Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 12, karya Kho Ping Hoo - Para gadis itu tidak hanya menyerang Giok Cui, karena melihat Swan Hong berdiri disitu, sebagian dari mereka lalu berlari dengan golok terangkat menghampiri pemuda ini dan langsung menyerangnya tanpa banyak cakap lagi!

Swan Hong cepat bergerak dan begitu ia menggerakkan kedua tangannya, golok-golok itu dengan mudah terampas olehnya. Juga Giok Cui ternyata mendapat lawan-lawan yang amat empuk. Ilmu silat yang mereka mainkan dengan golok itu cukup hebat, akan tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai “isi” dan hanya menggerakkan golok menyerang bagaikan orang menari saja!
Agaknya kalau golok mereka itu mengenai tubuhnya, paling hebat hanya akan mendatangkan luka goresan belaka. Gadis-gadis itu ternyata tidak memiliki tenaga seorang ahli silat dan sama sekali tidak terlatih, bagaikan penari-penari yang mempelajari gerakan alat hanya khusus untuk mengambil keindahannya belaka.
Beberapa kali Giok Cui menggerakkan pedang mustikanya dan “Trang... trak...!” Golok-golok di tangan para lawannya itu terbang di udara, ada yang patah ada pula yang terlempar setelah kena senggol sedikit saja. Pada saat itu, dari dalam Kuil terdengar suara yang keras.
“Kurang ajar! Siapa berani mengganggu anak-anakku?”
Berbareng dengan habisnya ucapan ini, dari pintu besar muncullah seorang Kakek yang menyeramkan. Mukanya penuh cambang bauk, sepasang matanya besar dan berputar-putar mengerikan, bukan seperti mata manusia lagi. Rambut kepalanya awut-awutan tidak teratur sama sekali sedangkan pakaiannya biarpun terbuat daripada kain yang bersih dan baru, akan tetapi bertambal-tambal tidak karuan.
Kedua kakinyapun mengenakan sepasang yang berlainan warna dan bentuknya. Yang kiri berwarna merah dan yang kanan berwarna hitam. Giok Cui dan Swan Hong sudah merasa aneh sekali, akan tetapi mereka makin heran ketika melihat betapa tujuh belas orang gadis itu lalu berlari menghampiri si Kakek sambil berseru,
“Ayah...! Aah, mereka itu telah menghina kami!”
Kakek ini nampak marah sekali dan dengan penuh kasih sayang ia mengelus elus rambut “anak-anaknya” yang terdekat. Kemudia ia lalu melompat cepat dengan gerakan liar dan tahu-tahu ia telah berhadapan dengan Swan Hong dan Giok Cui.
“Kurang ajar!” teriaknya lagi sambil memandang kepada Swan Hong dengan mata melotot. “Kau pemuda tidak tahu kesopanan! Sudah mempunyai seorang isteri atau tunangan, kenapa masih mau mengganggu anak-anakku? Siapa yang sudi mempunyai seorang mantu seperti kau?”
Tentu saja Swan Hong dan Giok Cui menjadi melongo mendengar ucapan ini. “Hm, tidak tahunya yang disangka siluman hanyalah seorang yang miring otaknya!” pikir Swan Hong, kemudian dengan suara keras ia berkata,
“Orang tua, kulihat kau ini seorang manusia biasa, mengapa kau pura-pura menjadi siluman dan mengacau kota Han-Kiok-Bun? Mengapa kau menculik gadis-gadis itu dan mencuri barang-barang bahkan membunuh orang? Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk melampiaskan nafsu-nafsu jahatmu!”
“Bangsat muda yang lancang mulut!” Kakek itu membentak marah lalu mencabut goloknya. Kagetlah Swan Hong ketika melihat golok yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata itu.
“Jangan sembarangan menuduh! Aku mengajak anak-anakku hidup bahagia di tempat ini, mengambil barang-barang yang disukai mereka, mengapa orang-orang itu menyerangku? Yang terluka dan mati adalah akibat dari kelancangan mereka sendiri, seperti juga kau yang lancang ini tentu akan mampus pula di tanganku!”
“Manusia siluman, memang kedatanganku ini hendak menamatkan riwayatmu yang buruk dan jahat!” seru Swan Hong sambil mencabut goloknya pula dan siap siaga menghadapi lawan yang aneh ini.
Sambil mengeluarkan teriakan buas, Kakek itu lalu maju menyerang. Gerakan ilmu goloknya cepat dan ganas sekali, bahkan setengah mengawur membabi buta, hanya mengandalkan kecepatan gerakannya saja. Swan Hong terkejut juga karena maklum bahwa tenaga lweekang dan ginkang dari si Kakek gila ini sesungguhnya amat mengagumkan.
Akan tetapi ilmu goloknya yang sesungguhnya memiliki dasar yang amat sempurna, akan tetapi ternyata dimainkan dengan ngawur dan tidak teratur, seakan-akan permainan seorang ahli silat yang sudah hampir lupa akan gerakan-gerakan ilmu silatnya. Akan tetapi, baru saja sepuluh jurus mereka bertempur, ketika golok di tangan Swan Hong sedikit saja beradu dengan golok di tangan Kakek itu, bagaikan sebatang rumpun melawan pisau tajam, golok pemuda itu telah terbabat putus menjadi dua!
Kakek itu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang amat mengerikan, sedangkan Swan Hong merasa kaget setengah mati. Biarpun ia telah menduga bahwa golok itu tentu sebuah senjata mustika yang amat tajam dan ampuh, akan tetapi tak pernah ia mengira akan setajam itu! Kakek itu lalu tertawa lagi dan tiba-tiba ia menubruk maju dengan serangan berbahaya. Akan tetapi biarpun telah bertangan kosong, Swan Hong tidak menjadi gugup dan ia dapat mengelak dengan mudah.
Pada saat itu, Giok Cui tak dapat tinggal diam saja. Melihat betapa golok di tangan Swan Hong telah putus dan tak dapat dipergunakan lagi, ia lalu berseru keras dan melompat dengan pedang di tangan, menusuk dada Kakek yang aneh itu. Kakek itu lalu menggerakkan goloknya menangkis serangan ini.
