Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 06, karya Kho Ping Hoo - WANG SIN maklum bahwa nasib para budak ini belum tentu baik semua. Ada bahaya mereka bertemu orang jahat atau dapat dikejar oleh kaki tangan tuan tanah. Maka kalau berpencar, setidaknya bukan semua yang akan celaka.

Para budak kecewa akan tetapi tak dapat membantah. Ketika mereka berkemas terdapat keributan tentang kawan-kawan yang terluka. Mereka saling menolak, keberatan kalau harus membawa kawan-kawan yang terluka berat dan tidak dapat berjalan sendiri.
Memang, dalam penderitaan dan menghadapi bahaya orang-orang dapat bersatu padu dan saling membela, akan tetapi sekali keluar dari bahaya, sifat mementingkan diri sendiri timbul dan masing-masing hendak menyelamatkan diri dan keluarga sendiri.
Wang Sin menjadi bingung melihat kegaduhan ini. Di antaranya para budak, yang terluka berat dan harus ditolong ada tiga puluh orang lebih. Mereka hendak berpencaran dan saling menolak untuk membawa kawan-kawan terluka. Bagaimana baiknya?
“Coba kumpulkan mereka yang terluka berat ke sini!” tiba-tiba Ci Ying yang tidak sabar lagi membentak.
Semua orang lalu sibuk, mengangkuti mereka yang terluka berat, dikumpulkan di lapangan. Yang luka-luka berat ini menyedihkan sekali keadaannya. Mereka terluka karena bacokan senjata tajam dan keluhan mereka menimbulkan sedih dalam hati.
“Selain tiga puluh satu orang ini, yang lain-lain dapat berjalan sendiri?” tanya Ci Ying.
“Bisa!” jawab para budak serampak.
Tiba-tiba Ci Ying meloncat dan tubuhnya berkelebat seperti burung walet menyambar ke sana ke mari, tangannya kiri kanan digerakkan ke arah orang-orang yang terluka berat.
“Ci Ying....!!” Wang Sin berseru kaget sekali melihat gadis itu sekali pukul membunuh orang yang terluka itu satu demi satu. Ia juga melompat hendak mencegah, akan tetapi gerakan Ci Ying luar biasa cepatnya, pukulan tangannya ampuh sekali sehingga dalam beberapa menit saja tiga puluh satu orang itu telah menggeletak tak bernyawa lagi.
“Ci Ying, apa yang kau lakukan ini?” kata Wang Sin, suaranya gemetar karena ia menahan marahnya.
Ci Ying tersenyum manis padanya. “Dibawa pergi, tidak seorangpun mau melakukannya. Ditinggal disini, akan mati kelaparan. Tertangkap tuan tanah, akan mati disiksa. Bukankah lebih baik mati begini, tidak menderita?” jawaban ini tenang saja seakan-akan membunuh tiga puluh satu orang itu hanya soal kecil tak berarti saja.
Kemudian ia berteriak kepada semua orang. “Hayo kubur mereka lalu lanjutkan perjalanan kalian!”
Semua budak yang tadinya menjadi pucat karena ngeri, tidak berani membantah perintah nona yang hebat itu. Cepat mereka mengubur mayat tiga puluh satu orang kawan mereka itu, lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan ketakutan, khawatir kalau-kalau dapat dikejar tuan tanah.
“Kanda Wang Sin, mari kita kembali, menuju ke Lasha.” Ketika mengucapkan kata-kata, sikap Ci Ying sudah berubah lagi, lemah lembut dan manis. Sepasang mata dan senyumnya membayangkan cinta kasih mesra. Ia malah menggandeng lengan tangan Wang Sin untuk diajak pergi.
Orang muda itu menurut saja, berkali-kali menarik napas panjang. Tak dapat disangkal lagi, setelah Ci Ying bersikap manis seperti ini, terbayanglah hubungan mesra di waktu mereka masih remaja dahulu dan harus ia akui bahwa sebetulnya cinta kasih pertama yang bersemi di dalam hatinya masih belum mati.
“Kanda Wang Sin, kau kenapa menghela napas?” tanya Ci Ying, bibirnya tetap tersenyum akan tetapi matanya yang jeli memandang penuh selidik.
Wang Sin tidak mau kalau disangka ia menyedihkan perpisahannya dengan isterinya. Ia tidak mau membangkitkan cemburu di dalam hati gadis ini yang sekarang berubah menjadi seorang berwatak aneh. Ia hendak menyadarkan gadis ini perlahan-lahan.“Ci Ying, aku bingung melihat perubahan pada dirimu. Terhadap tuan tanah kau berlaku kejam, itulah sudah semestinya dan aku mengerti karena kita memang sejak lahir di dunia selalu menderita sengsara karena mereka. Akan tetapi tadi... kau membunuh kawan-kawan sendiri yang terluka begitu saja seperti orang membunuh tikus... ah, benar-benar aku tidak mengerti!”
“Membunuh orang-orang luka yang tidak ada harapan lagi, untuk menolong banyak orang yang masih sehat, bagaimana bisa dibilang kejam? Apalagi kalau diingat pembunuhan itu untuk menolong keselamatan mereka dan diri sendiri, lebih-lebih bukan kejam namanya. Kejam adalah tuan-tuan tanah dan kaki tangannya yang membunuh orang untuk kesenangan diri sendiri.”
“Menolong diri sendiri?” tanya Wang Sin heran.
“Tentu saja. Kalau mereka tidak dibunuh, perjalanan terlambat dan kita terpaksa mengawal terus. Kalau kita mengawal terus, kita tidak akan bergerak leluasa dan bebas kalau terjadi pertempuran. Tentu kita menjadi rugi dan terancam.”
