Naga Merah Bangau Putih Jilid 11

Cerita silat Mandarin, Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 11 karya Kho Ping Hoo
Sonny Ogawa

Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 11, karya Kho Ping Hoo - Ia menceritakan tanpa ditanya lagi bahwa ilmu silatnya adalah ajaran dari Ibunya sendiri, dan bahwa Ayahnya adalah seorang Siucai (Sasterawan) yang mengasingkan diri dan yang bertubuh lemah seringkali menderita sakit.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Iapun menceritakan bahwa Ibunya banyak mengenal dan tahu akan nama orang-orang kang-ouw yang gagah, maka ketika tadi ia mendengar nama Guru pemuda itu, ia yakin bahwa Ibunya tentu akan mengenalnya pula. Tanpa terasa, mereka telah tiba di sebuah dusun di mana gadis itu tinggal bersama orang tuanya.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang tak berapa besar akan tetapi cukup bersih dan menyenangkan. Seorang nyonya setengah tua yang cantik menyambut kedatangan mereka dan ketika melihat betapa Giok Cui datang bersama seorang pemuda gagah, alis nyonya itu berkerut.

“Ibu...!” Giok Cui lalu menghampiri nyonya itu dan memegang tangannya dengan sikap manja. “Ini adalah saudara Lie Swan Hong yang telah menolongku dari serangan orang-orang jahat dan juga yang datang untuk memeriksa Ayah, karena ia pandai ilmu pengobatan.” Dengan singkat ia lalu menceritakan pengalamannya sehingga Ibunya terkejut mendengarnya.

“Harap Bibi suka maafkan aku yang berani lancang datang mengganggu.” kata Swan Hong dengan hormat setelah gadis itu selesai bercerita, “Sesungguhnya, nona Giok Cui terlalu memuji, karena aku hanya mengerti sedikit saja tentang ilmu pengobatan. Akan tetapi aku bersedia untuk membantu sekuat tenaga dan hendak kuusahakan sedapatku untuk mengobati penyakit suami Bibi.”

Tadinya nyonya itu tidak merasa senang di dalam hatinya melihat anak gadisnya datang bersama seorang pemuda, akan tetapi setelah mendengar betapa pemuda itu telah menolong anaknya dan melihat sikap yang halus dan sopan-santun dari Swan Hong, air mukanya berobah terang dan senang.

“Kongcu, kau baik sekali. Banyak terima kasih atas segala pertolonganmu yang tak ternilai besarnya itu. Dan lebih-lebih bersukur hatiku kalau kau bisa mengobati suamiku.”

Serta merta Swan Hong lalu dibawa masuk ke dalam sebuah kamar di mana seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan pucat rebah telentang di atas sebuah pembaringan. Laki-laki ini sedang tidur, maka dengan hati-hati Swan Hong lalu memegang pergelangan tangannya untuk memeriksa jalan darahnya.

Setelah memeriksa jalan darah, mendengarkan pernapasan dan meraba-raba jidat si sakit, tahulah Swan Hong bahwa orang tua ini terserang penyakit jantung lemah yang terjadi sebagai akibat dari batin yang menderita dan pikiran yang berduka.

“Kembang rumput putih itu memang baik, yakni untuk melancarkan jalan darahnya,” kata pemuda ini setelah mereka keluar dari kamar dan duduk di ruang dalam. “Akan tetapi untuk memperkuat jantungnya, aku mempunyai beberapa butir pel obat buatan mendiang Suhuku.”

Setelah memberikan pel itu kepada Giok Cui dan bagaimana caranya untuk memberi minum kepada si sakit, Swan Hong lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanannya. Giok Cui nampak terkejut dan kecewa sehingga ia lupa untuk membawa obat itu kepada Ayahnya.

“Ah, Kongcu, mengapa begitu tergesa-gesa? Lebih baik kau bermalam saja di rumah kami, karena sekarang hari sudah mulai gelap!” Mencegah nyonya itu dengan ramah-tamah.

“Bagaimana aku berani mengganggu Bibi dan mendatangkan banyak kerepotan saja?” Swan Hong menolak.

Sedangkah Giok Cui lalu masuk ke dalam karena ia tidak tahan mendengar percakapan itu tanpa ikut menahan kepergian Swan Hong. Akan tetapi, tentu saja ia merasa malu untuk mengucapkan kata-kata ini.

Akhirnya, nyonya itu berkata, “Kongcu, setidaknya kau harus memberi kesempatan kepada suamiku untuk menyatakan terima kasihnya dan kegembiraannya dapat bertemu denganmu. Kalau ia tahu tentang kedatanganmu dan kau sudah pergi lagi, tentu ia akan merasa kecewa sekali, mungkin akan marah kepada kami Ibu dan anak. Maka, sekali lagi kuminta kepadamu, bermalamlah disini dan tunda kepergianmu sampai besok.”

Terpaksa Swan Hong menerima dan ia mendapatkan sebuah kamar di pinggir kiri, dekat tempat si sakit. Pada malam hari itu, pintu kamarnya diketok orang. “Siapa?” tanyanya perlahan.

