Kemelut Kerajaan Manchu Jilid 09 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Kerajaan Manchu Jilid 09

Karya : Kho Ping Hoo

MALAM itu ia berada di ruangan yang bersebelahan dengan kamar Kaisar, dihubungkan sebuah pintu tembusan. Malam itu ia mendengar suara gaduh di kamar Kaisar. Ia cepat membuka pintu tembusan dan ia dihadang dua orang Thaikam yang menyerangnya. Ia berhasil merobohkan mereka dengan sambitan Pek-hwa-ciam, akan tetapi ia terlambat menyelamatkan Kaisar. Ia melihat bayangan Thaikam Boan Kit melarikan diri melalui pintu.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo
Karena ingin melihat keadaan Kaisar, ia tidak sempat mengejar dan ternyata ia mendapatkan Kaisar telah tewas dengan luka-luka bacokan pada leher dan mukanya sehingga tak dapat dikenali lagi. Ia mencoba untuk melakukan pengejaran namun Thaikam Boan telah lenyap, maka ia lalu berteriak dan memanggil para prajurit pengawal dan membangunkan seluruh penghuni istana.

“Demikianlah apa yang terjadi malam tadi!” Thian Hwa mengakhiri ceritanya dan ia menceritakan juga bahwa lima orang prajurit pengawal juga ditemukan mati di taman tak jauh dari kamar Kaisar dan mereka adalah lima orang pengawal yang malam itu bertugas jaga di depan kamar Kaisar. Mudah diduga bahwa mereka tentu dibunuh pula oleh Thaikam Boan Kit dan dua orang pembantunya yang tewas oleh Thian Hwa.

Tentu saja kejadian yang sesungguhnya tidak demikian. Setelah wajah mayat Boan Kit dirusak dengan bacokan-bacokan pedang agar tidak dapat dikenal, mayat itu lalu diberi pakaian Kaisar yang seperti pakaian pendeta dan dilumuri darah, kemudian mayat itu diletakkan di atas pembaringan Kaisar. Setelah itu, dengan kepandaiannya, Thian Hwa menyelundupkan Kaisar keluar dari istana, bahkan keluar dari pintu gerbang kota raja.

Setelah tiba di luar kota raja, dua orang pelayan yang setia sudah menunggu lebih dulu dan Kaisar yang mengenakan jubah pendeta Buddha dan menggunduli rambut kepalanya itu lalu pergi menjauh dari kota raja. Setelah itu, baru Thian Hwa kembali ke istana dan bersama para pelayan yang setia mereka menjerit-jerit sehingga membangunkan seluruh penghuni istana.

Tentu saja cerita Thian Hwa ini dipercaya oleh semua orang pendengarnya, apalagi terbukti adanya jenazah raja. Mereka tidak dapat mengenali wajah jenazah itu, akan tetapi dari bentuk tubuhnya tidak ada yang ragu bahwa itu adalah jenazah Kaisar Shun Chi yang sudah dirawat dan dimasukkan peti mati.

“Sudahlah, malapetaka itu sudah terjadi. Mudah saja nanti kita berusaha untuk mengejar dan menangkap Thaikam Boan Kit dan menghukumnya. Sekarang, yang terpenting, kita tidak boleh membiarkan kerajaan tanpa kaisar! Hal ini dapat menimbulkan kekacauan dan akan memancing datangnya musuh negara untuk menyerang kerajaan yang sedang lowong tidak ada pemimpinnya. Maka, aku mengusulkan agar sekarang juga ditentukan siapa yang berhak menggantikan kedudukan kaisar, menggantikan mendiang Ayahanda Kaisar!” kata Pangeran Leng Kok Cun penuh semangat.

“Ah, baik sekali itu! Aku juga akan mengusulkan begitu!” kata Pangeran Cu Kiong, tidak kalah bersemangatnya.

Pangeran Bouw sebagai pimpinan sidang menoleh kepada Ciang Taijin, pembesar tinggi yang paling tua, usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun dan dia dikenal sebagai tua-tua dan penasihat di istana. Melihat Pangeran Bouw menoleh dan memandang kepadanya, pejabat tinggi yang sudah tua dan setia ini segera bangkit berdiri dan berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.

“Soal pengganti kedudukan Kaisar, hal itu kami rasa tidak menjadi masalah dan tidak perlu dibicarakan lagi. Bukankah mendiang Sribaginda Kaisar telah mengangkat seorang Pangeran Mahkota? Menurut hukum yang berlaku, kalau Kaisar meninggal dunia, sudah barang tentu yang menggantikan kedudukannya adalah Pangeran Mahkota, dalam hal ini Pangeran Mahkota Kang Shi!”

“Akan tetapi Ayahanda belum pernah meresmikan pengangkatannya sebagai pengganti kedudukan Kaisar!” bantah Pangeran Leng Kok Cun. “Karena itu, aku sebagai putera Ayahanda yang sulung, akulah yang berhak menggantikan kedudukannya sebagai kaisar!”

“Tidak benar dan tidak bisa!” Teriak Pangeran Cu Kiong. “Kakanda Pangeran Leng Kok Cun, biarpun paling tua, akan tetapi merupakan putera selir ke tujuh! Menurut kepantasan, yang berhak menggantikan kedudukan Kaisar dilihat dari urutan kedudukan para isteri Ayahanda! Memang yang paling berhak adalah Adinda Pangeran Kang Shi karena dia adalah putera dari Ibunda permaisuri, akan tetapi dia masih terlalu kecil untuk menjadi kaisar dan memang benar, Ayahanda belum meresmikan dia menjadi penggantinya. Urutan yang ke dua adalah keturunan selir ke dua, akan tetapi Ibunda selir ke dua hanya mempunyai anak perempuan. Maka urutan berikutnya adalah anak Ibunda yang menjadi selir ke tiga. Jadi, kalau mau menurut aturan dan kepantasan, akulah yang berhak menggantikan kedudukan kaisar!”

“Pendapat Pangeran Cu Kiong itu tidak benar!” bentak Pangeran Leng Kok Cun.

“Pendapat Kakanda Pangeran Leng Kok Cun lebih tidak benar lagi!” Pangeran Cu Kiong juga membentak marah. Kedua orang pangeran ini sudah bangkit berdiri dan saling pandang dengan mata merah melotot.

“Harap Ananda berdua tenang! Ketahuilah para anggota keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi, kami telah menerima surat wasiat yang ditulis dan ditinggalkan oleh mendiang Kakanda Kaisar Shun Chi. Akan saya bacakan surat wasiatnya.”

“Nanti dulu!” bentak Pangeran Leng Kok Cun. “Surat wasiat seharusnya dipegang oleh orang yang dapat mewakili Ayahanda Kaisar. Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki tidak mempunyai kekuasaan itu!”

“Benar, Pamanda Pangeran Bouw tidak berhak!” teriak pula Pangeran Cu Kiong.

“Aku yang berhak!” tiba-tiba terdengar suara nyaring seorang wanita. Semua orang memandang dan yang bicara adalah Ciu Thian Hwa. Ia sudah bangkit berdiri dengan tegak dan sikapnya gagah sekali. “Akulah yang menjadi wakil mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, dan inilah tanda kekuasaanku!” ia mengeluarkan Tek-pai tanda kekuasaan yang diberikan Kaisar Shun Chi itu dan melihat ini, para pejabat tinggi cepat membungkuk untuk memberi hormat karena pemegang Tek-pai itu seolah menjadi wakil kaisar sendiri.

Melihat ini, Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong diam, tidak berani membantah lagi. Mereka memang sudah mendengar bahwa gadis liar yang berjuluk Huang-ho Sian-li yang pernah menentang mereka dahulu itu adalah puteri Pangeran Ciu Wan Kong, jadi masih keponakan kaisar dan juga keponakan Pangeran Bouw, bahkan masih menjadi saudara mereka sendiri. Mereka tahu pula bahwa Thian Hwa telah menyelamatkan nyawa Kaisar Shun Chi ketika diserang lima orang pembunuh dahulu, maka tidak mustahil kalau kini gadis itu membawa Tek-pai pemberian Kaisar.

Melihat tidak ada yang berani membantah, Thian Hwa menerima surat wasiat itu dari tangan Pangeran Bouw Hun Ki lalu berkata dengan lantang. “Akulah yang menerima dari tangan mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, Tek-pai dan surat wasiat ini, maka aku pula yang berhak membacanya. Siapa yang berani menentang pesan terakhir mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, silakan maju, aku berhak atas nama Kaisar untuk menghukumnya!” Ucapan itu demikian berwibawa dan tidak ada yang berani membantah.

Pangeran Leng dan Pangeran Cu tentu saja merasa jengkel dan marah, akan tetapi mereka maklum bahwa kalau mereka berani membantah kenyataan ini, semua orang yang berada di situ pasti akan menentangnya.

Melihat tidak ada yang berani membantah, Thian Hwa lalu membaca surat wasiat itu yang maksudnya, Kaisar Shun Chi menyatakan bahwa dia mengangkat Pangeran Mahkota Kang Shi menjadi penggantinya, yaitu menjadi kaisar baru kalau dia sudah tidak ada. Setelah ia selesai membacakan surat wasiat itu, Thian Hwa duduk kembali.

Kini Pangeran Bouw Hun Ki bangkit berdiri. “Kami yakin bahwa kita semua pasti menghormati dan mentaati perintah terakhir dari mendiang Kakanda Kaisar Shun Chi. Nah, kini sudah dipastikan bahwa Pangeran Mahkota Kang Shi yang akan dinobatkan menjadi Kaisar Kerajaan Ceng kita. Pelaksanaannya akan dilakukan setelah lewat masa perkabungan seratus hari dari kematian Kakanda Kaisar Shun Chi, kami kira hadirin semua merasa setuju dan tidak ada yang merasa keberatan.”

Tiba-tiba Pangeran Leng Kok Cun bangkit berdiri dan bicara dengan lantang. “Paman Pangeran Bouw Hun Ki, mengingat bahwa Adinda Pangeran Kang Shi baru berusia sepuluh tahun, masih kanak-kanak, tidak mungkin dia dapat mengatur pemerintahan. Sudah tentu dia membutuhkan seorang pendamping atau penasihat yang dapat dipercaya! Nah, aku sebagai kakaknya yang tertua berhak untuk menjadi pendamping dan penasihatnya, maka dalam sidang ini aku minta agar hal ini dibicarakan dan disetujui semua yang hadir!”

Mendengar ini, Pangeran Cu Kiong cepat memberi tanggapan. “Aku tidak setuju dengan pendapat Kakanda Pangeran Leng Kok Cun! Dia sudah terlalu tua untuk mendampingi Adinda Pangeran Kang Shi! Yang paling tepat untuk mendampinginya adalah aku sebagai calon pewaris ke dua setelah Pangeran Mahkota, dan usiaku jauh lebih muda dari Kakanda Pangeran Leng sehingga dapat bergaul lebih baik dengan Adinda Pangeran Kang Shi.”

Kembali semua orang bicara sendiri, ada yang mendukung Pangeran Leng, ada pula yang membenarkan Pangeran Cu. Agaknya kedua orang pangeran ini memiliki pendukung masing-masing di antara para pejabat tinggi yang hadir.

Melihat keadaan menjadi ribut, Thian Hwa bangkit lagi dan berkata dengan nyaring. “Harap Cu-wi (Anda Sekalian) tenang! Saya sebagai pemegang kekuasaan yang diberikan mendiang Pamanda Kaisar, menyatakan bahwa perebutan kedudukan pendamping Kaisar yang baru itu tidak tepat. Seorang pendamping Kaisar seyogianya merupakan seorang yang paling dekat dengan Kaisar, dalam hal ini Adinda Pangeran Mahkota Kang Shi. Oleh karena itu, sepantasnya dia sendiri yang akan memilih, nanti setelah dia dinobatkan menjadi Kaisar. Dia sendiri yang akan memilih siapa yang akan menjadi pendamping dan penasihatnya.”

Seperti tadi, ucapan Thian Hwa itu pun tidak ada yang berani membantahnya karena ucapan itu memang pantas dan cukup adil. Pangeran Bouw Hun Ki lalu bangkit berdiri dan berkata. “Kami kira keputusan itu sudah tepat sekali. Nanti setelah lewat perkabungan selama seratus hari, Pangeran Mahkota Kang Shi akan dinobatkan menjadi Kaisar dan dia yang akan memilih siapa yang menjadi pendamping dan penasihatnya. Sekarang, kami minta Adinda Ciu Thian Hwa sebagai pemegang Tek-pai untuk menunjuk seorang yang akan menjadi pejabat Kaisar sementara sebelum Pangeran Mahkota dinobatkan menjadi Kaisar.”

Ciu Thian Hwa bangkit berdiri lagi. “Mengingat bahwa selama ini yang paling dekat dengan mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi adalah Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki sehingga beliau diberi kepercayaan untuk mendidik Pangeran Mahkota, maka atas nama Kaisar saya menunjuk Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki untuk menjabat kedudukan kaisar sementara!”

Pangeran Bouw Hun Ki cepat menanggapi. “Aku tidak keberatan, akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu aku harus didampingi Ananda Ciu Thian Hwa sebagai pemegang kuasa yang diberikan oleh mendiang Kaisar sendiri.”

“Saya menerima syarat itu. Apakah ada di antara Cu-wi yang tidak setuju?” kata Thian Hwa.

Kembali tidak ada yang berani menolak karena memang semua yang diajukan itu masuk akal dan sesuai dengan aturan. Seorang pemegang Tek-pai seolah menjadi pribadi Kaisar sendiri yang semua ucapannya merupakan perintah yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun. Demikianlah, persidangan itu selesai. Semua orang merasa puas dan lega, kecuali tentu saja Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong!

* * * *

Pangeran Cu Kiong dalam perjalanan pulang dari menghadiri persidangan, berjalan dengan wajah muram. Tentu saja dia merasa kecewa dan penasaran sekali akan keputusan yang diambil dalam persidangan itu bahwa selain Pangeran Kang Shi ditentukan menjadi pengganti Kaisar dan akan dinobatkan sebagai kaisar baru dan dia yang berwenang memilih pendamping atau penasihatnya, juga ditentukan bahwa pejabat kaisar selama seratus hari ini adalah Pangeran Bouw Hun Ki. Dan dia sama sekali tidak dapat membantah karena Ciu Thian Hwa memegang Tek-pai!

Dia semakin benci kepada Huang-ho Sian-li itu! Dia pernah tertarik, bahkan pernah saling mencinta dengan Huang-ho Sian-li, akan tetapi dia bermaksud memanfaatkan kelihaian gadis itu untuk tujuannya merebut tahta kerajaan. Kini gadis itu, yang kemudian ternyata puteri Pangeran Ciu Wan Kong, malah membela Pangeran Mahkota Kang Shi, berarti menjadi musuhnya! Pangeran Cu Kiong merasa kecewa, penasaran dan marah sekali.

Tiba-tiba dia merasa ada gerakan orang dibelakangnya dan ketika dia menengok, dia melihat seorang wanita muda tersenyum kepadanya dan berjalan melewatinya lalu membalik dan menghadapinya.

“Maafkan saya, apakah Paduka yang bernama Pangeran Cu Kiong?” gadis itu bertanya, suaranya merdu, gayanya memikat dengan sinar mata yang berkilat tajam dan bibir mungil tersenyum manis sekali.

Pangeran Cu Kiong mengamati gadis itu. Gadis itu sudah matang, berusia sekitar dua puluh tiga tahun dan yang menarik adalah payung merah yang dipegang gagangnya dengan tangan kiri dan payung itu melindungi wajahnya dari terik matahari siang itu. Bentuk tubuhnya menarik, ramping padat dan matang, wajahnya bulat dan mata serta mulutnya menggairahkan seperti menantang.

Bajunya berkembang-kembang merah dengan celana sutera hijau. Kecantikannya agak asing, tidak seperti kecantikan wanita Han, juga tidak seperti wanita Mancu, melainkan kecantikan wanita dari daerah selatan yang khas. Pangeran Cu Kiong segera tertarik sekali melihat kecantikan yang berbeda dari wanita lain itu.

“Benar, aku Pangeran Cu Kiong. Engkau siapakah, Nona?” tanyanya, tertarik bukan hanya karena kecantikan gadis itu, juga karena dari wajah dan logat bicaranya, jelas bahwa gadis ini datang dari selatan.

