Cheng Hoa Kiam Jilid 42

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 42
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 42, karya Kho Ping Hoo - KEMUDIAN KUN HONG teringat akan maksud perjalanannya. Tok-ong adalah seorang perantau, pikirnya, bukan tak mungkin ia mengetahui tentang Eng Lan. "Tok-ong... apakah kau melihat nona Pui Eng Lan?" tiba-tiba ia bertanya.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Bu-ceng Tok-ong menengok heran, lalu tertawa. Tidak aneh kalau pemuda ini menanyakan seorang wanita. Ia sudah kenal baik watak bekas muridnya ini, seorang pemuda yang mempunyai banyak kekasih. "Heh-heh heh, di mana kau kehilangan kekasihmu ini?" ia menggoda.

"Tok-ong... jangan main-main. Kau melihat dia atau tidak?" bentak Kun Hong.

Bu-ceng Tok-ong heran. Belum pernah ia melihat Kun Hong marah-marah digoda tentang diri seorang wanita. "Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu kalau aku tidak tahu siapa itu Pui Eng Lan?"

Kun Hong insyaf akan kekeliruan pertanyaannya. Orang macam Bu-ceng Tok-ong ini mana bisa mengenal Eng Lan? "Dia itu murid tunggal Pak-thian Koa-ijin. Aku mencarinya."

Bu-ceng Tok-ong masih tersenyum lebar, akan tetapi keningnya dikernyitkan dan matanya bersinar-sinar ganjil. Kun Hong berlaku waspada. Dari pengalamannya ketika hidup dekat bekas gurunya itu ia tahu bahwa kalau Raja Racun ini mengerutkan kening dan matanya bersinar-sinar seperti itu, menandakan bahwa ia sedang menggunakan pikirannya yang selalu penuh akal-akal licin.

"Ah, dia....? Bukankah dia itu gadis cantik jelita, agak kehitaman tapi manis sekali, membawa pedang, lincah dan tabah?"

Kegembiraan dan harapan besar memenuhi hati Kun Hong, membuat ia lupa akan tanda-tanda pada muka bekas gurunya tadi. "Betul, Tok-ong, betul dia. Apa kau tahu di mana dia?"

"Hah-hah-hah-hah, agaknya kali ini kau betul-betul jatuh cinta. Bukan begitu?"

Maklum akan ketajaman mata bekas gurunya. Kun Hong tak perlu membohong lagi. Ia mengangguk, wajahnya demikian sungguh sungguh sehingga Bu-ceng Tok-ong tidak berani main-main lagi.

"Aku tahu di mana dia. Baru kemarin aku melihat dia menuju ke Pek go-to juga,"

"Seorang diri?" tanya Kun Hong, agak heran bagaimana gadis itu berani pergi ke Pek-go-to seorang diri.

"Tadinya seorang diri. Kemudian... sayang sekali...."

Kun Hong melangkah maju dan menerkam lengan kakek itu. "Kemudian bagaimana? Kenapa sayang? Hayo bilang!"

Bu-ceng Tok-ong meringis. Terkaman tangan itu benar-benar amat kuat dan menyakitkan lengannya. "Kemudian... kemudian ia pergi bersama-sama dengan Beng Kun Cinjin Gan Tui."

Pucat seketika wajah Kun Hong mendengar ini, kedua kakinya menggetar saking hebatnya ketegangan hatinya. Memang ia sedang mencari-cari Beng Kun Cinjin. "ayahnya" dan musuh besarnya ini. Tentu saja mendengar adanya Beng Kun Cinjin, ia menjadi girang dan ingin segera melakukan pembalasan dendamnya. Akan tetapi mendengar kekasihnya terjatuh ke dalam tangan musuh besar itu, ia benar-benar kaget.

"Bagaimana ia bisa bersama dengan... Beng Kun Cinjin?" tanyanya.

"Heh-heh-heh, mana aku mengerti? Aku hanya mendengar Beng Kun Cinjin berkata kepada nona itu begini. Kau calon mantuku, hayo ikut dengan pinceng sambil menanti datangnya Kun Hong anakku! Nah, demikianlah, lalu mereka pergi bersama."

Pucat lagi wajah Kun Hong. "Jadi kau... kaupun sudah tahu tentang dia dan aku...?"

"Hah hah, siapa orangnya yang tidak tahu? Tentang kau anak Beng Kun Cinjin, semua orang sudah tahu. Kau hendak menyusul ke sana, Kun Hong? Mari pergi bersamaku."

Kun Hong menyembunyikan getaran hatinya. Ia khawatir sekali akan nasib Eng Lan, akan tetapi juga gembira karena akan berhadapan dengan musuh besarnya. Maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu ikut Bu ceng Tok-ong menuju ke Pek-go-to.

Setelah tiba di pantai. Bu-ceng Tok-ong lalu mendatangi sebuah tempat tersembunyi di pantai laut di mana ternyata sudah disediakan perahu-perahu kecil yang dijaga oleh beberapa orang selir Thai Khek Siansu. Mereka ini menyambut kedatangan Bu ceng Tok-ong dan terutama Kun Hong dengan gembira.

