Pusaka Gua Siluman Jilid 06, karya Kho Ping Hoo - SOUW TENG WI tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, membunuh berbeda dengan menyiksa. Membunuh musuh berarti berjasa terhadap negara, membunuh orang keji berarti menyelamatkan rakyat dari pada kekejiannya. Akan tetapi menyiksa adalah perbuatan yang membuktikan akan kerendahan budi si penyiksa. Mana kau tahu akan sifat membunuh dan menyiksa?"

Bagi Sim Kang, jawaban ini adalah jawaban kacau-balau dari seorang gila. Maka ia menjadi penasaran dan membantah lagi. "Kau tidak tahu, Souw-twako. Akulah yang menyuruh orang ini dihukum. Dia adalah seorang pencuri, mencuri sebuah barang berharga di atas kapal ini. Bukankah sudah sepatutnya seorang pencuri dihukum?" katanya sambil menudingkan jari telunjuk kepada pencuri yang kini duduk menggigil ketakutan itu.
Saking takutnya melihat sikap Souw Teng Wi yang sedang kumat itu, pencuri ini sampai lupa akan rasa nyeri pada ibu jari dan telunjuknya yang terpantek pada papan.
"Mencuri apa?" tanya Souw Teng Wi, matanya yang merah ditujukan kepada Sim Kang yang menjadi bergidik melihatnya.
Sim Kang mengeluarkan batu giok berbentuk burung hong yang amat indah itu, memperlihatkannya kepada Souw Teng Wi sambil berkata, "Inilah benda berharga yang coba dicuri."
Sekali menggerakkan tangan. Souw Teng Wi sudah merampas batu giok itu. menimang-nimangnya dan memandangnya sambil tertawa bekakakan. "Ha-ha-ha-ha, bukan salahnya, melainkan salahmu sendiri. Mengapa benda seperti ini dianggap berharga? Jangan menganggap benda ini berharga dan orang lain takkan mencurinya. Jangan diperlihatkan benda ini kepada orang lain, agar tak akan ada pencuri datang. Lebih tepat lagi, jangan mengadakan barang-barang yang kau sebut berharga, siapakah yang timbul keinginan mencuri? Ha-ha-ha ha!"
la menghampiri pencuri itu yang menggigil makin keras. "Kau suka benda ini? Kau anggap berharga? Lihat!" Sekali meremas, batu giok burung hong itu hancur menjadi bubuk putih. "Lihat, ini benda yang tadi, tahu? Masih inginkah kau mencurinya?"
Pencuri itu menggelengkan kepala dengan muka pucat. Souw Teng Wi tertawa lagi sambil melemparkan bubukan batu giok ke atas, ia lalu menari-nari di sekeliling dek kapal itu. "Siapa sudi mencuri kalau orang menyatakan bahwa benda itu tidak berharga? Tentu tak ada yang ingin mencurinya!"
la mengayun tangan kanannya dan “prak!” debu mengepul dan kepala singa-singaan batu itu sudah lenyap, hancur menjadi debu, yang tinggal hanya tubuh singa yang tak berkepala.
“Ha-ha-ha, sekarang siapa bilang dia berharga? Dan siapakah yang sudi mencurinya? Ha-ha-hal”
"Gila!" Suara ini terdengar dari mulut Sim Hong Lui yang saking gemasnya tak dapat menahan lidahnya. Souw Teng Wi mengerling ke arahnya dan tahu-tahu telah berada di depan pemuda itu yang menjadi pucat seketika.
"Pakaianku ini, siapa yang sudi mencurinya? Karena tidak berharga. Pakaian orang muda ini dikatakan berharga dan bagus, hati-hati, nanti ada yang mencurinya. Lebih baik dibikin tidak berharga!"
Cepat sekali kedua tangan Souw Teng Wi bergerak-gerak dan di lain saat hanya terdengar suara "brett-brett-brettt!”. Ketika ia menghentikan gerakan tangannya, keadaan Hong Lui lucu sekali. Celananya tinggal sepotong, bajunya compang-camping. Ikat rambutnya putus, tali pinggangnya bolong-bolong, pendeknya semua barang indah yang menempel di tubuhnya tidak utuh lagi. Bahkan pedangnya sudah tidak bergagang lagi, karena gagangnya sudah remuk.
"Lihat, lihat, siapa mau mencuri barangnya? Ha-ha-ha!”
Sim Kang terkejut bukan main. Benar-benar susah mengurus orang gila ini. Ia menghampiri dan menjura kepada Souw Teng Wi. "Souw-twako memang berkata benar. Aku menerima salah dan maafkan semua kesalahan kami yang sudah membikin hatimu tidak senang."
Souw Teng Wi menudingkan telunjuknya kepada Sim Kang sambil tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, siapa bicara tentang salah benar? Kau tidak becus memimpin, tentu anak buahmu brengsek!" Setelah berkata demikian, sambil berjingkrakan orang gila ini kembali ke kamarnya di bawah dek.Sim Kang menjadi bingung sekali, la segera berunding dengan Sim Hong Lui. "Dia harus segera diserahkan ke Nan-king,” bisik si ayah. "Kalau dia terus di sini, biarpun keadaan kita kuat, akhirnya kita bisa celaka. Lebih baik kau pergi ke Nan-king mencari hubungan untuk urusan penyerahan orang gila ini. Kalau bisa diserahkan kepada Auwyang taijin. tentu hadiahnya lebih besar lagi."
"Akan tetapi kita sudah mendapat nama buruk dengan tewasnya Thian Te Cu di kapal kita,” bantah puteranya.
"Bisa diatur. Katakan bahwa yang membunuh adalah Souw Teng Wi dan bahwa kita tadinya dipaksa olehnya, habis perkara. Melihat kepandaiannya, siapa yang tidak percaya kalau kita akui dia sebagai kepala kita?"
Hong Lui mengangguk-angguk dan demikianlah, mereka mencari kesempatan baik untuk "menjual" Souw Teng Wi. Akan tetapi sebelum Hong Lui pergi meninggalkan kapal untuk mencari hubungain ke kota raja Nan-king, terjadi hal yang hebat lagi di kapal itu. Seperti sudah diceritakan sebelumnya, dari pergaulan yang tidak sehat dengan anak buah bajak, Hong Lui menjadi seorang pemuda binal dan ugal-ugalan.
Pada suatu hari dia bersama beberapa orang anak buah bajak dengan perahu-perahu kecil turun ke darat dan kembalinya membawa seorang wanita muda yang cantik sebagai tawanan. Sim Kang tahu akan hal ini, akan tetapi ia mendiamkannya saja karena sudah biasa puteranya itu membawa gadis-gadis dan wanita-wanita muda sebagai tawanan ke kapal.
Akan tetapi kali ini, wanita muda itu tidak turut dengan suka rela, melainkan dipaksa. Wanita ini adalah isteri seorang nelayan yang diculik dengan paksa oleh Hong Lui, tertarik akan kecantikan wanita ini. Suaminya, si nelayan yang malang, dipukul sampai pingsan di tepi pantai. Tak seorangpun menghiraukan hal ini.
