Cheng Hoa Kiam Jilid 40

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 40
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 40, karya Kho Ping Hoo - DUA ORANG gadis itu pernah mendengar nama buruk Thai Khek Sian dan diam-diam mereka bergidik ngeri. "Habis, bagaimana baiknya?" tanya Lin Lin, kini tidak begitu dingin lagi karena keramahan yang wajar dari Wi Liong.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

"Hanya ada dua jalan. Pertama, menunda penyeberangan ini sampai setengah bulan, atau kalau ji-wi tidak menaruh curiga kepadaku, jalan ke dua adalah menanti sampai setengah bulan di Kepulauan Sorga. Ji-wi pasti akan senang sekali di sana."

"Kepulaun Sorga?" tanya Lin Lin tak percaya.

"Hanya nama. Sebetulnya merupakan tiga pulau kecil berjajar yang amat indah, pulau kosong yang subur," jawab Wi Liong.

Kembali dua orang gadis kembar itu saling pandang. Diam-diam mereka menjadi geli dan bersinarlah cahaya yang nakal dalam mata mereka. Lalu keduanya mengangguk seperti bersepakat. "Baiklah, ke Pulau Sorga." kata mereka berbareng.

Dengan hati amat gembira karena dua orang gadis kembar yang baginya menjadi pengganti Siok Lan itu, Wi Liong mendayung perahunya ke tengah lautan, menuju ke sekelompok pulau di depan. Di antara sekumpulan kepulauan ini memang banyak terdapat pulau-pulau kecil kosong yang tidak ditinggali orang.

Pernah Wi Liong menjelajah tempat ini dan mendapatkan tiga buah pulau kosong berjajar setengah mengelilingi Pek-go-to yang jauh di depan. Karena pulau ini kosong dan indah sekali, ia menyebutnya Pulau Sorga. Sekarang ia hendak mengajak dua orang gadis kembar itu ke sana untuk menanti datangnya hari yang besar itu, di mana orang-orang kangouw tingkat tinggi akan mengadakan pertemuan di Pek-go-to atas undangan Thai Khek Sian.

Di bawah terik panas matahari, Wi Liong mendayung perahunya, matanya bersinar-sinar wajahnya berseri gembira. Suasana sunyi, hanya bunyi air berkecipak mendampar tubuh perahu dan air di depan terbelah kepala perahu menyibak ke kanan kiri seperti agar-agar warna biru terbelah pisau tajam.

Kesunyian yang kosong itu tak menyedapkan hati Lan Lan dan Lin Lin. Terutama sekali Lin Lin yang berwatak lincah jenaka. Dianggapnya Wi Liong terlampau pendiam. Katanya dengan senyum mengejek kepada Lan Lan, "Enci Lan, rasanya seperti kita berlayar bersama sebuah patung!"

Lan Lan kaget akan tetapi terpaksa bersenyum juga, lalu mencegah adiknya, "Hush... Lin-moi...."

Muka Wi Liong menjadi merah, akan tetapi pemuda ini mendayung terus, malah mengerahkan tenaga sehingga perahu meluncur makin laju.

Melihat wajah yang tampan itu kemerahan Lin Lin makin senang menggoda, "Lan-cici, jangan-jangan tunanganmu menjadi gagu..."

"Hush, Lin-moi!, jangan nakal...!" Lan Lan menegur gugup dan muka gadis ini menjadi merah juga.

Mendengar disinggung-singgungnya urusan pertunangan ini, Wi Liong makin kaget dan bingung. Pemuda ini memang tertarik sekali kepada sepasang gadis kembar yang seperti Siok Lan segala-galanya ini, akan tetapi biarpun tidak ada kebahagiaan lebih besar dari pada berdekatan dengan mereka, namun tentang perjodohan yang dipesankan oleh Tung-hai Sian-li, sungguh tidak dapat atau lebih tepat tidak berani ia menerimanya.

Ia mengangkat muka dan berhenti mendayung, pandang matanya menatap dua orang gadis itu ganti-berganti, bingung karena biarpun warna pakaian dua orang gadis itu berbeda, ia sudah lupa lagi mana Lan Lan mana Lin Lin!

Dua orang gadis itu melihat Wi Liong bengong terlongong memandangi mereka berganti-ganti, dapat menduga bahwa lagi-lagi pemuda ini bingung dalam membedakan mereka. Keduanya menjadi geli hati dan tertawa. Lan Lan tertawa dengan tangan kanan menutup mulut dan tangan kiri memegangi ujung rambutnya yang panjang tergantung ke depan dada kiri. Sedangkan Lini Lin tertawa kecil memperlihatkan deretan, gigi yang putih berkilau di antara sepasang bibir kecil merah, manis sekali.

Melihat dua orang gadis itu tertawa, makin bingunglah Wi Liong. Kenapa di dunia ada hal yang begini aneh? Bahkan kalau tertawa, biarpun sikapnya berbeda-beda, toh mereka itu keduanya sama betul dengan Siok Lan! Pernah Wi Liong melihat Siok Lan tertawa menutupi mulut memegang rambut seperti gadis pertama dan pernah pula ia melihat Siok Lan tertawa dengan bibir dan gigi persis gadis ke dua!

