Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 17 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 17

Karya : Stevanus S P

Tubuh-tubuh busuk yang digali itu ditumpuk di satu tempat. Kepada "mereka" Thio Yap berkata, "Kalian jangan penasaran. Kami cukup berterima kasih karena bantuan kalian selama ini. Sekarang kembalilah ke alam kalian yang semestinya, tanpa penasaran, dan akan kami sempurnakan jasad kalian."

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Sejumlah orang Pek-lian-kau lalu menumpukkan kayu bakar ketumpukan daging busuk itu, menyirami dengan minyak, lalu menyalakannya. Si jago merahpun mulai menelan tubuh orang-orang malang itu untuk dijadikan abu.

Thio Yap membungkuk hormat sekali lagi ke arah kobaran api itu, lalu menuju ke kemah tawanan. Setelah pengaruh gaib di sekitar kemah itu dibersihkan, maka kemah itu jadi tidak ada bedanya lagi dengan kemah-kemah lainnya.

Dengan tegang Wan Lui mengikuti langkah Thio Yap dengan tatapan matanya. Sesaat lamanya Wan Lui tergoda untuk menerjang dan menyelamatkan Pangeran Hong Lik. Asal gebrakannya dilakukan dengan mendadak Wan Lui yakin betul bahwa di antara orang-orang Pek-lian-kau yang ada di situ takkan ada yang bisa merintanginya.

Namun begitu melihat Pangeran Hong Lik dituntun keluar dari kemah itu oleh Thio Yap, kagetnya Wan Lui bukan kepalang. Pangeran Hong Lik yang sebelum ini segar, cerdas dan periang itu, kini kelihatan kurus dan pucat. Tapi yang lebih menyedihkan Wan Lui ialah ketika melihat tatapan mata Pangeran Hong Lik itu cuma lurus ke depan, kosong, seolah tidak ada sukmanya.

Pangeran Hong Lik masih hidup, masih bisa menggerakkan kaki menuju tandu yang telah disiapkan, namun raga yang hidup itu "kosong" semangat. Hidup macam itu patut disebut "hidup-hidupan".

Bergolak hebat dada Wan Lui oleh kemarahan yang hampir tak tertahan. Tapi pertimbangan akal sehatnya masih mampu mengatasi gejolak emosinya, la sadar kalaupun berhasil merebut Pangeran Hong Lik saat itu, takkan menguntungkan apa-apa bagi Pangeran Hong Lik. Apa artinya berhasil membawa tubuh yang "kosong semangat"?

"Harus kuselidiki dulu, ilmu siluman macam apa yang membuat Pangeran Hong Lik jadi seperti itu. Setelah kupunahkan ilmu itu, barulah aku bisa membawa Hong Lik pergi," tekad Wan Lui. "Benar-benar harus sabar menghadapi penyembah-penyembah setan ini."

"Anjing Manchu cilik ini terbelenggu oleh So-hun Hoat-sut (Ilmu Gaib Pembelenggu Sukma) yang diterapkan oleh Thio Hiang cu," anggota Pek-lian-kau di sebelah Wan Lui itu menerangkan dengan bangga. "Itu jauh lebih sulit dipatahkan daripada sekedar belenggu fisik yang berupa tali atau rantai."

Wan Lui tidak menjawab, khawatir kalau suaranya yang bergetar oleh kemarahan itu terdengar orang-orang Pek-lian-kau dan menimbulkan kecurigaan.

Setelah perkernahan dibongkar, pengaturan perjalananpun ditetapkan. Karena rombongan itu berjumlah hampir empat ratus orang, maka tentu akan mencolok sekali kalau berjalan seperti pawai, maklum Pek-lian-kau adalah gerakan terlarang di jaman Manchu itu. Karena itulah mereka dipecah-pecah dalam rombongan kecil-kecil yang akan menyamar dalam berbagai wujud, dan berjalan berpencaran pula, tapi tidak terlalu saling berjauhan agar kalau ada musuh bisa cepat saling membantu.

Khusus untuk tandu yang membawa Pangeran Hong Lik, rombongan pengiringnya agak melebihi rombongan-rombongan lain. Dipimpin sendiri oleh Thio Yap dan Hoa Cek Gui, yang dengan bangga akan memamerkan "hasil buruan"nya itu dihadapan orang-orang Pek-lian-kau yang akan berkumpul di Hong- kak-si. Sedang orang-orang terpilih mengawal tandu itu adalah anggota-anggota pilihan yang dikenal tangguh dalam ilmu silat, ilmu gaib dan kesetiaan terhadap cita-cita Pek-lian-kau.

Maka tidak heran kalau Wan Lui tidak terpilih dalam kelompok itu, biarpun ingin, sebab ia belum termasuk anggota yang "tangguh dan setia". Namun dengan usahanya sendiri yang menggunakan bermacam-macam akal, Wan Lui berhasil masuk ke rombongan kecil yang tepat di belakang rombongan pembawa Pangeran Hong Lik itu. Di punggungnya tergendong bungkusan barang-barang yang dibelinya dari rombongan wayang kelilingan di Seng-tin itu.

Lalu berangkatlah kelompok demi kelompok, menuju Kuil Hong-kak-si di distrik Hong-yang, siap mengikuti upacara besar Kaum Pek-lian-kau setahun sekali. Meninggalkan api unggun yang melahap tubuh-tubuh membusuk korban Pek-Lian-kau itu.

* * * *

Semakin dekat ke tujuan, semakin sering berpapasan dengan kelompok-kelompok Pek-lian-kau, baik cabang-cabang Pak cong (sekte utara) maupun cabang-cabang, Lam-cong (sekte selatan). Semuanya menuju ke arah yang sama. Biarpun semuanya menyamar, tetapi sesama anggota Pek lian-kau bisa saling mengenali dengan kode kode rahasia mereka.

Entah kode itu berupa gerakan tangan, ucapan, coretan di tembok, bahkan cara memegang mangkuk atau sumpit di warung makan. Diam-diam Wan Lui memperhatikan semua itu, laiu mengingat- ingatnya dalam otak. Kalau yang tidak mudah diingat, dicatatnya di sebuah buku kecil yang selalu disembunyikan dalam bajunya.

Semakin dekat dengan kelenteng Hong-kak-si yang bersejarah itu, semakin banyak orang-orang Pek-lian-kau yang kebanyakan menyamar sebagai peziarah. Bahkan di sekitar bukit tempat berdirinya Hong-kak-si, ada belasan desa yang semua penduduknya adalah orang Pek-lian-kau semua. Sengaja mereka berdiam di situ, agar setiap ada upacara tahunan itu mereka dapat menyediakan tempat tinggal, makanan dan keperluan lain.

Bersamaan dengan itu, Wan Lui juga semakin jelas melihat ketidak-rukunan antara cabang Pak-cong dengan Lam-cong. Biarpun belum sampai bertikai terang-terangan, namun sudah kentara dari sikap dingin masing-masing pihak kala bertemu dengan pihak lainnya.

Dengan memperhatikan beberapa percakapan, Wan Lui bertambah pengetahuan bahwa sumber keretakan itu antara lain karena kedua cabang Pek-lian-kau itu mendukung calon-calon yang berbeda untuk kelak menduduki tahta setelah "Kerajaan Beng dipulihkan". Cabang-cabang Pak-cong erat hubungannya dengan Jit-goat-pang (Serikat Rembulan Matahari) yang bersikeras agar hak tahta tetap harus dalam garis keturunan Pangeran Cu Leng Ong.

Cabang-cabang Pak-cong dan Jit-goat-pang malahan pernah menyelenggarakan "operasi gabungan” di Pak- khia, mengerahkan puluhan ribu pengikut berani mati yang hampir berhasil menguasai seluruh kota Pak-khia, bahkan istana. Namun akhirnya gagal. Sedangkan cabang-cabang Lam- cong dekat hubunganny dengan Thian-te-hui (Serikat Langit Bumi) yang berpangkalan di Pulau Taiwan, pendukung setia garis keturunan Cu-sam That cu.

Pulau Taiwan bahkan tetap mereka kuasai dan menjadi semacam "Kerajaan Beng kecil" yang tak bisa direbut oleh armada Manchu. Kapal-kapal dagang Thian-te-hui yang legendaris dengan bendera putri hitam mereka, berlayar jauh sampai ke pulau-pulau di selatan untuk berdagang. Dengan keuntungan dagang itulah Thian-te-hui dapat gigih bertahan dalam perlawanan terhadap kekuasaan Manchu.

Cabang-cabang Lam-cong maupun Thian-te-hui menganggap bahwa "operasi gabungan" cabang-cabang Pak-cong dan Jit-goat-pang di Phak-khia itu tidak lebih dari suatu ketololan yang tidak ada gunanya. Itulah sumber pertengkaran abadi antara Pak-cong dan Lam-cong, dan hari-hari belakangan itu, satu sumber pertikaian lagi muncul. Yaitu siapa yang lebih berhak mengatur tentang diri Pangeran Hong Lik. Pak-cong dan Lam-cong seperti dua anak kecil yang mula-mula bekerja sama untuk mengambil sarang burung di atas pohon, dan setelah didapat, mereka berebutan siapa yang akan memiliki anak burung itu.

Di lereng utara bukit tempat Kuil Hong-kak-si, orang-orang Pak-cong mendirikan pesanggrahan sendiri. Sedang orang Lam-cong menggerombol di lereng selatan dan mendirikan perkemahan pula. Anak buah rendahan tidak kebagian tempat di barak, tapi disuruh mengambil tempat sembarangan di lereng, dan ditempat itulah Wan Lui kebagian tempat Sedang Pangeran Hong Lik sebagai tawanan penting sudah tentu diamankan dalam pesanggrahan orang-orang Lam-cong lapisan atas.

Satu yang diherankan Wan Lui. Kuil itu tidak jauh letaknya dari kota Hong-yang entah kenapa pembesar-pembesar di kota itu diam saja melihat berkumpulnya orang sebanyak itu, tanpa curiga? Betul orang Pek-lian-kau itu berlagak sebagai para peziarah biasa, tetapi pihak keamanan di Hong-yang agaknya benar-benar lengah atau memang mengabaikan, sebab bukankah Pek-lan-kau adalah gerakan yang menjadi musuh pemerintah Manchu? Atau pihak keamanan takut ttau kena suap? Atau pancaindera petugas-petugas di Hon-yang sudah dipengaruhi ilmu gaib Pek-lian-kau yang terkenal ampuh?

Ketika malam tiba, Wan Lui mulai berjalan mengendap-endap membawa bungkusan pakaian wayang di panggungnya. Dengan berusaha agar tidak dilihat oleh siapapun, dia berusaha mendekati barak pimpinan Lam-cong di lereng selatan bagian atas yang dekat dengan Kuil Hong-kak-si. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.

Wan Lui tidak berjalan di atas tanah, melainkan berlompatan di pucuk-pucuk pepohonan dengan menimbulkan suara gemerasai dedaunan yang tidak lebih keras dari guncangan angin. Dengar demikian, biarpun di lereng itu penuh bertebaran orang-orang Pek-lian-kau yang bergerombol-gerombo ngobrol sambil mengerumuni api unggung, akhirnya ia tiba di dekat barak kayu, tempat para pimpinan cabang Lam-cong.

Bangunan kayu itu sepi, tidak Nampak di jaga sama sekali. Tapi Wan Lui tidak berani langsung masuk begitu saja, ingat pengalamannya yang lalu ketika terperangkap barisan “Thian-Peng”. Karena itulah sebelum masuk, Wan Lui merasa perlu untuk lebih dulu memeriksa keadaan. Memeriksa bukan dengan mata atau indera-indera Jasmaniah lainnya, melainkan dengan naluri dan perasaannya yang terdalam dan terhalus.

Biarpun ia tidak punya ilmu gaib atau penangkalnya, namun ia punya keyakinan yang teguh bahwa iiwa manusia cukup mampu, peka dan tajam untuk menangkap kenyataan yang ada di seberang batas jangkauan panca-indera. Itulah sebabnya Wan Lui menyandarkan diri di pohon, tenang, matanya dipejamkan, jiwanya dijernihkan, perasaannya ditajamkan untuk menangkap suasana, wajar atau tidak? Ada Thian-peng atau tidak?

Tapi belum lagi "radar"nya bekerja sempurna, telinganya malah lebih dulu kemasukan suara, suara langkah-langkah yang semakin mendekat. Ketika ia membuka mata, di lihatnya tiga orang berjubah seperti iman tengah berjalan meninggalkan barak pimpinan kaum Lam-cong itu. Satu dari mereka sudah dikenalnya, Cu-sian Cin-jin, tokoh Pek-han-kau golongan Pak-cong yang bertengkar terus dengan Thio Yap.

Satu lagi berjubah warna merah tua, pada jubahnya terlukis macam-macam huruf asing yang agaknya adalah lambang-lambang sihir. Tubuhnya kurus, memakai topi lancip yang menjulang ke atas sehingga nampak lebih jangkung, matanya tajam mengerikan. Kemudian orang ketiga bertubuh gemuk, beralis tebal, bertampang ketolol-tololan dan memakai jubah kelabu polos. Sambil menjauhi barak, mereka bercakap-cakap.

Menyaksikan itu, Wan Lui jadi berpikir, "Apa gunanya susah-susah masuk ke barak, sedang dengan membuntuti mereka saja aku bisa menguping banyak keterangan."

Maka dengan meringankan langkah seringan-seringannya, Wan Lui membuntuti mereka bertiga dengan berlindung di balik satu pohon ke pohon yang lain. Ketiga tokoh Pek-lian-kau yang diikutinya itu boleh menepuk dada sebagai ahli-ahli Hoat-sut (ilmu gaib), tapi ilmu silat mereka tidak luar biasa. Tidak heran kalau mereka tak merasa diikuti Wan Lui.

"Suheng, sudah kau dengar sendiri, bukan? Betapa memuakkan jawaban orang-orang Lam-cong itu!" hasut Cu-sian Cin-jin kepada si jubah merah. "Mereka sudah tidak memandang kita sedikitpun dalam penangkapan si Hong Lik itu. Padahal di Kim-teng dulu, kalau bukan aku yang melepaskan ilmuku untuk membuat ngantuk para pengawal gedung Cong-peng-hu, mana bisa Thio Yap dan Hoa Cek Cui berhasil menangkap Pangeran Hong Lik? Tapi kini mereka merasa bahwa semua hasil ini adalah hasil kerja mereka sendiri, kita tidak dianggap apa-apa lagi! Mereka bahkan berani lancang menghubungi orang dari istana itu tanpa mengajak aku, sampai aku tidak tahan lagi dan minggat dari perkemahan mereka!"

"Memang keterlaluan!" Ngo-yap Cin-jin yang gemuk dan bermuka ketolol-tololulan itupun menyahut sambil membanting kaki. "Tanpa kau ceritakan juga sudah kulihat sendiri sikap menjemukan orang-orang Lam-cong itu. Mereka menjaga sendiri si Hong Lik, pihak kita tidak diperkenankan ikut menjaga. Tampaknya memang mereka akan menyerakahi sendiri manfaai si Hong Lik. Teman seperjuangan macam apa itu?"

"Mereka tidak mau mengakui jasa kita sampai tertangkapnya Hong Lik!" Cu-sian Cin-jin memanaskan hati. "Di hadapan ribuan wakil cabang-cabang yang sekarang berkumpul di Hong-kak-si ini, mereka ingin menanamkan kesan kalau Lam-cong lebih hebat dari Pak-cong. Hong Lik akan mereka jadikan semacam lambang keunggulan, makanya mereka jaga sendiri"'

Setelah berkata demikian, Cu-sian Cin jin lalu memandang wajah si jubah merah Cu-peng Cin-jin untuk melihat bagaimana reaksi wajahnya. Terlihat wajah Cu peng Cin-jin memang menjadi kelam, agaknya mulai terpengaruh ucapan kedua rekannya itu.

"Orang-orang Lam-cong memang serakah. Mereka akan menggunakan Hong Lik sebagai tambang emas untuk memadatkan kantong mereka sendiri, dan setelah mereka gemuk-gemuk karena makmur, pasti lupa akan tujuan perjuangan semula. Mereka lupa bahwa mula-mula akulah yang membuat kontak dengan pihak dari istana yang ingin menyingkirkan Hong Lik. Aku pula yang mematangkan pembicaraaan dengan seorang suruhan Liong Ke Toh di ke lenteng Tin-kang-bio dekat Hang-cu. Sekarang enak saja mereka mau menguasai Hong Lik sendirian!”

"Suheng, kita harus mengambil tindakan. Jangan diam saja!" kata Cu-sian Cin-jin lagi. "Kalau kita bersikap mengalah terus, lama-lama anggota-anggota Pak-cong kita pun akan terpesona oleh propaganda kaum Lam-cong itu dan mengikuti mereka! Kita harus bertindak!"

Cu-peng Cin-jin menghentikan langkah lalu berkata dengan penuh.tekanan. "Sute berdua, soal mengambil tindakan, akupun sudah memikirkannya. Aku takkan membiarkan kita makin suram dan sebaliknya Lam-cong makin bercahaya cemerlang. Takkan kubiarkan itu, aku sumpah. Tapi caranya bertindak harus tepat, bukan asal berani saja!"

