X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 21

Cerita Silat Mandarin serial Perserikatan Naga Api seri ke 5, Sekte Teratai Putih Jilid 21 karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 21

Karya : Stevanus S P

SEMENTARA itu, pintu dari bangunan kayu yang didiami Nyo Jiok itu pun sudah terbuka. Nyo Jiok melangkah keluar diiringi beberapa pengikut andalannya, juga orang-orang yang tadi di pos penjagaan mengaku sebagai orang-orang Pek-lian-kau tetapi dari golongan Lam-cong (Sekte Selatan) itu.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Melihat berkobarnya pertempuran di tempat itu, Nyo Jiok pun insyaf bahwa kakak seperguruannya sekaligus ketuanya agaknya sudah mencium rencana pengambil-alihan kekuasaannya. Dan seperti juga Mo Hwe, Nyo Jiok pun dikuasai pikiran yang sama, yaitu "sekarang atau tidak sama sekali".

Karena itulah Nyo Jiok tiba-tiba berkata kepada orang disebelahnya, "Lepaskan isyarat untuk teman-teman kita dikaki gunung, agar bergerak menyerang sekarang juga. Lereng utara dan timur, sudah dibersihkan dari perangkap-perangkap gaib."

Orang di sebelahnya itu pun mengeluarkan sebatang kembang api roket yang langsung disulutnya, kembang api itu pun meluncur ke angkasa yang gelap dan meletus di atas. Ekornya membentuk garis api di langit yang sebentar kemudian lenyap kena angin.

Nyo Jiok lalu berkata kepada pimpinan rombongan dari Lam-cong itu, "Saudara Ai, mari kita ringkus Mo Hwe. Malam ini dia seperti ular mencari gebuk."

Yang disebut "Saudara Ai" itu adalah seorang lelaki pendek-gempal dengan mata tajam dan hidung bengkok. Namanya Ai Kong, julukannya Jiat-ci Ai-sin (Malaikat Pendek Berbaju Maut), dalam Pek-lian-kau Sekte Selatan, kedudukannya adalah Hu-cong-cu (wakil Cong-cu), jadi dia adalah orang nomor dua di Pek-lian-kau Selatan, hanya di bawah ketua-sektenya.

Sebagai tokoh berkedudukan setinggi itu, tentu saja ia cukup tangguh, dan kali ini Nyo Jiok terang-terangan mengajaknya mengeroyok Mo Hwe supaya diyakinkan bahwa Mo Hwe akan benar-benar dimampuskan malam itu juga.

Nyo Jiok dan Ai Kong pun berjalan berdampingan mendekati Mo Hwe. Sementara orang-orang Lam-cong langsung menceburkan diri ke dalam pertempuran, tentu saja di pihak pengikut-pengikut Nyo Jiok.

Mo Hwe sudah melihat kehadiran mereka, dan sadar bahwa inilah saat penentuan itu. Dia atau Nyo Jiok yang harus tersingkir dari kepemimpinan Pek-lian-kau Utara. Tetapi melihat Nyo Jiok berdua, Mo Hwe pun sadar bahwa Nyo Jiok tidak akan segan-segan mengeroyoknya demi memastikan kemenangannya.

Mo Hwe belum tahu seberapa bobot kawan Nyo Jiok itu, namun tentunya orang pilihan juga. Karena itu, Mo Hwe pun menoleh ke sekelilingnya, mencari kalau-kalau ada pengikut tangguhnya yang bisa diajak "bermain ganda" melawan Nyo Jiok dan pasangannya itu. Tetapi seluruh pengikutnya sedang sibuk menghadapi lawan-lawan mereka yang ternyata berjumlah lebih banyak. Itu artinya, Mo Hwe seorang diri akan berhadapan dengan dua lawan sekaligus.

Hati Mo Hwe bertambah gelisah lagi ketika melihat kembang api roket meluncur ke angkasa. Entah isyarat apa itu, yang terang Mo Hwe merasa bahwa malam itu kedudukannya sebagai ketua Pek-lian-kau Utara bakalan terguncang hebat. Mo Hwe mengertakkan gigi, la bertekad akan mempertahankannya mati-matian.

Sementara itu Nyo Jiok dan Jiat-ci Ai-sin Ai Kong sudah berdiri di depannya. Dengan sikap amat yakin bahwa malam itu pihaknya bakal keluar sebagai pemenang, Nyo Jiok berkata, "Selamat malam, Kak. Ada apa malam-malam begini Kakak datang membuat ribut di tempatku?"

"Nyo Jiok, kau sendiri tahu kesalahanmu. Aku perintahkan hentikan pengkhianatanmu yang akan membuat Pek-lian-kau kita berantakan!"

"Aku tidak berkhianat, Kak, aku justru sedang mengobati Pek-lian-kau yang sakit-sakitan di bawah kepemimpinanmu yang tolol. Dan kalau aku berhasil, Pek-lian-kau akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang tidak terbendung lagi dalam mewujudkan cita-cita menegakkan kembali dinasti Beng!"

"Mengobati? Dengan memasukkan orang-orang asing ke tubuh Pek-lian-kau?" dengus Mo Hwe sambil menuding Ai Kong.

Nyo Jiok membantah, "Pek-lian-kau itu dulunya satu, Kak. Tidak ada yang namanya Pak-cong (Sekte Utara) dan Lam-cong (Sekte Selatan). Karena bersatu maka jadi kuat, itulah sebabnya aku bercita-cita menyatukan kembali. Dan karena kau tidak setuju, maka langkah pertama dari rencanaku adalah menyingkirkanmu, Kak."

"Jadi itulah hasilmu pergi ke selatan? Menyusun komplotan untuk mendongkel aku?"

Kali ini Ai Kong yang menjawab, "Jangan penasaran, Saudara Mo. Adalah kehendak seluruh anggota Pek-lian-kau di Utara maupun Selatan untuk bersatu kembali. Kau saja yang tidak sanggup membaca tanda-tanda jaman sehingga tetap bersiteguh dalam sikapmu yang kaku itu."

"Siapa kau?" bentak Mo Hwe.

Ai Kong tertawa terkekeh-kekeh lalu menjawab, "Nah, inilah tandanya kau memang kurang bergaul. Masa dengan saudara sendiri dari selatan tidak kenal? Akulah Ai Kong, Hu-cong-cu dari selatan."

Mo Hwe menggeram seperti serigala kelaparan, "Hem, apa pun kedudukanmu, kehadiranmu di tempat ini bersama orang-orangmu sudah mencampuri urusan dalam rumah-tangga Pek-lian-kau Utara kami!"

"Ah, keliru, keliru...." sahut Ai Kong sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan menggemaskan. "Pek-lian-kau itu satu. Kalau Saudara-saudara di utara sakit, kami di selatan ikut sakit juga dan wajib ikut mengobatinya."

"Dulu ketika Pek-lian-kau Utara melakukan gerakan besar di ibu kota Pak-khia, kenapa kalian tidak membantu? Kenapa saat itu kalian tidak merasa sebagai saudara?"

Jawaban Ai Kong enak saja, "Ah, yang dulu-dulu biarlah berlalu, tidak usah diingat-ingat lagi. Biarlah mulai sekarang utara dan selatan bahu-membahu sebagai saudara. He-he-he..."

Alangkah gusarnya Mo Hwe, namun ia tidak berani bertindak gegabah karena lawannya berdua. Ia harus benar-benar mempertimbangkan segala sesuatunya. Ketika itulah jauh di kaki gunung sayup-sayup terdengar suara pertempuran. Dengan terkejut Mo Hwe memasang kupingnya.

Nyo Jiok tertawa, "Kak, tempat ini sudah dikepung oleh orang-orangku. Lebih baik menyerah saja, supaya jangan jatuh korban terlalu banyak."

"Keparat, Nyo Jiok, kau tega sekali menggunakan kekuatan-kekuatan dari luar untuk memukul saudara-saudaramu sendiri!"

Nyo Jiok juga sudah tidak sabar, karena menganggap kemenangan sudah tinggal selangkah di depannya. Dia pun berkata kepada Ai Kong, "Saudara Ai, sayang sekali Kakakku ini agaknya susah diyakinkan dengan omongan baik-baik. Daripada membuang banyak waktu, mari kita bereskan sekarang saja."

"He-he-he, terserah kepadamu saja, Saudara Nyo...." sahut Ai Kong sambil meraih ke punggungnya untuk mengambil senjatanya yang tergendong di punggungnya.