Karena tidak tahu yang mana Lan Lan yang mana Lin Lin, dengan gagap Wi Liong berkata, "Nona nona... yang manakah nona Lan Lan...?”

"Kau terka sendiri!" kata Lin Lin menggoda.

Wi Liong makin bingung, kemudian setelah menarik napas panjang ia berkata, "Karena aku tidak tahu yang manakah Pek Lan Lan siocia, biarlah aku bicara kepada ji-wi siocia (nona berdua)."

"Tidak kepada Bu-beng Siocia?" Lan Lan yang melihat kegembiraan adiknya, timbul sifatnya yang periang dan ikut menggoda.

"Tidak... aku... harap maafkan kebodohanku. Ji-wi siocia, aku ada sedikit omongan yang amat penting."

"Tuan Thio Wi Liong yang terhormat, perintah apakah gerangan yang hendak tuan berikan kepada hamba berdua?" kembali Lin Lin mengejek.

"Nona jangan begitu, aku hanya... hanya...."

"Tuan Thio Wi Liong yang gagah perkasa dan sopan santun...." sambung Lan Lan. Gadis-gadis ini memang merasa mendongkol melihat sikap yang begitu dingin dan pendiam dari pemuda ini, pemuda yang menjadi tunangan resmi keduanya!

"Aku hanya tukang perahu yang menyeberangkan kalian," Wi Liong akhirnya terseret juga oleh kejenakaan mereka dan mulai lenyaplah kerut-kerut pada keningnya yang menandakan bahwa tadi ia sedang berpikir keras, pikiran yang tidak menyedapkan hati dan menimbulkan kerut pada muka.

"Tukang perahu apa? Kau sengaja mengikuti kami.'' kata Lin Lin.

Wi Liong terkejut lalu memuji. "Entah pandang matamu yang awas sekali atau hanya dugaanmu yang kebetulan saja. Akan tetapi terus terang kukatakan memang aku sengaja mengikuti kalian." Wi Liong mengangguk-angguk. "Aku dapat menduga bahwa kalian tentu akan mencari Kui-bo Thai-houw untuk membuat perhitungan, maka kutaksir kalian tentu akan mendatangi Pek-go-to pula. Karena akan ada pertemuan puncak dan keadaan di sini amat berbahaya, maka aku sengaja mengikuti kalian."

"Untuk melindungi kami?" Lan Lan bertanya penuh gairah.

"Hemm.... bukan begitu, atau... ya, kalau perlu...."

"Ah... tentu karena kau hendak melindungi tunanganmu, bukan?" menggoda Lin Lin dengan sikapnya yang jenaka.

Muka Wi Liong berubah, kerut di keningnya timbul lagi. Ia menarik napas panjang. "Itulah yang hendak kukatakan tadi. Yang mana nona Pek Lan Lan?"

"Yang mana juga sama saja. Kau boleh bicara," kata Lan Lan dengan dada berdebar.

"Aku mau bicara tentang pesan terakhir dari Tung-hai Sian-li itu, tentang.... tentang ikatan jodoh..."

"Kenapa?" desak Lin Lin penuh gairah.

Sukar Wi Liong membuka mulutnya. Keadaannya sekarang benar-benar sebaliknya dari pada dahulu ketika ia dijodohkan dengan Siok Lan. Dahulu dengan penuh gairah ia hendak memutuskan perjodohannya dengan Siok Lan karena ia cinta kepada Bu-beng Siocia. Sekarang ia harus memutuskan tali perjodohannya dengan Lan Lan, karena ia sudah ditunangkan oleh pamannya.

Dan ia harus memutuskannya dengan hati luka dan penuh penyesalan karena ia harus akui bahwa di dalam hatinya hidup lagi cinta kasih terhadap Siok Lan dahulu, kini berpindah kepada gadis kembar ini yang baginya seolah olah Siok Lan sendiri menjelma kembali menjadi dua.

"Aku... aku terpaksa tak dapat menerimanya..." ia berkata dengan kepala tunduk agar tidak tampak sinar matanya yang suram dan bibirnya yang gemetar. Karena ia menunduk ini ia tidak melihat betapa wajah Lan Lan menjadi pucat seketika.

"Sombong, jadi kau merasa dirimu terlalu tinggi untuk menjadi jodoh enci Lan Lan, tuan Thio Wi Liong?" Lin Lin membentak marah.

Wi Liong mengangkat mukanya dan muka yang tampan itu menjadi pucat sekali sampai dua orang gadis itu kaget. Wi Liong tadi tidak memperhatikan siapa di antara dua orang gadis itu yang bicara sehingga sampai saat itu ia belum dapat tahu yang mana Lan Lan dan yang mana Lin Lin.

"Tidak begitu! Aku bersumpah, demi Thian dan demi kehormatanku! Aku sama sekali tidak beranggapan begitu. Bahkan aku.... aku akan merasa menjadi sebahagia-bahagianya orang di dunia ini apa bila aku bisa memenuhi pesan keramat Tung-hai Sian-li. Aku... aku akan berbahagia sekali..." Kembali ia menunduk penuh penyesalan.