“Saya dikenal sebagai Ang-mo Niocu (Nona Payung Merah), dan saya sengaja datang menjumpai Paduka membawa pesan dari Raja Muda Wu Sam Kwi.”

Cu Kiong terkejut mendengar disebutnya nama Wu Sam Kwi. Dia memang telah beberapa lamanya mengadakan kontak hubungan dengan Jenderal Wu Sam Kwi yang kini disebut Raja Muda itu. Kiranya gadis ini seorang utusan dari Wu Sam Kwi. Kalau sampai ada orang mengetahui bahwa dia berhubungan dengan Jenderal Wu Sam Kwi, bisa gawat dan berbahaya baginya. Maka cepat dia berkata lirih.

“Nona, datanglah nanti ke istanaku, jangan terlalu mencolok karena suasananya sedang genting.” Setelah berkata demikian dia cepat melanjutkan langkahnya pulang ke gedungnya.

Ang-mo Niocu, gadis cantik genit yang pernah kita jumpai ketika ia bertemu dengan Kong Liang dan Thian Hwa itu, maklum akan ucapan Sang Pangeran, maka ia pun cepat pergi ke lain jurusan agar tidak ada yang tahu bahwa ia tadi menghubungi Pangeran Cu Kiong.

Sore itu Ang-mo Niocu datang berkunjung ke gedung Pangeran Cu Kiong yang megah seperti istana. Ia disambut oleh Thio Kwan dan Yu Kok Lun, yaitu dua orang di antara Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa dari Kam-keng). Empat yang lain dulu telah tewas oleh Ciu Thian Hwa dan Ui Yan Bun, sedangkan yang seorang lagi, Ciang Sun, telah pergi meninggalkan kota raja. Dua orang jagoan pembantu Pangeran Cu Kiong itu memang mendapat perintah dari Sang Pangeran untuk menyambut kalau gadis dari selatan, utusan Jenderal Wu Sam Kwi itu datang berkunjung.

Thio Kwan dan Yu Kok Lun adalah dua orang jagoan yang tidak pernah sembuh dari watak mereka yang sombong. Baru julukan mereka saja, ketika masih bertujuh, menunjukkan kesombongan mereka, yaitu memakai julukan Tujuh Dewa! Sejak dulu mereka sombong dan merasa paling hebat sendiri, apalagi karena mereka menjadi jagoan seorang pangeran.

Biarpun kini mereka tinggal berdua, namun tetap saja mereka berkepala besar dan dengan sendirinya mereka memandang rendah ketika melihat bahwa utusan Jenderal Wu Sam Kwi itu hanya seorang gadis cantik yang membawa payung merah! Memang Ang-mo Niocu sama sekali tidak tampak seperti seorang kang-ouw yang pandai ilmu silat. Ia cantik manis, pakaiannya berkembang dan sama sekali tidak tampak membawa senjata.

Begitu tiba di pintu gerbang gedung besar yang mempunyai halaman depan luas itu, Ang-mo Niocu dihadang dua orang jagoan ini yang sudah menunggu di gardu penjagaan sejak tadi. Belasan orang prajurit berada dalam gardu dan hanya menonton sambil tersenyum kagum melihat seorang gadis cantik memakai payung memasuki pintu gerbang.

Mereka sudah dipesan oleh dua orang jagoan itu agar diam saja dan membiarkan mereka berdua yang menyambut tamu yang dinantikan oleh Sang Pangeran. Para prajurit itu mengharapkan memperoleh tontonan menarik karena mereka semua maklum bahwa dua orang jagoan itu pasti akan menggoda dan mengganggu seorang gadis cantik seperti itu.

Thio Kwan yang berusia sekitar lima puluh dua tahun, tinggi kurus dan mukanya pucat seperti mayat, berdiri bertolak pinggang menghadapi Ang-mo Niocu, sedangkan temannya, Yu Kok Lun yang berusia lima puluh tahun lebih dan bertubuh gemuk pendek bermuka hitam, hanya tersenyum-senyum di samping rekannya.

“Apakah Nona yang disebut Nona Payung Merah?” tanya Thio Kwan sambil tersenyum mengejek, memandang rendah.

Ang-mo Niocu mengenal laki-laki kurang ajar macam ini. Akan tetapi ia bersabar mengingat bahwa orang-orang ini tentu anak buah Pangeran Cu Kiong yang tadi ia jumpai di jalan dan yang menarik hatinya karena pangeran yang masih muda itu memang tampan dan gagah sekali. “Benar, aku Ang-mo Niocu hendak bertemu dengan Pangeran Cu Kiong.”

“Nanti dulu, Nona. Logat bicara Nona terdengar asing. Benarkah menurut keterangan Pangeran Cu bahwa Nona datang dari Yunnan-hu yang berada jauh di selatan?”

Ang-mo Niocu mengerutkan alisnya. Pembantu pangeran ini cerewet benar. Ia merasa tidak perlu untuk memperkenalkan diri lebih banyak terhadap Si Muka Pucat ini, maka ia cepat menjawab. “Benar aku dari selatan. Jauh-jauh aku datang untuk bertemu Pangeran Cu Kiong. Cepat kalian laporkan kepadanya.”

“Aih, Nona. Kenapa Nona jauh-jauh datang dari selatan seorang diri saja? Nona seorang gadis yang cantik jelita begini melakukan perjalanan jauh seorang diri?” kata Yu Kok Lun yang tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk bicara dengan gadis yang amat menarik ini. Setelah bicara, memang Ang-mo Niocu tampak menggairahkan sekali. Sepasang bibirnya yang berbentuk indah dan kemerahan itu seolah dapat bergerak-gerak dengan manis dan menantang!

“Benar, Nona. Kalau kami tahu, tentu akan kami jemput Nona di selatan sehingga Nona dapat melakukan perjalanan bersama kami. Tentu lebih aman dan menyenangkan!” kata Thio Kwan.

Dua orang jagoan itu bersikap berani mengganggu karena mereka memang mendapat pesan dari Pangeran Cu Kiong untuk menguji kelihaian utusan Jenderal Wu Sam Kwi ini. Ang-mo Niocu bukan seorang gadis yang tidak biasa bergaul dengan pria. Kalau yang menggodanya itu pemuda-pemuda tampan, pasti ia tidak akan marah malah menjadi gembira sekali. Akan tetapi digoda dua orang jagoan yang bertampang buruk, yang seorang bermuka pucat seperti mayat dan yang seorang lagi mukanya hitam seperti pantat kuali, ia menjadi marah. Akan tetapi mulutnya masih tersenyum ketika ia menjawab.

“Hemm, diantar dan ditemani dua orang kuli pelayan macam kalian hanya akan membikin aku malu karena muka kalian begitu buruk dan menjijikkan! Sudahlah, cepat laporkan kepada Pangeran Cu Kiong bahwa aku telah datang dan ingin berjumpa dengannya. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian dua orang monyet jelek ini!”

Belasan orang prajurit pengawal yang berada dalam gardu hampir tidak dapat menahan tawa mereka mendengar ucapan yang amat mengejek dan menghina kepada dua orang jagoan yang biasanya bersikap sombong itu. Mereka melihat betapa dua orang itu terbelalak mendengar ucapan gadis berpayung merah.

Thio Kwan marah sekali, akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyerang tamu majikannya karena Pangeran Cu hanya berpesan agar dia menguji kelihaian tamu ini. “Pangeran memang mengutus kami menjemputmu, akan tetapi tidak sopan kalau engkau memasuki gedung dengan memakai payung. Serahkan payungmu!” katanya.

Ang-mo Niocu menutup payungnya yang tadinya berkembang. “Payung ini tidak boleh terlepas dari tanganku!”

“Hemm, terpaksa aku akan merampasnya!” Setelah berkata demikian, dengan cepat Thio Kwan menggerakkan tangan kanannya dan dia sudah menangkap payung yang berada di tangan kiri gadis itu. Thio Kwan adalah seorang ahli lwee-keh (ahli tenaga dalam) yang memiliki tenaga kuat sekali. Dia merasa yakin bahwa sekali renggut saja dia akan mampu merampas payung itu dari tangan Ang-mo Niocu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia merasa betapa payung itu sama sekali tidak dapat dia tarik karena seolah melekat dan berakar pada tangan kiri gadis itu. Dia mengangkat muka memandang wajah gadis itu dan dengan penasaran sekali dia melihat gadis itu tersenyum-senyum dan mengedipkan mata kepadanya! Jelas bahwa gadis itu menganggap dia ringan sekali. Maka Thio Kwan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik. Namun tetap sia-sia.

Karena marah, dia lalu menggerakkan tangan kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan kiri gadis itu. Akan tetapi cepat bagaikan kilat tangan kanan Ang-mo Niocu sudah mendahuluinya menotok ke arah tangan kanannya yang memegang payung. Seketika dia merasa lengan kanannya lemas dan pedangnya terlepas. Dengan marah dia melanjutkan cengkeraman tangan kirinya, kini tidak ke arah pergelangan tangan kiri lawan, melainkan ke arah pundaknya!

“Plakk!” Ang-mo Niocu menangkis dan tenaga saktinya demikian kuatnya sehingga Thio Kwan merasa lengan kirinya nyeri sampai menembus tulang.

“Pergilah!” Ang-mo Niocu berseru dengan bentakan nyaring, kakinya mencuat ke arah perut Si Muka Mayat.

“Bukkk...!” Tubuh tinggi kurus itu terlempar dan masih untung Thio Kwan mampu mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga jatuh berjongkok, tidak sampai terbanting!

“Wah, hebat juga engkau, Nona! Coba hadapi siang-kiam (sepasang pedang) ini!” Yu Kok Lan sudah mencabut siang-kiam dari punggungnya karena dia hendak menguji kelihaian gadis itu dalam bertanding senjata. “Keluarkan senjatamu!” tantangnya, dan dia sudah memasang kuda-kuda dengan menyilangkan sepasang pedangnya di atas kepala sehingga tampak garang dan gagah sekali.

Ang-mo Niocu tersenyum. Kini ia dapat menduga bahwa dua orang ini agaknya memang disuruh oleh Pangeran Cu Kiong untuk mengujinya. Pangeran itu yang mengadakan kontak dengan Jenderal Wu Sam Kwi tentu ingin merasa yakin akan kelihaian utusan Jenderal Wu Sam Kwi. Maka ia pun tersenyum menghadapi Yu Kok Lun yang tampak gagah itu. Ia menudingkan payungnya yang sesungguhnya merupakan pedang ke arah lawan dan berkata.

“Majulah, aku akan melawan sepasang pedangmu dengan payungku ini.”

Tentu saja Yu Kok Lun merasa dihina dan dipandang rendah. Masa siang-kiamnya yang tersohor sehingga dia dijuluki Siang-kiam-sian (Dewa Sepasang Pedang) hanya akan dilawan dengan sebuah payung merah, oleh seorang gadis muda? Ini namanya keterlaluan!

“Nona, memalukan kalau aku dengan sepasang pedangku melawan engkau yang hanya memegang sebuah payung. Biarlah aku menggunakan sebelah pedangku saja!” Setelah berkata demikian Yu Kok Lun menyimpan pedang kirinya dan hanya memegang pedang kanannya.

“Terserah, engkau mau menggunakan sebatang, dua batang, atau sepuluh batang pedang. Aku tetap cukup menggunakan payungku ini saja!”

Yu Kok Lun mulai marah. “Sambutlah pedangku ini!” bentaknya, dan dia pun sudah menyerang dengan dahsyat karena dia sudah menggunakan jurus paling ampuh dan berbahaya karena dapat menduga bahwa lawannya bukan seorang lemah. Pedangnya berkelebat dengan jurus serangan Kilat Menyambar Atas Kepala. Pedang yang bergerak cepat sekali itu berubah menjadi sinar putih yang menyambar ke arah kepala Ang-mo Niocu dengan bacokan dari atas, seolah hendak membelah kepala itu menjadi dua!

“Wuuuss...!” Pedang itu hanya membelah udara kosong karena dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali Ang-mo Niocu sudah mengelak ke samping. Yu Kok Lun menjadi penasaran melihat betapa serangannya yang dahsyat tadi dapat dielakkan dengan amat mudah oleh gadis itu. Pedangnya sudah menyambar lagi, kini membabat dari samping ke arah pinggang lawan.

Pinggang yang kecil ramping itu agaknya akan dapat terbabat putus oleh sambaran pedang yang dahsyat itu karena pedang itu digerakkan dengan jurus Giok-tai-wi-yiauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang)! Serangan ke dua ini cukup berbahaya, maka Ang-mo Niocu menggerakkan payungnya menangkis.

“Tranggg...!” Yu Kok Lun hampir berteriak saking kagetnya ketika pedangnya hampir terlepas dari tangannya karena terpental oleh tangkisan yang amat kuat, bahkan kini ada sinar merah menyambar pundaknya. Dia cepat mengelak dan “brett...!” baju di bagian pundaknya robek tertusuk ujung payung yang runcing!

Maklum bahwa payung itu ternyata merupakan senjata yang ampuh, Yu Kong Lun yang masih merasa penasaran cepat mencabut pedang ke dua dan kini dia menyerang dengan menggerakkan siang-kiam itu secara cepat sekali. Akan tetapi semua serangannya sia-sia karena begitu gadis itu menggerakkan payungnya, payung itu menjadi perisai yang kuat sekali.

Ternyata bahwa payung itu terbuat dari semacam kulit yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi lentur namun amat kuat, mampu menahan senjata tajam tanpa robek sedikit pun. Begitu sepasang pedang menyerang, payung berkembang dan begitu sepasang pedang lawan terpental, payung menutup dan ujung payung itu menyerang dengan tusukan seperti sebatang pedang!

Sebentar saja Yu Kok Lun menjadi kewalahan dan terdesak, kebingungan. Maka Ang-mo Niocu tidak menyia-nyiakan kesempatan, selagi lawan bingung oleh serangan payung berpedang, ia mengayun kakinya dan seperti juga apa yang dirasakan Thio Kwan tadi, perut Yu Kok Lun terkena tendangan kaki Ang-mo Niocu sehingga tubuhnya terlempar dan dia jatuh berdebuk di atas tanah.

Dua orang jagoan itu kini harus mengakui kelihaian Ang-mo Niocu, maka mereka tidak berani main-main lagi. Thio Kwan lalu maju memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada, diikuti Yu Kok Lun dan dia berkata.

“Li-hiap (Pendekar Wanita), maafkan kami karena sesungguhnya kami diutus Pangeran Cu Kiong untuk menguji kelihaianmu. Sekarang mari kami antarkan Li-hiap menghadap Pangeran Cu Kiong yang sudah lama menunggu kedatanganmu.”

Ang-mo Niocu tersenyum mengejek. “Beginikah cara Pangeran Cu Kiong menyambut utusan sahabatnya? Aku mengerti akan maksudnya mengujiku, akan tetapi yang menyebalkan adalah kalian bukan hanya menguji, akan tetapi juga menghinaku dengan kekurangajaranmu. Maka kalian perlu mendapat hajaran agar lain kali tidak berani menggangguku! Sambut ini!”

Tiba-tiba kini Ang-mo Niocu menyerang dengan tusukan payungnya yang tertutup. Ujung yang runcing itu meluncur dan menusuk ke arah pundak Thio Kwan. Orang itu terkejut dan cepat mengelak, tusukan itu luput akan tetapi tetap saja dia roboh dan mengeluh kesakitan. Kemudian ujung payung itu menyerang Yu Kok Lun. Ahli siang-kiam yang masih memegang pedangnya ini cepat menangkis.

“Trangg...!” Payung itu tertangkis, akan tetapi anehnya, Yu Kok Lun juga terkulai roboh dan merintih sambil memegangi pundaknya. Ternyata pundak kedua orang ini terkena tusukan jarum yang terasa panas dan pundak mereka sampai lengan menjadi kaku dan lumpuh! Jarum beracun! Jarum-jarum itu keluar dari ujung payung dan merupakan senjata rahasia yang amat ampuh dari gadis suku Yao yang lihai ini. Hal ini tidak mengherankan karena Ang-mo Niocu adalah murid Lam-hai Cin-jin. Datuk Selatan yang sakti.

“Nah, mari antar aku menghadap Pangeran Cu Kiong!” kata Ang-mo Niocu.

