Rajawali Lembah Huai Jilid 06

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 06
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 06, karya Kho Ping Hoo - CU GOAN CIANG yang masih bimbang itu mengangguk. Akan tetapi, di dalam hatinya, dia bukan minta waktu untuk mempertimbangkan penawaran kedudukan itu, melainkan minta waktu agar dia dapat menyelidiki keadaan di bandar dan mendapat jalan bagaiman sebaiknya untuk menolong nasib para pekerja kasar di sana.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Yo Ci lalu menjamu Goan Ciang dengan hidangan yang mewah, kemudian pelayan mengantarnya ke sebuah kamar yang disediakan untuk dia selama tinggal di gedung itu. “Kongcu,” kata pelayan itu, “di dalam almari itu terdapat pakaian yang sengaja disediakan oleh Yo-loya untuk kongcu pakai.”

Setelah pelayan itu pergi, Goan Ciang berdiri tertegun, mengagumi kamar yang indah itu. Bagaikan seorang anak kecil menemukan mainan baru, dia mencoba duduk di kursi yang terukir itu, mencoba rebah di dipan yang lunak, dan membuka almari melihat dengan mata terbelalak pakaian yang terbuat dari sutera halus, lengkap dan ketika dicobanya, ukurannyapun tepat dengan tubuhnya!

Mulai hari itu, Goan Ciang tinggal di rumah Yo Ci, diperlakukan sebagai seorang tamu yang terhormat. Setiap hari dia pergi meninggalkan rumah itu menuju ke bandar untuk melakukan penyelidikan. Dia merasa heran sekali melihat betapa dua puluh orang pekerja yang kemarin dibantunya, kini acuh saja melihatnya, bahkan membuang muka seolah tidak mengenalnya lagi. Mandor gendut juga tidak ada, diganti seorang mandor yang kurus dan nampak ramah.

Dalam pengamatannya, dia mendapat kenyataan bahwa semua pekerja itu bekerja dengan tertib dan rajin, dan memang tidak pernah terjadi keributan di situ karena semua pekerja takut kepada para pengawal atau tukang pukul. Dan memang keamanan terjaga, tidak ada barang yang hilang, tidak pernah terjadi pencurian. Akan tetapi, dia melihat pula bahwa dalam segala bidang diadakan uang pungutan atau semacam pajak yang besar.

Hal ini dia ketahui ketika dia mendekati para pemilik perahu. Biarpun takut-takut, para pemilik perahu inilah yang menceritakan kepada Goan Ciang bahwa setiap orang pemilik perahu harus menyerahkan sebagian dari hasil penyewaan perahunya kepada penguasa melalui anak buah Yo-loya. Bukan hanya pemilik perahu yang dikenakan pajak, juga pemilik barang. Baik barang yang masuk di bandar itu, maupun yang keluar, semua dikenakan pajak yang besar jumlahnya.

Hal ini, menurut tukang perahu, membuat pekerjaan mereka tidak lancar. Terpaksa tukang perahu menaikkan tarip sewa perahu dan para pedagang menaikkan harga dagangan mereka. Inipun secara sembunyi, karena kalau ketahuan nak buah Yo-loya, maka pajakpun akan dinaikkan sesuai dengan kenaikan sewa perahu atau harga barang dagangan!

Cu Goan Ciang melihat betapa para pedagang, tukang perahu, sampai pekerja kasar semua sudah dicengkeram oleh penguasa melalui anak buah Yo-loya, dan diperas habis-habisan! Malam itu, setelah makan malam yang mewah seorang diri karena Yo-loya sedang keluar rumah, Goan Ciang berjalan-jalan di taman bunga yang luas dan indah milik keluarga itu. Kamarnya memang berada di samping, menembus taman sehingga dia dapat dengan leluasa meninggalkan kamar untuk keluar rumah atau memasuki taman.

Malam itu terang bulan, udaranya juga hangat karena tidak ada angin dan terangnya bulan ditambah pula dengan lampu-lampu gantung beraneka warna yang berada di taman. Goan Ciang duduk di atas bangku dekan kolam ikan emas, termenung. Dia bingung memikirkan keadaan bandar. Jelas bahwa semua orang, dari pedagang sampai pekerja kasar, diperas oleh penguasa.

Para pedagang dan tukang perahu masih dapat berusaha menutup biaya pemerasan itu dengan menaikkan tarip sewa dan harga barang. Akan tetapi bagaimana dengan para pekerja? Mereka tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menerima nasib. Juga, kenaikan harga barang-barang itu akhirnya menimpa pula rakyat kecil yang membutuhkannya, karena harganya otomatis menjadi mahal.

Dia memikirkan peran yang dipegang Yo Ci. Benarkah Yo Ci membantu para pekerja kasar, membantu para pemilik perahu dan pedagang? Mengatur dan menertibkan keadaan agar mereka semua tidak diganggu oleh penguasa setempat? Ataukah Yo Ci mempergunakan hubungannya dengan para penguasa untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dari pemerasan itu? Membagi-bagi hasil pemerasan dengan penguasa?

Dia harus berhati-hati sebelum melihat buktinya. Anak buah Yo Ci memang memperlihatkan kekerasan dan kekejaman, akan tetapi sikap Yo Ci baik sekali, tidak seperti orang yang suka melakukan pemerasan. Tiba-tiba Goan Ciang dikejutkan oleh suara tawa beberapa orang wanita. Dia hendak menyelinap pergi, namun terlambat karena pada saat itu terdengar suara yang merdu,

“Aih, kiranya Cu-sicu yang berada di sini! Maafkan kalau kami mengganggu ketenanganmu, sicu!”

Cu Goan Ciang memandang dan dia mengenal wanita yang bicara itu. Isteri ke empat dari Yo Ci. Isteri ke empat ini masih muda, belum tiga puluh tahun usianya dan cantik manis. Di belakangnya berjalan lima orang gadis pelayan yang juga cantik-cantik berusia dari delapan belas sampai dua puluh tahun, dengan pakaian pelayan namun tidak menyembunyikan kecantikan wajah mereka dan kemolekkan tubuh mereka.

“Saya yang minta maaf, toanio (nyonya besar), saya telah lancang memasuki taman keluarga...”

