Naga Merah Bangau Putih Jilid 06

Cerita silat Mandarin karya Kho Ping Hoo. Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 06
Sonny Ogawa

Naga Merah Bangau Putih (Ang Liong Pek Ho) jilid 06, karya Kho Ping Hoo - Akan tetapi, ia tidak cocok dengan semua itu. Ia telah terikat erat-erat dengan segala peristiwa dunia, dan ia cukup menikmati keadaannya, menikmati kesenangan dan kesusahan dunia yang menimpa dirinya!

Cerita Silat Mandarin karya Kho Ping Hoo

Setelah bersembahyang di depan makam Suhu dan Supeknya, Lie Kai lalu turun gunung lagi, hendak berusaha mencari cucunya yang amat dirindukannya itu. Akan tetapi, memang belum sampai waktunya ia bertemu dengan Swan Hong karena setelah merantau berbulan-bulan lamanya belum juga ia bertemu dengan cucunya yang amat dikasihinya itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika ia tiba di Propinsi Hunan di kota Heng-Yang, ia mengalami peristiwa yang membuat ia bertemu dengan seorang yang tak pernah diimpi-impikannya.

Kota Heng-Yang adalah kota besar dan ramai. Tidak seperti kota-kota lainnya yang banyak rusak karena penyerbuan tentara Mancu, kota ini boleh dibilang masih utuh dan tidak mengalami banyak kerusakan, bahkan sekarang nampak makin ramai daripada sebelum diduduki oleh pemerintah Mancu.

Hal ini terjadi karena ketika tentara Mancu menyerbu ke dalam propinsi Hunan dan memasuki kota Heng-Yang di situ terdapat seorang panglima perang yang bertugas menjaga daerah Hunan selatan bertindak sebagai pengkhianat. Ia mengadakan hubungan dengan barisan Mancu yang hendak menyerbu dan menyatakan takluk! Oleh karena itu, tentara Mancu dapat memasuki kota itu tanpa dapat banyak perlawanan kecuali dari para pejuang rakyat.

Lie Kai masuk ke dalam kota itu dan menemui bangunan-bangunan yang besar dan perdagangan yang ramai. Ketika ia tiba di sebuah jalan perempatan yang ramai, dipinggir jalan ia melihat banyak orang berdesakan, agaknya sedang menonton sesuatu yang menarik hati. Ternyata bahwa yang sedang ditonton itu adalah seorang tua berpakaian sebagai pengemis.

Ia seorang biasa saja, seorang tua yang berambut putih dan bermuka keriputan, pakaiannya rombeng dan bertambal-tambal di sana sini. Akan tetapi yang menarik perhatian semua orang bukanlah orangnya, melainkan sehelai kain putih yang dibentangkan di atas tanah dan pada keempat ujungnya ditindih dengan batu agar supaya jangan digerakkan oleh angin.

Kakek pengemis itu sedang melukis! Dan lukisannya inilah yang benar-benar amat indah menarik dan juga dilakukan dengan cara yang amat mengherankan sekali. Pelukis ini tidak menggunakan pit sebagai alat melukis sebagaimana yang selalu dipergunakan oleh para pelukis, akan tetapi ia mempergunakan jari dan kukunya yang panjang untuk melukis!

Tangan kirinya memegang tempat bak dari tanah, sedangkan tangan kanan berikut lima buah jarinya sudah berlepotan bak semua. Lie Kai hampir tak dapat mempercayai penglihatannya sendiri. Ia melihat betapa Kakek itu memasukkan tangannya ke dalam tempat bak, mengibas-ngibaskannya agar supaya bak yang di jari jarinya jangan terlampau banyak.

Kemudian ia menggerakkan lima jarinya ganti berganti. Coret sana, coret sini, tekan sana dan... di atas kain putih itu telah nampak lukisan-lukisan yang menggambarkan jalan raya kota itu berikut semua orang-orang yang berjalan hilir mudik. Benar-benar amat mengherankan!

Ketika di jalan itu kebetulan lewat seorang perajurit Mancu berkuda, Kakek itu sambil tersenyum-senyum mempergunakan ibu jari dan telunjuknya mencoret sana menggurat sini dengan kukunya dan... jadilah gambar perajurit Mancu di atas kudanya itu, demikian hidup seakan-akan perajurit yang telah pergi tak nampak lagi itu kini telah “berpindah” ke dalam lukisan itu!

Para penonton berseru kagum dan gembira. Mereka seakan-akan melihat anak kecil yang pandai melukis. Terdengar usul-usul di sana sini.

“Mana toko obat itu? Belum terlukis!” dan si Kakek lalu menengok ke arah toko obat itu lalu beberapa coretan telah menciptakan gambar toko itu di dalam lukisannya.

“Mana pohon di kanan jalan itu?”

Kemudian si Kakek mencoret-coret dan jadilah pohon itu persis seperti aslinya.

“Ah, Lopek (orang tua), kau lupa melukis awannya!”

Kakek jembel itu mencelupkan ibu jarinya pada bak, lalu menggosok-gosok ibu jari itu pada rambutnya agar supaya bak itu jangan terlalu tebal. Ketika ia melihat ibu jarinya dan mendapat kenyataan bahwa bak itu masih terlalu tebal juga ia lalu meludahi ibu jarinya itu sehingga dengan tambahan air ludah, bak itu kini menjadi encer.