“Trang...!” Bunga api berpijar ketika sepasang senjata ini beradu, dan pedang Giok Cui terlempar di udara, karena ketika kedua senjata tadi bertemu, tenaga yang amat besar membuat tangan gadis itu tergetar dan tidak kuat menahan pedangnya yang terpental ke atas!Melihat hal ini, Swan Hong cepat mengenjot tubuhnya keatas dan sebelum pedang itu meluncur ke bawah, ia telah berhasil menyautnya, lalu ia melompat ke depan Giok Cui untuk melindungi gadis itu sambil berkata, “Moi-moi, jangan kau maju. Biar aku pinjam pedangmu ini, dan kau perhatikan saja kalau-kalau para gadis itu maju membantu Kakek gila ini!”
Akan tetapi ternyata bawah gadis-gadis yang berjumlah tujuh belas orang itu tidak bergerak dari tempatnya, berdiri berkelompok-kelompok sambil menonton pertempuran itu tanpa bergerak, bagaikan patung.
Kakek itu ketika melihat bahwa lawannya telah memegang pedang yang ternyata tidak menjadi putus ketika beradu dengan goloknya, lalu berseru keras dan menyerang lagi. Swan Hong menangkis dengan pedang mestika itu dan kembali api memancar ke atas ketika dua senjata yang ampuh itu bertemu.
Dengan hati puas Swan Hong melihat bahwa pedang itu tidak menjadi patah, maka ia lalu mengeluarkan kepandaiannya dan mainkan ilmu goloknya Pek-Ho To-Hwat! Senjata pedang masih terhitung “keluarga” dengan senjata golok, sungguhpun gerakan golok lebih banyak membacok dan pedang lebih sering menusuk, akan tetapi cara memegangnya sama.
Oleh karena itu biarpun di tangannya ia memegang pedang, Swan Hong dapat mainkan pedang itu dengan ilmu goloknya, karena ia maklum bahwa kalau ia tidak menghadapi Kakek ini dengan ilmu goloknya, akan sukar baginya mengalahkan Kakek gila ini. Ilmu golok Pek-Ho To-Hwat memang lihai sekali, dan benar saja, kini Kakek itu terdesak hebat.
Sebetulnya, Swan Hong tidak berniat menewaskan Kakek itu, akan tetapi oleh karena Kakek itu ternyata buas sekali dan tidak mengenal bahaya serta semua serangannya dilakukan secara nekad, terpaksa Swan Hong lalu mengirim serangan-serangan maut yang berbahaya. Hal ini memang perlu sekali, karena kalau ia mengalah, banyak bahayanya. Ia sendiri yang akan menjadi korban golok yang tajam itu.
Setelah pertempuran berjalan tiga puluh jurus lebih, pada suatu saat, Kakek itu menyerang Swan Hong dengan gerakan mirip dengan gerak tipu Hwai-Tiong Po-Gwat (Peluk Bulan di Depan Dada). Golok Kakek itu menyambar ke arah leher Swan Hong sedangkan tangan kiri Kakek itu tersembunyi di depan dadanya.
Sebetulnya, kalau benar gerakan itu adalah gerak tipu Hwai-Tiong Po-Gwat maka tangan kiri itu seharusnya lalu tiba-tiba menyusul gerakan golok dan mengirim pukulan ke arah lambun lawan, akan tetapi Kakek ini tidak menggerakkan tangan kirinya!
Melihat hal ini, Swan Hong menjadi girang sekali karena ia mendapat kesempatan merobohkan Kakek itu tanpa melukainya dengan pedang. Cepat sekali ia menundukkan kepalanya sehingga golok itu menyambar lewat di atas kepala, lalu dengan gerakan yang cepat ia mengulur tangan kiri memukul dada lawan!
Tidak tahunya, tangan kiri Kakek itu tidak digerakkan bukan karena salah gerakan, akan tetapi karena memang disengaja. Pada saat tak terduga itu, tangan kiri itu meluncur keluar dan dengan ilmu mencengkeram Houw-Jiauw-Kang (Cengkeraman Kuku Harimau), jari-jari tangan kiri itu dengan cepat sekali telah berhasil mencengkeram dan menangkap pergelangan tangan Swan Hong yang memukul tadi!
Swan Hong mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangannya, akan tetapi ternyata bahwa tenaga lweekang dari Kakek itu masih lebih kuat daripada tenaganya, sehingga tangan itu sama sekali tak dapat terlepas! Pada saat yang berbahaya itu, sambil tertawa menyeramkan, Kakek itu menggerakkan goloknya membacok kepala Swan Hong!
Akan tetapi, dengan ketenangannya yang luar biasa, Swan Hong dapat menangkis golok itu dengan pedangnya, lalu dari tangkisan ini, ia meminjam tenaga lawan dan pedangnya terpental ke depan, langsung menusuk dada lawannya. Terdengar jerit mengerikan dan Kakek itu roboh mandi darah dengan golok masih terpegang erat-erat.
“Ayah...!” terdengar pekik para gadis itu dan mereka lalu berlari-lari menghampiri Kakek itu dan menubruknya sambil menangis sedih!
Kembali Swan Hong dan Giok Cui saling pandang penuh keheranan dan hanya berdiri bagaikan patung. Hampir saja mereka tidak percaya kepada mata sendiri. Bagaimana mungkin gadis-gadis yang diculik oleh “siluman” itu demikian menyinta Kakek ini dan menyebutnya “Ayah”.
Kakek itu bergerak perlahan dan wajahnya yang tadinya menyeramkan itu kini berobah lunak ketika ia memandang kepada tujuh belas orang gadis yang berlutut mengelilinginya sambil menangis.
“Pemuda itu gagah sekali... ilmu goloknya hebat... coba panggil dia kesini...”
Mendengar ini, tanpa dipanggil Swan Hong lalu mendekati tubuh Kakek itu dan berlutut. “He, anak muda, bukankah ilmu golok yang kau mainkan tadi adalah Pek-Ho To-Hwat? Apakah kau murid dari Lam Hwat Hwesio?”
