Cheng Hoa Kiam Jilid 39

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 39
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 39, karya Kho Ping Hoo - PADA SUATU pagi seorang pemuda berjalan cepat sekali menuju ke tempat itu, pandang matanya mencari-cari dan akhirnya ia dapat menemukan Tung-hai Sianli yang bersila di dalam gua. Untuk sejenak pemuda ini nampak tercengang, kemudian wajahnya membayangkan keharuan besar dan serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan Tung-hai Sian-li.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

"Sian-li yang mulia, teecu Thio Wi Liong datang menghadap." kata pemuda itu yang bukan lain adalah Wi Liong. Pemuda ini setelah mengalami pahit getir dalam mencari kekasihnya, Siok Lan, akhirnya teringat kembali kepada Tung-hai Sianli dan datang untuk mengabarkan tentang kematian Siok Lan.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia melihat keadaan Tung-hai Sian-li. Sekali pandang saja tahulah Wi Liong bahwa wanita ini menderita hebat sekali, mukanya yang pucat kehijauan membayangkan luka dalam dada yang berbahaya.

Mendengar suara Wi Liong, Tung-hai Sian-li membuka kedua matanya, untuk sedetik mata itu bercahaya penuh harapan ketika mulutnya mengajukan pertanyaan lemah. "Wi Liong, apa kau sudah menemukan Lan-ji?"

Wi Liong merasa seperti tertikam ulu hatinya mendengar pertanyaan ini. Wajahnya pucat dan dengan lemah ia berkata, "Siok Lan sudah... sudah meninggal dunia..."

Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita kuat lahir batin. Akan tetapi pada saat itu ia sedang menderita sakit dan berita ini benar-benar mendatangkan pukulan yang tak dapat ia tahan lagi. Ia menggigit bibir meramkan mata, terengah-engah. "Sudah kuduga... sudah kuduga... anak keras hati... kau... kau..."

Ia mengangkat tangan hendak memukul Wi Liong yang masih berlutut tanpa bergerak, sama sekali tidak mempunyai niat menghindarkan pukulan ini. Akan tetapi sebelum menjatuhkan pukulan, tubuh Tung-hai Sian-li yang duduk bersila itu roboh terguling, pingsan!

Ketika wanita itu siuman kembali, ia mendapatkan dirinya dirawat dengan amat telaten dan perhatian oleh Wi Liong. Ia menjadi terharu. Betapapun juga, ia harus akui bahwa pilihan hati anaknya ini memang seorang pemuda yang baik hati. Kalau tidak, masa sudi merawatnya?

"Wi Liong, berapa lama aku pingsan?'' tanyanya, suaranya sekarang terdengar halus, tidak, terengah lagi seakan-akan semua penderitaan sudah lenyap dari dada wanita ini.

''Kau pingsan sampai dua hari dua malam. Sian-li.” jawab Wi Liong tenang. "Harap kau suka beristirahat yang tenang, biar teecu menjagamu di sini."

Tung-hai Sian-li menarik napas panjang, "Dan selama itu kau menjaga dan merawatku? Aah, ternyata Siok Lan benar. Kau seorang yang patut menjadi mantuku... sayang sekali Siok Lan berusia pendek. Coba ceritakan, bagaimana kau bisa tahu dia telah mati?''

Dengan singkat dan hati-hati Wi Liong menceritakan pengalamannya, tentang pertemuannya dengan Siok Lan, kemudian tentang berita yang ia dengar dari See-thian Hoat-ong tentang kematian Siok Lan yang membunuh diri di sungai sepeninggalnya dari tempat bekas tunangannya itu.

"Aku seorang berdosa besar, Sian-li. Berdosa kepada adik Lan. Maka kalau kau hendak membunuhku, aku menerimanya dengan hati terbuka." Pemuda Itu menutup ceritanya.

Tung-hai Sian-li menggeleng kepala. "Kau anak baik, kau temanilah aku sampai datang maut merenggut nyawaku. Takkan lama lagi, Wi Liong.”

"Jangan kau berkata begitu, Sian-li," jawab pemuda itu penuh keharuan, akan tetapi ia tidak bisa membantah karena ia sendiripun tahu bahwa wanita ini memang sudah tak dapat diharapkan hidup lebih lama lagi.

Tung-hai Sian-li bangkit dan duduk bersila, memberi isyarat supaya Wi Liong mendekat, kemudian ia meletakkan tangan kanannya di atas kepala pemuda itu. "Aku menyesal... aku menyesal kalau teringat akan hidupku yang lalu. Kau anak baik, aku ingin sekali melihat anakku menjadi kawan hidupmu, melihat anakku hidup bahagia di samping suami baik seperti kau..."

Wi Liong makin terharu, menyangka bahwa tentu saking sedihnya wanita ini menjadi rusak ingatannya, ia memperingatkan, "Sian-li, harap ingat. Adik Sok Lan sudah meninggal dunia sudah bebas dari derita dunia...."

Tung-hai Siant-li tersenyum! Kemudian menarik napas. "Jangan anggap aku berubah ingatan, anakku. Sebetulnya, aku... aku masih mempunyai anak lain... dan..."

Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan memandang keluar gua. Juga Wi Liong tahu bahwa di luar ada orang-orang datang, maka ia bersiap sedia. Terdengar suara ketawa aneh di luar gua.

"Hah-hah kak-kak-kak... kalian lihat! Wanita tak tahu malu itu benar-benar menjemukan. Sudah tua bangka masih saja berteman seorang laki-laki muda di dalam guanya! Sungguh tak tahu malu. Lin-ji, apa kau masih ragu-ragu?''

Dijawab oleh suara wanita yang dingin dan nyaring, "Ah, benar-benar keparat! Ayah, biar kulenyapkan nyawanya dari sini saja, bersama anjing jantan itu!"