Mo Hwe pun tercengang melihat senjata Ai Kong. Tadinya Mo Hwe menduga bahwa gagang senjata yang mencuat di belakang punggung Ai Kong itu adalah gagang sebuah tongkat besi, karena bentuknya memang seperti itu. Tapi setelah senjata itu tergenggam di tangan Ai kong, terlihat jelas bahwa di ujung tongkat besi Ai Kong itu ada ratusan kawat-kawat baja yang dibentuk menjadi semacam sapu.

Bentuk dan ukurannya tak ubahnya seperti sapu-sapu yang biasa dipakai di rumah tangga, hanya bahayanya saja yang berbeda. Tangkai sapu biasa, biasanya dari bambu, kayu atau rotan, yang ini dari besi. Ujung sapu biasa biasanya dari ijuk, yang ini dari kawat.

Menyadari bahayanya menghadapi dua orang ini, Mo Hwe pun langsung mengeluarkan senjatanya. Sepasang sarung tangan keemas- emasan seperti warna rambutnya, dan di ujung jari-jari dari sarung-sarung tangan itu terdapat cakar-cakar emas yang berkilat-kilat di bawah cahaya rembulan.

Ai Kong menyerang lebih dulu. Ia tidak begitu mahir dengan hal-hal gaib, biarpun ia adalah tokoh nomor dua di Pek-lian-kau Selatan. Karena itu, ia akan lebih senang kalau pertempuran yang bakal berlangsung itu adalah pertempuran "biasa" saja, meskipun kalau terpaksa pakai yang gaib-gaib, ia juga siap.

Serangan pertamanya begitu sederhana, sapu bajanya diayun ke bawah untuk memukul kaki Mo Hwe. Gaya jurusnya tanpa kembangan, tanpa gerak tipu pendahuluan, tak ubahnya menggebuk seekor tikus yang masuk ke dalam rumah dengan sebatang sapu.

Namun Mo Hwe tidak berani gegabah, ia tidak mau membiarkan telapak kakinya berlubang-lubang oleh kawat-kawat baja itu. Ia menggeser kakinya yang diincar itu, sekaligus kakinya yang lain melayang naik dalam gerak tendangan sabit ke arah pelipis Ai Kong yang pendek itu.

Ai Kong mengangkat sikunya untuk melindungi kepalanya, berbarengan dengan sapu bajanya kembali menyapu ke depan, serangan serendah tanah dan tetap mengejar kaki Mo Hwe. Agaknya jurus-jurusnya benar- benar diilhami gerakan orang menyapu lantai atau menyapu halaman. Saat itulah Nyo Jiok juga menyergap maju, membarengi serangan dari sudut yang menguntungkan. Begitulah Mo Hwe harus menghadapi dua orang lawan berat sekaligus.

Sementara itu, suara pertempuran yang riuh di lereng timur dan lereng utara makin terdengar dekat dan naik ke Puncak In-hong itu. Itu tandanya bahwa pihak penyerang berhasil mendesak orang-orangnya Mo Hwe yang berada di kedua lereng itu. Entah bagaimana dengan nasib Mao Pin si Siluman Gagak Hitam yang ditugaskan Mo Hwe untuk mempertahankan tempat itu.

Sayup-sayup terpantul berulang kali di lereng-lereng pegunungan, terdengar pula suara letusan senjata api. Entah pihak mana yang sudah menggunakan senjata, api itu.

Sementara itu, selagi pihak-pihak yang berebutan kekuasaan itu bertempur di Puncak In-hong, Sebun Beng dengan langkah santai memanggul tubuh Auyang Hou keponakannya, melewati lereng barat daya yang sedikit landai dan nampak sepi.

Sebun Beng berpikir dengan heran, "Apakah tempat ini memang tidak dijaga? Padahal tempat ini lerengnya paling mudah didaki untuk sampai ke Puncak In-hong, kalau ada musuh mestinya juga paling banyak kemungkinannya melewati jurusan ini."

Kenyataannya Sebun Beng benar-benar tidak melihat seorang pun penjaga. Entah kalau pihak Pek-lian-kau memasang "penjaga-penjaga yang tidak kelihatan" sebab kegemaran orang-orang Pek-lian-kau memang begitu. Namun Sebun Beng melangkah terus tanpa gentar. Tidak peduli penjaganya kelihatan atau tidak kelihatan, Sebun Beng belajar yakin bahwa manusialah mahluk ciptaan yang tertinggi di antara segala ciptaan, baik ciptaan-ciptaan yang kelihatan atau yang tidak kelihatan.

Maka ketika ia melangkah dengan bibir berkomat-kamit, ia tidak sedang membaca mantera seperti orang-orang Pek-lian-kau, melainkan sedang meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang pernah dibacanya dan dipercayainya dalam kitab yang dipijamkan Wan Lui kepadanya. Ia menggunakan lidahnya sebagai pena untuk menuliskan isi kitab itu ke dalam jiwanya sendiri, tak ubahnya anak-anak sekolah melakukannya dengan buku pelajarannya menjelang ujian.

Sebun Beng pun tiba di pinggang gunung, dan menjumpai sebuah dataran sempit di tempat itu. Tidak ada pohon-pohon besar disitu, yang ada hanyalah lautan ilalang setinggi betis yang bergelombang kena angin malam, dengan bunga-bunga ilalangnya yang kadang-kadang diterbangkan angin seperti helai-helai kapas. Juga di tempat ini Sebun Beng tidak melihat seorang pun penjaga.

Tetapi kali ini Sebun Beng melangkah lebih hati-hati, sebab nalurinya tajam merasakan sesuatu. Dia melihat di tengah-tengah dataran berilalang yang sempit itu ada sebuah panggung kecil, berbentuk segi-empat, tanpa dinding, sehingga terlihat di tengah-tengah panggung itu ada meja sembahyangnya dengan dupa yang menyala. Di atas atap panggung berkibar sehelai bendera segitiga yang bertuliskan entah apa sebab di malam gelap itu tidak bisa dibaca. Tanpa manusia.

Sebun Beng melangkah lebih lambat, lebih waspada, sambil mempererat pegangannya pada tubuh Auyang Hou yang digendongnya. Langkahnya terhenti sejenak ketika melihat ada sebatang kayu ditancapkan di tanah, dan pada kayu itu tertulis dua huruf, "Cui-bun" (Gerbang Air). Sebun Beng melangkah melewati patok kayu itu.

Namun ia tiba-tiba terkejut karena merasa pandangannya berubah. Ia merasa langit-langit tiba-tiba menjadi lebih gelap, bulan bintang yang semula terlihat sekarang tidak terlihat karena tertutup kabut hitam yang tebal. Lalu di sekitar Sebun Beng terdengar deru angin, dan sayup-sayup terdengar juga deru gelombang air yang besar.

Sebun Beng heran, di tengah-tengah gunung seperti itu, mana ada suara gelombang laut? Kalau suara sungai kecil gemericik masih masuk akal, tapi ini suara gelombang laut yang makin lama makin dahsyat. Beberapa saat terjadi pergulatan antara pikiran Sebun Beng dengan indera pendengarannya.

Pikiran Sebun Beng mengatakan tidak mungkin dan tidak masuk akal di tengah pegunungan itu ada suara gelombang laut seperti itu, namun indera pendengaran Sebun Beng "melaporkan" ke otak tentang adanya gelombang besar dan bahkan juga angin ribut. Bahkan kulit Sebun Beng pun mulai merasakan tiupan angin yang semakin lama semakin kencang.

Akhirnya pikiran Sebun Beng pun "mengalah" dan mengsyahkan kekalahan itu dengan kata-kata dalam pikirannya, "Ya, barangkali di dekat sini ada telaga."

Setelah pikiran menyerah, maka indera-indera yang lain pun mulai terpengaruh. Indera penglihatan Sebun Beng tiba-tiba menatap gelombang ujung-ujung ilalang yang terhembus angin itu seperti gelombang air, yang makin lama makin tinggi, bahkan Sebun Beng jadi terkejut ketika merasa tubuhnya benar-benar telah dijilat oleh lidah gelombang. Bahkan kemudian kakinya merasa ditarik ke bawah, seolah-olah yang dipijaknya tadi bukan tanah melainkan air, dan tubuhnya mulai terasa amblas.

