Cheng Hoa Kiam Jilid 33

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 33
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 33, karya Kho Ping Hoo - KAGET BUKAN main para tamu itu mendengar keputusan ini. Lebih-lebih Eng Lan, gadis ini menjadi pucat dan memandang kearah Kun Hong dengan mata terbelalak. Kemudian ia melompat maju dan menghunus pedangnya menghadapi Kun Hong.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

"Dia ini yang akan maju menjadi jagonya? Baik sekali, biar dia mengadu jiwa dulu dengan aku. baru dengan suhu!" Dengan marah sekali Eng Lan melompat maju menerjang dan menyerang Kun Hong dengan pedangnya. Sukar sekali untuk menduga bagaimana rasa hati dan perasaan Kun Hong di saat itu.

Pemuda ini berdiri tanpa bergerak, memandang kepada Eng Lan dengan mata sayu dan bibir gemetar, akan tegapi ia tidak mengelak sedikitpun dari tusukan pedang yang mengarah ulu hatinya! Pedang litu dengan cepat dan kuatnya meluncur ke depan dan agaknya sudah pasti akan menembus ulu hati Kun Hong.

"Plak! Traaanggg...!" Pedang itu tiba-tiba terlepas dan terlempar ke atas tanah sedangkan tubuh Eng Lan terhuyung mundur.

"Tangkap si liar ini, masukkan dulu di kamar tahanan jangan boleh keluar!" perintah Kui bo Thai-houw yang tadi menggerakkan tangan menangkis pedang itu dan menyelamatkan Kun Hong. Wajah wanita ini merah sekali karena ia marah melihat Kun Hong diam saja tidak melawan, rela mati di bawah tangan gadis itu.

"Akan tetapi jangan ganggu dia!" terdengar suara Kun Hong cukup berpengaruh karena diucapkan dengan nada ancaman ketika ia melihat Eng Lan dipegang oleh dua orang gadis pakaian putih.

Kui-bo Thai-houw melirik kepadanya lalu berkata perlahan kepada gadis-gadis itu, "Yaaaah, jangan ganggu dia."

Pak-thian Koai-jin tadinya hendak memberontak melihat muridnya ditangkap, akan tetap melihat sikap Kun Hong dan mendengar kata-kata tadi, ia menahan diri. Ia cukup cerdik untuk menginsyafi bahwa tidak ada gunanya mempergunakan kekerasan di sini karena takkan menang. Apa lagi ia berada di pulau orang dan tadi nyonya rumah sudah mengajukan syarat-syarat.

Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong sudah pernah merasai kelihaian Kun Hong, maka tentu saja syarat yang diajukan tadi terasa berat bagi mereka dan membuat mereka ragu-ragu. Akan tetapi tidak demikian dengan Thai It Cinjin dan dua orang sutenya. Im-yang Siang-cu yang berkepandaian lebih tinggi. Mereka ini, terutama Thai It Cinjin, merasa akan sanggup mengalahkan Kun Hong, maka mereka tersenyum dan bersiap-siap.

Thai It Cinjin melangkah maju dan berkata dengan senyum. "Thai-houw malah mengajukan murid Thai Khek Sian menjadi jago untuk menguji kami? Baiklah kalau demikian kehendakmu. Orang muda, majulah."

Kun Hong sudah pernah bertanding melawan Thai It Cinjin dan dalam pertandingan dahulu itu, ia terdesak oleh kakek yang lihai ini. Ia masih merasa penasaran dan sekarang terbuka kesempatan baginya untuk menebus kekalahannya.

"Kun Hong, kau tahu bagaimana harus mengalahkan dia. Majulah," kata Kui-bo Thai-houw dengan muka berseri dan mata bersinar penuh harapan.

Kun Hong mengangguk, lalu meloloskan pedangnya. Cheng-hoa-kiam. Memang, selama berada di Ban-mo-to ia tidak hanya menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang saja. Ia telah menerima banyak petunjuk ilmu silat dari Kui-bo Thai-houw.

Malah telah mewarisi berbagai ilmu pukulan yang hebat-hebat dan selain ini, pernah ia membicarakan tentang kekalahannya dari Thai It Cinjin dahulu dan mendapat petunjuk-petunjuk bagaimana umtuk menghadapi kakek dari Kim-Ie-san ini.

Melihat Kun Hong sudah bersiap di depannya, tanpa sungkan-sungkan lagi Thai It Cinjin lalu membuka serangan dengan sepasang ujung lengan bajunya yang ampuh. Kun Hong juga menggerakkan tubuh dan pedangnya dan di lain saat keduanya sudah saling terjang dengan hebat. Baru beberapa gebrakan saja Thai It Cinjin terkejut.

Benar-benar ia telah melihat perubahan luar biasa dalam gerakan pemuda ini. Dahulu ketika ia menghadapi pemuda ini, ia masih dapat mengenal ilmu pedang dan gerakan-gerakan pukulan aneh dari Thai Khek Sian, akan tetapi seaneh-anehnya masih berdasarkan ilmu silat dari Wuyi-san dan sebagai seorang yang pernah menerima pelajaran dari Gan Yan Ki, tentu saja ia dapat menghadapi ilmu silat warisan Wuyi-san biarpun sudah amat berubah.

Akan terapi sekarang: menghadapi dia, agaknya pemuda ini tidak mau lagi mempergunakan ilmu silat Wuyi-san, melainkan mainkan ilmu silat lain yang amat aneh akan tetapi di dalam gerak-gerik yang halus terkandung pukulan-pukulan maut yang amat ganas dan tak kenal ampun. Ia dapat menduga bahwa ini tentulah ilmu dari Ban-mo-to karena sifatnya serasi benar dengan keadaan Kui-bo Thai-houw, halus lemah lembut namun kejam dan keji luar biasa.

Memang dugaan tokoh besar ini tepat. Kun Hong sekarang mainkan Ilmu Pedang Giok li-coan-ciam (Dewi Kemala Menusuk Jarum) yang ia pelajari dari Kui-bo Thai-houw. Ilmu pedang ini adalah ilmu simpanan dari Kui-bo Thai-houw dan baru diajarkan kepada Kun Hong seorang saking sayangnya ia kepada pemuda itu. Sesuai dengan namanya, ilmu pedang ini halus gerak-geriknya seperti gerak-gerik seorang dewi, akan tetapi ganas dan kejam seperti jarum menusuk-nusuk kain tanpa kenal ampun lagi!

