X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 10

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api Episode Sekte Teratai Putih Jilid 10 Karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 10

Karya : Stevanus S P

AUYANG HOU bangun pagi dengan wajah pucat dan sikap lesu, sehingga Liu Yok bertanya, "Kenapa dengan dirimu, A-hou? Apakah sakit?"

Auyang Hou cuma menggeleng. Ia tidak sakit, hanya semalam tidurnya sangat gelisah sebab didatangi mimpi-mimpi yang menakutkan. Dan sekarang ketika ia bangun, ia merasa bagian belakang kepalanya berdenyut-denyut.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Liu Yok lalu berkata dengan penuh kasih sayang, "Jangan mengingkari keadaan tubuhmu, A-hou, itu tidak baik. Kalau sakit, bilang saja kepada Paman, pasti Paman akan menunda keberangkatannya. Paman bukanlah seorang yang tidak mau tahu akan keadaan keponakannya sendiri."

Auyang Hou tidak menjawab, terlalu malas menggerakkan bibirnya untuk menerangkan panjang lebar. Ia hanya menarik selimutnya ke atas sampai sebatas leher.

"Kalau begitu, biarlah aku bicara kepada Paman." kata Liu Yok. Terpincang-pincang ia keluar dari kamar itu.

Cahaya matahari pagi sudah menimpa pucuk-pucuk genteng penginapan di tengah-tengah kota Han-king itu. Orang-orang di penginapan yang akan melanjutkan perjalanan hari itu, sudah melakukan segala persiapannya. Pegawai-pegawai penginapan jadi sibuk menjalankan perintah-perintah mereka.

Ada yang minta makanan, ada yang minta air hangat, minta agar kuda tunggangannya dipasangi pelana dan sebagainya. Para pelayan menjalankannya dengan senang hati demi membayangkan tip yang bekal diterimanya.

Liu Yok mengetuk pintu kamar Pamannya yang bersebelahan dengan kamar yang ditempatinya bersama Auyang Hou. Pamannya membukakan pintu, wajahnya nampak bercahaya dan segar. "Kenapa, A-yok?"

"Paman, A-hou kelihatannya sakit."

Alis Sebun Beng berkerut. "Kenapa? Apakah semalam dia pulang larut, atau kebanyakan minum arak?"

"Tidak, Paman. Ketika berbicara denganku, mulutnya tidak berbau arak."

"Atau berkelahi?"

"Kelihatannya juga tidak. Mukanya mulus, tidak ada bekas-bekas pukulan."

"Ah, ada-ada saja anak itu. Perjalanan kita ke Hong-yang jadi terhambat di kota ini..." gerutu Sebun Beng. "Coba aku lihat dia."

Pagi itu sebenarnya Sebun Beng sudah membungkus bekalnya, siap-siap meninggalkan penginapan itu dan melanjutkan perjalanan. Tetapi berita tentang sakitnya Auyang Hou itu menggoyahkan rencananya. Ketika berdiri di samping pembaringan Auyang Hou, Sebun Beng bertanya, "Apa yang menyebabkanmu sampai seperti ini?"

Terhadap pamannya ini, Auyang Hou tidak berani bersikap acuh tak acuh seperti terhadap Liu Yok. Jawabnya sambil tetap berbaring, "Barangkali aku hanya kelelahan. Paman, setelah berjalan sekian jauh. Lagipula semalam aku sulit tidur."

"Kenapa?"

"Aku hanya gelisah, Paman."

"Apa yang kamu gelisahkan?"

"Tidak apa-apa, Paman. Aku hanya sulit tidur semalam. Kalau aku bisa beristirahat sehari semalam lagi di kota ini, kesehatanku akan pulih, Paman."

Sebun Beng menarik napas, namun kemudian mengangguk-angguk. "Ya, demi pulihnya kesehatanmu."

"Maafkan aku, Paman."

"Ya, tidak apa-apa." Sebun Beng meletakkan telapak tangannya ke jidat Au-yang Hou, membuat Auyang Hou tiba-tiba saja menjerit. Sebun Beng kaget dan buru-buru menarik tangannya, "He, kenapa? Aku hanya menaruh tanganku di jidatmu pelan-pelan, bukan memukul..."

"Ti.... tidak apa-apa, Paman. Tetapi jangan menyentuh tubuhku. Rasanya.... rasanya.... ada yang menolak di dalam tubuhku."

Sebun Beng bertukar pandangan dengan Lui Yok, sama-sama heran akan "penyakit aneh" itu. Hanya dipegang saja kok kesakitan? Tanya Sebun Beng cemas, "Kalau begitu, penyakitmu bukan sekedar karena kelelahan, A-hou. Perlu dipanggilkan tabib."

"Jangan, jangan." cegah Auyang Hou. "Biarkan aku beristirahat sehari ini, Paman, dan aku akan pulih kembali."

"Jangan menganggap enteng penyakitmu sendiri, A-hou. Kalau penyakitmu makin parah dan sampai terjadi apa-apa, bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada Ibumu?"

"Tidak apa-apa, Paman. Yakinlah. Beri aku kesempatan tidur, dan nanti aku akan pulih."

"Baiklah. Kalau nanti habis tidur penyakitmu belum hilang juga, terpaksa kita cari tabib."

Auyang Hou tidak menjawab, cuma menarik selimutnya ke atas sebagai tanda bahwa dia akan mulai tidur. Sebun Beng meninggalkan kamar itu bersama Liu Yok.

Di kamarnya, Sebun Beng mengeluarkan beberapa keping uang untuk diberikan kepada Liu Yok sambil berkata, "Kita tidak tahu apa penyakit adikmu, tetapi kau bisa menjelaskan tanda-tandanya kepada si pemilik toko obat, dan mungkin dia akan tahu obatnya. Pemilik toko obat biasanya cukup tahu juga tentang macam-macam penyakit dan obatnya."

"Paman...." Liu Yok seperti hendak berbicara namun ragu-ragu, sehingga mengherankan Pamannya.

"Kenapa? Apa yang mau kau katakan?"

"Aku ragu kalau penyakit A-hou adalah penyakit biasa."

"Kalau bukan penyakit biasa, terus penyakit apa?"

"Mungkin penyakit bikinan orang Pek-lian-kau."

"Kenapa kamu menduga begitu? Punya bukti?"

"Bukti tidak ada, Paman. Hanya semacam perasaan yang kuat saja, Paman."

Kalau orang lain yang berkata "hanya perasaan" pastilah Sebun Beng tidak akan terlalu menghiraukannya. Namun sekarang Sebun Beng sudah mengenal betapa istimewanya keponakannya yang satu Ini. Keistimewaan yang bahkan sering tidak diketahui oleh Liu Yok sendiri, sedang orang lain yang mengetahuinya pun hanya sekedar mengetahui tetapi tidak akan bisa menjelaskan apa, kenapa dan bagaimananya.

Karena itu Sebun Beng mengangguk-angguk mendengar perkataan Liu Yok itu. Katanya, "Kemungkinan besar begitu. Kota Han-king ini tidak jauh lagi dari Hong-yang, tempat kegiatan rahasia kaum Pek-lian-kau. Mungkin juga mereka sudah tahu siapa kita dan maksud kedatangan kita, dan mereka melakukan penyambutan lebih dulu."

"Paman, siapa orang aneh yang kemarin berbicara dengan Paman di dekat penjual buah-buahan di dermaga itu?"

"Aku tidak pasti. Namun aku menduga dialah Kim-mo-long (Serigala Bulu Emas) Mo Hwe, tokoh nomor satu Pek-lian-kau saat ini."

"Jadi bagaimana sekarang, Paman? Kita belikan obat untuk A-hou atau tidak?"

"Baiklah. Kita cobakan kepada A-hou, siapa tahu dugaan kita tentang kejahilan orang Pek-lian-kau itu keliru, dan A-hou hanyalah sakit biasa. Terangkan gejala-gejalanya kepada si pemilik toko obat, tetapi tidak usah dibumbu- bumbui cerita tentang Pek-lian-kau."

"Baik, Paman."

Dengan langkahnya yang terpincang-pincang, Liu Yok pun keluar dari penginapan itu, langsung ke toko obat, dan cepat-cepat pulang kembali.

"Apa kata si pemilik toko obat?"

"Dia tertawa dan berkata A-hou hanya kelelahan. Dia berikan obat penambah tenaga yang dibuat dari jin-som, itu saja. Katanya obat ini kwalitasnya nomor satu dalam jarak seratus li dari seluruh Han-king ini."

