Cheng Hoa Kiam Jilid 43, karya Kho Ping Hoo - BENG KUN CINJIN memandangnya tajam. "Aku takkan mengganggunya. Siapa orangnya mau mengganggu calon mantunya...? Ha... anak baik. Tak usah kau herankan. Anakku yang baik, pinceng telah tahu bahwa kau mencinta nona ini. Aku sengaja menangkapnya untuk memaksanya menerimamu sebagai suaminya. Kun Hong, berlututlah kau dan akui pinceng sebagai ayah, nona ini akan kuberikan kepadamu dan nanti akan kuminta Siansu mengumumkan pernikahanmu."

Kun Hong berdiri seperti terpaku pada papan perahu. Bahwa Beng Kun Cinjin tahu akan cinta kasihnya kepada Pui Eng Lan, ini bukanlah hal mengherankan. Juga bahwa Thai Khek Sian dapat bersekutu dengan Beng Kun Cinjin, tidak terlalu mengherankan. Burung gagak tentu selalu mencari bangsa atau golongannya.
Akan tetapi ditawannya Eng Lan itulah yang membuat ia tidak berdaya, membuat ia sekaligus bingung tak tahu harus berbuat apa. Ia maklum bahwa selain mengandalkan bantuan. Thai Khek Sian, Beng Kun Cinjin hendak mempergunakan Eng Lan untuk menaklukkannya, untuk membuat ia mengakuinya sebagai ayah dan tidak memusuhinya lagi.
"Beng Kun Cinjin, permusuhan antara kita berdua tidak ada sangkut pautnya dengan nona Pui Eng Lan. Jangan ganggu dia, lepaskan!" kembali Kun Hong berkata keras.
"Kalau kau tidak mengakui aku sebagai ayahmu, berarti dia inipun bukan anak mantuku, melainkan seorang mata-mata musuh yang harus dibunuh." Kata-kata Beng Kun Cinjin ini merupakan ancaman biarpun diucapkan dengan halus.
"Keji.....!!" Kun Hong kini tidak ragu-ragu lagi. Beng Kun Cinjin hendak menggunakan Eng Lan untuk memaksa dia menakluk. Kemarahannya meluap dan sudah gatal-gatal kedua tangannya hendak menubruk dan mencekik leher orang yang dibencinya itu.
"Kun Hong, jangan kurang ajar. Kau membikin aku malu saja, masa begitu sikapmu terhadap ayahmu? Hayo kita ke pulau kosong dan selesaikan urusan ini sebelum urusan besar kita hadapi, tiba-tiba Thai Khek Sian berkata lantang. Setelah berkata demikian, kakek aneh ini menggerak-gerakkan kedua tangan ke kanan kiri perahu dan hebatnya, perahu itu meluncur laju seperti didayung orang dengan kuat. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa besar tenaga dalam tokoh nomor wahid dari golongan Mo-kauw ini!
Karena tidak ingin keributan antara ayah dan anak ini diketahui orang lain, Thai Khek Sian lalu membawa mereka ke pulau kosong dan seperti telah dituturkan di bagian depan, kebetulan sekali di pulau itu bersembunyi Lan Lan dan Lin Lin yang ditinggalkan oleh Wi Liong dan Kong Bu yang melakukan penyelidikan.
Lin Lin mengenal Kun Hong, pemuda yang pernah ia tolong ketika ia masih tinggal di dalam gua di Thian-mu-san bersama Kwa Cun Ek. Dan ia sudah mendengar pula siapa adanya pemuda itu dan sedikit riwayatnya sudah pula ia mendengar dari Wi Liong. Akan tetapi dia, apa lagi Lan Lan, tidak mengenai siapa adanya gadis yang diikat pada batang pohon itu.
Juga tidak mengenal Beng Kun Cinjin dan Thai Khek Sian. Akan tetapi setelah melihat lebih lama lagi, teringatlah Lin Lin bahwa ia pernah melihat hwesio gundul itu, Beng Kun Cinjin, karena pernah hwesio ini berkunjung kepada suhunya dahulu di Kun-lun-san.
"Hwesio muka hitam itu apakah bukan Beng Kun Cinjin?" pikirnya di dalam hati.
Dengan hati tertarik Lan Lan dan Lin Lin menyelinap di antara pohon dan melakukan pengintaian. Diam-diam keduanya mengambil keputusan untuk menolong gadis yang diikat pada batang pohon itu, gadis yang biarpun berada dalam keadaan tak berdaya namun masih bersikap gagah dan sepasang matanya penuh keberanian dan memandang dengan sinar berapi-api itu. Bukan main gagah dan cantik manisnya, membuat Lin Lin dan Lan Lan kagum dan menaruh simpati.
Kun Hong yang sudah tidak sabar lagi melihat Eng Lan diikat pada pohon, dengan suara keras bertanya, "Setelah kalian membawa aku ke sini, apa kehendak kalian?" Ia tidak menaruh hormat lagi kepada Thai Khek Sian dan sedikitpun ia tidak takut.
