Pusaka Gua Siluman Jilid 14

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Pusaka Gua Siluman Jilid 14
Sonny Ogawa

Pusaka Gua Siluman Jilid 14, karya Kho Ping Hoo - KAKEK tadi bukan lain adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, memandang dan mengeluarkan seruan memaki-maki. Dia sedang melakukan pengejaran terhadap seorang kakek botak bersama seorang pemuda yang mencurigakan. Dalam pengejaran ini ia disertai gadis cilik itu yang sebetulnya adalah seorang di antara murid-muridnya yang bernama Liok Hwa.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Kebetulan sekali kakek botak dan pemuda yang dikejarnya itu memasuki hutan di mana rombongan Tiong-gi-pai sedang dikurung oleh pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng-pian Mo Hun! Juga Auw-yang Tek ikut dalam pengepungan ini. Pemuda yang sombong ini telah menyuruh orang-orangnya memasang-masangi benderanya, yaitu bendera dengan cap tangan hitam, bendera Hek-tok-ciang!

Sebuah di antara benderanya itu adalah yang terpancang di situ dan kini bendera itu sudah berubah warna. Dasar yang tadinya putih menjadi hitam dan jari-jari tangan hitam itu sudah menjadi putih karena sudah bolong!

"Kurang ajar!" terdengar Kui Ek memaki. "Kalau benar si botak itu Pek Mao Lojin adanya, tidak perlu ia menghina bendera orang dan lebih baik muncul secara laki-laki! Liok Hwa, kau kembalilah ke pasukan, di sini berbahaya, aku akan mengejar mereka!" Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek bertongkat burung itu lenyap.

Liok Hwa hendak pergi dan kembali keluar dari hutan, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas pohon! la hendak menjerit namun tidak ada suara dapat keluar dari mulutnya karena urat dagunya secara aneh telah dipencet orang. Ketika tiba di atas cabang, ia melihat bahwa yang menangkapnya adalah seorang gadis cantik yang tertawa-tawa.

"Jangan menjerit, aku hanya mau bertanya padamu," kata gadis cantik itu yang bukan lain adalah Lee Ing adanya. "Orang bertongkat burung tadi, yang menjadi gurumu, siapakah dia dan mengapa ia marah-marah?"

Liok Hwa hilang takutnya ketika melihat bahwa yang menangkapnya adalah seorang gadis yang kelihatannya ramah. "Dia adalah suhuku, Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek, aku sendiri Bhe Liok Hwa dan kami sedang mengepung hutan ini untuk membasmi anggauta-anggauta pemberontak Tiong-gi-pai. Cici yang cantik siapakah, begini lihai? Kalau kau mau, mari ikut saja dengan aku menemui Auwyang-kongcu, dia pasti suka padamu...." Ucapan gadis cilik itu menjadi berubah genit sekali ketika menyebut-nyebut nama Auwyang-kongcu.

Lee Ing merasa muak, karena ia dapat menduga bahwa murid Kui Ek ini tentu menjadi kaki tangan dan mungkin menjadi kekasih Auwyang Tek yang terkenal mata keranjang, akan tetapi ia menahan sabar dan bertanya, "Aku tidak ada urusan dengan Tiong-gi-pai maupun dengan pasukan Auwyang, akan tetapi siapakah yang memimpin pasukan pengepung ini? Apa ada yang melebihi gurumu lihainya?"

"Hi-hi, cici tahu apa? Selain masih ada Auwyang-kongcu yang hebat kepandaiannya dan ahli Hek-tok-ciang, masih ada lagi Toat-beng-pian Mo Hun...."

Lee Ing sudah merasa cukup mendengar semua keterangan itu. "Kau pergilah!" katanya sambil melempar tubuh gadis itu ke bawah, akan tetapi karena mengingat bahwa gadis cilik itu tidak bersalah apa-apa, ia melemparkan sedemikian rupa sehingga Liok Hwa jatuh dalam keadaan berdiri.

Ketika Liok Hwa menengok ke atas tidak melihat apa-apa, ia menjadi ketakutan. "Ada siluman....!" teriaknya sambil berlari secepatnya keluar dari hutan.

Lee Ing yang sudah melesat pergi, tersenyum geli. Ia lalu mengejar ke arah perginya Kui Ek tadi, khawatir kalau-kalau kakek ini akan mencelakai semua anggauta Tiong-gi-pai.

Ia maklum bahwa dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, Siok Ho mungkin mampu melindungi rombongan patriot itu dan dapat melawan Kui Ek, akan tetapi kalau Auwyang Tek dan Mo Hun serta para anggauta pasukan itu datang, dapatkah orang-orang Tiong-gi-pai menyelamatkan diri?

Tidak lama ia mencari cari, ia mendengar suara ribut-ribut orang bertempur, tanda bahwa fihak Tiong-gi-pai sudah mulai diserbu oleh Auwyang Tek dan kaki tangannya. Di sana-sini terdengar pekik keras, "Basmi pemberontak-pemberontak Tiong-gi-pai!"

Akan tetapi yang menjadikan heran hati Lee Ing bahwa pertempuran tidak terjadi di satu tempat. Ketika ia maju ke arah suara orang bertempur yang paling dekat, ia melihat Siok Ho sedang bertanding mati-matian melawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek!

Seperti diceritakan di depan tadi, Siok Ho diterima dengan penuh kegembiraan oleh para anggauta Tiong-gi-pai. Akan tetapi selagi mereka bergembira, tiba-tiba datang seorang anggauta penjaga yang melakukan perondaan di luar hutan dan anggauta ini datang melapor bahwa hutan itu sudah terkepung oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Auwyang Tek, Mo Hun, dan Kui Ek!

Tentu saja Kwee Cun Gan kaget bukan main, karena nama-nama yang disebutkan itu adalah nama-nama tokoh-tokoh musuh yang amat disegani. Sedangkan di fihak Tiong-gi-pai, kecuali pemuda yang baru datang ini dan dia sendiri, tidak ada yang dapat diandalkan.

"Kita mundur melalui bukit selatan," kata Kwee Cun Gan.

"Mengapa harus mundur? Biarlah siauwte menghadapi mereka, suheng dan kawan-kawan menggempur pasukan yang berani masuk secara pertempuran gerilya," kata Sok Ho penasaran. "Musuh datang tidak dilawan, mengapa lari?"

"Sute, kau tidak tahu. Mereka yang datang itu, terutama Mo Hun dan Kui Ek, bukanlah lawan-lawan kita. Mereka terlalu kuat."

Siok Ho tetap penasaran. "Suheng, berlari sebelum kalah, sungguh siauwte tak dapat melakukannya. Kalau suheng dan kawan-kawan hendak mundur, silahkan, akan tetapi siauwte tetap hendak melawan mereka!"

Mendengar ucapan yang gagah ini, para anggauta Tiong-gi-pai timbul keberanian mereka. Juga Kwee Cun Gan menjadi nekat. "Kau benar-benar patut menjadi anak murid Kun-lun yang gagah perkasa, sute," ia memuji.

"Suheng belum mendengar cerita siauwte tentang partai kita, kalau sudah mendengar tentu suheng juga ingin membalas dendam. Ketahuilah bahwa empat tahun yang lalu, semua suhu dan sucouw di Kun-lun-pai telah tewas oleh Kai Song Cinjin yang dibantu oleh Mo Hun dan Kui Ek itulah!" Ia dengan singkat lalu menceritakan pembasmian Kun-lun-pai oleh kaki tangan Auwyang-taijin.