"Astaga!" Sebun Beng menjadi panik karena tidak bisa berenang. Satu tangannya menggapai-gapai, sebab tangan yang satunya lagi masih memegangi tubuh Auyang Hou. Sebun Beng merasa lidah-lidah air mulai mendampar mukanya, hidungnya, mulutnya, membuatnya semakin panik dan tak mampu berpikir lagi. Sementara indera pendengarannya semakin dibanjiri suara gemuruhnya ombak dan angin badai.

Sebun Beng memejamkan matanya dan yang terlintas dalam ingatannya hanyalah ingin menyerah saja, biarlah tenggelam ke dasar air, tapi ia ingin "meninggal dengan tenang". Tetapi sesuatu tiba-tiba melintas di pikirannya. Setelah sekian lama "tenggelam" kenapa tidak terasa hidung dan mulutnya kemasukan air, dan ia masih bisa bernapas dengan wajar?

Apakah ia sudah berubah menjadi ikan yang bisa bernapas dalam air? Namun yang berlawanan, kulit mukanya masih merasakan damparan angin dan air, telinganya juga masih mendengar suara gemuruh gelombang badai.

Mana yang benar? Indera-inderanya seperti bertentangan sendiri satu sama lain. Dalam keadaan kacau itu, muncul suara lembut di dasar hatinya, "Tenggelam atau tidak tenggelam, tergantung dirimu sendiri."

Seperti orang hampir mati tenggelam di sungai, sepotong jerami yang terapung saja akan disambarnya dan digenggamnya erat-erat sebagai pegangannya. Begitu pula Sebun Beng. Ia nekad memejamkan matanya, tidak mau kehilangan "pegangan" yang muncul dari dasar hatinya itu. Suatu kekuatan mengaliri jiwanya, tak terasa mulutnya berdesis, "Tidak. Aku tidak tenggelam. Aku tidak tenggelam."

Aneh, gemuruh air dan angin pun reda perlahan-lahan. Telapak kakinya kembali terasa menginjak tanah yang keras, bukan lagi mengijak air yang makin amblas. Ketika ia perlahan-lahan membuka matanya, maka yang dilihatnya kembali adalah dataran ilalang yang daun-daunnya bergoyang lembut, bergelombang memang tetapi gelombang ribuan helai ilalang. Juga ada angin, tetapi angin yang lembut mengusap kulitnya. Kalaupun wajahnya basah, itu bukan karena terjilat lidah gelombang besar, melainkan oleh keringatnya sendiri.

Sebun Beng mengusap keringat di wajahnya sambil mendesah. Menyadari bahwa adegan sedahsyat tadi ternyata terjadi hanya dalam pikirannya. Tetapi dia pun tahu bahwa hal itu bukan terjadi begitu saja, melainkan memang ada kekuatan-kekuatan tertentu yang berusaha memasuki pikirannya, kekuatan-kekuatan itu mencari jalan masuk ke dalam pikirannya dengan membuat suara-suara angin dan air.

Dan pengaruh itu "dibukakan pintu" ke dalam jiwa Sebun Beng ketika Sebun Beng mengucapkan kata-kata yang menganggap atau mengiyakan suara-suara itu sebagai suara-suara gelombang dan angin yang sesungguhnya. Kini ditengadahkannya mukanya, mengucapkan terima kasih kepada Pencipta-Nya. Matanya lalu terpejam khidmat beberapa saat lamanya.

Malam itu sekaligus Sebun Beng belajar menghayati sesuatu yang pernah dibicarakannya dengan Liu Yok dulu, namun dulu Sebun Beng belum mengerti benar-benar ucapan-ucapan Liu Yok yang sangat dalam. Waktu itu Liu Yok mengatakan bahwa tubuh jasmaniah seperti tanah dataran rendah yang mengitari sebuah kota di atas gunung, dan kota berbenteng di atas gunting itu adalah pikiran, perasaan dan kehendak manusia.

Tetapi masih ada tempat yang lebih tinggi lagi, di tengah-tengah kota ada "bukit suci" atau "tempat tinggi" di mana berdiri sebuah kuil tempat manusia mengerjakan hal-hal adi-kodrati, melambangkan alam tak sadar manusia, tempat asal manusia yang sejati. Liu Yok pernah menjelaskan, kalau ada musuh ingin menguasai negeri, maka yang akan diserang adalah kota di atas gunung itu, dan dari situ akan mudah menguasai dataran sekitarnya.

Kini Sebun Beng mengerti bahwa serangan gaib tadi memang tertuju ke "kota gunungnya” alias pikirannya dan Sebun Beng sadar telah melakukan kebodohan dengan "membukakan pintu gerbang" dengan perkataannya yang bernada mengiyakan "laporan" indera pendengarannya yang "melaporkan" suara gelombang dan angin tadi. Akibatnya, hampir saja Sebun Beng dikuasai sepenuhnya oleh pengaruh gaib yang menyerangnya.

Untung ada suara dari "bukit suci" alias "tempat tinggi" yang membuat pikirannya dapat dikuasainya kembali. Perjalanan bersama Liu Yok itu ternyata bagi Sebun Beng benar-benar membukakan banyak selubung yang tadinya tertutup rapat. Sebun Beng diam-diam bersyukur karenanya. Dia pun melanjutkan langkahnya.

Tetapi langkahnya kembali terhenti, kali ini karena melihat batang-batang ilalang di pinggir jalan berguncang keras. Mula-mula Sebun Beng mengira ada harimau atau serigala, tetapi ternyata yang muncul adalah manusia.

Itulah sesosok manusia yang tinggi besar, rambutnya panjang terurai tetapi bagian tengahnya botak, dan di tengah-tengah ubun-ubunnya seperti ada tanduk kecil, matanya merah, dan di sudut-sudut bibirnya ada taring- taring kecil. Ini benar-benar setengah manusia setengah siluman. Pakaiannya serba hitam, tangannya memegang senjata yang disebut Hong-pian-jan. Toya yang di ujungnya ada sepotong besi berbentuk bulan sabit.

Pikir Sebun Beng, "Pek-lian-kau benar-benar gudangnya mahluk-mahluk aneh. Orang ini barangkali adalah Cui-sin (Malaikat Air), saudara tertua dari lima saudara yang dikenal dengan julukan Ngo-kui-seng (Lima Bintang Setan), yang terkenal di wilayah Kam-siok."

Sebun Beng ingat juga, ada dongeng yang agak tidak masuk akal asal-usul keturunan lima bersaudara dari Kam-siok ini. Kata orang, Ibu kelima orang ini adalah pemuja yang sangat taat dari dewa-dewa pujaannya orang Pek-lian-kau. Sayangnya perempuan itu memperoleh seorang suami yang tidak dapat memberikan nafkah batin, alias tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai lelaki jantan. Tapi karena tekunnya perempuan ini beribadah, agaknya "dewa-dewa" menjadi kasihan juga terhadapnya.

Suatu kali, suaminya tiba-tiba kerasukan, dan berubahlah sang suami dari seorang lelaki tak berdaya menjadi lelaki beringas. Perempuan itu pun mengandung, lalu melahirkan seorang bayi yang menakutkan. Kepalanya botak, di tengah-tengah ubun-ubunnya ada semacam tanduk kecil, mulutnya bertaring. Begitulah, setiap kali suaminya kerasukan dan menggauli isterinya, lahirlah bayi-bayi aneh yang beraneka ragam bentuknya, sampai lima jumlahnya.

Sudah tentu dengan anak-anak aneh seperti itu, Sang Ibu dan Ayah tidak berani bertempat tinggal bersama-sama dengan manusia-manusia lain, mereka tinggal di tempat terpencil dari berladang. Suatu kali, kelima anak-anak itu berada di ladang bersama ayah mereka. Siang itu Sang Ibu agak terlambat mengirimkan makanan, sedangkan anak-anak ini sudah lapar, karena “anak-anak dewa" ini pun menyantap ayah manusia mereka, mentah-mentah.

Sebun Beng tidak tahu cerita itu benar atau tidak. Bisa jadi dikarang oleh musuh-musuh Pek-lian-kau untuk menjelek-jelekkan Pek-lian-kau. Bisa jadi juga dibuat oleh orang-orang Pek-lian-kau sendiri untuk menggentarkan lawan-lawan mereka.

