada mereka. Dia tahu bahwa andaikata kedua orang ini bersikap tinggi hati, pasti dia akan membenci mereka karena maklum bahwa mereka ini adalah orang-orang Mongol si penjajah!

Kakak beradik bangsawan Mongol itupun beberapa kali memandang kepada Shu Ta dan akhirnya gadis itu tertawa, suara tawanya merdu dan agak bebas, tidak seperti tawanya gadis Han yang biasanya menahan suara tawa mereka bahkan menutupi mulut dengan ujung lengan baju. Gadis ini tertawa begitu saja tanpa menutupi mulutnya dan dia teringat kepada Ji Kui Hwa, puteri Hartawan Ji di dusun Cang-cin itu.

Kui Hwa juga suka tertawa bebas, akan tetapi masih menundukkan mukanya seperti hendak menyembunyikan mulutnya. Gadis Mongol ini tidak menunuduk malah mengangkat muka memandang langit sehingga Shu Ta dapat melihat mulut yang agak terbuka itu dan sekilas dapat melihat rongga mulut yang merah dan deretan gigi yang putih mengkilap.

“Heh-heh-heh, koko (kakak), sobat ini melihat kita seperti orang yang selamanya belum pernah melihat orang-orang seperti kita. Dipandang seperti itu, aku mempunyai perasaan aneh, seolah-olah mataku tiga, atau ada tanduk di atas kepalaku!”

Pemuda itu tertawa pula dan memandang kepada Shu Ta. “Moi-moi (adik), pemuda mana yang tidak akan memandangmu dengan terpesona? Engkau terlalu cantik jelita bagi mata setiap orang pemuda.”

“Ihhh, koko! Jangan mengejekku. Engkaulah yang terlalu tampan sehingga banyak gadis tergila-gila kepadamu dan mengitarimu seperti sekelompok kupu-kupu menyerbu setangkai kembang.”

“Wah, itu terbalik namanya, Mimi! Akulah kupu-kupu atau kumbangnya, dan merekalah kembang-kembangnya, ha-ha-ha!” Pemuda itu tertawa dan dia kini menghadapi Shu Ta. Suaranya ramah bersahabat ketika dia bicara kepada Shu Ta.

“Sobat, agar menenangkan dan meyakinkan hati adikku yang manja ini, maukah engkau mengaku sejujurnya, kenapa engkau memandangi kami seperti itu? Seperti orang terpesona dan terheran-heran?”

Sejak tadi Shu Ta telah mampu menguasai perasaannya. Dia melihat betapa kakak beradik ini bicara dalam bahasa pribumi yang amat fasih sehingga mudah diduga bahwa mereka memang sehari-hari mempergunakan bahasa pribumi, bukan bahasa Mongol.

Juga mereka saling menyebut koko dan moi-moi seperti kebiasaan orang pribumi. Sebuah kenyataan menambah kekaguman dan keheranannya, yaitu betapa kedua orang muda bangsawan ini berwatak jujur, terus terang dan suka pula bergurau.

“Terus terang saja, aku memang terpesona dan terheran-heran, akan tetapi bukan karena keindahan wajah kalian, walaupun kalian tampan dan cantik seperti dewa dan dewi.” jawab Shu Ta yang memang pandai bicara sambil tersenyum, siap untuk menyerang keturunan penjajah ini secara halus.

“Ehh? Kalau begitu, apa yang kau herankan?” Gadis itu bertanya, ingin tahu sekali, “Jangan-jangan benar ada sesuatu yang aneh pada diriku! Apakah ada coreng moreng pada mukaku? Apakah ada pakaianku yang terbalik memakkainya, atau jangan-jangan tumbuh tanduk benar-benar di kepalaku!” Ia meraba-raba kepalanya yang tertutup topi bulu yang indah.

Kakaknya tertawa mendengar kelakar adiknya dan Shu Ta juga tersenyum. Bagaimana mungkin dia dapat menyinggung perasaan hati seorang gadis yang begini polos dan lucu? Tapi ia seorang gadis Mongol, bantah pikirannya sendiri.

“Yang membuat aku heran adalah keadaan dan sikap kalian. Kalau kalian ini kakak beradik dari dusun, orang-orang miskin yang tidak mempunyai sepeserpun uang di saku, yang mempunyai kaki dengan sepatu butut yang melakukan perjalanan, dengan pakaian butut, yang setiap saat disiksa rasa lapar dan haus tanpa mampu membeli makanan dan minuman, maka aku tentu tidak akan merasa heran melihat kalian minta air minum padaku dan duduk di sini bersamaku.