Pada saat itu, menyambarlah enam buah Kim thouw-ting (Paku Kepala Emas) ke arah Tung-hai Sian-li dan Wi Liong. Senjata-senjata rahasia ini menyambar dengan hebat, cepat bertenaga dan yang diserang adalah jalan-jalan darah maut yang penting!

"Keji...!" Wi Liong berseru, tangannya bergerak dan sekali sampok saja angin pukulannya telah meruntuhkan enam buah paku itu. "Setan-setan kejam dari manakah datang-datang menyerang orang?” Tubuhnya berkelebat keluar gua.

Ketika Phang Ek Kok yang datang bersama Lin Lin dan Lan Lan melihat bahwa pemuda ini adalah pemuda yang pernah ribut dengan dia dan Lan Lan di rumah makan tempo hari. tanpa banyak bicara lagi ia lalu menggerakkan senjatanya menyerang dengan hebat.

Wi Liong belum sempat memperhatikan tiga orang itu, apa lagi dua orang gadis kembar. Tahu-tahu ia telah disambar oleh senjata yang aneh, yaitu roda golok yang dahsyat. Tentu saja ia tidak membiarkan dirinya kena digergaji oleh senjata ini. Cepat ia mengelak dan mencabut sulingnya karena maklum bahwa penyerangan yang demikian hebat hanya dapat dilakukan oleh lawan tangguh.

Ek Kok menyerang lagi dengan penasaran, akan tetapi gerakan Wi Liong terlampau aneh baginya. Dalam beberapa gebrakan saja, ujung suling pemuda itu telah menotok jalan darah thian-hu-hiat. Ek Kok adalah seorang ahli lweekang. Ia mencoba sekuat tenaga melawan totokan ini.

Namun sia-sia, biarpun ia tidak segera roboh, ia merasakan tubuhnya lemas semua dan makin ia menahan, makin lemas dan mengantuklah matanya. Dengan terhuyung-huyung ia menghampiri sebuah pohon, lalu menjatuhkan diri bersandar di batang pohon dan mengorok pulas dengan janggut di dada dan senjatanya masih di tangan!

"Keparat, berani merobohkan ayah!'' Inilah teriakan Lin Lin yang sudah mencabut pedang dan melakukan tusukan kilat.

Hampir saja tusukan ini menembus dada Wi Liong karena pemuda ini berlaku lambat sekali saking herannya melihat, Lin Lin. Baiknya ia masih keburu miringkan tubuh dan pedang itu hanya merobek bajunya saja. "Kau... kau... Bu-beng Siocia...?” tanya Wi Liong dan kini baru ia teringat bahwa kakek bersenjata roda golok itu adalah kakek yang tempo hari ia lihat di dalam restoran bersama Bu beng Siocia dan seorang pemuda tinggi besar.

Tiba-tiba terdengar tertawa mengejek. "Adik Lin, pemuda ceriwis tak tahu malu ini habiskan saja!"

Wi Liong melirik dan tiba-tiba wajahnya menjadi pucat. Ia melompat mundur, agak limbung dan menggunakan tangan kiri untuk menggosok-gosok kedua matanya agar sadar dari mimpi. Ia merasa sepert orang mengimpi menghadapi dua orang gadis yang seujung rambutpun tiada bedanya dengan Siok Lan! Celaka, pikirnya, bukan Tung-hai Sian li yang berubah pilkiran, melainkan aku yang sudah gila. Setiap orang gadis kelihatan seperti Siok Lan oleh mataku!

"Nanti.... nanti dulu... Bu-beng Siocia, aku.... aku..." katanya gagap.

Akan tetapi Wi Liong tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena dua orang gadis yang sudah marah melihat ayah mereka dirobohkan itu, sudah menyerangnya dengan pedang di tangan. Serangan yang dilakukan oleh Lan Lan sih tidak begitu hebat, akan tetapi yang dilakukan oleh Lin Lin benar-benar luar biasa dahsyatnya, membuat Wi Liong kaget dan cepat-cepat pemuda ini menggunakan sulingnya untuk melindungi diri.

"Ji-wi siocia.... nanti dulu.... kenapa ji-wi (kalian) menyerangku....?" Wi liong bertanya gagap. Ia masih pening melihat dua orang "Siok Lan" mengeroyoknya.

Akan tetapi Lan Lan dan Lin Lin tidak mau banyak bicara lagi terus menyerang dengan penasaran sekali. Lebih-lebih Lin Lin. Untuk pertama kalinya selama ia hidup ia menghadapi lawan pandai, yaitu Kun Hong ketika bertanding dengan pemuda itu di Ban-mo-to. Ia mengira bahwa Kun Hong sebagai murid Thai Khek Sian merupakan kekecualian maka ia tidak begitu penasaran tak dapat mengalahkannya.

Akan tetapi kenapa sekarang muncul lagi seorang pemuda lain, pemuda yang tampan dan kelihatan lemah, akan tetapi yang hanya dengan suling ditangan dapat menahan serangannya? Benar-benar ia merasa penasaran bukan main. Dengan gemas Lin Lin terus menyerang, pedangnya berubah menjadi sinar terang yang menyambar-nyambar, tubuhnya bergerak cepat sekali, kadang-kadang seperti burung terbang saja.

Demikian sempurna ginkangnya sehingga beberapa kali Wi Liong mengeluarkan seruan kagum. Sekarang ia dapat membedakan dua orang gadis kembar ini, bukan dari wajah atau bentuk tubuh yang sedikitpun tiada bedanya, melainkan dari kepandaiannya. Kepandaian dua orang gadis ini seperti bumi-langit bedanya.