Beng Kun Cinjin menoleh kepada Thai Khek Sian. "Mohon keputusan Siansu karena teecu tidak berani lancang bertindak tanpa seijin Siansu." Sikap ini jelas sekali memperlihatkan sifat menjilat dan tahulah Kun Hong bahwa musuh besarnya itu selain telah menjadi murid Thai Khek Sian dan menjadi pembantunya, juga berhasil membujuk guru besar itu dengan jalan menjilat. Hatinya makin mendongkol.
Thai Khek Sian berdiri menghadapi Kun Hong dan suaranya mengandung kemarahan ketika berkata, "Kun Hong, melihat sikapmu sekarang makin jelaslah bahwa kau telah murtad. Dosamu bertumpuk dan sekarang kau harus dapat memutuskan sendiri karena nasibmu tergantung kepada sikapmu sekarang. Pertama-tama, kau telah menghinaku dengan jalan menerima pelajaran dari Kui-bo Thai-houw.
"Ke dua, kau telah bersikap murtad dan berani melawan ayahmu sendiri, malah mengejar-ngejar hendak membunuhnya. Perbuatan-perbuatan ini merupakan penghinaan kepada aku yang menjadi gurumu. Sekarang, ayahmu dengan rendah hati melupakan semua perbuatanmu, minta-minta kepadaku untuk mengampunimu asal kau suka mengakunya sebagai ayah dan menghentikan permusuhanmu.
"Malah-malah dia mintakan ampun bagi nyawa nona ini karena mengingat bahwa kau mencintanya. Lekas kau berlutut mengakui ayahmu dan minta ampun padaku. Hanya dengan jalan begitu kau akan diampuni dan akan kami kawinkan dengan gadis pilihanmu ini!"
Sampai menggigil tubuh Kun Hong menahan gelora hatinya. Ia terdesak di sudut, tak dapat lari lagi. Sebetulnya keputusan itu memang amat enak baginya. Dia tidak dimusuhi Thai Khek Sian dan dapat mengawini Eng Lan yang memang menjadi buah impiannya setiap malam. Mau apa lagi? Akan tetapi, hatinya tidak mengijinkan ia menerima keputusan ini. Bagaimana ia dapat mengawini Eng Lan dengan cara paksa?
Cinta kasihnya terhadap Eng Lan adalah cinta kasih yang suci, tidak seperti ketika ia mencinta semua wanita cantik Selain keberatan ini, juga terutama sekali, bagaimana dia bisa bersekutu dengan Thai Khek Sian setelah kini ia sadar? Lebih-lebih lagi, bagaimana bisa berbaik lagi dengan Beng Kun Cinjin, orang yang telah membunuh ibunya?
Tak mungkin. Apakah ia akan kembali ke jalan sesat, hanya karena ia ingin mendapatkan diri Eng Lan, hanya untuk menyelamatkan Eng Lan? Menyeret diri ke dalam lembah kehinaan, mungkin ikut menyeret Eng Lan pula?
"Tak mungkin!" suara hati ini terbawa keluar merupakan bentakan yang keras, la sendiri terkejut, akan tetapi karena sudah terlanjur, ia melanjutkan dengan suara gagah, "Tak mungkin aku dapat melupakan bahwa Beng Kun Cinjin adalah pembunuh ibuku. Aku harus membunuhnya untuk membalas sakit hati!"Beng Kun Cinjin berkata dengan nada mengejek. "Kun Hong, hanya sebegitu saja cintamu kepada nona ini? Apa kau tidak mau menukar nyawaku dengan nyawa nona ini? Pendeknya, sekarang kau tinggal pilih. Menurut perintah Sian-Su dan hidup bahagia sebagai puteraku dan suami gadis ini, atau kubunuh dia ini di depan matamu dan kaupun takkan dapat berbuat apa-apa kepadaku di depan Siansu."
Hati Kun Hong berdebar keras. Kalau dia sendiri terancam bahaya maut, kiranya ia tidak akan segelisah itu. Ia tahu, bahwa ancaman yang keluar dari mulut Beng Kun Cinjin bukan gertak semata dan ancaman itu akan dilaksanakan. Melihat Eng Lan terbunuh di depan matanya, benar-benar akan menghancurkan hatinya.
Ia ragu-ragu. Kalau dahulu, kiranya ia takkan ragu-ragu untuk melakukan tipu muslihat, berpura-pura menakluk untuk menolong nyawa Eng Lan dan kemudian apa bila mendapat kesempatan, melanjutkan niatnya membunuh Beng Kun Cinjin.
Demikianlah ajaran-ajaran dari Bu-ceng Tok-ong, mencari kemenangan dengan jalan apapun juga, baik dengan kekerasan, kekejian, maupun tipu muslihat licik. Akan tetapi sekarang hatinya tidak mengijinkan ia melakukan tipu muslihat, apa lagi di depan Eng Lan yang dalam hal ini ia anggap menjadi gurunya.
Melihat keraguan Kun Hong, Beng Kun Cinjin menoleh kepada Eng Lan dan berkata, suaranya halus dan sopan, "Nona Pui, kau telah mendengar sendiri akan semua yang kami bicarakan. Kau dan gurumu telah menyelundup dan melakukan penyelidikan seperti mata-mata musuh yang keji sehingga gurumu tewas dan kau tertawan. Menurut patut, kaupun sudah harus dibunuh.