Bukan main kagetnya hati Kwee Cun Gan mendengar ini. Wajahnya pucat dan ia mengepal tinjunya. "Kalau begitu, mari kita mengadu nyawa dengan keparat-keparat jahanam itu!" katanya singkat dan dengan berpencaran mereka menyambut serbuan musuh.

Kui Ek yang mengejar ke dalam hutan tiba-tiba berhadapan dengan seorang pemuda ganteng yang bertangan kosong dan sikapnya halus. Tentu saja ia memandang rendah dan membentak,

"Aku tak pernah melihatmu, kalau kau bukan anggauta Tiong-gi-pai, lebih baik lekas kau minggat dari sini, jangan sampai mengorbankan nyawa secara sia-sia!" katanya, karena hatinya timbul rasa sayang melihat pemuda yang amat tampan ini.

Siok Ho tersenyum mengejek. Tentu saja ia masih ingat muka orang ini, yang dahulu juga ikut menyerbu ke Kun-lun-pai dan sudah membunuh banyak anak murid Kun-lun. "Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek, apa kau sudah lupa akan perbuatan kejimu, dahulu di Kun-lun-san? Ketahuilah bahwa aku Oei Siok Ho adalah seorang anak murid Kun-lun. Kebetulan sekali kita bertemu di sini!"

Kui Ek tak dapat menahan ketawanya. "Habis kau mau apa?"

"Tentu saja menagih nyawa suhu-suhu dan saudara-saudaraku di Kun-lun!" jawab Siok Ho sambil siap memasang kuda-kuda untuk menghadapi lawan yang ia tahu amat lihai ini.

Kui Ek tetap memandang ringan lawannya. Sedangkan jago-jago tua Kun-lun-pai saja dapat terbasmi, apa lagi sekarang bocah yang masih hijau ini. Sampai seberapakah kepandaiannya? "Heh-heh, kalau begitu cepat keluarkan senjatamu!"

"Aku hanya mengandalkan kaki tanganku. Untuk melawan seorang jahat macam engkau tak perlu bersenjata," jawab Siok Ho yang memang tidak membawa senjata.

"Ho-ho-ho, kau benar bermulut besar. Kau mau melawanku dengan tangan? Ah, kau membikin malu saja padaku. Lihat, tanpa tongkatpun dalam sepuluh jurus kau akan roboh." Kui Ek melemparkan tongkatnya ke atas tanah, kemudian ia menerjang Siok Ho dengan pukulan-pukulan maut.

Ilmu silat Kui Ek sudah tinggi sekali, juga dalam petualangannya di dunia kang-ouw, ia sudah mendapatkan pengalaman pertempuran yang amat banyak. Sebaliknya, biarpun Oei Siok Ho telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dan sakti dari Swan Thai Couwsu, namun ia masih muda dan kurang pengalaman.

Kalau menurut tingkat, ilmu silat yang dipelajari oleh Siok Ho memang lebih tinggi, akan tetapi kekalahan dalam hal pengalaman membuat Siok Ho amat berhati-hati menghadapi lawan yang sudah bangkotan ini. la cepat mengelak dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Baru bergebrak lima enam jurus saja, Kui Ek kaget setengah mati dan merasa menyesal mengapa tadi ia tidak menggunakan tongkatnya dan memandang rendah lawan muda ini. Dari pertemuan lengan dan melihat gerakan pemuda itu, ia mendapat kenyataan bahwa lawannya ini benar-benar lihai, kiranya tidak kalah lihai oleh Auwyang Tek.

Akan tetapi ia sudah terlanjur memandang rendah, sudah terlanjur sombong melepaskan tongkatnya, maka dengan gerengan-gerengan marah Kui Ek melancarkan serangan-serangan dengan tenaga lweekang secara bertubi-tubi.

Menghadapi gelombang, serangan ini, Siok Ho kaget dan berlaku makin hati-hati. Ia hanya mengelak dan kalau perlu sekali untuk menangkis dan ia tidak mau gegabah melakukan serangan kalau tidak melihat kesempatan baik. Oleh karena sikapnya yang terlalu berhati-hati ini, ia terdesak oleh Kui Ek yang tidak mau menyia-nyiakan waktu, terus melakukan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan bertubi-tubi untuk segera menjatuhkan lawannya.

Akan tetapi ia kecele benar, kalau tadi ia mengatakan akan merobohkan dalam sepuluh jurus, sekarang sudah berjalan tiga puluh jurus ia hanya dapat sedikit mendesak saja sama sekali tidak dapat menindih apa lagi mengalahkan.

Saking penasaran dan marahnya, Kui Ek melakukan pukulan dahsyat dengan tenaga Iweekang sepenuhnya. Tangan kanannya dengan jari terbuka melakukan dorongan ke arah dada Siok Ho dengan dibarengi pekik keras. Inilah pukulan Iweekang yang akan dapat merobohkan lawan dari jarak jauh.

Siok Ho yang sudah memiliki tenaga Ang-sin-ciang, tentu saja tidak takut menghadapi pukulan ini, bahkan ia lalu mengerahkan tenaga Ang-sin-ciang dan menerima dorongan ini dengan telapak tangan pula. Di lain saat, telapak tangan kanan kedua orang ini saling tempel dan mereka berdiri bagaikan patung, saling dorong dan saling mengerahkan tenaga Iweekang untuk merobohkan lawan.

Pertandingan tenaga Iweekang terjadi dengan hebat dan mati-matian. makin lama keduanya makin sadar bahwa mereka telah menemukan lawan yang berat dan tenaga Iweekang mereka seimbang. Akan tetapi sayang sekali bagi Siok Ho. Belum lama ini ia telah menyumbangkan sedikit darahnya untuk mengobati Siok Bun yang menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang.

Hal ini mempengaruhi tubuhnya dan dalam adu Iweekang ini, setidaknya ia kehilangan banyak tenaga karena kekurangan darahnya belum pulih kembali. Cuma baiknya, biarpun dalam tenaga ia kalah sedikit oleh Kui Ek, sebaliknya tenaga Ang-sin-ciang yang mengandung hawa beracun itu telah membuat seluruh tubuh Kui Ek merasa gatal-gatal!

Keduanya mengerahkan seluruh tenaga. Tangan yang saling tempel tak dapat dilepas pula. Pendeknya, dalam pertandingan ini yang kalah akan tewas dan yang menang akan hidup, tidak ada jalan ke luar lagi. Oleh karena maklum akan hal ini, keduanya saling mengerahkan seluruh tenaga sampai dari kepala mereka mengepul uap putih, muka sudah penuh peluh!

Dalam keadaan beginilah Lee Ing datang! Gadis ini kaget sekali melihat bahwa kalau dilanjutkan, andaikata Siok Ho dapat menang sekalipun, ia akan terluka hebat. Ketika ia menengok ke lain jurusan, orang-orang Tiong-gi-pai sudah saling gempur dengan para pasukan pengawal.

Tadinya Lee Ing hendak turun tangan merobohkan Kui Ek untuk menolong Siok Ho, akan tetapi ia teringat akan nasihat-nasihat kong-kongnya tentang kegagahan. Seorang pendekar harus mengutamakan kegagahan yang disertai keadilan, pikirnya. Kalau aku merobohkan Kui Ek dalam keadaan begini, sama saja dengan mengeroyoknya. Ini sama sekali tidak adil.