Para anak buah bajak hanya tertawa-tawa melihat Hong Lui menyeret wanita itu ke dalam kamarnya. Akan tetapi Souw Teng Wi yang seperti biasa duduk melamun di kamarnya, tiba-tiba melompat bangun. Telinganya yang tajam mendengar suara wanita menangis.
Alangkah kagetnya hati Hong Lui ketika ia sedang duduk makan minum bersama dua orang bajak kaki tangannya di dalam kamar dan memaksa wanita itu untuk makan minum pula bersamanya, tiba-tiba pintu kamarnya roboh tertendang dan masuklah SouwTeng Wi! Sekali pandang saja Souw Teng Wi yang biarpun sudah gila namun jiwa ksatrianya tetap tidak meninggalkannya, tahu bahwa wanita ini tentu orang yang diculik ke situ.
"Siapa wanita ini? Mengapa menangis?” tegurnya kasar.
Dua orang bajak dan Heng Lui tak dapat menjawab dan wanita itu yang melihat masuknya seorang laki-laki aneh dan menyeramkan, jatuh berlutut dan berteriak-teriak "Kembalikan aku ke pantai... kembalikan aku kepada suamiku...!"
Souw Teng Wi meloncat ke dalam, sekali tendang meja penuh makanan itu terbalik ke atas pembaringan. "Siapa menculik dia ke sini?" bentaknya.
"Souw-pek-pek. Mereka ini.... dua orang durhaka ini yang menculiknya... aku tidak tahu apa-apa...!"
Baru saja Hong Lui menghentikan kata-katanya, terdengar suara keras dari dua buah kepala orang yang diadu satu kepada yang lain. Dua orang bajak itu roboh terkulai dengan kepala pecah dan tak bernapas lagi.
"Antar dia kembali kepada suaminya!” bentak Souw Teng Wi.
Hong Lui tak berani berayal pula, cepat menyuruh seorang bajak njembawa wanita itu dengan perahu ke darat. Sim Kang juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Kalau begini naga-naganya, anak buahku bisa habis dibunuhi orang gila ini," pikirnya.
Semenjak itu, mereka menjaga diri hati-hati sekali agar jangan menyinggung perasaan Souw Teng Wi, menjaga agar orang gila itu tidak "kumat." Sementara itu, Hong Lui meninggalkan kapal untuk mencari hubungan dalam urusan menyerahkan pemberontak Souw Teng Wi.
Demikianlah, kapal layar itu sedang dalam perjalanan untuk menjemput Hong Lui kembali di pantai Po-hai ketika kapal ini kebetulan sekali lewat di dekat batu karang di mana Souw Lee Ing terdampar dan Sim Kang menolong gadis itu naik ke kapalnya.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, saking lelahnya karena penderitaan selama delapan hari di tengah laut, setelah makan kenyang Souw Lee Ing tidur pulas di atas kursinya. Suara gaduh di perahu itu sama sekali tidak didengarnya. Ia tidak tahu bahwa kapal itu telah menuju ke pantai dan tidak tahu pula bahwa seorang pemuda tampan yang baru naik ke kapal itu memandangnya dengan sepasang mata penuh gairah, seperti mata pencuri melihat emas.
Pemuda itu adalah Hong Lui yang menjadi kagum bukan main menyaksikan gadis secantik itu berada di atas kapal. Belum pernah ia melihat seorang gadis secantik ini dan sekaligus hatinya jatuh bangun.
"Ayah, aku harus mendapatkan gadis ini. Dia patut menjadi isteriku! Inilah gadis idaman hatiku yang sering kujumpai di alam mimpi," katanya.
Sim Kang hanya tersenyum dan berkata. "Itu urusan mudah, urusan nanti. Sekarang lebih baik kita bicara tentang urusan yang lebih penting lagi.”
Dengan ogah-ogahan Hong Lui meninggalkan gadis yang masih tidur pulas itu dan ikut dengan ayahnya ke kamar untuk bicara tentang urusan "penjualan" Souw Teng Wi.
Sementara itu, malam tiba dan keadaan di kapal sunyi sekali. Tanpa diketahui oleh siapapun juga. Lee Ing terbangun dari tidurnya karena pundaknya ditekan orang. Ketika gadis ini tersentak kaget, sebuah tangan yan berbulu dan kasar mendekap mulutnya, mencegah ia berteriak, kemudian pemilik tangan itu, seorang anak buah bajak tinggi besar, hendak memeluk dan memondongnya.
Lee Ing adalah seorang gadis kang-ouw yang cerdik. Ia maklum akan niat jahat orang ini, maka iapun tidak mau berteriak. Siapa tahu kalau ia berteriak, kawan-kawan orang ini malah hendak mencelakakannya. Ia dapat mengerti bahwa orang ini hanya bertenaga besar akan tetapi tidak pandai silat atau hanya seorang yang mengerti silat biasa saja, ini dapat dibuktikan dari gerak-gerik orang itu. Maka ia menurut saja tubuhnya dipondong dan pada saat yang baik, tangannya meluncur, terus menotok jalan darah kai-hu-hiat di pundak orang itu.
"Bukk!" Orang itu roboh tak berkutik lagi. Juga tidak dapat mengeluarkan suara. Lee Ing marah bukan main. Ia ingin memukul pecah kepala orang kurang ajar ini, akan tetapi takut kalau mendatangkan urusan besar. Segera ia meninggalkan orang itu dan menyelinap pergi. Ia tidak tahu jalan, akan tetapi ia ingin bertemu dengan majikan kapal yang kemarin bersikap lemah lembut itu, untuk melaporkan tentang kekurang-ajaran anak buahnya.
Berindap-indap ia berjalan menuruni anak tangga ke ruangan tengah dan tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap perlahan dari sebuah kamar. Yang membuat hatinya berdebar dan cepat ia mengintai mendengarkan, adalah terdengaraya nama "Souw Teng Wi" disebut-sebut.
Kapal sedang bergerak-gerak perlahan dipukul ombak maka biarpun Sim Kang dan puteranya berkepandaian tinggi, mereka tidak mendengar gerakan Lee Ing yang mengintai dari balik jendela bilik kapal. Lee Ing melihat dua orang duduk menghadapi meja yang dipasang di tengah bilik.
Lampu minyak tergantung di pojok bergoyang-goyang mendatangkan bayang-bayang menyeramkan di dalam kamar yang suram itu. Lee - Ing mengenal seorang laki-laki setengah tua yang membawa senjata pian dan di depan laki-laki ini duduk seorang laki-laki muda yang tampan.
"Semua sudah diatur beres, ayah. Hadiah sudah disediakan dan begitu kita menyerahkan Souw Teng Wi, mati atau hidup, kita tinggal membawa hadiah itu. Akan tetapi, kiranya tidak mungkin menyerahkan orang gila itu dalam keadaan hidup," terdengar pemuda itu berkata dan Lee Ing tahu bahwa pemuda itu adalah putera orang yang ramah itu.
