Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 10, karya Kho Ping Hoo - Kakek itu mengangguk-angguk. “Ya, pergi ke barat, memasuki hutan seorang diri saja. Ah, pemuda yang halus kulitnya dan lemah lembut gerakannya itu.”

Swan Hong merasa tertarik. Ia memang sudah bosan untuk melakukan perjalanan di tempat-tempat yang sunyi itu seorang diri saja. Dulu ketika pergi meninggalkan gunung, ia berdua dengan Suhengnya, maka sekarang setelah melakukan perjalanan seorang diri, ia merasa sunyi sekali.
“Lopek, aku harus berangkat sekarang!” kata Swan Hong sambil membayar harga makanan dan minuman.
“Eh, eh, mengapa begitu terburu-buru?”
“Aku hendak menyusul orang muda yang halus itu!”
“Sudah kenalkah kau kepadanya?”
“Belum, akan tetapi apa susahnya berkenalan di tempat sunyi ini? Agaknya… akupun takkan merasa sedap hati masuk keluar hutan liar tanpa kawan.”
Ketika Swan Hong sudah melangkah keluar, tiba-tiba Kakek itu memanggilnya kembali, “Kongcu...“
Swan Hong memutar tubuhnya dan berkata, “Ada apa lagi, Lopek?”
“Karena kau baik dan menyenangkan hatiku, baiklah aku membuka rahasia orang muda itu. Aku berani melakukan hal ini karena aku yakin kau bukan orang jahat.”
“Rahasia? Rahasia apakah itu?”
Kakek itu tertawa. “Ha, ha, pemuda itu tak dapat menipu mataku, yang biarpun tua akan tetapi mempunyai pengalaman banyak sekali. Tak seorangpun wanita di dunia ini yang akan dapat menipuku, betapapun pandaipun ia menyamar!”
“Jadi... dia adalah wanita, Lopek?”
“Tentu ia takkan mau mengaku, buktinya ia berpakaian seperti laki-laki, akan tetapi aku tahu pasti bahwa ia seorang gadis yang cantik! Jadi jika kau ingin menyusulnya, kau harus mengambil jalan ke kiri setelah tiba di jalan perempatan di luar hutan Siong. Ia menanyakan jalan tadi kepadaku dan aku menujukkan jalan itu yang terdekat.”
“Terima kasih, Lopek!” Entah mengapa ia sendiri tidak tahu. Swan Hong cepat-cepat pergi dan berlari sambil mengerahkan ilmunya berlari cepat. Timbul keinginannya untuk segera dapat menyusul gadis yang menyamar sebagai pemuda itu!
Swan Hong yang berlari cepat mendaki lereng bukit setelah tiba di jalan perempatan di luar sebuah hutan pohon Siong, lalu membelok ke kiri sesuai dengan petunjuk Kakek penjaga warung nasi itu. Ia ingin sekali cepat menyusul gadis yang menyamar sebagai pemuda, seperti yang diceritakan oleh pelayan tadi.
Akan tetapi, karena orang yang dikejarnya itu telah lebih dulu setengah hari daripadanya, ia tidak melihat bayangan seorangpun di sepanjang jalan. Ketika ia meliwati sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon Pek dan banyak pula terdapat tanaman-tanaman bunga yang sedang mekar, ia lalu masuk ke dalam hutan itu.
Entah mengapa ia masuk ke situ, mungkin karena ia menghubungkan gadis dan kembang. Di mana banyak kembang di situ tentu terdapat seorang gadis cantik, pikirnya! Sungguhpun pikiran ini hanya mengawur saja, akan tetapi kebetulan sekali memang tepat. Orang yang dicarinya memang berada di dalam hutan itu!
Baru kira-kira satu li ia memasuki hutan ini, tiba-tiba ia mendengar suara senjata beradu seakan-akan di dekat situ terdapat orang yang sedang bertempur. Ia segera mempercepat tindakan kakinya dan di sebuah lapangan terbuka. Ia melihat lima orang yang berpakaian sebagai perwira-perwira kerajaan sedang berdiri sambil bertolak pinggang dan tersenyum-senyum menonton pertempuran yang sedang berlangsung.
Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah cantik dan berpakaian mewah. Wanita inipun berdiri sambil menonton pertempuran antara seorang laki-laki muda berpakaian indah dengan seorang pemuda yang tampan sekali.
Pemuda ini memakai pakaian baju putih dan celana biru, kepalanya diikat dengan saputangan lebar. Mukanya benar-benar elok sekali, matanya jernih dengan bulu mata yang panjang, alisnya berbentuk indah dan bibirnya merah bagaikan berdarah.