Tetapi mengingat Pek-lian-kau adalah gudangnya segala macam ilmu siluman, hal itu bukan mustahil. Sebun Beng sendiri pernah membaca dalam kitab pinjaman dari menantunya kitab yang dipercayainya tentang hubungan antara "mahluk-mahluk ilahi dengan perempuan-perempuan manusia" sehingga menghasilkan raksasa-raksasa di bumi.

Yang dihadapi Sebun Beng sekarang adalah kenyataan, bahwa mahluk ganjil, orang tertua dari Ngo-kui-seng itu berdiri di hadapannya dan menudingnya dengan geram, "He, manusia, kau gunakan ilmu apa sehingga dapat melewati Barisan Airku?"

Sahut Sebun Beng kalem, "Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya menjaga pikiranku agar tetap jernih, dan pikiranku mengatakan tidak seharusnya di tengah-tengah pegunungan kok ada gelombang air yang besar-besar. Pikiranku menyangkal laporan indera pendengaran dan indera penglihatanku, cuma begitu, dan gelombang itu memang tidak ada. Gampang kan?”

Saudara tertua dari Lima Bintang Setan yang namanya Ok Cui-liong itu pun menggeram jengkel sambil menghentakkan tangkai Hong-pian-jan-nya ke tanah. Jawaban Sebun Beng yang kedengarannya sederhana dan seenaknya itu, "sekedar membebaskan pikiran dari laporan kuping dan mata", ternyata memang kunci kelemahan ilmu Ok Cui-liong.

Ilmu itu memang mengincar pikiran lebih dulu. Kalau pikiran sudah berhasil didekte melalui telinga dan mata yang disuguhi suara dan penglihatan palsu, maka lawan akan berhasil dikuasai sepenuhnya kemudian akan disantap beramai-ramai oleh kelima saudara itu. Tetapi kalau pikiran berhasil dilindungi, ilmu Ok Cui-liong ini ptm akan berantakan. Ok Cui-liong sangat geram karena ia belum pernah gagal, baru kali ini.

Ia melangkah mendekati Sebun Beng dengan sikap mengancam, "Manusia, kau bisa lolos dari Barisan Airku, tetapi takkan lolos dari senjataku ini!"

Sebun Beng melangkah mundur, namun bukan karena takut. Hari-hari belakangan ini, ia sedang belajar meniru cara berpikir Liu Yok keponakannya, yang membersihkan pikirannya dari hal-hal jelek, termasuk pikiran untuk menggunakan kekerasan. Katanya sambil mundur, "Sobat, segala sesuatu tentu bisa dibicarakan baik baik antara sesama manusia. Kenapa harus menggunakan kekerasan?"

Kata-kata yang tulus itu dulu pernah berhasil menyentuh hati Mo Hwe, Ketua Pek-lian-kau, namun sekarang agaknya tidak menyentuh perasaan Ok Cui-liong sedikit pun. Ok Cui-liong tertawa seram, dan menjawab, "Persetan dengan manusia. Manusia adalah makanan kami."

"He, sobat, memangnya dirimu sendiri bukan manusia?"

"Ha-ha-ha, baiklah kuberitahu kau, manusia bodoh. Kami ini berasal dari ciptaan yang jauh lebih mulia dari manusia, ribuan tahun yang lalu. Tetapi manusia keparat telah merebut kedudukan kami, kami bersumpah untuk merusaknya habis-habisan!"

Sebun Beng mengerutkan alis, kurang paham kata-kata itu. Namun betapapun mata Ok Cui-liong yang menyorot kemerahan membuat bulu kuduknya berdiri. Demi mengingat keselamatan Auyang Hou yang kelak harus dipertanggung-jawabkannya kepada ibunya, Sebun Beng akhirnya memutuskan untuk melawan, betapa pun ia sudah bertekad untuk tidak berkelahi lagi, bahkan tidak mau melatih ilmunya lagi. Ia meletakkan Auyang Hou di tanah, lalu bersiap-siap menghadapi lawan yang mengaku "sudah ada ribuan tahun yang lalu" itu.

Ok Cui-liong tiba-tiba menyerang. Sebun Beng mengelak dengan menunduk, tetapi tangkai senjata lawannya berputar sangat cepat dan menghantam pundak Sebun Beng begitu keras sehingga Sebun Beng terkapar ke samping. Begitulah, Sebun Beng, pendekar tangguh kebanggaan Kota Lok-yang yang namanya sejajar dengan nama Tong Gin-yan ketua Hwe-liong-pang, sekarang di luar dugaan dirobohkan dalam dua gebrakan saja.

Sebun Beng terkejut dan berkeringat dingin, mengawasi lawannya yang melangkah mendekat. Mengatasi rasa sakit di pundaknya, dia berusaha bangkit, dia tidak mau tetap berbaring saja dan membiarkan lawannya memotong tubuhnya pelan-pelan. Tetapi ketika itulah Sebun Beng mendengar suara lembut dalam jiwanya sendirilah, "Tetaplah berbaring."

Pikiran Sebun Beng jadi kacau, terpecah dua. Tetapi suara itu rasanya adalah suara yang juga berbisik kepadanya tadi ketika menghadapi gelombang-gelombang palsu. Sementara lawannya yang mengerikan itu semakin dekat, dan Sebun Beng belum memutuskan akan menurut bisikan lembut dalam jiwanya itu atau tidak.

Ketika musuh lebih dekat lagi, Sebun Beng tidak berani berlambat-lambat lagi. Dengan menahan rasa sakit di pundaknya, dia melompat bangkit, tidak menuruti anjuran suara yang lembut dalam jiwanya tadi. Baru saja Sebun Beng berdiri, senjata lawannya telah menyapu kakinya begitu cepat, sehingga Sebun Beng rebah kembali, bahkan kakinya terluka karena kali ini ia kena sedikit bagian yang tajam dari senjata Hong-pian-jan lawannya.

Begitulah, pendekar kebanggaan kota Lok-yang itu dipermainkan seolah anak kecil yang baru mulai belajar silat saja. Orang-orang Lok-yang yang begitu menghormat Sebun Beng, barangkali akan sulit mempercayai kalau diberitahu peristiwa itu. Kembali suara lembut dalam jiwa Sebun beng itu bersuara lagi, "Tetaplah berbaring, jangan melawan...."

Sebun Beng tetap berbaring, namun disebabkan bukan karena menuruti bisikan hati itu, melainkan karena kakinya sakit, ia bahkan masih punya pikiran akan melakukan perlawanan sambil bergulingan di tanah. Saat itulah tiba-tiba terdengar bentakan, "He, mau kau apakan Pamanku?"

Ok Cui-liong menghentikan langkah dan menoleh ke asal suara itu. Sedangkan Sebun Beng tanpa melihat pun, karena ia terbaring di antara ilalang-ilalang yang tingginya hampir satu meter, hanya dengan mendengarkan suaranya pun sudah tahu kalau yang datang itu Liu Yok. Seandainya Sebun Beng belum punya pengalaman-pengalaman aneh dengan Liu Yok, pastilah ia akan cemas memikirkan Liu Yok kalau sampai berhadapan dengan mahluk ganas Ok Cui-Iiong itu.

Tetapi entah kenapa, hati Sebun Beng kali ini merasa tenteram. Terbukti banyak siasat gaib Pek-lian-kau menjadi berantakan oleh Liu Yok, padahal sering Liu Yok sendiri tidak menyadarinya. Seperti sudah kodratnya saja, kalau api bertemu air tentu harus padam. Tidak perlu sang air "menyadari"nya.

Ok Cui-liong menghadapi Liu Yok kini, sikapnya nampak agak gentar, tanpa dia ketahui sendiri apa yang menyebabkan gentar. Dengan susah-payah Sebun Beng berdiri, dan ia sendiri pun heran melihat Liu Yok begitu anggun, malahan tubuhnya samar-samar memancarkan seperti cahaya yang lembut.

"Siapa kau?" bentak Ok Cui-liong.

"Keponakannya," sahut Liu Yok sambil menunjuk Sebun Beng.

"Jadi kau manusia juga?”

Pertanyaan ganjil, namun Liu Yok menjawab juga, "Ya jelas manusia. Keponakan manusia masa kucing?"

"Selama kau masih disebut manusia, terbelenggu dalam kelemahan darah daging, jangan harap bisa melawanku. Meskipun dalam tubuh kasar ini usiaku belum lebih dari empat puluh tahun, tetapi sebelumnya aku sudah mengarungi abad-abad sejarah yang ribuan tahun jumlahnya. Aku melihat ketika bumi ini dibentuk, aku melihat bangkitnya dan jatuhnya raja-raja purba di seluruh permukaan bumi."