Sim Kang mengangguk-angguk. "Memang tidak mungkin, kepandaiannya hebat dan ia susah diurus. Akan tetapi bagaimana bisa membuat dia tidak berdaya? Jangankan dia dalam keadaan sadar, sedang tidur saja tak mungkin bisa didekati. Telinganya amat tajam pendengarannya, ada tikus lewat saja ia terbangun, marah-marah dan belum mau tidur lagi sebelum ia dapat menangkap dan membunuh tikus itu. Bagaimana kita bisa menawannya?"
Pemuda itu tersenyum lalu berkata, suaranya bisik-bisik, "Jangan khawatir, ayah. Aku sudah bertemu dengan Auwyang kongcu yang terkenal dengan ilmunya Hek-tok-ciang. Auwyang-kongcu adalah seorang ahli racun dan ia sudah memberi racun yang apabila di campur dengan minuman arak, sama sekali tidak kentara ataupun terasa. Nyawa si gila sudah di tanganku!"
Sim Kang tertawa girang dan ayah serta anak itu nampaknya puas sekali. Adalah Lee Ing yang berdiri menggigil di luar. Ayahnya masih hidup! Ayahnya telah gila dan sekarang hendak diracun oleh ayah dan anak ini. Ayahnya berada di dalam kapal ini!
Dengan kaki gemetar Lee Ing meninggalkan tempat pengintaiannya dan berindap-indap menuruni tangga menuju ke bilik yang paling bawah. Anak buah bajak sudah pada tidur, ada yang bermain kartu di ruangan atas, akan tetapi keadaan di bawah sunyi sekali. Tiba-tiba Lee Ing mendengar suara orang bersungut-sungut.
"Pejuang-pejuang sekarang gentong kosong belaka. Tingkahnya seperti rampok, mana bisa disebut patriot sejati? Ah, masa kejayaan telah lampau... di mana pasukanku? Mengapa aku berada di kapal ini?" Kemudian disusul makian perlahan, "Bangsat Mongol penjajah laknat...! Pembesar-pembesar durna penghianat bangsa yang harus mampus!"
Berdiri bulu tengkuk Lee Ing mendengar suara ini. Semenjak ia dilahirkan, belum pernah melihat wajah ayahnya, belum pernah mendengar suara ayahnya. Bahkan ibunyapun ia tidak pernah mengenalnya karena ibunya sudah meninggal dunia ketika ia baru berusia dua bulan! Akan tetapi suara ini membuat hatinya berdebar keras. Benar-benarkah ayahnya yang bicara di dalam bilik itu?
Ia menahan napas dan menolakkan pintu bilik perlahan-lahan. Pintu tidak terkunci dan terbuka. Ia melihat seorang laki-laki berpakaian compang-camping dan berambut awut-awutan dengan muka penuh berewok, duduk bersandar dinding menghadapi lilin dalam keadaan melamun.
"Siapa kau berindap-indap mengintaiku?" tanya laki-laki itu acuh tak acuh, kemudian mengangkat muka memandang.
Alangkah menyedihkan muka itu bagi Lee Ing, muka yang kotor bermata merah, mulutnya membayangkan kehancuran hati. Sebaliknya, ketika Souw Teng Wi melihat gadis itu di depannya, ia tersentak kaget bagaikan disambar petir. Ia menjadi seperti lumpuh, tak mampu berdiri hanya memandang dengan bengong. Bibirnya yang kering bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan aneh sekali bagi Lee Ing dari sepasang mata yang merah itu bercucur an airmata!
Lee Ing bertindak menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Souw Teng Wi. Entah mengapa, biarpun belum yakin benar apakah orang ini ayahnya, ada perasaan aneh yang memaksanya untuk berlutut dan hatinya penuh diliputi rasa kasihan kepada orang terlantar ini. Mereka kini berhadapan, saling pandang, Lee Ing berlutut dan Souw Teng Wi duduk.
"Namilana.. Milana isteriku sayang... kau.... kau datang menyusulku....?" bisik-bisik ini terdengar oleh Lee Ing dan seketika itu juga air mata bercucuran dari kedua mata Lee Ing. "Milana isteriku manis... kau masih ingat kepadaku, Souw Teng Wi suamimu...?"
Ucapan-ucapan ini adalah kata-kata yang seringkali keluar dari mulut Souw Teng Wi baik dalam tidur maupun kalau sedang melamun, penuh rasa rindu kepada isterinya yang tercinta, isterinya yang terpaksa berpisah dari padanya ketika sedang mengandung. Kini Lee Ing tidak ragu-ragu lagi. Tak salah lagi, orang inilah adanya Souw Teng Wi, ayahnya, la menubruk ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah... ayahku...! Aku Souw Lee Ing puterimu! Aku adalah anakmu, dan Namilana adalah ibuku.... ayah, ibu... ibu sudah..." Lee Ing tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia terisak-isak di dalam pelukan ayahnya.
Terjadi keanehan dalam detik-detik itu. Kegilaan seakan-akan lari pergi untuk sementara dari kepala Souw Teng Wi. Agaknya pertemuan yang amat mengharukan hatinya ini, melihat wajah gadis yang seperti pinang dibelah dua dengan wajah Namilana isterinya, mendengar pengakuan bahwa gadis ini adalah puterinya, seketika itu juga ia menjadi waras.
“Apa kau bilang...? Kau ...kau anakku? Kau anak Namilana yang sedang mengandung ketika pulang ke utara....?" Souw Teng Wi berkata campur tangis sambil memandang muka puterinya.
Lee Ing tak mampu mengeluarkan suara saking terharunya. Ia hanya menatap wajah ayahnya matanya penuh air mata, bibirnya komat-kamit tanpa mengeluarkan suara, lalu mengangguk-angguk.
"Ya, Thian Yang Maha Kuasa!" Souw Teng Wi memuji nama Tuhan. "Kau... kau anakku...? Siapa namamu tadi....?"
"Souw Lee Ing... sudah lama aku mencarimu, ayah."
Souw Teng Wi menciumi jidat puterinya, air matanya jatuh membasahi jidat itu dan ia mendekap kepala puterinya ke dadanya yang serasa hampir meledak saking bahagianya. "Souw Lee Ing... aduh, bagus sekali namamu, anakku. Kau seperti ibumu benar.... eh, mana ibumu? Mana Namilana isteriku dan mana Haminto Losu mertuaku?" Ia teringat dan bertanya sambil memandang muka puterinya.
Lee Ing menangis makin keras sampai sesenggukan, lama baru ia bisa menjawab, "Ayah, ibu Namilana sudah meninggal dunia ketika aku baru berusia dua bulan dan... dan kong-kong....." Lee Ing tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terdengar Souw Teng Wi mengeluh panjang dan tubuhnya menjadi lemas. Ternyata ia pingsan menyandar dinding.
Pada saat itu, terdengar tindakan kaki orang dan muncullah Sim Kang dan Sim Hong Lui di depan pintu. Muka mereka pucat dan mereka memandang dengan mata terbelalak lebar. Melihat gadis itu memeluk Souw Teng Wi, benar-benar merupakan penglihatan yang luar biasa bagi mereka. Tadi ayah dan anak ini selesai bicara dan Hong Lui mengundurkan diri untuk kembali kepada gadis yang telah menarik hatinya.