Lan Lan dan Lin Lin saling pandang. Lin Lin yang cerdik cepat memegang tangan encinya, ia mendapat pikiran yang membuatnya berdebar. "Apa sebabnya? Katakan, apa sebabnya kau tidak bisa memenuhi pesan itu?" desaknya.

Tanpa mengangkat mukanya Wi Liong menjawab lirih. ”Karena... karena aku telah bertunangan dengan gadis lain..." Ia tidak tahu betapa Lan Lan hampir berteriak kesakitan karena tangannya diremas oleh adiknya.

"Tuan Thio Wi Liong bertunangan dengan gadis manakah.?" tanya Lan Lan.

'"Jangan-jangan ini hanya untuk alasan penolakan belaka," sambung Lin Lin.

Kembali Wi Liong mengangkat mukanya, la nampaknya lega karena tidak ada tanda-tanda marah pada wajah dua orang gadis kembar itu malah kini dua pasang mata itu memandang tajam kepadanya penuh selidik.

"Bukan alasan, kosong. Aku benar-benar telah ditunangkan oleh pamanku, ji-wi siocia. Karena itu, bagaimana aku bisa menerima ikatan jodoh lain?"

"Hemmm, kami dapat mengerti alasanmu, tuan Thio. Tentu gadis tunanganmu itu cantik jelita seperti bidadari dan tentu jauh lebih pandai dari pada kami anak-anak bodoh." kata Lan Lan.

"Tentu kau amat mencintanya, tuan Thio," sambung Lin Lin.

Diam diam Wi Liong makin menyesal. Ada sifat-sifat dua orang gadis ini yang lebih baik malah dari pada watak Siok Lan. Siok Lan orangnya pendiam dan amat keras hati, mudah marah. Dua orang gadis ini biarpun ada tanda tanda keras hati sepenti Siok Lan, akan tetapi jujur sekali dan peramah pula juga lebih panjang pikiran buktinya pengakuannya ini tidak membikin mereka marah.

"Bagaimana aku bisa mencintanya dan bagaimana aku bisa tahu dia cantik atau tidak. Melihatpun belum!" jawab Wi Liong.

"Aneh! Kalau belum melihatnya, kenapa kau begini... begini setia? Bagaimana kalau kelak ternyata ia amat buruk seperti monyet?" tanya Lin Lin dan mulailah ia tersenyum, diikuti oleh Lan Lan yang kini mulai mengerti hingga ia diam-diam makin kagum dan memuji kesetiaan "tunangannya".

"Jangankan hanya seperti monyet, biar seperti kadal sekalipun, aku akan mengawininya kelak.” jawab Wi Liong tersenyum karena ia menjadi gembira juga melihat gadis gadis itu tidak marah, malah mulai berkelakar.

Lin Lin cemberut. Siapa orangnya tidak cemberut kalau ia dikatakan seperti kadal? Memang yang dikatakan seperti kadal itu adalah dia sendiri orangnya, tunangan Wi Liong melalui pamannya. Hampir saja gadis ini yang kadang-kadang mempunyai watak keras merenggut sepatu kecil yang disimpan di balik bajunya dan membantingnya di depan pemuda itu. Baiknya Lan Lan yang melihat wajah adiknya, cepat meremas jari-jari tangan Lin Lin.

"Kau hebat, tuan Thio. Kau setia sekali!" memuji Lan Lan.

"Bagaimana aku takkan setia? Pamanku adalah pengganti ayah bundaku, mana aku berani membikin marah dan membantahnya? Pula...." Suaranya berubah dan pemuda ini nampak berduka, "aku... aku selain mentaati paman juga hendak menghukum diri sendiri. Aku tak ingin mengulangi pengalaman pahit yang pernah kualami."

"Pengalaman pahit dalam asmara?" tanya Lin Lin kenes.

Wi Liong mengangguk.

"Ceritakanlah, tuan Thio," kata Lan Lan.

Wi Liong menggeleng kepalanya. "Kelak saja kuceritakan Sekarang yang paling penting, aku sudah mengaku terus terang. Karena itulah maka aku sungguh menyesal terpaksa menolak pesan terakhir dari Tung-hai Sian-li tentang perjodohan itu. Kuharap saja nona Pek Lan Lan suka memberi maaf sebesarnya kepadaku. Sudikah nona mengampuniku?" tanyanya tanpa memandang langsung kepada seseorang. Ia memancing agar nona Lan Lan suka menjawab pertanyaannya ini hingga ia dapat mengetahui yang manakah enci dan mana adiknya.

Hampir saja Lan Lan terpancing. Akan tetapi Lin Lin cepat berkedip kepadanya dan mendahului cicinya, "Soal ampun itu bukan urusan kami berdua. Perjodohan tak dapat dipaksakan, kalau kau lebih suka berjodoh dengan monyet atau kadal dari pada dengan.... dengan kami, silahkan..."