Tukas Liu Yok tajam, "Dan tentunya kau juga melihat ketika manusia dilantik sebagai rajanya segala mahluk? Segala mahluk, termasuk mahluk-mahluk semacam kau?"

Suara Ok Cui-liong meninggi karena panas hati, "Ya, aku melihat! Tetapi nenek moyangmu yang goblok itu telah menggadaikan keturunannya kepada bumi, sehingga manusia bukan lagi yang paling berkuasa di bumi, melainkan kami! Kuasa dan kedudukan itu sudah digadaikannya kepada kami demi sebutir buah yang menggilirkan!"

Tetapi Liu Yok menjawab dengan tenang, tanpa ikut terlarut dalam arus perasaan lawannya. "Tetapi, kalau kau mengaku sudah hidup ribuan tahun, tentunya kau mengalami sendiri dan menyaksikan bagaimana kalimat itu memasuki sejarah manusia dalam tubuh manusiawinya dan mengorbankan diri untuk mematahkan perjanjian gadai, demi memulihkan kedudukan manusia."

"Tutup mulutmu!" tiba-tiba Ok Cui-Hong memekik gusar. "Jangan sebut-sebut itu lagi!"

"Di dalam hak-hak yang dia rebut bagikulah sekarang aku menghadapimu, mahluk durhaka!" suara Liu Yok tiba-tiba menjadi keras juga, sehingga Sebun beng sendiri hampir-hampir tidak percaya kalau itu adalah keponakannya yang biasanya lemah lembut dan ramah. Kata Liu Yok pula. "Untuk mengingatkan kembali bahwa kerajaanmu sudah runtuh. Kau sudah dikalahkan.!"

Dengan gusar Ok Cui-liong melontarkan senjata Hong-pian-jannya seperti orang melempar lembing. Sebun Beng terkesiap ketika melihat keponakannya tidak menghindar, menyongsong senjata itu dengan dadanya. "A-yok!" teriaknya.

Tetapi Sebun Beng melongo melihat senjata itu menembusi tubuh Liu Yok dan terus meluncur dan jatuh ke belakang Liu Yok, tetapi Liu Yok sendiri tidak apa-apa. Tubuhnya seperti asap saja, bisa ditembusi benda-benda kasar tanpa terpengaruh.

Ok Cui-liong sendiri nampaknya tidak terlalu kaget menghadapi kenyataan itu. Tiba-tiba kedua tangannya seperti meraih ke langit, seperti mengambil sesuatu dari atas lemari yang tinggi, namun di sini yang ada di depannya bukan lemari melainkan hanya udara kosong. Dan ketika tangannya turun kembali, tahu-tahu di tangannya sudah terpegang kembali sebatang Hong-pian-jan yang baru, seperti yang sudah dilemparkannya kepada Liu Yok tadi.

"He-he-he, manusia, cobalah sekarang hadapi senjataku ini." Ok Cui-liong terkekeh-kekeh mengancam sambil melangkah maju.

Kali ini Liu Yok nampak waspada melihat ke senjata di tangan Ok Cui-liong itu. Tetapi Liu Yok bukannya mundur, malah maju selangkah. Dan ketika maju itulah Liu Yok pun berubah. Tiba-tiba saja Sebun Beng melihat Liu Yok sudah mengenakan perlengkapan perang entah darimana datangnya, tiba-tiba saja sudah menempel di tubuhnya. Datangnya benda-benda itu tak ubahnya dengan munculnya senjata yang dipegangi oleh Ok Cui-liong sekarang. Liu Yok kini mengenakan topi besi, baju bersisik besi, dengan perisai di tangan kiri dan pedang yang menyala di tangan kanan.

Sebun Beng yang menyaksikannya diam-diam menarik napas. Pertempuran yang bakal disaksikannya itu bukanlah pertempuran yang terjadi di dunia materi yang kasar, melainkan pertempuran di dunia gaib. Sebun Beng heran juga kepada dirinya sendiri, kenapa mata jasmani-nya bisa menyaksikannya? Apakah dirinya pun sudah menjadi "orang halus"? Sebun Beng tidak dapat menjawabnya.

Sekarang kelihatan mata Ok Cui-liong lah yang gentar menatap pedang yang menyala di tangan Liu Yok itu. Kedua orang itu kemudian bertempur hebat. Sebun Beng yang menyaksikannya tidak dapat mengenali gerak-gerak silat dari keduanya, tapi mereka bertempur lebih dahsyat dari pesilat-pesilat paling ulung yang pernah ditemui Sebun Beng sekalipun.

Dan Sebun Beng tidak mau membiarkan otaknya menjadi pecah berantakan karena memikirkan kenapa Liu Yok yang biasanya sangat lemah itu sekarang berkelahi begitu hebat. Tandangnya seperti singa yang hendak menerkam dan merobek-robek lawannya, kadang-kadang melompat seperti seekor burung rajawali yang menerkam dari udara.

Ok Cui-liong juga melawan dengan hebat. Serangannya bertubi-tubi dan bergelombang, bukan hanya Hong-pian-jan-nya tetapi kadang- kadang mulutnya juga berdesis danmenyemburkan uap putih. Seringkali uap hitamnya itu begitu teal menyelebungi gelanggang, sehingga kedua orang yang bertempur itu seolah-olah berkelahi di atas mega-mega hitam.

Sebun Beng agak mencemaskan Liu Yok, tetapi makin lama memperhatikan pertempuran itu, makin tenanglah hatinya. Entah kenapa, ada keyakinan kuat dalam dirinya bahwa Liu Yok takkan kalah. Perkelahian itu kelihatannya semakin menghebat, sampai Sebun Beng sendiri sebagai seorang jagoan tingkat tinggi pun pusing melihat gerakan-gerakan mereka.

Makin lama juga makin terlihat kalau Ok Cui-liong gentar kepada pedang yang menyala ditangan Liu Yok itu. Setiap kali pedang itu bergerak, Ok Cui-liong berusaha menjauhinya. Hati Sebun Beng pun melonjak dan mekar dalam kebanggaan, ketika melihat keponakannya mulai berhasil mendesak lawannya. Lawan yang tadi bahkan membuat Sebun Beng sendiri jungkir-balik dengan gampang.

Ok Cui-liong bertambah-tambah gusarnya, namun tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa ia memang harus kalah. Tiba-tiba saja Ok Cui-liong melompat mundur, dan lenyap begitu saja. Dalam, pemandangan Sebun Beng yang hasil melihat dengan mata jasmaninya, Cui-liong seperti memasuki sebuah pintu, yang tak terlihat dan menghilang dibalik "pintu" itu.

Dan Liu Yok menyusulnya dengan berani, sehingga menghilang pula. Tinggal Sebun Beng sendirian, ditemani Auyang Hou yang masih tergeletak tak sadarkan diri di dekatnya, dan ribuan helai batang ilalang yang bergelombang damai diguncang angin yang lembut, seolah di tempat tidak pernah terjadi apa-apa.

Terpincang-pincang Sebun Beng mendekati Auyang Hou, memanggul kembali tubuh itu dan melangkah melanjutkan kakinya sudah terluka oleh senjata Hong-pian-jan Ok Cui-iong tadi. Tetapi bagaimana pun dia harus pulang, maka sambil mempersiapkan mentalnya dia pun melangkah terus. Jiwanya sudah siap, seandainya terjadi yang "aneh-aneh" maka pikirannya akan dijaganya, seperti pengalamannya di "Gerbang Air" tadi.

Ternyata setelah ia melangkah sampai belasan tindak melewati batas "Gerbang Tanah" itu, tidak terjadi apa pun sehingga Sebun Beng jadi heran. Tetapi ia terus melangkah waspada. Mendadak sayup-sayup ia mendengar suara pertempuran di kejauhan. Ketika ia mempertajam kupingnya, segera diketahuinya kalau suara pertempuran itu asalnya dari beberapa tempat. Ada yang dari Puncak In-hong, ada yang dari lereng sebelah utara dan timur. Bahkan yang dari lereng utara dan timur itu bercampuran dengan bunyi ledakan senapan.

"Apakah Wan Lui mengerahkan pasukan untuk menggempur Pek-lian-kau?" pikir Sebun Beng cemas. "Kalau begitu, sungguh berbahaya posisi Nona Sun yang masih ditawan oleh kawanan penyembah setan itu. Orang-orang Pek-lian-kau bisa menjadi kalap dan membunuh Nona Sun."