Thai It Cinjin mulai terdesak. Ia masih menduga-duga dan masih mempelajari gerakan-gerakan lawan, sebaliknya Kun Hong tentu saja dapat mengenal dasar gerakan-gerakannya. Biarpun dalam hal lweekang maupun ginkang ia tidak kalah akan tetapi kekalahan ilmu silat ini benar-benar membuat ia terdesak hebat. Sambil menggereng keras Thai It Cinjin lalu mencabut sebatang pedang dari pinggangnya.

Kakek ini memang jarang sekali menggunakan pedang, biasanya dengan kedua tangan berikut ujung lengan baju saja ia, sudah jarang terkalahkan. Akan tetapi sebagai seorang lokoh Bu-tong-pai, tentu saja iapun seorang ahli ilmu pedang dan selalu membawa pedang yang jarang ia keluarkan.

Setelah memegang pedang di tangan, Thai It Cinjin lalu mainkan ilmu pedang Bu-tong-pai yang paling lihai, masih dibantu lagi dengan ujung lengan baju tangan kirinya. Keadaan menjadi makin ramai karena sekarang keduanya menggunakan pedang dan biarpun sudah mengenal Bu-tong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bu-tong), namun tidak sampai sedalam-dalamnya, maka sekarang Kun Hong harus bersilat dengan lebih hati-hati lagi.

Karena Thai It Cinjin memang lihai sekali, perlahan-lahan Kun Hong mulai terdesak. Tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan seruan keras dan tangan kirinya bergerak cepat. Sinar kuning emas menyambar ke arah muka Thai It Cinjin yang menjadi kaget sekali dan cepat menangkis sambil melompat mundur.

Hampir ia mendamprat karena mengira lawan menggunakan senjata rahasia, akan tetapi ketika ia memandang, ternyata itu bukanlah senjata gelap, melainkan sebuah tali pengikat pinggang dari benang sutera kuning yang tadi dipergunakan oleh Kun Hong.

Sekarang pemuda ini telah berlambah sebuah senjata lain di tangan kiri, senjata yang menjadi keistimewaan Kui-bo Thai-houw. Ternyata bahwa pemuda yang pintar ini dalam waktu singkat saja, selain mewarisi Ilmu Pedang Giok-lt coan-ciam, juga telah mahir ilmu silat mempergunakan tali ikat pinggang yang lihai Itu!

Pertandingan dilanjutkan dan keadaan berubah lagi. Kun Hong telah mulai dapat mendesak lagi, akan tetapi karena lawannya memang seorang tokoh besar yang amat lihai, tetap saja masih sukar baginya untuk mencapai kemenangan walaupun pertandingan sudah berlangsung hampir duaratus jurus.

Akhirnya ia melihat tanda-tanda bahwa lawannya kehabisan napas. Maklum Thai It Cinjin sudah tua dan napasnya tidak sepanjang dahulu, tenaganyapun terbatas Melihat ini Kun Hong mengerahkan semangat dan menerjang dengan hebat.

Tiba-tiba terdengar seruan marah dan dua bayangan orang, Im Thian Cu dan Yang Thian Cu dua orang kakak beradik tokoh Bu-tong-pai yang menjadi sute Thai It Cinjin, menyerbu ke dalam kalangan pertempuran membantu kakak seperguruan mereka. Mereka semenjak tadi menahan hati. Akan tetapi akhirnya tidak kuat melihat suheng mereka mulai terdesak dan mandi keringat.

Penyerbuan mereka dalam keroyokan ini tidak menguntungkan Thai It Cinjin yang tidak keburu mencegah. Hampir berbareng terdengar suara ketawa halus, dua sinar merah menyambar dan Im Yang Siang Cu berdua roboh terguling. Thai It Cinjin terkejut sekali dan kesempatan baik ini dipergunakan oleh Kun Hong untuk menotok pundaknya dengan ujung tali ikat pinggangnya, tepat mengenai jalan darah dan tubuh Thai It Cinjin yang tinggi besar terhuyung ke belakang lalu roboh lemas.

"Jangan bunuh mereka!" bentak Kun Hong keras sekali yang membuat Kui-bo Thai-houw menoleh kepadanya dengan heran sambil menahan sabuk benang sutera merahnya yang sudah akan ia gerakkan untuk membunuh tiga orang itu.

"Kun Hong, kau kenapa?” tanyanya heran dan agak gelisah.

"Thai-houw, harap kau penuhi permintaanku ini. Para tamu ini jangan dibunuh. Memang mereka melanggar peraturan Thai-houw, akan tetapi pelanggaran yang tidak begitu hebat. Kalau dibunuh, aku akan merasa tidak enak dan tidak senang selalu. Kalau Thai-houw hendak menghukum mereka, hukumlah dan penjarakan mereka, akan tetapi jangan sekali-kali dibunuh."

Menarik sekali untuk mempelajari wajah Kui-bo Thai-houw di saat itu. Cahaya merah berubah pucat berganti-ganti, alis yang melengkung hitam itu bergerak-gerak naik turun, bibirnya yang masih manis sekali bergerak-gerak perlahan, matanya melirik ke kanan kiri. Akhirnya ia menatap wajah Kun Hong dan menarik napas panjang.

"Aku bodoh sekali, akan tetapi aku tak sampai hati membikin kau tidak senang." Ia lalu menoleh ke arah Thai It Cinjin dan berkata, suaranya lantang berpengaruh.

"Thai It Cinjin, kau sudah berdosa besar. Seharusnya kau dihukum mati, akan tetapi mengingat permintaan anak angkatku, kau mendapat keringanan. Kau dihukum satu tahun dalam kamar tahanan di pulau ini, dan Kim-Ie-san semenjak sekarang menjadi hak milik dan wilayah kami. Im-yang Siangcu dihukum satu tahun pula dan setelah itu harus cepat pergi jangan sampai memperlihatkan diri lagi. Sekali lagi bertemu dengan kami berarti mengantar nyawa dan harus mati!"

