Naga Merah Bangau Putih Jilid 13

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 13
Sonny Ogawa

Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 13, karya Kho Ping Hoo - Tung Hacu menggunakan siam-kiam (sepasang pedang) dan Tung Haci mengeluarkan toyanya yang berat. Siang Hwa tidak menjadi jerih. Ia menyambut dengan pedangnya yang mempunyai gerakan lihai. Akan tetapi segera gadis ini mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian kedua orang perwira Mancu ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Tan Gak Kong yang telah dirobohkan.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Gerakan kedua perwira ini aneh sekali dan asing baginya, karena mereka bersilat dengan ilmu silat Mancu. Sepasang pedang di tangan Tung Hacu bergerak-gerak dan berputaran seperti kitiran angin sedangkan toya di tangan Tung Haci menyambar-nyambar bagaikan seekor ular yang dahsyat sekali.

Akan tetapi, ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang dimainkan oleh Siang Hwa adalah semacam ilmu pedang yang tinggi tingkatnya, oleh karenanya selain memiliki daya serang yang berbahaya juga memiliki daya tahan yang kuat sekali. Dengan mainkan gerakan Ang-Liong Hoan-Sin (Naga Merah Memutar Tubuh) Siang Hwa dapat melindungi seluruh tubuhnya dengan sinar pedangnya sehingga yang nampak hanyalah bayangan merah terbungkus oleh gulungan sinar putih dari pedangnya.

Bertubi-tubi senjata di tangan kedua orang lawannya beradu dengan pedangnya, menimbulkan suara yang nyaring dan terlihatlah bunga api berpijar amat indahnya. Akan tetapi kini beberapa orang perwira maju pula mengeroyok, sehingga keadaan Siang Hwa menjadi amat berbahaya. Untuk menghadapi dua orang perwira Mancu ini saja, sudah amat sukar baginya untuk mengambil kemenangan.

Sungguhpun belum tentu ia akan dikalahkan dalam waktu lama. Apalagi sekarang ditambah dengan sembilan orang perwira lain yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, karena mereka ini rata-rata adalah perwira-perwira kelas satu dan dua dari kedudukan panglima Kerajaan.

Adapun kedua orang saudara Lee ketika mendengar laporan tentang larinya tawanan, segera memburu keluar hendak mengejar. Akan tetapi, tiba-tiba kedua saudara Lee itu menjerit ngeri dan tubuh mereka terlempar kembali ke dalam, roboh merintih-rintih tak dapat bangun pula!

Ternyata pada saat mereka hendak mengejar, Swan Hong melompat masuk dan mengirim pukulan dengan ilmu pukulan Liap-Kang Pek-Ko-Chiu yang luar biasa hebatnya ke arah Lee Kim Bee, berbareng mengirim tendangan Kim-Kong-Twi ke arah Lee Kun! Biarpun kedua orang itu berusaha untuk menangkis, namun angin pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga khikang tinggi ini masih saja mengenai tubuh mereka sehingga mereka terlempar jauh dan menderita luar biasa di dalam.

Swan Hong tidak berhenti sampai disitu saja. Ia mencabut golok mustika yang diperolehnya dari Kakek gila dulu itu, lalu menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, dimana Siang Hwa sedang sibuk sekali menghadapi hujan senjata yang ditujukan kepadanya. Sinar putih dari golok Swan Hong lebih besar daripada sinar putih dari pedang Siang Hwa, dan begitu sinar golok itu menyambar, terdengar beberapa orang perwira berteriak kesakitan dan senjata mereka terlepas dari pegangan!

Siang Hwa cepat melirik dan alangkah kagum hatinya melihat betapa seorang pemuda yang berpakaian putih dan berwajah tampan serta gagah, mainkan golok sedemikian rupa sehingga diam-diam Siang Hwa mengakui bahwa selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan permainan golok sehebat itu!

Swan Hong juga memandang sekilas kepadanya sambil tersenyum dan berkata, “Lihiap (pendekar wanita), jangan khawatir, orang tuamu telah tertolong dan bebas. Adikku mengantar mereka ketempat yang aman!”

Bukan main girangnya hati Siang Hwa mendengar keterangan ini. “Terima kasih!” jawabnya singkat dan karena kegembiraan ini, gerakannya menjadi makin bersemangat.

“Lihiap, kau serahkan dua ekor kerbau Boan (Mancu) itu kepadaku!” seru Swan Hong pula yang segera menyerbu dan menahan serangan Tung Hacu dan Tung Haci.

Pertempuran terbagi menjadi dua rombongan dan kedua anak muda yang gagah perkasa ini mengamuk bagaikan sepasang naga yang sakti. Swan Hong menghadapi dua orang perwira Mancu ditambah dengan tiga orang perwira lain sehingga ia dikeroyok lima, sedangkan Siang Hwa dikeroyok oleh enam orang perwira!