Sudah tentu Sebun Beng tidak menyangka kalau bentrokan itu terjadi antara orang-orang Pek-lian-kau sendiri yang berebutan kekuasaan. Wilayah yang seharusnya menjadi tempat "Barisan Tanah" dapat dilewati tanpa mengalami apa-apa oleh Sebun Beng. Toh ia ragu-ragu juga ketika di depannya terpancang lagi patok kayu dengan bendera hijau bertuliskan "Barisan Kayu".

Kembali Sebun Beng tidak mengalami apa-apa, dan ketika ia melewati panggung kecil yang terlihat dari kejauhan itu, ia berhenti untuk memperhatikannya. Itulah panggung tanpa dinding yang biasa dibangun oleh orang-orang yang mempraktekkan ilmu gaib. Di atas lantai panggung ada meja yang di atasnya tertaruh lima patung dewa berwajah seram. Didepannya penuh barang sesajian.

Di sekitar panggung ada bendera-bendera gaib beraneka warna dengan huruf-huruf mantera di atasnya. Yang mengerikan Sebun Beng ialah ketika melihat bahwa pada tiang-tiang bendera itu, masing-masing digantungi.... kepala manusia! Kepala itu sudah menyiarkan bau bacin, bahkan ada yang kulitnya sudah agak mengelupas. Sebun Beng menahan rasa mualnya, mengutuk dalam hati akan segala ilmu gaib Pek-lian-kau yang selalu makan korban itu.

Namun di samping rasa mual dan ngerinya, Sebun Beng juga gusar. Ia tidak tahu siapa orang-orang yang diambil kepalanya itu, tapi bagaimanapun juga itu adalah perbuatan biadab. Terdorong rasa marahnya itulah Sebun Beng lalu meletakkan tubuh Auyang Hou. Kemudian naik ke atas panggung itu dan mengambil lilin dari meja sesajian itu, dan mulai membakar panggung itu.

Sambil menatap panggung yang menyala itu, Sebun Beng bergurnarn, "Terkutuklah mahluk dari mana pun juga, meskipun itu dewa-dewa, yang memperlakukan manusia sebagai ciptaan tertinggi dengan cara sebiadab ini."

Sebun Beng lalu menggendong kembali Auyang Hou dan meneruskan langkahnya. Kembali ia melewati "Barisan Api" dan "Barisan Angin" yang ternyata tidak ada apa-apanya. Bahkan penjaganya pun tidak ada. Sebun Beng tidak sadar, bahwa tindakannya membakar panggung itu amat membantu Liu Yok yang sedang melawan Ngo-kui-seng (Lima Bintang Setan) sekaligus.

Namun ketika Sebun Beng tiba di tempat yang aman, yang ditemuinya adalah Liu Yok yang sedang tidur nyenyak di dekat perapian, berbantal sebuah batu. Sun Cu-kiok duduk terjaga di dekatnya, dengan wajah kerapkali menatap mesra ke arah Liu Yok.

Ketika mendengar langkah-langkah Sebun Beng yang mendekat, Sun Cu-kiomewaspadakan diri kk arena tempat itu tidak jauh dari kaki Bukit In-hong. Namun ia menghembuskan napas lega ketika melihat yang datang itu adalah Sebun Beng sambil memanggul seseorang. Suara langkah Sebun Beng berkecipak ketika menyeberangi sungai yang airnya setinggi sejengkal itu.

"Paman!" Sun Cu-kiok berdiri menyongsong.

Sebun Beng menatap Liu Yok. Liu Yok yang dalam pakaian sederhana, bukan Liu Yok yang tubuhnya bercahaya dan memakai pakaian perang dan bertempur dengan gagah perkasa melawan siluman tadi. “Sudah lama A-yok tidur?" tanya Sebun.

"Sejak sore tadi” Katanya ada sesuatu yang sangat menekan hatinya, dan pelariannya dari tekanan perasaan itu adalah Tong-hwe Tojin, menunjukkan bahwa Liu Yok sering berada di luar raganya ketika sedang tidur, dan melakukan tindakan-tindakan yang hebat. Begitu pula kali ini, agaknya, sudah menolong Sebun Beng "lewat tidurnya".

Pantas kalau sementara orang Pek-lian-kau Utara mengatakan Liu Yok adalah lawan yang jauh lebih berbahaya sewaktu sedang tidur pulas daripada kalau sedang melek. Kebalikan dari orang lain, lebih berbahaya waktu melek daripada tidur.

Ketika melihat tubuh Auyang Hou diletakkan, hati Sun Cu-kiok bergolak. Campuran antara kemarahan dan kasihan. Marah karena teringat betapa Auyang Hou pernah mengguna-gunainya untuk membuat Sun Cu-kiok melupakan rasa malunya terhadap Liu Yok. Suatu peristiwa yang oleh Sun Cu-kiok dirasakan amat memukul martabatnya. Mengingat itu, ingin rasanya Sun Cu-kiok menumpukkan kayu-kayu yang menyala itu ke atas tubuh Auyang Hou.

Tetapi melihat wajah Auyang Hou yang pucat, matanya yang terpejam dan napasnya yang lambat, Sun Cu-kiok jadi kasihan juga. Apalagi kalau mengingat bahwa Auyang Hou adalah Adik tiri Liu Yok, calon suaminya, dan Auyang Hou melakukan semua itu karena pikirannya sudah dipengaruhi Hui-heng-si (Mayat Terbang) Nyo Jiok melalaui ilmu gaibnya.

"Aku harus belajar berbelas kasihan, seperti Kakak Yok. Ternyata dengan berbelas kasih bukannya mengakibatkan kelemahan diri, malah menghasilkan kekuatan jiwa yang dahsyat, yang bahkan Itidak bisa dimengerti oleh jagoan-jagoan sekaliber Sebun Beng, Wan Lui, Mo Hwe dan sebagainya.

Bahkan orang-orang Pek-lian-kau lebih takut kepada Liu Yok, daripada kepada Sebun Beng yang merupakan jagoan kebanggaan Propinsi Ho-lam atau Wan Lui merupakan jenderal "spesialis" menumpas Pek-lian-kau. Padahal Liu Yok tidak bisa silat sejurus pun.

Berpikir demikian menjadikan Sun Cu-kiok lebih mudah memaafkan Auyang Hou. Ia lalu bertanya kepada Sebun Beng, "Bagaimana keadaannya, Paman?"

Sebun Beng memijit-mijit Auyang Hou sambil menjawab prihatin, "Terlalu lama tubuhnya yang sebenarnya tidak terlatih ini dihuni kekuatan-kekuatan dari luar dirinya, sehingga ketika kekuatan-kekuatan itu pergi meninggalkannya, tubuhnya kembali menjadi sangat lemah, bahkan mungkin ada kerusakan-kerusakan di dalam tubuhnya."

Kali ini Sun Cu-kiok benar-benar merasa iba dari lubuk hatinya, tidak lagi sekedar berbasa-basi karena sungkan kepada Sebun Beng. Sementara Sebun Beng dengan geram mencopoti caping dan mantel Auyang Hou untuk dilempar ke dalam api. Kedua benda itu segera menjadi abu.

"Paman, apakah bertemu dengan Jenderal Wan?"

"Kami berjalan bersama-sama hanya sampai di kaki puncak, setelah itu kami berpencaran. Aku mencari Auyang Hou, dan Wan Lui akan mencari tempat disekapnya Nona Sun Pek-lian. Sejak itu kami belum bertemu lagi."

Wajah Sun Cu-kiok menjadi gelisah. Sebun Beng mengerti apa yang dipikirkan Sun Cu-kiok, lalu menghiburnya, “Jangan gelisah, Nona, sekarang ini tengah malam pun belum. Lagjpula Wan Lui itu punya pengalaman berurusan dengan Pek-lian-kau."

Sebun Beng menghibur orang, namun hatinya sendiri juga gelisah. Ia cuma berharap Wan Lui dengan menggunakan pengalaman dan ketangkasannya akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kemudian dengan dibantu Sun Cu-kiok, Sebun Beng membersihkan dari membalut luka di kakinya akibat kena senjata Hong-pian-jan Ok Cui-iiong tadi.