“Eh, kenapa begitu?”
Ci Ying cemberut. “Kau carilah sendiri. Hayo kita percepat jalan, sudah gatal-gatal tanganku untuk mencekik leher jahanam Yang Nam dan membetot keluar jantungnya.”
Wang Sin tidak berkata-kata lagi, melainkan mengerahkan tenaga untuk mengimbangi kecepatan larinya gadis itu yang bergerak ringan sekali. Diam-diam hatinya mengeluh. “Ganas.... ganas....”
Ketika hari menjadi malam, dua orang muda ini tiba di sebuah padang rumput yang di sana sini ditumbuhi beberapa batang pohon. Di waktu musim salju, tempat ini penuh salju dan pohonpohon itu gundul tak berdaun. Baiknya waktu itu musim salju sudah lewat dan biarpun tidak gemuk tanah di situ ditumbuhi rumput hijau dan pohon-pohon itu mengeluarkan daun.
Mereka berhenti di bawah sebatang pohon dan duduk di atas rumput yang lunak. Dari jauh terdengar menguaknya beberapa ekor binatang yak dan mengembiknya kambing-kambing yang berkeliaran. Itulah binatang peliharaan tuan tanah di Loka yang dalam keributan tadi telah lari cerai berai.
“Tunggu aku mencari susu dan makanan!” kata Ci Ying. Tubuhnya berkelebat dan sebentar saja ia lenyap dari dari depan Wang Sin.
Orang muda ini kagum sekali. “Dia begitu hebat kepandaiannya. Benar-benar mengherankan. Aku yang berlatih siang malam dibawah pimpinan suhu yang pandai, ternyata masih kalah jauh olehnya, padahal dia dahulu seorang gadis lemah,” pikirnya.
Tak lama gadis ini pergi. Ia telah kembali lagi membawa sebuah paha domba yang gemuk dan di lain tangan memegang sebuah tempat minum yang tadi dibawanya, penuh dengan susu murni yang segar. Ia tertawa-tawa gembira dan lagaknya kembali sebagai Ci Ying lima tahun yang lalu.
“Kanda Wang Sin. Aku memanggangkan daging domba yang gemuk dan memanaskan susu yang segar untukmu.”
Timbul lagi kegembiraan Wang Sin melihat sikap gadis ini. Ah, kalau saja Ci Ying seterusnya seperti ini, seperti dahulu lagi. Mudah mengajaknya berunding.
“Aku membuat apinya,” katanya sambil tertawa. Melihat pemuda itu sudah mau tersenyum, Ci Ying makin gembira.
Wang Sin membuat api unggun sedangkan gadis itu memotong-motong daging domba. Entah dari mana dapatnya, ia mengeluarkan bumbu-bumbu dari dalam saku bajunya. Tak lama kemudian tercium bau sedap daging domba dipanggang dan segera kedua orang muda yang sudah lapar itu makan daging panggang dengan air susu. Nikmat sekali rasanya, apalagi dimakan di bawah sinar bulan yang sudah muncul di langit yang bersih cerah.
Hawa malam itu sangat dingin. Ci Ying merebahkan diri di atas rumput dengan kepala di atas pangkuan Wang Sin. Pemuda itu tidak menolak dan membiarkan saja Ci Ying menaruh kepalanya di atas paha. Sebentar saja Ci Ying tertidur dengan senyum manis di bibirnya.Wang Sin memandang wajah manis di pangkuannya itu yang nampak luar biasa cantiknya di bawah sinar bulan. Kembali ia menarik napas panjang.
“Alangkah cantik manisnya Ci Ying ... sayang sekali ia berubah menjadi seorang berhati ganas.”
Kemudian ia melamun, teringat akan pengalaman-pengalaman Ci Ying dahulu. Belum sempat ia mendengarkan cerita Ci Ying semenjak mereka berpisah. Bagaimana nasib bocah kecil yang dulu dibawa oleh gadis ini? Besok akan kutanyakan dia dan perlahan-lahan akan kujelaskan tentang pernikahanku dengan Ong Hui, demikian pikir Wang Sin.
Dengan pikiran ini ia menjadi lega. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Dilihatnya tubuh Ci Ying bergerak seperti kedinginan ketika angin bertiup. Ia melepas baju luarnya dan menyelimuti gadis itu.
“Kanda Wang Sin.....” gadis itu berbisik perlahan tanpa membuka matanya. Kiranya dia sedang bermimpi.
Wang Sin lalu memeramkan matanya dan saking lelahnya ia tertidur sambil bersandar pada pohon. Api unggun masih menyala, lidah api mobat mabit (bergoyang-goyang) tertiup angin. Wang Sin telah menaruh sebatang cabang kering yang besar sehingga dalam waktu dua tiga jam api itu takkan padam.
Tiba-tiba Wang Sin terkejut ketika mendengar suara berisik. Ia membuka matanya dan segera melompat bangun ketika melihat Ci Ying tertawa-tawa sambil bergerak-gerak ke sana ke mari. Dia sedang dikeroyok tiga orang laki-laki tinggi besar yang wajahnya tidak kelihatan nyata dalam sinar yang suram itu. Api unggun sudah hampir padam sedangkan bulan bersembunyi di balik awan hitam yang tebal.
Sebelum ia sempat bergerak, terdengar suara “Krakkk!” disusul jerit mengerikan. Ternyata seorang pengeroyok telah kena dihantam dadanya oleh tangan kiri Ci Ying sehingga ia terjungkal roboh di dekat api unggun. Sambil melayani lawan yang dua orang lagi, Ci Ying tertawa dan kakinya menyambar. Tubuh orang itu terlempar dan jatuh ke atas api yang masih marong dan merah.
