Rajawali Lembah Huai Jilid 04, karya Kho Ping Hoo - KETIKA Kui Hwa menghadap ayahnya, dia melihat ayahnya sedang mengadakan pertemuan dengan Ban Su Ti, kepala para tukang pukul ayahnya dan lima orang anak buahnya. Ban Su Ti adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh pendek dan berperut gendut, nampak kokoh kuat, dan dialah orang kepercayaan hartawan Ji yang mengepalai kurang lebih dua puluh orang tukang pukul.

Melihat wajah mereka yang nampak tegang, Kui Hwa menduga bahwa mereka tentu sedang membicarakan peristiwa yang terjadi pada Lurah Koa itu, dan mungkin juga karena laporan dua orang tukang pukul ayahnya yang tadi dihajar oleh dua orang pemuda asing itu. “Ayah, apakah ayah sudah mendengar tentang Lurah Koa...”
“Kami sedang membicarakan urusan itu. Kebetulan engkau datang, Kui Hwa. Duduk di sini, aku ingin mendengar pendapatmu pula. Juga ingin bertanya kepadamu tentang peristiwa yang terjadi di tanah kuburan tadi.”
Kui Hwa duduk di dekat ayahnya dan cemberut. “Dua orang pembantu ayah tadi keterlaluan. Kakek Coa tidak bekerja di sawah hari ini karena dia berkabung di makam isterinya. Dua orang itu hendak memaksanya bekerja bahkan lalu memukulinya. Ini sudah keterlaluan, ayah! Andai kata tidak ada dua orang pemuda asing itu muncul, aku sendiri kalau melihatnya tentu akan menghajar orang-orang kita sendiri.”
“Kui Hwa! Omongan apa yang kau keluarkan itu? Kakek Coa dihajar karena dia memang membandel dan sudah sepantasnya dia bekerja di sawah! Dia telah menerima banyak pertolongan dariku. Bahkan ketika isterinya meninggal, siapa yang memberinya uang sehingga dia dapat mengubur mayat isterinya dan membayar semua keperluan sembahyang? Aku! Ketika terjadi musim kering, siapa yang memberi pinjaman kepadanya untuk makan setiap hari dan untuk membeli benih padi? Aku! Tidakkah sudah sepatutnya kalau dia kini bekerja untukku? Dia membandel, membangkang, sudah sepantasnya kalau dia dihajar!”
“Ayah, aku tahu semua itu. Aku tahu pula kakek Coa telah membayar dan melunasi semua hutangnya kepadamu berikut bunganya yang berlipat kali lebih besar dari pada jumlah pinjaman. Sawah ladangnya telah dibayarkan kepadamu, semuanya telah habis berpindah tangan kepadamu. Ayah, sudah sepatutnya kalau sebagai seorang hartawan ayah menolong penghuni dusun yang miskin, kenapa ayah ingin memperbesar kekayaan dengan jalan memeras rakyat?”
“Apa kau bilang? Memeras rakyat? Kau tahu, yang kaumakan sejak engkau lahir, pakaiannmu itu, perhiasan, semua isi rumah ini, semua itu adalah hasil usahaku! Itu yang kaukatakan hasil pemerasan?”
Kui Hwa menarik napas panjang. Percuma saja mengingatkan ayahnya yang selalu merasa benar sendiri. “Sudahlah. Ayah. Sekarang muncul dua orang pendekar muda itu di dusun kita. Mereka telah menguasai Lurah Koa, mengusir semua tukang pukulnya. Nah, apa yang harus ayah lakukan? Aku yakin bahwa mereka berdua pasti akan menentang semua sikap anak buah ayah yang kadang terlalu keras terhadap penghuni dusun.”
“Justeru kami sedang membicarakan urusan itu. Kui Hwa, kiranya tidak percuma saja aku mengeluarkan banyak sekali uang untuk mengundang guru-guru silat dari kota yang jauh dan mendidikmu. Engkau harus menggunakan kepandaiannmu untuk membantu ayahmu.”
“Bantuan apa yang dapat kuberikan, ayah? Apa yang ayah rencanakan?” tanya Kui Hwa.
“Dengar, Kui Hwa. Peristiwa yang terjadi pada Lurah Koa itu justeru amat baik dan menguntungkan kita. Kitalah yang terkuat di dusun ini sekarang, setelah Lurah Koa tidak mempunyai anak buah lagi.”
“Tapi, ayah di sana ada dua orang pemuda itu...”“Ji-siocia (nona Ji), urusan dua orang bocah itu, saya yang akan membereskan kalau mereka berani banyak ulah di dusun ini,” kata Ban Su Ti si gendut dengan sikap sombong.
Kui Hwa memandang dengan alis berkerut dan mata marah. “Huh, siapa percaya bualanmu? Dua orang suhengku (kakak seperguruanku), yaitu kakak beradik Koa saja tidak mampu menandingi mereka. Apa lagi engkau! Melawan akupun engkau tak mampu menang!” bentaknya.
“Tidak salah, siocia, kalau saya maju sendiri. Akan tetapi kalau anak buah saya lima puluh orang, pasti kita akan dapat menghancurkan dua orang itu!” bantah Ban Su Ti.
