Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 20 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 20

Karya : Stevanus S P

Mendengar itu, Teng Jiu mulai merasa kalau ucapan In Te itu tidak main-main. "Pangeran, jadi..."

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
"Teng Heng, maukah kau memenuhi permintaan pertamaku, yaitu tidak lagi memanggilku Pangeran? Panggil saja In Heng (saudara In), dan jangan lagi bahasa-kan dirimu hamba..."

"Hem...eh, hem...ah, aku terus terang benar- benar bingung oleh maksud kedatangan... In Heng ke Pak-khia ini. Ketika aku melihat kode rahasia In Heng di tembok luar istana, semangatku berkobar, aku mengngira saat perjuangan yang sebenarnya sudah tiba. Menumbangkan manusia curang yang selama ini menduduki tahta. Tapi...sekarang setelah bertemu In Heng, aku malah jadi bingung..."

"Baik, sekarang kuakhiri kebingungan kalian dan sahabat-sahabat lainnya. Dengar baik-baik. Aku tidak bermaksud mengecewakan Teng Heng dan rekan-rekan lainnya, bahkan aku sangat berterima-kasih. Tapi aku sudah memutuskan untuk meninggalkan gelanggang perebutan tahta, dan memberi jalan bagi Pangeran Hong Lik untuk ke singgasana, bahkan mendukungnya..."

Teng Jiu terlongong tak ada bedanya dengan Pak Kiong Liong ketika dulu pertama kali mendengar, keputusan In Te itu, begitu pula Teng Jiu kecewa. Kalau In Te benar-benar mengundurkan diri, lalu buat apa selama ini ia mempertahankan kesetiaan kepadanya, susah payah menyelubungi sikapnya yang asli dari tatapan menyelidik orang-orang istana, bahkan jungkir-balik melakukan "akrobat politis" yang berlawanan dengan hati-nurani untuk tetap bertahan di lingkungan istana demi siap menyambut kembalinya In Te?

Kini yang ditunggu sudah muncul, tapi tidak mau lagi dipanggil "Pangeran" dan malah mengundurkan diri dari gelanggang perebutan tahta. Bukankah sikap itu berarti kecurangan Kaisar Yong Ceng dibiarkan dilestarikan ke anak cucunya?

Melihat wajah Teng Jiu, In Te dapat memahami perasaannya. Katanya, "Teng Heng, sungguh berat rasa hatiku harus mengecewakan sahabat-sahabat sejatiku. Saha bat-sahabat terpercaya yang biarpun dalam kemelut atau dibawah tekanan, tetap bertahan untuk tetap setia kepadaku. Aku hormat setinggi-tingginya, sampai matipun tak bisa kubalas budi-baik kalian. Tapi aku mengajak Teng Heng dan sahabat lainnya memikirkan keutuhan negara. Aku merasa tidak lagi perlu ngotot memperjuangkan hak pribadiku, kalau tahu bahwa tahta ini kelak akan dipegang orang seperti Pangeran Hong Lik. Kalau aku ngotot bersama pendukung-pendukungku, hanya akan menimbulkan perpecahan dan kebingungan, karena itu aku memilih untuk minggir..."

Teng Jiu masih termangu-mangu beberapa saat, lalu menarik napas dengan berat dan berkata, "Yah, berarti berakhirlah perju angan terselubung kami selama ini. Sia-sia pula dulu aku bersusah-payah ikut merobohkan Ni Keng Giau demi menyiapkan jalan lurus bagi Pangeran, biarpun saat itu kami hanyalah membonceng Liong Ke Toh untuk memperkuat gebrakannya terhadap Ni Keng Giau, Memang ditakdirkan perjuangan kami demi keadilan harus sampai di sini saja..."

"Aku paham perasaanmu, Teng Heng. Tapi kuanjurkan kalian tidak ikut-ikutan keluar gelanggang, sebab Pangeran Hong Lik membutuhkan dukungan kuat pula untuk menandingi ambisi Liong Ke Toh. Aku dan paman Pak Kiong Liong pun akan mendukung Pangeran Hong Lik, biarpun lebih terselubung dari kalian. Jadi perjuangan kalian yang dulu itu tidak sia-sia, ada kelanjutannya, cuma berubah arah. Merobohkan Ni Keng Giau yang kejam itu, bagaimanapun juga tidak sia-sia, sebab banyak orang terselamatkan dari kekejamannya. Jadi jangan hanya melakukan itu demi diriku pribadi. Begitu pula mendukung Pangeran Hong Lik, landasilah dengan niat untuk menjunjung keadilan, jangan memandang dia itu putera Kakanda Yong Ceng yang lalim."

Teng Jiu mengangguk-anggukkan kepala, tapi agak lesu. Nyata, tidak mudah untuk "banting setir" dari garis yang sudah diikuti nya dan dipegang teguh bertahun-tahun. Pak Kiong Liong yang jauh lebih matang itupun memerlukan waktu untuk mengubah pikirannya, dulu ketika di padang rumput Jing- hai mendengar keputusan In Te.

"Bisa memahami pertimbangan itu, Teng Heng?" kini malah Pak Kiong Liong ikut "mengarahkan" Teng Jiu.

"Yaaah... bisa saja," sahut Teng Jiu sambil menyeringai kecut.

"Bagus. Segera hubungi semua kawan-kawan sepaham. Satukan dulu dukungan buat Pangeran Hong Lik, jangan memberi peluang kepada si ular tua Liong Ke Toh itu, sebab tidak lama lagi..." bicara sampai di sini, In Te tiba-tiba menghentikan kata-katanya sendiri.

"Sebab tidak lama lagi kenapa, In Heng?" tanya Teng Jiu heran, ingin tahu kelanjutan dari kata-kata yang terputus itu.

In Te nampak geleng-geleng kepala, wajahnya muram, sikapnya seperti menghin dari sesuatu yang tidak ingin dikatakannya. "Ah, tidak apa-apa. Cuma merasa bahwa dalam keadaan tak menentu seperti sekarang ini, segala-galanya harus serba cepat. Berlomba dengan waktu, tak boleh berlambat-lambatan..."

"Serba cepat, tapi harus tetap hati-hati dan cermat..." Pak Kiong Liong buru-buru menambahkan. Ia kuatir kalau pesan "serba cepat" itu nanti oleh Teng Jiu dan teman-temannya lalu diartikan asal main tabrak saja.

Sedang Teng Jiu heran melihat Pak Kiong Liong dan In Te mengucapkan kata-kata yang tak keruan arahnya itu. Agaknya merahasiakan sesuatu, tapi Teng Jiu percaya bahwa mereka tidak bermaksud jahat, sebab ia sudah kenal siapa Pak Kiong Liong dan siapa In Te.

"Ya, memang harus cepat..." kata Teng Jiu, lalu menarik napas dan berkata lagi, "Tapi sekarang muncul masalah baru..."

"Apa?"

"Pangeran Hong Lik yang harus kami dukung itu, kini menghilang entah kemana. Sudah beberapa bulan ia meninggalkan istana dengan menyamar, hal itu biasa dilakukannya, yang tidak biasa hanyalah begitu lama tidak ada kontak sedikitpun dengan istana. Pihak istana masih merahasiakan hal ini, tapi jelas amat gelisah..."

Pak KiongLiong dan In Te mengerutkan alis. Kalau Pangeran Hong Lik tidak ada di istana, bukankah Liong Ke Toh lalu bisa malang melintang semaunya di sisi Kaisar Yong Ceng? Padahal dorna tua itu amat pintar menjilat dan pintar menyelubungi niat khianatnya di hadapan Kaisar, sehingga Kaisar malahan menganggap Liong Ke Toh sebagai satu-satunya penasehat yang terpercaya.

Yang mencemaskan Pak Kiong Liong dan In Te ialah ketika mereka ingat pertemuan mereka dengan Kam Hong Ti di kota Hang-ciu. Waktu itu Kam Hong Ti bilang akan "menebang tiang yang sudah busuk", yang dimaksud ialah usaha membunuh Kaisar Yong Ceng. Sedangkan Pak Kiong Liong dan In Te sepakat akan membiarkan saja "tiang lama" roboh, namun akan mengokohkan "tiang batu" agar negara jangan sampai roboh.

Namun kini tiba-tiba mereka mendengar dari Teng Jiu bahwa "tiang baru" itu hilang. Kalau Kam Hong Ti keburu merobohkan "tiang lama", bukankah benar-benar semuanya akan ambruk? Jangan-jangan Liong Ke Toh yang akan mendapat keuntungan paling banyak?

Melihat Pak kiong Liong dan ln Te seperti orang-orang kebingungan, suatu adegan yang langka terlihat, Teng jiu benar-benar heran. Urusan apa yang mampu membuat kedua bekas panglima perang termasyhur itu kebingungan? "Apa yang terjadi sebenarnya?"

Beberapa saat lamanya pertanyaan Teng Jiu bergaung tanpa jawaban di ruang yang dicengkam kesunyian itu. Pak Kiong Liong dan ln Te cuma saling berpandangan tanpa kata.

"Ada apa?" Teng Jiu bertanya lagi dengan suara lebih keras.

Bukan menjawab, malahan Pak Kiong Liong balik bertanya, "Teng Heng, seberapa besar pengaruh Liong Ke Toh di istana saat ini?"

"Kedudukannya sebagai penasehat Kaisar amat menguntungkannya, dia hampir sama ditakutinya dengan Kaisar sendiri, sebab hampir semua usulnya dituruti dan dilaksanakan oleh Kaisar. Bukti kekuatan pengaruhnya ialah jatuhnya Ni Keng Giau. Kalau Ni Keng Giau yang begitu kuat dapat dijatuhkan demikian rupa, apalagi pejabat-pejabat yang kedudukannya lebih lemah."

"Kuat mana pengaruh Liong Ke Toh dengan Pangeran Hong Lik?"

"Sulit dikatakan. Orang-orang yang tidak ingin melihat kekaisaran ini dikendalikan orang busuk macam Liong Ke Toh, tentunya lalu menaruh harapan kepada Pangeran Hong Lik. Tapi dengan menghilangnya Pangeran Hong Lik, para pengharap itu seperti kehilangan pegangan..."

"Bagaimana sikap komandanmu, Komandan Ci-ih Wi-kun, Kim Seng Pa?"

"Ya seperti biasa. Duduk enak-enak sambil melihat-lihat kemana arah angin..." bicara sampai di sini, tak tertahan Teng Jiu tertawa sebentar. "Tiap hari ia tidak lupa berceramah kapada kami, anak buahnya, agar kami tidak ikut-ikutan memihak dalam persaingan dalam istana. Cukup menonton saja sambil mengharap keuntungan..."

Mau tidak mau Pak Kiong Liong dan ln Te ikut tersenyum pula. Kemudian ln Te bertanya kepada Pak Kiong Liong, "Paman, kenapa tiba-tiba paman menanyakan soal Kim Congkoan?"

"Dalam keadaan darurat ini, akan kugunakan Kim Seng Pa untuk membendung pengaruh Liong Ke Toh..."

"Bagaimana caranya?"

Sambil tersenyum, jawaban Pak Kiong Liong masih kabur, "Enak benar dia. Selagi kita kebingungan setengah mati, dia malah enak-enak menunggu arah angin, berceramah, menonton sambil menunggu keberuntungan, hem, takkan kubiarkan dia sesantai itu."

"Maksud Goan Swe?" tanya Teng Jiu.

"Teng Heng, begitu kau tinggalkan tempat ini, langsunglah menghadap Kim Seng Pa. Katakan bahwa kau sudah ketemu aku, tapi jangan bilang tentang tempat ini. Bilang saja kita ketemu di jalan, dan menerima pesan dariku. Minta dengan hormat agar Kim Seng Pa menggunakan segala pengaruh dan kemampuannya, untuk mencegah meluasnya pengaruh Liong Ke Toh..."

Teng Jiu tercengang. Sudah miringkah otak Pak Kiong Liong karena bingungnya, sehingga orang macam Kim Seng Pa juga dimintai tolong? "Goan-swe, tentunya Goan Swe tahu bagaimana watak Kim Seng Pa itu. Seorang yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, tindakan apapun akan dilakukannya dengan dasar itu. Mana mungkin dia mau melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan, bahkan membahayakan kedudukannya, seperti permintaan Goan Swe itu?"

"Pasti mau..." kata Pak KiongLiong yakin. "Kalau dia melakukan, memang aku tidak bisa menyebabkan dia menerima nasib yang jauh lebih buruk daripada Ni Keng Giau..."

"Seumpama aku sudah sampaikan pesan Goan Swe kepadanya, dan dia bilang tidak mau, lalu apa yang harus kulakukan?"

"Kalau dia menolak, bilang saja bahwa Pak Kiong Liong dan In Te akan mengucapkan terima kasih kepadanya secara tertulis dan terbuka. Ucapan terima kasih berupa selebaran yang akan ditempelkan di seluruh persimpangan jalan di Pak-khia ini, yang ditanda-tangani sendiri oleh In Te..."

Tak terasa Teng Jiu mengangkat tangannya untuk mulai garuk-garuk kepala, padahal kepalanya tidak gatal. Bagaimana tidak? Kalau Kim Seng Pa menolak, kenapa malah hendak diberi ucapan terima kasih?

"Kenapa Goan Swe malah berterima kasih untuk penolakannya..."

"Bukan. Bukan berterima-kasih untuk penolakannya sekarang, tapi untuk pertolongannya kepada diriku, dan kepada In Te dulu, waktu di Jing-hai dia secara diam-diam melakukan itu di belakang punggung Ni Keng Giau..."

Waktu itulah In Te tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal sampai membungkuk dan memegangi perutnya. Pak Kiong Liong pun terkekeh-kekeh, sedang Teng Jiu terlongong-longong karena belum tahu apanya yang lucu. Namun setelah dipikir sebentar, samar-samar Teng Jiu mulai bisa membayangkan masalahnya. Dulu ketika Ni Keng Giau dikirim ke Jing-hai untuk memadamkan pemberontakan kaum Nestorian, In Te diikut-serta kan dalam pasukan, agar ditempat yang jauh itu Ni Keng Giau bisa "membereskan" In Te tanpa ribut-ribut.

Namun ketika Ni Keng Giau pulang ke Pak-khia, ia tidak membawa kabar tentang In Te, lalu disusul kejatuhan Ni Keng Giau. Dua kejadian itu bisa dirangkai oleh Teng Jiu menjadi satu urutan. Rupanya Ni Keng Giau gagal "membereskan" ln Te, entah kenapa, gagal dibereskan oleh Ni Keng Giau.

Kini "entah kenapa"nya itu pelan-pelan mulai tersingkap. Dalam pasukan perang Ni Keng Giau, ln Te sudah ibarat anak burung dalam genggaman, kenapa sampai Ni Keng Giau gagal membunuhnya? Tidak lain tentu ulah "orang dalam" yang siapa lagi kalau bukan Kim Seng Pa yang sudah lama membenci Ni Keng Giau? Agaknya Kim Seng Pa menyelamatkan ln Te bukan karena simpati kepada ln Te, tapi karena ingin menggagalkan rencana Ni Keng Giau agar mendapat hukuman Kaisar. Siasat itu boleh dikata berhasil.

Kegagalan membunuh ln Te memang menjadi salah satu alasan Kaisar Yong Ceng untuk menyingkirkan Ni Keng Giau. Menjelang kejatuhan Ni Keng Giau dulu, selagi semua orang belum tahu Ni Keng Giau bakal jatuh, waktu itu malahan nama Ni Keng Giau sedang menjadi pujaan orang di Pak-khia, saat itu malah setiap hari terdengar Kim Seng Pa bersiul-siul riang. Seolah memang sudah tahu kalau gemerlapnya Ni Keng Giau saat itu akan segera disusul kejatuhannya.

Tak terasa Teng Jiu mulai mengangguk-angguk. "Pantas, pantas..." desisnya. "Jadi Kim Congkoan itukah yang menyelamatkan In Heng dari rencana jahat Ni Keng Giau?"

"Benar. Karena Teng Heng adalah seorang sahabat yang kupercayai, aku katakan hal ini kepadamu. Waktu itu, sehabis menolongku, Kim Congkoan memohon kepadaku dan kepada paman Pak Kiong Liong agar merahasiakan tindakannya itu. Maklumlah tindakan Kim Seng Pa menggagalkan Ni Keng Giau itu sama halnya dengan menggagalkan keinginan Kaisar sendiri."

Teng jiu menghembuskan napas lega. "Kalau begitu soalnya, akupun sekarang ikut-ikutan yakin bahwa permintaan Goan Swe Pak.Kiong Liong pasti akan dikabulkannya..."

"Tapi haruslah Teng Heng ingat..." kata Pak Kiong Liong dengan wajah bersungguh-sungguh. "Suatu rahasia masih bisa digunakan sebagai senjata untuk menekan, selama rahasia itu tetap menjadi rahasia. Sebab orang yang kita tekan itu tak ingin rahasianya tersebar luas. Kalau rahasia ini sampai tersebar, paling-paling Kim Seng Pa akan minggat dari istana untuk menghindari hukuman Kaisar, namun dia tidak lagi bisa kita manfaatkan sebagai pembendung ambisi Liong Ke Toh saat ini. Jadi Teng Heng ingat-ingatlah hal ini."

Dengan telunjuknya, Teng Jiu menunjuk bibirnya sendiri dan berkata, "Kalau sampai kubocorkan kepada satu orang lagi saja, biarlah mulutku membusuk. Bahkan kepada Toa suheng dan Ji suheng pun takkan kuberi-tahu. Bukan aku tidak percaya kepada mereka berdua, namun tidak berguna mereka mengetahuinya..."

