X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sekte Teratai Putih Jilid 06

Cerita Silat Mandarin Serial Perserikatan Naga Api episode Sekte Teratai Putih Jilid 06 karya Stevanus S P

Sekte Teratai Putih Jilid 06

Karya : Stevanus S P

KARENA itulah Sebun Beng tiba-tiba saja menuruti usul Auyang Hou tadi, "Baik, mari kita jalan lebih cepat."

Keruan Auyang Hou kegirangan. Sedangkan Sebun Beng lebih dulu menoleh ke belakang dan berkata kepada Liu Yok. "A- yok, kami berdua akan berjalan lebih cepat dan menunggu di depan, ya?" Sejak Sebun Beng mengenal kepribadian Liu Yok lebih dalam, ia yakin bahwa kata-kata itu takkan menyinggung Liu Yok. Ternyata memang Liu Yok tidak marah, malah melambaikan tangannya sambil tersenyum ikhlas.

Auyang Hou pun mulailah dengan langkahnya yang cepat dan lebar dengan dada membusung, seperti panglima maju ke medan laga, la merasa bangga sendiri membayangkan mantelnya yang berkibar-kibar di belakang pundaknya, ah, andaikata ada gadis-gadis yang melihatnya. Sementara Sebun Beng hanya melangkah mengimbangi keponakannya saja.

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Setelah melalui beberapa kelokan dan tanjakan di jalan pegunungan yang sepi itu, Auyang Hou menoleh ke belakang dan merasa puas karena Liu Yok tidak kelihatan lagi. Di kejauhan nampak permukaan Sungai Hong-ho yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari, dan perahu-perahu yang terapung-apung di atasnya seperti lidi saja kecilnya.

Auyang Hou mulai mandi keringat, napasnya mulai memburu dan otot-otot betisnya mulai terasa berdenyut-denyut. Ia ingin mengajak Pamannya memperlambat langkah, tetapi malu untuk mengatakannya. Dan sialnya, Pamannya seolah-olah tidak melihat tanda-tanda kelelahannya, sang Paman itu terus saja berjalan dengan kecepatan awal ketika Auyang Hou mengajak berjalan cepat tadi.

Maka mulai sempoyonganlah Auyang Hou mengikuti Pamannya, gaya pendekar-nya yang gagah tadi sirna sedikit demi sedikit. Bahkan akhirnya dia menyingkirkan rasa malunya dan berkata juga, "Paman, apakah tidak bisa berjalan lebih perlahan?"

Sebun Beng tersenyum namun tidak memperlambat langkahnya, jawabnya santai, "Lho, tadi kan kamu sendiri yang mengajak berjalan cepat?"

"Aku.... aku tidak kuat lagi, Paman..." di sela-sela napasnya akhirnya Auyang Hou mengeluarkan pengakuan. "Kakiku... hampir... copot... rasanya...."

"Padahal kita belum sepuluh ribu li." Goda Sebun Beng.

"Tolonglah, Paman."

Sebun Beng akhirnya merasa bahwa "pelajaran" kali ini sudah cukup buat Auyang Hou. Toh ia sudah mengaku dengan mulutnya sendiri. Makin sering menilai dengan jujur kepada diri sendiri, makin baik, sebab melihat kelemahan diri sendiri dengan berani sebenarnya juga memperkokoh diri sendiri. Sebun Beng lalu menunjuk sebuah pohon yang rindang dan berkata, "Baik. Kita duduk di bawah pohon itu sambil menunggu A-yok."

Mereka pun beristirahat di bawah pohon. Sebun Beng mengipas diri. Auyang Hou merebahkan diri di rerumputan sambil memperbaiki napasnya. Lalu ia duduk dan memijit-mijit betisnya. Tadinya Auyang Hou mengira bahwa dia akan punya waktu cukup lama beristirahat di situ. Menunggu Liu Yok tentu lama, pikirnya, karena jalanan di situ berkelok-kelok dan banyak tanjakannya, lagipula Liu Yok cacat kakinya.

Tak terduga, baru sebentar rasanya dia beristirahat, Liu Yok sudah kelihatan dari kelokan. Langkahnya tetap seperti tadi. Di bagian datar dia tidak mempercepat langkah, di tanjakan juga kecepatannya tidak berkurang. Tiba di tempat Sebun Beng dan Auyang Hou beristirahat, Liu Yok tidak kelihatan lelah sedikit pun meskipun berkeringat.

Tanyanya kepada Sebun Beng, "Paman lelah?"

Sebun Beng tersenyum, "Tanya adikmu."

"Adik Hou, kau lelah?"

Auyang Hou cepat bangkit dan menjawab gagah, "Aku siap melanjutkan perjalanan lagi!"

“Bahkan sepuluh ribu li!" Sebun Beng menambahkan.

Namun Auyang Hou cepat-cepat berkata, "Tetapi tidak ada gunanya terburu-buru. Kan lebih enak berjalan santai sambil menikmati keindahan alam pegunungan?"

Sebun Beng bangkit, "Baik. Kita teruskan perjalanan."

Auyang Hou sebenarnya masih lelah, masih ingin berbaring-baring di rerumputan, namun terpaksa ikut bangkit juga. Demikianlah mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Sementara Sebun Beng dan Liu Yok banyak bercakap-cakap sambil berjalan, Auyang Hou lebih banyak bungkam untuk menghemat napas, maklum, jalannya menanjak terus.

Mereka melewati desa-desa kecil dipegunungan yang letak rumahnya berpencaran satu sama lain. Rumah-rumah yang kebanvakan bertembok tanah liat dan beratap ijuk. Ketika matahari turun ke sebelah barat dan hanya tinggal puncak-puncak perbukitan saja yang tersorot sinarnya, sementara lambung- lambung perbukitan sudah jatuh ke bawah bayang-bayang, Sebun Beng mendatangi sebuah rumah pedesaan yang letaknya dikelilingi kebun sayur-sayuran, untuk mohon tempat bermalam.

Tuan rumah ternyata ramah sekali dan mengijinkan. Namun karena dia punya tujuh anak yang masih kecil-kecil, rumahnya sesak dan ia menawari Sebun Beng sebuah bangunan kayu di belakang, tempat penyimpanan jerami dan kayu bakar yang dindingnya hanya setinggi perut. Sebun Beng menerimanya sambil mengucap terima kasih.

Malamnya, saat makan malam, keluarga itu dengan ramah mengundang Sebun Beng dan keponakan-keponakannya untuk makan malam bersama. Dalam suasana ramah-tamah, mereka menikmati makanan sederhana buatan Si Nyonya rumah. Tetapi suasana ramah itu hampir saja berantakan, ketika Auyang Hou malahan bercerita bahwa dia pernah bersantap bersama-sama Kaisar Kian-liong masakannya hebat-hebat. Dalam ceritanya itu ia tidak sedikit pun menyinggung bahwa yang diundang makan oleh Kaisar sebenarnya hanya Liu Yok.

Untungnya, Auyang Hou segera terpengaruh oleh kelelahan hasil perjalanannya seharian, la segera kembali ke gudang jerami untuk tidur, Liu Yok juga merasa lebih baik tidur lebih dulu. Tinggallah Sebun Beng yang mengobrol sampai jauh malam dengan Tuan rumah.

Setelah kira-kira tengah malam, barulah Sebun Beng menyusul kedua keponakannya untuk tidur. Auyang Hou sudah tidur amat pulas, bahkan mendengkur keras sekali. Agaknya begitu kelelahan. Sebun Beng tersenyun ketika melangkah dekat tubuh keponakannya itu.

Sedangkan Liu Yok belum pulas benar. ia masih sempat mendengar kedatangan Pamannya, ia mengangkat kepalanya dan bertanya, "Paman?"

"Ya, aku. Tidurlah." sahut Sebun Beng sambil membaringkan diri di atas tumpukan jerami, dalam kegelapan. Dari tempat berbaringnya ia bisa melihat bulan sabit di langit, karena tempat itu memang berdinding rendah. Sebun Beng menarik napas dalam-dalam beberapa kali, siap menyelam ke alam bawah sadar. Namun tiba-tiba sedikit kesadarannya bekerja, dan ia merasakan sesuatu yang agak berbeda di ruangan itu. "He?" tak terasa ia berseru heran, perlahan.