Karena sudah mendapat keterangan dari penjaga warung nasi, Swan Hong dengan mudah dapat menduga bahwa gadis yang menyamar sebagai laki-laki tentulah pemuda yang elok ini! Maka ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Laki-laki yang bertempur dengan pemuda itu, berusia kira-kira dua puluh delapan tahun, bersenjata pedang dan gerakannya hebat dan ganas sekali. Dia ini bukan lain adalah Lui-Kong-Ciang Lee Kun, sedangkan wanita cantik yang berdiri menonton adalah Encinya, yakni Lee Kim Bwe yang berjuluk Jian-Jiu Koan-Im!
Bagaimana Sin-Kiam Siang-Hiap Sepasang Pendekar Pedang Sakti ini bisa berada di situ dan siapakah lima orang perwira itu? Seperti yang telah dituturkan di bagian depan, kedua saudara Lee ini menderita kekalahan dan pukulan hebat di dalam rumah Yap Ma Ek, dikalahkan oleh dua orang muda yang baru muncul di dunia kang-ouw, yakni Liok Siang Hwa dan Sim Tiong Han.
Dengan hati terluka dan sakit hati, kedua saudara ini lalu berangkat ke Kotaraja sambil membawa surat dari Ban Sek Hosiang yang menjadi kaki tangan Kaisar, lalu menghadap kepada para pembesar di Kotaraja yang bertugas “membersihkan para pemberontak” dan “memperalat orang-orang gagah.”
Setelah menghadap untuk memperkenalkan diri, kedua saudara Lee ini diterima dengan penuh penghormatan, dijamu dan diberi hadiah sehingga mereka makin tunduk dan setia terhadap pemerintah Mancu yang baru dan yang dianggapnya baik dan murah hati. Mereka lalu menyanggupi untuk mengadakan pembasmian kepada orang-orang kang-ouw yang dianggapnya masih mempunyai maksud memberontak atau tidak suka kepada pemerintah yang baru.
Tentu saja para pembesar itu maklum bahwa kedua saudara Lee yang sudah lama malang-melintang di dunia kang-ouw ini tahu dengan baik siapakah orang-orang kang-ouw yang dapat dibujuk dan siapa pula yang kiranya berbahaya.
Demikianlah, sambil membawa sepasukan tentara pilihan dan beberapa orang perwira yang terpandai ilmu silatnya, Lee Kim Bwe dan Lee Kun lalu mulai melakukan perjalanan untuk menyebar maut kepada para orang kang-ouw yang tidak mau tunduk, dan juga untuk membujuk banyak orang gagah agar supaya suka bekerja di bawah perintah Kaisar yang baru.
Dalam kesempatan ini, Sin-Kiam Siang-Hiap lalu mempergunakan pengaruhnya untuk mencelakakan orang yang dianggapnya musuh. Dan mereka tiada hentinya mencari Siang Hwa, Tiong Han, Lie Kai dan lain-lain orang gagah yang dulu mengunjungi rumah Yap Ma Ek untuk dibasminya dan membalas sakit hatinya.
Pada hari itu, ketika Lee Kim Bwe dan Lee Kun, bersama lima orang perwira yang berkepandaian tinggi melalui hutan di Pegunungan Tapa-San, tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang tampan sekali berjalan seorang diri, lalu memetik bunga-bunga rumput putih yang tumbuh di bawah pohon besar di pinggir jurang.
Tergerak hati Lee Kim Bwe melihat pemuda yang luar biasa eloknya itu sehingga dadanya terasa berdebar aneh. Biarpun Lee Kim Bwe tidak mata keranjang seperti adiknya, akan tetapi melihat seorang pemuda yang demikian tampannya, ia tertarik juga dan timbul hati suka dan menyinta. Ia lalu maju dan menegur sambil tersenyum manis.
“Kongcu, kau seorang diri di hutan ini mencari bunga untuk apakah?”
Pemuda itu terkejut dan menengok. Mukanya berobah merah ketika melihat betapa wanita cantik yang berpakaian mewah dan mukanya dibedaki tebal itu melirik dan tersenyum-senyum kepadanya dengan sikap yang genit sekali.
“Aku mencari kembang untuk obat. Ayahku sedang menderita sakit dan kembang ini adalah obat yang mujarab untuknya,” jawabnya lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan mereka.
Betapapun juga, Lee Kim Bwe tentu saja merasa malu untuk menyatakan perasaan hatinya di depan adiknya dan lima orang perwira itu, maka ia lalu mendapat akal. Mereka memang sudah biasa menawan orang-orang yang dicurigai, bahkan membunuh orang-orang yang dianggapnya berbahaya. Lalu katanya kepada kawan-kawannya.