Akan tetapi ia melihat tempat duduk gadis itu kosong dan melihat pula seorang anggauta bajak menggeletak tak berdaya karena tertotok jalan darahnya. Tentu saja Hong Lui menjadi kaget sekali dan cepat ia pergi ke kamar ayahnya memberi laporan. Berdua lalu keluar mencari dan akhirnya mereka mendengar suara di kamar Souw Teng Wi yang berada di tingkat bawah.
Ketika Lee Ing melihat ayah dan anak ini menyusul datang ia melepaskan pelukannya dari pundak ayahnya dan melompat berdiri, siap melindungi ayahnya. “Jangan sentuh ayahku! Jangan kalian mengganggu ayah!” desisnya marah dengan mata mengancam.
Tentu saja Sim Kang dan Sim Hong Lui melengak melihat sikap gadis ini. "Ayahmu...?" Sim Kang berkata heran, "Kau... kau ini siapakah, nona?"
"Aku Souw Lee Ing dan dia ini ayahku. Awas kalau kalian berani mengganggunya, lebih dulu kubunuh kalian!”
Menggelikan sekali sikap Lee Ing ini dan Sim Kang tersenyum. Tentu saja ia sama sekali tidak takut terhadap gadis muda remaja ini, biarpun gadis ini mengaku sebagai anak Souw Teng Wi.
"Gadis gila jangan kau main-main! Minggirlah!" kata Sim Kang yang sama sekali tidak mau percaya bahwa gadis yang ia dapatkan terdampar di atas batu karang ini adalah anak Souw Teng Wi. la melangkah maju hendak menangkap pundak gadis itu. Akan tetapi biarpun gerakan itu cepat sekali sehingga pundak Lee Ing tertangkap tanpa gadis itu sempat mengelak sekali menggerakkan pundaknya Lee Ing telah dapat melepaskan diri! Inilah ilmu gulat yang ia pelajari dari kakeknya.
"Jangan bunuh ayahku, kalian orang-orang jahat"
Selagi Sim Kang dan Sim Hong Lui hendak menangkap gadis itu, terdengar suara "uuhh" dan tubuh ayah dan anak itu terhuyung mundur sampai ke pintu.
"Apakah kalian sudah bosan hidup hendak mengganggu Namilana isteriku?" bentak Souw Teng Wi yang sudah meloncat berdiri, sikapnya menyeramkan.
"Ayah, aku bukan ibu. Aku Souw Lee Ing anakmu..." kata Lee Ing sedih melihat ayahnya telah "kumat" pula gilanya.
"Ah, yaaa... kau Lee Ing anakku.... aduh Namilana...Namilana isteriku, kau berada dimana....?" Dan Souw Teng Wi menangis lagi, Lee Ing ikut menangis melihat keadaan ayahnya itu.
Diam-diam Sim Kang terkejut setengah mati. Sungguh tak pernah disangkanya bahwa gadis ini ternyata benar-benar puteri orang gila ini. Akan tetapi dasar ia cerdik sekali. Cepat ia merobah sikap dan menjura sambil berkata dengan muka berseri.
"Ahh, kiranya betul puteri Souw-twako? Sungguh kebetulan. Ini namanya berkah Thian kepada kita semua. Secara tidak terduga kami telah menolong puteri Souw-twako yang terdampar di batu karang. Ah, Souw-twako. Kionghi (selamat), kiong-hi! Pertemuan yang amat membahagiakan, mengapa harus menangis sedih? Sudah sepatutnya dirayakan. Souw-twako, aku permisi dulu untuk menyiapkan perayaan pertemuanmu dengan puterimu yang cantik ini." Ia lalu mengundurkan diri bersama Hong Lui yang terpaksa kali ini menggigit jari.
Tentu saja kalau nona ini puteri Souw Teng Wi, ia tidak berani main gila di depan Souw Teng Wi. yang lihai sekali itu. Namun diam-diam ia masih mengandung harapan besar. Souw Teng Wi diracun, mayatnya dijual kepada Auwyang-taijin dan puterinya menjadi miliknya. Aduh senangnya!
Sementara itu, setelah menangis Souw Teng Wi menjatuhkan diri di lantai dan tidur pulas, sama sekali tidak bangun lagi. Lee Ing yang merasa amat kasihan melihat ayahnya, tidak mau mengganggu, bahkan duduk menjaga ayahnya dan menatap wajah ayahnya dengan cinta kasih yang besar.
Setelah ia pandang dengan seksama, hatinya girang mendapat kenyataan bahwa sebetulnya ayahnya mempunyai wajah yang tampan dan gagah sekali. Sayang ayahnya agaknya terserang penyakit ingatan, pakaiannya tidak karuan, wajahnya kotor dan penuh rambut yang tidak terpelihara.
Berkali-kali Lee Ing meneteskan air mata mengenangkan penderitaan ayahnya dan ia juga merasa gelisah kalau teringat akan percakapan Sim Kang dan puteranya yang mempunyai rencana hendak membunuh ayahnya dengan racun. Aku harus menggagalkan usaha keji mereka, aku harus membela ayah biarpun aku kehilangan nyawa untuk itu, demikian Lee Ing mengambil keputusan.
Pada keesokan harinya, ketika Souw Teng Wi bangun, ia pertama-tama kaget melihat seorang gadis cantik duduk di dekatnya. Akan tetapi Lee Ing segera memegang tangannya dan berkata lemah lembut penuh kesayangan, "Ayah, aku Lee Ing anakmu. Souw Lee Ing puteri tunggalmu."
Untuk sejenak Souw Teng Wi melongong dan memandang kepada Lee Ing dengan sinar mata kosong, kemudian ia mengangguk-angguk dan bersungut-sungut. "Ya.... ya.. kau Lee Ing anakku dan ibumu Namilana telah mati...." Suara ini kosong dan sinar matanya membayangkan kedukaan dan kekecewaan besar sekali.
Lee Ing terkejut dan berduka, Ia mengerti bahwa kegirangan pertemuan antara ia dan ayahnya itu menjadi hampa bagi ayahnya karena mendengar bahwa ibunya telah mati. "Ayah, hati-hatilah, ayah. Dua orang majikan kapal itu hendak membunuhmu," bisiknya sambil memegang lengan ayahnya.
"Apa...? Hemm, biarlah. Tak seorangpun dapat membunuh aku. Ha-ha-ha!" Suara ketawanya keras menggema di kamar itu, mengagetkan Lee Ing dan gadis ini segera jatuh terduduk dengan badan serasa lumpuh. Ia telah terkena pengaruh suara ketawa penuh tenaga Iweekang yang tinggi.
Souw Teng Wi menariknya bangun dan mengamat-amatinya, keningnya berkerut. "Kau Lee Ing anakku, akan tetapi tubuhmu lemah sekali. Kau perlu dilatih supaya jangan selemah ini."
Lee Ing girang sekali. "Baik, ayah. Aku ingin sekali belajar ilmu agar menjadi kuat seperti ayah dan dapat menjaga keselamatan ayah."