"Bagus, Teng Heng. Jawaban dari Kim Seng Pa sebaiknya juga melalui Teng Heng, jangan melalui orang lain, lebih-lebih jangan Kim Seng Pa sendiri yang menyampaikannya kemari..."

"Baik. Ada pesan apa lagi?"

"Tidak. Bukannya kami mengusirmu, Teng Heng, tetapi seperti kata In Te tadi, semuanya harus serba cepat."

Karena itu, cepat pula Teng Jiu bangkit dan meninggalkan tempat itu. Setelah Teng Jiu pergi, ln Te bertanya kepada Pak Kiong Liong, "Paman, bukankah dulu kita pernah berjanji kepada Kim Seng Pa akan merahasiakan perbuatannya itu? Kalau kita menyebarkannya, bukankah berarti kita menjilat ludah kita sendiri?"

Pak Kiong Liong mengangguk, "Ya, tapi demi selamatnya kekaisaran ini dari keruntuhan, apa boleh buat, aku rela dimaki serendah apapun, sekotor apapun. Kalau tidak memanfaatkan Kim Seng Pa, dengan apa pengaruh Liong Ke Toh bisa dibendung?"

"Sekarang soal Kam Hong Ti yang berniat membunuh Kakanda Yong Ceng, kapankah kira-kira dia turun tangan?"

"Di sinilah kita terpaksa hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kita cuma bisa mengharap mudah-mudahan tindakan Kam Hong Ti itu terlaksana setelah Pangeran Hong Lik kembali ke istana, agar tidak menimbulkan kekosongan tahta yang akan dimanfaatkan oleh Liong Ke Toh..."

"Mudah-mudahan Pangeran Hong Lik segera kembali. Mudah-mudahan Thian mengasihi kita, mengabulkan harapan orang orang yang cuma ingin melihat ketenteraman di negeri ini..."

Doa yang sungguh-sungguh memang jarang muncul sebelum manusia terpojok. Kini doa itu sudah keluar. Sehari itu dilewati dalam kegelisahan. Pak Kiong Liong dan In Te menduga, paling cepat besok paginya Teng Jiu akan datang membawa jawaban Kim Seng Pa. Tak terduga, malam itu selagi rumah obat itu sudah sunyi-senyap seperti juga seluruh kota Pak-khia, mendadak di halaman samping terdengar anjing penjaga peliharaan pemilik rumah obat itu menggonggong keras tak henti-hentinya.

Seisi rumah yang adalah kaum persilatan semua, termasuk Khong Yan Ki si pemilik rumah obat yang sebenarnya adalah anggota Hwe-liong-pang, segera terbangun oleh gonggongan anjing itu, dan berlompatan keluar dari kamar masing-masing untuk menuju ke halaman samping dengan bersiap siaga. Merekalah Pak Kiong Liong, In Te, Tong San Hong, Tong Hai Long, Sebun Hong Eng dan Khong Yan Ki sendiri.

Halaman samping yang sering digunakan untuk menjemur bahan obat-obatan itu sudah gelap, nampak anjing peliharaan Khong Yan Ki menggonggong keras ke atas dinding. Di atas dinding nampak bayangan hitam berjongkok.

"Goan Swe, In Heng, inilah aku!" suara orang yang berjongkok di atas dinding itu ternyata suara Teng Jiu.

Cepat Khong Yan Ki menarik tali di leher anjingnya, menepuk-nepuk kepala dan moncong anjing itu untuk ditenangkan. Setelah tidak menggonggong lagi, berserulah ia ke atas dinding, "Teng-taijin, silahkan turun!"

Teng Jiu melompat turun dengan gerakan seringan anak kucing. "Aku mohon maaf telah mengejutkan kalian sehingga bangun semua..."

Pak Kiong Liong mengerti kalau Teng Jiu ada keperluan yang penting. Karena "harus serba cepat" maka Pak Kiong Liong segera menarik tangan Teng Jiu ke salah satu ruang belakang. Kecuali In Te, yang lain-lainnya disuruhnya tidur kembali. Tak lama kemudian, di kamar yang siang tadi untuk berbicara, kini mereka bertiga sudah siap berbicara kembali.

"Kim Congkoan sudah menjawab..." Teng Jiu membuka pembicaraan tanpa bertele-tele lagi.

"Bagaimana jawabannya?"

"Dia kujumpai ketika sedang enak-enak minum arak di serambi bangsal Bwe-hoa-kiong, aku langsung menghadap dan mengatakannya. la begitu kaget sampai poci araknya jatuh dari meja. Lalu dia mendesak aku untuk memberitahu dia, dimana Goan Swe dan In Heng sekarang, tentu saja kujawab tidak tahu..."

"Dia percaya?"

"Aku tidak tahu isi hatinya. Dan untuk menghilangkan kecurigaannya, maaf, aku terpaksa mengarang sebuah cerita yang agak mengurangi nama baik Goan-swe. Maaf..."

"Lho, mengurangi nama baikku bagaimana?"

"Aku bilang, aku disergap oleh Goan swe, diancam dan disiksa untuk menyampaikan pesan itu. Begitulah, sehingga Kim Seng Pa tidak terus mendesak aku untuk mengatakan tentang tempat Goan-swe dan In Heng. Sekali lagi aku minta maaf..."

Sambil mengusap jenggotnya yang putih, Pak Kiong Liong tertawa sambil menjawab, "Tidak usah minta maaf. Seandainya Teng Heng bukan sahabat seperjuangan In Te yang kami percayai, barangkali aku akan memperlakukan Teng Heng tepat seperti itu..."

Ketiga orang itu tertawa berbareng. Di sebelah ruangan itu adalah kamar tidur si kembar Tong San Hong dan Ton Hai Long. Tong San Hong sudah tidur pula seperti bayi kekenyangan, sebaliknya Tong Hai Long masih bolak-balik di dipannya sendiri seperti sedang sakit gigi. Namun giginya sehat semua, yang tidak sehat ialah perasaannya. Ia jengkel memikirkan hubungannya dengan Se-bun Hong Eng yang bukannya semakin mesra, malahan semakin sering diwarnai pertengkaran. Dan seratus persen penanggung-jawab keadaan yang memburuk itu ditimpakan ke pundak... Wan Lui, yang kini entah berada dimana.

Lagi susah tidur karena jengkel, malah dari kamar sebelah dia mendengar kakeknya, In Te serta tamunya itu bicara terus, kadang-kadang tertawa. Keruan Tong Hai Long tambah jengkel, tapi tidak berani berbuat apa-apa. Masa ia harus mendamprat ke tiga orang yang termasuk angkatan tua itu?

"Urusan apa yang dibicarakan malam-malam begini?" gerutunya. "Seolah-olah besok pagi sudah tidak ada waktu lagi."

Hanya bantal dan nyamuk yang mendengar gerutunya itu. Apa mau dikata, percakapan berjalan terus. Suara percakapan itu mau tidak mau menyusup juga ke kupingnya, lewat celah-celah langit-langit papan yang menghubungkan kedua ruangan itu. Ternyata, makin mendengarkan, makin tertariklah Tong Hai Long. Rasa mengantuknya hilang, penuh minat ia menguping pembicaraan di ruang sebelahnya itu.

Barangkali merupakan kecerobohan Pak Kiong Liong, saat dia mengira sepasang cucu kembarnya itu sudah tidur semua. Padahal cuma Tong San Hong yang tidur, sedang Tong Hai Long yang berangasan dari suka bertindak sembrono itu masih asyik mendengarkan yang bukan haknya.

"Nah, Teng Heng, bagaimana jawaban Kim Seng Pa?"

"Dia begitu gugupnya sehingga aku disuruh mengambilkan arak. Akhirnya dia bilang, kalau aku bertemu lagi dengan Goan Swe, dia menitipkan salam hangat untuk Goan Swe dan siap bekerja-sama... sedangkan soal ucapan terima kasih itu, dia memohon dengan sangat agar tidak usah diumumkan..."

Bicara sampai di situ, Teng Jiu tertawa geli diikuti Pak KiongLiong dan In Te. Pembicaraan berhenti sebentar untuk meredakan rasa geli. Sedang bagi Tong Hai Long yang menguping di ruang sebelah, tidak ikut tertawa. Apanya yang lucu? Cuma "salam hangat" dan "siap bekerja sama" saja kok ditertawakan? Tetapi dia terus mendengarkan, mengharap akan mendengar semacam berita yang hebat.

BaikPak KiongLiong maupun ln Te merasa agak lega. Dalam "permainan tingkat tinggi" itu sekarang Kim Seng Pa sudah menjadi "kartu" di tangan mereka yang bisa dimainkan. Dan kalau menguasai Kim Seng Pa dengan Ci-ih Wi-kunnya, berarti juga menguasai anak Kim Seng Pa yang bernama Kim Thian Ki, panglima sebuah pasukan di Pak-khia, meskipun untuk "memainkan" Kim Thian Ki harus lewat Kim Seng Pa. Tetap semuanya bisa digunakan untuk menandingi langkah-langkah Liong Ke Toh.

Kemudian Pak Kiong Liong berkata, "Teng Heng, mengingat watak Kim Seng Pa yang tidak mudah digertak begitu saja, apalagi diperintah-perintah yang tidak sesuai dengan kemauannya, tentu dia akan berusaha menemukan aku di seluruh Pak-khia. Karena itu, ketika Teng Heng menuju kemari, tidakkah dia membuntutimu?"

"Tentu saja dia mengikuti aku, sejak aku keluar dari pintu Hou-cai-mui di bagian belakang istana," sahut Teng Jiu tenang.

Mendengar jawaban itu, In Te terkesiap. Kalau Teng Jiu dibuntuti Kim Seng Pa, jangan-jangan sekarang rumah obat ini sudah dikepung pasukan yang dikerahkan Kim Seng Pa? Tentu komandan Ci-ih Wi-kun itu lebih senang membunuh orang yang mengetahui rahasia yang membahayakan dirinya, daripada membiarkan pemegang rahasia itu tetap hidup dan mencoba menyetirnya. Karena itulah ln Te tiba-tiba melompat ke dinding, untuk menyambar pedang yang tergantung di situ.

Tapi dilihatnya Pak Kiong Liong tetap duduk tenang-tenang saja. "Bagaimana Teng Heng melepaskan diri dari kuntitannya?"tanyanya.

Jawab Teng Jiu, "Begitu aku merasa kalau dia mengikuti aku dari kejauhan, aku pura-pura tidak tahu dan terus berjalan, tapi bukan ke arah ini. Di suatu persimpangan, kutemui seorang gelandangan tidur di bawah pohon. Kubangunkan dia, kuberi satu tahil dan kusuruh dia berlari ke suatu arah. Aku yakin komandanku yang tercinta itu terus mengintai aku. Setelah itu aku berjalan kembali ke istana, seolah-olah hendak pulang, sementara Kim Congkoan memburu gelandangan itu akupun cepat-cepat mengambil jalan lain kemari..."

"Kau telah mempermainkannya, Teng Heng. Seandainya dia bisa menyusul, menangkap dan menanyai gelandangan itu, tentu dia sadar bahwa kau telah menipunya. Apakah ini tidak membahayakan dirimu diistana, Teng Heng?"

"Ya mana ada pekerjaan tanpa resiko, apalagi di pusat pemerintahan yang penuh intrik ini? Tapi menurut perhitunganku, dia tidak akan berani mengapa-apakan aku. Selama masih menganggapku sebagai satu satunya penghubung dia dengan Goan Swe dan ln Heng. Dia tentu kuatir kalau sampai kehilangan hubungan dengan Goan Swe dan ln Heng, biarpun maksudnya itu bukan maksud baik..."

"Komandan sial dia, punya anak buah macam Teng Heng..." kata ln Te sambil tertawa.

Teng Jiu pun menjawab sambil tertawa. "Akulah yang sial, punya komandan penakut seperti dia. Kalau tidak digertak dengan ucapan terima kasih Goan Swe itu dia maunya bermalas-malasan saja sambil mencaplok keuntungan..."

Sesaat mereka sunyi dari percakapan. Khong Yan Ki datang menyuguhkan minuman, dan ketiga-tiganya langsung menghirup minumannya.

"Goan Swe, ln Heng, agaknya aku pun harus segera kembali ke istana, agar kepergianku yang terlalu lama ini tidak menimbulkan kecurigaan. Apakah ada pesan untukku, atau untuk Kim Congkoan?"

"Untuk Kim Congkoan, ingatkan saja pesan yang semula, dia harus berusaha membendung pengaruh Liong Ke Toh, dan caranya terserah dia. Untuk Teng-heng, ingatkan terus Kim Seng Pa akan pesan itu."

"Hanya itu?"

Pak Kiong Liong nampak ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya berkata juga, "Teng-heng hubungi kawan-kawan sepaham dan susun dalam suatu barisan yang kuat. Bila kelak peristiwa berdarah itu benar-benar terjadi, sedangkan Pangeran Hong Lik belum kembali, maka kekuatan kawan-kawan sepaham yang tersusun itu harus cukup kuat untuk merintangi Liong Ke Toh mencaplok tahta."

"Peristiwa berdarah?" Teng Jiu terkesiap.

"Ada komplotan yang berniat membunuh Kaisar. Kami pernah bertemu dan berbicara dengan salah satu anggota komplotan itu, dan aku sudah sepakat untuk membiarkan mereka mewujudkan niatnya. Yang akan kami lakukan hanyalah cepat-cepat ke Pak-khia untuk menyiapkan Pangeran Hong LiK sebagai pengganti. Begitu pembunuh-pembunuh itu berhasil, Pangeran Hong Lik harus cepat menduduki tahta dengan dukungan kekuatan yang memadai. Itulah sebabnya, ketika kami dengar Pangeran Hong Lik tidak ada di istana, kami sungguh bingung. Padahal pembunuh itu mungkin sekarang sudah ada di Pak-khia dan mulai menyusun rencana mereka."

Wajah Teng Jiu terasa kaku karena tegangnya, seolah wajah itu dituangi selapis semen basah yang cepat keringnya. Kini di paham betapa dalam makna pesan In Te ten tang "semua harus serba cepat" itu. "Siapa yang mengincar nyawa Kaisar?' tanya Teng Jiu.

"Kang-lam Tai-hiap Kam Hong Ti dan teman-temannya. Mereka menyesal dulu telah mendukung Yong Ceng naik tahta, dan kini mereka ingin menebus kekeliruan itu dengan membunuh Yong Ceng."

"Ah, itu jalan pikiran yang gampang gampangan saja," kecam Teng Jiu. "Tidakkah mereka menghitung akibatnya?"

"Mereka orang-orang rimba persilatan, yang jalan pikirannya lain dengan kita yang terbiasa main berbelit-belit di panggung kekuasaan," kata Pak Kiong Liong. "Mereka pikir Yong Ceng jahat, kalau si jahat dibunuh, habislah masalahnya. Begitu."

Teng Jiu begitu tegangnya mendengar berita itu, sehingga ia bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir sambil meremas-remas jari-jarinya sendiri.

Sementara mereka bingung, Tong Hai Long yang menguping di ruang sebelah justru tidak bingung, malah ia berpikir, "Ah, kakek dan paman In Te ini katanya ahli-ahli strategi ternama, kenapa menemui soal sekecil ini saja jadi bingung? Kalau mau mengamankan tahta buat Pangeran Hong Lik, kenapa tidak bunuh saja Liong Ke Toh? Kalau mereka ragu-ragu, biar aku yang membunuh dorna tua itu."

Untung itu tidak diucapkan didepan kakeknya. Kalau diucapkan, entah bagaimana gusarnya Pak Kiong Liong kepada si cucu gegabah ini. Tong Hai Long sendiri amat puas dengan hasil pemikirannya itu, menganggap dirinya sudah mengungguli kakeknya dan In Te dalam soal "mengamankan tahta" itu. Dasar Tong Hai Long, pemikiran itu segera disusul rencana untuk mewujudkannya, supaya ia dapat membuktikan diri sebagai "pahlawan besar", sehingga bukan Wan Lui saja yang terus disanjung-sanjung.

"Tapi rencanaku ini tidak boleh sampe ketahuan kakek, atau paman In Te atau lainnya, nanti mereka akan menghalang-halangi," pikirnya. "Sebab dalam pandangan mereka, aku ini dianggap tidak becus apa-apa dan cuma Wan Lui saja yang serba hebat."

Demikianlah semangat Tong Hai Long berkobar-kobar untuk ikut "menyelesaikan' masalah. Dalam pemikirannya, pintu gerbang ke arah kemasyhuran sudah terbentang di depannya, dan ia tinggal melangkah memasukinya.

Sementara itu, di ruangan sebelah, Pak Kiong Liong berkata, "Kalau Kam Hong bisa dihubungi, tentu takkan sesulit ini soalnya. Kita bisa memohon kepada mereka agar mengundurkan rencana sampai kembalinya Pangeran Hong Lik, tapi aku tidak tahu bagaimana menghubungi mereka di kota besar ini."

Sesaat suasana masih sepi dan cuma terdengar langkah Teng Jiu yang bolak-balik di ruangan itu, atau gonggongan anjing di kejauhan. Bunyi gembreng tanda tengah malam dari menara sudah tidak kedengaran lagi, sebab tengah malam memang sudah lewat.

"Teng-heng, sebaiknya kau cepat kembali ke istana. Tapi kuharap apa yang kita bicarakan di sini tetap dirahasiakan rapat-rapat."

"Jangan khawatir."