Setelah berpikir demikian, ia mempersiapkan tiga buah batu kecil di kedua tangannya. Setelah memusatkan panca inderanya, ia mengayun tangan dan tiga butir batu kecil itu meluncur cepat sekali ke arah dua orang yang sedang mengadu tenaga Iweekang dengan mati-matian.

Sebutir menghantam punggung Siok Ho, sebutir lagi menghantam punggung Kui Ek dengan kekuatan yang sama, sedangkan batu ke tiga, yang datangnya terakhir akan tetapi mengandung kekuatan lebih besar, menghantam ke arah dua tangan yang saling tempel itu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya dua orang jago yang sedang mengadu tenaga Iweekang itu ketika tiba-tiba mereka inerasa punggung mereka ada yang menepuk dan tiba-tiba saja lemas seluruh tenaga Iweekang mereka.

Sebelum mereka dapat menyalurkan lagi tenaga masing-masing, menyambar batu ke tiga ke arah tangan mereka yang saling tempel. Otomatis mereka menarik tangan masing-masing yang kini tidak lengket lagi karena sudah tidak mengandung tenaga Iweekang dan tanpa mereka sengaja terlepaslah keduanya dari bahaya maut.

Maklum akan kelihaian lawan, Kui Ek cepat menyambar tongkatnya, akan tetapi sebelum ia sempat menyerang, kembali tongkatnya terlepas dan tangannya kejang tersambar batu kecil. Napas Kui Ek masih terengah-engah karena tadi terlampau banyak mengeluarkan tenaga, kini menghadapin keanehan ini, ia menjadi gentar.

Sebagai seorang yang berpengalaman ia maklum bahwa ada orang pandai mempermainkannya. Ia membungkuk untuk mengambil tongkatnya dan tiba-tiba saja "takk!" ujung pantatnya dihajar oleh sebuah batu kecil, rasanya sakit sekali sampai membuat ia bergulingan dan mengaduh-aduh.

Akan tetapi ia berhasil mengambil tongkatnya dan melompat berdiri, memutar tongkat untuk melindungi diri dari sambaran batu. Benar saja, terdengar suara tak, tok, tak, tok ketika beberapa butir batu kena disampok oleh tongkatnya. Akan tetapi, masih juga sebutir menerobos masuk dari lingkaran sinar tongkatnya dan tepat sekali mengenai tulang keringnya.

"Tokk!" Kui Ek menahan rasa nyeri, namun bagaimana bisa ditahan kalau tulang keringnya terasa panas, perih dan ngilu?

"Aduh.... bangsat pengecut.... aduh, keluarlah kalau berani...!" Sambil mengaduh-aduh dan memutar tongkatnya ia berloncat-loncatan dengan sebelah kaki, dan kaki yang terkena sambitan itu digantung, akan tetapi biarpun mulutnya memaki-maki, Kui Ek dengan licik berloncat-loncatan menjauhi tempat itu, kemudian berlari sipat-kuping.

Biarpun tidak tahu siapa yang membantunya, Siok Ho tersenyum geli melihat tingkah Kui Ek. Tadi ia tidak mau turun tangan karena selain ia sendiri perlu beristirahat dan memulihkan tenaganya, juga ia tidak mau mengeroyok lawan yang sedang dipermainkan oleh orang pandai. Setelah Kui Ek pergi, Siok Ho menjura ke empat penjuru dan berkata, "Terima kasih atas pertolongan cianpwe, dan kalau sudi, harap cianpwe suka memperlihatkan diri."

Akan tetapi biarpun ia sudah mengulangi beberapa kali, tidak terdapat jawaban. Maka ia lalu cepat berlari untuk membantu Kwee Cun Gan dan kawan-kawan lain yang masih bertempur. Pertempuran di bagian lain tidak kalah ramainya.

Kwee Cun Gan dan sembilan orang kawannya yang terbangun semangat perlawanannya melihat keberanian Siok Ho, sudah menerjang para penyerbu dan terjadi pertempuran hebat. Bagi Kwee Cun Gan sendiri, para pengawal itu bukan apa-apa dan sebentar saja ia sudah merobohkan dua orang pengawal. Juga Tan kui, dan dua saudara Nyo telah merobohkan masing-masing seorang lawan.

Akan tetapi tiba-tiba terjadi keributan hebat ketika anggauta-anggauta Tiong-gi-pai menjadi kocar-kacir dan dalam sekejap mata saja roboh empat orang tak bernyawa lagi menjadi korban pian kelabang dan pukulan Hek-tok-ciang. Ternyata Auwyang Tek dan Toat-beng-pian Mo Hun datang mengamuk dan dibelakang dua orang ini, masih kelihatan Kui menyeret-nyeret tongkatnya!

Kwee Cun Gan melompat dan menyuruh anak buahnya mundur, dia sendiri menghadapi Auwyang Tek sambil menuding dan berkata nyaring, "Auwyang Tek, kali ini benar-benar kau tidak tahu malu dan curang sekali, melakukan pengeroyokan dan penyerbuan mengandalkan orang banyak!

Sejak kapan kau berlaku pengecut dan tidak menggunakan cara yang sudah-sudah, bertanding seperti orang-orang gagah di panggung lui-tai (panggung tempat mengadu kepandaian)?"

Auwyang Tek tersenyum mengejek. Memang dahulu ketika Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui seanak isteri masih berada dengah Tiong-gi-pai, ia tidak berani sembarangan menyerang perkumpulan yang dimusuhinya ini karena khawatir kalau-kalau menyinggung perasaan Raja Muda Yung Lo dan menjadikan orang she Siok itu sebagai utusannya. Akan tetapi sekarang, setelah Siok Beng Hui pergi, ia boleh membasmi Tiong-gi-pai tanpa khawatirkan sesuatu.

"Kwee Cun Gan! Orang buronan macam kau dan kaki tanganmu ini, mana masih perlu banyak aturan lagi? Diadakan pertempuran pibu sekalipun kau tak pernah muncul, karena kau sudah kehabisan jago-jagomu. Ha-ha-ha!"

Kemudian Auwyang Tek berkata kepada Mo Hun dan Kui Ek, "Ji-wi lo-enghiong, setelah berada di sini, cabut saja nyawa orang she Kwee ini. Kalau dia mampus tentu yang lain takkan berani banyak tingkah lagi."

Setelah mengucapkan kata-kata ini, Auwyang Tek langsung menyerang Kwee Cun Gan dengan pukulan Hek-tok-ciang. Biarpun ketua Tiong-gi-pai ini merasa tidak sanggup menghadapi pukulan yang amat berbahaya ini, namun sebagai murid Kun-lun tentu saja ia masih dapat menyelamatkan diri.

Ia cepat mengelak dan melompat ke samping. Auwyang Tek mengejar dan menyerang terus secara bertubi-tubi, mendesak hebat. Pada saat itu, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang pemuda tegap telah menghadapi Auwyang Tek dengan sepasang pedang yang hebat gerakannya.

"Kwee Tiong....!" Ketua Tiong-gi-pai itu berseru girang.

"Harap paman mundur, serahkan saja bedebah ini kepadaku," kata pemuda itu yang bukan lain adalah Kwee Tiong, pemuda yatim piatu yang menjadi murid Pek Map Lojin. Untuk kedua kalinya, kembali Kwee Tiong muncul menolong pamannya yang terancam bahaya maut. Segera terjadi pertempuran antara Auwyang Tek dan Kwee Tiong, pertempuran hebat dan ternyata kepandaian dua jago muda ini seimbang.

