Rajawali Lembah Huai Jilid 02

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Rajawali Lembah Huai Jilid 02
Sonny Ogawa

Rajawali Lembah Huai Jilid 02, karya Kho Ping Hoo - PERNAH ada dua orang calon pendeta yang ingin merampas pengaruhnya, dan di luar kuil, hanya disaksikan para calon pendeta, Siauw Cu bertanding dikeroyok dua oleh mereka berdua dan akhirnya dua orang calon pendeta yang sudah setahun berlatih silat itu dapat dia robohkan, dan sejak saat itu, tidak ada lagi calon pendeta yang berani menentangnya. Dia disegani dan disuka karena dia tidak bersikap jagoan, melainkan bersikap sebagai pemimpin.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Pada suatu sore, setelah menyelesaikan tugas pekerjaannya yang paling berat di antara para rekannya, Siauw Cu memberanikan diri menghadap ketua kuil, yaitu Lauw In Hwesio. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio yang sedang duduk bersila dan membaca kitab itu.

“Eh, Siauw Cu, ada keperluan apakah engkau menghadap pinceng?” tanya Lauw In Hwesio dengan lembut.

“Maafkan teecu yang berani menghadap tanpa dipanggil, twa-suhu. Teecu hanya mohon penjelasan mengapa sampai sekarang teecu belum juga diberi pelajaran ilmu silat. Teecu ingin sekali berlatih silat, suhu.”

Mendengar ini, hwesio itu tertawa. “Omitohud, satu di antara penghalang bagi orang yang ingin menguasai ilmu dengan sebaiknya adalah ketidak-sabaran, Siauw Cu. Apakah engkau sudah tidak sabar lagi?”

“Sama sekali tidak demikian, twa-suhu. Bukankah selama dua tahun ini teecu melaksanakan segala perintah dan tugas dengan sebaiknya tanpa mengeluh dan tanpa bertanya-tanya? Kalau sore ini teecu terpaksa bertanya bukan karena teecu tidak sabar lagi, melainkan karena teecu ingin tahu dan ingin memperoleh kepastian apakah teecu di sini akan mempelajari ilmu silat ataukah tidak.”

“Apa yang mendorongmu bertanya demikian?”

“Karena teecu melihat betapa para saudara lain yang sebaya dengan teecu, yang teecu lihat tidak berbakat dan lemah, malah sudah mulai diajar berlatih silat.”

Lauw In Hwesio mengangguk-angguk. “Baik, dengarkanlah. Siauw Cu karena engkau berhak mengetahui. Jangan dikira bahwa selama ini pinceng tidak memperhatikanmu. Justeru engkau yang kurang perhatian sehingga tidak melihat perkembangan pada dirimu. Engkau harus menyadari bahwa keadaan dirimu sekarang dibandingkan dua tahun lalu sudah seperti langit dengan bumi. Kiranya tidak ada penggemblengan ilmu silat di dunia ini yang dapat membuat dirimu seperti sekarang ini selama dua tahun. Engkau sejak datang ke sini telah digembleng dengan inti dan dasar dari semua ilmu silat!”

“Ehhh? Apa yang twa-suhu maksudkan? Teecu tidak mengerti...”

“Siauw Cu, di sini memang ada dua cara mengajarkan ilmu silat, dan ada dua macam murid yang mempelajari ilmu silat. Yang pertama adalah calon para hwesio dan hwesio yang memang berbakat untuk menjadi pendeta. Kepada mereka ini diajarkan ilmu silat yang khas untuk menjaga kesehatan mereka sebagai olah raga, agar jasmani mereka segar dan sehat, sesuai dengan rohani mereka yang digembleng melalui ajaran kerohanian. Kepada mereka ini, ilmu silat yang diajarkan hanya gerakan-gerakan yang bermanfaat bagi kesehatan mereka saja karena sebagai pendeta, mereka tidak diperbolehkan untuk menggunakan kekerasan.

"Adapun yang ke dua adalah para murid yang bukan calon pendeta. Kepada mereka ini diajarkan ilmu silat melalui penggemblengan jasmaniah, sejak dari awal dan dari dasar. Karena itu pertama kali, sebelum mengajarkan ilmu silat, tubuh si murid harus digembleng sehingga tubuh itu menjadi kuat, seolah-olah kulitnya menjadi tembaga, ototnya menjadi kawat baja dan tulang-tulangnya menjadi besi. Murid seperti ini diharapkan kelak menjadi pendekar yang mempertahankan kebenaran, membela yang lemah tertindas, dan menentang yang kuat jahat. Mengertikah engkau?”

Kalau tadinya pemuda berusia empat belas tahun itu murung dan penasaran, begitu mendengar keterangan ini, wajahnya berubah cerah dan matanya bersinar-sinar. “Suhu yang mulia, kalau begitu, teecu bukan seorang calon hwesio?”

Lauw In Hwesio menggeleng kepalanya dan tersenyum. “Engkau tidak berbakat menjadi pendeta, Siauw Cu. Engkau lebih berbakat menjadi pendekar atau pemimpin rakyat yang menentang penindasan karena itulah, sejak semula engkau digembleng dengan pekerjaan berat yang hasilnya akan membuat tubuhmu menjadi kuat.”

“Terima kasih, suhu! Mulai saat ini, teecu akan melakukan pekerjaan apa saja yang diberikan kepada teecu dengan senang hati!”

Dan memang kenyataannya demikian. Kalau tadinya, pekerjaan berat itu dilakukan oleh Siauw Cu walaupun secara baik namun dengan hati yang gundah dan kecewa, kini dia melakukan pekerjaan itu dengan semangat yang meluap dan dengan wajah cerah gembira.