Akan-tetapi Kun Hong tidak memperdulikan mereka, biarpun di antaranya ada beberapa orang yang dahulu pernah menjadi sobat baiknya. Bersama Bu ceng Tok ong ia lalu mendayung perahu yang dikemudikan oleh si Raja Racun.

"Eh, kenapa tidak ke Pek-go-to?" tanya Kun Hong ketika melihat bahwa perahu menuju ke pulau lain.

"Nanti dulu... aku hendak singgah di pulau gudang makanan. Kau tahu, untuk keperluan para tamunya. Siansu menyediakan makanan dan minuman di pulau kecil itu dan aku mempunyai tugas di sana. Laginya, sekarang sudah hampir gelap, tidak patut datang malam malam di Pek-go-to."

Biarpun hatinya tidak puas, akan tetapi pada saat itu Kun Hong tidak mau banyak ribut. Pula, diam-diam ia masih menaruh hati curiga terhadap Raja Racun ini dan hendak mengawasi gerak-geriknya.

Perahu kecil itu mendarat di pulau kosong, sebuah di antara tiga pulau kosong yang kecil dan indah. Kedatangan mereka disambut lagi oleh sepasukan gadis penjaga yang sudah mendirikan banyak kemah kemah darurat di tempat itu.

"Kalian pergilah menghadap Siansu dan katakan, bahwa tugasku sudah berhasil baik." kata Bu-ceng Tok-ong kepada duabelas orang penjaga itu. ”Sekarang ada aku dan Kun Hong di sini, kami yang akan menjaga. Pergilah!"

Dua belas orang wanita itu segera meninggalkan pulau dengan perahu-perahu kecil mereka yang mewah, meninggalkan Kun Hong berdua. Jelas sekali kelihatan mereka itu kecewa harus pergi meninggalkan Kun Hong, karena tadinya mereka sudah bergembira melihat datangnya pemuda ini.

Malam itu Bu-ceng Tok-ong bekerja keras. Sambil tertawa-tawa kakek ini menggodok minyak racun ular kelabang sampai menjadi kental, kemudian ia membawa godokan racun ini ke dalam sebuah tenda tempat menyimpan minuman. Tigapuluh buah guci arak besar berada di tempat ini dan Bu-ceng Tok-ong menuangkan racun ke dalam guci-guci itu. lalu menggunakan sebatang sumpit panjang untuk mengocek agar racun itu, bercampur betul.

"He... apa yang kau lakukan ini, Tok-ong?” Kun Hong tak sadar lagi menegur, kaget melihat perbuatan ini.

"Hah-hah-hah, kau lihat sendiri. Mencampuri arak dengan racun Ang-siauw liong. Ha-ha-ha!"

Kun Hong melangkah maju, sikapnya mengancam. "Apa maksudmu? Katakan Tok ong, apa maksudmu melakukan ini?" Hampir ia menyebut melakukan perbuatan keji akan tetapi ia menahannya karena maklum bahwa ucapan ini tidak sesuai dengan keadaan Tok ong dan karenanya tentu akan menimbulkan kecurigaan bekas purunya itu.

"Hah-hah, apa kau tidak mengenal watak suhumu sendiri, Thai-Khek Siansu? Gurumu itu selain lihai juga amat cerdik. Sekali ini ia hendak menggunakan kepandaianku untuk melenyapkan semua lawan. Ha ha ha."

"Apa maksudnya?"

"Apa lagi? Semua tokoh tingkat tinggi dunia kangouw diundang. Akan datang para bengcu dan ciangbunjin, para ketua partai persilatan dan terutama sekati akan datang juga Thian Te Cu dan Kui-bo Thai-houw. Kalau tidak menggunakan kepandaianku, mana bisa menyuguhkan minuman maut tanpa diketahuli mereka yang lihai itu? Hah-hah-hah-hah!"

Kun Hong menekan perasaannya dan dengan suara biasa ia bertanya lagi. "Jadi suhu Thai Khek Sian hendak membunuh para undangan dengan minuman ini? Kedengarannya begitu mudah. Hemmm, kiraku takkan semudah itu mengingat bahwa mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Laginya, mereka tentu menaruh curiga."

"Ha ha, kau kira gurumu begitu bodoh? Arak campuran ini dikeluarkan sebagai hidangan umum, tidak hanya para undangan yang dianggap musuh, juga kawan sendiri sampai Thai Khek Siansu ikut pula minum."

Kun Hong mendongkol. Dia tidak percaya dan mengira Bu-ceng Tok-ong main-main. "Siapa percaya kebohongan ini? Kau sendiri bilang bahwa racun Ang-siauw-Iiong tidak ada obat penolaknya."

"Tidak ada obat penolaknya, memang. Kecuali tubuh ular itu sendiri." Bu-ceng Tok-ong mengeluarkan bangkai ular yang sudah kering dari saku bajunya.

Bukan main marah dan kagetnya hati Kun Hong. Dia bukan Kun Hong dahulu yang tentu tidak akan perduli dengan rencana pembunuhan keji besar besaran ini, malah akan ikut gembira. Akan tetapi sekarang dia lain lagi. Ia tidak rela membiarkan perbuatan keji ini terjadi, apa lagi kalau mengingat bahwa di antara mereka yang hendak dibunuh terdapat Thian Te Cu, Kui-bo Thai-houw, dan lain-lain.