“Aku, Twako? Aku mengundang kau makan dan kaupun telah ditungguh oleh Ayah!”

“Baik!” kata Swan Hong bergembira dan ia segera melompat turun dari pembaringannya dan… bertukar pakaian! Heran sekali, biasanya ia tidak begitu mengacuhkan tentang pakaiannya, akan tetapi sekarang lain lagi. Ia akan bertemu dengan orang tua gadis itu dan terutama dengan... Giok Cui sendiri. Sedangkan pakaiannya yang dipakai siang tadi telah kotor terkena peluh.

Setelah ia keluar dari kamarnya ternyata mereka bertiga telah menantinya. Giok Cui, nyonya itu dan si sakit yang kini telah agak merah mukanya dan dapat duduk di atas sebuah kursi. Swan Hong segera menjura kepada si sakit yang hanya menyambutnya sambil duduk karena tubuhnya masih terlalu lemah itu. “Bagaimana, Paman? Banyak baikkah?”

“Terima kasih, terima kasih, Hiante. Berkat kemanjuran obatmu dan kembang rumput putih tenagaku pulih kembali.” Suara orang tua ini halus dan tutur sapanya juga penuh sopan-santun, ciri dari seorang terpelajar tinggi.

Akan tetapi, ucapan ini hanya terdengar setengah-tengah saja oleh telinga Swan Hong karena pikiran dan hati pemuda ini sedang mengalami damparan gelombang yang dahsyat. Hal ini terjadi di dalam dadanya setelah melihat gadis itu kini mengenakan pakaian wanita. Bukan main hebatnya!

Kalau siang tadi gadis itu menjadi seorang pemuda yang elok sekali, kini ia nampak seperti seorang bidadari yang baru melayang turun dari kahyangan! Wajahnya cantik-jelita, manis sekali, bagaikan setangkai kembang botan yang sedang mekar dari kuncupnya. Rambutnya yang halus dan hitam itu mengelilingi wajahnya.

Seakan-akan daun-daun bunga botan yang menghias bunga itu, mendatangkan pemandangan yang amat menggairahkan hati. Tubuhnya yang kecil ramping dan penuh itu bergoyang-goyang lemah gemulai bagaikan setangkai batang pohon yang-liu tertiup angin perlahan-lahan. Kalau saja ia tidak menggunakan tenaga batinnya menekan gelombang yang mengalun di dalam dadanya, tentu ia akan terus menatap gadis itu!

Hidangan telah diatur di atas meja dan Swan Hong dipersilahkan ikut makan dengan keluarga kecil ini. Pemuda ini masih hijau dan belum banyak pengalaman bergaul, maka tentu saja ia merasa sungkan dan malu-malu sehingga amat sukarlah nasi yang dimasukkan ke mulutnya itu tertelan olehnya. Sehabis makan, mereka bercakap-cakap di ruang itu yang diterangi oleh sebuah lampu minyak.

“Hiante, aku tadi mendengar bahwa kau adalah murid seorang pertapa di puncak Thai-Liang-San. Apakah kau kenal akan seorang Hwesio bernama Lam Kong Hwesio?” tanya Sasterawan yang bernama Bun Hak Lee itu.

“Kenal pribadi tidak, akan tetapi aku tahu akan nama itu, karena makamnya berada di sebelah makam Suhu,” jawab Swan Hong. “Kalau tidak salah Suhu masih terhitung Supek dari Lam Kong Hwesio itu.”

Nyonya itu terkejut dan nampaknya kagum mendengar keterangan ini. “Ah, tidak heran kau demikian lihai! Tidak tahunya kau masih terhitung Sute (adik seperguruan) dari Sukong (Kakek Guru) sendiri! Alangkah ganjil terdengarnya! Karena kalau diurutkan aku sendiri masih harus menyebut Susiok-kong (Paman Kakek Guru) kepadamu! Ketahuilah, Kongcu, Ayahku adalah murid dari Lam Kong Hwesio!”

Mendengar keterangan ini, tentu saja Swan Hong merasa tertarik hatinya. “Sungguh kebetulan dan tak terduga sekali,” katanya sambil tersenyum, “Bolehkah kiranya aku mengetahui siapa adanya Ayah dari Bibi itu?”

“Mungkin kaupun mengenalnya,” kata nyonya itu penuh harap, “Ayahku bernama Lie Kai, ia…”

Akan tetapi nyonya itu tidak melanjutkan kata-katanya karena bagaikan diserang oleh seekor ular dari bawah, tiba-tiba Swan Hong melompat bangun dari kursinya sambil matanya memandang kepada Giok Cui. Gadis itu dan kedua orang-tuanya juga amat terkejut melihat wajah pemuda itu menjadi demikian pucatnya.

“Apa...?? Benar-benarkah Bibi anak dari Lie Kai? Tidak salahkah...?” tanyanya berbisik bagaikan orang bicara dalam alam mimpi.