“Lima puluh orang? Anak buahmu hanya dua puluh orang, dan aku sangsi apakah kalian dapat mengalahkan mereka. Ingat, dua puluh lima orang anak buah Lurah Koa juga tidak mampu mengalahkan mereka. Sudahlah, aku tidak percaya bualanmu. Ayah, bagaimana rencana ayah? Kalau rencana itu baik, tentu aku akan membantumu.”
“Begini, Kui Hwa. Kesempatan baik ini tidak dapat kulewatkan begitu saja. Kita harus memperkuat diri dan memperbesar kekuasaan sehingga kelak, akulah yang menggantikan Lurah Koa menjadi orang yang paling berkuasa di sini.”
“Ayah...!!”
“Dengar dulu! Ban Su Ti akan segera menghubungi Bong Kit dan kawan-kawannya yang telah diusir oleh Lurah Koa. Kita tarik mereka sehingga mereka akan memperkuat pasukan pengawal kita. Kemudian, kita tundukkan dua orang pengawal baru dari Lurah Koa itu dan dengan kekuasaan kita, mudah saja menggulingkan Lurah Koa yang kita anggap tidak mampu lagi, dan aku menggantikan kedudukannya sebagai lurah di sini.”
“Ayah, untuk apa harus begitu? Apakah ayah ingin aku membantu ayah sehingga aku harus bermusuhan dengan kedua orang suhengku sendiri?”
“Tidak bermusuhan, anakku. Kita bahkan membantu Lurah Koa untuk menyingkirkan dua orang pemuda yang menekannya! Nah, setelah dua orang pemuda itu berhasil ditundukkan atau diusir pergi, semua penghuni akan melihat betapa lemah dan tidak mampunya Lurah Koa menjadi penguasa di sini, dan akulah yang lebih pantas. Aku yang akan menggantikannyaa menjadi orang yang paling berkuasa dan paling kaya di dusun ini. Lurah Koa akan menjadi pembantuku, dan seorang di antara kedua puteranya, kalau memang kau suka, dapat saja menjadi mantuku.”
“Ihh, ayah!” Kui Hwa mengerutkan alisnya dan kedua pipinya menjadi merah. “Aku hanya melihat mereka sebagai kakak seperguruan karena kebetulan saja Lurah Koa dan yang mendatangkan seorang guru dari selatan untuk mengajar kami. Kalau ayah hendak mengandalkan puluhan orang mengeroyok dua orang pemuda itu, aku tidak dapat membantumu, ayah. Suhu pernah memesan agar aku yang sudah mempelajari ilmu silat darinya, bersikap gagah dan tidak melakukan kecurangan. Mengeroyok dua orang dengan lima puluh anak buah? Huh, memalukan!”
Selagi hartawan Ji hendak membantah dan memarahi puterinya, tiba-tiba masuk seorang anak buah dan segera memberi hormat kepada hartawan Ji, lalu berkata, “Saya mohon maaf kalau mengganggu, akan tetapi saya hendak menyampaikan berita yang penting.”
“Cepat bicara!” hartawan Ji berkata.
“Seorang di antara kedua pemuda yang berada di rumah Lurah Koa, dia bernama Cu Goan Ciang dan dia dahulu adalah anak dari dusun ini, dikenal dengan nama panggilan Siauw Cu, bekas penggembala hewan milik Lurah Koa.”
“Ahhh!” hartawan Ji berseru dengan kaget dan heran, “Sekarang aku ingat. Siauw Cu, anak yang kematian ayah ibunya, kemudian karena ditolong Lurah Koa lalu menjadi kacung yang bekerja di sana!”
“Siapakah itu Siauw Cu, ayah?” Kui Hwa tertarik mendengar bahwa seorang di antara dua pemuda yang lihai itu adalah anak yang berasal dari dusun ini.
“Dia dahulu, beberapa tahun yang lalu, adalah pemuda yatim piatu dari dusun ini. Miskin dan tak berkeluarga. Dia bekerja pada Lurah Koa, akan tetapi pada suatu hari, dia berkelahi dengan kedua orang putera Lurah Koa dan melarikan diri, dikejar-kejar anak buah Lurah Koa karena dia memukuli dua orang anak lurah itu sampai pingsan. Namun, pengejaran itu tidak ada hasilnya. Dan sekarang, dia muncul lagi dan mengacau di rumah keluarga Koa. Nah, kau lihat, Kui Hwa. Dia anak yang jahat sekali.
"Ketika kecil ditolong Lurah Koa, bahkan penguburan jenazah orang tuanya dibiayai oleh Lurah Koa, kemudian dia diambil sebagai kacung, diberi pekerjaan sehingga dapat makan kenyang dan pakaian utuh. Akan tetapi apa balasannya? Dia berkelahi dengan kakak beradik Koa, memukuli mereka sampai pingsan lalu minggat. Sekarang, setelah dewasa, datang lagi dan membikin kacau keluarga Koa yang pernah menolongnya!”
Terbakar juga hati Kui Hwa mendengar ini. Pemuda itu, seorang di antara dua pemuda itu, sungguh tidak mengenal budi. “Yang manakah dia yang bernama Cu Goan Ciang atau Siauw Cu itu? Yang brewokan atau yang tinggi?” Ia memandang kepada pelapor tadi.