Akan tetapi Kun Hong juga cerdik, tidak kalah oleh Bu-ceng Tok-ong. Ia sudah mempelajari segala tipu muslihat licik dari orang-orang semacam Bu-ceng Tok-ong. Rasa benci dan jijik tidak tampak pada mukanya, malah ia segera tersenyum.

"Hebat sekali. Kau benar-benar lihai, Tok-ong, tidak malu aku mengaku kau sebagai bekas pendidikku. Memang itulah jalan terbaik untuk melenyapkan orang-orang yang berbahaya bagi kita. Selanjutnya, apakah Thai Khek Sian guruku itu hanya mengandalkan racun ini saja? Bagaimana kalau gagal? Ingat, fihak sana tak boleh dipandang ringan. Selain Thian Te Cu dan Kui-bo Thai-houw yang luar biasa lihainya, juga masih banyak orang lihai lainnya seperti Thio Wi Liong, Thai It Cinjin. Im-yang Sian-cu dan para ciangbunjin dari partai-partai persilatan besar."

"Mana bisa gagal? Arak kehormatan dikeluarkan, semua minum baik tamu maupun tuan rumah. Curiga apa? Mereka akan roboh setengah jam kemudian, tidak kentara. Ha ha ha! Takut apa? Kalau gagal sekalipun sudah ada perangkap lain. Gurumu sudah...."

Tiba-tiba Bu-ceng Tok-ong menghentikan kata-katanya, berhenti tertawa dan menatap wajah Kun Hong dengan tajam. "Eh, Kun Hong. Kau ini murid terkasih dari Thai Khek Siansu mengapa sampai tidak tahu akan rencana gurumu?"

Kun Hong menarik napas panjang, memperlihatkan muka menyesal. "Salahku sendiri, Tok-ong. Terlalu lama aku merantau meninggalkan Pek-go-to mengejar-ngejar Wi Liong tanpa hasil. Pesta ulang tahun suhupun aku mendengar dari luaran dan sekaranglah saatnya yang baik aku akan dapat membalas kekalahan-kekalahanku dari Wi Liong. Rencana apakah yang diatur oleh suhu selain racun ini? Aku akan membantu sekuat tenaga, karenanya aku harus tahu segalanya."

"Kau tahu, kawan-kawan dari utara juga sudah datang berkumpul di dua pulau itu. Jumlah mereka ada limapuluh orang lebih, orang-orang pilihan. Mereka ini akan datang menyerbu kalau racun ini gagal. Dengan bantuan limapuluh orang tenaga pilihan dari utara, kita takut apa?"

Diam-diam Kun Hong terkejut sekali. Sekarang jelaslah baginya bahwa Thai Khek Sian, dengan perantaraan Bu-ceng Tok-ong. telah mengadakan kontak dengan bala tentara Mongol untuk mengadakan pukulan besar-besaran terhadap para tokoh selatan. Tentu saja fihak Mongol bersedia membantu oleh karena para orang gagah di selatan ini kalau sekarang bisa dibasmi, kelak tidak ada yang menyulitkan penyerbuan mereka ke selatan. Inilah berbahaya, pikir Kun Hong.

Sudah lama jalan pikiran Kun Hong berubah, sudah lama ia berbalik hati dan membenci segala macam kejahatan yang sudah banyak ia lihat, malah ia lakukan. Sekarang, mendengar rencana keji dan pengecut ini makin bencilah hatinya. Andaikata Thai Khek Sian hendak mengadakan gelanggang mengadu kepandaian secara jujur dan gagah, tentu ia takkan memihak mana-mana.

Akan tetapi kalau diadakan rencana-rencana keji, tak boleh tidak ia harus menghalangi. Sikapnya sama sekali berubah sekarang. Ia melangkah maju dan berkata tegas, "Bu-ceng Tok-ong, berikan bangkai siauw-liong itu kepadaku!"

Berubah wajah yang biasanya menyeramkan dari Bu-ceng Tok ong. Sepasang mata yang tertutup alis tebal itu mengeluarkan cahaya liar. Ia terkejut dan gelisah, akan tetapi mencoba menutupi kegelisahannya dengan sikap gagah, "Kun Hong... jangan main gila! Apa maumu?"

"Manusia keji, kau dan orang-orang macam kau sudah menyeretku dahulu ke lembah kehinaan. Sekarang aku harus menebus dosa. Aku harus menghalangi niat kalian yang jahat itu, biarpun aku harus berkorban nyawa untuk itu. Berikan padaku bangkai Ang-siauw-liong itu. Cepat...!"

"Bocah gila!" Bu-ceng Tok-ong masih memertahankan kegalakannya. "Kau bisa melawanku, akan tetapi apa kau tidak takut kepada gurumu Thai Khek Siansu? Siansu akan membunuhmu!"

"Siapa takut? Hayo berikan, jangan membikin aku habis sabar!"

Melihat pemuda itu melangkah maju, Bu-ceng Tok-ong mundur sambil berkata, "Tidak... tidak akan kuberikan."

"Manusia keji!" Kun Hong bergerak maju, tangannya menampar berbareng hendak merampas bangkai ular yang disimpan di saku baju Bu-ceng Tok-ong.