“Aihh, sicu, mengapa begitu sungkan dan menyebutku toanio segala? Bukankah engkau menyebut suamiku paman? Nah, sepatutnya engkau menyebutku bibi, akan tetapi karena usia kita tidak berselisih banyak, lebih pantas kalau engkau menyebut aku enci. Namaku Yen Li, kausebut aku enci Yen Li, bukankah lebih mesra?”

Setelah berkata demikian, wanita cantik selir tuan rumah itu mendekatinya, dengan berani memegang tangannya dan mengajaknya duduk kembali di atas bangku panjang dekat kolam ikan. Lima orang gadis pelayan itu sambil tersenyum-senyum juga mengepungnya, ada yang menawarkan minuman ada yang menawarkan manisan atau buah-buahan, semua dengan suara merdu dan merayu.

Dikelilingi enam orang wanita cantik itu, Goan Ciang merasa seolah tenggelam ke dalam air, membuatnya gelagapan karena bau harum menyesakkan dadanya. Dia adalah seorang pemuda yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita, dan kini enam orang wanita cantik seolah saling berebut untuk menarik perhatiannya. Sentuhan jari tangan lembut, kerling tajam memikat dan senyum semanis madu seperti membuat dia tenggelam.

Akan tetapi, Cu Goan Ciang adalah seorang laki-laki yang keras hati. Dia memiliki cita-cita yang tinggi dan sebelum cita-citanya itu tercapai, dia tidak mau diganggu oleh godaan wanita, apa lagi mengingat bahwa wanita ini adalah isteri muda tuan rumah. Sungguh memalukan sekali kalau dia sebagai tamu yang dihormati dan diperlakukan baik, kini mengkhianati tuan rumah dengan menyambut uluran tangan kotor wanita itu.

“Maaf, tidak baik begini, aku mau pergi tidur!” katanya dan diapun cepat menyelinap, melepaskan diri dari kepungan enam orang wanita itu dan berlari memasuki kamarnya dan menutupkan daun pintu, menguncinya dari dalam. Terdengar langkah-langkah kaki lembut mengejarnya dan kini daun pintu kamarnya diketuk-ketuk dari luar.

“Sicu, buka pintu, biarkan aku masuk, aku ingin bercakap-cakap denganmu!” terdengar suara selir tuan rumah itu.

“Kongcu, bukalah, saya ingin melayani kongcu!” terdengar suara gadis pelayan, disusul kata-kata bujukan dari para gadis pelayan yang lain.

Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Bagaimana mungkin mereka begitu nekat? Andai kata mereka adalah wanita-wanita tak bermalu, tentu tidak begitu caranya, tidak beramai-ramai dan terang-terangan seperti itu.”

Timbul kecurigaan di hati pemuda ini. Sungguh tidak wajar sikap mereka, pikirnya, seperti diatur saja. Diatur oleh Yo Ci! Kalau tidak demikian, kiranya selir itu tidak akan senekat itu. Andai kata tertarik kepadanyapun tentu melakukan usaha hubungan secara rahasia agar tidak diketahui para isteri lain. Akan tetapi ini demikian terang-terangan, seolah selir itu dan lima orang pelayannya tidak takut ketahuan orang lain. Ini tidak wajar!

Diapun mendekati pintu dan berkata dengan nada suara tegas, “Haii, kalian yang berada di depan pintu, pergilah dan jangan menggangguku, atau aku akan pergi meninggalkan rumah ini sekarang juga dan besok aku akan melapor dan protes kepada paman Yo Ci!”

Suara di luar itu berhenti, kemudian terdengar kaki-kaki ringan melangkah pergi dan mereka bersungut-sungut. Terdengar oleh Goan Ciang cemoohan beberapa di antara mereka, “Huh, laki-laki banci!”

Semenjak malam itu, Goan Ciang tidak pernah lagi diganggu wanita. Beberapa hari kemudian, Yo Ci mengajak dia bercakap-cakap di ruangan dalam. Setelah menyuguhkan anggur dan makanan kering, Yo Ci lalu membuka percakapan.

“Bagaimana, Cu-sicu? Setelah beberapa hari tinggal di sini dan melakukan penyelidikan ke bandar, maukah engkau menerima tawaranku untuk bekerja membantuku? Aku akan memberi kekuasaan sepenuhnya kepadamu.”

“Terima kasih, paman. Memang sudah saya lakukan penyelidikan dan saya sudah mengambil keputusan.”

“Bagus!” seru Yo Ci gembira. Tadinya dia sudah marah merasa hampir putus asa karena pemuda itu demikian keras hati. Bahkan pakaian selemari penuh yang disediakannya untuk pemuda itu, tidak pernah dipakainya. Pemuda itu selalu memakai pakaian bekalnya sendiri yang sederhana. Dan lebih dari itu, usahanya menggoda dan menjatuhkan pemuda itu di bawah pengaruh kecantikan wanitapun gagal!

“Saya mau membantu paman, dengan syarat!”

“Apa syaratnya? Katakan! Berapa gaji yang kau minta? Akan kupenuhi.”

“Bukan itu, paman Yo. Syaratnya adalah agar tidak dikenakan pajak kepada para pekerja kasar itu, dan para mandor tidak perlu membawa tukang pukul, tidak perlu dilakukan kekerasan terhadap para pekerja kasar. Selain gaji mereka tidak dipotong, juga kalau mereka sakit harus diberi biaya pengobatan dan diberi bantuan untuk mereka dapat makan selama dalam sakit.”

“Tapi itu tidak mungkin!” Yo Ci mengerutkan alisnya dan pandang matanya berkilat marah. “Kita harus membayar pajak kepada para penguasa, orang-orangnya pemerintah. Tanpa memungut pajak dari para pekerja, bagaimana kita dapat membayar pajak kepada pemerintah?”

“Paman, saya sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa paman sudah menyuruh orang memungut pajak yang besar dari para pedagang pemilik barang yang dibongkar muat di bandar, dan juga dari para juragan perahu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki modal, cukup pantas kalau dikenakan pajak karena mereka memang mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, para pekerja kasar itu hanya bermodalkan tenaga badan, sungguh tidak adil kalau harus diperas dan dikenakan pajak dan tidak dijamin kalau jatuh sakit dan tidak dapat bekerja.”

