X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 07

Cerita Silat Mandarin serial perserikatan Naga api seri ke 6, Menaklukkan Kota Sihir Jilid 07 karya Stevanus S P

Menaklukkan Kota Sihir Jilid 07

DENGAN demikian, tanpa pikir panjang lagi ia berdiri dan menjawab, “Tentu saja Tuan berhak untuk itu. Mari, aku akan mengantar Tuan.”

Lalu mereka berjalan beriring-iringan dengan Bong Peng-un serta Kui Tek-lam berjalan paling depan. Hakim Kang Liong berjalan di belakang Bong Peng-un dengan wajah agak cemberut, sambil menggerutu dalam hati, firasatnya memperingatkan bahwa di hari-hari mendatang Pek-lian-hwe cabang Lam-koan bakal mengalami “hari-hari mendung dan badai”.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Tiba di ruang bawah tanah itu, Bong Peng-un terkejut. Baik terkejut oleh ruang bawah-tanahnya, juga karena melihat keadaan mayat-mayat yang tercabik-cabik mengerikan, dan yang paling mengejutkannya adalah jahatnya wajah si “Dewa Cahaya” di altar. Sorot mata patung itu bahkan seolah hidup dan membuat sekujur tubuh Bong Peng-un merinding.

Sesaat ia tidak dapat berkata-kata, sampai Kui Tek-lam berkata kepadanya, “Inilah tempat kejadian nya, Tuan Komandan. Silakan periksa.”

Bong Peng-un menenangkan debar jantungnya, lalu mulai berjalan berkeliling memeriksa ruangan itu, namun sebenarnya pikirannya masih mengambang karena kagetnya belum hilang.

“Patung dewa siapa ini? Kenapa aku belum pernah melihatnya di kelenteng mana pun?” tanya Bong Peng-un sambil menunjuk ke altar. Rupanya yang pertama menarik perhatiannya malahan patung seram itu.

Kui Tek-lam sudah tentu dengan senang hati akan menerangkannya, namun waktu menjawab ia pura-pura gugup seolah-olah takut terlibat, “Soal patung ini... soal patung ini... aku benar-benar tidak tahu sebelum ini kalau Kakak Nyo memuja... memuja....”

Bong Peng-un menukas, “Kalau tahu, jawab saja, Tuan Kui!”

Kui Tek-lam pura-pura makin gelisah namun terpaksa menjawab, “Kelihatannya ini adalah patung... patung... Dewa Api alias Dewa Cahaya....”

Bong Peng-un kaget, “Ha? Dewa pujaannya orang-orang Pek-lian-hwe yang anti pemerintah itu?”

Hakim Kang Liong cepat-cepat menimbrung untuk menutup-nutupi, “Ah, belum tentu. Kaum Teratai Putih sudah dihancurkan kekuatannya oleh Jenderal Wan Lui beberapa tahun yang lalu, mana ada lagi sekarang? Lagipula Tuan Nyo adalah seorang tokoh masyarakat yang baik, dermawan, budiman, mana mungkin dia menjadi anggota kepercayaan jahat itu?”

Sambil mulutnya menyebut “kepercayaan jahat”, Kang Liong diam-diam mohon ampun kepada dewanya di dalam lati. Sebab dewanya sama dengan dewanya Nyo In-hwe.

Bong Peng-un menjawab, “Pek-lian-kau maupun Pek-lian-hwe sudah beratus-ratus tahun umurnya, sejak mereka memisahkan diri dari agama induknya, yaitu Tiau-yang-kau (agama penyembah api). Sejak Itu Pek-lian-kau maupun Pek-lian-hwe berulangkali mengalami usaha pembasmian massal.

"Bahkan Kaisar Hong-bu, kaisar pertama dinasti Beng yang sebelum jadi kaisar adalah anggota pek-lian-kau, setelah bertahta juga ingin menghancurkan Pek-lian-kau. Begitu pula, hampir setiap kali Pek-lian-kau dan Pek-lian-hwe hendak dihancurkan, tetapi bangsat-bangsat itu ulet sekali, mereka masih saja ada dan sering melakukan perbuatan mengejutkan.

"Misalnya, belum lama ini Pek-lian-kau di utara berhasil menculik puteri Gubernur di Ho-lam. Untung Jenderal Wan Lui dan kawan-kawannya berhasil membebaskan Nona Sun Itu. Tuan Kang, berhadapan dengan manusia-manusia ulet ini, kita tidak boleh lengah dan jangan sampai menganggap mereka sudah tidak ada!”

Dalam hatinya Kui Tek-lam menyambut kata-kata itu. “Bagus kau, komandan berkumis seperti sikat kakus. Kau harus tetap waspada, jangan sampai kotamu ini digerogoti Pek-lian-hwe.”

Sebaliknya Kang Liong juga berkata dalam hati. “Terima kasih atas pujianmu terhadap keuletan kami, anjing Manchu. Suatu saat kau akan kaget melihat kami bangkit dan menelan budak-budak penjajah seperti kau.”

Dalam hati berkata demikian, di mulut masih berusaha menutupi jejak kehadiran Pek-lian-hwe di Lam-koan, “Memang kita patut berhati-hati, namun tidak usah terlalu ketakutan. Barangkali Tuan Nyo ini memang penganut suatu kepercayaan yang aneh, tidak umum, buktinya ruang pemujaannya saja disembunyikan di bawah tanah. Tetapi belum tentu dia pengikut organisasi terlarang itu. Jangan sampai kita mencemarkan nama baik seorang yang sudah meninggal.”

Kedua pejabat pemerintah itu kemudian meneliti keadaan seluruh ruangan, dan hasilnya sama dengan hasil penelitian Kui Tek-lam tadi. Nihil. Mereka tidak dapat menduga dari mana datangnya Si Kedua pejabat pemerintah itu kemudian meneliti keadaan seluruh ruangan, dan hasilnya sama dengan hasil penelitian Kui Tek-lam tadi. Nihil.

Pembunuh dan lewat mana perginya. Kang Liong yang ingin mencelakakan Kui Tek- lam Itu pun tiba-tiba berkata kepada Bong Peng-un, “Komandan Bong, rasanya aneh kalau Si Pembunuh tidak meninggalkan jejak sama sekali. Jangan-jangan pelakunya adalah orang dalam yang sudah dikenal baik oleh Si Korban sendiri?”

Kali ini Bong Peng-un terpengaruh. Tatapan matanya yang penuh curiga diarahkan kepada Kui Tek- lam. Ia adalah orang yang tidak pandai menyembunyikan perasaan, agaknya, “Tuan Kui, semalam Tuan ada di mana?”

“Bukankah tadi sudah kujelaskan, aku tidur nyenyak di kamarku?”

“Kata seorang bujang di rumah ini, begitu Tuan keluar dari kamar Tuan karena digedor-gedor oleh anak-anak Tuan Nyo, Tuan sudah berpakaian lengkap, meskipun kusut. Apakah Tuan terbiasa tidur dengan pakaian lengkap, dengan jubah luar?”

“Semalam aku memang tidur tanpa mencopot pakaian luar, bahkan tidak mencopot sepatu.”

“Sebabnya?”

“Sebab saat itu aku sebenarnya tidak berniat tidur. Aku hanya ingin minum-minum arak sendirian, tetapi tiba-tiba saja aku tertidur saking lelapnya. Aku tidur dengan kepala berbantal lengan di meja, sampai pagi.”

“Kenapa Tuan tidak berniat tidur?” kali ini Hakim Kang Liong yang menyerobot.

“Tuan Kang mencurigai aku?”

“Terus terang saja, ya.”

“Tuan tidak akan menemukan bukti-bukti apa-apa atas diriku, karena aku memang tidak melakukannya.”

“Hem, tunggu saja....” kata Kang Liong, namun hanya dalam hatinya.

“Apakah Nyonya Sun sudah bisa ditanyai?” tanya Bong Peng-un.

“Entahlah.”

“Mari kita coba tanyai dia.” ajak Bong Peng-un sambil melangkah hendak meninggalkan ruangan yang menyeramkan itu, mengajak Kang Liong.

Kang Liong hendak mengikutinya, tetapi ketika ia melangkah dekat altar pemujaan untuk menghindari tiga mayat yang masih terbujur di lantai itu, mata Kang Liong tak sengaja melihat ke arah tangan patung yang berbentuk cakar naga raksasa itu. Ia melihat apa yang sebelumnya juga dilihat oleh Kui Tek-lam. Noda-noda darah di kuku-kuku cakar itu. Kalau Kui Tek-lam masih bertanya-tanya soal darah di kuku patung itu, maka Kang Liong sebagai anggota bahkan tokoh Pek-lian-hwe langsung mengerti apa yang terjadi. Mukanya mendadak sepucat kertas, matanya menatap gentar ke arah patung itu, dan langkahnya agak terhuyung.

