Nona Berbunga Hijau Jilid 05

Cerita silat Mandarin non serial karya Kho Ping Hoo. Nona Berbunga Hijau (Kun-lun Hiap-kek) jilid 05
Sonny Ogawa

Nona Berbunga Hijau (Kun Lun Hiap Kek) Jilid 05, karya Kho Ping Hoo - PEKIK DAN JERIT pengecut para tukang pukul yang tiga orang lagi segera menyusul kawannya ketika para hamba tani mendatangi mereka dan menghujankan senjata-senjata kepada empat orang tukang pukul yang apes itu.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Akan tetapi tidak lama, karena sebentar saja tubuh mereka sudah hancur lebur, habis dihajar oleh puluhan orang yang rata-rata menyimpan sakit hati dan dendam yang amat besar turun temurun. Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati Thiat-tung Hwesio melihat hal ini. Permainan tongkatnya kacau balau dan ujung pedang Wang Sin sudah melukai pahanya, membuat celananya penuh darah.

Para hamba bersorak girang dan mereka ini tiada ubahnya seperti harimau-harimau yang haus darah. Mereka mendesak maju hendak membantu Wang Sin dan isterinya. Mereka tidak kenal takut dan sama sekali tidak mau mundur ketika tongkat hwesio itu yang disapukan ke belakang membuat dua orang hamba terjungkal roboh dengan kaki luka-luka. Mereka maju terus. Sakit hati dan dendam yang ditahan-tahan bisa membuat orang menjadi kejam hati. Kebencian yang meluap-luap dapat membuat orang mata gelap.

“Tangkap pendeta cabul ini!” teriak seorang wanita muda dengan rambut riap-riapan dan mata berputaran penuh kebencian.

“Jangan bunuh dulu, siksa biar dia minta-minta ampun.”

“Potong sedikit-sedikit dagingnya.”

“Kubur dia hidup-hidup.”

“Bakar dia.”

Demikianlah teriakan-teriakan para hamba tani, laki-laki dan perempuan, kakek-kakek, nenek-nenek, dan kanak-kanak. Mendengar teriakan-teriakan ini, wajah hwesio itu menjadi pucat sekali dan diam-diam ia memeras otak mencari hafalan doa-doa selamat yang pernah ia pelajari sebagai seorang pendeta.

Akan tetapi karena selama ini kerjanya hanya menurutkan nafsunya menjadi kaki tangan tuan tanah Yang Can, ia sudah lupa lagi akan semua doa. Rasa takut dan ngerinya membuat ia tidak dapat bertahan lagi menghadapi pedang Wang Sin dan Ong Hui. Ujung pedang Ong Hui lagi-lagi mencium pundaknya dan sekali pedang Wang Sin menyambar darah mengucur dari dadanya.

“Mati aku....!” Thiat-tung Hwesio mengeluh ketika ia terhuyung roboh. Puluhan pasang tangan hamba tani menyambutnya dan di lain saat tubuhnya sudah diseret-seret ke tengah sawah seperti seekor babi hutan yang baru saja ditangkap untuk disembelih beramai-ramai.

Melihat semangat para hamba tani bangkit, Wang Sin gembira. Apalagi ketika melihat dari kanan kiri, hamba-hamba tani yang lain datang pula berlari-lari untuk berkumpul sehingga mereka merupakan serombongan hamba tani yang jumlahnya seratus orang lebih, hatinya menjadi makin gembira.

Ternyata bahwa para kaki tangan tuan tanah di bagian lain segera melarikan diri meninggalkan pekerjaan ketika mendengar bahwa Wang Sin datang bersama seorang wanita Han yang cantik dan mengamuk.

“Kawan-kawan, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk menghancurkan tuan tanah Yang Can. Aku, Wang Sin yang kalian sudah kenal, dan ini isteriku, Ong Hui, kami sudah bertekad untuk membasmi tuan tanah Yang Can dan membebaskan kalian dari penindasan. Siapa ikut?”

Para hamba tani bersorak dan semua mengacungkan tangan yang kini sudah berlumur darah, darah empat orang centeng dan darah Thiat-tung Hwesio, di mana mereka bercucuran air mata.

Wang Sin membawa kepalan tangan kirinya ke muka untuk menghapus dua butir air matanya sendiri. “Bagus, mari kita serbu tuan tanah Yang Can dan kaki tangannya!”

Demikianlah, dipimpin oleh Wang Sin dan Ong Hui, mereka ini merupakan sepasukan orang-orang yang nekad, yang pada saat itu hanya mengenal satu tekad : Membasmi Tuan Tanah atau Mati!

Sementara itu, Yang Can sudah bersiap sedia. Ia terkejut setengah mati ketika melihat kaki tangannya berlari-lari mendatangi dengan muka pucat melaporkan segala kejadian. Hampir ia tidak dapat percaya ketika mendengar laporan bahwa Thiat-tung Hwesio juga sudah tewas di tangan Wang Sin. Thiat-tung Hwesio amat gagah, bagaimana bisa tewas di tangan pemuda hina itu?

“Lekas beritahukan Thouw Tan Losuhu dan panggil semua pendeta lama untuk membantu!” teriaknya dengan muka pucat.

Thouw Tan Hwesio, Lama jubah kuning yang bertubuh tinggi besar, tokoh pertama di dusun Loka dan dianggap sebagai manusia dewa, menjadi marah bukan main mendengar bahwa Wang Sin datang membuat ribut. Apalagi ketika mendengar betapa Wang Sin sudah membunuh Thiat-tung Hwesio, kemarahannya memuncak.

“Bocah ingusan itu berani membunuh seorang pendeta di sini? Biarkan dia datang, lihat akan pinto patahkan lehernya!”

Ucapan hwesio ini sombong sekali, akan tetapi tidak aneh kalau dia menyombong. Thouw Tan Hwesio bukanlah orang sembarangan. Dia menjadi kepala pendeta di kuil Loka adalah karena pengangkatan dari kuil pusat di Lasha. Dan sudah tidak asing lagi, bahwa pendeta yang datang dari Lasha tentulah orang gemblengan yang memiliki kepandaian tinggi, baik dalam bidang ilmu silat maupun ilmu kebatinan dan agama.