Swan Hong tertegun. “Benar, Lo-Enghiong, aku adalah Lie Swan Hong murid dari Lam Hwat Hwesio. Ilmu golok itu sesungguhnya adalah Pek-Ho To-Hwat.”
“Ha, ha, bagus, bagus... tidak kalah oleh Gurunya, sekarang kalah oleh muridnya…! Sama saja, aku sudah merasakan kelihaian Pek-Ho To-Hwat dan aku puas…! Anak muda golokku ini tak boleh jatuh ke dalam tangan orang yang tidak berharga, hanya orang-orang yang memiliki ilmu golok seperti aku dan kau saja yang patut memakainya. Nah... terimalah, kau... kau berhak memiliki golok ini...”
Luar biasa sekali kekuatan tubuh Kakek itu. biarpun dadanya telah tertembus pedang, namun ia masih mampu berkata-kata selama itu. Akan tetapi kini ia telah lemah, terlalu banyak darah mengalir keluar, ia terengah-engah dan meramkan matanya, ditangisi oleh gadis-gadis itu.
“Anak muda... Awas, jangan ada yang mengganggu anak-anakku ini! Kalau mereka ini diganggu, biarpun sudah mati, aku akan keluar dari kuburan... terimalah golok ini...” Ia mengerahkan tenaga terakhir untuk mengulur tangan memberikan golok mustika itu kepada Swan Hong yang menerimanya dengan terharu. Maka matilah Kakek itu, diantar oleh suara tangisan tujuh belas orang gadis-gadis cantik yang mengaku sebagai anak-anaknya!
Dengan penuh keheranan, setelah tubuh yang sudah menjadi mayat itu diangkat ke dalam Kuil, Giok Cui dan Swan Hong melihat betapa keadaan di dalam Kuil itu lebih mewah lagi. Kemudian mereka bertanya kepada para gadis itu yang segera memberikan keterangan sejelasnya.
Ternyata bahwa Kakek itu adalah seorang kang-ouw yang menjadi gila karena tiga orang anak gadisnya semua meninggal dunia terserang penyakit yang menjalar dikampungnya. Ia menjadi gila setelah tiga orang anak dari seorang isterinya meninggalkan dia sebatangkara, lalu ia merantau sampai jauh sambil menangis-nangis dan memanggil nama anak isterinya.
Makin lama, makin hebatlah penyakit gilanya ini sehingga ketika ia tiba di tempat itu, ia menculik gadis-gadis yang diaku sebagai anaknya! Ia memperlakukan gadis-gadis itu dengan baik sekali, melebihi seorang Ayah sejati terhadap anak-anaknya.
“Aku akan membikin kalian hidup mewah seperti puteri Kaisar!” Demikian katanya sambil tertawa-tawa. “Aku adalah Ayahmu dan aku akan mendidik ilmu silat kepada kalian, memberi pakaian yang paling baik, makanan yang paling lezat, rumah yang paling mewah dan indah! Kemudian, hanya pendekar-pendekar gagah perkasa dan bangsawan-bangsawan muda yang berkedudukan tinggi saja yang dapat menjadi mantu-mantuku! Ha, ha, ha, tidak... tidak...! Hanya Pangeran saja yang pantas menjadi mantu-mantuku!”
Mula-mula para gadis itu takut sekali terhadap Kakek ini, akan tetapi ketika melihat bahwa “Ayah” ini memang baik sekali terhadap mereka, merekapun hidup senang. Lebih-lebih karena Kakek ini memiliki sedikit ilmu hoatsut (ilmu sihir) dan dengan kepandaiannya ini ia menyihir “anak-anaknya” sehingga mereka menjadi penurut dan menganggap seperti Ayah sendiri!
Juga ilmu golok yang ia ajarkan kepada para anaknya itu dilakukan dengan ilmu sihir. Dengan hanya memberi minum secawan arak yang dicampur obat dan dibacakan mantera, gadis yang minum arak itu otomatis bisa bermain silat dengan golok! Ini adalah ilmu sihir dari daerah Mongolia Dalam.
Swan Hong lalu berlari keluar dari hutan untuk memberitahu kepada para penduduk yang menjaga diluar. Maka berbondonglah orang-orang datang memasuki hutan. Ayah-Ibu para gadis itu lalu berpelukan dengan anak mereka dan suasana menjadi amat riang gembira. Swan Hon dan Giok Cui agaknya telah dilupakan orang dan ketika mereka itu teringat kembali kepada mereka, ternyata kedua orang muda itu telah pergi jauh tanpa pamit!
Swan Hong dan Giok Cui melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Kongkong mereka. Setiap kali tiba di suatu tempat, mereka lalu mencari tokoh silat di kota atau dusun itu, dan bertanya tentang Lie Kai yang berjuluk Thiat-Thouw-Gu! Benar saja seperti yang diduga oleh Seng Thian Hwesio, hampir semua tokoh persilatan kenal kepada Thiat-Thouw-Gu Lie Kai atau setidaknya pernah mendengar namanya. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang melihatnya!
Beberapa bulan kemudian, mereka tiba di Propinsi Shensi. Mereka mengambil jalan ini oleh karena dari seorang Piauwsu (tukang mengawal barang-barang berharga), mereka mendengar bahwa Thiat-Thouw-Gu Lie Kai berada di sekitar daerah Shensi.
Selama perjalanan yang berbulan-bulan itu, perhubungan antara Swan Hong dan Giok Cui makin erat. Di luarnya, mereka ini seperti Kakak-beradik kandung saja, akan tetapi sesungguhnya, keduanya masih belum dapat melenyapkan perasaan cinta kasih yang lain lagi sifat.
Betapapun juga, keduanya dapat mempergunakan kekuatan iman masing-masing untuk menekan perasaan yang mereka anggap tidak pada tempatnya itu, dan demikianlah, hubungan mereka penuh dengan kesopanan dan kemesraan keluarga.