Dua orang itu bangkit dengan wajah pucat dan mereka menyeringai karena pundak mereka terasa nyeri bukan main, panas dan ngilu, juga kaku dan lumpuh sampai ke ujung jari tangan. Mereka tidak berani membantah dan mendahului menuju ke gedung besar yang megah itu. Ang-mo Niocu mengikuti mereka dari belakang dan tetap bersikap waspada. Siapa tahu Pangeran Cu Kiong yang tampan gagah itu masih akan mengujinya lagi!

Akan tetapi tidak ada rintangan lagi dan setelah mereka memasuki ruangan tamu, Pangeran Cu Kiong bangkit dari kursinya, tersenyum ramah menyambut gadis cantik dari selatan itu. Akan tetapi dia mengerutkan alisnya ketika melihat dua orang jagoannya masuk dengan wajah pucat dan menyeringai kesakitan dengan sebelah tangan tergantung lumpuh.

“Ada apa dengan kalian? Apa yang telah terjadi?” tanyanya dan karena dua orang jagoannya menundukkan kepala tanpa menjawab, dia memandang wajah Ang-mo Niocu dengan sinar mata bertanya.

“Pangeran, Paduka tanyakan kepada mereka berdua saja apa yang menyebabkan mereka menderita luka.”

Pangeran Cu Kiong memandang dua orang jagoannya dan mereka berdua yang menjadi ketakutan mengingat betapa mereka telah menggoda gadis itu sehingga menjadi marah dan melukai mereka, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Cu Kiong.

“Pangeran, hamba berdua mengaku bersalah. Hamba kalah dan terluka oleh Li-hiap ini...,” kata Thio Kwan.

Pangeran Cu Kiong merasa kagum akan tetapi juga tak senang kepada gadis itu. Memang ia lihai sekali mampu mengalahkan dua orang jagoannya, akan tetapi mengapa harus melukai mereka sedemikian beratnya.

“Ang-mo Niocu, mereka hanya kami suruh mengujimu, mengapa engkau melukai mereka?” Pangeran Cu Kiong menegur, biarpun ucapannya halus.

Ang-mo Niocu tersenyum. “Pangeran, mereka melanggar perintah Paduka, mereka bukan sekadar menguji akan tetapi juga bersikap tidak sopan kepada saya. Karena itu saya melukai mereka dengan Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah). Kalau tidak saya beri obat pemunah, lengan mereka yang sebelah akan mati selamanya. Biar mereka tidak berani melanggar perintah Paduka lagi!”

Gadis itu memang cerdik. Ia menghukum dua orang itu dengan alasan karena mereka melanggar perintah Pangeran Cu Kiong, bukan karena mereka mengganggunya. Hal ini berarti bahwa ia bertindak untuk membela pangeran itu! Mendengar ini, hati Pangeran Cu Kiong merasa senang dan kini dia membentak dua orang jagoannya itu.

“Hayo cepat kalian minta ampun kepada Ang-mo Niocu!”

Dua orang itu tadi mendengar bahwa mereka terluka oleh jarum beracun, menjadi semakin panik dan mereka lalu berlutut di depan kaki Ang-mo Niocu. “Mohon ampun, Li-hiap. Kasihanilah kami dan mohon diberi obat pemunahnya!” Mereka memohon bergantian.

Ang-mo Niocu memandang kepada Pangeran Cu Kiong. “Bagaimana, Pangeran?”

Pangeran itu mengangguk. “Berikanlah obatnya, Niocu. Bagaimanapun juga, mereka adalah pembantu-pembantuku yang setia kepadaku.”

Ang-mo Niocu lalu menghampiri mereka, menggunakan sin-kang (tenaga sakti) menyedot dua batang jarum itu dari pundak mereka menggunakan telapak tangannya, kemudian ia menyerahkan dua butir pel berwarna merah kepada mereka. “Telan ini dan kalian akan sembuh.”

Thio Kwan dan Yu Kok Lun cepat menerima pel itu dan langsung menelannya. Benar saja, mereka merasa betapa kekakuan dan rasa nyeri panas di pundak mereka berkurang.

“Sekarang keluarlah dan pesan kepada semua prajurit jaga agar kunjungan Li-hiap ini tidak sampai diketahui orang luar. Kalau sampai beritanya bocor, ini tanggung jawab kalian dan hukumannya akan berat sekali!”

Dua orang itu membungkuk lalu keluar dari ruangan tamu. Pangeran Cu Kiong lalu menutupkan daun pintu sehingga mereka dapat bicara berdua dengan aman, tanpa ada yang dapat melihat atau mendengar mereka.

“Silakan duduk, Niocu. Sekarang lebih dulu buktikanlah bahwa engkau memang benar utusan dari Jenderal Wu Sam Kwi,” kata Pangeran Cu Kiong sambil menatap wajah cantik itu.

Ang-mo Niocu tersenyum manis sekali, tampak deretan giginya yang putih dan rapi, lalu ia duduk dan mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya di bagian dada! “Pangeran, saya sengaja minta surat dari Raja Muda Wu Sam Kwi agar Paduka tidak ragu lagi.”

Pangeran Cu Kiong menerima kertas yang masih hangat karena lama berada di dada gadis itu. Dia memang seorang laki-laki yang sudah biasa bergaul dan merayu wanita, maka sambil tersenyum dia mendekatkan kertas surat itu ke hidungnya, mengendusnya lalu berkata. “Ahh... harumnya...!”

Ang-mo Niocu juga bukan seorang gadis yang belum pernah dirayu orang, maka ia tidak menjadi malu, malah senyumnya melebar dan sinar matanya berkilau karena senangnya. “Saya simpan surat itu baik-baik agar jangan sampai dilihat orang lain, Pangeran.”

Pangeran Cu Kiong membaca surat itu. Surat dari Wu Sam Kwi itu menyatakan bahwa pihaknya sudah siap untuk bekerja sama dengan Pangeran Cu Kiong dan untuk memperlancar hubungan, dia mengirim Ang-mo Niocu sebagai utusan dan gadis itu sudah diberi wewenang penuh untuk mengatur rencana bersama Sang Pangeran. Pangeran Cu Kiong merasa kagum dan juga heran bagaimana seorang gadis muda seperti ini sudah diberi kekuasaan penuh oleh Jenderal atau kini Raja Muda Wu Sam Kwi!

“Niocu (Nona), dalam surat ini Jenderal Wu Sam Kwi telah memberi kekuasaan sepenuhnya kepadamu untuk berunding dan mengatur rencana bersamaku. Niocu, apakah kedudukanmu di sana maka dia begitu percaya kepadamu?”

Kembali gadis yang kedua pipinya merah tanpa yanci (bedak pemerah) tersenyum manis. Tentu saja ia tidak mau mengaku bahwa walaupun ia tidak mau dijadikan selir, namun ia adalah seorang kekasih dari Wu Kan, seorang dari para putera Raja Muda Wu Sam Kwi.

“Pangeran, saya adalah murid dari Lam-hai Cin-jin. Datuk Selatan yang menjabat sebagai Koksu (Guru Negara, Penasihat) Raja Muda Wu Sam Kwi. Karena Suhu sendiri mempunyai banyak kesibukan dan tidak mungkin terlalu lama meninggalkan jabatannya, maka Suhu minta kepada Raja Muda Wu untuk mengirim saya dan Raja Muda Wu menyetujuinya.”

Pangeran Cu Kiong mengangguk-angguk. Dia sudah mendengar tentang kesaktian Lam-hai Cin-jin. Tidak mengherankan kalau gadis ini demikian lihai, kiranya murid Lam-hai Cin-jin! Dia merasa girang sekali bahwa Jenderal Wu mengirim utusan yang merupakan seorang gadis cantik manis dan lihai ilmu silatnya.

“Baik, kami dapat menerimamu sebagai utusan Raja Muda Wu Sam Kwi. Nah, sekarang lebih dulu kauceritakan apa kesanggupan Raja Muda Wu untuk membantu kami dan apa pula syarat-syaratnya.”

“Pangeran, Raja Muda kami telah menerima berita dari Pangeran dan beliau setuju untuk membantu Paduka agar dapat merebut tahta kerajaan. Beliau sudah mengambil keputusan untuk mengirim dua orang sakti yang dapat diandalkan, yaitu Guru saya sendiri Lam-hai Cin-jin dan Susiok-couw (Kakek Paman Guru) Ngo-beng Kui-ong (Raja Setan Lima Nyawa) yang memiliki kesaktian tinggi. Saya kira, dengan adanya mereka yang akan datang ke sini dalam bulan ini juga akan dapat mengalahkan semua musuh Pangeran. Saya juga akan membantu Paduka sekuat tenaga.”

“Hemm, Jenderal Wu Sam Kwi bersungguh-sungguh hendak membantu kami. Padahal dia membenci bangsa Mancu kami. Tentu bantuan itu diberikan bukan dengan percuma. Apa imbalan yang dimintanya?” tanya pangeran itu secara langsung dan terus terang.

“Aih, senang bicara dengan Paduka yang terbuka dan jujur. Menurut Raja Muda kami, beliau hanya menghendaki agar kekuasaan beliau diakui oleh Kerajaan Ceng dan daerah kekuasaan beliau diperluas sampai ke daerah selatan Sungai Yang-ce.”

Pangeran Cu Kiong terdiam. Permintaan yang terlalu berlebihan, pikirnya. Masa minta perluasan daerah yang lebih besar daripada yang telah dikuasai Jenderal Wu Sam Kwi sekarang? Akan tetapi dia membutuhkan bantuan yang amat kuat. Mudah saja nanti menghadapi Wu Sam Kwi kalau sudah tercapai ambisinya, menjadi Kaisar Kerajaan Ceng!

Pula, kalau dia menolak, otomatis gadis itu tentu akan pergi, bahkan akan memusuhinya. Padahal ia demikian cantik jelita dan sikapnya begitu menantang! Dia merasa yakin benar bahwa tidak akan sukar untuk menikmati kesenangan bersama gadis ini! Baru pandang mata dan senyum bibirnya itu saja sudah mengandung tantangan yang menggairahkan.

“Baiklah, kami menerima permintaan imbalan itu. Kalau kami sudah berhasil menjadi Kaisar sebagai pengganti mendiang Ayahanda Kaisar, pasti permintaan itu kami penuhi!”

“Nah, sekarang sebaiknya Paduka menceritakan segala keadaan di kota raja, siapa musuh-musuh Paduka, apa yang telah terjadi, agar kita dapat merundingkannya dan mencari jalan terbaik, mengatur rencana yang tepat untuk mencapai kemenangan.”

Pangeran Cu Kiong tentu saja tidak tahu apa yang terdapat dalam benak Ang-mo Niocu pada masa itu. Dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah pengikut Wu Sam Kwi yang setia dan diam-diam membenci Pemerintah Ceng, yaitu Pemerintah Mancu yang menjajah hampir seluruh daratan Cina. Ia tentu saja mendukung Wu Sam Kwi yang tidak pernah mau takluk kepada Pemerintah Ceng, bahkan selalu bercita-cita untuk mengusir penjajah Mancu dari tanah air.

Akan tetapi yang dibencinya adalah Pemerintah Ceng, kalau pribadi Pangeran Cu Kiong yang begitu gagah dan tampan, tentu saja membuat ia tertarik dan ia tidak akan melewatkan kesempatan baik untuk bersenang-senang dengan pria muda setampan dan segagah itu begitu saja. Seorang pangeran lagi! Dan dari sikap dan sinar mata pangeran itu, Ang-mo Niocu yang sudah berpengalaman itu maklum benar bahwa ia tidak bertepuk sebelah tangan!

Pangeran Cu Kiong membutuhkan waktu untuk yakin benar bahwa tidak ada bahayanya dia menceritakan segala yang terjadi dan semua keadaannya kepada gadis yang baru dijumpainya itu, walaupun ia membawa surat dari Jenderal Wu Sam Kwi. Maka ia lalu tersenyum dan berkata.

“Niocu, sebaiknya engkau mengaso dulu, mandi dan berganti pakaian, engkau tampak lusuh dan lelah, maklum baru saja berkelahi. Setelah engkau mandi dan berganti pakaian, kita makan. Nah, setelah itu, kita bersantai dan nanti akan kuceritakan semuanya sehingga kita berdua dapat membuat rencana dengan lebih nyaman.”

Pangeran Cu Kiong bertepuk tangan sebagai isyarat memanggil pelayan. Dua orang pelayan wanita memasuki ruangan tamu itu dengan cepat. Mereka masih muda-muda dengan wajah dan bentuk tubuh cukup menarik.

“Persiapkan sebuah kamar tamu yang terbaik untuk Nona ini. Dan layani kalau ia ingin mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai, antarkan ia ke kamar makan dan suruh para pekerja di dapur menyiapkan pesta kecil untuk menghormati Nona ini. Nah, sekarang antarkan ia ke kamar tamu.” Dia bangkit dan berkata kepada Ang-mo Niocu. “Silakan, Niocu. Sampai jumpa nanti di kamar makan.”

Gadis itu tersenyum, membungkuk sebagai penghormatan lalu mengikuti dua orang pelayan itu dengan langkah berlenggang-lenggok lemah gemulai. Pangeran Cu Kiong mengikuti dari belakang dengan pandang matanya dan dia tersenyum senang. Setelah mandi, berganti pakaian dan bersolek sehingga ia tampak semakin cantik, Ang-mo Niocu diantar seorang pelayan memasuki ruangan makan yang luas.

Di situ telah menanti Pangeran Cu Kiong yang juga sudah mandi dan berganti pakaian sehingga tampak tampan sekali. Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja yang sudah penuh dengan hidangan masakan bermacam-macam, semua masih mengepulkan uap sehingga baunya yang sedap membuat perut menjadi semakin lapar.

Mereka semakin akrab dan makan minum dengan gembira. Pangeran Cu Kiong senang sekali mendapat kenyataan bahwa gadis itu pun kuat sekali minum arak. Mereka saling menyulangi sampai menghabiskan beberapa cawan arak dan setelah hawa arak memasuki kepala mereka, keduanya semakin akrab, makan minum sambil tertawa-tawa gembira.

Setelah selesai makan, Pangeran Cu Kiong mengajak gadis itu bicara di dalam ruangan tertutup. Dia lalu mulai menceritakan semua yang telah terjadi di kota raja, tentang gerakan Pangeran Leng Kok Cun yang menjadi saingannya paling berat. Kemudian tentang kematian Kaisar Shun Chi yang terbunuh oleh Thaikam Boan Kit, akan tetapi Thaikam itu sempat melarikan diri dan tidak tertangkap.

“Hemm, mengapa Thaikam Boan membunuh Kaisar?”

“Dia juga kaki tangan Pangeran Leng Kok Cun!” kata Pangeran Cu gemas. “Pembunuhan sia-sia, karena sebelum mati, Ayahanda Kaisar telah meninggalkan surat wasiat kepada puteri Pamanda Pangeran Ciu Wan Kong yang bernama Ciu Thian Hwa. Bahkan Thian Hwa telah menerima Tek-pai dari Kaisar karena ia telah menyelamatkan Kaisar dari serangan lima orang pembunuh yang juga tentu dikirim oleh Pangeran Leng. Maka, setelah Kaisar wafat, Thian Hwa yang memegang Tek-pai dapat mempengaruhi semua orang yang terpaksa harus tunduk. Lalu menurut surat wasiat itu, Pangeran Mahkota Kang Shi yang akan diangkat menjadi kaisar baru. Pengangkatannya akan dilakukan setelah lewat masa perkabungan seratus hari. Sungguh keadaan ini tidak menguntungkan sama sekali!”

“Hemm, gadis bernama Ciu Thian Hwa itu lihai juga. Padahal ia adalah puteri seorang pangeran.”

“Ya, ia puteri Pamanda Pangeran Ciu Wan Kong, jadi masih terhitung saudara sepupu dengan aku. Ia sebelumnya memang terpisah dari ayahnya dan hidup di dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar berjuluk Huang-ho Sian-li.”

“Apa...?!” gadis itu terkejut sekali.

“Eh? Engkau mengenalnya, Niocu?”

Ang-mo Niocu mengangguk, “Saya pernah bertemu dengannya, Pangeran, bahkan pernah bertanding dengannya.”

“Engkau kalah...?”

“Ah, tidak mungkin saya kalah oleh Huang-ho Sian-li, Pangeran!” kata Ang-mo Niocu bangga. “Akan tetapi sebelum kami berkelahi lebih lanjut, ada yang melerai. Dia itu murid Siauw-lim-pai bernama Bu Kong Liang.”

