Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 09, karya Kho Ping Hoo - Karena sukar untuk mendapat perahu tambangan yang murah, dan karena perjalanan mereka juga tidak tentu tujuannya, maka mereka lalu membuat perahu sendiri. Bukan perahu biasa terbuat daripada batang pohon, melainkan sebuah rakit atau getek yang terbuat daripada beberapa potong batang bambu yang ditumpuk-tumpuk dan dijajarkan, serta diikat dengan tali bambu pula.

Dengan rakit yang sederhana inilah mereka melakukan perjalanan air. Di sepanjang jalan mereka mengalami banyak kegembiraan karena memang tamasya alam di kanan kiri sungai amat indahnya. Sepanjang perjalanan ini, mereka dapat menangkap ikan yang banyak terdapat di sungai itu.
Seng Tee Hwesio sengaja melepaskan pantangannya dan ikut pula makan daging ikan, karena memang amat sukar untuk memegang teguh pantangan makan dan hanya makan sayur saja apalagi dalam perjalanan.
Berhari-hari mereka melakukan perjalanan tanpa ada rintangan yang berarti. Ada beberapa orang bajak sungai yag melihat perjalanan mereka, akan tetapi melihat bahwa yang melakukan pelayaran hanya seorang pemuda dan seorang Hwesio yang tidak membawa barang berharga, bahkan yang ditumpangipun hanya rakit bambu.
Maka para bajak itu tiada nafsu untuk merampok mereka! Ketika rakit yang mereka naiki itu tiba di kota Icang di Propinsi Hopak, mereka meminggirkan rakit dan mendarat di kota yang besar dan ramai itu.
Mereka telah melakukan pelayaran hampir sebulan lamanya dan sudah mengunjungi banyak dusun dan kota yang dilalui oleh sungai Yang-Ce. Keadaan kota ini amat menarik perhatian Seng Tee Hwesio karena menurut kabar, disitu terdapat sebuah Kuil Buddha yang besar, yakni yang disebut Kuil Thian Hok Si.
Pusat keramaian kota Icang adalah sebuah jalan besar yang penuh dengan toko-toko di kanan kirinya. Terdapat pula rumah-rumah penginapan yang memasang merek besar di samping restoran-restoran yang dari jauh sudah memanggil dan menarik perhatian orang dengan bau masakan sedap yang menimbulkan selera.
Swan Hong dan Seng Tee Hwesio juga amat tertarik oleh bau masakan yang amat sedap, yang datang dari sebuah restoran di sudut sana. Masakan udang dari Icang amat terkenal dan udang yang diambil dari sungai itu segar-segar dan besar-besar. Seng Tee Hwesio pernah menikmati masakan udang ini, maka ia lalu mengajak Sutenya mampir ke rumah makan itu. Di dalam ruang restoran banyak orang yang sudah duduk dan sedang makan.
Mendengar percakapan mereka, dapat diketahui bahwa sebagian besar orang yang makan di situ adalah orang luar kota dan orang luar daerah. Memang, kota Icang banyak dikunjungi orang-orang jauh, bukan hanya untuk berdagang, akan tetapi juga untuk berpesiar karena pemandangan di wilayah lembah sungai Yang-Ce memang indah.
Swan Hong dan Seng Tee Hwesio disambut oleh seorang pelayan dan mereka mendapat tempat duduk di meja dekat pintu yang baru saja ditinggalkan tamu yang sudah selesai makan. Memang lezat masakan restoran itu sehingga Seng Tee Hwesio sampai lupa akan jubah Pendeta yang dipakainya dan kalau Swan Hong habis seporsi, Hwesio ini habis dua porsi.
Pada waktu mereka tengah menikmati masakan itu sambil minum arak ringan, datanglah seorang Hwesio lain yang bertubuh gemuk dan berkepala klimis. Hwesio ini tangan kanannya memegang tongkat yang besar dan berat, sedangkan tangan kirinya bukan membawa tasbeh atau batok seperti biasa, melainkan mengepit sebuah buku catatan besar!
Tadinya Swan Hong dan Seng Tee Hwesio yang duduk di dekat pintu, mengira bahwa Hwesio itu hanya berdiri di ambang pintu lalu mengetok-ngetokkan tongkat pada lantai. Yang aneh sekali, ketika pengurus rumah makan melihat kedatangan Hwesio ini, ia segera tersenyum lebar, tertawa dan membungkuk-bungkuk dengan sikap menjilat sekali sambil berlari menghampiri, menyambut Hwesio itu.
Tentu saja Swan Hong dan Seng Tee Hwesio merasa heran mengapa untuk menyambut seorang Hwesio, sampai pengurus sendiri yang keluar dari kantornya, bukan oleh pelayan yang banyak terdapat di situ.
“Silahkan masuk, Twa-Suhu. Sumbangan sudah kusediakan.”
Akan tetapi Hwesio gemuk itu tidak menggerakkan tubuhnya, bahkan lalu membuka buku catatannya, dan setelah mencari-cari di dalam buku catatan, ia lalu berkata perlahan,
“Hm, hanya lima tail? Terlalu sedikit untuk rumah makan yang dikunjungi tamu sebanyak ini. mulai pekan ini Pinceng naikkan menjadi sepuluh tail!”
Pengurus rumah makan itu menjadi pucat ketika mendengar bahwa uang sumbangan untuk sepekan dinaikkan sampai sepuluh tail, maka sambil menjura ia berkata dengan suara memohon,
“Twa-Suhu, mohon maaf sebanyaknya. Sepuluh tail terlampau berat bagiku, keuntunganku tak ada, sekain banyaknya dalam sepekan? Twa-Suhu, kasihanilah kami, perusahan kami akan bangkrut kalau membayar sepuluh tail sepekan!”Tiba-tiba sepasang mata Hwesio gemuk itu melotot. “Apa...? Menyumbang harus dengan hati rela! Kalau kau menolak dan membikin marah Sang Buddha sehingga air sungai membanjir menenggelamkan rumah makan ini, apakah itu bukan berarti semua milikmu akan musnah?” Setelah berkata demikian, Hwesio gemuk itu memutar tubuhnya dan meninggalkan rumah makan itu dengan langkah lebar.