Dan ia tahu pula bahwa Bubeng Siocia, gadis yang ia temui dalam restoran itu, adalah gadis yang kini mengeroyoknya dan yang kepandaiannya masih rendah. Sebaliknya yang amat pandai adalah Siok Lan ke tiga, atau Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama) yang baru muncul.

Tiba-tiba dari balik batu karang muncul seorang pemuda tampan. Untuk sejenak pemuda ini berdiri tercengang melihat Wi Liong dikeroyok oleh dua orang gadis kembar itu, kemudian ia berlari menghampiri sambil berseru,

"Ji-wi siocia (nona berdua), tahan senjata! Kalian salah menyerang orang. Dia ini adalah kawan baikku!" Cepat sekali gerakan pemuda ini karena tahu-tahu ia telah melompat dekat dan melerai yang sedang bertempur.

Lin Lin yang melompat mundur melihat bahwa yang datang adalah Kun Hong. Ia merengut dan makin marah biarpun hatinya agak berdebar juga karena kalau pemuda ini datang membantu lawan, tak mungkin dia akan menang.

Wi Liong tersenyum ketika melihat bahwa yang datang ini adalah Kun Hong. Akan tetapi ia tidak perdulikan Kun Hong malah sekarang menghadapi Lin Lin dan Lan Lan, menjura sambil berkata halus. "Ji-wi siocia harap tidak terburu nafsu. Apakah sebabnya jiwi menyerang Tung-hai Sian-li yang sedang sakit payah? Aku juga tidak mengenal dan tidak ada urusan dengan ji-wi, mengapa datang-datang ji-wi menyerangku"

"Manusia tak bermalu! Kau masih bertanya lagi? Urusanmu dengan Tung-hai Sian-li, mana kami sudi mencampuri? Akan tetapi kalau kau belum tahu atau berpura-pura tidak tahu, dengarlah. Dahulu Tung-hai Sian-li telah melakukan penghinaan terhadap empat orang bibi kami tidak saja menghalangi bibi kami melangsungkan pernikahan, malah menculik empat orang pengantin prianya!" Lin Lin membentak. "Kami datang hendak membalas dendam dan membunuh Tung-hai Sian-li, tidak nyana ada kau begundalnya!"

Mendengar ini, Kun Hong tertawa bergelak dengan nada mengejek. "Ngaco tidak karuan! Tidak aneh kalau orang sudah terkena racun Ban-mo-to," katanya.

Wi Liong mendongkol dan penasaran sekali. Bagaimanapun juga ibu Siok Lan tak boleh menerima hinaan begitu saja, apa lagi sepanjang pengertiannya, Tung-hai Sian-li bukanlah macam wanita yang boleh disamakan dengan Kui-bo Thai-houw. Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita gagah perkasa, seorang tokoh kang-ouw yang disegani, bukan seperti misalnya Tok-sim Sian-li.

Akan tetapi sebelum ia sempat membantah, tiba-tiba terdengar suara lemah. "Siapa yang menuduhku begitu keji?" dan dengan langkah sukar dan lemah sekali Tung-hai Sian-li sudah keluar dari gua dan dengan susah payah menghampiri mereka. Agaknya ia tadi mendengar tuduhan-tuduhan yang memburukkan namanya.

Ketika tiba dekat dan melihat dua orang gadis itu yang juga memandang kepadanya dengan bengong, tiba-tiba sikap Tung-hai Sian-Ii berubah seakan-akan ia melihat setan. Tubuhnya menggigil dan tangannya digerakkan, menuding ke arah Lan Lan dan Lin Lin, lalu terdengar suaranya gemetar, "Kau... kau... anakku... ah, kau anakku..."

Dan tubuhnya tentu telah terguling kalau saja Kun Hong tidak cepat-cepat melompat dan dengan sigapnya memeluk tubuh wanita tua yang sakit itu lalu memondongnya. Wi Liong yang masih bingung menghadapi Lan Lan dan Lin Lin, kalah cepat oleh Kun Hong.

"Dia.... dia sakit keras... harus segera dirawat. Kun Hong, bawa dia ke dalam gua,” kata Wi Liong yang mengikuti Kun Hong memasuki gua, tanpa memperdulikan lagi kepada Lan Lan dan Lin Lin yang masih berdiri bengong.

Entah mengapa, melihat Tung-hai Sian-li, bertemu pandang dengan wanita tua itu mendatangkan arus ajaib yang membuat jantung mereka berdebar tidak karuan, membuat kedua kaki mereka serasa lumpuh tak dapat digerakkan lagi. Wanita tua itu cantik sekali dalam pandangan mereka.

Apalagi bagi Lin Lin yang tahu bahwa wanita ini adalah isteri Kwa Cun Ek, orang yang ia kasihi sebagai ayahnya sendiri. Tanpa terasa keduanya saling pandang dan seakan-akan lupa akan keadaan Ek Kok yang masih "tidur" bersandar di pohon, mereka juga ikut berjalan ke dalam gua.

Pada saat itu Tungi-hai Sian-li sudah siuman kembali. Aneh, ia nampak lebih sehat dan segar. Cepat-cepat ia bangkit dan bertanya. "Mana mereka? Mana dua orang gadis tadi?" Kebetulan sekali Lan Lan dan Lin Lin memasuki gua.

"Itu mereka! Anak-anakku, ke sinilah.... kalian adalah anak-anakku, tak salah lagi. Begitu sama dengan Siok Lan. Dahulu ketika masih bayipun sudah serupa. Ah.... anak-anakku, siapa sangka bisa melihat kalian lagi?"

"Kau keliru," kata Lin Lin akan tetapi suaranya tidak seganas tadi, malah terdengar lemah agak gemetar, "kami berdua anak ayah Phang Ek Kok."

