Cheng Hoa Kiam Jilid 26

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 26
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 26 kqrya Kho Ping Hoo - MENDENGAR KATA-KATA INI, tahulah Wi Liong bahwa kalau biasanya kakek buntung ini bicara tidak karuan itulah bukan wataknya, hanya menurutkan kebiasaannya yang aneh. Buktinya sekarang ia bisa bicara begitu jelas dan baik.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Akan tetapi mendengar penuturan itu. Tung-hai Sian-li kelihatan berduka sekali lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mencari dia saja belum bisa bertemu bagaimana mau bicara tentang perjodohannya?" Ia menarik napas panjang. Kemudian sambil melirik ke arah Wi Liong ia berkata, "Kalau pemuda ini bisa mendapatkan kembali anakku yang hilang, baru aku mau bicara tentang perjodohan."

Mendengar ini, Wi Liong berdiri lalu berkata dengan tegas. "Aku akan mencari Lan-moi sampai dapat!" Setelah berkata demikian, ia memberi hormat kepada Lam-san Sian-ong dan berkelebat pergi dari tempat itu.

Dengan cepat sekali Wi Liong berlari kembali ke Poan-kun. Sepanjang jalan ia berpikir-pikir. Sekarang ternyata olehnya bahwa gadis itu sudah pergi berpisah dengan ibu dan ayahnya. Entah ke mana perginya kekasihnya yang berwatak aneh dan keras itu. Ia harus menerima sampai dapat, harus dapat membujuknya pulang dan mengampuninya.

Dengan sabar dan teliti Wi Liong menyelidiki sekeliling Poan-kun, bertanya-tanya tentang diri Siok Lan. Gadis ini terkenal di daerah itu, maka akhirnya usahanya berhasil. Ada seorang anak kecil yang melihat gadis itu berlari cepat keluar dari Poan-kun menuju ke barat. Berdasarkan petunjuk inilah Wi Liong mulai dengan perjalanannya mencari jejak Siok Lan.

Berbulan-bulan ia melakukan perjalanan, menurutkan petunjuk setiap kabar mengenai diri Siok Lan yang makin tidak jelas lagi jejaknya. Namun Wi Liong tak pernah berputus asa mencari dengan penuh harapan. Beberapa bulan kemudian, ia tiba di tepi Sungai Wu-kiang. yaitu sungai yang memuntahkan airnya di sungai besar Yangce-kiang.

Jejak Siok Lan, atau kabar yang ia dengar dari orang-orang tentang gadis itu, lenyap sebulan yang lalu di Telaga Tung-ting sehingga ia merana terus ke barat sampai di tepi Sungai Wu-kiang itu, dalam sebuah hutan yang liar dan sudah sepekan lebih ia tidak bertemu dusun tak bertemu manusia.

Agak gembira juga, hatinya ketika ia melihat beberapa orang nelayan sedang menangkap ikan dengan jala dari perahu-perahu mereka. Pada saat Wi Liong hendak mendekati mereka, tiba-tiba ia mendengar suara banyak orang di sebelah kanan dan kagetlah ia ketika ia mengenal orang, orang yang sedang berduyun-duyun memasuki perahu besar di tepi sungai iitu.

Mereka adalah orang-orang kang-ouw dan di antara mereka ia melihat beberapa orang panglima yang dulu bersama Bu-ceng Tok-ong dan Kun Hong pernah mengeroyok dia dan orang-orang gagah di Kuil Siauw-lim-si. Dari gerak-gerik mereka ketika melompat ke perahu, dari senjata-senjata yang mereka bawa, tahulaih ia bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Semua ada tujuh orang yang beramai naik perahu itu menyeberang sungai.

Setelah mereka itu menyeberang, baru Wi Liong muncul. Ia melilhat dua orang nelayan yang tadinya mencari ikan kini bercakap-cakap sambil menuding ke arah seberang sungai, agaknya mempercakapkan orang-orang yang menyeberangi sungai tadi. Melihat munculnya seorang pemuda, mereka segera menghentikan percakapan.

"Ji-wi toako, kulihat tadi banyak orang menyeberang. Ada keramaian apakah di sana?" tanya Wi Liong yang berlagak seorang pelancong, dan yang haus aikan tontonan.

Akan tetapi dua orang nelayan itu malah memperlihatkan muka heran mendengar pertanyaan ini. Memang di tempat ini tak pernah didatangi pelancong, tentu saja mereka merasa heran melihat seorang pelancong berjalan kaki muncul di hutan tepi sungai itu. Masih mending kalau pelancong ini datangnya berperahu.

"Setahu kami tidak ada keramaian apa-apa kecuali pesta perkawinan di rumah Chi-loya. Mungkin sekalil tuam-tuan tadi adalah tamu- tamu yang hendak mengunjungi pernikahan Chi-loya!" jawab seorang di antara mereka.

Wi Liong memang tadinya tertarik melihat orang-orang kang-ouw itu. Di tempat seperti ini. di selatan pula. muncul orang-orang yang membantu bala tentara Mongol, benar-benar amat mencurigakan dan aneh. Hal ini harus ia selidiki, pikirnya. Akan tetapi ia berpura-pura tidak begitu mengacuhkan orang-orang tadi dan sebaliknya kelihatan tertarik mendengar pesta perkawinan.

"Ada pesta, tentu ramai! Siapakah Chi-loya itu dan di mana ia tinggal?"

Dua orang nelayan itu saling pandang, terheran-heran mendengar ada orang belum mengenal Chi-loya. Padahal semua orang yang tinggal di sepanjang lembah sungai, tahu belaka siapa itu Chi-loya.

"Aku datang dari jauh, sengaja melancong mencari pemandangan bagus, tentu saja tidak mengenal Chi-loya," kata pula Wi Liong melihat keheranan mereka Dua orang nelayan itu mengangguk-angguk dan kini malah dengan penuh kegairahan mereka menceritakan siapa adanya Chi-loya itu.

"Tanah yang tuan injak ini milik Chi-loya, juga tanah di seberang sana dan di sepanjang lembah sungai ini sampai berpuluh li jauhnya."