Yo Ci mengerutkan alisnya semakin mendalam, matanya bersinar marah. “Cu-sicu, aturan yang kau ajukan ini dapat membuat aku bangkrut! Ajukan syarat lain untuk dirimu sendiri, kenapa engkau begitu membela para pekerja kasar itu? Tahukan engkau bahwa di antara mereka itu banyak terdapat penjahat-penjahat kecil yang kalau tidak dikendalikan akan menjadi pencuri, perampok dan pengacau yang jahat?”

“Paman, betapapun jahatnya seseorang, kalau dia sudah mau bekerja keras, hal itu menunjukkan bahwa dia berusaha untuk kembali ke jalan benar. Karena itu, perlu ditunjang agar jangan sampai mereka kembali terperosok ke dalam kejahatan. Kalau ditekan, bukan tidak mungkin mereka akan kembali menjadi pencuri.”

Sebelum tuan rumah membantah, tiba-tiba masuk seorang pengawal melaporkan akan kedatangan Bhong-Ciangkun (perwira Bhong). “Ah, persilahkan dia menunggu di ruang tamu, sebentar lagi aku akan menyambutnya,” kata Yo Ci dan setelah pengawal itu pergi. Yo Ci berkata kepada Goan Ciang, “Nah, terpaksa kita hentikan dulu percakapan kita, sicu. Yang datang adalah perwira Bhong yang berkuasa di kota ini, bahkan dia penguasa yang ditugaskan mengatur bandar. Kebetulan sekali, mari kuperkenalkan dengan dia.”

Sebetulnya Goan Ciang tidak ingin berkenalan dengan perwira pemerintah yang hendak ditentangnya, akan tetapi untuk menolak, dia merasa tidak enak kepada Yo Ci. Pula, dia ingin melihat dan mendengar apa hubungan tuan rumah ini dengan penguasa itu.

Ketika tiba di ruangan tamu dan diperkenalkan dengan tamu itu, Goan Ciang memandang penuh perhatian. Perwira itu masih muda, kurang lebih tiga puluh lima tahun usianya, tegap tampan dan gagah, dengan pakaian yang gemerlapan, pedang tergantung di pinggang, lagaknya angkuh ketika dia memandang kepada Goan Ciang dengan sikap merendahkan karena Goan Ciang hanya berpakaian sederhana. Tiga orang pengawal yang tadinya berdiri di belakang perwira itu, setelah menerima isarat, lalu keluar dari ruangan tamu.

“Paman Yo Ci, siapakah pemuda ini?” tanyanya Bhong-Ciangkun dengan sikap angkuh.

Dari lagak, bentuk wajah dan pakaiannya, Goan Ciang dapat menduga bahwa perwira ini, bukanlah pribumi, setidaknya tentu keturunan Mongol kalau bukan Mongol asli.

“Perkenalkan, Ciangkun. Ini adalah saudara Cu Goan Ciang, calon pembantu saya, pembantu utama yang dapat diandalkan. Cu-hiante, ini adalah yang terhormat Bhong-Ciangkun.”

Perwira itu hanya mengangguk, dan Goan Ciang juga tidak mengangkat kedua tangan, melainkan membalasnya dengan anggukan biasa pula. Tidak sudi dia bersikap hormat dan merendah terhadap seorang perwira Mongol!

Melihat sikap Goan Ciang, Yo Ci merasa tidak senang dan khawatir kalau perwira itu marah, maka cepat dia mempersilahkan perwira itu untuk duduk. Seorang pelayan wanita datang menyuguhkan minuman dan makanan. Melihat wanita muda itu, mata sang perwira menjadi jalang dan pelayan itu mengingatkan dia akan sesuatu, maka katanya,

“Paman, mana Nona Yo? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya sehingga merasa rindu. Bolehkah aku bertemu dan bercengkerama dengannya?”

Terkejutlah Goan Ciang. Permintaan itu sungguh tidak pantas sekali. Minta kepada tuan rumah agar dapat bertemu dan bercengkerama dengan gadis puteri tuan rumah! Akan tetapi agaknya Yo Ci sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum lebar.

“Nanti dulu, Ciangkun. Kita membicarakan urusan pekerjaan dulu, nanti Ciangkun boleh bicara sepuasnya dengannya.” Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa agaknya sang perwira memang sudah bersahabat baik dengan puteri majikan itu!

Dan teringatlah Goan Ciang akan peristiwa pada malam hari itu. Dia menduga bahwa Yo Ci sengaja menyerahkan selirnya kepadanya sebagai umpan. Orang yang berwatak seperti itu, bukan tidak mungkin kalau juga mengumpankan puterinya sendiri kepada seorang penguasa seperti Bhong-Ciangkun. Diam-diam Goan Ciang merasa jijik membayangkan betapa gadis puteri Yo Ci yang cantik jelita itu dijadikan alat untuk menyenangkan hati sang perwira.

“Ha-ha-ha, baiklah, paman. Nah, urusan apa yang begitu penting sehingga paman mengundang aku datang ke sini? Dan kenapa sobat Cu ini ikut hadir?”

“Justeru aku ingin bicara tentang saudara Cu Goan Ciang ini, Ciangkun. Dia adalah seorang pemuda yang tangguh dan lihai, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Karena itu, aku ingin mengangkat dia menjadi pembantu utama untuk mengepalai semua mandor bandar agar keamanan terjamin dan tidak ada mandor yang curang dan mengurangi penghasilan. Akan tetapi dia mengajukan syarat...”

“Nanti dulu, paman. Saudara Cu ini apakah mampu untuk memimpin semua mandor dan menjamin keamanan di sana? Dibutuhkan seorang yang benar-benar tangguh untuk pekerjaan seperti itu, paman!” Pandang mata Bhong-Ciangkun kini penuh selidik menatap wajah Goan Ciang, alisnya berkerut dan sikapnya penuh kesangsian.

Yo Ci tersenyum lebar. “Percayalah, Ciangkun. Sudah terbukti ketangkasannya, dan kalau perlu boleh diuji. Akan tetapi, dia mengajukan syarat dan syarat itulah yang ingin kubicarakan denganmu, minta pendapatmu bagaimana.”

“Hemm, apa syaratnya? Kalau gaji besar, mudah saja...”

“Justeru itulah, dia tidak menghendaki gaji besar dan lain kesenangan untuk dirinya sendiri. Syaratnya adalah agar gaji para pekerja kasar di bandar diberikan penuh, tidak dipotong pajak...”