Sebun Beng tertawa, "Omongan tukang obat di mana-mana sama. Selalu mengaku nomor satu."

Liu Yok pun tertawa. "Lalu bagaimana dengan obat ini?"

"Cobalah diseduh menurut petunjuk dan suruh Auyang Hou minum."

Liu Yok lalu minta air panas dan peralatan lain ke dapur penginapan dan menyeduh obat itu semangkuk buat adiknya. Mangkuk berisi seduhan panas itu dibawanya perlahan-lahan ke kamar Au-yang Hou sambil ditiup-tiup permukaannya agar agak dingin. Ternyata Auyang Hou tidak benar-benar tidur. Ia nampak gelisah, jidatnya berkeringat.

"Adik Hou, coba minum dulu obatnya...." kata Liu Yok.

Ternyata Auyang Hou memang tidak tidur. Suara Liu Yok yang lirih itu membuatnya bangun, lalu duduk dan mengusap sendiri keringat di jidatnya. Ketika Liu Yok menyodorkan mangkuk obat. Auyang Hou langsung menenggaknya tanpa banyak bicara, ada sepercik rasa terima kasih terpancar di matanya. Terpercik ke arah Liu Yok.

"Obat apa ini?" tanyanya.

"Untuk menyembuhkan badan. Mungkin kau kelelahan."

"Aku tidak sakit sebenarnya, Kak." Jarang sekali Auyang Hou memanggil Liu Yok dengan sebutan "Kak" seperti itu.

Kini sebutan itu membuat Liu Yok tersenyum, matanya berbinar. "Syukurlah. Kamu harus katakan kepada dirimu sendiri aku tidak sakit, aku tidak sakit, aku tidak sakit begituuuu... terus."

Auyang Hou tertawa, "Ah, Kakak ada-ada saja."

Namun sikap Liu Yok sangat bersungguh-sungguh, "Lho, ini bukan mengada-ada. Mulut kita inilah yang mengendalikan atau mengarahkan hidup kita, apakah mau sampai ke tujuan ataukah masuk jurang di tengah jalan."

"Eh, Kak...."

"Kenapa?"

"Keluarga Sebun kita ini ternyata benar- benar terkenal sampai ke mana-mana, bahkan sampai ke kota Han-king yang ratusan li dari kota Se-shia ini lho!"

Melihat adiknya mulai segar dan banyak bicara, Liu Yok mengharap adiknya itu akan cepat pulih kembali, maka ia pun tidak keberatan menemaninya mengobrol.

"A-hou, yang terkenal itu adalah Paman Sebun. Bukan kita. Paman Sebun seorang baik hati, punya menantu seorang Jenderal ternama pula, maka jadi terkenal. Bukan kita. Kalau kita ini, apanya yang mau dikenal orang?"

Auyang Hou mengerutkan alisnya dengan perasaan kurang senang, "Maksudku, Paman terkenal, tetapi aku juga terkenal. Kemarin malam aku bertemu dengan seorang pendekar persilatan, ketika dia mengetahui julukanku sebagai Siau-pek-him (Beruang Putih Kecil), dia amat terkejut dan mengatakan bahwa dia lama mendengar nama besarku. Lalu sikapnya sangat hormat kepadaku."

Liu Yok menarik napas. Ia sudah hapal satu- persatu tabiat adik-adiknya, termasuk Auyang Hou yang jiwanya dipenuhi cita-cita menjadi orang terkenal. Namun untuk mengecewakan adiknya, Liu Yok mengangguk-angguk saja.

"Kak, aku bercerita tentang keluargaku, dan orang itu agaknya juga ingin bertemu dengan Kakak. Agaknya dia juga mengagumi Kakak." Bagian yang ini, Auyang Hou sebenarnya tidak suka mengatakannya kepada Liu Yok, sebab bukankah ini berarti membagi "kemasyhurannya" dengan Kakak yang sering dianggapnya punakawan ini?

Tetapi setiap memejamkan matanya, ia seolah-olah dibayang-bayangi wajah "teman"nya yang dijumpainya kemarin malam, dengan mata yang mengancam kadang-kadang ia bermimpi melihat "teman"nya itu berubah menjadi seekor serigala besar berbulu kuning keemasan. Sepasang mata itu begitu menakutkan dan mengancam, susah dihapus dari angan-angan.

Tak terduga Liu Yok menanggapinya dengan santai saja, "Ha-ha, mengagumi aku? Memangnya dia pernah mencicipi telur-telur buatanku yang menurut Ibu adalah paling lezat di dunia?"

Tanggapan santai itu membuat Au-yang Hou sebenarnya semakin tidak senang membicarakan permintaan "teman" nya untuk bertemu Liu Yok. Namun ia tidak berani mengingkari "tugas"nya, ada sesuatu yang amat mengancam pada diri 'teman"nya itu, entah apa, yang memaksa Auyang Hou mau tidak mau harus meneruskan permintaan itu kepada Liu Yok.

"Kak, memang Kakak tidak suka kemasyhuran dunia persilatan, tetapi Kakak suka atau tidak suka, kemasyhuran itu melekat pada nama keluarga kita. Orang itu benar-benar ingin berkenalan dengan Kakak. Mungkin dia sudah...."

Auyang Hou menghentikan kata-katanya, sebab kata-kata lanjutannya berarti menyanjung Liu Yok dan menenggelamkan "nama besar"nya sendiri.

"Dia sudah apa?" tanya Liu Yok.

Apa boleh buat, Auyang Hou terpaksa melanjutkan kata-katanya, "Mungkin dia sudah mendengar peristiwa di kota Lok-yang. Ketika Kakak membuyarkan sihir tokoh-tokoh Pek-lian-kau semacam Pek-coa-sin (Malaikat Ular Putih) Oh Jing dan Hek-hwa-koai (Siluman Gagak Hitam) Mao Pin. Padahal dua orang putera Ketua Hwe-liong-pang saja hampir-hampir menjadi korban ilmu gaib kedua tokoh Pek-lian-kau itu."

Ternyata, mendengar sanjungan itu pun Liu Yok tenang-tenang saja. "Oh, itu? Itu bukan sesuatu yang istimewa. Setiap manusia, asal kembali kepada kedudukannya sebagai wakil Sang Pencipta atas bumi ini, akan bisa melakukannya. Itu memang bagiannya manusia. Seluruh manusia, bukan hanya aku."

Auyang Hou belum tertarik kepada hal-hal kerohanian macam itu. Cepat-cepat dia mengembalikan alur pembicaraan ke pokok yang semula, "Ya, nyatanya hal itu mengagumkan banyak orang. Makanya orang itu ingin bertemu dengan Kakak. Mungkin dia minta diajari oleh Kakak."

"Ada-ada saja. Ingin diajari masak-memasak?"

Auyang Hou benar-benar harus belajar bersabar kali ini. "Tentunya dia ingin berguru kepada Kakak tentang ilmu menaklukkan ilmu-ilmu gaib Pek-lian-kau."

"Itu bukan ilmu." tukas Liu Yok. "Itu memang anugerah yang diberikan kepada manusia, memang hak sah manusia, semata-mata pemberian Sang Pencipta."

"Iya, iya, entah disebut apa pun orang itu agaknya ingin.... mengetahuinya."

"Siapa namanya?"

"Mo Long."

"Bagaimana tampangnya?"

"Rambutnya berwarna emas, pakaian warna emas...."

"Orang yang kemarin berbicara dengan Paman di dermaga, di depan penjual buah-buahan itu?"

Di bawah tatapan mata yang jernih dari Liu Yok, Auyang Hou mengangguk. Liu Yok menarik napas dan berkata, "Menurut Paman, nama orang itu bukan Mo Long, melainkan Mo Hwe. Mo Long hanya sebagian dari julukannya yang lengkapnya adalah Kim-mo-long (Serigala Berbulu Emas). Tokoh nomor satu Pek-lian-kau saat ini."

Auyang Hou terkejut mendengarnya, punggungnya mengeluarkan keringat dingin mengingat betapa berbahayanya pengalamannya semalam. "Benarkah Paman berkata begitu?"

Auyang Hou tahu bahwa pertanyaannya yang minta penegasan itu sebenarnya kurang perlu. Liu Yok tidak pernah berbohong dalam hal sekecil-kecilnya. Liu Yok malahan balas bertanya, "Jadi teman yang kau maksud itu adalah Kim-mo-long Mo Hwe?"