Lui Yok rupanya mendengarnya pula dan bertanya dengan suara mengantuk, "Ada apalagi, Paman?"

"Tadi sore tempat ini begitu banyak nyamuk dan semut yang aku kira akan sangat menggangu tidur kita. Kenapa sekarang mereka tidak ada seekor pun?"

Lui Yok menjawab dengan suara mengantuk dan kedengarannya sama sekali tidak bermaksud berkelakar, "Sudah aku suruh mereka pergi baik-baik."

Mendengar jawaban macam itu, bukannya Sebun Beng puas lalu tidur, malahan pikirannya hidup kembali dan ia pun sulit tidur kembali. Keponakannya yang bernama Liu Yok itu agaknya benar-benar istimewa. Menantunya, Wan Lui, menganjurkan untuk memperhatikan gerak-gerik Liu Yok sambil membaca-baca Kitab Thai-cin-kau. Pesan yang aneh juga.

Tiba-tiba kantuk Sebun Beng lenyap. la bangun, menyalakan lilin dari bekalnya, lalu ditaruhnya hati-hati karena di tempat itu banyak jerami yang mudah terbakar, lalu ia mengeluarkan Kitab Thai-cin-kau pemberian Wan Lui dan mulai membacanya. Ia berharap bahwa ia langsung akan menemukan pelajaran ilmu-ilmu yang ajaib di halaman-halamannya, namun dia kecewa.

Halaman pertama malah bercerita tentang terciptanya alam semesta dan terciptanya manusia. Yang agak menarik perhatian Sebun Beng hanyalah ketika membaca bahwa manusia dicipta menurut rupa Penciptanya, dan diberi wewenang menguasai semua ciptaan di bumi, yang bernyawa maupun yang tidak.

"Boleh juga..." komentar Sebun Beng sendirian sambil tersenyum. "Buktinya Liu Yok bisa memerintahkan nyamuk-nyamuk dan semut-semut untuk pergi."

Tetapi kantuk Sebun Beng datang lagi, ketika pembacaannya sampai ke kisah manusia kehilangan kedudukannya karena ketidak-patuhannya terhadap Sang Pencipta. Sebun Beng menguap lebar-lebar lalu menutup buku itu. Toh dia menyelipkan sehelai jerami untuk menandai sampai halaman berapa ia membara kitabnya itu. Ia memasukkan buku itu ke bungkusan bekalnya, memadamkan lilin, lalu menggunakan bungkusan itu sebagai bantal. Ia siap-siap tidur.

Namun mendadak ada angin dingin bertiup agak tajam, membuat Sebun Beng bergidik dan kantuknya buyar kembali. Lewat celah-celah dinding papan, ia melihat empat sosok tubuh muncul lalu suara di dekat kebun sayur di halaman sampmg rumah petani itu, empat sosok tubuh yang kelihatannya semuanya membawa pedang.

Naluri Sebun Beng langsung merasakan niat jahat orang-orang itu. Bahkan ia merasakan, sosok-sosok tubuh itu bukan sekedar orang-orang berniat jahat, namun merekalah kejahatan itu sendiri yang mempribadi. Di luar kebiasaan, Sebun Beng yang biasanya bernyali besar itu tiba-tiba merasakan bulu-bulu tubuhnya tegak semua.

Tetapi Sebun Beng memutuskan untuk tidak mengikut-sertakan kedua keponakannya dalam penanggulangannya terhadap empat orang itu. Keponakan-keponakannya hanya akan merepotkan saja. Auyang Hou bakal merepotkan dengan segala macam lagaknya bermain pendekar-pendekaran, padahal "isi"nya belum seberapa. Liu Yok dianggapnya akan merepotkan pula, sebab dia tidak mengenal cara membela diri sedikit pun.

Tanpa suara Sebun Beng melolos tongkat besinya dari bungkusannya melangkah keluar dari gedung jerami itu untuk langsung menyongsong keempat sosok bayangan itu. Sekali lagi Sebun Beng merasa meremang, terasa betapa malam terlalu dingin saat itu.

"Selamat malam, sobat-sobat. Kalian mencari siapa?" sapa Sebun Beng, mencoba menerapkan tata-krama dunia persilatan. Suaranya juga tidak keras-keras karena kuatir mengusik tidur si Tuan-rumah.

Orang-orang itu tidak menjawab melainkan terus melangkah mendekat. Setelah cukup dekat untuk melihat jelas keempat orang itu, Sebun Beng mengerutkan alis. Karena dilihatnya tampang keempat orang itu sama sekali tidak lumrah manusia biasa. Kulit muka mereka pucat seperti selembar kertas, tatapan mata mereka hampa, seperti melihat namun nampaknya juga tidak melihat apa-apa, bibir mereka terkatup rapat seperti dilem. Wajah mereka seperti wajah kertas dari sebuah jailangkung yang dilukis gambar mata, hidung dan mulut.

Maka di bawah cahaya rembulan sabit yang temaram, suasana jadi menyeramkan. Dua orang dari mereka tiba-tiba saja melompat dan membabatkan pedang kearah Sebun Beng. Gerakan mereka tidak mengandung tipu-tipu silat apa pun, sekedar cepat, ganas dan ngawur, bahkan tanpa memperdulikan pertahanan diri sendiri.

"He, tahu aturanlah sedikit!" dengus Sebun Beng yang mendongkol karena sapaannya tadi tidak digubris. Tongkat besinya disapukan mendatar, sekaligus berhasil menyapu kedua batang pedang musuh. Dengan besarnya tenaga yang dikerahkan, Sebun Beng pantas berharap ia akan dapat melucuti pedang-pedang itu dari tangan pemiliknya masing-masing. Ternyata meleset. Kedua orang itu memang sama-sama terpental rebah ke samping, namun dengan pedang-pedang tetap tergenggam erat di tangan mereka.

"Boleh juga...." puji Sebun Beng. Kata-katanya baru saja selesai, waktu dua orang lainnya sudah menerkam bagaikan serigala sambil menusukkan pedang-pedang mereka. Lagi-lagi sekedar gerak yang cepat, ganas, ngawur dan nekad.

Mungkin karena agak terpengaruh kitab yang baru saja dibacanya, Sebun Beng memutar kencang tongkatnya di depan tubuh dengan gerakan yang disebut Thian-te-jut-kai (Terciptanya Langit dan Bumi). Putaran tongkatnya yang amat bertenaga itu bukan saja menangkis, tapi merupakan pusaran tenaga yang biasa menghisap dan menghempaskan lawan-lawannya.

Benar, begitu pedang-pedang mereka menempel tongkat Sebun Beng, pedang-pedang itu ikut berputar dan seolah masuk pusaran angin yang dahsyat. Perhitungan Sebun Beng, pastilah orang-orang itu akan melepaskan pedangnya, sebab kalau tidak, mereka akan ikut masuk pusaran tongkat itu dan bakal keluar kembali dengan tulang berantakan. Lagi-lagi perhitungan Sebun Beng meleset. Orang-orang itu agaknya akan lebih suka kalau tulang-tulang mereka remuk daripada melepaskan pedang-pedang mereka.

"Gila!" umpat Sebun Beng kaget melihat kenekadan orang-orang itu. Ia jadi tidak tega sendiri, mengingat antara ia dan orang-orang itu tidak ada permusuhan sebelumnya, perkelahian malam itu pun barangkali cuma diakibatkan kesalahpahaman. Maka Sebun Beng menghentikan jurusnya setengah jalan, agar tidak mencelakai orang-orang itu. Jurus Thian- te-jit-kai yang semestinya terdiri dari "memutar", "melucuti", dan "meremukkan" jadi cuma terlaksana yang bagian "memutar" saja.

"Sobat-sobat, kalau kalian tidak suka mendengarkan kata-kataku, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam!" geram Sebun Beng yang mulai jengkel. "Kita belum pernah punya urusan apa-apa, kenapa kalian bersikap seperti ini?"

Sebun Beng hampir tidak dapat melanjutkan omongannya, sebab pipinya hampir terserempet pedang. Kemarahan Sebun Beng pun meledak, "Baik, rupanya kalian memang hanya bisa diajak bicara dengan bahasa kekerasan Jangan salahkan aku!"