“Apa?? Tidak mungkin! Kita makan apa kalau pajak itu dibebaskan?” seru perwira itu melotot. Ucapan ini dicatat dalam hati oleh Goan Ciang karena ucapan itu mengungkapkan bahwa pembayaran pajak atau pungutan pajak dari para pekerja kasar itu merupakan penghasilan perwira ini! Yo Ci tidak berbohong ketika mengatakan bahwa pajak itu disetorkan kepada penguasa, mungkin dibagi di antara mereka.

“Akan tetapi, Ciangkun. Para pekerja kasar itu hanya berpenghasilan lima belas keping sehari, dan pajaknya lima keping, sungguh amat berat bagi mereka. Apakah tidak dapat dihapuskan, atau setidaknya dikurangi agar jangan terlalu berat dan mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk makan?”

Perwira itu menatap wajah Goan Ciang dengan sinar mata berkilat. “Kalau engkau ingin bekerja pada paman Yo, kenapa mesti mencampuri urusan pemungutan pajak? Engkau bekerja saja dengan baik, menerima upah yang besar dan urusan pajak serahkan saja kepada kami. Engkau tinggal memerintahkan mandor untuk memotong gaji mereka, habis perkara!”

Wajah Goan Ciang mulai berubah merah. Perwira ini sungguh angkuh, sombong setengah mati, memandang rendah sekali kepadanya dan belum apa-apa sudah menganggap dia seorang bawahannya yang harus patuh kepadanya. “Ciangkun, aku ingin bekerja kepada paman Yo, bukan kepadamu! Pula, syaratku itu tidak boleh ditawar-tawar lagi. Diterima syukur, kalau tidakpun tidak apa-apa, aku tidak bekerja di bandarpun tidak mengapa!”

“Cu-hiante, kenapa sikapmu begini? Ingat, engkau berhadapan dengan Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han!” Yo Ci terpaksa menegur karena dia khawatir kalau sampai perwira itu marah.

“Paman, aku tidak perduli siapa dia. Siapapun dia, aku tidak sudi dipaksa untuk membantu orang memeras dan menindas para pekerja kasar yang miskin itu!” kata Goan Ciang yang sudah marah pula.

“Bocah sombong!” Perwira Bhong kini bangkit dari kursinya dan menudingkan telunjuknya kepada muka pemuda itu. “Berani engkau bersikap seperti ini di hadapanku? Engkau ini agaknya sekomplotan dengan para pekerja kasar itu, ya? Hendak memberontak, ya? Para pekerja kasar itu seperti segerombolan anjing, kalau tidak diperlakukan dengan keras, mereka akan banyak bertingkah! Kau hendak memimpin mereka memberontak terhadap pemerintah?”

Bukan main marahnya Cu Goan Ciang. Tanpa disadari, tangannya mencengkeram cawan arak di depannya dan cawan itu menjadi ringsek! Diapun bangkit berdiri dan menentang pandang mata perwira itu dengan mata mencorong. Melihat ini, tentu saja Yo Ci khawatir sekali kalau sang perwira akan marah kepadanya dan menyalahkan dia karena dia yang menampung Goan Ciang.

“Cu Goan Ciang, sungguh engkau mengecewakan hatiku. Engkau orang tidak berbudi. Kurang baik bagaimana kami menerimamu sebagai tamu? Akan tetapi engkau tidak dapat menghargai budi kebaikan kami, bahkan kini bersikap kurang ajar sekali terhadap Bhong-Ciangkun yang kami hormati?”

Melihat betapa Yo Ci membela perwira itu dan menegurnya, Goan Ciang tersenyum mengejek. “Majikan Yo, aku tahu bahwa selama beberapa hari ini engkau hanya ingin membujukku. Engkau bahkan tidak segan untuk menyerahkan isterimu sebagai umpan untuk merayuku! Akan tetapi, aku bukan orang sebodoh itu. Engkau baik kepadaku hanya untuk membujuk agar aku suka menghambakan diriku kepadamu. Hemm, aku tidak sudi untuk membantumu memeras para pekerja miskin dan menjadi antek perwira ini!”

“Keparat, engkau sungguh jahat!” Yo Ci berseru dan berteriak memanggil pengawal.

Sepuluh orang pengawal yang nampak bengis dan kuat membukan daun pintu dan berdiri di luar kamar itu, siap untuk turun tangan apabila diperintah. Juga tiga orang pengawal perwira itu sudah siap di ambang pintu.

“Sudahlah, aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian,” kata Goan Ciang dan diapun melangkah hendak keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan para pengawal yang berdiri menghadang di pintu.

“Tangkap dia!” teriak Yo Ci kepada para pengawalnya.

Mendengar perintah ini, ketika Goan Ciang sudah tiba di luar kamar tamu, para pengawal itu menghadang. Namun, Goan Ciang menyelinap dan meloncat, lari ke dalam kamarnya. Memang dia selalu sudah mempersiapkan buntalan pakaiannya, maka begitu memasuki kamarnya, dia menyambar dan mengikatkan buntalan pakaiannya di punggung, kemudian dia keluar dari kamarnya melalui taman. Kiranya para pengawal sudah menghadang di sana, bersama Yo Ci, Bhong-Ciangkun, dan tiga orang pengawal Bhong-Ciangkun. Tidak kurang daari dua puluh orang sudah menghadangnya.

“Pemberontak, berlutut dan menyerahlah engkau!” teriak Bhong-Ciangkun sambil menghunus pedangnya.

“Cu Goan Ciang, engkau telah bersalah terhadap pejabat pemerintah, menyerahlah!” bentak pula Yo Ci yang kini sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk mempergunakan tenaga pemuda yang keras hati itu karena sia-sia saja dia membujuk, dan kini bangkit kemarahannya mengingat bahwa pemuda ini pernah menghajar anak buahnya di bandar dan merugikannya.

“Aku tidak sudi menyerah!” bentak Cu Goan Ciang.

“Serang dia, bunuh dia!” Perwira Bhong yang sudah marah sekali itu berseru dan dia sendiri yang memandang rendah Goan Ciang sudah menggerakkan pedangnya menyerang, disusul oleh Yo Ci yang juga menyerang dengan menggunakan huncwenya.

Ternyata serangan kedua orang ini cukup hebat sehingga Goan Ciang cepat menggunakan kegesitannya untuk mengelak. Akan tetapi dia disambut serangan belasan orang pengawal yang rata-rata memiliki tenaga kuat dan ilmu silat yang lumayan tangguh.