Nelayan itu memberi penjelasan dan kemudian ia menuturkan bahwa Chi-loya adalah seorang hartawan besar yang boleh dibilang merajai daerah itu, pengaruh kekayaannya sampai meliputi beberapa buah desa di sektar situ. Juga selain kaya raya, Chi-loya amat dermawan dan tak seorangpun penduduk di sepanjang Sungai Wu-kiang yang tidak mengenalnya dan mentaatinya.

Ia disegani dan ditakuti bukan saja karena hartanya dan dermawannya. akan tetapi juga karena kepandaian ilmu silatnya yang tinggi. Di daerah itu Chi-loya malah mendapat sebutan Wu-kiang Siauw-ong (Raja Muda Sungai Wu-kiang)!

Wi Liong mengangguk-angguk dan tahulah sekarang ia mengapa ia melihat orang-orang kang-ouw di situ. Tentu untuk mengunjungi orang she Chi yang ternyata juga seorang berkepandaian tinggi itu. Akan tetapi mengapa panglima-panglima dari utara!

”Apakah Chi-loya hendak mengawinkan anaknya?" tanyanya karena orang yang dipanggil loya (tuan tua) tentulah sudah tua dan kalau merayakan perkawinan tentu perkawinan anaknya atau cucunya.

Dua orang nelayan itu menggeleng kepala. "Bukan, untuk merayakan pernikahan Chi-loya sendiri dengan seorang gadis perkasa yang cantik jelita."

"Ah..., apakah Chi-loya itu masih muda?"

"Sudah putih rambutnya, bagaimana dibilang muda? Sedikitnya ada lima puluh tahun...."

"Aahh... begitu...? Baru sekarang beristeri?”

Nelayan-nelayan itu kelihatan tidak senang. "Baiknya pertanyaan-pertanyaan tuan ini ditujukan kepada kami, kalau kepada orang lain mungkin tuan akan mendapat banyak susah. Segala yang dilakukan Chi-loya adalah baik. Isterinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, apa salahnya kawin lagi? Kami sedang hendak mencari ikan segemuk-gemuknya untuk disumbangkan, kalau tuan mengajak kami bicara saja, mana kami bisa dapat ikan gemuk?” Dengan sikap uring-uringan karena menganggap Wi Liong terlampau cerewet, dua orang nelayan itu lalu menengahkan perahunya dan mulai menjala ikan lagi.

"He, tunggu ji-wi twako, akupun hendak menyeberang. Tolong seberangkan aku!" teriak Wi Liong.

Akan tetapi dua orang nelayan itu menggeleng kepala. "Tidak ada waktu lagi." kata mereka dan selanjutnya tidak perdulikan Wi Liong lagi.

Tentu saja untuk menyeberangi sungai sebesar Wu-kiang, bukanlah merupakan hal sulit bagi seorang pemuda sakti seperti Wi Liong. Ia segera mencari beberapa batang pohon bambu dan sebentar kemudaan ia sudah kelihatan menyeberangi sungai itu hanya dengan pertolongan beberapa batang bambu. Kedua kakinya menginjak bambu-bambu itu dan dengan sebatang gala bambu ia mendayung dan perahu istimewa ini meluncur menyeberangi sungai.

Dua orang nelayan yang melihat hal ini menjadi bengong dan barulah mereka tahu bahwa orang muda itu ternyata adalah orang pandai yang dapat dijajarkan dengan orang-orang aneh yang sering kali datang mengunjungi Chi-loya. Mereka menjadi menyesal atas sikap mereka tadi, juga agak takut. Siapa tahu kalau-kalau pemuda itu sahabat Chi-loya dan kelak akan mengadu!

Akan tetapi Wi Liong tidak perdulikan mereka. Setelah tiba di seberang ia lalu melompat ke darat dan melanjutkan perjalanan. Tidak seperti di sebelah timur sungai, ternyata di sebelah baratnya terdapat lorong yang bersih dan Wi Liong lalu mengambil jalan melalui lorong ini.

Dari jejak-jejak sepatu yang kelihatan di atas tanah yang agak membasah tahulah ia bahwa rombongan orang tadi juga lewat melalui lorong ini. Ia ingin mengetahui siapakah sebetulnya Chi-loya yang berpengaruh itu dan apa pula hubungannya dengan para kaki tangan Mongol.

Pemandangan di kanan kiri jalan juga berbeda dengan di sebelah timur sungai. Kalau di sebelah timur penuh hutan melulu, di bagian ini nampak subur dengan sawah ladang yang kehijauan. Makin ke barat makin banyak sawah ladang dan mulailah Wi Liong melihat petani-petani menggarap sawah.

Dari keadaan tubuh mereka yang segar dan pakaian mereka yang lumayan, Wi Liong mulai percaya akan cerita nelayan-nelayan tadi bahwa Chi-loya yang kaya raya memang baik sikapnya terhadap buruh-buruhnya. Kemudian Wi Liong melihat orang-orang berdatangan melalui jalan itu juga, ada yang datang dari kanan ada yang muncul dari kiri pada jalan perempatan.

Melihat keadaan mereka mudah diduga bahwa mereka tentulah orang-orang kang.ouw yang hendak mengunjungi pesta pernikahan itu. Hal ini menguntungkan baginya karena kini iapun merupakan seorang di antara tamu-tamu yang tidak dicurigai. Orang-orang lain tentu saja mengira diapun seorang tamu yang hen dak mendatangi pesta itu pula.

Diam-diam Wi Liong menjadi geli hatinya akan tetapi jalan satu-satunya untuk mengenal siapa Chi-loya hanyalah ikut para tamu ini mengunjungi rumah hartawan itu. Pula, iapun perlu mendapatkan hiburan dan perubahan setelah merana berbulan-bulan dengan sengsara.

Rombongan tamu itu ternyata menuju ke sebuah rumah besar yang aneh sekali didirikan di antara sawah ladang, jauh dari tetangga dan sama sekali tak boleh dibilang kampung. Rumah besar ini menyendiri, akan tetapi megah dan besar sekali, juga amat mewah.

Rumah ini dihias dengan indah dan nampak banyak orang sibuk melayani para tamu yang biarpun hanya beberapa puluh orang jumlahnya, namun suara mereka memenuhi tempat itu. Sebagian besar para tamu itu terdiri dari orang-orang kasar dan hampir semua membawa senjata dan menunjukkan sikap orang-orang berkepandaian silat.