“Pemuda ini mencurigakan sekali. Jangan-jangan ia memang sengaja mencegat kita dan ingin mengetahui rahasia kita. Lebih baik kita tangkap dia untuk diperiksa lebih lanjut.”
Lee Kun diam-diam maklum akan pikiran Encinya, akan tetapi lima orang perwira itu tentu saja tidak tahu dan mengira bahwa Lee Kim Bwe bicara sewajarnya. Maka majulah mereka serentak mengurung pemuda itu yang menjadi marah dan berkata keras.
“Kalian ini orang-orang apakah maka datang-datang hendak menggangguku? Aku tidak mengenal kalian dan janganlah kau mengganggu aku yang sedang mencarikan obat untuk Ayah.”
Lee Kun melangkah maju dan berkata sambil menyeringai. “Bocah sombong, jangan banyak bicara. Ketahuilah bahwa kami adalah petugas-petugas Kaisar yang berwewenang menahan dan menangkap orang yang kami curigai.”
“Aku tidak perduli akan segala macam Kaisar Mancu!” tiba-tiba pemuda itu membentak. “Pergilah!”
Marahlah Lee Kun mendegar ini. “Jahanam, kalau kau tidak mau menyerah dengan baik-baik, terpaksa aku mempergunakan kekerasan!” Sambil berkata demikian, ia mengulur tangan kanannya hendak menangkap pundak pemuda itu.
Akan tetapi dengan sekali gerakan tubuh saja, pemuda elok itu telah dapat mengelakkan diri dari serangan lawan. Wajahnya yang tampan dan putih itu menjadi merah. Dengan cepat ia memasukkan kembang-kembang obat itu ke dalam saku bajunya yang putih, kemudia ketika tangannya bergerak ke belakang, tahu-tahu ia telah mencabut pedangnya.
“Ha, ha, ha!” Lee Kun tertawa mengejek. “Agaknya kau dapat juga mainkan sedikit ilmu silat! Baik, lebih menyenangkan menangkap orang dengan menjatuhkan lebih dulu, daripada menagkap orang yang tak becus melawan!”
Lee Kun juga mencabut pedangnya. Hatinya besar dan berani karena di situ terdapat Encinya dan lima orang perwira yang pandai. Sambil berseru keras ia maju menyerang dengan pedangnya. Pemuda itu lalu menangkisnya dan mereka segera bertempur dengan seru. Akan tetapi, baru bertempur sepuluh jurus saja, tahulah Lee Kun bahwa sebenarnya ilmu pedang pemuda itu belum terlalu tinggi tingkatnya.
Kalau ia mau, dalam belasan jurus saja ia pasti akan dapat merobohkan atau menewaskan pemuda itu. Akan tetapi ia tidak mau berbuat demikian pertama karena memang mereka hendak menawan dan memeriksa pemuda ini yang belum diketahui kesalahannya.
Kedua karena tak mungkin pemuda dengan kepandaian serendah itu dapat dianggap berbahaya, dan ketiga ia hendak menyenangkan hati Encinya. Ia maklum bahwa diam-diam Encinya ingin mendapatkan pemuda yang tampan ini, maka kalau ia merobohkan dan menewaskan pemuda ini, biarpun lima orang perwira itu takkan menegurnya, akan tetapi tentu Encinya akan merasa kecewa sekali dan diam-diam akan marah kepadanya.
Oleh karena itu, Lee Kun lalu mengeluarkan ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut yang lihai dan sebentar saja pemuda itu menjadi bingung sekali karena lawannya lenyap dari pandangan matanya dan berputar-putar mengelilinginya dengan gerakan pedang yang menyilaukan mata! Pada saat yang tepat, Lee Kun menggerakkan pedangnya berputaran dan “Trang!” pedang pemuda tampan itu terpental ke atas dan terlepas dari pegangan.
“Ha, ha, ha, bocah hijau! Apakah kau masih belum mau menyerah?” Lee Kun mengejek sambil menyimpan pedangnya di dalam sarung pedang.
“Baru kau tahu kelihaian Lui-Kong-Ciang Lee Kun, ya?” Dengan sombong Lee Kun mengangkat dada dan memandang pemuda yang menjadi marah dan penasaran itu.
Akan tetapi, pemuda ini ternyata tabah sekali. Bukannya menyerah karena pedangnya telah terlempar, bahkan ia berlaku nekad dan menyerang dengan pukulan Pek-Hong Koan-Jit (Bianglala Putih Menutup Matahari) ke arah dada lawannya.