"Kita akan tetap mengadakan kontak. Kalau bukan kau yang menghubungi kami, kamilah yang akan menghubungimu, dengan isyarat-isyarat seperti biasa."

"Baik. Aku pamit dulu." Teng Jiu pun pamit meninggalkan rumah itu.

Sementara itu Tong Hai Long jadi sulit tidur, karena sudah tidak sabar membayangkan dirinya sebagai pahlawan yang termasyhur di seluruh wilayah kekaisaran.

* * * *

Pagi itu di rumah obat Khong Yang Ki tidak ada yang curiga ketika mengetahui Tong Hai Long tidak ada di rumah itu, tidak ada yang mempersoalkannya. Sudah biasa, selama ada di Pak-khia, pemuda penaik darah itu memang sering berjalan-jalan keluar melihat-lihat kota besar itu, dan semua orang menganggap itu lebih baik daripada terus-terusan menggerutu di rumah.

"Apakah A-hai baru saja bertengkar denganmu lagi?" tanya Pak Kiong Liong kepada Se-bun Hong-eng yang sedang melatih ilmu silatnya di halaman samping. Ilmu silat dengan pedang di tangan kiri, sedangkan sarung pedang yang berujud tongkat besi berrongga itu dimainkan sebagai tongkat di tangan kanan.

Wajah Se-bun Hong-eng jadi merah malu mendengar pertanyaan itu. la cuma menjawab dengan gelengan kepala sehingga kuncirnya bergoyang.

Pak Kiong Liong pun tersenyum. "Ya, sudah. Biar anak itu ngelayap semaunya, melihat-lihat macam-macam tontonan daripada marah-marah terus di rumah ini."

Demikianlah anggapan Pak Kiong Liong. Ia tidak tahu kalau cucunya itu pergi bukan cuma ingin menonton keramaian, tapi mau "membuat keramaian" yang tidak tanggung-tanggung. Dengan bertanya-tanya sepanjang jalan, dapatlah Tong Hai Long mencari tahu dimana kediaman Liong Ke Toh, Pamanda Kaisar. Tekadnya tidak menyusut sedikitpun ketika diberitahu bahwa Liong Ke Toh tinggal di salah satu bagian istana yang dijaga ketat.

"Makin berbahaya tempat yang akan kuserbu, makin terkenal namaku kelak," pikirnya mantap, pantang mundur. Tapi ia tidak mau bertindak sembarangan. Siang hari menyerang sama saja dengan bunuh diri. Padahal ia ingin menjadi pahlawan tapi tetap hidup, bukan pahlawan anumerta. Maka siang itu ia hanya bermaksud melihat-lihat keadaan sekitar dinding istana, sambil mencari-cari bagian mana yang nanti malam kiranya bisa ditebus.

Tetapi cara Tong Hai Long bertanya-tanya mencari keterangan itu memang agak sembrono, terlalu menyolok. Bukannya menyamar, dia malahan berpakaian ringkas dan menggendong pedang segala, cara bertanya juga bukan dengan memancing perlahan-lahan, tetapi terlalu langsung. Karna itulah gerak-geriknya segera menarik, perhatian suatu golongan manusia yang secara diam-diam juga sedang mengamat-amat istana.

Setelah mengelilingi dinding luar istana, satu kali sambil melihat-lihat, dan beberapa kali berpapasan dengan peronda-peronda istana yang menatapnya dengan curiga, maka Tong Hai Long mulai merasa lapar. Maklum, saking bersemangatnya ingin membunuh Liong Ke toh, Tong Hai Long berangkat dari rumah obat Khong Yan Ki itu tanpa makan pagi lebih dulu, dan kini sudah hampir tengah hari.

Kebetulan di mulut sebuah lorong, tidak jauh dari istana, nampak seorang penjual mi pikulan sedang duduk terkantuk-kantuk di bawah sebuah pohon rindang, agaknya d gangannya kurang laku. Selain sebuah bangku kecil yang didudukinya sendiri, didepan pikulannya juga ada sebuah bangku kecil yang rupanya disediakan buat pembeli. Bakul berusia hampir setengah abad, kurus dan berbaju rombeng itu, nampak begitu lelahnya sehingga ia duduk sambil tertidur. Apalagi di bawah pohon itu udaranya sejuk sekali.

Tong Hai Long berpikir, "Kalau bakul mi pikulan ini berjualan secara tetap di tempat ini, barangkali dia tahu juga sedikit seluk-beluk istana, terutama bagian yang menjadi kediaman Liong Ke Toh. Hem, bisa kudapat tambahan keterangan dari dia."

Lalu dia mendekati penjual itu dan langsung duduk di bangku kecil di depan pikulan itu sambil berkata, "Pak, beli mi-nya."

Si penjual tergeragap bangun. Lalu sambil terkekeh ia menunjuk pikulannya sambil bertanya dengan suaranya yang gemetar dan lemah, "Mau beli?"

"Betul, pak. Semangkok saja, komplit."

Si penjual mulai mengambil mangkok dan meracik masakannya. Dan beberapa saat kemudian Tong Hai Long harus merasakan seporsi mi pangsit yang tidak keruan rasanya.

"Pantas tidak ada yang beli," pikirnya.

Tapi makan mi pangsit memang cuma urusan nomor dua, yang nomor satu ialah mengumpulkan keterangan tentang kediaman Liong Ke Toh. Setelah memaksa diri menghabiskan satu mangkok, ia keluarkan potongan perak seberat setengah tahil. "Ini uangnya, pak. Kembalinya untuk bapak saja, tapi tolong jawab pertanyaanku."

Terkekeh-kekeh si tukang mi memasukkan uang itu ke laci pikulannya.

"Pak, apa benar jalan di samping timur istana itu menuju ke gedung kediaman Liong Ke Toh.... eh, maksudku Liong Ong-ya, Pamanda Kaisar?"

Si tukang mi pangsit melirik sekejap ke tangkai pedang yang mencuat dari belakang pundak Tong Hai Long. Jawabannya dengan suara yang gemetar itu melenceng jauh dari pertanyaannya, "Wah, memang bahan-bahan di pasar sekarang naik semua harganya, jadi daganganku juga harus ikut naik, kalau tidak ya rugi. Tapi pembeli-pembeli jadi sepi... susah..... susah....."

Memang susah. Tong Hai Long pun susah payah menyabarkan dirinya, tanyanya tambah keras sambil menunjuk jalan yang dimaksud, "Pak, apa betul kediaman Liong Ong-ya di jalan ini?"

"Jalan itu? O... ya, benar. Dulu ramai sehingga daganganku laris. Tapi sekarang...ah, susah... susah...."

Tong Hai Long mendongkol sekali. Percuma ia memaksa diri makan semangkuk mi pangsit tak keruan rasanya, mengeluarkan uang setengah tahil, dan yang diperolehnya cuma jawaban simpang-siur macam ini. Pembicaraan jadi ketemu jalan buntu, terpaksa Tong Hai Long siap-siap meninggalkan tempat itu.

Belum seempat ia bangkit, tiba-tiba dilihatnya dari ujung jalan itu muncul serombongan orang. Sebuah tandu yang indah, diiringi pengawal berjumlah puluhan orang yang berjalan di depan, belakang dan kedua samping tandu itu. Yang menarik, ada pula enam pengiring yang berjubah merah dan di atas kepala gundul mereka memakai topi kecil lancip yang diikat ke bawah dagu. Lima di antara mereka berusia empatpuiuh sampai limapuluh tahun, dan satu orang yang berjalan di samping tandu berusia tinggi, sekitar tujuhpuluh tahun, alisnya putih, tapi jalannya tetap tegap dan sorot mata nya tajam.

Melihat pendeta-pendeta Ang-ih-kau itu, Tong Hai Long jadi ingat pengalaman pahit masa kecilnya, ketika ia bersama Tong San Hong dan Se-bun Hong-eng diculik dari Tiau-im-hong, dibawa ke istana dan disekap dalam kerangkeng yang dijaga pendeta-pendeta Ang- ih-kau ini. Tong Hai Long tahu kalau para pendeta ini berkedudukan terhormat dalam istana, bahkan berkedudukan lebih tinggi dari komandan-komandan pasukan istana.

Hampir-hampir para pendeta ini merupakan orang-orang kepercayaan atau pengawal-pengawal pribadi Kaisar Yong Ceng sendiri, begitu kabarnya di luaran. Para pendeta ini pula yang berjasa, bukan dalam darma-bakti keagamaan mereka, namun menciptakan senjata Hiat-ti-cu, kantong kulit terbang yang bisa membunuh dari jarak jauh dengan seutas rantai. Tapi kini para pendeta itu mengawal tandu dengan sikap seorang bawahan, tentunya orang dalam tandu itu berkedudukan cukup istimewa.

"Apakah Liong Ke Toh yang dalam tandu itu?" Tong Hai Long mulai menduga-duga. "Kalau benar, buat apa susah-susah aku menunggu sampai malam untuk menyelundup ke kediamannya? Sekarang juga bisa kubereskan dia di sini."

Bukan Tong Hai Long kalau membuat perhitungan yang rumit-rumit. Soal apapun dianggapnya gampang saja. Sementara Tong Hai Long dengan sikap tetap duduk memperhatikan rombongan itu, si tukang mi pangsit malah memperhatikan Tong Hai Long dengan sikap cemas, seolah mengetahui apa niat pemuda itu.

Tandu itu memang berisi Liong Ke Toh. Mengingat pengalaman buruknya ketika dulu dicegat oleh perwira-perwira pengikut fanatik Ni Keng Giau, maka kini Liong Ke Toh apabila keluar dari istananya selalu membawa barisan pengawal yang cukup kuat. Apalagi hari-hari dimana persaingannya dengan Pangeran Hong Lik menghangat, Liong Ke Toh tambah hati-hati, sebab diapun tahu kalau Pangeran Hong Lik juga memiliki pendukung-pendukung yang tidak kalah gigihnya dengan pengikut Ni Keng Giau dulu.

Pemimpin pengawal Liong Ke Toh ialah Toh Hun yang melangkah tegap di depan tandu. Namun bola mata Toh Hun yang selalu bergerak itu menunjukkan hatinya yang tengah gelisah. Maklum, dulu dia diserahi tugas oleh Liong Ke Toh untuk menghubungi Pek-lian-kau lagi, ingin menanyakan bagaimana kelanjutan "urusan lama" tentang Pangeran Hong Lik. Ternyata urusan sudah makin kacau. Ada kabar kalau kaum Pek-lian-kau malah pecah sendiri, baku hantam, dan tidak jelas lagi nasib Pangeran Hong Lik.

Buat Liong Ke Toh dan komplotannya, syukur kalau Pangeran Hong Lik mampus dalam huru-hara itu, tapi bagaimana kalau masih tetap hidup dan tetap digunakan untuk memeras pihak mereka? Kini Toh Hun tinggal mengharap terciptanya kontak dengan "pengkhianat Pek lian-kau" yang dulu mengaku bernama "Gan Hong Lui" dan sudah diberinya uang sepuluh tahil emas dari janjinya yang limaribu tahil emas.

"Inilah akibatnya kalau berhubungan dengan orang-orang yang tamak uang itu, urusannya malah jadi ruwet tak keruan," kutuk Toh Hun dalam hati sambil mengingat peristiwa di gedung Cong-peng-hu di kota Seng-tin dulu. "Mereka saling bunuhpun pasti gara-gara rebutan Pangeran Hong Lik untuk digunakan memeras kami, hem."

Karena itulah sambil berjalan di depan tandu Liong Ke Toh, ia juga memperhatikan orang-orang di jalanan, kalau-kalau di antara mereka ada "Gan Hong Lui". Hatinya melonjak ketika di mulut jalan ia melihat seorang pemuda duduk membelakangi jalan, di hadapan seorang tukang mi pangsit pikulan. Apalagi ketika melihat pemuda itu berbaju hitam dan menggendong pedang. Bukankah dulu "Gan Hong Lui" juga berbaju hitam dan juga membawa pedang?

"Gan Hong...." seruan Toh Hun yang penuh harapan itu terputus ketika melihat pemuda itu menoleh dan ternyata bukan orang yang diharapkannya.

"Tapi mudah-mudahan teman Gan Hong Lui." Toh Hun belurn putus harapan.

Dilihatnya pemuda itu tiba-tiba melompat ke tengah jalan, menghadang rombongan Liong Ke Toh sambil mencabut pedang di punggungnya. Kecepatan gerak lompatnya dan menghunus pedangnya cukup mengejutkan, menunjukkan ilmu silat yang tangguh.

"Liong Ke Toh, mampuslah!" Tong Hai Long melompat deras bagaikan harimau, menerjang pengawal-pengawal Liong Ke Toh yang di depan tandu.

Para pengawalpun mencabut senjata, tapi hanya itu yang sempat mereka lakukan sebab kecepatan pedang Tong Hai Long mendahului semua prakarsa mereka. Jadinya mereka cuma sempat menghunus senjata tapi belum sempat menggunakannya. Pedang Tong Hai Long dengan gerak Tai-boh-liu-soa (Pasir Beterbangan di Gurun) berputar kencang membentuk piringan perak yang berpusar dengan diri Tong Hai Long sebagai sumbunya. Sekaligus empat orang pengawal roboh dengan dada tergores dalam oleh pedang itu.

Berkobarlah semangat Tong Hai Long oleh hasil pertama yang begitu gemilang akan membuat namanya disanjung oleh Se-bun Hong-eng melebihi nama Wan Lui. Sambil membentak, jurusnya dirubah menjadi Thai-peng-tian-ci (Garuda Membuka Sayap). Piringan cahaya pedangnya mendadak lenyap dan berubah menjadi dua jalur cahaya perak yang bercabang memanjang ke kiri dan kanan. Kembali dua orang pengawal Liong Ke Toh tertikam roboh.

Barisan pengawal Pamanda Kaisar itupun jadi kacau. Merasa bertanggung-jawab untuk kelelamatan junjungannya, Toh Hun menghadang. Senjatanya ialah sepasang Hou-thau-kou (kaitan kepala harimau) yang berpelindung di pegangannya.

Ketika Tong Hai Long tiba dihadapannya dengan gerak tipu Tok-coa-cut-tong (Ular Berbisa Keluar Gua). Kaiatan kiri berusaha mengait pedang untuk dipelintir dan diseret ke samping, sedangkan kaitan kanan menyerang dari bawah untuk "membongkar" perut Tong Hai Long.

Namun Tong Hai Long bukan cuma menang semangat, tapi juga menang jauh dalam urusan ilmu silat. Toh Hun gagal mengait pedang, dan serangannya ke arah perut juga tertangkis. Ketika lawannya yang berumur separuh dari umurnya itu menendang secara kilat, Toh Hun tak bisa menangkis atau menghindar lagi, janggutnya kena tendangan sehingga ia terhempas roboh dengan mulut berlumuran darah.

Teknik tendangan Tong Hai Long diambil dari Pek-pian Lian-hoan-tui (Tendangan Berantai Seratus Tipuan). Bukan saja amat cepat, tapi gerakannya juga membingungkan dan sulit diduga arahnya. Toh Hun menjaga perutnya, ternyata janggut yang kena.

Kalau Toh Hun sebagai komandan pengawal saja begitu gampang diminggirkan, nampaknya pengawal-pengawal Liong Ke Toh lainnya takkan ada lagi yang bisa membendung amukan cucu Macan Selatan dan Naga Utara ini. Dengan semangat berkobar, Tong Hai Long menjejak tanah dan melompat datar, seperti sebatang panah raksasa dengan pedang yang diacungkan ke depan, ia menyerang tandu.

Dua pengusung joli sudah bertiarap di tanah sambil memeluk kepala. Sementara Liong Ke Toh di dalam joli sudah menjerit panik. Namun tandu itu tiba-tiba seolah terbang ke atas ketika pinggiran bawahnya dicongkel dengan kaki si pendeta Ang-ih-kau beralis putih itu, lalu disangga tinggi-tinggi dengan satu tangannya saja, seolah-olah tandu yang berat itu menjadi seringan kurungan burung gelatik saja.

Tandu berhasil dihindarkan dari serangan ganas Tong Hai Long, namun kini dada si pendeta tua itulah yang menjadi sasaran ujung pedang Tong Hai Long yang meluncur cepat membelah udara. Orang lain boleh kaget menghadapi serangan hebat Tong Hai Long itu, namun pendeta tua itu, Biau Beng Lama, malahan mendengus congkak sambil berkata, "Bocah kemarin sore, jangan coba-coba jual tampang di sini."

Jubahnya berkibar ketika kakinya melakukan tendangan Pai-lian-ka (Batang Teratai Bergoyang) untuk menendang lengan Tong Hai Long yang memegang pedang. Kekuatan maupun ketangkasan pendeta tua itu mengejutkan Tong Hai Long, menyadarkan bahwa dia telah kepergok seorang jago angkatan tua. Dengan agak gugup Tong Hai Long mengubah arah luncuran tubuhnya dengan membantingkan tubuh ke sisi.

Biau Beng Lama tertawa terbahak, lengan yang tidak menyangga tandu itu mengebas dengan lengan jubahnya. Segulung arus udara kuat menerpa Tong Hai Long sehingga pemuda itu seperti bola ditendang saja, terpental sampai menabrak tembok di pinggir jalan. Si "calon pahlawan" itu kini berkunang-kunang matanya, tapi pedangnya masih terganggam erat di tangannya.