Wi Liong kaget menangkap suara keras dalam kata-kata ini, dan iapun masih ragu-ragu apakah gadis ini yang bernama Lan Lan? ”Aku.... aku menyesal sekali, nona Lan Lan...."

"Hush... jangan ngawur!" bentak Lin Lin, pura-pura marah akan tetapi akhirnya tak dapat menahan ketawanya melihat kebingungan Wi Liong. Juga Lan Lan menjadi geli dan tersenyum sungguhpun di dalam hati ia amat kasihan kepada pemuda yang mereka permainkan ini.

"Kalau begitu kaukah nona Lan Lan?" tanya Wi Liong, berpaling kepada Lan Lan.

"Tentu saja seorang di antara kami bernama Lan Lan, akan tetapi yang mana kau terka sendiri. Bagi kami, Lan Lan maupun Lin Lin sama saja."

Pada saat kedua orang gadis kembar itu mempermainkan dan mentertawakan Wi Liong, tiba-tiba pemuda ini menggerakkan dayungnya, mendayung dengan kecepatan luar biasa ke arah kiri sehingga dua orang gadis itu menjadi kaget dan heran.

"Eh, ada apa?" tanya Lin Lin.

"Di sana banyak perahu menuju ke pulau itu." jawab Wi Liong sambil menggerakkan mukanya ke depan.

Dua orang gadis itu memandang dan betul saja, jauh di kaki langit tampak enam perahu hitam dengan layar terkembang menuju ke sebuah pulau.

Wi Liong terus mendayung perahunya ke sebuah pulau kecil yang besarnya paling banyak satu li persegi, penuh pohon dan karang. Ia mendaratkan perahunya dan melompat ke darat.

"Kita mengintai dari sini. Enam buah perahu itu mencurigakan," katanya. "Anehnya, mereka tidak menuju ke Pek-go-to, melainkan ke tiga Pulau Sorga! Hemm... mana bisa ada tamu sampai sekian banyaknya datang sekaligus di tempat ini?"

"Jangan-jangan bajak laut," kata Lin Lin, "Lebih baik kita menghampiri mereka dan kalau benar bajak laut, kita basmi habis!"

Lan Lan menyatakan setujunya dengan usul adiknya yang gagah ini. Akan tetapi Wi Liong menggeleng kepala. "Tak mungkin bajak laut. Mana ada bajak laut begitu tak tahu mati beroperasi di daerah ini? Nama Thai Khek Sian sudah terlampau terkenal. Memasuki daerah ini berarti mati. Tentu ada hal-hal aneh yang perlu diselidiki. Pamanku sudah pesan bahwa suhu menaruh curiga dengan undangan Thai Khek Sian, maka menyuruh aku menyelidiki."

Tiba-tiba Lin Lin berseru, "Awas....!!" dan gadis ini dengan sigapnya melompat untuk melindungi encinya. Tangan kirinya dikibaskan, dan runtuhlah dua batang anak panah yang menyambar ke arah dia dan Lan Lan. Sedangkan Wi Liong dengan mudah menangkap anak panah itu.

Baru saja mereka berhasil menggagalkan serangan anak-anak panah, kembali datang serangan berupa senjata rahasia yang datangnya cepat sekali dan biarpun hari telah senja, senjata rahasia kecil itu masih mengeluarkan cahaya kuning. Kembali Lin Lin bergerak cepat. Pedangnya sudah di tangan dan sekali putar beberapa Kim ji piauw runtuh.

Wi Liong melompat jauh dan diam-diam ia girang karena sekarang tahulah ia mana Lan Lan mana Lin Lin. Tentu saja yang begitu lihai menangkis Kim-ji-piauw adalah Lin Lin, gadis perkasa murid Liong Tosu itu. Akan tetapi pada saat itu ia tidak sempat mengurus hal ini karena Lin Lin dengan beraninya telah melompat dan lari ke arah penyerang gelap sambil membentak. "Anjing-anjing pengecut jangan lari!"

Lan Lan juga mencabut pedangnya dan sudah mengejar adiknya menyerbu musuh yang melakukan penyerangan gelap. Dengan suling di tangannya Wi Liong juga menyusul. Ketika Lin Lin dan Lan Lan keluar dari hutan kecil, mereka melihat dua orang gadis cantik berpakaian mewah berdiri memandang mereka dengan sinar mata kagum dan di belakang dua orang gadis cantik ini masih berdiri belasan orang gadis lain yang pakaiannya juga indah-indah. Semua gadis ini memegang sebatang pedang.

"Siluman-siluman jahat, tentu kalian yang melakukan penyerangan gelap!" Lin Lin membentak marah.

Seorang di antara dua gadis itu setelah hilang kaget dan herannya melihat dua orang gadis kembar, menudingkan pedangnya dan berkata, "Kalian ini tentulah mata-mata yang dikirim orang jahat. Siansu menyuruh kami menangkap semua orang yang mencurigakan. Kawan-kawan, tangkap dua orang ini!"