Sungguhpun serangan ini kalau ditujukan kepada seorang ahli silat yang umum saja akan merupakan serangan amat berbahaya dan mematikan, akan tetapi terhadap Lee Kun yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak ada gunanya sama sekali. Lee Kun tertawa mengejek, dan sekali menggerakkan kedua tangannya dengan jurus yang disebut Raja Naga Menyambar Hujan, ia telah menangkap kedua tangan lawannya itu!
Pemuda elok itu terkejut sekali dan segera mengangkat kedua kakinya menendang pusar lawan! Lee Kun menyumpah dan terpaksa melepaskan kedua tangan pemuda itu. Akan tetapi saking gemasnya ia lalu menyabet kaki lawan yang menendang sehingga tak dapat dicegah lagi tubuh pemuda itu terbanting di atas tanah.
“Kau hendak apa lagi sekarang?” Lee Kun mentertawakan dan ia lalu menubruk untuk meringkus pemuda yang masih rebah di atas tanah itu. Melihat gerakan Lee Kun yang menubruknya, tiba-tiba pemuda itu berseru ketakutan! Selagi Lee Kun merasa terheran, tiba-tiba dari sebelah kiri menyambar benda hitam kecil dan,
“Tak!” kepala Lee Kun telah dihantam oleh benda kecil itu sehingga ia berseru kaget dan kesakitan. Ternyata bahwa benda itu hanyalah sebutir buah angco yang sudah busuk! Semua orang menengok ke arah datangnya “senjata rahasia” ini dan dari belakang sebatang pohon besar muncullah seorang pemuda lain yang gagah dan cakap.
Pemuda ini adalah Lie Swan Hong yang dalam saat yang tepat telah menolong “pemuda” itu dari terkaman Lee Kun! Pemuda yang tertolong oleh Swan Hong itu segera melompat bangun dan memungut pedangnya yang tadi terlempar, lalu berdiri memandang ke arah Swan Hong dengan bingung dan juga gelisah.
Ia tidak tahu mengapa Lee Kun memekik kesakitan dan tidak jadi menubruknya, satu hal yang amat ditakutinya! Sementara itu, Lee Kun dan keenam orang kawannya lalu maju menghampiri Swan Hong dengan marah.
“Bangsat kecil!” Lee Kun membentak marah. “Siapakah kau yang berani menyerang Lui-Kong-Ciang Lee Kun secara menggelap?”
“Bangsat besar!” Swan Hong balas memaki. “Secara menggelap atau berterang, aku selalu tentu berani menyerangmu kalau kau berlaku sewenang-wenang menghina orang yang lemah!” setelah berkata demikian, Swan Hong memandang ke arah pemuda elok itu dan berkata menghibur.
“Adik yang baik, jangan khawatir, tujuh ekor babi hutan ini serahkan saja kepadaku untuk mengusirnya.”
Hampir terlompat kelima orang perwira kerajaan itu mendengar mereka disebut babi hutan. “Manusia bermata buta! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa? Kedua orang ini adalah Sin-Kiam Siang-Hiap yang namanya telah terkenal dikalangan kang-ouw! Kalau kau yang masih muda ini belum banyak mengenal orang-orang kang-ouw yang gagah, sedikitnya kau tentu mengenal kami sebagai perwira-perwira kerajaan yang tak boleh kau hina sesuka hatimu. Apakah kau telah bosan hidup?”
“Agaknya orang ini termasuk golongan pemberontak!” kata pula Lee Kim Bwe yang juga menjadi panas hatinya, terutama karena merasa khawatir kalau-kalau pemuda elok itu akan terlepas dari jeratnya.
Swan Hong di dalam perantauannya pernah mendengar nama Sin-Kiam Siang-Hiap ini, dan maklum pula bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang amat dibenci oleh orang-orang kang-ouw yang berjiwa patriot karena kedua orang ini telah menjual dirinya kepada Kaisar. Maka ia tersenyum sinis dan menjawab.
“Dengarlah kalian semua! Aku Lie Swan Hong tidak perduli siapa adanya kalian, akan tetapi kalian menghina orang, aku takkan tinggal diam saja. Jangan kira bahwa di dunia ini tidak ada orang lain yang berani melawan kalian!”
“Jahanam hina!” seru Lee Kun yang merasa panas dan marah karena kepalanya disambit tadi. Lalu secepat kilat ia telah mencabut pedangnya, langsung menyerang dengan tikaman pedang dalam gerak tipu Maling Sakti Mencuri Hati.