Kemajuannyapun pesat sekali sehingga akhirnya, mulailah dia dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Lauw In Hwesio sendiri. Ketua kuil yang sakti ini maklum bahwa Siauw Cu memiliki bakat besar dan tulang yang baik sekali, maka dia sendiri yang menangani penggemblengan terhadap Siauw Cu. Seperti juga cara menggembleng tubuhnya agar kuat, ilmu silat yang diajarkanpun akan terasa amat berat bagi orang yang tidak memiliki semangat membaja dan tekad yang kokoh kuat.

Baru pelajaran bhesi (kuda-kuda) saja amat melelahkan kalau tidak dapat dibilang menjemukan. Kuda-kuda itu harus kokoh kuat dan selalu diuji oleh Lauw In Hwesio. Kalau dalam keadaan memasang kuda-kuda itu, tubuh Siauw Cu didorong dari arah manapun secara tiba-tiba kedua kakiknya masih melangkah, satu di antara telapak kakinya masih meninggalkan tanah, maka kuda-kuda itu dianggap masih belum kuat dan dia harus berlatih terus.

Latihannya, kadang Siauw Cu harus selalu dalam keadaan memasang kuda-kuda yang kokoh kalau dia memasak air, mengipasi api sampai air itu mendidih. Ada kalanya dia diharuskan dalam keadaan memasang kuda-kuda kalau dia membelahi kayu membuat kayu bakar yang dapat berlangsung sampai berjam-jam!

Pada mulanya, setelah latihan seberat itu, berjongkokpun dia tidak mampu karena urat-urat di kakinya seperti telah berubah menjadi kawat yang kaku dan keras! Namun, akhirnya dia dapat menguasai kuda-kuda yang kokoh kuat sehingga kalau tiba-tiba dia didorong dari manapun, kedua kakinya itu hanya bergeser tanpa ada yang terangkat dari tanah.

Penggemblengan seperti itu dilakukan oleh Lauw In Hwesio selama bertahun-tahun sampai pemuda itu berusia dua puluh tahun. Biarpun di kuil itu terdapat pula beberapa orang murid bukan calon hwesio, namun tak seorangpun mampu menandingi Siauw Cu, baik dalam hal ilmu silat maupun kekuatan.

Bahkan makin nampaklah bakatnya untuk menjadi pemimpin karena dalam segala peristiwa yang terjadi di kuil itu, kalau membutuhkan bantuan tenaga para murid, Siauw Cu selalu diangkat menjadi pemimpin karena dia memang pandai mengatur, penuh semangat, dan penuh prakarsa dan daya cipta.

Pada suatu malam terang bulan, ketika Siauw Cu sedang berlatih silat di taman bunga belakang kuil yang dirawatnya, seorang diri dan tenggelam dalam latihannya, tiba-tiba sesosok tubuh manusia berkelebat dan terjun ke dalam lingkaran latihan silat menyerang Siauw Cu. Pemuda ini segera mengenal suhunya, maka giranglah hatinya. Kemajuan besar selalu didapatkannya kalau gurunya ini mau mengajaknya berlatih silat seperti itu.

Diapun, seperti selalu dianjurkan Lauw In Hwesio kalau berlatih, tidak bersikap sungkan lagi dan dia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, mengerahkan seluruh tenaga karena maklum bahwa gurunyapun akan bersungguh-sungguh untuk mengalahkannya. Jurus demi jurus mereka keluarkan, saling serang dan saling desak.

Diam-diam Lauw In Hwesio kagum sekali kepada muridnya ini. Dia sendiri sudah tidak mampu mengalahkan muridnya karena semua jurus dapat dilayani dengan baiknya oleh Siauw Cu, juga dalam hal tenaga, dia hampir tidak dapat menandingi karena dia sudah tua sedangkan Siauw Cu sedang kuat-kuatnya! Mulailah hwesio tua ini merasa lelah sekali dan dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia yang akan kalah.

Tiba-tiba hwesio tua itu mengeluarkan pekik nyaring dan gerakannya berubah sama sekali. Kini tubuhnya melayang dan berloncatan tinggi ke atas, lalu menyambar turun dengan serangan yang amat dahsyat dan asing bagi Siauw Cu!

Pemuda ini berusaha untuk mempertahankan diri, namun dia hanya mampu bertahan selama sepuluh jurus saja menghadapi ilmu silat aneh itu dan akhirnya dadanya dapat diterjang Lauw In Hwesio sampai dia jadi terjengkang!

“Suhu, ilmu apakah yang suhu mainkan ini?” Tanpa memperdulikan dadanya yang agak nyeri dan pinggulnya yang tadi menghantam tanah, Siauw Cu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya dan mengajukan pertanyaan itu. Gurunya berdiri terengah-engah, tersenyum girang sekali.

“Omitohud... kalau pinceng (aku) tidak mempunyai ilmu simpanan tadi, tentu sudah kalah olehmu, Siauw Cu.”

“Suhu! Selama ini teecu selalu mentaati karena teecu yakin bahwa suhu adalah seorang yang berhati mulia, tidak pernah berbohong. Akan tetapi, suhu mengatakan bahwa semua ilmu silat Siauw-lim-pai yang pernah suhu pelajari, telah suhu ajarkan kepada teecu semua. Akan tetapi kenapa sekarang suhu mempunyai ilmu silat yang tidak teecu kenal?”

“Omitohud, berdosalah pinceng membohongimu, Siauw Cu. Pinceng tidak pernah berbohong dan tidak akan berbohong. Memang sesungguhnyalah bahwa semua ilmu silat Siauw-lim-pai yang pinceng kuasai, telah pinceng ajarkan kepadamu, tidak ada satupun yang tertinggal. Kalau tadi pinceng mengeluarkan ilmu silat yang tidak kau kenal itu, adalah karena terpaksa. Kalau tidak mengeluarkan ilmu simpanan itu, bagaimana mungkin pinceng dapat mengatasimu? Akan tetapi, ilmu silat itu bukanlah ilmu silat aliran Siauw-lim-pai, karena itulah maka tidak pinceng ajarkan kepadamu.”