Tentu saja mendengar tentang diri Wang Sin, dia memandang rendah. Apa sih kelihaian seorang pemuda yang baru menekuni ilmu selama lima tahun. Biarpun dididik oleh orang sakti, tidak mungkin akan dapat melawannya. Apalagi di situ terkumpul banyak murid-muridnya dan kaki tangan tuan tanah yang rata-rata juga memiliki kepandaian silat.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati tuan tanah Yang Can ketika ia mendengar bahwa Wang Sin dan isterinya orang Han itu kini menyerbu ke dusunnya diikuti oleh seratus lebih budak-budak yang kini telah memberontak. Dari kaget ia menjadi marah bukan main. Saking marahnya tuan tanah ini merenggut topi dari kepalanya, dan membanting-banting topinya di atas tanah.

“Setan jahanam! Keparat Laknat! Bunuh budak Wang Sin itu bersama siluman wanita yang dibawanya. Tangkap semua budak dan beri rangketan lima puluh kali setiap orang, jangan beri makan sampai tiga hari!”

Kemudian ia menghadap Thouw Tan Hwesio sambil berkata. “Losuhu, tolonglah kami, harap jangan biarkan orang-orang hina itu menginjak-injak kehormatan kita.”

Thouw Tan Hwesio yang sedang menghadapi meja, sedang dijamu hidangan-hidangan lezat dan arak wangi, tertawa bergelak sampai tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak-gerak. “Ha-ha-ha, jangan khawatir.... jangan khawatir. Sekali pinceng menggerakkan tongkat, akan remuk batok kepala orang berdosa Wang Sin itu. Dua kali pinceng menggerakkan tongkat, siluman perempuan itu takkan dapat bernyawa lagi!”

Baru saja ia berkata demikian, di luar terdengar sorak sorai ramai di susul pekik yang riuh rendah. Para budak yang dipimpin Wang Sin dan Ong Hui telah tiba di situ dan sudah mulai “perang” melawan antek-antek tuan tanah.

Tentu saja para budak yang tidak bisa ilmu silat itu bukan tandingan para anjing tuan tanah, akan tetapi mereka berjumlah banyak, bersemangat tinggi dan sudah nekat. Apalagi di situ terdapat Wang Sin dan Ong Hui yang mengamuk bagaikan dua ekor naga sakti. Pedang suami isteri ini berkelebatan dan sukar ditahan. Karena para kaki tangan tuan tanah yang hanya berjumlah tiga puluh orang itu mulai terdesak mundur.

Beberapa orang di antara mereka sudah roboh oleh pedang Wang Sin dan Ong Hui, atau roboh oleh serbuan para budak yang sudah nekat dan tidak takut mati itu. Tentu saja di pihak para pemberontak sudah banyak pula yang roboh dikemplang toya atau dibacok golok.

Pertempuran makin hebat, para pemberontak makin mendesak dan mulai mendekati gedung besar tempat tinggal tuan tanah Yang Can. Keadaan amat mengancam bagi keselamatan keluarga tuan tanah itu.

Pada saat keadaan sedang ramai-ramainya, tiba-tiba dari samping gedung itu berlari seorang kakek yang terbungkuk-bungkuk dan tangannya meraba-raba ke depan. Ia nampak bingung dan mulutnya keluar kata-kata penuh gairah.

“Wang Sin pulang, Wang Sin pulang.... mana anakku Ci Ying?” Lalu ia berlari ke depan, tersandung jatuh, berdiri lagi dan berteriak-teriak. Ci Ying....! Ci Ying....! Kesinilah kau....!”

Semua orang yang sedang bertempur, baik dari pihak para budak maupun pihak tuan tanah, tidak memperhatikan atau memperdulikan orang ini. Akan tetapi ketika Wang Sin mendengar suara ini, ia cepat menengok sambil melompat mundur dari kepungan lawan. Bukan main kaget dan terharunya ketika melihat bahwa orang itu adalah ayah Ci Ying.

“Paman Ci Leng....!” serunya sambil menubruk maju melihat orang tua itu lagi-lagi tersandung dan terguling roboh sehingga ia masih sempat memeluknya. Wang Sin merasa kasihan sekali. Bagaimana kakek ini sekarang menjadi begini rusak tubuhnya dan buta matanya?

Ci Leng memeluk Wang Sin sambil meraba-raba pundak dan muka orang muda itu, mulutnya tertawa lebar. “Wang Sin.... ah, kau benar Wang Sin.... aku mendengar kau datang bersama seorang wanita cantik, tentu dia Ci Ying.... mana dia?”

Tertikam hati Wang Sin mendengar ini. Tidak boleh disalahkan orang tua ini. Memang tentu saja semua orang pun mengharapkan dia kembali bersama Ci Ying, karena bukankah dia dahulunya melarikan diri bersama gadis itu? “Bukan paman, bukan Ci Ying....” katanya lemah.

Naik sedu sedan putus asa di kerongkongan kakek itu. “Bukan Ci Ying....? Habis siapa dia... dan mana Ci Ying....?”

Belum sempat Wang Sin menjawab, terdengar bentakan nyaring, “Budak hina, kau berani kembali mengantarkan nyawa?”

Wang Sin kaget mendengar sambaran angin yang amat kuat. Cepat ia mengayun pedangnya ke belakang sambil melompat meninggalkan Ci Leng. “Traangggg.....!” Tangannya tergetar dan ia kaget melihat tongkat di tangan penyerangnya tidak patah seperti tongkat-tongkat lain ketika bertemu dengan pedang pusakanya. Ketika ia memandang, ternyata bahwa penyerangnya itu bukan lain adalah Thouw Tan Hwesio, si pendeta jubah kuning yang dulu amat ia takuti.

“Pendeta keparat, aku kembali untuk membasmi setan-setan macam-macam engkau!” seru Wang Sin yang cepat melakukan serangan.

Di lain saat kedua orang ini sudah bertempur hebat dan segera Wang Sin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian pendeta kepala ini benar-benar hebat dan masih jauh di atas tingkat kepandaiannya sendiri. Ketika ia melirik dan melihat isterinya pun didesak oleh tujuh orang pendeta murid Thouw Tan Hwesio, diam-diam ia mengeluh.

Sementara itu, para budak masih terus menerjang maju, berkelahi dan bergumul melawan kaki tangan tuan tanah. Pekik kemarahan dan jerit kesakitan bercampur aduk membuat keadaan di situ makin kacau dan mengerikan. Yang Can sendiri bersama keluarganya sudah sejak tadi menyembunyikan diri di dalam gedung.