Akan tetapi sambil mengeluarkan suara mengejek Lin Lin sudah memutar pedangnya diikuti oleh Lan Lan. Mereka disambut dengan pedang pula dan terjadilah pertempuran hebat. Akan tetapi Lin Lin memang lihai. Beberapa gebrakan saja sudah cukup baginya untuk merobohkan beberapa orang pengeroyok. Dua orang gadis kepala rombongan itu marah dan cepat maju mengeroyok Lin Lin, sedangkan Lan Lan dikeroyok oleh anak buahnya.

Namun, segera mereka itu mendapat kenyataan betapa lihainya Lin Lin. Pedang gadis ini berkelebatan dan membuat dua orang pengeroyoknya menjadi silau dan pening. Biarpun mereka berdua juga memiliki ilmu pedang yang ampuh dan aneh. namun menghadapi Lin Lin mereka kalah tingkat.

Pada saat itu Wi Liong muncul dan pemuda ini mengeluarkan seruan kaget ketika mengenal dua orang gadis kepala rombongan itu. "Cheng In dan Ang Hwa cici, harap hentikan pengeroyokan!" Sambil berseru demikian Wi Liong menyerbu. Kemana saja ia bergerak, ia sudah dapat menangkis semua senjata dan membuat pemegangnya terpaksa melompat mundur sehingga dalam sekejap mata saja semua pertempuran terhenti.

Dua orang gadis cantik berpakaian mewah itu memang Cheng In dan Ang Hwa dua orang selir Thai Khek Sian atau murid-muridnya yang paling disayang. Mereka juga segera mengenal Wi Liong dan kedua gadis itu tersenyum manis.

"Ah, kaukah kiranya ini, Thio-kongcu? Kenapa kau dan... dua orang gadis ini di sini?" tanya Cheng In si baju hijau.

Pertanyaan yang disertai pandang mata penuh selidik dan arti ini membuat muka Wi Liong menjadi merah. Ia tahu orang-orang macam apa adanya selir-selir Thai Khek Sian ini, maka setiap kali melihat pria bersama wanita tentu menimbulkan pikiran yang tidak-tidak dalam benak mereka.

"Aku mengantar dua nona Pek ini yang hendak ikut menghadiri pertemuan di Pek-go-to," jawabnya singkat.

"Kenapa tidak langsung ke sana melainkan datang ke pulau sunyi ini?" tanya Ang Hwa yang mainkan matanya secara genit.

"Waktunya masih belum tiba, karenanya kami hendak menunggu beberapa hari di sini."

"'Ooohhh, hi-hi-hi, kami mengerti, kongcu. Dua nona Pek ini cantik-cantik sekali dan kepandaiannya tinggi...." kata Cheng In dengan suara dibuat-buat, lagaknya genit sekali.

"Tutup mulutmu yang kotor! Kalau hendak mengobrol, jangan bawa-bawa nama kami!" Lin Lin membentak marah dan mengancam dengan pedangnya. Gadis ini marah bukan main, demikian juga Lan Lan.

Melihat dua orang perempuan baju hijau dan merah itu bicara dengan Wi Liong serta bersikap demikian genit. Cemburu yang besar menerkam hati kedua orang gadis kembar ini. Betapapun juga, mereka menganggap Wi Liong sebagai tunangan mereka yang sah!

Wi Liong sendiri tak senang bertemu dengan para selir Thai Khek Sian ini, akan tetapi ia mengerti bahwa daerah ini memang dapat disebut daerah kekuasaan Thai Khek Sian dan kedatangannya di situ hanya sebagai tamu. Maka untuk meredakan ketegangan, ia segera memperkenalkan dua orang selir itu kepada Lin lin dan Lan Lan,

"Inilah nona Cheng In dan nona Ang Hwa beserta semua kawannya, mereka itu adalah... adalah...." Wi Liong bingung hendak mempergunakan sebutan apa, selir ataukah murid?

Baiknya Ang Hwa yang dapat menduga kesulitannya segera membantu dan menyambung dengan ketawa, "Kami adalah selir-selir yang tercinta, juga murid-murid yang setia dari Thai Khek Siansu di Pek-go-to. Kami girang sekali bahwa kedua adik yang cantik manis dan perkasa adalah sahabat-sahabat baik Thio-kongcu (tuan Thio). Biarlah kawan kawan kami yang terluka merupakan penebus kelancangan kami atau pembuka jalan perkenalan kita. Kami girang sekali dapat berkenalan dengan adik-adik yang lucu."

Lin Lin dan Lan Lan jemu mendengar kata-kata dan melihat sikap genit dari Ang Hwa. Apa lagi Lin Lin. Ia makin mendongkol dan bentaknya nyaring, "Kami tidak butuh berkenalan dengan segala macam selir!" Kemudian sambil melirik ke arah Wi Liong, ia menyambung, "Entah kalau dia itu mungkin suka. Kalau mau mengobrol, mengobrollah dengan dia, kami tak sudi!"

Melihat sikap ini, Cheng In tertawa genit dan berkata. "Ah. remburu amat!"

Akan tetapi Wi Liong yang tidak menghendaki terulangnya keributan, segera berkata. "Jiwi Pek siocia harap maafkan, enci Cheng In dan Ang Hwa ini adalah penolong-penolongku. Kalau tidak karena pertolongan mereka, mungkin hari ini aku sudah tidak ada di dunia lagi.''