Ilmu silat Giok Cui meningkat cepat setelah mendapat latihan-latihan dan petunjuk dari Kakak misannya. Pada suatu hari, mereka tiba di perbatasan antaran Propinsi Shensi dan Propinsi Sansi, yakni di Pegunungan LuliAng-San yang penuh dengan hutan rimba yang masih liar.
“Kita berhenti dulu di sini, Twako, karena aku ingin melatih ilmu silat pedang. Gerakan ke delapan belas yang disebut Seng-Siok Hut-Si (Musim Panas Mengebutkan Kipas) masih amat sukar.”
Seperti biasa, Swan Hong selalu memenuhi permintaan adik misannya ini, karena kalau ditolak, gadis itu akan merengut, dan biarpun Giok Cui selalu menurut kata-kata Kakak misannya, akan tetapi ia lalu menjadi marah dan diam saja tidak mau berjenaka pula. Giok Cui lalu mencabut pedangnya dan ia lalu bersilat pedang.
“Putar pedang itu dengan pergelangan tanganmu saja, lenganmu jangan ikut bergerak, dilempangkan ke depan. Dengan demikian, pergerakan Seng-Siok Hut-Si akan sempurna!” Swan Hong memberi petunjuk setelah melihat gadis itu berlatih.
Setelah berlatih beberapa lama, pergerakan Giok Cui mulai sempurna dan gadis itu merasa girang sekali. Ia memang rajin dan tanpa mengenal bosan ia lalu mengulang dan mengulang lagi gerakan itu.
Tiba-tiba Swan Hong berkata. “Giok Cui, ada rombongan orang berkuda datang ke jurusan ini!”
Gadis itu menunda permainan pedangnya dan benar saja, dari jauh nampak debu mengebul dan Swan Hong lalu menarik tangan adik misannya untuk bersembunyi di balik pohon. Ia melihat dari jauh bahwa yang datang itu adalah serombongan perwira berkuda terdiri dari lima belas orang. Setelah rombongan itu datang dekat, kedua orang muda ini melihat dengan terkejut bahwa dua orang diantara mereka adalah Lee Kim Bwe dan Lee Kun!
Dan ditengah-tengah sekali, dua orang laki-laki dan perempuan duduk di atas kuda dengan tangan terikat! Mereka ini agaknya tawanan-tawanan yang hendak di bawa pergi oleh rombongan perwira Kerajaan itu. Hal ini sebetulnya tidak mengherankan, bahkan seringkali terjadi penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan oleh perwira-perwira Kerajaan baru itu.
Akan tetapi kali ini, karena di situ terdapat kedua saudara Lee yang mereka benci, dan terutama melihat laki-laki setengah tua dan wanita yang terikat tangannya itu, Swan Hong dan Giok Cui menaruh perhatian besar.
“Kita kejar mereka!” bisik Swan Hong setelah rombongan itu lewat.
Entah mengapa, melihat laki-laki berpakaian sasterawan yang tertawan itu, hatinya merasa kasihan sekali dan timbul niatnya hendak menolong. Gok Cui memang mempunyai perasaan benci yang besar sekali terhadap Lee Kim Bwe dan Lee Kun, dan juga ia tidak suka kepada para perwira itu, maka ia lalu mengangguk. Kedua orang muda ini lalu berlari cepat mengejar rombongan berkuda itu.
“Apakah kita akan menyerang mereka?” tanya Giok Cui.
Swan Hong menggelengkan kepalanya. “Kita harus berlaku hati-hati. Diantara para perwira Kerajaan, banyak yang berkepandaian tinggi. Lagi pula, kita belum tahu siapakah adanya dua orang yang tertawan itu. Lebih baik kita menyelidiki dulu sebelum turun tangan. Kalau memang dua orang itu orang baik-baik, tentu saja kita harus turun tangan menolong mereka!”
Karena rombongan berkuda itu tidak melarikan kuda mereka dengan cepat, maka Swan Hong dan Giok Cui dapat juga mengikutinya dan tidak tertinggal jauh. Setibanya di dusun di luar hutan itu, rombongan berkuda berhenti dan bermalam di rumah kepala kampung yang menyambut mereka dengan penuh penghormatan. Dua orang tawanan itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan dan dibelenggu kaki tangannya.
Sebetulnya siapakah dua orang laki-laki dan wanita yang menjadi kurban keganasan perwira-perwira Kerajaan yang dipimpin oleh Sin-Kiam Siang-Hiap Lee Kim Bwe dan Lee Kun ini? Mereka ini bukan lain adalah Liok Houw Sin dan isterinya Song Bwee Eng atau Ayah-Ibu dari Liok Siang Hwa gadis pendekar yang gagah perkasa itu!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Siang Hwa yang gagah berani ini telah menghajar habis-habisan kepada Lee Kim Bwe, dan di dalam kesemberonoannya, Sing Hwa telah memberitahukan nama, tempat tinggal, bahkan mengaku bahwa Ibunya adalah anak dari mendiang Song Liang, panglima yang telah gugur sebagai pejoang yang hendak mengusir pemerintah Mancu!
Lee Kim Bwe yang mendapat hinaan besar di depan banyak orang dalam rumah Yap Ma Ek itu, tentu saja merasa sakit hati sekali. Apalagi setelah Lee Kim Bwe bertemu dengan Swan Hong dan Giok Ciu sehingga kembali ia menderita kekalahan, bahkan pedangnya terampas oleh Swan Hong. Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe menjadi amat penasaran.
Ia bersumpah di dalam hati untuk membalas dendam kepada orang-orang muda yang telah mengalahkannya itu, dan untuk dapat mencapai maksud hati ini, tak lain ia harus mendapat bantuan kawan-kawan yang berilmu tinggi. Ia dan adiknya kini telah “diakui” oleh Kaisar sebagai pembantu-pembantu yang setia, maka ia lalu ajak adiknya pergi ke Kotaraja.