Memang jadi agak konyol. Tapi Biau Beng Lama sendiri biarpun kelihatan tertawa-tawa, sebetulnya kaget dalam hatinya. Baik tendangan Pai-lian-ka nya tadi maupun kebasan lengan jubahnya itu harusnya bisa langsung membunuh pemuda baju hitam itu. Tendangan itu harusnya kena dan mematahkan tangan si pemuda, nyatanya luput. Kebasannya seharusnya membuat di pemuda muntah darah, namun si pemuda nampaknya cuma terbanting dan pusing-pusing sedikit. Biau Beng Lama kecewa dalam hati.

Dulu ia pernah dikalahkan Ketua Hwe-liong-pang Tong Lam Hou, sejak itu ia berlatih ilmunya dengan keras, dan belakangan ini mengira kalau ilmunya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa. Ternyata peristiwa dengan Tong Hai Long itu mengecewakan hatinya. Tambah kecewa lagi ketika melihat Tong Hai Long dalam waktu singkat telah berhasil melompat bangun kembali, biarpun sambil berkernyit kesakitan namun tidak ada cidera serius nampaknya.

Sementara itu, Liong Ke Toh yang di dalam tandu itu berteriak-teriak ketakutan, "Turunkan aku... turunkan... turunkan...."

Pelan-pelan Biau Beng Lama meletakkan tandu itu. Lalu ia membungkuk hormat kepada Liong Ke Toh dan berkata, "Hamba minta maaf, Ong-ya. Karena keselamatan Ong-ya terancam, hamba telah menyelamatkannya dengan cara tadi."

Liong Ke Toh berseru gusar, "Siapa berani coba membunuhku? Cincang dia tanpa ampun!"

"Baik!" sahut Biau Beng Lama. Lalu dia memberi isyarat kepada kelima pendeta Ang-ih-kau yang menjadi muridnya itu. "Tangkap pengacau itu hidup atau mati!"

Lima pendeta yang lebih ahli dalam mencincang orang daripada membaca doa itupun berlompatan maju untuk menjalankan perintah guru mereka. Sedangkan sisa pengawal Liong Ke Toh bersiaga di sekitar tandu Liong Ke Toh untuk melindungi. Kelima murid Biau Beng Lama itu masing-masing adalah Po Goan Lama yang ber senjata Hong-pian-jan (toya yang ujungnya berbentuk bulan sabit), Hoat Kheng Lama yang bersenjata golok melengkung, Ci Long Lama yang berkulit hitam dan berhidung panjang karena keturunan India dan bersenjata sebatang tongkat bambu hitam yang mengkilap, Hwe Lun Lama yang memegang sepasang gelang baja besar, dan Kim Leng Lama yang bersenjata sepasang tongkat pendek, dengan ujungnya berbentuk lonceng dari emas.

Tiap satu orang dari mereka adalah jagoan tangguh, apalagi kalau maju lima orang sekaligus. Namun mereka merasa malu juga kalau harus mengeroyok seorang "anak ingusan" macam Tong Hai Long. Karena itu Po Goan Lama berkata kepada keempat adik seperguruannya, "Kalian jaga di empat penjuru agar dia jangan sampai lolos. Biar aku yang mencoba menangkapnya!"

Keempat saudara seperguruannya itu pun berlompatan mengambil "pos"nya masing- masing sehingga Tong Hai Long terkurung. Sedangkan Po Goan Lama mendekati Tong Hai Long dengan waspada. Tadi sudah! dilihatnya kehebatan pemuda ini, dan ia tidak mau kurang hati-hati agar tidak menelan pil pahit.

Sebaliknya Tong Hai Long pun merasa sudah lenyap peluangnya untuk "menjadi pahlawan". Kalau bisa melarikan diri, sudah boleh dibilang beruntung. Sesaat kedua orang itu berhadapan. Tapi belum lagi pertempuran dimulai, dari ujung jalan kembali muncul serombongan prajurit.

Liong Ke Toh langsung melambai-lam baikan tangan dari jendela tandu, sambil berteriak-teriak, "He, kemari! Kemari! Ada pengacau!"

Para prajuritpun berlarian mendekat. Hal itu makin mengkhawatirkan Tong Hai Long. la sadar, mungkin takkan ada lagi peluang untuk kabur kalau sampai tempat itu semakin banyak prajuritnya. Maka begitu Po Goan Lama menyerang, ia tidak menangkis atau membalas serangan, tapi langsung melompat untuk kabur. Tapi di hadapannya tiba-tiba muncul bayangan tongkat bambu hitam, menderu hendak memukul ubun-ubunnya. Si pendeta Ang-ih-kau keturunan India, Ci Long Lama, menghadang larinya.

"Minggir, Hoan-ceng (pendeta asing)!" bentak Tong Hai Long tergopoh-gopoh. Karena ingin secepatnya pergi dari situ, bukan saja pedangnya yang dimainkan dengan hebat, tapi tangan kirinya ikut memukul dengan ilmu Hian-im-ciang yang menimbulkan udara sangat dingin, ajaran kakeknya almarhum, Tong Lam Hou. Juga sepasang kakinya pun langsung memainkan Pek-pian Lian-hoan-tui yang tadi sempat meremukkan janggut Toh Hun.

Serangan total itu mengejutkan Ci Long Lama. Tapi pendeta ini kelasnya jauh di atas pengawal-pengawal yang tadi dibabat dengan mudah. Memang mulanya Ci Long Lama terkejut oleh serangan yang membanjir itu, namun setelah melompat mundur untuk mengambil jarak, ia berhasil menyusun pertahanan yang memadai. Maka Tong Hai Long tak lagi bisa menembus "pos jaga" murid Biau Beng Lama ini.

Bertarunglah kedua orang ini dengan sengit. Cahaya pedang yang keperak-perakan dan tongkat bambu yang kehitam-hitaman terlibat Bertarunglah kedua orang ini dengan sengit. Cahaya pedang yang keperak-perakan dan tongkat bambu yang kehitam-hitaman terlibat rapat seperti sepasang naga yang bertarung sengit di angkasa rapat seperti sepasang naga yang bertarung sengit di angkasa.

Kemudian Ci Long Lama mulai merasa kehebatan lawannya, ia telah bersin beberapa kali akibat kena aliran udara dingin Hian im- kang yang begitu tajam melingkupi tubuhnya. Pedang bisa ditangkis, tapi udara yang tak kelihatan mana bisa ditangkis? Ruang gerak tongkatnya juga perlahan-lahan mulai berhasil ditekan dan dipersempit terus oleh gerak pedang Tong Hai Long.

Melihat kesulitan Ci Long Lama itu, saudara seperguruannya, Hwe Lun Lama segera ikut terjun ke gelanggang, la melakukan tubrukan dari samping dengan gerakan Au-cu-hoan-sin (Elang Berputar Badan), tubuhnya yang gemuk itu ternyata mampu berputar ringan dan berputar bagaikan gasing, sepasang gelang bajanya dengan gerak melingkar hendak menghantam pelipis Tong Hai Long kiri kanan.

Pemuda itu terpaksa harus memecah perhatian, tekanan terhadap Ci Long Lama mau tidak mau mengendor. Dan si pendeta India bukan cuma menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki posisi, melainkan balik menekan bersama-sama Hwe Lun Lama. Tak lama kemudian, biarpun hawa dingin akibat ilmu Hian-im-ciang itu masih membuat Ci Long dan Hwe Lun Lama bersin beberapa kali, tetapi kedua Lama-itu berhasil balik mendesak Tong Hai Long.

Kini Tong Hai Long harus banyak mengurangi sikap menyerangnya yang ganas, dan lebih banyak bertahan saja. Para pengawal Liong Ke Toh dan prajurit yang baru datang kini cuma menonton di pinggir arena, karena merasa sulit ikut campur dalam pertempuran serba cepat antara orang-orang berilmu tinggi itu. Dimana gerak pedang, tongkat bambu hitam dan sepasang gelang baja itu tak bisa diikuti dengan mata, belum lagi hawa dingin Hian-im-ciang yang bagi para prajurit berilmu rendah itu pasti akan membekukan darah, bukan sekedar bersin seperti Ci Long Lama dan Hwe Lun Lama yang cukup tinggi tenaga dalamnya.

Sementara itu Biau Beng Lama yang bermata tajam itu pelan-pelan mulai mengenali gaya bertempur Hong Hai Long. Dilihatnya bagaimana pemuda itu kadang-kadang merunduk rendah, meluncur sambil menyeret kaki, langkah berputarnya maupun lompatan pendeknya menunjukkan gaya khas ilmu pedang Tiam-jong-kiam-hoat, ilmu andalan almarhum Tong Lam Hou, ketua lama Hwe-liong-pang yang pernah mempecundangi Biau Beng Lama.

Tapi dilihatnya juga ong Hai Long sering melompat tinggi, berputar dan bergeliatan di udara, dengan gerak pedang memanjang bengkang-bengkok, kadang-kadang melengkung seperti pelangi. Gaya itu dikenali oleh Biau Beng Lama sebagai gaya khas Thian- liong-kiam-hoat andalan Pak Kiong Liong. Artinya, dalam diri pemuda itu memiliki dua macam aliran silat dari dua tokoh termasyhur itu.

Sebuah seringai mengembang di wajah Biau Beng Lama, katanya kepada Liong Ke Toh. "Ong-ya, kali agaknya ada kakap masuk jaring kita. Pemuda baju hitam itu nampaknya ada hubungannya dengan Tong Lam Hou maupun Pak Kiong Liong. Mungkin dia salah satu dari cucu kembar mereka yang dulu pernah kita tawan ketika masih kecil."

Liong Ke Toh yang sudah agak tenang, terkekeh-kekeh ketika mendengar penjelasan itu. Katanya, "Kalau benar dia cucu Pak Kiong Liong, dia bukan cuma kakap, tapi arawana! Jangan sampai dia lepas!"

Tidak usah diperintah, memang Ci Long dan Hwe Lun Lama telah mendesak Tong Hai Long sedemikian rupa sempat terjepit kepayahan. Soal menangkapnya tinggallah soal waktu saja. Sedang ketiga Lama murid Biau Beng Lama lainnyapun berjaga-jaga, agar "arawana" ini tidak sampai kabur.

Tong Hai Long memang sudah dalam ke sulitan hebat. Betapapun gigihnya, setapak demi setapak ia terus didesak, bukan semakin menjauhi arena namun malah semakin ke tengah-tengah arena, ke tengah-tengah musuh- musuh mereka. Saat itulah tongkat Ci Long Lama mengulung dari depan bagaikan mega hitam. Sedangkan Hwe Lun Lama mengintai dari samping, menunggu terbukanya peluang untuk sebuah serangan pamungkas.

Tong Hai Long mengertak gigi dengan geram. Tekadnya sudah bulat sekarang, kalau harus gugur hari itu, ia ingin "mengajak" paling tidak satu dari para Lama itu. Terjangan Ci Long Lama disongsongnya dengan terjangan pula, sedangkan serangan Hwe Lun Lama dengan gelang baja yang siap merontokkan tulang- tulang punggung Tong Hai Long itu malahan tidak digubrisnya sama sekali.

Tindakan nekad itu memang mengejutkan lawan-lawannya, maupun orang-orang yang menonton di seputar arena. Tibalah detik-detik kritis di arena itu, semuanya merasa mungkin akan segera jatuh korban jiwa, entah siapa.

"Mampus!" Hwe Lun Lama memperhebat serangan untuk menyelamatkan saudara seperguruannya. Namun tiba-tiba...."ha-ep!" sepotong benda lunak, bahkan gurih, meluncur deras dan masuk ke mulutnya. Pangsit. Itu barang enak kalau dicampur mi, telur dan kuah panas lalu diseruput pelan-pelan, tapi siapa bilang enak kalau cara masuknya ke mulutpun dengan merontokkan dua gigi depan Hwe Lun Lama?

Serangan Hwe Lun Lama yang hampir berhasil jadi buyar, ia terhuyung mundur dengan mulut berlumuran darah. Dan karena robohnya Hwe Lun Lama, dalam sedetik itu Ci Long Lama harus sendirian menghadapi Tong Hai Long yang tengah nekad itu. Dua jurus maut bertabrakan. Ci Long Lama hebat juga jurusnya, namun karena tekadnya tak sebulat tekad lawannya, ia harus menerima akibatnya.

Tongkatnya memang berhasil menghantam pundak kanan Tong Hai Long sedemikian kerasnya sehingga lumpuh dan pedangnya lepas. Namun pedang yang lepas itu tidak jatuh ke tanah sebab mendapat "sarung" yang baru, bersarang mantap di perut Ci Long Lama sampai tembus ke belakang.

Biau Beng Lama kaget melihat nasib ke dua muridnya, namun tak sempat menolong mereka. Segera ia tanggap adanya pihak lain yang ikut campur, pihak lain yang amat lihai sebab mi pangsitnya begitu super sampai bisa merobohkan Hwe Lun Lama yang bukan pesilat kelas kambing. Di samping itu, alangkah gusarnya Biau Beng Lama melihat Ci Long Lama meringkuk diam di kubangan darahnya sendiri.

Mata Biau Beng-lama seolah menyemburkan api kemarahan, menyapu ke sekelilingnya, mencari si tangan jahil itu. Mungkinkah tukang mi pangsit yang terkantuk-kantuk di bawah pohon itu? Kecurigaan Biau Beng Lama menghebat. Kalau tukang mi-pangsit itu orang biasa, tentu sudah lari ketakutan melihat perkelahian di situ, bukannya tetap duduk menunggui pikulannya sambil terkantuk-kantuk macam itu.

"Orang ini bosan hidup rupanya!" geram Biau Beng Lama. Kepada tiga muridnya yang belum cidera, dia memerintah, "Tangkap tikus kecil itu. Keterlaluan kalau kalian sampai tidak bisa melakukannya."

Biau Beng Lama berkata demikian, sebab saat itu tangan kanan Tong Hai Long sudah terkulai akibat gebukan keras Ci Long Lama tadi. Setelah memberi perintah itu, Biau Beng Lama melangkah lebar ke arah tukang mi-pangsit itu. Namun tukang mi-pangsit itu tiba-tiba mengangkat wajahnya, dan sorot matanya yang amat tajam mampu menghentikan langkah Biau Beng Lama yang terkesiap.

"Bapak pendeta, mau mencicipi pangsitku?" tanya si penjual itu sambil terkekeh kekeh. Habis berkata demikian, sungguh berlawanan dengan gerak-geriknya yang serba mengantuk tadi, si tukang mi-pangsit dengan kecepatan kiiat melompat bangkit dari duduknya sambil melolos bambu pikulan dari sepasang kotak pikulannya.

"Tapi hari ini biarlah aku beramal, aku berikan semua dengan cuma-cuma..." kata tukang mi-pangsit itu sambil mencongkelkan bambu pikulannya ke kotak pikulannya, sambil membentak pula, "Silahkan makan!"

Kelihatannya saja dia mencongkel ringan, tapi angkring itu tiba-tiba terangkat dan berpusing, seolah diangkat angin puting-beliung, deras ke arah Biau Beng Lama. Karena dalam angkring itu ada beberapa susun lagi berisi mangkuk, sumpit, sambal, kecap dan lain-lainnya, maka benda-benda inipun seolah ikut ditebarkan ketika angkring yang terbang berpusing itu.

Si tukang mi-pangsit tertawa berkakakan, "Beramal tidak boleh tanggung-tanggung, nih, kutambah lagi!" Dan ia mencongkel lagi dengan bambu pikulannya ke arah angkring yang satu lagi, pasangannya. Yang inipun terbang berpusing ke arah para pengawal dan prajurit. Isinya ialah pangsit mentah, mi, tahu, telor, rajangan kobis, dan yang paling berbahaya ialah kuah yang masih mendidih serta arang membara dari anglo.

Biau Beng Lama terkejut menemui lawan yang tak diduga ini. Segera ia memutar sepasang lengannya, sehingga lengan jubahnya berkibaran seperti sepasang bendera. Maka sumpit, mangkok, sambal, kecap dan sebagainya tersapu menyingkir dari tubuhnya, tak ada yang mengenainya. Yang sial adalah prajurit dan pengawal di sekitarnya. Ada yang terluka oleh pecahan mangkuk, tertancap sumpit, matanya kecipratan sambal dan sebagainya.

Biau Beng Lama tak peduli penderitaan kaum bawahan itu. Terhadap kotak pikulan yang terbang ke arahnya, ia melancarkan pukulan jarak jauh Pek-gong-ciang (Pukulan Udara kosong) yang dahsyat. Angkring itu bagaikan meledak di udara, pecah berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kayu dan bambu.

Lagi-lagi para pengawal dan prajurit yang menjadi korban. Sedangkan angkring yang satu lagi me-nerjang ke arah kawanan pengawal dan prajurit, setelah menciderai beberapa orang dan "memandikan" beberapa orang dengan kuah panas, barulah daya lontarnya habis sendiri dan tergeletak di tanah. Begitulah sepasang angkring itu menimbulkan korban yang cukup banyak.

Alangkah gusarnya Biau Beng Lama karena ada orang berani malang-melintang di depan hidungnya, seakan menantangnya. Ia hendak menubruk ke arah tukang mi pangsit itu, namun tempat itu sudah kosong. Si tukang mi pangsit sudah melesat di udara bagaikan elang, sambil menjinjing kayu pikulannya melompati kepala Biau Beng Lama dan para pengawal, tujuannya ialah Tong Hai Long yang sudah dalam detik-detik kritis, hampir kehabisan perlawanan menghadapi Hoat Kheng dan Kim Leng Lama. Biau Beng Lama cepat lompat menyusulnya...
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 20

Kemelut Tahta Naga II Jilid 20

Karya : Stevanus S P

Mendengar itu, Teng Jiu mulai merasa kalau ucapan In Te itu tidak main-main. "Pangeran, jadi..."

