X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Si Walet Hitam Jilid 02

Cerita Silat Mandarin Serial Si Teratai Merah Seri Ke 2, Si Walet Hitam Jilid 02 Karya Kho Ping Hoo

Pada keesokan harinya, Lo Sin lalu berangkat menuju ke Gunung Pek-ma-san, yakni tempat di mana Kong Sin Ek tinggal selama berpuluh tahun semenjak ia mengundurkan diri dari kalangan kang-ouw. A-kwi juga berpamit hendak kembali ke kampungnya, dan Lian Hwa setelah mengadakan perundingan dengan suaminya, berkata kepada pedagang keliling itu,

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo

“Saudara Gu Ma Kwi, karena kau telah kenal baik dan tahu akan keadaan Nyo twako maka kuanggap sebagai orang sekeluarga sendiri. Sekarang aku mohon kepadamu untuk menjadi orang perantaraan dalam menyampaikan lamaran kami. Harap kau sudi menyampaikan hormat kami kepada keluarga Nyo serta surat kami ini, dan dengan lisan hendaknya kau suka menyampaikan lamaran kami, yakni untuk menjodohkan putera kami yang telah kau lihat kemarin dengan puteri Nyo twako!”

Wajah A-kwi berseri. “Ah, kehormatan besar sekali yang jiwi jatuhkan kepadaku yang rendah! Tentu saja aku merasa girang sekali karena memang puteramu itu sesuai sekali apabila menjadi pasangan Nyo-siocia yang cantik jelita!”

Suami-isteri itu merasa girang sekali dan mereka selain memberi sepucuk surat yang panjang lebar kepada Nyo Tiang Pek, juga memberi hadiah-hadiah berharga kepada pedagang keliling itu.

Dengan naik seekor kuda yang bagus pemberian Cin Han. Gu Ma Kwi atau A-kwi kembali ke Pek-se-chung dengan cepat untuk menyampaikan warta girang ini. Oleh karena ia menunggang kuda yang dapat berlari cepat dan tidak menunda perjalanannya, maka dalam waktu sepuluh hari ia telah tiba di kaki Gunung Bong-ke-san.

Akan tetapi, tiba-tiba ketika ia tiba di kaki gunung, ia ditawan oleh serombongan tentara kerajaan. Memang pada waktu itu, siapa saja yang dicurigai, lalu ditawan untuk diperiksa. Hal ini terjadi oleh karena banyak mata-mata bangsa Turki yang berkeliaran di mana-mana.

Kebetulan sekali bahwa yang berada di markas tentara adalah perwira muda Lui Tik Kong sendiri. Pemuda ini semenjak mendapat penyerangan gelap dari to-kouw yang melukainya dengan pukulan Ang-see-ciang, menjadi sangat curiga dan melakukan penangkapan-penangkapan serta pemeriksaan keras.

Ketika mendengar bahwa ada seorang laki-laki yang tertawan dan dicurigai, lalu mengadakan pemeriksaan sendiri. Ia memerintahkan kepada anak buahnya agar supaya tawanan itu dibawa menghadap. Dengan tubuh menggigil karena ketakutan A-kwi menghadap Lui-ciangkun.

“Kau orang mana, datang dari mana, hendak ke mana?” tanya Lui Tik Kong sambil memandang tajam.

“Hamba bernama Gu Ma Kwi, tinggal di dusun Pek-se-chung di lereng bukit itu dan hamba baru datang dari Tit-lee,” jawabnya dan dengan suara gemetar menceritakannya bahwa dia menjadi utusan Nyo Tiang Pek untuk mengunjungi keluarga Lo di kota itu.

Mendengar bahwa orang ini adalah suruhan Nyo Tiang Pek, legalah hati Lui Tik Kong, akan tetapi ia tidak menyatakan perasaannya itu. Kini timbul perasaan ingin tahu di dalam hatinya dan secara iseng-iseng memeriksa bungkusan yang terbawa di atas kuda A-kwi. Diantara sekalian barang hadiah yang diberikan oleh Lian Hwa dan Cin Han kepada pesuruh itu, terdapat sesampul surat.

Tik Kong merasa tertarik dan setelah memerintahkan supaya A-kwi dibawa mundur, ia membuka dan membaca surat itu. Alangkah terkejutnya ketika membaca bahwa keluarga Lo yang agaknya menjadi sahabat baik Nyo Tiang Pek, telah mengajukan lamaran untuk Nyo Lee Ing, gadis yang menjadi kenangannya itu.

Lui Tik Kong menggigit-gigit bibir dengan perasaan tidak karuan. Diam-diam ia jatuh hati terhadap Nyo Lee Ing, maka tentu saja ia merasa kuatir dan menyesal sekali melihat gadis itu kini dilamar orang.

Sebenarnya perwira muda she Lui ini bukanlah seorang manusia baik-baik, akan tetapi ia amat cerdik dan pandai sekali membawa diri hingga siapa saja yang belum mengenal dasar wataknya yang buruk, tentu akan tertipu oleh gerak-geriknya yang sopan santun dan tutur katanya yang halus oleh karena selain memiliki kepandaian silat yang tinggi, Tik Kong juga telah mempelajari ilmu surat dengan baiknya.

Kini menghadapi persoalan yang membahayakan rencananya untuk mempengaruhi Nyo Tiang Pek dan mendapatkan Nyo Lee Ing, ia putar-putar otak mencari jalan. Akhirnya ia mendapatkan sebuah jalan yang cerdik sekali akan tetapi teramat keji. Ia diam-diam memberi tahu kepada anak buahnya bahwa tawanan itu benar-benar adalah seorang mata-mata Turki dan memerintahkan agar orang itu dibunuh.

Kemudian ia menggunakan kepandaiannya menulis dan segera menyalin surat dari Cin Han untuk Tiang Pek itu. Ia tiru gaya tulisan Cin Han dan tidak merobah model surat, hanya di bagian pelamaran ia tiadakan dan sebaliknya ia tambahkan bahwa putera Lo Cin Han yang bernama Lo Sin telah mempunyai seorang isteri.

Pada keesokan harinya, ia sendiri membawa bungkusan pakaian dan barang-barang A-kwi dan memasukkan kembali surat Cin Han ke dalam bungkusan itu, lalu pergi ke kampung Pek-se-chung di lereng bukit. Bukan main kagetnya Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie ketika mendengar penuturan perwira muda itu.

“Kemarin sore, anak buahku menolong seorang bernama Gu Ma Kwi yang dikeroyok oleh perampok. Anak-anak buahku dapat menolong barang-barang yang dibawa oleh orang itu, akan tetapi tidak dapat menolong jiwanya karena ia telah menderita luka parah ketika pertolongan tiba. Dia telah tewas dan kami telah mengubur jenazahnya. Oleh karena sebelum mati ia meninggalkan pesan bahwa isi bungkusan ini harus diantar ke sini, maka aku sendiri lalu membawa bungkusan ini untuk dihaturkan kepada lopeh,” kata Tik Kong dengan wajah memperlihatkan kedukaan.