Di sini mereka lalu berhubungan dengan para perwira Kerajaan dan berhasil minta bantuan dua belas orang perwira-perwira Kerajaan yang kepandaiannya tinggi. Bahkan tiga orang diantara para perwira itu adalah perwira-perwira kelas satu! Tiga orang perwira ini kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada Lee Kun atau Lee Kim Bwe, maka dengan bantuan orang-orang gagah ini, Sin-Kiam Siang-Hiap lalu mulai mencari musuh-musuhnya.
Pertama-tama mereka bersama dua belas orang perwira itu menuju ke kota Hancung di Propinsi Shensi, tempat tinggal Liok Siang Hwa gadis pendekar yang telah mendatangkan kehinaan hebat kepada kedua saudara Lee itu di rumah Yap Ma Ek. Tentu saja Liok Houw Sin dan isterinya terkejut sekali ketika pada suatu hari, di depan rumah mereka datang serombongan perwira Kerajaan dengan sikap menakutkan.
Liok Houw Sin adalah seorang sasterawan yang tidak pandai silat, maka tentu saja ia merasa khawatir sekali. Tidak demikian dengan isterinya, yakni Song Bwee Eng. Puteri mendiang Panglima Song Liang ini pernah dilatih silat oleh Ayahnya dan ia memang memiliki ketabahan seperti Ayahnya pula.
“Apakah keperluan kalian datang di rumah kami?” tanya Song Bwee Eng dengan garang.
Lee Kim Bwe tersenyum dan melompat turun dari kudanya lalu menghadapi nyonya itu. “Kami datang hendak mencari seorang Nona bernama Liok Siang Hwa. Bukankah di sini rumahnya?”
Pada waktu itu, Liok Siang Hwa belum kembali dari perantauannya, dan sebagai seorang yang tahu tentang kehidupan orang-orang kang-ouw, nyonya Liok ini jug mengira bahwa orang-orang gagah ini mungkin sekali kawan-kawan anaknya. Ia lalu menjawab.
“Memang Siang Hwa adalah anak kami, akan tetapi pada saat ini ia belum pulang dan masih merantau, entah berada di mana.”
Mendengar ucapan ini, Lee Kim Bwe nampak kecewa, akan tetapi ia bertanya lagi. “Bukankah kau adalah puteri dari Panglima Song Liang?”
Song Bwee Eng terkejut mendengar pertanyaan ini, akan tetapi ia menetapkan hatinya dan mengangguk. “Memang, Song-Ciangkun adalah Ayahku!”
Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe tersenyum menyindir lalu berkata nyaring, “Bagus sekali! Ayahmu seorang pemberontak, anakmupun seorang pemberontak. Karena sekarang anakmu tidak ada, hayo kau ikut kami sebagai tawanan!”
Baru sekarang Song Bwee Eng merasa gelisah. Ia tahu bahwa ada bahaya besar yang mengancam rumah tangganya. Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, suaminya telah melangkah maju di depannya dan berkata kepada Lee Kim Bwe.
“Nona, harap kau jangan mengganggu isteriku. Kami suami-isteri selalu tinggal di tempat ini dan tidak tahu menahu tentang segala pemberontakan. Kau tidak boleh menawan isteriku!” Baru saja Liok Houw Sin berkata demikian, seorang di antara para perwira lalu berseru.
“Bukankah kau ini Pangeran Liok Han Swee??” Sambil berkata demikian, perwira itu melompat turun dari kudanya dan memandang wajah Houw Sin yang menjadi pucat itu dengan penuh perhatian.
“Benar, kau adalah Liok Houw Sin, putera Pangeran Liok itu. Ha, ha, ha! Ini namanya sekali tepuk mendapat dua lalat! Kita sekaligus dapat menawan orang-orang penting, puteri pemberontak Song Liang, dan putera pengkhianat Liok Han Swee!” Ia mengulur tangannya menangkap lengan Liok Houw Sin.
“Jangan mengganggu suamiku!” seru Song Bwee Eng sambil bergerak maju mendorong tubuh perwira itu.
Akan tetapi, tidak tahunya perwira ini adalah seorang di antara ketiga orang perwira kelas satu. Mendengar sambaran angin serangan Bwee Eng, sambil tertawa menghina ia mengulur tangan kiri dan dengan mudah ia dapat pula menangkap pergelangan tangan nyonya itu!
Bwee Eng dan Houw Sin meronta-ronta dan hendak melawan sekuatnya, akan tetapi mereka menghadapi lawan yang amat kuat dan tangguh, dan karena Bwee Eng maklum bahwa perlawanan tidak akan ada gunanya, ia lalu berkata kepada suaminya.
“Biarlah, kita ikut saja ke mana orang-orang ini membawa kita!” Dengan kedua tangan terikat, Bwee Eng dan Houw Sin lalu dibawa oleh rombongan berkuda itu menuju ke Kotaraja.
Mereka menjadi girang sekali, karena menganggap telah mendapatkan tawanan yang cukup berarti kali ini. Kalau Kaisar mendengar bahwa yang ditawan adalah puteri Song Liang dan putera Liok Han Swee, tentu mereka akan mendapat hadiah. Adapun kedua saudara Lee itu juga merasa puas karena sungguhpun mereka tidak dapat membalas sakit hatinya terhadap Siang Hwa
Akan tetapi dengan penangkapan Ayah-Bunda gadis itu berarti sudah merupakan pembalasan yang cukup hebat. Siapa tahu kalau-kalau gadis itu akan mendapat tahu tentang penangkapan ini dan mengejar! Kalau demikian halnya, mereka telah bersiap menangkap pula gadis musuh besarnya itu. Lee Kim Bwe dan Lee Kun tidak takut menghadapi Siang Hwa, karena mereka telah yakin akan kelihaian kawan-kawannya, terutama tiga orang perwira kelas satu itu. Mereka ini benar-benar kosen dan lihai sekali.