Kui Ek melompat dan menggerakkan tongkatnya, akan tetapi sekarang Siok Ho menerjang maju. Pemuda ini tadi telah dapat merampas sebatang pedang dari seorang pengawal yang dirobohkannya dan dengan pedang ini ia menangkis tongkat Kui Ek.

"Tua bangka, mari kita lanjutkan pertempuran tadi!" tantang Siok Ho dan segera keduanya juga terlibat dalam pertandingan mati-matian yang seru sekali.

Mo Hun tertawa bergelak, "Heh-heh-heh, kau mendatangkan jago-jago muda untuk memperkuat perkumpulan yang busuk? Sayang, tidak ada yang melindungi kepalamu, Kwee Cun Gan!" Ia menggerakkan pian kelabangnya, terdengar suara "tar-tar-tar" di udara dan sinar merah pian itu berkelebat ke arah Kwee Cun Gan.

Ketua Tiong-gi-pai ini maklum akan keganasan senjata ini, maka ia tidak berani menghadapinya lalu melompat jauh. Sambil tertawa-tawa Mo Hun mengejar terus dan membunyikan piannya yang menyambar-nyambar bagaikan kelabang raksasa melayang-layang mencari korban! Akan tetapi, mendadak ia berseru kaget dan menahan gerakannya. Mukanya menjadi basah dan tercium bau arak wangi sekali.

"Ha-ha, manusia iblis di mana-mana haus darah!" terdengar suara halus dan muncullah Pek Mao Lojin yang memegang sebuah guci arak dan tertawa-tawa lebar. Tadi dialah yang menyemburkan araknya dari mulut sehingga menghujani muka Mo Hun yang terkejut sekali karena semburan arak itu membuat mukanya panas dan seperti ditusuki jarum.

Melihat bahwa orang itu bukan lain adalah Pek Mao Lojin yang selama ini tidak memperlihatkan keaktipan membantu Tiong-gi-pai akan tetapi yang kabarnya pernah mengacau kota raja, Mo Hun menjadi marah. "Tua bangka botak, agaknya kau sudah bosan dengan botakmu. Biar kupenggal dari tubuhmul" Piannya menyambar cepat.

"Ha-ha-ho-ho, biar botak aku masih sayang. Tak boleh dipenggal!" Pek Mao Lojin mengangkat guci araknya.

"Traangg...!" Pian kelabang itu mental kembali dan dari dalam guci arak muncrat arak merah yang langsung meluncur ke arah muka Mo Hian. Toat-beng-pian Mo Hun maklum bahwa arak ini dapat melukai mukanya, maka ia cepat melompat mundur.

Kwee Cun Gan yang maklum bahwa biarpun kedudukan fihaknya kini cukup kuat akan tetapi kalau di situ muncul tokoh-tokoh fihak musuh yang lain seperti Kai Song Cinjin dan pasukan pengawal yang besar jumlahnya tentu fihaknya akan mengalami kehancuran, lalu berseru,

"Auwyang Tek, apakah kau berani menerima tantangan kami untuk mengadu pibu secara gagah tidak main keroyokan seperti ini? Kalau kau berani harap hentikan pertempuran ini!"

"Mengapa aku tidak berani?" jawab Auwyang Tek sambil melompat mundur, la rasa bahwa jago fihak lawan tentu pemuda yang melawannya ini dan ia tidak takut.

"Kalau begitu hentikan pertempuran ini!" seru Kwee Cun Gan.

Mendadak berkelebat bayangan orang dan ada angin meniup keras membuat semua orang terhuyung ke belakang. "Betul, pertempuran harus dihentikan dan sejak kapankah orang-orang kerajaan memerangi rakyat? Pertandingan pibu boleh, akan tetapi pertempuran seperti ini benar-benar tidak selayaknya!"

Semua orang memandang dan ternyata yang muncul adalah Im-yang Thian-cu yang tadi mengibas-ngibaskan kipasnya. Setelah semua orang berhenti bertempur, Im-yang Thian-cu berpaling kepada Kwee Cun Gan sambil berkata, "Aku mendengar muridku terluka oleh Hek-tok-ciang, di mana dia sekarang?"

Kwee Cun Gan memberi hormat sambil berkata, "Harap totiang tunggu sebentar, nanti siauwte akan mengantar totiang menemui Han Sin yang masih merawat diri."

Auwyang Tek yang mendengar bahwa tosu kurus ini adalah guru dari Liem Han Sin yang beberapa hari yang lalu ia lukai, menjadi tidak enak. Juga ia melihat bahwa fihak lawan sekarang menjadi amat kuat, maka ia memberi tanda kepada anak buahnya supaya mundur. Ia sendiri menantang Kwee Cun Gan.

"Kalau kau benar mempunyai jago, boleh datang di pendapa Lian-bu-kwan di dalam kota di mana kita boleh mengadu ilmu sepuasnya secara adil." Setelah Kwee Cun Gan mengangguk dan menyanggupi untuk datang pada besok siang menjelang tengah hari, Auwyang Tek dan rombongannya segera meninggalkan hutan itu.

Kwee Cun Gan cepat-cepat memberi hormat dan menghaturkan terima kasihnya kepada Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu. Sungguh menarik jawaban dua orang kakek sakti itu, jawaban yang langsung memperkenalkan watak dan pandangan hidup masing-masing. Jawab Pek Mao Lojin sambil tertawa-tawa lebar,

"Manusia terpisah menjadi dua kelompok, pertama menjadi hamba nafsu dan kesenangan duniawi, ke dua menjadi pembantu alam yang sifatnya adil dan penuh kebajikan. Aku memilih kelompok ke dua itulah!" Dengan ucapannya yang tidak langsung ini Pek Mao Lojin menyatakan bahwa demi membela kebenaran dan keadilan ia tentu saja membantu Tiong-gi-pai dan melawan kejahatan.

Adapun Im-yang Thian-cu yang selalu bermuram durja itu, menjawab dengan merengut, "Siapa sih perduli segala urusan dunia? Pinto datang untuk menengok murid yang terluka. Di mana dia?"

"Silahkan totiang ikut dengan kami ke tempat Han Sin beristirahat. Memang dia terluka dan sudah mempergunakan obat katak merah, akan tetapi karena ia kena pukulan agak keras, lukanya belum sembuh dan ia perlu beristirahat."

Kemudian kepada Kwee Tiong dan Pek Mao Lojin ia berkata, "Harap locianpwe kali ini suka memberi ijin kepada Kwee Tiong untuk membikin terang nama Tiong-gi-pai dan memasuki pibu untuk menghadapi Auwyang Tek yang jahat."

Kwee Tiong berkata cepat kepada Pek Mao Lojin, "Suhu, kalau tidak kali ini teecu mencurahkan tenaga untuk membela kebenaran dan membalas budi paman Kwee Cun Gan membasmi kejahatan, apa gunanya teecu menjadi murid suhu?"

Pek Mao Lojin tertawa bergelak mendengar semua ini. "Sesukamulah, mana aku bisa melarang? Kalau kau terluka seperti murid Im-yang Thian-cu, dan aku tidak bisa menolong mengobati, jangan bilang aku guru tidak punya guna."

"Seorang gagah takut mati, mana patut disebut gagah?" Im-yang Thian-cu berkata dengan muka merengut.