Maka deru tongkat Sebun Beng pun menghebat bagaikan prahara. Pohon-pohon sayur di sekitar arena itu pun sampai terguncang-guncang batangnya oJeh angin dari tongkat Sebun Beng. Empat orang aneh yang bandel itu pun berpelantingan. Untunglah Sebun Beng masih mengasihani mereka dan tujuannya hanya ingin mengalahkan mereka tapi tidak membunuh atau menciderainya. Sebun Beng melihat, biarpun mereka roboh, pedang mereka tetap tidak lepas dari tangan mereka, bahkan mereka cepat-cepat bangun kembali dan menyerang Sebun Beng membabi buta.

Gaya serangan mereka sungguh tidak menuruti aturan silat manapun juga. Tidak ada kuda-kuda, tidak ada persiapan membela diri. Mereka hanya melompat-lompat sambil menyabet-nyabetkan pedang kepada Sebun Beng. Bahkan mereka kelihatannya tidak ragu-ragu seandainya pedang mereka mengenai kawan sendiri.

"Gila benar, aliran silat dari mana ini?" Sebun Beng terpaksa meladeni pertarungan gila-gilaan itu.

Dan karena makin lama makin terasa ancaman lawan-lawannya, Sebun Beng juga merasa makin mantap untuk tidak usah sungkan-sungkan lagi. Dia merasa tidak bersalah lagi seandainya nanti di antara lawan- lawannya ada yang remuk tulangnya kena tongkatnya. Begitulah, karena Sebun Beng mulai "ikut gila" menghadapi empat lawan yang gila-gilaan itu, maka perkelahian mereka jadi sengit sekali.

Dam dalam perkara teknik-teknik silat memang orang-orang ngawur itu kalah jauh dibandingkan Sebun Beng. Sebun Beng lebih mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Maka tidak lama kemudian tongkat Sebun Beng telah berhasil menghantam rusuk salah seorang musuh. Hantaman yang telak sekali. Menyangka bahwa musuh akan ambrol iganya, Sebun Beng berdesis, "Maaf, aku terpaksa."

Orang yang kena gebuk itu mencelat keluar dari gelanggang sejauh hampir lima meter. Dan Sebun Beng tercengang ketika melihat orang itu dengan sigap bangkit kembali dan masuk kembali ke gelanggang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya. Gerakannya tetap sama cepat dan ganasnya dengan ketika belum kena gebuk.

Sebun Beng mulai dihinggapi rasa panik. Tadi ia yakin tongkatnya kena telak ke rusuk lawan, mestinya orang itu roboh muntah darah. Nyatanya tidak. Sebun Beng tadi merasa tongkatnya mengenai sesuatu yang lunak, la lalu teringat bahwa aliran silat Thian-san-pai yang berpusat di seberang Gurun Gobi sana punya semacam ilmu yang disebut Bian-ciang (Telapak Tangan Kapas), di mana orangnya bisa membuat telapak tangannya demikian empuk sehingga sanggup meredam kekuatan batu gunung yang menggelinding dari atas lereng sekali pun.

Tetapi para ahli Bian-ciang pun hanya sanggup mengempukkan telapak tangan mereka saja, bukan bagian-bagian tubuh lainnya. Kini menghadapi empat lawannya yang aneh ini Sebun Beng mulai berpikir-pikir, apakah kaum Thian-san-pai sudah berhasil mengubah Bian-ciang menjadi Bian seng (Tubuh Kapas)? Kalau begitu, alangkah hebatnya. Berarti seluruh tubuh akan berhasil meredam benturan dansyat. Cepat Sebun Beng menenangkan guncangan hatinya dan memusatkan pikirannya untuk melayani keempat orang itu.

"Coba aku gebuk bagian tubuh yang lain." pikirnya. Maka ketika orang itu menyerang lagi dengan beringas, Sebun Beng menghindar dengan melompat ke samping, tongkatnya menghantam kepala lawan dengan gerakan Tok-pi-hoa-san (Lengan Tunggal Merobohkan Gunung).

Dan tepat kena kepala orang itu. Meskipun Sebun Beng heran karena tidak melihat darah dan otak yang muncrat, namun ia melihat batang tongkatnya amblas ke batok kepala orang itu. Hasilnya tidak diragukan lagi, orang itu terpuruk roboh.

"Maaf, sobat." desis Sebun Beng. "Bukan maksudku untuk membunuhmu, tetapi kalian tidak memberiku pilihan lain."

Tetapi ia harus tetap waspada kepada tiga orang lainnya, sebab mereka tetap saja melompat-lompat kaku dan menyerang, tidak terpengaruh sedikit pun oleh robohnya seorang teman mereka. Beberapa jurus berlalu, dan tiba-tiba Sebun Beng melihat sesuatu yang membuatnya hampir-hampir menjerit dan lari sipat kuping. Bagaimana ia tidak gentar, kalau melihat orang yang kepalanya remuk tadi mulai bergerak-gerak lagi, lalu bangkit dan bertempur lagi?

Ya, bertempur lagi dengan kecepatan dan keganasan yang sama sekali tidak berkurang. Bedanya sekarang, kepala orang itu seperti melesak ke bawah, lehernya terkulai tanpa tulang dan ketika dibawa melompat lompat maka kepalanya terayun-ayun lemah seperti kepala boneka kain yang lehernya habis dipelintir dan dibanting.

Bulu tengkuk Sebun Beng pun tegak merinding, tubuhnya dibasahi keringat dingin. Sadarlah ia bahwa manusia-manusia yang dihadapinya itu adalah manusia-manusia tidak normal semuanya. Apalagi ketika ia memperhatikan lebih cermat, umumnya manusia biasa sehabis berlompatan sekian lama akan terengah dan keluar keringatnya, banyak atau sedikitnya tergantung latihan staminanya sehari-hari, namun itu pasti buat orang normal.

Tapi kali ini kuping Sebun Beng hanya dapat mendengar engah napasnya sendiri dan tidak mendengar engah napas lawan-lawannya, bahkan agaknya mereka tidak bernapas! Juga tidak mengeluarkan keringat, tidak pernah membuka mulut, tidak pernah berkedip! Wajah mereka yang aneh dan mirip lukisan kasar di atas kertas itu juga tidak pernah menunjukkan mimik muka orang hidup umumnya seperti marah, kaget, senang dan sebagainya.

Wajah itu lebih mati dari wajah topeng. Topeng kayu saja kalau dibuat oleh se niman yang mahir akan bisa memancar kan ekspresi tertentu, namun wajah orang-orang ini jauh kalah ekspresif dari topeng-topeng kayu sekali pun. Mata mereka hampa saja menatap ke depan.

Sebun Beng langsung sadar siapa yang berdiri di belakang semua itu. la sadar dirinya sedang "dikerjai" orang-orang Pek-lian-kau dengan ilmu gaibnya, la sadar pula, sekali pun ia mencincang remuk tubuh lawan-lawannya, mereka aka tetap saja bangkit dan terus melawan.

Dalam keadaan itu, Sebun Beng ingat sebuah peristiwa dalam perjamuan pernikahan puterinya beberapa hari yang lalu. Ketika itu Oh Jiang dan Mao Pin mengacau pesta dengan menyihir boneka-boneka rumput menjadi manusia jadi-jadian, tetapi waktu itu Liu Yok menggagalkan dengan kata-kata tertentu. Kini Sebun Beng ingin mencoba "mantera" Liu Yok itu. la melompat keluar dari gelanggang, lalu menuding dengan tongkat besinya sambil membentak, "He, ingat! Kalian ini hanyalah debu! Kalian ini hanyalah debu!"

Tak terduga, seruan Sebun Beng malah membuat mereka berempat beringas dan menerjang lebih hebat. Rupanya mereka "tersinggung" biarpun wajah mereka tetap tanpa ekspresi. Sebun Beng makin kewalahan, dia mainkan tongkatnya makin hebat. Tetapi setelah dia mengepruk lagi dua kepala, pemilik-pemilik kepala yang kena kepruk itu tetap saja bertempur dengan gagah meskipun kepala mereka nngsek.

Sebun Beng benar-benar putus asa, akhirnya dia berteriak keras, "A-Yoook. Liu Yoklah jalan keluarnya.