Orang itu berkelojotan, Wang Sin mengkirik. Cepat ia melompat dan menggunakan kakinya menyingkirkan orang yang mulai terbakar itu dari atas api unggun. Siapa pun juga itu, tidak tega ia melihat orang dibakar hidup-hidup.
“Kanda Wang Sin, kau sudah bangun? Lihat aku robohkan dua ekor kadal busuk ini!” kata Ci Ying. Cepat sekali sabuk merahnya bergerak-gerak seperti ular dan dua orang yang bersenjata golok itu repot sekali menghadapi desakan Ci Ying yang lihai.
Bagi mereka, ujung sabuk merah itu berubah menjadi belasan, membuat mata mereka kabur dan permainan golok mereka kacau. Padahal menurut penglihatan Wang Sin, ilmu golok dua orang itu tidak lemah, bahkan cepat dan kuat sekali. Pada waktu sebuah golok menyambar leher Ci Ying dan golok kedua menusuk perutnya, gadis itu menggunakan ujung sabuknya melibat golok pertama dan kakinya menendang golok kedua yang mengancam perut.
Hebat sekali gerakan gadis ini. Tangkisan golok menggunakan tendangan kaki membuktikan bahwa tingkat kepandaiannya memang sudah tinggi, kalau tidak demikian tidak nanti dia berani menendang golok yang sedang menusuk perutnya.
Golok terpental dan tendangan susulan tepat mengenai perut orang yang gemuk. “Blukkk!” Perut yang besar seperti perut kerbau itu terkena ciuman ujung sepatu Ci Ying mengeluarkan suara seperti tambur dipukul. Orangnya terjengkang dan tidak bangun lagi.
Adapun orang ketiga yang goloknya terkibat, mencoba untuk membetot senjatanya, akan tetapi sia-sia. Malah tiba-tiba goloknya itu terbang terlepas dari tangannya, terayun-ayun dibelit ujung sabuk dan alangkah kaget ia melihat goloknya sendiri itu membalik dan “terbang” ke arah kepalanya. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi golok itu yang dipegangi oleh libatan sabuk terus mengejarnya dan akhirnya “Crakkk!” kepalanya terbela oleh goloknya sendiri.
“Hi-hi-hi, baru kalian merasa kelihaian nona mu!” Ci Ying tertawa girang. Golok rampasan di ujung sabuknya itu ia gerak-gerakan lagi, kini menyambar kepada dua orang yang lain yang sudah ia robohkan lebih dulu. Terdengar bunyi “crakk-crakk!” dua kali dan kepala dua orang inipun terbelah dua.
Wang Sin hendak mencegah sudah tidak keburu lagi. Apalagi ia sedang terkejut mendengar datangnya suara kaki kuda dan kaki orang yang banyak sekali, disertai teriakan-teriakan marah. Tiba-tiba angin besar bertiup dan api unggun yang sudah kehabisan umpan itu padam, tinggal bunga apinya yang berterbangan ke sana sini mendatangkan penglihatan yang amat indah.
Keadaan menjadi gelap sekali dan angin bertiup makin keras sampai hampir tidak tertahan lagi. Wang Sin bertiarap dan di lain saat ia meraba muka Ci Ying yang ternyata juga sudah bertiarap dekat sekali dengannya. Muka gadis itu begitu dekat sampai ia dapat merasai napas yang hangat dan bau yang harum. Hatinya berdebar lagi seperti tadi ketika gadis itu tertidur di atas pangkuannya. Benar aneh, ganas dan lihai sekali, pikirnya.
“Hi-hi, kanda Wang Sin. Bagaimana kau melihat jurus-jurusku tadi?” Gadis itu berkata kuat-kuat karena suara angin membuat orang sukar bicara dan takkan terdengar kalau tidak berteriak.
“Kau mau tahu namanya? Ketika aku robohkan orang pertama, itulah jurus Hek-mo-to-sim (Iblis Hitam Menyambar Hati), ketika aku menendang perut kerbau gemuk itu aku menggunakan jurus tendangan Toat-beng-twi (Tendangan Merenggut Nyawa) dan yang terakhir tadi sabuk merahku bergerak merampas golok dengan jurus Iblis Terbang Mencari Mayat. Bagus, bukan?”
Wang Sin bergidik. Sudah banyak ia mendengar ilmu-ilmu silat di dunia Kang-ouw dari suhunya, juga dari Ong Hui, akan tetapi belum pernah ia melihat jurus-jurus yang demikian ganas dan lihai, malah juga nama jurus-jurus itupun mengerikan. “Memang lihai...” jawabnya, “akan tetapi.... terlalu ganas. Ci Ying, kenapa kau bunuh orang-orang itu, malah kau membunuh secara demikian mengerikan?” Ia pun harus bicara keras untuk melawan riuhnya suara angin ribut.
“Apa kau bilang? Bicara dekat telingaku sini!” Ci Ying mendekatkan mukanya sehingga mulut Wang Sin sampai menempel di pipinya, dekat telinga. Jantung Wang Sin berdebar dan mukanya terasa panas saking jengahnya.
“Eh, bibirmu kok panas amat?” Ci Ying berseru.
Wang Sin menjauhkan mukanya akan tetapi, Ci Ying menempelkannya lagi. “Biarlah, panaspun tidak apa. Lekas kau bilang, apa yang kau katakan tadi.” Wang Sin mengulangi kata-katanya.