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
"Teng Heng, maukah kau memenuhi permintaan pertamaku, yaitu tidak lagi memanggilku Pangeran? Panggil saja In Heng (saudara In), dan jangan lagi bahasa-kan dirimu hamba..."

"Hem...eh, hem...ah, aku terus terang benar- benar bingung oleh maksud kedatangan... In Heng ke Pak-khia ini. Ketika aku melihat kode rahasia In Heng di tembok luar istana, semangatku berkobar, aku mengngira saat perjuangan yang sebenarnya sudah tiba. Menumbangkan manusia curang yang selama ini menduduki tahta. Tapi...sekarang setelah bertemu In Heng, aku malah jadi bingung..."

"Baik, sekarang kuakhiri kebingungan kalian dan sahabat-sahabat lainnya. Dengar baik-baik. Aku tidak bermaksud mengecewakan Teng Heng dan rekan-rekan lainnya, bahkan aku sangat berterima-kasih. Tapi aku sudah memutuskan untuk meninggalkan gelanggang perebutan tahta, dan memberi jalan bagi Pangeran Hong Lik untuk ke singgasana, bahkan mendukungnya..."

Teng Jiu terlongong tak ada bedanya dengan Pak Kiong Liong ketika dulu pertama kali mendengar, keputusan In Te itu, begitu pula Teng Jiu kecewa. Kalau In Te benar-benar mengundurkan diri, lalu buat apa selama ini ia mempertahankan kesetiaan kepadanya, susah payah menyelubungi sikapnya yang asli dari tatapan menyelidik orang-orang istana, bahkan jungkir-balik melakukan "akrobat politis" yang berlawanan dengan hati-nurani untuk tetap bertahan di lingkungan istana demi siap menyambut kembalinya In Te?

Kini yang ditunggu sudah muncul, tapi tidak mau lagi dipanggil "Pangeran" dan malah mengundurkan diri dari gelanggang perebutan tahta. Bukankah sikap itu berarti kecurangan Kaisar Yong Ceng dibiarkan dilestarikan ke anak cucunya?

Melihat wajah Teng Jiu, In Te dapat memahami perasaannya. Katanya, "Teng Heng, sungguh berat rasa hatiku harus mengecewakan sahabat-sahabat sejatiku. Saha bat-sahabat terpercaya yang biarpun dalam kemelut atau dibawah tekanan, tetap bertahan untuk tetap setia kepadaku. Aku hormat setinggi-tingginya, sampai matipun tak bisa kubalas budi-baik kalian. Tapi aku mengajak Teng Heng dan sahabat lainnya memikirkan keutuhan negara. Aku merasa tidak lagi perlu ngotot memperjuangkan hak pribadiku, kalau tahu bahwa tahta ini kelak akan dipegang orang seperti Pangeran Hong Lik. Kalau aku ngotot bersama pendukung-pendukungku, hanya akan menimbulkan perpecahan dan kebingungan, karena itu aku memilih untuk minggir..."

Teng Jiu masih termangu-mangu beberapa saat, lalu menarik napas dengan berat dan berkata, "Yah, berarti berakhirlah perju angan terselubung kami selama ini. Sia-sia pula dulu aku bersusah-payah ikut merobohkan Ni Keng Giau demi menyiapkan jalan lurus bagi Pangeran, biarpun saat itu kami hanyalah membonceng Liong Ke Toh untuk memperkuat gebrakannya terhadap Ni Keng Giau, Memang ditakdirkan perjuangan kami demi keadilan harus sampai di sini saja..."

"Aku paham perasaanmu, Teng Heng. Tapi kuanjurkan kalian tidak ikut-ikutan keluar gelanggang, sebab Pangeran Hong Lik membutuhkan dukungan kuat pula untuk menandingi ambisi Liong Ke Toh. Aku dan paman Pak Kiong Liong pun akan mendukung Pangeran Hong Lik, biarpun lebih terselubung dari kalian. Jadi perjuangan kalian yang dulu itu tidak sia-sia, ada kelanjutannya, cuma berubah arah. Merobohkan Ni Keng Giau yang kejam itu, bagaimanapun juga tidak sia-sia, sebab banyak orang terselamatkan dari kekejamannya. Jadi jangan hanya melakukan itu demi diriku pribadi. Begitu pula mendukung Pangeran Hong Lik, landasilah dengan niat untuk menjunjung keadilan, jangan memandang dia itu putera Kakanda Yong Ceng yang lalim."

Teng Jiu mengangguk-anggukkan kepala, tapi agak lesu. Nyata, tidak mudah untuk "banting setir" dari garis yang sudah diikuti nya dan dipegang teguh bertahun-tahun. Pak Kiong Liong yang jauh lebih matang itupun memerlukan waktu untuk mengubah pikirannya, dulu ketika di padang rumput Jing- hai mendengar keputusan In Te.

"Bisa memahami pertimbangan itu, Teng Heng?" kini malah Pak Kiong Liong ikut "mengarahkan" Teng Jiu.

"Yaaah... bisa saja," sahut Teng Jiu sambil menyeringai kecut.

"Bagus. Segera hubungi semua kawan-kawan sepaham. Satukan dulu dukungan buat Pangeran Hong Lik, jangan memberi peluang kepada si ular tua Liong Ke Toh itu, sebab tidak lama lagi..." bicara sampai di sini, In Te tiba-tiba menghentikan kata-katanya sendiri.

"Sebab tidak lama lagi kenapa, In Heng?" tanya Teng Jiu heran, ingin tahu kelanjutan dari kata-kata yang terputus itu.

In Te nampak geleng-geleng kepala, wajahnya muram, sikapnya seperti menghin dari sesuatu yang tidak ingin dikatakannya. "Ah, tidak apa-apa. Cuma merasa bahwa dalam keadaan tak menentu seperti sekarang ini, segala-galanya harus serba cepat. Berlomba dengan waktu, tak boleh berlambat-lambatan..."

"Serba cepat, tapi harus tetap hati-hati dan cermat..." Pak Kiong Liong buru-buru menambahkan. Ia kuatir kalau pesan "serba cepat" itu nanti oleh Teng Jiu dan teman-temannya lalu diartikan asal main tabrak saja.

Sedang Teng Jiu heran melihat Pak Kiong Liong dan In Te mengucapkan kata-kata yang tak keruan arahnya itu. Agaknya merahasiakan sesuatu, tapi Teng Jiu percaya bahwa mereka tidak bermaksud jahat, sebab ia sudah kenal siapa Pak Kiong Liong dan siapa In Te.

"Ya, memang harus cepat..." kata Teng Jiu, lalu menarik napas dan berkata lagi, "Tapi sekarang muncul masalah baru..."

"Apa?"

"Pangeran Hong Lik yang harus kami dukung itu, kini menghilang entah kemana. Sudah beberapa bulan ia meninggalkan istana dengan menyamar, hal itu biasa dilakukannya, yang tidak biasa hanyalah begitu lama tidak ada kontak sedikitpun dengan istana. Pihak istana masih merahasiakan hal ini, tapi jelas amat gelisah..."

Pak KiongLiong dan In Te mengerutkan alis. Kalau Pangeran Hong Lik tidak ada di istana, bukankah Liong Ke Toh lalu bisa malang melintang semaunya di sisi Kaisar Yong Ceng? Padahal dorna tua itu amat pintar menjilat dan pintar menyelubungi niat khianatnya di hadapan Kaisar, sehingga Kaisar malahan menganggap Liong Ke Toh sebagai satu-satunya penasehat yang terpercaya.

Yang mencemaskan Pak Kiong Liong dan In Te ialah ketika mereka ingat pertemuan mereka dengan Kam Hong Ti di kota Hang-ciu. Waktu itu Kam Hong Ti bilang akan "menebang tiang yang sudah busuk", yang dimaksud ialah usaha membunuh Kaisar Yong Ceng. Sedangkan Pak Kiong Liong dan In Te sepakat akan membiarkan saja "tiang lama" roboh, namun akan mengokohkan "tiang batu" agar negara jangan sampai roboh.

Namun kini tiba-tiba mereka mendengar dari Teng Jiu bahwa "tiang baru" itu hilang. Kalau Kam Hong Ti keburu merobohkan "tiang lama", bukankah benar-benar semuanya akan ambruk? Jangan-jangan Liong Ke Toh yang akan mendapat keuntungan paling banyak?

Melihat Pak kiong Liong dan ln Te seperti orang-orang kebingungan, suatu adegan yang langka terlihat, Teng jiu benar-benar heran. Urusan apa yang mampu membuat kedua bekas panglima perang termasyhur itu kebingungan? "Apa yang terjadi sebenarnya?"

Beberapa saat lamanya pertanyaan Teng Jiu bergaung tanpa jawaban di ruang yang dicengkam kesunyian itu. Pak Kiong Liong dan ln Te cuma saling berpandangan tanpa kata.

"Ada apa?" Teng Jiu bertanya lagi dengan suara lebih keras.

Bukan menjawab, malahan Pak Kiong Liong balik bertanya, "Teng Heng, seberapa besar pengaruh Liong Ke Toh di istana saat ini?"

"Kedudukannya sebagai penasehat Kaisar amat menguntungkannya, dia hampir sama ditakutinya dengan Kaisar sendiri, sebab hampir semua usulnya dituruti dan dilaksanakan oleh Kaisar. Bukti kekuatan pengaruhnya ialah jatuhnya Ni Keng Giau. Kalau Ni Keng Giau yang begitu kuat dapat dijatuhkan demikian rupa, apalagi pejabat-pejabat yang kedudukannya lebih lemah."

"Kuat mana pengaruh Liong Ke Toh dengan Pangeran Hong Lik?"

"Sulit dikatakan. Orang-orang yang tidak ingin melihat kekaisaran ini dikendalikan orang busuk macam Liong Ke Toh, tentunya lalu menaruh harapan kepada Pangeran Hong Lik. Tapi dengan menghilangnya Pangeran Hong Lik, para pengharap itu seperti kehilangan pegangan..."

"Bagaimana sikap komandanmu, Komandan Ci-ih Wi-kun, Kim Seng Pa?"

"Ya seperti biasa. Duduk enak-enak sambil melihat-lihat kemana arah angin..." bicara sampai di sini, tak tertahan Teng Jiu tertawa sebentar. "Tiap hari ia tidak lupa berceramah kapada kami, anak buahnya, agar kami tidak ikut-ikutan memihak dalam persaingan dalam istana. Cukup menonton saja sambil mengharap keuntungan..."

Mau tidak mau Pak Kiong Liong dan ln Te ikut tersenyum pula. Kemudian ln Te bertanya kepada Pak Kiong Liong, "Paman, kenapa tiba-tiba paman menanyakan soal Kim Congkoan?"

"Dalam keadaan darurat ini, akan kugunakan Kim Seng Pa untuk membendung pengaruh Liong Ke Toh..."

"Bagaimana caranya?"

Sambil tersenyum, jawaban Pak Kiong Liong masih kabur, "Enak benar dia. Selagi kita kebingungan setengah mati, dia malah enak-enak menunggu arah angin, berceramah, menonton sambil menunggu keberuntungan, hem, takkan kubiarkan dia sesantai itu."

"Maksud Goan Swe?" tanya Teng Jiu.

"Teng Heng, begitu kau tinggalkan tempat ini, langsunglah menghadap Kim Seng Pa. Katakan bahwa kau sudah ketemu aku, tapi jangan bilang tentang tempat ini. Bilang saja kita ketemu di jalan, dan menerima pesan dariku. Minta dengan hormat agar Kim Seng Pa menggunakan segala pengaruh dan kemampuannya, untuk mencegah meluasnya pengaruh Liong Ke Toh..."

Teng Jiu tercengang. Sudah miringkah otak Pak Kiong Liong karena bingungnya, sehingga orang macam Kim Seng Pa juga dimintai tolong? "Goan-swe, tentunya Goan Swe tahu bagaimana watak Kim Seng Pa itu. Seorang yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, tindakan apapun akan dilakukannya dengan dasar itu. Mana mungkin dia mau melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan, bahkan membahayakan kedudukannya, seperti permintaan Goan Swe itu?"

"Pasti mau..." kata Pak KiongLiong yakin. "Kalau dia melakukan, memang aku tidak bisa menyebabkan dia menerima nasib yang jauh lebih buruk daripada Ni Keng Giau..."

"Seumpama aku sudah sampaikan pesan Goan Swe kepadanya, dan dia bilang tidak mau, lalu apa yang harus kulakukan?"

"Kalau dia menolak, bilang saja bahwa Pak Kiong Liong dan In Te akan mengucapkan terima kasih kepadanya secara tertulis dan terbuka. Ucapan terima kasih berupa selebaran yang akan ditempelkan di seluruh persimpangan jalan di Pak-khia ini, yang ditanda-tangani sendiri oleh In Te..."

Tak terasa Teng Jiu mengangkat tangannya untuk mulai garuk-garuk kepala, padahal kepalanya tidak gatal. Bagaimana tidak? Kalau Kim Seng Pa menolak, kenapa malah hendak diberi ucapan terima kasih?

"Kenapa Goan Swe malah berterima kasih untuk penolakannya..."

"Bukan. Bukan berterima-kasih untuk penolakannya sekarang, tapi untuk pertolongannya kepada diriku, dan kepada In Te dulu, waktu di Jing-hai dia secara diam-diam melakukan itu di belakang punggung Ni Keng Giau..."

Waktu itulah In Te tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal sampai membungkuk dan memegangi perutnya. Pak Kiong Liong pun terkekeh-kekeh, sedang Teng Jiu terlongong-longong karena belum tahu apanya yang lucu. Namun setelah dipikir sebentar, samar-samar Teng Jiu mulai bisa membayangkan masalahnya. Dulu ketika Ni Keng Giau dikirim ke Jing-hai untuk memadamkan pemberontakan kaum Nestorian, In Te diikut-serta kan dalam pasukan, agar ditempat yang jauh itu Ni Keng Giau bisa "membereskan" In Te tanpa ribut-ribut.

Namun ketika Ni Keng Giau pulang ke Pak-khia, ia tidak membawa kabar tentang In Te, lalu disusul kejatuhan Ni Keng Giau. Dua kejadian itu bisa dirangkai oleh Teng Jiu menjadi satu urutan. Rupanya Ni Keng Giau gagal "membereskan" ln Te, entah kenapa, gagal dibereskan oleh Ni Keng Giau.

Kini "entah kenapa"nya itu pelan-pelan mulai tersingkap. Dalam pasukan perang Ni Keng Giau, ln Te sudah ibarat anak burung dalam genggaman, kenapa sampai Ni Keng Giau gagal membunuhnya? Tidak lain tentu ulah "orang dalam" yang siapa lagi kalau bukan Kim Seng Pa yang sudah lama membenci Ni Keng Giau? Agaknya Kim Seng Pa menyelamatkan ln Te bukan karena simpati kepada ln Te, tapi karena ingin menggagalkan rencana Ni Keng Giau agar mendapat hukuman Kaisar. Siasat itu boleh dikata berhasil.

Kegagalan membunuh ln Te memang menjadi salah satu alasan Kaisar Yong Ceng untuk menyingkirkan Ni Keng Giau. Menjelang kejatuhan Ni Keng Giau dulu, selagi semua orang belum tahu Ni Keng Giau bakal jatuh, waktu itu malahan nama Ni Keng Giau sedang menjadi pujaan orang di Pak-khia, saat itu malah setiap hari terdengar Kim Seng Pa bersiul-siul riang. Seolah memang sudah tahu kalau gemerlapnya Ni Keng Giau saat itu akan segera disusul kejatuhannya.

Tak terasa Teng Jiu mulai mengangguk-angguk. "Pantas, pantas..." desisnya. "Jadi Kim Congkoan itukah yang menyelamatkan In Heng dari rencana jahat Ni Keng Giau?"

"Benar. Karena Teng Heng adalah seorang sahabat yang kupercayai, aku katakan hal ini kepadamu. Waktu itu, sehabis menolongku, Kim Congkoan memohon kepadaku dan kepada paman Pak Kiong Liong agar merahasiakan tindakannya itu. Maklumlah tindakan Kim Seng Pa menggagalkan Ni Keng Giau itu sama halnya dengan menggagalkan keinginan Kaisar sendiri."

Teng jiu menghembuskan napas lega. "Kalau begitu soalnya, akupun sekarang ikut-ikutan yakin bahwa permintaan Goan Swe Pak.Kiong Liong pasti akan dikabulkannya..."

"Tapi haruslah Teng Heng ingat..." kata Pak Kiong Liong dengan wajah bersungguh-sungguh. "Suatu rahasia masih bisa digunakan sebagai senjata untuk menekan, selama rahasia itu tetap menjadi rahasia. Sebab orang yang kita tekan itu tak ingin rahasianya tersebar luas. Kalau rahasia ini sampai tersebar, paling-paling Kim Seng Pa akan minggat dari istana untuk menghindari hukuman Kaisar, namun dia tidak lagi bisa kita manfaatkan sebagai pembendung ambisi Liong Ke Toh saat ini. Jadi Teng Heng ingat-ingatlah hal ini."

Dengan telunjuknya, Teng Jiu menunjuk bibirnya sendiri dan berkata, "Kalau sampai kubocorkan kepada satu orang lagi saja, biarlah mulutku membusuk. Bahkan kepada Toa suheng dan Ji suheng pun takkan kuberi-tahu. Bukan aku tidak percaya kepada mereka berdua, namun tidak berguna mereka mengetahuinya..."