Kemudian ia menempelkan ibu jarinya pada kain lukisannya dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya ibu jarinya menari-nari di atas dan terciptalah awan bergumpal-gumpal yang berwarna hitam keputih-putihan! Orang-orang bersorak girang.

“Bagus, bagus… Bagus sekali! Lihat awan itu seakan-akan bergerak maju!”

“Sayang mataharinya belum ada!” seru seorang dan semua orang melihat dengan penuh perhatian, karena tidak tahu bagaimana Kakek itu akan dapat melukiskan matahari!

Juga Lie Kai menjadi amat tertarik dan gembira. Selama hidupnya, belum pernah ia melihat seorang pelukis yang dapat melukis dengan cara sehebat dan luar biasa itu. Tiba-tiba Kakek itu mendongkakkan kepalanya memandang awan dan mengerutkan kening.

“Tidak ada matahari…” katanya dan suaranya ternyata amat tinggi dan kecil seperti suara orang perempuan. “Nanti akan turun hujan, dapat diduga dari panasnya hari ini, lebih baik aku membuat hujan! Kota Heng-Yang dalam hujan, alangkah bagusnya judul ini!”

Setelah berkata demikian, Kakek itu lalu mengangkat tempat bak, lalu menuangkan bak itu ke dalam mulutnya! Tentu saja semua orang menjadi bengong melihat perbuatan ini, bahkan Lie Kai sendiri ikut membelalakkan mata.

“Gilakah orang ini?” pikirnya. Kakek jembel itu tidak memperdulikan keheranan semua orang, lalu bangkit berdiri.

Setelah itu ia lalu menyemburkan bak yang berada di dalam mulutnya itu ke arah kain yang masih terbentang di atas tanah. Hebat sekali! Bak yang kini bercampur air ludah dan menjadi cair itu kini menyemprot keluar bagaikan uap karena tipisnya. Benar-benar bagaikan air hujan uap ini turun ke atas kain lukisan itu.

Takjublah semua orang ketika memandang lukisan tadi. Uap itu setelah tiba di atas kertas, benar-benar merupakan titik-titik air hujan yang membuat lukisan itu menjadi suram seakan-akan seluruh kota Heng-Yang diselimuti air hujan tipis-tipis!

“Bagus sekali!” seru Lie Kai terkejut. Orang gagah ini tidak hanya terkejut melihat kelihaian Kakek jembel melukis, akan tetapi ia lebih terkejut sekali karena maklum bahwa yang diperlihatkan tadi adalah demonstrasi tenanga lweekang yang luar biasa!

Tanpa memiliki tenaga lweekang yang tinggi, disertai tenaga khikang yang sudah sempurna, tak mungkin dapat mengatur semprotan itu sehingga air dapat menyemprot keluar demikian tipisnya merupakan uap! Tentu saja selain Lie Kai, orang-orang yang menonton itu tidak mengerti akan hal ini dan agaknya Kakek jembel itu merasa gemas menyaksikan kebodohan orang-orang ini.

Ia masih ada air bak dimulutnya dan tiba-tiba ia memutarkan tubuhnya sambil menyemprotkan bak itu dari mulutnya. Berhamburanlah hujan air bak pada pakaian semua penonton yang segera lari cerai-berai, takut terkena air hitam itu!

Hanya Lie Kai seorang yang masih berdiri disitu dan ia juga meniup ke depan untuk menghalau uap yang menyemprot ke arahnya. Kakek jembel itu tertawa terbahak-bahak dan ternyata bahwa mulutnya sama sekali tidak menjadi hitam karena air bak tadi.

Untuk beberapa lamanya ia memandang kepada Lie Kai dengan mata yang amat tajam sehingga mengejutkan hati Lie Kai, kemudian sambil mengambil kain lukisannya tadi, Kakek jembel itu lalu pergi dari situ dengan langkah kaki lebar. Lie Kai merasa penasaran dan ia hendak mengetahui lebih jelas tentang pengemis aneh ini. Melihat tindakan kaki yang cepat itu, iapun lalu berjalan cepat melakukan pengejaran.

Orang-orang yang tadi menonton, hanya saling tunjuk sambil tertawa melihat betapa pakaian mereka telah terkena titik-titik hitam, akan tetapi alangkah terkejut mereka ketika memeriksa, ternyata bahwa pakaian mereka yang terkena titik hitam air bak itu telah menjadi bolong! Barulah mereka maklum bahwa Kakek pelukis tadi adalah seorang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, bahkan di antaranya ada yang berbisik,

“Celaka! Ada siluman muncul di siang hari!” dan bergegas ia lari pulang!

Lie Kai yang mengejar Kakek jembel pelukis itu melihat betapa Kakek itu lari keluar dari kota dan setelah tiba di luar kota Kakek yang aneh itu mempercepat larinya sambil menoleh dua kali ke belakang. Agaknya ia tahu bahwa dirinya dikejar orang yang tadi dapat meniup kembali serangan uap air bak.