Liu Yok sendiri tetap tidur pulas, sama sekali tidak terbangun oleh seruan pamannya itu. Agaknya dia sedang asyik bermimpi, mulutnya berkerot-kerot sebentar, lalu mengigau lirih, "Kalian ini hanyalah debu."

Ketika itulah Sebun Beng tiba-tiba melihat keempat lawannya tiba-tiba berebahan terkapar seperti ditiup angin besar, padahal Sebun Beng tidak merasakan apa-apa. Keempat orang itu tiba di tanah sebagai bonek-boneka rumput yang panjangnya tidak lebih dari sejengkal.

Sebun Beng mengusap keringatnya, campuran antara keringat biasa dan keringat dingin. Lalu melangkah masuk kembali ke gudang jerami. Auyang Hou yang tadi sebenarnya terjaga dan menonton pertempuran lewat celah-celah dinding papan, buru-buru pura-pura tidur kembali. Sedangkan Liu Yok memang benar-benar tidur, bahkan amat pulas.

Beberapa saat Sebun Beng masih terbuka matanya biarpun tubuhnya sudah berbaring, menenangkan denyut jantungnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia tidur. Fajar menyingsing, Sebun Beng bertiga pun menggeliat bangun. Tempat itu masih gelap, sebab cahaya awal fajar masih tertahan dinding- dinding perbukitan.

"Ah, nyenyak sekali tidurku semalam." Kata Auyang Hou sambil menggeliat bangun.

Sebun Beng memaksakan diri untuk tersenyum. Ia sudah mengambil keputusan kalau kedua keponakannya itu tidak mengetahui tentang kejadian semalam, dia pun tidak akan menceritakannya.

Sementara Liu Yok pun sudah bangkit duduk dan berkata, "Tidurku juga nyenyak. Mimpiku hebat sekali."

"Mimpi apa?" tanya Sebun Beng.

Namun sebelum Liu Yok menjawab, Auyang Hou sudah mendahuluinya, "Ah, Paman, buat apa tanya-tanya soal mimpi Kakak Yok segala? Kata orang-orang tua, mimpi cuma kembangnya tidur."

Sebun Beng bersikap sesantai mungkin, "Biarlah. Sambii menunggu Tuan rumah menyiapkan makan pagi kita, kita dengarkan mimpi Kakakmu."

Sambil menggaruk-garuk tangannya, Liu Yok mulai berkata santai, "Aku bermimpi, tiba-tiba saja aku punya sepasang sayap besar sehingga bisa terbang ke langit, sampai ke sebelah atasnya mega-mega. Aku gembira beterbangan ke sana kemari."

"Nah, betul tidak, Paman?" ejek Au-yang Hou. "Ceritanya Kakak Yok selamanya begitu, seperti mendongengi anak kecil saja." Auyang Hou jengkel, sebab sebenarnya dia ingin Pamannyalah yang bercerita tentang kisah-kisah dahsyat dunia kependekaran, tetapi agaknya Pamannya sendiri malah lebih suka mendengarkan kisah mimpi yang tidak masuk akal. Mana ada manusia bersayap yang terbang di atas mega-mega segala?

"A-hou, kalau kau tidak suka mendengarkan, pergilah ke sumur lebih dulu untuk mandi." kata Sebun Beng.

Tetapi Auyang Hou tidak mau beranjak. Tempat itu masih gelap dan berkabut, ia membayangkan dari balik kabut akan muncul empat orang seperti yang dilihatnya semalam melawan Pamannya. Akhirnya dengan sangat terpaksa Au-yang Hou pun mendengarkan mimpi Liu Yok.

“Ketika aku sedang bersenang-senang terbang seperti burung, tiba-tiba aku melihat ke bawah dan melihat Paman sedang melawan empat mahluk, seperti manusia juga dan ada sayapnya seperti aku, mereka berempat berwajah kejam semua."

Sampai di sini Sebun Beng membatin, "Aku lebih suka berhadapan dengan mahluk-mahluk berwajah kejam, daripada menghadapi orang-orang yang wajahnya seperti kertas dilukis."

Sementara Liu Yok meneruskan ceritanya, "Aku melihat, maaf, Paman kelihatannya terdesak dan sayup-sayup aku mendengar Paman berteriak memanggilku A-yooookkk' begitu."

Sebun Beng mengangguk dan tertawa, "Memang betul, saat itu aku memanggilmu."

Auyang Hou tertawa, menganggap Pamannya berkelakar dengan menggabungkan antara kejadian di alam jasad dengan kejadian di alam mimpi. Auyang Hou sendiri yakin bahwa kedua alam itu terpisah.

Kemudian Liu Yok meneruskan, “Aku tidak tinggal diam melihat Paman terdesak. Aku hardik mahluk-mahluk jahat itu dari atas mega, aku melihat ada pedang keluar dari mulutku sendiri, mengenai mahluk-mahluk jahat itu sehingga mereka rebah!"

Sebun Beng menyeringai. Ia jadi susah membedakan, apakah perkelahian semalam itu terjadi di Alam kasarnya ataukah di Alam lembutnya Liu Yok? Atau kedua-duanya? Dia yang menghadapi ujud kasar dan Liu Yok yang menghadapi penopang-penopang gaib dari ujud-ujud kasar itu? Dan benarkah mimpi cuma kembangnya tidur?

Sebun Beng menarik napas, lalu bangkit dan berkata, "Ayo kita bersihkan badan bersama-sama di sumur. Jangan sampai nanti berbarengan dengan yang punya rumah, yang pasti repot sekali karena anaknya saja tujuh orang."

Mereka bertiga segera pergi ke sumur, menyegarkan tubuh dan mengganti pakaian. Yang ingin buang hajat ada juga sebuah tempat tertutup yang letaknya di pinggiran kolam ikan, limbah manusia langsung disongsong ikan-ikan yang kelaparan. Selesai dari sumur, dengan segar mereka duduk-duduk sambil menunggu bangunnya si empunya rumah.

Dari rumah sederhana berdinding tanah liat itu memang sudah terdengar suara-suara kehidupan. Bayi yang menangis, pintu-pintu yang dibuka, anak-anak yang bertengkar, dan ada asap mengepul dari cerobong dapur. Begitu juga di rumah-rumah lain yang jaraknya berjauhan satu sama lain.

Ada anak-anak yang mulai berhamburan keluar rumah. Ada yang langsung kencing di bawah pohon, atau langsung memberi makan ikan di kolam. Seorang anak perempuan pergi ke halaman samping dan heran ketika melihat di halaman itu bergeletakan empat buah boneka rumput. Dasar anak-anak, keempat boneka itu segera diambilnya semua.

Si Tuan rumah menyeberangi halaman belakang untuk menjumpai Sebun Beng dan kedua keponakannya. Tanyanya ramah, "Tuan-tuan, apakah nyenyak tidur Tuan-tuan semalam? Kami minta maaf sekali lagi, bahwa kami hanya bisa menyediakan tempat seperti ini."

"Ah, ini sudah baik. Kami tidur nyenyak sekali." kata Sebun Beng untuk melegakan Tuan rumah yang baik hati itu.

"Tidak digigiti nyamuk?"

"Tidak. Mungkin nyamuk-nyamuknya sedang liburan."

Tuan rumah tertawa. "Sudah membersihkan diri?"

"Sudah."

"Kalau begitu, silakan menunggu sebentar lagi. Isteriku sekarang sedang memasak. Maaf, Tuan-tuan."

Lalu laki-laki itu pergi ke kebun untuk mengambil beberapa macam sayur seperti yang dipesan isterinya. Tak lama kemudian, baik para tamu maupun keluarga tuan rumah bersama-sama menikmati hidangan pagi yang enak, meskipun sederhana.

Tiga anak tuan rumah yang tertua sudah boleh ikut makan di meja. Kebiasaan di desa, mereka makan sambil bercakap-cakap dengan ramai, sementara di kota hal itu dianggap kurang sopan. Karena Auyang Hou sudah dipesan oleh Sebun Beng agar jangan lagi bercerita tentang perjamuan bersama Kaisar, maka Auyang Hou pun menurut.

"Apakah Tuan-tuan akan berangkat melanjutkan perjalanan hari ini?" tanya si Tuan rumah melihat bungkusan-bungkusan bekal yang sudah rapi tergendong di punggung tamu- tamunya.