“Ah, begitukah, suhu? Kalau begitu mohon suhu mengampuni teecu yang menyangka suhu berbohong tadi. Ilmu apakah itu tadi, suhu dan kenapa pula suhu menguasai ilmu silat yang bukan Siauw-lim-pai, dan mengapa tidak diajarkan kepada teecu?”

“Ilmu silat itu memang bukan ilmu silat Siauw-lim-pai dan pinceng mendapatkannya secara kebetulan saja.”

Hwesio tua itu lalu bercerita. Belasan tahun yang lalu, ketika dia dan seorang suhengnya berjalan-jalan di puncak pegunungan mereka berdua melihat seekor burung rajawali yang besar sedang berkelahi dengan seekor harimau memperebutkan bangkai seekor kijang.

Perkelahian itu seru bukan main. Lauw In Hwesio dan Bouw In Hwesio mengintai dan menonton. Sebagai ahli-ahli silat Siauw-lim-pai, mereka berdua sudah mempelajari semua ilmu silat Siauw-lim-pai dan mereka telah memiliki kepandaian yang matang dan tinggi.

Di Siauw-lim-pai terdapat bermacam ilmu silat, bahkan ada ilmu silat Bangau Putih, akan tetapi ketika mereka berdua melihat perkelahian itu, mereka tertegun. Mereka juga menguasai ilmu silat Houw-kun (Silat Harimau) yang gerakannya meniru gerakan harimau, akan tetapi kini harimau itu tidak berdaya menghadapi burung rajawali yang menyambar-nyambar dari atas dengan ganas dan dahsyatnya.

Sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi, keduanya mencurahkan perhatian dan mengingat semua gerakan rajawali ketika bertanding melawan harimau. Akhirnya, harimau itu melarikan diri dengan tubuh luka-luka, dan rajawali itu menyambar bangkai kijang, dibawa terbang untuk diberikan kepada anak-anaknya di sarangnya, entah di mana.

Setelah melihat perkelahian hebat itu, Lauw In Hwesio dan suhengnya, Bouw In Hwesio, berdua mulai merangkai ilmu silat berdasarkan gerakan rajawali ketika berkelahi melawan harimau tadi. Dan akhirnya, setelah bersusah payah selama satu tahun, mereka berdua berhasil merangkai sebuah ilmu silat baru, yaitu ilmu silat Rajawali Sakti.

Karena ilmu itu bukan ilmu keturunan dari Siauw-lim-pai, keduanya berjanji untuk menyimpan ilmu itu untuk mereka berdua saja, dan bahkan merahasiakannya dari para murid Siauw-lim-pai yang lain.

Di Siauw-lim-pai memang ada peraturan keras bahwa seorang murid tidak boleh mencampurkan ilmu silat Siauw-lim-pai yang asli dengan ilmu lain, bahkan seorang murid Siauw-lim-pai tidak boleh memainkan ilmu silat yang bukan Siauw-lim-pai. Peraturan kuno yang keras ini mungkin diadakan demi menjaga kemurnian ilmu silat aliran itu.

“Demikianlah, Siauw Cu. Hanya kami berdua yang menguasai ilmu silat itu dan tadi terpaksa pinceng mainkan untuk mengatasimu. Bagaimanapun juga, bagaimana mungkin pinceng sebagai gurumu tidak mampu mengalahkanmu?”

Mendengar ini, Siauw Cu segera memberi hormat sambil berlutut. “Suhu, teecu mohon agar suhu sudi mengajarkan ilmu silat Rajawali sakti itu kepada teecu.”

Lauw In Hwesio adalah seorang hwesio tua yang bukan saja pandai ilmu silat dan ilmu keagamaan, akan tetapi diapun mempelajari ilmu perbintangan dan dia dapat meramalkan bahwa muridnya ini berbeda dengan orang lain dan kelak akan dapat memperoleh kedudukan tinggi sebagai seorang pemimpin.

“Siauw Cu, ilmu ini hanya dikenal oleh pinceng dan suheng Bouw In Hwesio yang sekarang entah merantau ke mana. Pinceng dapat mengajarkan kepadamu, akan tetapi hanya dengan dua syarat.”

“Apakah syarat itu, suhu?”

“Pertama, ilmu ini tidak boleh kau pergunakan untuk membantu pemerintah kerajaan penjajah Mongol. Ke dua, dalam mempergunakan ilmu Rajawali Sakti ini, engkau tidak boleh mengaku sebagai murid Siauw-lim-pai.”

Siauw Cu yang memang tidak ingin menjadi hwesio, juga sama sekali tidak ingin mengabdi kepada pemerintah penjajah yang telah menyengsarakan kehidupan rakyat jelata termasuk mendiang kedua orang tuanya, tentu saja dapat menerima syarat itu dengan gembira.

“Baik, suhu. Teecu bersumpah untuk memenuhi kedua syarat itu!” katanya tegas dan gembira.

Demikianlah, selama berbulan-bulan Siauw Cu mempelajari dan melatih Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu Silat Rajawali Sakti) itu dari gurunya dan setelah dia berhasil menguasainya dengan baik, Lauw In Hwesio memanggilnya menghadap.

“Siauw Cu, kini tiba saatnya bagimu untuk terjun ke dunia ramai, mempergunakan semua kepandaian yang selama ini dengan tekun kau pelajari di sini agar semua jerih payahmu tidak sia-sia belaka. Akan tetapi ingat, engkau adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang selain mempelajari ilmu silat, juga memperoleh gemblengan dasar watak yang baik sebagai seorang gagah dan budiman. Ingatlah selain bahwa Siauw-lim-pai menentang segala bentuk kejahatan, dan bahwa engkau sebagai murid Siauw-lim-pai kalau sampai menyeleweng dan menjadi jahat, kelak engkau akan hancur oleh para murid Siauw-lim-pai sendiri.”