"Akan tetapi kalian adalah dua orang bangsawan muda yang kaya-raya, berlebih-lebihan dan berlimpahan, dua ekor kuda kalian saja akan mampu memberi makan kepada orang sedusun yang kelaparan kalau dijual. Dan kalian minta air minum padaku dan duduk di atas batu. Ini aneh sekali!”

Kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka senyum pahit. Pemuda itu menarik napas panjang. “Aihh, sejak kami masih kecil, betapa seringnya kami mendengar keluhan dan protes, walaupun belum pernah ada yang bicara sedemikian terang-terangan dan tanpa takut seperti engkau, sobat! Kami kakak beradik sejak mulai dapat berpikir, telah melihat keadaan rakyat jelata yang dilanda kemiskinan, akan tetapi apa yang dilakukan oleh dua orang kakak beradik seperti kami? Eh, kalau boleh kami mengetahui, engkau ini siapakah? Jelas bukan pemuda dusun. Cara bicaramu teratur dan berisi. Apakah engkau seorang pendekar?”

Shu Ta menunduk, sikapnya acuh dan menggeleng kepala tanpa menjawab. Kembali kakak beradik itu saling pandang, kemudian si adik yang bicara, “Sobat, kami tidak ingin memaksakan kehendak untuk berkenalan. Akan tetapi, engkau boleh tahu bahwa namaku Bouw Mi, biasa dipanggil Mimi, dan ini kakakku bernama Bouw Ku Cin dan kami berdua adalah putera dan puteri Menteri Bayan yang tinggal di kota raja Peking. Kami sedang melakukan perjalanan tamasya dengan tujuan terakhir kota Nan-king. Nah, kami sudah memperkenalkan diri. Apakah engkau masih terlalu tinggi untuk berkenalan dengan kami, dua orang muda bangsa Mongol yang merasa bahwa kami sama sekali bukan orang?”

Melihat Shu Ta masih bersikap acuh, walaupun di dalam hatinya Shu Ta terkejut setengah mati mendengar bahwa mereka ini putera Bayan, menteri yang amat berpengaruh dan besar kekuasaannya karena menjadi tangan kanan Kaisar Togan Timur, pemuda Mongol yang bernama Bouw Ku Cin itu menyambung kata-kata adiknya.

“Sobat, engkau sungguh tidak adil. Engkau menggambarkan kami berdua seolah-olah kami ini bukan manusia dan tidak sama dengan engkau atau dengan rakyat jelata. Padahal, apa sih bedanya? Yang berbeda kan hanya pakaian kita saja. Coba engkau yang mengenakan pakaian ini dan aku mengenakan pakaianmu, apa bedanya? Takkan ada yang tahu bahwa engkau adalah engkau dan aku adalah aku, kalau kita bertukar pakaian.”

Shu Ta tertegun. Wah, pemuda ini bukan seorang pemuda bangsawan kaya raya yang berkepala kosong! Juga gadis itu bicaranya sungguh lain, sedikitpun tidak mengandung sikap angkuh, bahkan begitu rendah hati untuk lebih dahulu memperkenalkan diri padanya. Padahal, dilihat dari pakaiannya, mereka tentu mengira dia seorang pemuda dusun biasa!

Sejak kecil Shu Ta tinggal di kuil dan selain ilmu silat, diapun dididik sastra dan tatasusila oleh para hwesio, maka melihat sikap kakak beradik itu, dia pun merasa tidak enak. Maka, diapun bangkit dan memberi hormat kepada kakak beradik itu yang agaknya terkejut dan cepat merekapun membalas penghormatan itu dengan sikap yang sama, mengangkat kedua tangan depan dada.

“Harap kalian memaafkan sikapku tadi. Sudah terlalu banyak aku mendapatkan gambaran para bangsawan yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan nasib rakyat jelata, hidup bermewah-mewahan di atas tubuh rakyat jelata yang sekarat, dan biasanya berwatak sombong dan memandang rendah rakyat miskin.

"Aku tadinya tidak mengira bahwa kalian adalah dua orang muda yang terpelajar dan sopan, rendah hati dan tidak menghina rakyat kecil. Nah, namaku Shu Ta dan aku seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini, melihat banyak ketimpangan hidup dan ketidak adilan. Kalian memang memiliki sikap yang baik, otak yang cerdas, tidak sombong, namun sayang, kalian tergolong bangsawan tinggi yang kaya raya, keluarga penindas dan penjajah yang menyengsarakan rakyat.”