Lie kai melihat orang itu mempergunakan ilmu berlari cepat, merasa makin penasaran dan iapun lalu mengerahkan kepandaiannya berlari cepat. Ia hanya ingin berkenalan dengan orang aneh itu yang diduganya tentulah seorang Hiapkek (pendekar) yang melakukan perantauan.

Setelah tiba di pinggir sebuah hutan di luar kota Heng-Yang terlihat olehnya seorang Hwesio gemuk melompat keluar dari hutan dan menegur Kakek itu sambil tertawa. “Lui-enghiong, cepat benar kau kembali. Apakah gambar itu sudah selesai?”

“Sudah, sudah, Ban-Suhu. Di kota Heng-Yang tidak ada harimau atau naga, yang ada hanya anjing-anjing pemakan tulang belaka. Ada seekor serigala akan tetapi ia agaknya galak dan semenjak tadi mengejar-ngejar aku!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan begitu tangan kirinya bergerak, sebatang piauw bersayap menyambar ke arah leher Lie Kai yang sedang menghampiri mereka!

Piauw adalah semacam senjata rahasia yang dipergunakan untuk menyerang lawan dengan cara disambitkan. Biasanya piauw ini hanya runcing pada satu ujung dan di belakangnya digantungi ronce-ronce untuk pemantas. Akan tetapi piauw yang dipergunakan oleh Kakek pelukis itu di kanan kirinya dipasangi pinggiran seperti bentuk sayap untuk menjaga keseimbangannya, maka luncurannya amat cepat dan lurus.

Lie Kai terkejut melihat serangan tiba-tiba ini dan dengan cepat ia miringkan kepalanya sehingga piauw itu meluncur lewat di dekat lehernya. Akan tetapi kembali meluncur dua buah piauw, kali ini mengarah pinggang dan dadanya! Lie Kai cepat miringkan tubuh, piauw yang menyambar dada dapat ia sampok dengan tangan, sedangkan yang menyambar pinggang ia tendang dengan ujung sepatunya dari samping. Kedua piauw itu runtuh ke atas tanah.

“Bagus!” seru Lie Kai marah sekali. “Beginikah cara seorang gagah menyambut tamunya! Aku datang untuk berkenalan, akan tetapi tidak dinyana bukan arak atau air teh yang dikeluarkan, bahkan tiga batang piauw? Eh sahabat di depan, aku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai bukanlah seorang pengecut, mengapa kau menyambutku dengan cara yang pengecut?”

Kalau Lie Kai tidak memperkenalkan nama dan julukan, mungkin kedua orang itu akan suka berkenalan, akan tetapi mendengar namanya, kedua orang itu saling pandang dan tiba-tiba mereka mencabut senjata mereka! Hwesio gemuk itu mencabut sebatang joan-pian (cambuk lemas) terbuat dari kuningan, sedangkan Kakek pelukis itu mengeluarkan sepasang siang-to (golok sepasang) yang amat tipis dan lebar dan yang tadi disembunyikan di balik bajunya yang lebar dan bertambal tambal itu!

“Kau mata-mata pemberontak! Kau tidak mengaku menjadi pengecut akan tetapi kau mengikuti orang, cobalah rasakan kerasnya senjata kami!” bentak Hwesio itu dengan suaranya yang parau dan besar.

Lie Kai adalah seorang yang berwatak keras dan pemarah. Mendengar makian ini, ia marah sekali dan secepat kilat ia mencabut goloknya. Kedua orang itu lalu menyerbu dan diterimanya dengan sabetan golok. Terjadilah pertempuran yang hebat sekali! Akan tetapi, segera Lie Kai menjadi terkejut sekali karena ternyata permainan silat kedua orang ini amat tinggi!

Untuk menghadapi seorang saja di antara mereka, belum tentu ia akan bisa mendapat kemenangan, apalagi kalau dikeroyok dua. Gerakan sepasang golok di tangan Kakek pelukis itu amat cepat bagaikan sepasang naga menyambar-nyambar, sedangkan joan-pian di tangan Hwesio gemuk itu tidak kurang berbahaya.

Tiap kali goloknya beradu dengan joan-pian itu, terdengar suara nyaring dibarengi berpijarnya bunga api, sedangkan ia merasa betapa telapak tanannya menjadi pedas dan panas! Akan tetapi, Lie Kai adalah seorang jago tua yang tak kenal takut. Sungguhpun ia maklum benar-benar bahwa amat sukar baginya untuk mengalahkan dua orang lawannya yang tangguh ini.

Namun ia tidak mau menyerah kalah mentah-mentah begitu saja. Ia mempertahankan diri sekuat tenaga, memutar goloknya bagaikan angin taufan cepatnya, sehingga goloknya itu berputaran melingkari tubuhnya, merupakan benteng golok yang amat kuatnya.

Hwesio gemuk dan Kakek pelukis itu merasa penasaran sekali dan diam-diam mereka juga memuji kegagahan orang ini. mereka mendesak makin cepat dan kuat sehingga Lie Kai terpaksa bersilat mempertahankan diri sambil mundur, sedikitpun tidak mendapat kesempatan membalas serangan-serangan mereka.