Hampir bersamaan Cu-sian dan Ngo-yap Cin-jin membanting kaki karena ketidak-sabaran mereka. Tapi sebelum mereka memprotes lagi, Cu-peng Cin-jin telah berkata keras,

"Kalian jangan cuma bisa marah-marah, banting-banting kaki, mendesak desak aku! Akupun akan bertindak, tapi tidak tergopoh-gopoh macam kalian! Kalian pikir sekarang ini kita bisa menang kalau adu pengaruh terang-terangan dengan orang-orang selatan itu. Mengandalkan apa kita? Jumlah? Orang kita kalah banyak karena banyak yang gugur di Pak-khia ketika huru-hara dulu. Mengandalkan teman-teman kita orang-orang Jit-goat-pang? Mereka sama babak belurnya dengan kita, lagipula kalau mengundang mereka sama saja dengan mengundang orang luar ikut menyelesaikan pertikaian dalam keluarga, biarpun orang luar itu sahabat baik tetapi tetap kurang pantas. Apalagi, kalau kita undang Jit-goat-pang masuk, mereka akan mengundang Thian-te-hui yang lebih kuat, nah, tambah susah tidak? Pakai otak kalian!"

Cu-sian dan Ngo-yap Cin-jin menunjukkan sikap tidak puas, tapi melihat pimpinan mereka begitu marah, mereka tidak berani mendesak atau mengusulkan apa-apa lagi.

Kemudian Cu-peng Cin-jin berkata dengan suara lebih rendah, "Beri aku ketenangan untuk memikirkan tindakan itu. Agar tindakan kita kelak cukup matang, tidak tergesa-gesa. Kalian juga dapat membantu menjaga ketenangan, jangan lagi menghasut dan memanas-manaskan hati orang-orang kita seperti selama ini. Jangan kalian kira aku buta dan tuli sehingga tidak bisa tahu kalian menyebar hasutan untuk memusuhi orang-orang selatan. Hentikan itu. Tunggu keputusanku, kalau kalian masih mengakui aku sebagai pemimpin Pak-cong!"

Habis berkata demikian, Cu-peng Cinjin melangkah lebar meninggalkan kedua rekannya dengan wajah cemberut. Sedang kedua Cinjin yang ditinggalkannya itu cuma saling pandang sambil mengangkat pundak dan geleng kepala.

"Bagaimana sekarang?" tanya Ngo yap Cinjin.

"Apanya yang bagaimana?" Cu-siu Cinjin malah balas bertanya.

"Aku khawatir kalau kita terlambat bertindak, pengaruh Lam-cong semakin kuat. Jangan-jangan dalam sembahyang besar nanti, mereka akan mencalonkan seorang tokoh mereka untuk menduduk jabatan Kau-cu (kepala agama)? Itu bisa terjadi kalau mereka anggap dukungan buat mereka cukup kuat. Kalau sampai demikian bukankah kita sebagai pengabdi-pengabdi cita-cita luhur ini akan dibawah pimpinan orang-orang mata duitan itu?"

"Kita tunggu saja apa tindakan Suheng dalam satu dua hari ini, kalau tidak ada tindakan apa-apa... yaah..."

"Kita bertindak sendiri!"

Cu-sian Cinjin yang licin itu terlalu takut untuk bilang "ya" tapi juga tidak ingin bilang "tidak". Maklum ia terlalu segan kepada Cu-peng Cin-jin yang ilmunya lebih tinggi dari padanya. Bahkan kakak seperguruannya itu terlalu mudah kesurupan roh yang mengaku sebagai roh Kaisar Cong-ceng, penguasa terakhir dinasti Beng. Cu-sian Cinjin pun kemudian melangkah pergi, meninggalkan Ngo-yap Cin-jin yang belum sempat meluapkan emosinya.

Ngo-yap Cinjin memang penasaran sekali. Ia lalu melangkah ke sebuah hutan yang terletak di lereng sebelah belakang Kuil Hong-kak-si. Tempat yang sepi karena orang-orang Pek-lian-kau tidak menggelar perkemahannya sampai di situ. Sambil berjalan, Ngo-yap Cinjin sering menyepak kerikil-kerikil dan ranting-ranting yang berserakan di tanah, sambil menggerutu. Tiba di hutan pun dia tidak melakukan apa-apa kecuali berjalan bolak-balik sambil mencaci-maki entah kepada siapa.

Tengah ia begitu kebingungan, tiba-tiba dilihatnya di sebuah pohon berjarak duapuluh langkah darinya, terlihat ada asap putih mengepul sambil berdesis makin lama makin tebal sampai menjadi tirai kabut. Adegannya mirip di panggung wayang saja. Tapi karena kini terjadinya di larut malam dan di tengah hutan sepi sja, karuan Ngo-yap Cmjin kaget dan menduga-duga yang terjadi ? Kebakarankah'’ tapi kenapa tidak kedengaran gemeratak kayu terbakar?

Dan alangkah terkesiapnya si imam ketolol-tololan itu ketika tiba-tiba melihat di tengah kabut usap nu ada sesosok tubuh berdiri. Mengejutkan, karena sosok kabur itu tidak menginjak tanah, tapi seperti terapung di udara, bergoyang-goyang seolah tidak berbobot. Sosok dalam asap itu berpakaian seperti seorang Kaisar di Jaman Kerajaan Beng, lengkap dengan mahkotanya, sorot matanya tajam menatap Ngo-yap Cinjin.

Dengkul si imam totol itu lemas seketika, apalagi ketika mendengar sosok tubuh itu menggeram seram, "Berlutut. Aku Kaisar Cong-ceng dari Kerajaan Beng.”

Memang kaum Pek-lian-kau amat memuja kepada kaisar terakhir dinasti Beng yang matinya menggantung diri di bukit Bwe-san itu. Ngo-yap Cinjin memang melihat segores bilur merah melintang di leher sosok dalam asap itu, mungkin bekas terjerat tali gantungan dulu. Tanpa pikir panjang lagi Ngo-yap Cinjin berlutut sambil berseru, “Banswe..Banswe...”

Sosok di tengah asap itu terkekeh seram dan lirih. “Bagus, dari alam seberang ini kulihat siapa pengikutku yang setia, dan siapa yang tidak setia. Kalian, Pak-Lian-kau cabang-cabang Pak-cong kunilai paling lurus memperjuangkan cita-cita. Melebih teman-teman kalian dari Lam-cong melebihi pula gerakan-gerakan lain seperti Jit-goat-pang. Thian-te-hui dan sebagainya!”

“Terima kasih, Yang mulia. Dengan restu Yang Mulia kami akan terus berjuang sampai tegaknya kembali dinasti Beng yang diperintah oleh keturunan Yang Mulia. Hamba juga amat berbahagia, karena malam ini untuk pertama kalinya hamba diperkenankan memandang wajah Yang Mulia, biarpun sudah berbeda alam tempat kita berada."

"Aku tahu. Perjuangan gigih kalian sungguh membuatku besar hati dan terharu, tetapi... ah..." sosok tubuh dalam asap itu menarik napas dengan sedih sambil geleng-geleng kepala. "Tidak semua hamba-hambaku sesetia kau. Ada yang mulai gila harta sehingga melupakan kesetia-kawanan dengan teman-teman seperjuangan."

Campur aduk antara rasa bangga mendapat pujian dengan pengabdian yang amat fanatik, membuat Ngo-yap Cinjin bergolak darahnya ketika melihat "roh Kaisar Cong Peng" nampak begitu sedih. Sambil mengangkat wajahnya, dia berkata penuh tekad, "Ampun yang Mulia, kalau ada teman-teman seperjuangan yang mengecewakan Yang Mulia, hamba sanggup menumpas mereka. Berilah restu kepada hamba, Yang Mulia!"

Asap putih itu perlahan-lahan menipis terhembus angin malam yang lembut, maka sosok tubuh di tengah asap itu tanpa membuang-buang waktu lagi segera mengutarakan maksudnya, "Hamba-hamba tidak setia itu tidak menghiraukan petunjuk-petunjuk gaibku lewat mimpi. Mereka mendukung calon raja yang tidak kukehendaki. Dulu aku memang menunjuk Cu-sam Thai-cu sebagai pewaris tahtaku, tapi aku menyesal dan mengubah wasiatku. Aku ingin keturunan Ci Leng Ong yang harus memegang tahta Kerajaan Beng, sebab mereka lebih berani dalan perjuangan menentang kaum Aishin Gioro itu!"

Kebetulan memang garis keturunan Pangeran Cu Leng Ong ini yang dijunjung cabang-cabang Pak-cong dan Jit-goat pang. Mendengar pesan "gaib" itu, kontan Ngo-yap Cin-jin bersujud sampai jidatnya, menyentuh tanah. "Hamba menjunjung titah Yang Mulia sepenuh jiwa raga."

Waktu itu asap putihnya sudah semakin menipis sehingga "arwah Kaisar Cong ceng" pun agaknya tergesa-gesa ingin segera pergi dari situ. Melihat gelagatnya Nyo-yap Cin-jin hendak mengucapkan "ikrar setia" yang panjang lebar, "arwah Kaisar" itu buru-buru membentak,

"Tidak usah banyak omong, buktikan dengan tindakan nyata! Siapa menuruti pesan-pesanku, dialah yang ku restui dalam setiap pertempuran sehingga menang terus! Laksaan Thian-peng (prajurit langit) bisa kuperintahkan membantu perjuangannya!"

"Hamba mohon doa restu, Yang Mulia."

"Cepat laksanakan!"

Ngo-yap Cin-jin bersujud sekali lagi, lalu kembali ke perkemahannya dengan langkah tegap, penuh keyakinan bahwa perjuangannya akan menang karena sudah mendapat perintah langsung "Kaisar Cong Ceng".

Hanya beberapa detik setelah imam tolol itu pergi, angin bertiup keras dan menyapu sisa-sisa asap putih di tempat itu. Sisa asap putih yang memancar dari bumbung bambu bersumbu, berisi sejenis campuran kembang api yang biasa digunakan di panggung-panggung wayang untuk mendramatisir adegan-adegan "turunnya dewa" atau "munculnya siluman".

Bersamaan dengan sirnanya asap yang sama sekali tidak gaib itu, "Kaisar Cong ceng" juga cepat-cepat melompat turun dari seutas tali hitam yang direntangkan di batang pohon, satu meter dari tanah, yang tadi diinjaknya dengan ilmu meringankan tubuh yang amat lihai. Cepat- cepat ia melepas dan melipat jubahnya, mencopot kumis dan janggut palsu yang direkatkan di pipinya, melepas tali dan menggulungnya Semua itu disatukan dalam sebuah bungkusan yang segera digendongnya. "Kaisar Cong-ceng" itu segera "menjelma" menjadi Wan Lui.

"Sekali-sekali asyik juga main hantu-hantuan di depan orang tolol..." pikir Wan Lui. "Mudah-mudahan aku tidak kualat kepada yang sudah mati. Tapi kalau kubiarkan Pek-lian-kau merajalela, aku lebih takut lagi kualat kepada orang-orang yang masih hidup."

Lalu Wan Lui berkelebat cepat bagaiku hantu, meninggalkan tempat itu. Bagaikan hantu, tapi bukan hantu, cuma bekas hantu-hantuan.

* * * *

Di barak pimpinan cabang-cabang Pak-cong yang terletak, di lereng sebelah utara dari kelenteng Hong-kak-si, sedang terjadi perdebatan seru. "Kalau suheng memang tidak mau mempercayai, akupun tidak bisa memaksa. Aku tidak bersalah lagi kalau sampai Suheng kena murka roh Sri Baginda, yang agaknya sudah benar-benar murka terhadap penyelewengan kaum Lam-cong!" seru Ngo-yap Cinjin sambil menggebrak meja. "Dan Sri Baginda pun tidak sabar melihat kelambanan kita dalam menindak orang-orang Lam-cong yang menyimpang dari perjuangan suci itu! Orang-orang yang telah mengubah perjuangan suci menjadi sekedar arena pemerasan ala bandit-bandit kelas teri untuk mencari uang!"

Selama ini Cu-peng Cinjin memimpin kaum Pak-cong, antara lain karena dia dipercayai sebagai satu-satunya orang yang bisa mendengar "pesan-pesan dari alam gaib" dan bahkan sering kesurupan, sehingga tiap kata-katanya ditaati, tak ada anak buahnya yang berani membangkang. Kini mendengar Ngo-yap Cinjin mengaku telah bertemu muka dengan "roh Sri Baginda sendiri, kontan saja Cu-peng Cinjin merasa disaingi, kedudukannya sebagi pemimpin bisa goyah.

Maka laporan Ngo-yap Cinjin ditanggapinya dengan dingin saja. "Sute, makanya sering kuperingatkan agar kau jangan keseringan melamun atau kebanyakan minum arak. Bukankah kau tahu sendiri bahwa arwah Sri Baginda selalu memberikan perintah- perintahnya hanya melalui aku? Bukankah sering kau lihat sendiri Sri Baginda memasuki tubuhku, lalu memakai mulutku untuk memerintah?"

"Tapi, Suheng, sekali ini benar-benar kulihat dengan mataku sendiri roh Sri Baginda melayang di tengah-tengah segumpal asap putih di hutan di belakang kuil itu. Dia melayang, tidak menginjak tanah, persis Suheng ketika sedang kemasukan..."

"Lancang mulutmu! Mana bisa aku disamakan dengan Sri Baginda? Kau ini agar aku kualat kena kutukannya?"

"Oh... maaf, maksudku... aku ben... benar melihat Sri Baginda mengapung didepanku. Benar-benar mengapung, tidak menginjak apa-apa, bahkan aku berbicara dengannya..."

"Aku kira, ucapan Ngo-yap Sute ini perlu dipertimbangkan..." Cu-sian Cinjin ngotot mendesak Cu-peng Cinjin agar bertindak, maka Cu-sian Cinjin tinggal "membonceng" saja. Jadi bukan urusan percaya atau tidak percaya.

Di dalam ruangan barak itu bukan cuma ada ketiga Cinjin itu, melainkan juga beberapa tokoh Pak-cong. Ada yang imam ada yang bukan. Tapi ada persamaan mereka. Pertama, semuanya mempercayai bahwa perjuangan itu dipimpin sendiri oleh roh Kaisar Cong-ceng, lewat pesan-pesan gaibnya. Kedua, semuanya merasa jengkel oleh sikap orang-orang Lam-cong yang memandang remeh mereka.

Ketiga, mereka percaya, siapa yang paling mampu menangkap "pesan gaib Sri Baginda"lah yang paling patut memimpin Pak-cong, bahkan bukan cuma Pak-cong tapi mestinya ya seluruh Pek-lian-kau, bahkan seluruh gerakan yang menentang pemerintah Manchu. Sayangnya kaum Lam-cong tidak setuju cara menentukan pimpinan hanya berdasarkan “Yang paling kesurupan", begitu ejekan kaum Lam-cong.

Kini mendengar Ngo-yap Cinjin kini juga mengakui "ketiban wangsit", orang-orang Pak-cong mendapat kesempatan untuk mendesak Cu-peng Cinjin agar segera bertindak kepada kaum Lam-cong. Bukan cuma menegur, sebab teguran sudah tidak digubris. Cu-peng Cinjin cukup peka menilai gelagat, la pikir, kalau orang-orangnya tidak puas, bisa-bisa kedudukannya sebagai pimpinan akan goyah. Karena itulah terpaksa dia berkata,

"Baik, untuk terakhir kalinya aku akan bicara kepada teman-teman kita dari Lam-cong itu, agar kita diperbolehkan ikut menentukan nasib Hong Lik itu."

"Tidak perlu minta ijin! Hak untuk menghukum Hong Lik memang hak kita, bahkan perintah dan Sri Baginda yang pernah diterima Suheng sendiri, kenapa kita, harus seolah mengemis kepada mereka..." sergah Cu-sian Cinjin penasaran.

"Sute, jangan menghasut. Bagaimanapun juga orang-orang Lam-cong adalah teman-teman seperjuangan kita. Kalau sikap kita menimbulkan bentrokan, bukankah kita yang akan rugi sendiri? Bukankah anjing-anjing Manchu yang akan ambil keuntungan?"

"Orang yang sudah lupa tujuan perjuangan, bukan teman seperjuangan lagi!" sahut Ngo-yap Cinjin keras. "Sri Baginda sendiri telah memerintahkan kepadaku! Sri Baginda sendiri tidak puas kalau kita terus bersikap lunak terhadap mereka!"

"Tunggu, sekarang juga biarlah kutemui pimpinan Lam-cong untuk bicara terakhir kalinya dengan dia!" Cu-peng Cinjin tidak mampu lagi menahan desakan anak buahnya. "Kalian tetap di sini dan jangan membuat keributan!"

Lalu Cu-peng Cinjin keluar dari situ untuk menuju ke barak pimpinan kaum Lam-cong. Seharian itu, entah bagaimana hasil pembicaraan pimpinan Pak-cong dan pimpinan Lam-cong, namun hasilnya tetap tidak memuaskan orang-orang Pak-cong. Biarpun dengan kata-kata yang halus, Lam-cong tetap menyatakan keberatan kalau orang Pak-cong ikut mengawasi Pangeran Hong Lik. Apalagi menyerahkan mentah-mentah, sebab pihak Lam-cong kuatir kalau "angsa ajaib yang bisa bertelur emas" itu akan disembelih begitu saja oleh orang-orang Pak-cong. Keruan penolakan itu memperhebat ketidak-puasan di kalangan Pak-cong.