Bu-ceng Tok ong mengelak dan mencoba menangkis, akan tetapi gerakan susulan dari Kun Hong tepat mengenai pundaknya, membuat ia sempoyongan dan hampir roboh ke belakang. Marahlah Bu-ceng Tok-ong. Kalau ia memberikan bangkai ular dan usahanya gagal, tentu ia akan mendapat kemarahan dari Thai Khek Sian, kemarahan yang akan berakibat mengerikan baginya.

Dari pada menentang Thai Khek Sian, lebih baik menentang Kun Hong. Sambil mengeluarkan geraman seperti singa. Raja Racun ini meloloskan senjatanya, sepasang penggada yang berbentuk gembolan berduri, mengerikan dan berat sekali. Ia mainkan sepasang senjata ini dan menyerang Kun Hong kalang kabut.

Kun Hong menghadapinya dengan tenang. Dulu, ketika ia masih menjadi murid Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, kepandaian yang ia terima dari dua orang ini digabungkan menjadi satu, cukup baginya untuk menandingi Bu-ceng Tok-ong. Apa lagi sekarang. Sekarang setelah menjadi murid Thai Khek Sian dan menerima pelajaran dari Kui-bo Thai-houw, kepandaian pemuda ini sudah meningkat jauh lebih tinggi dari pada Bu-ceng Tok-ong.

Tenang-tenang saja ia menghindarkan semua serangan Bu-ceng Tok ong. Betapapun juga, Kun Hong berlaku sangat hati hati karena ia maklum betapa bahayanya orang macam Raja Racun ini. Gembolan itu bukan sembarang senjata begitu saja, akan tetapi setiap durinya yang runcing itu mengandung semacam bisa tertentu yang cukup kuat untuk membunuh orang apa bila terluka.

"Bocah durhaka, bocah setan, mampuslah!" Bu-ceng Tok-ong yang bernafsu sekali menyerang makin hebat pada bekas muridnya yang bertangan kosong.

"Sebetulnya kaulah yang harus mampus, sayangnya aku masih menaruh kasihan kepadamu." ejek Kun Hong sambil mengelak dan dengan gerakan memutar secepat kilat ia mengirim tendangan bertubi-tubi. Dua kali ujung sepatunya mengenai sasaran, tepat di bagian siku mengenai otot besar.

Bu-ceng Tok-ong menggereng kesakitan dan sepasang penggadanya terlempar jauh. Mukanya menjadi merah dan matanya terbelalak mengeluarkan sinar berapi saking marahnya. "Kalau tak dapat membunuhmu, aku bukan Tok-ong!" teriaknya dan kini ia menubruk maju.

Dari sepasang lengan bajunya menyambar keluar uap hitam sedangkan dari kedua tangannya meluncur benda-benda halus yang hitam kemerahan. Inilah senjata senjata rahasia yang amat berbahaya, belum pernah dipelajari oleh Kun Hong karena merupakan senjata pribadi Raja Racun itu. Uap hitam itu adalah semacam bubuk beracun yang halus dan ringan sekali, mudah terbawa angin dan sekali saja memasuki hidung lawan, orang itu pasti akan terjungkal pingsan.

Benda-benda halus hitam kemerahan itu disebut Hek see-kong (Sinar Pasir Hitam), adalah pasir-pasir hitam yang sudah direndam bisa ular. Jangan kata sampai pasir ini memasuki kulit, baru menyerempet sedikit saja membuat kulit melepuh dan racun menyerap ke dalam daging dan tulang, sakitnya bukan kepalang.

Kun Hong biarpun belum mempelajari penggunaan senjata-senjata rahasia ini, namun ia sudah tahu akan kelihaiannya. Cepat ia mengebut-ngebutkan tangannya dengan penyaluran tenaga lweekang sepenuhnya sambil melompat ke sana ke mari menghindarkan diri dari pasir-pasir itu.

Selain mengelak, juga tenaga kebutan tangannya cukup kuat untuk mendatangkan angin meniup pergi pasir-pasir itu, maka dengan mudah ia terbebas dari ancaman pasir hitam. Adapun uap hitam yang menyerangnya, ia hindarkan dengan tiupan mulutnya yang disertai khikang.

Beberapa kali Bu-ceng Tok-ong menyerang sampai habis persediaan pasir dan bubuk hitamnya, namun semua penyerangannya sia-sia belaka. Kun Hong tidak membuang kesempatan ini. Dia tidak mau membunuh bekas gurunya, akan tetapi karena ia diserang secara keji, ia harus membalas dan memberi hajaran.

Sambil berseru keras ia mengeluarkan tipu silat yang baru ia terima dari Kui-bo Thai-houw. Gerakannya lemah gemulai seperti wanita menari, akan tetapi sukar sekali dijaga sehingga tahu-tahu tubuh Bu-ceng Tok-ong terguling karena betis kakinya kena dikait oleh kaki Kun Hong. Kalau pemuda itu bermaksud membunuh, tentu mudah saja tadi ia menggunakan kesempatan merobohkan lawannya itu.