"Benar," sahut Sebun Beng.

Dilanjutkan oleh Auyang Hou sambil menepuk-nepuk pedangnya, "Perjalanan kami ini bukan perjalanan biasa, melainkan memburu penjahat-penjahat yang berbahaya dan berilmu tinggi. Itulah sebabnya kami tidak bisa tinggal berlama-lama di satu tempat, kami harus bergerak terus!"

Si Tuan Rumah dan keluarganya menatap Auyang Hou dengan kagum. “Tugas Tuan-tuan ini tentunya berbahaya, tetapi mulia."

"Yah, sebagai pendekar-pendekar sejati, tentu saja kami harus mengamalkan ilmu kami. Kami tidak gentar menghadapi apa pun, demi menjunjung kebenaran dan keadilan! Kami akan mengejar penjahat sampai ke mana pun, dan menumpasnya tanpa ampun!"

"Siapakah sekarang ini penjahat-penjahat yang sedang Tuan-tuan buru?"

Sebun Beng sudah berdehem keras dua kali, namun Auyang Hou nyerocos terus, "Bukan penjahat-penjahat sembarangan, tetapi ahli-ahli sihir yang bersekutu dengan setan! Ada yang bisa mengubah diri menjadi burung gagak, ada yang suka makan anak kecil, ada yang bisa memanggil arwah untuk dimasukkan ke dalam boneka-boneka rumput sehingga boneka-boneka itu hidup."

"Semacam Jailangkung?"

"Benar. Tetapi ini bukan sekedar permainan untuk menanyakan nasib, sebab boneka-boneka yang kemasukan roh akan menjadi pembunuh-pembunuh yang ganas."

"Astaga...."

"Tetapi kami tidak gentar, sebab ilmu kita lebih tinggi dari mereka. Aku sendiri dijuluki Siau-pek-him (Beruang Putih Kecil), namaku sudah terkenal di Se-shia dan sekitarnya, lho!"

"Ooooo..."

Tiba-tiba dari halaman samping rumah itu terdengar jerit tangis anak-anak. Sebun Beng kaget, namun si Tuan rumah tenang-tenang saja, "Ah, tidak apa-apa, Tuan. Memang beginilah rasanya kalau punya anak banyak, setiap hari ada saja yang bertengkar untuk perkara sepele-sepele."

Lalu perintahnya kepada isterinya yang kurus dan kusut, "Bu, suruh diam anak-anak itu. Memalukan."

Tetapi sebelum Sang Ibu beranjak, anak laki-laki yang menjerit tadi telah berlari masuk sambil menangis, wajahnya berlumuran darah sehingga mengejutkan orang tuanya maupun tamu-tamunya. Si Ibu cepat-cepat memeluknya, "Kenapa? jatuh?"

Anak itu menjawab di sela-sela tangisnya, "Kakak Lik punya boneka empat biji tetapi tidak mau membagi-bagi dan tidak mau main-main bersama. Aku memintanya, malah dia mencakar mukaku. Kakak Lik jahat! Kakak Lik jahat!"

Ibunya tercengang. Anaknya yang bernama A-lik dan berusia delapan belas tahun itu adalah anak keempat yang paling membantu. Memasak, membersihkan rumah, memetik sayuran, memandikan ketiga adiknya. Dia bukan saja tidak pernah bentrok dengan adik-adiknya atau kakak-kakaknya, malahan sering membuatkan mainan-mainan sederhana buat asik-adiknya. Sulit dipercaya kalau sekarang Si A-lik itu sampai mencakar adiknya dan mempertahankan bonekanya.

Sementara sang Ayah tidak berpikir panjang lagi, langsung diambilnya tongkat rotan yang biasa untuk menghajar anak-anaknya, dan melangkah keluar dengan gusar.

"Pak, jangan keras-keras memukul A-lik!" pinta Sang Ibu. "Nanti dia sakit dan tidak dapat membantu aku lagi....."

"Sudah, obati dulu anakmu."

Sebun Beng pun melangkah keluar diikuti kedua keponakannya. Kata-kata 'empat boneka" tadi itulah yang membuat Sebun Beng tertarik untuk melihat apa yang terjadi. Kalau perlu turun tangan. Di halaman samping, anak-anak Tuan rumah sedang berdiri berkerumun, dari arak agak jauh menatap A-lik yang berdiri menyendiri dengan empat buah boneka rumput dalam pelukannya. Sorot mata A-lik penuh permusuhan dan kebencian cepada siapa saja yang mendekat untuk nerampas bonekanya.

Ayahnya agak kaget melihat sorot mata A-lik, begitu berbeda dengan sorot matanya biasanya. Biasanya lembut dan ceria, sehingga sering dibelai ibunya sambil didoakan, "Cepat besar dan cantik ya, Nak? Bukan cuma cantik jasmani tapi juga cantik rohani, biar kelak diambil isteri sama seorang jenderal..."

Ketika anak-anak yang lain melihat ayah mereka keluar membawa tongkat, maka mereka pun serempak mengadu, "Ayah, Kakak Lik jahat! Punya boneka banyak tetapi tidak mau diajak main bersama-sama!"

"Betul! Tadi A-yang malahan dicakar mukanya!"

"Ayah, hajar dia!"

"Ikat di pohon!"

"Jangan diberi makan!" Dan macam-macam lagi celotehan anak-anak itu.

Si Ayah melangkah maju sambil mengangkat tongkat rotannya, tapi ia tertegun ketika A-lik menatapnya seperti macan kelaparan. Untuk menjaga wibawanya di mata anak-anaknya yang lain, dia membentak, "A-Iik, mau main boneka bersama saudara-saudaramu atau tidak?"

"Tidak!" jawab anak perempuan itu mengejutkan ayahnya. Belum pernah anaknya yang paling bandel sekali pun mengeluarkan jawaban seperti itu, dan sekarang malah anaknya yang "calon isteri jenderal" itu yang mengeluarkannya.

"Kurang ajar! Mau bermain bersama-sama atau tidak?"

"Tidak!"

"Mau apa tidak?"

"Tidak!"

Maka bertubi-tubilah tongkat rotan itu menghajar punggung dan pantat anak perempuan usia delapan tahun itu. Anak itu ternyata tidak menangis, tidak menjerit, dia hanya mengerut-ngerutkan tubuhnya menahan sakit, namun tetap mendekap erat-erat boneka- bonekanya. Tiba-tiba Liu Yok menyerobot maju dan memegangi tangan sang Ayah, "Hentikan, Bapak, anakmu bisa mati...."

"Mati juga biar! Anak kurang ajar ini."

"Pak, dia bukannya kurang ajar. Dia bersikap demikian karena dikuasai pengaruh lain."

Si Ayah heran. "Pengaruh apa?"

"Boneka-boneka itu."

Si Ayah tercengang, kurang percaya. Namun dia menurut ketika Liu Yok berkata, "Pak, minggirlah. Biar aku selesaikan ini."

Lalu Liu Yok mendekati A-lik, dan anak perempuan yang tadinya beringas terhadap ayahnya sendiri, tidak takut kepada ayahnya sendiri yang mengancam dengan tongkat, sekarang berkerut ketakutan melihat Liu Yok. Ada desis mirip ular keluar dari mulut anak perempuan itu. "Ampun...... ampun...."

Liu Yok berkata, "Aku benar-benar jemu kepada kalian. Bahkan anak-anak kecil yang tidak bersalahpun kalian peralat untuk memuaskan naluri jahat kalian. Aku tidak akan mengampuni kalian."

Lalu Liu Yok merebut keempat boneka itu, dan Si Anak Perempuan itu langsung terkulai. Ketika itulah ibunya sudah keluar pula, dan langsung memeluknya. Anak-anak lain bersorak-sorak melihat Liu Yok berhasil merebut boneka-boneka itu. Mereka mengerumuni Liu Yok sambil menjulur-julurkan tangan ke atas untuk merebutnya.

"Buat aku satu, Paman!"

"Buat aku juga satu!"

"Kami semua akan bermain-main bersama-sama dengan rukun, tidak akan bertengkar dan berkelahi! Kami mau jadi anak-anak manis!"