Pek Mao Lojin tertawa makin keras lagi karena dengan kata-kata yang baru diucapkan tadi, biarpun Im-yang Thian-cu bersikap seolah-olah tidak perduli akan semua pertempuran itu, namun ia tetap menghargai kegagahan dan ini berarti bahwa tosu kurus pemarah ini masih boleh diharapkan bantuannya untuk menghadapi kaki tangan Menteri Auwyang!

Berangkatlah rombongan ini memasuki hutan, keluar dari sebelah utara untuk memasuki hutan lain di mana Liem Han Sin sedang beristirahat di dalam sebuah pondok kecil, dijaga oleh ayahnya, Liem Hoan.

Lee Ing diam-diam mengikuti rombongan ini, setelah melihat tempat berkumpulnya para anggauta Tiong-gi-pai. ia lalu pergi lagi dengan cepat sekali untuk menyusul rombongan Auwyang Tek. Ia tidak mau turun tangan lebih dulu karena ingin ia mencari tahu tentang keadaan ayahnya, Souw Teng Wi.

Sudah jelas tadi bahwa ayahnya tidak berada dengan Tiong-gi-pai. Sungguhpun harapannya tipis sekali untuk melihat ayahnya masih hidup, mengingat betapa dulu ayahnya tertawan oleh Kai Song Cinjin, namun ia ingin tahu sejelasnya apa yang terjadi atas diri ayahnya.

Oleh karena itu diam-diam ia mengikuti rombongan Auwyang Tek untuk memasuki kompleks bangunan istana dan mencari tahu perihal ayahnya sebelum ia menurunkan tangan terhadap musuh-musuh besarnya. Menteri durna Auwyang Peng menjadi marah bukan main ketika ia mendengar laporan puteranya tentang gagalnya penyerbuan terhadap Tiong-gi-pai di hutan itu.

"Bodoh, masa terhadap beberapa gelintir manusia pemberontak itu saja kau tidak becus menangkap, padahal sudah dibantu oleh Mo Hun dan Kui Ek? Setidaknya kau sepatutnya sudah dapat menyeret Kwee Cun Gan ke sini sebagai tawanan!"

"Tidak begitu mudah, ayah. Harap diketahui bahwa orang she Kwee itu ternyata telah mendatangkan pembantu-pembantu baru yang cukup lihai, bahkan dua orang tokoh kang-ouw, Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu membantunya. Oleh karena itu, aku menerima baik tantangan pibu besok di Lian-bu-kwan."

Auwyang-taijin mengangguk-angguk. "Kalau begitu, kau panggil Cinjin dan yang lain-lain untuk berkumpul dan merundingkan pibu ini. Sekali ini kita harus dapat memaksa Kwee Cun Gan mengaku di mana adanya pemberontak Souw Teng Wi sekarang."

Auwyang Tek keluar untuk memanggil Kai Song Cinjin dan yang lain-lain. Sedangkan Lee Ing yang semenjak tadi mengintai, menjadi kecewa sekali mendengar ucapan terakhir tentang ayahnya. Jadi kalau begitu ayahnya tidak berada di sini? Di samping kekecewaannya iapun girang karena ucapan Auwyang Peng tadi hanya berarti bahwa ayahnya tidak sampai tewas oleh Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya.

Siapa yang telah menoIong ayahnya dari tangan musuh? Apakah Kwee Cun Gan betul-betul tahu di mana adanya ayahnya sekarang? Lee Ing sudah hendak pergi untuk mencari ketua Tiong-gi-pai itu dan bertanya tentang ayahnya, ketika tiba-tiba ia menunda niatnya karena mendengar suara yang dia masih ingat dan dikenalnya. Suara Kai Song Cinjin, musuh besarnya!

"Taijin harap jangan khawatir, serahkan saja kepada pinceng untuk membereskan tikus-tikus Tiong-gi-pai itu!"

Ketika Lee Ing mengintai kembali, ternyata Kai Song Cinjin sudah berada di situ dan berturut-turut masuklah Mo Hun, Kui Ek dan lain-lain kaki tangan Auwyang-taijin seperti Manimoko dan Yokuto, dua orang guru silat yang berasal dari bajak laut Jepang itu.

Melihat musuh besarnya, Kai Song Cinjin, Lee Ing menjadi marah sekali. Ingin ia sekali terjang membalas dendam kepada musuh besar ini. Teringatlah ia betapa ayahnya dibikin buta oleh pendeta tinggi besar ini. Sudah gatal-gatal tangannya dan ia sudah hendak melompat turun.

Akan tetapi Lee Ing adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Ia maklum akan kelihaian Kai Song Cinjin dan dia sendiri belum tahu apakah ia akan sanggup melawannya, apa lagi selain Kai Song Cinjin, di situ masih terdapat banyak tokoh besar yang berkepandaian tinggi.

Kalau ia lancang turun tangan dan tidak berhasil, itu masih belum berapa hebat karena mungkin dengan kepandaiannya ia dapat meloloskan diri dari tempat itu. Akan tetapi celakanya, ia belum tahu di mana adanya ayahnya. Kalau mereka ini mengenalnya sebagai puteri Souw Teng Wi, tentu keadaan ayahnya akan makin terancam lagi.

Sebelum ia tahu di mana adanya ayahnya, sebelum ia tahu bahwa ayahnya betul-betul berada di tempat aman dan tidak berada dalam tangan musuh-musuh besar ini, ia tidak boleh memperkenalkan diri. Dengan bekerja secara sembunyi ia akan lebih leluasa dan ayahnya tidak begitu terancam. Gadis ini berpikir-pikir dan matanya memandang ke sana ke mari, mencari akal.

Sementara itu, hari telah mulai gelap dan para pelayan mulai memasang lampu penerangan. Di dalam ruangan itu, Auwyang Peng masih mengadakan perundingan dengan para kaki tangannya. Akhirnya diputuskan bahwa pertandingan pibu di Lian-bu-kwan pada besok hari akan dipimpin oleh Kai Song Cinjin sendiri mengingat bahwa di fihak Tiong-gi-pai muncul tokoh-tokoh besar.

"Biarlah hari esok itu akan merupakan hari terakhir bagi Tiong-gi-pai, akan pinceng tantang supaya mereka semua seorang demi seorang maju dan naik ke panggung luitai mengadu kepandaian."

"Inilah saatnya membasmi Tiong-gi-pai secara terbuka, tanpa menyinggung hati siapapun juga," kata kakek dari Tibet ini dengan sombong seolah-olah ia sudah merasa yakin bahwa fihaknya tentu akan memperoleh kemenangan dan akan dapat menewaskan semua anggauta Tiong-gi-pai dalam pertandingan pibu itu.

"Harap saja Tok-ong jangan terlalu yakin dulu, karena di fihak mereka terdapat orang-orang pandai seperti Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu yang sama sekali tak boleh dipandang ringan!" kata Toat-beng-pian Mo Hun sambil meringis.

Kui Ek mengangguk-anggukkan kepalanya. "Betul ucapan Toat-beng-pian. Selain dua orang tua bangka itu, masih ada murid Kun-Iun-pai yang masih muda namun kepandaiannya lumayan, juga aku sendiri sudah merasakan kehebatan kepandaian seseorang yang membantu secara diam-diam fihak mereka, entah seorang di antara dua tua bangka itu, entah ada orang lain lagi,"

Berkata demikian, Kui Ek teringat akan pertempurannya mengadu Iweekang dengan Siok Ho dan betapa kemudian ada orang memisahkan secara luar biasa sekali, yaitu hanya dengan sambitan kerikil-kerikil kecil! Kalau ia teringat akan kepandaian orang tersembunyi ini, ia bergidik karena sukar dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang yang dapat memisah dia bertanding Iweekang hanya dengan sambitan batu kecil saja.