“Bagaimana bisa salah?” nyonya itu terheran. “Aku bernama Lie Eng, dan Lie Kai adalah Ayahku, dia murid Lam Kong Hwesio.”

Swan Hong merasa betapa jantungnya seakan-akan copot. Lenyaplah segala kegembiraan dan kebahagiaan yang tadi memenuhi hatinya, bagaikan sinar matahari yang tertutup mendung tebal. Kalau begitu... pikirnya dengan kepala panas dingin, gadis ini, dara jelita yang menarik hatinya, yang baru bertemu muka pertama kali saja sudah merampas hatinya, yang membuatnya jatuh cinta sampai di ujung-ujung rambutnya, gadis ini... ternyata adalah cucu dari Lie Kai! Ia dan gadis ini adalah saudara, saudara misan!

Sementara itu, Giok Cui yang melihat betapa Swan Hong diam saja dan berdiri bagaikan patung, menjadi tak sabar lagi. “Twako, kau kenapakah? Mengapa kau begitu terkejut ketika mendengar nama Kongkongku?”

“Kongkongmu? Dia... Lie Kai adalah Kongkongku sendiri! Aku melakukan perantauan turun gunung justeru hendak mencari Kongkongku yang bernama Lie Kai!”

Sekarang tiga orang itulah yang bengong bagaikan mendengar suara petir di siang hari yang terang! “Tak mungkin!” seru Lie Eng, Ibu dari Giok Cui. “Ayah hanya mempunyai anak aku seorang! Tidak mungkin!”

Swan Hong lalu menuturkan riwayatnya yang ia dengar dari Suhunya. Ia menceritakan betapa Lie Kai membawanya kepada Pendeta itu, dan tidaklah mungkin kalau Gurunya membohong. Ketika ia menceritakan keadaan Kongkongnya seperti yang ia dengar dari penuturan Gurunya, Lie Eng makin melongo dengan heran sekali.

“Bagaimana di dunia bisa terjadi hal seaneh ini?” bisiknya.

Tiba-tiba Bun Hak Lee berkata perlahan. “Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi di dalam dunia yang begini luasnya. Siapa tahu kalau-kalau Gakhu (Ayah mertua) mempunyai seorang isteri dan putera di luar tahumu, dan ada juga kemungkinan Gakhu telah memungut seorang putera dan putera itu adalah Ayah dari Lie-Kongcu ini! Ah sungguh beruntung sekali, kalau begitu kita semua masih sekeluarga!”

Baru teringatlah mereka akan kenyataan ini. dan Swan Hong lalu berlutut di depan Bun Hak Lee dan menyebut : Kouthio lalu memberi hormat kepada Lie Eng dan menyebut “Kou-kou” yang berarti Paman dan Bibi.

Lie Eng merasa terharu dan segera memegang kedua pundak Swan Hong. “Swan Hong, kau memang patut menjadi cucu Ayahku. Kau gagah dan berbudi seperti dia, tidak seperti aku... aku anak yang Puthauw (tak berbakti)...”

“Eng-moi...” suaminya mencela.

Lie Eng menahan isaknya, lalu menceritakan riwayatnya kepada Swan Hong yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Ternyata bahwa semenjak meninggalkan Ayahnya, pergi dengan pemuda Sasterawan Bun Hak Lee, Lie Eng lalu menikah dan menjadi suami-isteri dengan Sasterawan itu, penuh dengan kepahitan hati karena harus berpisah dari Ayahnya.

Akan tetapi mereka benar-benar saling mencinta, hidup rukun sampai memperoleh seorang puteri, yakni Bun Giok Cui. Hati Lie Eng amat rindu kepada Ayahnya, akan tetapi oleh karena ia mengetahui akan adat Ayahnya yang amat keras, ia selalu menunda niatnya untuk mengunjungi tempat tinggal Ayahnya, takut kalau-kalau Ayahnya akan naik darah dan menjatuhkan tangan kejam.

“Oleh karena itulah, Swan Hong, maka semenjak aku meninggalkan Ayah, aku belum pernah bertemu lagi dengan dia. Ah, alangkah lamanya hal itu terjadi, sudah hampir dua puluh tahun...! Dan ternyata, ia telah mempunyai seorang cucu lain seperti engkau, hal yang tak pernah kusangka-sangka! Dalam hal ini, tentu terselip sesuatu yang rahasia, dan agaknya pemecahannya hanya kalau kita bisa bertemu dengan Ayahku!”

“Karena itu, Kou-kou, makin besar hasratku untuk segera bertemu dengan Kongkong. Besok aku akan pergi mencarinya.”

“Memang seharusnya demikian.” Kata Bun Hak Lee. “Alangkah baiknya kalau Gakhu dapat mengampunkan kami bertiga...”

