Naga Merah Bangau Putih Jilid 07, karya Kho Ping Hoo - “Yap Lopek, karena Enciku memang tidak ada kawan, biarlah kau orang tua tolong menyediakan dua tempat duduk di dekat nona cantik itu. Lebih baik duduk di sana bercakap-cakap dengan seorang nona yang demikian tabah dan gagah, daripada duduk di sini menjadi tontonan orang. Aku suka melihat orang muda yang berani dan tabah, daripada melihat orang-orang yang suka menjilat-jilat! Bukan begitu, Cici?”

Biarpun hatinya masih mendongkol, akan tetapi Kim Bwe amat sayang kepada adiknya ini dan tidak mau membuat adiknya kecewa, maka ia menganggukkan kepala kepada Yap Ma Ek yang bergegas menyuruh pelayan mengambil dua kursi besar dan diletakkan di dekat tempat duduk Siang Hwa. Dengan tindakan kaki gagah Lee Kun dan Lee Kim Bwe menghampiri Siang Hwa yang memandang ke arah mereka dengan tak acuh.
“Thiat-Thouw-Gu!” Lee Kim Bwe menegur sambil tersenyum mengejek. “Telah lama kami mendengar namamu yang besar, dan kami ingin sekali berkenalan dengan kau dan muridmu yang gagah dan cantik ini!”
Lie Kai buru-buru berdiri dan membalas penghormatan wanita baju hijau itu. “Ah, jangan terlalu memuji, Lee Lihiap. Telah lama aku mengagumi nama kalian berdua yang menggemparkan dunia kang-ouw. Aku merasa terhormat sekali bahwa jiwi (kalian berdua) sudi membuat perkenalan.” Ia lalu berpaling kepada Siang Hwa yang masih duduk, lalu berkata memperkenalkan.
“Ini adalah Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe dan Lui-Kong-Ciang Lee Kun, yang keduanya di sebut sebagai Sin-Kiam Siang-Hiap yang tersohor!”
Terpaksa Siang Hwa berdiri dan menjura kepada dua orang itu. “Baru saja tadi aku yang tak terkenal dan bodoh mendengar nama jiwi yang besar. Perkenalkanlah, aku bernama Liok Siang Hwa dan sama sekali tidak mempunyai julukan.” Kemudian dengan wajah merah jengah melihat pandangan mata Lee Kun yang menatap secara kurang ajar, ia duduk kembali.
Lee Kim Bwe tersenyum dan menduga bahwa gadis muda ini tentu merasa iri melihat kecantikan, kemewahan, dan nama besarnya. Maka iapun lalu duduk di kursi yang disediakan itu sambil tersenyum bangga karena ia maklum bahwa boleh diumpamakan kembang, ia lebih menarik daripada Siang Hwa.
Memang Siang Hwa sederhana, mukanya tidak dilapisi bedak dan gincu, bahkan rambutnya banyak yang terlepas dari ikatan dan awut-awutan, pakaiannya tidak mewah. Berbeda dengan Kim Bwe yang serba rapih itu, dengan mukanya yang cantik memakai bedak wangi, bibirnya diberi merah-merah sedikit, dan alisnya ditambah hitam dengan alat penghitam alis.
Akan tetapi Kim Bwe lupa bahwa sebagian besar laki-laki lebih menyukai kembang yang asli, lebih tertarik akan kecantikan murni yang timbul dari alam. Di dalam kesombongan, ia lupa pula bahwa ia telah berusia tiga puluh tahun, sedangkah Siang Hwa baru belasan tahun. Memang, kalau sekiranya Kim Bwe merupakan wanita tunggal di ruangan itu.
Tentu ia akan menarik perhatian, akan tetapi dengan adanya Siang Hwa di situ, semua mata para tamu muda mengerling ke arah Siang Hwa! Dan oleh karena gadis itu duduk di dekatnya maka Kim Bwe mengira bahwa lirikan-lirikan itu ditujukan kepadanya, maka sambil tersenyum-senyum bangga ia duduk mengatur sikap!
Pada saat tuan rumah sedang mengepalai serombongan pelayang yang menyuguhkan arak, tiba-tiba seorang laki-laki tinggi besar yang kepalanya dibungkus kain merah sampai menutupi kedua telinganya masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa sebuah bungkusan kain merah. Yap Ma Ek cepat menyambutnya dan mempersilahkan duduk.
“Yap-Enghiong,” kata laki-laki itu dengan suara keras, “Agaknya kau telah lupa kepadaku. Terimalah salam berikut hadiah ini dan setelah kau membuka hadiahku, tentu kau akan teringat kembali siapa adanya aku ini!” Suara ini cukup keras sehingga banyak mata memandang ke arahnya.
Yap Ma Ek memandang tajam dan agaknya ia sudah pernah melihat muka ini, akan tetapi lupa lagi entah kapan dan dimana. Ia menerima hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih.
“Duduklah, sahabat. Setiap orang gagah yang di sini adalah sahabatku. Maafkan kalau mataku yang sudah kabur dan ingatanku yang sudah tumpul membuat aku lupa siapa kau ini. Harap kau sudi memberitahukan namamu yang mulia.”
Orang itu tersenyum dan senyumnya tidak menyenangkan hati. “Orang she Yap, bukalah dulu hadiahku dan kau tentu akan tahu namaku!”
Mendengar nada ucapan orang ini, makin tak enaklah hati Yap Ma Ek, akan tetapi dengan tenang ia lalu menghampiri sebuah meja, meletakkan bungkusan kain merah itu di atas meja, dan dengan perlahan membukanya.
“Ayaa…”! ia berseru dan memandang dengan mata terbelalak kepada isi bungkusan kain merah itu. Semua orang terkejut mendengar teriakan ini dan semua mata kini memandang ke arah tuan rumah dan tamu aneh itu.
“Ha, ha, ha, ha! Yap Ma Ek, kau tentu teringat kembali kepadaku, bukan?”“Kau... kau Bhok Kwi si Harimau Kuning?” kata Yap Ma Ek sambil memandang kembali kepada isi bungkusan yang mengerikan itu, karena ternyata bahwa isi bungkusan itu adalah sebuah daun telinga manusia yang masih utuh!