“Twa-Suhu nanti dulu...” si pengurus rumah dengan muka pucat lalu mengejar dan keluar dari rumah makan itu.
Swan Hong dan Seng Tee Hwesio merasa heran sekali mendengar percakapan itu. Ketika pelayan datang untuk mengambil mangkok-mangkok kosong dan menerima uang pembayaran, Swan Hong lalu menambah pembayaran itu dengan beberapa potong uang kecil, lalu bertanya kepada pelayan yang berterima kasih menerima hadiah itu.
“Lopek, sesungguhnya siapakah Hwesio tadi dan ada urusan apakah dia dengan rumah makan ini?”
Agaknya pelayan itu merasa ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi setelah menengok ke kanan kiri dan melihat bahwa tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, dengan suara berbisik ia berkata, “Hwesio itu adalah pengumpul sumbangan dari klenteng Thian-Hok-Si dan...” tiba-tiba ia memandang kepada Seng Tee Hwesio dengan curiga,
“Akan tetapi... Apakah Siauw-Suhu ini bukan anggauta Thian-Hok-Si?” Seng Tee Hwesio menggelengkan kepalanya yang gundul.
“Bukan, Pinceng datang dari tempat yang jauh dan ingin mengetahui apakah yang terjadi dengan Hwesio gemuk tadi?”
Pelayan itu bernapas lega lalu melanjutkan keterangannya. Dengan singkat ia menceritakan bahwa sudah terjadi kebiasaan di Kelenteng Thian-Hok-Si bahwa setiap pekan, semua pedagang di kota Icang harus memberi keuntungan yang sudah ditentukan jumlahnya.
Tiada ada orang yang berani menolak jumlah sumbangan yang ditentukan oleh Hwesio itu, karena siapa yang menolak tentu akan tertimpa malapetaka. Ada beberapa orang yang berani menolak, malamnya tewas dengan tiba-tiba dan tidak diketahui sebabnya. Tidak terdapat luka di tubuhnya, akan tetapi orang itu tahu-tahu mati di dalam kamarnya!
“Oleh karena itulah, maka majikan kami tidak berani menolaknya.”
Berkerut alis Seng Tee Hwesio mendengar hal ini. Mana ada sumbangan yang dikumpulkan dengan paksa? “Dan ia tadi bicara tentang banjir, apakah artinya itu? dan peraturan sumbangan ini apakah sudah terjadi semenjak dahulu?” tanyanya.
“Sudah, sudah lama sekali terjadi, dan menurut cerita orang-orang yang sudah lama tinggal di sini, memang beberapa puluh tahun yang lalu kota ini disapu bersih oleh air sungai Yang-Ce yang meluap jauh. Sumbangan ini dilakukan kurang lebih sudah tiga tahun yang lalu, semenjak Kelenteng itu diketuai oleh seorang Hwesio bernama Ban Sek Hosiang.
“Agaknya pelayan itu merasa telah bicara terlampau banyak, maka ia lalu meninggalkan kedua orang tamunya itu sambil minta maaf karena tak berani melanjutkan percakapan itu. Setelah keluar dari rumah makan itu, Seng Tee Hwesio berkata, “Sute, keadaan Kelenteng Thian-Hok-Si itu benar-benar mencurigakan. Marilah kita berkunjung kesana melihat-lihat!"
Swan Hong juga menyatakan penasarannya, maka kedua orang ini lalu menuju ke Kuil Thian-Hok-Si yang berada di ujung sebelah barat. Dari jauh sudah nampak bangunan itu, banyak sekali pengunjung yang hendak bersembahyang atau membayar kaul. Selain patung Ji-Lai-Hud yang dipuja di Kelenteng ini, juga terdapat banyak sekali patung-patung Dewa yang dipuja.
Bangunan Kelenteng ini kuno sekali, akan tetapi masih kokoh dan agaknya mendapat rawatan yang baik sehingga cat-catnya pun nampak baru dan mewah. Di atas genteng yang tebal, terdapat sepasang naga batu yang indah seakan-akan hidup.
Di ruang depan, lantainya terbuat daripada batu halus yang bersih mengkilap dan meja-meja sembahyang yang dipasang di situ amat besar dan panjang, penuh dengan hidangan-hidangan mahal.
Lilin-lilin yang terpasang di atas meja juga lilin-lilin berwarna yang digambari, besar dan panjang, lilin mahal-mahal belaka. Penutup meja dari kain bersulam gambar dewa-dewa, disulam dengan benang emas dan indah sekali.
Pendeknya, Kelenteng ini mewah sekali dan belum pernah kedua orang murid dari Thai-Liang-San itu melihat sebuah Kelenteng seindah ini. Terutama sekali Seng Tee Hwesio, ia merasa kagum dan suka sekali kepada Kelenteng yang besar dan baik ini seakan-akan kehilangan kesuciannya karena terlampau mentereng dan penuh dengan keindahan dan kemewahan duniawi.
Ketika Swan Hong dan Seng Tee Hwesio masuk ke ruang depan, terjadi pula hal yang terasa janggal oleh Seng Tee Hwesio. Seorang diantara para Hwesio penyambut, datang menyambut mereka dengan tersenyum dan mengangkat kedua tangan sambil bertanya, “Apakah jiwi hendak bersembahyang?”
Hal ini bagi orang lain terdengar biasa saja, akan tetapi bagi Seng Tee Hwesio, ia merasa amat heran. Biasanya, dimana saja kalau seorang Hwesio mengunjungi Kelenteng tempat lain, pasti ia akan disambut sebagaimana layaknya saudara seagama, dibawa masuk ke dalam untuk bertemu dengan Hwesio kepala, dan mendapat pelayanan seperti seorang saudara yang datang dari jauh.
Akan tetapi kini ia disambut seperti orang biasa saja yang datang hendak bersembahyang! Hal ini hanya dapat terjadi karena dua hal, yaitu Hwesio penyambut itu tidak tahu aturan, atau Hwesio kepala memang seorang yang sombong. Adapun Swan Hong ketika mendengar pertanyaan dari Hwesio penyambut, menggelengkan kepala dan menjawab,
“Tidak kami hanya hendak melihat-lihat saja.” Mendengar jawaban ini, Hwesio penyambut itu nampak kurang senang, lalu katanya acuh tak acuh.