"Akan tetapi mengingat bahwa kau adalah kekasih anakku Kun Hong, kami mengampunimu. Nona, dari pandang matamu pinceng maklum bahwa kaupun mencinta Kun Hong, maka demi kebahagiaan kalian berdua, demi kebaikan kita bersama, mintalah kepada bocah kepala batu ini supaya mentaati perintah Siansu yang cukup adil."
Gadis lain yang menghadapi kematian dan melihat jalan keluar itu mungkin akan menjadi lemah hatinya. Memang tak dapat disangkal pula oleh Eng Lan sendiri bahwa apapun yang telah terjadi, betapapun panas dan cemburu hatinya melihat Kun Hong di Pulau Ban-mo-to dahulu, tetap saja di lubuk hatinya terisi oleh Kun Hong, tetap ia mencinta pemuda itu sepenuh hati dan jiwa.
Kini jalan keluar dari bahaya maut itu adalah menurut dan menikah dengan pemuda pujaan hatinya itu. Gadis mana yang takkan menurut? Akan tetapi Eng Lan lain wataknya. Ia gagah dan setia, menjunjung kegagahan jauh lebih tinggi dari pada kepentingan dan perasaan hati sendiri. Ia mengangkat muka dan dada, memandang Beng Kun Cinjin dengan mata berapi-api melalui air matanya, dadanya berombak turun naik lalu berkata nyaring.
"Siluman-siluman jahat, kalian sudah membunuh suhu. Kalau mau membunuh aku, lakukanlah siapa takut mampus? Aku tidak mengemis ampun! Aku tidak mengharapkan pertolongan, dari siapapun juga!" Kemudian gadis ini memandang kepada Kun Hong dan berkata keras, "Kun Hong, kalau kau benar-benar mencintaku, perlihatkan kegagahanmu. Lebih baik mati dari pada tunduk kepada mamusia-manusia iblis!”
Berubah seketika wajah Kun Hong yang tadinya kusut dan muram. Kini menjadi berseri dan matanya bersinar-sinar agak basah. Ia terharu dan gembira sekali. Mulutnya tersenyum lebar ketika ia memandang ke arah Eng Lan.
"Eng Lan, terima kasih....!" Kemudian ia tertawa bergelak sambil menerjang maju, menyerang Beng Kun Cinjin!
Beng Kun Cinjin yang tahu akan kelihaian Kun Hong, memaki, "Anak puthauw (durhaka)!" sambil melompat ke belakang Thai Khek Sian untuk berlindung.
Thai Khek Sian mengeluarkan suara aneh dan membentak, "Kun Hong, tahan dan jangan kurang ajar!"
"Suhu, minggirlah dan jangan mencampuri urusan antara dia dan teecu!" Kun Hong menahan diri.
"Bocah gila, mundur kau, jangan bikin aku marah." kata pula Thai Khek Sian.
''Siansu, sekali lagi, minggirlah!" Kun Hong sekarang membentak.
Thai Khek Sian membanting kakinya, marah sekali. "Jahanam, apa kau hendak melawan aku pula, aku gurumu!" Ia meludah ke atas tanah lalu berkata lagi, "Apa kau begitu jahat untuk melawan ayah dam guru sendiri?"
Kun Hong menggerak-gerakkan pedangnya. "Thai Khek Sian, kau dan Beng Kun Cinjin sama-sama jahat bukan main dan aku sudah bersumpah untuk melawan kejahatan. Biarpun ayah sendiri atau guru sendiri, kalau jahat, akan kulawan dengan taruhan nyawa!"
Ucapan yang dikeluarkan oleh Kun Hong ini pada masa itu memang merupakan ucapan yang amat aneh dan janggal didengarnya, juga amat jahat. Pada jaman itu, kebaktian merupakan pribadi atau watak yang paling penting di antara semua kewajiban hidup. Bakti terhadap orang tua dan bakti terhadap guru.
Pada masa itu, orang tua dan guru merupakan orang-orang dengan kekuasaan tertinggi dan mutlak yang harus ditaati oleh anak atau murid. Jahat atau baiknya orang tua maupun guru bukan soal. Pokoknya anak atau murid harus taat dan inilah yang disebut "kebaktian" pada masa itu. Tentu saja sikap Kun Hong yang revolusioner dalam arti kata menentang atau merobah aturan lama yang sudah mendarah daging ini, terdengar bagaikan halilintar di musim kemarau.
Kun Hong sendiri maklum akan kenekatannya ini, kenekatan yang sebagian besar terdorong oleh cinta kasihnya terhadap Eng Lan dan sebagian pula terdorong oleh warisan dari Bu-ceng Tok-ong yang selalu tak mau mempergunakan cengli (aturan) dan suka menyeleweng dari pada pendapat umum.
"Setan!" Thai Khek Sian memaki dan tiba-tiba kakek ini menerjang maju mengirim pukulan maut kepada Kun Hong. Pemuda inipun cepat mengelak dan balas menyerang gurunya!