“Swan Hong,” kata Lie Eng, “Kalau kau hendak mencari Ayahku, kurasa ia tentu akan kembali ke tempat tinggalnya yang dulu. Cobalah kau mencarinya di Hokkian, karena di sanalah aku terlahir, dan di sana Kongkongmu itu dibesarkan. Di Propinsi Hokkian, di sebelah barat kota Nanping, di situ terdapat sebuah dusun bernama Han-Lo-Chung dan di situlah tempat tinggal Kongkongmu sewaktu muda. Siapa tahu kalau-kalau kau akan dapat bertemu dengan dia di tempat asalnya itu.”

“Baiklah, Kou-kou, besok pagi aku akan berangkat mencari Kongkong.”

“Ibu,” tiba-tiba Giok Cui yang semenjak tadi diam saja sambil menundukkan muka berkata dengan suara keras, “aku akan ikut mencari Kongkong dengan Lie-Twako!”

Ibu dan Ayahnya terkejut lalu memandang tajam. “Eh, Giok Cui, kau seorang wanita bagaimana dapat melakukan perantauan sejauh itu?” tanya Ayahnya.

“Dan Juga tidak pantas...” kata Ibunya sambil melirik ke arah Swan Hong.

“Ibu dan Ayah!” Giok Cui berkata tegas dan sepasang matanya menyinarkan ketetapan hatinya yang keras. “Bukankah baru saja akupun melakukan perjalanan seorang diri menyamar sebgai seorang laki-laki? Semenjak dulu aku ingin sekali merantau akan tetapi Ayah dan Ibu selalu mencegah dengan alasan kepandaianku belum cukup tinggi.

"Sekarang, ada Lie-Twako yang ternyata adalah Kakakku sendiri. Dia sudah berjanji akan melatih ilmu silat pedang kepadaku! Dengan adanya dia di dekatku, apakah yang perlu ditakuti lagi? Dan tentang pernyataanmu tadi, Ibu, mengapa tidak pantas? Kalau aku merantau sendiri, mungkin tidak pantas, akan tetapi sekarang aku ada kawan yakni seorang Kakak atau saudara sendiri, kenapa tidak pantas?”

Melihat sikap Giok Cui yang bersemangat ini, kedua orang tuanya menjadi bohwat (habis daya). Betapapun juga, ucapan Giok Cui mengandung cengli (aturan pantas) dan sukar dibantah lagi. Bahkan diam-diam Lie Eng juga masih mengherankan tentang hubungan mereka dengan Swan Hong, maka alangkah baiknya kalau kedua orang muda itu menghadap Ayahnya! Juga Bun Hak Lee mempunyai pikiran yang hampir sama dengan pikiran isterinya, maka ia lalu berkata,

“Bagiku tidak ada keberatan sesuatu, karena siapa tahu kalau-kalau hati Gakhu akan menjadi lemah dan suka maafkan kita setelah melihat anak kita.” Melihat kedua orang tuanya setuju, Giok Cui merasa girang sekali.

“Nanti dulu, Giok Cu,” menegur Ibunya, “Yang terpenting masih kau lupakan. Kita harus mendengar dulu jawaban Swan Hong apakah ia suka kau ikut bersama dia. Harus kau ketahui bahwa kalau kau ikut, berarti Swan Hong bertambah bebannya, selain mencari Ayahku, juga harus menjaga kau yang masih hijau!”

Giok Cui bangkit dari tempat duduknya dan pergi mendekati Swan Hong. Ia tidak ragu-ragu atau malu-malu lagi, seakan-akan bicara kepada Kakak kandungnya sendiri.

“Lie-Twako, benarkah kau akan merasa keberatan kalau aku ikut denganmu?” Semenjak tadi, Swan Hong sudah merasa bingung sekali. Hatinya yang tertarik oleh Giok Cui masih berantakan setelah mendengar kenyataan bahwa nona ini adalah adik misannya sendiri! Kini tiba-tiba saja nona itu hendak ikut dia merantau, tentu saja ia merasa bingung.

“Keberatan sih tidak...” Belum sempat ia melanjutkan alasan penolakannya, Giok Cui sudah memotong dengan suara girang.

“Nah, Ibu dan Ayah, tentu saja Lie-Twako tidak merasa keberatan. Aku akan berjalan sendiri, tidak minta digendong dan juga tidak perlu diasuh! Sekarang juga aku mempersiapkan pakaian untuk bekal!” Gadis itu lalu berlari-lari masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang girang.

Pada keesokan harinya, berangkatlah Swan Hong dan Giok Cui disertai nasihat-nasihat Lie Eng dan Bun Hak Lee. Giok Cui tidak menyamar sebagai pria lagi, akan tetapi ia mengenakan pakaian wanita yang ringkas berwarna kuning.

Ikat pinggang Sutera merah mengikat pinggangnya yang ramping dan rambutnya yang hitam halus itu dibungkus dengan Sutera merah pula. Pedang pemberian Swan Hong tergantung di pinggang kiri dan ia nampak luar biasa cantiknya, akan tetapi juga gagah sekali.