Sementara itu, di kalangan Lam-cong sendiripun juga tidak sedikit yang mulai jengkel terhadap orang-orang Pak-cong. "Orang-orang Pak-cong itu mau seenaknya saja."

"Seenaknya bagaimana?"

"Siapa yang mempertaruhkan nyawa dalam penangkapan Pangeran Hong Lik, dan bertempur dengan anjing-anjing Manchu di Kim-teng?"

“Aku yang baru datang dari Ou-pak tentunya tidak ikut. Tetapi sudah kami dengar betapa kawan-kawan kita, terutama Thio dan Hoa Haiangcu dengan berani serta cerdik berhasil menangkap Hong Lik. Bahkan memukul mundur pasukan anjing Manchu yang mencoba mengejarnya. Benar-benar suatu operasi yang gemilang!”

“Hampir sepenuhnya operasi itu ditangani Lam-cong kita. Pihak Pak-Cong cuma mengirim Cu-sian Cinjin untuk membantu dengan ilmu gaibnya, tapi sebenarnya tanpa bantuan Cu-sian Cinjin pun operasi kita akan berjalan lancar. Nyatanya begitu. Nah, pikir, siapa yang berhak atas diri Hong Lik?"

"Tentu saja kita!"

"Semua teman juga berpendapat begitu. Tetapi orang Pak-cong tetap saja menganggap tertawannya Hong Lik sebagai usaha bersama, ha-ha...mana bisa? Kita yang berjuang, kenapa mereka mau ikut makan nasilnya?"

"Benar. Mereka itu tolol tapi serakah dan mau berlagak!"

Begitulah, orang-orang Lam-cong pun membicaraku orang Pak-cong dengan berapi-api penuh kemarahan. Dan kemudian datang lagi benerapa orang Lam-cong yang langsung bergabung dan ikut bicara.

“He, sedang membicarakan apa?"

“Membicarakan pahlawan-pahlawan kesiangangan, teman-teman kita dari Pak-cong itu!”

"Oh ya, kawan-kawan, sudah dengar kabar terbaru dari antara mereka belum?“

"Kabar apa lagi?"

"Begini, katanya Ngo-yap Cinjin telah..."

“Ngo-yap Cinjin? Yang seperti Put-to-ong itu?"

Keruan para pimpinan cabang-cabang Lam-cong yang sedang berkumpul dan berkelakar itu tertawa serempak. Put-to-ong adalah boneka mainan berbentuk bulat, cuma terdiri dari kepala dan tubuh tapi tanpa anggota tubuh, bagian pantatnya diberi pemberat timah. Maka biar digoyang atau digulingkan bagaimanapun juga, akhirnya akan tetap bisa berdiri di pantatnya.

"Ya ... ya ... dia itulah Ngo-yap Cinjin..."

"Aku pernah berpapasan dengannya, kusapa dia tapi dia malah memelototi aku. Hampir saja kutabok jidatnya..."

Kembali orang-orang itu tertawa riuh rendah. “Tenanglah kalian mau dengar berita itu tidak?"

“Ya, ya. Bagaimana ceritanya?"

“Begini, katanya si Put-to-ong itu telah Bertemu dengan roh Sri Baginda dan mendapat perintah-perintah langsung..."

Belum selesai kalimat itu, ujung kalimatnya sudah tenggelam oleh gemuruh tertawa yang meledak kembali. Termasuk di antara yang tertawa itu adalah Wan Lui yang di pipi dan dagunya masih ada bekas-bekas lem untuk menempelkan kumis dan jenggot palsu semalam. Tapi ia tidak ikut bicara.

"Pantas orang-orang Pak-cong itu selalu gagal, karena pikiran mereka selalu dipenuhi hal-hal yang serba tahyul. Itu beda mereka dengan kita. Kitapun belajar ilmu gaib, namun tidak meninggalkan akal sehat ini..." kata seorang sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke jidat. "Benar tidak?"

"Benar. Itulah sebabnya kita di wilayah selatan semakin disegani. Tidak sekedar dianggap segerombolan orang yang percaya kepada tahyul."

Begitulah, di perkemahan Pek-lian-kau itu soal "Ngo-yap Cin-jin ketemu Sribaginda" itu segera menjadi pembicaraar hangat, oleh orang-orang Pak-cong maupun Lam-cong. Cara membicarakannya tentu saja juga berbeda. Orang-orang Pak-cong bicara dengan nada bangga, penuh keyakinan dan bahkan khidmat. Sedangkan orang-orang Lam-cong membicarakannya dengan cengengesan, menganggapnya sebagai bualan yang dilebih-lebihkan belaka. Perbedaan sikap itu menghasilkan apalagi kalau bukan kebencian yang semakin menghebat di antara dua golongan Pek-lian-kau itu?

Malam tiba. Ketika lereng-lereng bukit di sekitar Kuil Hong-kak-si itu mulai sepi, diam-diam Wan Lui bangkit dan menyelinap meninggalkan perkemahan. Sebisa-bisanya menghindari anggota-anggota Pek-lian-kau yang masih berjaga di dekat api unggun. Setelah cukup jauh dari lokasi berkumpulnya orang-orang Pek-lian-kau tersebu Wan Lui mulai berani mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Maka bagaikan seekor burung saja, dia melesat ke arah kota Hong-yang yang tidak jauh.

Tembok kota dipanjatnya dengan Ilmu Pia-hou-yu-jio (Cecak Merayap), dan sesaat kemudian Wan Lui sudah ada di atas tembok kota, lalu melompat turun. Karena malam memang sudah larut, maka keadaan kota pun sudah sepi. Tapi Wan Lui terus berjalan, dan kepada seorang penjual makanan yang baru mau pulang, ia menanyakan letak kediaman Panglima Kota (Cong-peng) kota Hong-yang. Setelah mendapat petunjuk, langkahnya pun mantap menuju ke sana.

Gedung Cong-peng itupun tentu saja sudah ditutup pintunya, tapi sebagai pejabat penting, pintunya tetap dijaga empat orang prajurit. Dengan langkah tanpa ragu-ragu, Wan Lui melangkah lurus ke arah para penjaga, membuat para penjaga itu menunggu dengan bersiaga. Kepada penjaga-penjaga itu, Wan Lui berkata dengan gagah,

"Aku bernama Lui Hong Gan, berpangkat Cam-ciang dari Pasukan Rahasia Istana. Aku harus bertemu muka dengan panglimamu sekarang juga!"

Kata-kata Wan Lui yang diucapkan dengan gaya begitu meyakinkan, membuat para penjaga terpengaruh, biarpun semasa dinas mereka belum pernah didengarnya tentang "Pasukan Rahasia Istana". Mungkinkah sebuah pasukan yang baru dibentuk? Namun mereka tidak berani langsung mengijinkan masuk begitu saja. Pimpinan penjaga segera berkata dengan hormat, "Lui Cam-ciang, bolehkah kami memeriksa surat-surat dan tanda-tanda resmimu?"

Wan Lui melotot dengan lagak gusar, dan menjawab, "Aku sedang dalam tugas penyamaran yang amat rahasia di tengah-tengah musuh, apakah harus kubawa semua tanda pengenalku agar ditemukan musuh, lalu aku disembelih?"

"Tetapi sekarang saatnya orang beristirahat, mungkin Cong-peng sendiri juga sudah..."

"Bangunkan! Ada urusan penting. Kalau tidak mau bangun, terpaksa harus kulaporkan Kaisar bahwa dia bersikap amat tidak membantu dalam urusan gawat yang menyangkut keselamatan negara. Di istana, aku punya wewenang dan hak khusus untuk menghadap Kaisar, kapanpun aku mau!"

Para penjaga betul-betul kalah gertak oleh lagak Wan Lui itu. Si pemimpin penjaga terpaksa membungkuk dengan amat hormat, lalu berkata, "Baiklah, maafkan kami. Silahkan Cam-ciang menunggu sebentar di Sini, biar aku melapor kepada Cong-peng."

"Cepat!"

Terbirit-birit si pemimpin regu penjaga melangkah masuk. Beberapa saat kemudian, ia sudah keluar kembali dan berkata, "Silakan masuk, Lui Cam-ciang. Cong-peng sudah bangun dan siap menemui Cam-ciang di ruangan tengah. Silakan."'

Dengan gagah Wan Lui melangkah masuk, diruangan tengah nampak lilin sudah dinyalakan. Kwa Cin Beng, si Hong-yang Cong-peng, sudah duduk menunggu dalam pakaian seragamnya yang nampaknya tergesa-gesa dikenakan, sementara matanya baru separuh terbuka. Ketika melihat Wan Lui melangkah masuk, Kwa Cin Beng bangkit dan duduknya untuk memberi hormat.

'"Silakan duduk, Lui Cam-ciang ... sambutnya.

Wan Lui lebih dulu membalas hormat, "Aku benar-benar minta maaf telah mengganggu tidur Cong-peng, karena amat terpaksa membawa satu urusan penting..."

"Kenapa tidak datang siang-siang saja..."

"Cong-peng tahu, sebagai komandan Pasukan Rahasia Istana, aku harus bertindak serba terselubung dan hati-hati. Tak mungkin aku datang kepada Cong-peng dengan membawa barisan pengawal, mengibarkan bendera dan diiringi pula barisan tambur dan terompet. Tapi ya seperti sekarang inilah cara kerjaku, sekali lagi aku mohon maaf..."

Menyaksikan kefasihan bicara Wan Lui, di hati Kwa Cin-beng mulai timbul perasaan tamunya itu benar-benar orang dari istana. Maka ia tidak berani bersikap kurang hormat ataupun menunjukkan ketidak senangannya. "Jangan sungkan, Cam-ciang. Kita sebagai abdi-abdi negara memang setiap saat harus siap demi tugas-tugas kita..."

"Rupanya tidak keliru aku menghubung Cong-peng. Ternyata aku menghubung Cong-peng yang tepat, yang mengabdi dengan ppenuh hati. Kalau kulaporkan hal ini kehadapan Kaisar, tidak mungkin masa depan Cong-peng tidak diperhatikan..." begitulah wan Lui lebih dulu menyanjung untuk melancarkanrencananya.

Kwa Cin Beng memang senang, tapi ia masih harus mengetahui siapa orang yang duduk di depannya itu, sebab selama ini belum pernah satu kalipun kalau di Pak-khia ada yang namanya "Pasukan Rahasia Istana".

"Maaf, Cam-ciang. Aku memang agak terkejut mendengar Cam-ciang mengaku dari Pasukan Rahasia Istana yang mengunjungiku di malam selarut ini. Apakah Pasukan Rahasia Istana ini baru dibentuk? Aku yang picik ini belum pernah mendengarnya."

Karena sudah menduga akan menghadapi pertanyaan itu, Wan Lui juga siap dengan jawabannya, "Memang belum lama dibentuknya. Tugas kami ialah melindungi anggota-anggota keluarga istana, namun dengan cara diam-diam dan tidak menyolok mata."

Sementara Kwan Cin Beng mengangguk angguk, Wan Lui melanjutkan kata-katanyu hanya dalam hati sambil tertawa, "Dibentuknya memang baru beberapa menit yang lalu. Akulah komandan merangkap satu-satunya anggota."

"Dan maksud-Cam-ciang menemui aku?"

"Begini, Cong-peng. Hampir dua bulan yang lalu, Pangeran Hong Lik, Putera Mahkota, meninggalkan istana secara diam-diam dalam penyamaran, dikawal beberapa anak-buah," bual Wan Lui dengan mantap. "Tapi rombongan itu tiba-tiba hilang jejaknya, pengawal-pengawalnya pun tidak lagi mengirimkan berita dengan burung merpati kepadaku. Antara kami yang di istana dan rombongan Pangeran Hong Lik jadi putus hubungan sama sekali. Tentu saja Kaisar jadi gelisah, lalu aku dipanggil menemuinya untuk membicarakan soal ini."

Tiap kata-kata Wan Lui menyiratkan betapa tinggi kedudukannya dalam istana, sehingga anggukan kepala Kwa Cin Beng semakin gencar. Dibiarkannya Lui "Cam-ciang" ini melanjutkan bicaranya.

“Kaisar menugaskan aku langsung mencari Pangeran Hong Lik. Setelah kuselidiki dengan seksama, baru tahu kalau Pangeran Hong Lik ternyata diculik orang-orang Pek-lian-kau. Pantas kalau kami di istana jadi kehilangan kontak."

Kwa Cin Beng terperanjat. "Pek-lian-kau? Sekte yang sudah dinyatakan sebagai gerakan terlarang itu?"

"Ya, kalau bukan mereka, mana ada Pek-lian-kau yang lainnya lagi?"

Sesaat suasana tegang mengisi ruangan itu, api lilin yang berlenggak-lenggok seperti seorang penari itupun membuat bayangan di dinding jadi ikut bergoyang. Kwan Cin Beng memang mulai tegang. Pangeran Hong Lik hilang diculik Pek-lian-kau, kemudian "Lui Cam-ciang" ini menemuinya malam-malam. Tentunya bakal ada hubungan antara kedua hal itu.

"Lalu bagaimana, Cam-ciang?"

"Kwa Cong-peng, apakah kau tahu orang-orang macam apa yang sekarang sedang berkumpul di sekitar Kuil Hong-kak-si, tidak jauh dari kota ini?"

"Oh, mereka itu para peziarah biasa. Memang setahun sekali, mereka berkumpul disana, berkemah beberapa hari, lalu membuat semacam upacara menurut kepercayaan mereka, entah upacara apa, setelah itu bubar. Begitu terus dari tahun ke tahun, tidak membahayakan. Maka ya kubiarkan saja."

"Apakah Cong-peng tidak pernah menyuruh orang-orangmu untuk menyusup di antara mereka, melihat upacara macam apa yang mereka selenggarakan itu?"

"Belum. Karena aku rasa mereka itu hanyalah…”

Ucapan Kwa Cin beng terpotong ketika Wan Lui keras-keras menepuk permukaan meja, sambil menggertak, "Ini kelengahanmu, Cong-peng. Karena kau tidak menyelidiki, jadi kau kena dikelabuhi mereka. Mereka bukan peziarah-peziarah biasa, tapi orang-orang Pek-lian-kau!"

Mulut Kwa Cin Beng kontan jadi sulit dikatupkan, seolah rahangnya kejang, matanya terbelalak lebar. Sementara Wan Lui melanjutkan kata katanya,

"Mereka rajin berkumpul, tak lain untuk mengatur siasat pemberontakan terhadap pemerintah kita. Ya, mereka merencanakan pemberontakan tepat di bawah hidungmu, Kwa Cong-peng! Sedangkan kau masih saja bilang aman, tidak berbahaya, hanya peziarah dan sebagainya. Bisa kau bayangkan hukumanmu kalau sampai Kaisar mendengar ini?"

Wajah Kwa Cin Beng memucat, tubuhnya gemetar, katanya kepada Wan Lui bernada amat memohon, "Lui Cam-ciang, tolonglah aku. Jangan laporkan kepada Sribaginda. Malam ini juga akan kukerahkan pasukanku untuk menggempur mereka!"

"Jangan!"

"Maksud... maksud Cam-ciang bagaimana?"

"Pangeran Hong Lik ditawan mereka. Kalau kau serbu mereka secara sembrono, sama saja dengan mempercepat kematian Pangeran Hong Lik. Kesalahan macam ini jauh lebih berat daripada kelengahanmu selama ini!"

"Lalu... aku harus bagaimana?"

"Bukan aku melarang bertindak, tapi bertindaklah dengan terencana, jangan sampai membahayakan jiwa Pangeran Hong Lik. Untuk itu, Cong-peng harus bekerja-sama denganku. Aku punya satu rencana."

"Aku.... aku akan menurut saja."

Demikianlah siasat Wan Lui, lebih dulu menakut-nakuti Kwa Cin Beng agar "jinak", setelah itu barulah bisa diatur rencana berikutnya. Tanyanya, "Cong-peng, pertama-tama aku tanya, berapa kekuatan prajurit yang ada di bawah perintahmu saat ini?"

"Kira-kira empat ribu lima ratus orang."

"Kumohon Cong-peng siapkan mereka, tetapi jangan menyolok, jangan sampai sasaran kita mengetahui kalau hendak kita serang. Dan maaf, biarpun Cong-peng berpangkat lebih tinggi dari aku, tapi hendaknya menuruti rencanaku. Demi keselamatan Pangeran Hong Lik. bagaimana?"

"Aku setuiu."

"Terima kasih, Cong-peng. Untuk rencana selanjutnya, Cong-peng harap menunggu petunjukku. Kalau bergerak di luar petunjuk ku, berarti mencelakakan Pangeran Hong Lik dan bayangkan sendiri akibat yang bakal kau terima."

"Aku paham. Akan aku siapkan pasukan."

"Ingat, persiapan tempurnya jangan menyolok.” Wan Lui bangkit untuk memberi hormat, lalu pergilah ia. Tidak lagi melewati pintu depan, melainkan melompat keatap dan langsung "terbang" menghilang ke luar kota Hong-yang. Setelah melewati dinding kota, ia lebih hebat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melintasi padang perdu, menuju ke Kuil Hong-kak-si.