Sejak tadi Lan Lan dan Lin Lin mengintai dan mendengarkan semua percakapan. Mereka merasa kagum kepada Eng Lan yang gagah berani, yang menentang maut dengan mata bersinar-sinar penuh ketabahan, malah yang menganjurkan laki-laki yang dicintanya untuk bersikap gagah. Dan jangan takut mati membela kebenaran.
Pula mereka kagum juga melihat sikap Kun Hong yang lebih menjunjung tinggi kebenaran dam kegagahan berdasarkan keadilan dari pada peraturan bakti yang hanya diperalat dan disalah gunakan oleh para orang tua dan guru-guru. Lin Lin yang melihat Kun Hong sudah bergebrak dengan kakek mengerikan itu yang ternyata adalah Thai Khek Sian, berbisik kepada cicinya,
"Cici, kau tolong nona Eng Lan itu, biar aku hadapi hwesio gundul tak tahu malu itu!" Setelah berkata demikian, Lin Lin mencabut pedangnya dan melompat sambil membentak, "Kakek-kakek mau mampus menghina yang muda, sungguh tak tahu malu!"
Begitu tiba di tempat pertempuran, serta merta Lin Lin menerjang dengan pedangnya, menyerang Beng Kun Cinjin yang terkejut sekali dan cepat menangkis dengan tasbehnya. Segera keduanya bertempur hebat.
"Eh, bukankah kau ini... murid Liong Tosu?" Beng Kun Cinjin membentak ketika mengenal ilmu pedang nona itu.
"Aku murid siapa bukan soal, yang terang aku pembasmi manusia-manusia jahat macam kau!" bentak Lin Lin sambil menyerang terus dengan ilmu pedangnya yang lihai.
Beng Kun Cinjin tak banyak cakap lagi. terus menyerang kembali dengan sama hebatnya sehingga Lin Lin terpaksa mundur dam diam-diam mengakui kelihaian hwesio ini.
Sementara itu, Lan Lan berlari menghampiri Eng Lan yang terikat pada batang pohon. Melihat gadis ini datang sambil tersenyum-senyum, Eng Lan bengong, sebentar memandang kepada Lan Lan, sebentar kepada Lin Lin yang demikian gagahnya menghadapi Beng Kun Cinjin. Persamaan rupa kedua orang gadis ini, seperti juga terhadap orang-orang lain, membuat Eng Lan terkejut dan bingung.
Apa lagi karena kedua-duanya serupa benar dengan Siok Lan. Eng Lan tahu bahwa seorang di antaranya tentulah gadis serupa Siok Lan yang pernah ia jumpai di rumah makan, malah hampir bertempur dengan dia kalau tidak keburu datang Wi Liong yang melerai (memisah).
"Selamat bertemu kembali, enci yang baik,” kata Lan Lan tersenyum manis sambil cepat-cepat menggunakan pedangnya memutus tali yang mengikat gadis itu pada, pohon.
"Eh, kau... kau yang di rumah makan dulu....?" Eng Lan bertanya sambil membantu menggerakkan tangan agar tali-tali pengikatnya lekas terlepas.
"Betul dan namaku Lan Lan, Pek Lan Lan dan itu adik kembarku Pek Lin Lin. Aku tadi mendengar namamu Pui Eng Lan. Bagus, jangan kau khawatir, kami membantumu dan membantu... tunanganmu itu."
Merah wajah Eng Lan digoda begini dan sekalipus membuat ia teringat bahwa sekarang bukan waktunya berkelakar. Ia mencari sebatang ranting, lalu lari membantu Lin Lin menyerang Beng Kun Cinjin, didahului oeh Lan Lan yang juga sudah membantu Lin Lin mengeroyok hwesio itu. Untuk membantu Kun Hong, kedua orang gadis ini merasa belum cukup kepandaiannya menghadapi Thai Khek Sian yang benar-benar luar biasa lihainya itu.
Pertempuran dua golongan ini berlangsung makin ramai dan seru saja. Akan tetapi mudah dilihat bahwa keadaan mereka kurang seimbang. Kun Hong repot sekali menghadapi desakan-desakan Thai Khek Sian yang masih menang segalanya dibandingkan dengan pemuda bekas muridnya ini. Hanya berkat ketangkasan dan kecepatan Kun Hong saja yang membuat pemuda ini sebegitu lama masih belum roboh.
Di lain fihak Beng Kun Cinjin terlampau kosen bagi tiga orang pengeroyoknya yang terdiri dari gadis-gadlis muda. Hanya Lin Lin seorang yang mampu mengimbangi kepandaiannya dan masih dapat membalas dengan serangan-serangan dahsyat, akan tetapi Lan Lan dan Eng Lan benar-benar tidak berdaya.
Keadaan Kun Hong dan tiga orang gadis itu sekarang malah terancam hebat dan dapat dibayangkan bahwa sebentar lagi mereka tentu akan roboh. Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan orang-orang muda itu, tiba tiba terdengar bentakan dari jauh. "Beng Kun Cinjin, akhirnya aku dapat menemukan kau, jahanam!" Belum hilang gema suara ini, tahu-tahu Wi Liong sudah muncul di situ.