“Kalau hanya melihat-lihatpun, boleh asal memenuhi dua peraturan di sini.”
Mendongkol sekali hati Seng Tee Hwesio mendengar ini, dan cepat ia berkata, “Aturan macam apakah ini?”
Hwesio penyambut memandang kepadanya dengan mata tajam lalu tersenyum menyeringai dan berkata, “Pertama, tidak boleh masuk ke ruang tengah, pendeknya tak boleh melalui pintu-pintu itu, dan kedua harus menyumbang sekadarnya dengan memasukkan uang ke dalam kantong di sudut sana!”
Setelah berkata demikian, Hwesio penyambut itu meninggalkan mereka untuk menyambut orang-orang lain yang baru datang. Swan Hong dan Seng Tee Hwesio saling pandang dengan heran, penasaran dan mendongkol. Luar biasa sekali Kelenteng ini, pikir Seng Tee Hwesio, tahunya hanya ingin menerima uang sumbangan saja!
“Hm, ingin sekali aku bertemu muka dengan Hwesio kepala. Orang macam apakah dia yang memimpin Kelenteng menjadi tempat pemerasan dan kemewahan?” kata Seng Tee Hwesio.
“Benar, Ji-Suheng (Kakak seperguruan kedua), akupun ingin sekali melihat mukanya!” kata Swan Hong. Akan tetapi tiba-tiba pemuda ini mengutik tangan Seng Tee Hwesio sambil memandang keluar.
Dari luar pintu pekarangan Kelenteng berjalan masuk dua orang sambil bercakap-cakap. Yang seorang adalah Hwesio gemuk pengumpul sumbangan tadi, sedangkan orang kedua adalah seorang yang berpakaian sebagai Tosu, sudah tua dan tangan kirinya putus sampai pada sikunya!
Swan Hong dan Seng Tee Hwesio lalu menyelinap di antara para tamu dan dengan diam-diam mereka mendekati dua orang yang berjalan sambil bercakap-cakap itu.
“Lui Totiang, kali ini dia harus diberi hajaran keras! Usahanya demikian maju dan uang sepuluh tail saja...” tiba-tiba tanpa disengaja Hwesio gemuk itu melihat Seng Tee Hwesio, maka ia menghentikan percakapannya, sedangkan Seng Tee Hwesio juga pura-pura tidak melihat atau mendengarnya.
Melihat keadaan orang-orang yang berkunjung ke situ agaknya tidak memperdulikan Tosu buntung itu. Swan Hong dan Suhengnya dapat menduga bahwa Tosu buntung itu tentu sudah biasa terlihat di tempat ini. Dugaan mereka memang betul karena Tosu buntung itu bersama Hwesio gemuk pengumpul sumbangan, lalu terus saja masuk ke dalam pintu yang terlarang bagi Swan Hong dan Seng Tee Hwesio tadi!
Pembaca yang sudah tahu akan Ban Sek Hosiang yang ternyata menjadi ketua Kelenteng sebagaimana yang dituturkan oleh pelayan restoran tadi kepada Swan Hong, tentu dapat menduga siapa adanya Tosu buntung ini.
Memang, dia ini bukan lain adalah Lui Kok, pengemis tua pandai melukis yang kini telah mengubah pula pakaiannya dan menyamar sebagai seorang Tosu! Tangan kirinya buntung karena terbabat putus oleh Sim Tiong Han, pemuda gagah perkasa murid Kun-Lun-Pai itu.
Semenjak mereka gagal dalam penyerbuan mereka terhadap orang-orang gagah di rumah pendekar tua Yap Ma Ek, mereka mendapat teguran keras sekali dari pemerintah Mancu dan untuk menghibur hatinya dan mengobati tangannya yang buntung, Lui Kok beristirahat di Kelenteng Ban Sek Hosiang yang menjadi sahabat baiknya.
Akan tetapi sesungguhnya tak tepat kalau dikatakan ia beristirahat, karena ia diam-diam menjadi pembantu utama dari Ban Sek Hosiang dalam menjalankan dan membuktikan kutukannya terhadap orang-orang yang tidak mau menyumbangkan uang untuk Kelenteng Thian-Hok-Si. Lui Kok inilah yang keluar di waktu malam gelap, mendatangi orang-orang yang keras kepala itu untuk memberi peringatan atau bahkan membunuh sesuai dengan perintah Ban Sek Hosiang!
“Suheng tentu mendengar ucapan si gemuk tadi dan maklum akan maksudnya?” tanya Swan Hong kepada Suhengnya. Seng Tee Hwesio mengangguk dan wajah Hwesio ini agak pucat karena marah dan penasaran sekali melihat orang-orang yang menyebut diri sebagai seorang suci ternyata merupakan segerombolan orang jahat, atau perampok-perampok yang berkedok agama!
“Aku tahu dan malam hari ini kita harus menjaga keselamatan pemilik rumah makan itu!”
Malam hari itu gelap dan sunyi. Melihat bahwa udara diliputi mendung tebal dan agaknya akan turun hujan, toko-toko sudah menutup pintu lebih siang daripada biasanya dan keadaan di jalan-jalan sunyi senyap. Di dalam kegelapan itu, nampak berkelebat bayangan yang gesit sekali di atas genteng-genteng rumah penduduk kota Icang.
Dengan enaknya, bayangan ini melompat-lompat bagaikan katak dari rumah satu ke rumah yang lain, dan ia menuju ke restoran Kouw-Lok yang terkenal masakan udangnya itu. Bagaikan seekor kucing, ia melompat ke atas genteng restoran itu, lalu setelah menengok ke sekitar tempat itu yang sunyi-senyap, ia melompat ke atas tanah bagaikan seekor burung walet menyambar.
Tanpa mengeluarkan suara kakinya menginjak tanah dan tangan kanannya lalu mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggang. Orang ini adalah Lui Kok si tangan buntung yang hendak melakukan pekerjaannya memberi “Hajaran” kepada pemilik restoran yang berani ragu-ragu dan menolak uang sumbangan sepuluh tail sepekan!
