Cheng Hoa Kiam Jilid 12

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Cheng Hoa Kiam Jilid 12
Sonny Ogawa

Cheng Hoa Kiam Jilid 12, karya Kho Ping Hoo - WI LIONG menurut akan petunjuk ini. Mereka lalu berpisah setelah Wi Liong menghaturkan terima kasihnya dan berjanji kelak akan mengunjungi Kun-lun-san. Akan tetapi dia tetap menyembunyikan nama gurunya karena tahu bahwa gurunya tidak menghendaki namanya disebut-sebut di luaran.

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Dia sendiri lalu kembali ke Wuyi-san, menceritakan pengalamannya kepada Kwee Suu Tek kemudian setelah suhunya keluar, ia bercerita pula sambil menangis tentang kekalahannya yang amat memalukan terhadap Thai Khek Sian.

"Tentu saja kau kalah. Mana bisa menang melawan susiokmu?” komentar Thian Te Cu singkat, membuat Wi Liong terkejut bukan main.

Setelah menuturkan tentang kekalahannya terhadap Thai Khek Sian kepada gurunya sambil menangis. Wi Liong lalu menerima latihan-latihan lagi selama satu tahun. Ilmu-ilmu tinggi yang tadinya disimpan saja oleh Thian Te Cu, sekarang diwariskan kepada pemuda itu, di samping nasihat-nasihat dan gemblengan ilmu batin yang sekaligus merobah watak Wi Liong menjadi lebih pendiam dan masak.

Demikianlah, seperti telah dituturkan dalam bagian yang lalu. Thio Wi Liong duduk berlutut di hadapan suhunya yang bersila di tempat samadhinya. Hati Wi Liong amat terharu namun ia dapat menekannya karena pemuda ini sekarang telah memiliki kekuatan batin untuk menekan dan mengalahkan segala perasaan yang datang dalam kalbunya.

Baru sekarang selama belasan tahun hidup di dekat Thian Te Cu, ia mendengar orang aneh ini bicara agak banyak. Biasanya Thian Te Cu hanya bicara sedikit sekali singkat dan yang perlu saja. Bahkan ada kalanya kakek luar biasa ini hanya mempergunakan gerak tangan dan kepala untuk menyatakan kehendaknya, seperti orang gagu.

Baru hari itu setelah gurunya menyatakan bahwa kepandaiannya sudah cukup untuk menandingi Thai Khek Sian gurunya bicara panjang lebar memberi nasihat-nasihat. Perasaannya membisiki bahwa ini merupakan tanda bahwa gurunya hendak memisahkan diri, mungkin untuk selamanya.

"Mulai sekarang kau boleh turun gunung dan mulai hidup baru. Ingat, pekerjaan apapun juga yang kau lakukan kerjakanlah dengan hati bersih, dengan semangat besar dan dengan kesadaran sepenuhnya bahwa yang kau kerjakan tidak berlawanan dengan kebajikan dan keadilan. Jangan kau mudah dimabok kesenangan dan kemuliaan dunia yang palsu dan yang mudah menyelewengkan batin manusia. Ingat bahwa segala kejahatan manusia yang terjadi di dunia ini selalu ditimbulkan oleh ketidak-sadaran karena mabok dan silau oleh kesenangan, kemuliaan dunia, karena lemah dan tak berdaya terhadap nafsu sendiri."

Kakek aneh itu berhenti, agaknya lelah sekali karena terlalu banyak bicara. Memang sudah lama dia menghemat suaranya dan bicara agak banyak ini amat melelahkannya.

"Suhu teccu mendengar dari paman Kwee, juga dari luaran ketika teecu turun gunung bahwa sekarang ini negara sedang dalam keadaan terancam dan tidak aman. Orang-orang kang-ouw saling bermusuhan, ada yang memihak pemerintah baru di utara dan ada yang memihak Kerajaan Sung. Kalau teecu turun gunung dan sampai terlibat ke dalam persaingan atau permusuhan ini teecu harus membantu yang mana?"

Terdengar kakek itu menarik napas panjang. "Manusia tiada hentinya berebut kekuasaan. Hanya mereka yang bekerja dengan penuh kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan itu demi kebenaran adalah orang-orang bahagia. Perang... perang... semenjak nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu, negara kita selalu dilanda perang. Siapa menang siapa kalah? Belum tentu yang benar menang. Biarpun kemenangan sementara, sepuluh tahun seratus tahun, seribu tahun, namun ada kalanya yang jahat menang dan rakyat menderita. Semua ditentukan olen Thian!”

Kembali kakek itu berhenti dan Wi Liong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi ia tidak merasa heran oleh karena sudah biasa mendengar kata-kata yang aneh dan penuh rahasia dari kakek itu.

"Suhu, andaikata bala tentara Mongol menyerbu ke selatan, teecu harus membantu yang mana? Mongol atau Sung? Dan pertentangan antara orang-orang kang-ouw teecu harus memihak yang mana?" Ia mendesak oleh karena biarpun hatinya sendiri sudah menemukan bagaimana ia harus bertindak, tetap saja ia hendak mendengar petunjuk suhunya sebagai pegangan.

Anehnya, kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan keningnya berkerut.

"Suhu... siapa yang harus teecu bantu?” tanya pula pemuda itu.

Sekali lagi Thian Te Cu menggeleng kepala dan lebih aneh lagi ia kelihatan berduka sekali. Kembali mereka diam sampai lama. Akhirnya Wi Liong memberanikan diri bertanya untuk ke tiga kalinya.

"Suhu... nasihat suhu akan teecu jadikan obor bagi perjalanan teecu agar teecu tidak sampai sesat jalan. Keadaan dunia sedang bergolak, kalau teecu salah tindak, bukankah berarti akan melakukan dosa besar dan suhu akan terbawa nama suhu kalau tidak memberi petunjuk?"