Para tamu disambut oleh beberapa orang yang agaknya menjadi panitia yang mewakili tuan rumah dan semua barang sumbangan diterima, dicatat dan ditumpuk di atas meja besar yang sudah disediakan di situ. Wi Liong yang tidak membawa apa-apa hanya ikut saja duduk di ruang tamu sambil memperhatikan keadaan di situ.

Ruang tamu itu sebetulnya merupakan sebuah taman bunga besar di pekarangan depan gedung itu dan di tengah-tengah taman bunga ini terdapat sebuah ruangan luas yang berlantai licin dan bersih. Agaknya tempat yang dikelilingi bunga-bunga ini merupakan tempat berlatih silat atau mencari hawa sejuk dengan pemandangan indah di sekelilingnya.

Memang dapat dibayangkan betapa nikmatnya untuk duduk-duduk di sini di waktu semua bunga mekar sambil minum arak atau membaca kitab. Tempat-tempat tamu diatur sedemikian rupa sehingga merupakan setengah lingkaran menghadap gedung, di mana pintunya masih tertutup dan hanya di ambang pintu dihias indah dengan kain-kain merah. Dengan pengaturan tempat duduk seperti itu, maka di tengah-tengah para tamu terdapat tempat kosong yang lega, dengan garis tengah sepuluh meteran.

Para pelayan yang berpakaian bersih putih-putih setrip merah melayani tamu dengan hormat. Hidangan dan arak yang dikeluarkan benar-benar membuktikan bahwa tuan rumah adalah seorang yang beruang banyak. Serba enak serba mahal. Tanpa disengaja pandang mata Wi Liong menyapu bagian di mana berkumpul tamu-tamu wanita.

Dan hatinya berdebar ketika ia mengenal seorang wanita setengah tua yang cantik sekali. Tak salah lagi, pikirnya. Itulah Tok-sim Sian-li! Akan tetapi wanita itu agaknya tidak mengenalnya, atau sudah lupa barangkali. Siapa sih yang memperhatikan seorang pemuda kurus di antara tamu-tamu kang-ouw yang gagah itu?

Setelah arak dibagikan beberapa putaran dan para tamu mulai jengkel karena tuan rumah dan pengantinnya belam juga muncul, tiba-tiba pintu gedung terbuka dan seorang pelayan yang berpakaian mewah berseru, "Chi-loya dan Chi-hujin keluar menyambut para tamu!"

Seruan ini lucu karena buktinya bukan dua orang tuan dan nyonya rumah itu yang menyambut tamu, melainkan para tamu yang berdiri dan menyambut mereka! Karena tempat duduk Wi Liong agak di belakang, ketika semua orang berdiri dan iapun berdiri, ia tidak bisa melihat jelas. Hanya melihat sepintas tadi pengantin wanitanya masih dikerudungi mukanya.

Juga potongan tubuhnya tidak terlihat jelas karena pakaian pengantin yang kebesaran itu menyembunyikan potongan tubuh. Adapun yang dipanggil Chi-loya adalah seorang pria tinggi gemuk, berusia limapuluhan akan tetapi masih nampak kuat dan sehat, nampak kuat sekali dan wajahnya terang peramah dengan sepasang mata bercahaya.

Chi-loya mengangkat kedua tangan dan menjura kepada para tamu lalu mempersilahkan para tamu duduk kembali. Ia sendiri bersama isterinya lalu menghampiri tempat duduk yang memang sudah disediakan di situ, yaitu sepasang kursi perak yang dihias indah.

Pengantin wanita duduk di samping kiri suaminya, diam tak bergerak bagaikan patung. Muka itu tertutup oleh hiasan kepala yang bergantungan di depan mukai hanya kadang-kadang kalau hiasan-hiasan itu bergerak, nampak kulit dagu yang putih kemerahan.

Orang-orang, terutama sekali tamu-tamu pria yang masih muda menjulurkan leher memasang mata baik-baik untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan mencuri pandang kepada muka pengantin itu setiap kali hiasan itu tersingkap.

Akan tetapi sayang, wanita yang menjadi pengantin itu agaknya malu-malu dan menundukkan mukanya saja sehingga biarpun ada kalanya hiasan itu tersingkap, tidak nampak sesuatu kecuali bayangan hidung yang kecil mancung!

Setelah semua tamu duduk. Wi Liong dapat melihat tuan rumah dengan jelas. Ia menjadi kagum. Laki-laki itu memang jantan sekali sikapnya. Wajahnya yang gagah, matanya yang tajam, mulutnya yang tersenyum ramah dagunya yang mengeras, sikap duduknya, semua membayangkan kejantanan yang menggugah rasa kagum dalam hatinya.

Orang she Chi ini tidak patut menjadi seorang hartawan, lebih patut menjadi seorang pendekar atau seorang tokoh yang amat disegani di dunia kang-ouw. Di samping tubuhnya yang besar dan kuat itu, pengantin wanita nampak kecil tak berarti, lemah dan tidak sesuai duduk di sampingnya.

Diam-diam Wi Liong jadi ingin sekali melihat wajah gadis yang beruntung itu. Ya... memang boleh dibilang beruntung menjadi isteri seorang segagah Chi-loya, biarpun usia laki-laki itu jauh lebih tua.

Sementara itu, dengan sinar matanya yang ramah, Chi-loya menyapu ruang tamu sambil mendengarkan seorang petugas membacakan catatan dari para tamu yang memberi sumbangan. Juga para tamu mendengarkan sehingga keadaan ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara petugas itu yang bernada tinggi dan suara sana sini mengirup arak.

Mendengar petugas iitu menyebut nama orang, orang gagah sambil menyebutkan macam barang sumbangannya, biarpun membosankan namun ada juga menariknya. Wi Liong melihat tuan rumah selalu mengangguk dan tersenyum kepada tamu yang disebut namanya, tentu saja yang dikenalnya. Banyak juga yang ia tidak kenal sehingga tuan rumah itu hanya mengangguk-angguk kepada para tamu, tidak tahu kepada siapa.

"Sebuah cawan perak berukir liong dari Thio Ki Sun kauwsu (guru silat) di Heng-yang!" Suara petugas itu menyambung terus daftar nama-nama dan Chi-loya mengangguk ke arah seorang kate yang duduk tak jauh dari Wi Liong.