Kai Song Cinjin mengerutkan kening akan tetapi mulutnya tertawa mengejek. "Kalian merengek rengek seperti anak cengeng. Memuji kepandaian musuh sama saja dengan merendahkan kekuatan sendiri. Pantas saja kalian tidak dapat membereskan soal pengepungan Tiong-gi-pai siang tadi! Apa sih itu Pek Mao Lojin? Hanya kakek gila yang selalu mabok arak. Dan itu Im-yaug Thian cu? Siucai (sasterawan) kelaparan! Kalian masih mengagulkan anak murid Kun-lun-pai setelah kita basmi mereka? Haaa! Selain Swan Thai Tosu, siapa lagi di Kun-lun yang boleh ditakuti? Dan Swan Thai Tosu sekarang sudah mampus!"

Mendengar ucapan ini, Mo Hun dan Kui Ek tidak berani bilang apa-apa lagi. Memang dua orang ini yang ditakuti hanya Kai Song Cinjin seorang, maklum bahwa kakek Tibet ini memang kepandaiannya tinggi sekali. Tok-ong Kai Song Cinjin agaknya masih panas perutnya karena tadi dua orang pembantunya memuji fihak lawan. Apa lagi ia melihat Auwyang Peng mengangguk-anggukkan kepala tanda menyetujui ucapannya, Kai Song Cinjin menjadi makin sombong.

"Jangankan ada orang-orang tersembunyi membantu mereka. Biar pahlawan Sam-kok Kwan-In Tiang menjelma lagi di dunia ini kita takut apa sih?" katanya penuh lagak jagoan.

Mendengar ini, Manimoko nampak gelisah. Jago Jepang yang bertubuh gemuk bulat seperti bola ini memang amat tahyul. Ia sudah lama merantau di Tiongkok dan sudah mendengar tentang dongeng-dongeng sejarah. Mendengar Kai Song Cinjin menyebut-nyebut dan menantang nama pahlawan besar Kwan In Tiang, ia menjadi pucat dan berkata dengan lidah pelo dan menggoyang-goyangkan tangannya.

"Kai Song Cinjin boleh menantang orang akan tetapi jangan sekali-kali menantang malaikat! Kwan Kong (Kwan In Tiang) sudah diangkat menjadi malaikat, sudah disembah dan dipuja jutaan orang. Tidak baik kalau ditantang-tantang oleh manusia biasa!"

Kai Song Cinjin tertawa bergelak. "Pinceng adalah murid terkasih dari Sang Buddha, selain ilmu silat juga ilmu batin pinceng sudah cukup matang. Mengapa harus takut menghadapi segala macam malaikat? Kedudukan pinceng sebagai murid Buddha lebih tinggi, dan kelak di Nirwana, para malaikat menjadi pelayanku." Ucapan macam ini benar-benar tidak patut keluar dari mulut seorang penganut Agama Buddha apa lagi dari seorang yang sudah menggunduli kepala menjadi hwesio.

Dari kata-katanya ini saja sudah dapat dinilai orang macam apa adanya hwesio dari Tibet ini. Dia menjadi hwesio di Tibet hanya untuk mencari kekuasaan, oleh karena di Tibet memang para pendeta itulah yang berkuasa. Rakyat masih terlalu bodoh dan menganggap bahwa para hwesio atau murid Buddha adalah manusia-manusia yang lebih tinggi derajatnya dari pada mereka manusia-manusia biasa.

Setelah menjadi hwesio dan memiliki kepandaian tinggi, Kai Song Cinjin di Tibet boleh berbuat sesuka hatinya, memeras rakyat, hidup mulia dan mewah penuh kesenangan duniawi dan semua ini tidak ada yang melarang atau berani mencela karena kekuasaan berada di tangannya. Akan tetapi, akhir-akhir ini para hwesio di Tibet yang betul-betul melakukan penghidupan suci sesuai dengan ajaran Agama Buddha, mulai melihat kejahatannya.

Kai Song Cinjin merasa khawatir kalau-kalau kedudukannya akan terguling, maka dengan cerdik ia lalu mengadakan hubungan dengan pemerintah Beng di Nan-king, rela menjadi kaki tangan Menteri Auwyang Peng yang sebaliknya menjanjikan bahwa kelak ia akan dijadikan raja muda di Tibet.

Mendengar ucapan terakhir dari Kai Song Cinjin itu tidak hanya Manimoko yang menjadi makin pucat, bahkan Yokuto hwesio Jepang itupun mengerutkan kening. Yokuto memang tidak berani banyak bicara oleh karena dia sendiri sebagai seorang hwesio telah tersesat masuk menjadi anggauta bajak laut.

Tadinya Yokuto dan Manimoko, keduanya jago jago yudo dan silat Jepang, menjadi sahabat baik. Akan tetapi mereka mempunyai watak buruk, dan sering kali mengganggu wanita-wanita cantik. Akhirnya mereka diusir oleh ksatria Jepang golongan Samurai.

Kaum Samurai yang gagah berani ini, yang seperti pendekar pendekar di Tiongkok selalu menghela kaum lemah terlindas, mengejar-ngejar mereka yang terus melarikan diri dan akhirnya menggabungkan diri menjadi bajak laut. Kemudian mereka yang tidak berani kembali ke Jepang, menerima ajakan kaki tangan Auwyang-taijin untuk bekerja sebagai "tukang pukul" dari menteri itu.

Yokuto sendiri merasa sebagai hwesio dia menyeleweng, akan tetapi mendengar ucapan Kai Song Cinjin tadi, dia yang tahu akan pelajaran Buddha, di dalam hati merasa tidak enak. Juga Auwyang Peng yang dahulunya seorang terpelajar, mencela omongan Kai Song Cinjin dengan kata-kata halus menyindir,

"Betapapun juga, harap saja Cinjin berhati-hati dan jangan terlalu memandang rendah fihak lawan."

Manimoko mengangguk-angguk dan menyambung kata-kata junjungannya, "Memang betul, Cinjin jangan sembarangan menantang malaikat. Bisa kualat nanti!"

Kai Song Cinjin tertawa bergelak, suara ketawanya bergema sampai jauh karena ia sengaja mengerahkan khikangnya untuk memamerkan kepandaiannya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa lain, lebih besar dan lebih nyaring, malah mengalahkan gema suara ketawanya.

Suara ketawa ini terdengar besar dan aneh, bukan seperti ketawa manusia, seakan-akan suara ketawa yang datang dari angkasa raya. Kai Song Cinjin otomatis menghentikan ketawanya, mulutnya masih menyeringai akan tetapi mukanya berubah, sepasang matanya berputar-putar mencari siapa orangnya yang tertawa itu.

"Aduh celaka...!" Manimoko yang amat takut akan setan dan malaikat itu berkata, mukanya pucat, tubuhnya menggigil "Ini bukan suara manusia....!"

Tiba-tiba matanya terbelalak memandang ke arah depan, tubuhnya yang gemuk itu makin menggigil, mulutnya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara, telunjuknya menuding-nuding seperti lakunya orang berotak miring melihat setan.