"Obor berada di tangan rakyat. Selama kau dekat dengan rakyat dan memihak mereka yang tertindas, mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah sengsara, kau takkan tersesat. Inilah sebabnya mengapa dunia selalu dilanda perang, karena manusia selalu lupa diri, kalau sudah mendapatkan yang besar lupa kepada yang kecil. Orang-orang berebut kedudukan, berebut kesenangan dan kemuliaan tanpa mau menoleh kepada rakyat kecil yang tak pernah mengetahui sesuatu, tak pernah diberi kesempatan untuk tahu akan sesuatu.

"Coba ada yang berebut untuk mengangkat mereka dari penderitaan, coba segala usaha dikerahkan untuk bersatu dengan mereka, satu nasib satu penderitaan, iblispun takkan berani mengganggu tanah air karena akan berhadapan dengan rakyat yang merasa kebahagiaan dan keamanannya terganggu.

"Sekarang bagaimana? Setiap kerajaan merupakan penindas baru... ahhh, Wi Liong, jangan tanya kerajaan mana yang harus kau bantu. Asal kau tidak lupa bahwa kau mempelajari ilmu untuk bertugas sebagai pemberantas kejahatan dan pembela si lemah yang tertindas, cukuplah. Segala di dunia yang nampak besar-besar itu belum tentu betul-betul besar.

"Aku lebih suka melihat engkau menjadi seorang petani miskin yang berbatin bersih dan berjiwa gagah pembela keadilan dari pada melihat engkau menjadi seorang berpangkat, kaya raya dan mulia akan tetapi batinmu kotor oleh sulau emas dan jiwamu bejat, lupa akan keadilan. Nah. pergilah, kelak kita bertemu sekali lagi kalau aku datang untuk minta kembali Cheng-hoa-kiam."

Tentu caja ucapan terakhir ini membingungkan Wi Liong. Tentang Cheng-hoa-kiam tadi ia benar tidak mengerti. Ketika ia pergi turun gunung, pedang itu dicuri orang, mengapa suhunya bilang kelak hendak mengambil kembali dan bertemu dengannya? la hendak bertanya akan tetapi kakek itu sudah meramkan kedua mata dan berada dalam keadaan samadhi lagi, maka ia tidak berani mengganggu.

"Semua petunjuk akan teecu ingat betul..." katanya sambil berlutut memberi penghormatan terakhir, kemudian keluar dari kamar suhunya.

Pamannya segera menemuinya. "Bagaimana? Sudah boleh turun gunung?” tanya Kwee Sun Tek penuh gairah.

"Sudah dan kuharap paman suka pergi bersamaku. Aku tidak tega meninggalkan kau orang tua seorang diri di sini."

Kwee Sun Tek menghela napas panjang. "Apa sih perlunya aku turun gunung? Di puncak gunung, atau di dusun maupun di kota raja sekalipun bagiku sama saja..."

Wi Liong kasihan memandang pamannya. Ia dapat menangkap maksud kata-kata pamannya ini. Memang apa sih bedanya bagi seorang buta?

"Tak usah aku ikut pergi, Wi Liong. Kau pergilah dan cari manusia jahanam Beng Kun Cinjin itu, balaskan sakit hati ayah bundamu, kemudian kau carilah nama untuk menjunjung nama orang tuamu. Kau sudah meudengar semua riwayat orang tuamu, kalau kau berhasil membinasakan manusia jahanam Beng Kun Cinjin, baru hatiku puas dan aku tidak penasaran biarpun aku hidup tak bermata lagi!" Kata-kata ini diucapkan dengan keras penuh semangat, membayangkan sakit hati yang dipendam bertahun-tahun.

Wi Liong menundukkan mukanya. Pemuda inipun merasa berduka sekali, baru setelah ia pulang dari perjalanannya mencari Beng Kun Cinjin, pamannya menceritakan pengalaman ayah bundanya yang tewas ketika mereka berusaha menyadarkan Beng Kun Cinjin dari kesesatannya.

"Wi Liong, belasan tahun aku bertahan hidup menderita hanya untuk dapat menyaksikan bahwa pada suatu hari putera enciku akan dapat berhasil membalaskan sakit hati ayah bunda dan pamannya. Kuharap kau tidak akan gagal. Wi Liong."

"Akan kuusahakan sedapat mungkin, paman." jawab Wi Liong.

"Dan jangan lupa, kau harus mampir di Poan-kun dan tengok calon mertuamu. Sampaikan hormatku dan jangan lupa bilang bahwa pernikahan baru dapat dilangsungkan kalau kalau sudah berhasil membalas dendam kepada Beng Kun Cinjin."

Kwee Sun Tek memang sengaja tidak mau menceritakan tentang obrolan maling pedang yang mengaku-aku menjadi kekasih Kwa Siok Lan, dan sekarang ia menyuruh Wi Liong ke sana untuk melihat apakah obrolan itu betul-betul ataukah hanya omong kosong belaka. Selain itu memang ia tidak rela Wi Liong melangsungkan pernikahan sebelum pemuda itu sempat berdarma bhakti kepada ayah bundanya yaitu membalaskan sakit hati mereka.

Setelah menerima banyak nasihat dari pamannya. Wi Liong lalu turun gunung membawa bekal pakaian dan senjata satu-satunya hanya suling pemberian gurunya. Suling ini bukan suling biasa, melainkan sebuah senjata yang istimewa sekali.

Ketika Wi Liong turun gunung, matahari baru mulai timbul. Ia turun melalui lereng sebelah utara gunung dan matahari muncul dari sebelah kanannya muncul dari permukaan laut yang jauh berada di timur. Hawa pegunungan yang sejak ditimpa cahaya matahari yang hangat nyaman benar-benar mendatangkan suasana yang menggembirakan. Daun-daun pohon seperti disepuh air emas kuning kemilau tapi sejuk sinarnya tidak menyilaukan mata.