"Sebatang tusuk konde emas permata untuk pengantin wanita, dari Tok-sim Sian-li di Wi-san!"

Chi-loya mengerutkan alis dan menoleh ke arah Tok-sim Sian-li di ruang wanita, lalu terdengar suaranya yang ternyata amat nyaring dan jelas. "Sungguhpun tidak ada hubungan dengan saudara-saudara dari Mo-kauw, namun hari ini menerima sumbangan dari Sian-li. Terima kasih... terima kasih...!"

Baru kali ini tuan rumah memberi komentar atas sumbangan seorang tamu. Dari sini saja dapat diketahui bahwa Tok-sim Sian-li tergolong seorang tamu yang agung.

Pandang mata Wi Liong yang tajam dapat melihat betapa pengantin wanita bergerak di atas kursinya mendengar disebutnya nama Tok-sim Sian-li, kedua lengan yang terbungkus pakaian pengantin itu tergetar seakan-akan mengeluarkan tenaga.

"Sebatang akar jimat penambah usia untuk Chi-loya dan sepasang merpati kemala untuk Chi-hujin (nyonya Chi) dari Sin-chio Lo Thung Khak dan kawan-kawannya dari utara!"

Semua orang ikut memandang ketika tuan rumah mengangguk ke arah orang yang bernama Lo Thung Khak dan bergelar Sin-chio (Tombak Sakti) ini. Bukan karena gelarnya melainkan karena pemberiannya yang amat berharga. Sepasang merpati kemala masih mudah didapatkan asal kita memiliki uang, akan tetapi akar jimat penambah usia adalah sebuah benda yang amat langka.

Sebuah akar obat yang luar biasa dan termasuk satu di antara obat-obat dewa. Tak mudah mencari akar ini yang kekuningan seperti kulit daging manusia, malah bentuknya juga seperti manusia kecil, berkaki, bertangan! Khasiatnya besar sekali untuk menambah kekuatan badan dan dikabarkan orang dapait menambah panjang usia!

Akan tetapi, kalau orang-orang di situ mengharapkan senyum manis dan ucapan terima kasih dari Chi-loya, mereka ini kecele. Malah Chi-loya nampaknya tidak senang, pandang matanya ke arah Sin-chio Lo Thung Khak yang berusia lima puluh tahunan itu penuh selidik dan curiga.

Si Tombak Sakti agaknya juga merasa akan pandang mata tuan rumah, maka ia buru-buru berdiri dan menjura sambil berkata, "Chi-loya yang baik, kami bertujuh datang dari utara tidak membawa apa-apa yang berharga. Selain akar jimat dan merpati kemala, juga kami membawa salam hangat dari Raja. Sekalian Raja dengan harapan mudah-mudahan Chi-loya panjang umur dan kelak dapat membantu Raja Sekalian Raja!"

Ucapan ini bagi sebagian besar orang yang hadir di situ merupakan rahasia yang sukar dimengerti dan kini mereka memandang lebih penuh perhatian kepada pembicara. Lo Thung Khak berusia lima puluh tahun lebih dan enam orang kawannya kini juga berdiri menjura, terdiri dari tiga orang berpakaian gagah dua orang seperti sasterawan-sasterawan dan seorang seperti seorang pertapa yang memelihara rambut juga.

Wi Liong berdebar hatinya, maklum bahwa tujuh orang ini adalah kaki tangan Bangsa Mongol dan yang dimaksud dengan Raja Sekalian Raja tentulah Kaisar Mongol. Ogotai yang menggantikan Jengis Khan, ayahnya. Wi Liong sudah mendengar bahwa di bawah pimpinan kaisar baru ini, banyak sekali orang Han yang pandai menjadi kaki tangan Mongol, malah orang-orang pandai di selatan juga banyak yang sudah tergerak hatinya untuk kelak membantu apabila gelombang Bangsa Mongol menyerbu ke selatan.

Maka tahulah Wi Liong apa tugas tujuh orang ini, tentu menghubungi orang-orang pandai di selatan dan membagi-bagi hadiah untuk mengambil simpati mereka. Tiba-tiba saja hati Wi Liong menjadi panas dan bencilah ia kepada tujuh orang utusan itu.

Sementara itu, ketika Chi-loya mendengar ucapan Sin-chio Lo Thung Khak tadi, tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Ia juga bangkit berdiri dan matanya mengeluarkan cahaya ketika ia balas menjura kepada tujuh orang tamunya itu. Terdengar suaranya menggeledek.

"Sin-chio Lo Thung Khak! Kalau kau dan saudara-saudara ini datang seperti Tok-sim Sian-li, datang demi persahabatan dan perkenalan, aku orang she Chi selamanya tidak pernah memilih orang dan membedakan tamu. Akan tetapi kalian bertujuh datang membawa pesan raja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kau, malah boleh dibilang musuh dalam hatiku. Oleh karena itu, kau bawa kembali sumbangan-sumbangan darimu dan aku tidak bisa menerima kunjungan utusan-utusan raja!"

Inilah kata-kata keras yang sama sekali tak pernah disangka oleh Lo Thung Khak sehingga mukanya menjadi pucat. Dia dan kawan-kawannya yang selalu diterima dengan sikap dua macam oleh orang-orang gagah, yaitu kalau tidak dengan ramah-tamah tentu dengan segan-segan dan takut-takut, sekarang dihina begitu saja oleh orang she Chi ini!

Seorang yang masih muda dan yang berdiri di kanannya, dengan cambang bauk yang kaku berdiri melangkah maju dan mukanya merah sekali ketika ia berkata, "Orang she Chi alangkah sombongnya kau! Kau mengandalkan apamu sih begitu kepala besar berani menghina kami bertujuh? Kabarnya kau memiliki sedikit kepandaian, apakah itu yang kau sombongkan? Lihat, aku orang she Lu tidak bisa terima begitu saja penghinaanmu!"

Chi-loya tersenyum mengejek. "Habis kau mau apa?”

Orang she Lu itu adalah seorang panglima yang membantu gerakan bala tentara Mongol. Adapun Sin-chio Lo Thung Khak pernah kita kenal ketika pada awal cerita ini ia ikut pula menyerbu untuk menangkap Beng Kun Cinjin. Orang she Lu ini adalah tangan kanannya.