“Hi-hi, kau bilang ganas? Kau anggap aku keji membunuh tiga ekor kadal busuk itu? Kanda Wang Sin, tahulah kau siapa mereka itu? Mereka adalah sebangsa srigala-srigala hitam.”
Wang Sin kaget. Pernah ia mendengar tentang orang-orang yang berkeliaran di daerah itu, orang-orang jahat sekali yang tidak segan melakukan kejahatan macam apapun juga. Kadang-kadang menjadi saudagar-saudagar, bisa juga menjadi pencuri kuda, perampok atau penculik. Orang-orang begini disebut srigala hitam.
Ia sekarang mengerti mengapa Ci Ying membunuh mereka, akan tetapi kalau ia ingat akan cara keji yang dipergunakan gadis itu, ia berkata perlahan. “Membunuh orang-orang jahat memang tugas orang gagah, hanya cara kau membunuh mereka itu terlalu ganas.”
Rambut Ci Ying terlepas dari sanggulnya karena tiupan angin yang amat keras. Rambut itu menyambar-nyambar muka Wang Sin, mendatangkan rasa geli dan gatal. Sia-sia saja ia mencoba untuk menyingkirkan rambut itu karena amat banyak dan panjang. Di saat itu juga ia mencium bau harum yang keluar dari rambut panjang itu. Ci Ying di dalam gelap cepat mengetahui ini, dengan tertawa kecil ia menyingkap rambut dan membetulkan lagi.
“Kau tahu apa yang terjadi dengan diriku kalau sampai aku terjatuh ke dalam tangan kadal-kadal itu? Lebih ganas lagi mereka!”
Wang Sin tadinya tidak mau melayani gadis ini berbicara, hatinya sudah tak senang dan marah menyaksikan gadis ini begitu ganas dan kejam. Akan tetapi suara gadis ini menimbulkan ingin tahunya. “Bagaimana?” tanyanya singkat.
Suara Ci Ying berubah dingin ketika menjawab. “Hemm, kalau mereka tidak kubunuh dan sampai aku dapat tertawan, mereka itu bertiga, mungkin dengan konco-konconya yang lebih banyak lagi, akan mempermainkan diriku sampai mereka merasa bosan, kalau sudah bosan mereka akan menjual diriku kepada siapa juga yang berani membayar. Huh!”
Merah muka Wang Sin dan kembali ia bergidik. Sebagai seorang gadis, bagaimana Ci Ying bisa bicara tentang hal ini demikian terang-terangan terdengarnya tanpa malu-malu. Ia makin tak puas.
Angin ribut masih terus mengamuk sehingga kedua orang muda itu belum berani bangun, masih bertiarap di atas rumput. Sampai lama mereka diam saja. Kemudian Wang Sin yang mengetahui keadaan gadis itu mengajukan pertanyaan.
“Ci Ying, dulu kau pergi membawa anak kecil itu, di mana sekarang?”
Gadis itu menghela napas. “Kau maksudkan Wang Tui? Ah, dia telah mati.”
“Mati?” Suara Wang Sin mengandung iba, “Bagaimana dia sampai mati?”
“Aku ditangkap anjing-anjing hina dan anak itu hanyut terus dalam perahu. Bagaimana lagi kalau tidak mati?”
Wang Sin dapat menduga apa yang terjadi kemudian. “Lalu kau ditolong oleh orang yang menjadi gurumu, bukan? Orang macam apakah gurumu itu Ci Ying.
“Orang macam apa? Guruku adalah Cheng Hoa Suthai, ratu dari Heng-toan-san. Siapa tidak mengenalnya?” kata Ci Ying bangga. Wang Sin diam saja, ia anggap ucapan gadis ini sombong. Mana ada ratu di Heng-toan-san?
“Kanda Wang Sin, masih ingatkah kau ketika dahulu kau suka bernyanyi untukku ketika kau menggembala domba-domba? Sekarang angin ribut masih mengganas, tidak dapat kita duduk dengan enak. Supaya tidak membosankan dan mengusir hawa dingin, maukah kau bernyanyi untukku seperti dulu lagi?”
Hati Wang Sin sebetulnya sudah dingin, akan tetapi ia merasa tidak enak juga kalau ia bersikap terlalu kaku kepada bekas tunangannya ini. Apalagi bau rumput di bawa mukanya dan keadaan di situ mengingatkan dia akan penghidupan masa lalu, lalu membuka mulut bernyanyi.
Nyanyian yang merupakan keluhan para budak yang hidupnya tertindas. Suaranya keras dan nyaring. Nyanyian ini membangkitkan kembali semangatnya dan membuat ia merasa lebih dekat dengan Ci Ying malah menghidupkan lagi cinta kasih terhadap gadis itu.
“Wahai, Himalaya yang tinggi.
Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang.
Dapatkah kalian memberi jawaban?
Kedua tanganku kuat bekerja berat.
Tapi tiada seperseratus hasilnya.
Menjadi bagianku! Aku punya mulut. Tak dapat mengeluarkan suara hati. Telingaku disusur tuli. Mataku disusur buta.
Aku punya nyawa.
Tak lebih berharga seekor domba!
Wahai, Himalaya sembunyikan aku dipuncak-puncakmu!
Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku di muaramu!”
Setelah selesai bernyanyi, Wang Sin melihat gadis itu telah merebahkan kepala di atas dadanya sambil memeluknya. Ia makin terharu dan mengira bahwa gadis itu tentu menangis. Di dalam gelap itu mana ia tahu bahwa Ci Ying sama sekali tidak menangis malah tersenyum?