Setelah berkata demikian ia memberi isyarat dengan tangannya. Belasan orang gadis pelayan beraneka warna pakaiannya memburu datang dan segera tiga orang kakek yang sudah tak berdaya itu diseret dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan!

"Ha, sudah kukatakan berkali-kali, muridku yang berhati keras telah salah pilih. Orang muda untuk aku pengemis hina tak perlu kau mintakan ampun. Hayo maju dan bertanding mengadu nyawa kalau kalian tidak mau membebaskan Eng Lan dari pulau siluman ini!" Pak thian Koai jin melangkah maju dengan marah.

"Pak-thian Koai-jin, bawalah muridmu itu pergi dan sini dan selanjutnya jangan ganggu kami!" kata Kui-bo Thai-houw yang sebetulnya tidak suka melihat Kun Hong tergila-gila kepada gadis itu.

"Tidak boleh!" Kun Hong menbantah, suaranya gemetar. "Thai-houw, aku tidak rela kalau Lan-moi dia bawa pergi. Dahulu juga hampir saja Lan-moi celaka oleh Ngotok-kauw tanpa gurunya ini dapat membela. Harap tangkap dan penjarakan saja Pak-thian Koai-jin!"

Mendengar ini, Pak-thian Koai-jin marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Kun Hong dengan tongkat bambunya. Kun Hong cepat mengelak dan melawan.

Kui-bo Thai-houw terheran mendengar ucapan Kun Hong tadi, akan tetapi ia girang juga bahwa pemuda itu tidak membela pengemis ini malah suruh memenjarakan. "Kun Hong, kalau begitu bunuh saja pengemis tua bangka ini!" perintahnya.

Kun Hong terkejut. Bukan maksudnya demikian. Ia sengaja hendak menahan Pak-thian Koai-jin agar Eng Lan juga tidak pergi dan di samping itu, kelak kalau tiba saatnya ia memberontak terhadap Kui-bo Thai-houw, yaitu kalau ia sudah mendapat pengobatan, ada kawan-kawan yang tangguh membantunya. Kalau ia selalu membantah, akhirnya Kui-bo Thai-houw akan kehilangan kesabarannya.

Ia sudah mengenal betul watak wanita ini. Amat sayang kepadanya dan beberapa buah permintaannya selalu diluluskan. Akan tetapi kalau wanita ini sudah marah dan hilang kesabarannya, segalanya bisa gagal dan rusak. Sambil menghadapi serangan-serangan Pak-thian Koai-jin, ia mencari akal dan akhirnya berkata,

"Thai-houw, beberapa bulan lagi akan ada pentemuan puncak antara tokoh-tokoh di Pek go-to. Para lo-enghiong yang hari ini datang ke sini termasuk tokoh-tokoh penting dan ternama. Kalau kita ini hari membunuhnya, bukanlah kelak hal ini akan dapat dipergunakan orang untuk menurunkan derajat dan merendahkan nama besar Thai-houw? Lebih baik kita penjarakan mereka ini semua dan kita lepaskan menjelang pertemuan puncak itu."

Sampai lama Kui-bo Thai-houw diam saja, hanya memandang ke arah pertempuran itu. Kun Hong diam-diam gelisah sekali, apa lagi karena Pak-thian Koai-jin mendesaknya dengan hebat. Ilmu kepandaian Pak-thian Koai-jin juga istimewa sekali, apa lagi mangkok bututnya yang selain merupakan "lambang" kedudukannya sebagai pengemis aneh, juga merupakan senjata yang tidak boleh dipandang ringan.

Tongkat bambu yang amat ringan itu bergerak cepat bagaikan kilat menyambar sehingga biarpun tingkat kepandaian Kun Hong lebih tinggi, namun tetap saja pemuda ini harus mencurahkan perhatiannya kalau tidak mau celaka. Pedang Cheng-hoa-kiam lagi-lagi memperlihatkan keunggulannya, berubah menjadi gulungan sinar terang yang melindungi tubuhnya.

Sebelum ada keputusan dari Kui-bo Thai-houw, pemuda ini tidak berani sembarangan memutuskan sendiri. Ia berani membantah dan mengajukan usul hanya bermodalkan kasih sayang wanita itu terhadapnya. Kalau wanita itu tidak setuju, iapun tidak berdaya apa-apa. Ia tahu betul akan kelihaian Kui-bo Thai-houw dan mengerti bahwa apa bila ia menggunakan kekerasan, ia akan celaka dan takkan dapat menang.

Biarpun dibantu oleh Eng Lan. Pak-thian Koai-jin, See-thian Hoat-ong, Kong Bu, Thai It Cinjin dan kedua Im yang Siang-cu agaknya mereka semua takkan berdaya menghadapi Kui-bo Thai-houw yang juga banyak sekali pembantunya yang lihai-lihai.

Akhirnya Kui-bo Thai-houw yang tahu bahwa pemuda itu masih menanti keputusannya berkata, "Usulmu baik, Kun Hong. Robohkan dan tawan mereka semua seperti kehendakmu."

Bukan main girangnya hati Kun Hong. Tadinya ia sudah khawatir sekali oleh kedatangan rombongan ini yang dianggapnya amat sembrono. Dia sendiri biarpun dianggap anak angkat, murid, juga kekasih, sebetulnya hanyalah seorang tawanan yang tak mampu melarikan diri dari situ. Ia sengaja membawa Eng Lan karena selain ia merasa rindu dan ingin terus berdekatan, juga ia baru merasa aman kalau melihat Eng Lan selamat.

Semenjak ada Eng Lan di situ, makin tekun ia belajar dengan maksud kelak dapat mengatasi Kui-bo Thai-houw dan selain membebaskan diri sendiri, juga diri Eng Lan. Ia merasa yakin hal ini tak lama lagi akan dapat ia lakukan, yaitu kalau dia sudah mendapat pengobatan Im-yang giok-cu dari Kui-bo Thai-houw.