"Mau apa? Mau paksa kau berlutut minta ampun atas hinaanmu tadi!" Setelah berkata de-mikian, orang itu melompat maju ke depan Chi- loya yang masih berdiri dengan tenang.

Tiba-tiba pengantin wanita bergerak, berdiri dan kedua tangannya bergerak ke depan. Terdengar pekik mengerikan dan panglima she Lu itu roboh, matanya yang kiri mengucurkan darah dan menjadi buta. Ternyata mata itu telah tertimpuk oleh sebutir batu giok yang tadinya merupakan sebuah di antara batu-batu giok yang bergantungan menghias kepala pengantin wanita!

Tentu saja semua tamu menjadi kaget bukan main dan juga kagum, karena tak seorangpun mengira bahwa pengantin wanita itu ternyata memiliki kepandaian yang lihai sekali. Orang jadi ingin sekali melihat wajahnya yang masih tertutup.

Chi-loya tidak kelihatan heran, malah tertawa bangga. "Cuwi sekalian yang hadir harap maafkan bahwa isteriku terpaksa turun tangan karena tidak sabar melihat tamu kurang ajar ini. Sin-chio Lo Thung Khak harap kau bawa temanmu itu keluar sebelum isteriku timbul lagi kemarahannya."

Tentu saja LoThung Khak marah bukan main. Penghinaan ini sekaligus akan menghancurkan namanya di dunia kang.ouw kalau ia tidak bertindak. Ia menyuruh seorang kawan merawat orang she Lu itu, kemudian ia memberi isyarat. Seorang kawannya yang berpakaian seperiti pendeta memelihara rambut itu maju ke depan dan merangkapkan kedua tangannya ke arah Chi-loya.

"Hujin telah memperlihatkan kepandaian, benar-benar membuat kami merasa kagum sekali dan juga memuji pilihan Chi-loya yang tepat. Karena sudah sampai di sini, sebelum memenuhi pengusiran Chi-loya, aku Tak Pouw Taisu mengharapkan sedikit petunjuk dalam ilmu silat dari Chi-loya dan Chi-hujin."

Mendengar namanya dan melihat mukanya serta dari irama suaranya, dapat diduga bahwa saikong ini adalah seoramg dari utara yang tinggal di luar daerah perbatasan, mungkin peranakan Mongol atau Mancu.

Chi-loya segera melompat ke depan, mengikatkan ikat pinggangnya yang terlampau panjang. "Kalian ini hendak mengunjungi pernikahanku ataukah hendak mengacau? Tak Pouw Taisu, kalau memang sengaja kau hendak mengacau, majulah dan jangan kira aku orang she Chi takut pada gertakanmu. Marilah, biar aku hitung-hitung menggembirakan hati para tamuku karena kebetulan tidak diadakan pertunjukan apa-apa. Tak Pouw Taisu, di sini tempatnya lega!" Ia melompat ke tengah ruangan itu dan biarpun tubuh orang she Chi ini tinggi besar, namun gerakannya amatlah ringan, membuat Wi Liong yang menonton menjadi kagum.

Sambil mengeluarkan seruan keras. Tak Pouw Taisu juga melompat ke tempat itu dan tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang cambuk hitam yang panjangnya ada empat kaki.

"Ha-ha, kau menggunakan senjata? Terang datangmu dengan kawan-kawanmu memang bermaksud mengacau. Tidak apa majulah!" seru Chi-loya tanpa mengeluarkan senjata karena dari gerakan calon lawan ini ia tahu bahwa "isi" lawannya tidak berapa berat.

"Biarlah aku menghajarmu dengan cambuk ini membalas penghinaanmu!" kata Tak Pouw Taisu yang cepat menyerang dengan sabetan cambuknya ke arah leher tuan rumah.

Chi-loya tidak mengelak, melainkan mengangkat tangan kiri, diulur untuk merampas cambuk itu. Dengan tepat sekali ia dapat menangkap cambuk dan sudah merasa geli mengapa dalam segebrakan saja lawannya, ini sudah begitu tolol untuk membiarkan senjatanya dirampas, akan tetapi tiba-tiba ia kaget sekali karena ujung cambuk itu masih bergerak dan memukul ke arah kepalanya dari belakang!

Kini tahulah Chi-loya bahwa permainan cambuk lawan memang hebat, Kalau ditangkis atau dipegang, ujung cambuk masih menyerang terus! Terpaksa ia melepaskan pegangannya dan melompat ke belakang. Kini Chi-loya tidak berani main-main lagi. Dengan lincahnya ia mengelak dari serbuan lawan yang memainkan serangkaian serangan cambuk bertubi-tubi sehingga terdengar bunyi "tar-tar-tar" susul menyusul.

Namun sampai belasan jurus cambuk itu menyambar-nyambar, jangankan mengenai kulit tubuh Chi-loya, menjamah ujung bajupun tidak pernah! Memang hebat tuan rumah ini, gerakan kakinya begitu rapi dan setiap serangan cambuk cukup dikelit dengan tubuh miring sedikit saja.

Melihat gerakan kakinya, Wi Liong yang menonton dengan gembira mengenal bahwa tuan rumah ini menggunakan gerakan kaki Sha-kak-pouw dari Sha-kak kun-hoat (Ilmu Silat Segi Tiga) yang cukup lihai dan sukar dipelajari. Diam-diam ia kagum dan gembira. Tuan rumah ini ilmunya lumayan, pengantin wanita juga hebat, kiranya tidak kalah oleh suaminya. Benar-benar pasangan yang amat serasi, sayang pengantin prianya sudah agak tua. Tidak tahu bagaimana wajah pengantin wanitanya.

Pada jurus ke dua puluh lebih, ketika menghindarkan diri dari sambaran cambuk tiba-tiba Chi-loya melompat ke belakang tubuhnya merendah kedua lengannya bergerak maju. "Pergi!" seru tuan rumah itu dan di lain saat, cambuk sudah terampas dan tubuh saikong itu sudah terlempar lima meter lebih! Sambil meringis kesakitan saikong itu merayap bangun dibantu oleh seorang kawannya.