Ketika itulah Liu Yok menggeliat bangun dari tidurnya, menggosok-gosok matanya, lalu tanpa disuruh menyambar sisa daging panggang bakaran Sun Cu-kiok dan melahapnya. Sebun Beng teringat pengalamannya tadi, dan dengan belajar dari peristiwa yang dialami dengan Tong-hwe Tojin dulu, Sebun Beng pun berkata, "Tanpa kau ceritakan, A-yok, aku dapat menebak apa yang kau impikan."

Liu Yok hanya menoleh tanpa menjawab, sebab mulutnya sedang mengunyah daging bakarnya. Sun Cu-kioklah yang bertanya, "Apa yang Paman ketahui?"

"A-yok pastilah bermimpi berkelahi dengan seorang manusia jadi-jadian yang botak, di tengah-tengah kepalanya ada tanduk kecilnya, bersenjata Hong-pian-jan."

Liu Yok melempar tulang yang dagingnya sudah habis digerogoti, dan di luar dugaan Sebun Beng, dia menjawab, "Kali ini Paman keliru. Aku memang berkelahi, tetapi bukan dengan manusia. Tetapi dengan lima jenis hewan."

"Lima jenis hewan?"

"Ya. Pertama aku berkelahi dengan seekor naga besar bertanduk satu yang muncul dari air. Lalu dia melarikan diri dan aku kejar, tapi datanglah kawannya, seekor kura-kura raksasa yang muncul dari bumi. Karena mereka berdua pun aku kalahkan, muncul lagi seekor harimau berjidat putih dari hutan, seekor naga yang lain tetapi munculnya bukan dari air melainkan dari dalam api, dan hewan ke lima ialah seekor burung besar."

"Bagaimana akhirnya?"

"Syukurlah, aku diberi kekuatan untuk menang. Aku berhasil melemparkan hewan-hewan itu ke dalam sebuah lubang besar hitam di bumi..."

Pikir Sebun Beng, "Ternyata penglihatanku dan penglihatannya berbeda. Dia melihatnya lewat alam tak sadarnya. Sedangkan aku melalui mata jasmaniku." Segala keanehan itu tidak lagi diperikan, mereka sudah biasa, bahkan Cu-kiok juga mulai biasa. Malahan ini terasa aneh kalau sehari saja berkumpul dengan Liu Yok namun tidak terjadi hal-hal yang di luar akal.

"Nah, habis makan tidurlah lagi." perintah Sun Cu-kiok tiba-tiba.

Liu Yok tercengang, "Tidak mengantuk kok disuruh tidur?"

"Ya supaya manusia bawah sadarmu bisa naik ke Puncak In-hong untuk membantu Jenderal Wan membebaskan Adikku. Jenderal Wan butuh bantuan dalam mengatasi ilmu-ilmu gaib Pek-lian-kau."

Tetapi Liu Yok menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab, "Tidak mungkin seorang prajurit bisa berbuat semaunya tanpa perintah Panglimanya."

"Aku tidak bicara tentang prajurit, aku bicara tentang kau, Kakak Yok. Tidurlah supaya manusia bawah sadarmu yang hebat itu bisa keluar dari tubuhmu dan membantu Jenderal Wan menyelamatkan Adikku. Kau diperlukan di luar ragamu untuk menghadapi siluman- siluman peliharaan Pek-lian-kau yang tidak mungkin dihadapi dengan tubuh kasar."

Namun Liu Yok tetap menggelengkan kepalanya, "Tubuh bawah sadarku tidak aku kuasai menurut kehendakku sendiri, melainkan menurut kehendak-Nya. Itulah sebabnya aku katakan diriku sebagai prajurit, yang tidak berkuasa atas dirinya sendiri melainkan harus patuh dibawa ke mana pun oleh Panglimanya. Itulah sebabnya pula meskipun setiap malam aku tidur, tetapi tidak setiap malam tubuh bawah sadarku melakukan perbuatan-perbuatan di tempat lain."

“Tetapi kenapa ada orang yang bisa melakukan sesuka hatinya sendiri. Kapan saja dia mau, dia tinggal bersemedi dan tubuh halusnya keluar berjalan-jalan ke tempat lain meninggalkan tubuh kasarnya?"

"Aku tidak mau menghakimi orang seperti itu, tetapi aku tahu bahwa Sang Pencipta tidak memberikan kemampuan seperti itu kepada orang-orang yang mematuhi-Nya. Kalau seseorang sampai melakukan sesuatu di luar tubuh, seperti aku, itu harus dalam pimpinan-Nya. Kalau dilakukan sesuka hati, meskipun bisa, itu tidak berkenan kepada-Nya. Aku memilih untuk patuh."

Sun Cu-kiok mencoba mengerti penjelasan Liu Yok itu, tetapi perasaannya bergolak memikirkan keselamatan adiknya, saudara satu-satunya. Liu Yok menggenggam telapak tangan gadis itu dan menguatkan hatinya,

“Jangan gelisah, Adik Kiok. Yang Maha Kuasa punya seribu satu jalan untuk menyelamatkan manusia, jalan-jalan yang kadang-kadang tidak kita ketahui.

Namun pikiran Sun Cu-kiok beranjak jauh dari cara tubuh melakukan pekerjaan di luar tubuh kasar belum halus sehingga ia masih saja gelisah.

Perhatian Liu Yok kemudian beralih kepada Auyang Hou. Didekatinya adiknya, wajahnya terharu. Diraba-rabanya tubuh Auyang Hou sambil berdesis, "Kau akan sembuh, A-hou. Kau akan sembuh."

Sementara Sebun Beng berkata, "Rasanya aku harus menyelidiki lagi ke puncak gunung, siapa tahu Wan Lui butuh bantuan." Rupanya dia pun mencemaskan menantunya itu.

"Luka di kaki Paman?"

"Tidak jadi soal. Setelah dibalut, luka ini tidak mengganggu lagi."

"Perkenankan aku ikut, Paman." kata Sun Cu-kiok.

Lalu Sebun Beng dan Sun Cu-kiok memandang Liu Yok setelah minta ijin. Liu Yok pun menjawab, "Biar aku jaga A-hou di sini. Paman dan Adik Kiok, berhati-hatilah."

Sejak Liu Yok sembuh dari kakinya lalu saling menyatakan isi hati dengan Sun Cu-kiok, mereka pun tidak lagi memanggil dengan "Nona Sun" dan saudara Liu" melainkan sudah diubah enjadi "Adik Kiok" dan "Kakak Yok".

Sebun Beng dan Sun Cu-kiok pun meninggalkan tempat itu, kembali ke puncak In-hong yang menghitam di kejauhan. Ketika langkah Sebun Beng dan Sun Cu-kiok sudah tiba di kaki puncak, Sun Cu-kiok melihat ke atas puncak sambil berkata, "Paman, lihat!"

Di pinggang gunung nampak titik-titik cahaya seperti kunang-kunang yang beriring-iringan bergerak naik. Itulah cahaya obor dalam jumlah banyak. Sayup-sayup di malam sunyi itu terdengar pula suara pertempuran, dan suara bedil-sundut menggema di dinding-dinding pegunungan.

"Mungkin Jenderal Wan diam-diam mengerahkan pasukan tanpa setahu kita?" tanya Sun Cu-kiok cemas.

"Kita lihat saja ke atas, Nona..." Sebun Beng tidak tahu, bahwa suara letusan bedil-sundut itu bukannya karena Wan Lui mengerahkan pasukan, melainkan adalah orang-orang Pek-lian-kau Selatan alias Golongan Lam-cong yang oleh Nyo Jiok dipinjam tenaganya untuk mendongkel kakak seperguruannya sendiri yang menjadi ketua Golongan Pak-cong.

Bukan itu saja, Nyo Jiok juga "dipinjami" sekelompok Ninja oleh sebuah komplotan dari dalam istana, sebuah komplotan yang mengaku "meskipun berada dalam istana Kaisar Manchu namun diam-diam bersimpati kepada perjuangan Pek-lian-kau dalam memulihkan dinasti Beng". Tentu saja komplotan rahasia dari istana itu punya pamrih tersendiri yang belum dikatakannya kepada Nyo Jiok.

Karena datangnya kekuatan-kekuatan dari luar itulah maka pengikut-pengikut yang setia membela kedudukan Mo Hwe sebagai ketua golongan utara yang syah menjadi makin terdesak. Pertempuran di lereng-lereng In-hong sendiri sudah kelihatan kalau pengikut-pengikut Mo Hwe makin banyak terbunuh. Pengikut-pengikut Nyo Jiok yang bercampur dengan orang-orang Lam-cong serta beberapa Ninja "pinjaman" dari komplotan rahasia dalam istana semakin menguasai seluruh gelanggang.