“Yang tinggi tegap, nona.”
“Hemm, suatu waktu aku sendiri akan menghajarnya!” kata Kui Hwa.
“Kau bantu saja kami, Kui Hwa. Kelak kita serbu dan tangkap mereka, dan engkau boleh menghajarnya sampai mati!”
“Tidak, ayah! Aku tidak mau menggunakan banyak orang melakukan pengeroyokan. Aku tidak mau bertindak curang!” Setelah berkata demikian, dengan bersungut gadis itu meninggalkan ayahnya. Setelah semua tukang pukul berikut keluarga mereka pergi meninggalkan dusun Cang-cin.
Cu Goan Ciang dan sutenya mengajak Lurah Koa dan kedua orang puteranya masuk dan bercakap-cakap di ruangan dalam. Setelah mereka berlima duduk mengelilingi meja besar dan air teh, Goan Ciang memandang kepada ayah dan dua orang anak itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia bertanya.
“Nah, sekarang Koa-cungcu (Lurah Koa) dan ji-wi kong-cu (kedua tuan muda), pandanglah aku baik-baik dan coba ingat, apakah kalian bertiga tidak lagi mengenal aku?”
Ayah dan kedua orang anaknya itu terkejut dan terheran mendengar ucapan Cu Goan Ciang yang mengubah sikapnya itu. Namun, mereka tetap tidak dapat mengingat siapa pemuda ini sesungguhnya, sementara itu, Shu Ta hanya tersenyum dan minum tehnya, hanya menjadi penonton saja.
Goan Ciang memandang kepada kakak beradik Koa yang kini telah menjadi dua orang pemuda yang gagah itu. “Koa Hok dan Koa Sek, lupakah kalian ketika kalian mengeroyok aku di luar dusun dahulu itu, ketika aku sedang menggembala ternak milik ayah kalian?”
Dua orang pemuda itu mengamati wajah Goan Ciang, kemudian mereka saling pandang dan kejutan pada pandang mata mereka menandakan bahwa mereka mulai dapat mengingat dan mengenal siapa pemuda tinggi tegap yang duduk di depan mereka itu.
“Kau... Siauw... Siauw Cu...?” kata mereka hampir berbareng.
Goan Ciang mengangguk sambil tersenyum, dan Lurah Koa yang tadinya tidak percaya mendengar seruan dua orang puteranya, kini baru tahu bahwa memang benar pemuda ini adalah Siauw Cu.
“Siauw Cu...! Kau... kau berani...” akan tetapi dia menghentikan kemarahannya ketika bertemu pandang dengan mata Goan Ciang.
“Lurah Koa, sepatutnya aku harus menghukum engkau dan dua orang puteramu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah pula berbuat baik kepadaku dan kepada orang-orang di sini, maka aku mengambil keputusan untuk memaafkanmu asal kalian dapat mengubah cara hidup yang sesat ini. Engkau sebagai lurah dusun ini terlalu mabok akan kekuasaan dan kesenangan sendiri, tidak perduli akan kesengsaraan rakyat penghuni dusun.
"Mereka sudah diperas dengan pinjaman berbunga oleh hartawan Ji, dirampas sawah ladang mereka sebagai pembayaran hutang, akan tetapi bukan saja engkau tidak perduli, bahkan engkau membebani mereka dengan pajak paksaan yang besar, demi memperbesar kekayaanmu. Engkau dan hartawan Ji berdua telah memeras dan menghisap darah penghuni dusun, seperti dua ekor lintah gemuk, seperti dua ekor serigala buas.”
“Tapi... tapi... Siauw Cu. Bukankah aku yang menolongmu ketika ibumu meninggal dunia, memberimu peti mati dan memberimu pekerjaan dan...”
“Engkau memberi peti mati hanya karena ingin kubalas dengan tenagaku yang bekerja menggembala ternakmu. Mengapa tidak kau tolong ketika keluarga ayahku dilanda kebinasaan karena kelaparan? Engkau sebagai kepala dusun tidak bertanggung jawab! Dan tahukah engkau kenapa kedua orang puteramu ini menggeletak pingsan di luar dusun itu?”
“Kata mereka... karena kau pukuli...”
“Bagus! Mereka sejak kecil belajar silat dan aku tidak boleh dekat, bagaimana mungkin aku berani memukuli mereka? Ketahuilah, karena aku lebih cepat dapat menguasai ilmu silat, mereka membenciku dan ketika aku menggembala, mereka menghadangku dan merekalah yang memukuli aku. Aku melawan dan mereka roboh pingsan. Dan engkau mengirim tukang-tukang pukulmu untuk mencari aku, dan andai kata aku dapat ditemukan dan ditangkap, tentu engkau akan menyuruh tukang-tukang pukulmu untuk menyiksa dan membunuhku.”
“Ah, tidak... Siauw Cu...”
“Sudahlah, akupun tahu akan segala yang kau lakukan melalui tukang-tukang pukulmu. Akan tetapi aku bukan datang untuk membalas dendam. Aku hanya ingin agar semua penindasan terhadap penghuni dusun ini dihentikan!”
“Siauw Cu, maafkan kami,” kata pula Koa Hok, diikuti oleh adiknya, Koa Sek.