Melihat gadis ini, berkali-kali Swan Hong menarik napas panjang dan mereka melakukan perjalanan tanpa banyak cakap. Giok Cui merasa heran melihat pemuda itu demikian pendiam, tidak jenaka dan gembira seperti kemarin. Tadinya iapun berdiam saja, akan tetapi setelah melakukan perjalanan setengah hari lamanya dan pemuda itu masih diam saja, ia tidak tahan lagi. Ia adalah seorang gadis yang riang gembira, jenaka dan manja.

“Twako, kau kenapakah? Marahkah kau karena aku ikut?” Swan Hong terkejut dan cepat-cepat menjawab, walaupun dengan agak lesu.

“Tidak, tidak, nona. Aku girang sekali kau ikut.”

Kedua mata gadis itu terbelalak heran. “Apa? Kau masih menyebutku nona? Eh, Twako, aku adik misanmu, mengapa kau masih menggunakan sebutan nona-nonaan? Apakah kau tidak suka menyebutku Piauw-moi (adik misan perempuan), tidak suka mempunyai adik misan seperti aku?”

Swan Hong makin bingung. Ia kembali memandang wajah gadis itu dan untuk kesekian kalinya, sinar matanya seakan-akan terikat oleh sepasang mata bintang itu sehingga sukar baginya untuk mengalihkan padang.

Akhirnya Giok Cui yang menundukkan mukanya dan gadis ini menggerakkan-gerakkan kedua alisnya. “Lie-Twako, pandang matamu masih...”

“Masih apa...?”

“Masih seperti kemarin! Aku... ngeri melihatnya!”

“Maaf, aku tidak sengaja menatap mukamu.”

Hening sejenak, kemudian terdengar Giok Cui menegur lagi. “Bagaimana jawabmu atas pertanyaanku tadi?”

“Pertanyaan yang mana?” Swan Hong selalu menghindarkan untuk menyebut gadis ini, karena sesungguhnya kurang sedap rasa hatinya untuk menyebut “Piauw-moi”

“Tentang sebutan itu, dan tentang suka tidaknya kau mempunyai seorang adik misan seperti aku!”

“Tentu saja aku suka mempunyai seorang adik seperti engkau. Kau cantik, pandai, dan jenaka. Akan tetapi...” Swan Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Akan tetapi bagaimana, Twako...?”

Swan Hong tidak menjawab, bahkan lalu menggerakkan tubuhnya berlari sambil berkata. “Hayo, kita lanjutkan perjalanan kita.”

Terpaksa Giok Cui mengejar pemuda itu, dan di sepanjang jalan tiada hentinya ia bertanya. “Twako, katakanlah, apa lanjutan kata-katamu tadi? Kau suka mempunyai adik seperti aku, akan tetapi bagaimana selanjutnya, Twako?”

Berkali-kali Swan Hong menjawab singkat. “Tidak ada apa-apa lagi!” akan tetapi Giok Cui merasa tidak puas sehingga tiba-tiba ia berhenti berlari, berdiri dengan mulut cemberut dan muka merah seperti mau menangis!

“Eh, eh, kau kenapakah?” tanya Swan Hong sambil berhenti dan menengok.

“Kalau kau belum menjawab, aku takkan melanjutkan perjalanan, biar kau tinggalkan saja disini, aku takkan bergerak dari tempat ini sampai mati!” jawab Giok Cui dan Bibirnya yang manis itu makin diruncingkan makin menarik hati.

Swan Hong menarik napas panjang. “Baiklah, kalau kau memaksa. Sesungguhnya, biarpun aku senang mempunyai adik seperti engkau, akan tetapi terus terang saja, rasa hatiku lebih sedap memanggilmu dengan sebutan nona daripada Piauw-moi!”

Makin merahlah wajah gadis itu dan kini ia memandang dengan mata mengandung keheranan. “Eh, Twako, Piauw-ko (Kakak misan) macam apakah kau ini?”

Swan Hong menghela napas, lalu melanjutkan larinya. “Kau yang memaksaku mengaku terus terang, Moi-moi!” Ia lebih baik menyebut “Moi-moi” (adik perempuan) daripada Piauw-moi.

Diam-diam Giok Cui tersenyum dan matanya berseri ketika ia juga berlari di sebelah pemuda itu. Beberapa lama mereka berlari tanpa bercakap-cakap.

“Twako, kau memang seorang Piauw-ko yang aneh, Janganlah kau bersikap seaneh itu lagi, Twako.”

“Tidak, Moi-moi. Maafkanlah aku. Aku akan berusaha sedapat mungkin untuk selalu mengingat bahwa kau adalah adik misanku.”

“Dan, jangan kau memandangku lagi seperti tadi. Twako. Aku merasa... ngeri dan takut.”

“Tidak, Moi-moi.” Akan tetapi diam-diam Swan Hong menghela napas lagi. Ia maklum bahwa amat sukarlah baginya untuk memandang wajah gadis itu tanpa membayangkan rasa cinta yang besar!

Setelah berdiam lagi beberapa lama, Giok Cui bertanya, “Twako, apakah kita sekarang terus menuju ke Propinsi Hokkian mencari Kongkong?”