“Kenapa, Tuan Kang?” tanya Bong Peng-un. “Sakit?”

“Ti... tidak apa-apa....” sangkal Kang Liong.

Kali ini Kui Tek-lam membalas Kang Liong yang selama ini mencoba menyudutkannya. “Tuan Hakim agaknya kaget setelah melihat ke arah patung itu, ada apa dengan patung mahluk jelek itu?”

Kata “mahluk jelek” itu membuat jantung Kang Liong terguncang hebat, sebab itu ditujukan kepada Si Dewa Cahaya yang dia puja-puja. Kontan kemarahannya berkobar, dan ia menatap Kui Tek-lam penuh kebencian. Dari air mukanya itu, Kui Tek-lam langsung punya dugaan bahwa Hakim Kang Liong ini pun adalah seorang tokoh Pek-lian-hwe yang berkedok sebagai tokoh terhormat dalam masyarakat. Seperti Nyo In-hwe.

“Pantas, kenal denganku saja belum pernah, tetapi sejak tadi sorot matanya begitu membenci aku....” Kui Tek-lam membatin. “Kiranya yang mati ini adalah teman sekomplotannya.”

Namun Kang Liong tidak berkata apa-apa, ia tahu kalau dalam keadaan marah mengucapkan kata-kata, maka bisa terpancing keterangan penting yang merugikan Pek-lian-hwe.

Bong Peng-un, Kang Liong serta pengiring-pengiring mereka pun meninggalkan ruang berbau darah itu, diiringi Kui Tek-lam yang tetap bertindak mewakili pihak tuan rumah. Sementara orang-orang yang akan mengurus mayat-mayat itu pun sudah datang karena dipanggil.


Dalam kesibukan hari itu, Kui Tek-lam sempat juga mengadakan pertemuan diam-diam dengan rekannya, Pang Hui-beng, yang menyamar sebagai tukang mi-pangsit. Kedua agen kerajaan itu sempat bertukar keterangan. Pang Hui-beng menyampaikan perintah Oh Tong-peng agar malam nanti Kui Tek-lam bertemu di tempat biasanya, yaitu di kuburan Portugis yang tidak terpakai itu. Sedangkan Kui Tek-lam memberitahu rekannya, agar mewaspadai Hakim Kang-liong. Nampaknya hakim pujaan masyarakat kota Lam-koan itu ada kaitannya dengan Pek-lian-hwe.

Malam itu, dengan dihadiri banyak tamu-tamu, di rumah Nyo In-hwe diadakan upacara agama. Tentu saja upacaranya bukan upacara Agama Teratai Putih yang terlarang itu. Kemudian peti jenazah pun ditutup dan dipaku diiringi ratap tangis pihak keluarga.

Dalam suasana itu, tanpa berpura-pura ternyata Kui Tek-lam juga berkaca-kaca, basah oleh air mata, namun bukan karena menangisi Nyo In-hwe, melainkan kasihan kepada kedua anak Nyo In-hwe yang sudah menjadi sahabat-sahabat kecil Kui Tek-lam. Sahabat kecil yang tulus, tanpa maksud-maksud lain.

Dan mulai malam itu, karena Kui Tek-lam sudah dianggap adik-angkat oleh Nyo In-hwe, maka dia pun harus ikut mengenakan pakaian berkabung dari kain belacu dan topi kain belacu pula yang berbentuk kerucut. Tetapi Si Agen Pemerintah yang sedang dalam tugas rahasia ini, sambil menemui tamu-tamunya juga coba mengamat-amati mereka.

Ia yakin di antara tamu-tamu itu banyak tokoh-tokoh Pek-lian-hwe, meskipun tentu saja mereka tidak tampil terang- terangan. Namun Kui Tek-lam coba memperhatikan dengan cermat, kalau-kalau ada di antara mereka ada yang bertukar isyarat kata-kata rahasia, maupun gerakan tangan atau bahkan dengan cangkir arak.

Sebelum meninggalkan ibu kota Pak-khia, Kui Tek-lam sudah menghapal banyak tentang bahasa isyarat kaum Teratai Putih ini. Namun agaknya orang-orang Pek-lian-hwe di tempat itu terlalu hati-hati, mereka tidak bertukar isyarat di tempat seramai itu. Agaknya mereka pun sudah dibisiki kalau di rumah Nyo In-hwe itu tersembunyi seorang “semilir angin” alias agen kerajaan yang sering mereka caci dengan “anjing Manchu”.

Menjelang tengah malam, masih ada saja tamu- tamu yang berdatangan, meski tidak sebanyak sore tadi. Beberapa di antara para tamu-tamu yang datang malam hari itu kentara sekali kalau sekedar orang yang mengaku-aku kenal baik dengan almarhum, namun tujuan sebenarnya sekedar mencari makanan gratis karena pihak keluarga memang menyuguhkan makanan kepada siapa saja yang datang melayat.

Namun Kui Tek-lam tidak ingin meladeni tamu terus-menerus, ia ingat perintah Oh Tong-peng, atasannya, untuk berkumpul tengah malam itu. Untuk melepaskan diri dari tugasnya menyambut para tamu, ia pura-pura menunjukkan kelelahan yang sangat.

Melihat itu, isteri Nyo In-hwe berkata dengan lembut, “Adik Kui, kau tidak beristirahat sedikit pun sejak pagi-pagi buta tadi, dan sekarang sudah hampir tengah malam. Beristirahatlah sekarang, supaya besok pagi tubuhmu segar, sebab besok pagi barangkali kami masih banyak membutuhkan bantuanmu untuk bermacam-macam urusan.”

Kui Tek-lam tak langsung menurut, tapi masih pura-pura menolak, “Tidak, Enso (Kakak Ipar Perempuan), aku masih segar.” Sambil berkata, Kui Tek-lam pura-pura hendak menguap tetapi ditahan.

Isteri Nyo In-hwe melihat itu dan merasa kasihan kepada saudara-angkat suaminya ini. Berbeda dengan Nyo In-hwe yang hanya berpura-pura ramah untuk mengorek maksud kedatangan Kui Tek-lam di Lam-koan, maka anggota keluarga Nyo In-hwe yang lain justru bersikap tulus kepada Kui Tek-lam. Sikap tulus mereka membuat Kui Tek-lam sering merasa bersalah dalam hati karena ia bersikap tidak jujur. Begitu juga kali ini berpura-pura lelah, padahal untuk mencari kesempatan menemui rekan-rekannya.

Isteri Nyo In-hwe berkata pula, “Adik Kui, kau harus beristirahat.” Sikapnya benar-benar sikap seorang kakak kepada adiknya.

“Tetapi tamu-tamu masih....”

“Biar anggota keluargaku yang lain yang meladeni mereka!” isteri Nyo In-hwe menukas bantahan Kui Tek-lam itu.

Memang Nyo In-hwe itu anak tunggal, dulu-dulunya juga pendatang di Lam-koan, dan tidak punya sanak keluarga di kota itu. Tetapi isterinya adalah orang kelahiran Lam-koan asli dan banyak sau-dara- daudaranya yang tetap tinggal di situ. Rumah itu penuh dengan sanak keluarga dari pihak isterinya yang membantu-bantu ini-itu.

Maka Kui Tek-lam pun tidak membantah lagi. Ia segera masuk ke dalam kamarnya. Waktu itu sudah hampir tengah malam, dalam keadaan biasa tentu rumah itu sudah sepi, namun kini masih banyak orang hilir-mudik. Bujang-bujang keluarga Nyo yang masih hilir mudik dari dapur mengambilkan hidangan buat tamu-tamu yang masih saja berdatangan. Menurut adat, bahkan akan banyak yang berjaga-jaga sampai pagi, selama beberapa hari sampai jenazah dimakamkan. Tujuannya untuk melipur pihak keluarga agar tidak merasa kesepian.

Kui Tek-lam masuk ke kamarnya, lalu meniup mati lilinnya, memberi kesan ia akan tidur. Tetapi di dalam kegelapan Kui Tek-lam mencopot pakaian berka-bungnya, menggantinya dengan pakaian ringkas berwarna gelap yang biasa disebut Yan-hing-ih (pakaian pejalan malam).