Tung-hai Sian-li bangkit, nampak marah. Mukanya yang pucat kebiruan tiba-tiba menjadi merah. "Siapa dia Phang Ek Kok? Bohong besar! Kalian bocah kembar anakku! Tuhan menjadi saksi!"

"Apa buktinya?” tanya Lan Lan, juga gadis ini agak gemetar dan pucat.

"Buktinya? Aduh, anak-anakku, bagaimana seorang ibu takkan mengenal anak-anaknya walaupun orang jahat memisahkan kita belasan tahun lamanya? Dengar, dengar ceritaku, dengar pengakuanku, pengakuan dosa di tepi jurang kematianku yang selama ini kurahasiakan, sekalipun di depan bayanganku sendiri!"

Tung-hai Sian li hampir jatuh terhuyung dan kembali Kun Hong yang merasa kasihan memegang lengannya dan membantunya duduk di atas pembaringan bambu Tung-hai Sian li melirik kepadanya dan mengangguk-angguk berterima kasih.

"Kalian dua orang muda juga boleh mendengar sebagai saksi. Apa artinya malu bagiku, bagi seorang yang sudah mau mampus? Dengarlah, dahulu karena menurutkan nafsu hati yang bodoh, menurutkan watak yang keras mau menang sendiri, karena cemburu aku tinggalkan suamiku, Kwa Cun Ek dan anakku Kwa Siok Lan ketika anak itu masih kecil. Aku merantau, menjago kalangan kang-ouw dan membuat nama besar, tak pernah kembali kepada Kwa Cun Ek.

"Kemudian aku bertemu dengan seorang pendekar muda bernama Pek Hui Houw, anak murid Kun-lun-pai yang amat gagah perkasa dan tampan. Aku... hatiku tergoda.... dan dia... dia mencintaku penuh ketulusan hati. Aku tak dapat menahan godaan hati sendiri, apa lagi bersama dia aku dikejar-kejar oleh Kuibo Thaihouw. Kami berdua tidak kuat melawan dan karena kejaran yang menakutkan ini membuat kami makin dekat...."

Tung hai Sian-li makin terengah-engah, tak dapat melanjutkan ceritanya. Wi Liong sudah mengambilkan air dan memberinya minum. Setelah minum tiga teguk air, wanita itu dapat melanjutkan ceritanya, tidak tahu betapa mendengar nama Pek Hui Huow tadi, Lin Lin makin pucat mukanya.

"Suatu saat yang celaka bagiku, iblis menggoda kami dan setelah aku insyaf setelah terlambat, aku melarikan, diri dari Pek Hui Houw, merasa menyesal bukan main bahwa sebagai seorang isteri dan seorang ibu aku telah tersesat dan menyeleweng. Pek Hui Houw patah hatinya kutinggalkan karena aku tahu betul bahwa ia mencinta kepadaku dengan sepenuh jiwa. Betapapun besar penyesalanku, Thian tidak membebaskan orang hanya karena penyesalan. Thian menghukumku dan terlahirlah kalian anak-anakku yang kembar...."

Kembali Tung-hai Sianli terengah-engah, kini air matanya mengucur membasahi pipinya ketika ia memandang dua orang gadis yang duduk diam seperti patung itu.

"Kalian kuberi nama Kiok Cu dan Kiok Hwa dan kupelihara dengan cara bersembunyi karena aku takut kalau-kalau rahasia yang besar ini sampai terdengar lain orang. Ketika kalian baru berusia dua tahun, datanglah malapetaka itu. Kalian diculik orang....! Dan aku hidup makin sengsara lagi. Hendak kembali kepada suami dan anakku, aku malu karena merasa diri berdosa. Aku hidup menyendiri, sunyi dan menjadi makanan duka nestapa....." Tak tertahan lagi Tung-hai Sian-li, wanita yang gagah Itu menangis terisak-isak.

Wi Liong dan Kun Hong saling pandang. Hebat cerita itu. Hebat karena merupakan pengakuan dosa yang belum pernah dibuka sebelum nya. Lan Lan dan Lin Lin saling peluk, mata mereka sudah merah akan tetapi mereka masih ragu-ragu.

"Anak-anakku... akulah ibumu..." Tung-hai Sian-li mengembangkan lengan hendak memeluk, penuh kerinduan dan sikapnya memelas sekali.

Lan Lan dan Lin Lin bersangsi. "Aku tidak mengerti....." kata Lin Lin. "Kami anak-anak Phang Ek Kok, ibu kami sudah mati."

"Kalian anak-anakku! Yang lain itu palsu belaka!" Tung-hai Sian-li membentak, kekerasannya yang dahulu timbul. "Kubunuh semua yang mengaku-aku."

"Apa buktinya....? Bagaimana kami bisa tahu...?" kata pula Lin Lin.

"Buka sepatu kalian! Ya, aku ingat betul, sering kali kalian kutimang-timang dan aku sendiri kadang-kadang bingung yang mana Kiok Cu dan yang mana pula Kiok Hwa. Kiok Cu, anak yang lahir lebih dulu, mempunyai tahi lalat merah di telapak kaki kanan sedangkan Kiok Hwa, anak ke dua mempunyai tahi lalat merah di telapak kaki kiri. Nah, itulah ciri-cirinya sehingga aku bisa membedakan anak kembarku. Buka sepatumu dan lihatlah!"

Dengan tangan gemetar dua orang gadis itu membuka sepatu mereka. Saking tegang perasaan mereka sampai-sampai mereka lupa bahwa di situ hadir dua orang pemuda! Wi Liong melihat, dua orang gadis itu membuka sepatu dan kaos kaki, cepat-cepat membuang muka mengalihkan pandang mata dengan muka menjadi merah.