Semua orang memandang dan semua berseru kaget. Auwyang-taijin sendiri sampai cepat-cepat bangun dari tempat duduknya dan melompat ke dalam bersembunyi! Disusul oleh Auwyang Tek yang hendak melindungi ayahnya. Semua orang terbelalak memandang dengan tubuh panas dingin, kecuali Kai Song Cinjin yang bangkit berdiri, biar mukanya berubah pucat namun ia masih tabah. Apa yang mereka lihat? Benar-benar aneh dan menyeramkan sekali.

Di ruang depan memang terdapat sebuah patung Kwan In Tiang yang tinggi besar. Patung Itu terbuat dari pada tanah lempung, dalamnya kosong dan dicat indah sekali. Di tangan patung itu memegang golok gagang panjang yang betul-betul senjata tajam. Biasanya patung ini selain dipasang untuk alat hias ruangan, juga merupakan lambang kejujuran dan keadilan, banyak dipasang rumah para pembesar. Juga untuk penolak setan dan penyakit.

Akan tetapi, palung ini sekarang bisa berjalan, datang ke ruangan di mana Auwyang Peng bersidang dengan kaki tangannya! Yang hebat lagi, sepasang mata patung itu nelirak-lirik dengan pandang mata tajam sekali, dan golok panjangnya diayun-ayun seperti orang mengancam!

"Aduh celaka... ampun dewa......" Manimoko mundur-mundur sampai ke sudut ruangan di mana ia berdiri menggigil. Juga Yokuto segera merangkap kedua tangan di depan dada dan mulutnya tiada hentinya bergerak-gerak, berkemak kemik membaca mantera pengusir iblis!

Kai Song Cinjin melangkah maju dan berkata dengan suara keras untuk menghilangkan suasana menyeramkan. "Siluman jejadian dari mana berani main gila di depan pinceng? Pergilah kau!" Kedua tangan pendeta ini didorongkan ke depan dengan gerakan ilmu pukulan Hek tok-ciang!

Patung itu mengangkat tangan kiri dan juga didorongkan ke depan. Dari tangan ini keluar hawa pukulan yang dahsyat dan bertumbuklah dua hawa pukulan itu di udara. Akibatnya, pukulan Hek-tok-ciang buyar sama sekali dan kembali patung itu tertawa! Kai Song Cinjin melihat betapa bibir patung tidak bergerak sama sekali ketika tertawa, maka ia cepat berseru kepada kawan-kawannya,

"Jangan kalian takut. Dia itu hanya manusia biasa yang bersembunyi di dalam patung. Hayo serang!" Biarpun mulutnya berkata begitu dia sendiri sebetulnya merasa kaget juga karena baik setan atau manusia, lawannya ini telah menangkis buyar pukulan Hek-tok-ciang! Cepat ia maju menyerang lagi dan kali ini ia melakukan Ngo-tok-kun (Ilmu Silat Lima Racun) yang lihai bukan main.

Setiap pukulan ilmu silat ini dilakukan dengan pengerahan Iweekang yang berlainan dan ada lima macam hawa pukulan beracun yang terkandung dalam pukulan-pukulan Ngo-tok-kun, ada racun dari hawa Im-kang, ada dari Yang-kang, sehingga amat sukar bagi lawan untuk mengimbangi hawa pukulan Kai Song Cinjin yang berganti-ganti dan berubah sifatnya ini.

Patung bernyawa itu agaknya kaget juga menghadapi gelombang serangan ini, buktinya ia melompat mundur sambil memutar golok panjangnya. Melihat betapa "siluman" itu mundur terdesak oleh rangkaian pukulan Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun dan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek mengeluarkan seruan keras dan dua orang ini menerjang maju sambil menggerakkan senjata masing-masing.

Pian kelabang di tangan Mo Hun lebih cepat gerakannya dari pada tongkat Kui Ek dan pian ini lebih dulu menyambar ke arah leher patung Kwan Kong itu. Golok panjang patung itu terlalu kaku dan tidak dapat dipergunakan untuk menangkis pian yang sudah terlalu dekat. Nampaknya leher patung pahlawan kuno itu akan kena hajaran piai. yang dahsyat ini.

Tiba-tiba patung itu mengeluarkan suara keras tangan kirinya menyambar dan ujung pian kelabang telah ditangkapnya! Kepandaian ini hebat sekali sampai Mo Hun berseru kaget. Lebih-lebih lagi kagetnya ketika patung itu menarik piannya dan setelah senjata itu menegang, tiba-tiba dilepaskannya. Pian itu ujungnya membalik cepat sekali ke arah muka Mo Hun!

"Ayaaaa.... celaka....!" Mo Hun berseru namun masih sempat melepaskan senjata dan membuang diri ke kiri. Betapapun cepatnya, ia masih tak dapat melindungi pundaknya. Sebuah di antara duri-duri piannya sendiri menancap di pundaknya. Mo Hun jingkrak-jingkrak dan berkuik-kuik kesakitan seperti anjing disiram air panas! Cepat ia mencabut piannya dan mundur untuk mengobati luka di pundak oleh senjatanya sendiri.

Sementara itu tongkat Kui Ek juga sudah menimpa keras ke arah kepala patung itu. Patung itu menggunakan kedua tangannya menggoyang golok bergagang yang dipegangnya. "Krak!" gagang golok putus dan dengan golok yang sekarang menjadi golok pendek ia menangkis tongkat.

"Takk!" Kui Ek mengeluh, kaget dan kesakitan, dan tak dapat mempertahankan lagi tubuhnya yang terhuyung mundur. Patung itu mengeluarkan suara keras, seperti tertawa akan tetapi amat menyeramkan, membuat beberapa orang pengawai yang sudah menyerbu masuk menjadi roboh terguling.

"Souw Teng Wi....!" Kai Song Cinjin berseru kaget. Ia teringat bahwa dulu Souw Teng Wi juga mengeluarkan suara auman singa yang mengandung khikang luar biasa ini, dan ia mengira bahwa orang yang berada di dalam patung ini tentu Souw Teng Wi. Siapa lagi kalau bukan Souw Teng Wi yang berkepandaian begini hebat? Akan tetapi Souw Teng Wi sudah kehilangan dua biji matanya, kiranya tidak mungkin kalau orang ini Souw Teng Wi.

Akan tetapi ia tidak mau membuang waktu lagi dengan Ngo-tok-kun, sambil mengerahkan semua tenaganya. Juga Mo Hun yang masih marah sudah menyerang lagi dengan piannya, diikuti oleh Kui Ek. Dua orang jagoan Jepang yang tadinya ketakutan, sekarang merasa yakin bahwa di dalam patung ini tentu ada orangnya. Mereka juga maju menyerang dengan pedang samurai mereka.

Patung itu melayani mereka dengan gigih, goloknya dimainkan dengan gaya yang luar biasa. Akan tetapi karena patung itu terbuat dari pada tanah yang sudah kering, gerakannya kaku sekali dan di sana-sini sudah mulai retak. Juga goloknya ketika bertemu untuk ke sekian kalinya dengan tongkat Kui Ek, menjadi rusak dan akhirnya patah menjadi dua oleh pian kelabang Mo Hun!

Melihat dia tidak bersenjata lagi, Manimoko hendak memperlihatkan kepandaiannya dan mencari pahala. "Biar aku menawannya," katanya dan tubuhnya yang seperti bola itu menggelundung ke depan, pedangnya sudah ia lempar ke samping menancap pada sebuah tiang.