Dengan berani Shu Ta menentang pandang mata mereka. Dia berdiri dan siap menanti kemarahan kakak beradik itu. Akan tetapi, kakak beradik itu tidak menjadi marah, hanya mereka saling pandang dan muka mereka berubah agak kemerahan. Gadis itu sudah menjatuhkan diri duduk kembali ke atas batu, dan Bouw Ku Cin yang biasa dipanggil Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw) itu menghela napas, dan diapun duduk kembali.

“Memang apa yang kau katakan semua itu ada benarnya, saudara Shu Ta. Akan tetapi, urusan penjajahan itu apa sangkut-pautnya dengan kami berdua? Mengapa bangsa Mongol, bangsa nenek moyang kami, telah menyerbu Cina dan menundukkannya, kemudia menjajahnya. Akan tetapi hal itu telah terjadi hampir tujuh tahun yang lalu dan kami sama sekali tidak tahu akan isi hati mendiang Temucin, pemimpin besar bangsa Mongol yang kemudian menjadi Jenghis Khan.

"Kami baru dilahirkan kurang lebih dua puluh tahun yang lalu dan ketika kami terlahir, keadaan sudah begini, penjajahan sudah berlaku selama puluhan tahun. Kami tidak ikut melakukan penyerbuan, tidak ikut menjajah dan ahh... aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Hanya ini, kawan. Kalau ada nenek moyang kita melakukan kesalahan, apakah kita juga diharuskan mempertanggung jawabkan perbuatannya?”

Shu Ta kembali tertegun dan diapun duduk kembali di atas batu, termenung memikirkan kata-kata itu. “Akan tetapi, kalian menikmati hasil penjajahan! Kalian hidup bermewah-mewahan sedangkan rakyat jelata hidup kelaparan. Apakah kalian tidak merasa malu, hidup senang di atas mayat rakyat jelata?”

Kini gadis itu mengerutkan alisnya dan pandang matanya mencorong menatap wajah Shu Ta. “Saudara Shu, jangan engkau sembarangan saja bicara, seenaknya saja menuduh kami! Kami dilahirkan dalam keluarga ayah kami dan sejak kami lahir, ayah kami sudah menjadi menteri. Dengan sendirinya kami hidup di istana ayah dan menikmati semua yang ada. Salahkah itu? Apakah kami, anak-anak ayah, harus meninggalkan keluarga ini dan hidup menderita kemiskinan bersama rakyat? Begitukah kehendakmu?”

Kembali Shu Ta tertegun dan tidak mampu menjawab. “Saudara Shu Ta, kami mengerti benar perasaanmu. Kami tidak menyalahkanmu kalau engkau membenci pemerintah karena pemerintah adalah pemerintah penjajah. Memang orang-orang Mongol menjajah rakyat pribumi Cina. Dan percayalah, semenjak kami mampu berpikir, kami berdua sudah tidak setuju dengan keadaan ini.

"Buktinya, sampai sekarang aku tidak pernah memegang jabatan apapun, selalu menolak desakan ayah. Dan kami bergaul dengan rakyat, kami tidak menghina, tidak menindas, tidak memusuhi rakyat. Bahkan di manapun, kapanpun, kami selalu siap membantu rakyat dengan segala kemampuan kami. Jangan dikira bahwa seluruh bangsa Mongol merupakan orang-orang yang suka menindas dan menjajah.

"Yang menjajah itu adalah pemerintahannya, kerajaannya, bukan rakyat Mongol. Hal ini patut kau ketahui, sobat! Nah, sekarang, maukah engkau bersahabat dengan kami?” Pemuda bangsawan itu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.

Akan tetapi Shu Ta pura-pura tidak melihat tangan itu. “Maafkan aku. Kalau aku bersahabat dengan putera puteri Menteri Mongol, tentu semua orang akan memandang rendah kepadaku dan menganggap aku pengkhianat bangsa!”

Mimi marah sekali mendengar ucapan itu dan menolak pemuda dusun itu menolak uluran tangan kakaknya. Sungguh merupakan suatu penghinaan besar! Ingin ia mendamprat, akan tetapi kakaknya berkedip kepadanya dan dengan suara sungguh-sungguh akan tetapi mulutnya tetap tersenyum dia berkata.