Sebaliknya, Kun Hong tersenyum-senyum memandang sampai Wi Liong menyikutnya baru ia kaget dan buru-buru membalikkan mukanya! Dua orang pemuda ini tidak melihat apakah benar di telapak kaki kanan Lan Lan dan di telapak kaki Lin Lin ada andeng-andeng merahnya.

Akan tetapi segera mereka mengetahuinya karena terdengar jerit tertahan dan dua orang gadis itu cepat memakai kembali sepatu mereka dan berlari-lari keluar. Tak lama kemudian mereka sudah masuk lagi. Kini menyeret tubuh Phang Ek Kok. Ternyata Lin Lin sudah membebaskan totokan pada tubuh Ek Kok karena orang gemuk ini berteriak-teriak.

"Eh... eh, bagaimana ini? Lan-ji, Lin-ji, apa-apaan kalian menyeretku ini...?”

Dua orang gadis itu melepaskan tubuh Ek Kok di depan Tung-hai Sian-li dan Lin Lin mengancam dengan ujung pedang di depan dada Ek Kok sambil membentak. "Hayo mengaku sebenarnya! Bagaimana aku dan enci Lan bisa terpisah dan kemudian kau katakan bahwa kami berdua anakmu? Awas. kami sudah mengetahui sebagian dari pada rahasia itu, kalau kau membohong, pedang ini akan mengambil jantungmu!"

Phang Ek Kok kaget setengah mati seperti disambar geledek. Tidak dinyananya bahwa rahasia besar itu telah diketahui oleh Lin Lin dan Lan Lan. la menoleh ke sana ke mari akan tetapi semua mata memandangnya penuh tuntutan, maka sambil menghela napas panjang ia berkata. "Semua gara-gara Kui bo Thai-houw, siluman Ban-mo-to. Baiklah, anak anak. Kalian memang sesungguhnya bukan anakku biarpun aku sudah menganggap kalian seperti anakku sendiri."

Sampai di sini, suara orang yang biasanya melucu ini agak gemetar terharu. "Akan tetapi biarpun kalian bukan anakku, aku sendiripun tidak tahu kalian, ini anak siapa. Belasan tahun yang lalu, beberapa bulan setelah aku dan empat bibimu dikalahkan oleh Kui-bo Thai-houw, aku didatangi oleh Thai-houw yang menyerahkan kalian berdua yang baru berusia dua tahun kepadaku.

"Thai-houw memaksaku untuk menerima kalian dan merawat kalian serta mengakui sebagai anak-anakku sendiri. Entah dari mana dia mendapatkan kalian, aku tidak tahu dan dia tidak mau memberi tahu. Kemudian, setelah aku makin suka kepada kalian yang kurawat sampai berusia empat tahun, pada suatu malam Lin Lin diculik orang dan baru kita dapat saling bertemu lagi di Bukit Thian-mu-san...! Inilah ceritaku yang sesungguhnya, aku berani bersumpah."

Lin Lin menjerit. "Kalau begitu. Pek Hui Houw suheng... ayahku sendiri, dia menculik aku dan memberikan aku kepada suhu Liong Tosu. Dan... ayah meninggal karena berduka terpisah dari ibu... ah, ibu... ibu...!"

Lin Lin menubruk dan memeluk Tung-hai Sian-li, diikuti oleh Lan Lan, keduanya menangis di dada ibu mereka, ibu kandung mereka.

Tung-hai Sian-li tertawa dan menangis seperti orang gila, menciumi kedua anaknya. "Aku... aku berdosa besar... akan tetapi Thian cukup adil. Setelah melihat kalian.... aku puas... aku rela mati...."

"Ibu....!" jerit Lan Lan.

"Ibu...!" jerit Lin Lin.

"Anak-anakku, ibumu sakit keras. Kalau tidak ada kalian datang kiranya sudah tadi-tadi tak kuat aku menahan. Dengar baik-baik, Phang Ek Kok tidak berdosa dalam hal ini. Semua kesalahan Kui-bo Thai-houw yang kejam. Kini tahulah aku. Dia orangnya yang menculik kalian, dia melakukan ini karena iri hati, karena cemburu kepadaku. Dia tergila-gila kepada Pek Hui Houw, akan tetapi pemuda itu tidak melayaninya dan berpaling kepadaku. Dia melakukan hal itu untuk menghancurkan hidupku...."

"Si keparat!" Lin Lin berkata penuh kemarahan.

"Phang Ek Kok tidak berdosa, malah kalian harus berterima kasih atas rawatannya." Tung-hai Sian-li berpaling kepada orang gemuk pendek itu. "Phang Ek Kok, harap kau rahasiakan semua yang kau dengar di sini dan sekarang kau boleh pergi. Tinggalkan aku bersama anak-anakku!”

Phang Ek Kok tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia menjura lalu pergi dari tempat itu, hatinya sedih sekali karena ia merasa seperti kehilangan dua orang anak yang ia sayang.

"Anak-anakku, kalian harus mendengar pesanku terakhir. Kiok Cu, kau anakku yang besar, kau harus memenuhi permintaan ibumu."

"Semua perinlah ibu akan anak taati," kata Lan Lan.

Tung-hai Sian-li sudah payah benar, terlampau lama ia menahan dan kini ia hanya dapat memberi isyarat kepada Wi Liong supaya maju. Pemuda itu maju dan membiarkan tangannya dipegang oleh Tung-hai Sian-li. Wanita tua ini mempertemukan tangan Wi Liong dan tangan Lan Lan sambil berkata lirih, "Kalian harus menjadi suami isteri... Kiok Cu, kau pengganti... Siok Lan..."