“Tidak, Moi-moi. Kita pergi dulu ke Thai-Liang-San, karena aku mempunyai sebuah tugas penting, menemui Twa-Suhengku di bukit itu.” Ia lalu menceritakan tentang pengalamannya dengan Ji-Suhengnya, Seng Tee Hwesio, yang telah berhasil mengusir Hwesio jahat di kelenteng Thian-Hok-Si dan betapa Ji-Suhengnya menyuruhnya memanggil Seng Thian Hwesio untuk memegang pimpinan atas kelenteng itu.

Giok Cui tidak membantah karena ia merasa bahwa dalam perjalanan ini, Swan Hong yang menjadi “kepalanya”, dan ia hanya merupakan ekornya yang harus menurut ke mana sang kepala menuju.

Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Thai-Liang-San. Di sepanjang jalan, tiap kali mereka berhenti, Swan Hong lalu memberi petunjuk-petunjuk dalam hal ilmu silat pedang kepada gadis itu yang memperhatikan dengan penuh ketekunan dan melatih ilmu silatnya di bawah petunjuk Swan Hong.

Maka dengan cepat Giok Cui mendapat kemajuan pesat, terutama sekali dalam hal ilmu pedang. Hubungan mereka makin akrab, sungguhpun tiap kali mata mereka saling pandang, ada sesuatu yang lebih mesra daripada rasa persaudaraan bersinar dan memancar dari pandang mata mereka.

Di dalam hati Swan Hong, masih saja api cinta itu belum mau padam, sungguhpun ia telah mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melawannya. Dengan memaksa diri, ia menjejalkan kenyataan dan pengakuan di dalam benaknya bahwa hal ini tak boleh dilanjutkan, karena gadis itu adalah adik misannya sendiri!

Sama sekali ia tak pernah mengira bahwa tiap malam, gadis itupun berhayall seperti dia, yakni melamun dengan hati mengandung kekecewaan bahwa Swan Hong adalah Kakak misannya! Akan tetapi, gadis ini amat lincah, dan jenaka gembira, sehingga tentu saja perasaan itu sama sekali tidak nampak di luar.

Seng Thian Hwesio menyambut kedatangan Sutenya dengan heran dan matanya memandang kepada Giok Cui dengan ragu-ragu. Biarpun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, akan tetapi matanya penuh dengan pertanyaan yang dilontarkan ke arah Sutenya.

“Twa-Suheng,” kata Swan Hong buru buru memberi keterangan, “Nona ini adalah adik misanku sendiri, juga cucu dari Kongkong. Dia adalah Piauw-moiku yang bernama Bun Giok Cui, yang ikut dengan aku untuk bersama-sama mencari Kongkong!” Dengan singkat ia lalu menuturkan riwayatnya dan perjumpaannya dengan Giok Cui.

Seng Thian Hwesio menjadi girang mendengar ini, lalu katanya. “Ah, Sute, kau agak terlambat. Baru kurang lebih dua bulan yang lalu, Kongkongmu Lie Kai datang di sini mencari kau!”

Mendengar ucapan ini, Swan Hong dan Giok Cui melompat bangun dengan girang mendengar bahwa Kongkong mereka masih hidup, akan tetapi mereka kecewa ketika Seng Thian Hwesio menceritakan bahwa orang tua itu telah pergi lagi hendak mencari Swan Hong.

“Kemanakah Kongkong menuju, Twa-Suheng?”

“Entahlah, Sute, dia tidak memberitahukan kemana hendak pergi. Akan tetapi, kurasa tidak akan sukar kalau mau mencari, karena nama Thiat-Thouw-Gu Lie Kai bukanlah nama yang tidak terkenal di dunia kang-ouw.”

Ketika Swan Hong menceritakan tentang pengalamannya dan tentang undangan Seng Tee Hwesio kepadanya untuk turun gunung dan memimpin kelenteng Thian-Hok-Si, Hwesio muda ini menjadi girang sekali. Setelah tinggal selama tiga hari di atas puncak bukit itu, mereka lalu berpisahan.

Seng Thain Hwesio turun gunung untuk menyusul Sutenya di kelenteng Thian-Hok-Si di kota Icang. Sedangkan Swan Hong dan Giok Cui lalu turun gunung melanjutkan perjalanan mencari Kongkong mereka yakni Lie Kai. Sebelum berpisah, Seng Thian Hwesio berkata kepada Sutenya,

“Sute, kebetulan sekali kau datang. Belum lama ini aku kedatangan beberapa orang dusun yang minta pertolonganku untuk mengusir seorang siluman yang katanya mengganggu penduduk di sebelah utara gunung ini. Siluman itu katanya tinggal di dalam sebuah Kuil rusak di luar kota Han-Kiok-Bun. Oleh karena itu, kau wakililah aku untuk membasmi anasir jahat itu untuk menolong penduduk di sana.”