Golok itu dicabut hanya untuk dipergunakan sebagai pembongkar jendela atau pintu, karena seperti biasa, ia tidak mau turun tangan mempergunakan senjata tajam. Cukup dengan sekali totok pada belakang kepala atau ulu hati korbannya, maka pada keesokan harinya si korban itu akan dinyatakan mati karena kutukan Dewa di Kelenteng Thian-Hok-Si.
Dengan mudah, biarpun tangannya hanya tinggal satu. Lui Kok membuka jendela dan setelah menyimpan goloknya kembali, ia melompat masuk melalui jendela yang sudah terbuka itu. Ia mencari-cari dan akhirnya masuk ke dalam kamar terbesar di rumah itu, terus memasuki pintu dengan amat beraninya.
Kamar itu besar dan hanya remang-remang saja karena hanya diterangi oleh sebuah lilin kecil di atas meja. Dengan langkah tetap, Lui Kok lalu menghampiri tempat tidur dan merasa pasti bahwa calon korbannya tentu telah tidur nyenyak.
Ia melihat dua buah pasang sepatu di depan ranjang, sepasang sepatu laki-laki dan sepasang sepatu perempuan. Ha, tentu dia sudah tidur dengan isterinya, pikir Lui Kok sambil tersenyum-senyum. Alangkah akan terkejutnya nyonya itu apabila besok pagi-pagi ia melihat suaminya telah tewas tanpa terluka sedikitpun juga!
Tentu rumah makan itu akan berkabung penuh suara tangisan dan kemudian memberi sedekah yang besar untuk Kelenteng Thian-Hok-Si agar supaya kemarahan Dewa dapat berkurang! Akan tetapi, ketika ia membuka kelambu, ia hanya melihat seorang laki-laki saja tidur berselimut, tidak kelihatan ada orang perempuan tidur di situ.
Karena keadaan amat gelap dan iapun tidak mau banyak pusing lagi, ia lalu menggerakkan tangan kanannya, mengirimkan pukulan yang berupa totokan ke arah ubun-ubun kepala orang laki-laki yang sedang tidur itu! Tiba-tiba laki-laki itu tertawa menghina dan tubuhnya bergerak cepat mengirim tendangan ke arah dada Lui Kok!
Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh Tosu palsu ini, dan biarpun tendangan itu cepat sekali datangnya sehingga terpaksa ia harus menarik kembali tangannya dan mengurungkan niatnya menyerang, namun berkat ketangkasannya ia masih dapat melangkah mundur untuk mengelak.
Akan tetapi, tiba-tiba dari kolong ranjang itu, sepasang tangan yang kuat sekali bergerak maju dan menangkap kedua kaki Lui Kok. Sekali kedua tangan itu membetot, tak ampun lagi tubuh Lui Kok terguling di atas lantai! Ternyata bahwa yang membetot itu adalah Seng Tee Hwesio yang segera menunggangi tubuh Lui Kok dan mengirimkan tempelengan beberapa kali.
Lui Kok berkuik-kuik bagaikan seekor anjing digebuk karena tangan itu terasa antep sekali. Ia maklum bahwa Hwesio ini bukan orang sembarangan. Dalam kenekatannya ia mengirimkan pukulan dengan tangan kanannya, akan tetapi Seng Tee Hwesio mendahului dengan menotok pundak kanannya. Lumpuhlah tangan kanan Lui Kok karena jalan darahnya bagian Thian-Hu-Hiat telah kena ditotok.
Orang laki-laki yang tidur di atas pembaringan tadi sebetulnya adalah Swan Hong sendiri. Sore hari tadi ia dan Suhengnya telah menjumpai si pemilik restoran dan menceritakan tentang kehendak Hwesio kepala memberi hajaran kepadanya. Pemilik restoran itu menjadi ketakutan setengah mati dan ketika Swan Hong menghiburnya, ia lalu menjatuhkan diri berlutut.
“Mohon pertolongan jiwi Enghiong yang mulia?”
“Sudahlah, jangan banyak ribut dan berlaku tenang. Memang sudah menjadi kewajiban Pinceng (aku) dan Suteku ini untuk membasmi Hwesio-Hwesio yang jahat itu.”
Maka mereka lalu berunding dan mengadakan rencana. Para pedagang lainnya yang seringkali mendapat gangguan pula, diberi tahu oleh pemilik restoran itu sehingga pada sore hari itu banyak sekali orang-orang berkumpul di rumah itu. Bahkan atas usul Seng Tee Hwesio, kepala daerah juga diberi tahu akan rencana mereka menangkap penjahat yang menyamar sebagai Hwesio-Hwesio di Thian-Hok-Si.
Kepala daerah itu terkejut sekali, akan tetapi karena ia seorang yang penakut, ia hanya mengirim seorang wakilnya untuk datang di restoran itu. Lebih dari dua puluh orang berkumpul dan Seng Tee Hwesio lalu minta agar supaya malam hari itu mereka berkumpul di toko sebelah restoran dan kalau sudah tertangkap penjahat itu, mereka baru boleh keluar untuk menjadi saksi.
Demikianlah, dengan amat mudah Lui Kok dapat terjebak dan tertangkap oleh kedua jago muda dari Thai-Liang-San itu dan biarpun ia tidak diikat kaki tangannya, namun ia sudah tidak berdaya lagi terkena totokan Seng Tee Hwesio. Swan Hong lalu memberi tanda kepada semua orang yang berkumpul di toko sebelah dengan hati berdebar, dan kini mereka datanglah beramai-ramai untuk melihat wajah penjahat.
Ketika mereka melihat bahwa penjahat yang dimaksudkan itu adalah Tosu buntung yang seringkali terlihat di Kelenteng Thian-Hok-Si, mereka tercengang dan marah sekali. Ingin mereka memukul Lui Kok sampai mampus untuk menyatakan kemarahan mereka, akan tetapi Seng Tee Hwesio melarangnya lalu berkata,
“Cuwi sekalian jangan turun tangan sendiri. Lebih baik kita bawa bangsat ini sekarang juga ke pada Tikwan (Jaksa) dan minta perkenan Tikwan untuk membasmi penjahat yang bersarang di Kelenteng Thian-Hok-Si.” Semua orang menyatakan setuju dan demikianlah pada malam itu juga, Lui Kok di seret di hadapan Tikwan yang terpaksa bangun dari tidurnya.