Tetapi setelah memakai Ya-hing-ih pun Kui Tek- lam merasa sulit untuk keluar diam-diam dari rumah itu tanpa diketahui orang. Maklum, rumah itu sedang ramai dengan orang. Kamar Kui Tek-lam terletak di bagian yang mudah terlihat dari arah dapur, tempat tersibuk di rumah itu di samping ruangan depan di mana peti jenazah ditempatkan.

Kui Tek-lam cari akal sebentar, akhirnya ia pakai kembali pakaian berkabung itu tetapi dirangkapnya di bagian luar pakaian pejalan malamnya. Lalu ia keluar dari kamarnya, menyapa beberapa bujang keluarga Nyo yang masih sibuk, kemudian mampir sebentar di dapur untuk memberi pesan ini-itu, setelah itu dengan gerak menyelinap yang tidak kentara, ia menyelinap ke bagian kegelapan di belakang dapur, di mana ditumpuk kayu bakar, arang, tong-tong beras dan macam-macam persediaan lainnya.

Tidak ada orang di situ, kecuali kalau ada orang dari dapur yang hendak mengambil sesuatu. Di situ Kui Tek-lam dengan cepat mencopot pakaian berkabungnya dan menggulungnya kecil, lalu disembunyikan di atas pohon di sebelah gudang. Lalu ia melompati dinding halaman belakang rumah Nyo In-hwe, dan tibalah ia di luar.

Sambil mulai melangkah cepat keluar kota, ke arah kuburan Portugis, Kui Tek-lam berharap dalam hatinya, “Mudah-mudahan selama aku pergi tidak ada orang yang mencariku di kamarku. Kalau ada, bisa ketahuan kalau aku pergi diam-diam malam ini. Kecurigaan orang-orang bangkit atasku.”

Ketika tiba di tengah-tengah kuburan tak terpakai itu, yang seperti biasanya dalam keadaan gelap-gulita tanpa penerangan, dilihatnya semua sudah berkumpul, kecuali Pang Hui-beng si penjual pangsit gadungan. Sedikit berbeda dengan biasanya, dua agen kerajaan yang selalu bersama Oh Tong-peng, yang dalam pertemuan macam itu biasanya disuruh menjaga agak jauh sambil mengawasi keadaan, kali ini ikut duduk berkumpul. Kui Tek-lam menafsirkannya sebagai gambaran rasa aman.

Lebih dulu Kui Tek-lam memberi hormat kepada Oh Tong-peng sebagai pemimpin, kemudian bertegur-sapa dengan yang lain-lainnya sebagai rekan-rekan sederajat. “Saudara Pang belum datang?”

“Belum.” sahut Oh Tong-peng sambil menyalakan pipa tembakaunya. Kebiasaan yang sudah agak lama ditahan-tahan selama menjalankan tugas rahasianya di Lam-koan. Namun sekarang ia menyalakannya kembali, agaknya merasa kalau pihaknya dalam keadaan aman.

Toh Kui Tek-lam menanyakan juga, “Kakak Oh, kenapa tidak ada yang berjaga di mulut kuburan?”

Oh Tong-peng menjawab santai, “Kita aman. Lo Lam-hong sudah mendapat kabar kalau pihak Pek-lian-hwe saat ini sedang dalam keadaan panik, bingung akan kematian Nyo In-hwe sebagai salah seorang tokoh mereka. Kupikir, takkan terpikir oleh mereka bahwa malam ini kita berkumpul di sini.”

Kui Tek-lam cuma mengangguk-angguk, lalu menepuk paha Lo Lam-hong yang duduk di sebelahnya, “Saudara Lo, bagaimana?”

“Baik.” sahut Lo Lam-hong singkat saja. Rekan yang biasanya senang berkelakar itu sekarang begitu pendiam, dan mengherankan Kui Tek-lam.

Sementara Oh Tong-peng menanyai Kui Tek-lam. “Saudara Kui, sudahkah kau terima obat kiriman yang kukirim melalui Saudara Pang kemarin?”

“Sudah, terima kasih. Obat buatan siapa itu, Kakak Oh?”

“Tabib Siau Hok-to, tabib terbaik di kota ini.”

“Tidakkah dia mencurigakan?”

“Tidak. Ketika dia meramu obat itu, aku duduk menunggu di ruangan tamunya, dan di ruang tamu itu kulihat altar pemujaan tiga panglima jaman Sam-kok. Ketiga patung itu diletakkan secara normal. Lau Pi di tengah, diapit Kuan Kong dan Thio Hui, tidak ada tanda-tanda Tabib Siau ini pengikut Pek-lian-hwe. Malah di ruang tamunya juga bergantungan tulisan- tulisan indah karya Sribaginda Khong-hi, biarpun tiruan.”

Kui Te-lam mengangguk-angguk, agaknya pemimpinnya yakin betul bahwa Siau Hok-to bukan orang Pek-lian-hwe. Pertama, meletakkan patung tiga panglima secara “normal”, sedang kaum Teratai Putih biasanya suka menaruh Kuan Kong yang di tengah. Kedua, memasang tulisan-tulisan indah karya Kaisar Khong-hi sebagai hiasan rumah. Kaisar Khong-hi adalah raja kedua dinasti Manchu, dinasti yang dibenci dan dimusuhi kaum Teratai Putih.

“Bagaimana khasiat obat itu? Sudah kau seduh dan kau minum?”

“Belum, Kakak Oh....”

“Lho, kok....”

“Semalam aku mengalami sesuatu yang ganjil, Kakak Oh. Aku baru hendak menyeduh obat itu, tetapi mataku tidak tahan lagi terhadap kantuk. Aku tertidur dengan kepala di meja berbantal tangan. Dan nikmatnya tidur yang sudah lama kurindukan pun kudapati malam itu. Aku begitu pulasnya sampai pagi!”

“Aneh, padahal kau tidak minum obat itu?”

Lo Lam-hong tiba-tiba berkata, “Kau harus meminumnya, Saudara Kui. Obat itu ternyata manjur sekali. Semalam aku meminumnya, dan aku pulas sampai pagi.”

“Aku tidak minum pun pulas sampai pagi....”

“Itu hanya sementara! Kalau kau tidak minum obat itu, penyakitmu akan timbul lagi lebih parah, bahkan urat-syarafmu benar-benar akan terganggu!”

Kui Tek-lam agak kaget mendengar nada memaksa dan mengancam dalam perkataan Lo Lam- hong itu. Selama ini sahabatnya ini belum pernah bersikap begitu. Kalaupun menegur, tentu dengan maksud baik, tidak dengan mengancam dan menakut- nakuti begini. Tetapi sekarang.

Tetapi Kui Tek-lam tak sempat memikirkan hal itu lebih lanjut, sebab Oh Tong-peng segera menyodorkan masalah yang akan dibahas malam itu sehingga mereka berkumpul di situ. “Saudara Kui, kau tahu kenapa Nyo In-hwe terbunuh?”

“Terus terang saja, Kakak Oh, ini misterius buatku.”

“Coba ceritakan.”

Dengan ringkas Kui Tek-lam pun menceritakan apa yang dilihatnya, disertai kesan-kesannya sendiri. Pendengar-pendengarnya bergidik ketika cerita Kui Tek-lam sampai ke soal kuku patung pujaan Nyo In-hwe yang bernoda darah itu.

Cu Tong-liang, salah satu agen ke-rajaan yang selalu bersama-sama dengan Oh Tong-peng, tiba-tiba memecah kesunyian dengan tertawanya. Katanya, “Memang kita sedang berhadapan dengan kaum Teratai Putih yang konon bisa melakukan hal aneh-aneh, dan memang beberapa hal aneh kecil-kecilan sudah dialami, tetapi jangan sampai pikiran kita hanyut dalam khayalan-khayalan yang menggelikan, nanti kita tidak bisa berpikir dengan lurus dan jernih lagi. Kakak Oh sendiri sering mengajurkan kita untuk menjaga keteguhan hati, agar tidak mudah dipermainkan oleh keanehan-keanehan yang dibikin oleh orang-orang Pek-lian-hwe.”

Kui Tek-lam penasaran, “Khayalan yang menggelikan yang bagaimana yang Saudara Cu maksudkan?”

“Soal kuku patung yang berlumuran darah, memangnya lalu kita pikir patung itu bisa hidup, lalu merobek-robek tubuh Nyo In-hwe dan korban yang satunya lagi, dan setelah itu naik kembali ke altar dan berubah menjadi patung kembali? Tidak masuk akal!”

“Apa aku bilang begitu?”

Cu Tong-liang bungkam. Sementara Lo Lam-hong berkata dengan tajam dan dengan wajah dingin, “Dalam Pek-lian-hwe masih ada banyak hal-hal aneh yang bakal mengejutkan kalian.”