Auyang Hou jadi takut kalau hal itu disampaikan kepada Pamannya, mungkin Pamannya akan marah lagi kepadanya. "Kak, aku tidak tahu kalau dia adalah tokoh nomor satu Pek-lian-kau. Dia begitu ramah, omongannya menyenangkan. Jangan bilang Paman, Kak."

Liu Yok mengangguk, dan di luar dugaan dia malahan berkata dengan mantap, "Kalau dia adalah Kim-mo-long Mo Hwe, baik, aku akan menemuinya. Kapan dan di mana dia ingin bertemu aku?"

"Apa, Kak?" tanya Auyang Hou kurang yakin akan pendengarannya sendiri.

"Aku akan menemuinya, sesuai dengan permintaannya."

"Justru setelah tahu bahwa dia orang berbahaya?"

"Dia cuma orang yang hatinya gelap dia akan bisa berubah kalau ada api sejati yang masuk ke hatinya."

Auyang Hou merasa dirinya seolah-olah sedang menghadapi selembar cermin cekung yang menampilkan bayangan terbalik tentang dirinya. Seandainya Auyang Hou menghadapi hal yang sama, apa yang dilakukannya pastilah kebalikan dari yang dilakukan Liu Yok. Kalau yakin bahwa "Mo Long" itu hanyalah seorang "pengagum Keluarga Sebun", pastilah Auyang Hou dengan senang hati menemuinya untuk membualkan diri.

Sebaliknya kalau dari kemarin tahu bahwa "Mo Long" ternyata adalah gembong Pek-lian-kau yang menakutkan, biarpun diseret sepuluh orang belum tentu Auyang Hou mau berangkat karena takut. Namun Liu Yok sebaliknya, setelah tahu yang ingin menemuinya adalah Kim-mo-long Mo Hwe, malah ingin menemuinya.

"Eh, di mana dan kapan aku harus menemuinya?"Liu Yok mengulang pertanyaannya.

"Benar-benar Kakak ingin menemuinya?"

"Ya."

Ragu-ragu juga Auyang Hou untuk menjawabnya terang-terangan. Ia kadang-kadang memang merasa malu punya kakak seorang cacad seperti Liu Yok, namun saat itu yang muncul ke permukaan justru perasaan yang lain, yang meskipun jarang muncul namun tersimpan juga di dalam hati. Perasaan antara dua orang bersaudara, biarpun cuma seibu berlainan ayah.

Kalau membayangkan betapa Liu Yok tidak pernah bersalah kepadanya meskipun sering dihina, betapa perhatiannya kepada seluruh keluarga, Auyang Hou merasa berat hati juga kalau Liu Yok menemui Mo Hwe hanya sebagai ular mencari gebuk. Beberapa saat ia bungkam.

Sampai ia geragapan ketika Liu Yok menepuk pundaknya, "He, kau belum menjawab pertanyaanku. Kapan dan di mana aku harus menemui dia?"

Tiba-tiba Auyang Hou mengertakkan gigi. "Tidak, aku tidak akan menjawab. Kakak tidak boleh menemui dia."

"Lho, bagaimana kamu ini? Tadi mengajak aku menemui dia, sekarang malah menghalangi aku menemui dia..."

"Karena tadi aku belum tahu kalau dia tokoh Pek-lian-kau. Kalau sekarang aku sudah tahu dia tokoh Pek-lian-kau dan tetap membiarkan Kakak menemuinya, berarti aku mencelakakan Kakak."

Hati Liu Yok tersentuh mendengar ketulusan kata-kata adiknya itu, berbeda benar dengan kalau sedang berlagak pendekar ulung yang tidak lebih topeng belaka. "Aku punya perlindungan yang tidak bisa ditembus siapa pun, kecuali kalau aku keluar sendiri dari perlindungan itu," kata Liu Yok. "Nah, kapan dan di mana?"

"Kenapa tidak Kakak biarkan saja orang itu?"

"Jangan begitu, setiap manusia di muka bumi ini bersaudara, berasal dari satu nenek-moyang. Aku wajib mencoba menyelamatkan Kim-mo-long Mo Hwe dari kejatuhan harkatnya sebagai manusia, dari belitan kejam ilmu-ilmu setannya."

"Kakak mau menginjinkan aku ikut?"

Kalau biasanya Auyang Hou malu berjalan bersama-sama dengan Liu Yok, kali ini justru minta diajak. Liu Yok mengangguk. "Baik. Aku katakan. Dia ingin menemui kita nanti malam di sebuah warung di dekat dermaga."

"Jadi di luar kota?"

"Benar. Dan ada satu hal lagi yang dia ingini."

"Apa?"

Auyang Hou ragu-ragu. Ia tahu betapa sayangnya Kakak tirinya itu kepada kitab bersampul hitam yang dibacanya tiap pagi dan malam, sehingga Auyang Hou ragu-ragu apakah Kakaknya akan mau kalau diminta kitab itu untuk menemui Kim-mo-Iong Mo Hwe? Auyang Hou sering mendengar cerita-cerita di rimba persilatan, bahwa kadang-kadang sebuah kitab diperebutkan dan dipertahankan dengan mengorbankan banyak jiwa di antara kelompok-kelompok persilatan yang memperebutkannya. Apakah kitab Liu juga kitab seperti itu, yang akan dipertahankan mati- matian?

"Kenapa ragu-ragu, A-hou?"

“Kak orang itu... orang itu...mohonnya maafkan kelancanganku. teIah bercerita kepadanya bahwa Kakak punya kitab yang selalu dibaca-baca, entah kenapa dia tertarik sekali, dan minta kalau Kakak mau menemuinya, agar Kakak membawa kitab itu."

Sama sekali di luar dugaan Auyang Hou, ketika Liu Yok menjawab begitu ringan, "Ooo, bagus. Aku akan membawa nya. Makin banyak orang suka membaca itu dan mempraktekannya, akan makin tenteramlah dunia ini. Makin sedikit orang yang suka bertengkar, dan akhirnya akan lenyap, orang akan hidup damai dengan sesama manusia, dengan alam, dengan sesama mahluk. Bagus, bagus. Aku akan membawa kitab itu."

"Kalau dia memintanya, Kak? Bukankah Kakak menyayangi kitab itu?"

"Kalau dia minta untuk dipelajari dan dipraktekkan, aku akan memberikannya dengan senang hati. Kalau aku sendiri ingin membaca, aku akan menumpang baca pada kitab kepunyaan Paman Sebun. Sama saja."

"Baiklah, kalau begitu, nanti malam kita ke sana."

"Sekarang beristirahatlah dulu."

Ketika malam tiba, Liu Yok dan Auyang Hou pun bersiap-siap. "Apakah Paman perlu diberitahu?" tanya Auyang Hou lirih, karena kamar yang ditempati Pamannya tepat bersebelahan dengan kamarnya.

Sahut Liu Yok, "Pamanlah yang bertanggung jawab kepada Ibu dalam hal keselamatan kita berdua, jadi Paman harus mengetahui kepergian kita. Kita katakan saja, kita akan menemui seorang teman, tidak perlu dikatakan bahwa kita akan menemui seorang tokoh Pek- lian-kau, sebab kalau diketahuinya pasti kita akan dilarang pergi."

"Baik. Eh, bagaimana kalau Kakak saja yang berbicara kepada Paman?"

"Baiklah."

Liu Yok tahu, saat malam yang hening seperti itu, Paman pasti sedang tenggelam dalam kekhusyukannya membaca kitab bersampul kitam itu. Diam-diam Liu Yok senang juga. Ia berharap semua anggota keluarga akan suka kitab itu kelak, la mendekati pintu yang tertutup itu dan mengetuknya pelan-pelan.

"Siapa?" suara dari dalam.

"Aku, Paman. Liu Yok."

"O, masuklah."

Ketika Liu Yok mendorong pintu, apa yang sudah diduganya itu tepat. Pamannya sedang memelototi halaman-halaman buku yang dipegangnya itu dengan sorot mata yang bersinar-sinar bahagia, mirip sorot mata orang kehausan di tengah gurun melihat pancaran air yang segar, la mengangkat wajahnya ketika Liu Yok melangkah masuk.

"Ada apa?"

"Aku dan A-hou akan keluar sebentar, Paman."

"Ke mana?"

"Menjumpai seseorang yang ingin meminjam kitab ini." sahut Liu Yok sambil mengeluarkan kitab dari bajunya. Kitab yang sama dengan kitab yang sedang dibaca Sebun Beng.

"Siapa?"

"Seorang sahabat." waktu menjawab ini, Liu Yok tidak merasa sedang berbohong, sebab buat dia memang semua manusia di muka bumi adalah sahabat.