“Siapakah ini yang menjadi kepala dari semua kejahatan ini?” bentak Tikwan, akan tetapai dengan keras kepala Lui Kok tidak mau memberi jawaban.
“Hayo jawab!” kata Swan Hong sambil menekan pundak Lui Kok.
Karena yang ditekan adalah jalan darah yang terbesar dan yang langsung berhubungan dekat dengan jantungnya, maka Lui Kok merasa nyeri yang hebat sekali. Ia malu untuk menjerit dan digigitnya bibirnya sampai berdarah sedangkan jidatnya penuh dengan peluh sebesar kacang.
“Aku menjawab… aku menjawab...” Katanya terengah-engah dan ketika Swan Hong melepaskan tangannya, lenyaplah rasa nyeri itu. “Aku hanya disuruh oleh sahabatku, Ban Sek Hosiang.”
“Hwesio kepala dari Thian-Hok-Si?” tanya Tikwan terkejut. “Hayo ceritakan keadaan Kelenteng itu sejelasnya.”
Terpaksa Lui Kok lalu menceritakan bahwa sesungguhnya Ban Sek Hosiang yang merencanakan semua pemerasan terhadap toko-toko dikota itu, dan bahwa semua korban yang tadinya disangka kena kutukan Kelenteng, sesungguhnya adalah terbunuh oleh dia atau oleh Ban Sek Hosiang sendiri. Tikwan itu menjadi marah sekali, akan tetapi ia merasa gelisah juga karena mendengar dari Lui Kok bahwa Ban Sek Hosiang memiliki kepandaian tinggi dan mempunyai pembantu-pembantu yang pandai silat pula.
“Taijin tak perlu gelisah.” kata Seng Tee Hwesio dengan tenang, “Pinceng dan Suteku ini siap siaga untuk membongkar kejahatan ini dan menawan Ban Sek Hosiang!”
Tikwan merasa girang sekali, dan karena pemeriksaan itu berlangsung sampai fajar, ia lau memberi perintah kepada sepasukan penjaga untuk mengikuti Swan Hong dan Suhengnya, sedangkan Lui Kok dimasukkan kedalam tahanan. Swan Hong dan Seng Tee Hwesio, dengan diikuti oleh pasukan penjaga sebanyak lima puluh orang, dan diikut pula oleh banyak penduduk kota Icang yang merasa penasaran dan marah, lalu cepat menuju ke Kelenteng Thian-Hok-Si.
Kedua orang gagah ini lalu menyuruh para pengikut untuk berhenti di tempat yang agak jauh karena mereka berdua hendak melakukan pemeriksaan dan hendak mengintai keadaan di dalam Kelenteng itu terlebih dahulu.
Dengan kepandaian mereka yang tinggi, Swan Hong dan Suhengnya mudah sekali melompat ke atas genteng Kelenteng itu dan setelah mereka mengintai keadaan di sebelah dalam, mereka saling pandang dengan penuh keheranan. Keadaan di sebelah dalam, terutama sekali di beberapa buah kamar besar didalam Kelenteng, nampak amat indah dan mewah, melebihi kamar seorang bangsawan!
Di situ tidak terlihat perabot-perabot yang biasanya digunakan didalam Kelenteng, melainkan perabot rumah tangga yang mahal dan indah. Pada dinding nampak lukisan-lukisan indah, bahkan ada beberapa gambar cabul. Ketika mereka mengintai di atas sebuah kamar yang terindah dan terbesar, tiba-tiba dari dalam ranjang yang berkelambu Sutera tipis, terdengar bentakan keras.
“Bangsat kurang ajar. Siapa itu yang berani mengintai dari genteng?”
Berbareng dengan ucapan ini, dari balik kelambu itu melompat keluar seorang Hwesio gemuk yang gerakannya gesit sekali. Hwesio ini adalah Ban Sek Hosiang sendiri yang segera menjemput senjatanya yakni joan-pian yang berat dan besar, lalu ia melompat melalui genteng dan langsung ke atas!
Seng Tee Hwesio tertawa menyindir sambil melompat kembali ke bawah dan berdiri di pekarangan depan Kelenteng itu. Ban Sek Hosiang mengejar diikut oleh beberapa orang Hwesio lain yang menjadi pembantu-pembantunya dan yang telah dikagetkan oleh suara gaduh itu. Setelah Ban Sek Hosiang dan lima orang kawannya berdiri berhadapan dengan Seng Tee Hweio dan Swan Hong, kemudia Seng Tee Hwesio menjawab.
“Omitohud, inikah macamnya penjahat yang menyamar sebagai Hwesio? Benarkah Pinceng berhadapan dengan Ban Sek Hosiang?”
“Betul, Pinceng adalah Ban Sek Hosiang, ketua dari Kelenteng ini. Kau siapakah? Mengapa kau mengeluarkan kata-kata menghina yang tak pernah keluar dari mulut seorang Pendeta?”
Kembali Seng Tee Hwesio tersenyum. “Pandai betul kau berlagak! Tak perlu kau berpura-pura lagi karena kami telah mengetahui siapa sebetulnya kau ini! Kau telah mengotori Kelenteng yang suci ini dan telah melakukan kejahatan. Tidak saja kau mengotori Kelenteng, bahkan kaupun telah mencemarkan sama seluruh umat Buddha! Ban Sek Hosiang, kau menyerahlah untuk kami bawa ke pengadilan, dan ketahuilah bahwa sahabat baikmu yang bernama Lui Kok juga telah tertangkap!”
Bukan main terkejutnya Ban Sek Hosiang dan kawan-kawannya mendengar ini. Mengetahui bahwa rahasia mereka telah pecah, maka seorang diantara para Hwesio itu lalu bersuit keras memberi tanda kepada anak buahnya dan sebentar saja puluhan orang Hwesio dengan pedang atau golok di tangan muncul dari semua jurusan, mengepung kedua orang tamu itu?