“Hm, ternyata ingatanmu masih tajam, orang she Yap!” Bho Kwi membentak marah. Dan untuk tidak meragukan kau lagi, lihat aku baik-baik!”
Sambil berkata demikian, Bhok Kwi merenggut kain merah penutup kepalanya dan kini semua orang melihat betapa orang itu telah kehilangan daun telinga sebelah kanan dan bahkan pada jidat bagian atas terdapat luka bekas bacokan. “Lihatlah baik-baik,” katanya lagi. “Aku datang memenuhi janji untuk mencarimu sepuluh tahun kemudian! Masih ingatkah kau? Sepuluh tahun bukan waktu yang amat lama?”
Yap Ma Ek menentramkan hatinya dan ia menjawab dengan dingin. “Bhok Kwi! Tentu saja aku masih ingat baik-baik akan hal itu! Kau datang hendak membalas dendam? Baiklah, jangan kau kira bahwa aku Kim-Ci-Eng Yap Ma Ek takut kepada seorang perampok seperti kau!”
“Bagus kebetulan banyak orang berkumpul di sini biar mereka menjadi saksi!” jawab Bhok Kwi yang segera mencabut senjatanya berupa golok besar dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap memegang kain pengikat kepala yang berwarna merah tadi. Seorang diantara tamu, yang masih muda dan berwatak keras berangasan, melompat dari kursinya dan berkata kepada Yap Ma Ek.
“Yap Lo-Enghiong, untuk apa melayani segala macam cecunguk? Biarkan Siauwte membereskan dan mengusirnya!”
Yap Ma Ek tersenyum dan menggelengkan kepala. “Kui Hiante, dan juga cuwi Enghiong sekalian yang hadir disini. Pekenankanlah aku membereskan urusanku dengan sahabat ini sebentar, dan harap jangan ikut campur, karena urusan ini adalah urusan pribadi.” Kemudian ia bertindak menuju ke ruang di dekat situ yang lega sambil berkata,
“Orang she Bhok, marilah kita main-main sebentar.” Ia lalu mencabut pedangnya yang selama berpuluh tahun telah banyak berjasa itu. Pedang ini pula yang dulu memotong telinga Bhok Kwi dan melukai jidatnya.
Melihat pedang ini, Bhok Kwi menjadi merah mukanya. Seperti pernah dituturkan dahulu, Yap Ma Ek adalah seorang pendekar yang banyak dimusuhi orang, terutama para perampok yang pernah dirobohkannya. Pendekar she Yap ini memang benci sekali kepada para perampok dan dulu ketika mendengar tentang perampok yang mengganas dalam sebuah hutan, didatanginya perampok itu dan dalam pertempuran hebat, ia berhasil merobohkan perampok itu dan mengutungi sebelah daun telinganya.
Perampok itu adalah Oei-Houw Bhok Kwi yang bersumpah untuk membalas dendam sepuluh tahun kemudian, sambil pergi membawa daun telinganya yang putus. Ia menyimpan dan merendam telinga itu dalam arak dicampuri obat sehingga bagian tubuh yang terlepas itu tidak menjadi rusak. Kemudian ia belajar ilmu silat selama sepuluh tahun sehingga memiliki kepandaian tinggi, lalu dicarinya musuh besarnya itu.
Melihat musuh besarnya telah mencabut pedang, dengan terjangan dahsyat ia menyerang. Goloknya menyambar secepat kilat dan ketika Yap Ma Ek mengangkat pedangnya menangkis, tiba-tiba tangan kirinya yang memegang kain merah itu bergerak. Kain merah itu meluncur maju dengan cepat sekali dan menjadi kaku karena ia mempergunakan lweekangnya.
Yap Ma Ek terkejut sekali karena gerakan ini saja memperlihatkan bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada dahulu. Cepat ia melompat mundur dan Bhok Kwi tertawa bergelak lalu menyerang lagi. Yap Ma Ek tidak percuma mendapat julukan Kim-Ci-Eng si Garuda Sayap Emas, karena gerakannya benar-benar lincah dan gesit sekali.
Ilmu ginkangnya sudah amat tinggi dan ketika tubuhnya berkelebat sambil mainkan pedangnya, maka lenyaplah ia terbungkus oleh sinar pedangnya sendiri. Para tamu banyak yang merasa kagum sekali melihat kegagahan tuan rumah yang sudah tua itu.
Akan tetapi kali ini ia menjumpai lawan berat. Bhok Kwi yang pernah dijatuhkannya itu maklum bahwa akan kelihaian Yap Ma Ek dalam ilmu ginkang, maka ia sengaja mempelajari ilmu golok dan ilmu mainkan kain merah panjang itu sambil melatih lweekangnya.
Kini dengan kedua senjatanya itu ia dapat melakukan perlawanan amat baiknya. Goloknya diputar secepat angin melindungi seluruh tubuhnya dari serangan dan gerakan pedang lawan, sedangkan kain merahnya bergerak-gerak mencari sasaran pada tubuh lawan.
Yap Ma Ek makin terkejut dan diam-diam ia kagum melihat kemajuan lawannya ini, ia tahu bahwa kain merah ditangan kiri Bhok Kwi itu malah lebih berbahaya daripada goloknya, karena kain merah itu dapat dipergunakan untuk menotok, menyampok, atau merampas senjata. Ia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menjaga agar jangan sampai dirobohkan oleh bekas perampok ini.
Pertempuran itu berjalan cepat sekali dan juga seru dan mendebarkan hati semua penonton yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Kepandaian dua orang yang bertempur itu sudah mencapai tingkat tinggi, sehingga Lie Kai sendiri hanya dapat melihat bahwa biarpun Yap Ma Ek cepat sekali gerakannya, namun penjagaan diri lawannya itu cukup kuat sehingga agaknya tidak mudah bagi Yap Ma Ek untuk menjatuhkan lawannya.