Tapi padang perdu itu baru dilintasinya separuh lebarnya, ketika dari dalam hutan di depannya tiba tiba muncul segumpal asap hitam yang berputar kencang, hendak menelannya. dengan kaget Wan Lui menghentikan langkah dan menghindar. Asap hitam buyar, dan muncullah Cu-peng Cin-jin dengan wajah bengis di hadapan Wan Lui.

Tangan kanannya memegang pedang, tangan kirinya memegang Hudtim (kebut pertapa), pada ikat pinggangmu bagian belakang tertancap macam-macam bendera jimatnya seperti Hong-hun-kui (bendera awan dan angin), Ciao-hun-ki (bendera penianggil roh), Ngo-lui-ki (bendera lima guntur), Sip-hun-ki (bendera penyedot semangat) dan sebagainya. Kalau Cu-peng Cin-jin berjalan di pasar dengan dandanan macam itu, tentu dikiranya penjual bendera mainan untuk anak-anak.

Tapi Wan Lui tahu, bendera-bendera itu adalah senjata-senjata gaib yang ampuh. Wan Lui menyeringai dan memberi hormat, "Oh, kiranya Cu-peng Cin-jin. Maafkan, hampir saja aku tidak melihat Cin-jin. Apakah Cin-jin juga sedang meronda seperti aku?"

Cu-peng Cin-jin mendengus dingin. "Bangsat cilik, kau masih mengira aku bisa kau kelabui. Siapa kau sebenarnya?"

"Aku Gan Hong Lui. Anggota Pek-lian-kau wilayah selatan."

"Bohong!" bentak Cu-peng Cin-jiin gusar. Kau pikir aku tidak memperhatikan gerak-gerikmu se|ak tadi kau tinggalkan Hong Kak-si seperti maling takut ketahuan. Dan sekarang larut malam kau datang dari arah kota Hong-Yang, untuk apa?"

"Ah, memang aku memasuki kota Hong-yang untuk menjenguk seorang kerabat. Hanya itu."

"Anjingg cilik pintar sekali kau bohong ya? Aku justru curiga mendengar onmongan-mu yang berbelit-belit. Atau jangan-jangan kau adalah kaki tangan para anjing Manchu yang menyusup ke tubuh Pek-lian-kau untuk mengacau perjuangan kami?”

Lebih dulu Wan Lui memandang ke sekelilingnya, kepadang perdu yang tidak terlalu luas itu, dan yang ada hanya kesunyian. Hanya dia dan Cu-peng Cin-jin yang ada di tempat itu. Agaknya cu-peng Cin-Jin begitu percaya dirinya sendirian saja akan dapat menangkap “anggota yang mencurigakan” itu, mengorek keterangan secara diam-diam, lalu akan digunaka sebagai saksi untuk menyudutkan kaum Lam-cong.

Sedangkan Wan Lui setelah yakin tidak adanya orang ketiga, lalu terang-terangan membuka diri, "Benar, memang nama yang sebenarnya ialah Wan Lui, dari Liang-pek-san alias orang Manchu asli. Aku memang tidak suka Pek-lian-kau dan akan menghancurkan kalian, nah, hidung kerbau, mau apa kau?"

Di samping marah, Cu-peng Cin-jin sebetulnya juga merasa kebetulan kalau bisa menangkap "Gan Hong Lui" ini hidup-hidup, lalu memaksanya mengaku di depan sembahyang besar beberapa hari lagi, tentu pihak Lam-cong akan malu karena telah kesusupan orang Manchu. Cu-peng Cin-jin tidak buang-buang waktu lagi.

Sekali melompat tinggi, hud-tim di tangan kirinya ditebarkan di depan wajah Wan Lui, untuk menyamarkan gerak pandang di tangan kanannya yang menikam ke arah perut. Itulah jurus Hun-li-tiau-toh (ditengah mega memetik buah toh). Ternyata imam itu bukan cuma lihai dalam ilmu gaib atau kesurupan saja, namun ilmu silatnya boleh juga.

Namun menghadapi Wan Lui, imam itu kaget sendiri. Tadinya dia mengira, kalau yang dihadapinya cuma mata-mata biasa, tentu akan dibereskannya dalam waktu singkat. Sama sekali tidak disangkanya kalau yang dihadapinya kini adalah murid Pak Kiong Liong, tokoh yang puluhan tahun malang-melintang di lapisan teratas dunia persilatan dengan julukan Pak-liong (Naga Utara).

Cu-peng Cin-jin terkejut karena serangannya cuma menerpa angin, Wan Lui seperti belut telah menghindar ke samping, lalu maju merunduk sambil meninju ke pinggang Cu-peng Cin-jm. Itulah gerak Cim-jip-Uong-tong (masuk ke gua naga). Kelabakan Cu-peng Cin-jin menyelamatkan diri dengan melompat menjauh, tapi gerak Wan Lui tanpa dihentikan terus disambung dengan Au-cu-hoan-sin (elang berputar). Wan Lui melompat mengikuti lawannya, dengan kedua tangannya mencoba merangkul pundak lawan untuk mematikan semua gerak senjata lawannya.

Kalau mematahkan serangan cuma satu. Pedangnya tidak bisa cepat membela diri sebab letaknya sedang jauh di sebelah kiri, sedang serangan Wan Lui menembus dari sudut kanan dan begitu dekat dengan tubuh. Terpaksa Cu-peng Cin-jin harus membanting diri bergulingan di tanah, dan ketika bangkit kembali, jubahnya sudah berlepotan tanah.

Sementara itu, Wan Lui sudah bertekat untuk membereskan Cu-peng Cin-jin secepatnya, sebab ia sudah terlanjur mengaku siapa dirinya sebenarnya. Kini Wan Lui mencabut pedang yang tergendong di punggungnya. Baru saja Cu-peng Cin-jin melompat bangun, ujung pedang Wan Lui tahu-tahu tinggal sejengkal dari dadanya, meluncur cepat dengan gerak Pek-ho-tiok-hi (bangau putih mematuk ikan).

Melompat mundurpun tak sepenuhnya bisa lolos, karena lengan atas Cu-peng Cin jin tertikam sehingga pedang di tangan kanannya terjatuh. Untuk menahan musuh, kebutannya disabetkan ke muka Wan Lui sambil melompat mundur sekali lagi. Detik detik itu Cu-peng Cin-jin menyadari betapa kelirunya kalau mengajak Wan Lui adu silat. Maka peluang untuk menang tinggal ter sedia lewat jalan Hoat-sut (ilmu sihir).

Wan Lui terus memburu dengan pedangnya lawannya terus mundur. Hati Wan Lui kaget ketika melihat tubuh Cu-peng Cin-jin tiba-tiba lenyap terbungkus asap hitam yang entah dari mana datangnya, Ujung pedang Wan Lui menusuk jauh ke dalam gumpalan asap hitam, tapi tidak apa apa. Dan ketika asap hitam itu lenyap kembal Wan Lui melilhat Cu-peng Cin-jin sudah menjauh belasan langkah.

"Jangan lari!" bentak Wan Lui.

Namun mulut Cu-sian Cin-jin telah komat-kamit membaca mantera. Hud-tim di tangan kiri sudah diselipkan di sabuknya, ganti memegang bendera Ciao-hun-ki (bendera pemanggil roh) yang berwarna kuning dan dikibar-kibarkan di atas kepala. Tangan kanan memegang beberapa helai orang-orangan dari kertas kuning yang digunting.

Teringat pengalamannya di kota Kam-teng dulu, Wan Lui bisa menduga apa yang bakal dialaminya. Cepat Wan Lui menerjang maju. Tapi Cu-peng Cinjin cepat menebarkan guntingan-guntingan kertas kuning berbentuk orang itu, dibarengi kibasan bendera Ciao-hun-kinya.

Guntingan-guntingan kertas kuning itu tiba- tiba menggelembung besar, setidaknya begitulah kelihatannya, menjadi seukuran manusia biasa, yang terus mengerubut Wan Lui. Ada tujuh "orang" yang semuanya mengamuk dengan hebat karena dirasuki kehidupan entah dari mana.

Wan Lui tidak lagi kaget menghadapi "mereka", tapi lumayan kerepotan juga. "Mereka" tidak menyerang dengan jurus silat yang teratur, melainkan sekedar mengamuk membabi buta, hanya saja amukan itu cukup berbahaya. Bahkan ketika pedang Wan Lui mengenai "mereka”, biarpun tubuh itu terkoyak tetapi tidak berakibat apa-apa dan terus mengamuk...

Dari jarak belasan langkah, Cu-peng Cin-jin puas melihatnya. Bendera Ciao-hun-ki disimpan, ganti mengeluarkan bendera Ngo-lui- ki (bendera lima guntur) yang berwarna lima macam. Bendera yang dipercayai bisa mengundang Ngo-lui sin (lima malaikat guntur). Sesaat kemudian Cu-peng Cinjin sudah khusyuk sekali membaca manteranya, sambil menggoyang-goyang bendera itu. Angin yang keras mulai datang, mengguncang pohon-pohon perdu dan ilalang sekitar tempat itu. Bahkan sayup-sayup di dalam angin itu ada juga suara gemuruh pelan, beberapa kali.

Biarpun tengah sibuk melayani tujuh lawannya "manusia kertas" itu, Wan Lui sempat melirik gerak-gerik Cu-peng Cinjin dan ia terkejut. Bendera di tangan Cu-peng Cinjin itu persis dengan yang pernah Wan Lui lihat di tangan Thio Yap, ketika menghajar In Kiu-liong dari kejauhan dengan serangan-serangan tidak nampak. Wan Lui ingat betapa payahnya In Kiu-liong waktu itu, bajunya robek-robek dan berbekas terbakar.

Tak berani berlambat-lambat lagi, Wan Lui cepat-cepat menggigit bibirnya keras-keras sehingga berdarah, lalu ludah berdarah itu disemprotkan ke arah lawan-lawannya. Dua kena dan langsung roboh menjudi guntingan-guntingan kertas kembali. Roh gaib yang menggerakkannya terusir pergi kena darah hangat manusia hidup. Tinggal lima, Wan Lui terus mendesak sambil menyemburkan ludah berdarahnya, dan membuat semua lawannya akhirnya kembali asal sebagai guntingan-guntingan kertas kuning biasa yang tidak menakutkan lagi.

Tapi saat itulah Cu-peng Cin-jin mulai membentak sambil mengayunkan bendera Ngo-lui-ki. Wan Lui yang baru bebas dari tujuh manusia jadi-jadian, tiba-tiba saja merasa disambar suatu kilatan cahaya yang entah darimana datangnya, sesuatu yang menyala-nyala tapi tak diketahui apa itu sebenarnya. Wan Lui menggulingkan diri menghindar, dan penyerangnya itu lenyap entah kemana.

Tiba-tiba Cu-peng Cinjin membentak dan mengayunkan benderanya lagi, dan kembali suatu kilatan cahaya menyambar Wan Lui. Ketika berhasil dihindari, lalu lenyap entah kemana. Saat-saat berikutnya Cu-peng Cinjin pun semakin tenggelam dalam praktek ilmunya. Topi lancipnya sudah dilepas, rambutnyapun dilepas gelungannya sehingga terurai bebas, sebagian menutupi mata.

Matanya makin terpejam dan kesadarannya makin kabur, mulutnya terus menggumamkan mantera bahasa aneh yang nadanya pndah menggeram. Tubuhnya tidak lagi diam, tapi melangkah hilir mudik dengan bergoyang ke kiri dan kanan secara berirama. Kibasan bendera Ngo-lui-kinya semakin gencar. Itu berarti kerepotan Wan Lui juga bertambah. Cahaya kilat yang menyambarnya makin sering, sehingga Wan Lui makin jungkir balik tak keruan. Celakanya, sambaran itu juga bisa muncul dari mana saja, dari arah yang tak terduga.

Sejak semula Wan Lui sudah menjauhkan diri dari anggapan bahwa serangan itu bukan sekedar "tipuan mata". Bukan, sebab akibatnya nyata. Segumpal semak-semak hangus jadi abu ketika kena sambarannya. Untung ketangkasan Wan Lui juga luar biasa, sejauh ini ternyata belum bisa dikenai. Inilah pertandingan seru antara manusia melawan makhluk halus. Sementara Wan Lui sadar tidak mungkin terus-terusan begitu, la tidak mau jungkir-balik sendirian, sementara Cu-peng Cin-jin enak-enak "bersenandung" sambil "menari bendera".

Suatu saat setelah berhasil menghindari kilatan api kehijauan itu, secepat kilat Wan Lui bergulingan ke arah Cu-peng Cinjin. Tapi hanya kurang beberapa langkah dari lawannya, suatu kilatan menyambarnya dari atas, tegak lurus dengan bumi. Terpaksa Wan Lui harus melompat bangun, sebelum tempatnya semula hangus disambar kilatan gaib itu. Sambaran berikutnya memaksa Wan Lui malah semakin jauh dari Cu-peng Cinjin.

Betapa masygul dan gusarnya Wan Lui sulit dikatakan. Ilmu silatnya yang tinggi itu jadi tak berguna kecuali untuk terus terusan menghindar, tanpa bisa menyerang Cu-peng Cin-jin secara langsung, dan kalau sampai ia kehabisan tenaga, berarti itulah saat terakhirnya. Membayangkan hal itu, Wan Lui jadi nekad. "Secepatnya menang atau binasa," ia membulatkan tekad dalam hati.

Begitu mendapat kesempatan, dengan segenap tenaga ia menghentakkan kaki ke tanah. Tubuhnya dengan gerakan Ban-liong-seng-thian (selaksa naga naik ke langit) langsung ke arah Cu-peng Cm-jin. Wan Lui bahkan tidak mau membiarkan pikirannya terpecah untuk meladeni kilatan kilatan hijau yang berseliweran menyambarnya.

Satu kilatan melayang satu jari di atas jidatnya, berpapasan, Wan Lui tetap tak peduli. Bahkan setelah luncurannya pasti kearah sasaran, dia menutup matanya agar perhatiannya tidak terurai. Sedetik setelah pedang Wan Lui menembus dari depan ke belakang, Cu-peng Cin-jin masih belum sadar apa yang terjadi, bahkan setelah ambruk ke tanah, masih sempat mengayunkan benderanya satu kali sebelum sukmanya pergi "menghadap Sribaginda".

Begitu keras Wan Lui menerjang, sampai dia roboh bersama-sama ke atas tubuh Cu-peng Cin-jin. Namun Wan Lui cepat melompat bangun. Waktu itulah kibasan terakhir bendera Nuo-lui-ki tadi masih membuahkan serangan kilat terakhir. Kali ini Wan Lui tak sempat menghindar, sambaran itu kena ke dadanya dengan kekuatan seperti jotosan seorang raksasa. Wan Lui terpental ke belakang dengan baju bagian dada hangus.

Beberapa saat lamanya Wan Lui tergeletak ditanah dengan napas terasa sesak. Sambil mengatur napas, ia melihat bahwa suasana seram yang tidak wajar itu pelan-pelan sirna, pulih ke suasana semula yang wajar. Wan Lui heran juga, dirinya kena serangan setelak itu di dada, kenapa tidak mati? Padahal kalau melihat betapa hebat "kilat hijau" itu mengenai tanah, mestinya dia mati.

Ketika ia bangkit perlahan, dirasanya sesuatu jatuh dari badannya, sebuah salib perak kecil berkilau di rerumputan kena cahaya bintang. Bandul kalung yang tadi tergantung di dadanya, namun tali rami yang untuk menggantungkannya sudah jadi abu kena "kilat hijau" tadi. Penuh rasa syukur Wan Lui memungutnya, mendekapkan ke dekat jantungnya dengan rasa mesra, sebelum dimasukkan ke kantong dalamnya.

la lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu, jalannya perlahan. Pertempuran melawan ilmu gaib yang baru saja dijalaninya benar-benar menguras tenaganya. Tapi sekaligus ia bersyukur bahwa ia merasa tidak sendiri. Sejenak dipandangnya tubuh Cu-peng Cin-jin yang seolah terpaku di tanah oleh pedangnya, guntingan-guntingan kertas kuning berbentuk orang-orangan yang kini bertebaran oleh angin, semak-semak maupun tanah yang hangus oleh "kilat hijau" tadi. semuanya itu tentu akan dianggapnya sebagai mimpi belaka. Tapi robek hangus di baju bagian dadanya itu adalah kenyataan.

* * * *

Wan Lui tiba diam-diam di perkemahan Pek-lian-kau golongan Lam-cong, di lereng selatan Kuil Hong-kak-si yang nampak megah di bayangan malam. Setelah menyembunyikan bajunya yang terbakar dengan yang masih utuh, Wan Lui tidur. Pagi harinya, dia dibangunkan oleh seorang anggota Pek-lian-kau "teman”nya.

Cara yang gegabah untuk membangunkan seorang pesilat tangguh, sebab orang itu menggoncang tubuh Wan Lui keras-keras. Wan Lui yang bangun dengan terkejut itu hampir saja melepaskan sebuah pukulan maut, untung dapat segera menguasai diri, dan beruntunglah si anggota Pek-lian-kau itu.