"Bersama A-hou? Apakah A-hou sudah sembuh?"

"A-hou tidak sakit,, Paman, hanya kelelahan. Dan malam ini ia sudah segar kembali dan ingin berjalan-jalan."

Sebun Beng merasa berbahagia melihat kedua keponakannya itu akan berjalan-jalan bersama-sama. Tadinya dia agak prihatin melihat sikap Auyang Hou yang selalu meremehkan Liu Yok, kini agaknya sikap itu sudah berubah sedikit.

"Baiklah. Pergilah. Tetapi jangan terlalu malam kembalinya, jangan sampai besok pagi kelelahan lagi. Perjalanan kita ini jadi tertunda-tunda terus."

"Baiklah, Paman."

Tidak lama kemudian, Liu Yok dan Auyang Hou sudah berada di jalanan kota Han-king yang diterangi lampion-lampion di depan rumah-rumah besar. Mereka langsung melangkah menuju pusat kehidupan malam di kota itu, bukan di dalam kota, namun justru di luar kota, di dekat dermaga.

Seperti kemarin malamnya, tempat itu ramai dengan berbagai ragam manusia. Dan kalau sudah di tempat ini, tabiat jelek Auyang Hou kumat kembali. Ia malu kalau sudah berdandan sebagai "pendekar" yang lengkap dengan caping, mantel dan pedangnya, harus berjalan bersama Liu Yok yang berdandan amat sederhana dan kakinya cacat.

"Kak, aku akan berjalan mendahului Kakak. Di warung tempat aku masuk, Kakak juga masuk tetapi carilah meja yang berbeda."

Tanpa dijelaskan pun Liu Yok sudah tahu isi hati adiknya, namun ia tidak marah karena berusaha memaklumi isi hati adik-adik tirinya, ketiga-tiganya.

Sementara itu, Kim-mo-long Mo Hwe sudah menunggu di tempat yang tersembunyi, dan sudah melihat Auyang Hou melangkah sendirian di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Melihat Auyang Hou melangkah sendirian saja, Mo Hwe sudah bangkit kegusarannya, menyangka Auyang Hou mengingkari janji. Namun ketika melihat sosok yang berjalan terpincahg-pincang beberapa langkah di belakang Auyang Hou, kegusaran Mo Hwe pun reda.

"Bagus. Malam ini aku akan mencoba menyingkap rahasia ilmu keluarga Sebun yang sudah beberapa kali menggagalkan serangan ilmu gaibku...." pikir Mo Hwe.

Mo Hwe menunggu beberapa saat, sampai melihat Auyang Hou masuk dan duduk di warung yang kemarin malam. Pelayan warung tergopoh-gopoh meladeni sang "pendekar". Kemudian Liu Yok juga masuk ke warung yang sama, duduk tidak semeja dengan Auyang Hou melainkan di meja sebelahnya. Terhadap Liu Yok, Si Tukang Warung bersikap memandang enteng.

Mo Hwe tersenyum melihatnya dari seberang jalan. Lebih dulu dia menoleh ke kiri-kanan, lalu mulai melangkah menyeberangi jalan. Namun matanya terbelalak, langkahnya dibatalkan, di dalam warung itu nampak seseorang yang tidak diharapkan hadir di tempat itu. Orang itu duduk semeja dengan Liu Yok.

Orang itu adalah Sebun Beng. Entah kapan dia duduk di situ, baru saja Mo Hwe menoleh ke tempat lain tahu-tahu Sebun Beng sudah muncul di dekat Liu Yok. Keberhasilan rencana Mo Hwe pun terancam. "Setan alas Sebun Beng itu!" geram Mo Hwe yang terpaksa kembali berlindung dan mengawasi dari seberang jalan. "Setan alas pula Si Pembual yang sok pendekar itu, rupanya dia membocorkan rencananya kepada Pamannya, sehingga bedebah Sebun itu ikut campur."

Beberapa saat Mo Hwe masih memperhatikan Sebun Beng, Auyang Hou dan Liu Yok dari tempat persembunyiannya. Meskipun kemarahannya serasa membakar dada, namun otaknya masih juga bisa menangkap setiap kejanggalan dari apa yang dilihatnya di dalam warung itu.

Dia melihat Auyang Hou duduk dengan angkuh seperti biasanya, tetapi anehnya, seangkuh-angkuhnya Auyang Hou, Mo Hwe yakin bahwa Auyang Hou sudah memperhatikan hubungan antara Paman dan keponakan-keponakan itu selama beberapa hari selama satu kapal.

Namun yang dilihatnya kini, Auyang Hou bersikap angkuh dan menganggap Pamannya sendiri yang berada di dekatnya itu seolah-olah tidak ada. Ternyata sikap Liu Yok, juga Si Tukang Warung dan lain-lainnya juga sama, mereka bersikap seolah-olah Sebun Beng tidak ada di tempat itu.

Mo Hwe mengeram dalam hati, "Permainan gila macam apa yang sedang dimainkan oleh orang-orang itu?"

Mendadak pikiran muncul di benak Mo Hwe, "Ah, kalau tiga orang ini berada di sini semuanya, bukankah kamar-kamar penginapan mereka kosong? Inilah kesempatan untuk sepuas-puasnya menggeledah kamar mereka, dan menyingkap rahasia ilmu mereka!"

Yakin akan sempurnanya gagasan itu, Mo Hwe segera melaksanakannya tanpa pikir panjang. Ia justru meninggalkan tempat itu, menuju penginapan tempat Sebun Beng bermalam di kota Han-king. Tempat itu sudah diketahuinya, sebab selama ini Mo Hwe tidak tanggung-tanggung menyelidiki setiap gerak-gerik incarannya.

Tiba di penginapan itu, tentu saja dia tidak masuk dari depan dan mendaftar kepada pengurus penginapan, melainkan memutar ke belakang penginapan, sebuah tempat yang gelap. Ia tidak langsung melompati tembok belakang penginapan itu, melainkan duduk bersila, menyiapkan salah satu ilmu gaibnya untuk mengamankan tindakannya. Ia keluarkan selembar "hu" dan sebuah bendera segitiga kecil berwarna hitam yang di kalangan Pek-lian- kau disebut Hek-hun-ki (Bendera Mega Hitam), salah satu peralatan gaib mereka.

Hu atau kertas jimat itu dijepit dengan telunjuk dan jari tengah, dengan mata terpejam sambil mulutnya berkomat-kamit. Ketika ia goyangkan kertas kuning itu, mendadak kertas itu menyala tanpa diberi api, lalu ditebarkan abunya. Kemudian bendera Hek-hun-ki diangkat dan digoyang-goyang ke empat penjuru sambil tetap membaca mantera. Udara yang cerah mendadak ditutupi mendung, angin berjangkit keras dan dingin sehingga pasir beterbangan. Mo Hwe terus membaca mantera.

Sementara orang-orang di dalam penginapan itu, bahkan sekitarnya, mulai terkena akibat serangan gaib Mo Hwe itu. Mereka diserang kantuk luar biasa, dan mulai bertumbangan tidur di sembarang tempat. Bahkan ada yang sedang berada di kandang kuda. Untung tidak ada yang sedang di pinggir sumur. Dengkur keras terdengar di seluruh sudut penginapan itu.

Mo Hwe menyimpan kembali benderanya dan bangkit. Angin berhenti bertiup. Udara normal kembali, hanya saja orang-orang di seluruh rumah penginapan tersebut telah tidur pulas semuanya. Dengan berani Mo Hwe melompati langsung tembok penginapan itu, melangkah santai tanpa sembunyi-sembunyi di halaman belakang rumah penginapan itu, sekali-kali melangkahi tubuh para pegawai penginapan yang bergeletakan tidur.

Mo Hwe bahkan melangkah langsung ke kamar Sebun Beng yang sudah diketahuinya, dan tanpa takut-takut dia mendorong pintunya sehingga terbuka. Buat apa takut, sebab tadi dilihatnya Sebun Beng sedang berada di warung arak di dekat dermaga? Kamar ini pasti kosong, demikian perkiraan Mo Hwe.

Namun alangkah kagetnya ia ketika melihat di dalam kamarnya Sebun Beng tengah membaca dengan penerangan sebatang lilin. Mo Hwe berkeringat dingin, lalu yang duduk di warung di dekat dermaga yang menyebabkan ia tidak berani bertindak tadi, siapa? Yang membuatnya lebih kaget, ialah karena Sebun Beng sama sekali tidak terpengaruh oleh ilmu sirepnya tadi.