Cu Tong-liang menoleh kepada Lo Lam-hong, “Lho, omongannya Saudara Lo ini kok seperti mempromosikan kehebatan musuh kita?”

“Sudah, sudah!” Oh Tong-peng buru-buru menengahi pembicaraan anak buahnya, agar mereka tidak sampai bertengkar. Lalu sambil menoleh kepada Kui Tek-lam, ia bertanya, “Jadi, kau tidak bisa menebak siapa pembunuh Nyo In-hwe, dan dengan senjata apa ia dibunuh, begitu Saudara Kui?”

Kui Tek-lam mengangguk. “Ya. Bahkan, kalau menurut yang aku lihat, yang menyebabkan kematian Nyo In-hwe sepertinya bukanlah sejenis senjata, tetapi... tubuhnya seperti dirobek-robek oleh sepasang cakar berukuran raksasa.”

“Kau juga tidak mendengar apa-apa malam itu?”

“Sudah kukatakan, aku tidur pulas sekali malam itu.”

“Mungkin tidur pulasmu itu juga tidak normal, Saudara Kui. Maksudku, barangkali orang yang membunuh Nyo In-hwe itulah yang melepaskan semacam ilmu gaib yang bisa membuat orang tidur pulas, supaya dia dapat beroperasi dengan leluasa.”

“Mungkin juga.”

“O, iya, Saudara Kui, apa benar tadi kau kirim pesan melalui Saudara Pang, bahwa Hakim Kang Liong itu patut dicurigai sebagai salah seorang pentolan Pek-lian-hwe yang menyamar sebagai tokoh di mata masyarakat?”

“Benar, Kakak Oh.”

“Darimana kau peroleh dugaan macam itu?”

Kui Tek-lam menceritakan sikap aneh Hakim Kang Liong dalam pemeriksaan di rumah Nyo In-hwe. “Komandan Bong Peng-un sengaja kugiring pikirannya agar dia waspada dan sadar kalau Pek-lian-hwe benar-benar aktif di kota ini, bergerak di bawah tanah, untuk itu aku tunjuki dia kamar pemujaan “Dewa Cahaya' Nyo In-hwe. Ternyata sikap Hakim Kang Liong seperti 'menutup-nutupinya.”

“Itu bukan kepastian bahwa Kang Liong adalah anggota Pek-lian-hwe.” Lo Lam-hong menukas dengan suara seperti menggeram.

Sementara Oh Tong-peng mengisap dalam-dalam pipa tembakaunya sambil mengangguk-angguk. “Baiklah, Saudara Kui, keteranganmu aku perhatikan, meskipun baru dugaan. Kita akan mulai mengawasi gerak-gerik hakim itu. Eh, ini Pang Hui-beng kok belum datang juga?”

Perkataan Oh Tong-peng itu mengingatkan yang lain-lain, bahwa tidak wajar kalau Pang Hui-beng sampai terlambat hampir satu jam. Semuanya lalu menoleh ke sekitar, mengharap-harap kedatangan Pang Hui-beng. Hanya Lo Lam-hong yang kelihatan tetap dingin.

Saat itulah di kejauhan nampak sesosok bayangan berlari-lari mendekat, di kegelapan malam masih bisa terlihat dia dengan lincah melompati nisan- nisan di kuburan Portugis itu.

“Itu Pang Hui-beng!” desis Oh Tong-peng agak heran. “Tidak biasanya dia berlari-lari segugup itu.”

“Barangkali....”

Belum sampai Kui Tek-lam mengatakan komentarnya, telah terdengar seruan Pang Hui-beng bernada panik, “Kakak Oh! Berhati-hatilah terhadap Lo Lam-hong! Dia di bawah pengaruh.”

Suatu perkembangan yang sangat cepat dan sangat mendadak pun berlangsunglah. Oh Tong-peng dan lain-lainnya belum sempat benar mencerna peringatan Pang Hui-beng itu, ketika Lo Lam-hong yang duduk di tengah-tengah mereka tiba-tiba melompat bangkit sambil menghunus sebilah belati berkilat di tangannya dan berteriak geram.

“Anjing-anjing Kaisar Manchu! Ini malam terakhir dalam hidup kalian!”

Dan belatinya langsung hendak dihujamkan ke arah Cu Tong-liang yang duduknya paling dekat dengannya. Sebagai seorang perajurit sandi yang terpilih dalam regu itu, Cu Tong-liang bukannya orang lemah. Kemampuan tempurnya setara dengan Kui Tek-lam. Lo Lam-hong, Pang Hui-beng dan lainnya. Namun kali ini agaknya bakal sulit menyelamatkan diri karena serangan itu selain amat mendadak, juga tak terpikir sedikit pun Lo Lam-hong lah yang bakal menyerang nya, sahabat baiknya sendiri.

Berbeda dengan Kui Tek-lam yang sejak tadi sudah merasakan sesuatu yang “tidak enak” dengan Lo Lam-hong. Rasanya Lo Lam-hong yang duduk bersamanya malam itu bukanlah Lo Lam-hong sahabat baiknya selama ini, bukan Lo Lam-hong yang sering berkelakar dan bersama-sama berjuang sehidup semati dengannya. Maka begitu melihat kilat belati di tangan Lo Lam-hong, serempak naluri Kui Tek-lam menuntunnya untuk bergerak secepat kilat menyelamatkan Cu Tong-liang.

Agen kerajaan yang satu lagi yang selalu bersama-sama dengan Oh Tong-peng dan Cu Tong-liang, yang bernama Thiam Lai, tiba-tiba juga berteriak, “Aku lihat bayangan orang-orang bersenjata di kejauhan, di segala arah! Kita agaknya terkepung!”

Kata-kata yang sama maknanya juga diteriakkan Pang Hui-beng sambil berlari mendekat, “Kita dikepung! Lo Lam-hong telah mengkhianati kita!”

Segores kepedihan menoreh hati Kui Tek-lam dan lain-lainnya mendengar istilah “berkhianat kepada kita” yang diteriakkan Pang Hui-beng itu, sesuatu yang sulit dipercaya kalau tidak melihat tindakan Lo Lam-hong baru saja, bagaimanapun juga Lo Lam-hong lebih dari kawan sekerja, tetapi telah menjadi kawan sehidup semati dalam beberapa tugas. Namun mereka tahu Pang Hui-beng tidak mengada-ada, dalam suara Pang Hui-beng sendiri tergetar nada pedih harus mengucapkan kata “berkhianat” itu tentang sahabatnya.

Lo Lam-hong sendiri seolah sudah kebal, perasaannya seperti sudah hilang dari dirinya. Dengan gerak tangkas ia melompat mundur, lalu bersuit nyaring untuk memberi isyarat kepada kawan-kawan barunya, yaitu orang-orang Pek-lian-hwe.

Sementara lima agen kerajaan yang dipimpin Oh Tong-peng itu sudah membentuk lingkaran yang menghadap keluar, saling memunggungi. Karena mereka tidak siap untuk bertempur, mereka tidak membawa senjata. Dengan demikian mereka siap-siap menghadapi lawan hanya dengan tangan kosong. Tapi mereka nampak mantap.

Musuh-musuh yang muncul ternyata tidak begitu banyak, kalau dihitung dari sosok-sosok bayangan yang bermunculan dari empat penjuru. Dari tiap arah, muncul tiga orang, dan mereka datang dari lima arah sehingga semuanya berjumlah lima belas orang.

“Lumayan....” desis Pang Hui-beng. “Mereka lima belas, kita berlima. Satu lawan tiga....”

Cu Tong-liang menyambung, “Dan mereka bersenjata, kita tidak.”

Tetapi Oh Tong-peng membesarkan hati anak buahnya, “Dangan lupa bahwa segenggam pasir pun bisa menjadi senjata kalau ditaburkan ke arah mata.”

“Mudah-mudahan yang kita hadapi sekarang ini adalah manusia betulan.” desis Pang Hui-beng ketika teringat pengalamannya berkelahi dengan manusia jadi-jadian.

Makin dekat orang-orang Pek-lian-hwe itu, makin terasa pula adanya semacam suasana gaib yang menekan pikiran para agen pemerintah. Oh Tong- peng dan orang-orangnya percaya bahwa suasana menekan itu tidak disebabkan oleh suasana kuburan itu di malam hari, sebab kemarin-kemarin mereka berkumpul malam-malam di tempat itu, toh tidak merasakan suasana seram karena mereka bernyali besar.