Seorang diantara mereka yang tadi mengenal muka Houw Sin, adalah seorang panglima tua yang dulu menjadi kawan Panglima Song Liang. Panglima ini bernama Tan Gak Kong, seorang tokoh Bu-Tong-Pai yang ahli dalam permainan senjata kongce (tombak panjang bercabang dua), juga tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Dua orang panglima kelas satu lainnya adalah Kakak-beradik bangsa Mancu yang kosen. Yang tua adalah Tung Hacu yang menjadi ahli dalam ilmu pedang pasangan (Siang-kiam) dan memiliki ilmu pedang yang disebut Hwe-Eng Kiam-Sut (Ilmu Pedang Garuda Terbang). Adapun adiknya, Tung Haci, memiliki tenaga kasar, bahkan tenaganya tidak kalah oleh Tan Gak Kong, sedangkan senjatanya adalah sebatang toya pendek yang terbuat daripada baja yang keras dan berat.
Tiga orang perwira kelas satu inilah yang menjadi andalan kedua saudara Lee itu, maka kini mereka mengharapkan kedatangan Siang Hwa dengan hati berani. Dan pengharapan mereka itupun terkabul! Bahkan bukan hanya Siang Hwa yang muncul, akan tetapi juga musuh-musuhnya yang telah merampas pedangnya, yakni swan Hong dan Giok Cui!
Demikianlah, Swan Hong dan Giok Cui melakukan pengintaian terhadap rombongan itu. ketika rombongan itu bermalam di rumah kepala dusun, kedua orang muda ini diam-diam mendatangi rumah itu. Dengan hati-hati mereka lalu bersembunyi di tempat gelap dan mengintai ke sebelah dalam, di mana para perwira itu sedang dijamu makan oleh tuan rumah.
Mereka itu duduk mengelilingi meja besar di ruang depan yang lega, minum arak sambil tertawa-tawa dan bercakap-cakap. Kesombongan membuat mereka bercakap-cakap dengan keras, tak menyembunyikan sesuatu karena mereka juga tidak takut terdengar oleh siapapun juga. Tan Gak Kong, perwira yang bertubuh pendek gemuk itu mengangkat cawan araknya sambil berkata kepada Lee Kun.
“Saudara Lee, sungguh ingin sekali aku bertemu dengan puteri mereka yang kau sohorkan amat gagah perkasa dan terutama sekali... Cantik jelita itu! Ha, ha, ha, akan gembiralah seorang tawanan yang cantik seperti dia. Siapa namanya katamu tadi? Aku lupa lagi!”
Lee Kun tersenyum. Ia maklum bahwa pengaruh arak telah membuat mulut perwira tua yang mata keranjang ini mulai mengoceh. “Tan-Ciangkun, aku tidak membohong ketika berkata bahwa gadis itu selain gagah perkasa, juga cantik sekali bagaikan setangkai bunga botan! Namanya Siang Hwa, Liok Siang Hwa!”
“Siang Hwa...?” Ah, namanya saja kembang harum! Aku ingin menjadi kumbang untuk mengisap madu kembang yang harum itu. Ha, ha, ha!”
Semua orang yang duduk di situ tertawa mendengar kelakar yang tidak sopan ini. Hanya Lee Kim Bwe seorang yang tidak ikut tertawa. Gadis ini masih tidak puas sebelum musuh besarnya tertawan agar ia dapat membalas penghinaan yang telah ia alami dari Liok Siang Hwa.
“Cuwi-Ciangkun (tuan-tuan perwira sekalian),” katanya sungguh-sungguh sambil memandang kepada para perwira itu. “Gadis liar itu benar-benar berbahaya, harap jangan memandang ringan, ia adalah murid dari Sam-Lian Sianli dari Cin-Ling-San! Perjalanan ke Kotaraja baiknya kita lakukan lambat-lambat saja agar memberi ketika kepadanya untuk mengejar kita.
"Orang-orang macam suami-isteri she Liok yang kita tawan ini, sungguhpun mereka merupakan keturunan-keturunan dari para pemberontak besar seperti Song Liang dan Liok Han Swee, akan tetapi tidak ada artinya dan tidak berbahaya. Pemberontak yang berkepandaian seperti gadis liar Liok Siang Hwa itulah yang harus dibasmi, karena amat berbahaya!”
“Ha, ha, ha!” Tan Gak Kong tertawa lagi. “Jian-Jiu Koan-Im, jangan kau gelisah. Kalau Kembang Harum itu datang, serahkan saja kepada kumbang ini!” Ia menepuk-nepuk dadanya.
“He, Tan-Ciangkun!” tiba-tiba Tung-Haci menegur sambil tertawa. “Kau ini kumbang tua belum apa-apa sudah membual! Bagaimana kalau nanti gadis itu benar-benar muncul dan kau dikalahkan olehnya?”
“Apa...?? Tak mungkin! Mana ada kumbang kalah oleh kembang? Lebih baik mati saja!” jawab Tan Gak Kong.
Demikianlah, mereka bersenda-gurau dan tertawa-tawa sambil makan minum arak dan masakan yang dihidangkan. Sementara itu, setelah mendengar percakapan mereka, Swan Hong menarik tangan Giok Cui keluar dari tempat persembunyian lalu berbisik,
“Moi-moi, ternyata tawanan itu adalah suami-isteri yang hendak dibawa ke Kotaraja karena tuduhan pemberontak! Kelihatannya perwira-perwira itu memiliki kepandaian tinggi, maka pekerjaan harus kita bagi. Kau masuklah dari belakang dan usahakanlah agar supaya kau dapat membebaskan kedua orang tawanan itu, lalu kau ajak lari dari sini terlebih dulu. Biar aku yang mengacau dan menyerang para perwira sehingga mereka tak dapat mengejar kau dan para tawanan yang lari.”
Giok Cui mengerutkan alisnya. Hatinya tak sedap untuk berpisah dari pemuda ini, akan tetapi oleh karena maklum bahwa siasat itulah yang terbaik untuk menolong kedua orang tua itu, ia lalu berbisik kembali.
“Kemanakah aku harus membawa lari mereka, Twako? Bagaimana nanti kita bisa bertemu kembali?”