Terdengar seruan keras dan sinar berkilau. Tahu-tahu Sin-chio Lo Thung Khak sendiri telah maju dan menyerang Chi-loya dengan sebatang tombak perak yang putih gemerlapan cahayanya. Gulungan sinar tombaknya bergelombang dan ujungnya terpecah menjadi tujuh.

Hebat sekali ilmu tombak orang she Lo ini sehingga itidak mengherankan kalau ia dijuluki Sin-chio Si Tombak Sakti. Dahulu ia pernah memegang jabatan sebagai komandan Kim-wi (pasukan pengawal baju sulam) kelas dua, maka dapat dibayangkan bahwa ilmunya memang sudah tinggi dan lihai.

Akan tetapi Chi-loya sudah siap sedia. Diloloskannya sebatang rantai baja dari pinggangnya. Iapun memutar senjatanya dan di lain saat dua orang jago itu sudah bertanding hebat. Mereka seimbang kekuatannya dan agaknya pertandingan ini akan berlangsung lama kalau saja tidak ada perobahan mendadak yang hebat.

Pengantin perempuan yang semenjak tadi duduk diam seperti patung setelah membikin buta sebelah mata orang she Lu tadi dengan sebutir mutiara, sekarang tiba-tiba melompat dan tangan kanannya sudah memegang pedang. Gerakan pedangnya cepat, kuat dan ganas sekali. Tiga kali saja ia menggerakkan pedangnya menyerang dan tusukan yang ke tiga kalinya menembus dada Lo Thung Khak!

Ngeri sekali pemandangan di situ ketika pengantin wanita mencabut pedangnya, darah mengucur dari dada Lo Thung Khak yang roboh tak berkutik lagi. Para tamu menjadi pucat dan sebagian besar memandang dengan mulut melongo.

"Suami isteri she Chi terlalu sekali!" tiba-tiba terdengar seruan nyaring ketika dengan tenang pengantin wanita kembali duduk di kursinya dan pedangnya sudah sembunyi lagi di balik baju.

Yang berseru nyaring ini adalah seorang wanita dan dengan gerakan ringan sekali tahu-tahu Tok-sim Sian-li sudah berada di tengah ruangan itu. Mukanya sebentar merah sebentar pucat menandakan kemarahan hatinya. Melihat wanita ini maju dengan marah, Chi-loya cepat menjura dengan hormat.

"Sian-li harap maafkan kami terpaksa turun tangan terhadap orang-orang jahat yang sengaja datang hendak mengacau."

"Kau ini tuan rumah macam apa? Kau hanya mengandalkan kebiasaanmu dan juga hendak menyombongkan kepandaian isterimu! Apa kau kirim undangan kepada semua orang gagah hanya untuk menyaksikan kehebatan isterimu? Cih... kepandaian begitu saja apa sih anehnya? Coba suruh dia menusuk padaku jangan tiga kali, biar tiga ratus kali, hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!"

Tok-sim Sian-li marah sekali dan hal ini memang mudah dimengerti. Lo Thung Khak adalah kaki tangan Mongol dan dia sendiri bersama Bu-ceng Tok-ong, Hek-mo Sai-ong dan yang lain-lain juga menghambakan diri kepada orang-orang Mongol. Sekarang biarpun dia tidak datang bersama Lo Thung Khak akan tetapi melinat orang-orang yang sudah ia kenal itu mengalami bencana di rumah keluarga Chi-loya, tentu saja ia tidak mau tinggal diam.

"Sian-li kenapa marah-marah? Bukankah sudah jelas bahwa orang she Lo dan kawan-kawannya itu yang sengaja datang hendak membikin ribut? Mereka pura-pura datang hendak memberi sumbangan dan mengucapkan selamat, akan tetapi diam-diam mengandung niatan untuk membujuk aku menjadi anjing Mongol, bukankah itu hinaan luar biasa besarnya?"

"Cih, pandai bicara! Apapun kesalahan orang, kalau dia itu tamu harus dihormati oleh tuan rumah. Kau berhak menyalahkan siapa saja dan sebagai tuan rumah kau berhak mengusir, akan tetapi kau membunuhnya dengan jalan mengeroyok! Kegagahan macam apakah ini? Hayo kau dan binimu itu maju keroyok aku, hendak kulihat!" kata Tok-sim Sianli sambil mencabut pedangnya.

Keadaan menjadi tegang dan semua orang memandang dengan hati berdebar. Chi-loya marah sekali sedangkan kawan-kawan Lo Thung Khak mengurus jenazah orang she Lo itu, mengundurkan diri. Chi-loya sudah cukup mengenal kehebatan nama dan kepandaian Tok-sim Sian-li dan ia tahu bahwa dia, bahkan dibantu isterinya, bukanlah lawan iblis wanita ini. Akan tetapi sebagai tuan rumah yang dihina, tentu saja ia tidak akan mundur selangkah.

Dengan muka agak pucat ia bertanya, "Tok-sim Sian-li, benar-benar kau hendak menantangku?”

Tok-sim Sian-li sudah "naik darah". Ia membusungkan dadanya dan menjawab. "Benar, aku menantangmu dan siapa saja yang akan membelamu di sini!”

"Chi-loya, serahkan perempuan galak ini padaku untuk menghajarnya!" terdengar seruan marah dan seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam melompat maju sambil menyeret sebatang toya besi.

Orang ini adalah seorang jagoan dari kota Cun-yi tak jauh dari situ, seorang ahli silat yang kerjanya sebagai pengawal barang-barang berharga yang dikirim orang, jadi semacam piauwsu. Akan tetapi ia melakukan pekerjaan ini seorang diri saja, jadi tidak seperti perusahaan-perusahaan piauwkiok umumnya. Tenaganya besar, ilmu silatnya lumayan dan karena mukanya hitam dan sikapnya keras kasar, ia diberi julukan Hek-bin-houw (Macan Muka Hitam).

Melihat Hek-bin-houw maju, Chi-loya terpaksa mundur dan duduk lagi di kursinya. Ia maklum bahwa si kasar ini bukan musuh Tok-sim Sian-li, akan tetapi ia juga sudah mengenal Hek-bin-houw yang tak mungkin dilarang. Setidaknya ini merupakan selingan yang memberi kesempatan padanya untuk berpikir bagaimana nanti menghadapi Tok-sim Sian-li yang ia tahu amat lihai dan berbahaya itu

. "Silaman betina itu mencari keributan, dia lihai bukan main, bagaimana baiknya?" bisiknya perlahan sekali kepada pengantin wanita di sebelah kirinya.