Agaknya bagi gadis ini yang sudah menjadi keras hati, tidak ada lagi watak untuk menangis. Karena terharu dan mengingat akan nasib gadis yang sudah yatim piatu dan tidak mempunyai seorangpun di dunia yang dapat memikirkannya kecuali dia sendiri, Wang Sin mengelus-elus kepala Ci Ying, cinta kasih yang lama terpendam sekarang timbul kembali.
“Ci Ying, jangan berduka, jangan kau menangis. Aku kan sudah berada di sampingmu?” katanya perlahan.
Ci Ying tidak menjawab, agaknya memperhatikan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara berbisik, sama sekali di dalam suara ini tidak ada tanda-tanda bekas menangis. “Kanda Wang Sin, tahukah kau bahwa telah datang banyak orang?”
“Aku tahu. Tadi sebelum datang angin ribut aku mendengar suara kaki orang dan kuda.”
“Kita telah dikurung oleh belasan orang.”
Wang Sin terkejut dan tubuhnya bergerak hendak bangun. Angin ribut telah mereda. Akan tetapi Ci Ying menahannya untuk rebah terus.
“Perlu apa ribut-ribut? Kita perlu mengaso, lebih baik kita tidur dulu. Di dalam gelap mereka takkan menyerang. Andaikata menyerang juga, dengan kepandaian kita berdua, apa yang kita takuti? Kau lihat, besok terang tanah aku akan menghajar mereka dan kita merampas dua ekor kuda.” Gadis itu tertawa perlahan.
Terpaksa Wang Sin rebah kembali, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Musuh mengepung, jumlah mereka belasan orang, Inilah berbahaya! Bagaimana Ci Ying bisa enak-enak tidur? Ia bangun duduk dan melihat gadis itu benar-benar sudah pulas dengan kepala rebah di pangkuannya.
Napas gadis itu perlahan dan rata, tanda sudah pulas. Dia sendiri tidak dapat tidur dan duduk diam melakukan siulan (samadhi) seperti yang ia pelajari dari gurunya untuk mengumpulkan semangat dan tenaga.
Menjelang pagi ia sudah dapat melihat bayangan-bayangan orang dan benar seperti ucapan Ci Ying malam tadi, ada belasan orang yang berdiri merupakan pagar mengurung mereka. Dia menghitung. Enam belas orang dan di tangan tiap orang terlihat golok besar. Tiga orang yang malam tadi dibunuh Ci Ying sudah tidak kelihatan mayatnya lagi. Mungkin diambil oleh kawan-kawannya.
Agak jauh dari situ tampak segerombolan kuda diikat pada pohon. Dia tidak dapat melihat jelas muka belasan orang itu, hanya dari bayangan mereka ia tahu bahwa mereka semua adalah laki-laki yang bertubuh tinggi besar.
Sementara itu, enam belas orang yang mengurung ketika melihat gadis tidur pulas dengan kepala di pangkuan seorang pemuda, mengeluarkan seruan marah. Mereka mulai bergerak maju dan mengurung makin rapat.
Wang Sin melihat ini menjadi khawatir. Ia hendak menurunkan kepala Ci Ying dari atas pangkuannya agar ia dapat melompat berdiri untuk menghadapi keroyokan mereka itu. Akan tetapi hebatnya ketika ia mengangkat kepala gadis itu, ternyata tidak bergeming. Kepala itu terasa amat berat olehnya dan tak dapat didorong turun.
“Ci Ying.... Ci Ying... bangunlah! Mereka mulai mengancam...!” katanya di dekat telinga gadis itu.
Gadis itu mengeluarkan suara lirih, menggeliat dan mengangkat dua lengannya ke atas. Dengan belakang tangan kiri ia menutupi mulutnya yang menguap kecil. “Aiiihhh, enaknya aku tidur....” katanya lirih, matanya disipitkan dan mulutnya tersenyum. Bertahun-tahun baru kali ini aku tidur nyenyak.” Ia lalu mengulur tangannya mengusap dagu Wang Sin yang licin.
Wang Sin menjadi kaget dan jengah sendiri. Bagaimana gadis ini begitu tak tahu malu, di depan banyak orang asing membelai-belainya? Perlahan ia mendorong tangan gadis itu dan berkata. “Ci Ying, orang-orang mulai mengurung rapat dan hendak menyerang. Kita harus siap sedia!”
Akan tetapi gadis itu malah meramkan matanya kembali lalu berkata sambil tersenyum. “Sepagi ini sudah banyak kadal berkeliaran, sungguh menjemukan!”
Ketika tiga orang malam tadi terbunuh, keadaan hanya remang-remang, maka semua orang itu tidak melihat jelas bagaimana kawan-kawan mereka terbunuh dan siapa di antara dua orang muda itu yang membunuh. Sekarang mendengar gadis itu memaki kadal kepada mereka, tentu saja mereka menjadi marah sekali.
Seorang di antara mereka, yang berkumis panjang, mengangkat golok dan berseru memberi komando. “Tangkap yang betina, bikin mampus yang jantan!”
Wang Sin mendongkol sekali. Sikap dan kata-kata semua orang itu seakan-akan sedang mengurung dua ekor atau sepasang binatang hutan saja. Ia kembali hendak melompat, akan tetapi tetap saja ia tidak kuat menurunkan kepala Ci Ying yang masih meramkan mata sambil tersenyum manis.
Pada saat itu, belasan orang itu sudah mendesak maju dan di antara mereka sudah mengangkat golok hendak menyerang. Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan kedua tangan Ci Ying bergerak. Sinar perak berkelebat dan tahu-tahu terdengar jerit-jerit kesakitan. Lalu empat orang di antara para penyerbu itu roboh terjengkang, berkelonjotan dan diam tak bergerak lagi. Ternyata di tenggorokan mereka sudah menancap sebatang jarum perak.