“Memang dia adalah utusan kami untuk mengunjungi seorang sahabat baikku di Tit-lee,” kata Tiang Pek dan ia bersama isterinya segera membuka bungkusan itu. Ketika melihat sesampul surat dari Lo Cin Han, mereka merasa girang sekali.

“Isteriku, kita harus memberitahukan hal ini kepada keluarga A-kwi, dan oleh karena kecelakaan yang menimpa diri pedagang yang bernasib buruk itu terjadi pada waktu ia menjadi utusan kita, maka sudah seharusnya kita memberikan semua barang berharga yang agaknya pemberian keluarga Lo kepada keluarga A-kwi, juga kita sendiri harus menjamin kehidupan keluarganya.”

Giok Lie setuju dengan pikiran suaminya ini. Kemudian mereka berdua lalu membaca surat dari Cin Han dengan girang sekali. Melihat surat yang panjang lebar ini, Giok Lie hampir tidak dapat menahan keharuan hatinya. Ia berteriak memanggil puterinya dan ketika Lee Ing muncul dari belakang hingga Tik Kong buru-buru menjura memberi hormat dengan dada berdebar girang, Giok Lie berkata.

“Ing-ji, lihat ini, pamanmu Lo Cin Han mengirim surat!”

Mereka bertiga dengan asyiknya lalu bersama membaca surat dari Cin Han yang sebetulnya ditulis oleh perwira muda yang duduk di depan mereka dan pura-pura tidak tahu apa-apa itu, bahwa keadaan kawan baik mereka itu dalam selamat, bahkan mereka kini telah mengawinkan putera tunggal mereka.

“Sayang kita tidak dapat datang menghadiri perkawinan Lo Sin,” demikian kata Tiang Pek dan diam-diam Giok Lie merasa agak kecewa di dalam hatinya, alangkah baiknya kalau Lo Sin putera Cin Han itu dijodohkan dengan Lee Ing. Ah, mengapa mereka saling berpisah demikian lama dan jauhnya hingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk mengusahakan perjodohan puteri mereka?

Lui Tik Kong memang sering berkunjung ke situ dan bercakap-cakap dengan Nyo Tiang Pek dengan gembira. Kini Nyo Tiang Pek tiada hentinya bercakap-cakap tentang Lo Cin Han dan Lian Hwa dan di depan Lui Tik Kong ia memuji-muji kedua kawannya itu, bahkan menceritakan riwayat mereka.

Diam-diam hati Tik Kong bercekat cemas karena tidak disangkanya sama sekali bahwa kemarin malam ia telah merampas dan mengubah surat yang ditulis oleh Hwee-thian Kim-hong dan berani menewaskan utusan Ang Lian Lihiap. Kalau ia tahu, belum tentu ia berani bertindak sejauh itu, akan tetapi sekarang ia tidak dapat mundur lagi.

Ia harus bertindak terus, bahwa ia harus melanjutkan rencananya dengan cepat sebelum Nyo Tiang Pek sempat bertemu dengan suami isteri pendekar itu. Oleh karena pikiran-pikiran ini sangat menekan hatinya, Tik Kong tidak dapat bercakap-cakap dan tak lama kemudian ia minta diri.

Dua hari kemudian, Tik Kong menyuruh seorang perajurit tua yang menjadi orang kepercayaannya untuk menjadi perantara dan meminang Lee Ing. Pinangan ini walaupun amat menyenangkan hati Tiang Pek, akan tetapi pendekar ini tidak mau menerima begitu saja sebelum mendapat persetujuan dari isterinya. Maka ia lalu memanggil isterinya untuk merundingkan soal lamaran ini.

“Lebih baik kita minta kepada Lui-ciangkun supaya bersabar dan jawaban atas pinangannya kita putuskan tiga hari kemudian.”

Tiang Pek setuju akan maksud dan kehendak isterinya itu maka ia lalu minta kepada utusan itu agar disampaikan kepada Lui-ciangkun bahwa jawabannya akan diberikan tiga hari kemudian dan minta ia supaya utusan itu suka datang lagi waktu itu. Setelah perajurit tua itu pergi, Nyo Tiang Pek lalu merundingkan hal peminangan itu dengan isterinya.

“Menurut pandangan dan pikiranku, Lui Tik Kong cukup gagah, tampan dan berbudi. Aku setuju sekali memberikan anak kita kepada pemuda gagah itu.”

Akan tetapi Giok Lie berpendapat lain. “Hal ini terserah saja kepadamu, akan tetapi, aku sendiri tidak begitu suka kepada sikap lemah lembut dari seorang pemuda, oleh karena sikap ini meragukan dan suka menyembunyikan watak aseli dari pemuda itu. Aku lebih suka kalau Ing-ji mendapat jodoh seorang pemuda yang berwatak polos dan jujur seperti kau, tanpa banyak lagak sopan yang dibuat-buat!”

“Ha-ha-ha! Mana di dunia ini ada pemuda lain yang sehebat suamimu ini?” Tiang Pek berkelakar. “Isteriku yang manis, anak kita itu sudah cukup dewasa, usianya sudah tujuhbelas tahun lebih. Lihatlah kepada Cin Han dan Lian Hwa, diam-diam mereka itu sudah mempunyai anak mantu dan mungkin sebentar lagi mereka akan menimang-nimang cucu mereka! Bukankah mereka itu berbahagia sekali? Aku merasa iri hati kepada mereka maka janganlah kita ketinggalan! Kita juga mempunyai anak dan kita juga sudah ingin mempunyai cucu!”

Giok Lie menghela napas. “Sayang sekali tidak dari dulu kita berhubungan dengan mereka. Kalau saja cucu yang akan mereka timang-timang itupun menjadi cucu kita pula, alangkah akan bahagianya!”

Mendengar ucapan ini, untuk sejenak Tiang Pek termenung dan hatinya terpukul. Memang, kalau seperti kata-kata isterinya itu, iapun akan merasa puas dan senang sekali. Ia tidak akan meragukan kegagahan dan kebaikan putera Cin Han. Akan tetapi, putera tunggal Cin Han dan Lian Hwa sudah beristeri, maka tidak perlu hal itu dipikir lebih jauh.

“Isteriku, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi, oleh karena menyimpang daripada kenyataan dan hanya akan menjadi mimpi buruk belaka! Kurasa kita tidak keliru memilih apabila kita memberikan anak kita kepada Lui Tik Kong. Ingatlah, ia telah dilukai oleh Hek Li Suthai yang memusuhi kita, dan hal ini saja sudah menjadikan alasan cukup bahwa pemuda itu segolongan dengan kita.”