Merasa diri. dipermainkan, Bu-ceng Tok-ong menjadi makin kalap. Ia melompat berdiri lagi. tidak memperdulikan sakit pada betisnya. Setelah menelan Kun Hong dengan pandang matanya, ia berseru keras, "Setan, biar aku mengadu nyawa denganmu!"

Seruan ini disusul dengan gerakan tangan ke dalam baju dan ia telah mengeluarkan senjata yang amat mengerikan, yaitu lima ekor ular yang ia ikat menjadi satu di bagian ekornya, merupakan cambuk bercabang lima ekor ular berbisa yang masih hidup!

Karena ikatan lima ekor ular itu ada talinya yang dipegang ujungnya, maka ular-ular itu tidak bisa menggigit pemegangnya sendiri, yaitu Bu-ceng Tok-ong. Sebaliknya, Kun Hong ketika diserang dengan senjata istimewa ini menjadi terkejut sekali dan juga marah. Ia anggap bekas gurunya ini terlalu keji sehingga sampai hati menggunakan senjata maut seperti itu. Ia maklum sudah bahwa lima ekor ular ini adalah ular-ular berbisa yang amat berbahaya. Sekali saja terkena gigitan seekor di antaranya, jangan harap bisa melawan lagi.

"Mampus kau, bocah setan!" berkali-kali Bu-ceng Tok-ong membentak sambil mendesak hebat. Senjatanya diputar-putar dan bertubi tubi ia melancarkan serangan secara membabi buta kepada Kun Hong.

Pemuda ini terpaksa mempergunakan ginkangnya dan melompat ke sana ke mari dengan lincah untuk menghindarkan gigitan ular-ular itu. "Tok-ong, kau benar-benar hendak mengadu nyawa?" Akhirnya Kun Hong menjadi marah sekali.

Akan tetapi Tok-ong yang kemarahannya sudah naik ke ubun ubun tidak mau menjawab lagi melainkan terus menyerang, bahkan kini ular-ular itu mendesis-desis mengeluarkan hawa beracun yang membuat serangan-serangan Bu-ceng Tok-ong menjadi makin berbahaya lagi. Kun Hong terpaksa mencabut pedangnya dan kini ia-pun membalas serangan lawannya dengan ilmu pedangnya yang lihai.

Bu-ceng Tok ong saking marahnya sampai tidak kenal gelagat lagi. Menghadapi ilmu pedang Kun Hong, sebetulnya ia tidak berdaya dan sinar pedang itu sudah mendesaknya secara hebat, namun ia masih memberung (membabi buta) terus, bahkan melakukan penyerangan dengan mencambukkan ular-ularnya ke arah muka Kun Hong tanpa memperdulikan lagi kekosongan dalam kedudukannya.

Kalau Kun Hong menusuknya, tentu akan tembus dadanya akan tetapi berbareng pemuda itupun akan terancam oleh serangan ular-ular itu. Kun Hong tentu saja tidak sudi mengadu nyawa mati bersama dengan Bu-ceng Tok-ong. Pemuda ini mengelak sambil merobah kedudukan kaki, lalu dengan cepat seperti kilat menyambar dari samping pedangnya membacok ke arah senjata lawan.

"Crak!" Tiga di antara lima ekor ular itu putus menjadi dua dan tiba tiba ular yang dua lagi dengan marah dan kaget membalik lalu menyerang Bu-ceng Tok-ong sendiri.

"Ayaaaaaa!" Teriakan Bu-ceng Tok-ong ini keras sekali, merupakan pekik maut karena dua ekor ular yang masih hidup itu tahu-tahu sudah menggigit pundak dan lehernya. Bu-ceng Tok-ong terjengkang dan roboh dengan tubuh kaku, tak bergerak lagi karena nyawanya sudah putus. Dua ekor ular itu masih saja mencantelkan gigi-gigi mereka pada tubuhnya.

Kun Hong cepat menggerakkan pedangnya dan putuslah tubuh ular-ular itu, mati seketika. Ia lalu mengangkat mayat Bu-ceng Tok-ong. dibawa masuk ke dalam kemah dan mendudukkan tubuh yang sudah kaku itu di alas pembaringan.

"Biar orang lain anggap dia bersamadhi pikir pemuda ini yang merasa perlu melakukan akal ini agar tidak mudah diketahui orang lain akan kematian Tok-ong sehingga tidak menimbulkan keributan sebelum ia selesai dengan rencananya.

Kemudian, setelah mengatur duduknya mayat kaku itu bersila dan bersikap seperti orang bersamadhi dan Kun Hong lalu membuang semua bangkai ular dan melenyapkan tanda-tanda adanya pertempuran di tempat itu. Ia menyimpan bangkai Ang-siauw-liong ke dalam saku bajunya, lalu berlari ke pantai. Seperti yang ia duga, di pantai tidak ditinggal kosong. Para gadis penjaga tadi setelah pergi meninggalkan kemah ternyata masih ada empat orang berjaga di pantai.

"Kenapa kalian masih di sini?” tegur Kun Hong. "Bukankah Tok-ong sudah bilang kalian harus pergi semua dan tempat ini Tok-ong dan aku yang menjaga?"

"Kami menjaga perahumu," jawab seorang di antara para penjaga cantik itu sambil tersenyum manis.