Belum lagi orang-orang Lam-cong yang di bawah gunung sudah mencoba merangsak ke atas. Mula-mula Mao Pin Si Siluman Gagak Hitam dengan sejumlah orang-orang yang setia kepada Mo Hwe mencoba membendung serbuan mereka. Dengan cara biasa maupun dengan cara gaib.

Tapi biarpun "saudara-saudara dari selatan" itu tidak terlalu tekun lagi mempelajari hal-hal gaib, malam ini mereka punya persiapan cukup untuk menghadapi perkara-perkara gaib dari "saudara-saudara dari utara" mereka, sehingga rintangan-rintangan gaib pengikut-pengikut Mo Hwe tidak banyak berarti. Orang-orang Lam-cong itu tidak bingung menghadapi bonek-boneka rumput yang bisa ikut bertempur, mereka tahu cara memunahkannya sebab dasar ilmunya memang sama.

Orang-orang Lam-cong juga tidak gentar meskipun lawan-lawan mereka dapat membuat pemandangan, pemandangan semu seolah-olah ada banjir api atau tanah longsor, atau balikar binatang-binatang buas yang bermuncullan dari mana-mana, sebab di antara tokoh-tokoh Lam-cong sendiri juga ada yang bisa berbuat sama.

Di pihak pengikut-pengikut Mo Hwe menjadi kewalahan ketika "saudara-saudara dari selatan" mereka itu mengeluarkan benda-benda yang sama sekali tidak gaib namun susah benar dihadapinya. Senjata senjata api, meskipun di abad 18 itu senjata apinya masih memakai sumbu dan setiap kali diisi hanya bisa ditembakkan satu kali.

Selama berpuluh tahun memang Pek-lian-kau Selatan tidak tekun mendalami ilmu-ilmu gaib seperti rekan-rekan mereka di utara, tetapi mereka tekun mendalami hal lain. Mereka menjadi sindikat bawah tanah yang punya jaringan luas penghasilan tinggi dari berbagai sumber seperti menyelenggarakan rumah pelacuran, rumah judi, menyediakan "tenaga keamanan, menculik dan memeras orang kaya dan sebagainya. Bahkan salah satu bisnis besar mereka belakangan hari adalah berdagang candu dengan penyelundup-penyelundup kulit putih.

Dari hasil kekayaan yang demikian, Pek-lian-kau Selatan berhasil memiliki puluhan ribu pucuk senjata api yang kelak akan digunakan untuk membangun kembali dinasti Beng. Dan kini, sebelum "membangun dinasti Beng" mereka lebih dulu "memberi pelajaran" kepada "saudara-saudara dari utara" untuk membuat utuh kembali Pek-lian-kau, tidak lagi terpecah Utara dan Selatan.

Begitulah, pertempuran di lereng timur dan utara itu sekarang "dimeriahkan" tidak hanya bunyi senjata-senjata tajam yang beradu, melainkan juga bunyi bedil-sundut yang beruntun. Pihak Lam-cong mengirim ratusan anggota terlatihnya ke Puncak In-hong untuk membantu Nyo Jiok.

Beberapa tokoh yang berilmu gaib memang berhasil membuat kebal kulit mereka biarpun terhantam peluru, tetapi anak buah yang kebanyakan bertumbangan ditembus peluru. Sedangkan tokoh-tokoh yang kebal dan tidak takut peluru itu pun ternyata juga ketakutan menghadapi ujung-ujung senjata tajam biasa yang sudah lebih dulu dicelup darah hewan-hewan berbulu hitam.

Pimpinan penyerbuan dari pihak Lam-cong ialah seorang lelaki kekar bersenjata sepasang tongkat besi. Kepalanya memakai ikat kepala sutera merah yang di bagian depannya dibentuk menjadi bunga-bungaan, untuk menunjukkan pangkatnya yang cukup tinggi di lingkungan Pek-iian-kau Selatan, yaitu Tau-siang-hoa (Bunga di Atas Kepala). Namanya Bun Long-po, tetapi orang-orang lebih mengenalnya sebagai Bun Tiat-pang (Bun Si Tongkat Maut).

Bun Si Tongkat maut ini sudah puluhan jurus bertempur melawan Gagak Hitam Mao Pin tanpa ketentuan siapa yang bakal menang atau kalah. Sepasang tongkat besi Bun Jiat-pang berkelebatan saling menyambar dengan sepasang pedang Moa Pin.

Sebenarnya ketangkasan kedua tokoh Pek- Iian-kau dari selatan dan utara itu seimbang. Tapi Mao Pin harus bertempur sambil mundur terus ke ,atas gunung, mengikuti gerak mundur orang-orangnya yang terus-menerus berkurang dengan cepat karena dibabat peluru orang- orang Lam-cong.

Sambil mecangsek bertubi-tubi, Bun Jiat-pang jago muda membujuk, "Hentikan saja perlawananmu, Saudara Mao. Kita ini kan seperjuangan, buat apa saling bantai? Biarpun pihakku unggul, tetapi kami sebenarnya tidak tega juga bertindak keras kepada saudara-saudara kami dari utara...."

Sementara mulutnya bilang “tidak tega" maka orang-orangnya terus saja menerjang dengan senjata api maupun senjata tajam.

Mao Pin gusar bukan kepalang mendengar kata-kata yang berbeda jauh dari kenyataan itu, sahutnya samb.ltems melawan, "He-he-he, tidakkah malu menyebut dirimu sendiri sebagai saudara seperjuangan? Sedangkan malam ini kalian menunjukkan muka asli kalian yang jahat, kalian tidak segan-segan meminjam kekuatan dari luar untuk membantai orang-orang yang kalian sebut saudara seperjuangan?"

"Ini kan bukan kesalahan pihak kami? Ini gara-gara sikap keras kepala dari pimpinan si Serigala jadi-jadian itu. Seandainya dia mau menerima tawaran dari Lam-cong untuk bergabung kembali, sehingga Pek-lian-kau menjadi bersatu kembali dan kuat, tentu takkan terjadi seperti ini. Dasar Mo Hwe yang serakah dengan kedudukannya."

"Kalianlah yang serakah, ingin mengangkangi kami dari golongan Utara. Dan karena kami tidak sudi mengikuti kemauan kalian, kalian tega berbuat begini."

"Dibilang baik-baik kok malah ngamuk, bukan salahku kalau kau malam ini jadi bangkai."

Sementara itu, keadaan anak buah Mao Pin bertambah sulit. Selain jumlah mereka makin sedikit, mereka juga mulai masuk tempat yang sedikit pepohonannya sehingga makin mudahlah mereka mejadi mangsa peluru orang-orang Lam-cong.

Sambil bertempur sengit menghadapi Bun Jiat-pang, Mao Pin coba mengobarkan semangat orang-orangnya, "Bertahan terus, jangan gentar! Roh-roh dinasti Beng di pihak kita!"

Bun Jiat-pang tertawa, "Kami dari selatan lah yang akan berhasil dalam perjuangan menegakkan dinasti Beng, bukan kalian! Sejarah akan membuktikannya, kami punya puluhan ribu laskar terlatih dengan senjata api! Karena itu, Saudara-saudara dari utara, menyerahlah dan bergabunglah dengan kami! Kami bukan orang lain! Kami tetap Pek-lian-kau seperti kalian juga!"

Tetapi pengikut-pengikut Mao Pin tetap gigih bertahan. Sebenarnya ada juga beberapa orang yang sudah kehilangan semangat, inginnya menyerah saja, tetapi mereka takut kena marah dari pimpinan-pimpinan mereka. Kalau cuma dimarahi tidak apa-apa, yang ditakuti ialah kalau diteluh menjadi gila seumur hidup, itulah yang lebih ditakuti mereka melebihi kematian.

Mao Pin sekarang tidak sekedar bertempur dengan silat saja, tapi mulai dibantu Ilmu gaibnya, meskipun sadar bahwa Bun Jiat-pang sebagai sesama orang Pek-lian-kau takkan kaget. Namun Mao Pin sudah bertekad menggunakan seluruh ilmunya. Begitulah ia mulai membaca manteranya...

Selanjutnya,