Maka kedatangan rombongan ini membikin dia bingung sekali. Baiknya dia bisa membujuk Kuii'bo Thai-houw sehingga mereka tidak dibunuh. Hal ini baik sekali karena kelak mereka ini boleh diharapkan bantuannya menghadapi wanita iblis yang amat lihai itu.

"Pak-thian Koai-lo-enghiong, apakah kau masih tidak mau mengalah? Thai-houw mengampuni kalian semua dan hanya menghukum satu tahun. Tidak ada satu tahun malah, sampai menjelang pertemuan di Pek go-to. Asal saja muridmu dalam keadaan selamat, kau mau apa lagi? Harap jangan bodoh!" kata Kun Hong sambil menangkis serangan tongkat dibarengi dengan gerakan memutar sehingga tongkat bambu itu tak dapat ditahan lagi terlepas dari pegangan kakek itu.

Pak-thian Koai-jin melompat ke belakang dan menarik napas panjang berulang-ulang. "Seorang gagah tidak menarik kembali omongannya. Aku sudah kalah, terserah kepadamu. Mau bunuh boleh bunuh, mau hukum boleh hukum asal Eng Lan jangan diganggu." Tanpa banyak bantahan lagi ia lalu mengikuti rombongan penjaga yang membawanya ke kamar tahanannya!

Melihat semua kejadian ini, See-thian Hoat-ong yang berwatak keras, bekas seorang panglima perang, menjadi tak senang hatinya. Ia berdiri tegak di dekat puteranya, menatap wajah Kui-bo Thai-houw dengan muka merah lalu berkata, suaranya lantang dan tegas,

"Aku datang bersama anakku selain untuk menemani Pak-thian Koai-jin minta pembebasan muridnya, juga untuk minta tolong kepada Thai-houw supaya suka menggunakan Ngo-heng giok-cu mengobati luka anakku karena pukulan beracun. Kalau fihak nyonya rumah menganggap aku sebagai tamu, aku minta diperlakukan sepantasnya, tidak semestinya dihina. Kalau aku dan puteraku datang dianggap musuh, aku orang she Kong selamanya belum pernah takluk kepada musuh tanpa mempertaruhkan nyawa. Seribu kali lebih baik tewas dari pada menaluk kepada musuh!"

Kui bo Thai-houw adalah bekas selir kaisar. Melihat sikap ini, mendengar omongan yang gagah, memandang orang tinggi besar gagah perkasa bersama puteranya yang tampan dan gagah itu, timbul rasa kagumnya. Akan tetapi dia orang aneh dan kehendaknya selalu ingin ditaati orang saja. Baiknya Kun Hong yang melihat sinar kagum di mata Thai-houw. cepat-cepat ia maju dan berkata.

"Biar aku mewakili Thai-houw agar tidak membikin beliau lelah bicara denganmu, See-thiau Hoat-ong. Ketahuilah, terhadap orang orang gagah seperti kau dan puteramu, kami mana tidak menghormat? Adalah karena kalian melanggar larangan mengunjungi pulau ini yang membikin Thai-houw marah. Kau minta tolong pengobatan puteramu. Pukulan itu adalah Hek-tok-sin-ciang yang hebat!

"Apa kau kira gampang saja mengobatinya? Sedikitnya makan waktu berbulan-bulan. Kalau kau mau puteramu diobati, harus taat kepada peraturan. Tamu-tamu tidak boleh berkeliaran sesukanya, harus tinggal di kamar khusus. Setelah puteramu sembuh, baru kalian boleh pergi. Kalau tidak suka akan aturan ini, lebih baik kau dan puteramu pergi saja membawa luka-luka itu."

Thai-houw mengangguk-angguk puas. Setidaknya ucapan Kun Hong itu masih mengangkat derajatnya dan membayangkan dengan jelas akan besarnya pengaruhnya.

See-thian Hoat-ong orangnya jujur dan agaknya Kun Hong yang memang cerdik itu dapat menduga akan hal ini, maka sengaja pemuda itu tadi mengeluarkan kata-kata seperti itu. Menurut jalan pikiran See-thian Hoat-ong, ucapan tadi mengandung banyak cengli (aturan yang betul) juga. Dia datang untuk mengobatkan puteranya, tentu saja ia harus mentaati peraturan yang akan menolongnya.

"Hemm, kalau begitu baiklah. Aku dan Kong Bu akan tinggal untuk sementara di sini, mengobati luka-lukanya. Di mana kamar kami?"

Beberapa orang pelayan datang dan membawa mereka pergi dari situ. Kun Hong tersenyum lega dan memandang kepada Kui-bo Thai-houw dengan wajah berseri, "Bagus sekali, Thai-houw. Hari ini urusan dapat diselesaikan tanpa banyak membuang tenaga, bukan?"

Kui-bo Thai-houw berdiri dan membelai dagu pemuda itu penuh kasih sayang. "Kau hampir membikin marah aku karena Eng Lan. Akan tetapi apa yang kau lakukan tadi memang cerdik. Biar mereka tahu rasa dalam tahanan dan tidak lagi berani memandang ringan orang-orang wanita!"

Akan tetapi Kun Hong tidak khawatir akan keselamatan para tawanan itu. Dia boleh dibilang "kenal baik" dengan semua pelayan yang berkuasa dan ia dapat memesan mereka supaya memperlakukan para tawanan dengan baik. Adapun tentang luka yang diderita oleh Kong Bu, dia adalah murid terkasih dari Thai Khek Sian, tentu saja ia mengenal luka pukulan Hek-tok-sin-ciang itu dan tahu cara pengobatannya. Malah tadi sepintas lalu ia melihat bahwa gurunya tidak bermaksud membunuh Kong Bu, dan luka itu hanyalah luka di luar yang tidak akan membahayakan nyawanya.

Demikianlah, para tawanan itu sebetulnya tidak seperti tawanan nasibnya. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar tersendiri di bawah tanah, kamar-kamar yang indah dan mewah, mendapat makan minum yang amat baik dilayani oleh gadis-gadis cantik Hanya penjagaan amat kuat dan mereka betul-betul dikurung, tak dapat keluar dari ruangan di bawah tanah.