Tetapi anak-anak itu memperoleh jawaban mengecewakan dari Liu Yok, "Tidak usah berebutan, anak-anak manis. Boneka-boneka jelek ini harus dibakar musnah. Lain kali kalian akan mendapatkan mainan-mainan yang lebih bagus, tetapi bukan boneka. Menurut, ya?"

Anak-anak itu tentu saja berebutan memprotes. "Kenapa harus dibakar, Paman?"

"Boneka bagus kok dibakar?"

"Jangan dibakar, Paman. Kasihan. Nanti dia menangis."

Terharu juga Liu Yok mendengar suara anak-anak itu, namun niatnya tidak berubah. Ia juga merasa sulit bagaimana harus menjelaskan kepada anak-anak itu, bahwa boneka dapat menjadi "jembatan" antara dunia kasar dengan dunia gaib, dan yang datang dari dunia gaib itu bukan selalu berpengaruh baik. Jangankan menjelaskan kepada anak-anak, bahkan orang- orang dewasa pun belum tentu menerima penjelasannya.

Maka sekenanya saja Liu Yok menjawab anak-anak itu, "Boneka-boneka ini jahat, membuat Kakak kalian menjadi jahat dan dipukuli Ayah. Kalian sayang Kakak kalian bukan? Maka boneka-boneka jahat ini harus dimusnahkan."

Lalu, tanpa menghiraukan tatapan mata kecewa dari anak-anak itu, Liu Yok menuju ke dapur dan melempar-lemparkan boneka-boneka itu ke tungku yang masih menyala. Sekejap saja boneka boneka itu pun musnah.

Sebun Beng kemudian berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga peladang itu. Sebenarnya Sebun Beng teringat juga untuk meninggalkan sepotong uang perak kepada Tuan Rumah. Namun melihat betapa tulus Tuan Rumah dan keluarganya dalam menerima dan menjamu Sebun Beng bertiga, mereka nampak bahagia bisa menolong sesama, maka Sebun Beng membatalkan pemberiannya.

Ia tidak ingin merusak kemurnian watak Tuan Rumah. Ia kuatir menumbuhkan sifat "tidak mau menolong kalau tidak mendapat uang" pada diri si Tuan Rumah di kemudian hari. Sudah kelewat banyak orang serakah di permukaan bumi, dan Sebun Beng tidak ingin menambah lagi satu manusia serakah.

Tanpa imbalan uang pun, ternyata Tuan Rumah mengantarkan Sebun Beng sampai ke luar kampung, dengah perasaan tulus seolah- olah melepas bepergian keluarga sendiri. Bahkan disertai pesan agar lain kali mampir lagi. Sebun Beng pun membalas, tanpa basa-baii bahwa kelak ia akan berkunjung kembali. Sifat Sebun Beng yang pada dasarnya juga polos, memang senang menambah teman dari kalangan apa pun.

Setelah sosok-sosok tubuh Sebun Beng tidak terlihat lagi di balik lekuk-lekuk pegunungan, si Tuan Rumah masih sempat mampir ke ladang seorang temannya untuk mengobrol sebentar, setelah itu barulah melangkah balik menuju rumahnya. Tetapi di jalan yang sepi, tiba-tiba ia dihadang oleh seorang yang tampang dan dandanannya cukup aneh. Orang itu tadinya bersandar pohon di pinggir jalan, namun ketika melihat petani itu lewat, dia melangkah ke tengah jalan dan berkata,

“Maaf, Pak, aku menyita waktumu sedikit. Aku hanya ingin numpang tanya."

"Silakan," sahut Si Petani sambil memperhatikan lawan bicaranya.

Orang yang menghadang itu berusia kira-kira setengah abad, rambutnya berwarna kuning, alisnya yang tebal juga kuning, sehingga jadi aneh bagi orang-orang daratan Cina yang kebanyakan berambut hitam. Di wajah orang itu tidak ada kumis atau jenggot, sehingga mengingatkan kepada para thai-kam (orang kebiri) yang biasa terdapat di istana Kaisar. Pakaiannya berwarna kuning emas, dirangkapi jubah yang kuning emas sampai ke lutut, sepatunya juga berwarna kuning emas. Dibawah sorot matahari yang baru saja muncul dari belakang bukit, penampilan "manusia emas" ini memang jadi mengesankan sekali.

Si Peladang yang semalam rumahnya diinapi Sebun Beng itu pun bertanya dengan ramah, "Apa yang hendak Tuan tanyakan?"

"Orang-orang yang semalam menginap di rumah Bapak itu dari mana asalnya?"

"Menurut pengakuan mereka sendiri, Pamannya berasal dari kota Lok-yang, sedangkan kedua keponakannya berasal dari Se-shia. Memang logat bicara mereka pun berbeda."

Si "Manusia Emas" mengangguk-angguk, lalu tanyanya pula, "Semalam ketika di rumah Bapak, apakah mereka melakukan sesuatu?"

"Apa yang Tuan maksud dengan melakukan sesuatu itu?"

"Ya misalnya seperti.... bangun tengah malam lalu membakar Mu (kertas jimat), atau menggelar sesaji sembahyang, atau memainkan bok-kiam (pedang kayu) sambil membaca mantera...."

Si Peladang agak heran mendengar pertanyaan itu. Namun ia menjawab sambil menggeleng, "Tidak tahu, Tuan. Semalam saya dan keluarga saya itu tidur di dalam rumah. Sedang tamu-tamu saya itu tidur di bekas kandang sapi yang telah dijadikan gudang jerami. Jadi kami tidak mengetahui apa yang mereka lakukan di tengah malam."

"Benar Bapak tidak tahu?"

"Benar. Buat apa saya membohongi Tuan?"

"Apakah tidak ada bekas-bekasnya di pagi harinya?"

"Ooo, ada!" tiba-tiba si Peladang berseru.

Si Manusia Emas pun jadi tertarik, "Apa?"

"Pagi tadi di halaman samping rumah saya, tiba-tiba saja anak perempuan saya menemukan empat buah boneka rumput, yang tangannya diberi pedang-pedangan dari kertas tebal, entah dari mana. Rasanya tidak seorang pun anak-anak saya yang bisa membuat mainan seperti itu. Mungkinkah...."

Si Manusia Emas mengibaskan tangannya di depan wajah sambil berkata, "Ah, bukan itu! Bukan boneka! Yang lainnya boneka!" Sambil menggerutu dalam hati, "Kalau empat boneka rumput itu memang para Thian-peng (serdadu langit) kiriman-ku."

Si Peladang jadi bingung, "Apalagi yang Tuan maksud? Selain boneka-boneka itu rasanya tidak ada apa-apa lagi, Tuan."

Si Manusia Emas mendesah kesal, lalu menatap geram ke arah menghilangnya Sebun Beng bertiga tadi. Penasaran karena ilmu gaibnya semalam gagal tanpa diketahui sebab-sebabnya. Kini ia sedang menyelidiki penyebab kegagalannya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, ia lalu pergi begitu saja meninggalkan lawan bicaranya.

Si Peladang pun menggerutu dalam hati, "Tidak tahu adat benar mahluk ganjil ini. Seenaknya mencegat dan menanyai orang lewat, habis itu terus pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih."


Suasana tegang dan kewaspadaan masih meliputi kota Lok-yang sejak peristiwa penculikan Sun Pek-lian, puteri bungsu Gubernur Holam itu. Di mana-mana, terutama di pintu-pintu kota, terlihat penjagaan perajurit yang Jebih kuat dari hari-hari biasanya. Begitu pula perajurit-perajurit yang meronda berkeliling kota.

Siang itu, sekelompok perajurit menjalankan tugas seperti biasa di pintu gerbang kota. Namun karena sudah belasan hari tidak terjadi peristiwa apa-apa yang menggemparkan, para perajurit itu pun mulai bersikap santai. Mereka ada yang duduk, ada yang berdiri, sambil bercakap-cakap ringan.

Tiba-tiba dari arah luar kota terlihatlah debu mengepul, mengiringi seekor kuda yang dipacu sangat kencang oleh penunggangnya, mendekati pintu kota. Sambil memacu kudanya habis-habisan, penunggangnya juga meneriaki orang- orang di jalanan, "Minggir! Minggir!"