“Nanti dulu, suamiku. Kau berbicara seakan-akan kau sendiri yang hendak kawin! Sudah lupakah kau kepada pikiran dan pendapat Lee Ing? Dia seoranglah yang harus memutuskan, dan tidak baik kalau kita memaksanya.”

Nyo Tiang Pek tertawa, “Ha, ha, biarpun hatinya setuju, tidak mungkin dia mau mengaku! Coba kau panggil dia kemari.”

Ketika itu Lee Ing sedang pergi ke rumah keluarga A-kwi yang berada dalam kedukaan besar berhubung dengan kecelakaan yang menimpa diri A-kwi. Dengan hati sangat terharu dan penuh iba, Lee Ing menghibur mereka, bahkan berjanji bahwa dia akan membasmi perampok-perampok yang telah menjatuhkan tangan kejam terhadap A-kwi.

Ketika mendengar dari seorang tetangga bahwa ibunya mencari, ia lalu segera pulang dan merasa heran melihat bahwa ayah dan ibunya telah menantinya di ruang dalam dan pada wajah mereka nampak kesungguhan seakan-akan sedang menghadapi urusan besar.

“Lee Ing,” kata Giok Lie, karena Nyo Tiang Pek menyerahkan urusan ini ke tangan isterinya untuk menghadapi puteri tunggal mereka. “Tahukah kau, berapa sekarang usiamu?”

Dara jelita itu memandang kepada ibunya dengan mata dilebarkan, lalu ia tertawa manis. “Eh, eh, tiada hujan tiada angin, datang-datang ibu bertanya tentang usiaku. Apakah ibu sendiri telah lupa?”

Giok Lie tertawa pula melihat kejenakaan anaknya, lalu dengan gerakan halus dan penuh sayang ia pegang tangan anaknya.

“Dengarlah baik-baik, anakku, dan jangan bersikap seperti seorang anak kecil. Sekarang kau telah berusia tujuhbelas tahun dan kau tahu, apa artinya itu bagi seorang gadis remaja. Orang hidup tidak akan terlepas daripada kewajiban yang mengikat, yakni tali perjodohan. Belum lama tadi telah datang orang yang maksudnya hendak melamarmu.”

Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi pucat dan ia melangkah mundur dua tindak sambil membetot tangannya yang dipegang oleh ibunya. “Apa…? Tidak… aku tidak mau,” katanya.

Melihat sikap anaknya yang seakan-akan seekor burung murai menghadapi ular yang hendak menyerangnya, Tiang Pek tertawa bergelak. “Ha-ha! Ing-ji, mengapa begitu penakut? Kawin bukanlah hal yang harus ditakuti. Hal itu merupakan saat yang paling bahagia bagi seorang manusia hidup.”

Lee Ing hanya geleng-geleng kepala sambil tundukkan mukanya yang menjadi merah.

“Ing-ji, terus terang saja kuberitahu padamu bahwa kau dipinang oleh Lui-ciangkun untuk menjadi isterinya. Bagaimana pikiranmu, nak?”

Lee Ing tundukkan kepalanya makin dalam tanpa berani menjawab karena malu.

“Ing-ji, menurut pendapat ayahmu, pemuda itu cukup baik dan cukup gagah. Kau takkan kecewa menjadi isterinya,” kata Tiang Pek dengan suara membujuk.

Tiba-tiba Lee Ing mengangkat mukanya dan memandang wajah ayahnya dengan berani. “Tidak, ayah. Aku tidak mau. Aku tidak mau menjadi isterinya, tidak mau menjadi isteri orang, tidak mau berpisah dari kalian berdua.”

Ucapan yang keras ini merupakan letupan yang mengejutkan Tiang Pek dan mengherankan Giok Lie.

“Apa maksudmu? Mengapa kau menolaknya? Kurang apakah dia itu?” tanya Tiang Pek yang juga memiliki watak keras.

“Aku… aku hanya mau menjadi isteri seorang seperti… kau, ayah!”

Tiang Pek dan Giok Lie saling pandang dan tiba-tiba keduanya tertawa bergelak¬gelak dengan hati geli. Tiang Pek gunakan jari telunjuknya menuding Giok Lie dan tangan kirinya dikepalkan lalu tinju itu diamang-amangkan kepada isterinya, sedangkan suara ketawanya belum juga lenyap.

“Ah, kau… tentu kau yang mengajari dia!”

Tapi Giok Lie geleng-geleng kepala dan berkata kepada Lee Ing. “Ing-ji, jangan kau bicara tidak karuan dalam saat seperti ini. Betapapun juga, akhirnya kau terpaksa harus kawin. Kami tidak akan memaksamu menerima pinangan Lui Tik Kong, akan tetapi kalau kau menolak, kau harus menggunakan alasan-alasanmu, jangan asal menolak dengan keras kepala saja!”

“Dia… dia harus lebih dulu kalahkan aku!” akhirnya Lee ing menjawab.

Tiang Pek merasa penasaran dan tidak senang. Ia maklum bahwa biarpun kepandaian Lui Tik Kong cukup tinggi, akan tetapi agaknya tidak mungkin baginya akan dapat mengalahkan anaknya yang ia tahu sangat lihai, apalagi setelah Lee Ing kini melatih ilmu pukulan Gin-san-ciang. Maka ia anggap ini hanya sebagai alasan anaknya untuk menghina dan memandang rendah Lui Tik Kong belaka.

“Lee Ing!” katanya dengan suara keras. “Jangan kau bersifat sombong dan menganggap diri sendiri paling pandai. Apa kau kira yang terpenting di dunia ini hanya kepandaian silat tinggi? Apa artinya kepandaian tinggi kalau hatinya tidak bersih?

“Kalau kau menolak karena kau dasarkan atas ciri-ciri dan cacad yang ada pada diri Lui-ciangkun, aku masih dapat mempertimbangkannya, akan tetapi kalau hanya berdasar bahwa kau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari padanya, hal itu menunjukkan betapa sombongnya kau ini! Aku tidak suka mempunyai anak yang bersikap sombong!”

Lee Ing memandang kepada ayahnya dengan wajah mengandung penasaran dan kedua matanya terbelalak, kemudian setelah ayahnya berhenti berkata-kata, ia membalikkan tubuh dan tanpa berkata sesuatu ia berlari masuk ke dalam kamarnya. Terdengar isak tertahan ketika ia berlari tadi.

“Sabarlah, sabarlah!” kata Giok Lie. “Mengapa ayah dan anak sama-sama keras kepala dan bersitegang seperti kerbau terluka? Kita sedang merundingkan hari kemudian anak kita dan mencarikan jalan baik untuk hidupnya mengapa harus ribut-ribut seperti orang-orang memperebutkan warisan?”