"Ji-wi moi-moi dan nona Eng Lan harap mundur, serahkan siluman ini kepadaku!"
Wi Liong sudah mencabut sulingnya dan menyerang ganas. Lin Lin girang sekali melihat munculnya pemuda ini. Ketika ia menengok dan melihat Kun Hong terdesak hebat, ia lalu melompat dan membantu pemuda ini menghadapi Thai Khek Sian.
Sekarang barulah ramai dan Kun Hong dapat mengatur napas. Tak lama kemudian muncul pula Kong Bu dengan serombongan orang yang bukan lain adalah anak buahnya, pasukan pilihan dari markas penjagaannya, terdiri dari tigapuluh orang lebih.
Bagaimana Wi Liong bisa tiba pada saat yang amat tepat? Mari kita tengok sebentar pengalamannya ketika ia melakukan penyelidikan bersama Kong Bu. Sudah diceritakan lebih dahulu bahwa dua orang pemuda ini meninggalkan Lan Lan dan Lin Lin untuk melakukan penyelidikan di pulau-pulau lain.
Melihat gerak-gerik orang-orang Mongol yang sengaja didatangkan oleh Beng Kun Cinjin dan Bu-ceng Tok-ong guna membantu tipu muslihat yang hendak dijalankan oleh Thai Khek Sian. Beng Kun Cinjin sudah siang-siang memperbaiki hubungannya dengan orang-orang Mongol dan ia mendapat pengampunan karena orang-orang Mongol melihat bahwa mereka dapat mempergunakan tenaga hwesio ini.
Kebetulan sekali Wi Liong dan Kong Bu menyelidik ke pulau kosong yang dijadikan gudang perlengkapan makanan dan minuman. Mereka mendarat dan menyelinap memasuki pulau itu. Melihat adanya tenda-tenda di situ. Mereka maju mengintai dan merasa heran mengapa tempat ini begini sunyi seperti tidak ada penghuninya.
Mereka ingin sekali tahu apa yang terdapat di dalam tenda-tenda itu. Wi Liong mengajak Kong Bu mendekati tenda-tenda itu dan mengintai. Ternyata bahwa isi tenda adalah makanan dan minuman dan pada tenda terakhir mereka melihat Bu-ceng Tok-ong duduk di atas pembaringan bersamadhi!
"Aneh sekali..." kata Wi Liong. Bagaimana. Bu-ceng Tok-ong duduk enak enak saja membiarkan kedatangan mereka menyelidik?
Tak mungkin orang sepandai Bu-ceng Tok-ong tidak mendengar kedatangan mereka, terutama jejak kaki Kong Bu cukup jelas terdengar. Dengan penuh kecurigaan Wi Liong memasuki tenda itu dan mendekat. Setelah berdiri di depan pembaringan, ia mengeluarkan seruan tertahan.
"Dia sudah mati...." cepat-cepat ia mengajak Kong Bu keluar dari tenda itu. "Tempat ini menjadi gudang persediaan barang hidangan, dijaga oleh Bu-ceng Tok-ong. Akan tetapi, agaknya ada orang sudah bergerak terlebih dulu dan Bu-ceng Tok-ong terbunuh." kata pula, Wi Liong yang cepat menuju ke perahu mereka. "Hebat... siapa yang bisa membunuh Raja Racun itu dengan racun?"
"Orang-orang Mongol itu tentu berada di pulau lain," kata Kong Bu. "Masih ada beberapa pulau kecil kosong di sekitar sini."
Mereka lalu mendayung perahu lagi hendak menyelidiki pulau-pulau lain akan tetapi tiba-tiba lapat-lapat telinga Wi Liong menangkap jerit wanita. Kong Bu tidak mendengar ini maka ia heran ketika mendengar Wi Liong berkata, "Putar perahu. Kita kembali!"
Kong Bu tidak berani membantah, akan tetapi melihat Wi Liong mendayung perahu secepatnya dan nampak gelisah, ia bertanya, "Ada apa, Thio-taihiap? Kenapa kita tidak melanjutkan penyelidikan?"
"Aku khawatir dua orang gadis yang kita tinggalkan itu menghadapi bahaya. Aku mendengar jerit wanita dari jauh."
Kong Bu tidak bertanya-tanya lagi dan membantu Wi Liong mendayung perahu itu yang meluncur cepat sekali, kembali ke pulau kecil di mana mereka meninggalkan Lan Lan dan Lin Lin. Di tengah perjalanan ini mereka bertemu dengan dua perahu besar yang ditunggangi oleh tigapuluh orang pasukan Kong Bu yang datang menyusul pemimpin mereka.
Kong Bu lalu meloncat ke dalam perahu mereka, membiarkan Wi Liong membalapkan perahu kecilnya terlebih dulu. Ternyata bahwa kedatangan Wi Liong tepat sekali pada waktunya, yaitu kelika Kun Hong dan tiga orang gadis terdesak hebat. Jerit yang ia dengar tadi adalah jerit Eng Lan yang juga terdengar oleh Kun Hong ketika Eng Lain melihat gurunya datam bahaya maut.