Akan tetapi Siang Hwa memiliki mata yang lebih tajam. Ia tahu bahwa akhirnya Yap Ma Ek tentu akan kalah, karena permainan golok dari si telinga buntung itu benar-benar hebat. Apalagi kain merahnya merupakan ancaman yang amat berbahaya. Benar saja, setelah pertempuran berjalan empat puluh jurus lebih, tiba-tiba Bhok Kwi berseru keras. Kain merahnya dapat melibat pedang lawan dan dibetotnya sekuat tenaga.
Akan tetapi Yap Ma Ek juga mengerahkan tenaga sehingga kain itu tidak dapat merampas pedangnya. Tiba-tiba Bhok Kwi menggerakkan goloknya membacok kearah tangan kanan yang memegang pedang. Terpaksa Yap Ma Ek melepaskan pedangnya kembali melompat mundur. Mukanya pucat dan ia merasa malu sekali.
“Ha, ha, ha! Orang she Yap, tidak tahunya kepandaianmu hanya begini saja.”
“Bhok Kwi dengan jujur aku mengaku kalah. Habis, kau mau apakah?”
“Yap Ma Ek, peribahasa menyatakan bahwa hutang uang harus dibayar uang, hutang jiwa dibayar jiwa. Menurut patut, hutang yang sudah sepuluh tahun lamanya harus berbunga. Kalau dulu kau hanya menebas daun telingaku dan melukai jidatku, sekarang kau harus membayar dengan lehermu! Akan tetapi, melihat muka para tamu yang berkumpul disini, biarlah aku berlaku murah hati. Kau lihat, telingaku lenyap sebelah dan telinga itu telah kuhadiahkan kepadamu. Sekarang sebagai gantinya, aku minta sebelah daun telingamu untuk kujadikan tanda mata!”
Yap Ma Ek adalah seorang gagah yang tidak takut mati. Ia menganggap bahwa permintaan Bhok Kwi sebagai orang yang menangkan pertandingan cukup adil. Maka jawabnya dengan gagah. “Baiklah, ini telingaku, kau boleh ambil!” Sambil berkata demikian, Yap Ma Ek mendekatkan kepalanya ke arah Bhok Kwi.
Kembali Bhok Kwi tertawa dan ia mengangkat goloknya, siap untuk membacok putus daun telinga musuh besarnya itu. Ia merasa puas dan girang sekali, karena kemenangannya dan perbuatannya ini akan menjatuhkan nama Yap Ma Ek dan ini sudah cukup baginya. Penghinaan yang ia alami di dalam hutan tanpa ada orang yang menyaksikan itu tidak akan lebih hebat daripada penghinaan yang ia balas terhadap Yap Ma Ek di depan sekian banyak orang gagah!
“Tahan dulu!” Tiba-tiba terdengar teriakan orang dan Lui-Kong-Ciang Lee Kun melompat dari kursinya. “Di depanku, kau tidak boleh menghina tuan rumah!”
Bhok Kwi menengok ke arah pemuda yang bicara itu, akan tetapi ia tidak ambil pusing, hanya berkata, “Orang luar tidak boleh ikut campur!” Dan ia mengayunkan goloknya ke arah kepala Yap Ma Ek!
Akan tetapi, belum sampai golok itu membabat daun telinga Yap Ma Ek, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya dan “trang…!” sebuah pedag di tangan Lui-Kong-Ciang Lee Kun telah menangkis golok itu dan Bhok Kwi merasa terkejut sekali ketika merasa telapak tangannya tergetar! Gerakan yang dilakukan oleh Lee Kun itu benar-benar mengagumkan.
Tempat di mana Lee Kun berdiri dengan tempat pertempuran tadi bukanlah dekat, sedikitnya ada empat tombak jauhnya. Akan tetapi, dengan gerak lompat Ouw-Liong Coan-Tah (Naga Hitam Menembus Menara) ia telah melesat dengan cepat sekali dan masih sempat menolong Yap Ma Ek dari bahaya kehilangan sebelah telinganya!
Bahkan Siang Hwa sendiri ketika melihat gerakan ini, diam-diam merasa kagum dan dapat menduga bahwa orang she Lee ini benar-benar memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.
Sementara itu, Bhok Kwi yang selama sepuluh tahun menyembunyikan diri untuk mempelajari ilmu silat sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang munculnya tokoh-tokoh baru yang masih muda, menjadi marah sekali.
“Bangsat tidak tahu aturan! Bagaimana kau berani menghalangi dan mencampuri urusanku? Apakah kau tidak tahu bahwa kau sedang berhadapan dengan Oei-Houw Bhok Kwi?”
Lee Kun tersenyum menghina. “Siapa kenal segala macam harimau yang tak berkuku lagi? Aku Lui-Kong-Ciang Lee Kun tidak kenal segala perampok, apalagi perampok busuk dan hina-dina, biarpun ada sepuluh orang macam engkau, aku tidak akan membiarkan menghina tuan rumah di mana aku menjadi tamunya, mengerti?”
Bukan main marahnya Bhok Kwi mendengar ucapan yang amat menghina ini. tangannya menggigil dan sepasang matanya memandang tajam, seakan-akan mengeluarkan cahaya berapi-api.
Sementara itu, Yap Ma Ek merasa malu sekali melihat Lee Kun ikut campur, maka ia melangkah maju sambil berkata. “Lee-Taihiap, aku adalah seorang laki-laki sejati dan aku tidak akan menarik kembali bicara ku. Aku sudah menyatakan janji. Aku siap menerima pembalasan itu!”
“Tidak!” bantah Lee Kun marah. “Yap Lopek jangan terlalu mengalah terhadap seorang bangsat perampok macam ini! Perbuatan Lopek dulu sudah patut dan adil, dan Lopek masih berlaku murah hanya dengan membabat putus telinganya. Seharusnya Lopek membabat putus lehernya! Biarlah, Yap Lopek, aku sendiri yang bertanggung jawab menghadapi bangsat ini!”