Dan setelah dekat, terlihatlah kuda itu adalah kuda padang pasir kelas satu, bulunya kuning. Penunggangnya juga seorang gadis manis yang terbalut pakaian ringkas berwarna serba kuning dengan pita rambut yang kuning, memakai mantel kuning pula yang berkibar-kibar dibelakang punggungnya karena kencangnya ia memacu kudanya.

Komandan regu penjaga kota tentu saja curiga melihat ulah penunggang kuda itu. Ia lalu melompat bangkit dari duduknya dan meneriaki anak buahnya, "Hentikan dia! Hentikan dia!"

Para perajurit pun serempak berloncatan di depan pintu kota dan membentuk pagar betis sambil menodongkan senjata-senjata mereka, sambil berteriak-teriak serabutan, "Hei, berhenti! Berhenti!"

Namun kelihatannya penunggang kuda itu tidak berniat mematuhi perintah perajurit-perajurit itu. Sudah dekat dengan pcrajurit- perajurit, ia tidak melambatkan kudanya, malahan membentak, "Minggir!"

Komandan regu dengan gusar memberi perintah kepada anak buahnya, "Siapkan panah dan senapan! Kita bikin mampus perempuan gila ini kalau perlu!"

Tetapi seorang perajurit bawahannya yang sudah lebih lama bertugas di Lok-yang, tiba-tiba berkata, "Komandan, itu Nona Sun Cu-kiok, puteri sulung Gubernur Sun.”

Ketika anak panah sudah dipasang di busurnya, dan sumbu-sumbu bedil sudah dipasang dan dinyalakan. Keruan saja si komandan kelabakan dan buru-buru berteriak meralat perintah sebelumnya, "Jangan serang! Jangan lukai! Biarkan lewat!"

Perubahan perintah yang mendadak itu juga membuat para prajurit kelabakan, untunglah mereka sempat menahan diri untuk tidak memanah atau menembak. Dan mereka harus saling tubruk ketika melompat menyingkir ke tepi jalan. Sepucuk bedil sempat meletus, untung hanya menembak udara. Ketika prajurit-prajurit itu bangun kembali setelah kuda itu berderap lewat, wajah dan pakaian mereka sudah penuh debu.

Si Komandan regu pun segera mendamprat anak buahnya yang memberi peringatan tadi, "Edan! Kenapa tidak kamu katakan lebih awal? Kalau sampai aku melukai Nona Sun biarpun hanya seujung rambut kan kepalaku bisa diprotoli oleh Tuan Gubernur?"

"Maaf, Komandan... tadi ketika masih jauh saya belum melihat jelas siapa dia...." sahut prajurit yang didamprat itu, namun dalam hatinya dia membalas mendamprat komandannya, "Komandan tidak tahu berterima kasih, masih untung ada yang memperingatkanmu!"

Sementara itu, para perajurit sudah hilang mengantuknya, dan sibuk membicarakan penunggang kuda tadi. Sebagian prajurit itu sudah lama bertugas di Lok-yang dan sebagian lagi belum lama, maka yang sudah lama itu memberi penjelasan kepada yang belum lama.

"Penunggang kuda tadi puteri Gubernur!"

"Ha? Betul?"

"Betul. Dialah Nona Sun Cu-kiok, kakak dari Nona Sun Pek-lian yang diculik penjahat itu. Memang dia sudah bertahun-tahun meninggalkan Lok-yang untuk berguru di Gunung Hong-san."

"Luar biasa caranya menunggang kuda. Tidak banyak kaum lelaki yang bisa menyamai ketangkasannya, apalagi melebihi, biar dari kalangan militer sekali pun."

"Memang luar biasa. Kalau kita yang disuruh menunggang kuda seperti itu, pastilah akan terjungkal-jungkal dan terseret-seret sanggurdi."

"Tentu saja. Semua juga sudah tahu kalau kamu tidak becus berkuda. Bukankah kamu tidak diterima mendaftar di pasukan berkuda?"

"Lain kali aku mau mendaftar di pasukan keledai."

"Ah, kamu naik keledai saja pasti ambruk juga."

"Heran juga. Sulit menduga kalau Nona tadi adalah kakak dari Nona Sun Pek-jian. Nona Sun Pek-lian lemah-lembut seperti setangkai ranting yang-liu, ibaratnya ketiup angin sedikit saja bisa roboh. Tetapi kakaknya.... wah!"

"Tidak percuma dia berguru bertahun-tahun di Hong-san."

"Rupanya kesukaannya warna kuning, ya? Kudanya berbulu kuning, pakaiannya serba kuning, padahal namanya Cu-kiok (Seruni Ungu)..." kata seorang prajurit muda yang masih bujangan dan mukanya penuh jerawat, seperti orang berangan-angan.

Seorang prajurit tua yang sok berfilsafat menyahut, "Namakan tidak menjamin terpenuhinya harapan orang tua? Ada tetanggaku yang waktu lahirnya diberi nama Banyak Rejeki, eh, tidak tahunya seumur hidupnya melarat terus."

Sementara itu, dengan cara berkudanya yang mirip angin puyuh itu Sun Cu-kiok sudah tiba di gedung gubernuran. Melewati pintu gerbang halaman gubernuran pun ia tidak melambatkan kudanya, sehingga prajurit-prajurit penjaga berlompatan minggir. Dan kuda berbulu kuning itu belum berhenti benar, ketika Cu-kiok dengan tangkas sudah melompat turun dari kudanya, mendarat ringan di tanah sambil membawa bungkusan bekalnya dan senjatanya. Para prajuritlah yang kemudian mendapat tugas menenangkan kuda yang masih melonjak-lonjak itu.

"Hei, jangan kasar kepada kudaku!" teriak Sun Cu-kiok kepada para prajurit, sambil melangkah masuk ke gedung gubernuran.

"Baik, Nona...."

Puteri sulung Guberbur Ho-lam itu melangkah naik telundakan di depan gedung dengan mantel kuning berkibar di belakang tubuhnya. Ia seorang gadis yang ramping dan cantik, namun sudah tentu kulitnya tidak seputih kulit adiknya, Sun Pek-lian, yang jarang terkena sinar matahari, sedangkan Sun Cu-kiok setiap hari menggembleng diri di lereng-lereng Gunung Hong-san. Bahkan senjata yang dipilihnya juga tidak lazim untuk para wanita pendekar.

Para wanita pendekar biasanya memilih senjata-senjata yang tidak berbobot berat, seperti pedang, cambuk, atau golok tipis Liu-yap-to (golok daun liu), bahkan ada yang hanya bersenjata selendang. Tetapi kini Sun Cu-kiok melangkah sambil memanggul sebuah Koan-to (golok bertangkai panjang) yang bobotnya cukup berat, meskipun yang dibawa Sun Cu-kiok ini lebih ringan dan lebih tipis dari yang biasa dibawa kaum lelaki.

"Mana Ayah? Mana Ibu?" Tanyanya kepada hamba-hamba gubernuran yang menyongsongnya.

Sebelum pertanyaan dijawab, dari ruangan dalam sudah muncul Gubernur dan Isterinya. Si Nyonya Gubernur langsung berlari memeluk puteri sulung itu sambil menangis, "A-kiok, adikmu...."

Mata Sun Cu-kiok jadi ikut berkaca-kaca teringat saudara satu-satunya saudaranya yang sekarang berada di tangan para penculik. Ia menepuk-nepuk punggung Ibunya sambil menghibur, "Aku sudah mendengar dari utusan Ayah yang tiba di Hong-san, Ibu. Makanya aku buru-buru kemari. Jangan cemas. A-lian akan kutemukan dan kubawa pulang dengan selamat."

Lepas dari pelukan Ibunya, Sun Cu-kiok memberi hormat kepada Ayahnya yang nampak lebih kurus dan pucat, "Ayah juga tidak perlu terlalu berkecil hati. Percayaiah. Aku akan menyusul penculik-penculik itu dan merebut kembali saudaraku satu-satunya."

Gubernur Sun menepuk-nepuk pundak puterinya. "Syukurlah kamu pulang, anakku. Tetapi aku minta kamu hati-hati dalam bertindak. Orang-orang Pek-lian-kau itu selain lihai dalam ilmu gaib, juga bernyali besar dan kejam. Bahkan mereka berani mengacau pesta pernikahan Jenderal Wan beberapa waktu yang lalu."