Ci Leng yang tidak dapat melihat lagi, ketika mendengar bahwa anaknya tidak ikut Wang Sin datang, menangis tersedu-sedu dan menjadi putus harapan. Lima tahun ia menguatkan diri, menahan segala macam siksaan, dipukuil, dihina, dicokel matanya, akan tetapi ia masih hidup karena memang ia ingin hidup, ingin anaknya datang kembali menolong dan membalaskan dendam untuknya.

Benar saja Wang Sin kembali dan melakukan pembalasan, akan tetapi Ci Ying, anaknya, calon isterinya Wang Sin, kenapa tidak datang? Itu tentu hanya satu artinya, yaitu Ci Ying anaknya itu sudah mati. “Ci Ying...! Ci Ying...!” Kakek buta ini menangis.

Seorang tukang pukul yang kebetulan berada di dekat situ, melihat Ci Leng menjadi meluap kemarahannya. Inilah orangnya yang menjadi biang keladi sampai sekarang Wang Sin datang menggerakkan semua budak untuk memberontak.

“Anjing buta, mampuslah dulu kau!” serunya sambil mengayun golok membacok ke arah leher Ci Leng. Orang tua ini maklum bahwa dia yang dimaki dan hendak diserang, akan tetapi ia sudah tidak mempunyai nafsu untuk hidup, maka tanpa takut sedikitpun ia menanti datangnya maut.

Pada saat golok itu hampir menyentuh leher Ci Leng, terdengar jerit melengking yang amat tinggi dan nyaring, jerit yang membuat semua orang merasakan bulu tengkuknya berdiri. Malah hebatnya, jerit ini membuat banyak orang menggigil karena mengandung pengaruh yang mujijat.

Bahkan Wang Sin dan Ong Hui sendiri sampai melompat mundur ketika merasakan goncangan hebat dalam dada mereka mendengar jerit itu. Lebih hebat lagi, terdengar suara “krakk!” dan tukang pukul yang tadi menyerang Ci Leng, telah terlempar dengan kepala remuk. Di lain saat orang-orang melihat Ci Leng telah dipeluk oleh seorang perempuan cantik yang menangis dan mendekap kepala orang buta itu ke dadanya.

“Ayah.... ayah....!” wanita itu menangis sambil mengeluh.

“Ci Ying.....” Wang Sin terbelalak dan girang, akan tetapi ia harus cepat mengelak karena kembali Thouw Tan Hwesio sudah menyerangnya. Juga Ong Hui sudah dikeroyok lagi. Nyonya muda ini sudah lelah sekali dan pundaknya sudah terpukul toya, maka geraknya amat lambat dan ia terancam bahaya besar. Keadaan Wang Sin tidak lebih baik, ia didesak habis-habisan oleh Thouw Tan Hwesio yang lihai.

“Ci Ying datang...! Ci Ying datang....!” Para budak meningkat semangat bertempur mereka melihat kedatangan Ci Ying. Mereka mengamuk terus biarpun sudah banyak di antara mereka yang tewas.

Ketika pertempuran sudah berlangsung lagi hebat dari pada tadi, kini tak seorangpun dapat memperhatikan Ci Ying. Gadis ini masih seperti dulu, lima tahun yang lalu, masih cantik manis. Hanya pakaiannya yang kini sudah berganti seperti pakaian wanita Han. Rambutnya digelung tinggi, membuat wajahnya makin manis dipandang.

Senyumnya yang dulu masih membayang di bibirnya dan pipinya masih tetap kemerahan dihias lesung pipit di sebelah kiri. Akan tetapi kalau orang melihat sepasang matanya, ia akan menjadi kaget sekali. Mata ini luar biasa sekali, tajam dan mempunyai sinar yang aneh, malah menyeramkan.

Ci Leng menggerak-gerakkan pelupuk matanya yang buta dan dari mata yang sudah bolong itu mengalir air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum. “Ci Ying.... anakku.... syukurlah kau masih hidup...”

Kakek ini terengah-engah, memeluk anaknya erat-erat dan di lain saat ia telah menghembuskan napas terakhir dalam pelukan anaknya. Rupa-rupanya karena selama bertahun-tahun menderita sengsara dan mempertahankan diri untuk hidup karena ingin bertemu kembali dengan anaknya, setelah sekarang bertemu, kegirangan luar biasa menyebabkan kakek ini tidak kuat menahan dan jantungnya menjadi pecah mendatangkan kematiannya,

“Ayah... Ayah....!” Ci Ying meraung-raung, akan tetapi hanya sebentar saja ia menangis. Tiba-tiba ia terdiam dan meletakkan tubuh ayahnya di atas tanah. Kemudian bangkit berdiri, memutar tubuh dan sepasang matanya yang aneh itu menyapu-nyapu semua orang di situ. “Ayah, kau telah dibikin buta, disiksa, dibunuh.... lihat, lihat baik-baik ayah. Anakmu akan membasmi mereka!”

Tubuhnya mencelat ke tengah pertempuran, sambil mengeluarkan pekik menyeramkan. Hebat sepak terjangnya. Sekali mengulurkan tangan ia menyerang dua orang tukang pukul. Dua orang itu dengan penuh kengerian mengangkat senjata mereka, seorang membacok dengan golok dan yang kedua mengemplang dengan toya besi.

Akan tetapi Ci Ying tidak mempedulikan serangan ini. Tangan kirinya menyampok golok yang segera terpental patah dan toya yang mengemplang pundaknya tidak ditangkis, akan tetapi terpental ketika mengenai pundak. Di lain saat kedua tangannya sudah menyambar, tepat dua orang itu kena dicengkeram lehernya dan sekali remas terdengar suara keras dan tulang leher dua orang itu patah-patah. Tubuh mereka terkulai tak bernyawa lagi.

Sambil mengeluarkan lagi pekik mengerikan, Ci Ying melemparkan dua mayat itu ke arah tukang pukul-tukang pukul yang lain. Hebatnya, lemparan ini mengandung tenaga luar biasa kuatnya sehingga sekaligus dua orang tukang pukul dan seorang budak yang kena tertumbuk dua mayat itu terjungkal tak dapat bangun lagi. Kembali dia melompat maju dan menangkap dua orang tukang pukul yang sekaligus ia bunuh dalam cengkeraman kedua tangannya yang lihai.