“Bagus, kalian minta maaf, berarti kalian menyadari akan kesalahan kalian. Kalian, adalah pemuda-pemuda, jangan mengikuti jejak ayahmu yang kotor, bahkan kewajiban kalian untuk mengingatkan ayah kalian. Sekarang, semua tukang pukul sudah kita usir. Selanjutnya, semua sawah ladang yang pernah kau sita, harus dikembalikan kepada pemiliknya semula. Dan mengenai pajak, memang sudah semestinya penghuni dusun yang berpenghasilan, dikenakan pajak untuk membangun dusun, akan tetapi jangan sekali-kali menekan dan sewenang-wenang. Kalau semua ini tidak segera dilaksanakan sekarang juga, kami berduapun tidak dapat bersikap lunak.”
“Baiklah... akan kulaksanakan kehendakmu, Siauw Cu,” kata Lurah Koa.
“Lurah Koa, aku bukan anak kecil Siauw Cu lagi, namaku Cu Goan Ciang. Tidak enak dipanggil Siauw Cu seolah aku masih seorang kanak-kanak. Nah, aku percaya bahwa engkau akan bertindak jujur dan benar-benar hendak bertaubat. Oleh karena itu, pelaksanaan pengembalian tanah sawah kepada para pemiliknya semula, kuserahkan kepada kakak beradik Koa!”
“Suheng, mereka ini sudah terbiasa bertindak curang, bagaimana kalau pelaksanaan itu tidak berjalan dengan seadilnya dan mereka menipu para petani?” tiba-tiba Shu Ta berkata.
“Tidak, sute. Mereka adalah dua orang pemuda yang tentu saja akan berani mengubah sikap dan tindakan masa lalu yang keliru, dan memulai dengan kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan mereka. Pemuda-pemuda yang sudah mempelajari ilmu silat yang cukup baik, sudah sepatutnya menjadi orang-orang gagah perkasa berwatak pendekar, tidak pantas menjadi penjahat yang curang dan kejam!” kata Cu Goan Ciang sambil memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Shu Ta.
Diam-diam Shu Ta kagum kepada suhengnya. Suhengnya ini, ternyata pandai bersiasat untuk membangunkan semangat orang, untuk memberi harapan kepada orang agar dapat hidup lebih baik dan bermanfaat!
Perhitungan Goan Ciang memang tepat sekali dengan penyerahan tugas itu kepada dua orang pemuda Koa itu. Dua orang pemuda itu, yang tadinya dengan munculnya Siauw Cu merasa amat terpukul dan terbanting, merasa tidak berarti, kini mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka, merasa diri penting. Bahkan merekalah yang menghapus keraguan ayah mereka yang tidak rela mengembalikan sawah ladang kepada penghuni dusun.
Mereka berdua segera membuat daftar, dan membuat pengumuman, memanggil para penghuni dusun yang bersangkutan dan mengembalikan hak milik atas sawah ladang yang dahulu disita oleh kepala dusun dari mereka sebagai pembayar hutang dan pajak.
Gegerlah seluruh dusun! Dan mereka tahu bahwa semua ini berkat pembelaan Siauw Cu. Mereka bersyukur sekali dan memuji-muji Siauw Cu sebagai dewa penolong. Akan tetapi masih banyak di antara mereka yang masih merasa sengsara karena tertimbun hutang mereka kepada hartawan Ji yang kini bahkan memaksa mereka membayar hutang dengan tenaga mereka sebagai buruh tani tanpa bayar, hanya sekedar diberi makan!
Juga mereka yang dahulu terpaksa membayar hutang mereka berikut bunganya kepada hartawan Ji dengan menyerahkan sawah ladang, kini masih belum mendapatkan kembali tanah mereka seperti para penghuni yang menerima kembali tanah mereka dari Lurah Koa.
“Hidup Cu-taihiap (pendekar Cu)!” terdengar seruan orang-orang di dusun itu. Kehidupan di hari itu seperti dalam suasana pesta, kecuali mereka yang masih tertindas oleh kekuasaan Ji wan-gwe.
Dengan hati gembira Goan Ciang dan Shu Ta menyaksikan pengembalian tanah yang diatur oleh kedua orang kakak beradik Koa, sedangkan Lurah Koa yang tidak berdaya ternyata jatuh sakit! Dia tinggal di kamarnya saja, namun dia sudah benar-benar menyerah, bahkan diam-diam dia menyesali semua sikap dan prilakunya selama ini.
Dia terlalu gila kekuasaan, terlalu mabok kemewahan dan juga dengan kekuasaannya dia mengumbar kesenangannya akan wanita cantik, melakukan pemaksaan dan merampas anak isteri orang! Diam-diam diapun merasa terhibur dan timbul harapannya melihat sikap dua orang puteranya yang memenuhi permintaan Goan Ciang dengan rela dan sepenuh hati. Mudah-mudahan mereka tidak seperti aku, pikirnya, agar kelak tidak harus memetik buahnya yang pahit seperti aku.
Ketika Goan Ciang dan Shu Ta sedang menyaksikan pengembalian tanah yang dilakukan dua orang kakak beradik Koa, tiba-tiba datang beberapa orang dusun berlari-larian menghampiri Cu Goan Ciang. Wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, nampaknya mereka ketakutan sekali.