Sebun Beng mengangkat matanya dari halaman-halaman kitabnya, menatap tajam Mo Hwe sambil pelan-pelan meletakkan kitabnya. Lalu berdiri. Mo Hwe seolah-olah menjadi patung di ambang pintu. Sapa Sebun Beng, "Kim-mo-long Mo Hwe, apakah Anda sudah demikian kehilangan sopan-santun sehingga masuk kamar orang di tengah malam tanpa mengetuk pintu lebih dulu?"

Mo Hwe memang sadar bahwa Sebun Beng sudah mengenalinya, bahkan mungkin sejak sama-sama di kapal dulu. Teguran Sebun Beng itu membuat Mo Hwe tergagap beberapa saat, akhirnya dia nekat mengemukakan dalihnya biarpun sadar bahwa dalih itu sangat mengambang dan sulit dipercaya, "Maaf, Tuan Pendekar Sebun yang mulia. Aku.., aku rupanya salah sasaran. Aku.... sebenarnya sedang mencari orang lain...."

"Alasan yang mengada-ada, Tuan Mo. Jangan memperbodoh aku dengan mengatakan bahwa selama beberapa hari ini hanya kebetulan saja kita bersama-sama satu kapal, dan bertemu beberapa kali setelah turun kapal. Itu bukan kebetulan. Apalagi karena aku sedang mencari Puteri Tuan Gubernur di Ho-lam yang kau culik."

Mo Hwe sadar, ia tidak mungkin lagi menghindari bentrokan. Ia gentar sebetulnya. Nama Sebun Beng terlalu besar. Bahkan setelah beberapa peristiwa ganjil di alaminya dan kegagalan ilmu gaibnya beberapa kali, ia percaya kalau Sebun Beng juga punya "ilmu" yang aneh-aneh. Itu membuat Mo Hwe semakin gentar.

Ketika Sebun Beng melangkah selangkah ke arahnya, Mo Hwe tiba-tiba melompat dari ambang pintu ke tengah-tengah halaman belakang penginapan itu, sambil mengharapkan mungkin ada setitik kesempatan untuk kabur. Tetapi baru saja sepasang kakinya menyentuh tanah, Sebun Beng juga sudah berdiri dua langkah di depannya, entah bagaimana cara bergeraknya.

"Sebun Beng, apa maumu?"

"Serahkan kembali Nona Sun Pek-lian, puteri Gubernur."

Mata Mo Hwe berputar sejenak, lalu lenjawab, "Baiklah. Aku akan mengambilnya dan membawanya kemari."

Sebun Beng tertawa pendek, "Tuan Mo, kau menganggap semua orang setolol anak kecil umur tiga tahun saja, gampang kau bohongi. Tentu saja aku tidak akan melepaskanmu kali ini, sampai anak buahmu atau kawan-kawanmu datang dengan membawa Nona Sun dalam keadaan selamat."

"Maksudmu, aku menjadi tawanan?"

"Tidak ada jalan lain."

"Sebun Beng, kau menyudutkan aku!"

"Tepat. Aku menyudutkanmu."

Mo Hwe melangkah mundur sambil menyilangkan sepasang lengan di depan tubuhnya, mulutnya mulai berkomat-kamit membaca mantera. Sebun Beng berkesiap, ia tahu Mo Hwe adalah pentolan Pek-lian-kau yang merupakan gudangnya sihir, maka melihat mulut lawannya berkomat-kamit, Sebun Beng langsung dapat menebak niat lawannya.

Sebun Beng tidak pernah mempelajari ilmu gaib dan tidak sudi bertempur dengan ilmu gaib. Ia tidak tahu-menahu dengan ilmu gaib. Bahkan ia tidak akan bisa menjawab bagaimana dirinya bisa kebal terhadap serangan kantuk Mo Hwe, sekaligus juga bagaimana ia "sekaligus berada" di sebuah warung arak dekat dermaga. Ia sendiri akan bingung kalau disuruh menjawab itu.

Melihat Mo Hwe menyiapkan ilmu sihirnya, Sebun Beng tidak memberinya kesempatan. Ia melangkah maju dengan cepat bagaikan meluncur, tinjunya menghantam ke dada lawan dengan tenaga penuh. Mo Hwe sadar, serangan lawannya tidak mungkin dihadapi dengan memecah perhatian, sambil membaca mantera, terpaksa ia melompat mundur lagi, mencari jarak lagi.

Namun Sebun Beng tidak mau mengulangi pengalaman pahit si kembar Tong San-hong dan Tong Hai-long ketika menghadapi gembong-gembong Pek-lian-kau di Lok-yang, juga pengalamannya sendiri ketika melawan empat manusia jadi-jadian yang ternyata hanyalah boneka-boneka rumput belaka. Itulah sebabnya dia memburu dengan rapat, gelombang pukulannya begitu rapat mengepung dan menekan dengan dahsyat.

Dan Mo Hwe benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk melawan dengan lilmu gaibnya. Dengan demikian, di halaman belakang rumah penginapan itu pun terjadilah pertempuran yang "normal". Artinya pertempuran yang benar-benar mengandalkan kerasnya tulang, liatnya kulit, tajamnya mata dalam mengamati gerak lawan, panjangnya napas dan juga encernya otak mengatur siasat dan menanggulangi siasat lawan.

Ternyata dalam pertempuran "normal" pun Kim-mo-long bukan lawan yang lemah. la orang nomor satu di Pek-lian-kau. Memang ia kurang giat melatih ilmu silatnya sebab lebih menaruh harapan terhadap ilmu gaib, namun bukan berarti silatnya lemah. Dalam belasan gebrak pertama, Sebun Beng menaksir bahwa kalau yang menghadapi Kim-mo-long Mo Hwe anak-anak muda seperti Wan Lui atau Si Kembar she Tong, anak-anak muda itu barangkali hanya bisa mengimbangi saja.

Cara bertempur Mo Hwe juga cepat, ganas, tak kenal aturan. Bentuk serangan yang seperti apa pun dihalalkan, asal ada kesempatan. Kalau ada kesempatan menggigit, ia tidak akan segan-segan menggigit. Begitu pula dengan mencakar, menginjak kaki atau meludahi mata. Sambil bertempur, dia juga sering menggeram seperti serigala, cirinya kalau sedang marah.

Tetapi yang dihadapinya sekarang adalah Sebun Beng, salah seorang diri segelintir tokoh generasi tua yang masih tersisa, masih cemerlang dan masih disegani. Sebun Beng sekokoh gunung batu kalau bertahan, dan kalau balas menyerang maka serangannya sederas dan segencar gunung ambruk. Tidak mengherankan kalau Mo Hwe dalam waktu tidak terlalu lama sudah harus mandi keringat dan megap-megap di bawah tekanan dahsyat Sebun Beng.

Setiap kali Mo Hwe berdesis kesakitan kalau ada anggota-anggota tubuhnya yang harus berbenturan dengan tangan atau kaki Sebun Beng yang seperti lempengan-lempengan besi karena terlatihnya. Mo Hwe sudah berkecil hati, seandainya ia bisa menjaga tulang-tulang tubuhnya tidak sampai kena pukulan atau tendangan Sebun Beng, tetapi lengannya yang untuk menangkis lama-lama bisa patah juga.

Seringkali Mo Hwe harus berguling-guling ditanah dalam menyelamatkan diri dari hujan serangan Sebun Beng. Maka rambut kebanggaannya yang bagaikan benang-benang emas, serta pakaiannya yang berwarna keemasan itu pun jadi kotor penuh debu. Suatu ketika, waktu deru pukulan Sebun Beng di atas kepalanya, Mo Hwe merunduk dan dengan nekad menyerudukkan kepalanya ke perut Sebun Beng.

"Hem, mulai ngawur ya?" dengus Sebun Beng sambil menyedot napas mengeraskan otot-otot perutnya.

Serudukan Mo Hwe itu ternyata cukup keras ia sambil mendorongkan seluruh tubuhnya, Sebun Beng sampai terhentak mundur selangkah. Tetapi Mo Hwe sendiri merasa kepalanya seolah-olah menyeruduk pohon, bukan main sakitnya, sampai matanya berkunang-kunang.

Belum sampai Mo Hwe mengatasi rasa sakit dan pusingnya, sepasang telapak tangan Sebun Beng telah menekan sepasang pundaknya, sambil membentak, "Menyerahlah!"