Kedua orang muda ini sesungguhnya berkepandaian tinggi dan lihai sekali. Akan tetapi kini mereka dikeroyok oleh banyak lawan yang tangguh, dan tempat pertempuran itu ternyata kurang lebar sehingga tentu saja gerakan mereka amat terbatas.

“Lihiap, mari kita layani mereka di luar!” seru Swat Hong dan Siang Hwa agaknya mengerti akan maksud pemuda ini.

“Baik, Taihiap!” jawabnya dan tubuhnya berkelebat merupakan bayangan merah melompat ke luar dari ruangan itu. Bayangan putih dari tubuh Swan Hong mengikutinya dan keduanya kini berdiri di pekarangan rumah yang luas.

“Kita pancing mereka ke lain jurusan agar jangan sampai menyusul orang tuamu!” Swan Hong cepat berkata lirih dan gadis yang cerdik itu dapat menangkap maksudnya dan mengangguk sambil tersenyum girang.

Kawanan perwira segera melompat dan mengejar. Mereka merasa marah sekali karena selain tawanan mereka terlepas juga tiga orang kawan telah dilukai. Mereka merasa terhina sekali dan dengan hati penuh amarah mereka lalu menerjang dan mengepung lagi rapat-rapat!

Ang-Liong Kiam-Sut (Ilmu Pedang Naga Merah) dan Pek-Ho To-Hwat (Ilmu Golok Bangau Putih) benar-benar merupakan sepasang ilmu silat yang luar biasa sekali. Apalagi karena kedua orang muda itu mainkan ilmu silat itu dengan senjata-senjata mustika yang ampuh dan tajam. Dan yang aneh sekali, setelah mainkan kedua ilmu silat itu, mereka mendapat kenyataan bahwa permainan mereka sesuai benar dapat saling mengisi dan saling menjaga!

Karena kenyataan ini, tanpa diperintah, mereka lalu bertempur saling mendekati dan saling membelakangi. Dengan demikian, tak ada lawan yang dapat menyerang dari belakang dan mereka dapat melakukan perlawanan lebih baik lagi. Pedang Gin-Kong-Kiam di tangan Swan Hwa amat ganasnya dan sebentar saja ia telah berhasil merobohkan seorang pengeroyok.

Swan Hong tidak mau kalah dan setelah ia mengeluarkan ilmunya, yakni menyerang dengan gerakan Burung Bangau Menyambar Ikan, ia berhasil melukai tangan kiri Tung Hacu sehingga perwira Mancu ini terpaksa hanya dapat melakukan penyerangan dengan tangan kanan. Pedangnya yang kiri telah terlempar dan tak dapat dipergunakan lagi karena tangan kirinya terluka dah menjadi lumpuh.

“Lihiap, mari kita lari...! ke Barat…!” Tiba-tiba Swang Hong berseru. Betapapun juga, keadaan para perwira itu masih kuat dan kalau dilawan terus akan amat melelahkan. Apalagi, tujuan mereka yang terpenting hanya membebaskan kedua orang tua yang tertawan tadi. Kini tujuan itu telah tercapai, maka perlu apa mengadakan perlawanan terus?

Lebih baik kini mulai memancing mereka ke barat agar jangan mengejar kedua orang tua yang dibawa oleh Giok Cui melarikan diri ke selatan itu. Kembali gadis baju merah itu yang berotak cerdik itu dapat menangkap maksud pemuda itu, maka iapun lalu mengikuti pemuda itu melompat keluar dari gelanggang pertempuran dan bersama-sama melarikan diri ke barat.

Mereka sengaja berlari tidak terlalu cepat sehingga perwira itu masih dapat mengejar dan menyusul mereka. Setelah berlari agak jauh, keduanya lalu berhenti untuk membuat perlawanan pula. Kembali mereka terkurung dan pertempuran dilakukan lagi di bawah sinar bulan yang suram. Di dalam pertempuran ini, Swan Hong dan Siang Hwa kembali merobohkan seorang perwira kemudian mereka berlari lagi.

Kejar-mengejar ini dilakukan sampai fajar dan karena jumlah pengejar makin lama makin kecil, akhirnya sisa perwira-perwira itu menjadi gentar juga dan menghentikan pengejaran mereka. Swan Hong dan Siang Hwa kini berlari cepat dan setelah para pengeroyok tidak kelihatan lagi, Swan Hong lalu mengajak gadis itu membelok ke selatan.

Mereka berlari cepat tanpa bicara sesuatu dan agaknya diantara kedua orang muda ini terdapat keinginan untuk mencoba kepandaian masing-masing. Diam-diam mereka mengerahkan tenaga dan mempergunakan ilmu berlari cepat yang paling tinggi sehingga biarpun tidak berjanji sesuatu, agaknya mereka hendak mengadakan balap lari!