Selagi semua pengeroyok tertegun, Ci Ying sudah melompat bangun sambil tertawa mencabut sabuk suteranya. “Kanda Wang Sin, kau lihat baik-baik ujung sabukku!” kata Ci Ying tertawa dan tiba-tiba sinar merah berkelebat ke depan. Tahu-tahu ujung sabuknya yang kanan kiri sudah menyerang.
Dua orang yang diserang mencoba untuk menyabet sabuk itu dengan golok mereka. Akan tetapi gerakan sabuk ini terlalu cepat bagi mereka sehingga yang nampak hanya sinarnya. Sabetan golok mereka meleset dan tanpa dapat dicegah lagi, kedua ujung sabuk itu telah menotok jalan darah di dekat leher.
“Auukkk!” Dua orang itu melepaskan golok dan memuntahkan darah segar, tubuh mereka terguling dan napas mereka empas-empis.
Kagetnya para penyerang itu bukan kepalang. Dalam dua kali gerakan saja berkuranglah mereka dengan enam orang anggauta. Si Kumis Panjang tahu bahwa wanita cantik di depannya ini bukan sembarangan orang maka sambil melintangkan golok ia berseru menahan kawan-kawannya jangan maju, kemudian ia merangkapkan kedua tangannya ke dada sambil menghadapi Ci Ying dan bertanya.
“Nona muda yang gagah siapakah dan dari partai mana? Harap sudi memberi tahu agar kami tidak salah tangan menyerang orang segolongan!”
Ci Ying mengeluarkan suara mengejek, “Apa matamu buta dan kau tidak melihat ini?” Ia menunjuk ke arah kepala sendiri di mana terdapat sebuah penghias rambut terbuat dari perak dan batu permata hijau, merupakan setangkai bunga berwarna hijau.
Terdengar seruan-seruan kaget dan si kumis panjang itupun pucat. “Cheng-hoa-pai...!”
Memang Cheng Hoa Suthai, guru Ci Ying, adalah pendiri dari partai yang ia beri nama Cheng-hoa-pai (Partai Bunga Hijau) yang ia ambil dari namanya. Tak seorangpun sebetulnya mengetahui siapa nama asli Cheng Hoa Suthai.
Ia mendapat panggilan Cheng Hoa Suthai adalah karena rambutnya selalu dihias bunga hijau, biarpun ia sudah menjadi seorang pendeta. Karena banyak pengikut dan anak muridnya, maka ia mendirikan Cheng-hoa-pai yang berkedudukan di Heng-toan-san.
Cheng-hoa-pai ini terkenal sekali di dunia kang-ouw, anak-anak murid Cheng-hoa-pai adalah wanita-wanita yang selalu berwatak ganas dan berilmu tinggi, maka nama partai itu ditakuti orang. Apalagi oleh para penjahat karena biarpun ganas dan kejam, harus pula diakui bahwa yang dimusuhi oleh Cheng-hoa-pai memang sebagian besar adalah penjahat-penjahat.
Hal ini bukan berarti bahwa partai ini, adalah partai bersih. Bagi Cheng-hoa-pai, tidak ada istilah baik maupun buruk, pendeknya yang menghalangi dan menentang, mereka ganyang semua, baik maupun buruk. Adanya nama ini ditakuti sebagian besar oleh kalangan penjahat, mudah pula dimengerti, Cheng-hoa-pai adalah perkumpulan wanita dan banyak di antaranya yang cantik-cantik, tentu saja membuat orang-orang jahat suka datang mengganggu.
Maka banyaklah orang jahat yang sudah menjadi korban keganasan Cheng-hoa-pai. Demikianlah, tidak mengherankan apabila si kumis panjang itupun menjadi pucat ketika mengenal bunga hijau di rambut Ci Ying. Akan tetapi ia kelihatan bersangsi. Dia sudah banyak mendengar tentang Cheng-hoa-pai.
Anak-anak murid atau anggauta-anggauta Cheng-hoa-pai biasanya mempunyai hiasan kembang hijau yang hidup dan yang memakai kembang hijau dari batu kumala hanyalah Cheng Hoa Suthai sendiri dan beberapa orang anak murid yang bertingkat tinggi, yang sudah berusia tua. Masa gadis remaja ini sudah memakai kembang tiruan? Jangan-jangan gadis ini hanya mendapatkan di jalan lalu dipakai dan dipergunakan untuk menggertak.
“Nona.... nona dari Cheng-hoa-pai....? Akan tetapi....” Ia menggagap.
Ci Ying belum lama turun gunung. Ia tahu bahwa orang belum mengenalnya, maka menjadi sangsi dan mengira dia membohong. Sambil tertawa sabuk merahnya bergerak, meluncur ke depan, ke arah si kumis panjang. Orang ini kaget sekali dan melangkah mundur, namun tiba-tiba golok di tangannya terbetot secara tiba-tiba sehingga terlepas dari pegangannya. Ia melihat ujung sabuk merah yang membetot goloknya itu membawa goloknya terbang.
Sekali menggerakkan tangan gadis itu membuat golokanya terlempar ke udara, kemudian gerakan kedua menggetarkan ujung sabuk yang menyambar ke arah golok ditengah-tengah. “Krakk!” Golok itu patah menjadi dua kena dipecut oleh sabuk.
“Hebat...!” seru si kumis panjang. Ia sudah mendengar akan kelihaian Cheng Hoa Suthai bermain kebutan atau hudtim, dan permainan sabuk inipun menunjukkan bahwa gadis ini luar biasa lihainya. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh kawan-kawannya, yang kesemuanya dengan dia tinggal sepuluh orang itu.