Maklum bahwa dia berada dalam bahaya karena dikeroyok banyak lawan yang cukup tangguh dan yang bermaksud untuk membunuhnya, Cu Goan Ciang segera mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat, ilmu rahasia yang dia pelajari dari gurunya, Lauw In Hwesio ketua Siauw-lim-si.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuhnya melayang ke atas bagaikan seekor burung rajawali sehingga semua serangan lawan luput dan ketika semua pengeroyok berdongak untuk mengikuti gerakan pemuda yang melayang seperti burung itu, Goan Ciang menukik turun dan begitu dia menyambar dengan kaki tangannya, empat orang pengeroyok roboh terpelanting seperti disambar petir.

Cu Goan Ciang mengamuk dan pengeroyokan semakin ketat karena para pengeroyok marah melihat betapa pemuda itu telah merobohkan empat orang kawan mereka. Bhong-Ciangkun mengeluarkan bentakan nyaring dan dia yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara para pengawal, menerjang dengan pedangnya, mengerahkan tenaganya untuk memenggal leher Goan Ciang.

“Singgg...!!” Ketika Goan Ciang mengelak, pedang itu menyambar luput dan mengeluarkan suara berdesing. Sebelum Goan Ciang mampu membalas serangan perwira yang dibencinya itu, para pengeroyok lain sudah menyerangnya dari berbagai penjuru, bahkan huncwe emas di tangan Yo Ci ternyata lihai sekali melakukan totokan ke arah jalan darah di lehernya.

Goan Ciang kembali membentak dan melengking nyaring, tubuhnya berkelebatan gesit sekali dan ketika dia melompat ke atas lalu menyambar bagaikan seekor rajawali, kembali dua orang pengeroyok dapat dia robohkan!

Sekali ini yang roboh adalah pengawal Bhong-Ciangkun, maka perwira itu menjadi penasaran dan marah. Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan cepat ke arah tubuh Goan Ciang. Karena huncwe di tangan Yo Ci juga menyambar-nyambar dengan totokannya dan semua jalan keluar dihadang oleh sambaran senjata para pengeroyok lainnya, maka Goan Ciang agak terdesak.

“Singgg... crokk...!” Pakaian di buntalan yang terletak di punggung Goan Ciang jatuh berhamburan karena buntalan itu pecah terkena sabetan pedang di tangan Bhong-Ciangkun.

“Sekarang otakmu yang berhamburan!” Perwira yang merasa mendapat hati karena sudah berhasil mendesak lawannya dan merobek buntalan pakaian, mendesak dengan ganasnya. Goan Ciang sengaja menanti sampai pedang itu menyambar kepalanya. Dengan menarik kepala ke belakang, pedang itu menyambar lewat.

Secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pedang. Perwira itu berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas. Goan Ciang menyambar pedang itu dan sekali dia mengelebatkan senjata itu, robeklah perut Bhong-Ciangkun yang mengeluarkan suara jeritan panjang lalu roboh mandi darah!

Bukan main kaget dan marahnya Yo Ci melihat perwira itu roboh dan tewas. Dia membentak nyaring, menyuruh anak buahnya mencari bala bantuan, dan dia sendiri memimpin para pengawal untuk mengeroyok. Huncwenya menyambar-nyambar dan memang ilmu silat Yo Ci cukup tinggi, lebih tinggi dari pada semua pengawalnya.

Namun sekali ini Goan Ciang tidak memberi hati lagi. Dia menggunakan pedang rampasannya untuk mengamuk. Pedang itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dalam waktu sebentar saja, para pengeroyok itu sudah kocar-kacir dan banyak yang roboh mandi darah.

Yo Ci masih bertahan dan kini dia, dibantu sisa pengawalnya, bertanding mati-matian melawan Goan Ciang. Sebetulnya kalau dia menghendaki, Goan Ciang tentu sudah dapat merobohkan dan membunuh Yo Ci. Akan tetapi dia tidak ingin membunuh orang yang pernah menjadi tuan rumah ini, hanya ingin merobohkan tanpa membunuh. Pada saat itu, bermunculan banyak orang berpakaian seragam. Pasukan keamanan pemerintah!

Goan Ciang menjadi marah. “Yo Ci, engkau anjing penjilat penjajah!” bentaknya dan begitu pedangnya diputar, huncwe di tangan Yo Ci terpental dan sebuah tendangan yang keras mengenai dada Yo Ci, membuat dia terjengkang dan roboh pingsan! Setelah merobohkan Yo Ci, Goan Ciang lalu melompat, merobohkan tiga orang penghadang dan lari keluar dari taman, dikejar oleh banyak prajurit keamanan.

Gegerlah kota Wu-han di hari itu. Di mana-mana, para prajurit berlarian dan mencaricari, namun bayangan pemuda yang mereka cari itu lenyap. Para prajurit menggeledah semua rumah dan kesempatan melakukan “pembersihan” ini mereka pergunakan seperti biasa, demi keuntungan diri sendiri.

Ketika menggeledah rumah-rumah orang, mereka waspada terhadap barang-barang berharga yang kecil untuk disambar dan dimasukkan kantung, juga terhadap gadis-gadis atau ibu-ibu muda yang cantik untuk digoda, dicolek, bahkan ada yang sempat diperkosa! Seluruh kota menjadi geger.

Semua orang kini mendengar bahwa pemuda yang bernama Cu Goan Ciang telah membunuh Bhong-Ciangkun penguasa bandar, juga membunuh banyak prajurit pengawal di rumah Yo Ci, majikan yang mengatur bandar. Mendengar berita ini, banyak orang merasa puas dan gembira karena mereka semua rata-rata pernah diperas oleh Bhong-Ciangkun dan Yo Ci.

Akan tetapi banyak pula yang mengeluh karena gara-gara pemuda itu, mereka menderita rugi, ada barang yang dirampas para prajurit yang melakukan penggeledahan, ada pula perempuan yang diganggu. Bahkan para pekerja kasar di bandar berdebar-debar penuh kekhawatiran karena mereka takut kalau-kalau para pembesar menyalahkan mereka, mengingat betapa pemuda yang mengamuk itu pada mulanya membela mereka di bandar.