Burung-burung berkicau di dahan pohon dan kelihatan beberapa ekor burung bermain-main dengan riangnya merupakan keluarga yang amat berbahagia menyambut darangnya matahari. Wi Liong sengaja berhenti berjalan untuk menikmati pemandangan itu, pemandangan keluarga burung kuning yang kebahagiaannya membuat ia tersenyum dan juga iri. Dua ekor anak burung mencicit diloloh oleh biangnya sedangkan bapak burung menyisiri bulu si biang dari belakang!

Wi Liong tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya. Ingin ia berdendang. Hawa dan keadaan semeriah itu memang menimbulkan selera orang untuk berdendang dan bernyanyi seperti burung, atau lari berlompat-lompatan seperti anak kijang. Tiba-tiba Wi Liong mendengar pekik burung dari udara. Ia mendongak dan melihat seekor burung berbulu kehitaman terbang lewat sendiri, merupakan titik hitam pada langit yang bersih cerah.

Wi Liong mengerutkan keningnya, ada sesuatu menusuk pada ulu hatinya. Burung itu sendiri kelihatan begitu sunyi tak berkawan, hidup menyendiri di alam yang luas. Teringat Wi Liong akan keadaan dirinya, yatim-piatu dan seorang diri pula di dalam dunia. Sedih hatinya dan bangkit rindunya kepada pamannya. Tidak tega rasanya meninggalkan pamannya satu-satunya orang yang semenjak ia kecil berada di sampingnya, pengganti orang tuanya.

"Beng Kun Cinjin jahanam busuk, kau pembunuh ayah ibuku dan kau yang membikin buta sepasang mata pamanku. Tunggu saja pembalasanku!" kata hatinya yang menjadi panas karena pembunuh orang tuanya itu yang menjadi biang keladi sehingga ia sekarang hidup seorang diri dan kesepian.

Teringat kepada musuh besarnya bangun kembali semangat Wi Liong dan ia segara mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk berlari cepat sekali turun gunung.

* * *

Seperti telah dituturkan di depan biarpun kekuasaan Bangsa Mongol berkembang pesat dan Tiongkok utara telah diduduki, namun Tiongkok bagian selatan masih berada dalam kekuasaan pemerintah lama, yaitu Kerajaan Sung selatan.

Pemerintah Mongol tidak melanjutkan penyerbuannya ke selatan adalah karena ia sedang memusatkan bala tentaranya untuk menyerbu lagi ke barat. Untuk sementara waktu keadaan dalam negeri menjadi aman, kecuali hentrokan-bentrokan di antara para pengikut pendukung dua kerajaan itu yang saling bersaing dan bermusuhan sendiri.

Kaisar Mongol Oguthai yang berhasil merebut wilayah Cin di Tiongkok utara masih menggunakan kota Mongol bernama Karakorum sebagai ibu kota kerajaannya. Istananya megah dan indah, penuh barang-barang berharga hasil perampasan dari macam-macam negara yang diserbu oleh bala tentaranya yang amat kuat. Juga di istana bekas Kaisar Cin. yaitu di Peking, dijadikan istana ke dua, dan kerusakan-kerusakan telah dibangun dan diperbaiki kembali, malah sekarang lebih mewah dari pada dahulu.

Peking merupakan kota raja ke dua dan kota besar ini menjadi semacam tempat beristirahat kaisar dan para pembesar tinggi. Akan tetapi kaisar sendiri jarang sekali berada di Peking, atau kalau kebetulan berada di situ juga hanya untuk beberapa minggu saja. Yang sudah pasti, di situ menjadi sarang para pembesar Mongol dan kaki tangannya.

Yaitu penghianat-penghianat bangsa yang bermuka-muka terhadap penjajah menjual bangsa sendiri untuk mencari kedudukan dan harta. Banyak jumlahnya pembesar-pembesar penghianat macam ini, orang-orang Tiongkok yang lagak-lagunya sudah pula meniru-niru lagak penjajah.

Amat lucu melihat orang Tiongkok itu berpakaian seperti pembesar Mongol bertopi Mongol. Aksinya seperti orang Mongol. bahkan bicaranya di pelo-pelokan meniru-niru logat orang Mongol! Bukan main! Dan mereka menganggap mereka telah menjadi orang berkuasa yang gagah.

Inilah macamnya orang-orang yang kehilangan kepribadiannya, beginilah manusia yang menjadi bujang nafsu kesenangan, mengejar kesenangan diri dengan pengorbanan apapun juga, rela bersikap palsu, hidup bertentangan dengan hati nurani dan jiwa sendiri, asal bisa memperoleh kedudukan bisa memperoleh kemuliaan dan harta dunia!

Sudah tentu saja manusia-manusia macam begini ini memuakkan perasaan setiap orang yang sedikit saja mempunyai kepribadian manusia-manusia macam penghianat-penghianat bangsa yang sudah seperti badut-badut menari menurut irama musik majikannya kaum penjajah tentu saja menimbulkan rasa benci kepada setiap orang yang sehat pikirannya.

Untuk menyenangkan majikan-majikannya, para bangsawan Mongol itu, para penghianat ini tidak segan-segan untuk menangkap-nangkapi bangsa sendiri dengan tuduhan memberontak, dengan ketawa-tawa sambil menuangkan arak di cawan majikannya melihat bangsa sendiri dipenggal batang lehemya sebagai hukuman seorang pemberontak.

Alangkah rendahnya akhlak mereka! Untuk mendapatkan kedudukan dan uang. tidak segan-segan penghianat bangsa ini mencari dan menangkapi gadis-gadis cantik anak bangrsanya, untuk dijadikan umpan dan mangsa bagi bangsawan-bangsawan Mongol yang liar seperti bandot tua!

Bahkan ada beberapa orang tikus kaki dua macam ini yang tidak sayang-sayang memberikan anak gadisnya sendiri kepada bangsawan Mongol. hanya agar dia mendapat kedudukan, kekuasaan dan kekayaan!