Tikaman ini mengarah dada kiri Swan Hong, agaknya benar-benar hendak mencuri jantung pemuda itu yang hendak disate dengan pedangnya yang tajam. Akan tetapi ia kecele kalau mengira bahwa pemuda yang baru datang ini sama lemahnya seperti pemuda yang elok itu, karena dengan sedikit miringkan tubuh saja, Swan Hong telah berhasil mengelakkan diri sambil mencabut golok di punggungnya.
“Kau mencari penyakit!” seru Swan Hong sambil memutar goloknya.
Baru saja ia memutar goloknya, terkejutlah Lee Kun karena gerakan golok ini benar-benar amat lihai sekali dan hampir saja pundaknya kena dibacok! Hal inipun terlihat dengan baik oleh Lee Kim Bwe dan kelima orang perwira itu, maka mereka tanpa banyak cakap lagi lalu maju mengeroyok Swan Hong. Swan Hong tersenyum menghina dan cepat memainkan ilmu goloknya Pek-Ho To-Hwat (Ilmu Golok Bangau Putih) yang luar biasa.
Sinar putih yang tebal dan lebar bergulung-gulung tidak saja melindungi tubuh pemuda yang berpakaian putih ini, akan tetapi juga gulungan sinar putih itu bercabang dan menyambar ke sana sini menyerang tujuh orang lawannya dengan hebat!
Pemuda elok pencari bunga tadi ketika melihat Swan Hong dikeroyok, segera menggerakkan pedangnya untuk membantu, akan tetapi Swan Hong segera mencegah. “Adik yang baik, jangan kau ikut campur. Biarlah aku membereskan mereka dengan tanganku sendiri. Lihat, perwira gemuk ini kurobohkan dulu!”
Sambil berkata demikian, goloknya bergerak makin cepat dan menjeritlah perwira gemuk itu karena pundaknya hampir putus terbabat golok! Ruyung di tangannya terlempar dan tubuhnya yang gemuk dan berat itu jatuh berdebuk di atas tanah.
Terdengar Swan Hong tertawa perlahan dan berkata lagi. “Nah, adik yang baik, sekarang lihatlah betapa babi hutan yang tadi mengganggumu akan kurobohkan!”
Ia memutar goloknya makin cepat lagi sehingga biarpun Lee Kun sudah mempertahankan diri sekuatnya, masih saja ujung golok menowel lengan kanannya sehingga ia berteriak kesakitan, pedangnya terlempar dan ia segera melompat mundur sambil memegangi lengan kanannya yang robek kulit serta dagingnya dan mengeluarkan banyak darah itu!
Bukan main terkejutnya Lee Kim Bwe dan perwira-perwira lain melihat kelihaian pemuda baju putih ini. Terutama sekali Lee Kim Bwe yang paling tinggi kepandaiannya diantara mereka. Wanita ini mengertak gigi dan mainkan ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut dengan mengerahkan tenaganya sehingga pedangnya mengeluarkan angin dan berbunyi berdesing-desing menyambar bayangan putih yang gesit itu. Akan tetapi, semua serangan ini disambut oleh Swan Hong dengan tenang dan tersenyum-senyum.
“Twako (Kakak), kau robohkanlah perempuan hina itu!” tiba-tiba pemuda elok itu berseru gembira melihat betapa penolongnya benar-benar gagah dan berhasil merobohkan dua oran pengeroyok.
“Apa? Perempuan ini?” jawab Swan Hong sambil menangkis pedang Lee Kim Bwe yang menusuk tenggorokannya. “Ah... aku agak sungkan untuk merobohkan seorang wanita, biarlah kurampas saja pedangnya!”
Setelah berkata demikian, goloknya mendesak hebat kepada Lee Kim Bwe sehingga wanita ini sibuk sekali menangkis. Akan tetapi, tangan kiri Swan Hong lalu bergerak dan dengan gerak tipu ilmu silat tangan kosong yang disebut Sian-Jin Siu-Kiam (Dewa Mencabut Pedang) yang luar biasa cepatnya, Ia berhasil merampas pedang Lee Kim Bwe!
Sesungguhnya Lee Kim Bwe telah memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lweekangnya juga sudah mencapai tingkat tinggi, akan tetapi jari-jari tangan kiri Swan Hong yang mencengkeram tangannya yang memegang pedang membuat tangannya menjadi gemetar dan kehilangan tenaga sehingga gagang pedang yang dipegangnya dengan mudah telah berpindah tangan!
Berbareng dengan terampasnya pedang, seorang perwira lain telah kena dilukai pahanya oleh pedang rampasan itu. Melihat sepak-terjang Swan Hong yang hebat ini, gentarlah hati semua pengeroyok dan mereka tidak berani menyerang lagi, hanya menangkis serangan untuk menjaga diri.