Mendengar ini, diam-diam Lan Lan dan Lin Lin tercengang dan rasa tak enak serta cemburu di dalam dada menghebat. Akan tetapi mereka diam saja. Wi Liong segera menjura kepada Cheng In dan Ang Hwa, "Kalian kenapa berada di pulau ini dan kenapa pula datang-datang menyerang?"

"Kami memang ditugaskan di sini oleh Siansu. Menjelang datangnya hari besar itu, kami disuruh menjaga daerah ini karena menurut Siansu, di antara para sahabat yang datang mungkin sekali akan datang musuh-musuh jahat yang hendak membikin kacau pertemuan. Melihat kau bertiga tadi, kami menyangka buruk, maafkan kelancangan kami," kata Cheng In.

"Tidak apalah dan sekarang harap cici berdua tinggalkan saja pulau ini. Bukankah kalian percaya bahwa aku bukan orang jahat yang hendak mengacau?"

Dua orang perempuan itu tertawa genit. "Kalau kau menjadi pengacau, paling-paling pengacau hati yang membikin orang tak dapat tidur! Kongcu, kau orang baik dan kami selalu terkenang kepadamu. Apakah kau tidak mau ikut dengan kami ke Pek-go-to sekarang saja? Siansu tentu menerimamu dengan baik karena memang sekarang waktunya menerima tamu."

Di dalam ajakan ini terkandung suara memikat yang hanya dapat terasa oleh Wi Liong. Akan tetapi, sebagai wanita, Lan Lan dan Lin Lin juga dapat menangkapnya dan hal ini membuat hati mereka makin panas.

"Tuan Thio, kau pergilah dengan perempuan-perempuan ini, biar kami berdua di sini juga tidak akan mampus!" kata Lin Lin gemas.

Wi Liong menjadi makin bingung. "Ji-wi cici, terima kasih atas kebaikan kalian. Tidak, aku akan datang pada waktunya. Kalian pergilah dulu."

Cheng In dan Ang Hwa menarik napas panjang, lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk pergi dari pulau kecil itu sambil membawa mereka yang tadi terluka oleh pedang Lin Lin. Ketika sudah melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Cheng In memutar tubuh dan bertanya. "Apakah Thio kongcu tadi ketika berlayar ke sini bertemu dengan perahu lain?"

Pertanyaan ini nampaknya sepintas lalu saja, akan tetapi Wi Liong melihat sikap yang penuh selidik. Ia teringat akan enam buah perahu besar tadi, maka ia menggeleng kepala tanpa membuka mulut. Cheng In nampak puas, akan tetapi sebelum pergi berkata lirih.

"Thio-kongcu, kalau kau tidak mempunyai kepentingan, sesungguhnya aku lebih suka melihat kau tidak mendatangi pertemuan ini."

Sebelum Wi Liong sempat bertanya. Cheng In dan Ang Hwa sudah pergi bersama kawan-kawan mereka, menuju ke perahu mereka yang tersembunyi di antara batu karang, lalu berlayar pergi. Sebentar saja kegelapan senja menelan bayangan perahu itu dan meninggalkan Wi Liong dan dua orang gadis kembar dalam kesunyian pulau itu. Sunyi sekali di situ, hanya terdengar riak ombak menghantam karang disaingi suara hewan-hewan di dalam hutan.

Setelah para selir Thai Khek Sian itu pergi, barulah Wi Liong merasa betapa canggung dan malunya berhadapan dengan dua orang gadis kembar itu. Ia dapat menduga betapa dua orang gadis ini memandang rendah kepada selir-selir yang genit itu dan karena melihat dia bersahabat dengan mereka, otomatis iapun akan terpandang rendah.

Oleh karena merasa canggung, Wi Liong hanya berdiri diam sambil menundukkan kepalanya. Ia menarik napas berulang-ulang, ingin sekali mengajak bicara dua orang gadis itu, akan tetapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya lega hatinya mendengar suara seorang dari mereka, yang berkata penuh nada ejekan,

"Cantik-cantik dan genit-genit para selir Pek go-to itu." Kemudian suara yang dibuat-buat meniru suara Ang Hwa yang genit. "Thio-kongcu, kenapa tidak ikut mereka bersenang-senang di Pek go-to?"

Wi Liong mengangkat muka, lalu berkata lirih, "Ji-wi Pek siocia, memang harus kuakui bahwa tidak selayaknya orang berkenalan dengan mereka itu yang tak boleh digolongkan orang baik-baik. Akan tetapi, aku pernah mereka tolong. Dan mereka itu sebetulnya hanyalah menjadi korban pengaruh dari kekuasaan Thai Khek Sian. Marilah kita duduk dan bicara yang baik, nona-nona. Tadi kukatakan bahwa hidupku penuh derita dan pengalaman pahit. Mari kalian dengarkan, baru sekarang aku hendak membuka semua rahasia yang menyuramkan hidupku."