Eng Lan sendiri yang bebas di luar, biarpun tahu bahwa suhunya dan yang lain-lain terkurung di dalam ruangan-ruangan di bawah tanah, namun ia tidak diperkenankan masuk untuk menengok.

Beberapa hari kemudian datanglah Phang Ek Kok, kakak dari empat orang nenek kembar pelayan Kui-bo Thai-houw, di Pulau Ban-mo-to. Beberapa tahun sekali kakek pendek gemuk gundul ini tentu datang mengunjungi empat orang adiknya di pulau itu. Dia datang bersama seorang gadis cantik yang masih muda, gadis yang sikapnya pendiam dan nampak berduka saja.

Ketika ia muncul di depan Kui-bo Thai-houw bersama Ek Kok, Kun Hong memandang dengan mata terbelalak, kaget bukan main karena ia mengenal Kwa Siok Lan dalam diri gadis ini! Muka itu tiada bedanya dengan muka Kwa Siok Lan, seperti pinang dibelah dua, hanya sanggul rambut dan cara berpakaian saja yang lain, dan gadis ini lebih muda.

Bentuk tubuh dan potongan muka persis tidak ada bedanya sedikitpun juga sampai Kun Hong memandang dengan bengong. Gadis itu sendiri setelah menjura di depan Kui-bo Thai-houw, berdiri menundukkan mukanya, sama sekali tidak perduli kepada pemuda yang memandangnya dengan bengong itu.

"Kun Hong, kau melihat apa?" tegur Kui-bo Thai-houw. Bibirnya tersenyum akan tetapi pada matanya terbayang lagi iri hati.

Kun Hong sadar dan mukanya menjadi merah. "Aku... aku seperti sudah pernah bertemu dengan nona ini... lupa lagi entah di mana...."

Phang Ek Kok tertawa terkekeh kekeh, persis seperti empat orang adiknya kalau tertawa, hanya dia ini lebih besar suara ketawanya. "Dia puteriku, selamanya berada di samping ayahnya ini, mana pernah bertemu dengan kau? Orang muda, jangan ngawur!"

Phang Ek Kok tidak lama berada di Pulau Ban-mo-to. Pertama karena memang Kui-bo Thai-houw tidak begitu suka dengan orang aneh ini, keduanya karena Thai-houw khawatir kalau kalau Kun Hong tertarik oleh gadis langsing puteri Ek Kok itu. Maka baru sehari di situ, ia lalu memberi tugas kepada Phang Ek Kok untuk "mengawasi" dan menjaga wilayah Kim-Ie-san bekas tempat tinggal Thai It Cinjin yang telah dirampasnya.

Demikianlah keadaan di Pulau Ban-mo-to sebelum Wi Liong datang ke pulau itu dan tertangkap oleh jaring emas Kui-bo Thai-houw. Dan sekarang mari kita lanjutkan cerita ini dan mengikuti pengalaman Wi Liong lebih lanjut.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan, munculnya Eng Lan yang sudah mendapat kebebasan lagi setelah gurunya dan yang lain-lain ditahan dalam ruangan-ruangan bawah tanah, membuat Wi Liong terheran-heran, juga ia merasa girang sekali karena ada harapan tertolong keluar dari dalam jala yang mujijat itu.

Kalau ia tidak dapat keluar lebih dulu dari dalam jala emas itu, bagaimana ia bisa bergerak leluasa menghadapi musuh-musuh yang demikian lihainya seperti Kui-bo Thai-houw dan anak buahnya?

Akan tetapi malang baginya. Selagi ia menanti kembalinya Eng Lan penuh harapan, tiba-tiba muncul Kui-bo Thai-houw dan seorang pemuda, berjalan-jalan sambil bergandeng tangan, tertawa-tawa bersendau-gurau di bawah pohon-pohon itu.

Ketika Wi Liong menggerakkan tubuh agar jala yang mengurung dirinya berputar sehingga ia dapat melihat mereka dengan jelas, pemuda ini terkejut, heran, dan marah sekali. Ternyata bahwa pemuda yang bersendau-gurau dengan Kui-bo Thai-houw, yang bercakap-cakap dan tersenyum-senyum mesra itu bukan lain adalah Kun Hong!

"Aku tadi mendengar orang-orang bicara tentang Thai-houw menjala ikan. Tidak sari-sarinya Thai-houw suka menangkap ikan. Ikan apa sih yang begitu menarik hati?" terdengar Kun Hong bertanya.

Kui-bo Thai-houw tertawa genit. "Tidak ada ikan di dunia ini yang dapat menarik perhatianku seperti engkau, anak manis. Memang ikan itu istimewa dan aku mengajakmu ke sini juga untuk memperlihatkannya kepadamu."

"Aah. Souw Niang. harap kau jangan main-main," kata Kun Hong dengan sikap merayu. Jika berada berdua saja, memang Kun Hong tidak lagi menyebut Thai-houw, melainkan memanggil nama kecil wanita itu. "Souw Niang, untuk apa bicara tentang ikan? Aku sudah sering kali melihat ikan. Ada urusan yang lebih penting dari pada itu, yang selalu menggelisahkan hatiku...."

Kui-bo Thai-houw berseri wajahnya dan melebar senyumnya, kelihatan senang sekali dirayu pe-muda ini. "Kun Hong, apa sih yang menggelisahkan hatimu? Bukankah aku berada di sampingmu?"

"Souw Niang, kau berjanji hendak mengobati lukaku dengan Im-yang-giok-cu. Mengapa sampai sekarang belum juga kaulakukan? Souw Niang, lupakah kau bahwa luka ini bisa mendatangkan kematian bagiku?" Suara Kun Hong memohon.

Kui bo Thai-houw tertawa kecil. "Pemuda bodoh. Kalau aku berada di sampingmu selamanya, apa lagi yang kautakuti? Biar Giam-lo-ong (Raja Akhirat) sendiri yang datang, ia tidak akan mampu merampas kau dari hatiku. Jangan kau bingung, kekasih..."