Kemudian Tung-hai Sian-li yang sudah hampir tidak kuat itu, memegang tangan Lin Lin, "Dan, kau... kau Kiok Hwa... kau lihat, pemuda itu... Kun Hong, biar kelihatan busuk lahirnya, dalamnya baik. Kau... kalau kau dan dia suka... akan baik sekali kalian berjodoh..."

"Tidak bisa!" Kun Hong berseru dengan mata terbelalak. "Sian-li, aku sudah bersumpah hidup bersama dengan Pui Eng Lan! Aku bukan laki-laki tidak setia!"

"Dan akupun sudah ditunangkan, ibu... tak mungkin melanggar janji dan kesetiaan!" kata Lin Lin.

Tung-hai Siam-li mengangguk-angguk, tersenyum. "Anak-anak muda yang baik... memang hidup harus mempunyai kesetiaan, baru terbebas dari duka nestapa dan sengsara. Aku... aku tidak setia, maka selalu dirundung malang. Anak-anak, baik-baiklah menjaga diri... aku... aku...."

"Ibu....!” Lan Lan dan Lin Lin menjerit dan tak lama kemudian terdengar tangis dan raung mereka, menangisi Tung-hai Sian-li, ibu mereka yang baru saja mereka jumpakan, kini telah meninggalkan mereka lagi, meninggalkan untuk selama-lamanya.

Wi Liong dan Kun Hong termangu-mangu bingung, tak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi yang lebih bingung lagi adalah Wi Liong. Ia tidak diberi kesempatan oleh Tung-hai Sian-li, tidak sempat menolak ikatan jodoh yang diucapkan oleh Tung-hai Sian-li dalam pesan terakhirnya. Bukan karena ia tidak suka dijodohkan dengan Lan Lan, gadis yang ia temui di restoran di An king itu. Bukan!

Amboi, mana bisa ia tidak suka? Lan Lan terlampau serupa dengan Siok Lan sehingga ia takkan dapat mengampunkan diri sendiri kalau ia tidak suka akan tetapi, belum lama ini ia bertemu dengan pamannya, Kwee Sun Tek dan apa kata pamannya.

"Wi Liong, jangan sampai terulang lagi keributan dalam perjodohanmu. Ketahuilah, aku telah bertemu dengan Kwa Cun Ek dan anak gadisnya, dan kami telah memperbarui ikatan jodoh antara kau dan anaknya! Awas, jangan sampai ribut-ribut dan geger lagi, Wi Liong. Sepatumu ketika kau masih kecil telah kuberikan sebagai tanda pengikat."

"Lho, bagaimana ini, paman? Siok Lan, anak gadis Kwa Cun Ek lo-enghiong itu, dia telah... telah mati...!" jawabnya kaget, bingung dan heran.

Kwee Sun Tek mengerutkan alisnya. ”Apa kau gila? Ataukah aku yang gila? Aku mendengar sendiri suara anak gadisnya. Tak mungkin. Jangan kau main-main lagi, mengulangi kehebohan yang akan merusak nama baik kita berdua. Hati-hati kau, sekali lagi kau memutuskan tali perjodohan itu, aku takkan bisa mati meram. Baik dia Siok Lan atau siapa saja, yang menyimpan sepatu kecilmu itu dialah calon isterimu. Mengerti?" Dan dengan marah pamannya meninggalkannya.

Demikianlah, sekarang Tung-hai Sian-li mengikat dia dengan perjodohan lain, dengan Lan Lan dan terhadap usul ini serta merta dia cocok sekali. Memang semenjak kehilangan Siok Lan, di dalam hatinya Wi Liong bersumpah takkan mencari jodoh lain. Akan tetapi Lan Lan.... sama saja dengan mendapatkan Siok Lan kembali.

Wajahnya yang cantik manis, bentuk tubuhnya, kerling matanya, senyumnya, pendeknya sampai suaranya tidak ada bedanya antara Siok Lan dengan Lan Lan, atau dengan Lin Lin juga! Bagaimana dia tidak akan girang dengan usul perjodohan ini? Dan bagaimana dia tidak menjadi puyeng kalau mengingat pesan pamannya yang sama sekali tak boleh dilanggarnya? Wi Liong bingung sekali.

Kun Hong ketika mendengar dari Wi Liong bahwa belum lama ini Eng Lan berada di Anking, segera meninggalkan tempat itu untuk menyusul dan mencari kekasihnya yang marah itu. Wi Liong sendiri membantu dua orang gadis kembar mengurus penguburan jenazah Tung-hai Sian-li. Pemuda ini selalu menghindarkan pertemuan pandang dengan dua orang gadis itu, apa lagi dengan Lan Lan yang oleh Tung-hai Sian-li dijodohkan kepadanya.

Setelah penguburan jenazah itu beres, barulah dua orang gadis itu sempat bicara dengan Wi Liong dan sempat pula bertanya nama! Tentu saja Lan Lan merasa amat malu untuk bertanya, maka Lin Lin yang mengajukan pertanyaan itu.

"Saudara telah melepas banyak budi terhadap ibu kami. Maaf bahwa sampai kini karena tidak ada kesempatan kami tidak dapat memperkenalkan diri. Biarpun nama aseli kami adalah Kiok Cu dan Kiok Hwa, akan tetapi oleh karena semenjak kecil enciku ini disebut Lan Lan dan aku sendiri Lin Lin, maka sekarangpun kami tetap mempergunakan nama lama dengan she Pek. Enciku menjadi Pek Lan Lan dan aku sendiri Pek Lin Lin. Tidak tahu, siapakah sebetulnya nama besar saudara dan sudah lamakah kenal dengan ibu kami?"

Selama Lin Lin mengajukan pertanyaan ini, Lan Lan hanya menunduk saja, tidak berani memaudang wajah "tunangannya" itu dan ujung sepatunya menggurat-gurat tanah tak menentu.