Bukan karena suasana normal di kuburan itu, melainkan karena dengung mantera yang dilagukan orang-orang itu sambil berjalan mendekat dalam posisi mengepung. Mantera semacam iagu bernada rendah. Kemudian setelah semakin dekat lagi, di bawah cahaya rembulan yang lemah di langit, terlihatlah bahwa musuh-musuh yang mendekat itu semuanya mengenakan topeng. Topengnya bermacam-macam, ada topeng siluman-siluman setengah binatang, dewa-dewa, dewi-dewi dan sebagainya.

Yang agak mendebarkan Kui Tek-lam adalah ketika melihat di antara penyerbu-penyerbu yang makin dekat itu ada seorang yang bertubuh pendek kecil, memakai topeng berlukisan wajah Dewa Mo Sui dari cerita Liat-kok, itu dewa bertubuh cebol, namun orang ini membawa senjata berupa garu besi yang tangkainya sepanjang hampir dua meter. Kontras sekali dengan ukuran tubuhnya yang mini.

Kui Tek-lam masih ingat, ketika dulu ia ikut suatu gerakan Pek-lian-hwe membasmi orang-orang Thian-te-hwe di tepian sungai, Si Orang Kerdil bertopeng Dewa Mo Sui ini dipanggil sebagai Hu-san-cu (wakil komandan gunung), artinya kedudukannya berada di ranking nomor dua dalam Pek-lian-hwe cabang Lam-koan. Tentu ilmu silatnya dan ilmu gaibnya tidak bisa dipandang enteng, selain itu Kui Tek-lam juga pernah melihat sendiri kekejamannya ketika membantai orang-orang Thian-te-hwe dulu.

Suasana asing yang mendirikan bulu roma itu terasa semakin menekan, sehingga Oh Tong-peng merasa perlu memperingatkan orang-orangnya, “Jangan terpengaruh, perteguh kesadaran kalian!”

Kui Tek-lam mendukung ajaran itu, namun ia juga ingin memperingatkan rekan-rekannya tentang lawan-lawannya itu. Desisnya kepada kawan- kawannya tanpa mengalihkan pandangan dari lawan- lawan yang kian mendekat, “Hati-hati terhadap orang pendek yang memegang garu besi itu. Ia disebut sebagai tokoh-nomor-dua di Pek-lian-hwe cabang Lam-koan ini. Selain ilmu gaib, ilmu silatnya juga lumayan, dan kejamnya bukan main.”

“Biar aku yang menghadapinya.” sahut Oh Tong-peng. Sebagai komandan dalam operasi itu, ilmu silat Oh Tong-peng memang yang paling tangguh.

Namun Kui Tek-lam masih menyambung, “Dan topeng-topeng yang mereka pakai itu juga tidak sekedar untuk menyembunyikan identitas mereka atau sekedar menakuti musuh, tetapi punya kekuatan magis yang bisa menyebabkan mereka bertempur dalam keadaan kesurupan roh dan berbahaya sekali.”

Tidak ada rekan-rekannya yang menjawab, semuanya semakin waspada mengawasi ke depan. Sementara lawan-lawan mereka berhenti, membentuk lingkaran besar mengurung kelima orang agen kerajaan yong sudah terkepung itu. Mereka tidak langsung menyerang, namun secara kompak mendengungkan mantera bernada rendah yang seolah-olah mengisi udara tempat itu dan memadat menjadi tekanan tak terlihat ke dalam pikiran orang-orang itu.

“Apa yang mereka lakukan?” gerutu Cu Tong- liang. “Kenapa mereka tidak segera mengerang? Apa mereka pikir kita ini....”

Kui Tek-lam cepat memotong gerutuan rekannya itu, “Saudara Cu, mereka sudah mulai menyerang. Menyerang pikiran kita. Dan kalau kau tidak berkonsentrasi karena menggerutu terus, kau akan gagal mempertahankan kejernihan pikiranmu.”

Cu Tong-liang pun bungkam, mau tidak mau ia harus memperhatikan peringatan Kui Tek-lam itu, sebab Kui Tek-lam sudah punya pengalaman menyusup ke dalam Prk-lian-hwe. Sementara orang-orang Pek-lian-hwp itu mulai menari berputaran. Suara yang mereka keluarkan ,dari balik topeng mereka tidak lagi seragam, melainkan mulai beraneka ragam.

Ada yang menyanyikan lagu aneh, ada yang mengeluarkan suara maram-macam binatang, dan yang masih dikenali oleh Kui Tek-lam adalan Si Tinggi Besar yang mengenakan topeng dewi yang cantik, dan orang itu mulai berlenggak-lenggok seperti seorang perempuan sejati, bahkan melebihinya, meski tubuhnya tinggi besar dan kasar. Suaranya juga berubah menjadi suara perempuan yang merdu.

“Mereka mulai kesurupan....” Kui Tek-lam memperingatkan kawan-kawannya. Tiba-tiba ia teringat adegan dalam mimpinya semalam, bagaimana dia dikerubut ribuan mahluk-mahluk yang wajahnya seperti topeng-topeng ini. Tetapi Liu Yok tiba-tiba muncul dengan pasukan lain yang sepertinya terbuat dari api dan angin, menolongnya, mengusir mahluk-mahluk bertopeng ini.

Ingat mimpinya, Kui Tek-lam merasa sayang bahwa itu hanya terjadi dalam mimpi. Menurut pikirannya, Lui Yok tidak mungkin melakukan perbuatan sehebat itu. Ia sudah ketemu sendiri dengan Liu Yok di Lok-yang, dan menurut pendapatnya, Liu Yok orangnya “terlalu lemah”. Tidak suka silat, tidak suka tipu muslihat, kelewat baik hati. Tak terasa Kui Tek-lam menarik napas.

“Kenapa?” tanya Pang Hui-beng yang di belakangnya.

“Seandainya yang terjadi dalam mimpiku itu menjadi kenyataan....”

Orang-orang Pek-lian-hwe itu terus menari dan bersuara sambil berkeliling. Dan akibatnya mulai terasa.

“Aku pusing, pikiranku kacau.” Cu Tong-liong mulai mengeluh.

“Pusatkan pikiran, teguhkan jiwamu dengan berkata-kata kepada diri sendiri.” Kui Tek-lam menganjurkan. Entah dari-mana dia mendapatkan cara macam itu, tahu-tahu melintas begitu saja dalam pikirannya dan langsung ia katakan.

Serangan Pek-lian-hwe ternyata bukannya tidak bisa dilihat sama sekali, sebab di tempat itu mendadak bangkit angin yang dingin berhembus dengan keras, mengangkat debu dan rerumputan kering sehingga membentuk semacam tirai antara agen-agen kerajaan itu dengan lawan-lawannya.

Di luar “tirai” itu suasananya biasa-biasa saja kecuali orang-orang Pek-lian-hwe yang berlari-lari berputaran, sebaliknya di sebelah dalam “tirai” Oh Tong-peng dan keempat anak buahnya sedang kelabakan menghadapi udara yang makin gelap pekat, sampai akhirnya melihat jari tangannya sendiri pun tidak bisa, ditambah angin yang dingin mengiris kulit dan debu-debu yang menyerang mata. Mereka berlima mulai saling tubruk karena tidak dapat melihat posisi berdiri masing-masing.

Kui Tek-lam mencoba hasil “penemuan terbaru”nya, yaitu berkata-kata kepada diri sendiri untuk meneguhkan hatinya. Namun sekian lama ia membujuk diri sendiri, keadaan sekitarnya tak berubah. Angin kencang, debu, kegelapan tak tertembus oleh mata yang paling tajam sekalipun.

Pang Hui-beng juga mulai berteriak mengusulkan, tidak peduli mulutnya kemasukan debu, “Dulu aku pernah menghadapi yang seperti ini. Gigit ujung jari, kumur darahnya sebentar di mulut, lalu semburkan! Ini akan punah!”

Dalam keadaan kebingungan, agen-agen kerajaan itu tanpa kecuali menuruti usul Pang Hui- beng. Lalu mereka pun meludah-ludahkan ludah berdarah itu sekenanya, ke segala arah, karena mereka sendiri bingung dan kehilangan kiblat. Bahkan ada yang ludah berdarahnya menyembur ke muka teman sendiri.

Ternyata yang ini pun tidak manjur. Bahkan serangan musuh lebih meningkat. Kali ini dalam kegelapan itu samar-samar mulai kelihatan wajah-wajah siluman yang menyeramkan. Oh Tong-peng tidak tahu yang dilihat matanya itu terjadi sungguh-sungguh atau hanya pantulan dari angan-angannya sendiri, yang ia tahu pasti, anak buahnya bisa runtuh mentalnya menghadapi keadaan yang seolah tak tertanggulangi itu. Karena itu Oh Tong-peng memutuskan, bahwa bertahan di tempat itu hanyalah suatu kesia-siaan.