Lan Lan dan Lin Lin tertarik. Tanpa berkata kata mereka mengikuti Wi Liong memilih tempat yang bersih di bawah pohon dan terlindung dari angin oleh batu batu karang. Wi Liong mengumpulkan daun dan ranting kering, lalu membuat api unggun. Tidak saja untuk membikin penerangan di tempat yang mulai gelap itu, juga untuk mengusir nyamuk yang ternyata banyak terdapat di situ. Kemudian ia duduk di dekat api unggun bersandarkan batu karang. Dua orang nona kembar itu duduk pula di dekat api menghadapinya, siap mendengarkan ceritanya.

"Semenjak aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, ayah bundaku telah terbunuh orang secara keji, terbunuh oleh guru mereka sendiri yang tersesat. Aku dibawa lari dan dipelihara oleh pamanku yang juga menjadi buta oleh guru jahanam itu. Semenjak kecil aku sudah berhadapan dengan derita hidup dan agaknya memang aku dilahirkan untuk menderita....." Demikian Wi Liong memulai ceritanya. Kemudian ia menceritakan semua pengalaman hidupnya sejak kecil sampai dewasa.

Dua orang gadis kembar itu mendengarkan dengan amat terharu. Mereka sendiri mempunyai riwayat hidup yang tidak menyenangkan, akan tetapi sedikitnya mereka masih sempat bertemu dengan ibu mereka, Tung hai Sian-li pada saat terakhir. Pemuda ini lebih-lebih lagi, semenjak kecil sampai sekarang jangankan melihat orang tuanya, ingatpun tidak bagaimana wajah ayah dan bundanya!

Pemuda ini masih segan untuk bercerita tentang Siok Lan, maka bagian ini ia lewatkan saja. Ia hanya menceritakan tentang usahanya membalas dendam kepada Beng Kun Cinjin yang sampai kini belum terlaksana, tentang urusannya dengan Kun Hong dalam memperebutkan Cheng-hoa-kiam. "Nah, begitulah riwayat hidupku yang tidak menarik, membikin kalian jemu saja mendengarnya." ia menutup ceritanya. "Harap kalian mengaso dan tidur, biar aku menjaga di sini."

Lan Lan yang masih termenung karena terharu mendengar riwayat pemuda sebatangkara yang menjadi tunangannya itu, berkata, "Aku tidak mengantuk. Ceritamu mengharukan sekali, tuan Thio. Akan tetapi kau sama sekali belum bercerita tentang pengalaman pahit dalam asmara seperti yang kau janjikan."

"Betul," sambung Lin Lin cepat-cepat, "dan kenapa kau agaknya amat memperhatikan kami? Setelah kau sendiri menyatakan bahwa kau tidak bisa menerima pertunangan dengan seorang dari kami seperti yang diusulkan oleh ibu kami, kenapa kau masih selalu mendekati dan menjaga kami?"

Wi Liong memandang dua orang gadis itu. Di bawah sinar api unggun yang kemerahan, wajah dua orang gadis itu lebih-lebih lagi menyerupai wajah Siok Lan yang di kala itu bayangannya memenuhi hati dan pikiran Wi Liong, membuat pemuda itu merasa rindu.

"Karena... karena kalian tiada bedanya dengan Siok Lan... karena kalian bagiku adalah penjelmaan Siok Lan sendiri....”

Ucapannya ini menggetar penuh perasaan dan pandang matanya yang menatap wajah dua orang gadis kembar itu penuh cinta kasih yang mesra. Lan Lan dan Lin Lin berdebar sampai tak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Ya, Lan Lan dan Lin Lin, bagiku kalian adalah Kwa Siok Lan. Karena inilah agaknya berat bagiku untuk berpisah, tak kuat aku menjauhkan diri.... maafkan aku.... barangkali sudah gila, akan tetapi segala gerak-gerik, segala yang ada pada kalian, menghidupkan kembali Kwa Siok Lan.”

Lin Lin sudah tahu bahwa Kwa Siok Lan adalah puteri Kwa Cun Ek, malah beberapa lama ia dianggap Siok Lan oleh Kwa Cun Ek, malah oleh Kwee Sun Tek pula sehingga ikatan jodohnya dengan Thio Wi Liong disambung lagi. Akan tetapi ia tidak tahu apakah yang terjadi antara Kwa Siok Lan dengan Wi Liong.

Adapun Lan Lan mendengar nama Kwa Siok Lan hanya dari mulut Tung-hai Sian-li dan iapun hanya menduga bahwa ibunya dahulu mempunyai anak seorang puteri bernama Kwa Siok Lan yang sudah meninggal dunia.

"Tuan Thio, siapakah itu Kwa Siok Lan?" Lin Lin bertanya, mencoba untuk menyembunyikan suaranya yang gemetar. Usahanya ini sebetulnya tidak perlu karena pada saat itu Wi Liong sedang penuh kedukaan dan tak dapat memperhatikan keadaan orang lain.

"Mendiang Kwa Siok Lan adalah puteri tunggal Kwa Cun Ek lo-enghiong dan Tung-hai Sian-li, dan... tunanganku yang kucinta sepenuh jiwaku..."