“Kurang ajar!” seru Bhok Kwi yang tidak dapat menahan amarahnya lagi mendengar makian dan hinaan yang keluar dari mulut Lee Kun berkali-kali itu. Ia maju dan menyerang dengan goloknya menusuk perut Lee Kun, sedangkan kain merah di tangan kirinya bergerak menotok jalan darah orang muda itu.
Lee Kun mengeluarkan suara jengkel dan tubuhnya melesat ketika senjata-senjata lawan sudah datang dekat. Kemudian ia membalas dengan serangan pedangnya yang mengeluarkan sinar menyilaukan. Ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut benar benar hebat sekali sehingga baru sekarang Siang Hwe memandang penuh perhatian.
Memang ilmu pedang adalah permaianan silat yang paling ia sukai, maka setiap kali melihat ilmu pedang yang bermutu tinggi, tentu saja ia amat tertarik. Betapapun hebat permainan silat Bhok Kwi, namun baru bertempur belasan jurus saja sudah dapat terlihat bahwa ia menghadapi lawan yang lebih tinggi setingkat kepandaiannya. Sebentar saja sinar pedang di tangan Lee Kun telah mengurung dan mendesaknya secara hebat sekali.
Bhok Kwi terkejut sekali dan pada waktu ia melakukan serangan berganda dengan cepat ke arah kaki Lee Kun dan untuk melakukan gerakan menyerang ini, Bhok Kwi merendahkan tubuhnya sambil menekuk lutut, sedangkan kain merah di tangan kirinya di sabetkan menuju ke ulu hati Lee Kun.
Dengan gerakan yang amat indahnya, Lee Kun melompat ke atas. Ketika golok menyambar lewat di bawah kakinya dan kakinya masih berada di tengah udara, tiba-tiba kedua kakinya itu dapat digerakkan beruntun mengirim tendangan ke arah dada lawannya dan berbareng pedangnya bergerak cepat menyampok kain merah yang menyerang ke arah ulu hatinya! Gerakan ini selain indah, juga hebat sekali serta tak terduga sama sekali oleh Bhok Kwi.
Siang Hwa melihat gerakan ini, tak terasa lagi ia berseru memuji. “Bagus sekali...!”
Akan tetapi gerakan ini ternyata tidak bagus bagi Bhok Kwi, karena dalam saat yang berbareng kain merahnya terbabat putus oleh pedang Lee Kun sedangkan sebuah tendangan masih mengenai pundaknya sungguhpun ia telah mengelak. Ia terhuyung-huyung ke belakang dan merasa betapa pundak kanannya sakit sekali sehingga tangannya seakan-akan menjadi lumpuh!
Lee Kun menengok ke arah Siang Hwa dan tersenyum manis lalu mengangguk seakan-akan menyatakan kegiranganya mendengar pujian tadi. Siang Hwa merasa jengah dan merah mukanya. Ia merasa benci melihat lagak Lee Kun dan pujiannya tadi dikeluarkan tanpa disengaja, karena memang ia merasa kagum melihat gerakan yang benar-benar indah itu. Melihat lawannya terhuyung-huyung mundur. Lee Kun merasa bangga dan girang mendengar pujian Siang Hwa tadi, bergerak maju lagi dengan pedang mengancam!
Akan tetapi Yap Ma Ek melompat maju dan menghadang di depan Lee Kun. “Cukup, Lee Taihiap, tak boleh ada pertumpahan darah karena urusanku ini!”
Sementara itu, dengan muka merah Bhok Kwi lalu berlari keluar gedung itu tanpa menengok lagi. Terdengar pujian-pujian terhadap kegagahan Lee Kun yang membuat Lee Kun berseri-seri wajahnya. Ia menjura ke empat penjuru seperti seorang pemain panggung yang menerima tepuk tangan para penonton, lalu berkata.
“Cuwi sekalian, harap cuwi maafkan bahwa aku terpaksa turun tangan terhadap seorang jahat yang hendak menghina Yap Lopek! Kalau aku tidak turun tangan, berarti bahwa kita sekalian telah mendapat hinaan dari seorang perampok! Dengan perbuatannya tadi terhadap tuan rumah, bukankah itu berarti bahwa bangsat tadi tidak memandang sebelah mata kepada kita?”
“Betul... betul...!” terdengar seorang menyambut. “Setuju...! Memang perbuatan Lee Taihiap tepat sekali!”
Lee Kun melenggang dengan gayanya dan duduk kembali ke atas kursinya. Ia mengerling ke arah Siang Hwa dan melempar senyum, sehingga gadis itu terpaksa membuang muka, tak sudi melihat muka pemuda sombong itu. Setelah keadaan menjadi reda dan tidak tegang lagi, Yap Ma Ek sebagai tuan rumah lalu mengadakan sambutan dan berkata kepada semua yang hadir.
“Cuwi sekalian yang terhormat. Sebagaimana cuwi sekalian tentu telah dapat menduga pertemuan yang kita adakan kali ini selain untuk memperat tali persahabatan dan saling mengenal nama-nama yang sudah lama didengar, juga untuk bertukar pikiran tentang keadaan tanah air yang telah tercengkeram oleh penjajah! Kita semua adalah orang-orang yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, melakukan tugas sebagai orang-orang gagah.
"Keadaan negara sekarang telah berobah sama sekali dan penjajah-penjajah asing telah menguasai seluruh tanah air. Mungkin diantara saudara sekalian, terutama yang gagah, akan dapat mengemukakan usul bagaimana caranya untuk menolong rakyat dari perasaan para penjajah.”
Mendengar ucapan yang bersemangat ini, semua orang yang hadir diam tak berkata sesuatu. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing dan diantara mereka yang pernah berjuang seperti Lie Kai dan lain-lain, terkenanglah mereka pada masa perjuangan yang ternyata berakhir dengan kegagalan itu.
Tiba-tiba seorang Hwesio tinggi kurus berdiri dan berkata. “Cuwi sekalian, sesungguhnya biarpun Pinceng hanya seorang Hwesio yang tidak seharusnya mengurus segala soal peperangan, akan tetapi Pinceng dari Hong-San-Pai menjunjung tinggi nama mendiang Suhu bahwa di dalam perjuangan membela tanah air, siapapun juga dan dari golongan manapun juga, ia harus ikut membela tanah air. Pinceng merasa terharu sekali mendengar tentang perjuangan para Enghiong yang gagah perkasa.