Di antara deru angin jadi-jadian, terdengarlah perintah Oh Tong-peng, “Terjang keluar! Jalan ke tiga puluh enam!”

Dalam istilah kaum petualang, ada pepatah “di antara tiga puluh enam jalan menyelamatkan diri, lari adalah yang terbaik”. Karena Oh Tong-peng dan kawan-kawannya adalah anggota-anggota pasukan pilihan yang diperintah langsung oleh Kaisar Kian-liong, tentu saja mereka adalah jagoan-jagoan bernyali besar tidak gampang kabur dari pertempuran.

Itulah sebabnya mereka menaruh “lari” sebagai penyelamatan diri pertempuran sebagai cara yang terakhir alias yang nomor tiga puluh enam. Kini Oh Tong-peng sudah meneriakkannya, tanda kalau cara yang ke satu sampai tiga puluh lima sudah tidak mungkin dipakai lagi, makanya langsung yang ke tiga puluh enam.

Ketika itu, suasana begitu gelapnya sehingga kelima orang itu tak dapat saling melihat, Pang Hui- beng dan Cu Tong-liang berbareng melompat hendak kabur, tapi karena tidak tahu arah, jidat mereka berbenturan keras. Mereka mengaduh berbareng dan jatuh berbareng pula sambil mengaduh-aduh. Pang Hui-beng memijit-mijit jidatnya sambil menggerutu.

Selama beberapa hari ini ia sedang jengkel karena di tengah-tengah jidatnya, di antara kedua matanya, seperti ada sesuatu yang menempel dan membuatnya risih, meskipun kalau ia bercermin ternyata tidak ada apa-apa di situ. Sekarang ia bayangkan di jidatnya tentu tumbuh sebuah benjolan akibat benturan dengan Cu Tong-liang tadi.

Sementara Cu Tong-liang sendiri juga diinjak perutnya entah oleh siapa, karena gelap. Untung perutnya berotot keras karena terlatih dengan baik. Sementara Oh Tong-peng dan yang lainnya tidak mempedulikan kegaduhan itu. Mereka benar- benar berusaha mencari jalan keluar dari situ, kalau bisa selain menyelamatkan diri sendiri juga menyelamatkan teman-teman mereka.

Sambil menutup mata agar tidak kemasukan debu, Kui Tek-lam sekuat tenaga melakukan lompatan jauh ke depan, tak peduli arahnya. Ia bahkan tak peduli seandainya lompatannya itu tubuhnya bakal menyongsong ujung senjata lawan yang tak terlihat dalam kegelapan.

Ternyata Kui Tek-lam memang menubruk seorang anggota Pek-lian-hwe yang mengelilinginya, untung tidak bertubrukan dalam posisi berhadapan sebab orang itu membawa golok, melainkan Kui Tek- lam menubruknya dari samping sehingga orang itu jatuh bergulingan.

Ternyata, meskipun jatuh, orang itu tidak segera sadar dari kesurupannya, ia tetap saja bermantera dalam posisi tergeletak di tanah. Yang lain-lainnya, yang kesurupan total, tidak melihat Kui Tek-lam berhasil menerobos dari situ. Menyusul Oh Tong-peng, Pang Hui-beng, dan lain-lainnya berlompatan keluar dari pusaran angin buatan yang mengurung mereka itu.

Begitu keluar, Cu Tong-liang langsung meledakkan rasa jengkelnya kepada orang-orang Pek- lian-hwe itu. Ia jotos muka orang Pek-lian-hwe yang terdekat dengannya, sehingga topeng kayu orang itu remuk bersama dengan hidung orang itu. Orangnya sendiri tergeletak tak berkutik.

Cu Tong-liang masih hendak menjotos satu orang lagi, tetapi Pang Hui-beng meneriaki rekannya yang berangasan itu, “Saudara Cu, jangan sampai terlambat pergi dari sini!”

Ternyata tidak semua orang-orang Pek-lian-hwe yang di situ kesurupan lotal sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Ada yang cuma setengah kesurupan setengah sadar, bahkan dua tiga orang yang tergolong pimpinan tidak kesurupan sama sekali. Pikiran mereka tetap jernih, meskipun mereka sambil melepaskan ilmu hitam mereka lebih ampuh dari kaum bawahan.

Mereka yang tidak kesurupan atau cuma setengah kesurupan ini, tentu saja tahu kalau para “anjing Manchu” itu telah berhasil membebaskan diri dari pusaran angin setan itu. Di antara orang-orang Pek-lian-hwe yang tidak kesurupan adalah Si Wakil Ketua cabang Lam-koan, Thai Yu-tat, Si Cebol yang bersenjata garu besi bertangkai sepanjang dua meter itu, dan memakai topeng Dewa Mo Sui, Si Dewa Cebol dalam cerita Liat-kok.

Sejenak Thai Yu-tat tercengang melihat musuh- musuhnya bisa lolos dari pusaran angin jadi-jadian itu. Kemudian kagetnya berubah menjadi kegusaran, tubuhnya yang kecil itu mendadak melejit menghajar Pang Hui-beng. Sambil membentak, “Anjing Manchu! Jangan pikir bisa pergi hidup-hidup dari sini!”

Garu besinya juga langsung terayun ke punggung Pang Hui-beng yang membelakanginya. Begitu cepat, kelihatannya kecil kemungkinan Pang Hui-beng untuk tidak cidera oleh orang kedua Pek-lian-hwe Lam-koan ini.

Tetapi Oh Tong-peng yang melihatnya, tidak membiarkan anak buahnya cidera. Kebetulan di tangan Oh Tong-peng masih menggenggam pasir yang tadi disiapkan sebagai “senjata”, kini pasir itu ditaburkannya ke wajah Thai Yu-tat sambil mengejek, “Dewa gadungan, rasakan ilmu saktiku sekarang!”

Thai Yu-tat memakai topeng kayu, tetapi di bagian matanya tentu saja ada “jendela”nya. Beberapa butir pasir masuk ke matanya, membuatnya meraung marah, konsentrasinya buyar dan serangannya buyar. Garu besinya hanya menghantam sebuah salib dari kuburan Portugis itu sehingga hancur.

Tubuhnya yang kecil dan sedang meluncur ke depan itu agak sukar untuk “direm” seketika, dan sialnya, Oh Tong-peng justru berhenti, dan melakukan teknik tendangan disebut Kau-tui-hoan-tui (Rendahkan Lutut Sambil Menendang ke Belakang), seperti kuda. Tendangannya menghunjam kelambung Thai Yu-tat dan membuat Si Dewa Mo Sui gadungan ini mencelat mundur ke aral) orang-orang sendiri. Sesaat suasana jadi agak kacau. Orang-orang Pek-lian-hwe yang masih sadar mencoba menghalang-halangi kaburnya agen-agen kerajaan itu.

Kui Tek-lam sendiri tidak dapat segera pergi karena dihadang... Lo Lam-hong! Berhadapan dengan orang yang selama bertahun-tahun menjadi sahabat sehidup sematinya, tentu saja tidak mungkin bagi Kui Tek-lam untuk bersungguh-sungguh. Bahkan sampai saat itu pun masih ada sepercik pikiran di benaknya bahwa Lo Lam-hong sedang “main sandiwara” di depan mata orang-orang Pek-lian-hwe dengan maksud tertentu.

“Barangkali untuk merebut kepercayaan orang Pek-lian-hwe, agar dia dapat segera dipercayai untuk ikut mengetahui di mana tempat penyimpanan lima ribu pucuk senjata api simpanan Pek-lian-hwe itu.”

Tetapi sikap Kui Tek-lam itu hampir-hampir mencelakakan dirinya sendiri. Kui Tek-lam menganggap Lo Lam-hong hanya bersandiwara, ternyata Lo Lam-hong sendiri bertempur dengan sangat sengit dan nafsu membunuh yang menyala-nyala, dengan pedang di tangannya, Lo Lam-hong pasti takkan membuang suatu peluang pun apabila bisa menghunjamkan ujung pedangnya ke jantung Kui Tek-lam.

Suatu kesempatan, ketika Kui Tek-lam melompat mundur menghindari suatu sabetan pedang, tumitnya tersentuh nisan kuburan sehingga langkahnya agak terhuyung sejenak. Sebagai seorang perwira istana pilihan, Kui Tek-lam dengan cepat dapat menguasai keseimbangan kembali.