Swan Hong mengerahkan ilmu larinya yang paling lihai, yakni ilmu lari Liok-Te Hui-Teng (Lari Terbang di Atas Bumi) sehingga tubuhnya melesat maju sedemikian cepatnya seakan-akan kakinya tidak menginjak tanah!

Akan tetapi Siang Hwa juga tidak mau kalah. Ia mengerahkan ilmu lari cepat yang juga paling lihai, yakni ilmu lari Teng-Peng Towu-Sui (Menginjak Rumput Menyeberangi Sungai). Tubuhnya menjadi demikian ringan seakan-akan ia dapat menginjak rumput tanpa merebahkan rumput itu dan agaknya angin yang meniup tubuhnya maju dengan kecepatan luar biasa.

Ketika tiba-tiba merasa angin tertiup dari belakang dan tubuh Siang Hwa cepat menyambar lewat, Swan Hong menjadi terkejut sekali. Ia harus mengerahkan seluruh napas dan tenaganya agar jangan sampai tertinggal. Sebaliknya, Siang Hwa juga merasa heran ketika ia menengok, ia mendapatkan betapa pemuda itu masih dapat tepat berada di belakang kakinya, tidak tertinggal sejarakpun!

Ia mengerahkan lagi tenaganya dan melompat cepat, mempergunakan ilmu lompat Ouw-Liong Coan-Tah (Naga Hitam Menembus Menara). Setelah tubuhnya melayang dan turun lagi ke atas tanah dan ia menengok, dengan kagum ia melihat betapa tubuh pemuda itupun melayang dengan ilmu lompat Liok-Te-Hui Teng-Kang-Hu (Ilmu Melompat Jauh Bagaikan Terbang) dan tahu-tahu telah turun tepat di sebelah kirinya!

Mereka saling pandang dan tersenyum, lalu berlari lagi secepatnya. Diam-diam Siang Hwa membandingkan pemuda ini dengan Sim Tiong Han, pemuda pendekar pedang Kun-Lun-Pai yang dulu pernah menarik hatinya ketika mereka bersama menghajar kedua saudara Lee di rumah Yap Ma Ek!

Semenjak berpisah dengan pemuda she Sim yang gagah perkasa dan selalu tersenyum manis itu, seringkali ia terkenang dan sesungguhnya ia ingin sekali mendapat kesempatan bertemu lagi. Dan kini ia bertemu dengan seorang pemuda yang lebih gagah lagi, maka diam-diam ia membuat perbandingan. Betapapun tampan dan gagahnya pemuda baju putih ini, satu hal ia sudah yakin, yakni bahwa senyum pemuda ini tidak semanis senyum pemuda she Sim itu!

Sesungguhnya aneh sekali, akan tetapi pada saat itupun beberapakali Swan Hong melirik ke arah gadis baju merah yang hebat ini. Ia merasa kagum sekali karena belum pernah ia bertemu dengan seorang gadis yang sehebat si baju merah ini. Dan diam-diam iapun membuat perbandingan antara gadis ini dan... Giok Cui!

Tadinya, diseluruh dunia ini baginya hanya Giok Cui seoranglah gadis yang paling cantik dan paling menarik hati. Dan kini, bertemu dengan Nona ini, ia membuat perbandingan. Harus ia akui bahwa dalam ilmu silat, sudah tentu Giok Cui kalah jauh, akan tetapi biarpun tak dapat disangkal lagi bahwa Nona baju merah ini cantik jelita dan menarik sekali, namun masih belum mengatasi kejelitaan Giok Cui adik misannya itu.

Karena merasa bahwa kini tak mungkin lagi para perwira itu dapat mengejar mereka, maka tiba-tiba Swan Hong berhenti berlari dan berkata. “Lihiap, bagaimana pendapatmu kalau kita berhenti sebentar?”

Siang Hwa menahan larinya dan menengok sambil tersenyum. “Lelahkah kau?”

“Lelah sih tidak, akan tetapi apakah tidak lebih baik kalau kita menuturkan keadaan masing-masing? Kita bertempur bersama, bahkan kini menuju ke tempat yang sama. Sudah sepantasnya kalau kita sedikitnya mengetahui nama masing-masing, bukan?”

Tak terasa lagi merah wajah Siang Hwa dan ia menunduk. “Ah, memang aku seorang yang kurang mengenal budi. Kau telah bersusah payah membantu orang tuaku, bahkan adikmu telah membebaskan dan menyelamatkan orang tuaku, dan aku... agaknya tidak memperdulikan kau, bertanya namamu pun tidak!”

“Ah, tak perlu kita bersungkan-sungkan, Nona. Ketahuilah bahwa namaku adalah Lie Swan Hong, dan aku berdua adik misanku sedang melakukan perjalanan merantau mencari seorang Kongkongku yang tak kuketahui ke mana perginya.”