Setelah tiga puluh jurus terlewat tanpa dapat merobohkan si Kerbau Kepala Besi itu, Kakek pelukis menjadi marah sekali. Ia berseru keras dan menyimpan golok di tangan kirinya. Kini ia hanya mempergunakan golok tunggal di tangan kanan dan tangan kirinya merogoh kantong piauwnya. Ketika tangan kirinya bergerak, maka saling susul datangnya piauw menyambar ke arah Lie kai, menuju ke jalan-jalan darah yang berbahaya!

Baru menghadapi senjata mereka saja, Lie Kai sudah mandi keringat dan terdesak hebat, apalagi kini ditambah dengan serangan piauw, ia menjadi sibuk sekali. Berkali-kali hampir saja ia terkena sebatang piauw dan terpaksa ia melompat ke sana ke mari sambil menangkis sambaran senjata musuh. Goloknya yang hanya sebatang itu tak mungkin dapat menangkis semua serangan senjata dan piauw.

Akhirnya ia terpaksa juga menyerah ketika sebatang piauw yang ditangkis dengan goloknya telah melejit ke samping dan terus meluncur maju mengenai pangkal lengan kanannya! Lie Kai menggertak giginya menahan rasa sakit dan mengerahkan tenaga sehingga golok masih tergenggam di dalam tangannya.

Akan tetapi ketika ia hendak menggerakkan goloknya, tangannya terasa kaku dan linu, ternyata bahwa piauw itu masih mengenai urat besar lengannya sehingga mengganggu jalan darahnya! Ia terhuyung mundur untuk mengelak dari sambaran golok Kakek pelukis itu, akan tetapi sambaran joan-pian di tangan Hwesio masih dapat menghantam pahanya!

Lie Kai mengerahkan lweekang untuk menyambut pukulan ini sehingga daging pahanya mengeras dan tulang tak sampai terluka atau patah, akan tetapi kulit pahanya berikut celana yang menutup kulit itu menjadi hancur! Sedikitpun tidak terdengar keluhan dari mulut jago tua ini ketika ia roboh terguling.

Joan-pian yang panjang itu kini diayun dan ujungnya menyambar ke arah kepalanya! Lie Kai tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi sepasang matanya melotot dengan berani menanti datangnya ujung joan-pian yang hendak meremukkan kepalanya. Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu terdengar suara keras.

“Trang...!” Bunga api berpijar menyilaukan mata dan terdengar seruan kaget dari Hwesio itu, karena ia merasa betapa tangannya menjadi sakit dan hampir saja ia melepaskan joan-piannya. Ketika ia melihat ke arah senjatanya, alangkah kagetnya melihat ujung joan-piannya telah putus!

Juga Lie Kai melihat bayangan merah berkelebat itu tanpa dapat menyaksikan orangnya karena gerakan itu luar biasa cepatnya bagaikan kilat menyambar. Setelah bayangan merah itu dapat menangkis joan-pian dan mematahkannya, barulah terlihat oleh mereka bertiga bahwa bayangan itu adalah seorang dara cantik berpakaian serba merah dengan pedang berkilauan saking tajamnya di tangan kanan! Hwesio dan pelukis itu marah sekali melihat nona cantik ini.

“Perempuan bangsat! Berani kau mencampuri urusan kami?” bentak Kakek pelukis itu. Gadis itu tersenyum dan alangkah manisnya.

“Alangkah ganjil dan anehnya melihat dua orang Kakek, bahkan yang seorang adalah Hwesio yang seharusnya bermurah hati, mengeroyok seorang tua pula. Apakah yang diperebutkan sehingga kalian hendak membunuh Kakek ini?”

“Kau tak perlu tahu dan jangan mencampuri urusan orang-orang tua!” bentak Hwesio itu sambil menahan marahnya karena kehebatan gerakan gadis tadi benar-benar mengecutkan dan membuatnya merasa jerih juga.

“Nona, aku sendiri juga tidak mengerti mengapa dua orang jahat ini menyerangku!” kata Lie kai sambil menahan rasa sakit pada pahanya dan bangun berdiri.

“Aku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai selamanya tak pernah bermusuhan dengan mereka bahkan bertemupun baru kali ini. Selama membantu perjuangan, aku kenal banyak orang-orang berkepandaian tinggi tetapi tidak ada yang securang mereka ini! Mereka tidak berani bertempur secara laki-laki, main mengeroyok bahkan mempergunakan senjata rahasia. Sungguh menjemukan dan memalukan!”

Mendengar ucapan ini, hati gadis itu segera tertarik dan suka kepada Lie Kai. Ia belum pernah mendengar nama Lie Kai, akan tetapi mendengar bahwa orang tua ini adalah bekas pejuang, ia merasa simpati. “Hm, sesungguhnya apakah kalian kehendaki maka kalian mengeroyok orang tua gagah ini?”

“Jangan banyak cakap!” bentak Hwesio itu dan ia maju menyerang dengan joan-piannya yang patah ujungnya. Juga pelukis itu lalu maju mengeroyok sambil mengeluarkan goloknya yang sebuah lagi.