"Menurut pendapat Pinceng, tidak mudah untuk menggerakkan tentara dan melawan balatentara Mancu yang demikian kuat dan besar jumlahnya. Maka jalan satu-satunya ialah bergerak sendiri-sendiri dan membasmi pembesar-pembesar Mancu. Dengan gangguan ini, maka para hati pembesar Mancu akan menjadi lemah dan mungkin sekali Kaisar Mancu akan merasa jerih.”
Tiba-tiba, dari luar ruangan itu terdengar suara orang berkata dengan suaranya yang amat tinggi. “Bagus sekali! Orang-orang yang mau menimbulkan pemberontakan, memancing terjadinya pertempuran sehingga rakyat kecil menjadi menderita karenanya, masih mau menganggap diri sebagai pendekar-pendekar gagah?”
Berbareng dengan lenyapnya suara itu, dari pintu luar berkelebat masuk dua bayangan orang yang gesit sekali gerakannya. Siapakah mereka ini? Bukan lain adalah Kakek pengemis yang pandai melukis dan kawannya, Hwesio gemuk yang telah bertempur melawan Lie Kai pagi tadi!
Kakek yang berpakaian seperti pengemis dan pandai melukis itu sebenarnya adalah seorang gagah di dunia kang-ouw yang bernama Lui Kok, sedangkan Hwesio gendut yang menjadi kawannya itu bernama Ban Sek Hosiang.
Mereka ini adalah dua diantara sekian banyak orang gagah yang telah kena terbujuk oleh pemerintah Mancu dan diantara kaki tangan Kaisar. Kedua orang ini kini bertugas untuk membujuk orang-orang gagah agar supaya suka bekerja untuk kepentingan pemerintah yang baru. Kaisar Mancu maklum bahwa di Tiongkok terdapat banyak sekali orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka oleh karena pemberontakan terjadi dimana-mana, dan sukar sekali ditindas, ia lalu mencari jalan lain.
Ia pikir bahwa kalau semua orang gagah dan berkepandaian tinggi dapat dibujuk untuk membantunya, maka pemberontakan-pemberontakan itu pasti akan bubar dengan sendirinya. Dalam menjalankan tugas mencari orang-orang gagah dengan pancingan berupa umpan pangkat tinggi dan harta benda.
Akhirnya kedua orang ini tiba di Propinsi Hunan. Mereka tetah berhasil memikat hati banyak orang gagah. Akhirnya mereka mendengar bahwa Yap Ma Ek mengundang banyak orang gagah, maka mereka lalu menuju ke kota Heng-Yang.
Di samping tugasnya itu, Lui Kok yang mempunya kepandaian melukis, di tiap kota membuat lukisan keadaan kota itu untuk dibawa ke kota raja dan dipersembahkan kepada Kaisar Mancu yang suka akan lukisan-lukisan Tiongkok. Selain menyukai gambar-gambar yang indah itu, juga lukisan-lukisan itu ada gunanya. Tanpa menjelajah sendiri, Kaisar itu akan dapat menyaksikan keadaan kota dari negara besar yang baru saja dijajahnya.
Tentu saja untuk lukisan-lukisan itu, Lui Kok mengharapkan hadiah yang besar. Ia selalu berpakaian tambal-tambalan untuk menyembunyikan keadaan sebenarnya. Ketika mereka tiba di rumah Yap Ma Ek mereka dengan sembunyi melihat pertemuan besar itu dan menyaksikan pula betapa Bhok Kwi datang mengacau.
Dengan girang kedua orang itu melihat adanya Lee Kim Bwee dan Lee Kun, karena sesungguhnya kedua orang saudara yang gagah perkasa inipun telah mereka jumpai dan telah menyatakan setuju untuk membantu Kaisar dan pemerintah yang baru! Karena melihat kedua Kakak-beradik inilah maka dengan hati berani dan tabah mereka lalu melompat dan mencela dengan kata-kata besar.
Lui Kok yang lebih pandai bicara daripada Ban Sek Hosiang selalu menjadi juru bicara dan kini ia menjura kepada semua orang yang memandang kepada mereka lalu berkata dengan suaranya yang kecil dan nyaring.
“Cuwi sekalian, sebelum masuk ke ruangan ini, kami berdua telah mendengar ucapan-ucapan gagah yang diucapkan oleh Yap Ma Ek Lo-Enghiong dan Hwesio tinggi kurus dari Hong-San-Pai ini. Maafkan kami, Yap-Lo-Enghiong, sesungguhnya karena kami berdua tidak menerima undangan, tidak sepantasnya kami masuk ke sini.
"Akan tetapi mendengar ucapan-ucapan tadi, terpaksa kami memberanikan hati dan masuk juga. Kami akui bahwa ucapan-ucapan tadi bersemangat dan gagah, sesuai dengan jiwa pendekar-pendekar perkasa. Akan tetapi, sayang sekali bahwa ucapan-ucapan yang gagah itu diucapkan tidak pada tempatnya dan bahkan mendekati kebodohan-kebodohan besar!”
Lui Kok dan Ban Sek Hosiang adalah tokoh-tokoh persilatan yang tidak asing lagi bagi beberapa orang gagah yang hadir disitu, akan tetapi ucapan Lui Kok ini sungguh-sungguh mengherankan semua orang.
Hwesio dari Hong-San-Pai yang bernama Kim Kong Hosiang itu menjadi marah, demikian pula seorang Tosu kecil pendek yang bermata tajam. Ia melompat dari kursinya dan tahu-tahu tubuhnya telah berkelebat dan berdiri dihadapan kedua orang tamu yang tak diundang itu, disebelah kanan Kim Kong Hosiang.
“Lui Kok, Pinto pernah melihatmu dan kalau tidak salah, kau sekarang telah menjadi penjilat Kaisar Mancu! Sekarang kau berani datang di sini hendak mengucapkan obrolan kosong apa lagi?”