Siang Hwa menghela napas. “Agaknya dalam zaman sekacau ini banyak keluarga yang cerai-berai tak tentu tempat tinggalnya! Betapapun juga kau masih beruntung, Taihiap, karena kau masih mempunyai seorang adik misan untuk menjadi kawan seperjalanan! Berbeda dengan aku yang melakukan perantauan seorang diri saja.”

Siang Hwa lalu berdiam dan Swan Hong yang semenjak tadi menanti keterangan tentang diri Nona itu, akhirnya bertanya. “Kau agaknya lupa untuk memperkenalkan dirimu, Nona, dan mengapa pula orang tuamu sampai tertawan oleh rombongan perwira jahat itu?”

Kembali wajah Siang Hwa memerah. “Ah, aku telah lupa akan hal itu. Memang nama dan keluargaku tidak ada harganya untuk dituturkan kepada lain orang. Aku bernama Liok Siang hwa dan aku adalah murid tunggal dari Sam-Lian Sianli. Adapun tentang orang tuaku, mereka ditangkap karena dua sebab. Pertama, karena sepasang anjing rendah she Lee itu telah menaruh hati dendam kepadaku, yakni ketika mereka terjatuh dalam tanganku di rumah seorang pendekar tua she Yap.

"Dan kedua, Ayah-Bundaku ditangkap oleh karena Ayahku adalah putera seorang Pangeran Kerajaan Beng-Tiauw dan karenanya dianggap musuh oleh Kerajaan sekarang, sedangkan Ibuku adalah puteri seorang panglima yang ikut berjuang melawan pemerintah baru sehingga gugur, maka tentu saja dianggap pemberontak.”

Swan Hong merasa amat kagum mendengar keterangan ini. “Ah, tidak tahunya kau yang gagah berani dan lihai ini adalah keturunan bangsawan-bangsawan tinggi! Maaf, aku telah berlaku kurang hormat, Siocia.”

Gadis itu memandang tajam dan keningnya berkerut. “Lie Taihiap, apakah bersungguh-sungguh atau hanya berkelakar? Ketahuilah bahwa bagiku tiada perbedaan antara bangsawan dan orang biasa! Bagiku, orang yang budiman dan mulia, dialah bangsawan dan orang besar yang setinggi-tingginya dan patut dihormati biarpun ia terlahir dari petani miskin. Sebaliknya, orang yang rendah budi dan jahat, dialah orang serendah-rendahnya, biar andaikata ia putera Kaisar sekalipun!”

Swan Hong makin merasa kagum dan kekaguman ini memancar dari sepasang matanya yang menatap wajah yang cantik dan gagah itu. “Ah, ucapan ini saja sudah membuat aku merasa bahagia dapat bertemu dan berkenalan dengan kau, Liok-lihiap!”

“Ah, kembali kau memuji-muji, saudara Lie! Apakah sudah menjadi adat setiap orang laki-laki yang selalu memuji-muji seorang wanita?” tanya Swan Hwa sambil mengerling tajam.

Swan Hong tersenyum. “Kalau memang wanita itu patut dipuji, mengapa aku tidak memujinya? Kau memang pantas dipuji, Nona Liok, karena selain kau gagah perkasa dan cerdik-pandai, juga kau keturunan orang-orang gagah, patriot-patriot sejati pembela nusa dan bangsa. Ketahuilah bahwa aku memandang tinggi para patriot yang sudah berusaha dan berjuang menghalau penjajah, sungguhpun usaha mereka itu gagal. Sayang pada waktu itu, aku masih kecil sehingga tak dapat ikut berjuang. Akan tetapi, Kongkongku yang sedang kucari ini, adalah seorang pejuang juga, oleh karena itu, aku selalu memandang tinggi para pejuang yang gagah berani.”

Siang Hwa tersenyum. “Kalau begitu pendapat kita tidak berbeda. Belum lama ini aku telah bertemu dengan banyak bekas pejuang, pendekar-pendekar tua yang gagah perkasa, yakni di rumah Yap Ma Ek Lo-Enghiong itu, dan di sana pulalah maka aku dapat bermusuhan dengan kedua orang anjing penjilat penjajah she Lee itu. Ah, banyak pendekar tua yang benar-benar mendatangkan rasa kagum dalam hatiku, terutama sekali seorang pendekar tua yang shenya sama dengan shemu, seorang gagah yang terkenal di kalangan kang-ouw, yakni yang bernama Thiat-Thouw-Gu Lie Kai.”