"Nah, kau siaplah!" Pada saat itu dan di tempat itu juga Souw Teng Wi mulai memberi latihan ilmu silat kepada anaknya! Akan tetapi latihan ini tidak karuan awal mulanya, amat sukar bagi Lee Ing untuk mengikutinya. Ilmu silat yang diajarkan oleh ayahnya itu demikian aneh, gerakan-gerakannya sukar diikuti sehingga ia harus mencurahkan segenap perhatiannya, baru ia dapat menangkap satu dua jurus.
Selagi ayah dan anak ini sibuk berlatih, muncul Sim Kang yang tersenyum sambil menjura. "Wah, kalau ayah dan anak memiliki kegagahan, pagi-pagi sudah berlatih silat. Hebat... hebat!" Ia lalu menjura kepada Souw Teng Wi dan berkata, "Souw-twako, perjamuan untuk merayakan pertemuanmu dengan puterimu telah kami siapkan. Mari kita naik ke ruangan atas."
Souw Teng Wi mengangguk-angguk dan menggandeng tangan anaknya. Lee Ing menjadi pucat dan hatinya berdebar tidak karuan. Ia merapatkan tubuhnya kepada ayahnya dan diam-diam ia membenci orang she Sim ini yang dianggapnya sopan santun dan halus pada lahirnya, namun di dalam hati mengandung maksud keji sekali.
Melihat sikap mereka yang takut-takut terhadap ayahnya, Lee Ing dapat menduga bahwa ilmu kepandaian ayahnya tentu hebat dan tentu ayahnya sanggup melindungi diri. Maka ia hendak melihat dulu perkembangannya, baru turun tangan kalau sekiranya ayahnya terancam bahaya.
Di atas dek sudah disediakan meja perjamuan, meja besar dan penuh barang hidangan. Sim Hong Lui menyambut dengan senyum ramah. Pemuda ini mengenakan pakaiannya yang paling indah hingga ia kelihatan makin tampan dan gagah. Agaknya pemuda ini mempersolek diri agar kelihatan menarik dalam pandangan gadis itu. Juga lima orang pelayan dipilih di antara bajak yang tidak begitu keren kelihatannya, termasuk orang-orang yang cukup tampan.
Sim Kang segera menarik bangku mempersilahkan Souw Teng Wi dan Souw Lee Ing duduk. Lee Ing tidak mau berjauhan dari ayahnya duduk di sebelah kiri ayahnya. Kemudian Sim Kang dan Sim Hong Lui mengambil tempat duduk berhadapan dengan mereka.
"Souw-twako... atas berkumpulnya kembali ayah dan anak, sekali lagi aku menghaturkan kionghi," kata Sim Kang sambil menuang arak dengan kedua tangannya sendiri ke dalam cawan arak di depan Souw Teng Wi dan Lee Ing, juga ke dalam cawannya sendiri, lalu ia mengangkat cawan mengajak minum.
Souw Teng Wi tertawa bergelak. "Sudah berapa tahun aku tak minum arak, hari ini mendapat rejeki, tak baik ditolak." Ia mengangkat cawannya, juga Lee Ing mengangkat cawannya.
Gadis ini dengan amat teliti mengawasi gerak-gerik Sim Kang dan melihat bahwa tuan rumah juga minum arak yang sama, ia tidak curiga. Apa lagi ia telah mencium arak itu dan tidak mencium bau yang mencurigakan. Ia menanti sampai Sim Kang minum araknya, baru ia minum pula araknya dengan sekali teguk menyusul ayahnya.
"Arak enak, arak enak..." kata Souw Teng Wi sambil mengecap-ngecap mulutnya.
Sim Hong Lui tertawa. "Souw-pek-pek... akupun memberi selamat kepada pekpek dan kepada Souw-siauw-moi atas pertemuan yang amat menggembirakan hati ini. Harap sudi menerima penghormatan." Pemuda inipun menuang arak ke dalam cawan masing-masing.
Kali ini Lee Ing lebih hati-hati dan menaruh perhatian sepenuhnya, namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Makanan lalu ditawarkan dan mulailah mereka makan minum. Lee Ing melihat jelas betapa Sim Kang makan semua hidangan, maka iapun cepat mengambilkan setiap hidangan yang dimakan oleh Sim Kang, diambil dengan sumpit dan ditaruh ke dalam mangkok ayahnya. Sikapnya seperti melayani ayahnya, padahal ia menjaga agar ayahnya jangan sampai mengambil masakan yang tidak disentuh ayah dan anak she Sim itu. Memang Lee Ing amat cerdik dan pandai mengatur sikap sehingga semua perbuatannya ini nampak wajar.
Setelah minum banyak arak, timbul kegembiraan hati Souw Teng Wi dan ia tertawa-tawa. "Kau orang baik, saudara Sim, orang baik...."
Sim Kang tertawa. "Apakah kau sudah puas Souw-twako?"
"Ha-ha, puas sekali. Arakmu enak... enak benari"
"Souw-pek-pek sambil makan minum, sudikal kau menceritakan dari mana kau mendapatkan ilmu silat yang hebat itu? Hitung-hitung penambah pengetahuan keponakanmu yang bodoh ini," tiba-tiba Sim Hong Lui bertanya. Pertanyaannya ini sebetulnya wajar, akan tetap Lee Ing mengerutkan kening.
"Ilmu silat tentu saja didapat dari gurunya mengapa harus ditanya lagi? Ayah sudah cukup minum, biarlah dia beristirahat. Ayah, mari kuantar ayah kembali ke kamar."
Akan tetapi Souw Teng Wi sudah setengah mabok dan kegembiraannya timbul. "Ilmu silat? Ha- ha- ha, baru kupelajari seperdelapan bagian saja. Kalau sudah kupelajari semua, di kolong langit ini mana ada durna berani mengganggu aku? Ilmu sakti dari Gua Siluman tiada taranya di dunia ini, tiada keduanya. Baru mempelajari seperdelapan bagian, kepandaian silatku meningkat beberapa kali lipat. Ha-ha-ha!"
"Ayah, mari beristirahat."
Memang ayah dan anak itu hendak membongkar rahasia kepandaian Souw Teng Wi sebelum membunuhnya. Mendengar ucapan Souw Teng Wi tentang ilmu sakti di Gua Siluman, mereka bertukar pandang penuh arti.
"Gua Siluman? Ha... aku pernah mendengar tentang itu dan pernah melihatnya, Souw-twako." kata Sim Kang.
Tiba-tiba sikap Souw Teng Wi berubah sungguh-sungguh. "Tidak mungkin. Di dunia ini hanya aku seorang yang pernah melihatnya."
Melihat kecurigaan Souw Teng Wi Sim Kang cepat memancing. "Bukankah gua berbentuk tengkorak yang terdapat di Pulau Naga Hitam?"
Souw Teng Wi tertawa. "Ha-ha-ha... bukan di Pulau Naga Hitam. Gua Siluman itu adalah...."
Lee Ing menarik tangan ayahnya. "Ayah, tak tahukah kau bahwa orang hendak mengetahui di mana adanya gua itu dan kemudian mengambil ilmu itu?"