Wi Liong merasa terkejut, heran dan muak sekali sampai ia menggigit bibirnya. Tak disangkanya bahwa Kun Hong adalah pemuda serendah itu. pemuda tak tahu malu yang benar-benar di luar dugaannya. Memang ia tahu bahwa Kun Hong semenjak kecil hidup di antara orang-orang jahat.

Akan tetapi sampai menjadi kekasih Kui-bo Thai-houw hanya untuk mencari obat, merayu wanita tua itu dan melupakan Eng Lan, benar-benar mendatangkan kemarahan luar biasa dalam hati Wi Liong. Saking marahnya ia tidak dapat melihat lagi ke arah dua orang itu dan terpaksa meramkan mata karena tidak dapat membalikkan tubuhnya.

Kun Hong hendak membantah lagi, akan tetapi wanita itu mencegahnya dengan kata-kata lirih. "Ssttt, hal itu kita bicarakan lagi nanti. Sekarang mari kau lihat ikan yang kutangkap. Tanggung kau akan tertarik sekali." Sambil berkata demikian. Kui bo Thai-houw memegang lengan pemuda itu dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat ke atas pohon sambil menggandeng Kun Hong!

"Eh....eh.... kenapa lihat ikan kepohon? Ikan atau burung yang...." tiba-tiba Kun Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya saking heran dan terkejutnya melihat Wi Liong di dalam jala, tergantung dan terayun-ayun pada cabang pohon, persis seperti seekor burung dalam sangkar!

Tak dapat ditahan lagi saking geli hatinya, Kun Hong tertawa terbahak-bahak ketika bersama Kui-bo Thai-houw ia duduk di atas sebuah cabang pohon yang melintang tepat di depan Wi Liong.

"Ha-ha-ha-ha, alangkah lucunya ikan yang kau jaring! Ha-ha-ha!" demikian Kun Hong tertawa, akan tetapi diam-diam otaknya yang cerdik bekerja dan mencari siasat. Wi Liong, inilah orangnya yang ia butuhkan, pikirnya! Dengan Wi Liong di sampingnya, ia merasa akan kuat menghadapi Kui-bo Thai-houw. Akan tetapi, ia sengaja tertawa dan mengejek, dan karena memang ia betul- betul merasa geli melihat keadaan Wi Liong, maka tidak sukarlah permainan sandiwara ini.

Kui-bo Thai-houw tersenyum. "Tahukah kau? Bocah ini datang hendak merampas Eng Lan dari sini."

Wajah Kun Hong agak berubah. Memang Kui-bo Thai-houw sengaja menyebar racun melalui kata-katanya agar supaya pemuda kekasihnya ini membenci Eng Lan. Hal ini mudah saja termakan oleh Kun Hong yang memang sudah menaruh hati cemburu kepada Wi Liong ketika ia dahulu melihat Eng Lan bersama Wi Liong tertawan oleh Ngo tok-kauw.

"Dia tentu ada hubungan dengan Eng Lan. Kalau tidak masa ia berani mati datang ke sini untuk membawa pergi gadis itu!"

Kui-bo Thai-houw melanjutkan penyebaran racunnya. "Apakah orang ini juga akan dimaafkan dan diampuni seperti yang lain? Kun Hcng, aku serahkan dia padamu, mau kau bunuh atau kau ampuni, terserah."

Sementara itu, Wi Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Kun Hong manusia tak tahu malu! Lepaskan aku dan mari kita bertempur secara laki-laki sampai seribu jurus! Boleh kau dibantu oleh Kui-bo Thai-houw sekalian, aku Thio Wi Liong bukan manusia yang takut dikeroyok!"

Kun Hong tertawa terbahak-bahak, mentertawakan Wi Liong yang marah-marah dan meronta-ronta dalam jaring itu. "Ha ha, lucu benar orang ini, Thai-houw. Dia ini adalah anak keponakan Kwee Sun Tek, orangnya sombong sekali akan tetapi tidak berapa kepandaiannya. Betapapun juga, aku ingin menjajal kepandaiannya setelah aku menerima petunjuk darimu. Thai-houw, harap kau lepaskan dia, biar aku menghadapinya barang seratus jurus kalau dia kuat bertahan."

Kui-bo Thaihouw mengangguk. "Mana pedangmu? Kenapa tidak kau bawa pedangmu Cheng-hoa-kiam?”

"Aku akan mengambilnya dulu." kata Kun Hong sambil melompat turun dari cabang pohon itu dan berlari cepat ke kamarnya.

Kui-bo Thai-houw masih duduk di atas cabang di depan Wi Liong. "Orang muda, apakah kau cinta kepada Eng Lan?" ia bertanya sambil memandang wajah yang tampan itu, merasa sayang juga bahwa pemuda setampan ini datang memusuhinya.

Wi Liong adalah seorang pemuda yang berotak tajam dan cerdik sekali. Ketika ia tadi mendengar pembicaraan antara wanita ini dan Kun Hong di depannya, ia sudah mengerti bahwa ada hubungan mesra antara mereka berdua itu dan bahwa wanita setengah tua yang genit ini menaruh hati cemburu terhadap Eng Lan dan mengharapkan Eng Lan pergi dari pulaunya agar ia dapat memiliki Kun Hong tanpa adanya saingan. Ia merasa jemu dan muak, dan tadinya ia tidak sudi melayani wanita ini bercakap-cakap.

Akan tetapi mendengar pertanyaan itu mau tidak mau ia menjawab juga dengan singkat. "Tidak... Jangan mengacau yang bukan-bukan."

"Sayang...." Kui-bo Thai-houw mengangkat pundaknya, gerakannya genit sekali tak kalah oleh gadis-gadis remaja puteri. "Kalau kau cinta padanya dan berjanji padaku mau membawanya pergi dari sini dan takkan kembali lagi, aku akan dapat mencegah Kun Hong membunuhmu."

"Hemm, bagaimana kau bisa tahu Kun Hong hendak membunuhku?"

"Apa lagi? Kau akan kulepaskan dari jaring itu. Kun Hong mengajakmu bertanding dan kau tentu akan mampus."

"Belum tentu! Aku tidak takut kepada Kun Hong!"