Demikianlah, ketika melihat bahwa Kun Hong bertanding menghadapi Thai Khek Sian sedangkan Beng Kun Cinjin dikeroyok oleh Eng Lan, Lan Lan dan Lin Lin, Wi Liong tidak membuang waktu lagi, terus saja ia menerjang Beng Kun Cinjin dengan sulingnya.
"Celaka...." seru Beng Kun Cinjin dalam hatinya ketika mengenal Wi Liong. Pemuda putera Thio Houw dan Kwee Goat ini sudah terang takkan mau mengampuninya. Sakit hati besar harus dilunaskan pada waktu itu juga. Beng Kun Cinjin menjadi nekat, ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan Wi Liong yang juga menyerang dengan hebat saking marahnya melihat musuh besar ini.
Adapun Thai Khek Sian tidak gentar melihat kedatangan Wi Liong, pemuda murid Thian Te Cu yang pernah ia robohkan itu, akan tetapi ketika ia melihat Kong Bu dan pasukan pasukan pemerintah, ia mengeluarkan seruan kaget. Ia telah mengundang orang-orang Mongol ke tempatnya untuk membantunya menyergap orang-orang kangouw.
Kalau hal ini sudah diketahui oleh pasukan pemerintah, kedudukannya berbahaya sekali. Ia bisa didakwa sebagai pemberontak yang terang-terangan dan pemerintah tentu akan mengirim pasukan-pasukan kuat untuk menghancurkan Pek-go-to. Ini berbahaya bagi keamanan tempat tinggalnya.
Teringat akan ini, ia berseru keras, "Aku tidak ada waktu untuk bermain-main lebih lama lagi!" Dan tubuhnya melesat sambil menghujankan jarum-jarum beracun ke arah Kun Hong.
Pemuda ini kaget sekali, maklum akan kekejian senjata-senjata rahasia ini maka ia cepat-cepat memutar pedang untuk melindungi tubuhnya, tak sempat lagi mengejar. Demikianpun Lin Lin memutar pedang melindungi dirinya. Beberapa orang anggauta pasukan yang dipimpin Kong Bu, yang belum mengenal Thai Khek Sian, mencoba untuk menghadang dan menyerang kakek mengerikan itu.
"Jangan.....!" Kun Hong memperingatkan, akan tetapi terlambat.
Thai Khek Sian mengibaskan tangan kanannya, uap hitam menyambar dan lima orang anggauta pasukan roboh dan tewas di saat itu juga terkena uap beracun yang amat dahsyat. Di lain saat, Thai Khek Sian telah lenyap dari situ. Kakek tokoh Mo-kauw ini memperlihatkan kekejaman dan ketidak setia-kawanannya, membiarkan Beng Kun Cinjin seorang diri terancam kematian!
Teringat akan Beng Kun Cinjin, Kun Hong cepat memutar tubuh hendak ganti menyerang musuh besarnya. Akan tetapi ia terlambat karena pada saat itu, suling di tangan Wi Liong dengan tepat telah dapat menotok ulu hati Beng Kun Cinjin dan pukulan ini sudah tidak ada obatnya lagi. Beng Kun Cinjin melepaskan tasbehnya, terhuyung-huyung memegangi dadanya, terengah-engah bersambat, "Aku... aku menebus dosa... Kun Hong.... anakku.... baik-baiklah kau....." Ia roboh dan napasnya putus!
Wi Liong mengangkat sulingnya ke atas, memandang ke angkasa raya, mulutnya bergerak-gerak seperti berdoa kepada arwah ayah bundanya bahwa pada saat itu ia berhasil membalas dendam. Akan tetapi tiba-tiba ia melompat dan "traanggg...!" sulingnya menangkis pedang di tangan Kun Hong yang dengan beringas hendak menggunakan pedangnya mencacah-cacah tubuh Beng Kun Cinjin.
"Kun Hong, apa kau gila?" bentak Wi Liong.
Dengan muka beringas, mata merah dan wajah pucat, Kun Hong berkata dengan suara terputus-putus. "Biarkan aku menghancurkan tubuhnya, si keparat itu sampai dalam matinya ia menyebut anak kepadaku. Dia telah merusak hidupku, dia yang membuat aku begini, terperosok ke dalam kejahatan. Dia... dia membuat aku makin tidak berhak hidup, membuat aku seorang anak penjahat yang menjadi jahat! Aku tidak berharga.... dan dia terutama biang keladinya. Biarkan aku hancurkan mayatnya!"
"Kun Hong, ingat! Betapapun juga, dia ayah kandungmu, darah dagingmu sendiri. Yang jahat perbuatannya, bukan orangnya. Dia sudah mati, tidak perlu diganggu lagi. Manusia baik atau jahat ditentukan oleh perbuatannya sendiri, bukan oleh keturunan. Keturunan penjahat bisa menjadi seorang berguna dan gagah, keturunan orang baik-baik bisa menjadi penjahat."
Kun Hong sadar oleh kata-kata bersemangat ini. Ia menjatuhkan diri, berlutut karena kedua kakinya terasa lemas. "Sam... sampai mati ia melempar najis kepadaku... mengakui aku sebagai anaknya... ah, aku orang hina... keturunan rendah..."