Tetapi waktu yang sepersekian detik itu digunakan oleh Lo Lam-hong untuk memburu dengan ganas. Hampir saja dada Kui Tek-lam tertikam, kalau tidak cepat-cepat menyelamatkan diri secara darurat membanting diri ke samping. Lo Lam-hong meraung ganas dan kali ini membacok ke tanah, ke arah Kui Tek-lam.

“Saudara Lo, sadarlah!” pekik Kui Tek-lam bernada putus asa, saat itu hampir ada peluangnya untuk menyelamatkan diri lebih lanjut. Teriakan yang sedikit pun tidak menggoyahkan Lo Lam-hong.

Kui Tek-lam dan Lo Lam-hong punya ketrampilan tempur yang lebih-kurang setara, namun dengan keadaan mereka saat itu, sudah tentu jadi tidak setara lagi. Kui Tek-lam tidak bersenjata, Lo Lam- hong bersenjata. Kui Tek-lam tidak bersungguh- sungguh, Lo Lam-hong sudah kerasukan semangat membunuh yang menyingkirkan kesadaran atau kehendaknya sendiri.

Maka nyawa Kui Tek-lam saat itu sudah seperti bergantung pada sehelai rambut dibelah tujuh. Namun saat itu Oh Tong-peng masih berada di sekitar arena itu, berkeliling membantu anak buahnya yang butuh pertolongan, la bertekad akan lari paling belakangan, setelah semua anak buahnya selamat lebih dulu. Baru saja ia menyelamatkan Pang Hui- beng, dan sekarang dia menyelamatkan Kui Tek-lam dari Lo Lam-hong.

Tubuh Ong Tong-peng yang sudah setengah baya itu ternyata belum kendor dan kehilangan ketangkasannya. Jarak beberapa langkah antara dirinya dengan Lo Lam-hong itu “ditutup”nya dengan sebuah lompatan sambil menendang, teknik Hui-hou- tui (Tendangan Macan Terbang). Tepat mengenai lengan Lo Lam-hong yang sedang terangkat tinggi mengayunkan pedang. Pedang di tangan Lo Lam-hong terpental, Lo Lam-hong sendiri terhuyung dengan wajah pucat namun sorot matanya tetap beringas.

Oh Tong-peng menumpuk kegusarannya kepada Lo Lam-hong, bekas anak buahnya sendiri itu. Dalam pendapatnya, entah Lo Lam-hong sedang “bermain sandiwara” atau bersungguh-sunngguh, kenyataannya sudah berulang-kali melakukan tindakan yang membahayakan jiwa bekas teman- temannya sendiri. Sebagai orang yang tegas, Oh Tong- peng sudah merasa layak kalau memberi hukuman kepada Lo Lam-hong.

Begitu kakinya mendarat di tanah, tangkas sekali Oh Tong-peng memutar tubuhnya sambil kakinya naik lagi dalam gerakan Coa-sin-teng-kak (Menendang Sambil Memutar Tubuh), tumitnya tepat kena pangkal leher Lo Lam-hong yang belum sempat memperbaiki posisinya. Lo Lam-hong terhempas ke belakang, seandainya punggungnya tidak tertahan oleh sebatang pohon, tentu sudah jatuh terlentang.

Oh Tong-peng terus memburu. Telapak tangannya yang terlatih dengan pasir besi dan mampu meremukkan segumpal batu besar menjadi bubuk, didorongkan sekuatnya dan secepatnya ke ulu hati Lo Lam-hong.

“Kakak Oh! Jangan!” seruan Kui Tek-lam itu menghentikan gerakan tangan Oh Tong-peng dan meloloskan Lo Lam-hong dari maut.

Telapak tangan Oh Tong-peng tinggal sejari jaraknya dari kulit dada Lo Lam-hong dihentikan mendadak. Dalam kegelapan Oh Tong-peng menatap sepasang mata Lo Lam-hong yang berkilat penuh kebencian dan permusuhan, jelas sikap permusuhan Lo Lam-hong terhadap teman-temannya itu bukan berpura-pura.

Kini berhadapan jarak dekat dengan Oh Tong-peng, Lo Lam-hong masih bisa menggeram sengit tanpa dibuat-buat, “Anjing Manchu, kalian semua akan musnah dari setiap jengkal buminya bangsa Han ini!”

Darah Oh Tong-peng menggelegak, ingin rasanya menekankan telapak tangannya yang masih berisi penuh kekuatan “Telapak Pasir Besi” itu sejengkal lagi ke depan untuk membuat ambrol tulang-tulang dada Lo Lam-hong.

Namun suara Kui Tek-lam menahannya, “Jangan curigai dia, Kak Oh. Dia sedang dikuasai suatu pribadi lain yang ada dalam dirinya bukan kepribadiannya sendiri.”

Meskipun Oh Tong-peng komandan dan Kui Tek-lam bawahan, tetapi ternyata Oh Tong-peng menuruti kata-kata Kui Tek-lam. la lihat sekelilingnya dan melihat anak buahnya sudah berhasil kabur berpencaran ke berbagai arah. Ada juga orang-orang Pek-lian-hwe yang memburu, tetapi kelihatannya takkan berhasil karena kalah cepat larinya, dan sebagian orang Pek-lian-hwe sedang sibuk menolong Si “Dewa Mo Sui” yang agaknya luka parah kena tendangan Oh Tong-peng tadi.

Oh Tong-peng memperhitungkan, biarpun pihaknya baru saja lolos dari lobang jarum, tetapi “harga” yang dibayar pihak Pek-lian-hwe nampaknya cukup pantas juga. Maka dia pun kemudian mengundurkan diri bernama Kui Tek-lam meninggalkan kuburan itu.

Sepeninggal agen-agen kerajaan itu, Lo Lam-hong tertegun-tegun sejenak. Pengaruh asing yang mencekam kepribadian aslinya sedikit mengendor, dan kepribadian aslinya muncul ke permukaan meski samar-samar. “Apa yang terjadi? Apa yang sudah kulakukan?” ia menepuk-nepuk jidatnya sendiri sambil celingukan ke sekelilingnya.

Oh Tong-peng dan Kui Tek-lam ke suatu tempat belukar yang sepi di pinggiran kota Lam-koan, di tepi sungai Se-kiang. Mereka berhenti. Mereka tidak tahu ke arah mana teman-teman mereka yang lain berpencaran, tetapi mereka punya keyakinan bahwa teman-teman mereka pun tentu akan berhasil menyelamatkan diri, asal bisa pergi dari kuburan itu.

“Gila!” Oh Tong-peng mengutuk sambil duduk di atas sebuah batu besar yang permukaannya rata. “Benar-benar gila. Berantakan semuanya!”

“Belum. Kita masih utuh, kecuali Saudara Lo yang agaknya kena pengaruh gaib. Kita bisa mendapatkan Saudara Lo kembali, kalau pengaruh jahat atas kepribadiannya itu bisa dilenyapkan.”

Oh Tong-peng yang biasanya sabar, kali ini kelihatannya jadi gampang marah. Suaranya ketika menjawab Kui Tek-lam pun bernada tinggi, “Bagaimana melenyapkan pengaruh itu? Kita tidak tahu menahu perkara-perkara gaib, bahkan malam ini kita semuanya bisa lolos saja sudah patut bersyukur. Sungguh tidak kusangka Lo lam-hong bisa segila itu!”

“Bukan kemauannya sendiri, Kakak Oh. Aku sendiri mengalami bagaimana beratnya perjuangan melawan suatu musuh yang tidak menyerang dari luar, tetapi menyerang lewat dalam, lewat pikiran kita sendiri. Seakan ada suatu pribadi lain yang hendak mendesak pribadiku sendiri dan hendak mengambil- alih seluruh diriku.”

“Kenapa tidak kau minum obat itu?”

“Obat itu kutinggalkan di kamarku di rumah Nyo In-hwe. Kemarin malam ketika aku hendak meminumnya, tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan....” tiba-tiba Kui Tek-lam berhenti bicara dan nampak seperti berpikir keras, sehingga Oh Tong-peng heran.

“He, kenapa berhenti bicara ?”

“Obat itu!”

“Kenapa dengan... oh, aku mengerti! Kau mau bilang. Lo Lam-hong minum obat Tabib Siau yang kukirimkan kepadanya, lalu kepribadiannya jadi terkendali mutlak oleh Pek-lian-hwe, sedangkan kau tidak meminumnya dan semalam malahan dapat tidur pulas, begitu?”