Kui-bo Thai-houw tersenyum manis, matanya memandang wajah pemuda dalam jaring itu dengan sinar berseri. "Ah, kau gagah juga! Pemuda lumayan... bukan lumayan lagi... boleh dibandingkan dengan Kun Hong... sayang kau sombong dan tidak taat kepadaku, sayang kau harus mampus...!"

Wi Liong mendongkol sekali. Tahu dia jalan pikiran wanita tua yang cabul dan gila pemuda ini. "Kui-bo Thai houw, jangan kira aku pemuda semacam Kun Hong yang sudi dan mandah saja kau permainkan!"

Pada saat itu, bayangan Eng Lan berkelebat melompat ke belakang Wi Liong dan pedang Cheng-hoa-kiam di tangannya digerakkan membacok dengan maksud membabat putus jaring yang tergantung itu. Wi Liong girang sekali. Bagaimana gadis itu berani bergerak selagi Kui-bo Thai-houw berada di dekat situ?

Kekhawatiran hati Wi Liong ini terbukti. Melihat gadis itu datang-datang membawa pedang hendak dibacokkan ke arah Wi Liong, Kui-bo Thai-houw salah sangka. Dikiranya bahwa gadis itu hendak membunuh Wi Liong. "Gadis liar jangan kurang ajar. Pergi!" Dari tempat duduknya, Kui-bo Thai-houw menggerakkan tangan mengirim pukulan jarak jauh ke arah dada Eng Lan.

Wi Liong kaget sekali, maklum bahwa itulah pukulan maut yang belum tentu dapat ditahan oleh Eng Lan. Cepat ia mengerahkan tenaga dan dari dalam jaring ia menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah Kui-bo Thai-houw. Dua tenaga luar biasa bertemu di udara.

Eng Lan selamat karena tenaga atau hawa pukulan Kui-bo Thai-houw kena digempur meleset oleh Wi Liong, akan tetapi karena hawa pukulan itu memang hebat, baru anginnya saja membuat Eng Lan kehilangan keseimbangan tubuhnya, pedangnya tidak mengenai jaring dan tubuhnya terhuyung lalu terpaksa ia melompat turun agar tidak jatuh!

Kui bo Thai-houw ketika hawa pukulannya digempur oleh hawa pukulan lain dari depan, kaget setengah mati, apa lagi karena cabang yang ia duduki sampai menjadi patah saking hebatnya gempuran tadi. Seujung rambutpun ia tak pernah mengira bahwa pemuda di dalam jaring ini memiliki tenaga sehebat itu, akan tetapi ia tidak sempat memikirkan hal ini karena ia harus cepat menggerakkan tubuh melompat ke cabang lain supaya tidak ikut terpelanting bersama cabang yang ia duduki tadi.

Sebelum ia hilang kagetnya, tiba-tiba datang empat orang gadis pelayan berpakaian hijau berlari-lari sambil menjerit-jerit, "Thai-houw.... harap lekas datang... thai-cu memasuki kamar besar, dicegah oleh empat toanio dan sekarang mereka bertempur!"

Kagetlah Kui-bo Thai-houw mendengar ini. Kamar besar adalah kamarnya dan di situ ia menyimpan semua miliknya yang paling berharga. Tak seorangpun boleh memasuki kamar itu, juga Kun Hong yang disebut thai-cu (pangeran) tidak pernah diperbolehkan masuk.

Kamar besar itu selalu dijaga oleh empat toanio yaitu empat wanita kembar yang gemuk buruk rupa itu, dijaga keras dan siapapun dilarang menginjakkan kaki di dalam kamar ini. Kalau Kun Hong sudah nekat memasuki kamar dan sampai berkelahi dengan para penjaga itu, benar-benar kejadian yang hebat dan tentu terjadi perubahan yang luar biasa.

Semua benda pusakanya disimpan di situ, termasuk kemala mujijat Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu! Tanpa perdulikan Wi Liong dan Eng Lan lagi, wanita ini sambil mengeluarkan seruan aneh berkelebat pergi cepat sekali, menuju ke kamar besar.

Eng Lan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Cepat ia melompat lagi ke dekat Wi Liong dan sekali babat saja putuslah jaring itu dan tubuh Wi Liong melayang ke bawah. Namun pemuda yang sakti ini dapat mencapai tanah dengan tubuh ringan. Cepat ia melepaskan jaring yang masih menyelubunginya dan ia menghadapi Eng Lan yang sudah ikut melayang turun.

"Terima kasih, nona," katanya singkat akan tetapi suaranya mengandung rasa syukur.

"'Cepat, mari bebaskan suhu dan yang lain-lain lebih dulu " kata Eng Lan.

"Nanti dulu, kita bantu dulu Kun Hong, Ke sinikan Cheng-hoa-kiam itu, Kui-bo Thai-houw lihai sekali" kata Wi Liong.

Eng Lan mengerutkan kening akan tetapi memberikan pedang itu kepada Wi Liong. "Manusia macam dia perlu apa dibantu?" Kemudian ia berkata lagi dengan sikap mendongkol, "Laginya, dia mana perlu bantuan? Dia sudah menjadi tapak kaki siluman betina itu."

"Kurasa tidak demikian, nona. Kun Hong hanya bersandiwara. Dia ingin obat dan ingin menyelamatkan kau dan yang lain-lain. Aku dapat menduga isi hatinya dari pandang matanya tadi. Tentu sekarang ia mengharapkan bantuanku maka ia berani menentang Kui-bo Thai-houw. Mari... atau kau boleh membebaskan suhumu, biar aku membantu Kun Hong."

Wi Liong berlari-lari dan Eng Lan setelah ragu-ragu sebentar lalu menyusul pemuda itu. Dugaan Wi Liong memang tidak keliru. Kun Hong mempergunakan kesempatan ketika mengambil pedangnya yang ternyata sudah tidak berada di kamarnya lagi, ia cepat menuju ke kamar besar di mana ia tahu disimpan Im-yang giok-cu dan Ngo-heng giok-cu. Tentu saja ia dilarang oleh empat orang wanita kembar.