Adapun Wi Liong yang menerima tatapan pandang mata Lin Lin, beberapa kali menelan ludah karena ia menjadi bingung benar-benar. Entah Lan Lan entah Lin Lin yang lebih mirip Siok Lan. Kalau Lin Lin memandang kepadanya seperti ini, benar-benar mata Siok Lan lah itu!

"Aku she Thio bernama Wi Liong dari Wuyi-san dan sudah lama juga aku kenal dengan...." Akan tetapi Wi Liong tidak melanjutkan kata-katanya karena serentak dua orang gadis kembar itu melompat ke belakang dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak seperti orang melihat iblis di tengah hari.

"Kau..... kau... Thio Wi Liong.... keponakan Kwee Sun Tek....?" tanya Lin Lin gagap sedangkan Lan Lan memandang pucat.

"Betul, nona. Kenapakah....?”

"Aduh, celaka....!" seruan ini hampir berbareng keluar dari bibir dua orang gadis kembar itu dan keduanya meramkan mata, tubuh mereka seperti lemas.

Wi Liong khawatir mereka roboh pingsan, lalu lompat mendekat.

"Jangan dekat-dekat kami!" bentak Lan Lan dan Lin Lin lalu menyeret tangan encinya.

"Enci Lan, mari kita pergi saja," Keduanya lalu melarikan diri cepat-cepat meninggalkan Wi Liong yang menjadi bengong saking herannya.

Ia meraba-raba mukanya sendiri untuk melihat apakah mukanya masih seperti biasa ataukah sudah menjadi bopeng karena penyakit menular. Akan tetapi jari-jari tangannya meraba kulit muka yang masih halus tidak apa-apa. Kenapa dua orang gadis itu lari ketakutan seperti orang takut akan penyakit menular? la menggaruk-garuk kepalanya, kemudian ia berlutut menghadap makam Tung-hai Sian-li dan berkata,

"Dua orang puterimu itu aneh sekali, Sian-li. Akan tetapi agaknya lebih baik begitu. Aku cinta kepada mereka seperti aku mencinta anakmu Siok Lan. Bukan karena aku mata keranjang, habis salah siapa. Mengapa keduanya begitu serupa dengan Siok Lan? Aku anggap mereka itu keduanya penjelmaan Siok Lan! Akan tetapi lebih baik, mereka pergi dariku karena paman dengan aneh sudah menjodohkan aku dengan anaknya Kwa Cun Ek lo-enghiong, katanya Siok Lan gadis itu, padahal Siok Lan sudah mati. Entahlah, siapa dia jodohku terserah. Aku tidak hendak mengulang peristiwa pahit yang dahulu lagi. Selamat tinggal, Sian-li."

Ia pun lalu pergi dengan langkah gontai meninggalkan tempat itu. Waktu itu musim chun sudah dekat. Maka ia hendak menuju ke Pulau Pek-go-to, tempat tinggal Thai Khek Sian. Karena ia sudah mendapat perintah pamannya supaya mewakili gurunya ke sana untuk menghadiri pesta ulang tahun Thai Khek Sian. Juga ia dapat menduga bahwa dua orang gadis itupun tentu akan pergi ke sana pula.

Mudah diduga bahwa mereka itu menaruh dendam kepada Kui-bo Thai houw yang menculik mereka dari tangan ibu mereka dan pada saat itu, untuk mencari Kuibo Thai-houw, paling baik pergi ke Pek-go-to di mana semua tokoh akan berkumpul dan di mana dua orang gadis itu dapat membuka rahasia keburukan hati Kui bo Thai-houw.

Dugaan Wi Liong memang tepat sekali. Tadinya dua orang gadis kembar itu setelah lari meninggalkan Wi Liong dan tiba di sebuah rimba, keduanya saling pandang lalu tanpa mengucapkan kata-kata karena sudah sama maklum, mereka berpelukan dan menangis.

"Ah, adikku yang manis, kau ampunkanlah encimu ini. Siapa kira bahwa ibu tanpa disengaja telah menjodohkan aku dengan... tunanganmu sendiri!" kata Lan Lan sambil terisak sedih.

Lin Lin tak dapat menjawab, hanya menangis di atas dada encinya. Kemudian tiba-tiba ia tersenyum dan menghapus air matanya. "Ah, enci yang baik, kenapa kita menangis seperti anak kecil? Urusan ini mudah saja. Kau yang lebih tua, sudah sepatutnya kau menikah lebih dulu. Sepatu kecil ini kuberikan kepadamu dan... dengan begitu pertunanganmu dengan dia sudah sah. Baik ayah Kwa Cun Ek maupun ibu telah menjodohkan kau dengan dia, apa lagi susahnya?"

Lan Lan mengerutkan keningnya, lalu menggelengkan kepala. "Tidak boleh, Lin-moi. Pesan orang yang sudah meninggal tak boleh diingkari begitu saja. Itu akan menjadi dosa besar. Kau yang lebih dulu bertunangan, kau yang berhak menikah dengan dia. Dia orang baik dan tepat menjadi suamimu, adikku. Aku ikut bahagia."

"Habis, kau sendiri bagaimana? Kaupun harus menikah kalau aku kawin." kata adiknya.

Lan Lan menggeleng kepala. "Mana bisa aku menikah dengan orang lain? Ibu sudah menjodohkan..." ia teringat lalu cepat berkata, "Aku takkan kawin, aku cukup senang melihat kau bahagia."

"Mana bisa, enci Lan? Aku baru senang kalau kaupun bahagia. Kita tak boleh berpisah lagi sampai tua. Susahmu susahku pula dan kebahagiaanku juga harus menjadi kebahagiaanmu. Aku baru mau menjadi isterinya kalau kaupun menjadi isterinya."