Nyo Tiang Pek menghela napas. “Hm, melihat lagak anak kita itu, aku jadi teringat kepada Ang Lian Lihiap. Keras hati dan tidak mau kalah oleh siapapun juga!”

Giok Lie tersenyum. “Tidak aneh, karena memang jarang sekali aku dapat melupakan bayangan Lian Hwa cici dari ingatanku, dan… aku senang kalau Lee Ing mempunyai persamaan dengan dia. Sudahlah, hal itu kita undurkan dulu saja.”

“Bagaimana nanti kalau suruhan Lui-ciangkun datang minta keputusan?”

“Bilang saja terus terang bahwa anak kita belum sanggup mengikat diri dengan perjodohan dan kalau suka bersabar, biarlah dia menanti satu-dua tahun lagi.”

“Hm, agaknya kalau perlu dalam waktu setahun dua tahun itu, Lui-ciangkun harus menerima pelajaran silat yang lebih tinggi untuk dapat mengalahkan Lee Ing,” kata Tiang Pek.

Giok Lie tidak menjawab, hanya lalu pergi ke kamar anaknya untuk menghibur hati Lee Ing. Lee Ing semenjak kecilnya sangat dimanja, maka sedikit perlakuan keras dari ayahnya itu sangat menyakiti hatinya. Ketika ibunya memasuki kamarnya, gadis itu rebah telungkup di atas pembaringan sambil menahan tangisnya hingga tubuhnya bergoyang-goyang.

“Ing-ji, sudahlah jangan kau marah. Ayahmu bermaksud baik dan sama sekali tak akan memaksamu kalau kau tidak setuju.”

Mendengar kata-kata ibunya, Lee Ing lalu bangun duduk dan berkata sambil mengeringkan air matanya, “Ibu, aku akan mengetok kepala perwira kurang ajar itu!”

Ibunya memandangnya heran. “Eh, eh, apa salahnya Lui-ciangkun maka kau hendak mengetok kepalanya?”

“Mengapa ia berani melamarku?”

“Ing-ji, jangan kau bersikap begitu. Apa salahnya orang meminang? Diterima atau tidak, itu tergantung yang dipinang. Peminang bukan orang jahat yang memaksa, jangan kau persalahkan kepadanya.”

“Bagaimanapun juga, dialah yang menjadi biang keladi hingga ayah marah kepadaku,” kata Lee Ing sambil merengut.

Ibunya tersenyum dan menganggap bahwa anaknya ini terlalu manja dan bahwa kemarahan terhadap Lui Tik Kong ini hanya gertak sambal belaka. Maka ia lalu menghibur hati Lee Ing hingga tak lama kemudian timbul kembali sinar gembira pada wajah dara itu.

Giok Lie sama sekali tidak pernah menyangka bahwa bentakan-bentakan Tiang Pek siang tadi telah menggores dan melukai hati Lee Ing, karena pada dasarnya gadis ini memiliki perasaan halus yang mudah tersinggung. Rasa marahnya kepada Lui Tik Kong juga tidak mudah dihilangkan dengan hiburan demikian saja, maka biarpun di depan ibunya ia memperlihatkan muka gembira, namun di dalam hatinya ia telah mengambil keputusan untuk menyerbu dan memberi hajaran kepada perwira muda itu.

Malam hari itu, bulan memancarkan sinarnya dengan penuh hingga keadaan menjadi terang dan indah. Diantara cahaya bulan sesosok bayangan yang gesit sekali gerakannya berkelebat di bawah pohon-pohon dan berlari cepat sekali.

Bayangan ini adalah seorang gadis bertubuh kecil langsing dan berpakaian ringkas. Pedang tergantung di pinggang dan rambutnya yang hitam tebal itu diikat dengan serangkai mutiara putih di atas kepala dan ujungnya berjuntai ke belakang dan bergerak-gerak di punggungnya dengan lucu. Gadis ini adalah Lee Ing yang diam-diam meninggalkan rumahnya dan menuju ke benteng yang menjadi markas tentara kerajaan di bawah pimpinan Lui Tik Kong.

Benteng itu dilingkungi tembok yang tebal dan tinggi, akan tetapi dengan gerakan yang ringan cepat bagaikan seekor burung murai terbang. Lee Ing menggenjot tubuhnya ke atas tembok sambil menghunus pedangnya untuk bersiap sedia. Dara muda ini biarpun telah mewarisi kepandaian yang tinggi, ia belum mempunyai pengalaman apa-apa, hingga ia berlaku sembrono dan tidak hati-hati.

Ketika ia melompat ke atas tembok, tiba-tiba ia melihat bayangan beberapa orang di dalam markas. Ia lalu berjongkok di atas tembok itu sambil memegang pedangnya erat-erat di tangan kanan. Matanya tajam memandang ke arah bayangan orang-orang yang berdiri dan bercakap-cakap di pintu benteng itu.

Mereka ini adalah anggauta-anggauta tentara yang bermalam dan karena tiada sesuatu yang dikerjakan mereka lalu mengobrol di pintu benteng. Biarpun belum berpengalaman, namun Lee Ing mempunyai kecerdikan dan ketabahan. Pula ia berhati keras hingga tidak suka akan segala hal yang dilakukan dengan sembunyi, maka ia lalu berdiri lagi di atas tembok sambil berteriak nyaring.

“Hai, para penjaga yang doyan mengobrol!”

Lima orang penjaga itu terkejut sekali dan mereka menengok. Untuk sesaat mereka mencari-cari dengan mata mereka karena tidak menyangka bahwa orang yang berseru itu berdiri di atas tembok yang tinggi itu.

Kemudian seorang di antara mereka melihat Lee Ing yang berdiri di atas tembok dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan melintangkan pedang di depan dadanya. Ia lalu berseru sambil menuding dan semua kawannya kini melihat gadis itu. Mereka lalu beramai mencabut senjata dan lari menghampiri ke arah tembok.

“Hai, iblis wanita dari mana dan apa maksudmu maka berani datang ke benteng kami?” tegur mereka.

“Jangan banyak cakap yang tak berguna!” Lee Ing menjawab. “Lekas beritahukan kepada perwira gadungan Lui Tik Kong untuk segera keluar dan naik ke sini, kalau benar-benar ia seorang laki-laki gagah!”

“Eh, bocah galak! Kau turunlah dan kami cukup jantan untuk melayanimu!” berkata seorang di antara kelima penjaga itu yang telah melihat kecantikan Lee Ing di bawah sinar bulan purnama. Kata-katanya ini diucapkan sambil tertawa-tawa, maka bukan main marahnya Lee Ing.

“Bangsat rendah, kalian mencari penyakit sendiri!” Sambil berkata, tubuhnya yang langsing itu menyambar turun dengan cepatnya bagaikan menyambarnya burung rajawali ke arah orang itu.