“Siauwjin (hamba yang rendah) mempunyai mata tapi tidak melihat Gunung Thaisan di depan mata. Hamba sekonco telah membikin marah lihiap (pendekar wanita), mohon lihiap sudi memberi ampun.” Kata si kumis panjang dengan muka ketakutan.
Kembali Ci Ying mengeluarkan suara menghina dari hidungnya. “Hemmm, sebelum dihajar mana kalian bisa melihat orang. Kalian sudah kurang ajar, sekarang aku mau membunuh kalian semua. Kalian mau apa?” Sambil berkata demikian, nona ini melangkah maju, sikapnya mengancam.
“Ampun, lihiap... ampun...!” Suara minta ampun dari sepuluh orang ini riuh rendah. Benar-benar hebat dan mengherankan sekali. Sepuluh orang ini adalah bangsa kasar yang biasanya tidak takut pada setan sekalipun, dapat membunuh orang tanpa berkedip, dapat menyiksa orang sampai mati sambil tertawa-tawa. Akan tetapi menghadapi Ci Ying mereka minta ampun.
Melihat ini Ci Ying kelihatan gembira sekali. “Hi-hi-hi-hi, aku mau bunuh kalian. Akan kubeset kulit dadamu seorang demi seorang, kucabut jantungmu untuk diberikan kepada srigala-srigala liar. Hi-hi-hi!”
Seperti ayam-ayam makan padi di tanah, sepuluh orang itu mengangguk-anggukkan kepala sampai jidat mereka berdarah membentur batu, minta ampun dengan suara mohon dikasihani.
Wang Sin melompat bangun. “Ci Ying kau ampunkan mereka!” Suaranya keren, ia menahan kemarahannya karena tidak tahan melihat sikap Ci Ying yang amat ganas itu.
Ci Ying menengok kepadanya dan wajah yang tadinya keren itu berubah lembut. “Kau menghendaki demikian kanda Wang Sin? Baiklah, aku ampuni jiwa sepuluh ekor kadal ini, akan tetapi aku tidak bisa mengampuni matanya yang tidak melihat orang.” Ia memutar tubuh dan membentak. “Bekas-bekas bangkai! Hayo kalian copot mata kirimu dan berikan kepadaku. Baru aku mau ampuni kalian!”
Wang Sin hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Sepuluh orang itu terlalu girang kalau hanya menerima hukuman seperti itu, dianggap amat ringan. Dengan cepat mereka hampir berbareng menggunakan telunjuk menusuk mata kiri masing-masing, mencokelnya keluar dan berganti-ganti menyerahkan biji mata mereka itu kepada Ci Ying. Gadis ini sambil tertawa-tawa menerima sepuluh buah biji mata itu dan memasukkannya ke dalam kantong jarum rahasia.
“Kalian boleh pergi. Bawa pergi bangkai-bangkai yang bau ini dan tinggalkan dua kuda terbaik lengkap dengan perbekalan jalan!”
Sepuluh orang itu sambil menggunakan tangan kiri menutupi mata kiri yang sudah bolong dan mengalirkan darah, tergesa-gesa pergi dari situ membawa mayat sembilan orang dan meninggalkan dua ekor kuda besar yang paling baik. Sebelum pergi, tidak lupa mereka menjuramenghaturkan terima kasih kepada Ci Ying.
Hebat pemandangan ini. Wang Sin sampai merasa betapa kedua kakinya menggigil. Orang lain boleh takut setengah mampus kepada Ci Ying, akan tetapi dia tidak. Dalam pandangannya, gadis itu masih tetap Ci Ying yang dahulu, tunangannya yang lincah jenaka. Mengapa sekarang berubah begini?
“Ci Ying, kau benar-benar mengerikan. Untuk apa kau simpan sepuluh mata itu?” tanyanya, suaranya masih gemetar.
Ci Ying tertawa, lalu mengambil sebotol minyak dari sakunya. Dengan muka tersenyum ia menuang isi botol ke dalam kantong sehingga sepuluh buah mata itu terendam minyak yang berwarna merah.
“Kau tidak tahu. Dengan obat ini kesepuluh buah mata itu menjadi keras seperti gundu-gundu beling yang indah. Selain indah untuk permainan, juga berguna untuk dijadikan senjata am-gi (senjata gelap). Bukankah lebih bagus dari segala macam pelor besi? Hi-hi-hi!”
“Kau terlalu ganas, Ci Ying, terlalu kejam kepada mereka....”
“Mereka orang-orang jahat!”
“Biarpun begitu, cukup kau mengancam dan menakuti mereka, agar mereka mengubah hidup menjadi orang-orang baik.”
“Heh, tidak ada orang baik di dunia ini, semuanya jahat. Yang baik hanya kita, eh, kanda Wang Sin, yang tidak hanya kau dan aku!” Inilah “filsafat” yang selalu diajarkan oleh Cheng Hoa Suthai ketua Cheng-hoa-pai. Semua anggota Cheng-hoa-pai menganggap bahwa di dunia ini hanya sendiri yang baik. Orang-orang lain semua jahat, karena harus dimusuhi, dibasmi dan kalau perlu dibunuh.
Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka. Sekarang perjalanan dapat dilakukan dengan cepat karena mereka sudah mendapatkan dua ekor kuda yang baik dan yang sudah sering kali dipergunakan orang menjelajah daerah pegunungan itu. Mula-mula Wang Sin berpikir bahwa nanti kalau dia dan Ci Ying sudah berhasil membunuh Yang Nam, ia akan menjauhkan diri dari gadis ini, untuk kembali ke Kun-lun, mencari isterinya.