"Eh, eh, kalau begitu...?" Lan Lan merenung.

"Kalau begitu...?" adiknya mengulang dengan muka kemerahan.

Keduanya diam, tanpa kata katapun sudah dapat saling mengetahui isi hati masing-masing, kemudian mereka saling rangkul pula, akan tetapi kali ini tidak menangis malah tertawa geli!

Tepat seperti yang diduga oleh Wi Liong, keduanya lalu bersepakat untuk pergi ke Pek-go-to mencari Kui-bo Thai-houw. Mereka tidak saja hendak membalas sakit hati atas perbuatan Kui-bo Thai-houw yang menculik mereka, juga hendak membalaskan sakit hati atas perbuatannya terhadap Phang Ek Kok. Akan dibeber rahasia-rahasia busuk dan perbuatan-perbuatan jahat Kui-bo Thai-houw di tempat pertemuan itu.

Dua orang gadis kembar itu melakukan perjalanan cepat menuju ke pantai untuk menyeberang ke Pek-go to, pulau yang terletak di antara Kepulauan Cou-san-to. Mereka berdua sama sekali tidak tahu bahwa selama ini mereka secara sembunyi dikawal oleh seorang pemuda yang berjaga di waktu mereka tidur nyenyak, yang memperhatikan setiap perjalanan mereka dengan waspada, yang sering kali termenung dan menarik napas panjang kalau melihat dua orang gadis yang segala gerak-geriknya seperti Siok Lan itu.

Ketika mereka tiba di pantai, dua orang gadis kembar ini menjadi bingung karena tidak ada sebuahpun perahu nampak. Bagaimana mereka bisa menyeberang ke Pek-go-to? Selagi mereka berdiri kebingungan, memandang ke sana ke mari untuk melihat kalau-kalau ada perahu nelayan, tiba-tiba meluncurlah sebuah perahu kecil. Perahu ini meluncur dari pantai sebelah selatan.

''Heeii... tukang perahu, kesinilah!" teriak Lin Lin dengan nyaring.

Perahu meluncur dekat dan anehnya, tidak kelihatan nelayannya. Akan tetapi dari dalam bilik perahu kecil itu terdengar suara menjawab. "Nona berdua apakah membutuhkan perahu?"

"Ya, kami hendak menyewa perahumu. Antarkan kami menyeberang ke pulau-pulau di sana itu," kata Lan Lan. "Berapa biayanya? Katakan saja, kami akan membayar penuh."

"Mengantar sih mudah, aku selalu siap sedia. Akan tetapi, biayanya tidak mau dibayar dengan uang, emas ataupun perak," terdengar lagi suara di dalam bilik perahu.

Lini Lin mendongkol. "Habis, kau mau minta apa? Tukang perahu aneh dan manja, keluarlah kau, jangan bikin marah kami!"

"Biayanya tidak mahal, juga tidak murah.”

Lan Lan menduga jelek. Pipinya merah padam saking marahnya. "Tukang perahu, jangan main-main, lekas katakan apa kehendakmu!" katanya sambil meraba gagang pedang. Tekadnya kalau tukang perahu itu mengeluarkan kata-kata kotor, tentu akan dibunuhnya.

Suara itu tertawa. "Harap jangan marah, karena itulah biaya yang saya minta."

"Apa....?" tanya Lan Lan dan Lin Lin berbareng.

"Biayanya hanyalah, jangan ji-wi siocia marah-marah lagi kepadaku." Dan muncullah tubuh Wi Liong dari dalam bilik perahu. Pemuda ini memegang dayung dan duduk di kepala perahu sambil tersenyum. "Silahkan ji-wi naik dan maafkan aku tadi bermain-main."

Lan Lan dan Lin Lin saling pandang. Pipi mereka menjadi merah jambu dan bibir mereka tersenyum. Lin Lin menjadi malu sekali, akan tetapi Lan Lan merangkul pundaknya dan berkata, "Adik Lin, setelah ada tukang perahu baik hati yang mau menyeberangkan, mengapa malu-malu? Mari kita naik perahu!"

Dengan senyum dikulum dan kerling mata malu-malu, kedua orang gadis itu melompat ke dalam perahu dan duduk di dalam bilik perahu itu. Wi Liong merasa seperti kejatuhan dua bintang, begitu gembira hatinya. Segera kedua lengannya mendayung dan perahu itu meluncur tehang ke tengah.

"Ji-wi tentu akan mengunjungi Pek-go-to, bukan?" tanya Wi Liong, sikapnya menghormat akan tetapi jelas tampak wajahnya berseri-seri saking gembira hatinya dapat duduk seperahu dan bercakap cakap dengan dua orang gadis kembar itu. Sekaligus ada dua orang Siok Lan didepannya. Bagaimana hatinya tidak akan menjadi girang?

"Bagaimana kau bisa tahu?" Lin Lin balas menanya, sikapnya masih agak dingin....

Wi Liong tersenyum dan senyum ini sekaligus membuat jantung dua orang nona itu berdenyut lebih cepat dari biasanya. "Semua orang gagah berdatangan ke Pulau Pek-go-to untuk memberi selamat atas ulang tahun tokoh besar Thai Khek Sian. Sayangnya jiwi datang terlampau pagi hingga harus menanti di Pek-go-to sedikitnya setengah bulan."

"Betulkah?" tanya Lan Lan khawatir.

"Waktu yang dijanjikan atau yang dimaksud oleh Thai Khek Sian, dalam undangannya masih setengah bulan lagi." kata Wi Liong. "Dan aku yang sudah pernah datang ke Pek-go-to harus mengaku bahwa amat tidak menyenangkan berada di pulau itu bersama Thai Khek Sian dan kaki tangannya sampai demikian lamanya..."

Jilid selanjutnya,