Kun Hong menghampiri gadis ini dan mencubit pipinya penuh sikap mencumbu. "Manis sekali kau!" Tentu saja gadis itu menjadi girang dan aksinya makin menjadi.

"Manis, kelak aku akan menyediakan waktu untukmu. Sekarang aku perlu bantuanmu. Kau dan kawan-kawanmu ini pergilah mencari nona Cheng In dan Ang Hwa, suruh mereka ke sini, penting sekali. Akan tetapi jangan sampai terlihat oleh orang lain, juga jangan diketahui Siansu. Takut Siansu marah melihat dalam keadaan berjaga aku mau bersenang-senang."

Gadis penjaga itu cemberut. "Aku di depanmu tapi pikiranmu melayang kepada enci Cheng In dan Ang Hwa!"

Kun Hong tersenyum. "Eh. manis. Apa kau sudah mulai cemburu?"

"Iih, siapa yang cemburu?" tukas gadis itu genit.

"Sudahlah, lekas kau lakukan permintaanku itu. Penting sekali, sekarang juga mereka suruh datang berdua. Kutunggu di sini."

Dengan muka kecewa gadis gadis itu lalu pergi mendayung perahu dan lenyap ditelan gelap malam. Kun Hong menanti dengan hati berdebar, mengatur siasat. Apa Cheng In dan Ang Hwa mau membantunya? Apakah dua orang gadis itu dapat disadarkan dari pada jalan sesat dan kejahatan yang selama ini menyelubungi kehidupan mereka?

Ia maklum bahwa pada hakekatnya dua orang gadis muda itu, seperti juga yang lain lain, tidaklah jahat dan keji Hanya karena lingkungan mereka yang kotor maka mau tidak mau mereka terbawa juga, terpercik kekotoran yang melingkungi mereka. Karena pengaruh Thai Khek Sian. Seperti halnya dia sendiri. Dahulu ketika dekat dengan Bu-ceng Tok-ong. Tok-sim Sian-li kemudian dekat dengan Thai Khek Sian, ia mempunyai sifat tak perdulian.

Dahulupun mata hatinya terbuka dan ia mengakui bahwa perbuatan-perbuatan mereka itu rendah, kotor, dan busuk. Akan tetapi entah mengapa, ia tidak perduli, malah ia ikut-ikut pula, merasa ketinggalan dan bodoh kalau tidak meniru mereka!

Lama ia duduk melamun dalam gelap setelah mengatur siasat. Dosaku terlalu banyak. Aku harus menebusnya di saat ini. Orang-orang kangouw yang gagah perkasa terancam bahaya, terancam bencana di tempat ini. Hanya dia yang tahu akan datangnya bencana itu, bagaimana ia bisa diam saja tidak turun tangan mencegah? Baru lamunannya buyar ketika ia melihat sebuah perahu kecil meluncur datang dan terdengar seruan girang Ang Hwa.

"Kun Hong....!" Dua orang gadis cantik itu, Cheng In dan Ang Hwa, melompat ke darat.

Kun Hong menyambut mereka dengan senyum, mencekal lengan mereka dengan sikap mencinta. Ia harus bisa mengambil hati mereka kalau ia menghendaki mereka mendengarkannya. Ia membawa mereka ke tempat gelap dan di situ mereka bicara kasak kusuk lama sekali. Kun Hong membujuk mereka dengan kata-kata halus dan akhirnya ia menang. Terdengar kata-katanya terakhir,

"Cheng In, Ang Hwa, renungkan baik-baik. Apa harapan hidupmu kalau kau selamanya seperti sekarang ini, menjadi barang permainan Thai Khek Sian, menjadi hambanya dan membantu segala perbuatannya yang busuk? Sekarang kalian masih terlindung oleh kekuasaan Thai Khek Sian, akan tetapi ingat, dia sudah tua sekali dan tak lama kemudian kalau dia sudah mati, apa yang akan kau hadapi? Tak lain kutuk dan permusuhan para orang gagah. Nama kalian akan rusak dan hina untuk selamanya!"

"Kun Hong...!" Cheng In terisak. Gadis yang biasanya berhati keras ini mulai lumer dan mulai menangis. Juga Ang Hwa terisak mengingat nasib demikian buruk kelak menimpanya.

"Aku tidak menakut-nakutimu. Kalian ini gadis gadis baik terjerumus ke dalam lumpur kehinaan. Cheng In, Ang Hwa, kalau kalian masih ingin keluar dari kehinaan, masih belum terlambat. Sekaranglah waktunya."

"Apa... apa maksudmu? Kenapa kau bicara seganjil ini? Apa kau tidak membantu gurumu...?" tanya dua orang gadis itu saling sambung.

"Dengar baik-baik. Keadaankupun tiada bedanya dengan kalian. Aku terseret ke jurang kesesatan oleh mereka, maka sekaranglah saatnya aku menebus dosa-dosaku. Cheng In dan Ang Hwa, tahukah kau bahwa Thai Khek Sian bersama kaki tangannya sedang merencanakan kekejian luar biasa, yaitu dalam pesta ulang tahunnya ia hendak membinasakan semua tokoh kangouw? Ia telah bersekongkol dengan orang-orang Mongol untuk membasmi semua orang gagah agar kelak kalau tentara Mongol bergerak ke selatan, mereka tidak akan menemui banyak perlawanan."