Mereka bercakap-cakap sambil duduk di atas akar pohon, akan tetapi ketika mendengar nama ini disebut, tiba-tiba Swan Hong melompat bangun seakan-akan diserang oleh seekor ular dari bawah rumput. “Apa...?? Kau telah bertemu dengan dia?? Liok-Siocia, dia itulah Kongkongku yang kucari-cari selama ini!”

Kini tiba giliran Siang Hwa yang melompat ke atas seakan-akan diserang ujung pedang yang runcing dari bawah tanah! “Betulkah...? Alangkah kebetulan sekali! Seakan-akan ada tangan gaib yang membimbing kita untuk saling bertemu! Ketahuilah, Lie-Taihiap, Kongkongku itu ketika berjuang selalu bahu-membahu dengan Kongkongmu, bahkan ketika Kongkongku terluka, ia tewas di dalam pangkuan Kongkongmu! Bukankah ini aneh dan kebetulan sekali?”

Swan Hong juga menjadi terheran-heran, gembira dan terharu. “Liok-Siocia, ceritakanlah... ceritakanlah pertemuanmu dengan Kongkongku... Bagaimana rupanya sekarang? Ah, ketahuilah semenjak aku ditinggalkannya dalam usia tiga tahun, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan dia...”

Saking terharu dan tertariknya, sambi berkata demikian tanpa disengaja Swan Hong memegang lengan gadis itu erat-erat. Siang Hwa juga menjadi terharu, dan tidak menarik lengannya yang terpegang sampai pemuda itu sadar kembali dan melepaskan pegangannya dengan muka merah.

Pemuda ini lalu duduk pula, diikuti oleh Siang Hwa yang segera menuturkan pengalamannya semenjak ia merantau untuk mencari Kongkongnya seperti halnya Swan Hong sekarang ini. kemudia betapa ia bertemu dengan Lie Kai di rumah Yap Ma Ek dan bersama para pejuang dan pendekar tua itu melawan rombongan perwira yang dipimpin oleh Sin-Kiam Siang-Hiap, kedua saudara Lee itu.

“Karena ketika dikejar rombongan kami terpecah dua, maka Kongkongmu ikut rombongan lain sehingga terpisah pula daripadaku. Aku tidak tahu kemana dia pergi, dan semenjak itu kami belum pernah saling bertemu lagi.” Kata Siang Hwa sebagai penutup penuturannya sambil tak terasa pula ia terkenang kepada Sim Tiong Han pemuda pendekar yang gagah itu.

“Benar-benar aneh...” kata Swan Hong setelah Nona itu selesai menuturkan pengalamannya.

“Apa yang aneh, Lie-Taihiap?”

“Sungguh aneh, seperti yang kau katakan tadi. Kakek kita saling bersahabat, bahkan berjuang bersama lebih-lebih lagi Kakekmu menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Kakekku. Kau pergi merantau mencari-cari Kongkongmu, demikianpun aku. Kita sama-sama tak dapat bertemu dengan orang yang kita cari, dan sekarang... kita bertemu dalam keadaan yang amat kebetulan sekali. Bukankah ini namanya... aneh?” Hampir saja tanpa disadarinya ia menyebut “jodoh”!

Siang Hwa tersenyum manis. “Memang dunia ini, tidak berapa lebar!” hanya demikian komentarnya.

“Mari kita menyusul orang tuamu di kota Icang, setelah bertemu, aku berserta adik misanku hendak mencari Kongkong, tentu ia takkan jauh dari sini. Apalagi karena disini banyak orang mengenal namanya, kurasa takkan sukar mencari dia!”

Demikianlah, kedua orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan, sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah diancam dan diikuti oleh bencana yang datang seakan-akan awan gelap di atas kepala mereka. Mereka tidak tahu bahwa setelah mereka berhasil melarikan diri daripada kepungan para perwira, datanglah seorang Tosu dan Tokouw (Pendeta To laki-laki dan wanita) di tempat itu.

Ketika mereka berdua melihat keadaan Lee Kim Bwe dan Lee Kun yang menderita luka dalam akibat pukulan dan tendangan Swan Hong, kedua orang Pendeta ini lalu maju dan setelah menotok pundak mereka dan memberi sebutir pil merah untuk ditelan kedua orang she Lee itu lalu sembuh dan segera menjatuhkan diri berlutut.

Tosu itu adalah Guru dari kedua orang she Lee ini dan bernama Bo Heng Sianjin. Ia adalah seorang Pendeta dan Pertapa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sesungguhnya dahulu pernah menjadi seorang diantara tokoh-tokoh Go-Bi-Pai. Akan tetapi karena batinnya kurang bersih.

Maka ia diasingkan oleh tokoh-tokoh lain, turun gunung dan akhirnya silau oleh bujukan-bujukan pemerintah Boancu, bahkan lalu diangkat menjadi Koksu atau Guru negara yang tidak saja bertugas melatih para panglima, akan tetapi juga memberi nasihat kepada Kaisar tentang keamanan.