Swan Hong menyanggupi dan ia lalu mengajak Giok Cui menuju ke utara mencari kota Han-Kiok-Bun. Kota ini sebenarnya cukup besar dan ramai, akan tetapi sudah beberapa bulan ini kota Han-Kiok-Bun nampak sunyi. Apa lagi di waktu malam, baru saja matahari tenggelam diufuk barat, semua penduduk sudah menutup daun pintu rumah mereka dan bersembunyi di dalam rumah, menanti datangnya fajar pada keesokan harinya baru berani membuka pintu kembali.

Hal ini disebabkan oleh munculnya seorang siluman yang mengganggu keamanan penduduk di situ. Orang tidak ada yang pernah melihat siluman ini dengan jelas, karena tiap kali ia muncul, yang kelihatan hanya bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu ada benda berharga telah lenyap!

Bahkan akhir-akhir ini ada pula anak-anak gadis yang lenyap tidak karuan jejaknya. Hanya terdengar teriakan mereka dan tahu-tahu gadis itu telah lenyap tanpa bekas. Yang amat mengherankan, benda-benda yang lenyap itu adalah benda-benda yang indah, baik berupa perabot rumah maupun pakaian.

Akan tetapi sama sekali tidak ada uang yang pernah lenyap. Siluman itu sungguh berani dan kurang ajar, karena meja di kantor tikwan yang terukir indah, yang biasanya di pergunakan untuk bersidang, juga lenyap tercuri secara gaib oleh siluman itu!

Penduduk dan pembesar setempat tidak tinggal diam. Dikumpulkan para penjaga dan Guru-Guru silat yang pandai untuk menangkap siluman yang tadinya dikira penjahat biasa, akan tetapi pada suatu waktu, ketika siluman itu dapat terkepung di dalam gelap, siluman itu mainkan sebuah golok yang luar biasa sekali karena mencorong di dalam gelap dan dalam segebrakan saja semua senjata para pengepung telah terbabat putus!

Kemudian, siluman yang belum kelihatan jelas mukanya itu, telah melarikan diri setelah merobohkan lima orang pengeroyok dengan goloknya yang lihai. Akhirnya diketahui oleh para petugas bahwa siluman itu tinggal di dalam sebuah Kuil rusak yang berada di luar kota, yakni di dalam sebuah hutan kecil.

Mereka mencoba untuk menggerebek ke tempat itu, akan tetapi alangkah heran dan terkejut mereka ketika mereka disambut oleh dua belas orang gadis yang bersenjata golok, dikepalai oleh siluman itu sendiri yang ternyata merupakan seorang laki-laki tua yang tertawa-tawa dan mukanya menyeramkan sekali!

Dua belas orang gadis itu adalah gadis-gadis cantik yang selama ini terculik oleh siluman itu, dan yang agaknya sudah tidak ingat akan sesuatu lagi dan hanya menurut perintah siluman itu! Dua belas orang gadis itu kini ternyata telah memiliki ilmu silat yang lihai, lebih-lebih siluman itu sendiri. Penduduk kota tentu saja tidak mau menyerbu para gadis itu yang berada dalam keadaan tak sadar, sedangkan untuk melawan siluman itu terlampau berat bagi mereka.

Setelah terjadi perang tanding yang mengakibatkan jatuhnya beberapa orang kurban lagi, mereka melarikan diri sambil membawa kawan-kawan yang terluka. Demikianlah, tak seorangpun berani lagi untuk mengganggu siluman itu dan siluman yang mengerikan itu kembali mengganggu kota sesuka hatinya.

Beberapa orang gadis telah terculik lagi disamping barang-barang berharga, sehingga orang-orang yang mempunyai anak gadis lalu lari mengungsi ke kota lain karena merasa takut. Kemudian, semua orang berunding, lalu mengambil keputusan untuk mengundang seorang yang berkepandaian tinggi untuk minta tolong mengungsikan siluman.

Mereka telah mendengar bahwa di puncak bukit Thai-Liang-San terdapat Hwesio-Hwesio yang gagah perkasa, maka beberapa orang lalu diutus naik ke bukit itu. Mereka bertemu dengan Seng Thian Hwesio dan menyampaikan permohonan mereka.

Sebagai seorang berkepandaian tinggi, tentu saja Seng Thian Hwesio menyanggupi untuk menolong mereka, akan tetapi sebelum ia berangkat, datanglah Swan Hong dan Giok Cui sehingga Hwesio yang tidak suka bermusuhan dengan orang itu lalu menyerahkan tugas ini kepada Sutenya.

Setelah tiba di kota Han-Kiok-Bun, Swan Hong lalu mengajak Giok Cui menemui pembesar setempat dan memperkenalkan diri sebagai wakil dari Seng Thian Hwesio untuk menolong mereka dan berusaha mengusir siluman itu.

Pembesar itu menjadi girang sekali dan menyambut kedua orang muda itu dengan penuh penghormatan, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa ragu-ragu sekali. Bagaimanakah dua orang muda yang belum berusia dua puluh tahun ini akan dapat menghadapi siluman yang dahsyat dan berbahaya itu.