"Bagus, Teng Heng. Jawaban dari Kim Seng Pa sebaiknya juga melalui Teng Heng, jangan melalui orang lain, lebih-lebih jangan Kim Seng Pa sendiri yang menyampaikannya kemari..."

"Baik. Ada pesan apa lagi?"

"Tidak. Bukannya kami mengusirmu, Teng Heng, tetapi seperti kata In Te tadi, semuanya harus serba cepat."

Karena itu, cepat pula Teng Jiu bangkit dan meninggalkan tempat itu. Setelah Teng Jiu pergi, ln Te bertanya kepada Pak Kiong Liong, "Paman, bukankah dulu kita pernah berjanji kepada Kim Seng Pa akan merahasiakan perbuatannya itu? Kalau kita menyebarkannya, bukankah berarti kita menjilat ludah kita sendiri?"

Pak Kiong Liong mengangguk, "Ya, tapi demi selamatnya kekaisaran ini dari keruntuhan, apa boleh buat, aku rela dimaki serendah apapun, sekotor apapun. Kalau tidak memanfaatkan Kim Seng Pa, dengan apa pengaruh Liong Ke Toh bisa dibendung?"

"Sekarang soal Kam Hong Ti yang berniat membunuh Kakanda Yong Ceng, kapankah kira-kira dia turun tangan?"

"Di sinilah kita terpaksa hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kita cuma bisa mengharap mudah-mudahan tindakan Kam Hong Ti itu terlaksana setelah Pangeran Hong Lik kembali ke istana, agar tidak menimbulkan kekosongan tahta yang akan dimanfaatkan oleh Liong Ke Toh..."

"Mudah-mudahan Pangeran Hong Lik segera kembali. Mudah-mudahan Thian mengasihi kita, mengabulkan harapan orang orang yang cuma ingin melihat ketenteraman di negeri ini..."

Doa yang sungguh-sungguh memang jarang muncul sebelum manusia terpojok. Kini doa itu sudah keluar. Sehari itu dilewati dalam kegelisahan. Pak Kiong Liong dan In Te menduga, paling cepat besok paginya Teng Jiu akan datang membawa jawaban Kim Seng Pa. Tak terduga, malam itu selagi rumah obat itu sudah sunyi-senyap seperti juga seluruh kota Pak-khia, mendadak di halaman samping terdengar anjing penjaga peliharaan pemilik rumah obat itu menggonggong keras tak henti-hentinya.

Seisi rumah yang adalah kaum persilatan semua, termasuk Khong Yan Ki si pemilik rumah obat yang sebenarnya adalah anggota Hwe-liong-pang, segera terbangun oleh gonggongan anjing itu, dan berlompatan keluar dari kamar masing-masing untuk menuju ke halaman samping dengan bersiap siaga. Merekalah Pak Kiong Liong, In Te, Tong San Hong, Tong Hai Long, Sebun Hong Eng dan Khong Yan Ki sendiri.

Halaman samping yang sering digunakan untuk menjemur bahan obat-obatan itu sudah gelap, nampak anjing peliharaan Khong Yan Ki menggonggong keras ke atas dinding. Di atas dinding nampak bayangan hitam berjongkok.

"Goan Swe, In Heng, inilah aku!" suara orang yang berjongkok di atas dinding itu ternyata suara Teng Jiu.

Cepat Khong Yan Ki menarik tali di leher anjingnya, menepuk-nepuk kepala dan moncong anjing itu untuk ditenangkan. Setelah tidak menggonggong lagi, berserulah ia ke atas dinding, "Teng-taijin, silahkan turun!"

Teng Jiu melompat turun dengan gerakan seringan anak kucing. "Aku mohon maaf telah mengejutkan kalian sehingga bangun semua..."

Pak Kiong Liong mengerti kalau Teng Jiu ada keperluan yang penting. Karena "harus serba cepat" maka Pak Kiong Liong segera menarik tangan Teng Jiu ke salah satu ruang belakang. Kecuali In Te, yang lain-lainnya disuruhnya tidur kembali. Tak lama kemudian, di kamar yang siang tadi untuk berbicara, kini mereka bertiga sudah siap berbicara kembali.

"Kim Congkoan sudah menjawab..." Teng Jiu membuka pembicaraan tanpa bertele-tele lagi.

"Bagaimana jawabannya?"

"Dia kujumpai ketika sedang enak-enak minum arak di serambi bangsal Bwe-hoa-kiong, aku langsung menghadap dan mengatakannya. la begitu kaget sampai poci araknya jatuh dari meja. Lalu dia mendesak aku untuk memberitahu dia, dimana Goan Swe dan In Heng sekarang, tentu saja kujawab tidak tahu..."

"Dia percaya?"

"Aku tidak tahu isi hatinya. Dan untuk menghilangkan kecurigaannya, maaf, aku terpaksa mengarang sebuah cerita yang agak mengurangi nama baik Goan-swe. Maaf..."

"Lho, mengurangi nama baikku bagaimana?"

"Aku bilang, aku disergap oleh Goan swe, diancam dan disiksa untuk menyampaikan pesan itu. Begitulah, sehingga Kim Seng Pa tidak terus mendesak aku untuk mengatakan tentang tempat Goan-swe dan In Heng. Sekali lagi aku minta maaf..."

Sambil mengusap jenggotnya yang putih, Pak Kiong Liong tertawa sambil menjawab, "Tidak usah minta maaf. Seandainya Teng Heng bukan sahabat seperjuangan In Te yang kami percayai, barangkali aku akan memperlakukan Teng Heng tepat seperti itu..."

Ketiga orang itu tertawa berbareng. Di sebelah ruangan itu adalah kamar tidur si kembar Tong San Hong dan Ton Hai Long. Tong San Hong sudah tidur pula seperti bayi kekenyangan, sebaliknya Tong Hai Long masih bolak-balik di dipannya sendiri seperti sedang sakit gigi. Namun giginya sehat semua, yang tidak sehat ialah perasaannya. Ia jengkel memikirkan hubungannya dengan Se-bun Hong Eng yang bukannya semakin mesra, malahan semakin sering diwarnai pertengkaran. Dan seratus persen penanggung-jawab keadaan yang memburuk itu ditimpakan ke pundak... Wan Lui, yang kini entah berada dimana.

Lagi susah tidur karena jengkel, malah dari kamar sebelah dia mendengar kakeknya, In Te serta tamunya itu bicara terus, kadang-kadang tertawa. Keruan Tong Hai Long tambah jengkel, tapi tidak berani berbuat apa-apa. Masa ia harus mendamprat ke tiga orang yang termasuk angkatan tua itu?

"Urusan apa yang dibicarakan malam-malam begini?" gerutunya. "Seolah-olah besok pagi sudah tidak ada waktu lagi."

Hanya bantal dan nyamuk yang mendengar gerutunya itu. Apa mau dikata, percakapan berjalan terus. Suara percakapan itu mau tidak mau menyusup juga ke kupingnya, lewat celah-celah langit-langit papan yang menghubungkan kedua ruangan itu. Ternyata, makin mendengarkan, makin tertariklah Tong Hai Long. Rasa mengantuknya hilang, penuh minat ia menguping pembicaraan di ruang sebelahnya itu.

Barangkali merupakan kecerobohan Pak Kiong Liong, saat dia mengira sepasang cucu kembarnya itu sudah tidur semua. Padahal cuma Tong San Hong yang tidur, sedang Tong Hai Long yang berangasan dari suka bertindak sembrono itu masih asyik mendengarkan yang bukan haknya.

"Nah, Teng Heng, bagaimana jawaban Kim Seng Pa?"

"Dia begitu gugupnya sehingga aku disuruh mengambilkan arak. Akhirnya dia bilang, kalau aku bertemu lagi dengan Goan Swe, dia menitipkan salam hangat untuk Goan Swe dan siap bekerja-sama... sedangkan soal ucapan terima kasih itu, dia memohon dengan sangat agar tidak usah diumumkan..."

Bicara sampai di situ, Teng Jiu tertawa geli diikuti Pak KiongLiong dan In Te. Pembicaraan berhenti sebentar untuk meredakan rasa geli. Sedang bagi Tong Hai Long yang menguping di ruang sebelah, tidak ikut tertawa. Apanya yang lucu? Cuma "salam hangat" dan "siap bekerja sama" saja kok ditertawakan? Tetapi dia terus mendengarkan, mengharap akan mendengar semacam berita yang hebat.

BaikPak KiongLiong maupun ln Te merasa agak lega. Dalam "permainan tingkat tinggi" itu sekarang Kim Seng Pa sudah menjadi "kartu" di tangan mereka yang bisa dimainkan. Dan kalau menguasai Kim Seng Pa dengan Ci-ih Wi-kunnya, berarti juga menguasai anak Kim Seng Pa yang bernama Kim Thian Ki, panglima sebuah pasukan di Pak-khia, meskipun untuk "memainkan" Kim Thian Ki harus lewat Kim Seng Pa. Tetap semuanya bisa digunakan untuk menandingi langkah-langkah Liong Ke Toh.

Kemudian Pak Kiong Liong berkata, "Teng Heng, mengingat watak Kim Seng Pa yang tidak mudah digertak begitu saja, apalagi diperintah-perintah yang tidak sesuai dengan kemauannya, tentu dia akan berusaha menemukan aku di seluruh Pak-khia. Karena itu, ketika Teng Heng menuju kemari, tidakkah dia membuntutimu?"

"Tentu saja dia mengikuti aku, sejak aku keluar dari pintu Hou-cai-mui di bagian belakang istana," sahut Teng Jiu tenang.

Mendengar jawaban itu, In Te terkesiap. Kalau Teng Jiu dibuntuti Kim Seng Pa, jangan-jangan sekarang rumah obat ini sudah dikepung pasukan yang dikerahkan Kim Seng Pa? Tentu komandan Ci-ih Wi-kun itu lebih senang membunuh orang yang mengetahui rahasia yang membahayakan dirinya, daripada membiarkan pemegang rahasia itu tetap hidup dan mencoba menyetirnya. Karena itulah ln Te tiba-tiba melompat ke dinding, untuk menyambar pedang yang tergantung di situ.

Tapi dilihatnya Pak Kiong Liong tetap duduk tenang-tenang saja. "Bagaimana Teng Heng melepaskan diri dari kuntitannya?"tanyanya.

Jawab Teng Jiu, "Begitu aku merasa kalau dia mengikuti aku dari kejauhan, aku pura-pura tidak tahu dan terus berjalan, tapi bukan ke arah ini. Di suatu persimpangan, kutemui seorang gelandangan tidur di bawah pohon. Kubangunkan dia, kuberi satu tahil dan kusuruh dia berlari ke suatu arah. Aku yakin komandanku yang tercinta itu terus mengintai aku. Setelah itu aku berjalan kembali ke istana, seolah-olah hendak pulang, sementara Kim Congkoan memburu gelandangan itu akupun cepat-cepat mengambil jalan lain kemari..."

"Kau telah mempermainkannya, Teng Heng. Seandainya dia bisa menyusul, menangkap dan menanyai gelandangan itu, tentu dia sadar bahwa kau telah menipunya. Apakah ini tidak membahayakan dirimu diistana, Teng Heng?"

"Ya mana ada pekerjaan tanpa resiko, apalagi di pusat pemerintahan yang penuh intrik ini? Tapi menurut perhitunganku, dia tidak akan berani mengapa-apakan aku. Selama masih menganggapku sebagai satu satunya penghubung dia dengan Goan Swe dan ln Heng. Dia tentu kuatir kalau sampai kehilangan hubungan dengan Goan Swe dan ln Heng, biarpun maksudnya itu bukan maksud baik..."

"Komandan sial dia, punya anak buah macam Teng Heng..." kata ln Te sambil tertawa.

Teng Jiu pun menjawab sambil tertawa. "Akulah yang sial, punya komandan penakut seperti dia. Kalau tidak digertak dengan ucapan terima kasih Goan Swe itu dia maunya bermalas-malasan saja sambil mencaplok keuntungan..."

Sesaat mereka sunyi dari percakapan. Khong Yan Ki datang menyuguhkan minuman, dan ketiga-tiganya langsung menghirup minumannya.

"Goan Swe, ln Heng, agaknya aku pun harus segera kembali ke istana, agar kepergianku yang terlalu lama ini tidak menimbulkan kecurigaan. Apakah ada pesan untukku, atau untuk Kim Congkoan?"

"Untuk Kim Congkoan, ingatkan saja pesan yang semula, dia harus berusaha membendung pengaruh Liong Ke Toh, dan caranya terserah dia. Untuk Teng-heng, ingatkan terus Kim Seng Pa akan pesan itu."

"Hanya itu?"

Pak Kiong Liong nampak ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya berkata juga, "Teng-heng hubungi kawan-kawan sepaham dan susun dalam suatu barisan yang kuat. Bila kelak peristiwa berdarah itu benar-benar terjadi, sedangkan Pangeran Hong Lik belum kembali, maka kekuatan kawan-kawan sepaham yang tersusun itu harus cukup kuat untuk merintangi Liong Ke Toh mencaplok tahta."

"Peristiwa berdarah?" Teng Jiu terkesiap.

"Ada komplotan yang berniat membunuh Kaisar. Kami pernah bertemu dan berbicara dengan salah satu anggota komplotan itu, dan aku sudah sepakat untuk membiarkan mereka mewujudkan niatnya. Yang akan kami lakukan hanyalah cepat-cepat ke Pak-khia untuk menyiapkan Pangeran Hong LiK sebagai pengganti. Begitu pembunuh-pembunuh itu berhasil, Pangeran Hong Lik harus cepat menduduki tahta dengan dukungan kekuatan yang memadai. Itulah sebabnya, ketika kami dengar Pangeran Hong Lik tidak ada di istana, kami sungguh bingung. Padahal pembunuh itu mungkin sekarang sudah ada di Pak-khia dan mulai menyusun rencana mereka."

Wajah Teng Jiu terasa kaku karena tegangnya, seolah wajah itu dituangi selapis semen basah yang cepat keringnya. Kini di paham betapa dalam makna pesan In Te ten tang "semua harus serba cepat" itu. "Siapa yang mengincar nyawa Kaisar?' tanya Teng Jiu.

"Kang-lam Tai-hiap Kam Hong Ti dan teman-temannya. Mereka menyesal dulu telah mendukung Yong Ceng naik tahta, dan kini mereka ingin menebus kekeliruan itu dengan membunuh Yong Ceng."

"Ah, itu jalan pikiran yang gampang gampangan saja," kecam Teng Jiu. "Tidakkah mereka menghitung akibatnya?"

"Mereka orang-orang rimba persilatan, yang jalan pikirannya lain dengan kita yang terbiasa main berbelit-belit di panggung kekuasaan," kata Pak Kiong Liong. "Mereka pikir Yong Ceng jahat, kalau si jahat dibunuh, habislah masalahnya. Begitu."

Teng Jiu begitu tegangnya mendengar berita itu, sehingga ia bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir sambil meremas-remas jari-jarinya sendiri.

Sementara mereka bingung, Tong Hai Long yang menguping di ruang sebelah justru tidak bingung, malah ia berpikir, "Ah, kakek dan paman In Te ini katanya ahli-ahli strategi ternama, kenapa menemui soal sekecil ini saja jadi bingung? Kalau mau mengamankan tahta buat Pangeran Hong Lik, kenapa tidak bunuh saja Liong Ke Toh? Kalau mereka ragu-ragu, biar aku yang membunuh dorna tua itu."

Untung itu tidak diucapkan didepan kakeknya. Kalau diucapkan, entah bagaimana gusarnya Pak Kiong Liong kepada si cucu gegabah ini. Tong Hai Long sendiri amat puas dengan hasil pemikirannya itu, menganggap dirinya sudah mengungguli kakeknya dan In Te dalam soal "mengamankan tahta" itu. Dasar Tong Hai Long, pemikiran itu segera disusul rencana untuk mewujudkannya, supaya ia dapat membuktikan diri sebagai "pahlawan besar", sehingga bukan Wan Lui saja yang terus disanjung-sanjung.

"Tapi rencanaku ini tidak boleh sampe ketahuan kakek, atau paman In Te atau lainnya, nanti mereka akan menghalang-halangi," pikirnya. "Sebab dalam pandangan mereka, aku ini dianggap tidak becus apa-apa dan cuma Wan Lui saja yang serba hebat."

Demikianlah semangat Tong Hai Long berkobar-kobar untuk ikut "menyelesaikan' masalah. Dalam pemikirannya, pintu gerbang ke arah kemasyhuran sudah terbentang di depannya, dan ia tinggal melangkah memasukinya.

Sementara itu, di ruangan sebelah, Pak Kiong Liong berkata, "Kalau Kam Hong bisa dihubungi, tentu takkan sesulit ini soalnya. Kita bisa memohon kepada mereka agar mengundurkan rencana sampai kembalinya Pangeran Hong Lik, tapi aku tidak tahu bagaimana menghubungi mereka di kota besar ini."

Sesaat suasana masih sepi dan cuma terdengar langkah Teng Jiu yang bolak-balik di ruangan itu, atau gonggongan anjing di kejauhan. Bunyi gembreng tanda tengah malam dari menara sudah tidak kedengaran lagi, sebab tengah malam memang sudah lewat.

"Teng-heng, sebaiknya kau cepat kembali ke istana. Tapi kuharap apa yang kita bicarakan di sini tetap dirahasiakan rapat-rapat."

"Jangan khawatir."