Terdengar suara keras dan ternyata sekarang sebuah lengan tangan dari masing-masing tukang pukul telah putus terlepas dari pundak karena dibetot oleh Ci Ying. Dengan dua buah lengan ini ia lalu mengamuk ke kanan kiri dan dalam sekejap mata saja roboh enam orang tukang pukul lagi yang mengeroyok Ong Hui yang sudah kepayahan.

Melihat Wang Sin didesak oleh hwesio tinggi besar, Ci Ying melemparkan dua buah lengan itu ke arah pertempuran. Terdengar suara angin bersiut dan Wang Sin cepat mengelak sambil menangkis dengan tangan kiri. Alangkah terkejutnya ketika ia merasa lengan tangan kirinya itu menjadi sakit dan linu sekali. Bukan main, bagaimana Ci Ying bisa memiliki tenaga demikian hebat dan kepandaian demikian lihai?

“Ci Ying.....!” Ia berseru girang, kaget dan ngeri.

“Hi, hi, hi Wang Sin. Serahkan saja anjing budak bangkotan ini kepadaku!”

Adapun Thouw Tan Hwesio yang juga menangkis lengan itu dengan toyanya, merasa pula betapa telapak tangannya pedas. Ia kaget sekali dan jerih, akan tetapi serangan Ci Ying sudah tiba secara mendadak sehingga terpaksa ia melayani wanita aneh ini.

Tahu-tahu Ci Ying sudah menggunakan senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk merah yang bergerak-gerak lemas bagaikan ular, akan tetapi jangan dipandang ringan sabuk sutera ini karena setiap ujung sabuk tidak kurang ganasnya dari pada seekor ular beracun.

Sabuk ini digerakkan dengan tenaga lweekang yang mujijat, di samping dapat menotok urat-urat kematian, juga sabuk ini telah direndam racun yang hebat dan berbahaya sehingga andaikata pukulan sabuk dapat ditahan oleh ahli lweekang, namun pengaruh racun tetap saja merupakan ancaman maut.

Melihat dua ujung sabuk itu dengan ganasnya menyambar ke arah kepala dan dadanya, Thouw Tan Hwesio kaget sekali dan cepat ia memutar toyanya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Akan tetapi kali ini ia bertemu tandingan. Toyanya adalah senjata yang keras dan kaku, mana bisa mempengaruhi senjata sabuk sutera yang lemas.

Di lain saat toyanya sudah dilibat dan begitu Ci Ying membetot, hampir saja toya itu terlepas dari tangannya. Dalam kekagetannya, Thouw Tan Hwesio mengeluarkan seruan keras dan kedua kakinya secara bertubi-tubi mengirim tendangan, sedangkan keringat dingin membasahi mukanya.

Ci Ying mengeluarkan suara ketawa mengejek sambil menarik sabuknya dan mengelak ke belakang, kemudian ujung sabuknya kembali menyambar untuk menyambut kaki yang menendang, Thouw Tan Hwesio cepat-cepat menahan tendangannya. Celakalah kalau sampai kakinya kena terlibat.

Segera keduanya mengeluarkan kepandaian masing-masing dan bertempur seru, akan tetapi selalu hwesio itu berada di pihak terdesak oleh permainan sabuk yang amat aneh dan ganas sekali itu. Melihat ini, Wang Sin timbul kegembiraannya, dan cepat ia melompat dan menggerakkan pedangnya membantu Ci Ying.

Melihat majunya pemuda ini Thouw Tan Hwesio menjadi khawatir sekali. Ia memutar toyanya dan tiba-tiba mulutnya kemak-kemik dan di lain saat ia berseru dengan suara keras dan amat berpengaruh. “Rebahlah kalian!”

Hebat sekali suara Thouw Tan Hwesio ini. Dia adalah seorang ahli hoat-sut (sihir) yang merupakan ilmu hitam dan yang biasanya dipergunakan para pendeta Lama untuk mempengaruhi dan menakut-nakuti para budak. Seruan itu adalah semacam ilmu sihir yang pengaruhnya merampas semangat orang, membuat orang menurut akan kehendak yang menjalankan ilmu ini.

Wang Sin ketika mendengar seruan ini, tanpa dapat ditahan lagi lalu terhuyung dan hampir roboh. Andaikata dia hanya menghadapi hwesio itu seorang diri, tentu dalam keadaan seperti itu ia akan dapat diserang dan mengalami kecelakaan. Akan tetapi, alangkah heran dan terkejutnya hati Thow Tan Hwesio ketika melihat Ci Ying tertawa terkekeh-kekeh menghadapi serangannya dengan ilmu hitam tadi.

“Hi, hi, hi, anjing tua bangkotan, jangan membadut di depanku!” Dan Ci Ying terus menyerang sambil berkata kepada Wang Sin. “Wang Sin, mundurlah. Biarkan aku merampas kepala anjing gundul ini.”

Wang Sin tidak berani maju lagi. Ia menoleh dan melihat isterinya masih mengamuk dan dikeroyok lagi oleh beberapa orang hwesio dan tukang pukul, ia melompat dan membantu isterinya. Semangat suami isteri ini bangkit kembali melihat datangnya bantuan Ci Ying yang lihai.

Mereka tidak menghiraukan luka-luka mereka dan dalam beberapa jurus telah merobohkan pula empat orang hwesio murid Thouw Tan Hwesio. Para budak juga terus menyerbu, malah sekarang sudah mulai memasuki ruangan sebelah dalam gedung keluarga tuan tanah Yang Can.

Tuan tanah Yang Can ketika melihat keadaan yang amat berbahaya itu, telah mempersiapkan kuda dan berlari dari pintu belakang. Tuan tanah yang pengecut ini tidak memperdulikan lagi nasib keluarganya. Dengan sepuluh orang tukang pukul sebagai pelindung, ia melompat ke atas kuda dan melarikan diri.

“Tuan tanah keparat lari!” teriak Wang Sin. “Tahan dia jangan sampai lolos!” Besama-sama isterinya, ia meninggalkan pengeroyok-pengeroyoknya dan mengejar. Akan tetapi sepuluh orang tukang pukul menghalangi mereka dan kuda yang ditunggangi oleh Yang Can sudah mulai kabur.