Gadis baju merah itu tertawa nyaring dan ketika ia menggerakkan pedangnya, nampak sinar putih yang menyilaukan mata. Alangkah terkejutnya dua orang tua itu. belum pernah mereka menyaksikan ilmu pedang sehebat itu. Gerakan pedang itu selain cepat sekali, juga setiap serangan maupun tangkisan disertai getaran halus keras yang membuat tangan mereka ikut tergetar setiap kali senjata mereka bertemu dengan pedang nona baju merah itu!

Sebentar saja gadis itu telah dapat mengurung kedua orang lawannya dengan sinar pedangnya dan agaknya kalau ia mau, akan mudah baginya merobohkan lawan-lawan ini. Akan tetapi ia tidak mau melukai orang, karena ia tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan dua orang tua ini.

Sebaliknya Hwesio dan pelukis tua yang maklum bahwa mereka takkan dapat mengalahkan si nona baju merah, tiba-tiba beseru keras dan melompat ke belakang terus melarikan diri!

Gadis itu hanya tersenyum dan tidak mengejar, bahkan menghampiri Lie Kai yang berdiri bengong dan kagum. Ia telah mengobati luka di pangkal lengan dan pahanya dan telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuat jalan darahnya biasa dan lancar kembali.

“Nona, kau hebat sekali! Ilmu pedangmu membuat aku orang tua merasa takluk!” kata Lie Kai sambil memandang wajah yang cantik dan gagah itu. “Siapakah kau, nona, yang semuda ini telah memiliki kepandaian tinggi?”

“Lo-Enghiong (orang tua gagah), jangan kau terlalu memuji! Aku bernama Liok Siang Hwa dan seorang biasa saja, tidak seperti kau yang sudah kudengar namamu sebagai seorang pejuang yang gagah perkasa. Aku selamanya mengagumi para pejuang.”

Lie Kai menekan perasaan kecewanya mendengar bahwa gadis yang gagah perkasa dan yang telah menolongnya ini mempunyai nama keturunan Liok. Ia teringat kepada Liok Houw Sin yang dibencinya.

“Apakah kau datang dari propinsi Honan, nona?” tiba-tiba ia bertanya, menduga kalau-kalau nona ini ada terikat keluarga dengan Liok Houw Sin yang tinggal di Liok-Yang Propinsi Honan.

Akan tetapi gadis baju merah itu menggeleng kepala dan tersenyum. “Bukan, aku tinggal di Honan, melainkan di kota Han-Cung Propinsi Shenshi. Mengapa kau bertanya demikian, Lo-Enghiong?”

Merahlah wajah Lie Kai mendengar pertanyaan ini. Tentu saja ia tak dapat menceritakan kepada orang lain tentang Liok Houw Sin dan Sui Lan. “Ah, tidak apa-apa, nona. Aku hanya menduga-duga saja. Sebetulnya, kalau aku boleh bertanya, kau hendak pergi kemanakah?” ia mengalihkan percakapan ke arah lain.

“Aku seorang perantau, Lo-Enghiong dan aku sedang menuju ke dusun Sin-Ke-Chung di belakang hutan ini. Aku mendengar bahwa di dusun itu kini sedang diadakan pertemuan antara orang-orang gagah, atas undangan seorang pendekar tua bernama Yap Ma Ek.”

“Kau maksudkan orang she Yap yang berjuluk Kim-Ci-Eng (Garuda Sayap Emas)?” tiba-tiba Lie Kai bertanya dengan wajah berseri.

Gadis itu mengangguk. “Menurut keterangan orang memang Yap Ma Ek berjuluk Kim-Ci-Eng. Kenalkah kau kepadanya?”

“Kenal? Ha,ha,ha! tentu saja aku kenal dia! Kami bertempur melawan penjajah bahu-membahu, dia kawan baikku! Eh, nona ada keperluan apakah kau hendak mengunjungi dia? apakah kau juga mendapat undangan?”

Gadis itu menarik napas panjang. ”Bagaimana seorang tak terkenal seperti aku mendapat udangan dari orang-orang gagah? Aku hanya tertarik dan ingin sekali bertemu dengan orang-orang kang-ouw, tidak ada keperluan khusus.”

“Bagus, jangan kau khawatir, nona. Setelah mengetahui bahwa Kim-Ci-Eng Yap Ma Ek tinggal di dekat sini, tak dapat tidak aku harus mengunjunginya! Kalau kau mau pergi bersamaku, untuk masuk ke rumahnya tak perlu mendapat undangan lagi. Akulah pengganti kartu undangan dan aku yang akan memperkenalkanmu.”

Nona baju merah itu menjadi girang sekali. Sebagaimana telah dituturkan, nona yang sesungguhnya adalah Liok Sing Hwa ini, setelah meninggalkan orang tuanya, yakni Liok Houw Sin dan Bwee Eng, lalu melakukan perantauan dalam usahanya mencari Kong-kongnya, yakni Song Liang.

Tentu saja niatnya hendak mengunjungi Yap Ma Ek itu selain ingin bertemu dengan orang-orang gagah, juga sekalian hendak melihat kalau-kalau Kong-kongnya yang juga seorang pejuang terdapat pula diantara para tamu yang datang berkumpul. Semenjak keluar pintu rumah melakukan perantauan tiga bulan yang lalu, Siang Hwa telah beberapa kali menghadapi pertempuran, yakni dengan para perampok yang hendak mengganggunya.