Sementara itu, pemuda elok tadi tiba-tiba teringat akan keadaan Ayahnya yang sedang sakit dan membutuhkan obat, maka ia lalu berseru. “Twako yang gagah, terima kasih atas pertolonganmu. Aku harus pulang membawa obat untuk Ayahku yang sakit!” setelah berkata demikian pemuda itu lalu berlari keluar dari hutan itu.
“He, tunggu dulu!” seru Swan Hong yang segera meninggalkan semua lawannya dan berlari menyusul pemuda itu.
Lee Kim Bwe dan para perwira tidak berani mengejar, karena mereka telah merasa jerih menghadapi pemuda baju putih yang lihai itu. Sambil membanting-banting kaki Lee Kim Bwe menyumpah-nyumpah, karena kembali ia telah dikalahkan dan dibikin malu oleh pendekar yang begitu muda, bahkan pedang mustikanya juga terampas dan terbawa pergi oleh Swan Hong yang agaknya lupa mengembalikan pedang itu! Terpaksa ia dan kawan-kawannya lalu menolong mereka yang terluka dalam pertempuran itu.
“He, adik yang baik, tunggu dulu...!” Swan Hong berteriak-teriak sambil mengejar dan tak lama kemudian ia dapat menyusul pemuda elok itu yang berdiri memandangnya dengan tersenyum manis.
“Twako, ada apakah kau mengejarku? Apakah ucapan terima kasihku tadi masih kurang cukup? Kalau perlu, aku mau berlutut untuk menyatakan terima kasih itu.” Ditanya secara tiba-tiba ini, Swan Hong menjadi gugup.
“Aku… aku… tidak bermaksud apa-apa...”
“Kalau begitu, mengapa kau mengejar seperti hendak menagih hutang padaku?”
Sepasang mata yang tajam dan bening itu memandang seakan-akan hendak menembus hatinya, sedangkan mulut yang manis itu tersenyum mengejek. Swan Hong makin bingung. Sesungguhnya ia memang tidak mempunyai keperluan apa-apa terhadap pemuda elok ini. Setelah beberapa kali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pemuda ini lalu berkata.
“Sebetulnya aku... aku sejak tadi telah mencarimu, aku mendengar dari tukang warung bahwa ada seorang pemuda lewat di sini dan menuju ke hutan. Karena tempat ini amat sepi, aku menjadi tertarik dan ingin mempunyai kawan dalam perjalanan. Tidak tahunya aku bertemu dengan kau yang sedang dihina orang, maka... maka setelah kita bertemu, mengapa kau pergi begitu saja? Aku... aku ingin berkenalan dengan kau, adik yang baik. Kau siapakah dan mengapa kau dikeroyok oleh penjahat-penjahat yang menjadi penjilat Kaisar tadi?”
“Ah, aku memang seorang yang kurang penerima,” jawab pemuda elok itu, “sehingga lupa memperkenalkan diriku yang rendah dan bodoh. Baiklah, in-kong (tuan penolong), aku adalah seorang she Bun, dan aku tinggal di sebelah timur pegunungan ini, di sebelah dusun yang disebut Keng-Sin-Chung. Ayahku sedang sakit berat dan obatnya hanya kembang rumput putih yang harus kucari di hutan ini. Nah, sudah jelakah sekarang?”
Swan Hong mengangguk-angguk. “Sudah, sudah jelas, akan tetapi harap kau jangan menyebutkan tuan penolong. Aku lebih senang disebut Twako saja. Aku adalah Swan Hong, she Lie”
“Aku sudah tahu dan sudah mendengar ketika kau tadi memperkenalkan diri kepada mereka.” Memotong pemuda elok itu yang segera disambungnya.
“Akan tetapi aku belum mendengar murid siapakah kau yang berilmu tinggi ini.”
“Suhuku adalah Lam Hwat Hwesio di Thai-Liang-San yang sudah meninggal dunia.”
Pemuda elok itu agaknya terkejut mendengar nama ini. Ia berpikir sebentar, lalu berkata, “Rumahku tidak jauh dari sini, sukakah kau mampir dan berkenalan dengan orang tuaku? Kurasa ibuku akan girang sekali mendengar tentang Gurumu itu.”
Swan Hong menjadi girang sekali, dan ia mengangguk-angguk kepala beberapa kali. “Tentu saja aku mau, karena memang aku ingin mengenal kau dan keluargamu lebih dekat lagi!”
Pemuda itu tiba-tiba melihat pedang Lee Kim Bwe yang masih terpegang oleh Swan Hong. “Eh, mengapa kau membawa-bawa pedang wanita jalang tadi?”