Tokouw yang datang bersamanya adalah seorang sahabat baiknya yang bernama Bi Li Suthai, juga seorang Pertapa wanita yang terkenal sebagai seorang wanita cabul dan memiliki ilmu kepandaian tinggi pula. Disamping ilmu silatnya yang tinggi, Bi Li Suthai juga terkenal sebagai ahli dalam penggunaan bermacam-macam bisa binatang seperti ular dan lain-lain, maka ia mendapat julukan atau nama poyokan Ngo-Tok Kui-Bo (Biang Hantu Lima Racun).

Melihat kedatangan kedua orang Pertapa lihai ini, Lee Kim Bwe dan Lee Kun menjadi girang sekali. Kim Bwe sambil menangis lalu menuturkan penghinaan-penghinaan yang ia alami dari Lie Swan Hong dan Liok Siang Hwa. Mendengar penuturan ini, marahlah Bo Heng Sianjin, maka ia lalu mengajak Bi Li Suthai untuk melakukan pengejaran.

“Akan kutangkap hidup-hidup kedua anjing kecil itu dan menyeretnya kepadamu!” kata Bo Heng Sianjin kepada kedua muridnya. Kedua orang Pertapa ini memang memiliki ilmu lari cepat yang tinggi.

Akan tetapi, oleh karena Swan Hong dan Siang hwa ketika melarikan diri mengerahkan kepandaiannya dan seakan-akan main balap, sampai lama barulah kedua orang Pertapa ini dapat menyusul mereka. Melihat ilmu lari cepat yang hebat dari kedua orang muda itu, Bo Heng Sianjin menjadi terkejut dan kagum.

“Hm, agaknya takkan mudah merobohkan mereka. Hanya murid-murid orang pandai saja yang dapat mempergunakan ilmu lari cepat dan ginkang yang demikian tingginya.”

“Mengapa susah-susah?” kata Bi Li Suthai genit, lupa bahwa ketika tertawa, kedua pipinya tidak mendatangkan lekuk manis seperti dulu lagi, melainkan menimbulkan keriput. “Tunggu saja sampai ada saat yang baik, baru kita menangkap mereka. Dengan sedikit Ang-San (bubuk merah, yang dimaksudkan bubuk racun yang memabokkan orang) dengan mudah kita akan dapat menangkap mereka.”

Mendengar ucapan Bi Li Suthai ini, Bo Heng Sianjin lalu berkata, “Pinto (aku) hanya mengandalkan kepandaianmu, karena untuk bertempur menghadapi orang-orang muda, sebenarnya aku merasa enggan. Kalau menang tidak membanggakan, kalau kalah sungguh memalukan sekali.”

Swan Hong dan Siang Hwa sama sekali tidak tahu bahwa perjalanan mereka diikuti oleh dua orang Pendeta yang lihai dan yang selalu mencari kesempatan untuk mencelakan dan menangkap mereka. Dengan hati tenteram dan gembira, kedua orang muda itu masuk ke dalam sebuah dusun dan karena mereka merasa lapar, mereka lalu berhenti dan masuk ke dalam sebuah restoran kecil yang berada di tengah dusun.

Baru saja mereka duduk menghadapi meja dan memesan makanan kepada seorang pelayan yang bermuka bodoh, mereka melihat seorang Tokouw dan seorang Tosu masuk pula di restoran itu dan mengambil tempat duduk di meja yang tak berapa jauh letakknya dari meja mereka. Swan Hong dan Siang Hwa tidak terlalu memperhatikan mereka, karena mereka tidak mengenal dua orang tua ini, sedangkan kedua orang itupun tidak memandang ke arah mereka.

Ketika seorang pelayan lain menghampiri dua orang Pendeta ini untuk menerima pesanan, Bo Heng Siangjin hanya memesan air teh dan nasi putih saja. Kemudian mereka duduk diam tak berkata-kata, menanti kesempatan baik untuk turun tangan terhadap sepasang orang muda yang bercakap-cakap gembira itu.

Pada saat pelayan muka bodoh yang melayani Siang Hwa dan Swan Hong datang dari belakang membawa dua mangkok makanan di atas baki, tiba-tiba Bo Heng Tosu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri meja Swan Hong dan Siang Hwa. Ia menjura dengan hormat kepada dua orang muda itu. Tentu saja Swan Hong dan Siang Hwa menjadi heran dan cepat bangun untuk membalas penghormatan Pendeta ini.

“Maaf, jiwi, kalau Pinto mengganggu. Pinto mohon bertanya, kemanakah jalan yang menuju ke Kotaraja?”

Biarpun merasa heran, Swan Hong menjawab juga. “Totiang, kalau Totiang hendak menuju ke Kotaraja, Totiang dapat mengambil jalan yang ke timur, kemudian membelok ke utara, karena dari sini, Kotaraja terletak di timur laut.”