Akan tetapi dengan mudah saja ia menghajar dan mengobrak-abrik semua perampok yang berani mencoba untuk mengganggunya. Baru kali ini menghadapi dua orang lawan yang agak tangguh, akan tetapi juga harus mengakui keunggulan dan kelihaian ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang tadi dimainkannya.

Demikialah, kedua orang itu, Siang Hwa dan Le Kai, lalu melakukan perjalanan dengan cepat menuju ke dusun Sin-Ke-Chung untuk mengunjungi pendekar tua Yap Ma Ek. Keduanya sama sekali tidak pernah menduga bahwa diantara mereka terdapat hal-hal yang amat penting dan yang akan mengejutkan mereka apabila mereka mengetahuinya.

Lie Kai sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis baju merah yang telah menolongnya ini adalah puteri dari Houw Sin dan Bwee Eng yang pernah diserangnya, atau cucu dari Song Liang yang dulu menjadi musuh besarnya! Adapun Siang Hwa sebaliknya sama sekali tak pernah mengira bahwa Lie Kai tidak saja tahu tentang Kong-kongnya yang kini ia cari, bahkan Song Liang telah meninggal dunia di dalam pelukan Lie Kai!

Siang Hwa merasa suka dan menghormat kepada Lie Kai karena mengingat bahwa orang tua ini adalah seorang pejuang tanah air yang gagah perkasa seperti juga Kong-kongnya sendiri. Tadinya ia ingin menanyakan kepada Lie Kai, kalau-kalau mengenal Kong-kongnya, akan tetapi ia berpikir lagi bahwa lebih baik melihat dulu kalau-kalau Kong-kongnya berada di antara orang-orang gagah yang datang mengunjungi pendekar tua Yap Ma Ek.

Sungguhpun Lie Kai terluka pahanya, akan tetapi ia masih dapat berlari cepat sekali sehingga diam-diam Siang Hwe merasa kagum akan kekerasan hati Kakek ini. Gadis ini baru saja sebulan meninggalkan rumah, telah menjual kudanya, karena ia merasa kurang leluasa melakukan perantauan dengan berkuda. Ia tak perlu tergesa-gesa dan kalau sewaktu-waktu ia perlu bergerak cepat, ilmu lari cepatnya takkan kalah oleh lari kuda.

Yap Ma Ek yang bergelar Garuda Sayap Emas adalah seorang pendekar tua yang dulu juga ikut berjuang bersama Lie Kai dibawah pimpinan Song Liang. Kepandaian Yap Ma Ek amat lihai, terutama sekali dalam hal ilmu ginkang, ia telah mencapai tingkat tinggi. Gerakannya dapat gesit dan cepat laksana seekor burung garuda, maka ia mendapat julukan Garuda Sayap Emas. Juga sebagai seorang pendekar, ia terkenal di kalangan kang-ouw karena perbuatannya yang gagah dan selalu membela kebenaran.

Semenjak masa mudanya, tiada hentinya ia mengulurkan tangan dan mempergunakan pedangnya untuk membela fihak yang tertindas dan membasmi orang-orang jahat. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan ini tidak hanya mendatangkan nama harum dan perasaan terima kasih dari banyak orang yang tertolong, akan tetapi juga dendam dan kebencian dari para lawan yang dibasmi dan dikalahkannya.

Biarpun perjuangan melawan penjajah Mancu telah mengalami kegagalan dan orang-orang gagah yang berjuang di mana-mana telah dihancurkan oleh balatentara Mancu yang banyak jumlahnya dan juga yang banyak dibantu oleh orang-orang pandai yang berjiwa khianat, namun seperti juga orang-orang lain, Yap Ma Ek tak pernah putus harapan. Api perjuangan yang membakar hatinya tak pernah padam.

Oleh karena itu, ia lalu mengirim undangan kepada para orang gagah di kalangan kang-ouw, sebagian besar bekas kawan-kawan seperjuangan, untuk mengadakan pertemuan dan bertukar pikiran di rumahnya yang besar di dusun Sin-Ke-Chung.

Ia menganggap bahwa pertemuan orang-orang gagah di dusun itu pasti aman oleh karena Yap Ma Ek amat terkenal dan berpengaruh di dusun itu, bahkan para pejabat yang berkuasa di dusun itupun telah berada di bawah pengaruhnya.

Ketika Lie Kai dan Siang Hwa tiba di depan rumah Yap Ma Ek, ternyata di situ telah berkumpul banyak sekali orang gagah dari berbagai daerah. Sebagian besar adalah bekas-bekas pejuang dan ada pula muka-muka baru, yakni orang-orang yang tersebar di kalangan kang-ouw dan yang masih menganggap bahwa sepak-terjang mereka sesuai dan sefaham dengan para pejuang itu.

Orang-orang yang pandai ilmu silat akan tetapi yang merasa telah melakukan perbuatan-perbuatan sesat takkan berani mengunjungi pertemuan orang-orang gagah ini, karena banyak kemungkinan ia akan menerima hukuman. Ketika mendengar bahwa seorang bernama Lie Kai telah berada di depan pintu rumahnya.