Tiba-tiba kuda itu meringkik dan roboh, membawa tuan tanah itu roboh bersama. Ternyata sebuah pisau belati telah dilontarkan oleh Ci Ying dan tepat menancap di leher kuda itu. Melihat tuan tanah yang dibencinya itu hendak lari, Ci Ying mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa.

Sebuah ujung sabuknya menotok pergelangan tangan kiri Thouw Tan Hwesio membuat hwesio itu memekik kesakitan dan melepaskan toya, akan tetapi tangan kanan yang memegang toya masih digerakkan, mengayun toya ke arah leher Ci Ying.

Anehnya, Ci Ying sama sekali tidak mengelak, menerima saja gebukan ini. Benar-benar hebat gadis ini. Toya yang menghantam lehernya terpental dan sebelum Thouw Tan Hwesio hilang kagetnya, lengan kanannya sudah kena dicengkeram sampai patah tulangnya. Ia menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi tidak sempat mengelak ketika ujung sabuk merah menyambar dan melilit lehernya.

Hwesio tinggi besar ini kaget sekali. Tangan kanannya sudah patah dan tidak dapat digerakkan. Dengan tangan kiri ia merenggut sabuk yang melibat leher, ditarik-tariknya sekuat tenaga namun sia-sia. Sabuk itu membalut leher makin erat, ia terhuyung dan roboh, namun bagaikan ular hidup sabuk merah itu membelit terus sampai akhirnya kedua matanya melotot dan lidahnya keluar. Ia menghembuskan napasnya dalam keadaan mengerikan setelah kaki tangannya berkelonjotan.

Sambil tertawa mengerikan Ci Ying melompat dan mengejar Yang Can. Tuan tanah ini ketika roboh dari kuda, dengan ketakutan merangkak-rangkak hendak melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba lehernya ditangkap orang dan tubuhnya diangkat ke atas. Sekelebatan ia melihat wajah Ci Ying yang cantik akan tetapi dengan sinar mata yang membuat rambut kepalanya sampai berdiri saking takutnya.

Sinar mata itu bukan sinar mata manusia lagi, melainkan sinar mata iblis yang haus darah. Ia memekik-mekik sampai lehernya kering dan tidak ada suara lagi keluar dari lehernya ketika Ci Ying menyeretnya ke depan mayat Ci Leng.

Pada saat itu, semua budak di dusun Loka ternyata sudah ikut berontak dan menyerbu rumah tiga orang tuan tanah yang lain. Tidak terdapat banyak perlawanan pada tuan tanah yang lain itu karena semua pendeta Lama mementingkan tuan tanah Yang Can untuk mereka lindungi.

Tuan-tuan tanah yang lain itu siang-siang sudah melarikan diri, meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Kini para budak sudah menggabungkan diri dengan budak-budak tuan tanah Yang Can sehingga kekuatan mereka benar-benar tak dapat dibendung oleh para tukang pukul yang biasanya galak-galak dan kejam-kejam.

Akan tetapi, ketika melihat sepak terjang Ci Ying, semua pemberontak menjadi ngeri. Wang Sin dan Ong Hui yang sudah kehabisan lawan karena tukang pukul-tukang pukul yang masih hidup sudah pada melarikan diri cepat-cepat dari tempat pertempuran, kinipun memandang ke arah Ci Ying.

Gadis ini menyeret tuan tanah Yang Can dan melemparkannya ke depan mayat Ci Leng. Kemudian sambil terisak-isak gadis ini menyambar sebuah kursi, lalu ia mengangkat mayat ayahnya dan mendudukkan mayat itu di atas kursi.

Yang Can sudah menggigil seluruh tubuhnya, mukanya menyaingi muka mayat itu pucatnya dan ia mendeprok di atas tanah tidak bergerak lagi. Setelah puas menangis di depan mayat ayahnya yang sekarang duduk di kursi dengan kepala disandarkan ke belakang sehingga seperti sedang berdongak, Ci Ying membentak tuan tanah itu.

“Hayo berlutut memberi hormat kepada tuan besar Ci Leng!” Sambil berkata demikian tangannya mendorong pundak sampai tuan tanah itu roboh terguling.

Dengan ketakutan hebat Yang Can lalu merangkak dan berlutut di depan mayat Ci Leng, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tiada hentinya meminta ampun.

“Ayah, ini musuh besarmu, anjing hina dina Yang Can minta ampun atas semua perbuatannya yang keji kepadamu. Ayah, sukakah kau mengampuninya?” Ci Ying berkata lagi sambil memandang ayahnya. Sikapnya demikian sungguh-sungguh seperti sedang bicara dengan seorang hidup dan hal ini membuat semua orang yang berada di sini melongo dan ngeri.

Mayat Ci Leng masih lemas, belum kaku dan karena disandarkan tanpa ada yang memegangnya, tiba-tiba kepalanya terkulai ke kiri, Ci Ying cepat menahan tubuh ayahnya supaya jangan terguling dan membenarkan letak duduknya.

“Ah, jadi kau tidak mau mengampuninya, ayah? Baik, anak akan mengambil jantungnya untuk ayah dahar.”

Mendengar ini, Wang Sin sendiri sampai menjadi pucat mukanya. Tidak salah lagi, gerak gerik dan omongan gadis yang menjadi tunangannya itu menandakan bahwa Ci Ying sudah miring otaknya. Tiba-tiba gadis itu yang sudah menggerakkan tangan, tertawa bergelak melihat Yang Can menggigil minta-minta ampun.

“Ayah, biar dia merasai penderitaanmu lebih dulu.” Setelah berkata demikian, begitu tangan kirinya bergerak dengan dua jari dibuka, sepasang mata tuan tanah itu telah ia korek keluar.

Yang Can menjerit melolong-lolong kesakitan, dari dua matanya yang bolong keluar darah. Bukan main ngerinya. Sambil tertawa-tawa Ci Ying membawa dua biji mata itu kepada ayahnya dan memasukkan dua biji mata itu ke dalam rongga mata ayahnya yang sudah bolong.

“Biar matanya menggantikan matamu, ayah,” katanya lagi, suaranya nyaring tinggi dan masih merdu, akan tetapi mengandung pengaruh yang membuat orang merasa bulu tengkuknya meremang.

“Anjing hina, sekarang berikan jantungmu kepada ayah!” Tangan kanannya bergerak dengan jari-jari terbuka dan sekali tusuk tangannya itu telah masuk ke dalam dada Yang Can dan di lain saat tangan itu sudah membetot keluar sebuah benda kecil kemerahan yang berlepotan darah.