Kembali Tosu itu menjura dan menyatakan terima kasihnya. “Terima kasih dan sekali lagi maaf kalau Pinto mengganggu. Pinto melihat jiwi membawa senjata pedang, maka tentulah jiwi suka merantau dan tahu akan keadaan jalan, maka kepada jiwi Pinto mencari keterangan. Terima kasih!”

Setelah Tosu itu mengundurkan diri, Swan Hong dan Siang Hwa saling pandang dan tersenyum, sedikitpun tidak menaruh curiga dan tidak melihat ketika bahwa Tosu tadi sedang bercakap-cakap dengan mereka, Tokouw yang tadinya duduk bersama Tosu itu cepat bangun berdiri dan berjalan di dekat pelayan muka bodoh yang sedang datang membawa masakan untuk kedua orang muda itu.

Dengan gerakan yang amat cepat dan sama sekali tidak terlihat oleh si pelayan, apalagi oleh tamu-tamu lain, Bi Li Suthai menyebarkan sedikit bubuk merah ke dalam dua mangkok masakan itu! Kemudian, Tokouw ini lalu berpura-pura menghampiri meja tempat duduk pengurus untuk memesan masakan yang tak berdaging.

Tanpa menaruh hati curiga sedikitpun juga Swan Hong dan Siang Hwa lalu makan masakan itu. Mereka mencium bau harum yang keluar dari masakan itu dan bahkan memuji bahwa masakan itu memang lezat! Siapa yang akan menyangka buruk untuk makan masakan dalam sebuah rumah makan dusun yang dikunjungi begitu banyak tamu?

Untung baginya bahwa Bi Li Suthai tidak menaruh racun yang jahat, karena Ang-San atau bubuk merah itu sesungguhnya adalah semacam obat yang bekerja halus dan akibatnya akan memabokkan orang dengan cara amat lambat. Setelah selesai makan, Swan Hong dan Siang Hwa membayar harga masakan, kemudian meninggalkan restoran itu.

ketika berjalan keluar dan lewat di dekat meja Tosu yang tadi bertanya kepada mereka, Swan Hong dan Siang Hwa memberi hormat yang dibalas dengan senyum ramah oleh Bo Heng Sianjin sambil berkata, “Sekali lagi terima kasih, dan bolehkah kiranya Pinto mendapat tahu kemanakah sebetulnya jiwi hendak melanjutkan perjalanan?”

Swan Hong adalah seorang pemuda jujur dan terhadap seorang Pendeta tua tentu saja ia berlaku hormat dan tidak menaruh curiga. “Siauwte hendak pergi ke selatan,” jawabnya dan ia lalu melanjutkan perjalanannya bersama Siang Hwa.

Setelah tiba di luar restoran, Siang Hwa berkata perlahan. “Saudara Lie, mengapa kau mengatakan kepadanya bahwa kita hendak pergi ke selatan? Lebih baik tidak membuka rahasia terhadap orang lain. Siapa tahu kalau-kalau mereka itu bukan orang baik-baik.”

Swan Hong tersenyum. “Ah, Nona, kau terlalu banyak curiga. Tak mungkin Pendeta-Pendeta lemah seperti mereka itu orang-orang jahat.”

“Siapa tahu?” kata gadis yang cerdik itu. “Cara mereka duduk di atas bangku mereka, tidaklah sewajarnya. Aku mendapat kesan seolah-olah mereka itu sengaja memberatkan agar tidak tampak bahwa mereka sesungguhnya orang-orang yang memiliki ginkang yang tinggi.”

“Kau terlalu memperhatikan, Nona!” kata Swan Hong sambil memandang kagum akan tetapi mulutnya tersenyum. “Betapapun juga, mereka dapat berbuat apa terhadap kita?” Siang Hwa tersenyum juga. “Dalam jaman seperti ini siapa yang tidak berlaku hati-hati? Akan tetapi, betul juga kata-katamu, mereka takkan dapat berbuat sesuatu terhadap kita. Mudah-mudahan saja dugaanku keliru.”

Akan tetapi, ketika mereka tiba di luar sebuah hutan dan keadaan sudah mulai gelap karena datangnya senja, mereka merasakan sesuatu yang aneh.

“Saudara Lie, marilah kita mengaso dulu. Aku merasa penat dan mengantuk sekali.”

Swan Hong memandang gadis itu dengan muka tiba-tiba pucat. “Penat...? Mengantuk...? Aneh! Akupun merasa demikian Nona!”

Terkejutlah Siang Hwa mendengar hal ini dan sepasang matanya yang lebar dan tajam sinarnya itu terbelalak, alisnya yang berbentuk pedang dikerutkan. “Apakah yang kita makan tadi?” tanyanya penuh kecurigaan. Tiba-tiba mereka melihat dua bayangan yang datang dengan cepat sekali dari belakang.