“Teecu akan selalu ingat semua petunjuk, nasihat dan perintah suhu.”

Berangkatlah Siauw Cu meninggalkan kuil itu. Ketika menuruni lereng itu, beberapa kali dia menengok ke arah bangunan kuno yang dikelilingi pagar tembok yang kehijauan karena lumut itu, dan hatinya terharu. Delapan tahun yang lalu, dalam usia dua belas tahun, dia melarikan diri dari kejaran anak buah Lurah Koa dalam keadaan luka-luka ke dalam kuil dan diterima, dilindungi oleh para hwesio di situ, bahkan diterima menjadi murid oleh Lauw In Hwesio.

Andai kata tidak ada kuil itu dan para penghuninya, tentu dia tertangkap oleh anak buah Lurah Koa dan mungkin saja dia akan dihajar sampai mati karena dia telah berkelahi melawan dua orang putera lurah itu sampai mereka berdua roboh pingsan.

Dia tidak mendendam kepada mereka. Selama delapan tahun di kuil itu, dia sudah menerima gemblengan lahir batin oleh Lauw In Hwesio sehingga dia merasakan benar, bukan hanya mengerti, betapa dendam merupakan racun yang merusak diri sendiri.

Dendam dapat menghambat kemajuan lahir batin, dendam dapat mengeruhkan pikiran, bahkan mendorong orang melakukan kekejaman dan kejahatan demi pelampiasan dendam. Dendam merupakan satu di antara usaha setan untuk melumpuhkan manusia, untuk membuat manusia bertekuk lutut kepada daya-daya rendah yang menguasai hati akal pikiran.

Tidak, dia tidak menaruh dendam kepada siapapun juga. Semua yang terjadi adalah sesuai dengan garis. Tidak perlu mendendam, karena dendam itu sendiri akan merupakan awal dari mata rantai karma yang tiada berkeputusan.

Pengertian saja tidak akan ada gunanya tanpa pelaksanaan, bagaikan bunga yang rontok sebelum menjadi buah. Yang terpenting adalah pelaksanaannya, dan pelaksanaan inilah yang amat sukar karena bertentangan sengan kekuasaan nafsu. Semua orang tahu belaka apa yang disebut perbuatan jahat, namun mereka tidak mampu menahan nafsu yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan itu.

Setiap orang pencuri tahu belaka, mengerti bahwa mencuri itu tidak baik dan tidak sepantasnya dilakukan, namun dorongan nafsu tak dapat mereka lawan dan merekapun mencuri, berlawanan dengan pengetahuannya tadi. Demikian pula dengan pelaku perbuatan sesat apapun. Pengetahuan saja tidak akan mampu melawan kekuasaan nafsu.

Tidak, aku tidak mendendam, demikian Siauw Cu yang menjenguk isi hatinya berkata penuh keyakinan dalam hatinya. Dia memang hendak menuju ke kampung halamannya, tanah tumpah darahnya, yaitu tempat di mana darah ibunya tertumpah ketika melahirkan dia. Dia ingin menjenguk dan bersembahyang di kuburan ayah ibunya.

Selain itu, yang terpenting, dia hendak melihat keadaan para warga dusun itu. Sudah adakah perubahan yang membaik selama delapan tahun ini? Dia ingin melakukan sesuatu demi kesejahteraan hidup para warga dusun yang dia tahu selama ini hidup dalam keadaan yang menyedihkan sekali, jauh di bawah garis kemiskinan!

Apa yang dapat dia lakukan untuk mereka? Dia sendiri tidak tahu. Dia sendiri adalah seorang pemuda miskin. Dia meninggalkan kuil tanpa bekal apapun, kecuali beberapa stel pakaian sederhana yang terbuat dari kain kasar sederhana pula, seperti pakaian para pendeta di kuil. Kepalanya tidak dicukur gundul seperti para murid yang menjadi calon pendeta, namun tetap saja, ketika dia tinggal di kuil, pakaiannya sederhana sekali, disesuaikan dengan kehidupan kuil.

Tentu saja dia tidak dapat memberikan bantuan berupa benda kepada warga dusun. Dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia lakukan, dan hal itu akan dilihatnya saja nanti perkembangannya kalau dia sudah tiba di dusunnya.

“Suheng (kakak seperguruan)...! Perlahan dulu...!”

Seruan ini mengejutkan hati Siauw Cu. Cepat dia menahan langkahnya dan membalik. Sesosok tubuh seorang pemuda berlari-lari dari belakang mengejarnya dan setelah dekat diapun mengenal pemuda itu dan dia tersenyum.

“Heii, Shu-sute (adik seperguruan Shu)! Mau ke mana kau?” tanya Siauw Cu gembira.

Pemuda yang datang itu adalah Shu Ta, seorang di antara para murid di kuil itu yang bukan calon pendeta, seperti juga dia. Bahkan Shu Ta ini tadinya seorang kacung kuil sudah bekerja di kuil sebelum dia datang, akan tetapi Shu Ta yang sebaya dengannya, baru belajar silat sesudah dia, maka Shu Ta menyebutnya suheng (kakak seperguruan) dan dia menyebutnya sute (adik seperguruan).

Dan biarpun dalam hal ilmu silat, sutenya itu biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, namun dalam hal kecerdikan, Siauw Cu sering kali dibuat kagum. Sutenya ini mempunyai banyak sekali akal untuk mengatasi kesukaran dan sudah sering kali sutenya meringankan beban pekerjaan mereka ketika berada di kuil menggunakan akalnya yang banyak. Sutenya ini benar-benar amat cerdik dan kinipun dia tidak terlalu heran melihat sutenya dapat keluar dari kuil, entah dengan cara bagaimana,

“Aku memang mengejarmu, suheng. Akupun meninggalkan kuil!” kata pemuda itu gembira.