"Kenapa?" tanya Wan Lui mendongkol. "Kau amat mengagetkanku...?"
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 17

Kemelut Tahta Naga II Jilid 17

Karya : Stevanus S P

Tubuh-tubuh busuk yang digali itu ditumpuk di satu tempat. Kepada "mereka" Thio Yap berkata, "Kalian jangan penasaran. Kami cukup berterima kasih karena bantuan kalian selama ini. Sekarang kembalilah ke alam kalian yang semestinya, tanpa penasaran, dan akan kami sempurnakan jasad kalian."

Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P
Sejumlah orang Pek-lian-kau lalu menumpukkan kayu bakar ketumpukan daging busuk itu, menyirami dengan minyak, lalu menyalakannya. Si jago merahpun mulai menelan tubuh orang-orang malang itu untuk dijadikan abu.

Thio Yap membungkuk hormat sekali lagi ke arah kobaran api itu, lalu menuju ke kemah tawanan. Setelah pengaruh gaib di sekitar kemah itu dibersihkan, maka kemah itu jadi tidak ada bedanya lagi dengan kemah-kemah lainnya.

Dengan tegang Wan Lui mengikuti langkah Thio Yap dengan tatapan matanya. Sesaat lamanya Wan Lui tergoda untuk menerjang dan menyelamatkan Pangeran Hong Lik. Asal gebrakannya dilakukan dengan mendadak Wan Lui yakin betul bahwa di antara orang-orang Pek-lian-kau yang ada di situ takkan ada yang bisa merintanginya.

Namun begitu melihat Pangeran Hong Lik dituntun keluar dari kemah itu oleh Thio Yap, kagetnya Wan Lui bukan kepalang. Pangeran Hong Lik yang sebelum ini segar, cerdas dan periang itu, kini kelihatan kurus dan pucat. Tapi yang lebih menyedihkan Wan Lui ialah ketika melihat tatapan mata Pangeran Hong Lik itu cuma lurus ke depan, kosong, seolah tidak ada sukmanya.

Pangeran Hong Lik masih hidup, masih bisa menggerakkan kaki menuju tandu yang telah disiapkan, namun raga yang hidup itu "kosong" semangat. Hidup macam itu patut disebut "hidup-hidupan".

Bergolak hebat dada Wan Lui oleh kemarahan yang hampir tak tertahan. Tapi pertimbangan akal sehatnya masih mampu mengatasi gejolak emosinya, la sadar kalaupun berhasil merebut Pangeran Hong Lik saat itu, takkan menguntungkan apa-apa bagi Pangeran Hong Lik. Apa artinya berhasil membawa tubuh yang "kosong semangat"?

"Harus kuselidiki dulu, ilmu siluman macam apa yang membuat Pangeran Hong Lik jadi seperti itu. Setelah kupunahkan ilmu itu, barulah aku bisa membawa Hong Lik pergi," tekad Wan Lui. "Benar-benar harus sabar menghadapi penyembah-penyembah setan ini."

"Anjing Manchu cilik ini terbelenggu oleh So-hun Hoat-sut (Ilmu Gaib Pembelenggu Sukma) yang diterapkan oleh Thio Hiang cu," anggota Pek-lian-kau di sebelah Wan Lui itu menerangkan dengan bangga. "Itu jauh lebih sulit dipatahkan daripada sekedar belenggu fisik yang berupa tali atau rantai."

Wan Lui tidak menjawab, khawatir kalau suaranya yang bergetar oleh kemarahan itu terdengar orang-orang Pek-lian-kau dan menimbulkan kecurigaan.

Setelah perkernahan dibongkar, pengaturan perjalananpun ditetapkan. Karena rombongan itu berjumlah hampir empat ratus orang, maka tentu akan mencolok sekali kalau berjalan seperti pawai, maklum Pek-lian-kau adalah gerakan terlarang di jaman Manchu itu. Karena itulah mereka dipecah-pecah dalam rombongan kecil-kecil yang akan menyamar dalam berbagai wujud, dan berjalan berpencaran pula, tapi tidak terlalu saling berjauhan agar kalau ada musuh bisa cepat saling membantu.

Khusus untuk tandu yang membawa Pangeran Hong Lik, rombongan pengiringnya agak melebihi rombongan-rombongan lain. Dipimpin sendiri oleh Thio Yap dan Hoa Cek Gui, yang dengan bangga akan memamerkan "hasil buruan"nya itu dihadapan orang-orang Pek-lian-kau yang akan berkumpul di Hong- kak-si. Sedang orang-orang terpilih mengawal tandu itu adalah anggota-anggota pilihan yang dikenal tangguh dalam ilmu silat, ilmu gaib dan kesetiaan terhadap cita-cita Pek-lian-kau.

Maka tidak heran kalau Wan Lui tidak terpilih dalam kelompok itu, biarpun ingin, sebab ia belum termasuk anggota yang "tangguh dan setia". Namun dengan usahanya sendiri yang menggunakan bermacam-macam akal, Wan Lui berhasil masuk ke rombongan kecil yang tepat di belakang rombongan pembawa Pangeran Hong Lik itu. Di punggungnya tergendong bungkusan barang-barang yang dibelinya dari rombongan wayang kelilingan di Seng-tin itu.

Lalu berangkatlah kelompok demi kelompok, menuju Kuil Hong-kak-si di distrik Hong-yang, siap mengikuti upacara besar Kaum Pek-lian-kau setahun sekali. Meninggalkan api unggun yang melahap tubuh-tubuh membusuk korban Pek-Lian-kau itu.

* * * *

Semakin dekat ke tujuan, semakin sering berpapasan dengan kelompok-kelompok Pek-lian-kau, baik cabang-cabang Pak cong (sekte utara) maupun cabang-cabang, Lam-cong (sekte selatan). Semuanya menuju ke arah yang sama. Biarpun semuanya menyamar, tetapi sesama anggota Pek lian-kau bisa saling mengenali dengan kode kode rahasia mereka.

Entah kode itu berupa gerakan tangan, ucapan, coretan di tembok, bahkan cara memegang mangkuk atau sumpit di warung makan. Diam-diam Wan Lui memperhatikan semua itu, laiu mengingat- ingatnya dalam otak. Kalau yang tidak mudah diingat, dicatatnya di sebuah buku kecil yang selalu disembunyikan dalam bajunya.

Semakin dekat dengan kelenteng Hong-kak-si yang bersejarah itu, semakin banyak orang-orang Pek-lian-kau yang kebanyakan menyamar sebagai peziarah. Bahkan di sekitar bukit tempat berdirinya Hong-kak-si, ada belasan desa yang semua penduduknya adalah orang Pek-lian-kau semua. Sengaja mereka berdiam di situ, agar setiap ada upacara tahunan itu mereka dapat menyediakan tempat tinggal, makanan dan keperluan lain.

Bersamaan dengan itu, Wan Lui juga semakin jelas melihat ketidak-rukunan antara cabang Pak-cong dengan Lam-cong. Biarpun belum sampai bertikai terang-terangan, namun sudah kentara dari sikap dingin masing-masing pihak kala bertemu dengan pihak lainnya.

Dengan memperhatikan beberapa percakapan, Wan Lui bertambah pengetahuan bahwa sumber keretakan itu antara lain karena kedua cabang Pek-lian-kau itu mendukung calon-calon yang berbeda untuk kelak menduduki tahta setelah "Kerajaan Beng dipulihkan". Cabang-cabang Pak-cong erat hubungannya dengan Jit-goat-pang (Serikat Rembulan Matahari) yang bersikeras agar hak tahta tetap harus dalam garis keturunan Pangeran Cu Leng Ong.

Cabang-cabang Pak-cong dan Jit-goat-pang malahan pernah menyelenggarakan "operasi gabungan” di Pak- khia, mengerahkan puluhan ribu pengikut berani mati yang hampir berhasil menguasai seluruh kota Pak-khia, bahkan istana. Namun akhirnya gagal. Sedangkan cabang-cabang Lam- cong dekat hubunganny dengan Thian-te-hui (Serikat Langit Bumi) yang berpangkalan di Pulau Taiwan, pendukung setia garis keturunan Cu-sam That cu.

Pulau Taiwan bahkan tetap mereka kuasai dan menjadi semacam "Kerajaan Beng kecil" yang tak bisa direbut oleh armada Manchu. Kapal-kapal dagang Thian-te-hui yang legendaris dengan bendera putri hitam mereka, berlayar jauh sampai ke pulau-pulau di selatan untuk berdagang. Dengan keuntungan dagang itulah Thian-te-hui dapat gigih bertahan dalam perlawanan terhadap kekuasaan Manchu.

Cabang-cabang Lam-cong maupun Thian-te-hui menganggap bahwa "operasi gabungan" cabang-cabang Pak-cong dan Jit-goat-pang di Phak-khia itu tidak lebih dari suatu ketololan yang tidak ada gunanya. Itulah sumber pertengkaran abadi antara Pak-cong dan Lam-cong, dan hari-hari belakangan itu, satu sumber pertikaian lagi muncul. Yaitu siapa yang lebih berhak mengatur tentang diri Pangeran Hong Lik. Pak-cong dan Lam-cong seperti dua anak kecil yang mula-mula bekerja sama untuk mengambil sarang burung di atas pohon, dan setelah didapat, mereka berebutan siapa yang akan memiliki anak burung itu.

Di lereng utara bukit tempat Kuil Hong-kak-si, orang-orang Pak-cong mendirikan pesanggrahan sendiri. Sedang orang Lam-cong menggerombol di lereng selatan dan mendirikan perkemahan pula. Anak buah rendahan tidak kebagian tempat di barak, tapi disuruh mengambil tempat sembarangan di lereng, dan ditempat itulah Wan Lui kebagian tempat Sedang Pangeran Hong Lik sebagai tawanan penting sudah tentu diamankan dalam pesanggrahan orang-orang Lam-cong lapisan atas.

Satu yang diherankan Wan Lui. Kuil itu tidak jauh letaknya dari kota Hong-yang entah kenapa pembesar-pembesar di kota itu diam saja melihat berkumpulnya orang sebanyak itu, tanpa curiga? Betul orang Pek-lian-kau itu berlagak sebagai para peziarah biasa, tetapi pihak keamanan di Hong-yang agaknya benar-benar lengah atau memang mengabaikan, sebab bukankah Pek-lan-kau adalah gerakan yang menjadi musuh pemerintah Manchu? Atau pihak keamanan takut ttau kena suap? Atau pancaindera petugas-petugas di Hon-yang sudah dipengaruhi ilmu gaib Pek-lian-kau yang terkenal ampuh?

Ketika malam tiba, Wan Lui mulai berjalan mengendap-endap membawa bungkusan pakaian wayang di panggungnya. Dengan berusaha agar tidak dilihat oleh siapapun, dia berusaha mendekati barak pimpinan Lam-cong di lereng selatan bagian atas yang dekat dengan Kuil Hong-kak-si. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.

Wan Lui tidak berjalan di atas tanah, melainkan berlompatan di pucuk-pucuk pepohonan dengan menimbulkan suara gemerasai dedaunan yang tidak lebih keras dari guncangan angin. Dengar demikian, biarpun di lereng itu penuh bertebaran orang-orang Pek-lian-kau yang bergerombol-gerombo ngobrol sambil mengerumuni api unggung, akhirnya ia tiba di dekat barak kayu, tempat para pimpinan cabang Lam-cong.

Bangunan kayu itu sepi, tidak Nampak di jaga sama sekali. Tapi Wan Lui tidak berani langsung masuk begitu saja, ingat pengalamannya yang lalu ketika terperangkap barisan “Thian-Peng”. Karena itulah sebelum masuk, Wan Lui merasa perlu untuk lebih dulu memeriksa keadaan. Memeriksa bukan dengan mata atau indera-indera Jasmaniah lainnya, melainkan dengan naluri dan perasaannya yang terdalam dan terhalus.

Biarpun ia tidak punya ilmu gaib atau penangkalnya, namun ia punya keyakinan yang teguh bahwa iiwa manusia cukup mampu, peka dan tajam untuk menangkap kenyataan yang ada di seberang batas jangkauan panca-indera. Itulah sebabnya Wan Lui menyandarkan diri di pohon, tenang, matanya dipejamkan, jiwanya dijernihkan, perasaannya ditajamkan untuk menangkap suasana, wajar atau tidak? Ada Thian-peng atau tidak?

Tapi belum lagi "radar"nya bekerja sempurna, telinganya malah lebih dulu kemasukan suara, suara langkah-langkah yang semakin mendekat. Ketika ia membuka mata, di lihatnya tiga orang berjubah seperti iman tengah berjalan meninggalkan barak pimpinan kaum Lam-cong itu. Satu dari mereka sudah dikenalnya, Cu-sian Cin-jin, tokoh Pek-han-kau golongan Pak-cong yang bertengkar terus dengan Thio Yap.

Satu lagi berjubah warna merah tua, pada jubahnya terlukis macam-macam huruf asing yang agaknya adalah lambang-lambang sihir. Tubuhnya kurus, memakai topi lancip yang menjulang ke atas sehingga nampak lebih jangkung, matanya tajam mengerikan. Kemudian orang ketiga bertubuh gemuk, beralis tebal, bertampang ketolol-tololan dan memakai jubah kelabu polos. Sambil menjauhi barak, mereka bercakap-cakap.

Menyaksikan itu, Wan Lui jadi berpikir, "Apa gunanya susah-susah masuk ke barak, sedang dengan membuntuti mereka saja aku bisa menguping banyak keterangan."

Maka dengan meringankan langkah seringan-seringannya, Wan Lui membuntuti mereka bertiga dengan berlindung di balik satu pohon ke pohon yang lain. Ketiga tokoh Pek-lian-kau yang diikutinya itu boleh menepuk dada sebagai ahli-ahli Hoat-sut (ilmu gaib), tapi ilmu silat mereka tidak luar biasa. Tidak heran kalau mereka tak merasa diikuti Wan Lui.

"Suheng, sudah kau dengar sendiri, bukan? Betapa memuakkan jawaban orang-orang Lam-cong itu!" hasut Cu-sian Cin-jin kepada si jubah merah. "Mereka sudah tidak memandang kita sedikitpun dalam penangkapan si Hong Lik itu. Padahal di Kim-teng dulu, kalau bukan aku yang melepaskan ilmuku untuk membuat ngantuk para pengawal gedung Cong-peng-hu, mana bisa Thio Yap dan Hoa Cek Cui berhasil menangkap Pangeran Hong Lik? Tapi kini mereka merasa bahwa semua hasil ini adalah hasil kerja mereka sendiri, kita tidak dianggap apa-apa lagi! Mereka bahkan berani lancang menghubungi orang dari istana itu tanpa mengajak aku, sampai aku tidak tahan lagi dan minggat dari perkemahan mereka!"

"Memang keterlaluan!" Ngo-yap Cin-jin yang gemuk dan bermuka ketolol-tololulan itupun menyahut sambil membanting kaki. "Tanpa kau ceritakan juga sudah kulihat sendiri sikap menjemukan orang-orang Lam-cong itu. Mereka menjaga sendiri si Hong Lik, pihak kita tidak diperkenankan ikut menjaga. Tampaknya memang mereka akan menyerakahi sendiri manfaai si Hong Lik. Teman seperjuangan macam apa itu?"

"Mereka tidak mau mengakui jasa kita sampai tertangkapnya Hong Lik!" Cu-sian Cin-jin memanaskan hati. "Di hadapan ribuan wakil cabang-cabang yang sekarang berkumpul di Hong-kak-si ini, mereka ingin menanamkan kesan kalau Lam-cong lebih hebat dari Pak-cong. Hong Lik akan mereka jadikan semacam lambang keunggulan, makanya mereka jaga sendiri"'

Setelah berkata demikian, Cu-sian Cin jin lalu memandang wajah si jubah merah Cu-peng Cin-jin untuk melihat bagaimana reaksi wajahnya. Terlihat wajah Cu peng Cin-jin memang menjadi kelam, agaknya mulai terpengaruh ucapan kedua rekannya itu.

"Orang-orang Lam-cong memang serakah. Mereka akan menggunakan Hong Lik sebagai tambang emas untuk memadatkan kantong mereka sendiri, dan setelah mereka gemuk-gemuk karena makmur, pasti lupa akan tujuan perjuangan semula. Mereka lupa bahwa mula-mula akulah yang membuat kontak dengan pihak dari istana yang ingin menyingkirkan Hong Lik. Aku pula yang mematangkan pembicaraaan dengan seorang suruhan Liong Ke Toh di ke lenteng Tin-kang-bio dekat Hang-cu. Sekarang enak saja mereka mau menguasai Hong Lik sendirian!”

"Suheng, kita harus mengambil tindakan. Jangan diam saja!" kata Cu-sian Cin-jin lagi. "Kalau kita bersikap mengalah terus, lama-lama anggota-anggota Pak-cong kita pun akan terpesona oleh propaganda kaum Lam-cong itu dan mengikuti mereka! Kita harus bertindak!"

Cu-peng Cin-jin menghentikan langkah lalu berkata dengan penuh.tekanan. "Sute berdua, soal mengambil tindakan, akupun sudah memikirkannya. Aku takkan membiarkan kita makin suram dan sebaliknya Lam-cong makin bercahaya cemerlang. Takkan kubiarkan itu, aku sumpah. Tapi caranya bertindak harus tepat, bukan asal berani saja!"