“Bu Kong Liang? Hemm, dia termasuk orang yang membantu Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki yang melindungi Adinda Pangeran Kang Shi.” Dia lalu menceritakan tentang hasil sidang yang diadakan setelah kaisar wafat.

“Selain Kaisar Kang Shi yang masih anak-anak itu ditetapkan menjadi kaisar menurut surat wasiat, juga pendamping atau penasihatnya ditentukan nanti setelah Pangeran Kang Shi menjadi kaisar. Aku berani memastikan bahwa dia akan memilih Pamanda Pangeran Bouw yang telah melindungi dan mendidiknya sejak kecil. Menggemaskan sekali!”

“Tenanglah, Pangeran. Mari kita melihat posisi Paduka. Jelas sekarang bahwa di sini ada tiga pihak yang bertentangan. Pertama tentu saja pihak Pangeran Bouw yang melindungi Pangeran Mahkota, calon kaisar baru. Pihak ke dua adalah Pangeran Leng, dan pihak ke tiga adalah Paduka sendiri. Benarkah gambaran saya itu?”

“Benar.”

“Nah, sekarang mari kita melihat kekuatan semua pihak. Pertama kekuatan Pangeran Bouw. Harap Paduka gambarkan kekuatan pihak ini.”

“Pangeran Mahkota sendiri baru berusia sekitar sebelas tahun dan dia tidak ada artinya. Pangeran Bouw Hun Ki juga seorang yang lemah, seorang sastrawan. Mereka didukung beberapa orang panglima dengan pasukannya, akan tetapi tidak semua. Akan tetapi Pangeran Kang Shi berada dalam lindungan yang amat kuat. Isteri Paman Pangeran Bouw adalah seorang wanita sakti, kabarnya dahulu ketika muda ia juga seorang pendekar berjuluk Sin-hong-cu. Mereka mempunyai dua orang anak, yang pertama bernama Bouw Kun Liong dan yang ke dua bernama Bouw Hwi Siang. Pemuda dan gadis saudara-saudara sepupuku ini pun amat lihai karena digembleng oleh ibu mereka sendiri. Selain mereka, ada pula Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa itu, dan dibantu pula oleh dua orang murid Siauw-lim-pai, yaitu Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin. Sudah terbukti bahwa kedudukan mereka amat kuat dan tempat perlindungan Pangeran Mahkota Kang Shi sulit ditembus.”

“Lalu bagaimana dengan kekuatan pihak Pangeran Leng Kok Cun?”

“Menurut para penyelidikku, sebetulnya kekuatan Kakanda Pangeran Leng Kok Cun tidak berapa hebat lagi. Dia memang telah mempunyai dukungan berupa beberapa orang pejabat tinggi dan panglima, akan tetapi kekuatannya itu rontok setelah Thaikam Bong melarikan diri karena membunuh Ayahanda Kaisar sehingga dia tidak lagi memiliki sekutu yang berpengaruh di dalam istana. Aku juga heran mengapa dia begitu gegabah menyuruh Boan Thaikam membunuh Kaisar. Setahuku, kini orang-orang sakti yang mendukungnya tidaklah begitu mengkhawatirkan. Mereka hanyalah Pat-chiu Lo-mo, Hui-eng-to Phang Houw, dan Liong-bu-pangcu Louw Cin dengan anak buahnya, para anggota Liong-bu-pang.”

“Hemm, kalau begitu, dia bukan merupakan saingan berat, Pangeran.”

Pangeran Cu Kiong menghela napas panjang. “Bagi kami dia tetap berbahaya karena sekarang kami tidak lagi mempunyai pendukung yang kuat. Dahulu kami mempunyai Kam-keng Chit-sian, akan tetapi kini tinggal dua orang saja, yaitu Thio Kwan dan Yu Kok Lun yang telah kau robohkan tadi. Juga para pejabat tinggi yang mendukungku tidak sebanyak mereka yang mendukung Pangeran Leng. Karena itulah maka kami menghubungi Jenderal Wu Sam Kwi dan mengajak bekerja sama.”

Melihat wajah pangeran itu tampak muram, Ang-mo Niocu berkata ramah dan menghibur. “Jangan putus asa, Pangeran. Tidak percuma Paduka mengajak kami bekerja sama. Saya kira, hal yang terpenting bagi Paduka sekarang adalah menyingkirkan Pangeran Leng. Kalau dia sudah tidak menjadi penghalang lagi, maka kita dapat mencurahkan semua tenaga dan perhatian untuk menghadapi Pangeran Mahkota yang dilindungi Pangeran Bouw. Kita tunggu saja kedatangan Suhu dan Susiok-couw. Percayalah, semua pasti beres dan akhirnya Paduka pasti akan menang dan dapat menguasai tahta Kerajaan Ceng.”

Hati Pangeran Cu menjadi lega dan girang sekali. “Ah, Niocu, kalau benar kata-katamu dan aku dapat mencapai cita-citaku menjadi Kaisar menggantikan Ayahanda, aku tidak akan melupakan jasamu yang besar dan apa pun yang kau minta, pasti akan kupenuhi!”

Mendengar ini, tentu saja Ang-mo Niocu menjadi girang sekali. Pangeran ini lebih gagah dan lebih tampan dibanding Wu Kongcu atau Wu Kan putera Raja Muda Wu Sam Kwi, apalagi kalau Pangeran Cu dapat menjadi kaisar, tentu kedudukannya menjadi yang paling tinggi. “Benarkah janji itu, Pangeran?”

“Tentu saja benar, dan janji seorang calon kaisar pasti tidak akan dilanggar. Katakan, apa yang kauminta kalau kelak perjuangan kita berhasil?”

“Maaf, Pangeran, tentu Paduka sudah mempunyai isteri, seorang calon permaisuri, bukan?” tanya gadis itu sambil mengerling tajam penuh arti dan tersenyum manis.

Pangeran Cu Kiong tertawa. “Ha-ha, aku belum mempunyai isteri, hanya ada beberapa orang selir, Niocu. Apa maksudmu menanyakan hal itu?”

Wajah yang manis itu berubah kemerahan. “Aih, tidak apa-apa, Pangeran, saya hanya... eh, saya juga belum menikah....”

“Ha-ha-ha! Benarkah itu yang kelak kau minta itu? Engkau ingin menjadi isteriku, menjadi calon permaisuri?”

“Seorang manusia harus memiliki cita-cita yang tinggi, Pangeran. Kalau Paduka bercita-cita menjadi kaisar, apa salahnya kalau saya juga bercita-cita menjadi permaisuri?”

Pangeran Cu Kiong gembira sekali. Dia bangkit dan maju merangkul gadis itu dan menciumnya. Ang-mo Niocu tidak menolak bahkan membalas dengan mesra. “Jangan khawatir, Niocu... eh, siapakah namamu, manis?”

“Nama saya Yi Hong, Pangeran.”

“Yi Hong, aku berjanji bahwa kalau kelak engkau berhasil membantu aku menjadi kaisar, engkau akan kuangkat menjadi permaisuriku. Mari kuperkenalkan dengan para selir dan pelayan di istanaku ini, Hong-moi (Dinda Hong)!” Cu Kiong menggandeng tangan gadis itu dengan mesra dan diajaknya masuk ke bagian dalam gedung itu. Dia memperkenalkan Yi Hong atau Ang-mo Niocu kepada lima orang selirnya yang kesemuanya masih muda dan cantik, dan memperkenalkan pula kepada para pelayan dan pengawal sebagai tunangannya! Dia memerintahkan kepada mereka semua agar menghormati dan menaati semua perintah gadis itu.

“Semua perintah Niocu harus ditaati seperti perintahku sendiri,” katanya. “Siapa melanggar akan dihukum berat.”

Diam-diam Thio Kwan dan Yu Kok Lun menjadi terkejut sekali. Tadi mereka bersikap kurang hormat kepada gadis itu dan untung mereka tidak menerima hukuman berat. Tentu saja Ang-mo Niocu Yi Hong sendiri tidak pernah menduga bahwa pangeran yang tampan dan cerdik itu hanya hendak memanfaatkan dirinya sebagai kekasih yang menggairahkan dan sebagai pembantu yang memiliki ilmu silat tinggi. Sedikit pun tidak ada niat di hati Pangeran Cu Kiong untuk mengambil seorang gadis kang-ouw yang liar dan kasar sepertinya, apalagi yang bersuku bangsa Yao, menjadi permaisuri kelak kalau dia berhasil menjadi kaisar!

* * * *

Belasan hari kemudian. Suasana berkabung masih meliputi kota raja. Dalam masa perkabungan selama seratus hari itu tidak ada penduduk yang berani mengadakan pesta dan bersenang-senang. Bahkan mereka yang hendak mengadakan perayaan pernikahan anak mereka pun terpaksa diundur sampai lewatnya masa perkabungan kematian kaisar itu.

Pangeran Leng Kok Cun, seperti juga Pangeran Cu Kiong, merasa penasaran dan marah sekali. Semua usahanya telah gagal sama sekali. Memang, usahanya membunuh ayahnya sendiri yang dilakukan Thaikam Boan, berhasil. Kaisar terbunuh dan Thaikam Boan dapat melarikan diri sehingga tidak tertawan dan tidak membongkar rahasianya, akan tetapi hasilnya sama saja. Sama sekali tidak menguntungkan baginya. Malah lebih payah lagi.

Ternyata ayahnya meninggalkan surat wasiat yang mengangkat Pangeran Kang Shi menjadi pengganti Kaisar! Dan lebih celaka lagi, dia tidak dapat memaksa agar dirinya dijadikan pelindung dan pendamping adiknya, Pangeran Kang Shi yang masih kecil itu. Yang menjadi halangan adalah Pangeran Bouw Hun Ki, dan tentu saja Ciu Thian Hwa! Sialan, ayahnya sebelum mati memberi Tek-pai kepada Ciu Thian Hwa sehingga gadis itu dapat mempengaruhi semua orang yang takut kepada pemegang Tek-pai.

Dan dia pun kembali tidak berdaya! Kini, harapan menjadi pengganti Kaisar lenyap, bahkan harapan menjadi pendamping adiknya pun sia-sia! Dia marah sekali dan memutar otak untuk mencari jalan yang baik agar ambisinya tercapai.

Malam itu gelap sekali. Tidak ada bulan, ditambah adanya awan mendung membuat malam itu gelap gulita karena tiada bintang yang tampak. Langit merupakan kehitaman pekat dan hanya sekali-kali saja tampak cahaya halilintar disusul suara guntur yang terdengar lapat-lapat saking jauhnya.

Pangeran Leng Kok Cun mengadakan rapat dengan para pembantunya di ruangan tertutup dalam gedungnya. Yang hadir adalah Pat-chiu Lo-mo, kakek berusia enam puluh tiga tahun yang tubuhnya kurus bongkok dan mukanya buruk. Pat-chiu Lo-mo ini bernama Cio Kiat, seorang tokoh sesat dunia kang-ouw di bagian Utara. Senjatanya adalah sebatang tongkat, sebuah Yang-liu-san (Kipas Cemara) dan beberapa buah hui-to (pisau terbang) terselip di pinggangnya.

Tokoh ini memang merupakan pembantu setia sejak dulu dari Pangeran Leng dan dialah yang mencarikan jagoan-jagoan yang mau mendukung Pangeran Leng dengan janji yang muluk-muluk kalau usaha pangeran itu berhasil.

Orang kedua yang hadir adalah seorang pembantu baru. Tokoh ini seorang datuk besar yang amat lihai, berjuluk Bu-lim Sai-kong (Kakek Singa Rimba Persilatan). Usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, rambut kepalanya kemerahan terurai sebagian menutupi mukanya yang merah sehingga muka itu mirip muka seekor singa.

Di pinggangnya tergantung sebatang golok gergaji besar dan Bu-lim Sai-kong ini selain memiliki tenaga besar dan ilmu goloknya berbahaya sekali, juga dia memiliki tenaga besar dan ilmu goloknya berbahaya sekali, juga dia memiliki sin-kang yang kuat dan mahir pula menggunakan ilmu sihir. Dia amat dihormati Pat-chiu Lo-mo yang berhasil menariknya untuk membantu Pangeran Leng karena Pat-chiu Lo-mo yang lihai itu maklum bahwa tingkat kepandaian Si Muka Singa ini jauh lebih kuat dan lebih tangguh daripada tingkat kepandaiannya sendiri!

Adapun dua orang lagi yang hadir adalah Phang Houw yang berjuluk Hui-eng-to (Golok Garuda Terbang) karena dia terkenal dengan ilmu goloknya Hui-eng-to-hoat yang cukup dahsyat. Tubuhnya gemuk pendek dengan wajah bundar kekanak-kanakan, akan tetapi gerak-geriknya sombong. Dan seorang bertubuh tinggi kurus, usianya sebaya dengan Phang Houw, sekitar empat puluh empat tahun.

Si Tinggi Kurus ini bernama Louw Cin dan dia adalah ketua perkumpulan Liong-bu-pang dari kota Tui-lok. Dia pun sudah lama bergabung dengan Pat-chiu Lo-mo, bahkan mengerahkan anak buahnya para anggota Liong-bu-pang sebanyak kurang lebih lima puluh orang yang selalu bersiap membantu Pangeran Leng. Louw Cin ini terkenal dengan senjata ruyung besinya yang berduri dan tampak menyeramkan.

Mereka berlima duduk mengelilingi sebuah meja besar, berunding sambil minum-minum. Pangeran Leng sudah mengambil keputusan nekat. Malam itu dia akan mengerahkan para pembantunya untuk membunuh Pangeran Bouw Hun Ki dan Ciu Thian Hwa, karena dua orang inilah yang merupakan penghalang utama sehingga dia tidak dapat menguasai kerajaan dengan menjadi pendamping dan penasihat adiknya yang diangkat menjadi kaisar, yaitu Pangeran Kang Shi yang masih kecil.

Kalau dia dapat menjadi pelindung atau pendamping calon kaisar yang masih kanak-kanak itu, sama saja dengan dia sendiri yang menjadi kaisar dan memimpin pemerintah. Kalau sudah begitu, segala hal dapat dia atur sesukanya, bahkan mudah saja untuk kemudian melenyapkan Kaisar Kang Shi yang masih kanak-kanak sehingga dia sebagai kakaknya tentu dapat menggantikannya menjadi kaisar, apalagi kalau dia sudah menjadi pendamping kaisar!

* * * *

Perebutan kekuasaan terjadi di mana-mana. Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapat kekuasaan, baik hal itu terjadi di dalam keluarga, di dalam masyarakat, perkumpulan, perusahaan, di antara karyawan, sampai ke para pembesar dan pejabat. Untuk memperebutkan kekuasaan, manusia dapat bertindak apa saja. Tujuan menghalalkan segala cara! Untuk mencapai tujuan itu, segala cara licik dan kejam dilakukan orang. Bahkan terjadi saling bunuh antara saudara, antara bangsa, sampai menjalar kepada perang antar bangsa.

Semua demi memperoleh kekuasaan! Yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa itu pasti benar dan senang. Jadi, memperebutkan kekuasaan itu pada hakekatnya untuk mencari kesenangan dan kesenangan biasanya bisa diperoleh dengan uang. Dengan sendirinya, permusuhan, perang, perebutan kekuasaan itu tiada lain hanyalah memperebutkan harta karena harta mendatangkan kesenangan!

Andaikata kekuasaan yang diperebutkan itu tidak mendatangkan uang, adakah kiranya orang yang memperebutkannya? Kedudukan atau kekuasaan sebagai pengurus perkumpulan sosial yang biasanya tidak mendatangkan keuntungan uang, tidak pernah diperebutkan, bahkan dia yang ditunjuk mencari berbagai alasan untuk menolaknya. Akan tetapi sebuah kedudukan atau kekuasaan yang akan mendatangkan banyak uang, pasti menjadi rebutan!