Siauw Cu mengerutkan alisnya dan menatap wajah sutenya penuh perhatian dan teguran. “Shu-sute, kau... minggat dari kuil?”

Pemuda itu tertawa dan walaupun usianya juga sekitar dua puluh tahun, namun dia nampak seperti kanak-kanak ketika tertawa. “Ha-ha-ha, Cu-suheng, kau kira aku ini orang macam apa? Aku sudah menerima budi yang berlimpah dari suhu dan para saudara di kuil Siauw-lim-si. Untuk membalas budi itupun aku belum mampu, bagaimana mungkin aku berani minggat? Tidak, suheng. Setelah mendengar suheng meninggalkan kuil, aku segera menghadap suhu dan mohon perkenan suhu untuk turun gunung pula. Dan suhu sudah memberi ijin. Aku turun gunung, keluar dari kuil dengan resmi, tidak minggat.”

“Begitu mudahnya? Akal apa yang kau pergunakan maka suhu dapat memberi ijin sedemikian mudahnya kepadamu, sute?”

Shu Ta tertawa. “Aih, suheng. Terhadap suhu, mana aku berani main akal-akalan? Aku hanya menceritakan kepada suhu tentang kesengsaraan rakyat jelata di bawah penindasan pemerintah penjajah Mongol seperti yang banyak kita dengar dari rakyat di sekitar daerah ini, dan aku menceritakan keinginanku untuk membantu rakyat, berjuang untuk menentang pemerintah penjajah. Nah, suhu memberi restu dan mengijinkan aku keluar dari kuil.”

Siauw Cu mengangguk-angguk. Dia sudah tahu bahwa sutenya ini selalu bicara tentang perjuangan melawan pemerintah penjajah Mongol. Diam-diam dia sendiripun menyetujui sikap itu. Dia sendiripun membenci penjajah yang jelas menyengsarakan rakyat.

“Sute, cita-citamu memang baik sekali. Akan tetapi, hanya dengan tenagamu, atau katakanlah tenaga kita berdua, bagaimana mungkin kita akan mampu menentang pemerintah yang memiliki pasukan ratusan ribu orang banyaknya. Untuk menentang pemerintah penjajah, kita harus menghimpun tenaga rakyat sebanyak mungkin dan untuk pekerjaan seperti itu, bukanlah hal yang mudah. Setidaknya kita harus memiliki biaya yang besar, sedangkan kita memiliki apa?”

“Memang benar pendapatmu, suheng. Akan tetapi, kalau memang kita memiliki kemauan besar, memiliki semangat, kiranya pekerjaan itu tidaklah terlalu sukar, atau setidaknya bukan hal yang mustahil. Mari kita bekerja sama untuk maksud itu, suheng.”

Siauw Cu menggeleng kepala. “Sebaiknya, kalau kita berpencar dan mencari pengalaman lebih dahulu di dunia persilatan, sute. Kita melakukan penjajagan dan hubungan dengan orang-orang kang-ouw, melihat bagaimana sikap mereka dan melihat kemungkinan untuk menghimpun tenaga. Kelak, kalau tiba waktunya, kita dapat bergabung dan bekerja sama.”

Shu Ta mengangguk-angguk. “Pendapatmu baik dan tepat, suheng. Baiklah, mari kita berlumba untuk menghimpun tenaga. Akan tetapi, sekarang suheng hendak kemanakah?”

“Aku hendak kembali dulu ke kampung halamanku, dusun Cang-cin untuk bersembahyang di makam ayah ibuku.”

“Aih, dusunmu yang penuh kesengsaraan itu?” Shu Ta sudah pernah mendengar cerita Siauw Cu tentang dusunnya, dan tentang keadaan suhengnya itu. “Kalau begitu, akupun ingin ikut denganmu dan melihatnya, suheng.”

“Baik, sute. Mari kita pergi. Dusunku tidak terlalu jauh dari sini, hanya di balik bukit depan sana itu.” Mereka lalu berjalan berdampingan menuruni bukit!

Para penghuni dusun Cang-cin sedang bekerja di sawah ladang, di luar dusun. Matahari telah naik tinggi dan mereka semua memandang heran kepada dua orang pemuda yang berjalan menuju ke dusun itu. Dusun di Lembah Sungai Huai itu merupakan dusun kecil yang tidak pernah dikunjungi orang luar, maka kedatangan setiap orang asing tentu akan menarik perhatian mereka. Itulah sebabnya, ketika dua orang pemuda itu melangkah perlahan memasuki dusun, mereka semua memandang penuh perhatian dan keheranan.

Pemuda pertama berusia dua puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap, wajahnya sederhana namun sikapnya tegak anggun berwibawa. Langkahnya tegap, wajahnya tidak dapat dibilang tampan, namun jantan dengan dagu yang membayangkan kekerasan hati, sepasang mata yang mencorong tajam penuh semangat dan wibawa.

Langkahnya bagaikan langkah harimau. Dia menggendong sebuah buntalan kain kuning yang tidak seberapa lebar, buntalan yang terisi beberapa stel pakaiannya. Pakaian yang menutupi tubuhnya amat sederhana, seperti pakaian pendeta, hanya potongannya lebih ringkas.

Pemuda kedua sebaya, akan tetapi wajahnya tampan dan tubuhnya kekar. Pada wajahnya mulai nampak rambut halus dan dapat dilihat bahwa kelak akan menjadi seorang laki-laki tampan gagah berewok. Pandang matanya tidak terlalu tajam seperti pemuda pertama, akan tetapi mata itu bergerak-gerak dengan lincah dan nampaknya dia cerdik sekali. Di punggungnya juga terdapat buntalan pakaian, akan tetapi di pinggangnya tergantung sebatang pedang dengan sarung pedang sederhana.