"Kita akan tetap mengadakan kontak. Kalau bukan kau yang menghubungi kami, kamilah yang akan menghubungimu, dengan isyarat-isyarat seperti biasa."

"Baik. Aku pamit dulu." Teng Jiu pun pamit meninggalkan rumah itu.

Sementara itu Tong Hai Long jadi sulit tidur, karena sudah tidak sabar membayangkan dirinya sebagai pahlawan yang termasyhur di seluruh wilayah kekaisaran.

* * * *

Pagi itu di rumah obat Khong Yang Ki tidak ada yang curiga ketika mengetahui Tong Hai Long tidak ada di rumah itu, tidak ada yang mempersoalkannya. Sudah biasa, selama ada di Pak-khia, pemuda penaik darah itu memang sering berjalan-jalan keluar melihat-lihat kota besar itu, dan semua orang menganggap itu lebih baik daripada terus-terusan menggerutu di rumah.

"Apakah A-hai baru saja bertengkar denganmu lagi?" tanya Pak Kiong Liong kepada Se-bun Hong-eng yang sedang melatih ilmu silatnya di halaman samping. Ilmu silat dengan pedang di tangan kiri, sedangkan sarung pedang yang berujud tongkat besi berrongga itu dimainkan sebagai tongkat di tangan kanan.

Wajah Se-bun Hong-eng jadi merah malu mendengar pertanyaan itu. la cuma menjawab dengan gelengan kepala sehingga kuncirnya bergoyang.

Pak Kiong Liong pun tersenyum. "Ya, sudah. Biar anak itu ngelayap semaunya, melihat-lihat macam-macam tontonan daripada marah-marah terus di rumah ini."

Demikianlah anggapan Pak Kiong Liong. Ia tidak tahu kalau cucunya itu pergi bukan cuma ingin menonton keramaian, tapi mau "membuat keramaian" yang tidak tanggung-tanggung. Dengan bertanya-tanya sepanjang jalan, dapatlah Tong Hai Long mencari tahu dimana kediaman Liong Ke Toh, Pamanda Kaisar. Tekadnya tidak menyusut sedikitpun ketika diberitahu bahwa Liong Ke Toh tinggal di salah satu bagian istana yang dijaga ketat.

"Makin berbahaya tempat yang akan kuserbu, makin terkenal namaku kelak," pikirnya mantap, pantang mundur. Tapi ia tidak mau bertindak sembarangan. Siang hari menyerang sama saja dengan bunuh diri. Padahal ia ingin menjadi pahlawan tapi tetap hidup, bukan pahlawan anumerta. Maka siang itu ia hanya bermaksud melihat-lihat keadaan sekitar dinding istana, sambil mencari-cari bagian mana yang nanti malam kiranya bisa ditebus.

Tetapi cara Tong Hai Long bertanya-tanya mencari keterangan itu memang agak sembrono, terlalu menyolok. Bukannya menyamar, dia malahan berpakaian ringkas dan menggendong pedang segala, cara bertanya juga bukan dengan memancing perlahan-lahan, tetapi terlalu langsung. Karna itulah gerak-geriknya segera menarik, perhatian suatu golongan manusia yang secara diam-diam juga sedang mengamat-amat istana.

Setelah mengelilingi dinding luar istana, satu kali sambil melihat-lihat, dan beberapa kali berpapasan dengan peronda-peronda istana yang menatapnya dengan curiga, maka Tong Hai Long mulai merasa lapar. Maklum, saking bersemangatnya ingin membunuh Liong Ke toh, Tong Hai Long berangkat dari rumah obat Khong Yan Ki itu tanpa makan pagi lebih dulu, dan kini sudah hampir tengah hari.

Kebetulan di mulut sebuah lorong, tidak jauh dari istana, nampak seorang penjual mi pikulan sedang duduk terkantuk-kantuk di bawah sebuah pohon rindang, agaknya d gangannya kurang laku. Selain sebuah bangku kecil yang didudukinya sendiri, didepan pikulannya juga ada sebuah bangku kecil yang rupanya disediakan buat pembeli. Bakul berusia hampir setengah abad, kurus dan berbaju rombeng itu, nampak begitu lelahnya sehingga ia duduk sambil tertidur. Apalagi di bawah pohon itu udaranya sejuk sekali.

Tong Hai Long berpikir, "Kalau bakul mi pikulan ini berjualan secara tetap di tempat ini, barangkali dia tahu juga sedikit seluk-beluk istana, terutama bagian yang menjadi kediaman Liong Ke Toh. Hem, bisa kudapat tambahan keterangan dari dia."

Lalu dia mendekati penjual itu dan langsung duduk di bangku kecil di depan pikulan itu sambil berkata, "Pak, beli mi-nya."

Si penjual tergeragap bangun. Lalu sambil terkekeh ia menunjuk pikulannya sambil bertanya dengan suaranya yang gemetar dan lemah, "Mau beli?"

"Betul, pak. Semangkok saja, komplit."

Si penjual mulai mengambil mangkok dan meracik masakannya. Dan beberapa saat kemudian Tong Hai Long harus merasakan seporsi mi pangsit yang tidak keruan rasanya.

"Pantas tidak ada yang beli," pikirnya.

Tapi makan mi pangsit memang cuma urusan nomor dua, yang nomor satu ialah mengumpulkan keterangan tentang kediaman Liong Ke Toh. Setelah memaksa diri menghabiskan satu mangkok, ia keluarkan potongan perak seberat setengah tahil. "Ini uangnya, pak. Kembalinya untuk bapak saja, tapi tolong jawab pertanyaanku."

Terkekeh-kekeh si tukang mi memasukkan uang itu ke laci pikulannya.

"Pak, apa benar jalan di samping timur istana itu menuju ke gedung kediaman Liong Ke Toh.... eh, maksudku Liong Ong-ya, Pamanda Kaisar?"

Si tukang mi pangsit melirik sekejap ke tangkai pedang yang mencuat dari belakang pundak Tong Hai Long. Jawabannya dengan suara yang gemetar itu melenceng jauh dari pertanyaannya, "Wah, memang bahan-bahan di pasar sekarang naik semua harganya, jadi daganganku juga harus ikut naik, kalau tidak ya rugi. Tapi pembeli-pembeli jadi sepi... susah..... susah....."

Memang susah. Tong Hai Long pun susah payah menyabarkan dirinya, tanyanya tambah keras sambil menunjuk jalan yang dimaksud, "Pak, apa betul kediaman Liong Ong-ya di jalan ini?"

"Jalan itu? O... ya, benar. Dulu ramai sehingga daganganku laris. Tapi sekarang...ah, susah... susah...."

Tong Hai Long mendongkol sekali. Percuma ia memaksa diri makan semangkuk mi pangsit tak keruan rasanya, mengeluarkan uang setengah tahil, dan yang diperolehnya cuma jawaban simpang-siur macam ini. Pembicaraan jadi ketemu jalan buntu, terpaksa Tong Hai Long siap-siap meninggalkan tempat itu.

Belum seempat ia bangkit, tiba-tiba dilihatnya dari ujung jalan itu muncul serombongan orang. Sebuah tandu yang indah, diiringi pengawal berjumlah puluhan orang yang berjalan di depan, belakang dan kedua samping tandu itu. Yang menarik, ada pula enam pengiring yang berjubah merah dan di atas kepala gundul mereka memakai topi kecil lancip yang diikat ke bawah dagu. Lima di antara mereka berusia empatpuiuh sampai limapuluh tahun, dan satu orang yang berjalan di samping tandu berusia tinggi, sekitar tujuhpuluh tahun, alisnya putih, tapi jalannya tetap tegap dan sorot mata nya tajam.

Melihat pendeta-pendeta Ang-ih-kau itu, Tong Hai Long jadi ingat pengalaman pahit masa kecilnya, ketika ia bersama Tong San Hong dan Se-bun Hong-eng diculik dari Tiau-im-hong, dibawa ke istana dan disekap dalam kerangkeng yang dijaga pendeta-pendeta Ang- ih-kau ini. Tong Hai Long tahu kalau para pendeta ini berkedudukan terhormat dalam istana, bahkan berkedudukan lebih tinggi dari komandan-komandan pasukan istana.

Hampir-hampir para pendeta ini merupakan orang-orang kepercayaan atau pengawal-pengawal pribadi Kaisar Yong Ceng sendiri, begitu kabarnya di luaran. Para pendeta ini pula yang berjasa, bukan dalam darma-bakti keagamaan mereka, namun menciptakan senjata Hiat-ti-cu, kantong kulit terbang yang bisa membunuh dari jarak jauh dengan seutas rantai. Tapi kini para pendeta itu mengawal tandu dengan sikap seorang bawahan, tentunya orang dalam tandu itu berkedudukan cukup istimewa.

"Apakah Liong Ke Toh yang dalam tandu itu?" Tong Hai Long mulai menduga-duga. "Kalau benar, buat apa susah-susah aku menunggu sampai malam untuk menyelundup ke kediamannya? Sekarang juga bisa kubereskan dia di sini."

Bukan Tong Hai Long kalau membuat perhitungan yang rumit-rumit. Soal apapun dianggapnya gampang saja. Sementara Tong Hai Long dengan sikap tetap duduk memperhatikan rombongan itu, si tukang mi pangsit malah memperhatikan Tong Hai Long dengan sikap cemas, seolah mengetahui apa niat pemuda itu.

Tandu itu memang berisi Liong Ke Toh. Mengingat pengalaman buruknya ketika dulu dicegat oleh perwira-perwira pengikut fanatik Ni Keng Giau, maka kini Liong Ke Toh apabila keluar dari istananya selalu membawa barisan pengawal yang cukup kuat. Apalagi hari-hari dimana persaingannya dengan Pangeran Hong Lik menghangat, Liong Ke Toh tambah hati-hati, sebab diapun tahu kalau Pangeran Hong Lik juga memiliki pendukung-pendukung yang tidak kalah gigihnya dengan pengikut Ni Keng Giau dulu.

Pemimpin pengawal Liong Ke Toh ialah Toh Hun yang melangkah tegap di depan tandu. Namun bola mata Toh Hun yang selalu bergerak itu menunjukkan hatinya yang tengah gelisah. Maklum, dulu dia diserahi tugas oleh Liong Ke Toh untuk menghubungi Pek-lian-kau lagi, ingin menanyakan bagaimana kelanjutan "urusan lama" tentang Pangeran Hong Lik. Ternyata urusan sudah makin kacau. Ada kabar kalau kaum Pek-lian-kau malah pecah sendiri, baku hantam, dan tidak jelas lagi nasib Pangeran Hong Lik.

Buat Liong Ke Toh dan komplotannya, syukur kalau Pangeran Hong Lik mampus dalam huru-hara itu, tapi bagaimana kalau masih tetap hidup dan tetap digunakan untuk memeras pihak mereka? Kini Toh Hun tinggal mengharap terciptanya kontak dengan "pengkhianat Pek lian-kau" yang dulu mengaku bernama "Gan Hong Lui" dan sudah diberinya uang sepuluh tahil emas dari janjinya yang limaribu tahil emas.

"Inilah akibatnya kalau berhubungan dengan orang-orang yang tamak uang itu, urusannya malah jadi ruwet tak keruan," kutuk Toh Hun dalam hati sambil mengingat peristiwa di gedung Cong-peng-hu di kota Seng-tin dulu. "Mereka saling bunuhpun pasti gara-gara rebutan Pangeran Hong Lik untuk digunakan memeras kami, hem."

Karena itulah sambil berjalan di depan tandu Liong Ke Toh, ia juga memperhatikan orang-orang di jalanan, kalau-kalau di antara mereka ada "Gan Hong Lui". Hatinya melonjak ketika di mulut jalan ia melihat seorang pemuda duduk membelakangi jalan, di hadapan seorang tukang mi pangsit pikulan. Apalagi ketika melihat pemuda itu berbaju hitam dan menggendong pedang. Bukankah dulu "Gan Hong Lui" juga berbaju hitam dan juga membawa pedang?

"Gan Hong...." seruan Toh Hun yang penuh harapan itu terputus ketika melihat pemuda itu menoleh dan ternyata bukan orang yang diharapkannya.

"Tapi mudah-mudahan teman Gan Hong Lui." Toh Hun belurn putus harapan.

Dilihatnya pemuda itu tiba-tiba melompat ke tengah jalan, menghadang rombongan Liong Ke Toh sambil mencabut pedang di punggungnya. Kecepatan gerak lompatnya dan menghunus pedangnya cukup mengejutkan, menunjukkan ilmu silat yang tangguh.

"Liong Ke Toh, mampuslah!" Tong Hai Long melompat deras bagaikan harimau, menerjang pengawal-pengawal Liong Ke Toh yang di depan tandu.

Para pengawalpun mencabut senjata, tapi hanya itu yang sempat mereka lakukan sebab kecepatan pedang Tong Hai Long mendahului semua prakarsa mereka. Jadinya mereka cuma sempat menghunus senjata tapi belum sempat menggunakannya. Pedang Tong Hai Long dengan gerak Tai-boh-liu-soa (Pasir Beterbangan di Gurun) berputar kencang membentuk piringan perak yang berpusar dengan diri Tong Hai Long sebagai sumbunya. Sekaligus empat orang pengawal roboh dengan dada tergores dalam oleh pedang itu.

Berkobarlah semangat Tong Hai Long oleh hasil pertama yang begitu gemilang akan membuat namanya disanjung oleh Se-bun Hong-eng melebihi nama Wan Lui. Sambil membentak, jurusnya dirubah menjadi Thai-peng-tian-ci (Garuda Membuka Sayap). Piringan cahaya pedangnya mendadak lenyap dan berubah menjadi dua jalur cahaya perak yang bercabang memanjang ke kiri dan kanan. Kembali dua orang pengawal Liong Ke Toh tertikam roboh.

Barisan pengawal Pamanda Kaisar itupun jadi kacau. Merasa bertanggung-jawab untuk kelelamatan junjungannya, Toh Hun menghadang. Senjatanya ialah sepasang Hou-thau-kou (kaitan kepala harimau) yang berpelindung di pegangannya.

Ketika Tong Hai Long tiba dihadapannya dengan gerak tipu Tok-coa-cut-tong (Ular Berbisa Keluar Gua). Kaiatan kiri berusaha mengait pedang untuk dipelintir dan diseret ke samping, sedangkan kaitan kanan menyerang dari bawah untuk "membongkar" perut Tong Hai Long.

Namun Tong Hai Long bukan cuma menang semangat, tapi juga menang jauh dalam urusan ilmu silat. Toh Hun gagal mengait pedang, dan serangannya ke arah perut juga tertangkis. Ketika lawannya yang berumur separuh dari umurnya itu menendang secara kilat, Toh Hun tak bisa menangkis atau menghindar lagi, janggutnya kena tendangan sehingga ia terhempas roboh dengan mulut berlumuran darah.

Teknik tendangan Tong Hai Long diambil dari Pek-pian Lian-hoan-tui (Tendangan Berantai Seratus Tipuan). Bukan saja amat cepat, tapi gerakannya juga membingungkan dan sulit diduga arahnya. Toh Hun menjaga perutnya, ternyata janggut yang kena.

Kalau Toh Hun sebagai komandan pengawal saja begitu gampang diminggirkan, nampaknya pengawal-pengawal Liong Ke Toh lainnya takkan ada lagi yang bisa membendung amukan cucu Macan Selatan dan Naga Utara ini. Dengan semangat berkobar, Tong Hai Long menjejak tanah dan melompat datar, seperti sebatang panah raksasa dengan pedang yang diacungkan ke depan, ia menyerang tandu.

Dua pengusung joli sudah bertiarap di tanah sambil memeluk kepala. Sementara Liong Ke Toh di dalam joli sudah menjerit panik. Namun tandu itu tiba-tiba seolah terbang ke atas ketika pinggiran bawahnya dicongkel dengan kaki si pendeta Ang-ih-kau beralis putih itu, lalu disangga tinggi-tinggi dengan satu tangannya saja, seolah-olah tandu yang berat itu menjadi seringan kurungan burung gelatik saja.

Tandu berhasil dihindarkan dari serangan ganas Tong Hai Long, namun kini dada si pendeta tua itulah yang menjadi sasaran ujung pedang Tong Hai Long yang meluncur cepat membelah udara. Orang lain boleh kaget menghadapi serangan hebat Tong Hai Long itu, namun pendeta tua itu, Biau Beng Lama, malahan mendengus congkak sambil berkata, "Bocah kemarin sore, jangan coba-coba jual tampang di sini."

Jubahnya berkibar ketika kakinya melakukan tendangan Pai-lian-ka (Batang Teratai Bergoyang) untuk menendang lengan Tong Hai Long yang memegang pedang. Kekuatan maupun ketangkasan pendeta tua itu mengejutkan Tong Hai Long, menyadarkan bahwa dia telah kepergok seorang jago angkatan tua. Dengan agak gugup Tong Hai Long mengubah arah luncuran tubuhnya dengan membantingkan tubuh ke sisi.

Biau Beng Lama tertawa terbahak, lengan yang tidak menyangga tandu itu mengebas dengan lengan jubahnya. Segulung arus udara kuat menerpa Tong Hai Long sehingga pemuda itu seperti bola ditendang saja, terpental sampai menabrak tembok di pinggir jalan. Si "calon pahlawan" itu kini berkunang-kunang matanya, tapi pedangnya masih terganggam erat di tangannya.