Bukan main kagetnya lima orang penjaga itu. Mereka lalu angkat senjata untuk mengeroyok Lee Ing, akan tetapi tubuh Lee Ing yang menyambar turun dengan gerakan Naga Hitam Terjun ke Laut ini bagaikan kilat menyambar mereka dan tiba-tiba saja mereka berlima merasa betapa pedang gadis itu menyambar tanpa dapat dikelit atau ditangkis lagi.

Untungnya bahwa Lee Ing tidak berhati kejam dan sengaja pegang pedangnya dengan dibalikkan hingga bukan tajam pedang yang membabat, akan tetapi muka pedang yang datar dan licin digunakan untuk menampar. Namun, karena pedang itu terbuat daripada baja keras dan tenaga Lee Ing sangat besar, lima orang penjaga yang kena tampar kepala, tangan, dan pipi mereka itu, berkaok-kaok kesakitan dan lari tunggang-langgang bagaikan orang takut diserang setan.

Lee Ing tertawa geli dan kembali mencelat naik ke atas tembok dan berdiri menanti seperti tadi. Lima orang penjaga itu cepat berlari ke dalam benteng dan sebentar saja puluhan orang perajurit berlari keluar, mengiringkan seorang perwira muda yang memegang pedang.

Perwira muda ini bukan lain adalah Lui Tik Kong sendiri yang mengira bahwa to-kouw yang mengganggunya dulu itu telah datang menyerbu. Maka alangkah heran dan terkejutnya ketika melihat bahwa yang berdiri di tembok dengan sikap tenang dan gagah itu bukan lain ialah Lee Ing, nona cantik jelita yang menjadi gadis impiannya dan yang telah dipinangnya.

Ia segera menjura dari bawah tembok. “Ah, tidak tahunya Nyo-siocia yang malam-malam datang berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali. Silakan turun, nona, dan marilah kita bicara dengan baik di ruangan tamu kalau nona mempunyai urusan dengan kami.”

“Cis! Siapa mempunyai urusan dengan kau untuk dibicarakan pada malam hari! Kau telah berlaku lancang sekali, kaukira kau ini orang macam apakah? Kalau memang kau berkepandaian, kau naiklah ke tembok ini!”

Lui Tik Kong masih belum mengerti mengapa nona manis itu datang-datang telah begitu marah, akan tetapi karena ia dihina di depan anak buahnya ia merasa malu sekali. “Jadi kau hendak bicara di atas tembok ini saja, Nyo-siocia? Baiklah! Agaknya tembok ini belum begitu tinggi untukku!”

Sambil berkata demikian, Lui Tik Kong lalu menggerakkan tubuhnya dan melompat ke atas dengan gerakan Burung Hong Naik Sorga. Gerakannya cukup indah dan ringan hingga anak buahnya bersorak memuji. Akan tetapi Lee Ing tersenyum mengejek.

“Baru memiliki kepandaian sebegitu saja, kau telah anggap cukup untuk berani menghinaku?”

Mereka kini berdiri berhadapan di atas tembok yang lebarnya hanya satu setengah kaki. Kembali Lui Tik Kong menjura dan memainkan senyum manis di bibirnya. “Maafkan aku, siocia. Sungguh mati aku tidak mengerti maksudmu. Kekurangajaran apakah yang telah kulakukan maka siocia marah-marah kepadaku?”

“Apa yang telah kau lakukan siang tadi? Kau telah berani sekali mengutus orang untuk… untuk melamarku!”

Lui Tik Kong tercengang. “Eh… urusan ini… eh, mengapa nona menjadi marah-marah? Apakah utusanku mengeluarkan kata-kata kurang ajar dan menyinggung hatimu? Nona, aku meminangmu karena… aku cinta padamu.”

“Bangsat kurang ajar!” Wajah Lee Ing memerah, karena biarpun ucapan Lui Tik Kong itu takkan terdengar oleh para tentara yang berdiri agak jauh di bawah tembok, namun selama hidupnya belum pernah ia mendengar seorang pemuda menyatakan cinta hatinya terhadap dia, maka rasa malu dan jengah membuatnya menjadi marah sekali.

“Apa salahku maka kau marah-marah, nona?” tanya Tik Kong.

“Cabutlah pedangmu dan coba lawanlah pedangku kalau kau memang orang gagah dan jangan banyak cakap!”

Lui Tik Kong merasa penasaran sekali. Ia sendiri memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, maka tentu saja ia tidak akan takut kepada Lee Ing yang belum pernah dilihat kepandaiannya. Pula, ia dapat meraba maksud gadis ini. Agaknya karena menerima pinangannya, gadis ini sengaja hendak mencoba kepandaiannya. Ia tahu bahwa banyak gadis kang-ouw yang selalu ingin mengukur kepandaian calon suaminya. Maka sambil tersenyum ia lalu mencabut pedangnya.

“Aku hanya taat pada permintaanmu dan bersedia mengiringi kehendakmu, nona,” katanya.

“Hah! siapa mau mengobrol denganmu? Lihat senjata!” Lee Ing lalu mengirim serangan dan ketika Lui Tik Kong menangkis, pemuda ini menjadi pucat karena pedangnya terpental dan hampir saja terlepas dari pegangan!

Kini maklumlah ia bahwa tenaga lweekang dari dara muda ini hebat sekali dan gerakan pedangnya pun demikian cepatnya. Diam-diam ia menjadi jerih, maka segera melepaskan ikat pinggangnya dari kain tebal dan memegang ikat pinggang ini di tangan kiri.

Inilah keistimewaan Lui Tik Kong, ia dapat memainkan pedang di tangan kanan dan ikat pinggang dari kain di tangan kiri. Ikat pinggang ini, walaupun hanya terbuat daripada kain, akan tetapi berbahaya sekali. Kepandaian ini ia dapatkan dari Kong Sin Ek si Dewa arak yang amat terkenal namanya oleh karena senjatanya berupa baju luar yang terbuat dari kain kasar pula!

Setelah mengeluarkan ikat pinggangnya, barulah Lui Tik Kong dapat mengimbangi serangan Lee Ing. Akan tetapi bertempur di atas tembok itu jauh bedanya dengan bertempur di atas tanah, oleh karena mereka tidak dapat bergerak dengan leluasa, sedangkan dalam hal ginkang, pemuda itu masih jauh di bawah Lee Ing tingkatnya! Maka Tik Kong lalu melompat turun sambil berseru.

“Nyo-siocia, di atas tembok kurang leluasa, silakan turun dan kita bermain-main di atas tanah.”

“Kau kira aku takut?” kata Lee Ing yang menyambar turun pula dan sebelum kakinya menginjak tanah, pedangnya telah diputar dan menyerang ke arah leher Tik Kong dengan gerak tipu Han-ya-pok-cui atau Burung Gagak Menyambar Air.