"Tidak, Kun Hong. Sikapmu ini saja meyakinkan aku bahwa kau seorang gagah," kata Wi Liong menghibur, akan tetapi Kun Hong tak dapat terhibur oleh kata-kata ini.
Eng Lan melangkah maju, ikut berlutut di samping Kun Hong, meraba pundaknya. Gadis ini juga pucat wajahnya dan air mata membasahi pipinya. "Kun Hong, aku tidak menganggap kau rendah...."
Dalam dukanya Kun Hong tidak melihat datangnya Eng Lan. Kini mendengar suaranya dan merasai sentuhan tangannya, ia menengok, kaget dan sangsi. Memang adanya Eng Lan di situ yang'membuat ia tadi merasa sengsara, karena ia dapat menduga bahwa gadis kekasihnya itu tentu akan memandangnya rendah. Tak disangkanya sama sekali gadis ini sekarang berlutut di sampingnya, menyentuh pundaknya dan mengeluarkan ucapan seperti itu. Tidak mimpikah ia?
"Kau... Eng Lan.... benar-benarkah ucapanmu tadi? Aku seorang rendah, tidak saja keturunan orang jahat, malah.... malah aku sudah melukai hatimu... aku melakukan perbuatan-perbuatan tidak patut... sudah selayaknya kau membenciku dan memandang rendah..."
Melalui air matanya, gadis itu menatap wajah Kun Hong. Bagaimana dia bisa membenci pemuda ini yang setiap saat bayangannya tak pernah meninggalkan ruang hatinya? Bagaimana ia bisa memandang rendah pemuda ini yang selalu meninggalkan kenang-kenangan dan kesan indah di dalam hatinya, yang ia kagumi, ia kasihani, dan ia cinta? Eng Lan tersenyum, dua butir air mata menitik sampai ke ujung bibirnya, membuat senyumnya manis mengharukan.
"Aku... aku ampunkan semua itu, Kun Hong. Thio-taihiap berkata benar. Kakek yang sudah mati itu betapapun juga adalah ayahmu, tak perlu kau menurutkan nafsu hati."
Hampir Kun Hong berteriak saking girang dan terharunya. Ia hanya dapat merangkul pundak gadis itu dan air matanya mengalir turun, penuh keharuan. "Eng Lan.... Eng Lan...." hanya demikian terdengar bisikannya.
Wi Liong, Kong Bu, Lan Lan dan Lin Lin memandang penuh keharuan. Kong Bu lalu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengurus lima orang kawan yang tewas, sedangkan Wi Liong, Lan Lan dan Lin Lin juga menjauhi tempat itu untuk memberi kesempatan kepada Kun Hong dan Eng Lan dalam pertemuan yang mesra mengharukan itu.
Akan tetapi tidak lama Kun Hong dapat menguasai hatinya. Ia menarik lengan Eng Lan berdiri, untuk sesaat menatap wajah kekasihnya tanpa mengeluarkan kata-kata. Namun di dalam sinar matanya terbawa sumpah bahwa semenjak saat itu ia akan merobah diri, menjadi orang baik-haik sesuai dengan harapan Eng Lan.
Dan Eng Lan dapat menangkap sinar mata ini, balas memandang dengan sinar mata penuh harapan, penuh terima kasih, penuh kabahagiaan karena dalam diri Kun Hong ia mendapatkan seorang yang akan menjadi pengganti orang tua, menjadi pengganti guru. menjadi satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.
Kun Hong teringat akan keadaan disekitarnya, dengan muka merah ia lalu berbisik. "Aku masih harus menyelesaikan banyak tugas." Eng Lan mengangguk dan Kun Hong cepat menghampiri Wi Liong.
"Wi Liong, kau tahu, Thai Khek Sian mempunyai rencana yang amal keji terhadap semula tokoh kang-ouw yang ia undang."
Wi Liong mengangguk. "Mengundang orang-orang Mongol?" jawabnya menduga.
"Bukan itu saja, lebih keji dan hebat lagi." Dengan singkat ia lalu menuturkan tentang rencana meracuni semua tokoh kang-ouw dengan racun ular Ang-siauw-liong dan sebagai bukti penuturannya ia memperlihatkan bangkai ular itu yang menjadi obat penawarnya.
"Aku dapat membujuk nona Cheng In dan Ang Hwa untuk memperbaiki jalan hidup mereka dan mencoba untuk memberikan arak itu kepada para undangan orang-orang Mongol itu." Ia menceritakan rencananya yang telah dilakukan oleh dua orang nona itu.
Wi Liong berubah air mukanya. Ia telah mengenal baik Cheng In dan Ang Hwa. Kalau tidak ada dua orang nona itu, dahulu ia bisa tewas di tangan Thai Khek Sian. Ia harus berusaha menolong mereka dari ancaman berbahaya. Pekerjaan yang mereka lakukan itu tarlalu berbahaya.
"Kalau begitu, mari kita susul mereka. Pekerjaan mereka itu terlalu berbahaya. Orang-orang Mongol itu bukanlah musuh-musuh yang mudah dikalahkan," kata Wi Liong.