Ma Ek sendiri berlari-lari menyambut dan ketika ia melihat bahwa benar-benar yang datang adalah kawan lamanya, ia segera menubruk dan memeluknya. “Ah, setan tua! Bagaimana kau bisa tahu akan pertemuan ini?”

Lie Kai tersenyum girang dan menepuk-nepuk bahu kawannya itu. “Bagaimana tidak tahu? Beritanya telah tersiar dimana-mana. O, ya! Perkenalkan dengan nona ini, dia bernama Liok Siang Hwa.”

Siang Hwa menjura dengan hormat dan Yap Ma Ek memandang dengan kagum. “Ah, tentu muridmu, bukan? Kau beruntung sekali, setan tua. Muridmu ini cantik dan gagah. Tentu ilmu silatnya lihai pula seperti gurunya!”

Lie Kai hendak membantah, akan tetapi Siang Hwa mengedipkan mata kepadanya dan tuan rumah telah menggandeng tangannya diajak masuk.

“Mari, mari kita masuk ke dalam bertemu dengan kawan-kawan lama! Dan kau juga, nona Liok, silahkan masuk!”

Sambil bercakap-cakap, Yap Ma Ek dan Lie Kai memasuki gedung besar dan kuno itu, sedangkan Siang Hwa berjalan di belakang mereka sambil memasang mata penuh perhatian. Ia telah diberitahu oleh ibunya bagaimana bentuk dan wajah Kong-kongnya dan bahwa Kong-kongnya memakai sehelai ikat pinggang dari rantai perak yang juga merupakan senjatanya yang istimewa.

Ruang tamu di sebelah dalam telah penuh dengan kursi-kursi yang diduduki oleh banyak orang yang bermacam-macam pakaiannya. Ada yang seperti Hwesio, seperti Tosu, ada pula yang berpakaian seperti guru-guru silat, Piauwsu (pengawal barang), bahkan ada yang berpakaian compang-camping seperti pengemis.

Akan tetapi rata-rata mereka itu bersikap gagah, Siang Hwa tidak menjadi kecil hati ketika ternyata bahwa tamu-tamu yang jumlahnya hampir tiga puluh orang itu semua laki-laki belaka, tidak seorangpun wanitanya. Ia datang bukan untuk bertamu, akan tetapi untuk mencari Kakeknya, atau setidaknya untuk mencari keterangan dari orang-orang kang-ouw itu perihal Kakeknya.

Lei Kai merasa gembira sekali karena ternyata di antara para tamu itu banyak yang telah dikenalnya. Segera ia duduk bercakap-cakap dengan amat gembira, menceritakan pengalaman-pengalaman masing-masing. Adapun Sing Hwa lalu mengambil tempat duduk di pojok, di dekat tiga orang laki-laki yang berpakaian sebagai Piauwsu.

“Nona.” Seorang di antara mereka bertanya sambil memberi hormat, “kau datang bersama Thiat-Thouw-Gu yang gagah perkasa. Kalau boleh kami bertanya, ada hubungan apakah dengan Lie-Lohiap?”

“Aku adalah muridnya,” jawab Siang Hwa dengan senyum sederhana.

“Ah, alangkah senangnya mendapat kesempatan belajar silat dari pendekar tua itu! Kami bertiga kakak beradik amat gembira dapat berkenalan dengan nona. Perkenalkanlah, kami adalah tiga saudara Oei dari Hong-Kwan yang membuka Piauwkiok (perusahaan ekspedisi) dan disebut orang Kang-Jiu Sam-Eng (Tiga Pendekar Bertangan Baja).” Kata orang itu pula mengangkat dada.

Sesungguhnya nama merekapun bukan tak terkenal, maka mereka mengira bahwa nona ini tentu pernah mendengar nama mereka yang tersohor. Akan tetapi sesungguhnya Siang Hwa belum pernah mendengar nama ini, karena gadis inipun baru saja keluar dari pintu rumah, bahkan belum lama turun dari gunung.

Akan tetapi, ia telah mendapat banyak pelajaran tata-susila dari ketiga orang gurunya, maka sambil menjura ia berkata, “Aku mendapat kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan Kang-Jiu Sam-Eng, dan namaku yang tidak besar dan rendah adalah Liok Siang Hwa.”

“Siapakah nama julukan nona? Barangkali kami pernah mendengarnya,” kata di antara tiga saudara ini, yang termuda. Siang Hwa tersenyum.

“Aku tidak mempunyai julukan apa-apa.”

Pada saat itu, nampak kesibukan di bagian depan dan Yap Ma Ek menyambut datangnya dua orang tamu yang nampaknya mendapat perhatian besar dari para tamu-tamu dan penghormatan daripada tuan rumah. Siang Hwa memandang dengan penuh perhatian dan ia melihat bahwa dua orang tamu itu adalah seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh tahun, mengenakan pakaian hijau yang bersulam benang emas dan mewah sekali.