Tik Kong cepat mengebut dengan kain di tangan kirinya dan membalas menyerang dengan hebat. Pemuda ini ketika melihat betapa serangan-serangan Lee Ing bukan dilakukan secara main-main, akan tetapi dengan sengit dan bersungguh-sungguh, menjadi terkejut dan penasaran. Iapun menjadi sengit dan menyerang sama hebatnya!

Di dalam hatinya, Lee Ing memuji kepandaian perwira muda ini yang memang cukup tinggi, akan tetapi entah mengapa, ia tidak suka kepada Tik Kong yang bersikap sopan-santun dan lemah lembut itu. Maka sekarang ketika melihat betapa pemuda itu belum juga dapat dikalahkannya, ia merasa malu dan penasaran maka ia lalu menggerakkan pedangnya lebih cepat pula dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Pada suatu saat, ketika Lee Ing menyerang dengan sebuah tusukan ke arah dada, Tik Kong mengelak ke samping dan menggerakkan kain di tangan kirinya. Kain ini tiba-tiba menjadi lemas dan membelit pedang gadis itu dengan erat. Lee Ing terkejut sekali dan sebelum Tik Kong sempat menusuk dengan pedang, baru saja pemuda itu mengangkat tangan kanan untuk mengirim serangan balasan sambil menahan pedang lawan dengan kainnya.

Tiba-tiba Lee Ing menggerakkan tangan kiri memukul ke depan sambil berseru nyaring. Ternyata bahwa dalam marahnya, gadis ini telah menggunakan pukulan Gin-san-ciang dengan tangan kiri ke arah pundak kanan Tik Kong yang tak menyangka sama sekali.

Hal ini tidak mengherankan oleh karena jarak antara kepalan Lee Ing dan pundaknya masih jauh, maka tanpa mengelak pun kepalan gadis itu takkan sampai ke pundaknya. Tidak tahunya kelihaian pukulan Gin-san-ciang justeru kalau kepalan tangan yang memukul itu tidak mengenai sasaran, oleh karena pukulan ini dikerahkan dengan sinkang istimewa hingga angin pukulan itulah yang menyerang hebat.

Tik Kong tiba-tiba merasa pundaknya sakit sekali dan sambil berteriak keras ia melepaskan pedangnya sambil melompat mundur dan terhuyung-huyung dengan wajah pucat. Lee Ing baru ingat bahwa ia telah kesalahan tangan melukai pemuda itu.

Tadinya ia hanya ingin mengetok kepala pemuda itu untuk memberi malu dan memberi hajaran, tidak ia sangka bahwa Tik Kong benar-benar lihai hingga terpaksa ia menggunakan Gin-san-ciang untuk merobohkannya. Lee Ing maklum bahwa hal ini tentu akan terdengar oleh ayahnya dan ia pasti akan mendapat marah, maka ia lalu melompat ke atas tembok dan menghilang keluar, akan tetapi bahkan terus lari turun gunung.

Sambil berlari ia berpikir. Ke mana ia akan pergi? Mau pulang takut dimarahi ayahnya, tidak pulang, pergi kemanakah? Tiba-tiba ia teringat kepada Ang Lian Lihiap di Tit-lee. Lebih baik ia pergi ke sana untuk melihat keadaan mereka dan untuk mencoba kepandaian suami isteri pendekar yang amat tersohor dan sering dipuji-puji ayahnya itu.

Lee Ing tak perlu kuatir akan biaya perjalanan, oleh karena selain memakai perhiasan daripada emas di dadanya, juga gadis ini mempunyai pengikat rambut dari mutiara putih yang mahal harganya. Ia menjual perhiasannya dan dengan uang hasil penjualan itu ia dapat membiayai penginapan dan makan. Bahkan ia membeli beberapa stel pakaian untuk pengganti dan pakaian itu dibungkusnya merupakan buntalan besar yang diikat pada punggungnya.

Pada masa itu, biarpun pada umumnya kaum wanita jarang keluar pintu, akan tetapi banyak juga wanita-wanita gagah melakukan perjalanan seorang diri atau berkawan, yang umumnya disebut wanita-wanita kang-ouw atau banyak juga pendeta-pendeta wanita yang disebut to-kouw. Akan tetapi, jarang sekali ada wanita kang-ouw yang semuda dan secantik Lee Ing hingga tentu saja ia menimbulkan perhatian dan keheranan di tiap kampung dan kota yang dilewatinya.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah dusun yang hanya terpisah sejauh sehari perjalanan dari Tit-lee, dan oleh karena hari telah mulai gelap ketika ia memasuki dusun itu, ia lalu mencari tempat penginapan. Akan tetapi, di dusun yang kecil dan jarang kedatangan orang luar dusun itu, tentu saja ia tidak berhasil mendapatkan sebuah rumah penginapan.

Akhirnya Lee Ing melihat sebuah kuil pendeta wanita di luar kampung, maka ia segera mengetuk pintu kuil yang tertutup. Seorang nikouw (pendeta wanita yang berkepala gundul) muda menyambutnya dan menanyakan maksud kedatangannya. Lee Ing mengangkat tangan memberi hormat.

“Aku yang muda mohon diberi kesempatan bermalam untuk malam ini di sini, dan tentu saja aku bersedia mengganti kerugian.”

Nikouw itu tersenyum dan wajahnya yang berkepala gundul itu terbayang kemanisan seorang wanita cantik, hingga Lee Ing dapat menduga bahwa kalau kepala yang gundul itu ada rambutnya yang hitam dan panjang tentu nikouw itu menjadi seorang wanita yang cantik.

“Li-enghiong janganlah berlaku sungkan. Silakan masuk dan pinni kebetulan masih mempunyai sebuah kamar kosong di belakang.”

Lee Ing menghaturkan terima kasih dan setelah menjura kepada meja sembahyang di depan sebuah patung Dewi Kwan Im yang berada di ruang depan, ia lalu mengikuti nikouw itu ke belakang dan ternyata bahwa kamar itu cukup bersih, walaupun sangat sederhana.

Malam itu Lee Ing tidur nyenyak karena sehari penuh ia telah berjalan kaki tanpa berhenti. Sebelum ia jatuh pulas, lapat-lapat ia mendengar suara seorang laki-laki tertawa hingga ia menjadi heran sekali mengapa dalam sebuah kuil wanita terdapat suara laki-laki.

Akan tetapi ia terlampau letih untuk memperhatikan hal ini dan ia menduga bahwa suara itu tentu suara seorang nikouw wanita yang memiliki suara parau dan besar seperti laki-laki. Oleh karena ini, tanpa curiga ia tidur pulas.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia bangun dan hendak melanjutkan perjalanannya di kala fajar baru saja menyingsing karena bermaksud supaya bisa, sampai di Tit-lee sebelum gelap, ia melihat bayangan seorang laki-laki berkelebat keluar dari kamar besar tengah kuil.