“Saudara Shu Ta, apakah kau kira kalau engkau sudah memusuhi semua orang Mongol lalu engkau menjadi pahlawan? Apa manfaatnya kalau engkau hanya membenci dan memusuhi semua orang Mongol, apa manfaatnya bagi rakyat yang menderita? Apakah kalau engkau memperlihatkan sikap bermusuhan dengan kami, bahkan andaikata engkau membunuh kami, hal itu dapat mengenyangkan perut rakyat yang lapar? Sobat, memusuhi dan membenci orang-orang Mongol, bukan satu-satunya cara untuk membela rakyat jelata.

"Lihat kami ini. Kami dimaki sebagai keturunan Mongol, dibenci oleh orang-orang yang berpikiran sempit sepertimu, akan tetapi kami dapat lebih bermanfaat bagi mereka. Sudah banyak rakyat yang kubantu, baik sandang maupun pangan, banyak yang kami selamatkan dari ancaman para penjahat! Dan kau... apa yang telah kau lakukan untuk rakyat? Hanya membenci dan menghina orang Mongol. Itu saja?”

“Koko, mari kita pergi. Dia orang yang sombong dan dungu, tidak perlu banyak bicara, takkan dia mengerti!” kata gadis itu dan mereka berdua lalu melompat ke atas punggung kuda mereka.

Cara mereka melompat ke punggung kuda, mengejutkan hati Shu Ta. Terutama gadis itu. Bagaimana mungkin seorang gadis bangsawan dapat melompat ke atas kuda yang tinggi itu dengan gerakan demikian ringannya? Tidak keliru lagi dugaannya, mereka itu tentulah dua orang muda yang pandai ilmu silat!

Shu Ta mengikuti mereka yang menjalankan kuda perlahan-lahan menuju ke selatan dengan pandang matanya. Beberapa kali dia menghela napas panjang. Ucapan pemuda itu tadi seperti telah menamparnya dan dia merasa malu kepada diri sendiri. Kalau dipikir-pikir, dia sendiri tidak tahu apa yang telah dia lakukan untuk rakyat semenjak dia meninggalkan kuil. Memang di dusun Cang-cin dia telah melakukan sesuatu untuk penduduk dusun itu, akan tetapi dia hanya membantu Cu Goan Ciang!

Dia sendiri memang belum melakukan sesuatu yang bermanfaat, kecuali memperlihatkan kebenciannya kepada penjajah Mongol, kalau perasaan kebencian itu dapat dianggap sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat. Dia bangkit berdiri, menyambar buntalannya dan berjalan di jalan raya itu, ke selatan pula karena dia bermaksud pergi ke kota Nan-king.

Belum lama dia berjalan, dia melihat suara gaduh di depan dan nampak debu mengebul. Dia segera lari ke depan dan segera melihat belasan orang mengeroyok kakak beradik Mongol tadi! Setelah dekat, Shu Ta berdiri bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Sebetulnya, dia merasa heran kepada diri sendiri. Seharusnya dia mengeroyok pula dua orang Mongol itu, membantu belasan orang yang jelas merupakan orang-orang pribumi.

Kenapa dia termangu dan meragu? Bukankah belasan orang itu adalah orang-orang pribumi, rakyat tertindas dan dua orang itu adalah bangsawan Mongol, sang penindas? Entah kenapa, dia diam saja dan memandang kagum. Tak salah dugaannya. Kakak beradik itu pandai silat, bukan hanya pandai bahkan lihai sekali!

Mereka berdua sudah turun dari kuda mereka dan dengan pedang di tangan, mereka membela diri dan pengeroyokan enam belas orang yang memegang golok atau pedang, akan tetapi para pengeroyok itu sedikitpun tidak mampu mendesak kakak beradik itu! Gerakan pedang kedua orang Mongol itu cepat, kuat dan juga indah.

Dan Shu Ta dapat melihat bahkan gerakan pedang mereka mempunyai dasar gerakan pedang mereka untuk balas menyerang, dan Shu Ta maklum bahwa kalau mereka berdua membalas dengan pedang, tentu sudah ada pengeroyok yang roboh dan terluka parah atau tewas. Agaknya dua orang itu tidak mau melakukan pembunuhan!

“Keroyok terus!” teriak seorang yang bertubuh tinggi kurus.

“Bunuh penjajah itu!” teriak orang ke dua yang tinggi besar. Mereka berdua agaknya merupakan pimpinan karena kini mereka setelah mengeluarkan seruan itu, cepat meloncat dan menghampiri dua ekor kuda tunggangan kakak beradik itu, lalu melompat ke atas punggung dua ekor kuda yang besar, tinggi, dan kuat itu.