Mo Hwe mengikuti saja arah tekanan itu kebawah, sampai pundaknya menyentuh tanah dan langsung bergulingan ke samping. Tangannya sempat meraup segenggam tanah untuk ditaburkan ke arah mata Sebun Beng. Mo Hwe sendiri, bergulingan menjauh dan tidak langsung berdiri, melainkan duduk bersila sambil membaca manteranya cepat-cepat.

Sebun Beng kembali menyerbu, dan terkejut ketika melihat tampang Mo Hwe setelah melompat bangkit dari duduknya untuk menanggapi serangan itu. Nampak mata Mo Hwe bersinar kemerah-merahan, sepasang taringnya tumbuh lebih panjang, sepasang lengannya juga nampak lebih panjang dengan kuku-kuku yang panjang dan lengan serta leher berbulu keemas-emasan. Ia telah menjadi setengah manusia setengah serigala.

Selagi Sebun Beng tertegun, Mo Hwe-lah yang sekarang merangsak lebih dulu, sambil menggeram. Dan memang terasa ada peningkatan kekuatan, kecepatan dan keganasan serangannya dibanding "ronde pertama" tadi. Sebun Beng harus lebih berhati-hati terhadap lengan-lengan musuh yang lebih panjang dan berbulu serta berkuku itu.

"Benar-benar ilmu kaum siluman," geram Sebun Beng. Sebun Beng mengokohkan posisinya, lalu mulai memainkan gerak-gerak andalannya yang disebut Cui-siang Sip-pat-sik (Delapan Belas Gerakan Gajah Mabuk). Ilmu yang tidak mengandalkan mantera atau kegaiban tetapi dapat dilatih secara biasa. Begitu ilmu itu "keluar" Sebun Beng seolah berubah menjadi seekor gajah raksasa dalam hal tenaganya.

Tinju-tinjunya bergerak dalam gerak seperti belalai atau kaki-kaki depan atau gading-gading seekor gajah, membawa tenaga yang dahsyat sehingga udara berguncang. Bahkan halaman belakang rumah penginapan itu seolah-olah juga bergetar oleh injakan-injakan kaki Sebun Beng.

Tetapi dalam mempraktekkan ilmu kali ini, Sebun Beng merasa ada perbedaan ketika mempraktekkan ilmunya saat-saat sebelumnya. Dalam praktek sebelumnya, asalkan Sebun Beng merasa layak mengeluarkan ilmunya, maka keluarlah ilmunya tanpa beban di dalam hati. Tetapi kali ini, sambil bertempur, Sebun Beng merasa ada semacam beban di hatinya, seperti ada suara hati kecil yang menyalahkan kenapa ia mengeluarkan ilmunya.

Ilmu yang bernafaskan kekerasan, meskipun tanpa embel-embel "gaib" atau "siluman" dan juga sudah diselubungi dalih "mempertahankan diri" atau "diserang lebih dulu". Suara hati itu terus menuduh dan tidak bisa dibungkam dengan berbagai jalasan. Sebun Beng jadi heran, "siapa" yang bersuara terus dalam jiwanya itu?

Namun apa pun yang bergolak dalam hati Sebun Beng sendiri, perkelahian berjalan terus. Mo Hwe terus menyerang dengan cakaran-cakaran ganasnya sambil menggerak-geram seperti serigala. Dan Sebun Beng belum berani "mengabulkan permintaan" suara hati nuraninya yang dianggapnya penuh resiko. Suara hati itu minta agar Sebun Beng mengalah saja.

Sebun Beng justru memperhebat gerakannya untuk mengimbangi Mo Hwe yang juga semakin hebat. Suatu kali, Mo Hwe menubruk sambil menjulurkan dua cakarnya sekaligus. Sebun Beng mengelak ke samping, tetapi Mo Hwe menjejakkan kaki ke tanah untuk menubruk terus dan membuat gerakan serabutan dengan kedua cakarnya. Sebun Beng tercakar pipi kanannya sehingga berdarah.

Meluaplah kemarahan Sebun Beng dan lenyaplah suara hati kecilnya. Sambil membentak menggelegar, ia mengayunkan sebuah jotosan sekuat tenaga ke dada Mo Hwe tanpa pertimbangan apa pun kecuali menggenjot dada Mo Hwe sekuatnya.

Mo Hwe yang sedang dalam gerak maju dalam lontaran tubrukannya sendiri, tidak sempat mengubah arah kecondongan badannya. Dia hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menangkis. Namun pukulan Sebun Beng yang digerakkan ledakan kemarahan itu terlalu bertenaga, tangkisan Mo Hwe tetap bobol, tinju Sebun Beng tetap saja mendarat di dada Mo Hwe meskipun kekuatannya sudah berkurang karena melewati tangkisan lebih dulu.

Namun jotosan yang sudah tidak sepenuh tenaga itu masih mampu membuat Mo Hwe terkapar dan mencelat tiga langkah ke belakang, sambil menggelogokkan segempal darah kental dari mulutnya.

Perlahan-lahan ujud setengah serigalanya juga pulih ke ujud normalnya sebagai manusia. Sebun Beng masih panas hatinya, ia sudah siap mengayunkan tangannya untuk meringkus Mo Hwe hidup-hidup, tetapi dari lorong penginapan terdengarlah suara, "Paman, jangan!"

Liu Yok muncul terpincang-pincang, diikuti Auyang Hou. Rupanya setelah sekian lama mereka menunggu Mo Hwe tetapi Mo Hwe tidak muncul, mereka lalu pulang ke penginapan. Tidak mereka sangka di penginapan ini malahan melihat Mo Hwe hampir ditangkap oleh Pamannya.

Sebun Beng menoleh kepada kedua keponakannya. "Syukurlah kalian selamat."

Liu Yok mengerutkan alisnya, "Kenapa Paman berkata begitu? Tentu saja kami selamat, karena kami berangkat tanpa niat untuk berkelahi atau bermusuhan dengan siapa pun."

Sementara itu, sambil mengusap-usap bibirnya yang berdarah, Mo Hwe terheran-heran melihat Liu Yok dan Auyang Hou pulang. Sementara Liu Yok telah bertanya kepada Mo Hwe, "Tuan Mo, Anda meminta kepada Adikku untuk mengajak aku ke warung dekat dermaga itu, kenapa Anda sekarang malah berada di sini dan berkelahi dengan Pamanku? Apa maksudmu?"

Mo Hwe sudah berdiri, meskipun dalam dadanya masih terasa nyeri, la agak bingung harus menjawab bagaimana? Kalau ia jawab bahwa ia melihat Sebun Beng juga duduk di dalam warung itu. ia kuatir akan ditertawakan sebagai orang yang sedang bingung? Bukankah Sebun Beng tetap di penginapan ini, bahkan telah berkelahi dengan dirinya dan mengalahkan dirinya? Tetapi lalu siapa orang yang persis Sebun Beng yang duduk di warung dan semeja dengan Liu Yok tadi? Beberapa saat Mo Hwe tidak mampu menjawab.

Sementara sikap Liu Yok ternyata tidak mengandung permusuhan sedikit pun. Sambil mengeluarkan kitab bersampul hitam dari bajunya, ia mendekati Mo Hwe sambil berkata, "Bukankah Tuan Mo mengundang aku untuk meminjam kitab ini, menurut kata Adikku? Aku sudah datang ke warung itu membawakan kitab ini, tetapi Tuan tidak datang. Nah, inilah kitab itu, terimalah...."

Mo Hwe benar-benar kebingungan, malam ini rasanya dia terjerumus ke alam yang asing, bahkan dia mulai meragukan kewarasan otaknya sendiri. Pertama, melihat "Sebun Beng di dua tempat sekaligus". Kedua, sikap Liu Yok yang begitu baik, tidak memusuhinya, padahal Liu Yok berhak minta kepada Pamannya untuk membunuhnya.

Ketiga, Mo Hwe sudah menyangka bahwa kitab bersampul hitam yang disangkanya kitab berisi "ilmu sakti" itu akan dipertahankan mati-matian oleh Liu Yok, sebagaimana umumnya yang terjadi di kalangan persilatan, ternyata malah tadi sudah dibawakan oleh Liu Yok ke warung dekat dermaga, dan sekarang disodorkan kepadanya.

Mo Hwe bingung akan sikap Liu Yok, sebab yang selama ini masuk ke dalam jiwanya hanyalah perkara-perkara permusuhan, kebencian, ambisi setinggi langit buat diri sendiri tidak perduli mengorbankan orang lain, tipu muslihat, dan sebagainya. Maka sikap Liu Yok itu benar-benar dipandangnya sebagai sesuatu yang maha ganjil. Tetapi kegarangan matanya tidak tahan menatap mata Liu Yok yang lembut.