Lee Ing menjadi marah sekali dan menyangka bahwa laki-laki itu tentu seorang pencuri. Dengan sekali lompatan saja ia telah melampaui laki-laki itu dan mengirim tendangan ke arah lutut orang itu.

Laki-laki ini ternyata seorang yang masih muda dan berwajah tampan juga. Karena tendangan Lee Ing yang cepat mengenai lututnya, ia berteriak kesakitan dan roboh tidak dapat bangun kembali, hanya memegang-megang kakinya sambil mengaduh-aduh dan memanggil.

“Aduh, tolong… toanio… tolonglah…!”

Tiba-tiba kamar besar dari mana laki-laki tadi keluar, terbuka pintunya dan seorang wanita yang berpakaian sebagai seorang to-kouw (pendeta wanita pemeluk Agama To) yang rambutnya riap-riapan ke belakang keluar dengan tindakan cepat. Wanita ini berusia tigapuluh tahun lebih akan tetapi wajahnya masih tampak cantik, sedangkan sepasang matanya galak dan genit.

Melihat betapa laki-laki kekasihnya itu dilukai orang, ia menjadi marah dan menuding kepada Lee Ing sambil memaki. “Perempuan rendah dari manakah berani menghina orang?”

Lee Ing yang tadinya sudah marah karena menyangka bahwa laki-laki itu seorang pencuri, kini menjadi makin marah sekali oleh karena mendapat kenyataan bahwa ternyata laki-laki itu bukan seorang pencuri, akan tetapi seorang buaya darat yang mencemarkan kesucian kuil itu dengan menjadi kekasih seorang to-kouw yang tentunya hanya seorang tamu di kuil itu, karena kuil itu adalah tempat para nikouw pemuja Dewi Kwan Im. Maka sepasang mata dara ini bersinar-sinar karena marahnya.

“Hm, tak kusangka di dunia ini ada seorang to-kouw semacam ini! Kau sendiri perempuan rendah, masih berani memaki orang lain?” katanya.

To-kouw ini bukan lain adalah Bi Mo-li atau Iblis Cantik yang menjadi murid Hek Li Suthai. Bi Mo-li inilah yang dulu pernah melukai Lui Tik Kong dengan Ang-see-ciang. Nama Hek Li Suthai sangat terkenal dan juga nama Bi Mo-li si Iblis Cantik ini tidak kalah tersohornya, maka tentu saja ia menjadi marah mendengar makian Lee Ing.

“Kau harus mampus!” teriaknya dan bagaikan seekor iblis wanita yang mengerikan. Bi Mo-li bergerak dan tubuhnya melayang ke arah Lee Ing dengan tangan kanan diulur serta penuh mengandung tenaga Ang-see-ciang.

Melihat cahaya merah yang bersinar dari tangan itu, Lee Ing terkejut karena ia tahu bahwa ini tentu tangan yang mengandung Ang-see-ciang. Ia lalu kumpulkan napasnya dan keluarkan ilmu dan tenaga Gin-san-ciang yang telah dipelajarinya dengan sempurna.

Ketika hawa tenaga Ang-see-ciang menghantam ke arah Lee Ing, maka gadis ini lalu menggerakkan lengannya menangkis. Bi Mo-li menjerit keras dan terpental mundur oleh tenaganya sendiri.

Untung sekali bahwa latihan Gin-san-ciang dari Lee Ing belum begitu lama hingga kekuatannya masih kurang hebat. Kalau Tiang Pek yang melakukan tangkisan ini, mungkin Bi Mo-li akan mendapat luka dalam yang hebat sekali! Namun tangkisan Lee Ing ini cukup membuat ia terpental ke belakang dan jatuh!

Bagaikan kemasukan setan Bi Moli melompat berdiri dan dengan marah sekali ia lalu mencabut pedang dan hud-tim (kebutan pertapa) kemudian langsung menyerang Lee Ing bagaikan kerbau gila mengamuk! Lee Ing berlaku tenang karena maklum banwa to-kouw ini bukanlah lawan yang lunak. Ia menghunus keluar pedangnya dan melayani dengan hati-hati.

Ternyata ilmu kepandaian Bi Mo-li cukup tangguh dan tinggi hingga kalau saja Lee Ing tidak menerima gemblengan yang keras dan sungguh-sungguh dari ayahnya, tentu ia takkan kuat bertahan. Akan tetapi, ilmu pedang Lee Ing yang menjadi warisan dari sukongnya atau kakek gurunya, yakni Kang-lam Taihiap Kam Hong Tie yang pernah disebut sebagai jago nomor satu di darat, benar-benar hebat dan dengan pedangnya itu ia dapat mendesak Bi Mo-li!

Sayang bahwa Lee Ing kalah pengalaman bertempur, kalau tidak tentu ia akan berhasil mengalahkan Iblis Wanita Cantik itu dalam waktu pendek. Pada saat Lee Ing mendesak lawannya, tiba-tiba menyambar hawa dingin dan tahu-tahu pedang Lee Ing telah terampas orang!

Juga Bi Mo-li melompat mundur dan menjura kepada orang yang baru tiba. Ketika Lee Ing memandang, ternyata yang merampas pedang itu adalah seorang to-kouw tua yang berkulit muka putih halus akan tetapi kedua tangan to-kouw itu hitam. Inilah Hek Li Suthai dan kepandaiannya dapat diukur tingginya dengan kenyataan tadi bahwa dalam segebrakan saja ia berhasil merampas pedang Lee Ing!

“Nona, kali ini aku masih memberi ampun kepadamu, karena kau masih muda dan pinni sayang akan kepandaianmu. Kalau kau masih berusia panjang dan lain kali dapat bertemu lagi. Sebelum kau berlutut dan mengangguk delapan kali, kau takkan dapat kuampunkan!” Sambil berkata demikian Hek Li Suthai mengangsurkan kembali pedang Lee Ing.

Gadis ini menerima kembali pedangnya, akan tetapi ia sama sekali tidak merasa takut. Bahkan ia memandang marah sekali hingga mukanya serasa dibakar karena merasa telah dihina orang. Akan tetapi, apa dayanya? Sudah terang bahwa to-kouw tua ini lihai bukan main dan ia bukanlah lawan seimbang maka ia menahan nafsu marahnya dan bertanya.

“Siapakah namamu, agar lain kali aku yang muda takkan lupa lagi.”

To-kouw tua itu tertawa haha-hihi dan suara ketawanya menyeramkan sekali, “Kau benar-benar bernyali besar! Kalau kau sekarang berlutut minta ampun, dengan sekali kebut saja hud-tim ku ini tentu akan menghancurkan batok kepalamu yang bagus. Tapi kau pemberani dan pinni suka kepada orang yang berani. Dengarlah, hai anak cantik. Pinni adalah Hek Li Suthai dari Hoa-mo-san."