Hampir bersamaan Cu-sian dan Ngo-yap Cin-jin membanting kaki karena ketidak-sabaran mereka. Tapi sebelum mereka memprotes lagi, Cu-peng Cin-jin telah berkata keras,

"Kalian jangan cuma bisa marah-marah, banting-banting kaki, mendesak desak aku! Akupun akan bertindak, tapi tidak tergopoh-gopoh macam kalian! Kalian pikir sekarang ini kita bisa menang kalau adu pengaruh terang-terangan dengan orang-orang selatan itu. Mengandalkan apa kita? Jumlah? Orang kita kalah banyak karena banyak yang gugur di Pak-khia ketika huru-hara dulu. Mengandalkan teman-teman kita orang-orang Jit-goat-pang? Mereka sama babak belurnya dengan kita, lagipula kalau mengundang mereka sama saja dengan mengundang orang luar ikut menyelesaikan pertikaian dalam keluarga, biarpun orang luar itu sahabat baik tetapi tetap kurang pantas. Apalagi, kalau kita undang Jit-goat-pang masuk, mereka akan mengundang Thian-te-hui yang lebih kuat, nah, tambah susah tidak? Pakai otak kalian!"

Cu-sian dan Ngo-yap Cin-jin menunjukkan sikap tidak puas, tapi melihat pimpinan mereka begitu marah, mereka tidak berani mendesak atau mengusulkan apa-apa lagi.

Kemudian Cu-peng Cin-jin berkata dengan suara lebih rendah, "Beri aku ketenangan untuk memikirkan tindakan itu. Agar tindakan kita kelak cukup matang, tidak tergesa-gesa. Kalian juga dapat membantu menjaga ketenangan, jangan lagi menghasut dan memanas-manaskan hati orang-orang kita seperti selama ini. Jangan kalian kira aku buta dan tuli sehingga tidak bisa tahu kalian menyebar hasutan untuk memusuhi orang-orang selatan. Hentikan itu. Tunggu keputusanku, kalau kalian masih mengakui aku sebagai pemimpin Pak-cong!"

Habis berkata demikian, Cu-peng Cinjin melangkah lebar meninggalkan kedua rekannya dengan wajah cemberut. Sedang kedua Cinjin yang ditinggalkannya itu cuma saling pandang sambil mengangkat pundak dan geleng kepala.

"Bagaimana sekarang?" tanya Ngo yap Cinjin.

"Apanya yang bagaimana?" Cu-siu Cinjin malah balas bertanya.

"Aku khawatir kalau kita terlambat bertindak, pengaruh Lam-cong semakin kuat. Jangan-jangan dalam sembahyang besar nanti, mereka akan mencalonkan seorang tokoh mereka untuk menduduk jabatan Kau-cu (kepala agama)? Itu bisa terjadi kalau mereka anggap dukungan buat mereka cukup kuat. Kalau sampai demikian bukankah kita sebagai pengabdi-pengabdi cita-cita luhur ini akan dibawah pimpinan orang-orang mata duitan itu?"

"Kita tunggu saja apa tindakan Suheng dalam satu dua hari ini, kalau tidak ada tindakan apa-apa... yaah..."

"Kita bertindak sendiri!"

Cu-sian Cinjin yang licin itu terlalu takut untuk bilang "ya" tapi juga tidak ingin bilang "tidak". Maklum ia terlalu segan kepada Cu-peng Cin-jin yang ilmunya lebih tinggi dari padanya. Bahkan kakak seperguruannya itu terlalu mudah kesurupan roh yang mengaku sebagai roh Kaisar Cong-ceng, penguasa terakhir dinasti Beng. Cu-sian Cinjin pun kemudian melangkah pergi, meninggalkan Ngo-yap Cin-jin yang belum sempat meluapkan emosinya.

Ngo-yap Cinjin memang penasaran sekali. Ia lalu melangkah ke sebuah hutan yang terletak di lereng sebelah belakang Kuil Hong-kak-si. Tempat yang sepi karena orang-orang Pek-lian-kau tidak menggelar perkemahannya sampai di situ. Sambil berjalan, Ngo-yap Cinjin sering menyepak kerikil-kerikil dan ranting-ranting yang berserakan di tanah, sambil menggerutu. Tiba di hutan pun dia tidak melakukan apa-apa kecuali berjalan bolak-balik sambil mencaci-maki entah kepada siapa.

Tengah ia begitu kebingungan, tiba-tiba dilihatnya di sebuah pohon berjarak duapuluh langkah darinya, terlihat ada asap putih mengepul sambil berdesis makin lama makin tebal sampai menjadi tirai kabut. Adegannya mirip di panggung wayang saja. Tapi karena kini terjadinya di larut malam dan di tengah hutan sepi sja, karuan Ngo-yap Cmjin kaget dan menduga-duga yang terjadi ? Kebakarankah'’ tapi kenapa tidak kedengaran gemeratak kayu terbakar?

Dan alangkah terkesiapnya si imam ketolol-tololan itu ketika tiba-tiba melihat di tengah kabut usap nu ada sesosok tubuh berdiri. Mengejutkan, karena sosok kabur itu tidak menginjak tanah, tapi seperti terapung di udara, bergoyang-goyang seolah tidak berbobot. Sosok dalam asap itu berpakaian seperti seorang Kaisar di Jaman Kerajaan Beng, lengkap dengan mahkotanya, sorot matanya tajam menatap Ngo-yap Cinjin.

Dengkul si imam totol itu lemas seketika, apalagi ketika mendengar sosok tubuh itu menggeram seram, "Berlutut. Aku Kaisar Cong-ceng dari Kerajaan Beng.”

Memang kaum Pek-lian-kau amat memuja kepada kaisar terakhir dinasti Beng yang matinya menggantung diri di bukit Bwe-san itu. Ngo-yap Cinjin memang melihat segores bilur merah melintang di leher sosok dalam asap itu, mungkin bekas terjerat tali gantungan dulu. Tanpa pikir panjang lagi Ngo-yap Cinjin berlutut sambil berseru, “Banswe..Banswe...”

Sosok di tengah asap itu terkekeh seram dan lirih. “Bagus, dari alam seberang ini kulihat siapa pengikutku yang setia, dan siapa yang tidak setia. Kalian, Pak-Lian-kau cabang-cabang Pak-cong kunilai paling lurus memperjuangkan cita-cita. Melebih teman-teman kalian dari Lam-cong melebihi pula gerakan-gerakan lain seperti Jit-goat-pang. Thian-te-hui dan sebagainya!”

“Terima kasih, Yang mulia. Dengan restu Yang Mulia kami akan terus berjuang sampai tegaknya kembali dinasti Beng yang diperintah oleh keturunan Yang Mulia. Hamba juga amat berbahagia, karena malam ini untuk pertama kalinya hamba diperkenankan memandang wajah Yang Mulia, biarpun sudah berbeda alam tempat kita berada."

"Aku tahu. Perjuangan gigih kalian sungguh membuatku besar hati dan terharu, tetapi... ah..." sosok tubuh dalam asap itu menarik napas dengan sedih sambil geleng-geleng kepala. "Tidak semua hamba-hambaku sesetia kau. Ada yang mulai gila harta sehingga melupakan kesetia-kawanan dengan teman-teman seperjuangan."

Campur aduk antara rasa bangga mendapat pujian dengan pengabdian yang amat fanatik, membuat Ngo-yap Cinjin bergolak darahnya ketika melihat "roh Kaisar Cong Peng" nampak begitu sedih. Sambil mengangkat wajahnya, dia berkata penuh tekad, "Ampun yang Mulia, kalau ada teman-teman seperjuangan yang mengecewakan Yang Mulia, hamba sanggup menumpas mereka. Berilah restu kepada hamba, Yang Mulia!"

Asap putih itu perlahan-lahan menipis terhembus angin malam yang lembut, maka sosok tubuh di tengah asap itu tanpa membuang-buang waktu lagi segera mengutarakan maksudnya, "Hamba-hamba tidak setia itu tidak menghiraukan petunjuk-petunjuk gaibku lewat mimpi. Mereka mendukung calon raja yang tidak kukehendaki. Dulu aku memang menunjuk Cu-sam Thai-cu sebagai pewaris tahtaku, tapi aku menyesal dan mengubah wasiatku. Aku ingin keturunan Ci Leng Ong yang harus memegang tahta Kerajaan Beng, sebab mereka lebih berani dalan perjuangan menentang kaum Aishin Gioro itu!"

Kebetulan memang garis keturunan Pangeran Cu Leng Ong ini yang dijunjung cabang-cabang Pak-cong dan Jit-goat pang. Mendengar pesan "gaib" itu, kontan Ngo-yap Cin-jin bersujud sampai jidatnya, menyentuh tanah. "Hamba menjunjung titah Yang Mulia sepenuh jiwa raga."

Waktu itu asap putihnya sudah semakin menipis sehingga "arwah Kaisar Cong ceng" pun agaknya tergesa-gesa ingin segera pergi dari situ. Melihat gelagatnya Nyo-yap Cin-jin hendak mengucapkan "ikrar setia" yang panjang lebar, "arwah Kaisar" itu buru-buru membentak,

"Tidak usah banyak omong, buktikan dengan tindakan nyata! Siapa menuruti pesan-pesanku, dialah yang ku restui dalam setiap pertempuran sehingga menang terus! Laksaan Thian-peng (prajurit langit) bisa kuperintahkan membantu perjuangannya!"

"Hamba mohon doa restu, Yang Mulia."

"Cepat laksanakan!"

Ngo-yap Cin-jin bersujud sekali lagi, lalu kembali ke perkemahannya dengan langkah tegap, penuh keyakinan bahwa perjuangannya akan menang karena sudah mendapat perintah langsung "Kaisar Cong Ceng".

Hanya beberapa detik setelah imam tolol itu pergi, angin bertiup keras dan menyapu sisa-sisa asap putih di tempat itu. Sisa asap putih yang memancar dari bumbung bambu bersumbu, berisi sejenis campuran kembang api yang biasa digunakan di panggung-panggung wayang untuk mendramatisir adegan-adegan "turunnya dewa" atau "munculnya siluman".

Bersamaan dengan sirnanya asap yang sama sekali tidak gaib itu, "Kaisar Cong ceng" juga cepat-cepat melompat turun dari seutas tali hitam yang direntangkan di batang pohon, satu meter dari tanah, yang tadi diinjaknya dengan ilmu meringankan tubuh yang amat lihai. Cepat- cepat ia melepas dan melipat jubahnya, mencopot kumis dan janggut palsu yang direkatkan di pipinya, melepas tali dan menggulungnya Semua itu disatukan dalam sebuah bungkusan yang segera digendongnya. "Kaisar Cong-ceng" itu segera "menjelma" menjadi Wan Lui.

"Sekali-sekali asyik juga main hantu-hantuan di depan orang tolol..." pikir Wan Lui. "Mudah-mudahan aku tidak kualat kepada yang sudah mati. Tapi kalau kubiarkan Pek-lian-kau merajalela, aku lebih takut lagi kualat kepada orang-orang yang masih hidup."

Lalu Wan Lui berkelebat cepat bagaiku hantu, meninggalkan tempat itu. Bagaikan hantu, tapi bukan hantu, cuma bekas hantu-hantuan.

* * * *

Di barak pimpinan cabang-cabang Pak-cong yang terletak, di lereng sebelah utara dari kelenteng Hong-kak-si, sedang terjadi perdebatan seru. "Kalau suheng memang tidak mau mempercayai, akupun tidak bisa memaksa. Aku tidak bersalah lagi kalau sampai Suheng kena murka roh Sri Baginda, yang agaknya sudah benar-benar murka terhadap penyelewengan kaum Lam-cong!" seru Ngo-yap Cinjin sambil menggebrak meja. "Dan Sri Baginda pun tidak sabar melihat kelambanan kita dalam menindak orang-orang Lam-cong yang menyimpang dari perjuangan suci itu! Orang-orang yang telah mengubah perjuangan suci menjadi sekedar arena pemerasan ala bandit-bandit kelas teri untuk mencari uang!"

Selama ini Cu-peng Cinjin memimpin kaum Pak-cong, antara lain karena dia dipercayai sebagai satu-satunya orang yang bisa mendengar "pesan-pesan dari alam gaib" dan bahkan sering kesurupan, sehingga tiap kata-katanya ditaati, tak ada anak buahnya yang berani membangkang. Kini mendengar Ngo-yap Cinjin mengaku telah bertemu muka dengan "roh Sri Baginda sendiri, kontan saja Cu-peng Cinjin merasa disaingi, kedudukannya sebagi pemimpin bisa goyah.

Maka laporan Ngo-yap Cinjin ditanggapinya dengan dingin saja. "Sute, makanya sering kuperingatkan agar kau jangan keseringan melamun atau kebanyakan minum arak. Bukankah kau tahu sendiri bahwa arwah Sri Baginda selalu memberikan perintah- perintahnya hanya melalui aku? Bukankah sering kau lihat sendiri Sri Baginda memasuki tubuhku, lalu memakai mulutku untuk memerintah?"

"Tapi, Suheng, sekali ini benar-benar kulihat dengan mataku sendiri roh Sri Baginda melayang di tengah-tengah segumpal asap putih di hutan di belakang kuil itu. Dia melayang, tidak menginjak tanah, persis Suheng ketika sedang kemasukan..."

"Lancang mulutmu! Mana bisa aku disamakan dengan Sri Baginda? Kau ini agar aku kualat kena kutukannya?"

"Oh... maaf, maksudku... aku ben... benar melihat Sri Baginda mengapung didepanku. Benar-benar mengapung, tidak menginjak apa-apa, bahkan aku berbicara dengannya..."

"Aku kira, ucapan Ngo-yap Sute ini perlu dipertimbangkan..." Cu-sian Cinjin ngotot mendesak Cu-peng Cinjin agar bertindak, maka Cu-sian Cinjin tinggal "membonceng" saja. Jadi bukan urusan percaya atau tidak percaya.

Di dalam ruangan barak itu bukan cuma ada ketiga Cinjin itu, melainkan juga beberapa tokoh Pak-cong. Ada yang imam ada yang bukan. Tapi ada persamaan mereka. Pertama, semuanya mempercayai bahwa perjuangan itu dipimpin sendiri oleh roh Kaisar Cong-ceng, lewat pesan-pesan gaibnya. Kedua, semuanya merasa jengkel oleh sikap orang-orang Lam-cong yang memandang remeh mereka.

Ketiga, mereka percaya, siapa yang paling mampu menangkap "pesan gaib Sri Baginda"lah yang paling patut memimpin Pak-cong, bahkan bukan cuma Pak-cong tapi mestinya ya seluruh Pek-lian-kau, bahkan seluruh gerakan yang menentang pemerintah Manchu. Sayangnya kaum Lam-cong tidak setuju cara menentukan pimpinan hanya berdasarkan “Yang paling kesurupan", begitu ejekan kaum Lam-cong.

Kini mendengar Ngo-yap Cinjin kini juga mengakui "ketiban wangsit", orang-orang Pak-cong mendapat kesempatan untuk mendesak Cu-peng Cinjin agar segera bertindak kepada kaum Lam-cong. Bukan cuma menegur, sebab teguran sudah tidak digubris. Cu-peng Cinjin cukup peka menilai gelagat, la pikir, kalau orang-orangnya tidak puas, bisa-bisa kedudukannya sebagai pimpinan akan goyah. Karena itulah terpaksa dia berkata,

"Baik, untuk terakhir kalinya aku akan bicara kepada teman-teman kita dari Lam-cong itu, agar kita diperbolehkan ikut menentukan nasib Hong Lik itu."

"Tidak perlu minta ijin! Hak untuk menghukum Hong Lik memang hak kita, bahkan perintah dan Sri Baginda yang pernah diterima Suheng sendiri, kenapa kita, harus seolah mengemis kepada mereka..." sergah Cu-sian Cinjin penasaran.

"Sute, jangan menghasut. Bagaimanapun juga orang-orang Lam-cong adalah teman-teman seperjuangan kita. Kalau sikap kita menimbulkan bentrokan, bukankah kita yang akan rugi sendiri? Bukankah anjing-anjing Manchu yang akan ambil keuntungan?"

"Orang yang sudah lupa tujuan perjuangan, bukan teman seperjuangan lagi!" sahut Ngo-yap Cinjin keras. "Sri Baginda sendiri telah memerintahkan kepadaku! Sri Baginda sendiri tidak puas kalau kita terus bersikap lunak terhadap mereka!"

"Tunggu, sekarang juga biarlah kutemui pimpinan Lam-cong untuk bicara terakhir kalinya dengan dia!" Cu-peng Cinjin tidak mampu lagi menahan desakan anak buahnya. "Kalian tetap di sini dan jangan membuat keributan!"

Lalu Cu-peng Cinjin keluar dari situ untuk menuju ke barak pimpinan kaum Lam-cong. Seharian itu, entah bagaimana hasil pembicaraan pimpinan Pak-cong dan pimpinan Lam-cong, namun hasilnya tetap tidak memuaskan orang-orang Pak-cong. Biarpun dengan kata-kata yang halus, Lam-cong tetap menyatakan keberatan kalau orang Pak-cong ikut mengawasi Pangeran Hong Lik. Apalagi menyerahkan mentah-mentah, sebab pihak Lam-cong kuatir kalau "angsa ajaib yang bisa bertelur emas" itu akan disembelih begitu saja oleh orang-orang Pak-cong. Keruan penolakan itu memperhebat ketidak-puasan di kalangan Pak-cong.