Sim Kang terkejut sekali dan Souw Teng Wi memandang dengan mata mulai liar. "Tidak, tidak, Souw-twako, puterimu salah sangka. Mana aku ada keberanian berbuat seperti itu? Aku hanya ingin tahu saja dan kalau kau keberatan menceritakan, sudahlah."
Souw Teng Wi tertawa-tawa lagi dan menowel pipi Lee Ing. "Bocah nakal, pamanmu Sim itu orang baik-baik. Ha-ha-ha... araknyapun enak...!"
"Souw-twako, arak yang kau minum tadi masih belum enak betul. Aku mempunyai simpanan secawan lagi arak yang usianya sudah seratus tahun lebih. Orang bilang siapa yang meminumnya tentu akan bertambah panjang usianya. Selama ini kusimpan saja karena aku sayang meminumnya, sekarang dalam kesempatan sebaik ini, aku ingin kau sudi menerimanya!"
"Arak baik seratus tahun usianya? Aduh, mana dia. Lekas bawa ke sini!"
Seorang di antara para pelayan datang membawa sebuah guci kecil terisi arak yang hanya ada secawan. Untuk menghilangkan kecurigaan, Sim Kang menyuruh pelayan menuang arak itu ke dalam cawan Souw Teng Wi sampai penuh. Bau yang amat harum keluar dari cawan itu dan Souw Teng Wi kelihatan girang sekali.
"Arak bagus sekali!" katanya dan ia mengulur tangan.
Akan tetapi Lee Ing menjerit dan menangkap tangannya. "Ayah, jangan sentuh arak itu!" katanya cepat. "Biar kucoba dulu!"
Sebelum Sim Kang dan Sim Hong Lui hilang kagetnya, Lee Ing menotok pelayan yang menuang arak tadi dan cepat menuangkan sisa arak dari guci kecil ke dalam mulut yang terbuka karena totokan pada leher. Begitu arak yang tinggal sedikit memasuki kerongkongan, pelayan itu berkelojotan dan mukanya berubah hitam, napasnya putus!
Sim Kang dan Sim Hong Lui kaget setengah mati, akan tetapi mereka berubah girang ketika melihat betapa Souw Teng Wi yang sudah tidak beres otaknya itu telah menyambar cawannya dan sekali tenggak saja habislah arak beracun itu ke dalam perutnya. Ternyata Souw Teng Wi tak dapat menahan seleranya, tanpa memperdulikan anaknya yang sedang merobohkan pelayan, ia mempergunakan kesempatan itu untuk menghabiskan araknya.
"Ayah...!" Lee Ing menjerit dan melompat hendak merampas cawan. Akan tetapi terlambat, cawan itu sudah kosong dan ayahnya berdiri tegak, memandangnya dengan senyum lebar. Tiba-tiba Souw Teng Wi tersedak dan tubuhnya terguling roboh, miring di atas lantai.
"Berhasil...!” Sim Hong Lui dan Sim Kang bersorak girang.
"Ayah..!!" Lee Ing memeluk tubuh ayahnya dan melihat betapa mata ayahnya dipejamkan mulutnya terbuka dan bau arak yang wangi memenuhi ruangan. Tubuh ayahnya kaku, hanya mukanya tidak menjadi hitam seperti muka pelayan tadi.
Mendengar suara ketawa ayah dan anak yang keji dan curang itu, Lee Ing meloncat berdiri, matanya berlinang air mata, mukanya pucat, sikapnya mengancam, kedua tangan terkepal keras. "Iblis-iblis keji....! Kalian ayah dan anak berhati binatang! Aku harus mengadu nyawa dengan kalian!"
Sim Hong Lui tertawa. "Manis sekali bukan, ayah? Makin manis kalau marah. Ayah boleh berbuat sesuka ayah dengan Souw Teng Wi si manusia gila, akan tetapi puterinya ini adalah bagianku! Aku bisa mati merana kalau tidak mendapatkan nona ini, ayah!"
Ayahnya hanya tersenyum saja. Lee Ing tak kuat menahan lagi dan dengan marah, ia menerjang, menyerang Sim Hong Lui dengan pukulan keras. Akan tetapi kepandaian Lee Ing masih jauh lebih rendah dari pada kepandaian Hong Lui yang lihai. Sekali tangkap ia telah berhasil mencengkeram tangan gadis itu dan segera menotok pundak Lee Ing Gadis itu menjadi lumpuh akan tetapi masih sempat menjerit,
"Ayaaaahhhh....!"
Sim Hong Lui tertawa-tawa dan memeluk serta memondong tubuh gadis itu, dibawa pergi berjalan meninggalkan ruangan itu hendak ke kamarnya. Lee Ing berteriak-teriak keras, namun tidak berdaya.
Tiba-tiba terdengar suara yang membuat Hong Lui merasa betapa seluruh bulu dan rambut di tubuh dan kepalanya berdiri satu-satu. Suara gerengan yang sudah ia kenal baik, gerengan Souw Teng Wi kalau sedang marah! Ia cepat menoleh ke belakang dan andaikata saat itu ada kilat dari angkasa menyambarnya, ia takkan begitu kaget seperti ketika melihat pemandangan di depan matanya pada saat itu.
Souw Teng Wi telah bangun kembali! Di depannya Sim Kang dengan muka pucat seperti mayat telah mencabut sepasang pian-nya. Souw Teng Wi menggereng-gereng, matanya merah, mulutnya berbuih, melangkah maju setindak demi setindak ke arah Sim Kang. Kepada bajak ini menyurut mundur selangkah demi selangkah pula.
Tiba-tiba saking ngerinya ia merenggut kantong piauw dan menghujankan senjata-senjata rahasia ini ke arah Souw Teng Wi. Akan tetapi hanya terdengar suara “tak-tok-tak-tok” dan semua piauw itu runtuk ke bawah setelah mengenai tubuh Souw Teng Wi, bagaikan mengenai menara baja saja.
"Souw-twako,... am...... ampun.... ampunkan aku...." Dapat juga suara ini keluar dari bibir yang sudah membiru ketakutan.
"Bangsat rendah, kau apakan Namilana isteriku...? Kau apakan Milanaku yang tercinta...?" Ternyata kegilaan Souw Teng Wi sudah kambuh pula dan kini semua kemarahan hatinya ia tumpahkan kepada Sim Kang!
Sim Kang menjerit dan dengan nekat ia mendahului lawan, menyerang dengan sepasang pian-nya. Akan tetapi dengan kedua tangan diangkat, Souw Teng Wi telah menangkap ujung pian dan sekali betot dua batang pian itu telah kena dirampas. Sim Kang hendak lari.
Akan tetapi Souw Teng Wi menggerakkan sebatang pian rampasan yang tepat sekali melilit leher Sim Kang. Ditariknya pian itu dengan gerakan menyentak dan... leher Sim Kang putus, kepalanya menggelinding di atas lantai dan tubuhnya roboh. Darah mengucur seperti pancuran dari lehernya yang bolong.