Kun Hong menyatakan setuju. Wi Liong lalu minta kepada Kong Bu untuk mengajak Eng Lan, Lan Lan, dan Lin Lin mengatur semua pasukannya melakukan penjagaan kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Juga ia memesan supaya kalau bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang hendak mengunjungi Pek-go-to, diberi paringatan tentang bahaya yang mengancam mereka. Lin Lin cemberut dan tadinya hendak turut.
Akan tetapi sambil memandang dengan wajah sungguh-sungguh, Wi Liong berkata. "Pekerjaan ini cukup dilakukan oleh Kun Hong dan aku. Kau amat dibutuhkan di samping kawan-kawan lain, adik Lin. Di antara semua kawan, kaulah yang paling tinggi kepandaianmu. Kalau kau ikut pergi, siapa yang dapat diandalkan di sini? Kita bagi-bagi tugas, baikkah itu?"
Lin Lin terpaksa tak dapat membantah lagi dan dengan cepat pergilah Wi Liong dan Kun Hong berperahu, menuju ke pulau-pulau yang dijadikan markas orang-orang Mongol, menyusul Cheng In dan Ang Hwa. Wi Liong yang dahulunya menjadi lawan Kun Hong, sekarang amat percaya kepada pemuda ini. Untuk memperlihatkan kepercayaannya, ia melolos Cheng-hoa-kiam dan memberikan pedang itu kepada pemuda ini. Kun Hong tadinya segan dan sungkan menerima, akan tetapi Wi Liong memaksa sambil berkata,
"Kau lebih ahli menggunakan pedang dari pada aku yang sudah biasa menggunakan sulingku ini. Kita harus hati-hati karena yang kita hadapi adalah orang-orang pandai, apa lagi Thai Khek Sian.”
Matahari telah naik tinggi ketika dua orang pemuda perkasa ini tiba di pulau yang mereka tuju. Di pinggir pantai telah kelihatan, perahu orang Mongol dan tiba-tiba Kun Hong berseru heran, "Bukankah itu perahu Kui-bo Thai-houw?”
Seruannya ini dijawab oleh suara hiruk-pikuk orang-orang berkelahi ketika dengan lincah keduanya melompat ke darat. Cepat mereka berlari ke tengah dan benar saja, di depan tenda-tenda darurat terjadi pertempuran hebat. Akan tetapi penglihatan pertama yang membuat mereka cepat memburu ke tempat itu adalah menggeletaknya Cheng In dan Ang Hwa!
Wi Liong menghampiri Cheng In dan Kun Hong menghampiri Ang Hwa. Dua orang gadis ini terluka parah dan napas mereka tinggal satu-satu. Akan tetapi Ang Hwa tersenyum ketika Kun Hong memangku kepalanya.
"Aku puas... dapat melaksanakan tugas... mati sebagai orang sudah menebus dosa.... perbuatan terakhir... satu-satunya yang baik... dan mati dipangkuanmu... koko...." Tubuhnya mengejang dan nyawanya melayang.
Cheng In juga diangkat kepalanya oleh Wi Liong yang melihat bahwa gadis inipun tak dapat ditolong pula. Cheng In memandang Wi Liong lalu berkata terengah-engah, "Hanya setengahnya dapat kami bujuk... mereka minum dan mati... kami ketahuan... dikeroyok... Kun... Kun Hong... selamat tinggal...." Dan gadis inipun mati dalam pelukan Wi Liong yang ia sangka Kun Hong.
Setelah merebahkan mayat dua orang gadis itu, Wi Liong dan Kun Hong bangkit berdiri. Mereka melihat sedikitnya dua puluh orang Mongol menggeletak berserakan di dalam tenda, tentu mereka yang telah minum arak beracun. Ada tigapuluh orang lagi yang bertempur kacau balau mengeroyok empat orang nenek kembar dan empat orang gadis pakaian merah, pengikut pengikut Kui bo Thai-houw yang sudah payah sekali.
Biarpun mereka delapan orang ini sudah merobohkan sepuluh orang lebih, namun dikeroyok seperti itu mereka kewalahan juga dan sudah terluka di sana-sini. Thai Khek Sian sendiri sedang bertempur dengan hebatnya melawan Kui bo Thai-houw. Keduanya sama sakti, sama kuat dan sama sama mengeluarkan serangan-serangan maut yang keji dan dahsyat sekali.
Kedatangan Kui-bo Thai-houw ke tempat itu memang ia sengaja setelah ia mendengar dari para penyelidiknya bahwa Pek-go-to mendatangkan orang-orang Mongol. Biarpun jahat, Kui-bo Thai-houw bukanlah penghianat dan perbuatan Thai Khek Sian ini mendatangkan kemarahannya.
Sebagai bekas selir kaisar, ia benci orang-orang Mongol dan dengan dikawani oleh empat orang nenek kembar serta empat orang gadis pakaian merah yang menjadi murid-murid kesayangannya, ia lalu berperahu mendatangi pulau itu dan menyerang orang-orang Mongol.Akan tetapi tiba-tiba Thai Khek Sian yang mengkhawatirkan rahasianya bocor datang pula ke pulau itu sehingga terjadi pertempuran seru dan hebat itu....