Lan Lan memotong. "Tuan Thio, pernah kami mendengar kau menyebut nama Bu-beng Siocia, apakah itupun kekasihmu yang lain lagi?"

Wi Liong tersenyum pahit, senyum membayangkan perihnya hati. "Itulah awal malapetaka yang menimpa hidupku. Mataku melek akan tetapi aku lebih buta dari pada orang tak bermata. Bu-beng Siocia adalah Kwa Siok Lan. Kwa Siok Lan adalah Bu-beng siocia, akan tetapi aku tidak tahu, tidak mengerti betapa besar cinta kasih Siok Lan kepadaku, sampai pada saat terakhir masih setia kepadaku...."

"Bagaimanakah itu? Aku tidak mengerti...." kata Lin Lin yang tentu saja ingin mengetahui segala-galanya tentang Kwa Siok Lan, karena selain Siok Lan itu masih encinya se ibu, juga ia dijadikan pengganti Siok Lan oleh Kwa Cun Ek.

Setelah menambah api unggun dengan kayu-kayu kering sehingga warna merah dari cahaya api itu menerangi kegelapan, Wi Liong mulai bercerita. Ia menceritakan perjodohannya dengan Siok Lan, ikatan jodoh yang dilakukan oleh pamannya dan Kwa Cun Ek. Kemudian tentang pertemuannya dengan Bu-beng Siocia, tentang ketetapan hatinya memutuskan ikatan jodoh dengan Kwa Siok Lan karena cinta kasihnya kepada Bu-beng Siocia.

Kemudian sampai larinya Kwa Siok Lan yang hendak membunuh diri. Akhirnya ia ceritakan pertemuannya dengan Siok Lan yang menjadi pengantin Chi-loya, sampai berita tentang kematian Kwa Siok Lan di sungai. Semua, ini ia ceritakan dengan suara menggetar, kadang-kadang naik sedu-sedan dari dadanya.

Lan Lan dan Lin Lin duduk mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka terbawa hanyut oleh cerita itu, sampai duduk terdiam seperti patung, ikut merasakan penderitaan Wi Liong, bahkan ketika mendengar tentang pertemuan terakhir dan tentang pembunuhan diri Kwa Siok Lan.

Lin Lin dan Lan Lan menangis terisak-isak. Tak kuat mereka menahan keharuan hatinya dan sekaligus mereka makin tertarik, makin kasihan dan makin cinta kepada pemuda ini, pemuda yang secara sah telah menjadi tunangan mereka berdua!

Melihat dua orang gadis itu mencucurkan air mata mendengar ceritanya, Wi Liong juga tidak kuat dan dua butir air mata menitik turun di atas pipinya. Akhirnya ia berhenti bercerita, menarik napas panjang lalu berkata dengan suara berat,

"Demikianlah, nona. Kalian sudah mendengar riwayatku yang tak menyenangkan, riwayat seorang tolol yang bermata buta. Dapat kalian bayangkan betapa kaget dan bahagia hatiku melihat kalian berdua yang dalam segala hal merupakan Siok Lan ke dua. Dapat kalian bayangkan betapa bahagia hatiku akan pesan ibu kalian tentang ikatan jodoh itu seakan-akan ikatan jodoh antara aku dan Siok Lan disambung kembali... seakan-akan Siok Lan yang sudah mati, hidup kembali dan akan berada disampingku untuk selamanya...."

Dua orang gadis itu hanya terisak, tak kuasa menjawab atau memberi komentar.

“Akan tetapi... aku tidak begitu picik, aku tidak akan mengulang kebodohanku. Aku tidak dapat menurutkan nafsu hati, menurutkan cinta kasih yang menggeragoti hatiku. Paman telah memesan kepadaku bahwa aku telah ditunangkan kembali dengan puteri Kwa Cun Ek lo-enghiong, dan paman memesan supaya kali ini aku tidak mengulangi kemurtadanku. Tidak! Kukatakan sudah, siapapun juga tunanganku itu, kali ini aku akan patuh, akan taat karena hanya kebaktian terhadap pamankulah perbuatan baik satu-satunya yang dapat kulakukan..."

"....kau seorang yang berbakti." hanya demikian Lin Lin dapat berkata.

"....kasihan sekali kau..." sambung Lan Lan sambil menghapus air matanya.

Tiba-tiba Wi Liong menggerakkan tangan, menggunakan ujung lengan baju mengusir dua titik air matamya, lalu ia memaksa diri tersenyum. "Ah, aku benar gila. Kenapa aku membikin kalian menjadi sedih dan terharu oleh ceritaku yang tak berharga? Tidak boleh! Kalian merupakan dua orang yang paling kuhormati, paling kusayang dan yang takkan kubiarkan berduka. Kalian benar-benar seperti Siok Lan. Biarlah selamanya aku akan menjadi pelindung kalian. Mengapa sekarang aku membikin kalian berduka? Jiwi siocia, hilangkanlah keharuan dan kesedihan, biar kalian gembira dengarlah aku berlagu..."

Jilid selanjutnya,