Sementara itu, di kalangan Lam-cong sendiripun juga tidak sedikit yang mulai jengkel terhadap orang-orang Pak-cong. "Orang-orang Pak-cong itu mau seenaknya saja."

"Seenaknya bagaimana?"

"Siapa yang mempertaruhkan nyawa dalam penangkapan Pangeran Hong Lik, dan bertempur dengan anjing-anjing Manchu di Kim-teng?"

“Aku yang baru datang dari Ou-pak tentunya tidak ikut. Tetapi sudah kami dengar betapa kawan-kawan kita, terutama Thio dan Hoa Haiangcu dengan berani serta cerdik berhasil menangkap Hong Lik. Bahkan memukul mundur pasukan anjing Manchu yang mencoba mengejarnya. Benar-benar suatu operasi yang gemilang!”

“Hampir sepenuhnya operasi itu ditangani Lam-cong kita. Pihak Pak-Cong cuma mengirim Cu-sian Cinjin untuk membantu dengan ilmu gaibnya, tapi sebenarnya tanpa bantuan Cu-sian Cinjin pun operasi kita akan berjalan lancar. Nyatanya begitu. Nah, pikir, siapa yang berhak atas diri Hong Lik?"

"Tentu saja kita!"

"Semua teman juga berpendapat begitu. Tetapi orang Pak-cong tetap saja menganggap tertawannya Hong Lik sebagai usaha bersama, ha-ha...mana bisa? Kita yang berjuang, kenapa mereka mau ikut makan nasilnya?"

"Benar. Mereka itu tolol tapi serakah dan mau berlagak!"

Begitulah, orang-orang Lam-cong pun membicaraku orang Pak-cong dengan berapi-api penuh kemarahan. Dan kemudian datang lagi benerapa orang Lam-cong yang langsung bergabung dan ikut bicara.

“He, sedang membicarakan apa?"

“Membicarakan pahlawan-pahlawan kesiangangan, teman-teman kita dari Pak-cong itu!”

"Oh ya, kawan-kawan, sudah dengar kabar terbaru dari antara mereka belum?“

"Kabar apa lagi?"

"Begini, katanya Ngo-yap Cinjin telah..."

“Ngo-yap Cinjin? Yang seperti Put-to-ong itu?"

Keruan para pimpinan cabang-cabang Lam-cong yang sedang berkumpul dan berkelakar itu tertawa serempak. Put-to-ong adalah boneka mainan berbentuk bulat, cuma terdiri dari kepala dan tubuh tapi tanpa anggota tubuh, bagian pantatnya diberi pemberat timah. Maka biar digoyang atau digulingkan bagaimanapun juga, akhirnya akan tetap bisa berdiri di pantatnya.

"Ya ... ya ... dia itulah Ngo-yap Cinjin..."

"Aku pernah berpapasan dengannya, kusapa dia tapi dia malah memelototi aku. Hampir saja kutabok jidatnya..."

Kembali orang-orang itu tertawa riuh rendah. “Tenanglah kalian mau dengar berita itu tidak?"

“Ya, ya. Bagaimana ceritanya?"

“Begini, katanya si Put-to-ong itu telah Bertemu dengan roh Sri Baginda dan mendapat perintah-perintah langsung..."

Belum selesai kalimat itu, ujung kalimatnya sudah tenggelam oleh gemuruh tertawa yang meledak kembali. Termasuk di antara yang tertawa itu adalah Wan Lui yang di pipi dan dagunya masih ada bekas-bekas lem untuk menempelkan kumis dan jenggot palsu semalam. Tapi ia tidak ikut bicara.

"Pantas orang-orang Pak-cong itu selalu gagal, karena pikiran mereka selalu dipenuhi hal-hal yang serba tahyul. Itu beda mereka dengan kita. Kitapun belajar ilmu gaib, namun tidak meninggalkan akal sehat ini..." kata seorang sambil mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke jidat. "Benar tidak?"

"Benar. Itulah sebabnya kita di wilayah selatan semakin disegani. Tidak sekedar dianggap segerombolan orang yang percaya kepada tahyul."

Begitulah, di perkemahan Pek-lian-kau itu soal "Ngo-yap Cin-jin ketemu Sribaginda" itu segera menjadi pembicaraar hangat, oleh orang-orang Pak-cong maupun Lam-cong. Cara membicarakannya tentu saja juga berbeda. Orang-orang Pak-cong bicara dengan nada bangga, penuh keyakinan dan bahkan khidmat. Sedangkan orang-orang Lam-cong membicarakannya dengan cengengesan, menganggapnya sebagai bualan yang dilebih-lebihkan belaka. Perbedaan sikap itu menghasilkan apalagi kalau bukan kebencian yang semakin menghebat di antara dua golongan Pek-lian-kau itu?

Malam tiba. Ketika lereng-lereng bukit di sekitar Kuil Hong-kak-si itu mulai sepi, diam-diam Wan Lui bangkit dan menyelinap meninggalkan perkemahan. Sebisa-bisanya menghindari anggota-anggota Pek-lian-kau yang masih berjaga di dekat api unggun. Setelah cukup jauh dari lokasi berkumpulnya orang-orang Pek-lian-kau tersebu Wan Lui mulai berani mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Maka bagaikan seekor burung saja, dia melesat ke arah kota Hong-yang yang tidak jauh.

Tembok kota dipanjatnya dengan Ilmu Pia-hou-yu-jio (Cecak Merayap), dan sesaat kemudian Wan Lui sudah ada di atas tembok kota, lalu melompat turun. Karena malam memang sudah larut, maka keadaan kota pun sudah sepi. Tapi Wan Lui terus berjalan, dan kepada seorang penjual makanan yang baru mau pulang, ia menanyakan letak kediaman Panglima Kota (Cong-peng) kota Hong-yang. Setelah mendapat petunjuk, langkahnya pun mantap menuju ke sana.

Gedung Cong-peng itupun tentu saja sudah ditutup pintunya, tapi sebagai pejabat penting, pintunya tetap dijaga empat orang prajurit. Dengan langkah tanpa ragu-ragu, Wan Lui melangkah lurus ke arah para penjaga, membuat para penjaga itu menunggu dengan bersiaga. Kepada penjaga-penjaga itu, Wan Lui berkata dengan gagah,

"Aku bernama Lui Hong Gan, berpangkat Cam-ciang dari Pasukan Rahasia Istana. Aku harus bertemu muka dengan panglimamu sekarang juga!"

Kata-kata Wan Lui yang diucapkan dengan gaya begitu meyakinkan, membuat para penjaga terpengaruh, biarpun semasa dinas mereka belum pernah didengarnya tentang "Pasukan Rahasia Istana". Mungkinkah sebuah pasukan yang baru dibentuk? Namun mereka tidak berani langsung mengijinkan masuk begitu saja. Pimpinan penjaga segera berkata dengan hormat, "Lui Cam-ciang, bolehkah kami memeriksa surat-surat dan tanda-tanda resmimu?"

Wan Lui melotot dengan lagak gusar, dan menjawab, "Aku sedang dalam tugas penyamaran yang amat rahasia di tengah-tengah musuh, apakah harus kubawa semua tanda pengenalku agar ditemukan musuh, lalu aku disembelih?"

"Tetapi sekarang saatnya orang beristirahat, mungkin Cong-peng sendiri juga sudah..."

"Bangunkan! Ada urusan penting. Kalau tidak mau bangun, terpaksa harus kulaporkan Kaisar bahwa dia bersikap amat tidak membantu dalam urusan gawat yang menyangkut keselamatan negara. Di istana, aku punya wewenang dan hak khusus untuk menghadap Kaisar, kapanpun aku mau!"

Para penjaga betul-betul kalah gertak oleh lagak Wan Lui itu. Si pemimpin penjaga terpaksa membungkuk dengan amat hormat, lalu berkata, "Baiklah, maafkan kami. Silahkan Cam-ciang menunggu sebentar di Sini, biar aku melapor kepada Cong-peng."

"Cepat!"

Terbirit-birit si pemimpin regu penjaga melangkah masuk. Beberapa saat kemudian, ia sudah keluar kembali dan berkata, "Silakan masuk, Lui Cam-ciang. Cong-peng sudah bangun dan siap menemui Cam-ciang di ruangan tengah. Silakan."'

Dengan gagah Wan Lui melangkah masuk, diruangan tengah nampak lilin sudah dinyalakan. Kwa Cin Beng, si Hong-yang Cong-peng, sudah duduk menunggu dalam pakaian seragamnya yang nampaknya tergesa-gesa dikenakan, sementara matanya baru separuh terbuka. Ketika melihat Wan Lui melangkah masuk, Kwa Cin Beng bangkit dan duduknya untuk memberi hormat.

'"Silakan duduk, Lui Cam-ciang ... sambutnya.

Wan Lui lebih dulu membalas hormat, "Aku benar-benar minta maaf telah mengganggu tidur Cong-peng, karena amat terpaksa membawa satu urusan penting..."

"Kenapa tidak datang siang-siang saja..."

"Cong-peng tahu, sebagai komandan Pasukan Rahasia Istana, aku harus bertindak serba terselubung dan hati-hati. Tak mungkin aku datang kepada Cong-peng dengan membawa barisan pengawal, mengibarkan bendera dan diiringi pula barisan tambur dan terompet. Tapi ya seperti sekarang inilah cara kerjaku, sekali lagi aku mohon maaf..."

Menyaksikan kefasihan bicara Wan Lui, di hati Kwa Cin-beng mulai timbul perasaan tamunya itu benar-benar orang dari istana. Maka ia tidak berani bersikap kurang hormat ataupun menunjukkan ketidak senangannya. "Jangan sungkan, Cam-ciang. Kita sebagai abdi-abdi negara memang setiap saat harus siap demi tugas-tugas kita..."

"Rupanya tidak keliru aku menghubung Cong-peng. Ternyata aku menghubung Cong-peng yang tepat, yang mengabdi dengan ppenuh hati. Kalau kulaporkan hal ini kehadapan Kaisar, tidak mungkin masa depan Cong-peng tidak diperhatikan..." begitulah wan Lui lebih dulu menyanjung untuk melancarkanrencananya.

Kwa Cin Beng memang senang, tapi ia masih harus mengetahui siapa orang yang duduk di depannya itu, sebab selama ini belum pernah satu kalipun kalau di Pak-khia ada yang namanya "Pasukan Rahasia Istana".

"Maaf, Cam-ciang. Aku memang agak terkejut mendengar Cam-ciang mengaku dari Pasukan Rahasia Istana yang mengunjungiku di malam selarut ini. Apakah Pasukan Rahasia Istana ini baru dibentuk? Aku yang picik ini belum pernah mendengarnya."

Karena sudah menduga akan menghadapi pertanyaan itu, Wan Lui juga siap dengan jawabannya, "Memang belum lama dibentuknya. Tugas kami ialah melindungi anggota-anggota keluarga istana, namun dengan cara diam-diam dan tidak menyolok mata."

Sementara Kwan Cin Beng mengangguk angguk, Wan Lui melanjutkan kata-katanyu hanya dalam hati sambil tertawa, "Dibentuknya memang baru beberapa menit yang lalu. Akulah komandan merangkap satu-satunya anggota."

"Dan maksud-Cam-ciang menemui aku?"

"Begini, Cong-peng. Hampir dua bulan yang lalu, Pangeran Hong Lik, Putera Mahkota, meninggalkan istana secara diam-diam dalam penyamaran, dikawal beberapa anak-buah," bual Wan Lui dengan mantap. "Tapi rombongan itu tiba-tiba hilang jejaknya, pengawal-pengawalnya pun tidak lagi mengirimkan berita dengan burung merpati kepadaku. Antara kami yang di istana dan rombongan Pangeran Hong Lik jadi putus hubungan sama sekali. Tentu saja Kaisar jadi gelisah, lalu aku dipanggil menemuinya untuk membicarakan soal ini."

Tiap kata-kata Wan Lui menyiratkan betapa tinggi kedudukannya dalam istana, sehingga anggukan kepala Kwa Cin Beng semakin gencar. Dibiarkannya Lui "Cam-ciang" ini melanjutkan bicaranya.

“Kaisar menugaskan aku langsung mencari Pangeran Hong Lik. Setelah kuselidiki dengan seksama, baru tahu kalau Pangeran Hong Lik ternyata diculik orang-orang Pek-lian-kau. Pantas kalau kami di istana jadi kehilangan kontak."

Kwa Cin Beng terperanjat. "Pek-lian-kau? Sekte yang sudah dinyatakan sebagai gerakan terlarang itu?"

"Ya, kalau bukan mereka, mana ada Pek-lian-kau yang lainnya lagi?"

Sesaat suasana tegang mengisi ruangan itu, api lilin yang berlenggak-lenggok seperti seorang penari itupun membuat bayangan di dinding jadi ikut bergoyang. Kwan Cin Beng memang mulai tegang. Pangeran Hong Lik hilang diculik Pek-lian-kau, kemudian "Lui Cam-ciang" ini menemuinya malam-malam. Tentunya bakal ada hubungan antara kedua hal itu.

"Lalu bagaimana, Cam-ciang?"

"Kwa Cong-peng, apakah kau tahu orang-orang macam apa yang sekarang sedang berkumpul di sekitar Kuil Hong-kak-si, tidak jauh dari kota ini?"

"Oh, mereka itu para peziarah biasa. Memang setahun sekali, mereka berkumpul disana, berkemah beberapa hari, lalu membuat semacam upacara menurut kepercayaan mereka, entah upacara apa, setelah itu bubar. Begitu terus dari tahun ke tahun, tidak membahayakan. Maka ya kubiarkan saja."

"Apakah Cong-peng tidak pernah menyuruh orang-orangmu untuk menyusup di antara mereka, melihat upacara macam apa yang mereka selenggarakan itu?"

"Belum. Karena aku rasa mereka itu hanyalah…”

Ucapan Kwa Cin beng terpotong ketika Wan Lui keras-keras menepuk permukaan meja, sambil menggertak, "Ini kelengahanmu, Cong-peng. Karena kau tidak menyelidiki, jadi kau kena dikelabuhi mereka. Mereka bukan peziarah-peziarah biasa, tapi orang-orang Pek-lian-kau!"

Mulut Kwa Cin Beng kontan jadi sulit dikatupkan, seolah rahangnya kejang, matanya terbelalak lebar. Sementara Wan Lui melanjutkan kata katanya,

"Mereka rajin berkumpul, tak lain untuk mengatur siasat pemberontakan terhadap pemerintah kita. Ya, mereka merencanakan pemberontakan tepat di bawah hidungmu, Kwa Cong-peng! Sedangkan kau masih saja bilang aman, tidak berbahaya, hanya peziarah dan sebagainya. Bisa kau bayangkan hukumanmu kalau sampai Kaisar mendengar ini?"

Wajah Kwa Cin Beng memucat, tubuhnya gemetar, katanya kepada Wan Lui bernada amat memohon, "Lui Cam-ciang, tolonglah aku. Jangan laporkan kepada Sribaginda. Malam ini juga akan kukerahkan pasukanku untuk menggempur mereka!"

"Jangan!"

"Maksud... maksud Cam-ciang bagaimana?"

"Pangeran Hong Lik ditawan mereka. Kalau kau serbu mereka secara sembrono, sama saja dengan mempercepat kematian Pangeran Hong Lik. Kesalahan macam ini jauh lebih berat daripada kelengahanmu selama ini!"

"Lalu... aku harus bagaimana?"

"Bukan aku melarang bertindak, tapi bertindaklah dengan terencana, jangan sampai membahayakan jiwa Pangeran Hong Lik. Untuk itu, Cong-peng harus bekerja-sama denganku. Aku punya satu rencana."

"Aku.... aku akan menurut saja."

Demikianlah siasat Wan Lui, lebih dulu menakut-nakuti Kwa Cin Beng agar "jinak", setelah itu barulah bisa diatur rencana berikutnya. Tanyanya, "Cong-peng, pertama-tama aku tanya, berapa kekuatan prajurit yang ada di bawah perintahmu saat ini?"

"Kira-kira empat ribu lima ratus orang."

"Kumohon Cong-peng siapkan mereka, tetapi jangan menyolok, jangan sampai sasaran kita mengetahui kalau hendak kita serang. Dan maaf, biarpun Cong-peng berpangkat lebih tinggi dari aku, tapi hendaknya menuruti rencanaku. Demi keselamatan Pangeran Hong Lik. bagaimana?"

"Aku setuiu."

"Terima kasih, Cong-peng. Untuk rencana selanjutnya, Cong-peng harap menunggu petunjukku. Kalau bergerak di luar petunjuk ku, berarti mencelakakan Pangeran Hong Lik dan bayangkan sendiri akibat yang bakal kau terima."

"Aku paham. Akan aku siapkan pasukan."

"Ingat, persiapan tempurnya jangan menyolok.” Wan Lui bangkit untuk memberi hormat, lalu pergilah ia. Tidak lagi melewati pintu depan, melainkan melompat keatap dan langsung "terbang" menghilang ke luar kota Hong-yang. Setelah melewati dinding kota, ia lebih hebat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melintasi padang perdu, menuju ke Kuil Hong-kak-si.