Patung itu nampak gugup menghadapi serangan aneh ini, dengan cara menggelinding, karena Manimoko menyerang dari bawah sambil menggelinding, patung itu memapakinya dengan sebuah, tendangan. Akan tetapi tendangan yang amat kaku karena kaki itu terbungkus tanah kering.

Mendadak, seperti akan melompat, Manimoko bangun dan tangannya menyambar, ilmu yudo dan jiujitsu ia pergunakan. Tanpa dapat dicegah lagi kaki patung itu sudah ia sambar dan tangkap. Patung itu mengeluarkan jerit kaget dan semua orang melengak karena jerit ini mirip jerit seorang wanita.

Tangan patung itu memukul kepala Manimoko, akan tetapi bagaikan seekor belut, Manimoko dapat mengelak dan kembali ia berhasil menangkap tangan patung itu. Manimoko mengeluarkan seruan keras sekali dan tahu-tahu tubuh patung itu sudah ia angkat dengan gerakan membanting dan di lain saat patung itu melayang ke atas oleh bantingannya.

Heran dan ajaib. Begitu berhasil melontarkan lawannya ke atas, Manimoko berdiri saja dalam posisi membanting dan ternyata ia telah kena ditotok oleh patung itu sampai dia sendiri yang sekarang diam kaku menjadi patung.

Adapun patung itu mengambil kesempatan baik ini, meminjam tenaga membanting dari Manimoko melompat ke atas, terdengar suara "brakkk," dan tahu-tahu lampu-lampu penerangan sebanyak tiga buah di ruangan telah padam, disambit oleh patung itu menggunakan pecahan tanah kering dari "kulit" patung. Padamnya lampu-lampu yang menjadi pecah disusul suara berdebuk dan keadaan menjadi sunyi.

"Nyalakan lampu.....! Lekas...!!" Tok-ong Kai Song Cinjin berteriak-teriak marah kepada para pengawal.

Orang ribut-ribut menyalakan lampu dan ketika ruangan itu menjadi terang lagi, yang kelihatan hanya Manimoko yang masih berdiri dalam posisi membanting dan sebuah patung Kwan Kong yang sudah pecah berantakan di atas lantai, kosong tidak ada orangnya!

Semua orang, kecuali Tok-ong Kai Song Cinjin, menjadi pucat. Ada kembali timbul dugaan bahwa yang mengamuk tadi tentu roh Kwan Kong yang marah karena ditantang lalu memasuki patungnya sendiri! Akan tetapi Kai Song Cinjin membentak marah,

"Gentong-gentong kosong, kalian mau apa pelotat-pelotot di sini saja? Hayo lekas meronda dan periksa setiap tempat, jangan-jangan bangsat itu masih bersembunyi di sini!"

Semua pengawal bubaran, akan tetapi biarpun mereka mentaati perintah ini melakukan perondaan, tidak urung bulu tengkuk mereka meremang dan para penjaga yang biasanya tabah dan sombong ini, sekarang mendengar suara tikus atau kucing lewat saja bisa menggigil karena kaget dan takut! Kai Song Cinjin membebaskan totokan yang membuat Manimoko menjadi patung. Begitu si gemuk ini melihat patung pecah berantakan dan kosong, ia segera berlutut di depan pecahan patung sambil mengeluh,

"Mohon hamba diampuni telah berani berlaku kurang ajar terhadap Kwan-thai-ciangkun (Panglima Besar Kwan)..." Jagoan Jepang ini sekarang merasa yakin bahwa yang dilawannya tadi tentulah roh dari Kwan Kong, karena selain ada bukti bahwa patung itu kosong tidak ada orangnya, juga kalau seorang manusia biasa, bagaimana bisa melepaskan diri dari tangkapan dan bantingannya tadi yang sudah pernah merobohkan ratusan orang jago gulat di negerinya?

Kai Song Cinjin menjadi makin mendongkol, la mengeluarkan tangan dan sekali tarik tubuh Manimoko yang tadinya berlutut itu sudah berdiri lagi. "Jangan melantur!" bentaknya marah. "Lawan tadi menotokmu dan melompat ke atas, memadamkan lampu dan menggunakan kesempatan dalam gelap untuk lari minggat. Apa kau masih menganggap dia setan?"

Manimoko tak berani membantah, akan tetapi mukanya masih pucat dan bibirnya berkomat-kamit. Mendadak dari sebelah dalam gedung Auwyang-taijin terdengar teriakan-teriakan riuh, "Tolong...! Taijin diserang siluman...!!"

Kai Song Cinjin melesat ke dalam, diikuti oleh Mo Hun dan Kui Ek, juga Yakuto hwesio Jepang itu hendak berlari masuk. Akan tetapi ia berhenti dan melihat kawannya Manimoko jatuh terguling dan berlutut sambil menyebut-nyebut nama segala macam dewata Jepang! Dapat dibayangkan ketakutan Manimoko yang amat percaya akan tahyul. Tadi ia memang masih ketakutan dan ngeri, sekarang mendengar orang berteriak ada siluman, semangatnya terbang dan ia menjadi ketakutan setengah mati.

Lenyap semua keberaniannya. Padahal Manimoko adalah seorang bekas bajak laut yang selain memiliki kepandaian tinggi, juga amat kejam dan tidak segan-segan membunuh manusia dengan mata tidak berkedip. Akan tetapi ia mempunyai kelemahan, yaitu amat takut kepada segala macam setan dan iblis.

"Manimoko, jangan seperti anak kecil. Hayo kita ikut menolong taijin," kata Yokuto kepada kawan senegaranya itu.

"Ti... tidak....ja.... jangan. Aku boleh melawan seratus orang manusia, akan tetapi setan...? Huh, jangan suruh aku melawannya!"

"Bodoh, apa kau ingin melihat taijin marah? Setan atau bukan, kalau kita maju beramai, takut apa sih? Hayo, di mana kegagahanmu?" Hwesio Jepang itu mengajak Manimoko dan setengah menyeretnya, mengejar yang lain-lain memasuki ruangan dalam langsung menuju ke kamar Auwyang-taijin.

Setelah tiba di dalam, mereka melihat Auwyang Tek berada dalam keadaan seperti Manimoko tadi, berdiri tak bergerak menjadi patung! Hal ini benar-benar amat mengejutkan. Kalau Manimoko yang kena totokan, hal itu tidak begitu aneh oleh karena Manimoko ahli yudo ini tak pernah mempelajari ilmu tiam-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah).

Akan tetapi Auwyang Tek adalah murid Kai Song Cinjin, tidak saja ahli pukulan Hek-tok-ciang dan memiliki ilmu silat tinggi, akan tetapi juga mahir tentang ilmu menotok jalan darah. Bagaimana pemuda lihai ini bisa tertotok dan menjadi patung? Adapun Kai Song Cinjin dan yang lain-lain tadi tidak sempat membebaskan Auwyang Tek dari keadaannya itu karena mereka buru-buru memasuki kamar Auwyang-taijin yang berteriak-teriak minta tolong.

Ketika Kai Song Cinjin sudah melompat masuk, ia mendapatkat menteri durna itu masih memandang dengan mata terbelalak dan menjerit-jerit, "Am... ampun... tolong... jangan cabut nyawaku.....!" Kemudian ia menjerit lebih nyaring lagi, "Ada setan....!"

Jilid selanjutnya,
PUSAKA GUA SILUMAN JILID 15