Mereka adalah Siauw Cu dan Shu Ta. Siauw Cu juga memandang ke arah para petani yang bekerja di sawah ladang dan wajahnya cerah, sikapnya ramah terhadap mereka karena dia maklum bahwa mereka adalah warga dusunnya. Akan tetapi, karena delapan tahun telah lewat, tidak ada seorangpun di antara mereka yang dikenalnya atau mengenalnya. Ketika dia meninggalkan dusun itu, usianya baru dua belas tahun, masih kanak-kanak, sekarang dia kembali dalam usia dua puluh tahun lebih, sudah menjadi seorang pemuda dewasa.

Yang membuat hati Siauw Cu gembira adalah melihat betapa sawah ladang itu penuh dengan padi dan gandum yang subur. Agaknya kini keadaan dusun itu sudah makmur, pikirnya. Mereka memiliki sawah ladang yang demikian subur, berarti mereka tidak akan menderita kelaparan seperti ketika dia masih tinggal di dusun itu.

Melihat para penghuni dusun bekerja di sawah ladang yang subur, mendatangkan perasaan gembira di hati Siauw Cu dan diapun mengajak sutenya untuk pergi ke tanah kuburan yang berada di pinggir dusun sebelah barat.

Tanah kuburan itu penuh dengan kuburan, lama dan baru. Ketika mereka tiba di tanah kuburan, keduanya berhenti dan melihat dua orang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar membentak-bentak seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun yang tubuhnya kurus dan agak bungkuk.

“Siang begini engkau sudah meninggalkan sawah, tua bangka tak tahu diri!” bentak seorang di antara dua laki-laki tinggi besar itu.

“Kakek Coa, kalau engkau tidak cepat kembali ke sawah dan melanjutkan pekerjaanmu, terpaksa kami akan menghajar dan menyeretmu biarpun engkau sudah tua dan berpenyakitan!” kata orang ke dua.

“Apakah engkau ingin menyusul isterimu yang baru tiga hari mati?” bentak orang pertama.

Kakek itu tidak memperdulikan ancaman mereka, bahkan dia lalu menjatuhkan diri berlutut, bertiarap di atas gundukan tanah kuburan yang baru itu dan menangis. “Aku tidak sudi kembali ke sawah. Aku masih berkabung, aku ingin menemani isteriku... bunuhlah aku kalian kehendaki!”

Dua orang tinggi besar itu saling pandang. Yang pertama yang kumisnya panjang masih mencoba untuk membujuk kakek itu. “Kakek Coa, ingatlah, engkau tidak akan dapat mengubur mayat isterimu tiga hari yang lalu, tidak akan mendapatkan peti mati dan tanah kuburan ini kalau tidak atas pertolongan dan kedermawanan Ji wan-gwe (hartawan Ji). Juga setiap hari, nasi siapa yang kau makan? Untuk semua itu, Ji wangwe hanya minta engkau bekerja di sawahnya, bukankah itu sudah adil?”

Tiba-tiba kakek itu bangkit dan biarpun tubuhnya kurus bungkuk, kini dia kelihatan penuh semangat dan keberanian. “Pertolongan? Kedermawanan? Huh, kini aku tidak perduli lagi, aku sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, semua telah dirampas oleh Ji wangwe dengan alasan membayar hutang berikut bunganya yang berlipat ganda. Semua milikku sudah diambilnya, dan sekarang masih juga hendak memeras tenagaku yang sudah tua? Dia bukan penolong, bukan dermawan, melainkan lintah darat, penjahat kejam yang bersembunyi di balik kekayaannya!”

“Kakek Coa tua bangka yang bosan hidup! Berani kau memaki-maki Ji wan-gwe? Kalau tidak ada beliau, kau sudah mati kelaparan!” teriak dua orang itu marah.

“Siapa bilang? Justeru karena ada dia, kami semua warga dusun terancam kelaparan. Sawah ladang kami telah dirampasnya, tenaga kami diperas! Jahanam, setan busuk!”

Dua orang itu marah-marah dan sekali pukul, tubuh kakek itu terpelanting keras, namun kakek itu masih memaki-maki dengan marahnya. Dua orang tukang pukul itu hendak menghujankan pukulan lagi, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan sekali orang itu menggerakkan tangan mendorong, dua orang tukang pukul terpental dan terjengkang seperti dilanda badai.

Mereka terkejut dan ketika memandangm mereka melihat seorang pemuda tinggi tegap telah berdiri di depan mereka dengan mata mencorong. Pemuda lain yang juga tegap sedang membantu kakek Coa bangun. “Bocah setan, siapa kau berani mencampuri urusan kami? Apakah engkau minta dihajar pula?” bentak tukang pukul yang kumisnya panjang.

Biarpun marah menyaksikan kekejaman dua orang tukang pukul itu dan mendengar pertengkaran tadi, Cu Goan Ciang masih bersikap tenang. Dia hanya menghadapi kaki tangan hartawan Ji, dua orang yang hanya melaksanakan tugas karena memang itu pekerjaannya, walaupun pekerjaan itu jahat. “Siapa aku tidaklah penting. Kalian ini kaki tangan hartawan penghisap darah rakyat yang patut dihajar! Pergilah dan jangan lagi mengganggu paman ini!”

Dua orang tukang pukul itu tentu saja tidak takut. Mereka mencabut golok dari pinggang. Sudah terlalu sering golok itu mereka cabut untuk menakuti-nakuti orang, untuk mengancam dan kalau perlu melukai atau membunuh. Karena golok itu merupakan modal mereka bekerja dan dipercaya Ji wangwe, maka mereka selalu mengasah senjata itu sehingga nampak berkilauan tajam.