“Cu-taihiap... celaka... sungguh celaka...” teriak mereka setelah tiba dekat.
Cu Goan Ciang dengan sikap tenang bertanya, “Harap paman sekalian tenang. Apakah yang terjadi maka paman kelihatan begitu ketakutan?”
Shu Ta juga ingin tahu, demikian pula Koa Hok dan Koa Sek. Seorang di antara orang-orang yang datang berlarian itu, mewakili teman-temannya dan berkata, “Hartawan Ji... dia... dia mendatangkan lagi semua jagoan bekas anak buah Lurah Koa yang telah diusir keluar dusun. Berbondong-bondong mereka datang dengan lagak sombong, di sepanjang jalan menendangi penghuni yang menonton di sepanjang jalan dan kini mereka semua memasuki perumahan hartawan Ji.”
Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya dan Shu Ta menggeleng-geleng kepalanya, “Suheng, jelas ini sebuah tantangan. Agaknya kita harus membersihkan penyakit kedua di dusun ini, hartawan Ji!”
Cu Goan Ciang mengangguk, “Agaknya demikian, sute. Akan tetapi kita harus mendidik penduduk agar dapat membela diri terhadap penindasan penjahat. Koa Hok dan Koa Sek, kalian dengar laporan mereka tadi?”
Dua orang kakak beradik Koa itu mengangguk.
“Kalau kalian sudah mendengar, lalu apa yang akan kalian lakukan?” tanya pula Goan Ciang.
Kakak beradik itu saling pandang, tertegun lalu memandang kembali kepada Goan Ciang. “Apa yang dapat kami lakukan?” Koa Hok balas bertanya. “Kami tidak dapat berbuat apa-apa.”
“Hemm, jawaban macam apa itu?” Kalian adalah putera-putera lurah di dusun ini yang berkewajiban untuk mengatur dan menenteramkan dusun ini! Juga kalian adalah dua orang pemuda yang sudah susah-payah mempelajari ilmu silat dan telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk membuat kalian menjadi orang-orang gagah. Dan kini, melihat di dusun ini terancam penindasan hartawan Ji yang mengumpulkan banyak penjahat sebagai anak buah, kalian mengatakan tidak dapat berbuat apa-apa? Kalian harus bangkit dan menghadapi ancaman bahaya bagi dusun itu, kalian harus menentangnya dan menghalau para penjahat dari dusun ini!”
“Maksudmu... kami harus melawan paman Ji?”
Ketika Goan Ciang mengangguk, Koa Sek yang berseru kaget. “Tapi itu tidak mungkin. Paman Ji adalah sahabat baik ayah dan kedua, mungkin dia akan menjadi ayah mertua seorang di antara kami, ke tiga, puterinya itupun adalah sumoi (adik seperguruan) kami! Dan ke empat, kami hanya berdua, bagaimanan mungkin menentang anak buah paman Ji yang banyak apa lagi sekarang ditambah dengan bekas anak buah ayah?”
Cu Goan Ciang memandang tajam kepada kakak beradik itu, dan sementara itu, di situ sudah berkumpul banyak sekali penduduk dusun yang ketakutan mendengar berita bahwa semua tukang pukul Lurah Koa kini telah dipanggil oleh hartawan Ji. Kemudian Cu Goan Ciang berkata dengan suara lantang dan pandang mata tajam.
”Koa Hok dan Koa Sek, dengar baik-baik, kujawab satu demi satu alasanmu tadi. Pertama, kini hartawan Ji bukan lagi sahabat ayah kalian yang telah sadar, bukan lagi sekutu hartawan Ji dalam memeras penghuni dusun. Ke dua dan ke tiga, seorang gagah selalu bertugas untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan, meluruskan yang bengkok dan membela yang lurus tidak perduli calon mertua, tidak perduli sumoi sendiri, kalau tidak benar haruslah dihadapi sebagai lawan.
"Yang dimusuhi bukanlah orangnya melainkan perbuatannya. Membela yang melakukan kejahatan, sama saja dengan kita sendiri membantu kejahatan itu. Alangkah akan baiknya kalau kalian dapat menyadarkan hartawan Ji seperti halnya ayah kalian. Kemudian ke empat, untuk membela kebenaran dan keadilan, kenapa kalian harus takut menghadapi puluhan orang anak buah hartawan Ji? Tengoklah, bukankah semua saudara kita di dusun ini akan siap membantu kalian?”
Cu Goan Ciang lalu menghadapi para penghuni dusun yang berkumpul di situ, melihat dan mendengarkan, “Saudara-saudara sekalian, kalau kakak beradik Koa bangkit melawan anak buah hartawan Ji, apakah kalian berani membantu mereka demi keselamatan dusun kita dari penindasan?”
Serentak semua orang berteriak-teriak, “Berani! Berani!”
Cu Goan Ciang tersenyum. “Nah, mereka berani. Apakah kalian tidak berani, Koa Hok dan Koa Sek?”
Kakak beradik itu saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. “Tentu saja kami berani!”
Shu Ta bertepuk tangan. “Bagus! Mari kita hajar mereka!”