Baru Swan Hong teringat akan pedang itu. Ia mengangkat tangannya dan memandang ke arah pedang yang terukir bagus dan berkilau tajam ini lalu berkata, “Pedang ini bukan pedang sembarangan dan tidak patut berada dalam tangan wanita busuk itu. Maka aku sengaja merampasnya dan kalau kau suka, kau boleh memiliki pedang ini!”
Ia menyerahkan pedang itu yang diterimanya oleh pemuda elok tadi dengan girang. Pemuda itu memeriksa dan mengagumi pedang yang benar-benar indah dengan wajah berseri, akan tetapi tiba-tiba ia memandang tajam kepada Swan Hong dan berkata. “Kau bilang pedang ini tidak patut berada dalam tangan seorang wanita busuk mengapa kau berikan kepadaku?”
Kembali Swan Hong menjadi gagap. “Aku... aku... eh, kurasa karena kau tadi bermain pedang, maka sudah patut sekali kalau pedang ini berada di tanganmu.”
“Akan tetapi ilmu pedangku masih rendah sekali.”
“Ilmu pedang dapat dipelajari lagi, akan tetapi pedang macam ini sukar didapat.”
“Kau mau mengajarku?”
“Mengapa tidak? Sungguhpun aku sendiri juga kurang pandai menggunakan pedang,” jawab Swan Hong.
Dengan, girang dan lupa mengucapkan terima kasih, pemuda elok itu lalu mengeluarkan pedangnya sendiri yang segera diselipkan di ikat pinggang, sedangkan pedang mestika itu lalu dimasukkannya di dalam sarung pedang.
“Hayo kita berangkat, Ayah dan Ibu tentu akan senang berkenalan dengan kau.” Mereka lalu berlari cepat menuju ke timur, dan Swan Hong sengaja berlari lambat agar pemuda kawannya itu tidak tertinggal.
“Eh, aku lupa. Apakah kata orang tuamu kalau mereka melihat kau pulang bersama seorang pemuda asing? Apakah mereka takkan marah?” tiba-tiba Swan Hong bertanya.
Mendengar ucapan ini, pemuda elok itu menahan tindakan kakinya secara tiba-tiba dan berdiri menatap wajah Swan Hong dengan mata terbelalak. “Apa... Apa maksudmu?” tanyanya dengan muka merah.
“Maksudku yang mana?” Swan Hong balas bertanya heran.
“Mengapa kau bertanya bahwa orang tuaku akan marah melihat aku pulang dengan seorang... Pemuda asing? Kita sama-sama pemuda apakah salahnya kita datang bersama?”
Barulah Swan Hong insaf bahwa pernyataannya tadi memang menimbulkan kecurigaan, karena membayangkan seakan-akan ia telah mengetahui rahasia pemuda elok ini! Hal ini, terutama sekali sinar mata pemuda elok itu yang demikian tajamnya, membuat ia makin bingung dan gugup.
“Tidak apa-apa... maksudku... mereka tentu akan heran melihat kau mendapat kawan... pemuda, eh... maksudku... tidak apa-apa nona...!”
Tiba-tiba wajah pemuda elok itu menjadi pucat dan sebentar kemudian berubah merah. Sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api dan dadanya berombak naik-turun. Swan Hong ingin sekali menampar mulutnya sendiri yang sudah terpeleset dan tanpa disengaja menyebut “nona” tadi, maka ia hanya berdiri dengan bengong dan gelisah.
“Kurang ajar!!” bentaknya dan sebelum Swan Hong dapat mengelak karena ia masih kesima, tangan gadis itu bergerak cepat dan menampar pipinya.
“Plak!” pipi Swan Hong terasa pedas dan panas sedangkan sepasang mata gadis yang berpakaian pria itu mengeluarkan dua titik air mata! Kemudian, melihat betapa pipi Swan Hong menjadi merah karena tamparannya, gadis itu merasa menyesal sekali dan ia mengeluarkan dua tangannya untuk menutupi mukanya sambil menundukkan muka.
“Kau... kau kurang ajar!” katanya menahan isak. “Kau sudah tahu bahwa aku seorang wanita, akan tetapi kau pura-pura tidak tahu. Jadi karena itukah kau memperlihatkan kegagahanmu, menunjukkan bahwa kau budiman, menolongku, bahkan memberikan hadiah pedang ini? Ah... laki-laki ceriwis, laki-laki kurang ajar!” Sambil berkata demikian gadis itu lalu melepaskan sarung pedangnya dan melemparkan pedang itu ke atas tanah. Mukanya menjadi merah seperti udang direbus.