“Betul, Kakak Oh.”

“Kalau begitu, Tabib Siau itu kemungkinan besar adalah orang Pek-lian-hwe.”

“Kita patut mencurigainya, Kakak Oh. Tadi Kakak Oh bercerita bahwa di ruang tamu rumah Tabib Siau ada altar pemujaan yang patung Koan Kongnya tidak ditaruh di tengah, juga memasang kata-kata mutiara hasil karya Baginda Khong-hi. Dengan kenyataan-kenyataan tersebut terus Kakak anggap mustahil dia orang Pek-lian-hwe, tetapi bisa juga hal-hal tersebut sengaja dipamerkan di ruang tamunya untuk mengelabuhi orang.”

Oh Tong-peng menepuk jidatnya sendiri keras-keras sambil memaki diri sendiri, “Alangkah gegabahnya tindakanku, begitu saja mempercayai Tabib Siau dan mengirimkan obat kepadamu dan kepada Lo Lam-hong! Kalau ternyata benar Tabib itu adalah orang Pek-lian-hwe, tentu ramuan obatnya itu juga tidak beres, dan secara tidak langsung akulah yang mencelakakan Lo Lam-hong sehingga jadi lupa diri seperti itu.”

“Sudahlah, Kakak Oh, tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Yang penting, bagaimana langkah kita selanjutnya.”

“Agak sulit sekarang. Pihak kita sekarang sedang kedodoran.”

“Maaf, Kakak Oh, pandangan Kakak ini terlalu berat sebelah dan tidak adil buat pihak kita sendiri. Kita memang kedodoran, Lo Lam-hong yang lupa diri itu mengguncangkan kita dan sedikit mengacaukan nya. Tetapi jangan lupa, pihak Pek-lian-hwe juga sedang kedodoran saat ini.

"Pembunuh Nyo In-hwe belum diketahui orangnya dan motifnya, malam ini Pek-lian-hwe juga menderita kerugian, Si Cebol bertopeng Dewa Mo Sui itu adalah orang nomor dua di cabang Lam-koan ini, dan aku percaya dia terluka parah oleh tendangan telak Kakak Oh tadi, mungkin takkan bisa melewati malam ini bersama-sama nyawanya. Tidakkah ini berarti kerugian baginya?

"Belum lagi dalam beberapa peristiwa akhir-akhir ini kita mulai bisa mencium tokoh-tokoh yang kita curigai sebagai orang Pek-lian-hwe, padahal tadinya susahnya setengah mati untuk mengenali tokoh-tokoh Pek-lian-hwe yang pintar menyamar di tengah masyarakat. Paling tidak sekarang kita bisa mengarahkan kecurigaan kepada Hakim Kang Liong dan Tabib Siau Hok-to.”

Semangat Oh Tong-peng agak menyala kembali mendengar kata-kata Kui Tek-lam itu. Ia mengangguk-angguk, dan berkata, “Kau benar. Sekarang ini permainan kita dengan orang-orang Pek-lian-hwe memasuki tahapan baru, tahap di mana kedua belah pihak sudah mulai saling bisa melihat lawan yang tadinya sama-sama tak terlihat, sekarang mulai terlihat secara samar-samar. Siapa yang lebih cepat membenahi diri dan mengambil langkah yang tepat, dia yang menang!”

“Betul, Kakak Oh. Sekarang apa rencana Kakak?”

“Entah di mana kawan-kawan kita sekarang, mudah-mudahan Pang Hui-beng berhasil mengumpulkan mereka, toh kota Lam-koan ini tidak terlalu besar. Aku merencanakan untuk mengadakan pertemuan besok malam, menentukan langkah-langkah baru. Mungkin kita perlu berganti penyamaran, juga berganti isyarat untuk saling berhubungan, sebab dengan menyeberangnya Lo Lam-hong ke pihak lawan.”

“.... di luar kesadarannya sendiri....” Kui Tek-lam menyelipkan penjelasan.

Oh Tong-peng tertawa, “Ya, jangan kuatir, aku tentu takkan melupakan itu. Dengan menyeberangnya Lo Lam-hong ke pihak lawan, tempat persembunyian kita saat ini tentu tidak menjadi rahasia lagi buat pihak musuh. Begitu pula dengan isyarat-isyarat rahasia kita tentu bukan rahasia lagi.”

“Di mana tempatnya pertemuan kita besok malam?”

“Tempat yang paling aman adalah tempat yang paling tidak terduga buat mereka, yaitu kuburan Portugis tempat kita biasa bertemu. Tempat itu baru saja diketahui oleh musuh malam ini, dan mereka tentu takkan berpikir bahwa di tempat yang sudah mereka ketahui itulah yang kita pakai lagi untuk pertemuan kita. Bahkan hanya semalam setelah mereka mengobrak-abrik tempat itu.”

Kui Tek-lam tertawa, mengagumi cara berpikir komandannya itu, “Baiklah, Kakak Oh. Besok tengah malam aku akan ke sana.”

“Kita tidak tahu di mana sekarang Pang Hui- beng, padahal tugasnya sebagai penghubung amat penting dalam gerakan kita. Karena itu, kalau kautemui teman-teman kita, beritahukan hal itu.”

“Baik, Kakak Oh.”

“Sekarang aku tanya kamu, kemana kau setelah ini?”

Kui Tek-lam berpikir sejenak baru menjawab. “Mencoba menyelinap kembali ke rumah Nyo In-hwe, ingin tahu apakah penyamaranku di tempat itu sudah terbongkar atau belum.”

“Aku anjurkan agar berhati-hati, kemungkinan besar orang sudah mulai curiga kepadamu. Apakah perlu aku temani?”

“Terima kasih, Kakak Oh. Kalau aku pulangnya ditemani orang, pasti semakin mencurigakan, biar aku sendirian saja.”

Oh Tong-peng bangkit dari duduknya, mengebas-ngebaskan debu di pantatnya dan berkata, “Baiklah. Ingat, besok tengah malam di kuburan itu.”

“Selamat malam, Kakak Oh.”

Oh Tong-peng yang menghilang ke dalam pekatnya malam dengan sebuah lompatan yang tangkas dan ringan. Kui Tek-lam kembali ke rumah Nyo In-hwe. Saat itu malam sudah amat larut, tetapi rumah yang sedang berkabung itu masih terang benderang. Rupanya masih ada orang-orang yang bergadang semalam suntuk menunggui mayat.

Petugas-petugas di dapur masih saja bergiliran meladeni makan-minum para tamu itu, meskipun harus bergantian untuk beristirahat. Mereka harus menghemat tenaga, sebab perkabungan dengan cara tradisional bisa makan waktu belasan hari sebelum jenazah dimakamkan. Sangat melelahkan.

Sebagaimana cara perginya, begitu pula cara kembalinya, Kui Tek-lam melompati dinding halaman belakang, langsung menuju pohon tempat ia menyembunyikan pakaian berkabungnya yang terbuat dari kain belacu. Pakaian itu masih di tempatnya, lalu ia kenakan, dirangkapkan pada pakaian pejalan malamnya yang ringkas. Begitu pula topi kain belacu yang berbentuk kerucut.

Dengan pakaian Itu, berjalanlah ia menuju ke kamarnya. Dalam perjalanan ke kamarnya, ia berpapasan dengan beberapa bujang keluarga Nyo. Tapi bujang-bujang itu dalam keadaan terlalu lelah dan mengantuk untuk memperhatikan Kui Tek-lam, kecuali tegur-sapa sekedarnya.

Kui Tek-lam langsung memasuki kamarnya. Namun begitu kakinya melangkahi ambang pintu, ia tertegun. Kamar itu tidak berubah, biarpun tidak ada lilin dinyalakan namun ketajaman mata Kui Tek-lam mampu melihat kalau benda-benda di kamar itu tetap di tempatnya masing-masing, tidak ada yang berubah sedikit pun.

Tetapi Kui Tek-lam merasakan nalurinya menyentuh sesuatu yang aneh, rasanya ada yang pernah memasuki kamarnya. Perasaan itu kuat sekali, meskipun tanpa bukti. la tenangkan dirinya dan mewaspadakannya, lalu melangkah perlahan ke dalam kamar itu.

Baru saja ia meraih batu-api untuk menyalakan lilin, dari balik kelambu tempat tidurnya terdengar suara berat seorang laki-laki, dalam bahasa setempat namun dengan lidah yang masih agak kaku sehingga kentara kalau pembicaranya orang asing,

“Selamat malam, Tuan Kui. Kembali dari jalan-jalan malam...?”

Selanjutnya,