Dunia sudah tua... manusia sudah gila... demikian keluh rakyat jelata yang hanya pandai berkeluh-kesah tanpa berani berkutik. Tak dapat disalahkan rakyat jelata, tidak boleh mereka ini disebut lemah atau kurang semangat. Apa daya mereka kalau berkutik sedikit saja berarti kepala mereka dipenggal? Apa daya-mereka kalau di sana tidak ada pahlawan-pahlawan bangsa yang sanggup mempersatukan dan memimpin mereka? Yang bermunculan malah bangsa sendiri yang menjadi penghianat dan lincah darat!

Kalau orang-orang biasa saja sudah merasa penasaran dan kemarahan mereka hanya dipendam dalam dada. lebih-lebih lagi para pendekar perkasa yang tadinya hidup sebagai penghuni-penghuni hutan di gunung-gunung. Mereka merasa marah dan penasaran sekaii. Mereka maklum bahwa terhadap kaum penjajah Bangsa Mongol yang memiliki bala tentara kuat dan besar sekali itu. mereka tidak berdaya.

Akan tetapi melihat bangsa sendiri menjadi penghianat. mereka tak dapat menahan kemarahan hati dan segera para enghiong pendekar ini turun gunung. Gegerlah di Peking setelah secara aneh. beberapa orang "pembesar" Bangsa Han yang menjadi penghianat ini tahu-tahu kedapatan tewas dipenggal orang lehernya di dalam kamar, tanpa ada tanda-tanda siapa adanya pembunuh-pembunuh itu.

Kemudian, setelah diketahui bahwa yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para "boneka" penjajah itu adalah orang-orang kang-ouw, mulailah para.pembesar mendatangkan jagoan-jagoan, untuk menjadi pelindung dan penjaga keamanan dan mulailah kerusuhan-kerusuhan terjadi, pertempuran-pertempuran kecil dan pertentangan-pertentangan antara orang-orang kang-ouw yang membenci para penghianat dan para jagoan yang dapat dijadikan kaki tangan mereka.

Thio Wi Liong tiba di Peking pada saat sedang gawat-gawatnya karena beberapa hari yang lalu seorang pembesar boneka she Ciu terbunuh ketika sedang melakukan perjalanan dalam keretanya. Pemuda ini sengaja datang ke Peking karena setelah berbulan-bulan mencari keterangan di selatan, ia mendengar bahwa Gan Tui atau Beng Kun Cinjin lari dari istananya setelah membunuh seorang pangeran muda she Liu.

Semenjak melarikan diri, tak seorangpun mendengar ke mana perginya bekas koksu itu? Oleh karena berita ini Wi Liong langsung menuju ke Peking untuk melakukan penyelidikan. Kalau dari orang-orang kang-ouw ia tidak bisa mendapat keterangan, mungkin dari pembesar-pembesar dan kaki tangan Kerajaan Mongol ia bisa mendapatkan jejak musuh besarnya. Kalau perlu ia akan menyusul ke kota raja di utara.

Sebagai seorang yang berpakaian seperti seorang pemuda pelajar yang lemah lembut gerak-geriknya. Ia tidak banyak menarik perhatian orang. Ia menginap dalam kamar sebuah rumah penginapan sedernana dan kelihatannya tidak mencurigakan.

Akan tetapi setiap hari ia berkeluyuran ke tempat ramai, setiap kali ada kesempatan ia mencoba untuk bicara kepada orang-orang tua dan memancing tentang keadaan Koksu Beng Kun Cinjin. Di waktu malam ia keluyuran pula dan di waktu malam gelap begini lenyap sifatnya yang lemah lembut berubah menjadi seorang yang gerak-geriknya gesit seperti burung walet.

Pada suatu pagi Wi Liong sudah nampak duduk di bangku rumah makan kecil menghadapi scmangkok bubur panas. Bukan kebetulan bahwa ia berada di warung itu, karena warung itu berada di seberang jalan di mana berdiri sebuah rumah gadung besar sekali milik keluarga Liu.

Pemuda ini ternyata berhasil mendapat keterangan bahwa keluarga dari pemuda she Liu yang dahulu dibunuh oleh Beng Kun Cinjin, sekarang telah pindah ke Peking, di dalam rumah gedung itulah. Akan tetapi hanya sampai sekian saja keterangan yang ia peroleh. Tak seorangpun rupanya mengetahui mengapa pemuda Liu itu dibunuh.

"Tentu ada rahasianya." pikir Wi Liong dan bukan tidak bisa jadi kalau anggauta keluarga Liu itu ada yang tahu atau setidaknya dapat menduga ke mana perginya Beng Kun Cinjin yang kabarnya lari pergi membawa isteri dan anaknya. Warung itu cukup besar dan di situ sudah ada belasan orang tamu yang semua ingin mengisi perut dengan bubur panas yang sedap.

"Buburnya satu mangkok lagi!" terdengar suara keras dari belakang tempat duduk Wi Liong. Suara ini nyaring akan tetapi tidak menarik perhatian. Wi Liong yang sedang melamun sambil pandang matanya selalu menatap ke arah pintu halaman gedung keluarga kaya raya Liu itu.

"Hebat betul orang itu, sudah habis tujuh mangkok masih tambah terus." terdengar pelayan berkata perlahan sekali ketika memberi Wi Liong semangkok bubur lagi yang dimintanya. "Dengan arak lagi...!"

Ucapan ini menggerakkan hati Wi Liong. Tidak aneh orang banyak makan, di mana-mana juga ada orang gembul. Akan tetapi pagi-pagi menghabiskan tujuh mangkok bubur dengan arak? Lucu juga. Ia melirik ke belakang dan melihat bahwa orang gembul itu ternyata adalah seorang laki-laki tua berusia limapuluh tahunan, bertubuh tinggi besar tegap dan sikapnya gagah sekali.

Hampir semua orang di dalam warung itu memandang kepada kakek ini dengan muka kagum. Memang kakek itu benar-benar gagah, pakaiannya ringkas dan kuat. Mukanya kemerahan dengan kumis dan jenggot seperti pahlawan besar di jaman Sam-kok, Kwan In Tiang atau Kwan Kong! Golok besar bersarung indah tergantung di pinggang kiri.