Ke mana perginya Cu Goan Ciang? Dia tidak mempunyai seorangpun kenalan di kota Wuhan yang ramai itu, dan kiranya akan sukar baginya untuk bersembunyi di dalam kota karena puluhan orang prajurit melakukan penggeledahan, bahkan semua pintu gerbang kota Wu-han dijaga ketat dan setiap orang yang keluar dari pintu gerbang diperiksa dan diamati.

Ketika Goan Ciang melarikan diri, menyelinap ke sana-sini, di antara rumah-rumah, ke sana bertemu penjaga dan ke sinipun bertemu prajurit sampai dia terengah-engah kebingungan karena pengejaran semakin rapat, tiba-tiba dia melihat serombongan orang mengiringkan sebuah joli yang dipanggul oleh empat orang. Rombongan itu terdiri dari enam orang wanita dan enam orang pria, yang berjalan di belakang joli yang tertutup tirai merah.

Goan Ciang mendapat akal. Cepat dia lari ke rombongan itu dan menyusup ke tengah-tengah di antara enam orang pria dan enam orang wanita. Dua belas orang itu memandang dan nampak marah, akan tetapi dari dalam joli terdengara suara lembut seorang wanita. “Sipa kau dan mau apa?”

“Aku mohon bantuan kalian untuk dibolehkan bersembunyi dalam rombongan ini, aku dikejar-kejar pasukan keamanan!”

“Kenapa?”

Tidak ada gunanya berbohong. Untung-untungan, pikirnya. Kalau orang ini seperti Yo Ci, menjadi antek pemerintah, tentu dia akan dikeroyok, akan tetapi kalau sebaliknya, mungkin dia akan dibantu. “Aku telah membunuh seorang perwira.”

Dua belas orang itu mengeluarkan seruan tertahan dan suara dalam joli berkata. “Ah, kiranya engkau yang menggegerkan kota itu? Nah, engkau bersembunyilah ke sini, di dalam joli. Turunkan joli!” perintahnya kepada para penggotongnya.

Empat orang penggotong dan dua belas orang pengikut itu menjadi terheran-heran ketika nona mereka membuka tirai merah joli itu dan memberi isarat kepada Goan Ciang untuk memasuki joli! Joli itu kecil saja, kalau ditumpangi dua orang tentu akan berhimpitan! Akan tetapi karena yang menyuruhnya adalah pemilik joli, dan dia tidak melihat tempat lain yang lebih baik untuk bersembunyi, diapun masuk ke dalam joli.

“Hayo, jalan kembali, tenang dan biasa saja, jangan panik,” kata wanita itu kepada para penggotong dan para pengikutnya. Joli digotong lagi dan perjalanan dilanjutkan.

Cu Goan Ciang juga terkejut dan mukanya terasa panas, tentu berwarna merah sekali ketika dia melihat bahwa yang menyuruh dia masuk ke joli yang kini duduk di sebelahnya, bahkan duduk berhimpitan karena joli itu terlalu kecil untuk mereka berdua, adalah seorang gadis yang cantik manis berusia kurang lebih delapan belas tahun!

Gadis itu berwajah bulat telur, sepasang matanya lebar dan jeli, senyumnya wajar dan pakaiannya dari sutera halus namun riasan mukanya sederhana saja. Biarpun demikian, kesederhanaan itu justeru membuat kecantikannya semakin menonjol. Keharuman yang lembut membuai Goan Ciang, dan dia dapat merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh gadis itu yang duduk berhimpitan dengan dia, beradu sisi pinggul dan paha.

Selama hidupnya, belum pernah dia berdekatan dan akrab dengan wanita dan sekali ini, dia duduk berhimpitan seperti itu. Tentu saja jantungnya berdebar aneh dan dia seperti seekor tikus di sudut yang dihadapi kucing. Tidak berani bergerak, bahkan kalau mungkin dia akan menghentikan pernapasannya.

Rombongan itu menuju ke pintu gerbang timur. Di tengah perjalanan, seregu prajurit menghentikan rombongan itu. “Berhenti!” terdengar bentakan perwira regu itu. “Kami bertugas menyelidiki setiap orang yang lewat di sini.”

Tentu saja Cu Goan Ciang merasa tegang. Celaka, pikirnya, pasti dia akan ditangkap. Yang membuat dia menyesal adalah bahwa gadis dalam joli yang berusaha menolongnya ini akan terbawa-bawa. Maka, diapun membuat gerakan hendak meloncat keluar, akan tetapi tiba-tiba telapak tangan yang lunak dan hangat memegang pergelangan tangannya.

Ketika dia menoleh ke kiri, hampir saja hidungnya menyentuh pipi gadis itu saking dekatnya mereka berhimpitan. Gadis itu menggeleng kepala perlahan sambil tersenyum. Senyum itu! Pandang mata itu! Goan Ciang menunduk, akan tetapi biarpun dia tidak jadi meloncat keluar, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, siap melawan kalau sampai ketahuan dan akan ditangkap.

“Ciangkun, kami mengantar nona untuk ke luar kota,” seorang di antara pengawal rombongan joli itu memberi keterangan kepada kepala regu prajurit.

“Kami harus memeriksa dengan ketat, karena ada seorang buruan melarikan diri!” jawab perwira itu yang agaknya mengenal rombongan.

Gadis itu menguak tirai di sudut depannya dan menjenguk keluar. Ia tersenyum manis kepada perwira itu dan suaranya terdengar halus, namun bernada teguran, “Ciangkun yang gagah, apakah Ciangkun sudah mulai tidak percaya dan mencurigai kami dari Jang-kiang-pang?”

Melihat nona itu, si perwira cepat memberi hormat, “Aih, kiranya Kim Siocia (Nona Kim) sendiri yang berada dalam joli. Harap maafkan kami karena kami bertugas untuk mencari seorang pelarian!”

Gadis itu hanya kelihatan kepalanya terjulur keluar dari tirai joli, mengangguk-angguk. “Aku sudah mendengara akan keributan itu. Bukankah yang kau cari itu orang yang telah membunuh Bhong-Ciangkun? Betapa beraninya orang itu! Akan tetapi kenapa engkau menghentikan rombongan kami, Ciangkun? Apa kau kira pembunuh itu berada di dalam joliku yang kecil ini?”

“Aku tidak sebodoh itu, siocia! Akan tetapi, kami hanya ingin melihat, siapa tahu pembunuh itu menyusup di antara para pengiring siocia.”