Akan tetapi makin lama melakukan perjalanan dengan Ci Ying, makin tahulah ia akan sifat gadis ini dan hatinya menjadi terharu. Ci Ying sebetulnya masih seperti dulu, lincah jenaka. Hanya saja, ada pengaruh aneh yang meliputi diri gadis ini dan pengaruh ini seperti penyakit dan kadang-kadang datang kadang-kadang pergi.
Kalau lagi waras, gadis ini tiada bedanya dengan Ci Ying tunangannya dulu. Akan tetapi kalau “kumat”, wah, benar mengerikan. Watak lincah jenaka berubah menjadi dingin keras, kehalusan berubah kekasaran, seorang dewi berubah menjadi seorang siluman betina.
Ia dapat menduga bahwa ini tentu akibat dari pelajarannya, akibat dari hubungannya dengan Cheng-hoa-pai dan diam-diam ia menaruh kasihan. Akan tetapi dalam keadaan bagaimanapun juga, sedang waras atau sedang gila, gadis itu tetap baik kepadanya dan selalu menunjukkan cinta kasih yang amat besar. Bagaimana ia tega untuk meninggalkan gadis ini?
Dalam hal ilmu silat, ia kalah jauh. Ia mengerti bahwa hal ini bukan sekali-kali karena ia kalah rajin belajar, melainkan karena orang yang menggembleng diri Ci Ying memiliki kesaktian luar biasa, memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada guru-gurunya di Kun-lun-pai. Diam-diam ia sering bergidik kalau memikirkan bagaimana hebatnya kepandaian dari Cheng Hoa Suthai orang yang menjadi guru Ci Ying, yang menjadi ketua Cheng-hoa-pai di Heng-toan-san.
Hari masih pagi sekali ketika dua orang muda ini sudah tiba di luar kota Lasha. Dari jauh sudah nampak bangunan-bangunan yang tinggi dan megah. Mereka menjadi kagum dan terpesona. Sampai lama mereka menghentikan kuda dan memandang ke depan, merasa seperti mimpi. Sudah semenjak kecil mereka mendengar hebatnya pemandangan di kota Lasha. Kota tempat tinggal para dewa.
Pada masa itu, Tibet masih diperintah oleh seorang raja. Akan tetapi, biarpun Tibet merupakan kerajaan, namun sebetulnya yang berkuasa adalah para pendeta Lama. Mereka ini besar sekali pengaruhnya dan tidak ada keputusan raja dikeluarkan tanpa lebih dulu minta persetujuan dari para pendeta-pendeta kepala.
Sudah terkenal sampai ke daratan Tiongkok bahwa di Lasha ini adalah kedungnya ilmu-ilmu yang aneh dan bahwa para pendeta Tibet ini banyak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kabarnya Tat Mo Couwsu banyak meninggalkan kitab-kitab yang tinggi luar biasa di daerah ini yang menjadi kedungnya agama Buddha.
Tempat inilah merupakan “stasiun”, tempat agama Buddha menyeberang dari India ke Tiongkok, maka tidak mengherankan apabila di situ terdapat banyak sekali pendeta-pendeta yang pandai. Raja yang masih muda seakan-akan hanya boneka di tangan para pendeta kepala.
Sudah jamak di dunia ini bahwa segala keadaan adalah dwipura. Ada tinggi ada rendah, ada besar ada kecil, ada baik ada buruk. Bukan hanya jamak, memang sudah seharusnya demikian menurut hukum Im-Yang. Tidak ada Im, mana bisa ada Yang? Tidak ada sebutan tinggi, mana bisa muncul sebutan rendah?
Kalau manusia tidak mengenal apa itu artinya buruk, mana bisa mengenal pula artinya baik? Dua sifat bertentangan, Im dan Yang inilah yang menghidupkan sesuatu yang menjadi sumber dari pada pengertian kita sehingga timbullah pengertian untuk mengenal, membedakan, dan karenanya panca indera kita dapat dipergunakan.
Demikian pula kehidupan di kalangan para pendeta Lama. Sungguhpun mereka itu semenjak kecil dijejali ajaran-ajaran agama yang selalu mengutamakan kebaikan melulu, namun dasar manusia ada yang baik tentu ada yang buruk. Kalau semua manusia baik, dunia tidak sekacau sekarang ini, tentu berubah menjadi taman sorgaloka.
Bukan hanya terdapat perbedaan-perbedaan, malah di antara pendeta-pendeta yang sudah tinggi tingkatnya, timbul bermacam aliran. Memang banyak terdapat pendeta-pendeta Lama yang betul-betul penganut agama yang amat saleh, beribadat dan taat sehingga merupakan orang-orang alim yang menyucikan diri.
Akan tetapi, tidak kurang-kurang pula banyaknya yang tersesat, menyeleweng dari ajaran agama atau lebih tegas menyelewengkan agama menjadi ilmu-ilmu setan atau ilmu-ilmu hitam. Malah banyak diantaranya yang begitu rendah sampai mau menjadi penjilat-penjilat para bangsawan untuk dapat mengecap kenikmatan duniawi sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya.
Seperti telah diketahui, putera tuan tanah Yang Can di Loka, yaitu Yang Nam, setelah menikah dengan puteri seorang berpangkat di Lasha, dia mendapat kedudukan pangkat yang lumayan. Di Lasha pada waktu itu, seperti di kota-kota besar lain di negara yang belum sempurna keadaannya, kemuliaan seseorang ditentukan oleh pangkat dan hartanya. Kalau ia berpangkat, apa pula berharta, mulialah dia. Besarlah pengaruh dan kekuasaannya...