Duduknya tegak dan gerak-geriknya membayangkan bahwa dia bukan orang sembarangan. Sekaligus Wi Liong tertawan hatinya oleh orang tua gagah perkasa ini. Tidak sukar untuk diduga bahwa orang ini tentulah seorang yang berjiwa gagah, seorang kang-ouw yang patut dijadikan kawan.

Mangkok bubur panas mengepul sudah diantar lagi ke depan kakek itu. Sambil mengibaskan tangannya yang besar, kakek itu berkata tak senang. "Hemm... di Peking sekarang menjadi sarang lalat hijau!"

Wi Liong tersenyum diam-diam. Sebagai orang yang sudah beberapa hari berada di situ, tentu saja ia segera dapat mengenal tiga orang "mata-mata" kerajaan yang sejak tadi memperhatikan kakek itu sambil saling bisik-bisik. Akan tetapi tak seorangpun kecuali Wi Liong melihat betapa kibasan tangan yang lebar itu sekaligus membuat tiga ekor lalat menempel pada telapak tangan.

"Lalat makan lalat, sudah sepatutnya." kembali kakek itu berkata.

Kecuali Wi Liong, tidak ada yang melihat bagaimana kakek itu menggerakkan jari-jari tangannya. Di lain saat. tiga orang mata-mata itu berseru marah, "Heeei... pelayan! Dalam mangkok bubur ini ada lalatnya!"

"Di sini juga ada."

"Ini juga!" Tiga orang itu melotot dan memandang jijik.

Pelayan berlari-lari menghampiri dan melihat bahwa betul dalam mangkok tiga orang itu terdapat masing-masin seekor lalat hijau yang besar! Ini betul-betul aneh dan tak dapat dimengerti karena sungguh kejadian yang langka ada lalat sampai masuk ke dalam mangkok bubur.

Akan tetapi mata pelayan ini juga tajam, ia mengenal siapa adanya tiga orang itu, maka sambil membungkuk-bungkuk ia mengambil tiga mangkok itu dan berkata, "Maaf loya. Biar saya mengambilkan gantinya."

Buru-buru ia mundur dan tak lama datang lagi membawa tiga mangkok bubur panas di atas baki. Dengan hati-hati ia menaruh tiga mangkok bubur itu di depan tiga orang tamunya yang segera mengaduk-aduk dengan sumpit untuk melihat kalau-kalau ada lalatnya.

Sedangkan pelayan itu mengusir lalat yang mendekat dengan kain lapnya. Setelah melihat betul bahwa di dalam mangkok mereka tidak terdapat lalat, tiga orang itu mulai makan buburnya dan kembali mereka mulai melanjutkan pengawasan terhadap kakek gagah tadi.

Kini Wi Liong sudah selesai makan dan sengaja duduk miring agar ia dapat mengawasi gerak-gerik kakek aneh itu. Kakek itu tersenyum kepadanya tangannya kembali mengebut lalat dan kini tidak kurang dari enam ekor lalat hijau "menempel" pada jari-jari tangannya.

"Lalat hijau menjemukan!" kakek itu kembali menggerutu dan tangannya bergerak perlahan.

"Auupphhh.....!" Seorang di antara tiga mata-mata itu membawa tangan ke mulut sambil melepaskan mangkok buburnya di atas meja, lalu terbatuk-batuk dan matanya mendelik.

"Ada apa...?” tanya dua orang kawannya sambil menunda makannya.

"Ada.... lalat... ma.... mahukk....” kata orang yang mulutnya kemasukan lalat besar yang menempel di kerongkongannya itu.

Dua orang kawannya tertawa bergelak akan tetapi tiba-tiba mereka inipun terengah-engah, malah yang seorang terus muntah-muntah karena ada lalat memasuki mulut terus tanpa permisi masuk ke dalam perutnya!

Kejadian yang lucu ini tentu saja menarik perhatian banyak orang dan tak dapat dicegah lagi meledaklah suara kerawa orang-orang yang sedang makan di situ, sampai ada yang tersedak-sedak dan terbatuk-batuk.

Tiga orang mata-mata itu marah sekali, akan tetapi kepada siapa harus marah? Dengan mata melotot dan mulut memaki-maki tiga orang itu meninggalkan rumah makan tanpa membayar harga makanan. Pelayan yang menghadangnya menerima semprotan.

"Mau minta bayaran? Tidak kulaporkan dan tidak ditutup rumah makanmu masih enak kau! Pedagang bubur lalat!!"

Pelayan itu buru-buru mundur membiarkan mereka pergi dan kembali orang-orang di situ gelak tertawa. Mereka sebagian besar adalah penduduk aseli Peking maka mereka tahu belaka hahwa tiga orang itu adalah kaki tangan manusia-manusia penghianat yang suka menangkap-nangkapi bangsa sendiri yang dicurigai.

Orang-orang macam ini kerjanya hanya keluyuran setiap hari mencari orang yang kiranya dapat dijadikan korban. Bagi para tamu. kejadian tadi adalah hal yang kebetulan saja dan mungkin sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Kalau tidak begitu, masa hanya mereka saja yang diserbu lalat?

"Mulut mereka terlalu busuk baunya sampai-sampai menarik lalat-lalat hijau." kata seorang tamu sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"Lalat juga tahu mana sahabatnya!" kata orang lain.

Akan tetapi senda-gurau dan ejekan terhadap tiga orang mata-mata itu berhenti seketika setelah mereka melihat bahwa tiga orang itu ternyata tidak pergi jauh hanya berhenti di depan warung dan berdiri di seberang jalan dekat pintu halaman rumah gedung keluarga Liu.

Sementara itu, kakek aneh itu menggapaikan tangan kepada seorang pelayan tua. Pelayan itu cepat menghampiri membungkuk-bungkuk merendahkan diri seperti sikap seorang pelayan rumah makan yang pandai.