Melihat Tosu ini, Lui Kok terkejut. Inilah Soan Cu Tojin yang telah membuat nama besar di daerah timur. Akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab, “Soan Cu Tojin tidak semua orang gagah berpikiran cerdik dan mempunyai pandangan luas. Sudah lajim seorang manusia membuat kekeliruan, demikian pula dengan kau dan cuwi Enghiong yang berkumpul di sini.
"Cuwi sekalian maklum dan tentu masih ingat betapa buruknya keadaan negara dan rakyat ketika masih dipegang oleh dinasti Beng-Tiauw. Penjahat-penjahat merajalela, pembesar-pembesar mengeduk uang negara, memeras rakyat, kelaparan terjadi di mana-mana!
"Sekarang kerajaan Beng-Tiauw telah roboh dan terganti oleh kerajaan baru, yakni dinasti Ceng-Tiauw yang besar! Aku sudah membuktikan sendiri betapa bijaksana dan budiman adanya Kaisar yang baru. Beliau telah menyediakan pangkat tinggi dan harta benda untk setiap orang gagah di kalangan kang-ouw yang suka membantu memulihkan keamanan dan memperbaiki keadaan.
"Kalau sekarang ada orang gagah yang bercita-cita memberontak, bukankah berarti ia memancing kekeruhan dan mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat? Padahal usaha itu akan sia-sia belaka. Kerajaan Ceng amat kuat, besar, dan tak mungkin dikalahkan. Bukankah itu berarti membunuh diri sendiri?”
Berdirilah alis mata kedua orang yang berhadapan dengan mereka. “Bangsat pengkhianat! Penjilat Kaisar asing yang rendah budi! Manusia macam kau ini harus dibasmi lebih dulu!” teriak Kim Kong Hosiang sambil mencabut sepasang goloknya.
“Manusia beriman rendah!” Soan Cu Tojin juga memaki sambil menggerak-gerakkan tongkatnya. “Bagi kami, lebih baik mati sebagai sebagai naga dan harimau, daripada hidup sebagai anjing penjilat macam kau!”
Sambil memaki-maki marah, Kim Kong Ho-siang dan Soan Cu Tojin menyerang Lui Kok dan Ban Sek Hosiang yang juga mengeluarkan senjata masing-masing, yakni sepasang golok dan sebatang joan-pin. Kim Kong Hosiang yang memegang sepasang golok pula.
Hebatlah pertempuran antara Lui Kok dan Kim Kong Hosiang. Keduanya mempergunakan sepasang golok sehingga empat batang golok itu menyambar-nyambar bagaikan empat ekor naga, sinarnya menyilaukan mata.
Adapun Soan Cu Tojin yang bersenjata tongkat disambut oleh Ban Sek Hosiang yang bersenjata joan-pin. Juga kedua orang tokoh persilatan yang berilmu tinggi ini bertempur dengan hebat dan seru sekali.
Akan tetapi, diam-diam Siang Hwa yang juga merasa gemas mendengar ucapan kedua orang pengkhianat itu, menjadi girang ketika melihat bahwa kepandaian Soan Cu Tojin dan Kim Kong Hosiang masih lebih unggul daripada kedua orang pengkhianat itu.
Memang hal inipun dirasai oleh si Kakek pelukis dan Hwesio gemuk, sehingga mereka menjadi sibuk dan jerih sekali. Tak disangkanya bahwa disitu berkumpul orang orang yang berkepandaian setinggi ini. Baru dua orang saja yang menyerang mereka, sudah begini tangguh, apalagi kalau masih ada orang-orang yang tidak cocok dengan bujukan mereka!
Mereka didesak mundur dan kini sinar golok Lui Kok makin lemah gerakannya sedangkan joan-pian dari Ban Sek Hosiang pun hanya dapat menangkis saja menghadapi tongkat di tangan Tosu yang lihat itu!
Dalam kebingungan karena desakan hebat dari lawannya, Lui Kok teringat kepada kedua Kakak-beradik she Lee, maka ia segera berseru, “Sin-kiam Siang hiap, tolonglah!”
Sungguh seruan yang tak kenal malu sekali yang keluar dari mulut Lui Kok ini. Semenjak tadi, Lee Kim Bwe dan Lee Kun merasa gelisah sekali melihat kedua orang utusan Kaisar itu datang mengacau. Mereka anggap bahwa kedua orang itu terlalu semberono dan tergesa-gesa dalam melakukan tugasnya.
Kedua saudara Lee ini sudah tertarik oleh mereka, bahkan telah menerima hadiah uang emas, yang banyak jumlahnya dari mereka, maka tentu saja mereka tidak enak kalau tinggal diam saja. Setelah saling pandang dan memberi tanda, keduanya berdiri dan sekali berkelebat, tubuh mereka telah melayang ke arah mereka yang sedang bertempur. Dua batang pedang di tangan mereka berkelebat cepat dan,..
“Trang... Trang...!” sebuah golok di tangan Kim Kong Hwesio patah menjadi dua sedangkan tongkat Soan Cu Tojin terbabat oleh pedang Lee Kim Bwe sehingga mencelat jauh!
Tentu saja kedua orang pendekat itu terkejut sekali dan melompat mundur. Alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa yang membantu kedua orang pengkhianat itu adalah Kakak-beradik, tamu yang dihormati itu. Mereka tak dapat mengeluarkan perkataan, hanya memandang dengan bengong.
Lee Kim Bwe mengedipkan mata kepada kedua orang utusan Kaisar itu dan dengan gerakan kepala ia menyuruh mereka menyingkir. Lui Kok dan Ban Sek Hosiang mengerti isarat ini dan tanpa banyak cakap lagi mereka lalu melompat keluar dari rumah itu dan melarikan diri.
Sementara itu, Lee Kim Bwe menjura kepaa kedua orang Pendeta dan berkata. “Maaf, jiwa Enghiong. Sesungguhnya kalian telah berlaku gegabah sekali dengan niat kalian membunuh atau melukai mereka. Karena sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan tadi memang betul!”