Itulah jantung Yang Can. Tubuh tuan tanah itu berkelonjotan tapi hanya sebentar, karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya. Dadanya terbuka lebar dan darah membanjir di lantai itu.

Ci Ying mengambil sebuah meja, dan menaruh jantung manusia di atas meja yang dipasang di depan mayat ayahnya. Kemudian matanya menyambar ke sana-sini, lalu tubuhnya mencelat dan di lain saat ia telah menghampiri dua orang tukang pukul yang masih rebah merintih-rintih. Dua kali tangannya bekerja dan leher tukang pukul itu telah ia tabas hancur dan putus hanya dengan tangan kosong. Ia membawa dua kepala itu dan ditaruhkan di atas meja pula.

Melihat ini, semua orang merasa ngeri. Wang Sin dan Ong Hui terkejut bukan main. Dengan tangan kosong sekali tabas memutuskan leher orang inilah kepandaian yang selain mengerikan, juga luar biasa lihainya. Saking heran dan seram, mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata, hanya mengikuti Ci Ying dengan pandangannya.

Sambil tertawa Ci Ying masih mencari tukang pukul-tukang pukul yang belum mati dan seperti tadi, ia memutus leher mengambil kepala orang sampai sebentar saja meja itu penuh kepala tukang-tukang pukul dan pendeta-pendeta Lama yang belasan jumlahnya.

“Itulah Thai-lek Pek-kong-jiu...” bisik Ong Hui, suaranya gemetar.

Gadis ini adalah puteri seorang jagoan, sudah banyak ia menghadapi pengalaman-pengalaman hebat, sudah sering ia melihat orang-orang pandai dan ilmu-ilmu yang lihai, akan tetapi baru kali ini dia menghadapinya dengan hati berdebar ngeri. Ia pernah mendengar dari ayahnya tentang ilmu pukulan Thai-lek Pek-kong-jiu yang amat lihai, yang membuat tangan orang menjadi sekuat baja, setajam golok. Maka melihat perbuatan Ci Ying, tanpa terasa lagi ia mengeluarkan ucapan itu.

Biarpun ia hanya berbisik di dekat suaminya, namun ternyata Ci Ying mendengarnya juga. Gadis ini cepat memutar tubuh dan sepasang matanya liar menentang Ong Hui. Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya menyambar ke arah Ong Hui dengan tangan mencengkeram.

Ong Hui kaget, cepat mengelak ke kanan. Ia merasai dinginnya hawa pukulan yang lewat di dekat lehernya, membuat ia bergidik. “Berbahaya....” katanya dalam hati.

Sementara itu, Ci Ying kelihatan heran melihat serangannya tidak berhasil. Dikeluarkannya sabuk merahnya yang lihai dan ia hendak menyerang lagi. Akan tetapi Wang Sin melompat maju dan mencegat. “Ci Ying, jangan....!”

Mendengar suara Wang Sin, gadis ini menengok dan agaknya baru ia teringat bahwa Wang Sin berada di situ. Ia ragu-ragu dan sambil memandang ke arah Ong Hui dengan mata liar penuh ancaman, ia bertanya. “Siapa dia...?”

Wang Sin bingung. Kalau keadaan Ci Ying tidak seperti itu, tentu ia akan mengaku terus terang malah hendak bicara dengan jelas mengapa ia sampai menikah dengan gadis lain. Akan tetapi di situ banyak orang, pula keadaan Ci Ying demikian menyeramkan, ia khawatir akan terjadi hal-hal lebih hebat kalau berterus terang.

“Dia... dia orang sendiri, Ci Ying, bukan musuh.”

Ci Ying tersenyum mengejek dan melempar rasa ejekan kepada Ong Hui. “Hemmm, baiknya ada tunanganku ini yang mengingatkan. Baiklah, melihat muka tunanganku, aku bebaskan kau dari kewajiban mengantar roh ayah.”

Sebelum Ong Hui yang menjadi marah sekali itu sempat menjawab, seperti orang diingatkan, Ci Ying berpaling kepada Wang Sin, memegang tangannya dan berkata girang, “Ah, hampir aku lupa, Wang Sin. Cita-cita kita sejak dulu belum juga terlaksana. Sekarang selagi ayah masih duduk di sana, mari kita langsungkan perkawinan kita di depan ayah.” Ia menarik tangan Wang Sin, diajak bersembahyang di depan mayat ayahnya.

Wang Sin menjadi pucat. Tak terasa lagi ia merenggut tangannya, terlepas dari pegangan Ci Ying. Gadis itu memandangnya dengan kerling dan senyum seperti dulu ketika mereka masih berada di situ. Manis dan menarik. Ternyata gadis ini masih belum kehilangan sifat-sifat cantiknya masih menarik dan manis. Hanya sepasang matanya itu saja yang membuat jantung Wang Sin berdenyut tak enak. Sepasang mata yang membayangkan sinar aneh menakutkan. Apa yang sudah terjadi atas diri gadis ini?

Melihat keraguan Wang Sin, Ci Ying bertanya, “Wang Sin, kanda Wang Sin yang baik, kenapa kau ragu-ragu?”

Wang Sin bingung tak dapat menjawab. Akhirnya ia menarik napas panjang dan bertanya, “Ci Ying, alangkah berubahnya engkau. Apakah yang sudah terjadi dengan dirimu? Bagaimana kau tahu-tahu bisa memiliki kepandaian sehebat ini?”

Ci Ying tertawa, masih merdu dan nyaring, akan tetapi kembali jantung Wang Sin berdenyut aneh mendengar suara ketawa yang seram ini. Setelah tertawa bergelak tanpa menjawab pertanyaan Wang Sin, Ci Ying tiba-tiba mengangkat kedua tangannya, memandang kepada semua budak yang berdiri di situ sambil berseru,

“Hai, kawan-kawan semua! Hayo kalian semua berlutut dan memberi hormat kepada tuan besar Ci Leng, ayahku!”

Para budak tidak ada yang berani membantah. Serentak mereka menjatuhkan diri berlutut, bahkan di antaranya ada yang mulai menangis untuk menyatakan kesedihan karena kematian Ci Leng. Wang Sin sendiri yang menaruh hormat kepada orang tua itu, tanpa ragu-ragu lalu berlutut pula memberi hormat. Ci Ying menangis dan tertawa bergantian seperti orang gila, kemudian ia berkata.