Isterinya mengangguk perlahan lalu berbisik kembali. "Dia memang lihai akan tetapi kita tak boleh takut. Majulah, aku akan membantu, kita keroyok dia!"

Mendengar jawaban isterinya, Chi-loya bernapas lega, bersenyum kembali dan memandang ke arah Tok-sim Sian-li yang kini sudah berhadapan dengan Hek-bin-houw. Chi-loya kini tak takut lagi. Andaikata ia akan kalah dan mati, kalau di samping isterinya, ia akan rela!

Sementara itu, Hek-bin-houw yang telah berhadapan dengan Tok-sim Sian-li, setelah dekat baru ia melihat bahwa wanita itu sebetulnya sudah tua biarpun dari jauh masih nampak cantik sekali.

"Hemm... kau sombong dan centil, kiranya nenek-nenek keriputan.!" ia memaki dan dua jari kiri, telunjuk dan jari tengah, ia tudingkan ke arah hidung Tok-sim Sian-li. "Sikapmu menjemukan sekali seakan-akan di daerah Kwi-cu ini tidak ada orang pandai. Hayo kau boleh menari pedang, tuan besarmu hendak melihat. Kalau jelek kau boleh minggat dari si...."

Belum habis ucapan Hek-bin-houw, tahu-tahu sinar pedang yang menyilaukan berkelebat ke arah leher orang kasar itu. Hek-bin-houw terkejut bukan main karena tahu bahwa sinar pedang itu luar biasa hebatnya. Ia cepat membuang tubuh ke belakang dan berjumpalitan, kemudian secara membabi-buta menghantamkan toyanya ke depan untuk melindungi diri.

Namun, dia memang bukan lawan Tok-sim Sian-li. Begitu pedang di tangan wanita itu bergerak menyambut toya, senjata toya itu putus menjadi dua! Hek-bin-houw kaget hendak melompat ke pinggir, akan tetapi tangan kiri Tok-sim Sian-li bergerak memukul dengan gerakan berputar.

Angin pukulan hebat menyambar dada Hek-bin-houw menjerit, terpental, muntahkan darah segar dan roboh tak bernapas lagi. Jantungnya telah pecah oleh pukulan Toat-sim-ciang (Tangan Pencabut Jantung) yang jahatnya bukan main!

Keadaan menjadi makin tegang dan para tamu mulai marah melihat pesta itu terganggu. Dua orang tamu, kakak beradik she Kwee yang sudah sering mendapat pertolongan Chi-loya yang mengangkat mereka dari keadaan yang amat miskin hampir kelaparan, melompat berdiri dan menyerang Tok-sim Sian-li dengan golok. Dua orang ini adalah murid-murid Min-kiang Lojin seorang kakek sakti yang hidup di lembah Sungai Min-kiang. Ilmu golok mereka cukup kuat karena Min-kiang Lojin sebetulnya masih anak murid Bu-tong-pai.

Chi-loya kaget sekali dan hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Terdengar suara ketawa Tok-sim Sian-li, suara ketawa yang merdu dan nyaring, akan tetapi suara ketawa ini mengandung tenaga khikang yang luar biasa. Memang selain ilmu pedangnya yang hebat.

Tok-sim Sian-li masih memiliki ilmu pukulan Toat-sim-ciang dan di samping ini masih sering kali menggunakan ilmunya yang aneh, yaitu menyanyi atau tertawa yang kedengarannya merdu akan tetapi mengandung tenaga khikang dan lweekang yang dapat membuat lawan roboh atau kacau permainan silatnya!

Dua orang saudara Kwee itu begitu mendengar suara ketawa ini menjadi lemas kaki mereka dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, leher mereka sudah terbabat putus oleh pedang di tangan Tok-sim Sian-li! Memang wanita ini sekali turun tangan, tentu menjatuhkan korban. Inilah sebuah di antara sebab-sebab mengapa ia dijuluki Tok-sim (Si Hati Beracun)!

"Tok-sim Sian-li iblis jahat, kau benar-benar terlalu sekali!" Chi-loya membentak marah, tubuhnya berkelebat dan rantai bajanya sudah menyambar tubuh Tok-sim Sian-li.

"Hi-hi-hi, orang she Chi. Hari ini aku akan merobah hari kawinmu menjadi hari matimu!" Tok-sim Sian-li tertawa-tawa mengejek dan dengan cepat ia mengelak sambil balas menyerang dengan pedangnya.

Tiba-tiba tampak berkelebatnya sinar pedang dan terdengar suara berkerincingan. Itulah sinar pedang di tangan pengantin wanita dan yang berbunyi adalah hiasan kepalanya yang bergerak-gerak sehingga batu-batu mutiara itu saling bertemu, suaranya nyaring bening.

Kembali Tok-sim Sian-li tertawa mengejek sambil menangkis pedang pengantin wanita itu. "Bagus sekali, pengantin setia biarpun suaminya tua! Kau mau mengantar suamimu ke neraka? Boleh, boleh sekali!" Pedang di tangan Tok-sim Sian-li bergerak cepat sekali dan di lain saat ia telah dikeroyok dua oleh sepasang pengantin itu!

Semua tamu baru sekarang melihat bahwa pengantin wanita itu malah lebih hebat kepandaiannya dari pada Chi-loya! Dialah yang menandingi Tok-sim Sian-li bermain pedang, cepat dan hebat gerak-geriknya membuat para tamu melongo dan kagum. Namun, betapapun juga suami isteri itu masih belum mampu mendesak Tok-sim Sian-li yang memang lebih tinggi tingkat kepandaiannya.

Tiba-tiba terdengar seruan tertahan. Yang berseru ini adalah Wi Liong. Pemuda ini sejak tadi duduk menonton dan amat tertarik, sekarang ia menjadi pucat sekali. Gerak-gerik pedang di tangan nona pengantin itu!! Ia seperti sudah mengenalnya!