Baik Cheng In maupun Ang Hwa tidak perduli dengan berita ini, mereka sudah biasa mendengar kekejian-kekejian yang dilakukan oleh golongan mereka. Malah mereka memandang heran kepada Kun Hong. "Habis kau mau apa?" tanya Ang Hwa penuh kesangsian.

"Kita harus halangi ini! Mari kita perlihatkan kepada dunia bahwa kita masih dapat memperbaiki diri. Bantulah aku, adik-adikku yang manis. Bu-ceng Tok-ong sedang merencanakan untuk membunuh semua undangan dengan arak beracun. Aku hendak menghalanginya, dia melawan dan akhirnya dia tewas oleh senjatanya sendiri."

Kedua orang gadis itu nampak terkejut, Bu-ceng Tok-ong adalah orang kepercayaan Thai Khek Sian, apa lagi karena Bu-ceng Tok-ong yang datang membawa orang-orang Mongol untuk menjalankan siasat keji itu.

"Kun Hong, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak takut akan kemarahan Siansu?" tanya Cheng In, wajahnya yang cantik mulai berubah.

Kun Hong memegang lengannya. "Cheng In, tidak ada pilihan lain. Juga bagimu. Biarpun kita pernah sesat jalan, kiranya jauh lebih baik mati membawa nama harum dari pada meninggalkan nama busuk. Kalau kali ini kita melakukan perbuatan baik menentang kekejian, kiranya mati-pun takkan penasaran, setidaknya mencuci sedikit semua kekotoran yang menempel kita. Maukah kalian membantuku? Lekas ambil keputusan, malam sudah hampir lewat, waktu tidak banyak lagi."

"Apa... apa yang harus kami lakukan?” Cheng In mulai gagap, terpengaruh oleh semua ucapan Kun Hong. Memang, dahulu kedua orang gadis ini membenci Thai Khek Sian karena orang tua mereka dibunuh oleh kaki tangan iblis itu. Akan tetapi karena berada di bawah pengaruh Thai Khek Sian, mereka sampai melupakan sakit hati ini, malah bersama yang lain berlumba merebut kasih sayang iblis itu untuk mewarisi kepandaiannya yang tinggi.

Akhir-akhir ini karena tidak ada sedikitpun jalan bagi mereka untuk mendapatkan penghidupan lain, mereka merasa puas dan menjadi selir dan murid tersayang dari pentolan Mo-kauw itu. Sekarang ini, kata-kata dan bujukan Kun Hong mendatangkan kesan hebat dan hati mereka terguncang.

"Kau tentu tahu bahwa perwira-perwira Mongol sudah datang ke sini dan di mana adanya mereka?"

"Di pulau-pulau sana itu." kata Cheng In sedangkan Ang Hwa tidak berani membuka suara, menyerahkan urusan menegangkan ini kepada Cheng In.

"Nah... Kau bawalah guci-guci arak itu dan usahakan supaya mereka mau meminumnya. Dengan demikian, selain menolong nyawa para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh besar yang gagah perkasa di dunia kang-ouw, juga kalian dapat mengabdi kepada negara, melenyapkan musuh-musuh negara."

"Arak.... beracun?" tanya Ang Hwa kini, suaranya gemetar.

''Buatan Bu-ceng Tok-ong," sambung Kun Hong. "Tak usah khawatir. Yang kau beri arak bukanlah Thai Khek Sian dan kawan-kawan lain, melainkan orang-orang Mongol. Pula, arak itu bukan buatanmu. Kalau sampai ketahuan, bilang saja kau disuruh Bu-ceng Tok-ong dan aku, habis perkara."

Cheng In dan Ang Hwa ragu-ragu, akan tetapi mereka tak dapat menolak bujukan bujukan halus Kun Hong dan akhirnya Cheng In berkata, "Kun Hong, ada satu hal yang kami ingin kau berjanji kepada kami."

"Katakan."

"Andaikata berhasil dan kelak kami dapat kembali ke jalan benar, maukah kau... menerima kami?"

"Tentu sekali! Kalian adik-adikku yang manis, tentu akan aku terima dengan kedua tangan terbuka," jawab Kun Hong gembira sambil merangkul mereka.

Di dalam hatinya ia mengartikan ucapannya itu lain dari pada yang dikehendaki dua gadis ini. Maksud Cheng In, mereka mengharapkan kelak diterima menjadi isteri Kun Hong. Sebaliknya Kun Hong memaksudkan menerima gadis-gadis itu sebagai saudara saudara atau setidaknya sebagai sahabat-sahabat baik.

Pemuda ini cerdik sekali. Karena Cheng In tidak menjelaskan kehendaknya, maka tanpa ragu-ragu ia berani berjanji. Andaikata Cheng In menjelaskan agar kelak diterima sebagai isteri, tentu tak berani ia berjanji. Di dunia ini hanya Eng Lan yang memenuhi hatinya, tidak ada tempat lagi untuk lain wanita. Dengan bantuan Kun Hong, dua orang gadis itu lalu mengangkuti guci-guci arak ke dalam perahu.