Ketika semua penduduk menyambut ajakan Shu Ta itu dengan sorak-sorai, Cu Goan Ciang mengangkat kedua tangan ke atas minta perhatian dan semua orang berdiam diri, memperhatikan.
“Saudara sekalian! Mulai sekarang, kalian sebagai warga dusun haruslah taat kepada Lurah Koa yang telah menyadari kekeliruannya di masa lampau. Dia diwakili oleh dua orang puteranya yang gagah. Ingat, ketaatan kalian adalah demi menjaga keamanan dusun kita sendiri. Kalau kalian, di bawah pimpinan dua saudara Koa, bersatu padu, kiranya tidak mungkin ada gerombolan penjahat berani mengusik dusun kita, tidak ada yang berani melakukan penindasan kepada kalian.
"Akan tetapi ingat, kalian menghadapi perampok, haruslah bersikap benar dan menentang kejahatan. Jangan lalu kalian membalas dengan jalan merampok pula sehingga tidak tahu lagi kita bedanya antara kalian dan para perampok. Dan ingat pula, bukan maksudku mengajak kalian menjadi pembunuh kejam. Kita hajar mereka, agar mereka bertaubat. Kita hajar kekuasaan sewenang-wenang dari hartawan Ji, bukan hendak mencelakai dia dan keluarganya. Mengerti?”
“Mengerti!” teriak para penghuni dusun. Kalau mereka mendapatkan kembali tanah mereka, tidak lagi ditindas dan dapat hidup aman dan tenteram di dusun mereka sendiri, hal itu sudah cukup, lebih dari pada baik. Tentu saja mereka tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk membalas dengan jalan merampok dan membunuh. Mereka bukan orang-orang jahat.
“Saudara sekalian, sekarang harap kalian mempersenjatai diri, bukan dengan senjata tajam, melainkan alat-alat pemukul saja dari kayu, atau tongkat, apa saja yang dapat kita pakai untuk melawan, akan tetapi bukan untuk membunuh!” terdengar Koa Hok berteriak lantang, membuat Goan Ciang dan Shu Ta saling pandang dan tersenyum girang. Para penghuni itu bersorak dan segera mereka berlari ke sana-sini untuk mencari alat pemukul.
“Bagus, dengan semangat kalian, aku yang kalian akan menang,” kata Goan Ciang kepada kakak beradik itu.
“Terima kasih, Goan Ciang. Akan tetapi kami membutuhkan bantuan engkau dan sutemu,” kata Koa Sek.
Tiba-tiba suasana menjadi tegang ketika nampak berkelebat sesosok bayangan dan di situ telah berdiri seorang gadis yang bukan lain adalah Ji Kui Hwa! Gadis ini berdiri tegak dengan wajah marah, sepasang matanya bersinar dan mulut yang manis itu kini cemberut.
”Sumoi...!!” Koa Hok dan Koa Sek berseru hampir berbareng. Dalam suara mereka saja sudah diketahui bahwa kakak beradik ini sayang kepada sumoi mereka.
“Hok-suheng dan Sek-suheng, aku datang bukan untuk berurusan dengan kalian, melainkan dengan orang yang bernama Siauw Cu! Yang mana dia?” Ucapan itu terdengar ketus dan mata yang indah tajam itu mengamati Goan Ciang dan Shu Ta.
Goan Ciang melangkah maju menghadapi gadis itu. “Akulah yang dipanggil Siauw Cu, nona.”
Sepasang mata itu berkilat dan mulut yang indah bentuknya itu tersenyum mengejek. “Bagus jadi engkau yang bernama Siauw Cu, si sombong! Engkau dahulu adalah seorang anak dusun ini, akan tetapi setelah minggat, kini engkau kembali ke sini, mengandalkan kepandaian untuk mengacau! Jangan dikira bahwa semua orang takut padamu. Aku Ji Kui Hwa tidak takut!”
“Sumoi... tunggu dulu...!” seru Koa Sek sambil mendekati sumoinya. Akan tetapi, kibasan tangan gadis itu membuat dia terpaksa mundur.
“Sek-suheng, jangan mencampuri urusanku dengan si sombong ini! Aku bahkan merasa heran mengapa engkau akrab dengan pengkhianat ini!”
“Nona, apa sebabnya engkau mengatakan aku sombong, pengacau dan bahkan pengkhianat?” Goan Ciang bertanya penasaran.
Kui Hwa berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak pinggang sehingga seolah ia hendak mengukur pinggangnya yang ramping itu dengan jari kedua tangannya.
“Hemm, engkau masih bertanya? Engkau telah ditolong oleh Lurah Koa, sehingga selain jenazah ibumu dapat dikubur selayaknya, juga engkau diberi pekerjaan menggembala ternak. Engkau diberi makan dan pakaian secukupnya. Akan tetapi apa yang kaulakukan sebagai balas budi? Engkau memukuli kedua suhengku ini sampai pingsan, lalu engkau melarikan diri, minggat tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Setelah bertahun menghilang, kini engkau kembali dan engkau membalas budi paman Lurah Koa dengan menghinanya, bahkan membubarkan pasukannya dan membuat kekacauan di dusun ini!”