Ketika dua bayangan orang itu sudah dekat, Siang hwa menjadi pucat dan berbisik. “Celaka...! Mereka adalah Tosu dan Tokouw tadi! Lihat, betapa cepatnya mereka berlari! Jangan-jangan mereka yang membuat kita mendapat perasaan aneh ini. Sebelum Swan Hong sempat menjawab, kedua orang Pendeta itu telah berada dihadapan mereka sambil tersenyum-senyum.

“Jiwi, maafkan kami kalau kami sengaja mengejarmu,” kata Tosu itu sambil mainkan matanya ke arah Siang Hwa. “Kami hendak menuju ke Kotaraja dan karena tidak mengenal jalan, kami harap jiwi suka mengawani kami sampai ke Kotaraja.”

Berdebarlah dada Swan Hong mendengar ucapan ini, sudah terang bahwa Tosu ini mencari gara-gara. “Totiang, hal ini tidak mungkin. Selain kami tidak mempunyai keperluan di Kotaraja, juga kami mempunyai urusan yang penting sekali di selatan. Kalau hanya ke Kotaraja saja mengapa harus dengan kami? Di dalam perjalanan, mudah saja Totiang mencari keterangan tentang jalan ke Kotaraja kepada orang lain.”

Tiba-tiba Tokouw yang ikut bersama Tosu itu tertawa genit. “Tidak bisa, tidak bisa! Mau atau tidak, kalian harus ikut dengan kami, biarpun untuk itu kami harus menggendongmu!”

Siang Hwa tak dapat menahan sabar lagi. Ia melangkah maju dan dengan mata berapi ia membentak. “Tosu dan Tokouw yang sesat! Sesungguhnya apakah yang tersembunyi di balik ini semua! Tak perlu kiranya banyak alasan, kalau ada urusan keluarkanlah, kami bukan orang-orang penakut!”

Bo Beng Sianjin tertawa. “Ha, ha, galak dan manis anak ini! Tak perlu kami memberi penjelasan, cukup kalian ketahui bahwa aku adalah Bo Heng Sianjin dan Siankouw ini adalah Bi Li Suthai. Dan lebih jelas lagi, Pinto adalah Guru dari Sin-Kiam Siang-Hiap!”

“Bagus!” teriak Swan Hong dan Siang Hwa hampir berbareng dan dengan cepat mereka mencabut keluar senjata mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba setelah melakukan gerakan ini, kepeningan kepala mereka makin menghebat, dan seluruh tubuh terasa penat-penat. Rasa mengantuk yang tak dapat ditahan lagi membuat kepala mereka pening karena menahan-nahannya. Mereka hendak menyerang, akan tetapi tubuh mereka menjadi limbung dan terhuyung-huyung!

“Ha, ha, ha! Robohlah... Robohlah...!” Bi Li Suthai berseru girang. Memang ia telah memperhitungkan dengan tepat sekali. Sebelum obat Ang-San itu bekerja, ia dan Bo Heng Sianjin hanya mengikuti dari belakang saja, akan tetapi setelah ia perhitungkan bahwa waktu bekerjanya obat itu tiba, mereka lalu menyusul kedua orang muda yang menjadi korban itu!

Swan Hong dan Siang Hwa mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh aneh yang menyerang diri mereka, akan tetapi ketika mereka menyerang maju, mata mereka mengantuk dan kepala mereka yang berputaran rasanya membuat mereka mudah sekali tertotok roboh oleh kedua orang Pertapa itu.

Begitu tubuh mereka terhuyung roboh karena totokan lawan, obat itupun bekerja dengan hebat membuat mereka tak sadarkan diri dan pingsan bagaikan orang tidur saja. Kedua orang Pendeta itu saling pandang sambil tersenyum-senyum dan Bi Li Suthai lalu berkata dengan lirikan mata genit.

“Toyu, kau gendonglah gadis manis itu, biar aku yang menggendong pemuda tampan ini!”

Bo Beng Sianjin memandang kepada kawannya dan melihat betapa wajah Tokouw tua itu menjadi kemerah-merahan, ia tertawa bergelak. “Kau benar sekali! Kita sudah capek-capek harus mendapat hadiah hiburan, ha, ha, ha!”

Demikianlah, setelah mengambil pedang dan golok mustika yang terlepas dari pegangan kedua orang muda itu, Bo Heng Tosu lalu memondong tubuh Siang Hwa, adapun Bi Li Suthai lalu menggendong tubuh Swan Hong. Keduanya lalu berlari kembali ke jalan tadi. Sementara itu malam telah tiba dan mereka masuk ke dalam sebuah hutan.

Jilid selanjutnya,