Sim Hong Lui menjerit ngeri, lalu... lari secepatnya ke pinggir dek. Tanpa menoleh lagi ia lalu melempar diri ke laut. Byuurrr...! Air muncrat tinggi dan tubuh pemuda itu tenggelam tidak kelihatan lagi. Pemuda ini adalah seorang ahli dalam air maka ia terus menyelam menyelamatkan diri.
Souw Teng Wi melihat pemuda itu lari dan menceburkan diri, tak dapat mencegahnya dan mengamuk. Setiap orang anak buah bajak yang dapat dipegangnya, lalu dibanting atau dilemparkan ke dalam laut. Yang lain-lain bubar dan memilih mati di laut dari pada dalam tangan orang gila yang mengganas itu. Biarpun demikian, dua puluh orang lebih tewas di tangan Souw Teng Wi, yang lain melarikan diri, ada yang mati di laut, ada pula sebagian kecil yang dapat menyelamatkan diri.
Souw Teng Wi membungkuk di atas tubuh anaknya dan sekali pencet saja Lee Ing sudah terbebas dari totokan. Gadis ini memeluk ayahnya dan menangis sesenggukan. "Diamlah, Namilana isteriku sayang, diamlah."
Souw Teng Wi membelai-belai rambut anaknya, suaranya mengandung kesayangan besar, lemah lembut, jauh sekali bedanya dengan tadi ketika mengganas. Hati Lee Ing menjadi perih.
"Ayah, aku Lee Ing anakmu....."
"Hush, diamlah, Namilana. Kelak kita mencari anak kita Lee Ing....." Bicara Souw Teng Wi menjadi tidak karuan.
"Ayah, mari kita beristirahat. Kau lelah, tidurlah..." Anak ini dengan sabar menuntun ayahnya memasuki kamar dan Souw Teng Wi seperti anak kecil yang menurut mau saja disuruh berbaring dan tidur. Tak lama kemudian iapun sudah tidur mendengkur.
Bagaimanakah Souw Teng Wi tidak mati terkena racun? Sebetulnya, orang biasa saja, bagaimana gagahpun, tentu takkan dapat menahan kalau minum racun yang berasal dari Auwyang Tek ini. Racun itu adalah Hek-coa-tok (Racun Ular Hitam) yang luar biasa jahatnya. Akan tetapi, Souw Teng Wi telah mendapatkan ilmu yang amat aneh, yang menurut pengakuannya tadi baru dipelajari seperdelapan bagian saja.
Akan tetapi yang seperdelapan bagian ini saja sudah membuat ia lihai bukan main, mendatangkan hawa sinkang yang amat hebat di dalam tubuhnya sehingga racun jahat macam Hek-coa-tok sekalipun tidak dapat merusak isi perutnya. Ia tadi pingsan karena hawa racun itu naik dan memenuhi kepalanya, akan tetapi setelah hawa racun itu keluar dari mulut dan hidung, ia siuman kembali.
Sekarang, setelah ia tertidur, arak yang bercampur racun tadi perlahan-lahan mengalir keluar dari mulutnya. Inilah kehebatan sinkang yang sudah hampir sempurna, yang dapat mencegah masuknya barang yang tak dikehendaki ke dalam perut, hanya berhenti di pencernaan dan di "retour" kembali.
Lee Ing cepat meninggalkan ayahnya, naik ke ruangan atas, la merasa ngeri juga melihat mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan yang amat menyeramkan. Akibat amukan ayahnya memang hebat sekali. Sambil menahan kegelian hatinya, ia melempar-lemparkan semua mayat itu ke dalam laut, lalu membersihkan lantai kapal dengan air yang ia timba dari pinggir dek.
Setelah ia memeriksa baik-baik, ia mendapatkan tiga orang anak buah bajak yang belum mati, juga tidak terluka. Mereka ini ternyata roboh pingsan sebelum disentuh oleh Souw Teng Wi saking takutnya. Girang hati Lee Ing. la mengguyur kepala mereka dengan air dan mereka menjatuhkan diri berlutut dan minta-minta ampun.
"Kalian akan diampuni asal kalian mulai sekarang menurut perintahku. Betulkan tiang dan layar, jalankan terus perahu ini menuju pantai daratan."
Tiga orang itu cepat melakukan perintah ini karena mendapat jaminan dari gadis itu bahwa mereka takkan diganggu asalkan menurut perintah. Perahu berlayar lagi dengan cepat menuju ke barat. Akan tetapi menjelang senja setelah setengah hari Lee Ing berpikir-pikir, ia memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk memutar kemudi, kembali ke timur. Tiga orang itu saling pandang, mengangkat pundak dan terpaksa melakukan perintah aneh ini.
Mengapa Lee Ing berlaku seaneh itu? Gadis ini berpikir bahwa ayahnya menjadi buronan. Seperti yang ia dengar dari percakapan Sim Kang dan puteranya, ayahnya dikehendaki para durna dan kalau ia membawa ayahnya mendarat, bukankah itu sama saja dengan ular mencari penggebuk?
Lebih baik sementara ini ia membawa ayahnya merantau menyusul kakeknya. Itulah sebabnya maka ia memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke timur, ke tengah samudera supaya jauh dari pantai, kemudian setelah cukup jauh, memutar kemudi ke utara.
Setiap hari ia melayani ayahnya yang masih bingung. Kadang-kadang Souw Teng Wi menganggap Lee Ing seperti Namilana isterinya, ada kalanya ia teringat dan menganggap Lee Ing seperti anaknya. Berkat rawatan yang setia dan berbakti dari Lee Ing, keadaannya menjadi banyak lebih baik.
Melihat pakaian ayahnya yang tidak karuan, Lee Ing mengambil se-stel pakaian Sim Kang dan menyuruh ayahnya bertukar pakaian. Souw Teng Wi tertawa geli, akan tetapi dipakainya juga pakaian itu. la nampak gagah, hanya mukanya masih penuh berewok.
Lee Ing mengambil pakaian ayahnya yang compang-camping itu, hendak ia cuci kemudian ia simpan untuk kenang-kenangan dan bahan cerita kelak kalau bertemu dengan kakeknya. Juga kelak kalau ayahnya sembuh benar, tentu ayahnya suka melihat pakaian compang-camping yang membawa riwayat itu.
Akan tetapi ketika gadis ini sedang mencuci pakaian kumal itu, tiba-tiba tangannya menyentuh benda di balik lipatan baju ayahnya. Ia cepat memeriksanya dan ternyata itu adalah sehelai kulit pohon yang digambari peta. Ada tulisan di gambar itu yang berbunyi :
GUA TENGKORAK TEMPAT PUSAKA RAHASIA.
Lee Ing menjadi girang sekali dan cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu membawa kulit pohon bergambar peta itu kepada ayahnya. "Ayah, aku mendapatkan ini di dalam saku bajumu sebelah dalam. Apakah artinya ini?"
Souw Teng Wi cepat menyambar benda itu, celingukan ke kanan kiri, lalu menarik napas panjang. "Apa tidak ada orang melihatnya tadi? Kalau seorang di antara pelayan itu melihat, dia harus dibunuh!"