Memang jadi agak konyol. Tapi Biau Beng Lama sendiri biarpun kelihatan tertawa-tawa, sebetulnya kaget dalam hatinya. Baik tendangan Pai-lian-ka nya tadi maupun kebasan lengan jubahnya itu harusnya bisa langsung membunuh pemuda baju hitam itu. Tendangan itu harusnya kena dan mematahkan tangan si pemuda, nyatanya luput. Kebasannya seharusnya membuat di pemuda muntah darah, namun si pemuda nampaknya cuma terbanting dan pusing-pusing sedikit. Biau Beng Lama kecewa dalam hati.

Dulu ia pernah dikalahkan Ketua Hwe-liong-pang Tong Lam Hou, sejak itu ia berlatih ilmunya dengan keras, dan belakangan ini mengira kalau ilmunya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa. Ternyata peristiwa dengan Tong Hai Long itu mengecewakan hatinya. Tambah kecewa lagi ketika melihat Tong Hai Long dalam waktu singkat telah berhasil melompat bangun kembali, biarpun sambil berkernyit kesakitan namun tidak ada cidera serius nampaknya.

Sementara itu, Liong Ke Toh yang di dalam tandu itu berteriak-teriak ketakutan, "Turunkan aku... turunkan... turunkan...."

Pelan-pelan Biau Beng Lama meletakkan tandu itu. Lalu ia membungkuk hormat kepada Liong Ke Toh dan berkata, "Hamba minta maaf, Ong-ya. Karena keselamatan Ong-ya terancam, hamba telah menyelamatkannya dengan cara tadi."

Liong Ke Toh berseru gusar, "Siapa berani coba membunuhku? Cincang dia tanpa ampun!"

"Baik!" sahut Biau Beng Lama. Lalu dia memberi isyarat kepada kelima pendeta Ang-ih-kau yang menjadi muridnya itu. "Tangkap pengacau itu hidup atau mati!"

Lima pendeta yang lebih ahli dalam mencincang orang daripada membaca doa itupun berlompatan maju untuk menjalankan perintah guru mereka. Sedangkan sisa pengawal Liong Ke Toh bersiaga di sekitar tandu Liong Ke Toh untuk melindungi. Kelima murid Biau Beng Lama itu masing-masing adalah Po Goan Lama yang ber senjata Hong-pian-jan (toya yang ujungnya berbentuk bulan sabit), Hoat Kheng Lama yang bersenjata golok melengkung, Ci Long Lama yang berkulit hitam dan berhidung panjang karena keturunan India dan bersenjata sebatang tongkat bambu hitam yang mengkilap, Hwe Lun Lama yang memegang sepasang gelang baja besar, dan Kim Leng Lama yang bersenjata sepasang tongkat pendek, dengan ujungnya berbentuk lonceng dari emas.

Tiap satu orang dari mereka adalah jagoan tangguh, apalagi kalau maju lima orang sekaligus. Namun mereka merasa malu juga kalau harus mengeroyok seorang "anak ingusan" macam Tong Hai Long. Karena itu Po Goan Lama berkata kepada keempat adik seperguruannya, "Kalian jaga di empat penjuru agar dia jangan sampai lolos. Biar aku yang mencoba menangkapnya!"

Keempat saudara seperguruannya itu pun berlompatan mengambil "pos"nya masing- masing sehingga Tong Hai Long terkurung. Sedangkan Po Goan Lama mendekati Tong Hai Long dengan waspada. Tadi sudah! dilihatnya kehebatan pemuda ini, dan ia tidak mau kurang hati-hati agar tidak menelan pil pahit.

Sebaliknya Tong Hai Long pun merasa sudah lenyap peluangnya untuk "menjadi pahlawan". Kalau bisa melarikan diri, sudah boleh dibilang beruntung. Sesaat kedua orang itu berhadapan. Tapi belum lagi pertempuran dimulai, dari ujung jalan kembali muncul serombongan prajurit.

Liong Ke Toh langsung melambai-lam baikan tangan dari jendela tandu, sambil berteriak-teriak, "He, kemari! Kemari! Ada pengacau!"

Para prajuritpun berlarian mendekat. Hal itu makin mengkhawatirkan Tong Hai Long. la sadar, mungkin takkan ada lagi peluang untuk kabur kalau sampai tempat itu semakin banyak prajuritnya. Maka begitu Po Goan Lama menyerang, ia tidak menangkis atau membalas serangan, tapi langsung melompat untuk kabur. Tapi di hadapannya tiba-tiba muncul bayangan tongkat bambu hitam, menderu hendak memukul ubun-ubunnya. Si pendeta Ang-ih-kau keturunan India, Ci Long Lama, menghadang larinya.

"Minggir, Hoan-ceng (pendeta asing)!" bentak Tong Hai Long tergopoh-gopoh. Karena ingin secepatnya pergi dari situ, bukan saja pedangnya yang dimainkan dengan hebat, tapi tangan kirinya ikut memukul dengan ilmu Hian-im-ciang yang menimbulkan udara sangat dingin, ajaran kakeknya almarhum, Tong Lam Hou. Juga sepasang kakinya pun langsung memainkan Pek-pian Lian-hoan-tui yang tadi sempat meremukkan janggut Toh Hun.

Serangan total itu mengejutkan Ci Long Lama. Tapi pendeta ini kelasnya jauh di atas pengawal-pengawal yang tadi dibabat dengan mudah. Memang mulanya Ci Long Lama terkejut oleh serangan yang membanjir itu, namun setelah melompat mundur untuk mengambil jarak, ia berhasil menyusun pertahanan yang memadai. Maka Tong Hai Long tak lagi bisa menembus "pos jaga" murid Biau Beng Lama ini.

Bertarunglah kedua orang ini dengan sengit. Cahaya pedang yang keperak-perakan dan tongkat bambu yang kehitam-hitaman terlibat Bertarunglah kedua orang ini dengan sengit. Cahaya pedang yang keperak-perakan dan tongkat bambu yang kehitam-hitaman terlibat rapat seperti sepasang naga yang bertarung sengit di angkasa rapat seperti sepasang naga yang bertarung sengit di angkasa.

Kemudian Ci Long Lama mulai merasa kehebatan lawannya, ia telah bersin beberapa kali akibat kena aliran udara dingin Hian im- kang yang begitu tajam melingkupi tubuhnya. Pedang bisa ditangkis, tapi udara yang tak kelihatan mana bisa ditangkis? Ruang gerak tongkatnya juga perlahan-lahan mulai berhasil ditekan dan dipersempit terus oleh gerak pedang Tong Hai Long.

Melihat kesulitan Ci Long Lama itu, saudara seperguruannya, Hwe Lun Lama segera ikut terjun ke gelanggang, la melakukan tubrukan dari samping dengan gerakan Au-cu-hoan-sin (Elang Berputar Badan), tubuhnya yang gemuk itu ternyata mampu berputar ringan dan berputar bagaikan gasing, sepasang gelang bajanya dengan gerak melingkar hendak menghantam pelipis Tong Hai Long kiri kanan.

Pemuda itu terpaksa harus memecah perhatian, tekanan terhadap Ci Long Lama mau tidak mau mengendor. Dan si pendeta India bukan cuma menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki posisi, melainkan balik menekan bersama-sama Hwe Lun Lama. Tak lama kemudian, biarpun hawa dingin akibat ilmu Hian-im-ciang itu masih membuat Ci Long dan Hwe Lun Lama bersin beberapa kali, tetapi kedua Lama-itu berhasil balik mendesak Tong Hai Long.

Kini Tong Hai Long harus banyak mengurangi sikap menyerangnya yang ganas, dan lebih banyak bertahan saja. Para pengawal Liong Ke Toh dan prajurit yang baru datang kini cuma menonton di pinggir arena, karena merasa sulit ikut campur dalam pertempuran serba cepat antara orang-orang berilmu tinggi itu. Dimana gerak pedang, tongkat bambu hitam dan sepasang gelang baja itu tak bisa diikuti dengan mata, belum lagi hawa dingin Hian-im-ciang yang bagi para prajurit berilmu rendah itu pasti akan membekukan darah, bukan sekedar bersin seperti Ci Long Lama dan Hwe Lun Lama yang cukup tinggi tenaga dalamnya.

Sementara itu Biau Beng Lama yang bermata tajam itu pelan-pelan mulai mengenali gaya bertempur Hong Hai Long. Dilihatnya bagaimana pemuda itu kadang-kadang merunduk rendah, meluncur sambil menyeret kaki, langkah berputarnya maupun lompatan pendeknya menunjukkan gaya khas ilmu pedang Tiam-jong-kiam-hoat, ilmu andalan almarhum Tong Lam Hou, ketua lama Hwe-liong-pang yang pernah mempecundangi Biau Beng Lama.

Tapi dilihatnya juga ong Hai Long sering melompat tinggi, berputar dan bergeliatan di udara, dengan gerak pedang memanjang bengkang-bengkok, kadang-kadang melengkung seperti pelangi. Gaya itu dikenali oleh Biau Beng Lama sebagai gaya khas Thian- liong-kiam-hoat andalan Pak Kiong Liong. Artinya, dalam diri pemuda itu memiliki dua macam aliran silat dari dua tokoh termasyhur itu.

Sebuah seringai mengembang di wajah Biau Beng Lama, katanya kepada Liong Ke Toh. "Ong-ya, kali agaknya ada kakap masuk jaring kita. Pemuda baju hitam itu nampaknya ada hubungannya dengan Tong Lam Hou maupun Pak Kiong Liong. Mungkin dia salah satu dari cucu kembar mereka yang dulu pernah kita tawan ketika masih kecil."

Liong Ke Toh yang sudah agak tenang, terkekeh-kekeh ketika mendengar penjelasan itu. Katanya, "Kalau benar dia cucu Pak Kiong Liong, dia bukan cuma kakap, tapi arawana! Jangan sampai dia lepas!"

Tidak usah diperintah, memang Ci Long dan Hwe Lun Lama telah mendesak Tong Hai Long sedemikian rupa sempat terjepit kepayahan. Soal menangkapnya tinggallah soal waktu saja. Sedang ketiga Lama murid Biau Beng Lama lainnyapun berjaga-jaga, agar "arawana" ini tidak sampai kabur.

Tong Hai Long memang sudah dalam ke sulitan hebat. Betapapun gigihnya, setapak demi setapak ia terus didesak, bukan semakin menjauhi arena namun malah semakin ke tengah-tengah arena, ke tengah-tengah musuh- musuh mereka. Saat itulah tongkat Ci Long Lama mengulung dari depan bagaikan mega hitam. Sedangkan Hwe Lun Lama mengintai dari samping, menunggu terbukanya peluang untuk sebuah serangan pamungkas.

Tong Hai Long mengertak gigi dengan geram. Tekadnya sudah bulat sekarang, kalau harus gugur hari itu, ia ingin "mengajak" paling tidak satu dari para Lama itu. Terjangan Ci Long Lama disongsongnya dengan terjangan pula, sedangkan serangan Hwe Lun Lama dengan gelang baja yang siap merontokkan tulang- tulang punggung Tong Hai Long itu malahan tidak digubrisnya sama sekali.

Tindakan nekad itu memang mengejutkan lawan-lawannya, maupun orang-orang yang menonton di seputar arena. Tibalah detik-detik kritis di arena itu, semuanya merasa mungkin akan segera jatuh korban jiwa, entah siapa.

"Mampus!" Hwe Lun Lama memperhebat serangan untuk menyelamatkan saudara seperguruannya. Namun tiba-tiba...."ha-ep!" sepotong benda lunak, bahkan gurih, meluncur deras dan masuk ke mulutnya. Pangsit. Itu barang enak kalau dicampur mi, telur dan kuah panas lalu diseruput pelan-pelan, tapi siapa bilang enak kalau cara masuknya ke mulutpun dengan merontokkan dua gigi depan Hwe Lun Lama?

Serangan Hwe Lun Lama yang hampir berhasil jadi buyar, ia terhuyung mundur dengan mulut berlumuran darah. Dan karena robohnya Hwe Lun Lama, dalam sedetik itu Ci Long Lama harus sendirian menghadapi Tong Hai Long yang tengah nekad itu. Dua jurus maut bertabrakan. Ci Long Lama hebat juga jurusnya, namun karena tekadnya tak sebulat tekad lawannya, ia harus menerima akibatnya.

Tongkatnya memang berhasil menghantam pundak kanan Tong Hai Long sedemikian kerasnya sehingga lumpuh dan pedangnya lepas. Namun pedang yang lepas itu tidak jatuh ke tanah sebab mendapat "sarung" yang baru, bersarang mantap di perut Ci Long Lama sampai tembus ke belakang.

Biau Beng Lama kaget melihat nasib ke dua muridnya, namun tak sempat menolong mereka. Segera ia tanggap adanya pihak lain yang ikut campur, pihak lain yang amat lihai sebab mi pangsitnya begitu super sampai bisa merobohkan Hwe Lun Lama yang bukan pesilat kelas kambing. Di samping itu, alangkah gusarnya Biau Beng Lama melihat Ci Long Lama meringkuk diam di kubangan darahnya sendiri.

Mata Biau Beng-lama seolah menyemburkan api kemarahan, menyapu ke sekelilingnya, mencari si tangan jahil itu. Mungkinkah tukang mi pangsit yang terkantuk-kantuk di bawah pohon itu? Kecurigaan Biau Beng Lama menghebat. Kalau tukang mi-pangsit itu orang biasa, tentu sudah lari ketakutan melihat perkelahian di situ, bukannya tetap duduk menunggui pikulannya sambil terkantuk-kantuk macam itu.

"Orang ini bosan hidup rupanya!" geram Biau Beng Lama. Kepada tiga muridnya yang belum cidera, dia memerintah, "Tangkap tikus kecil itu. Keterlaluan kalau kalian sampai tidak bisa melakukannya."

Biau Beng Lama berkata demikian, sebab saat itu tangan kanan Tong Hai Long sudah terkulai akibat gebukan keras Ci Long Lama tadi. Setelah memberi perintah itu, Biau Beng Lama melangkah lebar ke arah tukang mi-pangsit itu. Namun tukang mi-pangsit itu tiba-tiba mengangkat wajahnya, dan sorot matanya yang amat tajam mampu menghentikan langkah Biau Beng Lama yang terkesiap.

"Bapak pendeta, mau mencicipi pangsitku?" tanya si penjual itu sambil terkekeh kekeh. Habis berkata demikian, sungguh berlawanan dengan gerak-geriknya yang serba mengantuk tadi, si tukang mi-pangsit dengan kecepatan kiiat melompat bangkit dari duduknya sambil melolos bambu pikulan dari sepasang kotak pikulannya.

"Tapi hari ini biarlah aku beramal, aku berikan semua dengan cuma-cuma..." kata tukang mi-pangsit itu sambil mencongkelkan bambu pikulannya ke kotak pikulannya, sambil membentak pula, "Silahkan makan!"

Kelihatannya saja dia mencongkel ringan, tapi angkring itu tiba-tiba terangkat dan berpusing, seolah diangkat angin puting-beliung, deras ke arah Biau Beng Lama. Karena dalam angkring itu ada beberapa susun lagi berisi mangkuk, sumpit, sambal, kecap dan lain-lainnya, maka benda-benda inipun seolah ikut ditebarkan ketika angkring yang terbang berpusing itu.

Si tukang mi-pangsit tertawa berkakakan, "Beramal tidak boleh tanggung-tanggung, nih, kutambah lagi!" Dan ia mencongkel lagi dengan bambu pikulannya ke arah angkring yang satu lagi, pasangannya. Yang inipun terbang berpusing ke arah para pengawal dan prajurit. Isinya ialah pangsit mentah, mi, tahu, telor, rajangan kobis, dan yang paling berbahaya ialah kuah yang masih mendidih serta arang membara dari anglo.

Biau Beng Lama terkejut menemui lawan yang tak diduga ini. Segera ia memutar sepasang lengannya, sehingga lengan jubahnya berkibaran seperti sepasang bendera. Maka sumpit, mangkok, sambal, kecap dan sebagainya tersapu menyingkir dari tubuhnya, tak ada yang mengenainya. Yang sial adalah prajurit dan pengawal di sekitarnya. Ada yang terluka oleh pecahan mangkuk, tertancap sumpit, matanya kecipratan sambal dan sebagainya.

Biau Beng Lama tak peduli penderitaan kaum bawahan itu. Terhadap kotak pikulan yang terbang ke arahnya, ia melancarkan pukulan jarak jauh Pek-gong-ciang (Pukulan Udara kosong) yang dahsyat. Angkring itu bagaikan meledak di udara, pecah berkeping-keping menjadi serpihan-serpihan kayu dan bambu.

Lagi-lagi para pengawal dan prajurit yang menjadi korban. Sedangkan angkring yang satu lagi me-nerjang ke arah kawanan pengawal dan prajurit, setelah menciderai beberapa orang dan "memandikan" beberapa orang dengan kuah panas, barulah daya lontarnya habis sendiri dan tergeletak di tanah. Begitulah sepasang angkring itu menimbulkan korban yang cukup banyak.

Alangkah gusarnya Biau Beng Lama karena ada orang berani malang-melintang di depan hidungnya, seakan menantangnya. Ia hendak menubruk ke arah tukang mi pangsit itu, namun tempat itu sudah kosong. Si tukang mi pangsit sudah melesat di udara bagaikan elang, sambil menjinjing kayu pikulannya melompati kepala Biau Beng Lama dan para pengawal, tujuannya ialah Tong Hai Long yang sudah dalam detik-detik kritis, hampir kehabisan perlawanan menghadapi Hoat Kheng dan Kim Leng Lama. Biau Beng Lama cepat lompat menyusulnya...
Selanjutnya,