“Ban Sek Hosiang,” kata pula Seng Tee Hwe-sio, “Ketahuilah bawah Pinceng adalah Seng Tee Hwesio, seorang Pendeta pengembara yang kebetulan sekali lewat di kota ini. Percuma aja kau melawan, karena semua rahasiamu telah terbongkar dan diketahui oleh semua orang. Dengarlah nasihatku, sebagai sesama Hwesio, Pinceng masih bersedia untuk berlaku murah hati kepadamu.
"Kau menyerahlah, bubarkan orang-orangmu yang jahat dan kalau mereka itu juga bertobat, masih banyak harapan mereka akan menjadi manusia baik. Kau sendiripun asal saja mau bertobat dan mau bersumpah takkan tersesat lagi, Pinceng bersedia memberi ampun dan melepaskanmu pergi dari sini.”
“Keparat sombong! Kau kira aku Ban Sek Hosiang takut kepadamu?” Sambil berkata demikian, joan-pian di tangan Pendeta ini bergerak cepat menyerang Seng Tee Hweso. Ia ingin merobohkan Hwesio ini dengan cepat, sama sekali tidak memperdulikan Swan Hong yang masih muda dan yang dianggapnya tentu tak memiliki kepandaian yang perlu ditakuti.
Akan tetapi, ketika Seng Tee Hwesio melompat mundur untuk mengelak, ia menjadi terkejut sekali mendengar pemuda itu berseru, “Suheng, biarkan aku yang memukul anjing budukan ini!”
Ban Sek Hosiang marah sekali. Joan-pian di tangannya diputar cepat dan kuat sehingga senjata itu menyambar ke arah dada Swan Hong dengan gerak tipu Kapak Dewa Membelah Batu. Swan Hong dengan tenang merendahkan tubuhnya dan berbareng mencabut keluar goloknya.
Ketika Ban Sek Hosiang menyerangnya lagi dengan gerakan Raja Ular Menerkam Harimau, sebuah serangan joan-pian yang amat berbahaya dan cepat datangnya, pemuda ini lalu menangkis dengan goloknya.
“Trang!” bunga api berpijar ketika sepasang senjata ini beradu. Golok di tangan Swan Hong hanya sebuah golok biasa saja, maka ketika senjatanya beradu dengan joan-pian yang keras dan kuat itu, Swan Hong cepat mementalkan goloknya agar jangan sampai menjadi rusak. Kemudian ia mulai mainkan ilmu golok Pek-Ho To-Hwat dan menyerang dengan hebat.
Ban Sek Hosiang terkejut sekali ketika tiba-tiba melihat betapa golok lawannya itu berobah menjadi segulung sinar putih yang besar dan yang bergerak cepat serta bergulung-gulung bagaikan angin taufan yang menyerang dirinya. Ia kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena maklum bahwa setelah pertemuannya dengan kedua orang muda yang amat lihai di rumah Yap Ma Ek. Kembali sekarang ia bertemu pula dengan seorang pemuda yang amat tinggi kepandaiannya.
Sementara itu, lima orang Hwesio yang memiliki kepandaian lumayan juga, melihat kepala mereka sudah mulai bertempur, segera maju pula membantu, akan tetapi mereka disambut oleh bentakan Seng Tee Hwesio yang memutar tongkatnya. Sebentar saja Seng Tee Hwesio sudah terkurung oleh lima orang Hwesio tadi, akan tetapi murid kedua dari Lam Hwat Hwesio ini dengan tenang dapat menangkis setiap serangan.
Bahkan dapat membuat tongkatnya merupakan dinding batu karang yang tak memungkinkan senjata lawan dapat mengenai tubuhnya. Adapun Ban Sek Hosiang yang telah terdesak hebat oleh golok di tangan Swan Hong, ternyata hanya sanggup mempertahankan diri selama dua puluh jurus saja.
Pada saat ia mulai merasa pening karena sinar golok yang luar biasa itu, tiba-tiba ia menjerit keras dan joan-piannya terlepas dari tangannya karena dengan tangannya tergurat ujung golok. Ia terhuyung-huyung dan sebuah tendangan pada lambungnya membuat ia terguling roboh dan merintih-rintih kesakitan.
Para Hwesio yang puluhan banyaknya dan yang telah siap dengan senjata di tangan, ketika mendengar jerit kesakitan tadi, sesungguhnya sebagian besar adalah Hwesio-Hwesio lama yang telah berada disitu ketika Ban Sek Hosiang datang. Mereka ini bukan orang-orang jahat, hanya saja mereka terpengaruh oleh Ban Sek Hosiang.
Sehingga mau atau tidak, mereka harus menurut segala perintah Ban Sek Hosiang yang kosen dan yang mereka takuti itu. Kini, mereka melihat bahwa yang datang menyerang Kelenteng adalah seorang Hwesio pula, bersama seorang pemuda.
Melihat kelihaian kedua orang itu, mereka merasa ragu-ragu dan hanya menonton agak jauh. Kini melihat betapa Ban Sek Hosiang telah roboh, mereka menjadi takut dan merasa telah berdosa karena mengikuti jejak kepala itu. Larilah mereka keluar dari Kelenteng untuk melarikan diri dari para penyerbu.
Akan tetapi alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa Kelenteng itu kini telah terkepung oleh para penjaga keamanan dan beberapa orang penduduk. Terpaksa mereka kembali ke pekarangan Kelenteng dan kini lima orang Hwesio pembantu Ban Sek Hosiang juga sudah roboh oleh Seng Tee Hwesio yang dibantu oleh Swan Hong!
Para petugas setelah melihat bahwa Hwesio kepala dan para pembantunya telah roboh, lalu serentak maju hendak menangkapi semua Hwesio yang berjumlah empat puluh orang itu, akan tetapi tiba-tiba Seng Tee Hwesio mengangkat tangannya dan mencegah.
“Jangan tangkap mereka!” suaranya nyaring dan berpengaruh sekali. “Yang menjadi biang keladi adalah Ban Sek Hosiang dan para pembantunya ini. Saudara-saudara yang lain tidak bersalah, dan hanya terpengaruh belaka. Buktinya, apakah mereka tadi melakukan perlawanan? Tidak, mereka tidak boleh diganggu dan Pinceng yang berani bertanggung jawab bahwa mereka sejak saat ini tentu akan menjalankan tugas sebagai Pendeta-Pendeta yang baik. Kalau hendak menangkap tangkaplah Ban Sek Hosiang yang jahat ini bersama kelima orang pembantunya!”