Pada pinggang wanita ini tergantung pedang yang sarungnya terukir indah. Wanita ini masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum-senyum seakan-akan mengejek dan sama sekali tidak memperdulikan para tamu yang telah hadir di situ terlebih dulu. Bahkan ada beberapa orang tamu yang segera berdiri memberi hormat kepadanya tidak dibalasnya sama sekali!

Orang kedua adalah seorang laki-laki tampan yang usianya lebih muda tiga tahun dari wanita itu, juga pakaiannya mewah sekali, dari sutera biru yang mahal. Pada pinggang laki-laki inipun tergantung sebatang pedang dan lagak laki-laki ini bahkan lebih angkuh lagi. Ia berjalan mengangkat dada dan hanya kepada Yap Ma Ek saja ia membalas penghormatan yang diberikan kepadanya.

Dua orang ini memang merupakan sepasang pendekar yang amat terkenal di daerah selatan dan tak seorangpun di dalam ruang tamu yang luas itu, kecuali Siang Hwa, yang tidak mengenal mereka. Bahkan Lie Kai juga lalu berdiri, mendekati Siang Hwa dan duduk di dekat gadis itu sambil berkata memperkenalkan dua orang tamu yang sementara itu telah mendapat tempat kehormatan yakni di kursi-kursi besar dekat tuan rumah.

“Mereka adalah tokoh kang-ouw yang amat terkenal, yakni sepasang Kakak-beradik yang biasa disebut Sin-Kiam Siang-Hiap (Sepasang Pendekar Pedang Sakti). Wanita itu adalah Kakaknya yang bernama Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe (Dewi Koan Im Tangan Seribu), sedangkan yang lelaki adalah adiknya bernama Lui-Kong-Ciang Lee Kun (si Tangan Geledek). Mereka adalah ahli waris dari ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut, kepandaiannya tinggi dan orangnya sombong!”

Siang Hwa mengeluarkan ujung lidahnya dari mulut mendengar nama-nama julukan yang menyeramkan itu. Timbul keinginan hatinya untuk menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian kedua orang itu.

Sementara itu, ketika melihat bawah di situ hanya ada seorang tamu wanita lain yang duduk di sudut ruangan. Lee Kim Bwe lalu berbisik kepada Yap Ma Ek yang segera melangkah maju ke arah tempat duduk Siang Hwa dengan mulut tersenyum girang. Setelah tiba di depan Siang Hwa dan Lie Kai, tuan rumah ini sambil tersenyum berkata.

“Ah, setan tua, muridmu menarik perhatian Jian-Jiu Koan-Im dan mendapat kehormatan agar supaya duduk di sana menemaninya,” Kemudian ia berkata kepada Siang Hwa. “Nona Liok, kau mendapat kesempatan baik sekali. Jian-Jiu Koan-Im biasanya tidak memperdulikan orang lain, akan tetapi ingin berkenalan dengan kau dan minta supaya nona suka duduk di sana untuk bercakap-cakap!”

“Yap Lo-Enghiong,” jawab Siang Hwa sambil menahan kegemasan hatinya, “Aku tidak kenal dengan dia dan kalau memang Jian-Jiu Koan-Im menghendaki untuk bercakap-cakap dengan aku, mengapa ia tidak datang ke sini saja?”

Yap Ma Ek tertegun mendengar jawaban yang tidak disangka-sangkanya ini dan memandang dengan bengong, sedangkan Lie Kai juga terkejut mendengar jawaban nona itu. Ia maklum bahwa nona ini memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, akan tetapi kalau sampai ia mendatangkan marah kepada Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe, hal ini akan berbahaya sekali.

“Nona Liok, apa salahnya kalau kau datang kesana untuk bercakap-cakap dengan Jian-Jiu Koan-Im? Bukankah kau ingin meluaskan pengalaman dan mengenal tokoh tokoh kang-ouw yang gagah? Nah, sekarang kesempatan tiba dengan amat baiknya.”

“Dia yang ingin bercakap-cakap dengan aku, dan siapa yang membutuhkan, dialah yang harus datang!” jawab Siang Hwa.

Percakapan ini membuat Yap Ma Ek kembali tercengang. Bagaimana seorang murid dapat bicara seperti itu terhadap Suhunya? Akan tetapi, oleh karena sudah jelas baginya bahwa nona Liok ini tidak mau pindah ke tempat duduk tamu agungnya, ia terpaksa kembali dan menyampaikan pesan Siang Hwa kepada Jian-Jiu Koan-Im.

Wanita baju hijau itu mengerutkan alisnya yang hitam dan panjang. Ini tak diduganya sama sekali. “Siapakah dia? Apakah dia orang penting di kalangan kita?”

“Bukan, Lihiap,” jawab Yap Ma Ek. “Dia seorang gadis biasa saja, murid sahabatku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai.”

“Hm, mengapa ia berani menyombongkan diri seperti itu? Agaknya Kerbau Kepala Besi itu yang mengajar muridnya bersikap tak patut.”

Karena mendongkol sekali, Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe ingin bangun dari tempat duduknya dan menegur Lie Kai, akan tetapi, adiknya yang bernama Lee Kun segera mencegahnya dan berkata dengan tertawa kepada Yap Ma Ek....

Jilid selanjutnya,