“Nah, terima kembali pedangmu!” Swan Hong menjadi bengong dan untuk sesaat tak mampu bergerak maupun mengeluarkan sepatah kata. Ia masih bengong saja ketika gadis itu berlari pergi. Kemudian ia mengejar cepat dan menghadang di jalan.
“Nona... Maafkan aku, nona. Sama sekali aku tidak hendak berlaku kurang ajar! Aku memang sudah tahu bahwa kau adalah seorang gadis yang berpakaian pria, akan tetapi aku diam saja karena kalau aku katakan, aku khawatir kau akan menjadi malu karenanya. Aku... aku dengan tulus hati ingin berkenalan denganmu, seujung rambutpun tidak mengandung maksud buruk!”
“Tidak, tidak! Aku tidak dapat membawa kau pulang. Apa akan kata Ayah-Ibuku? Seorang gadis membawa pulang seorang pemuda, bukankah ini janggal seperti kata-katamu tadi? Ah... kau tentu memandangku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu...!”
Setelah berkata demikian, gadis itu kembali berlari cepat, akan tetapi dengan beberapa kali lompatan saja Swan Hong kembali telah menghadang di depannya, bahkan kini pemuda ini lalu menjura dengan sikap hormat sekali.
“Nanti dulu, nona. Sekali lagi aku mohon maaf sebanyaknya, dan... untuk menebus dosaku, aku bersedia memeriksa dan mengobati penyakit Ayahmu. Ketahuilah bahwa aku pernah mempelajari ilmu pengobatan, dan mudah-mudahan saja aku akan dapat mengobati Ayahmu.”
Kini gadis itu memandangnya penuh perhatian, dan mukanya menyatakan keheranan dan juga kekaguman. “Sesungguhnyakah...?” ia ragu-ragu.
“Nona, biarlah kau buktikan sendiri apakah aku benar-benar seorang pemuda kurang ajar yang suka menyombong atau membohong.”
Untuk beberapa lama gadis itu memandang dengan matanya yang telah menjadi bening kembali, kemudian gadis itu tersenyum. Alangkah anehnya, pikir Swan Hong dengan hati tertarik. Baru saja mengeluarkan air mata dan sekarang sudah pandai tersenyum pula!
“Baiklah... kalau begitu... Ingkong.”
“Sst, jangan menyebut seperti itu, nona berat hatiku menerimanya. Cukup dengan... Twako saja.”
Gadis itu tersenyum manis. “Baiklah, Twako...” Ketika gadis aneh itu hendak berjalan lagi, tiba-tiba Swan Hong menahannya.
“Nanti dulu, nona.” Ia menengok heran.
“Apa lagi?”
“Pedang itu...” kata Swan Hong dengan muka merah dan pandang mata memohon. “Sudilah kau menerimanya sebagai tanda ketulusan hatiku.” Untuk beberapa lama gadis itu memandangnya lalu tersenyum lebar.
“Baiklah... Twako!”
Bukan main girangnya hati Swan Hong. Di dalam hati ia ingin sekali berjingkrak saking gembiranya, akan tetapi tentu saja ia tidak mau melakukan hal ini, hanya melompat cepat kembali ke tempat tadi untuk mengambil pedang yang dilemparkan oleh gadis itu.
Ketika ia memberikan pedang itu, gadis yang manis ini menerima dengan muka merah lalu mengenakan sarung pedang itu pada ikat pinggangnya. Mereka berjalan lagi, kini tidak berani saling pandang. Entah mengapa, keduanya merasa malu untuk bertemu pandang. Keadaan menjadi sunyi, yang terdengar hanya daun-daun kering yang terpinjak oleh kaki mereka.
“Sebenarnya, bagaimanakah kau bisa mengetahui bahwa aku bukan seorang pemuda tulen?” suara gadis itu memecah kesunyian.
Swan Hong tersenyum dan berkata, “Aku tidak lebih pintar daripada penjahat-penjahat tadi, nona, dan mataku juga tidak lebih awas. Sebenarnya, aku dapat mengetahui keadaanmu dari penuturan Kakek penjaga warung nasi di bawah gunung. Dialah yang menceritakan keyakinannya bahwa pemuda elok yang makan di warungnya sebelum aku tiba, adalah seorang gadis yang menyamar sebagai pemuda.”
Gadis itu tertawa perlahan, “Awas betul mata Kakek itu.”
“Nona, kalau aku boleh bertanya, siapakah sebenarnya namamu?”
“Namaku Giok Cui, she Bun.” Setelah percakapan ini, gadis itu ternyata amat lincah dan pandai bergaul...