Swan Hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Tidak ada tempat yang lebih baik selain di Kelenteng Thian-Hok-Si! Di sana ada kedua orang Suhengku yang tentu mau menolong kita. Kau pergilah ke selatan, ke kota Icang di Hopak dan bawalah kedua orang tua itu ke sebuah Kelenteng besar di kota itu, yakni Kelenteng Thian-Hok-Si. Kau tentu masih ingat akan nama-nama kedua Suhengku, yakni Seng Thian Hwesio dan Seng Tee Hwesio.”
Giok Cui mengangguk maklum. Ia telah bertemu sekali dengan Seng Thian Hwesio ketika ia ikut Swan Hong naik ke bukit Thai-LiAng-San. Akan tetapi kembali ia ragu-ragu ketika ia bertanya. “Habis kau sendiri, bagaimana Twako? Hatiku tidak enak meninggalkan kau menghadapi mereka seorang diri. Bagaimana... kalau kau... tertangkap oleh mereka?”
Swan Hong memegang tangan Giok Cui dan untuk sedetik timbul kembali kemesraan yang menghangatkan jantungnya. Akan tetapi ia cepat-cepat melepaskan lengan itu lagi dan sambil tersenyum ia berkata. “Adikku yang manis, masih belum percayakah kau kepadaku? Aku tidak berani memastikan bahwa aku akan dapat kalahkan mereka, akan tetapi kurasa aku akan dapat menjaga diri dan takkan sampai tertawan oleh mereka. Harap kau jangan khawatir, kau berangkatlah dulu, pergunakan tiga ekor kuda mereka yang berada di kandang dan bawa lari dua orang tua itu. Aku pasti akan menyusulmu ke Kelenteng Thian-Hok-Si!”
Terpaksa Giok Cui mentaati permintaan pemuda ini dan setelah berkata sekali lagi. “Kau hati-hatilah menjaga dirimu, Twako,” lalu ia menyelinap ke dalam gelap menuju ke belakang rumah itu.
Swan Hong lalu kembali ke ruang depan dan mengintai. Para perwira masih makan minum dengan gembira. Swan Hong hanya menjaga saja karena ia baru akan turun tangan menyerang mereka dan mengacaukan keadaan apabila usaha Giok Cui diketahui orang, sehingga dengan demikian ia dapat mencegah mereka mengejar Giok Cui.
Akan tetapi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh berkelebatanya bayangan orang dari atas genteng dan baru saja ia menengok ke atas bayangan itu dengan gerakan yang cepat bagaikan seekor burung besar, telah melayang ke dalam ruangan yang penuh tamu. Ternyata ia adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, berpakaian serba merah menyolok mata!
“Orang-orang she Lee pengecut hina dina!” Dengan suara nyaring, gadis baju merah itu membentak marah. “Kalau kau berani, lawanlah aku, jangan mengganggu orang tuaku yang tidak berdosa! Kalau sekarang juga kau tidak membebaskan mereka, jangan katakan aku kejam kalau aku mengambil kepala kalian yang tak berharga!”
Untuk beberapa lama, semua orang yang hadir di situ memandang dengan terkejut dan kagum. Kemudian terdengar suara ketawa terbahak-bahak dan perwira pendek gemuk Tan Gak Kong lalu bangkit berdiri.
“Ha, ha, ha, ha! Inikah Kembang Harum itu? Ah, benar saja, benar-benar indah dan harum. Aku sudah menjadi kumbangnya...!”
“Orang-orang she Lee!” Siang Hwa gadis baju merah itu membentak sambil memandang ke arah Kakak-beradik she Lee itu. “Apakah kalain benar tidak berani mempertanggungkan jawabkan perbuatanmu? Jangan kau bersembunyi di belakang gentong kosong ini, karena takkan ada gunanya!”
Lee Kim Bwe dan Lee Kun yang sudah mengetahui kelihaian gadis itu, tak berani menjawab, hanya memandang marah. Sedangkan Tan Gak Kong lalu tertawa kembali.
“Ah, galak! Galak dan liar! Akan tetapi aku paling suka Kembang Harum yang liar, kembang hutan yang belum tersentuh oleh kumbang-kumbang kota yang rakus. Ha, Ha, Nona. Apakah benar kau yang bernama Liok Siang Hwa, puteri dari dua orang tawanan pemberontak itu?"
Kini Siang Hwa memandang kepada perwira gemuk pendek ini dan ia tersenyum menghina. “Kau ini anjing dari manakah berani menggonggong dan bersikap kurang ajar? Apakah kau tua bangka yang sudah hampir mampus ini sudah rindu kepada kuburan?”
Merahlah telinga Tan Gak Kong mendengar hinaan yang hebat ini. “Aduh, kalau saja kau tidak begitu cantik manis, ucapan ini saja sudah cukup membikin aku marah dan menghancurkan kepalamu! Akan tetapi sayang sayang kalau kembang yang harum dan indah ini menjadi rusak. Nona manis, demi Tuhan, aku akan berusaha membujuk para pembesar untuk memberi keringanan kepada orang tuamu, asal saja kau suka menjadi kekasihku!”
Hampir meledak rasa dada Siang Hwa mendengar ini. “Monyet tua! Sebelum mengambil kepala dua ekor anjing she Lee, lebih dulu kepalamu yang buruk akan kupenggal!” Ia lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat sekali menyerang leher Tan Gak Hong.
Perwira ini terkejut sekali karena serangan ini benar-benar berbahaya dan amat cepat datangnya. Ia segera membuang diri kebelakang untuk mengelak serangan ini. Kemudian ia mengambil senjatanya konce yang tadi disandarkan pada meja. Dengan senjata di tangan ini, ia mengangkat dadanya dan menghampiri Siang Hwa.
“Nona jangan kau mencari penyakit sendiri. Ketahuilah bahwa aku Tan Gak Hong adalah seorang panglima yang belum pernah menderita kekalahan dalam tiap pertempuran. Kau yang masih muda dan cantik, baru dapat bermain pedang sedikit saja, sudah berlagak sombong. Jangan kira bahwa setelah dapat mengalahkan dua saudara Lee, kau lalu menjagoi di seluruh dunia. Lebih baik kau menyerah, ikut padaku dan aku akan memberi pelajaran ilmu tombak dan ilmu pedang yang lebih tinggi kepadamu!”