"Percayalah kepadaku, Ayah. Aku di Hong-san bukan bermain-main, tetapi berlatih bersungguh-sungguh."

Ketika itu seorang bujang-tua gubernuran sedang melangkah mendekat sambil membawa nampan, di mana diatasnya ada tiga cawan teh. Ketika bujang tua itu melewati dekat Sun Cu-kiok, tiba-tiba Sun Cu-kiok mengelebatkan golok Koan-tonya secepat kilat di depan wajah Si Bujang. Si Bujang tua hanya merasa kaget sedikit dan merasa kulit mukanya dingin, tidak lebih dari itu, lalu melanjutkan langkahnya untuk menyuguhkan teh-teh itu.

Nyonya Gubernur pertama-tama mengambilkan cawan untuk suaminya, lalu untuk puterinya yang baru pulang dari jauh, setelah itu baru untuk dirinya sendiri. Tetapi ketika ia hendak menghirup tehnya, ia membatalkannya sambil menatap ke dalam cawan dan mengerutkan alisnya. Tanyanya kepada si Bujang tua yang hendak kembali ke belakang sambil membawa nampan, "A-hok, siapa yang menyeduh teh ini?"

Wajah A-hok berseri-seri, siap menerima pujian, sebab biasanya Nyonya Gubernur itu selalu memuji teh seduhannya. "Saya yang menyeduhnya, Nyonya. Tangan saya sendirilah yang menyeduhnya."

Sang nyonya menegur, "Kenapa kerjamu kali ini begitu ceroboh? Bulu-bulu apa ini yang masuk ke dalam teh? Jangan-jangan ini. bulu-bulu hidungmu atau bulu-bulu ketiakmu? He! Kenapa dengan alis dan kumismu?"

A-hok kaget, lalu meraba wajahnya. Astaga, tempat alis dan kumisnya tumbuh sudah licin. Rupanya alis dan kumisnya sudah dibabat oleh Sun Cu-kiok dengan kelebatan goloknya tadi, dan rontok ke dalam cawan teh.

Sun Cu-kiok tertawa terkikik dan berkata kepada Ibunya, "Jangan memarahi Paman A-hok, Ibu. Sengaja aku mencukurnya agar dia awet muda."

Gubernur pun ikut tertawa, meskipun jadi batal minum teh campur rontokan alis dan kumis itu. Sejenak dia lupa kemurungan hatinya. "Hebat kamu, A-kiok," pujinya. Dulu ia marah karena anak perempuannya ini belajar silat, dan bukannya belajar sastra dan filsafat seperti adiknya, sekarang dia mengharapkan kehebatan Sun Cu-kiok dapat menyelamatkan Sun Pek-lian.

Sementara si bujang tua A-hok telah melangkah masuk sambil meraba-raba alis dan kumisnya yang kini licin. Orang-orang di dapur nanti tentu akan heran melihat perubahan wajahnya.

"Kapan kau akan mulai berangkat mencari adikmu, Nak?" tanya Nyonya Sun.

Sun Cu-kiok pun menjawab dengan lugas, sesuai dengan wataknya, "Makin cepat makin baik."

"Kapan? Tidak hari ini bukan? Ibu masih kangen kepadamu."

"Besok pagi-pagi, Bu. Tidak baik kalau A-lian terlalu lama di tangan orang-orang Pek-lian-kau."

Kata Gubernur, "A-kiok, apakah kau perlu membawa beberapa orang jago gubernuran untuk menemani perjalananmu?"

"Tidak perlu, Ayah. Mereka akan merepotkan aku saja."

Gubernur Ho-lam sebenarnya cemas juga akan keselamatan puteri sulungnya ini, tetapi ia juga tahu kekerasan hati Sun Cu-kiok. Seperti dulu, waktu dilarang belajar silat lalu minggat. Begitu juga sekarang, setelah bilang "tidak" maka ya "tidak". Gubernur hanya bisa berdoa agar anaknya itu mampu menjaga dirinya baik- baik. Pameran ketangkasan anak perempuannya memainkan golok "mencukur" A-hok tadi agak melegakannya.

Sementara itu Nyonya Sun sudah berkata, "A-kiok, ada baiknya sebelum kamu berangkat besok, hari ini kamu luangkan waktu untuk berbicara dengan orang-orang dari keluarga Sebun. Mungkin mereka punya beberapa keterangan berguna tentang penculik-penculik itu."

"Baiklah, Ibu. Nanti sore aku ke rumah Keluarga Sebun."

"Sekarang, beristirahatlah dulu. Kau baru saja menempuh perjalanan jauh."

Sore harinya, dalam pakaian kesukaannya yang berwarna serba kuning tetapi kali ini tanpa mantelnya, Sun Cu-kiok berjalan kaki mengujungi rumah Keluarga Sebun yang masih di dalam kota Lok-iyang juga. Nyonya Sebun Beng menyambut kedatangannya dengan ramah, lalu mengajak duduk di ruangan depan.

Ketika Bwe Gin-liong yang sedang ada dibelakang mendapat tahu bahwa Puteri Gubernur datang berkunjung, Bwe Gin-Liong pun jadi sibuk sendiri. Buru-buru dia masuk ke dalam kamarnya untuk mengenakan pakaiannya yang bagus, menghabiskan hampir sebotoi kecil minyak wangi, bahkan wajahnya diberinya pupur tipis dan sedikit pemerah bibir.

Setelah sesaat mengagumi ketampanannya sendiri di depan cermin, dengan penuh percaya diri dia pun melangkah menuju ruang tamu dengan langkah diatur seanggun mungkin. Tiba di ambang pintu ruang tamu, jantung Bwe Gin-liong berdebar kencang melihat kecantikan Puteri Gubernur yang sedang bercakap-cakap dengan Auyang Siau-hong, Sebun Giok dan Nenek Sebun. Alangkah cantiknya, biarpun kulit itu tidak seputih kulit adiknya. Sayang juga kecantikan itu dilengkapi mata dan bibir yang menimbulkan kesan bahwa gadis ini juga rada galak.

Nenek Sebun menyambut kehadiran cucu-kesayangannya itu dengan langsung memperkenalkannya kepada tamunya, "Nona Sun, inilah cucu saya yang paling berbakat, paling rajin, paling bercita-cita tinggi. Tidak seperti kedua kakaknya yang malas, kasar, tidak bercita-cita sama sekali. Cucu saya yang ini sudah membaca ribuan kitab para penulis terkenal, dan pernah lulus ujian Han-lim di Ibu kota..."

Sebun Giok dag-dig-dug sendiri mendengar kebohongan ibunya yang kelewat dahsyat. Kapan Bwe Gin-liong "membaca ribuan kitab" sedangkan di Se-shia maupun Lok-yang kerjanya hanya keluyuran saja? Kapan Bwe Gin- liong "lulus ujian Han-lim di Ibukota" sedangkan meninggalkan kota Se-shia saja baru kali ini?

Tetapi Nenek Sebun terus saja mempromosikan Bwe Gin-liong dengan gaya tukang obat pinggir jalan, "Karena cucu saya ini terlalu rajin memperdalam ilmu dan menambah pengetahuan, sampai-sampai dia lupa untuk menikah meskipun usianya sudah cukup. Padahal banyak gadis baik-baik dari keluarga ternama yang sampai menawar-nawarkan diri lho. Bahkan ada seorang puteri dari kerabat Kaisar, tetapi rupanya hatinya belum tergerak."

Sebun Giok makin ngeri sendiri akan bualan ibunya yang makin nekad itu, lalu cepat menukas, "Ibu, Nona Sun datang ke mari untuk keperluan lain. Bukan untuk menanyakan diri A-liong."

Wajah Nenek Sebun menjadi merah sambil melirik gusar kepada Sebun Giok, dampratnya dalam hati, "Anak tidak tahu diuntung! Dicarikan menantu berderajat tinggi tidak mau!"

Sementara itu, Bwe Gin-liong melangkah masuk ruangan dengan langkah perlahan dan anggun yang sudah sering dilatihnya, dalam jubah sastrawannya lengkap dengan kipas di tangannya, sambil merasa yakin bahwa Puteri Gubernur akan terguncang melihatnya. Katanya lembut sambil memberi hormat, "Terimalah salam perkenalan saya, Nona Sun..."

Selanjutnya,