Kekuasaan dapat membuat seseorang menjadi gila kekuasaan. Merasa dirinya paling atas dan biasanya hal ini mendatangkan ketinggian hati dan melahirkan tindakan sewenang-wenang. Terutama sekali, orang yang memegang kekuasaan selalu dirubung penjilat-penjilat yang ingin mendapatkan bagian dari keuntungannya berupa harta. Kenyataan seperti ini terdapat di sepanjang jaman dan terjadi pada para penguasa, sejak jaman dahulu sampai sekarang.
Selanjutnya,

Kemelut Kerajaan Manchu Jilid 09

Kemelut Kerajaan Manchu Jilid 09

Karya : Kho Ping Hoo

MALAM itu ia berada di ruangan yang bersebelahan dengan kamar Kaisar, dihubungkan sebuah pintu tembusan. Malam itu ia mendengar suara gaduh di kamar Kaisar. Ia cepat membuka pintu tembusan dan ia dihadang dua orang Thaikam yang menyerangnya. Ia berhasil merobohkan mereka dengan sambitan Pek-hwa-ciam, akan tetapi ia terlambat menyelamatkan Kaisar. Ia melihat bayangan Thaikam Boan Kit melarikan diri melalui pintu.

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo
Karena ingin melihat keadaan Kaisar, ia tidak sempat mengejar dan ternyata ia mendapatkan Kaisar telah tewas dengan luka-luka bacokan pada leher dan mukanya sehingga tak dapat dikenali lagi. Ia mencoba untuk melakukan pengejaran namun Thaikam Boan telah lenyap, maka ia lalu berteriak dan memanggil para prajurit pengawal dan membangunkan seluruh penghuni istana.

“Demikianlah apa yang terjadi malam tadi!” Thian Hwa mengakhiri ceritanya dan ia menceritakan juga bahwa lima orang prajurit pengawal juga ditemukan mati di taman tak jauh dari kamar Kaisar dan mereka adalah lima orang pengawal yang malam itu bertugas jaga di depan kamar Kaisar. Mudah diduga bahwa mereka tentu dibunuh pula oleh Thaikam Boan Kit dan dua orang pembantunya yang tewas oleh Thian Hwa.

Tentu saja kejadian yang sesungguhnya tidak demikian. Setelah wajah mayat Boan Kit dirusak dengan bacokan-bacokan pedang agar tidak dapat dikenal, mayat itu lalu diberi pakaian Kaisar yang seperti pakaian pendeta dan dilumuri darah, kemudian mayat itu diletakkan di atas pembaringan Kaisar. Setelah itu, dengan kepandaiannya, Thian Hwa menyelundupkan Kaisar keluar dari istana, bahkan keluar dari pintu gerbang kota raja.

Setelah tiba di luar kota raja, dua orang pelayan yang setia sudah menunggu lebih dulu dan Kaisar yang mengenakan jubah pendeta Buddha dan menggunduli rambut kepalanya itu lalu pergi menjauh dari kota raja. Setelah itu, baru Thian Hwa kembali ke istana dan bersama para pelayan yang setia mereka menjerit-jerit sehingga membangunkan seluruh penghuni istana.

Tentu saja cerita Thian Hwa ini dipercaya oleh semua orang pendengarnya, apalagi terbukti adanya jenazah raja. Mereka tidak dapat mengenali wajah jenazah itu, akan tetapi dari bentuk tubuhnya tidak ada yang ragu bahwa itu adalah jenazah Kaisar Shun Chi yang sudah dirawat dan dimasukkan peti mati.

“Sudahlah, malapetaka itu sudah terjadi. Mudah saja nanti kita berusaha untuk mengejar dan menangkap Thaikam Boan Kit dan menghukumnya. Sekarang, yang terpenting, kita tidak boleh membiarkan kerajaan tanpa kaisar! Hal ini dapat menimbulkan kekacauan dan akan memancing datangnya musuh negara untuk menyerang kerajaan yang sedang lowong tidak ada pemimpinnya. Maka, aku mengusulkan agar sekarang juga ditentukan siapa yang berhak menggantikan kedudukan kaisar, menggantikan mendiang Ayahanda Kaisar!” kata Pangeran Leng Kok Cun penuh semangat.

“Ah, baik sekali itu! Aku juga akan mengusulkan begitu!” kata Pangeran Cu Kiong, tidak kalah bersemangatnya.

Pangeran Bouw sebagai pimpinan sidang menoleh kepada Ciang Taijin, pembesar tinggi yang paling tua, usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun dan dia dikenal sebagai tua-tua dan penasihat di istana. Melihat Pangeran Bouw menoleh dan memandang kepadanya, pejabat tinggi yang sudah tua dan setia ini segera bangkit berdiri dan berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.

“Soal pengganti kedudukan Kaisar, hal itu kami rasa tidak menjadi masalah dan tidak perlu dibicarakan lagi. Bukankah mendiang Sribaginda Kaisar telah mengangkat seorang Pangeran Mahkota? Menurut hukum yang berlaku, kalau Kaisar meninggal dunia, sudah barang tentu yang menggantikan kedudukannya adalah Pangeran Mahkota, dalam hal ini Pangeran Mahkota Kang Shi!”

“Akan tetapi Ayahanda belum pernah meresmikan pengangkatannya sebagai pengganti kedudukan Kaisar!” bantah Pangeran Leng Kok Cun. “Karena itu, aku sebagai putera Ayahanda yang sulung, akulah yang berhak menggantikan kedudukannya sebagai kaisar!”

“Tidak benar dan tidak bisa!” Teriak Pangeran Cu Kiong. “Kakanda Pangeran Leng Kok Cun, biarpun paling tua, akan tetapi merupakan putera selir ke tujuh! Menurut kepantasan, yang berhak menggantikan kedudukan Kaisar dilihat dari urutan kedudukan para isteri Ayahanda! Memang yang paling berhak adalah Adinda Pangeran Kang Shi karena dia adalah putera dari Ibunda permaisuri, akan tetapi dia masih terlalu kecil untuk menjadi kaisar dan memang benar, Ayahanda belum meresmikan dia menjadi penggantinya. Urutan yang ke dua adalah keturunan selir ke dua, akan tetapi Ibunda selir ke dua hanya mempunyai anak perempuan. Maka urutan berikutnya adalah anak Ibunda yang menjadi selir ke tiga. Jadi, kalau mau menurut aturan dan kepantasan, akulah yang berhak menggantikan kedudukan kaisar!”

“Pendapat Pangeran Cu Kiong itu tidak benar!” bentak Pangeran Leng Kok Cun.

“Pendapat Kakanda Pangeran Leng Kok Cun lebih tidak benar lagi!” Pangeran Cu Kiong juga membentak marah. Kedua orang pangeran ini sudah bangkit berdiri dan saling pandang dengan mata merah melotot.

“Harap Ananda berdua tenang! Ketahuilah para anggota keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi, kami telah menerima surat wasiat yang ditulis dan ditinggalkan oleh mendiang Kakanda Kaisar Shun Chi. Akan saya bacakan surat wasiatnya.”

“Nanti dulu!” bentak Pangeran Leng Kok Cun. “Surat wasiat seharusnya dipegang oleh orang yang dapat mewakili Ayahanda Kaisar. Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki tidak mempunyai kekuasaan itu!”

“Benar, Pamanda Pangeran Bouw tidak berhak!” teriak pula Pangeran Cu Kiong.

“Aku yang berhak!” tiba-tiba terdengar suara nyaring seorang wanita. Semua orang memandang dan yang bicara adalah Ciu Thian Hwa. Ia sudah bangkit berdiri dengan tegak dan sikapnya gagah sekali. “Akulah yang menjadi wakil mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, dan inilah tanda kekuasaanku!” ia mengeluarkan Tek-pai tanda kekuasaan yang diberikan Kaisar Shun Chi itu dan melihat ini, para pejabat tinggi cepat membungkuk untuk memberi hormat karena pemegang Tek-pai itu seolah menjadi wakil kaisar sendiri.

Melihat ini, Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong diam, tidak berani membantah lagi. Mereka memang sudah mendengar bahwa gadis liar yang berjuluk Huang-ho Sian-li yang pernah menentang mereka dahulu itu adalah puteri Pangeran Ciu Wan Kong, jadi masih keponakan kaisar dan juga keponakan Pangeran Bouw, bahkan masih menjadi saudara mereka sendiri. Mereka tahu pula bahwa Thian Hwa telah menyelamatkan nyawa Kaisar Shun Chi ketika diserang lima orang pembunuh dahulu, maka tidak mustahil kalau kini gadis itu membawa Tek-pai pemberian Kaisar.

Melihat tidak ada yang berani membantah, Thian Hwa menerima surat wasiat itu dari tangan Pangeran Bouw Hun Ki lalu berkata dengan lantang. “Akulah yang menerima dari tangan mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, Tek-pai dan surat wasiat ini, maka aku pula yang berhak membacanya. Siapa yang berani menentang pesan terakhir mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, silakan maju, aku berhak atas nama Kaisar untuk menghukumnya!” Ucapan itu demikian berwibawa dan tidak ada yang berani membantah.

Pangeran Leng dan Pangeran Cu tentu saja merasa jengkel dan marah, akan tetapi mereka maklum bahwa kalau mereka berani membantah kenyataan ini, semua orang yang berada di situ pasti akan menentangnya.

Melihat tidak ada yang berani membantah, Thian Hwa lalu membaca surat wasiat itu yang maksudnya, Kaisar Shun Chi menyatakan bahwa dia mengangkat Pangeran Mahkota Kang Shi menjadi penggantinya, yaitu menjadi kaisar baru kalau dia sudah tidak ada. Setelah ia selesai membacakan surat wasiat itu, Thian Hwa duduk kembali.

Kini Pangeran Bouw Hun Ki bangkit berdiri. “Kami yakin bahwa kita semua pasti menghormati dan mentaati perintah terakhir dari mendiang Kakanda Kaisar Shun Chi. Nah, kini sudah dipastikan bahwa Pangeran Mahkota Kang Shi yang akan dinobatkan menjadi Kaisar Kerajaan Ceng kita. Pelaksanaannya akan dilakukan setelah lewat masa perkabungan seratus hari dari kematian Kakanda Kaisar Shun Chi, kami kira hadirin semua merasa setuju dan tidak ada yang merasa keberatan.”

Tiba-tiba Pangeran Leng Kok Cun bangkit berdiri dan bicara dengan lantang. “Paman Pangeran Bouw Hun Ki, mengingat bahwa Adinda Pangeran Kang Shi baru berusia sepuluh tahun, masih kanak-kanak, tidak mungkin dia dapat mengatur pemerintahan. Sudah tentu dia membutuhkan seorang pendamping atau penasihat yang dapat dipercaya! Nah, aku sebagai kakaknya yang tertua berhak untuk menjadi pendamping dan penasihatnya, maka dalam sidang ini aku minta agar hal ini dibicarakan dan disetujui semua yang hadir!”

Mendengar ini, Pangeran Cu Kiong cepat memberi tanggapan. “Aku tidak setuju dengan pendapat Kakanda Pangeran Leng Kok Cun! Dia sudah terlalu tua untuk mendampingi Adinda Pangeran Kang Shi! Yang paling tepat untuk mendampinginya adalah aku sebagai calon pewaris ke dua setelah Pangeran Mahkota, dan usiaku jauh lebih muda dari Kakanda Pangeran Leng sehingga dapat bergaul lebih baik dengan Adinda Pangeran Kang Shi.”

Kembali semua orang bicara sendiri, ada yang mendukung Pangeran Leng, ada pula yang membenarkan Pangeran Cu. Agaknya kedua orang pangeran ini memiliki pendukung masing-masing di antara para pejabat tinggi yang hadir.

Melihat keadaan menjadi ribut, Thian Hwa bangkit lagi dan berkata dengan nyaring. “Harap Cu-wi (Anda Sekalian) tenang! Saya sebagai pemegang kekuasaan yang diberikan mendiang Pamanda Kaisar, menyatakan bahwa perebutan kedudukan pendamping Kaisar yang baru itu tidak tepat. Seorang pendamping Kaisar seyogianya merupakan seorang yang paling dekat dengan Kaisar, dalam hal ini Adinda Pangeran Mahkota Kang Shi. Oleh karena itu, sepantasnya dia sendiri yang akan memilih, nanti setelah dia dinobatkan menjadi Kaisar. Dia sendiri yang akan memilih siapa yang akan menjadi pendamping dan penasihatnya.”

Seperti tadi, ucapan Thian Hwa itu pun tidak ada yang berani membantahnya karena ucapan itu memang pantas dan cukup adil. Pangeran Bouw Hun Ki lalu bangkit berdiri dan berkata. “Kami kira keputusan itu sudah tepat sekali. Nanti setelah lewat perkabungan selama seratus hari, Pangeran Mahkota Kang Shi akan dinobatkan menjadi Kaisar dan dia yang akan memilih siapa yang menjadi pendamping dan penasihatnya. Sekarang, kami minta Adinda Ciu Thian Hwa sebagai pemegang Tek-pai untuk menunjuk seorang yang akan menjadi pejabat Kaisar sementara sebelum Pangeran Mahkota dinobatkan menjadi Kaisar.”

Ciu Thian Hwa bangkit berdiri lagi. “Mengingat bahwa selama ini yang paling dekat dengan mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi adalah Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki sehingga beliau diberi kepercayaan untuk mendidik Pangeran Mahkota, maka atas nama Kaisar saya menunjuk Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki untuk menjabat kedudukan kaisar sementara!”

Pangeran Bouw Hun Ki cepat menanggapi. “Aku tidak keberatan, akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu aku harus didampingi Ananda Ciu Thian Hwa sebagai pemegang kuasa yang diberikan oleh mendiang Kaisar sendiri.”

“Saya menerima syarat itu. Apakah ada di antara Cu-wi yang tidak setuju?” kata Thian Hwa.

Kembali tidak ada yang berani menolak karena memang semua yang diajukan itu masuk akal dan sesuai dengan aturan. Seorang pemegang Tek-pai seolah menjadi pribadi Kaisar sendiri yang semua ucapannya merupakan perintah yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun. Demikianlah, persidangan itu selesai. Semua orang merasa puas dan lega, kecuali tentu saja Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong!

* * * *

Pangeran Cu Kiong dalam perjalanan pulang dari menghadiri persidangan, berjalan dengan wajah muram. Tentu saja dia merasa kecewa dan penasaran sekali akan keputusan yang diambil dalam persidangan itu bahwa selain Pangeran Kang Shi ditentukan menjadi pengganti Kaisar dan akan dinobatkan sebagai kaisar baru dan dia yang berwenang memilih pendamping atau penasihatnya, juga ditentukan bahwa pejabat kaisar selama seratus hari ini adalah Pangeran Bouw Hun Ki. Dan dia sama sekali tidak dapat membantah karena Ciu Thian Hwa memegang Tek-pai!

Dia semakin benci kepada Huang-ho Sian-li itu! Dia pernah tertarik, bahkan pernah saling mencinta dengan Huang-ho Sian-li, akan tetapi dia bermaksud memanfaatkan kelihaian gadis itu untuk tujuannya merebut tahta kerajaan. Kini gadis itu, yang kemudian ternyata puteri Pangeran Ciu Wan Kong, malah membela Pangeran Mahkota Kang Shi, berarti menjadi musuhnya! Pangeran Cu Kiong merasa kecewa, penasaran dan marah sekali.

Tiba-tiba dia merasa ada gerakan orang dibelakangnya dan ketika dia menengok, dia melihat seorang wanita muda tersenyum kepadanya dan berjalan melewatinya lalu membalik dan menghadapinya.

“Maafkan saya, apakah Paduka yang bernama Pangeran Cu Kiong?” gadis itu bertanya, suaranya merdu, gayanya memikat dengan sinar mata yang berkilat tajam dan bibir mungil tersenyum manis sekali.

Pangeran Cu Kiong mengamati gadis itu. Gadis itu sudah matang, berusia sekitar dua puluh tiga tahun dan yang menarik adalah payung merah yang dipegang gagangnya dengan tangan kiri dan payung itu melindungi wajahnya dari terik matahari siang itu. Bentuk tubuhnya menarik, ramping padat dan matang, wajahnya bulat dan mata serta mulutnya menggairahkan seperti menantang.

Bajunya berkembang-kembang merah dengan celana sutera hijau. Kecantikannya agak asing, tidak seperti kecantikan wanita Han, juga tidak seperti wanita Mancu, melainkan kecantikan wanita dari daerah selatan yang khas. Pangeran Cu Kiong segera tertarik sekali melihat kecantikan yang berbeda dari wanita lain itu.

“Benar, aku Pangeran Cu Kiong. Engkau siapakah, Nona?” tanyanya, tertarik bukan hanya karena kecantikan gadis itu, juga karena dari wajah dan logat bicaranya, jelas bahwa gadis ini datang dari selatan.