"Tok-sim Sian-li jangan menyebar maut. Akulah lawanmu!" Wi Liong yang khawatir kalau-kalau suami isteri itu celaka di tangan Tok-sim Sian-li, sekarang melompat maju dengan suling di tangannya.

"Takkk....!" Sekali sulingnya membentur pedang Tok-sim Sian-li wanita itu terhuyung mundur dan memandang kepada Wi Liong dengan mata terbelalak dan muka yang cantik itu tiba-tiba pucat. Setelah pemuda ini memegang sulingnya, barulah ia ingat kembali kepada pemuda ini yang pernah membikin dia sekawan dahulu kocar-kacir.

"Kau....?" serunya gagap sambil mundur.

Akan tetapi seruannya ini lenyap ditelan suara seruan lain yang nyaring. "Kau... masih hidup...?!" Dan hiasan kepala itu disingkapkan, terlihatlah muka yang cantik jelita, mata yang jernih akan tetapi pada saat itu dibuka selebar-lebarnya, muka seorang gadis muda yang memandang kepada Wi Liong dengan kaget dan heran. Muka itu menjadi pucat sekali dan iapun terhuyung akan roboh.

"Siok Lan...!!" Wi Liong menjerit dan cepat memeluk tubuh yang terguling itu. Siok Lan pingsan dalam pelukan Wi Liong yang juga berdiri tidak tetap karena kedua kakinya menggigil saking tegangnya hatinya. Cepat ia mengurut punggung gadis itu dan seketika Siok Lan siuman kembali lalu menangis di atas dada Wi Liong!

Tentu saja keadaan ini menggegerkan para tamu. Mereka kaget heran dan akhirnya menjadi bingung tidak tahu harus berbuat apa. Demikian pula Chi-loya, orang tua ini benar patut dikasihani karena ia hanya berdiri bengong memandang isterinya dengan bingung.

Sementara itu, Tok-sim Sian-li yang tadi marah sekali karena tangkisan suling membuat ia terhuyung-huyung, kini melihat Wi Liong memeluk Siok Lan yang menangis, cepat mengirim tusukan yang kalau mengenai tentu akan menembus tubuh Wi Liong dan Siok Lan.

"Takk...!" Tanpa menoleh, masih mendekap kepala Siok Lan di dadanya dengan mata dimeramkan. Wi Liong mengangkat tangan kiri yang memegang suling dan berhasil menangkis serangan pedang ini!

"Siok Lan...!" kembali pemuda itu berbisik di dekat telinganya.

"Wi Liong, kau... kau yang terjungkal dalam jurang... kau masih hidup...? Betul-betulkah ini, tidak mimpikah...?" Siok Lan balas berbisik.

"Tidak Siok Lan, aku tidak mati. Thian masih melindungi aku, masih memperpanjang hidupku agar aku dapat mencarimu, dapat bertemu kembali dengan kau."

Chi-loya melangkah maju, suaranya menggeledek akan tetapi agak gemetar saking gelisahnya hatinya. "Siok Lan... ingat kau sekarangbsudah menjadi isteriku, kita sudah... sudah bersembahyang di depan meja leluhur..."

Mendengar ini, bagaikan baru sadar dari mimpi, Siok Lan merenggutkan kepala dan tubuhnya dari pelukan Wi Liong, lalu sambil terisak ia berkata. "Wi Liong, apa yang ia katakan itu betul. Kau... kau pergilah..."

Wi Liong yang menjadi pucat dan sepasang matanya basah air mata memegang tangan gadis itu berkata memohon, "Siok Lan, masa kau begitu kejam? Bagaimana kau bisa sampai menjadi isterinya di luar tahu orang tuamu...?"

Siok Lan menjatuhkan diri duduk di atas lantai sambil terisak-isak, hatinya bingung dan sedih bukan main. Wi Liong juga ikut duduk bersila di atas tanah sambil memegangi tangan kiri Siok Lan dengan tangan kanannya.

"Ceritakanlah Siok Lan. Ceritakan agar aku tidak mati penasaran...."

Dengan terisak-isak Siok Lan mulai menuturkan pengalamannya, "Aku.... aku dahulu melihat kau terjerumus kedalam jurang, aku merasa berdosa dan aku... aku menyesal dan berduka-sekali...."

Kembali angin serangan datang, dan pedang Tok-sim Sian-li mencari kesempatan selagi dua orang itu mengobrol, mengirim bacokan ke arah kepala Wi Liong.

"Takkkk....!" Seperti juga tadi, tanpa melihat sedikitpun ke belakang, Wi Liong telah berhasil menangkis pedang itu dengan sulingnya membuat pedang terpental keras! Baik Wi Liong sendiri maupun Siok Lan terus bersikap tak acuh terhadap keadaan di sekelilingnya, bercakap-cakap dan tidak menghiraukan serangan-serangan yang dilakukan oleh Tok-sim Sian-li terhadap Wi Liong.

"Thian tidak menghendaki kematianku, Lan-moi. Aku selamat dan aku mencarimu, berbulan-bulan lamanya. Siapa kira akan berjumpa disini dan kau... kau tahu-tahu sedang melangsungkan... pernikahan..."

Siok Lan menarik napas panjang, dan dua titik air matanya berhenti di atas sepasang pipinya yang pucat. Ia memandang Wi Liong, pemuda itu memandangnya dan dua pasang mata bertemu, mengeluarkan sinar mesra, menumpahkan perasaan hati dalam seribu bahasa tanpa kata-kata. Hanya tangan mereka yang berpegangan itu saling menggetarkan gelora hati masing-masing melalui jari-jari tangan mereka.

"Aku menyesal sekali. Wi Liong koko, aku menyesal sekali... akan tetapi apa hendak dikata? Aku tidak sengaja... semua salah nasibku yang buruk..."

Kembali pedang Tok-sim Sian-li menyambar kali ini pedangnya menyambar dengan dahsyat dibarengi pukulan Toat-sim-ciang ke arah dada Wi Liong. Ia pikir inilah kesempatan baik sekali selagi pemuda itu seperti gila bercakap-cakap dengan Siok Lan, kalau bisa ia hendak membunuh pemuda ini yang amat berbahaya kelak, baik bagi dia maupun bagi kawan-kawannya...

Jilid selanjutnya,