"Duduklah, mari temani aku minum arak." kata kakek itu.

Pelayan tua kaget, menggeleng-gelengkan kepala. "Mana berani saya berlaku kurang ajar terhadap tamu? Silahkan loya minun, saya yang melayani."

"Duduk kataku mengapa berbantahan?" Kakek gagah itu menarik lengan si pelayan yang terduduk di atas bangku seperti bukan atas kehendaknya sendiri, tahu-tahu ia telah duduk begitu saja. "Minum secawan arak!"

Pelayan itu dengan wajah berobah terpaksa minum, dan ternyata diapun seorang setan arak karena sekali tuang saja arak secawan itu sudah amblas! Ia menaruh cawannya yang sudah kering di atas meja wajahnya yang tadi agak pucat menjadi kemerahan dan ia tersenyum-senyum. "Terima kasih. loya (tuan tua), arak ini enak sekali "

Akan tetapi diam-diam Wi Liong mengerutkan kening karena ia melihat bagaimana secara cepat dan diam-diam tadi kakek aneh itu menaruh sebutir pel ke dalam cawan arak pelayan. Agaknya pel itu mudah cair dan tidak ada rasanya, buktinya pelayan itu minum habis tanpa merasa apa-apa. Apakah niat kakek itu melakukan hal ini? Apa kehendaknya? Wi Liong benar-benar merasa heran sekali.

Akan tetapi tak lama kemudian ia segera mengerti. Kakek pelayan itu melihat caranya minum arak, terang bukan seorang yang tak pernah minum arak kalau tak mau dikata masuk golongan setan arak. Akan tetapi mengapa baru minum dua cawan saja sudah merah sekali mukanya dan suara ketawanya menandakan bahwa ia telah mabok berat?

Kalau baru dua cawan saja, arak yang bagaimana tua pun takkan dapat memabokkan seorang ahli minum! Pelayan itu mulai bicara tidak karuan diselingi ketawa-tawa dan kini ia tidak begitu merendah-rendah seperti tadi.

Wi Liong menjadi tak senang. Kakek tua aneh itu boleh jadi seorang tokoh kang-ouw yang nakal, akan tetapi tidak semestinya kalau ia mempermainkan seorang, pelayan yang tidak punya desa. Selagi ia hendak menegur, ia tersentak kaget dan tidak jadi bergerak ketika mendengar kakek itu berkata.

"Nah... loheng (kakak tua), sekarang kau dongengkan tentang orang-orang ternama seperti misalnya keluarga Liu pemilik rumah gedung di depan itu."

Pelayan itu tertawa terkekeh-kekeh, tawa seorang mabok yang tidak sadar lagi. "Bandot tua bangka itu? Heh-heh-heh... apanya yang patut didongengkan? Bandot mata keranjang sampai ke tulang sumsum, bapak anak seringgit dua-rupiah-setengah, sama saja!”

Wajah kakek aneh itu nampak berseri dan penuh harap. "Mengapa kau bisa bilang keluarga itu mata keranjang? Apa buktinya?”

"Heh-heh-heh.... bukti? Mau bukti? Hanya orang buta yang tidak melihat. Siapa tidak tahu tentang gadis desa yang tahu-tahu mati dan dikubur diam-diam di tengah malam? Dan belum lama ini setiap malam terdengar tangis wanita, kabarnya ada lagi gadis yang diculiknya. Padahal usianya sudah enampuluh lebih. Kalah tua aku! Tapi tua-tua keladi makin tua makin menjadi! Heh-heh-heh."

"Semua orang tahu memang kalau Liu-wangwe hartawan Liu mata keranjang, akan tetapi kau bilang ayah anak sama saja, apa artinya itu? Bukankah anaknya hanya seorang yang sudah remaja puteri?"

"Oooo kau keliru...."

Pada saat itu pengurus rumah makan itu datang menghampiri dengan langkah lebar. "A Sam. jangan mengganggu tamu....."

Kakek aneh itu melotot kepada pengurus rumah makan. "Apa mengganggu? Aku yang mengundangnya menemani aku minum. Kau mau apa?”

"Maaf, loya.....” penguru itu merendah dan wajahnya memperlihatkan kekhawatiran dan beberapa kali ia menengok ke arah tiga orang mata-mala yang sejak tadi berdiri di depan. "akan tetapi A Sam kami beri upah bukan untuk mengobrol, melainkan untuk bekerja... dan..."

"Berapa sih upahnya? Nih gantinya!" Kakek aneh itu melemparkan sepotong perak yang barangkali cukup untuk membayar upah A Sam selama sepekan! ”Sudah, enyah! Teruskan Sam-ko!"

Pengurus itu tidak berani berkata apa-apa lagi dan pergi. Ia maklum bahwa kakek yang seperti Kwan Kong dan membawa-bawa golok itu tentu seorang kangouw maka ia tidak berani memaksa. ‟Celaka, pikirnya. A Sam sudah mabuk dan membuka-buka rahasia orang sedangkan anjing-anjing pemburu itu masih berada di depan pintu. Celaka, celaka.... apa yang akan menimpa rumah makan kita?‟

Demikian pengurus itu menggerutu seorang diri. Adapun A Sam setelah longak-longok dan tersenyum-senyum puas melanjutkan kata-katanya. "Kau keliru loya. Keluarga Liu itu dahulunya mempunyai seorang putera, dalam hal watak cabulnya tidak kalah oleh si bandot tua ayahnya sendiri."

Pengurus rumah makan itu membanting-banting kaki melihat tiga orang mata-mata kaget mendengar seorang pelayan warung berani memaki-maki Liu-wangwe (hartawan Liu) atau boleh juga disebut Liu-taijin (pembesar Liu). Saking herannya mereka ini sampai tidak bertindak apa-apa, hanya membuka telinga ikut mendengarkan.