“Saya dikenal sebagai Ang-mo Niocu (Nona Payung Merah), dan saya sengaja datang menjumpai Paduka membawa pesan dari Raja Muda Wu Sam Kwi.”

Cu Kiong terkejut mendengar disebutnya nama Wu Sam Kwi. Dia memang telah beberapa lamanya mengadakan kontak hubungan dengan Jenderal Wu Sam Kwi yang kini disebut Raja Muda itu. Kiranya gadis ini seorang utusan dari Wu Sam Kwi. Kalau sampai ada orang mengetahui bahwa dia berhubungan dengan Jenderal Wu Sam Kwi, bisa gawat dan berbahaya baginya. Maka cepat dia berkata lirih.

“Nona, datanglah nanti ke istanaku, jangan terlalu mencolok karena suasananya sedang genting.” Setelah berkata demikian dia cepat melanjutkan langkahnya pulang ke gedungnya.

Ang-mo Niocu, gadis cantik genit yang pernah kita jumpai ketika ia bertemu dengan Kong Liang dan Thian Hwa itu, maklum akan ucapan Sang Pangeran, maka ia pun cepat pergi ke lain jurusan agar tidak ada yang tahu bahwa ia tadi menghubungi Pangeran Cu Kiong.

Sore itu Ang-mo Niocu datang berkunjung ke gedung Pangeran Cu Kiong yang megah seperti istana. Ia disambut oleh Thio Kwan dan Yu Kok Lun, yaitu dua orang di antara Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa dari Kam-keng). Empat yang lain dulu telah tewas oleh Ciu Thian Hwa dan Ui Yan Bun, sedangkan yang seorang lagi, Ciang Sun, telah pergi meninggalkan kota raja. Dua orang jagoan pembantu Pangeran Cu Kiong itu memang mendapat perintah dari Sang Pangeran untuk menyambut kalau gadis dari selatan, utusan Jenderal Wu Sam Kwi itu datang berkunjung.

Thio Kwan dan Yu Kok Lun adalah dua orang jagoan yang tidak pernah sembuh dari watak mereka yang sombong. Baru julukan mereka saja, ketika masih bertujuh, menunjukkan kesombongan mereka, yaitu memakai julukan Tujuh Dewa! Sejak dulu mereka sombong dan merasa paling hebat sendiri, apalagi karena mereka menjadi jagoan seorang pangeran.

Biarpun kini mereka tinggal berdua, namun tetap saja mereka berkepala besar dan dengan sendirinya mereka memandang rendah ketika melihat bahwa utusan Jenderal Wu Sam Kwi itu hanya seorang gadis cantik yang membawa payung merah! Memang Ang-mo Niocu sama sekali tidak tampak seperti seorang kang-ouw yang pandai ilmu silat. Ia cantik manis, pakaiannya berkembang dan sama sekali tidak tampak membawa senjata.

Begitu tiba di pintu gerbang gedung besar yang mempunyai halaman depan luas itu, Ang-mo Niocu dihadang dua orang jagoan ini yang sudah menunggu di gardu penjagaan sejak tadi. Belasan orang prajurit berada dalam gardu dan hanya menonton sambil tersenyum kagum melihat seorang gadis cantik memakai payung memasuki pintu gerbang.

Mereka sudah dipesan oleh dua orang jagoan itu agar diam saja dan membiarkan mereka berdua yang menyambut tamu yang dinantikan oleh Sang Pangeran. Para prajurit itu mengharapkan memperoleh tontonan menarik karena mereka semua maklum bahwa dua orang jagoan itu pasti akan menggoda dan mengganggu seorang gadis cantik seperti itu.

Thio Kwan yang berusia sekitar lima puluh dua tahun, tinggi kurus dan mukanya pucat seperti mayat, berdiri bertolak pinggang menghadapi Ang-mo Niocu, sedangkan temannya, Yu Kok Lun yang berusia lima puluh tahun lebih dan bertubuh gemuk pendek bermuka hitam, hanya tersenyum-senyum di samping rekannya.

“Apakah Nona yang disebut Nona Payung Merah?” tanya Thio Kwan sambil tersenyum mengejek, memandang rendah.

Ang-mo Niocu mengenal laki-laki kurang ajar macam ini. Akan tetapi ia bersabar mengingat bahwa orang-orang ini tentu anak buah Pangeran Cu Kiong yang tadi ia jumpai di jalan dan yang menarik hatinya karena pangeran yang masih muda itu memang tampan dan gagah sekali. “Benar, aku Ang-mo Niocu hendak bertemu dengan Pangeran Cu Kiong.”

“Nanti dulu, Nona. Logat bicara Nona terdengar asing. Benarkah menurut keterangan Pangeran Cu bahwa Nona datang dari Yunnan-hu yang berada jauh di selatan?”

Ang-mo Niocu mengerutkan alisnya. Pembantu pangeran ini cerewet benar. Ia merasa tidak perlu untuk memperkenalkan diri lebih banyak terhadap Si Muka Pucat ini, maka ia cepat menjawab. “Benar aku dari selatan. Jauh-jauh aku datang untuk bertemu Pangeran Cu Kiong. Cepat kalian laporkan kepadanya.”

“Aih, Nona. Kenapa Nona jauh-jauh datang dari selatan seorang diri saja? Nona seorang gadis yang cantik jelita begini melakukan perjalanan jauh seorang diri?” kata Yu Kok Lun yang tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk bicara dengan gadis yang amat menarik ini. Setelah bicara, memang Ang-mo Niocu tampak menggairahkan sekali. Sepasang bibirnya yang berbentuk indah dan kemerahan itu seolah dapat bergerak-gerak dengan manis dan menantang!

“Benar, Nona. Kalau kami tahu, tentu akan kami jemput Nona di selatan sehingga Nona dapat melakukan perjalanan bersama kami. Tentu lebih aman dan menyenangkan!” kata Thio Kwan.

Dua orang jagoan itu bersikap berani mengganggu karena mereka memang mendapat pesan dari Pangeran Cu Kiong untuk menguji kelihaian utusan Jenderal Wu Sam Kwi ini. Ang-mo Niocu bukan seorang gadis yang tidak biasa bergaul dengan pria. Kalau yang menggodanya itu pemuda-pemuda tampan, pasti ia tidak akan marah malah menjadi gembira sekali. Akan tetapi digoda dua orang jagoan yang bertampang buruk, yang seorang bermuka pucat seperti mayat dan yang seorang lagi mukanya hitam seperti pantat kuali, ia menjadi marah. Akan tetapi mulutnya masih tersenyum ketika ia menjawab.

“Hemm, diantar dan ditemani dua orang kuli pelayan macam kalian hanya akan membikin aku malu karena muka kalian begitu buruk dan menjijikkan! Sudahlah, cepat laporkan kepada Pangeran Cu Kiong bahwa aku telah datang dan ingin berjumpa dengannya. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian dua orang monyet jelek ini!”

Belasan orang prajurit pengawal yang berada dalam gardu hampir tidak dapat menahan tawa mereka mendengar ucapan yang amat mengejek dan menghina kepada dua orang jagoan yang biasanya bersikap sombong itu. Mereka melihat betapa dua orang itu terbelalak mendengar ucapan gadis berpayung merah.

Thio Kwan marah sekali, akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyerang tamu majikannya karena Pangeran Cu hanya berpesan agar dia menguji kelihaian tamu ini. “Pangeran memang mengutus kami menjemputmu, akan tetapi tidak sopan kalau engkau memasuki gedung dengan memakai payung. Serahkan payungmu!” katanya.

Ang-mo Niocu menutup payungnya yang tadinya berkembang. “Payung ini tidak boleh terlepas dari tanganku!”

“Hemm, terpaksa aku akan merampasnya!” Setelah berkata demikian, dengan cepat Thio Kwan menggerakkan tangan kanannya dan dia sudah menangkap payung yang berada di tangan kiri gadis itu. Thio Kwan adalah seorang ahli lwee-keh (ahli tenaga dalam) yang memiliki tenaga kuat sekali. Dia merasa yakin bahwa sekali renggut saja dia akan mampu merampas payung itu dari tangan Ang-mo Niocu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia merasa betapa payung itu sama sekali tidak dapat dia tarik karena seolah melekat dan berakar pada tangan kiri gadis itu. Dia mengangkat muka memandang wajah gadis itu dan dengan penasaran sekali dia melihat gadis itu tersenyum-senyum dan mengedipkan mata kepadanya! Jelas bahwa gadis itu menganggap dia ringan sekali. Maka Thio Kwan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik. Namun tetap sia-sia.

Karena marah, dia lalu menggerakkan tangan kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan kiri gadis itu. Akan tetapi cepat bagaikan kilat tangan kanan Ang-mo Niocu sudah mendahuluinya menotok ke arah tangan kanannya yang memegang payung. Seketika dia merasa lengan kanannya lemas dan pedangnya terlepas. Dengan marah dia melanjutkan cengkeraman tangan kirinya, kini tidak ke arah pergelangan tangan kiri lawan, melainkan ke arah pundaknya!

“Plakk!” Ang-mo Niocu menangkis dan tenaga saktinya demikian kuatnya sehingga Thio Kwan merasa lengan kirinya nyeri sampai menembus tulang.

“Pergilah!” Ang-mo Niocu berseru dengan bentakan nyaring, kakinya mencuat ke arah perut Si Muka Mayat.

“Bukkk...!” Tubuh tinggi kurus itu terlempar dan masih untung Thio Kwan mampu mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga jatuh berjongkok, tidak sampai terbanting!

“Wah, hebat juga engkau, Nona! Coba hadapi siang-kiam (sepasang pedang) ini!” Yu Kok Lan sudah mencabut siang-kiam dari punggungnya karena dia hendak menguji kelihaian gadis itu dalam bertanding senjata. “Keluarkan senjatamu!” tantangnya, dan dia sudah memasang kuda-kuda dengan menyilangkan sepasang pedangnya di atas kepala sehingga tampak garang dan gagah sekali.

Ang-mo Niocu tersenyum. Kini ia dapat menduga bahwa dua orang ini agaknya memang disuruh oleh Pangeran Cu Kiong untuk mengujinya. Pangeran itu yang mengadakan kontak dengan Jenderal Wu Sam Kwi tentu ingin merasa yakin akan kelihaian utusan Jenderal Wu Sam Kwi. Maka ia pun tersenyum menghadapi Yu Kok Lun yang tampak gagah itu. Ia menudingkan payungnya yang sesungguhnya merupakan pedang ke arah lawan dan berkata.

“Majulah, aku akan melawan sepasang pedangmu dengan payungku ini.”

Tentu saja Yu Kok Lun merasa dihina dan dipandang rendah. Masa siang-kiamnya yang tersohor sehingga dia dijuluki Siang-kiam-sian (Dewa Sepasang Pedang) hanya akan dilawan dengan sebuah payung merah, oleh seorang gadis muda? Ini namanya keterlaluan!

“Nona, memalukan kalau aku dengan sepasang pedangku melawan engkau yang hanya memegang sebuah payung. Biarlah aku menggunakan sebelah pedangku saja!” Setelah berkata demikian Yu Kok Lun menyimpan pedang kirinya dan hanya memegang pedang kanannya.

“Terserah, engkau mau menggunakan sebatang, dua batang, atau sepuluh batang pedang. Aku tetap cukup menggunakan payungku ini saja!”

Yu Kok Lun mulai marah. “Sambutlah pedangku ini!” bentaknya, dan dia pun sudah menyerang dengan dahsyat karena dia sudah menggunakan jurus paling ampuh dan berbahaya karena dapat menduga bahwa lawannya bukan seorang lemah. Pedangnya berkelebat dengan jurus serangan Kilat Menyambar Atas Kepala. Pedang yang bergerak cepat sekali itu berubah menjadi sinar putih yang menyambar ke arah kepala Ang-mo Niocu dengan bacokan dari atas, seolah hendak membelah kepala itu menjadi dua!

“Wuuuss...!” Pedang itu hanya membelah udara kosong karena dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali Ang-mo Niocu sudah mengelak ke samping. Yu Kok Lun menjadi penasaran melihat betapa serangannya yang dahsyat tadi dapat dielakkan dengan amat mudah oleh gadis itu. Pedangnya sudah menyambar lagi, kini membabat dari samping ke arah pinggang lawan.

Pinggang yang kecil ramping itu agaknya akan dapat terbabat putus oleh sambaran pedang yang dahsyat itu karena pedang itu digerakkan dengan jurus Giok-tai-wi-yiauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang)! Serangan ke dua ini cukup berbahaya, maka Ang-mo Niocu menggerakkan payungnya menangkis.

“Tranggg...!” Yu Kok Lun hampir berteriak saking kagetnya ketika pedangnya hampir terlepas dari tangannya karena terpental oleh tangkisan yang amat kuat, bahkan kini ada sinar merah menyambar pundaknya. Dia cepat mengelak dan “brett...!” baju di bagian pundaknya robek tertusuk ujung payung yang runcing!

Maklum bahwa payung itu ternyata merupakan senjata yang ampuh, Yu Kong Lun yang masih merasa penasaran cepat mencabut pedang ke dua dan kini dia menyerang dengan menggerakkan siang-kiam itu secara cepat sekali. Akan tetapi semua serangannya sia-sia karena begitu gadis itu menggerakkan payungnya, payung itu menjadi perisai yang kuat sekali.

Ternyata bahwa payung itu terbuat dari semacam kulit yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi lentur namun amat kuat, mampu menahan senjata tajam tanpa robek sedikit pun. Begitu sepasang pedang menyerang, payung berkembang dan begitu sepasang pedang lawan terpental, payung menutup dan ujung payung itu menyerang dengan tusukan seperti sebatang pedang!

Sebentar saja Yu Kok Lun menjadi kewalahan dan terdesak, kebingungan. Maka Ang-mo Niocu tidak menyia-nyiakan kesempatan, selagi lawan bingung oleh serangan payung berpedang, ia mengayun kakinya dan seperti juga apa yang dirasakan Thio Kwan tadi, perut Yu Kok Lun terkena tendangan kaki Ang-mo Niocu sehingga tubuhnya terlempar dan dia jatuh berdebuk di atas tanah.

Dua orang jagoan itu kini harus mengakui kelihaian Ang-mo Niocu, maka mereka tidak berani main-main lagi. Thio Kwan lalu maju memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada, diikuti Yu Kok Lun dan dia berkata.

“Li-hiap (Pendekar Wanita), maafkan kami karena sesungguhnya kami diutus Pangeran Cu Kiong untuk menguji kelihaianmu. Sekarang mari kami antarkan Li-hiap menghadap Pangeran Cu Kiong yang sudah lama menunggu kedatanganmu.”

Ang-mo Niocu tersenyum mengejek. “Beginikah cara Pangeran Cu Kiong menyambut utusan sahabatnya? Aku mengerti akan maksudnya mengujiku, akan tetapi yang menyebalkan adalah kalian bukan hanya menguji, akan tetapi juga menghinaku dengan kekurangajaranmu. Maka kalian perlu mendapat hajaran agar lain kali tidak berani menggangguku! Sambut ini!”

Tiba-tiba kini Ang-mo Niocu menyerang dengan tusukan payungnya yang tertutup. Ujung yang runcing itu meluncur dan menusuk ke arah pundak Thio Kwan. Orang itu terkejut dan cepat mengelak, tusukan itu luput akan tetapi tetap saja dia roboh dan mengeluh kesakitan. Kemudian ujung payung itu menyerang Yu Kok Lun. Ahli siang-kiam yang masih memegang pedangnya ini cepat menangkis.

“Trangg...!” Payung itu tertangkis, akan tetapi anehnya, Yu Kok Lun juga terkulai roboh dan merintih sambil memegangi pundaknya. Ternyata pundak kedua orang ini terkena tusukan jarum yang terasa panas dan pundak mereka sampai lengan menjadi kaku dan lumpuh! Jarum beracun! Jarum-jarum itu keluar dari ujung payung dan merupakan senjata rahasia yang amat ampuh dari gadis suku Yao yang lihai ini. Hal ini tidak mengherankan karena Ang-mo Niocu adalah murid Lam-hai Cin-jin. Datuk Selatan yang sakti.

“Nah, mari antar aku menghadap Pangeran Cu Kiong!” kata Ang-mo Niocu.