Lee Ing kaget dan menggeleng kepala, "Tidak ada yang melihat, ayah. Mengapakah segala rahasia ini?"
Souw Teng Wi kebetulan sedang dingin otaknya. "Kalau saja yang menemukan barang ini bukan kau anakku, kau tentu sudah kubunuh. Benda ini adalah rahasiaku yang tak boleh diketahui oleh siapapun juga. Sudah belasan tahun kusimpan sampai aku sendiri lupa di mana aku menaruhnya."
Lee Ing maklum akan watak ayahnya yang aneh, maka ia bersabar dan tidak bertanya lebih lanjut. Akan tetapi ia amat memperhatikan pelajaran-pelajaran ayahnya dan benar hebat, kepandaian Lee Ing meningkat hebat sekali setelah ia mempelajari latihan Iweekang, ginkang dan ilmu pukulan yang diberikan oleh ayahnya dengan cara yang kacau-balau. Ia maklum bahwa peta itu tentu ada hubungannya dengan kepandaian ayahnya, maka ia menanti saat yang baik.
Setelah berkumpul dengan ayahnya, Lee Ing berhasil mempelajari ilmu silat tinggi yang amat aneh. Juga gadis itu dapat menduga apa yang telah menimpa diri ayahnya. Dari ocehan-ocehan Souw Teng Wi di waktu kambuh gilanya, ditambah keterangan-keterangan ayahnya ini di waktu dingin otaknya, Lee Ing dapat menduga bahwa secara aneh ayahnya yang menjadi buronan dan merantau di luar daratan Tiongkok telah mendapatkan sebuah gua yang disebut Gua Siluman.
Tentu ada rahasia hebat di dalam gua ini, di antaranya terdapat ilmu kesaktian yang baru seperdelapan bagian dipelajari ayahnya. Peta itu adalah peta yang menunjukkan di mana adanya Gua Siluman itu. Timbul keinginan besar di hati Lee Ing untuk membongkar rahasia ini, untuk mencari Gua Siluman dan melihat dengan mata sendiri.
Tentu saja sebagai seorang ahli silat yang tak pernah merasa puas dengan kepandaian sendiri, iapun ingin sekali mewarisi ilmu kesaktian yang terdapat dalam Gua Siluman. Akan tetapi, beberapa kali ia pancing-pancing, ayahnya tetap tidak mau membuka rahasia itu. Malah memperingatkan Lee Ing.
"Lee Ing, jangan sekali-kali kau bicara tentang Gua Siluman dengan orang lain. Tempat itu berbahaya sekali, dapat masuk tak dapat keluar." Dan orang tua ini kelihatan ketakutan dan ngeri.
Setelah kapal tiba di pesisir Propinsi Liao-ning, Lee Ing menyuruh tiga orang anak buah kapal untuk minggir dan mendarat. Ia sengaja mengumpulkan dan mengambil barang-barang berharga peninggalan Sim Kang untuk dibawa sebagai bekal, lalu mengajak ayahnya, mendarat di pesisir yang amat sunyi. Girang hatinya melihat tanah gunung dan pohon.
"Kalian boleh ambil kapal ini dan pergi sesuka hati kalian," kata Lee Ing kepada tiga orang itu. "Akan tetapi kalau ada yang bertanya tentang kami, awas jangan kalian ceritakan kalau kalian masih sayang nyawa!"
Tentu saja tiga orang anak buah bajak itu girang sekali mendapat kebebasan dan cepat mereka berlutut dan berjanji akan mentaati-perintah. "Nona telah memperlakukan kami dengan baik, tentu saja kami takkan membuka mulut. Nona dan Locianpwe ini adalah orang-orang gagah, mana berani kami membocorkan rahasia?" Kata seorang di antara mereka.
Tiba-tiba terdengar suara angin bersuitan, berkelebat sinar-sinar berkeredepan datang dari daratan dan tiga orang anak buah bajak itu menjerit dan roboh tersungkur! Ternyata mereka telah terserang oleh anak-anak panah dan tewas seketika itu juga!
Lee Ing kaget sekali dan cepat mencari-cari dengan matanya ke empat penjuru, akan tetapi sunyi saja. Hanya pohon-pohon dan batu-batu karang tinggi yang kelihatan, tidak ada gerak-gerik manusia di sekitar tempat itu. Padahal sudah jelas bahwa tentu pelepas anak-anak panah itu seorang ahli panah yang lihai.
Ketika ia menoleh kepada ayahnya, orang tua ini berdiri tegak tak bergerak, nampak tenang-tenang saja akan tetapi matanya tertuju kepada sebuah bukit batu karang yang berada di depan. Lee Ing juga menaruh perhatiannya ke situ dan benar saja, dari balik batu karang itu terdengar suara yang keras dan berpengaruh.
"Souw Teng Wi pemberontak hina, menyerahlah kau dan anakmu secara baik sebelum kami turun tangan membunuh kalian!"
Dari balik bukit itu muncullah seorang hwesio gemuk yang berkepala bundar berkalung tasbeh putih dan sikapnya angker sekali. Di sebelah kirinya berdiri seorang pemuda jangkung kurus yang bermuka tampan dan kejam. Itulah Tok-ong Kai Song Cinjin Si Raja Racun, tokoh besar dari Tibet yang menjadi tangan kanan para menteri durna.
Pemuda di sebelahnya itu bukan lain adalah Auwyang Tek, muridnya. Di belakang dua orang ini muncul pula sepasukan tentara yang jumlahnya ada seratus orang, di bagian depan berjajar pasukan panah yang sudah siap mementang gendewa masing-masing!
Melihat banyak musuh, hati Lee Ing menjadi gentar. "Ayah, mari kita lari...." bisiknya.
Akan tetapi dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba Souw Teng Wi berbisik dan sikapnya kelihatan waras, "Lee Ing, bawa ini dan carilah rahasia ini, letaknya di pantai Laut Kuning, di pantai batu karang seratus lie jauhnya di sebelah selatan mulut Sungai Huang-ho. Kau warisi segala isinya!"
Lee Ing tidak tahu kapan ayahnya bergerak, akan tetapi tahu-tahu ia merasa ada sesuatu dimasukkan ke dalam tangannya dan ternyata itu adalah kulit pohon bersurat itu. Cepat ia menyimpannya ke dalam saku baju dalam. "Ayah, musuh terlampau banyak...." bisik Lee Ing khawatir, tidak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya.
Tiba-tiba Souw Teng Wi tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, apa kau kira aku takut, Souw Teng Wi tak pernah mengenal takut terhadap penghianat-penghianat bangsa! Ha-ha-ha!"
"Souw Teng Wi, kau berhadapan dengan Kai Song Cinjin yang menjadi koksu (guru negara) dari Kerajaan Beng!" Terdengar pula suara yang tadi berseru dan ternyata itu adalah suara Auwyang Tek. "Lekas kau berlutut dan menyerah sebelum terlambat."
"Ayah, mari kita lari saja...." kata pula Lee Ing yang amat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Ia tahu betapa ayahnya dicari sebagai pemberontak dan kalau tertangkap tentu akan menderita bencana hebat...