“Wang Sin, ketika aku melarikan diri, aku diculik oleh anjing-anjing tuan tanah. Kemudian aku ditolong oleh Cheng Hoa Suthai yang selanjutnya membawaku ke Heng-toan-san dan aku menjadi muridnya. Guruku itu setuju aku turun gunung membasmi para tuan tanah, dan setuju pula aku menikah denganmu, dengan siapa saja yang ku suka. Aku hanya suka kepadamu seorang Wang Sin. Sekarang mari kita bersumpah di depan ayah untuk menjadi suami isteri seperti yang kita cita-citakan dulu.”

Wang Sin sudah mengambil keputusan untuk memutuskan tali perjodohannya dengan Ci Ying, gadis yang sekarang berubah menjadi wanita menyeramkan ini. Ia tahu bahwa tidak akan mungkin ia mengawini gadis ini disamping isterinya. Maka dengan suara gemetar saking tegang hatinya akan tetapi dengan pandangannya jujur ia berkata. “Hal itu tak mungkin dilakukan, Ci Ying, karena....”

“Apa katamu? Karena apa....? Hayo katakan, kenapa kau menolak?” Suara Ci Ying berubah beringas, penuh ancaman.

“Karena.... karena aku sudah menikah! Dia itu, Ong Hui puteri suhuku, dialah isteriku,” jawab Wang Sin sambil menunjuk ke arah Ong Hui.

Ci Ying menengok dan memandang Ong Hui yang tentu saja kelihatan jelas karena dia ini tidak ikut berlutut seperti semua orang yang berada di situ. Melihat bahwa isteri Wang Sin adalah wanita yang tadi hendak diserangnya, kekagetan hati Ci Ying berubah menjadi kemurkaan hebat. Mukanya yang tadi berubah agak pucat mendengar jawaban Wang Sin, kini menjadi merah dan matanya makin liar berapi.

“Hei, kau berani merampas kekasihku? Kau sudah bosan hidup!” Sambil mengeluarkan pekik keras, tubuh Ci Ying mencelat dan ia mengirim serangan ke arah dada Ong Hui.

Wang Sin yang sudah menaruh hati khawatir dan sudah siap siaga, melompat maju dan cepat menangkis. Serangan Ci Ying tadi hebat sekali, sampai-sampai Wang Sin yang menangkis dari samping terpental mundur tiga langkah dengan lengan terasa sakit. Akan tetapi pukulan Ci Ying itupun meleset tidak mengenai Ong Hui yang sudah meloncat ke kiri.

Semenjak tadi, muka Ong Hui yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah. Sebetulnya ia merasa amat kasihan kepada Ci Ying yang sudah ia dengar riwayat hidupnya dari Wang Sin. Semenjak dulu iapun sudah siap sedia dan rela untuk membiarkan suaminya itu menikah dengan Ci Ying kalau mereka dapat saling bertemu kembali.

Hanya sama sekali ia tidak mengira bahwa Ci Ying tunangan suaminya itu ternyata demikian ganas wataknya. Betapapun juga ia mengenal aturan maka ia merasa berat hatinya seperti tertikam pedang ketika mendengar tuduhan Ci Ying bahwa ia telah merampas kekasih orang.

“Enci Ci Ying... sudah lama kami mencari-carimu. Kau menikahlah dengan dia kalau kau menghendaki... aku... aku biarlah aku pergi kalau kau tidak suka menjadi saudara tuaku...” Setelah berkata demikian, dengan isak ditahan nyonya muda ini membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

“Hui-moi....!” Wang Sin memanggil isterinya. Ketika Ong Hui tidak menoleh dan juga tidak kembali ia melompat mengejar. Tiba-tiba angin bersiut di pinggir kanannya dan tahu-tahu Ci Ying sudah berdiri menghadang di depannya, memandang kepadanya dengan sinar mata marah dan mulut tersenyum mengejek.

“Dia telah merampas hak orang lain dan sekarang pergi dengan aman, aku tidak turun tangan membunuh ia, juga sudah amat baik baginya.”

“Ci Ying, dia.... dia isteriku....” kata Wang Sin dengan hati terpukul.

“Hemmm, kalau aku.... apamukah? Sungguh rendah, dapat yang baru lupa yang lama. Apa kau hendak mengingkari janji lama yang diadakan oleh orang-orang tua kita?”

Wang Sin tidak dapat menjawab, ia bingung. Ia melihat bayangan isterinya sudah jauh sekali. Kembali ia hendak mengejar, akan tetapi dengan sekali dorong di pundaknya Ci Ying dapat menahannya, membuat Wang Sin hampir terjengkang. Orang muda ini kaget sekali dan maklum bahwa Ci Ying sudah memiliki kepandaian yang luar biasa dan ia takkan dapat melawannya.

“Akan tetapi dia.... dia sudah mengandung. Ci Ying, kau kasihanilah dia....”

Wajah Ci Ying yang cantik itu berubah ketika sinar matanya kembali menjadi liar. Ia bertolak pinggang dan suaranya penuh ancaman. “Wang Sin, hanya ada dua jalan kalau kau hendak kembali kepada kuntilanak itu. Pertama kau bunuh aku kalau kau bisa, dan kedua aku akan mencari dia dan membunuh dia dan anaknya!”

Inilah kata-kata yang hebat, yang membuat jantung Wang Sin berdebar keras. Tak dapat ia mengambil keputusan di saat itu. Hati kecilnya berkata bahwa dalam hal ini, dialah yang salah. Ci Ying hanya menuntut haknya sebagai akibat dari ikatan jodoh yang lalu. Dia maklum akan hal ini.

Maka ketika ia hendak dinikahkan dengan Ong Hui dahulu, dia sudah ragu-ragu dan sudah berterus terang kepada Ong Hui dan ayahnya. Akhirnya dia menerima karena dia berpengharapan kalau Ci Ying masih hidup, ia dapat mengawini tunangannya itu disamping Ong Hui.

Siapa kira bahwa Ci Ying benar-benar masih hidup dan gadis ini tidak rela membiarkan dia menikah dengan wanita lain. Siapa kira Ci Ying sudah begini berubah, membuat cintanya yang dahulu lenyap. Cinta kasihnya yang dulu terhadap Ci Ying telah diganti dengan cinta kasih terhadap Ong Hui, terhadap isterinya, ibu dari calon anaknya.