Dua orang itu bangkit dengan wajah pucat dan mereka menyeringai karena pundak mereka terasa nyeri bukan main, panas dan ngilu, juga kaku dan lumpuh sampai ke ujung jari tangan. Mereka tidak berani membantah dan mendahului menuju ke gedung besar yang megah itu. Ang-mo Niocu mengikuti mereka dari belakang dan tetap bersikap waspada. Siapa tahu Pangeran Cu Kiong yang tampan gagah itu masih akan mengujinya lagi!

Akan tetapi tidak ada rintangan lagi dan setelah mereka memasuki ruangan tamu, Pangeran Cu Kiong bangkit dari kursinya, tersenyum ramah menyambut gadis cantik dari selatan itu. Akan tetapi dia mengerutkan alisnya ketika melihat dua orang jagoannya masuk dengan wajah pucat dan menyeringai kesakitan dengan sebelah tangan tergantung lumpuh.

“Ada apa dengan kalian? Apa yang telah terjadi?” tanyanya dan karena dua orang jagoannya menundukkan kepala tanpa menjawab, dia memandang wajah Ang-mo Niocu dengan sinar mata bertanya.

“Pangeran, Paduka tanyakan kepada mereka berdua saja apa yang menyebabkan mereka menderita luka.”

Pangeran Cu Kiong memandang dua orang jagoannya dan mereka berdua yang menjadi ketakutan mengingat betapa mereka telah menggoda gadis itu sehingga menjadi marah dan melukai mereka, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Cu Kiong.

“Pangeran, hamba berdua mengaku bersalah. Hamba kalah dan terluka oleh Li-hiap ini...,” kata Thio Kwan.

Pangeran Cu Kiong merasa kagum akan tetapi juga tak senang kepada gadis itu. Memang ia lihai sekali mampu mengalahkan dua orang jagoannya, akan tetapi mengapa harus melukai mereka sedemikian beratnya.

“Ang-mo Niocu, mereka hanya kami suruh mengujimu, mengapa engkau melukai mereka?” Pangeran Cu Kiong menegur, biarpun ucapannya halus.

Ang-mo Niocu tersenyum. “Pangeran, mereka melanggar perintah Paduka, mereka bukan sekadar menguji akan tetapi juga bersikap tidak sopan kepada saya. Karena itu saya melukai mereka dengan Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah). Kalau tidak saya beri obat pemunah, lengan mereka yang sebelah akan mati selamanya. Biar mereka tidak berani melanggar perintah Paduka lagi!”

Gadis itu memang cerdik. Ia menghukum dua orang itu dengan alasan karena mereka melanggar perintah Pangeran Cu Kiong, bukan karena mereka mengganggunya. Hal ini berarti bahwa ia bertindak untuk membela pangeran itu! Mendengar ini, hati Pangeran Cu Kiong merasa senang dan kini dia membentak dua orang jagoannya itu.

“Hayo cepat kalian minta ampun kepada Ang-mo Niocu!”

Dua orang itu tadi mendengar bahwa mereka terluka oleh jarum beracun, menjadi semakin panik dan mereka lalu berlutut di depan kaki Ang-mo Niocu. “Mohon ampun, Li-hiap. Kasihanilah kami dan mohon diberi obat pemunahnya!” Mereka memohon bergantian.

Ang-mo Niocu memandang kepada Pangeran Cu Kiong. “Bagaimana, Pangeran?”

Pangeran itu mengangguk. “Berikanlah obatnya, Niocu. Bagaimanapun juga, mereka adalah pembantu-pembantuku yang setia kepadaku.”

Ang-mo Niocu lalu menghampiri mereka, menggunakan sin-kang (tenaga sakti) menyedot dua batang jarum itu dari pundak mereka menggunakan telapak tangannya, kemudian ia menyerahkan dua butir pel berwarna merah kepada mereka. “Telan ini dan kalian akan sembuh.”

Thio Kwan dan Yu Kok Lun cepat menerima pel itu dan langsung menelannya. Benar saja, mereka merasa betapa kekakuan dan rasa nyeri panas di pundak mereka berkurang.

“Sekarang keluarlah dan pesan kepada semua prajurit jaga agar kunjungan Li-hiap ini tidak sampai diketahui orang luar. Kalau sampai beritanya bocor, ini tanggung jawab kalian dan hukumannya akan berat sekali!”

Dua orang itu membungkuk lalu keluar dari ruangan tamu. Pangeran Cu Kiong lalu menutupkan daun pintu sehingga mereka dapat bicara berdua dengan aman, tanpa ada yang dapat melihat atau mendengar mereka.

“Silakan duduk, Niocu. Sekarang lebih dulu buktikanlah bahwa engkau memang benar utusan dari Jenderal Wu Sam Kwi,” kata Pangeran Cu Kiong sambil menatap wajah cantik itu.

Ang-mo Niocu tersenyum manis sekali, tampak deretan giginya yang putih dan rapi, lalu ia duduk dan mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya di bagian dada! “Pangeran, saya sengaja minta surat dari Raja Muda Wu Sam Kwi agar Paduka tidak ragu lagi.”

Pangeran Cu Kiong menerima kertas yang masih hangat karena lama berada di dada gadis itu. Dia memang seorang laki-laki yang sudah biasa bergaul dan merayu wanita, maka sambil tersenyum dia mendekatkan kertas surat itu ke hidungnya, mengendusnya lalu berkata. “Ahh... harumnya...!”

Ang-mo Niocu juga bukan seorang gadis yang belum pernah dirayu orang, maka ia tidak menjadi malu, malah senyumnya melebar dan sinar matanya berkilau karena senangnya. “Saya simpan surat itu baik-baik agar jangan sampai dilihat orang lain, Pangeran.”

Pangeran Cu Kiong membaca surat itu. Surat dari Wu Sam Kwi itu menyatakan bahwa pihaknya sudah siap untuk bekerja sama dengan Pangeran Cu Kiong dan untuk memperlancar hubungan, dia mengirim Ang-mo Niocu sebagai utusan dan gadis itu sudah diberi wewenang penuh untuk mengatur rencana bersama Sang Pangeran. Pangeran Cu Kiong merasa kagum dan juga heran bagaimana seorang gadis muda seperti ini sudah diberi kekuasaan penuh oleh Jenderal atau kini Raja Muda Wu Sam Kwi!

“Niocu (Nona), dalam surat ini Jenderal Wu Sam Kwi telah memberi kekuasaan sepenuhnya kepadamu untuk berunding dan mengatur rencana bersamaku. Niocu, apakah kedudukanmu di sana maka dia begitu percaya kepadamu?”

Kembali gadis yang kedua pipinya merah tanpa yanci (bedak pemerah) tersenyum manis. Tentu saja ia tidak mau mengaku bahwa walaupun ia tidak mau dijadikan selir, namun ia adalah seorang kekasih dari Wu Kan, seorang dari para putera Raja Muda Wu Sam Kwi.

“Pangeran, saya adalah murid dari Lam-hai Cin-jin. Datuk Selatan yang menjabat sebagai Koksu (Guru Negara, Penasihat) Raja Muda Wu Sam Kwi. Karena Suhu sendiri mempunyai banyak kesibukan dan tidak mungkin terlalu lama meninggalkan jabatannya, maka Suhu minta kepada Raja Muda Wu untuk mengirim saya dan Raja Muda Wu menyetujuinya.”

Pangeran Cu Kiong mengangguk-angguk. Dia sudah mendengar tentang kesaktian Lam-hai Cin-jin. Tidak mengherankan kalau gadis ini demikian lihai, kiranya murid Lam-hai Cin-jin! Dia merasa girang sekali bahwa Jenderal Wu mengirim utusan yang merupakan seorang gadis cantik manis dan lihai ilmu silatnya.

“Baik, kami dapat menerimamu sebagai utusan Raja Muda Wu Sam Kwi. Nah, sekarang lebih dulu kauceritakan apa kesanggupan Raja Muda Wu untuk membantu kami dan apa pula syarat-syaratnya.”

“Pangeran, Raja Muda kami telah menerima berita dari Pangeran dan beliau setuju untuk membantu Paduka agar dapat merebut tahta kerajaan. Beliau sudah mengambil keputusan untuk mengirim dua orang sakti yang dapat diandalkan, yaitu Guru saya sendiri Lam-hai Cin-jin dan Susiok-couw (Kakek Paman Guru) Ngo-beng Kui-ong (Raja Setan Lima Nyawa) yang memiliki kesaktian tinggi. Saya kira, dengan adanya mereka yang akan datang ke sini dalam bulan ini juga akan dapat mengalahkan semua musuh Pangeran. Saya juga akan membantu Paduka sekuat tenaga.”

“Hemm, Jenderal Wu Sam Kwi bersungguh-sungguh hendak membantu kami. Padahal dia membenci bangsa Mancu kami. Tentu bantuan itu diberikan bukan dengan percuma. Apa imbalan yang dimintanya?” tanya pangeran itu secara langsung dan terus terang.

“Aih, senang bicara dengan Paduka yang terbuka dan jujur. Menurut Raja Muda kami, beliau hanya menghendaki agar kekuasaan beliau diakui oleh Kerajaan Ceng dan daerah kekuasaan beliau diperluas sampai ke daerah selatan Sungai Yang-ce.”

Pangeran Cu Kiong terdiam. Permintaan yang terlalu berlebihan, pikirnya. Masa minta perluasan daerah yang lebih besar daripada yang telah dikuasai Jenderal Wu Sam Kwi sekarang? Akan tetapi dia membutuhkan bantuan yang amat kuat. Mudah saja nanti menghadapi Wu Sam Kwi kalau sudah tercapai ambisinya, menjadi Kaisar Kerajaan Ceng!

Pula, kalau dia menolak, otomatis gadis itu tentu akan pergi, bahkan akan memusuhinya. Padahal ia demikian cantik jelita dan sikapnya begitu menantang! Dia merasa yakin benar bahwa tidak akan sukar untuk menikmati kesenangan bersama gadis ini! Baru pandang mata dan senyum bibirnya itu saja sudah mengandung tantangan yang menggairahkan.

“Baiklah, kami menerima permintaan imbalan itu. Kalau kami sudah berhasil menjadi Kaisar sebagai pengganti mendiang Ayahanda Kaisar, pasti permintaan itu kami penuhi!”

“Nah, sekarang sebaiknya Paduka menceritakan segala keadaan di kota raja, siapa musuh-musuh Paduka, apa yang telah terjadi, agar kita dapat merundingkannya dan mencari jalan terbaik, mengatur rencana yang tepat untuk mencapai kemenangan.”

Pangeran Cu Kiong tentu saja tidak tahu apa yang terdapat dalam benak Ang-mo Niocu pada masa itu. Dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah pengikut Wu Sam Kwi yang setia dan diam-diam membenci Pemerintah Ceng, yaitu Pemerintah Mancu yang menjajah hampir seluruh daratan Cina. Ia tentu saja mendukung Wu Sam Kwi yang tidak pernah mau takluk kepada Pemerintah Ceng, bahkan selalu bercita-cita untuk mengusir penjajah Mancu dari tanah air.

Akan tetapi yang dibencinya adalah Pemerintah Ceng, kalau pribadi Pangeran Cu Kiong yang begitu gagah dan tampan, tentu saja membuat ia tertarik dan ia tidak akan melewatkan kesempatan baik untuk bersenang-senang dengan pria muda setampan dan segagah itu begitu saja. Seorang pangeran lagi! Dan dari sikap dan sinar mata pangeran itu, Ang-mo Niocu yang sudah berpengalaman itu maklum benar bahwa ia tidak bertepuk sebelah tangan!

Pangeran Cu Kiong membutuhkan waktu untuk yakin benar bahwa tidak ada bahayanya dia menceritakan segala yang terjadi dan semua keadaannya kepada gadis yang baru dijumpainya itu, walaupun ia membawa surat dari Jenderal Wu Sam Kwi. Maka ia lalu tersenyum dan berkata.

“Niocu, sebaiknya engkau mengaso dulu, mandi dan berganti pakaian, engkau tampak lusuh dan lelah, maklum baru saja berkelahi. Setelah engkau mandi dan berganti pakaian, kita makan. Nah, setelah itu, kita bersantai dan nanti akan kuceritakan semuanya sehingga kita berdua dapat membuat rencana dengan lebih nyaman.”

Pangeran Cu Kiong bertepuk tangan sebagai isyarat memanggil pelayan. Dua orang pelayan wanita memasuki ruangan tamu itu dengan cepat. Mereka masih muda-muda dengan wajah dan bentuk tubuh cukup menarik.

“Persiapkan sebuah kamar tamu yang terbaik untuk Nona ini. Dan layani kalau ia ingin mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai, antarkan ia ke kamar makan dan suruh para pekerja di dapur menyiapkan pesta kecil untuk menghormati Nona ini. Nah, sekarang antarkan ia ke kamar tamu.” Dia bangkit dan berkata kepada Ang-mo Niocu. “Silakan, Niocu. Sampai jumpa nanti di kamar makan.”

Gadis itu tersenyum, membungkuk sebagai penghormatan lalu mengikuti dua orang pelayan itu dengan langkah berlenggang-lenggok lemah gemulai. Pangeran Cu Kiong mengikuti dari belakang dengan pandang matanya dan dia tersenyum senang. Setelah mandi, berganti pakaian dan bersolek sehingga ia tampak semakin cantik, Ang-mo Niocu diantar seorang pelayan memasuki ruangan makan yang luas.

Di situ telah menanti Pangeran Cu Kiong yang juga sudah mandi dan berganti pakaian sehingga tampak tampan sekali. Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja yang sudah penuh dengan hidangan masakan bermacam-macam, semua masih mengepulkan uap sehingga baunya yang sedap membuat perut menjadi semakin lapar.

Mereka semakin akrab dan makan minum dengan gembira. Pangeran Cu Kiong senang sekali mendapat kenyataan bahwa gadis itu pun kuat sekali minum arak. Mereka saling menyulangi sampai menghabiskan beberapa cawan arak dan setelah hawa arak memasuki kepala mereka, keduanya semakin akrab, makan minum sambil tertawa-tawa gembira.

Setelah selesai makan, Pangeran Cu Kiong mengajak gadis itu bicara di dalam ruangan tertutup. Dia lalu mulai menceritakan semua yang telah terjadi di kota raja, tentang gerakan Pangeran Leng Kok Cun yang menjadi saingannya paling berat. Kemudian tentang kematian Kaisar Shun Chi yang terbunuh oleh Thaikam Boan Kit, akan tetapi Thaikam itu sempat melarikan diri dan tidak tertangkap.

“Hemm, mengapa Thaikam Boan membunuh Kaisar?”

“Dia juga kaki tangan Pangeran Leng Kok Cun!” kata Pangeran Cu gemas. “Pembunuhan sia-sia, karena sebelum mati, Ayahanda Kaisar telah meninggalkan surat wasiat kepada puteri Pamanda Pangeran Ciu Wan Kong yang bernama Ciu Thian Hwa. Bahkan Thian Hwa telah menerima Tek-pai dari Kaisar karena ia telah menyelamatkan Kaisar dari serangan lima orang pembunuh yang juga tentu dikirim oleh Pangeran Leng. Maka, setelah Kaisar wafat, Thian Hwa yang memegang Tek-pai dapat mempengaruhi semua orang yang terpaksa harus tunduk. Lalu menurut surat wasiat itu, Pangeran Mahkota Kang Shi yang akan diangkat menjadi kaisar baru. Pengangkatannya akan dilakukan setelah lewat masa perkabungan seratus hari. Sungguh keadaan ini tidak menguntungkan sama sekali!”

“Hemm, gadis bernama Ciu Thian Hwa itu lihai juga. Padahal ia adalah puteri seorang pangeran.”

“Ya, ia puteri Pamanda Pangeran Ciu Wan Kong, jadi masih terhitung saudara sepupu dengan aku. Ia sebelumnya memang terpisah dari ayahnya dan hidup di dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar berjuluk Huang-ho Sian-li.”

“Apa...?!” gadis itu terkejut sekali.

“Eh? Engkau mengenalnya, Niocu?”

Ang-mo Niocu mengangguk, “Saya pernah bertemu dengannya, Pangeran, bahkan pernah bertanding dengannya.”

“Engkau kalah...?”

“Ah, tidak mungkin saya kalah oleh Huang-ho Sian-li, Pangeran!” kata Ang-mo Niocu bangga. “Akan tetapi sebelum kami berkelahi lebih lanjut, ada yang melerai. Dia itu murid Siauw-lim-pai bernama Bu Kong Liang.”