“Orang muda, engkau dan kawanmu itu agaknya bukan penduduk dusun ini. Jangan mencampuri urusan kami dan cepat pergi keluar dari dusun sebelum terlambat. Kami masih mau memaafkan kalian karena sebagai orang luar, kalian tidak tahu akan keadaan di dusun kami,” kata si kumis panjang.

Pada saat itu terdengar bentakan halus namun nyaring, suara orang wanita, “Apa lagi yang terjadi di sini? Tanah kuburan adalah tempat yang suci, kenapa kalian begini tidak tahu sopan dan aturan, ribut-ribut di tempat suci?”

Cu Goan Ciang dan Shu Ta menoleh, demikian pula kakek itu dan dua orang tukang pukul. Ternyata yang menegur itu adalah seorang gadis yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Shu Ta terbelalak dan seperti terpesona melihat gadis yang wajah dan bentuk tubuhnya aduhai itu!

Wajah itu cantik manis dan bentuk tubuhnya menggairahkan, dengan, lekuk lengkung yang sedang berkembang. Pakaiannya tidak terlalu mewah, namun jelas tidak sama dengan pakaian para gadis petani. Pakaiannya juga putih mulus dan halus, tidak ada bekas pekerjaan berat.

Ketika dua orang tukang pukul yang galak itu melihat siapa yang menegur mereka, sungguh aneh sekali, mereka kelihatan ketakutan dan sikap yang galak itu terbang entah ke mana, berubah menjadi sikap menunduk dan menjilat. Mereka segera membungkuk-bungkuk memberi hormat kepada gadis muda itu.

“Nona, maafkan kami. Bukan maksud kami membuat ribut di tanah kuburan, akan tetapi kakek Coa ini yang keterlaluan. Begitu banyak dia berhutang budi kepada wan-gwe, akan tetapi dia meninggalkan pekerjaannya dan berada di sini. Agaknya dia sudah lupa bahwa tiga hari yang lalu, kalau tidak ada wan-gwe, dia tidak akan mampu mengubur mayat isterinya dengan baik,” kata si kumis panjang.

Gadis itu mengerutkan alisnya, pandang matanya berkilat marah. “Huh, kiranya kalian adalah tukang-tukang pukul menjemukan itu! Siapa bisa percaya omongan kalian? Kakek Coa, ceritakan apa yang telah terjadi? Aku lebih percaya keteranganmu dari pada kata-kata mereka ini.” Ketika menghadapi kakek Coa, suara nona muda itu terdengar lembut.

“Siocia, saya tidak menyangkal bahwa saya telah banyak memperoleh pinjaman uang dari Ji wan-gwe. Akan tetapi semua pinjaman itu telah saya bayar dengan berlipat ganda sehingga semua sawah ladang saya kini menjadi miliknya. Namun semua itu masih belum cukup dan saya diharuskan bekerja di sawah ladang yang tadinya milik saya turun temurun. Karena saya masih berkabung dan saya ingin menunggui kuburan isteri saya, maka saya hari ini belum dapat bekerja di ladang. Akan tetapi dua orang ini datang dan hendak memaksa saya, bahkan akan memukuli saya. Kemudian datang kedua pemuda ini yang menolong saya.”

Sepasang mata yang indah itu kini menyapu wajah Cu Goan Ciang dan Shu Ta. Melihat Cu Goan Ciang yang berada di depan menghadapi dua orang tukang pukul, gadis itu bertanya, “Sobat, apakah kalian hendak membela kakek Coa ini?”

“Kami selalu siap membela siapa saja yang ditindas kekuasaan jahat,” jawab Cu Goan Ciang dengan sikap tenang.

Gadis itu tersenyum dan matanya bersinar-sinar. “Hemm, agaknya kalian berdua bukan orang sini. Beranikah kalian melawan dua orang jagoan ini? Mereka itu kuat dan lihai!”

“Kenapa tidak berani?” Shu Ta yang kini menjawab sambil tersenyum mengejek ketika dia melirik ke arah dua orang jagoan itu. “Jangankan hanya mereka berdua saja, biar ditambah sepuluh orang lagi kami berani melawan mereka! Akan kutonjok hidungnya sampai berdarah dan kucabut kumis panjang itu!” Shu Ta memang berwatak lincah dan nakal, maka dia sengaja mengejek si hidung besar yang akan ditonjok hidungnya dan si kumis panjang akan dicabut kumisnya.

“Bagus!” Gadis yang lincah itu berseru gembira, “Kalau begitu, kenapa kalian tidak bertanding saja? Dua lawan dua, sudah adil. Heii, kalian lepaskan golok kalian dan lawan dua orang pemuda ini dengan tangan kosong saja. Baru sekarang aku melihat ada orang berani melawan kalian, hendak kulihat sampai di mana keberanian dan kehebatan mereka ini!”

Sungguh aneh. Dua orang jagoan itu agaknya seperti mati kutu berhadapan dengan gadis itu dan mereka mentaati perintahnya. Mereka melemparkan golok mereka ke atas tanah, kemudian keduanya menghampiri Shu Ta dan Cu Goan Ciang. Si kumis panjang menghadapi Shu Ta sedangkan si hidung besar menghadapi Cu Goan Ciang. Gadis itu sendiri lalu mendekati kakek Coa, seperti melindungi.

Kakek Coa nampak khawatir. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan khawatir terhadap dua orang pemuda yang mencoba untuk membelanya itu. Dia tidak ingin melihat mereka dihajar oleh dua orang tukang pukul yang dia tahu amat kejam. Karena gelisah, wajahnya pucat dan kakinya gemetar, lalu duduk di dekat kuburan isterinya.

Shu Ta maju menghadapi si kumis panjang yang matanya sipit dan agak juling itu. Dia menggapai dengan tangan kirinya dan berkata, “Majulah, dan berikan kumismu kepadaku untuk kucabuti!” Ejekan ini membuat si kumis panjang marah sekali.