“Hemm, kalau begitu periksalah semua anak buahku. Kalau atasanmu mendengar bahwa engkau mencurigai kami, tentu dia akan merasa tidak senang, dan ketua kami akan marah dan penasaran, lalu melapor kepada atasanmu.”

Wajah perwira itu berubah. Dia sudah melihat bahwa di antara enam orang pengawal pria dan empat orang laki-laki pemanggul joli, tidak terdapat pembunuh yang dicarinya. “Maafkan kami, Kim Siocia. Kami hanya melaksanakan tugas dan sama sekali tidak bermaksud mencurigai nona. Nah, silahkan rombongan nona melanjutkan perjalanan.”

Dengan sikap seperti orang marah gadis itu menutupkan tirai joli dan membentak rombongannya untuk melanjutkan perjalanan. Joli dipanggul lagi dan rombongan itu melanjutkan perjalanan.

“Terima kasih,” Goan Ciang berbisik. Dia hanya cukup menoleh saja untuk mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu.

“Belum waktunya berterima kasih, kita masih belum keluar dari kota,” gadis itu berbisik kembali.

Benar saja. Di pintu gerbang, kembali rombongan itu dihentikan oleh para penjaga. Akan tetapi, gadis itu dapat pula mengatasi dengan sikapnya yang galak dan menantang akan melaporkan kepada panglima sehingga kepala penjaga menjadi takut dan membiarkan rombongan itu lewat, apa lagi karena mereka tidak melihat adanya pelarian itu di antara para pengiringnya.

Gadis itu agaknya dikenal semua prajurit keamanan dan hal ini tidaklah mengherankan. Perkumpulang Jang-kiang-pang (Perkumpulang Sungai Panjang) merupakan perkumpulan yang amat terkenal. Para pemimpinnya memiliki hubungan dekat dengan para pejabat tinggi di Wu-han. Dan gadis cantik itu merupakan orang ke dua dari pimpinan perkumpulan itu karena ia adalah adik seperguruan sang ketua.

Setelah rombongan itu berhasil keluar dari pintu gerbang dengan selamat, bahkan sudah jauh dari kota Wu-han, di dekat sebuah bukit, gadis itu menyuruh rombongannya berhenti. Joli diturunkan dan Cu Goan Ciang keluar dari dalam joli, diikuti gadis itu. Kini mereka berdiri berhadapan dan baru dapat saling pandang dengan jelas, tidak seperti di dalam joli tadi walaupun saling berhimpitan, mereka merasa sungkan untuk saling bertatap muka karena terlalu dekat.

Setelah kini keduanya turun dan berdiri berhadapan, barulah Goan Ciang melihat kenyataan betapa cantik manisnya gadis itu, terutama matanya yang jeli dan memancarkan kecerdikan. Tubuhnya ramping padat dan agak tinggi bagi seorang wanita. Di lain pihak, gadis itupun baru sekarang dapat melihat dengan jelas betapa gagah dan anggunnya pemuda yang ditolongnya itu.

Seorang pemuda yang masih muda, baru dua puluh tahun usianya, namun pembawaannya sudah masak dan dewasa, dengan tubuh tinggi tegap, tegak dan anggun berwibawa, bagaikan seekor burung rajawali yang gagah perkasa. Beberapa lamanya mereka berdiri saling berpandangan tanpa mengeluarkan kata-kata. Hanya pandang mata mereka saja saling mengagumi.

Akhirnya Goan Ciang merasa betapa janggalnya sikap mereka, saling pandang seperti itu tanpa bicara. Dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada gadis itu. “Aku Cu Goan Ciang telah berhutang budi dan nyawa kepadamu, nona. Aku tidak akan melupakan budi kebaikan nona dan amat berterima kasih kepadamu. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nama nona dan apakah nona seorang pemimpin dari sebuah perkumpulan besar maka begitu dihormati oleh para prajurit penjaga keamanan?”

Melihat sikap Goan Ciang yang sopan, bicaranya yang lantang dan tegas, gadis itu tersenyum. Iapun mengangkat kedua tangan depan dada untuk membalas penghormatan itu. “Cu-enghiong tidak perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya kalau kita saling membantu, apa lagi mengingat bahwa engkau seorang gagah yang berani menentang seorang perwira yang bertindak sewenang-wenang.

"Kami sudah mendengar akan semua sepak terjangmu yang membela kepentingan para pekerja kasar di bandar. Engkau membela para pekerja kasar yang diperlakukan tidak adil oleh Yo Ci, bahkan engkau telah membunuh Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han. Kami kagum kepadamu dan sudah selayaknya kalau kami membantumu ketika engkau dikejar-kejar.”

“Nona terlalu memuji. Akan tetapi, engkau belum memperkenalkan diri, nona.”

“Namaku Kim Lee Siang, membantu suci yang bernama Liu Bi dan dijuluki Jang-kiang Sianli (Dewi Sungai Panjang) memimpin perkumpulan kami Jang-kiang-pang. Markas kami berada di lembah sungai Yang-ce.”

“Ah, kiranya nona Kim adalah seorang pemimpin perkumpulan besar. Pantas saja para prajurit itu menghormatimu. Nah, harap nona suka menyampaikan terima kasihku kepada ketua Jang-kiang-pang atas pertolongan yang diberikan kepadaku hari ini. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat membalas budi itu. Sekarang, aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Engkau hendak pergi ke manakah, Cu-enghiong?”

“Ke mana saja nasib membawa diriku, nona. Yang jelas, aku tidak mungkin dapat tinggal di Wu-han lagi.”

“Cu-enghiong, ketahuilah bahwa markas besar pasukan di Wu-han amat kuat dan mempunyai banyak orang pandai. Mereka tentu tidak akan berhenti sebelum dapat menemukanmu dan mereka pasti akan mengirim pasukan untuk melakukan pengejaran. Ke kota manapun engkau pergi, tentu akan dikejar-kejar. Oleh karena itu, kalau engkau suka, sebaiknya engkau bersembunyi dulu di tempat kami. Nanti setelah keadaan mereda dan tidak begitu hangat lagi, pencarian terhadap dirimu mengendur, barulah engkau dapat melanjutkan perjalananmu.”

“Ah, aku hanya akan merepotkanmu saja, nona Kim.”