“Bu Kong Liang? Hemm, dia termasuk orang yang membantu Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki yang melindungi Adinda Pangeran Kang Shi.” Dia lalu menceritakan tentang hasil sidang yang diadakan setelah kaisar wafat.

“Selain Kaisar Kang Shi yang masih anak-anak itu ditetapkan menjadi kaisar menurut surat wasiat, juga pendamping atau penasihatnya ditentukan nanti setelah Pangeran Kang Shi menjadi kaisar. Aku berani memastikan bahwa dia akan memilih Pamanda Pangeran Bouw yang telah melindungi dan mendidiknya sejak kecil. Menggemaskan sekali!”

“Tenanglah, Pangeran. Mari kita melihat posisi Paduka. Jelas sekarang bahwa di sini ada tiga pihak yang bertentangan. Pertama tentu saja pihak Pangeran Bouw yang melindungi Pangeran Mahkota, calon kaisar baru. Pihak ke dua adalah Pangeran Leng, dan pihak ke tiga adalah Paduka sendiri. Benarkah gambaran saya itu?”

“Benar.”

“Nah, sekarang mari kita melihat kekuatan semua pihak. Pertama kekuatan Pangeran Bouw. Harap Paduka gambarkan kekuatan pihak ini.”

“Pangeran Mahkota sendiri baru berusia sekitar sebelas tahun dan dia tidak ada artinya. Pangeran Bouw Hun Ki juga seorang yang lemah, seorang sastrawan. Mereka didukung beberapa orang panglima dengan pasukannya, akan tetapi tidak semua. Akan tetapi Pangeran Kang Shi berada dalam lindungan yang amat kuat. Isteri Paman Pangeran Bouw adalah seorang wanita sakti, kabarnya dahulu ketika muda ia juga seorang pendekar berjuluk Sin-hong-cu. Mereka mempunyai dua orang anak, yang pertama bernama Bouw Kun Liong dan yang ke dua bernama Bouw Hwi Siang. Pemuda dan gadis saudara-saudara sepupuku ini pun amat lihai karena digembleng oleh ibu mereka sendiri. Selain mereka, ada pula Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa itu, dan dibantu pula oleh dua orang murid Siauw-lim-pai, yaitu Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin. Sudah terbukti bahwa kedudukan mereka amat kuat dan tempat perlindungan Pangeran Mahkota Kang Shi sulit ditembus.”

“Lalu bagaimana dengan kekuatan pihak Pangeran Leng Kok Cun?”

“Menurut para penyelidikku, sebetulnya kekuatan Kakanda Pangeran Leng Kok Cun tidak berapa hebat lagi. Dia memang telah mempunyai dukungan berupa beberapa orang pejabat tinggi dan panglima, akan tetapi kekuatannya itu rontok setelah Thaikam Bong melarikan diri karena membunuh Ayahanda Kaisar sehingga dia tidak lagi memiliki sekutu yang berpengaruh di dalam istana. Aku juga heran mengapa dia begitu gegabah menyuruh Boan Thaikam membunuh Kaisar. Setahuku, kini orang-orang sakti yang mendukungnya tidaklah begitu mengkhawatirkan. Mereka hanyalah Pat-chiu Lo-mo, Hui-eng-to Phang Houw, dan Liong-bu-pangcu Louw Cin dengan anak buahnya, para anggota Liong-bu-pang.”

“Hemm, kalau begitu, dia bukan merupakan saingan berat, Pangeran.”

Pangeran Cu Kiong menghela napas panjang. “Bagi kami dia tetap berbahaya karena sekarang kami tidak lagi mempunyai pendukung yang kuat. Dahulu kami mempunyai Kam-keng Chit-sian, akan tetapi kini tinggal dua orang saja, yaitu Thio Kwan dan Yu Kok Lun yang telah kau robohkan tadi. Juga para pejabat tinggi yang mendukungku tidak sebanyak mereka yang mendukung Pangeran Leng. Karena itulah maka kami menghubungi Jenderal Wu Sam Kwi dan mengajak bekerja sama.”

Melihat wajah pangeran itu tampak muram, Ang-mo Niocu berkata ramah dan menghibur. “Jangan putus asa, Pangeran. Tidak percuma Paduka mengajak kami bekerja sama. Saya kira, hal yang terpenting bagi Paduka sekarang adalah menyingkirkan Pangeran Leng. Kalau dia sudah tidak menjadi penghalang lagi, maka kita dapat mencurahkan semua tenaga dan perhatian untuk menghadapi Pangeran Mahkota yang dilindungi Pangeran Bouw. Kita tunggu saja kedatangan Suhu dan Susiok-couw. Percayalah, semua pasti beres dan akhirnya Paduka pasti akan menang dan dapat menguasai tahta Kerajaan Ceng.”

Hati Pangeran Cu menjadi lega dan girang sekali. “Ah, Niocu, kalau benar kata-katamu dan aku dapat mencapai cita-citaku menjadi Kaisar menggantikan Ayahanda, aku tidak akan melupakan jasamu yang besar dan apa pun yang kau minta, pasti akan kupenuhi!”

Mendengar ini, tentu saja Ang-mo Niocu menjadi girang sekali. Pangeran ini lebih gagah dan lebih tampan dibanding Wu Kongcu atau Wu Kan putera Raja Muda Wu Sam Kwi, apalagi kalau Pangeran Cu dapat menjadi kaisar, tentu kedudukannya menjadi yang paling tinggi. “Benarkah janji itu, Pangeran?”

“Tentu saja benar, dan janji seorang calon kaisar pasti tidak akan dilanggar. Katakan, apa yang kauminta kalau kelak perjuangan kita berhasil?”

“Maaf, Pangeran, tentu Paduka sudah mempunyai isteri, seorang calon permaisuri, bukan?” tanya gadis itu sambil mengerling tajam penuh arti dan tersenyum manis.

Pangeran Cu Kiong tertawa. “Ha-ha, aku belum mempunyai isteri, hanya ada beberapa orang selir, Niocu. Apa maksudmu menanyakan hal itu?”

Wajah yang manis itu berubah kemerahan. “Aih, tidak apa-apa, Pangeran, saya hanya... eh, saya juga belum menikah....”

“Ha-ha-ha! Benarkah itu yang kelak kau minta itu? Engkau ingin menjadi isteriku, menjadi calon permaisuri?”

“Seorang manusia harus memiliki cita-cita yang tinggi, Pangeran. Kalau Paduka bercita-cita menjadi kaisar, apa salahnya kalau saya juga bercita-cita menjadi permaisuri?”

Pangeran Cu Kiong gembira sekali. Dia bangkit dan maju merangkul gadis itu dan menciumnya. Ang-mo Niocu tidak menolak bahkan membalas dengan mesra. “Jangan khawatir, Niocu... eh, siapakah namamu, manis?”

“Nama saya Yi Hong, Pangeran.”

“Yi Hong, aku berjanji bahwa kalau kelak engkau berhasil membantu aku menjadi kaisar, engkau akan kuangkat menjadi permaisuriku. Mari kuperkenalkan dengan para selir dan pelayan di istanaku ini, Hong-moi (Dinda Hong)!” Cu Kiong menggandeng tangan gadis itu dengan mesra dan diajaknya masuk ke bagian dalam gedung itu. Dia memperkenalkan Yi Hong atau Ang-mo Niocu kepada lima orang selirnya yang kesemuanya masih muda dan cantik, dan memperkenalkan pula kepada para pelayan dan pengawal sebagai tunangannya! Dia memerintahkan kepada mereka semua agar menghormati dan menaati semua perintah gadis itu.

“Semua perintah Niocu harus ditaati seperti perintahku sendiri,” katanya. “Siapa melanggar akan dihukum berat.”

Diam-diam Thio Kwan dan Yu Kok Lun menjadi terkejut sekali. Tadi mereka bersikap kurang hormat kepada gadis itu dan untung mereka tidak menerima hukuman berat. Tentu saja Ang-mo Niocu Yi Hong sendiri tidak pernah menduga bahwa pangeran yang tampan dan cerdik itu hanya hendak memanfaatkan dirinya sebagai kekasih yang menggairahkan dan sebagai pembantu yang memiliki ilmu silat tinggi. Sedikit pun tidak ada niat di hati Pangeran Cu Kiong untuk mengambil seorang gadis kang-ouw yang liar dan kasar sepertinya, apalagi yang bersuku bangsa Yao, menjadi permaisuri kelak kalau dia berhasil menjadi kaisar!

* * * *

Belasan hari kemudian. Suasana berkabung masih meliputi kota raja. Dalam masa perkabungan selama seratus hari itu tidak ada penduduk yang berani mengadakan pesta dan bersenang-senang. Bahkan mereka yang hendak mengadakan perayaan pernikahan anak mereka pun terpaksa diundur sampai lewatnya masa perkabungan kematian kaisar itu.

Pangeran Leng Kok Cun, seperti juga Pangeran Cu Kiong, merasa penasaran dan marah sekali. Semua usahanya telah gagal sama sekali. Memang, usahanya membunuh ayahnya sendiri yang dilakukan Thaikam Boan, berhasil. Kaisar terbunuh dan Thaikam Boan dapat melarikan diri sehingga tidak tertawan dan tidak membongkar rahasianya, akan tetapi hasilnya sama saja. Sama sekali tidak menguntungkan baginya. Malah lebih payah lagi.

Ternyata ayahnya meninggalkan surat wasiat yang mengangkat Pangeran Kang Shi menjadi pengganti Kaisar! Dan lebih celaka lagi, dia tidak dapat memaksa agar dirinya dijadikan pelindung dan pendamping adiknya, Pangeran Kang Shi yang masih kecil itu. Yang menjadi halangan adalah Pangeran Bouw Hun Ki, dan tentu saja Ciu Thian Hwa! Sialan, ayahnya sebelum mati memberi Tek-pai kepada Ciu Thian Hwa sehingga gadis itu dapat mempengaruhi semua orang yang takut kepada pemegang Tek-pai.

Dan dia pun kembali tidak berdaya! Kini, harapan menjadi pengganti Kaisar lenyap, bahkan harapan menjadi pendamping adiknya pun sia-sia! Dia marah sekali dan memutar otak untuk mencari jalan yang baik agar ambisinya tercapai.

Malam itu gelap sekali. Tidak ada bulan, ditambah adanya awan mendung membuat malam itu gelap gulita karena tiada bintang yang tampak. Langit merupakan kehitaman pekat dan hanya sekali-kali saja tampak cahaya halilintar disusul suara guntur yang terdengar lapat-lapat saking jauhnya.

Pangeran Leng Kok Cun mengadakan rapat dengan para pembantunya di ruangan tertutup dalam gedungnya. Yang hadir adalah Pat-chiu Lo-mo, kakek berusia enam puluh tiga tahun yang tubuhnya kurus bongkok dan mukanya buruk. Pat-chiu Lo-mo ini bernama Cio Kiat, seorang tokoh sesat dunia kang-ouw di bagian Utara. Senjatanya adalah sebatang tongkat, sebuah Yang-liu-san (Kipas Cemara) dan beberapa buah hui-to (pisau terbang) terselip di pinggangnya.

Tokoh ini memang merupakan pembantu setia sejak dulu dari Pangeran Leng dan dialah yang mencarikan jagoan-jagoan yang mau mendukung Pangeran Leng dengan janji yang muluk-muluk kalau usaha pangeran itu berhasil.

Orang kedua yang hadir adalah seorang pembantu baru. Tokoh ini seorang datuk besar yang amat lihai, berjuluk Bu-lim Sai-kong (Kakek Singa Rimba Persilatan). Usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, rambut kepalanya kemerahan terurai sebagian menutupi mukanya yang merah sehingga muka itu mirip muka seekor singa.

Di pinggangnya tergantung sebatang golok gergaji besar dan Bu-lim Sai-kong ini selain memiliki tenaga besar dan ilmu goloknya berbahaya sekali, juga dia memiliki tenaga besar dan ilmu goloknya berbahaya sekali, juga dia memiliki sin-kang yang kuat dan mahir pula menggunakan ilmu sihir. Dia amat dihormati Pat-chiu Lo-mo yang berhasil menariknya untuk membantu Pangeran Leng karena Pat-chiu Lo-mo yang lihai itu maklum bahwa tingkat kepandaian Si Muka Singa ini jauh lebih kuat dan lebih tangguh daripada tingkat kepandaiannya sendiri!

Adapun dua orang lagi yang hadir adalah Phang Houw yang berjuluk Hui-eng-to (Golok Garuda Terbang) karena dia terkenal dengan ilmu goloknya Hui-eng-to-hoat yang cukup dahsyat. Tubuhnya gemuk pendek dengan wajah bundar kekanak-kanakan, akan tetapi gerak-geriknya sombong. Dan seorang bertubuh tinggi kurus, usianya sebaya dengan Phang Houw, sekitar empat puluh empat tahun.

Si Tinggi Kurus ini bernama Louw Cin dan dia adalah ketua perkumpulan Liong-bu-pang dari kota Tui-lok. Dia pun sudah lama bergabung dengan Pat-chiu Lo-mo, bahkan mengerahkan anak buahnya para anggota Liong-bu-pang sebanyak kurang lebih lima puluh orang yang selalu bersiap membantu Pangeran Leng. Louw Cin ini terkenal dengan senjata ruyung besinya yang berduri dan tampak menyeramkan.

Mereka berlima duduk mengelilingi sebuah meja besar, berunding sambil minum-minum. Pangeran Leng sudah mengambil keputusan nekat. Malam itu dia akan mengerahkan para pembantunya untuk membunuh Pangeran Bouw Hun Ki dan Ciu Thian Hwa, karena dua orang inilah yang merupakan penghalang utama sehingga dia tidak dapat menguasai kerajaan dengan menjadi pendamping dan penasihat adiknya yang diangkat menjadi kaisar, yaitu Pangeran Kang Shi yang masih kecil.

Kalau dia dapat menjadi pelindung atau pendamping calon kaisar yang masih kanak-kanak itu, sama saja dengan dia sendiri yang menjadi kaisar dan memimpin pemerintah. Kalau sudah begitu, segala hal dapat dia atur sesukanya, bahkan mudah saja untuk kemudian melenyapkan Kaisar Kang Shi yang masih kanak-kanak sehingga dia sebagai kakaknya tentu dapat menggantikannya menjadi kaisar, apalagi kalau dia sudah menjadi pendamping kaisar!

* * * *

Perebutan kekuasaan terjadi di mana-mana. Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapat kekuasaan, baik hal itu terjadi di dalam keluarga, di dalam masyarakat, perkumpulan, perusahaan, di antara karyawan, sampai ke para pembesar dan pejabat. Untuk memperebutkan kekuasaan, manusia dapat bertindak apa saja. Tujuan menghalalkan segala cara! Untuk mencapai tujuan itu, segala cara licik dan kejam dilakukan orang. Bahkan terjadi saling bunuh antara saudara, antara bangsa, sampai menjalar kepada perang antar bangsa.

Semua demi memperoleh kekuasaan! Yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa itu pasti benar dan senang. Jadi, memperebutkan kekuasaan itu pada hakekatnya untuk mencari kesenangan dan kesenangan biasanya bisa diperoleh dengan uang. Dengan sendirinya, permusuhan, perang, perebutan kekuasaan itu tiada lain hanyalah memperebutkan harta karena harta mendatangkan kesenangan!

Andaikata kekuasaan yang diperebutkan itu tidak mendatangkan uang, adakah kiranya orang yang memperebutkannya? Kedudukan atau kekuasaan sebagai pengurus perkumpulan sosial yang biasanya tidak mendatangkan keuntungan uang, tidak pernah diperebutkan, bahkan dia yang ditunjuk mencari berbagai alasan untuk menolaknya. Akan tetapi sebuah kedudukan atau kekuasaan yang akan mendatangkan banyak uang, pasti menjadi rebutan!

Kekuasaan dapat membuat seseorang menjadi gila kekuasaan. Merasa dirinya paling atas dan biasanya hal ini mendatangkan ketinggian hati dan melahirkan tindakan sewenang-wenang. Terutama sekali, orang yang memegang kekuasaan selalu dirubung penjilat-penjilat yang ingin mendapatkan bagian dari keuntungannya berupa harta. Kenyataan seperti ini terdapat di sepanjang jaman dan terjadi pada para penguasa, sejak jaman dahulu sampai sekarang.
Selanjutnya,