Pada saat itu, kepala daerah yang telah mendengar tentang penyerbuan terhadap Kelenteng itu datang sendiri diikut oleh para pamong praja lainnya. Ia masih sempat mendengar ucapan Seng Tee Hwesio, maka sambil melangkah maju kepala daerah ini memberi perintah.
“Tangkap Hwesio kepala yang jahat dan palsu itu!”
Akan tetapi, sebelum para petugas melakukan perintah ini, Ban Sek Hosiang yang sudah dapat berdiri kembali, lalu menghampiri kepala daerah itu dan menjura sambil berkata. “Taijin harap jangan tergesa-gesa menangkap Pinceng. Sukalah taijin memeriksa surat ini lebih dahulu.”
Sambil berkata demikian, Ban Sek Hosiang lalu mengeluarkan segulung surat dari saku jubahnya dan memberikannya kepada kepala daerah.
Pembesar itu mengerutkan alis dan dibacanya surat itu. Tiba-tiba wajahnya berobah dan ia menganggukkan kepala. “Pergilah Lo-Suhu dengan kawan-kawanmu, aku akan membebaskan pula Lui Kok dari tahanan, akan tetapi harap jangan bergerak di dalam kota ini, karena kalau sampai terjadi keributan, aku pulalah yang bertanggung jawab dan pusing!” Ia menyerahkan kembali surat itu kepada Ban Sek Hosiang dengan sikap menghormat.
Ban Sek Hosiang memandang kepada Seng Tee Hwesio dengan mulut tersenyum menyeringai akan tetapi matanya mengandung kebencian, kemudian ia lalu mengisyaratkan kepada lima orang pembantunya, untuk pergi dari situ. Keenam Hwesio itu lalu pergi dengan cepat! Semua orang bengong melihat peristiwa ini.
Swan Hong sendiri juga merasa penasaran dan cepat melangkah maju, “Taijin...!” Ia menegur. “Mengapa...?”
Akan tetapi kepala daerah itu memberi isyarat dengan tangan agar supaya pemuda gagah itu tidak melanjutkan kata-katanya, kemudian sambil menghadap para Hwesio yang berdiri sambil menundukkan kepala mereka yang gundul, ia berkata,
“Suhu sekalian! Hendaknya peristiwa hari ini dijadikan contoh oleh Suhu sekalian. Alangkah malunya mendapat nama buruk sebagai pejabat dan pengacau, sedangkan sebetulnya seorang Pendeta bahkan harus menjaga keamanan lahir batin dari sesama manusia. Sekarang, berkat pertolongan kedua orang gagah ini, keadaan telah menjadi beres. Harap Suhu sekalian suka mengangkat seorang kepala baru untuk menjadi ketua Kelenteng ini.”
“Kami mengangkat Suhu yang gagah perkasa dan budiman ini!” tiba-tiba terdengar beberapa orang Hwesio berkata sambil menunjuk ke arah Seng Tee Hwesio! Juga para penduduk kota, terutama para pedagang yang seringkali diganggu oleh Ban Sek Hosiang, menyatakan persetujuannya.
“Setuju sekali! Kepala Kelenteng ini haruslah seorang Hwesio jujur, budiman, dan pandai menjaga keamanan Kelenteng!”
Maka serentak semua orang memilih Seng Tee Hwesio menjadi ketua Kelenteng! Pembesar itu lalu tersenyum dan mengangguk-angguk kepala sambil berkata kepada Seng Tee Hwesio.
“Siauw-Suhu, kau telah mendengar sendiri pilihan orang-orang yang berada di sini, bahkan semua Hwesio Kelenteng inipun memilihmu! Maka harap kau suka menerimanya, sehingga tidak sia-sialah usahamu hari ini!”
Di dalam hatinya, Seng Tee Hwesio merasa suka sekali untuk memberi pimpinan kepada para Hwesio. Memang inilah cita-citanya, mencari tempat yang cocok baginya dan bagi kakaknya, yakni Seng Thian Hwesio. Akan tetapi ia merasa ragu-ragu melihat kelakuan pembesar itu tadi yang melepaskan begitu saja Ban Sek Hosiang. Ia menjura kepada orang banyak dan menjawab.
“Terima kasih, saudara-saudara sekalian, yang telah memilih Pinceng yang masih muda dan bodoh. Pinceng suka menerima tugas ini, akan tetapi bukan untuk Pinceng sendiri, melainkan untuk seorang Pendeta yang lebih baik, jauh lebih pandai, lebih bijaksana dan lebih faham tentang agama kita daripada Pinceng sendiri. Adapun tentang ilmu silat, jangan khawatir karena orang itu adalah Suhengku sendiri. Ia bernama Seng Thian Hwesio dan sekarang masih berada di puncak bukit Thai-Liang-San di Secuan!”
Semua orang menyatakan setuju karena mereka telah percaya penuh kepada Seng Tee Hwesio. Kalau adiknya saja sudah sepandai ini, tentu Suhengnya lebih pandai lagi, pikir mereka. Pada keesokan harinya, Seng Tee Hwesio berkata kepada Sutenya.
“Sute, seperti kau lihat sendiri, agaknya aku dan Suheng sesuai untuk tinggal di sini, memimpin Kelenteng ini. Kedudukan ini cocok sekali untuk Suheng, dan tentu diapun akan suka sekali melakukan tugas di sini. Adapun aku, aku lebih suka merantau dan bertugas di dunia ramai. Akan tetapi, untuk sementara ini, sebelum Suheng datang, lebih baik aku memimpin Kelenteng ini lebih dulu, membersihkan segala kekotoran yang masih menempel di Thian-Hok-Si. Kau harap suka kembali dulu ke Thai-Liang-San untuk mengundang Suheng. Siapa tahu kalau-kalau Kong-kongmu sudah naik ke gunung itu pula.”