“Wang Sin, di mana semangatmu?” Ci Ying menegur. “Bukankah kau kembali untuk menolong kawan-kawan dan saudara-saudara kita? Benar kita sudah berhasil membasmi tuan tanah-tuan tanah dan kaki tangannya di Loka, akan tetapi bukankah musuh besar kita yang utama, si anjing Yang Nam, masih hidup?”

Wang Sin sadar mendengar ini. Baiklah, pikirnya, urusan penting ini diselesaikan dulu. Kelak mudah dia menyusul isterinya. Adapun tentang perjodohannya dengan Ci Ying, perlahan-lahan ia dapat menyadarkan gadis ini bahwa ikatan jodoh itu tidak mungkin dilanjutkan mengingat bahwa dia sudah mempunyai isteri lain, malah sudah hampir menjadi seorang bapak. Akan ia ceritakan perlahan-lahan kepada Ci Ying tentang pertemuannya dengan Ong Hui dan mengapa ia sampai menikah dengan gadis Han itu.

Setelah kembali memikirkan nasib kawan-kawannya, para budak itu, bangkit kembali semangat Wang Sin dan ia dapat melupakan kebingungannya karena urusan pribadinya. Ia melihat semua budak dari dusun Loka sudah berkumpul di tempat itu dan segera ia mendengar laporan mereka.

Ternyata bahwa semua tuan tanah telah melarikan diri berikut keluarga mereka, dilindungi oleh beberapa orang tukang pukul, pendeta dan alat-alat negara yang ikut melarikan diri ke utara. Dusun Loka sudah kosong ditinggalkan, yang ada hanya sisa para budak yang tidak tewas dalam pertempuran.

“Nak Wang Sin dan Ci Ying, kalian telah menolong kami dari penindasan para tuan tanah di Loka, untuk itu kami merasa beruntung dan berterima kasih sekali. Impian yang sudah berabad-abad dimimpikan oleh para budak hari ini menjadi kenyataan. Akan tetapi, harap kalian tidak kepalang tanggung menolong kami,” kata seorang budak tua yang bersemangat dan tadi ikut bertempur mati-matian.

“Apa maksudmu paman tua?” tanya Wang Sin.

“Masih ada tuan tanah dan kaki tangannya yang berhasil melarikan diri,” jawab budak itu.

“Sudah dapat dipastikan bahwa mereka tentu akan melaporkan diri ke Lasha. Kejadian hari ini di Loka tentu takkan dibiarkan begitu saja oleh pembesar-pembesar di Lasha, juga kematian pendeta-pendeta Lama yang membantu tuan-tuan tanah tentu takkan dibiarkan oleh pendeta-pendeta kepala di sana. Pembalasan tentu akan segera tiba dan sukar dibayangkan apa yang akan terjadi kalau bala tentara dan para pendeta itu datang membalas dendam ke sini,”

“Takut apa?” tiba-tiba Ci Ying berseru keras mengagetkan semua orang. “Biarkan mereka datang akan kuganyang satu demi satu?”

Wang Sin mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Tidak bisa begitu, Ci Ying. Kau dan aku mungkin bisa menjaga diri dan melakukan perlawanan. Akan tetapi bagaimana dengan kawan-kawan yang lemah ini? Kalau pembalasan dari Lasha datang jumlah mereka tentu akan lebih banyak dan tidak dapat kita membiarkan kawan ini menjadi korban.”

Ci Ying hendak membantah, akan tetapi setelah ia mulai berbaik kembali dengan tunangannya ini, tidak mau ia bertengkar. Ia tertawa dan berkata. “Kanda Wang Sin yang baik, terserah kau yang urus. Sebagai istrimu aku menurut saja.”

Kecut-kecut hati Wang Sin mendengar ini, akan tetapi ia tidak dapat membantah, hanya tersenyum saja. Lalu ia menghadapi semua budak dan berkata, suaranya keras dan nyaring.

“Kawan-kawan semua! Urusan menghadapi musuh kalian serahkan saja kepada aku dan Ci Ying. Sekarang harap kalian suka memenuhi permintaanku ini. Lebih dulu kalian urus semua jenazah kawan-kawan kita yang gugur, kubur baik-baik dan rawat yang terluka. Kemudian kumpulkan semua harta milik tuan tanah dan bagi-bagi yang rata. Setelah itu kalian harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan carilah penghidupan baru di tanah timur di mana kalian akan terbebas dari penghisapan dan penindasan tuan tanah yang kejam. Biar aku dan Ci Ying menjaga keamanan kalian sampai kalian dapat keluar dari tapal batas Tibet.”

Semua budak setuju dan beramai-ramai mereka lalu bekerja siang malam. Permintaan Wang Sin ini dapat diselesaikan dalam waktu dua hari dan pada hari ketiga berangkatlah mereka itu, lebih dari tiga ratus orang budak, berbondong-bondong melarikan diri ke timur.

Setelah mengawal rombongan pengungsi ini selama dua hari, Ci Ying lalu berkata kepada Wang Sin. “Cukup, kita tidak boleh mengawal terus. Kita harus kembali!”

“Kenapa?” tanya Wang Sin kaget.

“Kita harus mengejar ke Lasha. Anjing Yang Nam masih belum mampus!” Ketika menyebut nama ini matanya memancarkan sinar kilat.

Wang Sin mengangguk. “Kau betul, setelah sampai di sini, sebelum membasmi Yang Nam, tugas kita belum selesai. Membasmi pohon jahat harus dengan akar-akarnya, dan di antara semua musuh kita, Yang Nam paling busuk.” Sama sekali dia tidak menyangka bahwa sebetulnya adanya Ci Ying mengajak dia kembali ke barat untuk menyerbu ke Lasha, sebetulnya karena gadis ini khawatir kalau-kalau Wang Sin hendak menyusul Ong Hui.

Wang Sin lalu mengumpulkan para pengungsi dan berkata. “Sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan dan sebaiknya dilakukan secara berpencar. Kalau terlalu banyak bergerombol bisa menimbulkan kecurigaan dan juga lebih mudah terdapat jejak kalian kalau ada pengejaran...”

Jilid selanjutnya,