“Sumoi, nanti dulu!” kini Koa Hok yang berteriak dan di meloncat ke depan gadis itu, menghalangi gadis itu menentang Goan Ciang. “Engkau mendapatkan keterangan yang keliru! Memang Goan Ciang memukuli kami berdua sampai pingsan, akan tetapi itu kesalahan kami berdua. Kami merasa iri karena kalah pandai darinya, maka kami sengaja menghadangnya dan kami yang memukulinya untuk melampiaskan penasaran dan iri. Dia hanya melawan untuk membela diri, dan setelah kami roboh, dia melarikan diri, takut akan pembalasan ayah.”
Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi Kui Hwa masih penasaran. “Kalau begitu, dia kini datang untuk membalas dendam kepada kalian dan ayah kalian?”
“Tidak, sumoi!” kini Koa Sek yang bicara. “Goan Ciang datang untuk menyadarkan ayah dan kami dari kekeliruan. Mungkin engkau sudah mendengar. Kami mengembalikan semua tanah penduduk yang pernah dirampas ayah. Kami ingin menjadi pemimpin dan sahabat penduduk dusun kita, bukan menjadi musuh mereka. Goan Ciang benar dan kami berterima kasih kepadanya!”
Kui Hwa merasa kecelik, akan tetapi ia memang galak dan keras hati, tidak mau sudah begitu saja. “Jadi kalian mengangkat dia sebagai pimpinan?”
“Dia memang patut menjadi pemimpin kita, sumoi. Dia lihai, bijaksana dan adil, mengingatkan kami akan pesan suhu bahwa kita harus membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas...”
“Huh, aku tidak mau percaya begitu saja sebelum merasakan sendiri kelihaiannya.”
“Sumoi!” Kakak beradik itu berseru kaget.
“Cu Goan Ciang, majulah dan cabut senjatamu!” bentak Kui Hwa sambil mencabut pedangnya.
“Sumoi, jangan...!” kembali kakak beradik itu berteriak.
Shu Ta menegur mereka. “Sudahlah, saudara Koa berdua, tidak perlu mencegahnya. Nona ini benar. Sebelum berkenalan dengan orangnya, memang lebih baik kalau lebih dahulu berkenalan dengan ketangguhannya!”
Setelah dua orang kakak beradik itu mundur Goan Ciang melangkah maju, lebih mendekati gadis itu. “Baiklah, nona. Kalau nona ingin menguji kepandaian, majulah. Nona boleh menggunakan pedangmu, dan aku akan menghadapimu dengan dua tangan kosong saja.”
“Sombong, aku bisa membunuhmu!”
“Apa boleh buat, kalau aku kalah dan terbunuh olehmu, takkan ada yang menyesal, silahkan!”
“Sumoi, kau takkan menang!” teriak kakak beradik Koa itu.
Mendengar ini, kemarahan Kui Hwa bagaikan api disiram minyak. “Bagus, Cu Goan Ciang, kaulihat pedangku dan jaga serangan ini!” pedangnya berkelebat dan gadis itu sudah menyerang dengan tusukan ke arah dada Goan Ciang.
Kalau Goan Ciang berani menghadapi gadis itu dengan tangan kosong, hal ini bukan karena dia sombong, melainkan karena dia sudah tahu atau dapat memperhitungkan sampai di mana tingkat kepandaian sumoi dari kakak beradik Koa yang sudah dia ketahui kepandaian mereka itu.
Tusukan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Goan Ciang dan sampai sepuluh jurus serangan, dia selalu mengelak, membuat Kui Hwa menjadi semakin penasaran. Pada jurus berikutnya, ketika pedang itu menyambar. Goan Ciang memapaki dengan gerakan kedua tangan. Tangan kiri dengan berani menyambut bacokan pedang itu, dan jari-jari tangannya mencengkeram pedang, lalu jari tangan kanannya bergerak menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang.
Kui Hwa mengeluh dan tangan kanannya seperti lumpuh. Di lain saat, pedangnya telah dirampas Goan Ciang. Akan tetapi, dasar dara ini seorang yang bandel dan tidak mau mudah mengalah, biar pedangnya sudah dirampas, ia masih belum mau menerima kalah. Ia berteriak dan maju sambil mengirim serangan dengan pukulan-pukulan.
Goan Ciang hanya mundur sambil menangkis dan ketika tangan kanan Kui Hwa memukulnya dengan jari terbuka, memukul dengan dorongan telapak tangan, dia memapaki dengan telapak tangan kirinya.
“Dukkk!!” Tubuh gadis itu terjengkang roboh kalau saja Koa Hok tidak cepat menyambutnya dari belakang dan mencegah gadis itu terbanting.
Wajah Kui Hwa menjadi merah sekali. “Sumoi, kami berduapun tidak mampu menandinginya, apa lagi engkau seorang diri,” kata Koa Hok dan kini Kui Hwa yakin bahwa ilmu kepandaian Cu Goan Ciang memang jauh lebih tinggi dari pada ilmunya, bahkan mungkin lebih tinggi dari tingkat gurunya.
Pada saat itu, para penghuni dusun sudah berkumpul membawa kayu-kayu pemukul dan jumlah mereka tidak kurang dari dua ratus orang. Agaknya seluruh penghuni dusun sudah berkumpul sekarang, siap berperang! Melihat ini, Kui Hwa terkejut bukan main.