Kalau perbuatan kedua she Lee tadi telah membuat banyak orang terheran-heran, ucapan ini makin hebat lagi akibatnya. Semua orang saling pandang dan memandang kepada mereka dengan mata terbelalak.
“Apa maksudmu, Lee-hiap?” tanya Soan Cu Tojin. “Apakah kau juga hendak membela Kaisar penjajah?"
Merah wajah Lee Kim Bwe mendengar pertanyaan ini sehingga wajahnya yang cantik itu menjadi makin menarik. “Dengarlah kau, Totiang, dan juga semua orang yang berada di sini! Aku sudah banyak melihat korban jatuh di antara golongan kita ketika mereka mengadakan perlawanan yang membuta dan bodoh terhadap pemerintah yang baru. Seperti yang dikatakan oleh kedua orang tadi, belum tentu Kaisar yang sekarang atau pemerintah Ceng lebih buruk daripada pemerintah Beng yang sudah roboh! Kita lihat saja dulu bagaimana buktinya!”
“Baik atau tidak, kita tidak sudi tanah air dijajah oleh pemerintah asing!” teriak Kim Kong Hosiang marah.
“Ah, apa perlunya main gagah gagahan kalau tidak ada gunanya? Apakah kau kira akan dapat melawan kebesaran pemerintah yang sekarang? Lebih baik kita lihat saja dulu, kalau betul pemerintah ini tidak mendatangkan kebaikan bagi kita, masih belum terlambat bagi kita untuk bertindak! Kalau memang pemerintah ini mendatangkan keuntungan biarpun bangsa Mancu, apakah salahnya?"
“Celaka sekali kalau orang Han berpikir seperti ini!” Soan Cu Tojin mengejek. “Tidak semua orang sudi menjadi penjual negara dan tanah air!”
“Diam!” Lee Kim Bwe membentak marah. “Siapa yang menjadi penjual tanah air? Aku hanya bicara dengan otak waras dan pikiran sehat. Kurang banyakkah bukti-bukti yang menyatakan bahwa usaha kalian itu tiada gunanya sama sekali, hanya mengorbankan nyawa dengan sia-sia? Jangan menyontoh perbuatan yang bodoh dan hanya menyombongkan kepandaian untuk akhirnya binasa secara menyedihkan seperti halnya Panglima Song Liang yang goblok itu!
"Dulu diapun seorang Panglima kerajaan Beng, akan tetapi setelah kerajaan jatuh, ia bahkan menggabungkan diri dengan tentara petani yang sesungguhnya merupakan perusak hebat! Bukankah barisan petani yang sesungguhnya merobohkan kerajaan Beng-Tiauw?
"Kalau tidak ada kerajaan baru yang turun tangan, bukankah segala macam pemberontak yang berasal dari orang-orang rendah itu yang akan berkuasa? Bukankah negara akan menjadi makin rusak? Dan buktinya bagaimana dengan Panglima Song Liang? Ia mampus sebelum usahanya yang membuta berhasil.”
“Tutup mulutmu!” tiba-tiba Lie Kai berseru keras dan sekali melompat ia telah berada di depan Lee Kim Bwe.
Tadinya ketika mendengar orang menyebut nama Kong-kongnya, Siang hwa menjadi pucat, apalagi ketika mendengar bahwa Kong-kongnya telah meninggal, ia merasa terkejut sekali. Ia marah dan panas hati mendengar Kong-kongnya dimaki orang, akan tetapi sebelum ia bergerak, ia telah didahului oleh Lie Kai sehingga ia merasa heran sekali.
”Orang she Lee, jangan kau sembarangan membuka mulut memaki orang lain! Ketahuilah bahwa aku berjuang bahu membahu dengan Panglima Song Liang dan aku berani pastikan bahwa dia adalah seorang jantan sejati, seorang pendekar gagah perkasa. Kau seorang wanita yang memihak pengkhianatan, berani sekali memaki seorang gagah yang seribu kali lebih mulia daripadamu!”
Sepasang mata Lee Kim Bwe seakan-akan menyinarkan api ketika ia mendengar ucapan Lie Kai itu. Juga orang-orang lain merasa tegang dan khawatir, karena jarang ada orang berani menghina Jian-Jiu Koan-Im seperti itu!
“Thiat-Thouw-Gu” kata Lee Kim Bwe sambil tersenyum manis, akan tetapi matanya menyinar cahaya maut, “Kau seorang tua yang gagah dan kalau aku tidak mengingat akan usiamu yang sudah tua, tentu sekarang juga kau akan menggelundung tanpa kepala!” Setelah mengeluarkan ucapan yang sombong itu. Lee Kim Bwe menyimpan kembali pedangnya, demikian pula Lee Kun.
Lie Kai merasa dadanya seakan hendak meledak karena marahnya. “Pengkhianat rendah, lebih baik menggelundung tanpa kepala daripada melihat orang macam kau berlagak disini!”
Setelah berkata demikian, Lie Kai lalu menubruk maju mengirim pukulan hebat kepada Lee Kim Bwe dengan gerak tipu Siok-lui-kik-ting (Petir Menyambar Kepala). Dengan kecepatan luar biasa kedua tangannya yang dikepal memukul dari kanan kiri mengarah kepala Kim Bwe, karena Lie Kai bertubuh tinggi besar, maka pukulan yang datangnya dari kanan kiri ini benar-benar berbahaya sekali bagi Kim Bwe.
Lee Kim Bwe tidak percuma mendapat julukan Jian-Jiu Koan-Im atau Dewi Koan Im Bertangan Seribu. Melihat datangnya pukulan ini, ia menggunakan Kim-Coa Coan-Po (Ular Emas Terjang Ombak). Dengan merendahkan tubuhnya ia dapat mengelak dari pukulan yang mengarah kepalanya, kemudian ia bergerak maju dengan kaki tangan menyerang dengan gerakan yang disebut Jian-Jiu Lauw-Goat (Seribu Tangan Mencari Bulan).
Serangan ini bukan main cepat dan hebatnya. Kedua tangan Kim Bwe yang halus dan kecil itu bergerak-gerak bagaikan dua ekor ular yang sukar sekali dilihat ke arah mana hendak menyerang.