“Bocah sombong, kuhancurkan kepalamu!” bentak si kumis panjang dan dia sudah menerjang maju sambil mengirim pukulan bertubi-tubi.

Akan tetapi gerakan orang kasar itu tentu saja tidak ada artinya bagi pendekar muda murid Siauw-lim-pai itu. Dengan mudah Shu Ta mengelak ke kanan kiri, kemudian ketika mendapat kesempatan baik, kakinya bergerak dan ujung sepatunya mengenai perut si kumis panjang.

“Ngekkk!” Biarpun tendangan itu tidak dilakukan dengan terlalu kuat, cukup membuat si kumis membungkuk memegangi perutnya dan saat dia membungkuk itulah dipergunakan oleh Shu Ta untuk menyambarkan tangan ke depan dan sekali renggut, kumis panjang itupun jebol dan di atas bibir itu menjadi merah karena berdarah!

“Aduh... aduh...!!” Si kumis panjang menggereng, akan tetapi Shu Ta sudah melompat ke dekat suhengnya yang masih terus menangkis dan mengelak dari serangan bertubi yang dilakukan si gendut besar.

“Suheng, serahkan si hidung besar ini kepadaku!” kata Shu Ta dan diapun menyambut serangan si hidung besar.

Terpaksa Cu Goan Ciang mundur dan diapun kini menghadapi si kumis panjang yang masih marah-marah dan menerjang membabi buta. Cu Goan Ciang hanya ingin memberi pelajaran karena dua orang ini hanyalah kaki tangan hartawan Ji yang kikir, kejam dan penindas rakyat adalah hartawan itu, sedangkan kaki tangan ini hanyalah orang-orang yang berwatak rendah, demi mendapatkan upah mereka ini tidak segan-segan melaksanakan perintah majikan mereka untuk bersikap keras dan kejam terhadap penduduk dusun yang miskin.

Maka, melihat si kumis panjang sudah kehilangan kumisnya dan atas bibirnya berdarah, diapun mengakhiri perkelahian itu dengan sebuah tendangan yang mengenai dada si kumis panjang. “Desss...!” Tubuh si kumis panjang terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah. Pada saat yang hampir berbareng, Shu Ta sudah berhasil menonjok hidung besar lawannya seperti yang dikatakannya tadi. “Prottt!” Bukit hidung itu pecah dan berdarah, sedangkan tubuh si hidung besar terhuyung ke belakang.

Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya gadis manis tadi yang bertepuk tangan memuji. Dua orang tukang pukul itu menjadi marah bukan main. Mereka telah dihina orang di depan nona mereka lagi, dan yang membuat mereka menjadi semakin mendongkol adalah karena justeru nona majikan mereka itu memuji dan bersorak berpihak kepada dua orang pemuda asing yang telah menghina mereka. Mereka segera mencabut golok yang tadi mereka lempar ke tanah dan memutar golok itu di atas kepala, siap menyerang dua orang pemuda yang nampak tenang-tenang saja.

“Bocah setan, mampus kau sekarang!” bentak bekas si kumis panjang itu karena sekarang dia tidak berkumis lagi sambil memutar goloknya, sedangkan si hidung besar hanya mengeluarkan suara tidak karuan karena suaranya menjadi bindeng seperti orang bicara dengan hidung dijepit.

Akan tetapi sebelum dua orang pemuda itu menyambut, nampak bayangan berkelebat didahului sinar terang dan terdengar suara berkerontangan. Dua orang jagoan itu berteriak kaget dan terhuyung ke belakang dengan mata terbelalak karena golok di tangan mereka telah buntung. Kiranya gadis manis itu yang tadi menyambut mereka dengan pedang di tangan, sekali tangkis ia telah membikin buntung dua batang golok itu!

“Sudah kukatakan kalian tidak boleh menggunakan senjata golok, dan kalian masih berani membangkang!” bentak gadis itu galak.

Dua orang jagoan tinggi besar itu menundukkan mukanya dan nampak ketakutan. “Maafkan kami, nona,” kata yang kehilangan kumis panjang, sedangkan si hidung besar yang remuk hanya menggumam saja.

“Sudahlah, pergi kalian dari sini. Menjemukan saja!” nona itu berseru galak dan bagaikan dua ekor anjing yang ketakutan, dua orang itu segera membalikkan tubuh dan pergi dari situ sambil menunduk.

Cu Goan Ciang dan Shu Ta kagum sekali, terutama Shu Ta yang berwatak gembira. “Wah, hebat sekali, nona. Sungguh tidak kusangka, di dusun yang sunyi ini terdapat seorang pendekar wanita ahli pedang seperti nona!” katanya sambil memberi hormat.

Siauw Cu diam saja, hanya memandang dan tersenyum melihat sikap sutenya yang dianggapnya agak mencari muka dengan pujiannya.

Sementara itu, kakek Coa memberi hormat kepada gadis itu dan berkata dengan suara khawatir, “Siocia, terima kasih atas pertolonganmu, akan tetapi harap siocia sampaikan kepada Ji wan-gwe bahwa bukan sekali-kali saya bermaksud untuk membangkang dan tidak mau bekerja. Akan tetapi saya ingin berkabung di kuburan isteri saya sampai besok. Lusa pagi saya pasti akan bekerja seperti biasa di ladang ayahmu, siocia (nona).”

“Sudahlah, jangan khawatir, paman,” kata gadis itu dengan sikap acuh.

Mendengar ucapan kakek itu, Siauw Cu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong ketika menyambar ke wajah gadis itu. “Jadi engkau ini puteri Hartawan Ji Sun?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan yang diajukan dengan suara yang kaku ini, gadis itu mengerutkan alisnya dan balas memandang dengan kaku pula. “Benar, namaku Ji Kui Hwa, puteri Hartawan Ji Sun. Habis mengapa...?”

Jilid selanjutnya,