“Tua bangka tak tahu malu! Kau boleh pentang mulut sesukamu, karena sebentar lagi mulutmu takkan dapat kau gerakkan lagi!” Sambil berkata demikian, Siang Hwa lalu berkelebat maju dan pedangnya sudah digerakkan! Menyerang hebat dengan gerak tipu Ang-Liong Ciong-Goat (Naga Merah Sembunyikan Bulan) sebuah tipu serangan dari ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang lihai.
Tan Gak Kong cepat menangkis dan ketika kedua senjata itu beradu, tahulah Siang Hwa bahwa lawannya memiliki tenaga lweekang yang tinggi, maka ia lalu mempercepat gerakan pedangnya dan bersilat dengan hati-hati.
Sementara itu, Swan Hong yang tadi bengong dan kagum melihat Nona baju merah yang cantik jelita itu, kini makin kagum menyaksikan ilmu pedang yang demikian hebatnya. Ia dapat melihat bahwa dengan ilmu pedang seperti itu, tak perlu dikhawatirkan Nona itu akan kalah atau mudah dirobohkan lawan-lawannya, maka ia lalu mempergunakan kesempatan ini untuk lari ke belakang menyusul Giok Cui.
Untung saja ia melakukan perbuatan ini, karena setelah ia tiba di belakang rumah, ia melihat Giok Cui dan nyonya yang tadi tertawan sedang menghadapi keroyokan lima orang penjaga. Ternyata bahwa Giok Cui telah berhasil mencuri tiga ekor kuda, akan tetapi ketika ia menyerbu ke dalam dan berhasil melepaskan ikatan tangan Liok Houw Sin dan Song Bwee Eng, ia terlihat oleh para penjaga yang segera mengeroyoknya!
Bwee Eng melihat penolongnya diserang, lalu maju dan berhasil merampas sebuah pedang dari seorang pengeroyok, lalu iapun membantu Giok Cui mengamuk! Adapun Liok Houw Sin hanya berdiri memandang dengan gelisah. Kedatangan Swan Hong merupakan pertolongan tepat, karena beberapa kali gerakan kaki tangannya membuat para pengeroyok kocar-kacir dan jatuh bangun.
“Lekas, moi moi, lekas pergi! Biar aku yang menghadapi mereka!” kata Swan Hong.
“Jiwi, harap suka naik kuda dan ikut adikku ini!” katanya pula kepada Liok Houw Sin dan Song Bwee Eng.
Bwee Eng lalu melompat dengan sigap ke atas seekor kuda, berbareng dengan Giok Cui, akan tetapi Liok Houw Sin tak dapat bergerak secepat itu. Melihat keadaan orang tua ini, maklumlah Swan Hong bahwa orang tua ini adalah seorang sasterawan yang lemah. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menyaut tubuh orang dan dengan ringan dan cepat sekali ia menaikkan tubuh Liok Houw Sin di atas seekor kuda.
Houw Sin menjadi kagum sekali, karena merasa seakan-akan tubuhnya diterbangkan ke atas. Tanpa banyak cakap lagi larilah tiga ekor kuda itu, keluar dari kampung. Belasan orang penjaga lari ke tempat itu, akan tetapi segera terdengar teriakan-teriakan mereka yang roboh karena sambutan kaki tangan Swan Hong yang cekatan.
Setelah merobohkan para penjaga ini sehingga tak dapat mengejar, Swan Hong lalu berlari ke kandang kuda, melepaskan ikatan kuda-kuda di situ dan segera mencambuk-cambuk mereka. Kuda-kuda itu terkejut dan ketakutan dan sebentar saja mereka berlari liar keluar dari kandang!
Setelah melakukan perbuatan yang dimaksudkan untuk mencegah pengejaran, Swan Hong lalu berdiri kembali ke ruang depan. Ternyata bahwa gadis baju merah itu masih bertempur hebat melawan Tan Gak Hong. Tadinya Tan Gak Kong masih bertempur sambil tertawa-tawa mengejak, akan tetapi baru bertempur beberapa jurus saja, suara ketawanya hilang, karena jangankan untuk tertawa untuk bernapaspun sukar baginya!
Gerakan pedang dari Siang Hwa luar biasa sekali, merupakan segulung sinar putih yang berputaran diantara sinar merah dari pakaiannya. Pedang Gin-Kong-Kiam di tangannya sama lihainya dan berbahayanya seperti kilat menyambar-nyambar sehingga permainan tombak dari Tan Gak Kong menjadi kacau balau!
Tadinya, para perwira lain yang telah percaya penuh akan kelihaian Tang-Ciangkun, hanya menonton sambil tertawa-tawa, ingin menyaksikan bagaimana caranya perwira itu mempermainkan Siang Hwa. Akan tetapi, baru dua puluh jurus saja dengan terkejut mereka melihat betapa perwira itu sudah tak berdaya lagi, didesak secara hebat sehingga hanya mampu menangkis sambil mundur teratur!
Tung Hacu dan Tung Haci, kedua saudara perwira Mancu, tentu saja tidak mau membiarkan kawannya berada di dalam bahaya. Mereka telah bangkit dari tempat duduk dan menarik keluar senjata masing-masing, siap untuk mengeroyok Siang Hwa. Akan tetapi pada saat itu juga, seorang penjaga dengan napas terengah-engah datang melapor.
“Celaka... cuwi Ciangkun... tawanan telah terlepas dan melarikan diri!”
Suara ini membuat kedua perwira Mancu menunda gerakannya membantu Tan-Ciangkun dan kesempatan itu dengan baik dipergunakan oleh Siang Hwa. Pedangnya berkelebat cepat dan terdengar jerit kesakitan dari Tan Gak Kong. Senjata tombaknya terlempar jatuh dan sebelah tangan kanannya, terbabat putus sebatas siku oleh pedang Gin-Kong-Kiam yang tajam! Melihat ini, barulah kedua orang perwira Mancu itu menyerbu maju....