Lie Kai sudah berusaha mengelak dengan melempar diri ke belakang, namun masih saja dua jari tangan wanita perkasa itu menotok pundaknya. Si Kerbau Kepala Besi berteriak keras dan terbanting ke belakang dalam keadaan kaku! Ia sama sekali tak dapat bergerak lagi dan hanya matanya saja masih mendelik dan memandang dengan penuh kemarahan.
Kim Kong Hosiang dan Soan Cu Tojin yang masih berdiri di situ menjadi marah sekali dan serentak maju menyerang. Akan tetapi sebuah tendangan dari Kim Bwe dan sebuah pukulan tangan Lee Kun membuat kedua orang Pendeta tua itu terguling! Sin-Kiam Siang-Hiap benar-benar hebat ilmu kepandaiannya. Dalam segebrakan saja, Kakak-beradik ini telah berhasil menjatuhkan orang-orang gagah seperti Lie Kai, Kim Kong Hosiang dan Soan Cu Tojin.
Tentu saja para tamu lain yang juga merasa tak senang kepada mereka, kini menjadi jerih dan tak berani sembarangan bergerak. Siang Hwa yang amat berduka mendengar tentang kematian Kong-kongnya yang sedang dicari-cari, untuk sesaat duduk termenung dengan hati terharu.
Setelah melihat betapa kedua saudara Lee yang sombong itu merobohkan Lie Kai, Kim Kong Hosiang dan Soan Cu Tojin, barulah ia berdiri dari kursinya dan dengan tindakan tenang akan tetapi gesit ia lalu menghampiri Lee Kim Bwe.
Kedua saudara Lee ini masih berdiri di tengah ruangan dengan tersenyum-senyum, seakan-akan menanti datangnya lawan baru dengan sikap menantang. Kini, melihat Siang Hwa mendatangi, Lee Kun buru-buru melangkah maju dan menyambutnya dengan senyum simpul.
“Nona Liok, harap kau jangan terlalu dekat. Siapa tahu masih ada orang yang merasa penasaran dan hendak mencoba kami. Kalau terjadi pertempuran dengan senjata tajam, bukankah berbahaya sekali kalau kau terlalu dekat? Sayang kalau sampai kau terkena senjata yang nyeleweng!”
Siang Hwa tidak menjawab, bahkan melihatpun tidak. Dara baju merah ini langsung menghampiri Lie Kai, dan sekali saja ia menepuk pundak orang tua itu, Lie Kai telah dapat dipulihkan kembali jalan darahnya yang tadi terkena totokan Kim Bwe yang lihai. Juga ia lalu memulihkan kesehatan Soan Cu Tojin yang tertotok oleh Lee Kun. Kedua orang nona ini berdiri berhadapan dan Kim Bwe tersenyum mengejek ketika ia bertanya.
“Kau mau apakah? Gurumu telah kurobohkan, apakah kau murid Thiat-Thouw-Gu Lie Kai hendak membalas kekalahan itu?”
Semua orang memandang dengan amat khawatir. Kalau Lie Kai sendiri saja roboh dalam segebrakan menghadapi Kim Bwe, bagaimana seorang gadis muda yang menjadi murid Lie Kai berani melawan Dewi Koan Im Bertangan Seribu yang lihai itu? Akan tetapi, jawaban yang keluar dari mulut Siang Hwa benar-benar mengejutkan semua orang. Bahkan Lie Kai sendiri juga menjadi heran dan terkejut.
“Kau telah menghina Kong-kongku!” ucapan yang keluar dari bibir Siang hwa lambat-lambat dan jelas sekali dan sepasang mata dara jelita itu memandang tajam. “Kalau kau tidak lekas-lekas menarik kembali kata-katamu yang menghina Kong-kongku, dan tidak minta maaf, jangan harap kau akan dapat keluar dari sini dengan mulut utuh!”
Lee Kim Bwe sendiri sampai menjadi bengong mendengar ucapan gadis muda itu. Saking herannya melihat keberanian yang luar biasa ini, ia sampai lupa untuk marah! Bahkan ia menjadi ingin tahu sekali mengapa gerangan gadis ini menjadi demikian marah.
“Siapa menghina Kong-kongmu? Siapa pula gerangan Kong-kongmu?” tanya Lee Kim Bwe.
“Kau tadi telah menghina Panglima Song Liang, dialah Kong-kongku, seorang panglima dan pejuang tanah air yang gagah berani. Lekas kau menarik kembali kata-katamu dan minta maaf jangan membikin aku kehabisan kesabaranku!”
Tiba-tiba terdengar gelak tertawa dari Lee Kun ketika ia mendengar ucapan Siang Hwa ini..“Ha, ha, ha alangkah lucunya! Nona Liok, kau murid Thiat-Thouw-Gu Lie Kai berani mengancam kepada Ciciku Jian-Jin Koan-Im? Ha, ha, ha!”
Akan tetapi tiba-tiba ia harus menutup mulutnya dan cepat melompat ke belakang, oleh karena tiba-tiba tangan Siang hwa telah menyambar dan menampar pipinya! Betapapun cepatnya mengelak, namun masih saja telapak tangan Siang Hwa dengan cepat mengenai pipinya. “Plok!” terdengar bunyi nyaring dan pipi Lee Kun menjadi merah!
“Itu hanya sekedar untuk peringatan, manusia sombong dan ceriwis!” katanya kepada Lee Kun yang berdiri dengan mata terbelalak. Bukan main cepatnya gerakan tangan nona itu, sehingga ia sendiri tak melihatnya.
“Eh, kiranya kau memiliki kepandaian juga!” kata Kim Bwe.
“Tarik kembali kata-katamu dan minta maaf!” tanpa memperdulikan omongan lawan, Siang Hwa mendesak.
“Bocah bermulut besar kalau aku tidak mau, kau mau apa?”
“Kuhancurkan mulutmu!” kata Siang hwa dan secepat kilat ia menggerakkan tangannya memukul mulut Lee Kim Bwe...