Liu Yok sudah selangkah di hadapannya, masih dalam sikap menyodorkan buku itu. Mo Hwe seolah lumpuh, tak mampu bergerak, meskipun dalam hatinya yang keruh muncul setitik niat, "Alangkah menguntungkan kalau bisa meringkus bocah cacat yang kabarnya sama sekali tidak mampu bersilat ini, dan memaksa Sebun Beng tunduk di bawah kemauanku." Tetapi kemauan tinggal kemauan, seujung jari pun ia tidak bergerak, tercengkam wibawa Liu Yok yang jauh di luar dugaannya.

"Tuan Mo, bukankah Tuan menginginkan buku ini?" Yang menanggapi kemudian adalah prasangka buruk Mo Hwe, prasangka yang sudah terlalu dibiasakan sehingga menjadi jalan pikirannya sehari-hari, "Tidak. Aku tidak mau lagi buku ini."

"Kenapa?"

"Aku berterima kasih kepadamu, Anak muda. Karena kau mencegah Pamanmu memukul aku. Aku tidak lagi mengingini barangmu."

Itulah jawaban Mo Hwe, tetapi sebenarnya dia berbohong, dalam hatinya dia berkata lain, "Tidak mungkin kitab asli diserahkannya kepadaku dengan cara begini mudah. Ini pasti kitab palsu. Hem, setan pincang, tunggulah saatnya aku mendapatkan buku itu dari padamu. Buku yang asli." Demikianlah jiwa yang sudah diracuni prasangka, maksud baik orang lain pun akan selalu ditanggapinya dengan sikap bermusuhan.

Liu Yok menarik napas dan mengantongi kembali kitab itu. Sementara Sebun Beng bertanya, "A-yok, A-hou, jadi orang inikah yang kalian katakan sebagai teman yang akan kalian temui dan kalian pinjami kitab itu?"

Auyang Hou sudah menunduk dan takut didamprat Pamannya, namun Liu Yok menjawab Pamannya dengan tenang, "Ya."

"Kau anggap dia sebagai kawan?"

"Kenapa tidak?"

Sebun Beng garuk-garuk kepala. Ia sudah berusaha memahami kepribadian Liu Yok dan sudah ada hasilnya sedikit, tetapi masih belum berhasil mengenal sepenuhnya kepribadian keponakannya ini. Masih ada sisi-sisi kepribadiannya yang kelihatan aneh, susah dimengerti orang lain.

"Orang itu menculik Puteri Gubernur." Sebun Beng mengingatkan Liu Yok. "Kita harus menangkapnya, dan memaksa kawan-kawannya menukarkan dirinya dengan diri Puteri Gubernur itu."

"Maaf, Paman, itu jadinya memperhebat permusuhan. Bagaimana kalau kita pakai cara antara manusia dengan manusia?"

"Bagaimana?"

"Kita biarkan Tuan Mo ini pergi, asalkan dia berjanji akan mengembalikan puteri Gubernur? Kita belajar mempercayai sesama manusia. Itu bagus bukan?"

Sebun Beng menarik napas, dalam hatinya dia menggerutui keponakannya itu, "Bagus gundulmu. Kalau Mo Hwe hanya sekedar berjanji palsu supaya bisa pergi dari sini, lalu dia ingkar janji tidak mengembalikan Nona Sun, bukankah pihak kami rugi besar? Orang jahat macam Mo Hwe, mana bisa dipercaya?"

"Bagaimana, Paman?"

"Maaf, A-yok. Apakah orang she Mo itu bisa dipercaya janjinya?"

"Barangkali kita harus memberinya kesempatan, bahwa seorang yang paling jahat pun ada kalanya tergerak hati kecilnya untuk menunjukkan bahwa dia tidak sejahat yang disangka orang."

Mo Hwe tersentuh hatinya oleh kata-kata Liu Yok, meskipun tetap saja menganggap Liu Yok adalah "mahluk langka" yang barangkali hanya satu-satunya di dunia. Tetapi dia masih menunggu jawaban Sebun Beng.

Sebun Beng bimbang sekian lama, ia menatap tajam-tajam Mo Hwe seolah-olah mengharapkan matanya bisa menyelidiki setiap relung jiwa Mo Hwe sejelas-jelasnya, untuk menemukan ada tidaknya kebohongan dalam jiwa Mo Hwe. Anehnya, dalam jiwa Sebun Beng sendiri seolah ada yang bersuara mendukung gagasan Liu Yok yang "amat tolol" itu.

"Bagaimana?" tanya Sebun Beng kepada Mo Hwe. "Maukah kau berjanji untuk membebaskan Nona Sun, sebelum kuijinkan pergi dari sini?"

Jawaban Mo Hwe sungguh di luar dugaan. "Tuan Sebun, aku ini orang jahat yang suka berbohong, apakah Tuan akan begitu tololnya mempercayai jawabanku? Misalnya, aku katakan bahwa aku akan membebaskan Nona Sun, padahal tidak?"

"Jadi seandainya kau jawab bahwa kau akan membebaskan Nona Sun, itu jawaban bohong?"

"Benar!" sahut Mo Hwe sambil membusungkah dada tanpa gentar. "Dan inilah jawabanku yang jujur, terserah mau dipercaya atau tidak, bahwa pihak kami tidak akan membebaskan Nona Sun. Bahkan seandainya aku kalian tangkap dan coba kalian tukarkan dengan Nona Sun, kalian takkan berhasil. Nona Sun akan kami sembelih, kami jadikan korban upacara tahunan menurut kepercayaan kami. Nah, itulah jawaban yang benar. Mau apa kalian?"

Sebun Beng bangkit kembali kemarahannya, ia sudah mengepalkan tinjunya hendak melangkah melabrak Mo Hwe, tetapi Liu Yok cepat-cepat menghalangi Pamannya. "Jangan, Paman!"

"Minggir, A-yok, kau sudah mendengar sendiri jawabannya yang menantang. Percuma saja kita mencoba berbaik hati dan memberi kepercayaan kepadanya, dan jawaban inilah yang kita peroleh!"

"Dia sudah menanggapi kepercayaan kita, Paman."

Sebun Beng melongo. "Maksudmu?"

"Dia sudah menjawab dengan jujur. Meskipun seandainya dia mau berbohong dia akan lolos dari sini."

Sebun-Beng benar-benar bingung, apalagi ketika Liu Yok mendesak, "Paman, biarkan dia pergi sebagai hadiah kejujurannya. Biar orang-orang tahu bahwa kejujuran ada pahalanya."

"Dia akan menyembelih puteri Gubernur demi upacara sesatnya."

"Seandainya dia kita tangkap atau kita bunuhpun, puteri Gubernur akan tetap dibunuh. Tidak ada gunanya menahan dia di sini, tetapi barangkali ada gunanya memberi kesempatan dia menjadi orang baik."

Sementara itu, dari relung jiwanya yang terdalam, suara yang "mendukung" gagasan Liu Yok itu semakin mengusik Sebun Beng. Karena bingungnya, Sebun Beng sampai meremas rambutnya sendiri. Sedangkan Mo Hwe sendiri tidak kalah bingungnya mengikuti jalan pikiran Liu Yok yang terasa asing itu.

Liu Yok berkata pula, "Aku yakin, Nona Sun tidak akan disembelih."

"A-yok, kau ini berbicara seolah-olah kamu ini dewa sesembahannya orang Pek-lian-kau saja!"

Jawab Liu Yok kalem, "Setiap manusia, asal berada di tempat yang semestinya, yang disediakan baginya oleh Sang Pencipta, kedudukannya bahkan lebih tinggi dari dewa, malaikat, siluman, dan roh-roh lainnya."

Mo Hwe menggeram gusar mendengar kata-kata itu, "Manusia tak tahu diri, kau akan dikutuk oleh para Thian-ciang (Panglima Langit) dan para Thian-peng (Perajurit Langit) untuk ucapanmu yang menghujat roh-roh sesembahan kami itu!"

Sahut Liu Yok, "Akulah yang akan mengutuk roh-roh itu, kalau sampai Nona Sun terluka seujung rambut pun...." lalu Liu Yok menengadah ke langit yang kelam dan berkata, "Kalian para panglima langit, kalian cuma debu di telapak kakiku dan kalian akan menanggung hukuman yang sangat pedih, apabila mengabaikan ancamanku. Ada pedang dan panah Sang Pencipta di mulutku!"