Lee Ing makin mendongkol karena tahu bahwa inilah musuh yang hendak mencari ayahnya. Maka tanpa berkata sesuatu, ia lalu balikkan tubuhnya dan berlari keluar dengan cepat dan dengan hati gemas dan mendongkol. Belum berapa lama keluar dari pintu, sekarang telah bertemu lawan tangguh dan kena dikalahkan bahkan menerima hinaan. Hampir saja Lee Ing mengalirkan air mata dari kedua matanya karena gemas dan mendongkolnya.

Hari itu juga, menjelang senja hari, ia telah tiba di Tit-lee! Dengan mudah ia dapat mencari gedung keluarga Lo, akan tetapi Lee Ing tidak berani dan malu untuk datang di waktu sore. Ia mengambil keputusan untuk menyelidiki di waktu malam nanti dan kalau mungkin ia hendak mencoba kepandaian Ang Lian Lihiap atau Hwee-thian Kim-hong!

Gadis ini benar berhati tabah dan kekalahannya pagi tadi tidak membuatnya kapok. Setelah mengetahui keadaan gedung keluarga Lo, ia lalu mencari kamar di sebuah rumah penginapan dan menanti datangnya malam dengan hati tidak sabar.

Malam hari itu, biarpun bulan muncul sedikit akan tetapi sinarnya masih cukup terang untuk mengusir kehitaman malam. Lee Ing mengenakan pakaian yang singset dan indah karena ia tidak mau kelihatan kurang rapi. Dengan hati tabah dan gerakan cepat, ia melompati tembok rendah yang mengelilingi gedung keluarga Lo di bagian belakang.

Ia masuk ke dalam kebun di belakang gedung itu dan dengan berani menghampiri gedung dari belakang. Ia merasa heran mengapa gedung itu sunyi sekali, apalagi setelah ia berhasil masuk ke dalam gedung, yakni di bagian belakangnya, ia makin heran karena tak seorangpun pelayan nampak di situ.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa pada malam hari itu Han Lian Hwa dan Lo Cin Han, sepasang suami isteri pendekar ini sengaja menyuruh semua pelayan keluar dari gedung itu oleh karena mereka berdua tengah menanti kedatangan tamu-tamu istimewa yang siang tadi telah mengirim kartu nama bergambarkan tangan hitam dan tengkorak. Juga Lo Sin tidak nampak karena pemuda ini belum kembali dari perjalanannya menuju ke tempat kediaman Kong Sin Ek si Dewa Arak.

Lee Ing dengan hati-hati sekali menuju ke ruang tengah, lalu bersembunyi di balik sebuah pintu belakang dan mengintai ke ruang tengah. Ternyata ruang itu luas sekali dan dipasangi lampu teng yang amat terang.

Di sudut terdapat sebuah meja bundar besar dan di belakang meja itu duduk dua orang berdampingan, seorang wanita yang sangat cantik dan seorang laki-laki yang gagah sekali. Mereka berdua duduk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dan mereka memandang ke arah pintu depan yang terbuka lebar, seakan-akan mereka siap menanti datangnya tamu-tamu agung.

Lee Ing melihat bahwa wanita dan laki-laki itu usianya sebaya dengan ayah ibunya, dan melihat kecantikan wanita itu dan kegagahan yang pria, mudah saja baginya untuk menduga bahwa mereka ini tentulah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa dan Hwee-thian Kim-hong Lo Cin Han. Lee Ing memandang kagum sekali dan seketika itu juga lenyaplah niatnya hendak mencoba kepandaian mereka.

Wajah dan sikap kedua orang itu sudah cukup untuk menundukkan wataknya yang keras hati dan ingin mencoba setiap orang. Diam-diam ia memandang dengan penuh segan dan hormat, dadanya berdebar girang, akan tetapi ia tidak berani keluar oleh karena jika ia keluar secara tiba-tiba tentu mereka ini akan menganggapnya kurang ajar.

Tiba-tiba Lee Ing menjadi takut kalau sampai ketahuan kedatangannya. Ia merasa betapa ia telah berlaku lancang sekali, berani datang ke tempat Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong seperti seorang maling. Bagaimana kalau mereka berdua ini mengetahui bahwa ia adalah puteri Nyo Tiang Pek, sahabat baik mereka? Ah, mereka tentu akan mencelanya dan ia akan membikin malu nama orang tuanya.

Memikir demikian, Lee Ing cepat mengeluarkan sebuah saputangan yang lebar dan menggunakan saputangan lebar ini untuk mengikat rambut kepalanya dan menutup sebagian mukanya sebelah bawah agar jangan sampai terlihat dan dikenal mukanya, kalau sampai terjadi mereka tahu akan kedatangannya.

Akan tetapi, melihat betapa kedua orang itu sama sekali tidak bergerak dan hanya mencurahkan perhatian ke pintu depan, Lee Ing menjadi heran sekali. Ia lalu mengambil keputusan hendak meninggalkan tempat itu secara diam-diam, akan tetapi pada saat itu terdengar suara Cin Han berkata dengan halus kepada isterinya.

“Nah, mereka akhirnya datang juga.”

Lee Ing terkejut dan mengintai kembali ke ruang itu. Tiba-tiba dari pintu depan berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang to-kouw yang bukan lain adalah Hek Li Suthai dan muridnya, Bi Mo-li yang dijumpainya di kuil pagi tadi.

Lee Ing menjadi tertarik sekali karena ia segera dapat mengerti bahwa to-kouw yang lihai itu sengaja datang mencari musuh-musuhnya dan suami isteri pendekar itu telah siap menanti kedatangannya.

“Selamat malam, Hek Li Suthai,” kata Ang Lian Lihiap kepada tamunya dengan suara yang merdu dan terdengar gagah.

Hek Li Suthai tertawa haha-hihi dan suara ketawa itu bergema memenuhi ruangan itu, Lee Ing terkejut sekali karena suara ketawa ini mengandung getaran yang mendebarkan dadanya. Ia maklum bahwa to-kouw itu hendak memamerkan khikangnya dan sengaja mendemonstrasikan ketawanya itu, maka buru-buru Lee Ing mengatur napasnya untuk menolak getaran itu.

“Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong. Alangkah lamanya pinni menunggu-nunggu datangnya saat pertemuan ini.”

“Hek Li Suthai, sudah sempurna benarkah kini pelajaranmu dari Sin-kun Moli Lan Bwee Niang-niang?” terdengar Cin Han berkata dengan suaranya yang sabar tapi berpengaruh itu.

“Tentu saja, mengapa tidak?” jawab Hek Li Suthai dengan senyum sindir. “Kalian tentu telah maklum akan maksud kedatangan pinni, bukan...?”

Selanjutnya,