“Mau apa mereka itu? Suheng, apa yang hendak kalian lakukan?”
“Sumoi, penduduk dusun terancam, tidak tahukah engkau bahwa ayahmu telah memanggil kembali dua puluh lima orang bekas anak buah ayah kembali ke dalam dusun ini dan agaknya menjadi anak buah ayahmu?” kata Koa Hok.
Gadis itu bersungut. “Itulah yang membuat hatiku jengkel! Karena peristiwa di sini, ayah menjadi marah dan dia mengumpulkan kekuatan, mengundang para jagoan yang diusir dari sini. Bahkan aku sendiri tidak mampu mencegah, dan ketika aku memperingatkan ayah, dia malah marah kepadaku, membuat aku jengkel dan aku mencari biang keladinya di sini!”
“Ah, engkau salah sangka, sumoi. Cu Goan Ciang adalah seorang pendekar yang hendak membersihkan dusun ini dari gangguan dan berusaha agar kehidupan penghuni dusun menjadi tenteram dan makmur. Kau ingat, sumoi, dia melakukan segala hal sesuai dengan nasihat guru kita dahulu,” kata Koa Hok.
“Tapi, apa yang hendak kalian lakukan dengan para penduduk yang membawa alat pemukul itu?”
“Kami hendak menyerbu ke tempat ayahmu, sumoi,” kata Koa Sek.
“Apa?? Kalian hendak menyerang ayah? Kalian hendal menghancurkan ayah, dan membiarkan orang-orang ini untuk merampok harta benda ayah dan membunuh ayah sekeluarga?” Wajah gadis itu berubah pucat, lalu menjadi merah sekali.
“Jangan salah sangka, sumoi. Lihat, ketika Cu Goan Ciang datang bersama sutenya, diapun tidak mengganggu ayah sekeluarga, hanya ingin menyadarkan kami. Yang dia usir hanyalah para tukang pukul ayah karena merekalah yang mengganas di dusun ini. Sekarangpun, kami hendak menyerbu ke sana bukan untuk memusuhi ayahmu, melainkan untuk menghajar para tukang pukul ayahmu dan bekas tukang pukul ayah kami yang bergabung ke sana. Terhadap ayahmu, kami hanya ingin mengajak agar dia menyadari kesalahannya selama ini dan dapat bekerja sama dengan kami untuk memakmurkan dusun kita.”
“Benar, sumoi,” kata Koa Sek menyambung ucapan kakaknya. “Kita laksanakan semua nasihat guru kita dahulu. Kita tegakkan kebenaran dan keadilan, kita bela yang lemah tertindas dan menentang yang lalim dan yang menindas orang lain seperti ayah kami dan ayahmu. Kita harus menebus semua kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita.”
Kui Hwa mengangguk-angguk. “Tapi... kalian berjanji tidak akan menyerang ayahku dan keluargaku?”
“Kami berjanji!”
“Baik, kalau begitu, aku akan membantu kalian!”
Ucapan Kui Hwa itu disambut sorak-sorai para penduduk yang menjadi gembira bukan main. Gadis itu memang mereka kenal sebagai seorang gadis yang wataknya baik, jauh berbeda dengan ayahnya, bahkan sering membela mereka dari penindasan ayahnya sendiri. Ketika tadi melihat gadis itu bertanding melawan Cu Goan Ciang, mereka merasa prihatin.
Kini, mendengar betapa gadis itu berpihak kepada mereka untuk mengusir semua tukang pukul dari tempat tinggal ayahnya sendiri, tentu saja mereka semua merasa gembira bukan main dan berbesar hati. Juga memandang muka gadis itu, merekapun tidak ingin mencelakai orang tua gadis itu, dan semua kebencian mereka tumpahkan kepada para tukang pukul.
“Goan Ciang, apakah sekarang kita boleh berangkat?” tanya Koa Hok, Goan Ciang mengangguk, gembira melihat betapa Koa Hok dan Koa Sek, kini dibantu Kui Hwa, siap memimpin para penghuni dusun.
“Saudara sekalian,” teriaknya, “mari kita berangkat ke rumah hartawan Ji. Akan tetapi sekali lagi ingat, kita tidak bermaksud membunuh, hanya mengusir para tukang pukul dari dusun ini untuk selamanya. Jangan mengganggu keluarga Ji, jangan pula mengambil barang seperti perampok. Aku sendiri yang akan menghukum siapa yang berani melanggar!”
Berangkatlah mereka berbondong-bondong menuju ke rumah keluarga Ji. Tentu saja berita ini sudah sampai kepada hartawan Ji yang segera mengerahkan semua anak buahnya yang kini berjumlah lebih dari lima puluh orang. “Hantam mereka! Hajar dan keroyok mereka, orang-orang tak tahu diri itu!”
Teriak sang hartawan dengan penuh semangat. Anak buahnya juga dengan penuh semangat menyerbu keluar dari rumah itu, dengan senjata di tangan dan penuh semangat, penuh dendam. Kini mereka berbesar hati, merasa bahwa jumlah mereka banyak sehingga mereka percaya bahwa Cu Goan Ciang dan adik seperguruannya takkan mampu menandingi pengeroyokan banyak orang...