Penduduk kota Han-Kiok-Bun, ketika mendengar bahwa ada pendekar muda yang datang hendak mengusir siluman, pada datang berbondong-bondong ke rumah pembesar itu dan semua orang juga merasa ragu-ragu, sungguhpun semua orang memperlihatkan muka girang dan merasa kagum melihat pemuda dan dara yang selain elok, juga amat gagah sikapnya itu.

Ketika Swan Hong dan Giok Cui mendengar cerita tentang sepak-terjang siluman itu, Giok Cui diam-diam merasa ngeri sekali, sedangkan Swan Hong bahkan makin tertarik dan ingin sekali menghadapi siluman yang aneh dan jahat itu. Mereka bermalam di kota itu, di rumah pembesar tadi untuk mencari keterangan yang jelas dan beristirahat, kemudian pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka menuju ke hutan yang dijadikan tempat tinggal siluman itu.

“Moi-moi, kurasa lebih baik kau jangan ikut memasuki hutan, karena agaknya siluman itu lihai sekali. Mendengar cerita orang-orang itu kemarin, apakah kau tidak merasa takut? Lebih baik kau menanti di luar hutan bersama orang-orang itu.”

Memang banyak sekali orang yang mengantar mereka sampai di luar hutan, di mana mereka lalu berhenti tidak berani melanjutkan perjalanannya. Giok Cui melotot dan berkata marah.

“Twa-ko, memang kuakui bahwa ilmu silatku masih rendah sekali, akan tetapi kalau kau menyangka bahwa aku takut, kau keliru! Aku tidak takut sama sekali dan ingin mencabut jenggot siluman tua itu!”

Swan Hong tersenyum dan di dalam hatinya ia merasa geli, karena dari wajah nona ini ia dapat menduga bahwa sebetulnya Giok Cui takut sekali. Bahkan agaknya nona ini kurang tidur semalam, mungkin takut kalau-kalau siluman itu datang mengganggunya! “Baiklah kalau begitu, bersiaplah kau dengan pedangmu.”

Keduanya lalu memasuki hutan, diikuti oleh pandangan semua orang yang tadi mengantarkan mereka sampai mereka lenyap di antara daun-daun pohon di dalam hutan. Giok Cui berjalan di sebelah kiri Swan Hong dengan pedang mestika di tangannya, sedangkan Swan Hong pun bersiap siaga menghadapi serangan mendadak. Mereka masuk terus dan ketika tiba di tengah hutan itu, benar saja mereka melihat sebuah Kuil tua dan rusak di bawah pohon yang besar.

Akan tetapi setelah mereka dekat, mereka terkejut dan heran sekali karena ternyata bahwa Kuil itu setelah terlihat dari depan, nampak indah dan mewah sekali. Di ruang depan dengan meja kursi yang terukir indah dan serba mahal, di dinding tergantung lukisan-lukisan yang biasanya hanya terdapat dalam kamar orang-orang kaya atau bangsawan. Di setiap ambang pintu digantungi muili (tirai) Sutera dan banyak pula lian (tulisan indah) menghias pinggir pintu!

Sama sekali tempat itu tidak merupakan sebuah Kuil lagi, lebih pantas disebut ruang depan dari rumah seorang hartawan! Ketika kedua orang muda itu saling pandang dengan penuh keheranan, tiba-tiba dari dalam Kuil itu berserabutan keluar tujuh belas orang gadis-gadis cantik yang berpakaian mewah dan masing-masing memegang sebatang golok tipis!

“Siapa berani lancang datang mengganggu rumah kami?” seorang diantara tujuh belas orang gadis cantik itu menegur sambil lari menghampiri Swan Hong dan Giok Cui yang masih berdiri bengong.

Melihat betapa gerakan mereka ketika berlari tidak menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat pandai, maka Swan Hong tidak mencabut goloknya, akan tetapi Giok Cui lalu melompat maju untuk menyambut keroyokan mereka.

“Moi-moi, hati-hati jangan sampai kau melukai mereka! Mereka adalah orang-orang yang tak berdosa.” kata Swan Hong dan hal ini sebetulnya tak perlu ia katakan.

Karena setelah dekat dengan mereka, Giok Cui hampir berseru heran melihat betapa para gadis cantik itu seakan-akan sedang bergerak dalam mimpi! Mata mereka bagaikan mata orang yang sedang mengigau dan tak sadar, sehingga tak terasa pula bulu tengkuk Giok Ciu bangun berdiri saking merasa seramnya.

Apakah yang terjadi di sini dan pengaruh apakah yang membuat mereka ini seperti itu? Ia teringat bahwa gadis-gadis itu adalah gadis-gadis dari kota Han-Kiok-Bun yang tadinya sama sekali tidak mengerti ilmu silat, apalagi mainkan golok yang tajam! Akan tetapi kini mereka itu dengan ganasnya maju mengurungnya dan menyerang dengan golok mereka bagaikan harimau-harimau betina mengamuk...

Jilid selanjutnya,