Tapi padang perdu itu baru dilintasinya separuh lebarnya, ketika dari dalam hutan di depannya tiba tiba muncul segumpal asap hitam yang berputar kencang, hendak menelannya. dengan kaget Wan Lui menghentikan langkah dan menghindar. Asap hitam buyar, dan muncullah Cu-peng Cin-jin dengan wajah bengis di hadapan Wan Lui.

Tangan kanannya memegang pedang, tangan kirinya memegang Hudtim (kebut pertapa), pada ikat pinggangmu bagian belakang tertancap macam-macam bendera jimatnya seperti Hong-hun-kui (bendera awan dan angin), Ciao-hun-ki (bendera penianggil roh), Ngo-lui-ki (bendera lima guntur), Sip-hun-ki (bendera penyedot semangat) dan sebagainya. Kalau Cu-peng Cin-jin berjalan di pasar dengan dandanan macam itu, tentu dikiranya penjual bendera mainan untuk anak-anak.

Tapi Wan Lui tahu, bendera-bendera itu adalah senjata-senjata gaib yang ampuh. Wan Lui menyeringai dan memberi hormat, "Oh, kiranya Cu-peng Cin-jin. Maafkan, hampir saja aku tidak melihat Cin-jin. Apakah Cin-jin juga sedang meronda seperti aku?"

Cu-peng Cin-jin mendengus dingin. "Bangsat cilik, kau masih mengira aku bisa kau kelabui. Siapa kau sebenarnya?"

"Aku Gan Hong Lui. Anggota Pek-lian-kau wilayah selatan."

"Bohong!" bentak Cu-peng Cin-jiin gusar. Kau pikir aku tidak memperhatikan gerak-gerikmu se|ak tadi kau tinggalkan Hong Kak-si seperti maling takut ketahuan. Dan sekarang larut malam kau datang dari arah kota Hong-Yang, untuk apa?"

"Ah, memang aku memasuki kota Hong-yang untuk menjenguk seorang kerabat. Hanya itu."

"Anjingg cilik pintar sekali kau bohong ya? Aku justru curiga mendengar onmongan-mu yang berbelit-belit. Atau jangan-jangan kau adalah kaki tangan para anjing Manchu yang menyusup ke tubuh Pek-lian-kau untuk mengacau perjuangan kami?”

Lebih dulu Wan Lui memandang ke sekelilingnya, kepadang perdu yang tidak terlalu luas itu, dan yang ada hanya kesunyian. Hanya dia dan Cu-peng Cin-jin yang ada di tempat itu. Agaknya cu-peng Cin-Jin begitu percaya dirinya sendirian saja akan dapat menangkap “anggota yang mencurigakan” itu, mengorek keterangan secara diam-diam, lalu akan digunaka sebagai saksi untuk menyudutkan kaum Lam-cong.

Sedangkan Wan Lui setelah yakin tidak adanya orang ketiga, lalu terang-terangan membuka diri, "Benar, memang nama yang sebenarnya ialah Wan Lui, dari Liang-pek-san alias orang Manchu asli. Aku memang tidak suka Pek-lian-kau dan akan menghancurkan kalian, nah, hidung kerbau, mau apa kau?"

Di samping marah, Cu-peng Cin-jin sebetulnya juga merasa kebetulan kalau bisa menangkap "Gan Hong Lui" ini hidup-hidup, lalu memaksanya mengaku di depan sembahyang besar beberapa hari lagi, tentu pihak Lam-cong akan malu karena telah kesusupan orang Manchu. Cu-peng Cin-jin tidak buang-buang waktu lagi.

Sekali melompat tinggi, hud-tim di tangan kirinya ditebarkan di depan wajah Wan Lui, untuk menyamarkan gerak pandang di tangan kanannya yang menikam ke arah perut. Itulah jurus Hun-li-tiau-toh (ditengah mega memetik buah toh). Ternyata imam itu bukan cuma lihai dalam ilmu gaib atau kesurupan saja, namun ilmu silatnya boleh juga.

Namun menghadapi Wan Lui, imam itu kaget sendiri. Tadinya dia mengira, kalau yang dihadapinya cuma mata-mata biasa, tentu akan dibereskannya dalam waktu singkat. Sama sekali tidak disangkanya kalau yang dihadapinya kini adalah murid Pak Kiong Liong, tokoh yang puluhan tahun malang-melintang di lapisan teratas dunia persilatan dengan julukan Pak-liong (Naga Utara).

Cu-peng Cin-jin terkejut karena serangannya cuma menerpa angin, Wan Lui seperti belut telah menghindar ke samping, lalu maju merunduk sambil meninju ke pinggang Cu-peng Cin-jm. Itulah gerak Cim-jip-Uong-tong (masuk ke gua naga). Kelabakan Cu-peng Cin-jin menyelamatkan diri dengan melompat menjauh, tapi gerak Wan Lui tanpa dihentikan terus disambung dengan Au-cu-hoan-sin (elang berputar). Wan Lui melompat mengikuti lawannya, dengan kedua tangannya mencoba merangkul pundak lawan untuk mematikan semua gerak senjata lawannya.

Kalau mematahkan serangan cuma satu. Pedangnya tidak bisa cepat membela diri sebab letaknya sedang jauh di sebelah kiri, sedang serangan Wan Lui menembus dari sudut kanan dan begitu dekat dengan tubuh. Terpaksa Cu-peng Cin-jin harus membanting diri bergulingan di tanah, dan ketika bangkit kembali, jubahnya sudah berlepotan tanah.

Sementara itu, Wan Lui sudah bertekat untuk membereskan Cu-peng Cin-jin secepatnya, sebab ia sudah terlanjur mengaku siapa dirinya sebenarnya. Kini Wan Lui mencabut pedang yang tergendong di punggungnya. Baru saja Cu-peng Cin-jin melompat bangun, ujung pedang Wan Lui tahu-tahu tinggal sejengkal dari dadanya, meluncur cepat dengan gerak Pek-ho-tiok-hi (bangau putih mematuk ikan).

Melompat mundurpun tak sepenuhnya bisa lolos, karena lengan atas Cu-peng Cin jin tertikam sehingga pedang di tangan kanannya terjatuh. Untuk menahan musuh, kebutannya disabetkan ke muka Wan Lui sambil melompat mundur sekali lagi. Detik detik itu Cu-peng Cin-jin menyadari betapa kelirunya kalau mengajak Wan Lui adu silat. Maka peluang untuk menang tinggal ter sedia lewat jalan Hoat-sut (ilmu sihir).

Wan Lui terus memburu dengan pedangnya lawannya terus mundur. Hati Wan Lui kaget ketika melihat tubuh Cu-peng Cin-jin tiba-tiba lenyap terbungkus asap hitam yang entah dari mana datangnya, Ujung pedang Wan Lui menusuk jauh ke dalam gumpalan asap hitam, tapi tidak apa apa. Dan ketika asap hitam itu lenyap kembal Wan Lui melilhat Cu-peng Cin-jin sudah menjauh belasan langkah.

"Jangan lari!" bentak Wan Lui.

Namun mulut Cu-sian Cin-jin telah komat-kamit membaca mantera. Hud-tim di tangan kiri sudah diselipkan di sabuknya, ganti memegang bendera Ciao-hun-ki (bendera pemanggil roh) yang berwarna kuning dan dikibar-kibarkan di atas kepala. Tangan kanan memegang beberapa helai orang-orangan dari kertas kuning yang digunting.

Teringat pengalamannya di kota Kam-teng dulu, Wan Lui bisa menduga apa yang bakal dialaminya. Cepat Wan Lui menerjang maju. Tapi Cu-peng Cinjin cepat menebarkan guntingan-guntingan kertas kuning berbentuk orang itu, dibarengi kibasan bendera Ciao-hun-kinya.

Guntingan-guntingan kertas kuning itu tiba- tiba menggelembung besar, setidaknya begitulah kelihatannya, menjadi seukuran manusia biasa, yang terus mengerubut Wan Lui. Ada tujuh "orang" yang semuanya mengamuk dengan hebat karena dirasuki kehidupan entah dari mana.

Wan Lui tidak lagi kaget menghadapi "mereka", tapi lumayan kerepotan juga. "Mereka" tidak menyerang dengan jurus silat yang teratur, melainkan sekedar mengamuk membabi buta, hanya saja amukan itu cukup berbahaya. Bahkan ketika pedang Wan Lui mengenai "mereka”, biarpun tubuh itu terkoyak tetapi tidak berakibat apa-apa dan terus mengamuk...

Dari jarak belasan langkah, Cu-peng Cin-jin puas melihatnya. Bendera Ciao-hun-ki disimpan, ganti mengeluarkan bendera Ngo-lui- ki (bendera lima guntur) yang berwarna lima macam. Bendera yang dipercayai bisa mengundang Ngo-lui sin (lima malaikat guntur). Sesaat kemudian Cu-peng Cinjin sudah khusyuk sekali membaca manteranya, sambil menggoyang-goyang bendera itu. Angin yang keras mulai datang, mengguncang pohon-pohon perdu dan ilalang sekitar tempat itu. Bahkan sayup-sayup di dalam angin itu ada juga suara gemuruh pelan, beberapa kali.

Biarpun tengah sibuk melayani tujuh lawannya "manusia kertas" itu, Wan Lui sempat melirik gerak-gerik Cu-peng Cinjin dan ia terkejut. Bendera di tangan Cu-peng Cinjin itu persis dengan yang pernah Wan Lui lihat di tangan Thio Yap, ketika menghajar In Kiu-liong dari kejauhan dengan serangan-serangan tidak nampak. Wan Lui ingat betapa payahnya In Kiu-liong waktu itu, bajunya robek-robek dan berbekas terbakar.

Tak berani berlambat-lambat lagi, Wan Lui cepat-cepat menggigit bibirnya keras-keras sehingga berdarah, lalu ludah berdarah itu disemprotkan ke arah lawan-lawannya. Dua kena dan langsung roboh menjudi guntingan-guntingan kertas kembali. Roh gaib yang menggerakkannya terusir pergi kena darah hangat manusia hidup. Tinggal lima, Wan Lui terus mendesak sambil menyemburkan ludah berdarahnya, dan membuat semua lawannya akhirnya kembali asal sebagai guntingan-guntingan kertas kuning biasa yang tidak menakutkan lagi.

Tapi saat itulah Cu-peng Cin-jin mulai membentak sambil mengayunkan bendera Ngo-lui-ki. Wan Lui yang baru bebas dari tujuh manusia jadi-jadian, tiba-tiba saja merasa disambar suatu kilatan cahaya yang entah darimana datangnya, sesuatu yang menyala-nyala tapi tak diketahui apa itu sebenarnya. Wan Lui menggulingkan diri menghindar, dan penyerangnya itu lenyap entah kemana.

Tiba-tiba Cu-peng Cinjin membentak dan mengayunkan benderanya lagi, dan kembali suatu kilatan cahaya menyambar Wan Lui. Ketika berhasil dihindari, lalu lenyap entah kemana. Saat-saat berikutnya Cu-peng Cinjin pun semakin tenggelam dalam praktek ilmunya. Topi lancipnya sudah dilepas, rambutnyapun dilepas gelungannya sehingga terurai bebas, sebagian menutupi mata.

Matanya makin terpejam dan kesadarannya makin kabur, mulutnya terus menggumamkan mantera bahasa aneh yang nadanya pndah menggeram. Tubuhnya tidak lagi diam, tapi melangkah hilir mudik dengan bergoyang ke kiri dan kanan secara berirama. Kibasan bendera Ngo-lui-kinya semakin gencar. Itu berarti kerepotan Wan Lui juga bertambah. Cahaya kilat yang menyambarnya makin sering, sehingga Wan Lui makin jungkir balik tak keruan. Celakanya, sambaran itu juga bisa muncul dari mana saja, dari arah yang tak terduga.

Sejak semula Wan Lui sudah menjauhkan diri dari anggapan bahwa serangan itu bukan sekedar "tipuan mata". Bukan, sebab akibatnya nyata. Segumpal semak-semak hangus jadi abu ketika kena sambarannya. Untung ketangkasan Wan Lui juga luar biasa, sejauh ini ternyata belum bisa dikenai. Inilah pertandingan seru antara manusia melawan makhluk halus. Sementara Wan Lui sadar tidak mungkin terus-terusan begitu, la tidak mau jungkir-balik sendirian, sementara Cu-peng Cin-jin enak-enak "bersenandung" sambil "menari bendera".

Suatu saat setelah berhasil menghindari kilatan api kehijauan itu, secepat kilat Wan Lui bergulingan ke arah Cu-peng Cinjin. Tapi hanya kurang beberapa langkah dari lawannya, suatu kilatan menyambarnya dari atas, tegak lurus dengan bumi. Terpaksa Wan Lui harus melompat bangun, sebelum tempatnya semula hangus disambar kilatan gaib itu. Sambaran berikutnya memaksa Wan Lui malah semakin jauh dari Cu-peng Cinjin.

Betapa masygul dan gusarnya Wan Lui sulit dikatakan. Ilmu silatnya yang tinggi itu jadi tak berguna kecuali untuk terus terusan menghindar, tanpa bisa menyerang Cu-peng Cin-jin secara langsung, dan kalau sampai ia kehabisan tenaga, berarti itulah saat terakhirnya. Membayangkan hal itu, Wan Lui jadi nekad. "Secepatnya menang atau binasa," ia membulatkan tekad dalam hati.

Begitu mendapat kesempatan, dengan segenap tenaga ia menghentakkan kaki ke tanah. Tubuhnya dengan gerakan Ban-liong-seng-thian (selaksa naga naik ke langit) langsung ke arah Cu-peng Cm-jin. Wan Lui bahkan tidak mau membiarkan pikirannya terpecah untuk meladeni kilatan kilatan hijau yang berseliweran menyambarnya.

Satu kilatan melayang satu jari di atas jidatnya, berpapasan, Wan Lui tetap tak peduli. Bahkan setelah luncurannya pasti kearah sasaran, dia menutup matanya agar perhatiannya tidak terurai. Sedetik setelah pedang Wan Lui menembus dari depan ke belakang, Cu-peng Cin-jin masih belum sadar apa yang terjadi, bahkan setelah ambruk ke tanah, masih sempat mengayunkan benderanya satu kali sebelum sukmanya pergi "menghadap Sribaginda".

Begitu keras Wan Lui menerjang, sampai dia roboh bersama-sama ke atas tubuh Cu-peng Cin-jin. Namun Wan Lui cepat melompat bangun. Waktu itulah kibasan terakhir bendera Nuo-lui-ki tadi masih membuahkan serangan kilat terakhir. Kali ini Wan Lui tak sempat menghindar, sambaran itu kena ke dadanya dengan kekuatan seperti jotosan seorang raksasa. Wan Lui terpental ke belakang dengan baju bagian dada hangus.

Beberapa saat lamanya Wan Lui tergeletak ditanah dengan napas terasa sesak. Sambil mengatur napas, ia melihat bahwa suasana seram yang tidak wajar itu pelan-pelan sirna, pulih ke suasana semula yang wajar. Wan Lui heran juga, dirinya kena serangan setelak itu di dada, kenapa tidak mati? Padahal kalau melihat betapa hebat "kilat hijau" itu mengenai tanah, mestinya dia mati.

Ketika ia bangkit perlahan, dirasanya sesuatu jatuh dari badannya, sebuah salib perak kecil berkilau di rerumputan kena cahaya bintang. Bandul kalung yang tadi tergantung di dadanya, namun tali rami yang untuk menggantungkannya sudah jadi abu kena "kilat hijau" tadi. Penuh rasa syukur Wan Lui memungutnya, mendekapkan ke dekat jantungnya dengan rasa mesra, sebelum dimasukkan ke kantong dalamnya.

la lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu, jalannya perlahan. Pertempuran melawan ilmu gaib yang baru saja dijalaninya benar-benar menguras tenaganya. Tapi sekaligus ia bersyukur bahwa ia merasa tidak sendiri. Sejenak dipandangnya tubuh Cu-peng Cin-jin yang seolah terpaku di tanah oleh pedangnya, guntingan-guntingan kertas kuning berbentuk orang-orangan yang kini bertebaran oleh angin, semak-semak maupun tanah yang hangus oleh "kilat hijau" tadi. semuanya itu tentu akan dianggapnya sebagai mimpi belaka. Tapi robek hangus di baju bagian dadanya itu adalah kenyataan.

* * * *

Wan Lui tiba diam-diam di perkemahan Pek-lian-kau golongan Lam-cong, di lereng selatan Kuil Hong-kak-si yang nampak megah di bayangan malam. Setelah menyembunyikan bajunya yang terbakar dengan yang masih utuh, Wan Lui tidur. Pagi harinya, dia dibangunkan oleh seorang anggota Pek-lian-kau "teman”nya.

Cara yang gegabah untuk membangunkan seorang pesilat tangguh, sebab orang itu menggoncang tubuh Wan Lui keras-keras. Wan Lui yang bangun dengan terkejut itu hampir saja melepaskan sebuah pukulan maut, untung dapat segera menguasai diri, dan beruntunglah si anggota Pek-lian-kau itu.

"Kenapa?" tanya Wan Lui mendongkol. "Kau amat mengagetkanku...?"
Selanjutnya,