Sebun Beng, Mo Hwe dan Auyang Hou tercekam melihat adegan itu. Sebun Beng dan Auyang Hou selama ini melihat Liu Yok hanya sebagai seorang yang kelewat baik hati terhadap sesama manusia, memilih disakiti daripada menyakiti, belum pernah Liu Yok mengancam sesama manusia dan bahkan senantiasa berusaha menghibur atau membesarkan hati orang lain. Bahkan Mo Hwe pun dianggap kawan.

Tetapi kali ini Liu Yok mengancam begitu garang, dan sasaran ancamannya juga tidak tanggung-tanggung, yaitu mahluk-mahluk halus yang disembah orang Pek-lian-kau dan dipercaya bisa melindungi atau mencelakakan orang. Namun Liu Yok dengan garang mengucapkan, "Kalian cuma debu di telapak kakiku."

Wajah Mo Hwe menjadi merah padam. Pikirnya, "Keajaiban besar kalau sampai bocah ini tidak dikutuk dewa-dewa dalam waktu singkat. Entah disambar petir, entah kena penyakit berat."

Sementara itu Sebun Beng telah berkata, "Mo Hwe, aku akan merepotkan diri dengan menahan dan merawat orang macammu. Pergilah!"

Mo Hwe memberi hormat, "Terima kasih. Tetapi sekali lagi, aku tidak menjanjikan apa-apa." Lalu pergilah Mo Hwe. Ketika ia melewati Auyang Hou yang berdiri termangu-mangu, ia berhenti sebentar, menepuk pundak Auyang Hou sambil berkata, "Sobat kecil, untuk kebaikan Pamanmu, Biarlah aku pun membalas kebaikannya dengan sebuah nasehat untukmu. Kalau ingin panjang umur, berhentilah bermain pendekar-pendekaran. Salah-salah bisa mengundang bencana."

Auyang Hou tersipu-sipu kikuk, apalagi saat itu dia masih dalam pakaian gaya "Pendekar"nya. Caping, mantel dan pedang. Namun ia tidak berani berkata apa-apa. Tentu saja ia tidak berani bersikap sebagai "orang gagah" setelah tahu bahwa yang dihadapinya adalah Mo Hwe, tokoh nomor satu Pek-lian-kauw sekte Pak-cong. Kalau kemarin malam diwarung lagaknya terhadap Mo Hwe memang "wah" namun bisa dimaklumi karena saat itu ia benar-benar menyangka Mo Hwe sekedar seorang "pengagum kebesaran Keluarga Sebun".

Mo Hwe menghilang di gelapnya malam. Sebun Beng menarik napas, "Nah, lenyaplah sebuah kesempatan untuk menyelamatkan Nona Sun..."

Liu Yok merasa kata-kata itu bernada menyalahkannya, dia pun menjawab, "Paman, aku yakin sikap kita ini membekas dalam jiwanya. Memang kita tidak mengharap dia berubah dalam satu dua hari, tetapi kita selalu berharap dan memberi jalan agar orang yang bagaimana pun jahatnya bisa kembali ke jalan benar. Banyak orang jahat yang sebenarnya ingin bertobat, namun terhalang sikap orang-orang yang sok suci."

"Mudah-mudahan."

"Paman tidak apa-apa?" Auyang Hou mendekat, sambil mengamat-amati pipi Sebun Beng yang kena cakaran Mo Hwe tadi.

Sebun Beng mengusap pipinya. "Tidak apa-apa, hanya luka di kulit. Lain kali jangan cari perkara di luaran, beginilah jadinya." Mereka lalu masuk ke kamarnya masing-masing.


Sementara itu, Mo Hwe melangkah di lorong-lorong gelap kota Han-king dengan membawa nyeri di dadanya. Kadang-kadang ia berhenti menyandarkan tubuh di tembok untuk mengatur napas dan mengumpulkan tenaganya, sebelum melangkah kembali. Ia melangkah ke sebuah rumah yang terletak di bagian kota yang sepi, meskipun masih dalam lingkungan tembok kota Han-king. Rumah itu juga dikelilingi pohon-pohon besar, penerangannya sangat sedikit, sehingga di malam hari suasananya menyeramkan. Ke rumah itulah Mo Hwe menuju. la mengetuk pintunya, lalu menunggu sambil memperbaiki napasnya.

Pintu dibuka, seorang lelaki bermuka garang berdiri di ambang pintu sambil membawa lampion jinjing, la terkejut melihat keadaan Mo Hwe, "Cong-cu (ketua sekte)! Kau terluka?"

Mo Hwe cuma mengangguk. Orang itu dengan lampion di tangan kiri, menggunakan tangan kanannya untuk merangkul dan memapah Mo Hwe melangkah masuk ke rumah yang serba remang-remang itu. Ia menundukkan Mo Hwe di ruang tengah dan bertanya, "Cong-cu, kau terluka? Siapa yang melukaimu?"

Mo Hwe menarik napas. "Lukaku tidak parah, jangan begitu gugup. Beri aku waktu untuk memulihkan diri di sini beberapa hari, dan aku akan pulih seperti semula. Sekarang aku ingin tanya kau."

"Silakan, Cong-cu."

"Berapa orang-orangmu di kota ini?"

"Kira-kira tiga puluh orang, tetapi dua puluh orang sudah berangkat untuk mengikuti upacara tahunan menyembelih korban manusia. Jadi tinggal sepuluh di kota ini."

"Sepuluh orang yang tinggal itu siapa saja?"

"Aku lalu Soh Sin-ci, lalu Tong-hwe Tojin dan beberapa anak buah biasa."

"Cukup. Aku ada tugas untuk kalian semua."

"Dengan senang hati, Cong-cu. Tugas apa? Siapa yang harus kami bunuh atau culik?" tanya Si Muka Garang dengan bersemangat. Pekerjaan seperti membunuh, menculik atau mengguna-guna orang amatlah digemarinya.

Mo Hwe menggeleng, "Tidak. Bukan menculik, membunuh atau mengirim kutukan. Tetapi tolong ambilkan teh hangat dulu buat aku."

"O, maaf, Cong-cu sampai aku lupa..." tergesa-gesa Si Muka Garang bernama Un Kim-liang itu mengambilkan minum. Dia adalah seorang tokoh Pek-lian-kau untuk tingkat cabang Han-king dan sekitarnya masih termasuk golongan Pak-cong (Sekte Utara).

Setelah teh hangat terhidang dan Mo Hwe meneguknya, Mo Hwe pun menjelaskan perintahnya, "Saat ini di kota Han-king ada tiga orang yang sedang menginap. Mereka terdiri dari seorang Paman dan dua keponakan lelakinya. Sang Paman bernama Sebun Beng..."

"Ah, Sebun Beng dari Lok-yang yang terkenal itu? Yang baru-baru ini menikahkan puteri tunggalnya dengan Wan Lui Si Panglima Manchu keparat yang punya hutang darah tak terhingga kepada golongan kita itu?"

"Tajam juga kupingmu."

"Tentu saja, Cong-cu. Sebun Beng sudah menjadi mertua Wan Lui musuh besar kita, maka dia pun sekarang adalah musuh besar golongan kita juga!"

"Benar, bahkan dia bersama kedua keponakannya sedang dalam perjalanan untuk membebaskan puteri Gubernur Ho-lam. Malam ini dia sedang berada di kota ini. Tetapi aku tidak menyuruh kalian melabraknya secara kekerasan. sebab kalian sendiri yang akan digilas jadi bubur dengan tongkat-besi Sebun Beng..."

Un Kim-liang agaknya terlalu bersemangat, sehingga sering-sering menyela kata-kata ketuanya, "apakah Cong-cu akan menyuruh kami menggunakan boneka-boneka Thian-peng untuk menyerang mereka, atau ilmu gaib merebut sukma?"

Mo Hwe tetap menggeleng, jawabannya membuat Un Kim-liang hampir-hampir tidak percaya, "Ilmu-ilmu gaib pun tidak akan mempan terhadap mereka, sebelum kita temukan kelemahan mereka."

"Hahh?" Un Kim-liang terkejut. Maklum, karena yang paling dibanggakan kaum Pek-lian-kau adalah ilmu-ilmu gaibnya, sedangkan dalam hal ilmu silat mereka serba pas-pasan, para pemimpin dan pentolan pun tidak ada yang luar biasa. Kini mendengar ketuanya berkata bahwa ilmu gaib Pek-lian-kau tidak mempan, Un kim-liang jadi penasaran...

Selanjutnya,