''Usahakan sekuat kalian supaya mereka minum arak ini," pesan Kun Hong setelah pekerjaan itu beres dilakukan.

Cheng In dan Ang Hwa dengan mata merah karena menangis berdiri memegang tangan Kun Hong. ''Andaikata kami gagal.... maukah kau mengabarkan kepada orang-orang gagah tentang bantuan kami yang sedikit ini?"

"Kau takkan gagal, Cheng In. Gagal atau tidak, nama kalian tetap akan dikenal orang-orang gagah sebagai gadis-gadis perkasa yang telah berusaha menebus semua kesesatan yang lampau."

"Kun Hong... kalau kami sudah berhasil, kami akan melarikan diri ke darat dan menanti kau di sana." kata Ang Hwa.

Kun Hong menepuk-nepuk pundaknya. "Pasti kita akan saling berjumpa kembali. Berangkatlah, adik-adikku, dan lakukan tugas mulia ini baik-baik dan hati-hati."

Maka berangkatlah dua orang gadis itu. Perahu mereka meluncur di dalam kabut karena malam sudah mulai menarik diri meninggalkan kabut tebal di permukaan air.

Untuk beberapa lama Kun Hong berdiri di pinggir pantai, memandang ke arah perginya dua gadis itu sampai bayangan perahu mereka lenyap ditelan kabut. Aku harus ke pantai daratan, pikirnya, mencegat di sana dan memberi peringatan kepada orang-orang gagah yang hendak menyeberang ke Pek-go-to agar mereka berhati-hati dan bekerja sama.

Akan tetapi baru saja ia melompat ke perahunya dan mutai mendayung, tiba-tiba ia mendengar jerit seorang wanita. Ia merasa darahnya membeku saking kagetnya karena mengira bahwa tentulah itu suara Ang Hwa atau Cheng In. Apakah mereka telah ketahuan dan rahasia mereka terbuka sehingga mereka menjadi korban hukuman Thai Khek Sian? Tak bisa ia tinggal diam membiarkan dua orang gadis itu menjadi korban rencananya.

Cepat ia mendayung perahunya ke tengah, ke arah suara jeritan tadi. Kabut telah menipis dan sinar matahari memerah menjadi pertanda bahwa sang raja siang sebentar lagi akan mulai dengan tugasnya. Sinar kemerahan memenuhi permukaan air, mendatangkan silau dan mengusir kabut. Kun Hong mendayung terus.

Akhirnya ia melihat sebuah perahu dan di situ terlihat beberapa orang tengah bertempur hebat. Ia menarik napas lega. Bukan perahu Cheng In dan Ang Hwa. Perahu ini lebih besar dan melihat bayangan yang bertempur, mereka adalah dua orang laki-laki dan seorang gadis. Kun Hong menjadi tertarik hatinya dan mempercepat dayungnya.

Pada saat ia telah dekat dengan perahu besar itu, gadis yang ikut bertempur mengeroyok seorang laki-laki gundul telah roboh tertotok, meringkuk di dalam perahu tak berdaya. Adapun laki-laki tua pendek yang dibantu gadis itu juga amat terdesak oleh laki-laki tinggi besar gundul yang ternyata amat lihainya.

Setelah melihat penuh perhatian dengan amat kaget Kun Hong mengenal mereka yang sedang bertempur itu. Bukan lain adalah Beng Kun Cinjin yang tadi dikeroyok oleh Pak-thian Koai-jin dan Eng Lan! Eng Lan yang tadi tertotok roboh dan sekarang Pak-thian Koai-jin juga terancam bahaya. Kun Hong marah sekali melihat Beng Kun Cinjin, juga girang melihat Eng Lan. Ia membentak,

"Beng Kun Cinjin manusia keparat! Akhirnya aku dapat bertemu dengan kau!"

Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan keras dan tubuh Pak-thian Koai-jin terjungkal dan terlempar keluar dari perahu dalam keadaan tak bernyawa lagi! Kun Hong terkejut sekali, hendak menolong namun terlambat karena tubuh itu telah tenggelam ke dalam air yang masih merah gelap. Kemarahannya meluap. Betapapun juga, Pak-thian Koai-jin adalah guru dari Eng Lan dan karena ini saja ia harus membela mati-matian. Apa lagi Eng Lan berada di perahu dalam keadaan tertotok.

"Keparat, bersiaplah untuk mampus!" Kun Hong sudah mencabut pedang dan melompat ke atas perahu. Akan tetapi, begitu kakinya menginjak papan perahu, ia berdiri tegak seperti patung dalam keadaan tidak berdaya. Tidak saja ia tidak berdaya karena melihat Beng Kun Cinjin sudah menangkap Eng Lan dan menggunakan gadis itu sebagai perisai, akan tetapi juga ia ragu-ragu karena ternyata Thai Khek Sian sendiri berada di perahu itu, bersila dan memandangnya sambil menyeringai!

"Heh-heh-heh, murid nakal. Kau baru muncul?" Hanya demikian Thai Khek Sian berkata, selanjutnya meramkan matanya kembali bersamadhi.

"Beng Kun Cinjin... kau lepaskan Eng Lan!" bentak Kun Hong...

Jilid selanjutnya,