"Di mana puteranya itu sekarang?" tanya kakek aneh penuh perhatian.

"Ho-ho... sudah tidak ada lagi. Sudah mampus! Akibat mata keranjangnya. Masa dia berani main gila dengan isteri koksu baru."

"Kau maksudkan Beng Kun Jinjin?"

"Namanya siapa aku tidak tahu, mana aku bisa tahu? Kabarnya koksu itu seorang hwesio tua, diberi hadiah selir kaisar yang disebut Puteri Harum! Ha-ha-ha lucunya manusia! Puteri Harum bekas selir kaisar dijodohkan dengar seorang hwesio gundul tua, mana puas?

Diam-diam main gila dengan putera keluarga Liu yang muda dan ganteng. Semua orang tahu belaka, hanya hwesio tua bangka itu goblok seperti kerbau... Ha-ha. tentu saja aku juga tahu, dahulu aku berdagang di kota raja, sampai jatuh gulung tikar karena aku keedanan judi dan..."

Mendengar cerita itu melantur tidak karuan, kakek tadi lalu menyetop. "Main gila dengan isteri koksu lalu bagaimana?”

"Akhirnya hwesio koksu itu tahu juga rupanya. Pada suatu malam si hwesio minggat setelah membunuh pemuda she Liu itu di kamarnya. Dengar baik-baik loya, dibunuh di dalam kamar tidur koksu itu sendiri. Ha-ha itu saja sudah menerangkan keadaan sebenarnya. Hwesio itu membunuh si pemuda lalu minggat bersama Puteri Harum dan anaknya."

"Sudah punya anakkah Puteri Harum dan hwesio itu?”

"Bukan anak si hwesio!"

"Anak orang she Liu "

"Juga belum tentu."

"Habis anak siapa?”

"Ha-ha-ho-ho, bapaknya banyak... ha-ha. Tadinya selir kaisar, lalu isteri hwesio dan kekasih Liu-kongcu. Coba bilang, siapa bapaknya?”

"A Sam, cukup! Bantu aku di sini!" teriak si pengurus rumah makan dengan muka pucat.

A Sam agaknya masih ingat akan pengaruh bentakan majikannya ini, cepat-cepat ia berdiri menjura kepada kakek aneh itu dan menghampiri majikannya untuk membantu pekerjaan lain.

Kakek aneh itu tertawa seorang diri sambil menenggak araknya. "Bandot tua... mata keranjang....!" terdengar ia bersungut-sungut.

Akan tetapi kakek itu tersentak kaget ketika memandang ke depan. Terlihat tiga orang mata-mata itu sedang bercakap-cakap dengan seorang kakek tinggi besar dan buruk rupa, bengis kelihatannya, alisnya tebal menutupi mata.

"Dia di sini....?" kakek itu berbisik, buru-buru membayar harga makanan dan segera pergi dari warung itu.

Akan tetapi Wi Liong masih dapat melihat bagaimana kakek itu menekan, pinggir meja yang segera melesak ke bawah dan meja itu menjadi miring! Wi Liong diam-diam merasa kagum dan tidak mengerti akan sikap yang aneh ini. Ia masih terlampau tertegun mendengar penuturan pelayan tua yang benar-benar sangat menguntungkan baginya itu. Jadi sudah jelas bahwa keluarga Liu ini pernah berurusan dengan Beng Kun Cinjin dan kiranya kakek pelayan atau keluarga itu akan dapat memberi petunjuk kepadanya ke mana perginya Beng Kun Cinjin.

Ketika ia melihat lagi, kakek aneh bermuka Kwan Kong itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya dan sebagai gantinya, dengan langkah lebar masuklah kakek tinggi besar yang tadi bercakap-cakap dengan tiga orang mata-mata di halaman gedung keluarga Liu. Kakek ini tidak kalah anehnya oleh yang tadi. Tubuhnya tinggi besar, mukanya segi empat alisnya tebai menutupi mata, kulit tubuhnya mbengkerok seperti kulit buaya kudisan.

"Mana dia A Sam si mulut busuk?" tanya kakek tinggi besar itu sambil terus melangkah menghampiri pengurus warung yang kelihatan ketakutan melihat kakek ini.

Pengurus itu menudingkan telunjuknya ke kiri dan... A Sam telah tidur mendengkur di atas bangku panjang! Kakek itu menghampiri A Sam yang mabok berat sekali, melihat sebentar lalu menepuk kepalanya beberapa kali. Aneh. A Sam lalu membuka matanya dan agaknya sudah sadar sama sekali dari pengaruh arak.