Swan Hong tidak membantah dan berangkatlah ia menuju Thai-Liang-San untuk menemui Twa-Suhengnya, yakni Seng Thian Hwesio. Adapun Seng Tee Hwesio mulai hari itu segera mengadakan peraturan baru untuk para anggauta Kelenteng itu. Ia mengeluarkan segala kemewahan yang memenuhi Kelenteng, membagi-bagikan harta benda kepada fakir miskin, sebagian pula uang yang banyak terdapat di situ ia kembalikan kepada penyumbang-penyumbang paksaan.
Akan tetapi, para pedagang tidak mau menerimanya dan mengusulkan agar supaya uang itu dipergunakan untuk memperbaiki bangunan Kelenteng pada bagian-bagian yang telah rusak.
Kelenteng Thian-Hok-Si menjadi bersih kembali, yakni bersih dari pengaruh jahat dan para Hwesionya mulai tekun mempelajari agama dan melakukan penghidupan yang beribadat. Penduduk kota Icang amat girang dan berterima kasih sekali kepada Seng Tee Hwesio dan Sutenya. Nama Hwesio ini terutama nama Swan Hog yang gagah perkasa amat dihormat dan dijunjung tinggi.
Dalam perjalanannya ke Gunung Thai-Liang-San, Swan Hong menggunakan jalan darat. Setiap hari ia melakukan perjalanan sambil menikmati keindahan alam yang sesungguhnya amat berbeda dengan tamasya alam di lembah Sungai Yang-Ce. Ia melalui gunung-gunung dan hutan-hutan. Apabila ia tiba di tempat-tempat yang indah atau di kota-kota, ia berjalan perlahan, dan baru mempergunakan ilmu berlari cepat apabila ia tiba di dalam hutan atau di pegunungan yang sunyi.
Pada suatu hari ia tiba di perbatasan Propinsi Hopak dan Secuan, yakni di Pegunungan Tapa-San. Pegunungan ini cukup luas dan mempunyai beberapa puncak yang menjulang tinggi di angkasa. Banyak pula terdapat hutan-hutan liar yang amat gelap. Karena Swan Hong belum pernah melakukan perjalanan di daerah ini, yang menjadi pedomannya hanyalah matahari di waktu siang dan bulan di waktu malam.
Ia maklum bahwa untuk sampai di Propinsi Secuan, ia harus terus menuju ke barat. Ketika ia tiba di lereng pegunungan yang tanahnya subur, ia melihat sebuah dusun dari jauh dan mampirlah ia ke dusun itu untuk membeli makanan. Warung nasi satu-satunya yang berada di dusun itu dilayani oleh seorang Kakek yang keriputan dan doyan mengobrol. Kebetulan sekali di situ tidak ada lain tamu, maka Kakek itu mengajak Swan Hong mengobrol.
“Kongcu (Tuan muda),” katanya dan sudah menjadi kebiasaannya untuk menyebut Kongcu kepada setiap orang muda yang agaknya datang dari kota. “Mendengar tekanan suaramu, agaknya kau bukan orang daerah ini, dan melihat sepatu dan pakaianmu yang penuh debu dan lumpur, tentu Kongcu telah melakukan perjalanan jauh. Hendak kemanakah kau Kongcu?”
Diam-diam Swan Hong memuji ketajaman otak Kakek dusun ini. Ia tersenyum dan setelah minum air tehnya, ia menjawab, “Benar dugaanmu, Lopek. Aku hendak menuju ke Propinsi Secuan.”
“Apa?? Menuju ke barat melalui pegunungan ini dan keluar masuk hutan yang liar itu?”
“Mengapa?”
“Ah...” ia menghela napas, “Memang anak muda jaman sekarang amat tabah dan gagah perkasa. Di jamanku dulu, orang muda yang halus seperti kau ini, jangan kata memasuki hutan liar, baru melihat kucing saja sudah terkencing-kencing karena ketakutan. Jangankan menempuh hujan dan badai, baru tertiup angin kecil saja sudah roboh telentang! Pandainya hanya menggerakkan pit dan membaca kitab.”
“Bukan kepandaian yang buruk, Lopek.”
“Memang, bukan kepandaian yang buruk, akan tetapi apa gunanya? Paling-paling hanya untuk menulis surat yang bagus untuk mendatangkan fitnah kepada orang lain! Kau sungguh tabah dan berani Kongcu. Terus terang saja aku sendiri yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini, kalau harus melakukan perjalanan seorang diri melalui pegunungan di barat itu, aku tidak berani!”
“Kenapakah, Lopek? Apakah di situ terdapat banyak binatang buas?”
“Binatang buas tidak sangat menakutkan, Kongcu. Betapapun liarnya, binatang buas meyerang dari depan dan tak pandai bermanis mulut. Tidak ada binatang yang lebih jahat daripada seorang manusia jahat yang pandai meggoyang lidah dan bermanis mulut.”
“Apakah kau hendak mengatakan bahwa di sana banyak perampoknya, Lopek?” kata Swan Hong sambil memandang ke arah gundukan-gundukan tanah bukit di barat itu.
“Perampok-perampok mungkin ada, Kongcu.”
“Aku tidak takut, biarlah mereka mencegatku kalau mereka kehendaki!” kata Swan Hong dengan gagah sambil meraba gagang goloknya.
“Hm, agaknya kau pandai bersilat, Kongcu. Aneh, aneh!”
“Lho, apakah yang aneh, Lopek? Orang bijaksana berkata sebagai nasihat bahwa jangan melakukan perjalanan jauh apabila kau tak pandai main golok.”
“Aneh, sudah dua kali hari ini aku mendengar ucapan itu! Jangan melakukan perjalanan jauh apabila kau tak pandai main golok! Ya, demikian pula yang ia katakan tadi, sambil meraba-raba dua buah gagang pedang yang tergantung di pundaknya. Aneh!”
“Dia siapa, Lopek?”
“Itulah yang aneh. Seorang pemuda pula, lebih halus, lebih tampan, dan mungkin lebih muda daripada kau sendiri. Bicaranya lebih halus daripada kata-katamu, sikapnya lemah lembut, akan tetapi keberaniannya mungkin lebih besar daripada keberanianmu?”
“Dan dia juga menuju ke barat...?”