“Sama sekali tidak! Suci dan aku akan merasa girang menerimamu sebagai tamu kami. Kami menghargai orang-orang gagah, apa lagi engkau sudah membuktikan bahwa engkau membela para pekerja kasar di bandar. Tentu suci akan menghargaimu pula. Dan engkau akan lepas dari ancaman bahaya pengejaran.”

Goan Ciang mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa gadis ini bicara benar. Kalau dia melarikan diri, tentu ke manapun dia pergi, dia akan selalu terancam bahaya karena dia seorang pelarian yang akan dikejar oleh pasukan keamanan. Memang sebaiknya kalau dia mendapatkan tempat bersembunyi yang aman selama beberapa waktu.

Dia dapat melihat bagaimana perkembangannya. Kalau sekiranya dia tidak terlalu merepotkan orang, sebaiknya dia bersembunyi di perkumpulan itu. Andai kata perkembangannya tidak enak, sewaktu-waktu dia dapat pergi meninggalkan tempat itu.

“Baiklah, nona Kim. Dan kembali terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi, dari sini biarlah aku berjalan kaki saja,” katanya dan dia melihat betapa gadis itu nampak tersipu, tentu teringat betapa tadi mereka duduk berhimpitan, seperti sepasang pengantin saja.

Kim Lee Siang mengangguk dan iapun memasuki jolinya, kemudian memerintahkan para pemikul joli dan pengiringnya untuk bergerak cepat. Ketika para pemikul joli dan dua belas orang pengiring itu mulai berlari, diam-diam Goan Ciang kagum. Ternyata bahwa mereka semua, juga empat orang pemikul joli, bukan orang-orang sembarangan. Diapun mengikuti dari belakang dan betapa cepatnya pun mereka berlari, Goan Ciang dapat mengikuti mereka.

Rombongan baru berhenti berlari ketika mereka tiba di depan pintu gerbang sebuah perkampungan yang dikurung pagar tembok, di tepi sungai yang tinggi, merupakan tebing sungai. Di situlah markas Jang-kiang-pang. Karena letaknya di tebing sungai, maka tempat itu tidak pernah terancam banjir kalau musim hujan tiba dan air sungai meluap. Juga daerah perbukitan itu memiliki tanah yang subur. Tidak nampak dusun lain di daerah itu. Agaknya Jang-kiang-pang telah menguasai daerah itu sehingga tidak ada orang lain yang berani menempati daerah itu.

Setelah tiba di pintu gerbang, joli diturunkan dan Kim Lee Siang keluar dari dalam joli. Empat orang pemikul joli dan dua belas orang pengiringnya agak terengah dan mereka semua menghapus keringat dari muka dan leher. Akan tetapi ketika Lee Siang mengerling kepada Goan Ciang, ia melihat pemuda itu sama sekali tidak terengah dan tidak berkeringat, maka diam-diam ia yang tadi sengaja hendak menguji pemuda itu, merasa kagum dan tersenyum manis.

“Mari, Cu-enghiong, kita menghadap ketua kami. Kuperkenalkan kepada suciku,” katanya dan Cu Goan Ciang mengangguk, lalu mengikuti gadis itu memasuki perkampungan yang menjadi pusat perkumpulan itu. Setiap orang anggota perkumpulan, laki-laki dan wanita, yang bertemu dengan Lee Siang, memberi hormat dengan sikap ramah, akan tetapi mereka semua memandang kepada Goan Ciang dengan sinar mata curiga.

Gedung yang berada di tengah perkampungan itu, berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang berada di situ, selain besar juga megah. Ketika Cu Goan Ciang mendaki tangga di samping Lee Siang dan tiba di ruanga luar, dia sudah melihat adanya perabot rumah yang serba mewah, pot-pot kembang yang indah, meja kursi yang terukir, tembok yang dicat bersih dan dihias lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah. Dua orang wanita yang berpakaian ringkas, agaknya merupakan pengawal rumah itu, segera menyambut mereka dan kedua orang gadis manis itu memberi hormat kepada Lee Siang.

“Di mana pangcu (ketua)?” tanya Lee Siang kepada mereka.

Sambil mengerling ke arah Goan Ciang dengan pandang mata heran, seorang di antara dua pengawal itu menjawab, “Siocia, pangcu sejak pagi tadi pergi ke hutan bambu kuning dan pangcu memesan agar siocia cepat menyusul ke sana.”

Lee Siang terbelalak, nampak kaget sekali. “Apakah sudah datang tantangan dari mereka?”

“Agaknya demikianlah, siocia. Pangcu tidak menceritakan kepada kami hanya memesan agar kami melakukan penjagaan ketat di sini, dan pangcu pergi bersama Ngo-liong Cimoi (kakak beradik lima naga).”

“Ah, kalau begitu aku harus cepat menyusulnya. Mari, Cu-enghiong, mari kita pergi, mungkin aku membutuhkan bantuanmu. Nanti dalam perjalanan kuceritakan!” kata Lee Siang dan iapun berlari keluar dari situ.

Cu Goan Ciang hanya mengikuti saja, dan setelah tiba di luar pintu gerbang, Lee Siang berlari cepat sekali. Goan Ciang kagum dan diapun mempercepat larinya, menuju ke barat, menyusuri sungai Yang-ce yang lebar.

“Perlahan dulu, nona. Aku perlu mengetahui duduknya perkara sebelum dapat membantumu,” kata Goan Ciang dan Lee Siang menghentikan larinya, akan tetapi masih berjalan terus, didampingi oleh Goan Ciang. Sambil berjalan, gadis itu bercerita.

“Tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar, Cu-enghiong. Di Bukit Kijang, tak jauh dari sini, tinggal seorang tokoh kang-ouw she Kwa yang mengetuai perguruan silat Yangce Bu-koan. Beberapa bulan yang lalu, ketua Kwa meminang suci, akan tetapi ditolak keras oleh suci sehingga mereka tersinggung dan selalu mengambil sikap bermusuhan dengan kami.

"Dan pernah ketua Kwa mengancam akan menantang suci untuk mengadu ilmu karena penolakan suci dianggapnya suatu penghinaan. Nah, kukira sekarang ini suci menyambut tantangannya. Kabarnya ketua Kwa itu lihai seklai, maka aku mengkhawatirkan keselamatan suci. Kuharap engkau suka membantu kami kalau diperlukan....”

Jilid selanjutnya,