Wi Liong yang menyaksikan ini semua membuka mata lebar-lebar. Ternyata kakek itu telah membuka hawa murni pelayan itu sehingga semua hawa pengaruh arak telah buyar dan lenyap. Hanya seorang berilmu tinggi saja yang sanggup menotok urat-urat kecil di bagian kepala untuk memberi jalan kepada hawa arak yang memenuhi kepala! Lagi-lagi seorang pandai di depannya! Ia memandang terus dan makin lama ia merasa makin tidak asing, seakan-akan ia pernah bertemu dengan kakek ini, entah di mana. A Sam memandang bingung, kemudian kelihatan ketakutan. ”Hayo katakan, kau yang tahu akan riwayat dahulu, di mana adanya Beng Kun Cinjin sekarang!” tanya kakek tinggi besar itu dengan suaranya yang parau dan kasar. "Saya....... hamba....... tidak tahu. Nama itupun baru sekarang hamba dengar..." "Bulus! Kalau tidak tahu mengapa tadi mengobrol tidak karuan?” "Hamba tidak mengobrol, loya. Sejak tadi melayani para tamu dan...." Terdengar beberapa orang tamu tertawa geli, akan tetapi segera diam kembali seperti jengkerik terpijak ketika kakek tinggi besar itu mengerutkan kening dan membentak, "Siapa orang muka merah yang kau ajak mengobrol tadi?” "Orang muka merah yang mana? Aahhhh...." A Sam teringat. "dia kan tamu di sini tadi....?" A Sam benar-benar kelihatan bingung sekali. "Hamba tidak kenal dan tidak tahu kemana perginya...." A Sam memandang ke arah meja yang sudah miring. Melihat meja itu, kakek tinggi besar menghampiri dengan langkah lebar, lalu tertawa bergelak menyeramkan. "Yang beginian saja dipamerkan?" Jari telunjuknya mengungkit ujung meja yang segera terangkat dan rata kembali berdirinya. Kemudian kakek itu menyambar kedua kaki pelayan tua, mengangkatnya ke atas sehingga pelayan itu tergantung dengan kepala di bawah! Tentu saja A Sam menjerit-jerit seperti babi disembelih minta diampuni. Sambil tertawa-tawa kakek itu membawa A Sam ke dekat tempat godokan bubur dan menggantung kepala A Sam di situ, mengancamnya hendak memasukkan kepala yang kecil gepeng (tipis) itu ke dalam bubur yang mendidih! "Aduuhhh... aaa... aadduuhhh... loyaa... panas...!" A Sam menjerit-jerit, ngeri melihat bubur yang panas mendidih, yang setiap pagi menjadi permainannya kalau ia melayani para tamu. Belum juga kepalanya menyentuh bubur, ia sudah hampir pingsan dan berteriak-teriak kepanasan! Para tamu memandang penuh kengerian pula. Betul-betulkah kepala itu hendak dimasukkan ke dalam bubur mendidih? Sementara itu pengurus rumah makan berdiri dengan kaki menggigil dan muka pucat. Kakek kejam itu agaknya mengalami kegembiraan benar melihat A Sam yang ketakutan. Ia tertawa-tawa geli seperti meiihat sesuatu yang lucu. Tangan kirinya yang memegang dua pergelangan kaki A Sam sebentar diturunkan sampai kepala itu sudah mulai terkena uap lalu diangkat lagi, dipermainkan. "Ampuuunn... am... ampun, tuan besaaarrr...." "Ha-ha-ha... mana bisa ada ampun? Kau kemarin memberi bubur yang terlalu panas sampai lidahku serasa terbakar, sekarang kau rasakan bagaimana kalau kepalamu kumasukkan ke dalam bubur panas" kata kakek itu membuat semua orang terheran-heran.

Tadinya mereka mengira bahwa kakek itu hendak menghukum A Sam karena tadi A Sam membongkar rahasia keluarga Liu, tidak tahunya sekarang mendadak si tinggi besar itu mempersoalkan lidah terbakar oleh panasnya bubur. Benar-benar hal yang amat mbo-cengli (tiada aturan)!

"Bu-ceng Tok-ong....!" tiba-tiba terdengar suara ini dan kakek itu seperti dipagut ular, melemparkan tubuh A Sam ke samping, membuat pelayan itu mengaduh kesakitan dan kepalanya benjol sebesar telur bebek. Cepat ia merayap dan menymgkirkan diri ke belakang, terus bersembunyi masuk ke kolong meja dapur!

Adapun kakek itu yang sebetulnya bukan lain memang Bu-ceng Tok-ong meraba-raba siku tangan kirinya sambil memandang ke sekelilingnya. Sinar matanya yang bersembunyi dari balik alis tebal itu menyambar-nyambar penuh bahaya. Akan tetapi, para tamu di dalam warung itu hanya orang-orang biasa, tidak ada yang mencurigakan.

Diam-diam ia bergidik sendiri. Sudah terang baginya bahwa ada orang pandai yang baru saja menyerangnya dengan pukulan dari jauh, tepat mengenai siku tangan kirinya, membuat tangan kirinya terasa lumpuh. Orang yang mampu melakukan hal ini sudah tentu seorang pandai sekali. Akan tetapi ternyata orang itupun tidak bermaksud jahat, kalau tidak demikian kiranya pergelangan sikunya dapat terluka lebih hebat lagi.

Setelah mendapat kenyataan bahwa di tempat itu tidak terdapat orang yang patut memiliki kepandaian tinggi dalam pandangannya, Bu-ceng Tok-ong dengan langkah lebar keluar dari warung itu, sedikitpun tidak menengok lagi kepada A Sam.

Para tamupun bubaran cepat-cepat dan sehari itu warung yang biasanya ramai ini menjadi sepi. Berita tentang peristiwa itu cepat sekali tersiar dan orang-orang tidak berani berbelanja di situ, takut kalau terbawa-bawa.

Juga Wi Liong diam-diam pergi dari tempat itu. Tadi dia yang menolong A Sam dan diam-diam dia mengirim pukulan jarak jauh, tidak terlalu kuat akan tetapi cukup memberi peringatan kepada Bu-ceng Tok-ong bahwa kalau Raja Racun ini melanjutkan perbuatannya, menggodok kepala A Sam hidup-hidup, tentu akan ada orang yang menolong pelayan itu.

Wi Liong bukan seorang bodoh. Dia tidak mau berlaku ceroboh di dalam kota yang selalu terjaga kuat dan penuh dengan mata-mata pemerintah Mongol. Ia hendak menyelidiki urusan pribadinya dengan diam-diam tanpa banyak menimbulkan keributan. Ia sudah mengambil keputusan untuk menemui A Sam malam nanti dan minta penjelasan lebih jauh tentang Beng Kun Cinjin.

Malam hari itu kota raja ke dua itu nampak indah di bawah sinar bulan yang sore-sore telah muncul di langit biru. Suasana remang-remang romantis menimbulkan kegembiraan dalam hati. Sayang sekali hawa amat dinginnya, orang-orang tidak sda yang berani keluar kalau tidak mempunyai keperluan penting.

Lebin enak berdiam di rumah menghadapi hangatnya api di perapian. Apa lagi menjelang tengah malam setelah bulan jauh terbang ke arah barat, dinginnya bukan kepalang....

Jilid selanjutnya,