“Jangan kau bawa kudaku!” teriak Bouw Mimi.

“Pencuri kuda berkedok pejuang!” bentak pula Bouw Kongcu atau Bouw Ku Cin dan kedua kakak beradik ini telah meloncat dan mengejar dua ekor kuda yang akan dilarikan kedua orang pimpinan kelompok itu.

Gerakan kakak beradik itu ternyata ringan dan cepat sekali. Mereka seperti dua ekor burung terbang saja dan sudah berada di atas punggung dua orang yang menunggang kuda. Sebelum dua orang itu dapat membela diri, kakak beradik itu telah menggerakkan tangan kiri mereka ke arah tengkuk dan dua orang perampas kuda itupun terpelanting roboh. Kakak beradik itu segera menangkap kembali kuda dan menenangkan kuda mereka.

Ketika belasan orang itu melihat betapa dua orang pemimpin mereka dirobohkan, dan merekapun tadi sudah melihat betapa tangguhnya dua orang bangsawan Mongol itu, mereka lalu melarikan diri cerai berai, tidak memperdulikan lagi dua orang pemimpin mereka yang masih belum dapat bangun.

Sambil menuntun kuda mereka, kakak beradik itu menghampiri dua orang korban mereka. Kini, si tinggi besar dan si tinggi kurasa sudah dapat merangkak bangkit duduk. Melihat semua anak buahnya melarikan diri dan dua orang muda Mongol itu sudah berada di dekat mereka, keduanya menjadi ketakutan dan menggigil.

Mereka tahu bahwa orang yang berani melawan orang Mongol dan tertangkap tentu akan dihukum siksa sampai mati. Saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bouw Ku Cin dan Mimi.

“Ampun... ampunkan kami, kongcu... siocia... ampunkan kami...” mereka berdua meratap ketakutan.

Kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum. Mereka menyimpan kembali pedang mereka yang tidak bernoda darah. “Hemmm, katakan yang jujur, kalian tadi menghadang kami untuk melakukan perampokan, ataukah kalian ini orang-orang yang mengaku pejuang dan hendak membunuh kami karena kami adalah orang-orang Mongol?”

“Mengaku yang jujur kalau kalian ingin hidup!” Mimi membentak dengan nada mengancam.

“Ampun, kongcu dan siocia... kami... kami melihat dua ekor kuda ji-wi (kalian berdua) dan pakaian yang indah... kami... kami perampok....”

Bouw Ku Cin mengangguk-angguk, “Hemm, sudah kami duga. Kalian hanyalah perampok-perampok kecil yang mengaku sebagai pejuang. Begitukah? Ataukah kalian ini pejuang-pejuang yang melakukan perampokan?”

“Kami... kami hanya perampok....”

“Dan mengaku pejuang?”

“Be... benar...”

“Manusia hina!” bentak Mimi. “Orang macam kalian ini sebenarnya tidak pantas hidup. Kalian mengotorkan nama pejuang juga kalian mengacaukan keamanan dan mengganggu rakyat. Kalian hanya merugikan semua pihak.”

“Ampun, siocia... ampun kongcu...” Dua orang itu berlutut dan membentur-benturkan dahi ke atas tanah, ketakutan.

“Pergilah! Sekali lagi kami melihat engkau merampok dan mengaku pejuang, kami tidak akan mengampunimu lagi. Pergi!”

Dua orang perampok itu mengangguk-angguk, lalu bangkit berdiri dan melarikan diri dengan cepat meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, ketika mereka tiba di dekat semak belukar, nampak bayangan orang berkelebat dan sinar pedang berkilat menyambar. Dua orang perampok itupun roboh dan tewas seketika.

Kakak beradik Mongol itu terkejut dan ketika mereka memandang penuh perhatian mereka mengenal Shu Ta yang sudah menyarungkan kembali pedangnya. Mereka saling memandang dengan pemuda yang telah mereka kenal itu.

“Saudara Shu Ta, kami sudah mengampuni mereka berdua, kenapa engkau membunuh mereka?” tegur Mimi dengan alis berkerut.

“Orang-orang macam mereka itu harus dibasmi. Mereka itulah yang mencemarkan nama baik para pejuang, membuat para pejuang dipandang rendah sebagai penjahat-penjahat rendah. Penjahat-penjahat seperti mereka mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat, memaksakan kehendak mereka, merampok dan membunuh.” kata Shu Ta....

Jilid selanjutnya,
RAJAWALI LEMBAH HUAI JILID 13