"Aku disuruh Thai-houw mengambil Im-yang giok-cu," katanya kepada empat orang wanita kembar itu.

"Biarpun thai-cu...”

"....tak boleh masuk...”

"....tanpa ijin...."

"....Thai-houw!” demikian kata mereka.

Kun Hong menjadi marah. "Apa kalian tidak tahu bahwa Thai-houw amat sayang padaku? Thai-houw yang menyuruh aku masuk!"

"Tidak ada bukti...."

"Tak boleh masuk...."

"Kecuali kalau....”

"Thai-houw sendiri datang...!”

Kun Hong tidak sabar lagi. "Aku mau masuk, coba kalian mau apa!" Cepat ia menerjang empat orang wanita itu dengan hebat sekali.

Mereka kaget bukan main, tidak mengira bahwa pemuda yang selama ini mendapat perlakuan dan rawatan baik sekali ternyata sekarang menyerang mereka dengan sungguh-sungguh, menyerang dengan pukulan maut! Saking kagetnya mereka melompat ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk menerobos masuk ke dalam kamar besar.

Sudah sering kali dari luar ia memperhatikan kamar yang indah ini dan ia tahu betul di mana Thai-houw menyimpan Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu, karena dalam keadaan gembira wanita itu pernah menceritakan hal itu kepadanya. Cepat ia menyambar sebuah peti hitam berukir naga di bawah ranjang dan membukanya. Untuk sedetik ia silau karena di dalam peti itu terdapat perhiasan yang serba indah, dari batu-batu giok (kemala) yang jarang ada di dunia ini.

Akan tetapi Kun Hong hanya mengambil dua buah benda, yaitu sebuah tongkat potong dengan kepala batu kemala lima warna yaitu Ngo-heng-giok-cu dan sebuah kalung dengan mata batu warna dua yang aneh sekali warnanya, disebut hitam putih kadang-kadang putihnya menjadi kuning hitamnya menjadi merah dan kalau dipandang lebih teliti berubah lagi, akan tetapi selalu dua warna yang bertentangan. Inilah Im-yang-giok-cu!

Ketika Kun Hong mengantongi dua benda ini, empat orang nenek kembar itu sudah dapat melenyapkan kebingungan mereka dan kini dengan wajah keren mereka menyerbu masuk. Empat helai tali ikat pinggang mereka yang lihai menyambar ke arah Kun Hong, mengarah jalan darah yang berbahaya. Kun Hong melompat mundur. Sayang Cheng-hoa-kiam tidak ada padaku, pikirnya.

Ia melihat sebatang pedang dengan sarung berukir indah tergantung di dinding kamar itu. Cepat pedang itu disambarnya dan dihunus. Girang hatinya karena pedang itupun sebatang pedang yang tua dan selain indah juga tajam sekali. Ia memutar pedang dan di lain saat ia sudah dikeroyok oleh empat orang nenek itu, bertempur dengan serunya.

Dahulupun ketika untuk pertama kali Kun Hong datang ke Ban-mo-to, empat orang nenek ini tidak kuat melawannya. Apa lagi sekarang Kun Hong sudah menerima pelajaran ilmu silat dengan tali ikat pinggang itu, maka tentu saja ia lebih mudah menghadapi empat orang pengeroyoknya yang sudah ia kenal ilmu silatnya yang berdasarkan barisan segi empat. Dalam belasan jurus ia sudah dapat mendesak mereka mundur dan keluar dari kamar itu, dan pertempuran dilanjutkan di luar kamar.

"Mundur! Apa kalian sudah bosan hidup?" Kun Hong membentak, mendongkol sekali dengan adanya rintangan ini karena ia ingin buru-buru melepaskan Wi Liong agar supaya dapat membantunya menghadapi Kui-bo Thai-houw yang lihai.

Akan tetapi empat orang nenek yang amat setia terhadap Kui-bo Thai houw itu mana mau mundur? Mereka malah mendesak dengan nekat dan melakukan serangan-serangan yang herbahaya. Banyak pelayan-pelayan yang cantik dan muda melihat pertempuran ini. Mereka serentak maju.

Akan tetapi karena maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan mereka yang sedang bertempur, maka mereka ini hanya menonton saja dengan pedang di tangan, tidak berani mengeroyok Kun Hong. Empat orang pelayan pakaian hijau cepat lari mencari Kui-bo Thai-houw di dalam taman hutan.

Maklum bahwa keadaan amat tidak baik baginya, Kun Hong mempercepat gerakan pedangnya dan berturut-turut ia merobohkan empat orang nenek kembar itu dengan tendangan dan totokan tangan kiri. Ia masih tidak mau memperbesar urusan dengan pembunuhan, maka ia robohkan empat orang nenek itu dengan luka-luka ringan.

Selagi ia merasa lega karena tidak dikeroyok lagi dan hendak cepat-cepat lari kembali ke dalam taman, tiba-tiba ia mendengar bentakan halus, "Manusia tak kenal budi. Kau berbuat apa?"

Suara ini halus sekali, akan tetapi bagi Kun Hong terdengar lebih menyeramkan dari pada suara yang kasar dan parau. Mukanya menjadi pucat. Bukannya ia terlalu takut menghadapi wanita ini, akan tetapi karena ia merasa telah terlambat dan rencananya gagal. Ia kaget sekali melihat Kui-bo Thai-houw yang tidak disangka-sangkanya akan tiba di situ. Dan Wi Liong belum ia lepaskan lagi!

Akan tetapi pemuda ini segera bisa menenangkan dirinya lagi. Ia tersenyum dan berkata, "Thai-houw, tadi aku hendak mengambil pedangku, akan tetapi siapa kira pedang Cheng-hoa-kiam telah lenyap dari kamarku. Aku teringat bahwa di dalam kamarmu terdapat sebatang pedang, maka aku pergi ke situ untuk mengambilnya, hendak kupergunakan melawan pemuda sombong itu. Eh, tidak tahunya empat orang penjagamu begitu kurang ajar dan tidak mempercayaiku sehingga kami bertempur dan aku terpaksa merobohkan mereka dengan totokan dan tendangan. Harap kau jangan marah...."

Jilid selanjutnya,